Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Masa pertumbuhan dan perkembangan paling pesat terjadi pada dua tahun awal
kehidupan. Status gizi yang optimal pada baduta merupakan salah satu penentu kualitas
sumber daya pada masyarakat sehingga penanganan tepat pada awal pertumbuhan akan
mencegah gangguan gizi yang dapat muncul saat dewasa (Merryana, 2012). Anak yang
gizi baik juga harus mendapat perhatian gizi, hal ini di sebabkan pada usia ini anak
rentan terkena gizi kurang sehingga bila tidak mendapat penanganan lebih lanjut dapat
membuat anak mengalami penurunan status gizi buruk (UNICEF, 2009)
Usia dua tahun pertumbuhan dan perkembangan anak membutuhkan gizi cukup
yang dipengaruhi oleh faktor internal berupa genetik dan faktor eksternal berupa asupan
makanan yang dikonsumsi setiap hari (Ministry of Health, 2008). Berdasarkan data
WHO 2011, prevalensi anak gizi kurang di Indonesia mencapai 13% dan untuk angka
kematian akibat gizi buruk mencapai 54% (WHO, 2011). Salah satu penyebab gizi
kurang pada anak adalah praktik pemberian makanan pada anak yang tidak tepat
(Depkes RI, 2010). Berdasarkan data WHO 2010, 1,5 juta anak meninggal karena
pemberian makanan yang tidak tepat dan 90% diantaranya terjadi di negara berkembang
(WH, 2010).
Pemberian makanan pada anak dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap ibu
serta adanya dukungan keluarga dan lingkungan. Pengetahuan dan sikap ibu akan
mempengaruhi asupan makanan yang ada di dalam keluarga terutama anak (Depkes RI
2005).
Berdasarkan data Puskesmas tahun 2014 pada wilayah kelurahan Tugu Utara III
terdapat 576 balita. Pada bulan Desember 2014 Februari 2015 ditemukan 12 kasus
BGM (gizi buruk berdasarkan BB/usia) dan 9 kasus gizi kurang.
Pada wilayah RW 13, Kelurahan Tugu Utara III merupakan wilayah kumuh dan
miskin dengan tingkat pendidikan warga yang beragam (rata-rata berpendidikan
menengah) dan masih ditemukan gizi buruk serta gizi kurang dengan jumlah yang cukup

banyak. Berdasarkan data Puskesmas tahun 2014 jumlah balita di RW 13 sebanyak 329
balita. Pada bulan April 2015, jumlah bayi usia 6 12 bulan di RW 13 sebanyak 53 bayi.
Pada bulan Januari Mei 2015, di RW 13 terdapat 4 balita BGM (gizi buruk berdasarkan
BB/usia) dan 9 balita gizi kurang.
Di masa bayi ASI merupakan makanan terbaik dan utama karena mempunyai
kandungan zat kekebalan yang sangat diperlukan untuk melindungi bayi dari berbagai
penyakit terutama penyakit infeksi. Namun seiring pertumbuhan bayi, maka bertambah
pula kebutuhan gizinya, sebab itu sejak usia 6 bulan, bayi mulai diberi makanan
pendamping ASI (MP-ASI) (Ikhwansyah, 2007). Makanan pendamping ASI diberikan
mulai umur 6 bulan sampai 24 bulan. Semakin meningkat umur bayi/ anak, kebutuhan zat
gizi semakin bertambah untuk tumbuh kembang anak, sedangkan ASI yang dihasilkan
kurang memenuhi kebutuhan gizi (Depkes RI, 2005). Oleh karena itu, penulis penulis
merasa perlu mengkaji lebih lanjut mengenai Pengetahuan ibu mengenai pemberian
makanan pendamping ASI (MPASI) pada bayi usia 6 bulan 12 bulan di wilayah
kerja RW 013, Puskesmas Tugu Utara III Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
1.2. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :
1.2.1. Umum
Pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI pada bayi usia 6-12 bulan di
wilayah kerja RW 013, Puskesmas Tugu Utara III Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
1.2.2. Khusus
1). Tingkat pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI pada bayi usia 6 12 bulan di RW 013, Puskesmas Tugu Utara III Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
2). Adakah perubahan tingkat pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI
pada bayi usia 6 - 12 bulan di RW 013, Puskesmas Tugu Utara III Kecamatan Koja,
Jakarta Utara.