Anda di halaman 1dari 14

Tugas

RADIO FARMASI
(Pengelolaan, Pembuatan Sediaan, dan Aplikasinya)

Disusun Oleh:
KELOMPOK V
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Moh. Arif Pakaya


Gledys Puti
Madyaratri
Mutia Abdul Gawi
Nursinta Tahaku
Rafika Wulan Sari
Rahmi Monoarfa
Sri Ayu Wandira Tolago
Waode Aulia Febri

(
(821411082)
(821411053)
(
(
(821411071)
(
(821411072)
(

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN DAN KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Radiasi dalam istilah fisika, pada dasarnya adalah suatu cara
perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan
medium. Beberapa contohnya adalah perambatan panas, perambatan cahaya,
dan perambatan gelombang radio. Selain radiasi, energi dapat juga

dipindahkan dengan cara konduksi, kohesi, dan konveksi. Dalam istilah


sehari-hari radiasi selalu diaso-siasikan sebagai radioaktif sebagai sumber
radiasi pengion.
Secara garis besar ada dua jenis radiasi yakni radiasi pengion dan
radiasi bukan pengion. Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat
menyebabkan proses terlepasnya electron dari atom sehingga terbentuk
pasangan ion.
Seiring perkembangan teknologi masa kini dengan adanya radioaktif
membawa perkembangan di dalam berbagai aspek kehidupan. Perlu kita
ketahui bawasannya dengan berkembangnya teknologi membawa perubahan
yang sangat signifikan akan tetapi semua itu selain memberikan pengaruh
yang positif juga menimbulkan efek negative pula.
Radio Farmasi atau Farmasi Nuklir adalah penggunaan prinsip dan
cara-cara farmasi dan radiokimia untuk membuat obat yang mengandung zat
radioaktif (radiofarmaka) bagi keperluan zat radioaktif (radiofarmaka) bagi
keperluan diagnosa dan penyembuhan (terapi) penyakit yang diidap pasien
(Anonim. 2006).
Maka dalam makalah ini membahas tentang radio farmasi atau disebut
dengan farmasi nuklir berdasarkan pengelolaan, pembuatan sediaan, serta
aplikasi sediaan dalam radio farmasi.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari radio farmasi?
2. Bagaimana pengelolaan radio farmasi?
3. Bagaimana Pembuatan radiofarmasi/radiofarmaka, jalur penyimpanan
menurut CPOB?
4. Apa manfaat dan bagaimana pengaplikasian radiofarmasi dalam beberapa
bidang?
I.3 Tujuan
1. Memahami definisi dari radio farmasi
2. Mengetahui pengelolaan radio farmasi

3. Mempelajari Pembuatan radiofarmasi/radiofarmaka, jalur penyimpanan


menurut CPOB
4. Mengetahui manfaat dan mengaplikasikan radiofarmasi dalam kehidupan
sehari - hari

BAB II
ISI
II.1 Definisi Radiofarmasi
Radio Farmasi atau Farmasi Nuklir adalah penggunaan prinsip dan caracara farmasi dan radiokimia untuk membuat obat yang mengandung zat
radioaktif (radiofarmaka) bagi keperluan zat radioaktif (radiofarmaka) bagi
keperluan diagnosa dan penyembuhan (terapi) penyakit yang diidap pasien
(Anonim. 2006).
Sediaan farmasi Nuklir adalah sediaan radio isotop yang digunakan
reaktor nuklir, telah mengalami suatu pengolahan kimia (destruksi, destilasi,
ekstraksi dll) dan oleh manusia baik untuk diagnose maupun terapi serta
mengalami metabolisme di dalam tubuh. Dalam definisi lain dikatakan
Sediaan radio farmasi adalah sediaan radio isotop yang didapat dari target
yang telah diradiasi dalam suatu reactor nuklir, telah mengalami Kedokteran
Nuklir menurut Society of Nuclear Medicine (SNM), kedokteran nuklir
adalah bidang keahlian dalam kedokteran yang menggunakan isotop

radioaktif secara aman, tanpa sakit, dan murah, baik untuk pencitraan maupun
untuk pencegahan dan pengobatan penyakit (Anonim. 2006).
Jadi ada 2 fokus utama dalam kedokteran nuklir, Yang pertama adalah
pencitraan organ tubuh. Pencitraan disini unik karena bisa menggambarkan
fungsi dan struktur organ tubuh sekaligus. Dengan cara ini dapat diperoleh
informasi medis tanpa melalui operasi, yang dengan cara lain mungkin tidak
bisa dilakukan,membutuhkan operasi atau biaya diagnosa yang lebih mahal.
Karena kemampuan untuk menggambarkan fungsi dan struktur organ (bukan
struktur saja), maka banyak penyakit yang bisa dideteksi lebih dini, dengan
demikian pengobatannya pun menjadi lebih efektif (Anonim. 2006).
II.2 Pengelolaan Radiofarmasi
Pengolahan Radiofarmasi/radiofarmaka, yakni (Nanda, 2014):
1. Langkah kegiatan selama proses pengolahan radiofarmaka hendaklah
seminimalmungkin. Pereaksi yang boleh digunakan hanya pereaksi yang
sudah diujisebelumnya dan disertifikasi dan bila dibutuhkan dipreparasi
baru.
2. Penggunaan

proses

dengan

system

tertutup

dapat

mengurangi

kontaminasi serta memungkinkan penerapan formulasi produk langkah


tunggal (single step formulation) hendaklah digunakan lemari asam dan
tempat kerja dengan udara bersih beraliran laminer yang terawat baik.
3. Penyalaan lampu UV di tempat kerja sebelum digunakan dapat
mengurangi jumlah mikroba. Kedua tempat tersebut hendaklah
didisinfeksi dengan etanol 70% atau disinfektan permukaan sebelum
pekerjaan dimulai. Sarung tangan steril hendaklah digunakan selama
proses. Limbah yang dihasilkan hendaklah dipindahkan, disimpan secara
terpisah dan dibuang menurut prosedur tetap yang berlaku
4. Semua peralatan dan area kerja sekitarnya harus dibersihkan dengan
seksama tiap hari setelah selesai bekerja. Langit-langit, dinding dan
permukaan struktural lainharus dibersihkan secara teratur. Fumigasi
ruangan harus dilakukan tiap bulan
5. Rangkaian penyaring steril sekali-pakai hendaklah digunakan untuk
proses penyaringan

aseptis. Penyaring

ini hendaklah diuji

integritasnya dengan bubble test atau kemampuannya menyaring kultur


mikroorganisme Serratia marcescens Penerimaan dan Karantina

6. Pada saat kedatangan bahan dan sebelum diterima, tiap wadah atau
kelompok wadah dari bahan hendaklah diperiksa secara visual terhadap
pelabelan yang benar (termasuk korelasi antara nama yang digunakan
oleh pemasok dan nama in-house, kerusakan wadah, segel yang putus
dan bukti kerusakan atau kontamisasi.
7. Bahan hendaklah dikarantina sampai bahan tersebut diambilsampelnya,
diuji dengan cara yang sesuai dan diluluskan untuk digunakan, sebelum
bahan yang datang dicampur dengan stok yang ada (misal: pelarut
ataustok di dalam silo), bahan tersebut hendaklah diidentifikasi dengan
benar, diuji jika perlu dan diluluskan.
8. Prosedur hendaklah tersedia untuk mencegah

salah masuknya bahan

yang datang ke dalam stok yang ada jika pengiriman produk rumahan
dilakukan dengan tangker yang tidak didedikasikan untuk satu produk,
hendaklah ada jaminan tidak ada kontaminasi silang yang berasal dari
tangker. Cara untuk memberikan jaminan ini dapat mencakup satu atau
lebih hal sebagai berikut:
a. sertifikat pembersihan
b. pengujian untuk impuritas sesepora; dan
c. audit terhadap pemasok
9. Wadah penyimpanan besar dan manifold pendamping serta lajur
pengisian dan pengeluarannya hendaklah diidentifikasi semestinya.
10. Tiap wadah atau kelompok wadah (batch) dari bahan hendaklah ditandai
dan diidentifikasi dengan suatu nomor kode, nomor batch atau nomor
penerimaan yang yang berbeda. Nomor ini hendaklah digunakan untuk
mencatat disposisi tiap batch. Hendaklah ada suatu sistem untuk
mengidentifikasi status dari tiap batch.
II.3 Pembuatan Sediaan Radiofarmasi
Pembuatan radiofarmasi/radiofarmaka, jalur penyimpanan menurut CPOB
2012 produksi prosedur fasilitas radioaktif (Nanda, 2014):
1. Semua radiofarmaka hendaklah ditangani dalam lemari asam, glove boxes
2.

atau hotcells, biohazard safety cabinet


Glove boxes hendaklah dilengkapi dengan perisai yang memadai dan

fasilitas remote handling


3. Pemasukan bahan ke dalam glove boxes atau hot cells dan pengeluaran
produk hendaklah dilakukan tanpa penyebaran radioaktivitas.

4. Pemindahan, penyimpanan dan penanganan zat radioaktif di luar


glove boxes atau hot cells hendaklah dilakukan dengan perisai yang
memadai dan alat remote handling untuk meminimalkan paparan radiasi
kepada personil.
5. Semua kegiatan operasional hendaklah didesain dan distandarkan secara
seksamauntuk meminimalkan penyebaran radioaktif.
6. Glove boxes atau hot cells hendaklah dilengkapi dengan ventilasi yang
tepat untuk penanganan zat radioaktif.
7. Mutu udara pada peralatan tersebut hendaklah memenuhi persyaratan
CPOB untuksediaan injeksi dan sediaan lain.
8. Fasilitas di bawah ini hendaklah memenuhi persyaratan:
a. Hot cells, hendaklah dijaga kebersihannya sesuai jenis produk yang
diproses. Gunakan peralatan kelas a untuk produk steril. Gunakan
peralatan kelas c untuk produk nonsteril.
b. Laboratorium radioaktif, ruang preparasi dan ruang pengawasan mutu
hendaklah memenuhi persyaratan kelas d untuk menghindarkan
kontaminasi oleh mikroorganisme dan debu. Bila hot cell tidak benarbenar kedap udara, maka lingkungan sekitarnya hendaklah memenuhi
persyaratan kelas c.
c. Glove box/hot-cells untuk penanganan zat radioaktif hendaklah
distandarkan dengan baik, namun demikian, penggabungan persyaratan
proteksi radiasi dan persyaratan ruang bersih masih belum sepenuhnya
distandarkan. Untuk tujuan ini, Biohazard safety cabinet dengan
beberapa modifikasi dapat digunakan.
9. Semua peralatan lain hendaklah dipilih untuk menjaga mutu udara
selama pengoperasian.
10. Fasilitas lain yang disyaratkan pada laboratorium radioaktif:
a. Diperlukan fasilitas yang dilengkapi perisai untuk menyimpan sampel
radioaktif;
b. Pengumpulan limbah radioaktif hendaklah dipisahkan dari limbah
nonradioaktif dan diberi perisai timbal;
c. Pemantauan personil
Personil radiasi yang menangani bahan radioaktif dalam bentuk
serbuk atau gas, besar kemungkinan terkena radioaktivitas pada
tubuh melalui pernafasan dan mulut. Paparan radiasi akibat
radionuklida yang tersimpan di dalam tubuh personil hendaklah
ditentukan secara periodik dengan cara pencacahan seluruh tubuh

(whole body counting) atau pemantauan ekskreta seperti pada air


seni(dengan penetapan kadar secara biologis Bioassay-) atau
dengan cara pemindaian terhadap organ khusus;
Bila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan
laboratorium

terkontaminasi

secara

luas,

lingkungan

hendaklah

diambil

dari personil sampel air seni untuk segera dianalisis. Selain

itu

seluruh personil yang menangani radioaktif dalam bentuk serbuk


atau gas hendaklah diminta mengikuti pencacahan seluruh tubuh
terhadap sinar gamma dan aktinida dalam paru-paru paling sedikit
satu kali dalam setahun atau bila diperlukan dilihat dari sudut
keamanan;
d. Pemantauan radiasi

hendaklah

dilakukan

selama

pemrosesan

berlangsung; dan
e. Dalam hal terjadi kontaminasi, langkah seperti yang diuraikan
dalam prosedur proteksi terhadap radiasi harus dilaksanakan. Lihat para
grafproteksi radiasi dan keselamatan, butir 148. Produksi produk
radioaktif yang berbeda dalam ruang yang sama dan pada waktu yang
sama hendaklahdihindarkan untuk meminimalkan risiko kontaminasi
silang atau kecampurbauran.
11. Validasi proses, pengawasan selama-proses serta pemantauan parameter
proses dan lingkungan menjadi sangat penting dalam kasus yang
memerlukan pengambilan keputusan untuk meluluskan atau menolak bets
produk sebelum semua pengujianmutu selesai.
12. Prosedur tetap (protap) harus tersedia untuk semua kegiatan. Protap
untuk pembuatan produk hendaklah dikaji secara

berkala

dan

dibuat

terkini. Semua data tahapan kritis yang dimasukkan operator ke catatan


bets hendaklah diperiksa secaraterpisah oleh operator lain atau supervisor.
13. Spesifikasi bahan awal hendaklah mencantumkan rincian keterangan
tentang pemasok, orisinal bahan dan apabila berlaku, metode pembuatan
dan pengendalian mutu yang digunakan untuk memastikan ketepatan
penggunaan dari bahan tersebut.produk jadi diluluskan hanya apabila hasil
uji bahan awal memenuhi syarat.
14. Berbagai jenis peralatan digunakan untuk pembuatan radiofarmaka. Secara
umum, peralatan

kromatografi

hendaklah digunakan

khusus untuk

preparasi dan pemurniansatu atau beberapa produk yang bertanda

radionuklida

sama

sehingga

kontaminasisilang

radioaktif

dapat

dihindarkan. Masa pakai (Life span) kolom hendaklah ditetapkan.


Perhatian

besar

perlu

diberikan

untuk

pembersihan,

dan pengoperasian alat pengering beku (freeze-drying)

yang

sterilisasi
digunakan

untuk menyiapkan kit.


15. Hendaklah disusun suatu daftar peralatan kritis seperti timbangan, oven
depirogenisasi, kalibrator dosis, filter sterilisasi dan lain lain, di mana
kesalahan pembacaan atau fungsi pada alat dapat membahayakan
yang

mendapatkan

produk

jadi

pasien

radiofarmaka.

Peralatan tersebut hendaklah dikalibrasi dan diuji pada interval waktu yang
teratur serta hendaklah diperiksa kondisinya tiap hari atau sebelum proses
produksi mulai. Hasil pemeriksaan dicatat dalam buku log.
16. Peralatan khusus untuk pengukuran bahan radioaktif dibutuhkan, demikian
juga baku pembanding radioaktif.

Alat untuk mengukur radioaktifitas

hendaklah dikalibrasi oleh lembaga yang telah diakreditasi pemerintah.


II.4 Aplikasi Radiofarmasi
Adapun beberapa manfaat dan aplikasi radiofarmasi dalam beberapa
bidang, yakni (Saha, 2004):
a. Bidang Kedokteran
Penggunaan radioaktif untuk kesehatan sudah sangat banyak, dan sudah
berapa juta orang di dunia yang terselamatkan karena pemanfaatan
radioaktif ini. Sebagai contoh sinar X untuk penghancur tumor atau untuk
foto tulang. Berdasarkan radiasinya:
1) Sterilisasi radiasi
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme
sehingga dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran.
Steritisasi dengan cara radiasi mempunyai beberapa keunggulan jika
dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan bahan
kimia), yaitu:
a) Sterilisasi radiasi lebihsempurna dalam mematikan mikroorganisme.
b) Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
c) Karena dikemas dulu baru disetrilkan maka alat tersebut tidak
mungkin tercemar bakteri lagi sampai kemasan terbuka. Berbeda
dengan cara konvensional, yaitu disterilkan dulu baru dikemas, maka

dalam proses pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit


penyakit.
2) Terapi tumor atau kanker
Berbagai jenis tumor atau kanker dapat diterapi dengan radiasi.
Sebenarnya, baik sel normal maupun sel kanker dapat dirusak oleh
radiasi tetapi sel kanker atau tumor ternyata lebih sensitif (lebih mudah
rusak). Oleh karena itu, sel kanker atau tumor dapat dimatikan dengan
mengarahkan radiasi secara tepat pada sel-sel kanker tersebut.
3) Penentuan Kerapatan Tulang Dengan Bone Densitometer
Pengukuran kerapatan tulang dilakukan dengan cara menyinari tulang
dengan radiasi gamma atau sinar-X. Berdasarkan banyaknya radiasi
gamma atau sinar-X yang diserap oleh tulang yang diperiksa maka
dapat

ditentukan

konsentrasi

mineral

kalsium

dalam

tulang.

Perhitungan dilakukan oleh komputer yang dipasang pada alat bone


densitometer tersebut. Teknik ini bermanfaat untuk membantu
mendiagnosiskekeroposan tulang (osteoporosis) yang sering menyerang
wanita pada usia menopause (matihaid).
4) Three Dimensional Conformal Radiotheraphy (3d-Crt)
Terapi radiasi dengan menggunakan sumber radiasi tertutup atau
pesawat pembangkit radiasi telah lama dikenal untuk pengobatan
penyakit kanker. Perkembangan teknik elektronika maju dan peralatan
komputer canggih dalam dua dekade ini telah membawa perkembangan
pesat dalam teknologi radioterapi. Dengan menggunakan pesawat
pemercepat partikel generasi terakhir telah dimungkinkan untuk
melakukan radioterapi kanker dengan sangat presisi dan tingkat
keselamatan yang tinggi melalui kemampuannya yang sangat selektif
untuk membatasi bentuk jaringan tumor yang akan dikenai radiasi,
memformulasikan serta memberikan paparan radiasi dengan dosis yang
tepat pada target.
Dengan memanfaatkan teknologi 3D-CRT ini sejak tahun 1985 telah
berkembang metoda pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion
sebagai pisau bedahnya (gamma knife). Dengan teknik ini kasus-kasus
tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional
menjadi dapat diatasi dengan baik oleh pisau gamma ini, bahkan tanpa

perlu membuka kulit pasien dan yang terpenting tanpa merusak jaringan
di luar target.
5) Teknik Pengaktivan Neutron
Teknik nuklir ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan
mineral tubuh terutama untuk unsur-unsur yang terdapat dalam tubuh
dengan jumlah yang sangat kecil (Co, Cr, F, Fe, Mn, Se, Si, V, Zn dsb)
sehingga sulit ditentukan dengan metoda konvensional. Kelebihan
teknik ini terletak pada sifatnya yang tidak merusak dan kepekaannya
sangat tinggi. Di sini contoh bahan biologik yang akan diperiksa
ditembaki dengan neutron.
Penggunaan radioaktif dalam bidang kedokteran terutama untuk
pendeteksian jenis kelainan di dalam tubuh dan untuk penyembuhan
kanker yang sangat sukar dioperasi menggunakan metode lama. Prinsip
radioaktif ini juga dimanfaatkan untuk pengetesan kualitas bahan di dalam
suatu industri yang dapat dipergunakan dengan mudah dan dengan
ketelitian yang tinggi. Radioisotop yang digunakan dalam bidang
kedokteran dapat berupa sumber terbuka (unsealed source) dan sumber
tertup

(sealed

source).

Ketika

radioisotop

tersebut

tidak

dapat

dipergunakan lagi, maka sumber radioaktif bekas tersebut sudah menjadi


limbah radioaktif.
Dalam bidang kedokteran, radiografi digunakan untuk mengetahui
bagian dalam dari organ tubuh seperti tulang, paru-paru dan jantung.
Dalam radiografi dengan menggunakan film sinar-x, maka obyek yang
diamati sering tertutup oleh jaringan struktur lainnya, sehingga didapatkan
pola gambar bayangan yang didominasi oleh struktur jaringan yang tidak
diinginkan. Hal ini akan membingungkan para dokter untuk mendiagnosa
organ tubuh tersebut. Untuk mengatasi hal ini maka dikembangkan
teknologi yang lebih canggih yaitu CT-Scanner.
Radioisotop

Teknesium-99m

(Tc-99m)

merupakan

radioisotop

primadona yang mendekati ideal untuk mencari jejak di dalam tubuh. Hal
ini dikarenakan radioisotop ini memiliki waktu paro yang pendek sekitar 6
jam sehingga intensitas radiasi yang dipancarkannya berkurang secara
cepat setelah selesai digunakan. Radioisotop ini merupakan pemancar

gamma murni dari jenis peluruhan electron capture dan tidak


memancarkan radiasi partikel bermuatan sehingga dampak terhadap tubuh
sangat kecil. Selain itu, radioisotop ini mudah diperoleh dalam bentuk
carrier free (bebas pengemban) dari radioisotop molibdenum-99 (Mo-99)
dan dapat membentuk ikatan dengan senyawa-senyawa organik.
Radioisotop ini dimasukkan ke dalam tubuh setelah diikatkan dengan
senyawa tertentu melalui reaksi penandaan (labelling).
Di dalam tubuh, radioisotop ini akan bergerak bersama-sama dengan
senyawa yang ditumpanginya sesuai dengan dinamika senyawa tersebut di
dalam tubuh. Dengan demikian, keberadaan dan distribusi senyawa
tersebut di dalam tubuh yang mencerminkan beberapa fungsi organ dan
metabolisme tubuh dapat dengan mudah diketahui dari hasil pencitraan.
Pencitraan dapat dilakukan menggunakan kamera gamma. Radioisotop ini
dapat pula digunakan untuk mencari jejak terjadinya infeksi bakteri,
misalnya bakteri tuberkolose, di dalam tubuh dengan memanfaatkan
terjadinya reaksi spesifik yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Terjadinya
reaksi spesifik tersebut dapat diketahui menggunakan senyawa tertentu,
misalnya antibodi, yang bereaksi secara spesifik di tempat terjadinya
infeksi. Beberapa saat yang lalu di Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka
(PRR) BATAN telah berhasil disintesa radiofarmaka bertanda teknesium99m untuk mendeteksi infeksi di dalam tubuh. Produk hasil litbang ini saat
ini sedang direncanakan memasuki tahap uji klinis.
Dalam bidang kesehatan radioisotop digunakan sebagai perunut (tracer)
untuk mendeteksi kerusakan yang terjadi pada suatu organ tubuh. Selain
itu radiasi dari radioisotop tertentu dapat digunakan untuk membunuh selsel kanker sehingga tidak perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat
jaringan sel kanker tersebut. Berikut ini adalah contoh beberapa
radioisotop yang dapat digunakan dalam bidang kesehatan (Sutresna,
2007). Contoh radioisotop dalam bidang kedokteran (Leswara, 2008):

I-131 Terapi penyembuhan kanker Tiroid, mendeteksi kerusakan pada

kelenjar gondok, hati dan otak


Pu-238 energi listrik dari alat pacu jantung
Tc-99 & Ti-201 Mendeteksi kerusakan jantung

Na-24 Mendeteksi gangguan peredaran darah


Xe-133 Mendeteksi Penyakit paru-paru
P-32 digunakan untuk pengobatan penyakit polycythemia rubavera,
yaitu pembentukkan sel darah merah yang berlebihan. Didalam
penggunaannya P-32 disuntikkan ke dalam tubuh sehingga radiasinya
yang memancarkan sinar beta dapat menghambat pembentukan sel
darah merah pada sumsum tulang. Sedangkan, sinar gamma dapat
digunakan untuk mensterilkan alat-alat kedokteran, sebelum dikemas
dan ditutup rapat, misalnya pada proses sterilisasi alat suntik.
Sebenarnya sebelum dikemas, alat suntik sudah disterilkan. Tetapi, pada
proses pengemasan masih mungkin terjadi kontaminasi, sehingga
setelah alat suntik tersebut dikemas dan ditutup rapat perlu dilakukan

sterilisasi ulang dengan menggunakan sinar gamma.


b. Bidang Hidrologi
1) Mempelajari kecepatan aliran sungai.
2) Menyelidiki kebocoran pipa air bawah tanah.
c. Bidang Biologis
1) Mempelajari kesetimbangan dinamis
2) Mempelajari reaksi pengesteran.
3) Mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis.
d. Bidang pertanian
1) Pemberantasan hama dengan teknik jantan mandul, contoh: Hama kubis
2) Pemuliaan tanaman/pembentukan bibit unggul, contoh: Padi
3) Penyimpanan makanan sehingga tidak dapat bertunas, contoh: kentang
dan bawang.
e. Bidang Industri
1) Pemeriksaan tanpa merusak, contoh : Memeriksa cacat pada logam
2) Mengontrol ketebalan bahan, contoh : Kertas film, lempeng logam
3) Pengawetan bahan, contoh : kayu, barang-barang seni
4) Meningkatkan mutu tekstil, contoh : mengubah struktur serat tekstil
5) Untuk mempelajari pengaruh oli dan aditif pada mesin selama mesin
bekerja.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat radioaktif dan
radioisotop memudahkan aktifitas manusia dalam berbagai bidang
kehidupan. Penggunaan radioisotop sangat membantu manusia dalam
berbagai bidang kehidupan seperti yang telah disebutkan dalam bab
pembahasan, seperti dalam bidang kedokteran untuk mendeteksi kelainankelainan dalam jaringan tubuh, dalam hidrologi untuk menyelidiki
kebocoran-kebocoran, atau dalam bidang pertanian untuk membentuk bibit
unggul, dan dalam penyimpanan makanan pun radioisotop diperlukan. Serta
dalam bidang kimia, sains, pengukuran usia bahan organik, serta dalam
bidang industri.
III.2 Saran
Berdasarkan

apa

yang

telah

dijelaskan

dalam

makalah

mengenai Radioaktif dalam farmasi ini pasti ada kekurangan maupun


kelebihannya. Adapun kritik maupun saran dapat disampaikan kepada kami
agar dapat memperbaiki makalah ini baik dari segi penulisan, materi,

maupun tata bahasa yang disampaikan. Kami mengharapkan pembaca dapat


mengambil manfaat dari makalah yang telah dibuat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Nuclear Medicine ResourcesManual. Austria: IAEA
Leswara, N.D. 2008. Buku Ajar Radiofarmasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Nanda,

D.G.

2014.

Kuliah

Radio

Farmasi,

https://www.academia.edu/8492685/Tugas_Kuliah_RADIO_FARMASI
diakses pada 03 Oktober 2015
Saha, G.B. 2004. Fundamentals of Nuclear Pharmacy 5th edition. New York:
Springer