Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

2

1. Latar belakang

2

2. Rumusan masalah

3

3. Tujuan

3

BAB II ISI

4

1. Pengertian kinetika katalis heterogen

4

2. Kinetika katalis heterogen

4

3. Contoh-contoh katalis heterogen

5

4. Mekanisme reaksi katalis heterogen

6

5. Proses yang terjadi selama mekanisme reaksi katalis heterogen

12

6. Katalis pendukung dibutuhkan oleh katalis heterogen

14

7. Aplikasi penggunaan katalis heterogen di bidang industri

15

BAB III PENUTUP

21

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Katalis dapat digunakan dalam pengaktifan reaksi yang akan mempercepat laju

reaksi dengan menurunkan energi aktifasi. Jika energi pengaktifan reaksi tinggi, maka untuk

temperatur normal, hanya akan terjadi sebagian kecil pertemuan molekul yang nantinya

dapat menghasilkan reaksi yang efektif. Katalis dapat menurunkan energi pengaktifan dengan

menghindari tahap penentu laju yang lambat dari reaksi yang tidak dapat dikatalisa. Dengan

menurunnya energi aktifasi maka pada temperatur yang sama didapatkan laju reaksi dengan

konstanta laju yang besar yang artinya reaksi efektifnya dapat terjadi secara cepat.

Fungsi utama dari katalis ini adalah menyediakan reaksi alternatif dalam suatu reaksi

kimia.Katalis memegang peranan penting dalam perkembangan industri kimia. Dewasa ini,

hampir semua produk industri dihasilkan melalui proses yang memanfaatkan jasa katalis,

baik satu atau beberapa proses. Katalis tidak terbatas pada bagian proses konveksi, bahkan

juga untuk bagian proses pemisahan. Penggunaan katalis di industri sekitar 50%

(Levenspiel,1999). Katalis berdasarkan fase reaksinya dapat digolongkan menjadi katalis

homogen dan heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang berbeda fase dengan fase

reaktan dan produknya.

Proses katalitik menggunakan katalis heterogen dalam industri, pertama kali

dilakukan pada tahun 1857, menggunakan Pt untuk mengoksidasi SO 2 menjadi SO 3

dalam larutan asam. Penggunaan katalis heterogen biasanya pada suhu dan tekanan tinggi.

Umumnya katalis heterogen berupa zat padat yang terdiri dari logam atau oksida logam.

Keuntungan penggunaan katalis heterogen adalah katalisnya dapat dipisahkan dengan

penyaringan dari produk bila reaksi telah selesai. Banyak proses industri yang menggunakan

katalis heterogen, sehingga proses dapat berlangsung lebih cepat dan biaya produksi dapat

dikurangi. Dalam makalah ini, akan dibahas lebih mendalam mengenai katalis heterogen

khususnya tentang cara kerja dan mekanisme reaksi dari katalis heterogen.

2.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dalam makalah ini, antara lain:

1. Pengertian katalis heterogen?

2. Bagaimanakah prinsip kerjanya?

3. Apa saja contoh dari katalis heterogen?

4. Bagaimana mekanisme reaksi dari katalis heterogen?

5. Bagaimana kinetika reaksi dari katalis heterogen?

6. Proses apa yang terjadi selama mekanisme reaksi katalis heterogen?

7. Katalis pendukung apa saja yang dibutuhkan oleh katalis heterogen?

8. Apa saja aplikasi penggunaan katalis heterogen di bidang industri?

3. Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, antara lain:

1. Memberikan informasi mengenai peranan katalis kimia.

2. Memberitahukan kepada pembaca tentang jenis-jenis katalis kimia.

3. Memberikan informasi mengenai katalis heterogen beserta contohnya.

4. Memberikan informasi tentang mekanisme kerja enzim katalis heterogen secara umum.

5. Mengetahui perbedaan antara mekanisme Langmuir-Hinshelwood dengan mekanisme dengan Eley-Rideal.

6. Mengetahui kinetika reajsi dari katalis heterogen

7. Memberikan informasi katalis pendukung yang dibutuhkan oleh katalis heterogen

8. Mengetahui peranan katalis heterogen.

BAB II

ISI

1. PENGERTIAN KINETIKA KATALIS HETEROGEN Katalis heterogen adalah katalis yang fasenya tidak sama dengan reaktan atau produk.

Pada umumnya fase katalis berupa padatan dan fase reaksi berupa gas. Penggunaan katalis ini

mempunyai keunggulan, yaitu mudah dipisahkan dari campuran reaksi dengan cara filtrasi,

tahan dan stabil terhadap suhu relatif tinggi, ramah lingkungan, tidak bersifat korosif, dapat

digunakan berulangkali dalam jangka waktu yang lama, mudah disiapkan dalam bentuk pallet

katalis padat, dan konstruksinya sederhana. Selain itu, katalis heterogen dapat meningkatkan

kemurnian hasil karena reaksi samping dapat dieliminasi. Hingga tahun 1980-an: sekitar 90%

katalis yang digunakan di dalam proses industri kimia berupa katalis heterogen. Mayoritas

dari katalis heterogen ini didasari pada silika, terutam sejak beberapa riset menunjukkan

keuntungan dari penggunaan silika, antara lain:

a) Kestabilan yang baik,

b) Luas permukaan yang lebih besar,

c) Mudah dan murah,

d) Kemudahan gugus organik dalam menjangkar ke permukaan, untuk menyediakan pusat

katalitis (Gupta et al, 2008)

2. KINETIKA KATALIS HETEROGEN

Reaksi antara gas dengan cairan dapat dibagi menjadi 8 kelompok dari reaksi yang

sangat cepat sampai reaksiyang sangat lambat.

Jika diambil reaksi sebagai berikut:

A (g) + Bb (larutan) → hasil

Gas A larut dalam cairan.

B tidak larut dalam phase gas.

Jadi A masuk phase cair dan reaksi hanya terjadi pada phase cair.

Salah satu contoh kinetika dengan reaksi yang sangat cepat adalah sebagai berikut: Bidang

reaksi terletak di dalam lapisancairan. Kecepatan difusi dari A dan B menentukan kecepatan

reaksi. Gas A habis bereaksi di dalam bidang reaksi.

Jika tahanan lapisan gas tidak berpengaruh: kAg= ∞ ; pA= Pa Dengan:  = koefisien

Jika tahanan lapisan gas tidak berpengaruh: kAg= ∞ ; pA= Pa

Jika tahanan lapisan gas tidak berpengaruh: kAg= ∞ ; pA= Pa Dengan:  = koefisien difusi

Dengan:

= koefisien difusi zat B dalam phase cair

DBl

= koefisien difusi zat A dalam phase cair

= tekanan parsiil A

DAl

pA

= konstanta Henry

HA

= koefisien transfer massaA dalam phase gas

kAg

= koefisien transfer massaA dalam phase cair

kAl

= interface

i

3. CONTOH-CONTOH KATALIS HETEROGEN

Contoh-contoh dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO, MgO, dan resin penukar ion.

Mekanisme katalis heterogen melalui lima langkah, yaitu: transport reaktan ke katalis,

interaksi reaktan-raktan dengan katalis (adsorpsi), reaksi dari spesi-spesi yang teradsorpsi

menghasilkan prodduk-produk reaksi, deadsorpsi produk dari katalis, transport produk

menjauhi katalis.

Contoh:

Katalis padat Fe untuk Proses Haber pada pembuatan amonia:

N 2(g) + 3 H 2(g) ↔2 NH 3(g)

Katalis padat Fe 2 O 3 -BiO 2 untuk oksidasi amonia pada pembuatan asam nitrat:

4 NH 3(g) + 5 O 2(g) ↔4 NO (g) + 6 H 2 O (g)

Katalis padat Ni pada hidrogenasi hidrokarbon:

R 1 CH=CHR 2(l) + H 2(g) →R 1 CH 2 CH 2 R 2(l)

(minyak tak jenuh)

(lemak jenuh)

Katalis arang (C) pada pembuatan asam khlorida:

H 2(g) + Cl 2(g) →2 HCl (g)

Tabel contoh-contoh katalis heterogen

Reaksi

Katalis

C 4 H 10 Butena dan C 4 H 6 (butadiena)

Cr 2 O 3 - Al 2 O 3

CH 4 atau hidrokarbon lain + H 2 O CO + H 2

Ni support

C 2 H 2

+

2H 2 C 2 H 6

Pd

pendukung Ni-Sulfida.

dalam

Al 2 O 3

atau

padatan

Hidrocraking

Logam (seperti Pd) pada zeolit

CO +

2H 2 CH 3 OH

atau

promoter Cu 1 ZnO dengan Cr 2 O 3 atau

Promotor

ZnO

dengan

Cr 2 O 3

Al 2 O 3

4. MEKANISME REAKSI KATALIS HETEROGEN Mekanisme yang tepat dari katalis heterogen belum dimengerti secara sempurna. Walaupun demikian tersedianya elektron d dan orbital d pada atom-atom permukaan katalis memegang peranan penting. Oleh karena itu aktifitas katalisis heterogen banyak dilakukan pada sejumlah besar unsur peralihan (transisi) dan senyawa senyawanya. Persyaratan kunci dalam katalisis heterogen ialah bahwa pereaksi fase gas atau larutan diadsorpsi kepermukaan katalis. (Fessenden,1986). Tidak semua atom atom permukaan sama efektifnya sebagai katalis, bagian yang efektif tersebut disebut sisi aktif katalis. Contoh sederhana katalisis heterogen adalah katalis menyediakan suatu permukaan dimana pereaksi-pereaksi (atau substrat) untuk sementara terjerap. Ikatan dalam substrat- substrat menjadi lemah sehingga memadai terbentuknya produk baru. Ikatan antara produk baru dan katalis lebih lemah sehingga akhirnya terlepas. Mekanisme dari katalis padat dengan reaktan fasa gas, dimana terjadi pembentukan kompleks reaktan dengan katalis setelah pembentukan produk adalah sebagai berikut :

1. Reaktan terbawa oleh aliran gas pembawa sampai kepermukaan luar partikel katalis.

2. Difusi reaktan dari permukaan luar masuk melalui pori dalam partikel katalis.

3. Reaktan diadsorpsi pada sisi aktif katalis sehingga menimbulkan energi adsorpsi

4. Reaksi pembentukan produk antara permukaan sampai terjadinya produk.

5. Produk didesorpsi dari katalis keluar melalui pori bagian partikel katalis.

6. Difusi produk menuju permukaan luar partikel katalis.

7. Produk mengikuti aliran gas pembawa.

1.

Mekanisme Katalis menurut Langmuir Hinshelwood

Pada mekanisme menurut Langmuir-Hinshelwood,laju reaksi heterogen dikendalikan oleh reaksi molekul teradsorpsi, dan bahwa semua adsorpsi dan tekanan desorpsi berada dalam kesetimbangan. Dengan mekanismenya sebagai berikut:

1. Adsorpsi dari fase gas

2. Desorpsi ke fase gas

3. Disosiasi molekul di permukaan

4. Reaksi antara molekul teradsorpsi

Berikut

ini

Hinshelwood:

merupakan

gambaran

mekanisme

katalis

menurut

Langmuir-

merupakan gambaran mekanisme katalis menurut Langmuir- Menurut Langmuir-Hinshelwood, mekanisme katalis heterogen C
merupakan gambaran mekanisme katalis menurut Langmuir- Menurut Langmuir-Hinshelwood, mekanisme katalis heterogen C

Menurut Langmuir-Hinshelwood, mekanisme katalis heterogen C 2 H 4 + H 2 → C 2 H 6 menggunakan katalis tembaga ialah sebagai berikut:

Contoh reaksi dengan mekanisme Langmuir-Henshelwood : 2 CO + O 2 → 2 CO 2

Contoh reaksi dengan mekanisme Langmuir-Henshelwood :

2 CO + O 2 → 2 CO 2 menggunakan katalis Platina 2 → 2 CO 2 menggunakan katalis Platina

CO + 2H 2 → CH3OH menggunakan katalis ZnO. 2 → CH3OH menggunakan katalis ZnO.

C 2 H 4 + H 2 → C 2 H 6 menggunakan katalis tembaga 2 H 4 + H 2 → C 2 H 6 menggunakan katalis tembaga

N 2 O + H 2 → N 2 + H 2 O menggunakan katalis Platina 2 O + H 2 → N 2 + H 2 O menggunakan katalis Platina

C 2 H 4 + ½ O 2 → CH 3 CHO menggunakan katalis Paladium 2 H 4 + ½ O 2 → CH 3 CHO menggunakan katalis Paladium

CO + OH → CO 2 + H+ + e- menggunakan katalis Platina 2 + H+ + e- menggunakan katalis Platina

Isotherm Langmuir : Isoterm adsorbsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fase teradsorbsi pada

Isotherm Langmuir :

Isoterm adsorbsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fase teradsorbsi pada permukaan adsorben dengan fase ruah kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorbsi (anonim,2008).

tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorbsi (anonim,2008). 9

Isoterm Langmuir ini berdasarkan asumsi bahwa :

a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanyadapat mengadsorbsi satu molekul untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang terserap.

b. Semua proses adsorbsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.

c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorbsi maksimum.

Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal berikut :

selalu ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul teradsorbsi tidak inert dan mekanisme adsorbsi pada molekul pertama asangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi. Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah sebagai berikut: Proses adsorbsi dapat dijelaskan melalui proses kimia. Jika adsorbatnya gas, kesetimbangannya :

dengan :

A(g) + S AS

A

= gas adsorbat

S

= sisi terbuka di permukaan

AS

= molekul terserap dari A atau sisi tertutup di permukaan

Konstanta kesetimbangannya :

K

x

AS

x P

s

dengan :

x AS = fraksi mol tertutup di permukaan

x

P = tekanan gas

= fraksi mol sisi terbuka di permukaan

s

Namun x AS lebih umum digunakan , sehingga x s = (1-) dan persaman sebelumnya menjadi:

Kp

1

Persamaan ini terkenal disebut isoterm Langmuir dengan K = konstanta kesetimbangan untuk adsorpsi. Untuk mencari harga :

Kp

1 Kp

Jumlah substansi terserap, m akan sebanding dengan untuk adsorbent tetentu

sehingga m = b. Bila dikonversikan ke persamaan sebelumnya menjadi :

1

1

1

m

b

bKp

Dengan memplotkan 1/m dengan 1/p harga k dan b bisa ditentukan dari nilai slope dan interseptnya.

2. Mekanisme katalis menurut Eley-Rideal :

Berikut ini merupakan mekanisme katalis menurut Eley-Rideal sebagai berikut:

1. Adsorpsi dari fase gas Difusi adalah peristiwa mengalirnya / berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian berkonsentrasi rendah. Proses difusi molekul reaktan kepermukaan atau difusi pada produk desorpsi merupakan proses yang paling lambat dan tidak dapat ditentukan kecuali pada penentuan proses teknik yang melibatkan penyerapan katalis.

2. Desorpsi ke fase gas

3. Disosiasi molekul di permukaan

4. Reaksi antara molekul teradsorpsi

5. Reaksi antara gas dan molekul teradsorpsi

Contoh reaksi dimisalkan sebagai berikut:

Mekanisme Eley-Rideal :

A 2 + 2B = 2AB

A 2 + * = A 2 * A 2 * + * = 2A* A* + B = AB + *

di mana langkah terakhir adalah reaksi langsung antara molekul teradsorpsi A * dan gas-molekul B.Contoh reaksi dengan mekanisme Eley-Rideal :

C 2 H 4 + ½ O 2 (adsorbed) → H 2 COCH 2 . 2 H 4 + ½ O 2 (adsorbed) → H 2 COCH 2 .

Adsorpsi disosiatif oksigen kemungkinan akan terjadi, sehingga akan membentuk produk sampingan karbon dioksida dan air.

CO 2 + H 2 (ads.) → H 2 O + CO 2 + H 2 (ads.) → H 2 O + CO

2NH 3 + 1½ O 2 (ads.) → N 2 + 3H 2 O on a 3 + 1½ O 2 (ads.) → N 2 + 3H 2 O on a platinum catalyst

C 2 H 2 + H 2 (ads.) → C 2 H 4 on nickel or 2 H 2 + H 2 (ads.) → C 2 H 4 on nickel or iron catalysts

2 (ads.) → C 2 H 4 on nickel or iron catalysts Untuk mekanisme Langmuir-Hinshelwood, laju

Untuk mekanisme Langmuir-Hinshelwood, laju akan melalui maksimal dan berakhir di nol, ketika permukaan benar-benar tertutup oleh A *. Sedangkan untuk mekanisme Eley-Rideal, laju akan meningkat dengan meningkatkan cakupan sampai permukaan benar-benar tertutup oleh A * Hal ini terjadi karena langkah B + * = B

*

tidak dapat melanjutkan bila A * blok semua situs. Kuncinya adalah bahwa langkah

B

+ * = B memerlukan situs gratis. Contoh katalisis heterogen ialah sebagai berikut:

CH 2 = CH 2 + H 2 → CH 3 - CH 3 dengan menggunakan katalis Ni

Molekul etena yang teradsorpsi pada permukaan nikel.Ikatan rangkap antara atom karbon terputus dan elektron yang digunakan untuk obligasi ke permukaan nikel.Molekul hidrogen juga teradsorpsi ke permukaan nikel.Ketika ini terjadi, molekul hidrogen yang rusak menjadi atom.Ini dapat bergerak pada permukaan nikel.Jika atom hidrogen berdifusi dekat dengan salah satu karbon terikat, ikatan antara karbon dan nikel digantikan oleh satu antara karbon dan hidrogen.Itu akhir etena asli sekarang istirahat bebas dari permukaan, dan akhirnya hal yang sama akan terjadi di ujung lain. Seperti sebelumnya, salah satu atom hidrogen membentuk ikatan dengan atom karbon, dan tujuan itu juga istirahat bebas. Saat ini sudah ada ruang di permukaan nikel untuk molekul reaktan baru untuk pergi melalui seluruh proses lagi.

5. PROSES YANG TERJADI SELAMA MEKANISME REAKSI KATALIS HETEROGEN Mekanisme yang terjadi pada katalis heterogen, melibatkan proses adsorpsi dan desorpsi. Sebelum digunakan katalis biasanya diaktivasi terlebih dahulu. Proses adsorpsi akan membawa molekul reaktan pada sisi aktif dari katalis, yang akan merubah sifat dari reaktan,

dan membentuk intermediet tertentu, kemudian produk dilepaskan dari permukaan melalui proses desorpsi (Whyman, 1994). Desorpsi molekul produk dibutuhkan untuk mengembalikan sisi aktif pada katalis heterogen yaitu analog dengan disosiasi kompleks dalam katalis homogen. Adsorpsi dapat merupakan fisisorpsi ketika tidak terbentuk ikatan kimia yang baru, dapat pula merupakan kemisorpsi ketika terbentuk ikatan kimia permukaan adsorben-adsorbat. Temperatur rendah fisisorpsi pada gas seperti nitrogen berguna untuk determinasi pada area total permukaan padatan, dimana kemosorpsi digunakan untuk determinasi tingkat sisi reaktif.

Katalis heterogen perlu diaktivasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Proses aktivasi katalis dalam beberapa hal lebih cenderung untuk melakukan desorpsi dalam adsorpsi molekul seperti air dari permukaan. Namun dalam kasus lain lebih cenderung untuk preparasi sisi aktif dengan reaksi kimia, seperti reduksi logam oksida menghasilkan logam aktif. Mekanisme umum yang terjadi pada katalis heterogen adalah proses adsorpsi dan proses

desorpsi yang terjadi pada sisi aktif katalis. Proses adsorpsi akan membawa molekul-molekul reaktan pada sisi aktif katalis, membentuk intermediet dan pada akhirnya menghasilkan produk yang kemudian dilepaskan ke permukaan katalis kembali (Atkins, 1994). Berikut ini merupakan jenis-jenis adsorpsi katalis:

1. Adsorpsi Kimia (Kemisorpsi)

Adsorpsi ini bersifat spesifik dan terjadi karena adanya ikatan kimia antara adsorben dengan zat yang

teradsorpsi (adsorbat). Pada adsorpsi

satu

lapisan(monolayer)yang terjadi dan biasanya terjadi pada suhu tinggi. Besarnya energi adsorpsi kimia ±100 kj/mol. Adsorpsi jenis ini menyebabkan terbentuknya ikatan secara kimia sehingga diikuti dengan reaksi kimia, maka adsorpsi jenis ini akan menghasilkan produksi reaksi

berupa senyawa yang baru. Ikatan kimia yang terjadi pada kemisorpsi sangat kuat mengikat molekul gas atau cairan dengan permukaan padatan sehingga sangat sulit untuk dilepaskan kembali (irreversibel). Dengan demikian dapat diartikan bahwa pelepasan kembali molekul yang terikat di adsorben pada kemisorpsi sangat kecil (Alberty, 1997).

bahwa pelepasan kembali molekul yang terikat di adsorben pada kemisorpsi sangat kecil (Alberty, 1997). kimia hanya

kimia hanya

2. Adsorpsi Fisika (Fisisorpsi) Adsorpsi ini tidak spesifik dan terjadi akibat adanya perbedaan energi atau gaya tarik bermuatan listrik (gaya Van Der Waals).Pada jenis adsorpsi fisika ini, terjadi beberapa lapisan (multilayer) dan terjadi pada suhu rendah.Besarnya energi adsorpsi fisika ±10 kj/mol. Molekul-molekul yang di adsorpsi secara fisika tidak terikat kuat pada permukaan, dan biasanya terjadi proses balik yang cepat (reversibel), sehingga mudah untuk diganti dengan molekul yang lain. Adsorpsi fisika didasarkan pada gaya Van Der Waals, dan dapat terjadi pada permukaan yang polar dan non polar. Adsorpsi juga mungkin terjadi dengan mekanisme pertukaran ion. Permukaan padatan dapat mengadsorpsi ion-ion dari larutan dengan mekanisme pertukaran ion. Oleh karena itu, ion pada gugus senyawa permukaan padatan adsorbennya dapat bertukar tempat dengan ion-ion adsorbat. Mekanisme pertukaran ini merupakan penggabungan dari mekanisme kemisorpsi dan fisisorpsi, karena adsorpsi jenis ini akan mengikat ion-ion yang diadsorpsi dengan ikatan secara kimia, tetapi ikatan ini mudah dilepaskan kembali untuk dapat terjadinya pertukaran ion (Atkins, 1990).

6. KATALIS PENDUKUNG DIBUTUHKAN OLEH KATALIS HETEROGEN Katalis heterogen biasanya membutuhkan pendukung (support), karena pendukung katalis memiliki kekuatan mekanik, tahan panas, mempunyai kerapatan ruah yang optimal, dan kemampuan pelarutan fase aktif. Pendukung juga meningkatkan luas permukaan, memiliki pori serta ukuran partikel yang optimal, dan peningkatan fungsi kimiawi seperti perbaikan aktivitas. Pemilihan pendukung didasarkan pada beberapa hal :

1. Keinertan

2. Sifat mekanik yang diinginkan, termasuk ketahanan terhadap kikisan, kekerasan dan ketahanan terhadap tekanan.

3. Kestabilan pada kondisi reaksi dan regenerasi.

4. Luas permukaan, diutamakan yang memiliki luas permukaan besar agar semakin banyak sisi aktif katalis yang terdistribusi.

5. Porositas, meliputi ukuran pori rata-rata dan distribusi ukuran pori

6. Sifat ekonomis bahan.

7.

APLIKASI PENGGUNAAN KATALIS HETEROGEN DI BIDANG INDUSTRI

1. Industri Pembuatan Amonia Amonia merupakan zat kimia yang digunakan sebagai bahan baku pada pabrik pupuk dan pabrik bahan peledak. Amonia disintesis dari gas N 2 dan H 2

dengan reaksi sebagai berikut:

N 2 (g) +3H 2 (g) 2NH 3 (g)

Pada suhu kamar, reaksi berlangsung lambat. Untuk mempercepat laju reaksi, ke dalam zat pereaksi ditambahkan katalis.

laju reaksi, ke dalam zat pereaksi ditambahkan katalis. Gambar 1. Bagan Sintesis Amonia Proses sintesis amonia

Gambar 1. Bagan Sintesis Amonia

Proses sintesis amonia menggunakan katalis ini ditemukan oleh ahli kimia Jerman, Fritz Haber pada 1905 sehingga proses ini dikenal dengan nama Proses Haber. Katalis yang digunakan adalah logam besi yang merupakan katalis heterogen. Katalis dapat dibuat lebih aktif dengan menambahkan aluminium oksida dan kalium oksida. Di Indonesia, terdapat beberapa perusahaan milik pemerintah (Bahan Usaha Milik Negara/ BUMN) yang memproduksi amonia untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Perusahaan-perusahaan tersebut di antaranya, PT Pupuk Kujang di Cikampek, Jawa Barat; PT Pupuk Iskandar Muda di Nanggroe Aceh Darussalam; PT Pupuk Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan; PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang, Kalimantan Timur; PT Petrokimia di Gresik, Jawa Timur.

2. Industri Otomotif Gas buang mesin merupakan salah satu pousi udara yang paling besar. Oleh karena itu digunakanlah catalytic conventer yang merupakan alat yang digunakan sebagai kontrol emisi gas buang yang diletakkan setelah exhaust manifold pada sistem kendaraan bermotor (Husselbee,1985). Katalis automotive (converter) ini pertama kali didesain pada tahun 1975 di US yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara dengan cara mengkonversi gas karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (NO x ) dan hidrokarbon (HC) yang merupakan gas buang dari reaksi pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor (Shelef, 2000). Gas karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (NO x ) dan kidrokarbon ( HC) yangmerupakan gas buang dari kendaraan pada saat pembakaran yang sangat merugikan manusia.Terbuangnya gas CO yang dapat mengurangi kadar oksigen dalam lingkungan sehingga bila terhirup manusia menyebabkan kadar oksigen di dalam darah berkurang.Hal ini disebabkan karena gas CO akan lebih mudah bereaksi dengan hemoglobin (Hb) yang mengakibatkan kemampuan darah untuk mentransfer oksigen berkurang. Selain gas CO, gas lain yang juga merupakan hasil pembuangan pada proses pembakaran adalah gas HC. Gas HC dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, rasa mengantuk dan bercak kulit. Sedangkan gas NO x dapat mengganggu sistem pernafasan dan merusak paru-paru. NOx juga dapat bereaksi dengan air membentuk hujan asam dan sangat berbahaya bagi lingkungan (Hardianto, 1998). Katalis yang digunakan pada alat ini ialah logam-logam mulia, seperti Platinum (Pt), Rhodium (Rh), dan Palladium (Pd). Logam-logam mulia tersebut mempunyai aktifitas spesifik yang tinggi sehingga menghasilkan konversi yang besar (Shelef, 2000). Palladium berfungsi sebagai katalis reaksi oksidasi, rhodium digunakan sebagai katalis rekasi reduksi dan platina dapat melakukan kedua reaksi tersebut (oksidasi dan reduksi). Logam lain yang terkadang digunakan walaupun secara terbatas adalah cerium, besi, mangan, tembaga dan nikel. Digunakan secara terbatas karena memiliki produk sampingan yang juga cukup berbahaya. Nikel dilarang di uni eropa karena reaksinya dengan CO menghasilkan nikel tetrakarbonil. Sedangkan tembaga dilarang di amerika utara karena menghasilkan senyawa dioksin. Ada beberapa tahapan pada catalytic converter.

a) Tahap awal dari proses yang terjadi pada Catalytic Converter adalah reaksi reduksi. Catalytic converter menggunakan platina dan rhodium sebagai katalis logam pada reaksi reduksi. Ketika gas NO x (NO atau NO2) masuk ke dalam catalytic converter, katalis logam akan mengadsorpsi dan menyimpan atom Nitrogen dan membebaskan oksigen dalam bentuk gas Oksigen (O 2 ). Atom Nitrogen yang tersimpan akan bereaksi dengan atom nitrogen lainnya yang teradsorpsi pada katalis membentuk gas Nitrogen (N 2 ). Reaksi yang terjadia dalah sebagai berikut:

2NO(g) → N 2 (g) + O 2 (g) atau 2NO 2 (g) → N 2 (g) + 2O 2 (g)

b) Tahap kedua dari proses yang terjadi pada Catalytic Converter adalah reaksi oksidasi. Katalis logam yang digunakan catalytic converter untuk reaksi oksidasi adalah Platina atau Paladium. Katalis logam tersebut membantu proses pengubahan emisi gas buang seperti gas Karbon monoksida (CO) dan sisa hidrokarbon menjadi gas karbondioksida (CO 2 ). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2 CO(g) + O 2 (g) = 2CO 2 dan C x H y (g) + O 2 (g) = CO 2 (g) + H 2 O(g)

c) Tahap ketiga adalah sistem kontrol yang mengawasi aliran gas buang pada catalytic converter. Informasi yang didapatkan pada sistem kontrol digunakan untuk mengatur perbandingan laju alir udara terhadap bahan bakar yang masuk ke ruang pembakaran. Sistem kontrol memungkinkan catalytic converter bekerja sedekat mungkin dengan titik stoikiometri (Farrauto, 1999) . Mekanisme reaksi rektan (CO, HC dan NOx) pada permukaan katalis mengikuti mekanisme tipe Langmuir-Hinselwood, di mana masing-masing reaktan akanteradsorpsi pada permukaan katalis membentuk pusat aktif, kemudian ked ua pusat aktif bereaksi pada permukaan menghasilkan produk yang selanjutny a didesorpsi, sebagai contoh adalah reaksi CO dan O2 pada permukaan katalis

Pt menghasilkan molekul CO2 seperti yang terlihat padaGambar di bawah ini (Ertl, 2008) .

seperti yang terlihat padaGambar di bawah ini (Ertl, 2008) . Gambar 2. Mekanisme Adsorpsi CO pada
seperti yang terlihat padaGambar di bawah ini (Ertl, 2008) . Gambar 2. Mekanisme Adsorpsi CO pada

Gambar 2. Mekanisme Adsorpsi CO pada Permukaan Katalis Pt

3. Industri Kimia Salah satu katalis heterogen yang paling terkenal yaitu katalis Zeolit. Katalis ini telah banyak digunakan dalam bidang industri kimia baik sebagai penukar ion, dan pemisahan gas. Hal ini dikarenakan katalis zeolit dapat mengkatalisa beberapa reaksi seperti crakcing, isomerisasi dan sintesa hidrokarbon. Peran dan aktivitas zeolit dalam mengkatalisa sangat ditentukan oleh jumlah dan situs asam yang terdapat pada permukaan. Karena kekuatan asam zeolit alam berada pada daerah yang lebar maka selektivitas katalis menjadi rendah. Dengan demikian perlu dilakukan penyeragaman kekuatan asam katalis yang dapat dilakukan dengan cara dealuminasi parsial. Katalis zeolit dapat digunakan dengan beberapa metoda.Metoda yang paling sering digunakan untuk mendistribusikan logam Ni dalam zeolit dilakukan dengan cara impregnasi dan ion exchange. Pada metoda ion exchange, cara memasukkan kation ke dalam kerangka zeolit dilakukan melalui pertukaran antara kation alkali atau alkali tanah dengan larutan garam logam prekursor. Bila ion exchange berlangsung pada zeolit alam, maka

dengan cara menukarkan logam alkali atau alkali tanah dengan ion Ni 2+ dan reaksi ini berlangsung pada temperature 180 o

4. Industri Minyak

Minyak mentah juga dapat diproses melalui metode cracking. Dalam metode ini, senyawa hidrokarbon rantai panjang diubah menjadi senyawa hidrokarbon rantai pendek dengan pemanasan untuk memutuskan ikatan karbon-karbon. Hidrokarbon akan merengkah jika dipanaskan jika temperaturnya melebihi 350-400 o C dengan atau tanpa bantuan katalis. Parafin adalah hidrokarbon yang paling mudah merengkah, disusul dengan senyawa- senyawa naftena. Sedangkan senyawa aromatik sangat sukar merengkah. Proses perengkahan yang terjadi hanya karena pemanasan dinamakan perengkahan termal (thermal cracking). Untuk menghemat penggunaan panas, maka digunakan katalis dan proses ini dinamakan catalytic cracking. Senyawa yang biasa digunakan sebagai katalis yaitu zeolit (senyawa kompleks aluminosilikat) dan suhu reaksi adalah sekitar 500˚C (lebih rendah daripada tidak menggunakan katalis). Karena campuran menunjukkan sifat seperti liquid (padahal campuran terdiri dari senyawa gas dan padatan) maka dikenal sebagai fluid catalytic cracking. Reaksi ini adalah contoh dari reaksi katalisis heterogen (katalis yang memiliki perbedaan fasa dengan reaktan). Ketika reaksi telah selesai dilakukan, produk akan dihasilkan dan dipisahkan dengan distilasi.

Reaksi yang terjadi adalah :

dipisahkan dengan distilasi. Reaksi yang terjadi adalah : 4. Industri polimer Polimerisasi Ziegler-Natta merupakan

4. Industri polimer Polimerisasi Ziegler-Natta merupakan metode sintetis polimer dengan

monomer yang memiliki ikatan rangkap, termasuk jenis polimerisasi adisi, metode

ini sesuai dengan namanya, ditemukan oleh dua ilmuawan yaitu Ziegler dan Natta.

Polimerisasi Ziegler-Natta menggunakan sistem katalis dan ko-katalis dalam reaksi polimerisasinya. Katalis ini merupakan senyawa komplek dari golongan I

III dengan halida dan turunan logam transisi golongan IV VII.

Katalis Ziegler-Natta biasanya adalah senyawa TiCl3 sebagai ko-katalis yang digunakan adalah TiCl3 dan Al(C2H5)2Cl atau TiCl4 dengan Al(C2H5)3. Reaksi antara katalis dan ko-katalis ini akan menghasilkan suatu komplek yang selanjutnya akan bereaksi dengan molekul propilena. Pada proses pengakhiran, polimerisasi Ziegler-Natta dilakukan dengan menambahkan molekul Hidrogen akan memutuskan pertumbuhan rantai polimer. Polimer Komersial yang Dibuat dengan Katalis ZieglerNatta, antara lain: Polietilena, Polipropilena, Kopolimer etilena dan 1-alkena, Polibutena-1, Polimetilpentena, Polisikloolefin, Polibutadiena, Poliisoprena, Poli-alfa-olefin amorf (APAO), Poliasetilena.

BAB III

PENUTUP

Katalis merupakan suatu zat yang sangat di perlukan dalam kehidupan manusia.

Katalis dapat dibagi berdasarkan dua tipe dasar, heterogen dan homogen. Katalis heterogen

merupakan katalis yang fasanya tidak sama dengan reaktan dan produk. Katalis heterogen

dapat berupa zat padat yang terdiri dari logam atau oksida logam misalnya zeolit, CaO, MgO,

dan resin penukar ion.

Pada dasarnya, katalis heterogen mencakup : adsorpsi pereaksi, difusi pereaksi

sepanjang permukaan, reaksi pada sisi aktif membentuk hasil reaksi yang diadsorpsi, dan

lepasnya (desorpsi) hasil reaksi. Cara kerjanya dengan menempel pada bagian substrat

tertentu dan pada akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan dari reaksi, sehingga reaksi

berlangsung dengan cepat.

Keuntungan katalis heterogen adalah ramah lingkungan, tidak bersifat korosif, mudah

dipisahkan dari produk dengan cara filtrasi, serta dapat digunakan berulangkali dalam jangka

waktu yang lama.

DAFTAR PUSTAKA Brady, E James. Th. Kimia Univesitas Asas Dan Struktur. Tangerang: Binarupa Aksara

Chang, Raymond. 2004 . Kimia Dasar. Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Sastrohamidjodjo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM Press

http//www.chemis-try.org.com