Anda di halaman 1dari 16

Krisis Finansial dan Serikat Buruh :

Studi mengenai Strategi Serikat buruh di Eropa


Oleh Yasmine MS Soraya

The Financial Crisis which has occurred since last year in the United State has spread
up to the whole world including to Europe. This financial crisis gave impacts in many
industrial sectors such as in the automobile industry and banking. The European Union
and their members have taken the preliminary steps in facing the crisis. However, are
these steps effective in handling the impacts of the crisis? How do the trade unions give
their reaction to it? What are their strategies to protect their members from the layoffs
and other impacts of the financial crisis?

The Article attempts to describe the situation and condition in the Europe after the
financial crisis and describes the steps also the strategies of the trade unions. The article
also attempts to give ideas and the study for the Indonesian trade union in facing the
financial crisis together with the employer and the government.

1. Pendahuluan

Krisis finansial di Amerika Serikat yang terjadi sejak tahun 2008 lalu tidak hanya
berdampak bagi intern Amerika Serikat saja, melainkan juga mempengaruhi
perekonomian dunia. Di Eropa, dampak krisis finansial terjadi di berbagai sektor, seperti
yang terbesar adalah pada sektor industri mobil, industri perbankan.

Dalam laporan IMF terbaru diindikasikan bahwa Zona Ekonomi Euro akan berkurang
sebesar 3,2 %. Hal ini berdampak buruk dan menyebabkan resesi serta merugikan
ketenagakerjaan di Eropa. Para pekerja dan Serikat Buruh di Eropa berdemonstrasi
meminta agar Uni Eropa lebih meningkatkan investasi dibanding dengan membuat
lapangan kerja baru. Maka dari itu, untuk menyiasati krisis finansial ini, Uni Eropa
mencoba untuk memperkuat pengawasan finansial internasional dan mereformasi
institusi finansial mereka seperti perlindungan dana, agency kredit, credit derivatives,
perlindungan pajak, executive pay, permintaan kapital perusahaan dan standar akuntansi.
Tetapi apakah langkah yang diambil Uni Eropa ini merupakan langkah yang tepat?
Bagaimanakah strategi serikat buruh di Eropa dalam menghadapi krisis finansial ini? Dan
apa yang bisa kita petik dari rekan-rekan buruh di Eropa?

Artikel ini mencoba untuk menggambarkan situasi ketenagakerjaan di Eropa sebelum dan
setelah krisis finansial yang terjadi sejak tahun lalu dan memaparkan strategi-strategi
yang diambil oleh serikat buruh di Eropa pada tingkat Uni Eropa maupun pada tingkat
per negara anggota Uni Eropa. Diharapkan artikel ini dapat membuka wawasan serta
menambah ide-ide segar bagi serikat buruh di Indonesia dalam menghadapi dan
mengambil langkah penanganan krisis finansial.

1
2. Serikat Buruh di Eropa

Level Uni Eropa

Konfederasi serikat Buruh yang paling besar dan paling penting di Eropa adalah ETUC
(European Trade Union Confederation) yang didirikan pada tahun 1973 dan mewakili
berjuta-juta buruh di berbagai serikat buruh tingkat nasional. Saat ini ETUC
beranggotakan lebih dari 81 organisasi dari 36 Negara di Eropa dan 12 federasi industrial.
ETUC merupakan badan independen, secara organisasional maupun secara finansial.
ETUC bertindak sebagai badan yang melakukan lobby di tingkat Uni Eropa demi untuk
kepentingan buruh dalam kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Uni Eropa. ETUC also
melakukan kesepakatan dengan organisasi pengusaha dalam berbagai isu-isu perburuhan
seperti kerja part-time, kontrak tetap dan agensi pekerja swasta. Selain daripada ETUC
terdapat pula berbagai konfederasi serikat buruh tingkat regional serta tingkat negara-
negara anggota.

Di Eropa, banyak terdapat berbagai organisasi pengusaha. Organisasi pengusaha yang


paling terkenal adalah UNICE (Union of Industrial and Employers’ Confederations of
Europe) yang merupakan konfederasi dari berbagai organisasi pengusaha seperti
organisasi pengusaha CBI (Inggris) dan CNPF (perancis). Selain UNICE, organisasi
pengusaha lainnya adalah CEEP (Centre Europeen des Entreprises Publiques) yaitu
organisasi pengusaha bagi perusahaan sektor publik.

Pada tingkat Eropa, terdapat forum yang dinamakan sebagai social dialogue yang
diadakan untuk membahas isu-isu ketenagakerjaan Eropa dan untuk membuat
kesepakatan bersama. Hadir dalam forum tersebut umumnya perwakilan dari organisasi
pengusaha UNICE dan CEEP serta konfederasi serikat buruh ETUC. Terdapat pula
perwakilan khusus dari pekerja-pekerja seperti dari UEAPME, Eurocadres dan CEC.
Kesemuanya ini disebut juga sebagai Social Partner. Peran daripada Social partners
tersebut selain daripada memberikan konsultasi, intervensi dan mengajukan inisiatif serta
juga membuat kesepakatan bersama hingga membentuk kebijakan perburuhan. Selain
social partner tersebut turut hadir pula dalam social dialogue perwakilan pemerintah dari
negara-negara anggota. Perwakilan NGOs maupun organisasi internasional dapat hadir
dalam social dialogue tetapi tidak seperti di Indonesia maupun negara ketiga lainnya,
peran NGOs dan organisasi internasional tidak memiliki peranan penting di Eropa.
Organisasi Internasional seperti ILO maupun NGOs hanya memberikan masukan saja
tetapi tidak memiliki suara.

Level nasional

Serikat buruh di Eropa kurang mendapat respon positif selama berpuluh-puluh tahun.
Sejak jatuhnya Iron Curtain pada tahun 1989, perserikatan buruh di Eropa barat menjadi
hancur. Di polandia contohnya, saat ini hanya sebesar 14% pekerja yang berserikat. Di
tingkat Uni Eropa sendiri hanya 8 negara dari 27 negara anggota yang kurang lebih 50%
atau lebih pekerjanya memiliki kesadaran untuk berserikat. Perbandingan pekerja yang
berseikat dan yang tidak berserikat di Eropa adalah 1:3.

2
Selanjutnya, Di negara-negara anggota Uni Eropa selain daripada negara-negara
skandinavia dan Belgia, kondisi perserikatan buruhnya statis bahkan berkurang. Bahkan
di Inggris yang perserikatan buruh telah mendapat pengakuan tetapi kondisi pekerja yang
berserikat sangatlah statis.

Berikut ini data serikat buruh di negara-negara anggota Uni Eropa:


1. Austria : memiliki 9 serikat buruh yang beranggotakan 1, 2 juta pekerja. Didirikan
pada tahun 1945 yang merupakan kesatuan dari sosialis, kristen sosialis dan
pergerakan serikat buruh komunis.
2. Belgia : terdapat dua serikat buruh terbesar yaitu Confederation of Christian
Trade Unions (CSC) yang terdiri dari 187 serikat buruh dengan jumlah total 1,7
juta anggota dan didominasi oleh serikat buruh pekerja kerha putih. Selanjutnya
adalah Belgian General Federation of Labour (FGTB) dimana terdiri dari 14
serikat buruh dengan jumlah total sebanyajj 1,4 juta anggota dan merupakan
badan sosialis dna memiliki komitmen yang kuat dalam hal perencanaan ekonomi
dan determinasi tempat kerja.
3. Bulgaria : terdapat dua serikat buruh terbesar yaitu Confederation of Independent
Trade Unions in Bulgaria CITUB/KNSB) terdiri dari 46 serikat buruh dan federasi
dengan jumlah total 350.000 anggota dan didirikan sejak jatuhnya komunisme
pada tahun 1990 dan beraliansi dengan partai politik the United Labour Block.
Selanjutnya yaitu Confederation of Labour (CL Podkrepa) : memiliki 109,000
anggota dan didirikan pada tahun 1989 sebagai Asosiasi Independen Intelektual
di Bulgaria.
4. Croatia : Union of Autonomous Trade Unions of Croatia (SSSH) yang terdiri dari
22 serikat buruh dan 21 cabang dengan jumlah total sebanyak 400,000 anggota
dan didirikan setelah berakhirnya komunime pada tahun 1990.
5. Cyprus : Cyprus Workers Confederation (SEK) yang terdiri dari 68 asosiasi buruh
dengan total anggota sebanyak 65,000 anggota. Selanjutnya adalah Pencyprian
Federation of Labour (PEO) yang terdiri dari 9 serikat buruh dengan jumlah total
sebanyak 64,000 anggota dan didirikan pada tahun 1941.
6. Czech Republic : Czech Moravian Confederation of Trade Unions (CMKOS)
yang terdiri dari 34 serikat buruh dengan jumlah total 611,000 anggota.
7. Denmark : Danish Federation of Trade Unions (LO) terdiri dari 1, 3 juta anggota
dan merupakan serikat buruh kerah biru dan memiliki hubungan dengan partai
sosial democrat serta bertanggungjawab atas pejanjian kondisi dasar pekerja.
Dalam tingkat internasional LO menekankan sistem Perjanjian Bersama Eropa
dan sistem pemecahan permasalahan perburuhan Eropa. Selanjutnya terdapat pula
The Confederation of Salaried Employees’ and Civil Servants’ Organisations
(FTF) terdiri dari 363,000 anggota dari sector publik dan swasta. Yang terakhir
adalah Danish Confederation of Professional Associations (AC) terdiri dari 22
organisasi yang mewakili 256,000 anggota.
8. Estonia : EAKL (Konfederasi serikat buruh manual didirikan tahun 1990
beranggotakakn 40,000 pekerja), TAIO (konfederasi serikat buruh kerah putih
beranggotakan 30,000 pekerja), STTK (konfederasi serikat pekerja non-manual

3
beranggotakan 640,000 pekerja) dan AKAVA (serikat buruh tingkat sarjana
beranggotakan 461,000 pekerja).
9. Finlandia : Central Organisatioon of Finnish Trade Unions (SAK) terdiri dari 21
serikat buruh dengan jumlah anggota 1 juta pekerja dan merupakan badan
perwakilan yang bernegosiasi mengenai kebijakan upah.
10. Perancis : French Democratic Confederation of Labour (CFDT) yang
merupakan konsolidasi serikat buruh dengan jumlah anggota 800,000 pekerja dan
berafiliasi dengan partai sosialis Perancis. Selanjutnya, General Confederation of
Labour (CGT) yaotu konsolidasi serikat dengan jumlah anggota 700,000 pekerja
dan berafiliasi dengan partai komunis Perancis. Yang terakhir adalah General
Confederation of Labour-Force Ouvriere (FO): konsolidasi serikat buruh dengan
17 cabang dan 300,000 anggota dan didirikan pada tahun 1948.
11. Jerman : German Federation of Trade Unions (DGB) merupakan afiliasi 16
serikat buruh dengan jumlah total 6,6 juta pekerja dan didominasi oleh serikat IG
Metall dan Ver.di.
12. Yunani : Greek Confederation of Labour (GSEE) terdiri dari 62 federasi serikat
buruh dan 75 pusat perburuhan dengan jumlah total 450,000 anggota.
13. Hungaria : Confederation of Hungarian Trade Unions (MSZOSZ) terdiri dari
200,000 anggota dan merupakan perwakilan pekerja swasta. Autonomous Trade
Union Confederation (ASZSZ) terdiri dari 100,000 anggota dari pekerja
transportasi umum, kereta api, pesawat udara, industri kimia, catering, turisme,
air, polisi dan pemadam kebakaran.
14. Islandia : Confederation of Labour (ASI) terdiri dari 6 federasi nasional dan 5
serikat buruh dengan jumlah total 89,000 pekerja.
15. Irlandia : Irish Congress of Trade Unions (ICTU) : terdiri dari 57 serikat buruh
mewakili 555,000 pekerja.
16. Italia : Italian General Confederation of Labour (CGIL) terdiri dari 15 federasi
serikat buruh nasional dan 134 badan perburuhan dengan jumlah total 5,5 juta
anggota yang mana hanya sebesar 2,6 anggota yang bekerja. Selanjutnya,
Confederation of Trade Unions in Italy (CISL) terdiri dari 14 federasi pekerja dan
9 badan pekerja dan jumlah total 4,2 juta anggota dan berafiliasi dengan gereja
katolik roma. Terakhir adalah Italian Workers Union (UIL) : terdiri dari 16 serikat
dengan jumlah total 1,6 juta pekerja.
17. Latvia : LBAS yang didirikan tahun 1990 terdiri dari 24 serikat dengan jumlah
total 145,000 anggota.
18. Lithuania : LPSK (didirikan tahun 2002 beranggotakan 120,000 pekerja),
Solidarumas (didirikan tahun 1990 dan beranggotakan 52,000 pekerja), dan LDF
(Konfederasi serikat buruh Kristen yang didirikan tahun 1919 dan
beranggotakakn 20,000 pekerja)
19. Luxembourg : Confederation of Independent Trade Unions (OGB-L) terdiri dari
16 serikat buruh beranggotakan 50,000 pekerja, Confederation of Christian
Unions in Luxembourg (LCGB) beranggotakan 40,000 anggota, White-Collar
Union Federation (ALEBA/UEP-NGL-SNEP) yang merupakan badan ayng
didirikan pada tahun 2003 dan merupakan aliansi asosiasi pekerja bank dan
asuransi, seikat buruh pekerja kerah putih, serikat pekerja netral dan serikat
pekerja kerah putih swasta nasional.

4
20. Macedonia : Federation of Trade Unions of Macedonia (SSM) : Federasi yang
beranggotakan 18 afiliasi serikat buruh sektoral.
21. Malta : Confederation of Malta Trade Unions (CMTU) beranggotakan 36,00
anggota, General Worker’s Union (GWU) terdiri dari 8 serikat buruh dan dua
asosiasi serta berafiliasi dekat dengan partai buruh Maltese, Malta Workers’
Union (UHM) beranggotakan 26,000 anggota/
22. Belanda : Dutch Trade Union Federation (FNV) : terdiri dari 14 serikat buruh
beranggotakan 1,2 juta pekerja, The National Federation of Christian Trade
Unions in the Netherlands (CNV) terdiri dari 11 serikat buruh beranggotakan
344,000 pekerja, MHP terdiri dari 160,000 anggota.
23. Norwegia : Norwegian Confederation of Trade Unions (LO) terdiri dari 28 serikat
buruh beranggotakan 830,000 pekerja yang pada prinsipnya merupakan pekerja
kerah biru. The Confederation of Vocational Unions (YS) yaitu organisasi payung
politik independent yang didirikan pada tahun 1977 dan terdriri dari 21 serikat
buruh, the Federation of Norwegian Professional Association terdiri dari 15
serikat buruh dan beranggotakan 133,000 pekerja.
24. Polandia : Independent and Self Governing Trade Union – Solidarity (NSZZ)
yang terdiri dari 16 cabang beranggotakan 634,000 pekerja, All Poland Alliance
of Trade Unions (OPZZ) merupakan koonfederasi dan beranggotakan 600,000
pekerja.
25. Portugal : General Confederation of Portuguese Workers – Intersindical
(CGTP) : merupakan afiliasi serikat buruh beranggotakan 500,000 anggota,
General Workers’ Union (UGT) terdiri dari 60 serikat buruh beranggotakan
200,000 pekerja.
26. Romania : National Confederation of Free Trade Unions (CNSLR/BNS) terdiri
dari 44 federasi serikat buruh beranggotakan 800,000 pekerja, Cartel Alfa
(NTUC) terdiri dari 40 federasi serikat pekerja dan dua organisasi asosiasi
beranggotakan 350,000 pekerja, The Democratic Trade Union Confederation of
Romania (CSDR) terdiri dari 22 federasi beranggotakan 350,000 pekerja sector
pendidikan, makanan, semen, tekstil dan didirikan tahun 1994 berafiliasi dengan
partai Kristen democrat, Meridian beranggotakan 150,000 pekerja tambang,
metal, industri karet dan kimia, transport, media dan komunikasi.
27. Federasi Rusia : Federation of Independent Trade Unions of Russia (FNPR)
memiliki 28 anggota, All Russian Confederation of Labour (VKT) memiliki 3juta
anggota, Trade Union Association of Russia (SOTSPROF) terdiri dari Sembilan
cabang bernganngotakan 500,000 pekerja.
28. Republik Slovakia : Confederation of Trade Unions of the Slovak Republic (KOZ
SR) : terdiri dari 38 serikat buruh beranggotakan 460,000 pekerja.
29. Slovenia : Association of Free Trade Unions (ZSSS) terdiri dari 20 seikat buruh
dan 19 organisasi asosiasi beranggotakan 180,000 pekerja dimana 60% afiliasi
pekerjanya bekerja di sector manufaktur, KNSS, KSS Pergam, Konfederacija 90
yaitu tiga konfederasi kecil yang beranggotakan 170,000 pekerja.
30. Spanyol : Trade Union Confederation of Wokers’ Commissions (CC OO)
beranggotakan sekitar 1 juta pekerja dan dekat dengan partai komunis Spanyol,
Geberal Workers’ Confederation (UGT) beranggotakan 840,000 pekerja dan
merupakan serikat buruh sosialis.

5
31. Swedia : Swedish Trade Union Confederation (LO) : terdiri dari 16 serikat buruh
beranggotakan 1, 7 juta pekerja dan dekat dengan partai sosial democrat, The
Swedish Confederation of Professional Employees (TCO) terdiri dati 18 serikat
buruh beranggotakan 1,2 juta anggota, SACO yaitu organisasi pekerja sarjana
beranggotakan 586,000 pekerja termasuk 100,000 mahasiswa.
32. Swiss : Swiss Federation of Trade Unions (SGV/USS) terdiri dari 17 serikat
buruh beranggotakan 390,000 pekerja, Swiss Workers’ Federation (Travail
Suisse) terdiri dari 13 serikat buruh beranggotakan 140,000 pekerja.
33. Ukraine : Federation of Trade Unions of Ukraine (FTUU) terdiri dari 12 juta
anggota, The National Confederation of Trade Unions terdiri dari 3 juta anggota,
Free Trade Unions of Ukraine (1997) terdiri dari 18 serikat buruh beranggotakan
148,000 pekerja tambang, perkapalan, transportasi udara dan kereta api.
34. Inggris : Trade Union Congress (TUC) terdiri dari 61 serikat buruh mewakili
6,4juta pekerja dan dekat dengan partai buruh Inggris.

Dari data tersebut diatas dapat kita lihat kesadaran berserikat di Eropa dari kesadaran
berserikat yang kuat seperti di Jerman (22%), Belgia, Swedia dan Finlandia serta Negara-
negara Nordic lainnya (80% di Denmark) hingga kesadaran berserikat yang lemah seperti
16% di Spanyol dan di Polandia hingga 8% di Perancis. Meskipun begitu seperti yang
telah disebutkan diatas, kondisi perserikatan buruh di Eropa sangatlah statis dan bahkan
semakin berkurang seperti serikat buruh DGB yang mengalami penurunan anggota
sebesar 43% sejak tahun 1991.

3. Strategi Serikat Buruh Eropa

a. Tingkat Uni Eropa

(i) European Trade Union Confederation (ETUC)

Dalam menanggapi tindakan yang diambil oleh Uni Eropa seperti yang disebutkan di
pendahuluan di atas, ETUC menuntut agar para pemimpin Eropa mengambil tindakan
yang efektif guna menangani krisis finansial yang menyebabkan banyaknya pemecatan/
pemberhentian kerja (7,4% pengangguran pada tahun 2007 meningkat menjadi 7,7%
pada tahun 2008) dan bahkan pemotongan gaji bagi pekerja sektor publik (kurang lebih
sebesar 15%). Guna menghindari terjadinya peningkatan PHK bagi para pekerja akibat
dampak krisis ini, ETUC mengeluarkan resolusi sebagai rekomendasi untuk menyiasati
krisis financial, yaitu:

1. Reforming the Budget, changing Europe – untuk mereformasi anggaran belanja Uni
Eropa dalam menghadapi krisis finansial. Rekomendasi ini diadopsi pada tanggal 5
Maret 2008

2. Time to act together! – diadopsi pada 25 Juni 2008 untuk menuntut diambilnya
tindakan efektif dalam menstabilisasikan ekonomi dan menghindari terjadinya
kemerosotan ekonomi.

6
3. ETUC Resolution calling for strong European recovery programme – diadopsi pada 5
Desember 2008 mengenai program perbaikan Eropa yang berfokus pada pekerjaan
tetap, upah tetap, kesepakatan bersama dan pensiun.

Selanjutnya, ETUC menekankan untuk dilakukannya kerjasama dalam hal partnerships


dengan pengusaha dan pemerintah untuk menghindari terjadinya kemerosotan dalam
financial market. Partnerships ini dilakukan karena dalam kapitalisme modern pengusaha
terkadang melupakan kunci produktivitas mereka yaitu para pekerja.

Contoh partnership ini bisa dilihat dari serikat buruh Swedia antara Landsorganisationen
i Sverige berafiliasi dengan IF Metal, organisasi pekerja metal, serta pengusaha mereka
membuat perjanjian untuk pelatihan dan pemberhentian sementara dimana mengijinkan
untuk mengurangi jam kerja dan mengurangi upah (maximum 20%). Perjanjian tersebut
bersifat sementara dan bertujuan untuk menghindari PHK. Serikat buruh IF Metal pun
meminta pemerintah Swedia untuk turut aktif mengambil tindakan dalam menangani
krisis khususnya dalam penanganan melalui pelatihan dan pendidikan finansial bagi para
pekerja.

ETUC juga bekerjasama dengan International Trade Union Confederation (ITUC) dan
perwakilan dari pekerja industri keuangan UNI-Europa dan merumuskan the London
Declaration. London Declaration ini dirumuskan akibat dampak krisis finansial Amerika
yang juga menggoyang Wall street di London dan merugikan banyak pihak khususnya
para pekerja dan pensiunan serta keluarga mereka. Deklarasi tersebut berisi antara lain
untuk memberikan suntikan dana pada lembaga keuangan publik, memberikan
pengawasan ketat pada lembaga keuangan, menuntut diadakannya kebijakan efektif
internasional maupun Eropa untuk menangani dampak krisis, menuntut agar pemerintah
mengambil tindakan yang menjamin dana investasi, penyediaan bantuan bagi para
pekerja yang terkena dampak krisis, pensiunan dan pengusaha dalam mencari modal
investasi mereka. Juga agar Uni Eropa merespon dan memberikan perlindungan finansial
dimasa yang akan datang dan menghindari adanya upah kompetitif yang berkurangnya
perlindungan sosial yang akan merugikan pekerja dan keluarga mereka.

Diharapkan agar rekomendasi dan deklarasi London tersebut dapat memberikan masukan
bagi para pemimpin Eropa untuk menangani krisis guna memperbaiki sistem keuangan
Eropa, menghindari terjadinya lebih banyak lagi PHK dan pemotongan upah,
bertambahnya hutang pekerja, serta segala kerugian lainnya bagi para pekerja, pensiunan
dan keluarga mereka.

(ii) Irish Congress of Trade Unions (ICTU), the UK’s Trade Union Congress (TUC), the
Welsh TUC dan the Scottish TUC

ICTU, TUC, WTUC dan STUC memberikan sepuluh poin kesepakatan penanganan
krisis:

1. Meminimalisasikan dampak resesi merupakan prioritas utama

7
2. Memulai fiskal untuk merangsang peningkatan ekonomi dalam bentuk proyek
infrastruktur maupun pemotongan pajak bagi pendapatan rendah

3. Memberikan pinjaman untuk mendukung pendanaan jangka pendek


perusahaan atau cash-flow pada masa krisis

4. Meningkatkan level upah serta tunjangan tidak bekerja untuk mencegah


terjadinya kemiskinan

5. Membantu bagi pekerja yang kehilangan tempat tinggal

6. Mendukung upah yang adil bagi pekerja termasuk pekerja sektor publik
dibandingkan membuat kebijakan pengendalian upah dan PHK

7. Bekerjasama dengan pemerintah lokal dan regional

8. Memulai kampanye peningkatan skil sehingga para pekerja memiliki


kesempatan besar untuk mendapatkan pekerjaan

9. Bekerjasama dengan pemimpin-pemimpin dunia lainnya untuk mencari solusi


perdagangan dan standar minimum perkembangan ekonomi serta
meminimalisasikan kemiskinan di dunia

10. Melindungi masyarakat dengan berinvestasi dalam pelayanan publik

ICTU, TUC, WTUC juga mengharapkan agar pemerintah bekerjasama dengan serikat
buruh dan pengusaha.

(iii) Central European Rubber Union

Serikat buruh dari industri mobil, dimana merupakan salah satu industri yang mengalami
dampak krisis finansial paling besar di Eropa, turut bersatu merumuskan strategi dalam
menangani krisis finansial. Eropa tengah merupakan pusat investasi bagi perusahaan ban
multinasional. Perusahaan ban Goodyear dari Amerika Serikat menginvestasikan sebesar
seratus juta dollar di pabrik mereka di Debica, Polandia. Perusahaan Bridgestone dari
Jepang juga memindahkan pabrik mereka ke Polandia. Di Hungaria, perusahaan
Hankook dari Korea Selatan mendirikan unit produksi dan begitu pula perusahaan Apollo
Tyre dari India. Serta di Romania, Pirelli baru juga memulai produksi mereka.
Penginvestasian tersebut berdampak pula bagi kondisi kerja di Eropa tengah. Di tingkat
perusahaan/pabrik, hak serikat buruh terkadang belum mendapatkan pengakuan. Maka
dari itu, atas inisiatif dari International Federation of Chemical, Energy, Mine and
General Workers’ Unions (ICEM), Central European Rubber Unions didirikan.

Dalam pertemuannya, perwakilan dari Slovenia memberikan strategi penanganan krisis


dimana dampak krisis menyebabkan penurunan produksi, sehingga Slovenia harus
mengadopsi kebijakan pengurangan jam kerja serta upah sebesar 60% dari upah normal.

8
Begitu pula di Romania, serikat buruh di perusahaan Pirelli mengorganisir 1500
pekerjanya dan memenangkan pertambahan upah sebesar 10%. Langkah awal yang
diambil oleh Central European Rubber Union dalam menanggapi krisis ini setidaknya
dimulai dari adanya pengakuan serikat buruh oleh perusahaan dan menghindari terjadinya
tindakan sewenang-wenang atas kondisi pekerja serta adanya perwakilan pekerja dalam
perusahaan yang dapat memperjuangkan penambahan upah dan peningkatan standar
kerja.

b. Plant Level (di tingkat perusahaan/ pabrik) dalam contoh penanganan di negara-negara
anggota Uni Eropa (Belanda dan Jerman)

Negara-negara anggota Uni Eropa pada dasarnya mengambil tindakan yang bertujuan
agar dampak krisis finansial tidak semakin melebar. Strategi yang diambil untuk
menanggulangi krisis adalah dengan perjanjian bersama dan subsidi negara dalam bentuk
tunjangan tidak bekerja. Perbedaan yang besar dapat dilihat antara peraturan dalam
perusahaan untuk mengurangi jam kerja dan peraturan dalam kerangka hukum seperti
jam kerja pendek. Perjanjian bersama merupakan hal yang penting dalam perjanjian
fleksibilitas jam kerja (pengurangan jam kerja) di tingkat perusahaan untuk jangka waktu
pendek. Di negara yang telah memiliki instrumen kebijakan labour market yang
bertujuan untuk menghindari terjadinya transisi seperti kebijakan untuk nengurangi jam
kerja, dimungkinkan untuk mengaplikasikan peraturan tersebut dengan pemberitahuan
sebelumnya.

Perjanjian bersama maupun kebijakan labour market bertujuan untuk menghindari


dampak negatif upah atas pengurangan jam kerja. Seperti contohnya pada perjanjian
bersama sektoral di Jerman-salah satunya yaitu perjanjian jam kerja di sektor metal- dan
peraturan pada tingkat dasar (plant level) seperti perhitungan jam kerja, keduanya saling
melengkapi dan didukung oleh subsidi negara dalam bentuk tunjangan tidak bekerja
untuk pekerja yang bekerja dengan waktu kurang dari yang seharusnya. Hal yang sama
berlaku di Perancis, Belgia, Bulgaria dan Belanda. Di Belgia dan Belanda, para
pekerjanya juga mengalami penurunan pendapatan karena subsidi negara dalam bentuk
tunjangan tidak bekerja tidak diberikan untuk kerja jangka pendek.

Selanjutnya, di negara dimana kebijakan jam kerja pendek diatur dalam kebijakan labour
market (biasanya untuk kelompok pekerja tertentu seperti pekerja konstruksi dan
musiman), perpanjangan waktu merupakan hal yang komprehensif dalam menanggapi
krisis, seperti dalam hal di Jerman dan Perancis, para pengusaha serta pekerja (social
partners) dapat memaksa pemerintah untuk mengikutsertakan agen tenaga kerja dalam
pembuatan peraturan jam kerja pendek. Inggris yang tidak memiliki peraturan jam kerja
pendek, menanggapi krisis dengan strategi pengurangan jam kerja.

Pada umumnya, negara-negara anggota baru Uni Eropa mengambil tindakan yang drastis
dalam hal manufaktur - dibanding dengan perusahaan-perusahaan Eropa Barat. Tidak ada
kebijakan labour market khusus yang diambil untuk menangani krisis finansial. Peraturan
pengurangan jam kerja tidak tersedia di Negara-negara ini. Afiliasi atau perusahaan
multinasional di negara-negara tersebut memilih untuk mengambil tindakan yang berbeda

9
dan memilih kebijakan sumber daya, sedangkan perusahaan-perusahaan besar termasuk
perusahaan domestik yang lebih memiliki banyak serikat buruh dan dewan
ketenagakerjaan (seperti di Hungaria, Czech Republic dan Slovakia) lebih memilih untuk
membuat perjanjian bersama. Perjanjian bersama ini kekuatannya lebih lemah dan
pelaksanaanya memberikan pengaruh yang kecil dalam keputusan manajemen.

Berikut ini contoh strategi Serikat buruh dalam penanganan krisis (Belanda)

Investasi dalam perekonomian Belanda sangat dibutuhkan pada saat ini. Daya beli
penduduk harus dipelihara. Serikat buruh di Belanda berpendapat bahwa krisis
merupakan permasalahan sementara, maka dari itu harus ditangani dengan tindakan
sementara pula. Federasi serikat buruh Belanda (FNV, CNV dan MHP) mengajukan
strategi investasi kepada pemerintah. Seperti halnya negara-negara anggota Uni Eropa
lainnya, pemerintah Belanda menjanjikan investasi sebesar 1,5% dari GDP atau sekitar
9,3 milyar Euro. Pemerintah Belanda juga akan menyediakan dana tunjangan tidak
bekerja kepada perusahaan yang harus mem-PHK pekerja atau mengaplikasikan jam
kerja pendek sebagai konsekwensi pemotongan produksi.

Sektor yang paling terkena dampak krisis adalah sektor metal dan otomotif. Organisasi
pekerja sektor metal telah menyetujui untuk mengaplikasikan jam kerja pendek dan
kerugian pendapatan pekerja akan disubsidi dari tunjangan tidak bekerja. Tunjangan tidak
bekerja adalah sebesar 75% pada dua bulan pertama dan 70% bulan berikutnya. Serikat
buruh Belanda berkeberatan akan hal ini, karena tunjangan tidak bekerja hanya diberikan
kepada pegawai tetap, sedangkan pegawai sementara dan pegawai agensi tidak
mendapatkan tunjangan tersebut.

Federasi serikat buruh Belanda juga mengajukan strategi dampak krisis jangka pendek
dan jangka panjang yaitu: training sebagai kompensasi penurunan lapangan
ketenagakerjaan dalam labour market, peraturan pemotongan jam kerja, tunjangan tidak
bekerja bagi pekerja paruh waktu, fasilitas yang lebih dan lapangan kerja pada penitipan
anak, pendidikan serta kesehatan.

FNV sendiri mengajukan proposal selain daripada pemotongan jam kerja. Ide yang
diajukan lebih memfokuskan pada investasi perseorangan yaitu: perusahaan dan pekerja
mereka secara bersama tidak hanya melakukan kerja demi pendapatan tetapi juga untuk
melaksanakan pelatihan (mobility centre). Pusat pelatihan ini adalah merupakan agen
ketenagakerjaan sementara yang bertujuan untuk mengalokasikan pekerja yang ter-PHK
ke lapangan kerja lainnya. Dalam pelatihan para pekerja ini, perusahaan tetap
memberikan upah dan mendapatkan gantinya dari tunjangan tidak bekerja. Pelatihan
tersebut khususnya diajukan bagi pekerja sementara. FNV ingin menaikkan posisi
pekerja sementara dalam market dengan mempekerjakan mereka dan mengikutsertakan
mereka dalam peraturan. FNV juga mengajukan ide perusahaan kecil agar dapat
melakukan pertukaran staf mereka. Ide ini juga memfokuskan pada pelatihan agar para
pekerja yang ter-PHK dapat ditampung dalam pusat pelatihan.

10
Jerman

Dalam menghadapi krisis ini, Pemerintah Jerman mengambil langkah ‘recovery package’
senilai 12 milyar euro pada bulan November 2008 lalu dan ditambah lagi sebesar 50
milyar pada bulan Januari 2009 dengan menginvestasikannya pada infrastruktur umum
seperti jalan raya, sekolah, universitas dan internet. Pemotongan pajak pendapatan juga
merupakan ide yang sedang dibicarakan. Meskipun demikian, pemerintah Jerman tidak
menyediakan subsidi langsung kepada perusahaan ataupun sektor-sektor khusus (kecuali
perbankan), hal ini membuat beberapa perusahaan mengadakan PHK disejumlah tempat
demi kelangsungan operasional mereka seperti contohnya pada perusahaan Opel dan
Porsche.

Pada perusahaan manufaktur di Jerman, terdapat berbagai macam jenis perjanjian


bersama, diantaranya:

- Perjanjian bersama sektoral mengenai kebijakan jam kerja seperti contohnya


Perjanjian jam kerja IG Metall termasuk peraturan untuk pengurangan jam kerja
menjadi 30 (tiga puluh) jam untuk jerman barat dan 33 (tiga puluh tiga) jam untuk
Jerman Timur. Hal ini dilakukan untuk menghindari PHK.
- Perjanjian bersama di tingkat perusahaan/pabrik mengenai fleksibilitas jam kerja
termasuk penghitungan jam kerja dan bank waktu

- Perjanjian ’deviant’ berdasarkan klausa terbuka sesuai dengan Perjanjian


’Pforzheim’ (2004) yang mengijinkan untuk memotong peraturan yang tercantum
dalam perjanjian bersama sektoral.

Tindakan yang diambil di Jerman dalam menangani krisis secara mengurangi jam kerja
terdiri dari:

- Perjanjian di tingkat perusahaan dan pabrik dalam bentuk penghitungan jam kerja
dan pengurangan hari libur. Hal ini telah dimulai sejak munculnya krisis. Contoh
penghitungan jam kerja ini yaitu pada perusahaan Volkswagen dimana dalam
perjanjian bersama dinyatakan bahwa jam kerja adalah kurang lebih sebanyak 400
jam serta penyediaan akumulasi jam kerja bagi pensiunan dini. Perjanjian ini
berlaku efektif untuk mengurangi jam kerja sehingga perusahaan tidak tampak
memberlakukan jam kerja pendek akan tetapi penetapan jumlah jam kerja.

- Selanjutnya adalah peraturan kerja jangka pendek (dimulai bulan Oktober-


November 2008) dimana menjamin pekerjaan dengan menawarkan untuk bekerja
tidak sebanyak jam kerja yang tercantum dalam perjanjian bersama.
Kompensasinya adalah tidak memiliki pendapatan pada waktu tidak bekerja
seperti jenis pekerja konstruksi atau pekerja musiman. Pendapatan pada waktu
tidak bekerja ini akan disubsidi oleh Negara sebesar 60-67% dari upah bersih
terakhir dan sisanya dibayar oleh perusahaan. Para pekerja menerima semua hak
seperti hak kesehatan, kecelakaan kerja, pensiun dan asuransi rawat jalan. Kerja
jangka pendek ini berkisar antara 6-12 bulan hingga 18 bulan dan dapat

11
diperpanjang hingga 24 bulan. Tindakan memberikan vocational training bagi
pekerja kerja jangka pendek ini belum diberlakukan tetapi perusahaan manufaktur
ZF Friedrichshafen telah melaksanakan bagi pekerja yang tidak aktif. PHK bagi
pekerja dari agen pencari kerja (yang tetap maupun kontrak) merupakan salah
satu dampak terbesar dalam krisis ini. Di Jerman, kurang lebih 50,000 pekerja
tetap dari agensi dan 100,000 pekerja kontrak dari agensi kehilangan kerja
mereka. Serikat buruh telah secara aktif mempromosikan tindakan pencegahan
seperti hak pekerja tersebut untuk kerja jangka pendek. Meskipun begitu,
sebagian besar perusahaan terpaksa mem-PHK pekerja mereka.

4. Gender Dimension

Gender dan diskriminasi terhadap pekerja perempuan merupakan salah satu


permasalahan yang paling penting dalam ketenagakerjaan di Eropa dan merupakan salah
satu isu yang paling sering ditemui di European Court of Justice. Isu persamaan derajat
dalam hal gender ini disebabkan karena pekerja perempuan harus mengkombinasikan
posisi mereka untuk bekerja dan untuk keluarga. Fleksibilitas kerja, hak maternitas, dan
kerja paruh waktu merupakan isu yang menyebabkan posisi perempuan menjadi rentan
dalam labour market.

Krisis finansial dan strategi penanganannya tidak melihat dari sudut pandang pekerja
perempuan. Kebanyakan hanya melihat dari sudut pandang bagaimana para pekerja pria
yang ter-PHK dalam sektor industri, penutupan pabrik dan bonus pegawai bank. Di
swedia contohnya, lebih dari 100,000 wanita kehilangan pekerjaan mereka pada masa
krisis ini. Dari jumlah wanita yang bekerja, 18% merupakan pekerja kontrak
dibandingkan kaum lelaki hanya 13% pekerja kontrak. Bagi kalangan muda, sebanyak
61% pekerja wanita adalah pekerja kontrak sedangkan kaum pria hanya 41%. Hal ini
merugikan kaum wanita karena pekerja kontrak biasanya tidak menjadi anggota Serikat
Buruh (dengan perbandingan 11% menjadi anggota dan 27% tidak menjadi anggota
serikat buruh) sehingga hak-hak mereka lebih tidak terjamin lagi.

Maka dari itu, pada 31 Oktober lalu, para pemimpin wanita dari serikat buruh Eropa
mengadakan konferensi Komite Perempuan the Pan-European Regional Council
(PERC), yang mewakili 89 serikat buruh dari 43 negara dan mengorganisir lebih dari 30
juta buruh perempuan. Dalam pernyataannya, mereka menuntut agar para pemimpin
dunia tidak melupakan situasi buruk yang menimpa para pekerja perempuan pada saat
mengambil tindakan penanganan krisis finansial, sebab banyaknya pekerja perempuan
yang akan menghadapi ketidakpastian kerja dan mengalami kemiskinan. Mereka juga
menyatakan agar para pemimpin dunia, pemerintah dan institusi-institusi di Eropa untuk:

- mengambil tindakan melindungi wanita dan keluarga dari kemiskinan


- menegaskan komitmen dalam membangun ekonomi yang sehat, benar dan adil
melalui strategi untuk produktivitas pekerja, termasuk reformasi yang efektif dan
komprehensif atas sistem keuangan internasional

12
- mengubah kesepakatan bersama yang tidak adil dan menjamin kesepakatan
bersama sebagai alat atas kerja layak, pembangunan yang terus menerus dan
kekuatan para pekerja di dunia, wanita, para pengangguran dan rakyat miskin

- menegaskan bahwa sudah saatnya untuk mendefinisikan model baru agar manusia
dan planet lebih penting dibandingkan profit

- menjamin bahwa prioritas lembaga keuangan internasional adalah memberikan


perhatian terhadap isu sosial dan lingkungan khususnya kondisi hutang dan debet
sebab banyak negara harus meregulasi ulang kebijakan labour markets mereka,
mengurangi biaya pengeluaran publik dan pelayanan swasta yang pada akhirnya
mengirimkan jutaan wanita untuk ’kembali ke rumah’

- menegaskan bahwa setiap wanita memiliki hak untuk bekerja, mendapatkan


kondisi kerja yang layak, persamaan upah dan pendapatan yang sesuai dengan hak
kebutuhan dasar ekonomi, sosial dan keluarga termasuk hak maternitas

- menghormati kebebasan wanita untuk membentuk dan bergabung dalam serikat


pekerja dan membuat kesepakatan bersama, tanpa adanya ancaman dan ketakutan

- memperkuat dan memperluas perlindungan jaringan pengaman sosial dengan


menjamin akses jaminan sosial, pensiun, tunjangan tidak bekerja, dan kualitas
kesehatan serta akses untuk pelayanan publik dan segala kegiatan dalam
rekonsiliasi kerja, keluarga dan kehidupan pribadi

- membentuk mekanisme yang kuat untuk mempromosikan dan melaksanakan


kerja layak termasuk standar inti perburuhan dan lingkungan dalam perjanjian
bersama

Diharapkan dari hasil konferensi PERC tersebut, pekerja perempuan mendapatkan


perhatian lebih oleh para pemimpin dunia dalam mengambil langkah penanganan krisis
khususnya untuk pekerja perempuan yang tetap maupun yang kontrak serta yang bekerja
part-time. Wanita harus berperan ganda sebagai pekerja dan ibu rumah tangga, maka dari
itu hendaknya peran wanita ini dihargai karena hal ini berarti wanita melakukan
pekerjaan dua kali lebih berat daripada pria. Pekerja perempuan berhak untuk
mendapatkan kesempatan kerja dan hak-hak yang sama dengan pria dalam hal persamaan
upah, kondisi kerja, jaminan sosial serta hak khusus bagi wanita seperti hak maternitas
termasuk pula hak keluarga.

5. Apa yang bisa dipetik

Union busting, pemaksaan pensiun dini dan PHK besar-besaran yang terjadi di Indonesia
akibat dampak dari krisis finansial adalah langkah-langkah yang diambil oleh pengusaha.
Hal ini sangatlah merugikan buruh di Indonesia. Serikat buruh Indonesia perlu untuk
memiliki strategi dalam menangani krisis finansial. Tentunya dari apa yang dipaparkan

13
diatas, kita tidak bisa mengaplikasikan begitu saja strategi yang diambil oleh serikat
buruh di Eropa dalam penanganan krisis.

Keadaan perekonomian di Eropa sangatlah berbeda dengan di Indonesia. Penerapan


pemotongan jam kerja dan jam kerja pendek dapat diaplikasikan di Eropa karena mereka
memiliki sistem jaminan sosial yang cukup memadai (karena potongan pajak yang tinggi)
sehingga terdapat tunjangan tidak bekerja bagi buruh yang ter-PHK dari negara. Hal ini
tidak dapat diaplikasikan di Indonesia sebab sistem jaminan sosial yang tidak cukup
memadai. Meskipun begitu, kita dapat memetik ide strategi serikat buruh di Belanda,
dengan diadakannya pusat pelatihan bagi pekerja yang ter-PHK sehingga para pekerja
tersebut tetap produktif dan dapat dialokasikan untuk lapangan pekerjaan lainnya. Tetapi
pertanyaannya, apakah Indonesia mampu mengeluarkan dana penanganan krisis dan
mendirikan pusat pelatihan bagi pekerja yang ter-PHK? Apakah Indonesia juga memiliki
dana penanganan krisis ini? Lari kemanakah dana penanganan krisis ini? Apakah ada
sebagian dana yang digunakan demi perlindungan para pekerja baik yang ter-PHK
maupun yang terancam PHK?

Selanjutnya kita perlu mengkritisi dampak krisis ini tidak hanya bagi pekerja tetap tapi
juga bagi pekerja kontrak dimana pekerja kontrak sangatlah rentan untuk kehilangan
pekerjaan mereka. Sebelum masa krisis pun pekerja kontrak tidak memiliki hak penuh
layaknya pekerja tetap apalagi pada masa krisis ini. Apakah ada tunjangan ataupun
perlindungan yang diberikan bagi pekerja kontrak ini khususnya dalam masa krisis ini?

Kita pun perlu memberikan perhatian khusus kepada buruh perempuan dalam mengambil
strategi menangani krisis finansial ini. Buruh perempuan sangatlah rentan untuk
menerima PHK dan mudah untuk ’dikembalikan ke rumah’. Hak-hak buruh perempuan
selain untuk bekerja dan hak-hak mereka dalam bekerja tersebut perlu untuk lebih
disadari dan ditegaskan.

Pada akhirnya, sesuai dengan tindakan yang diambil oleh negara-negara anggota baru
Uni Eropa yang tidak membuat kebijakan baru serta tidak mengenal adanya peraturan
pengurangan jam kerja, teman-teman serikat buruh di Indonesia dapat mengambil ide
untuk membuat perjanjian bersama dengan perusahaan. Perjanjian bersama dalam
menangani krisis finansial ini dapat dibuat dalam lingkup level nasional, regional maupun
di tingkat perusahaan sendiri.

Referensi:

Attacking public sector wages: the wrong thing to do at the wrong moment,
http://www.etuc.org/a/5904

Blanpain, Roger, European Labour Law, Kluwer Law International, tenth revised edition,
2007.

14
Central European Rubber Unions Form Joint Strategies on Financial Crisis,
http://www.icem.org/en/78-ICEM-InBrief/3158-Central-European-Rubber-
Unions-Form-Joint-Strategies-on-Financial-Crisis

Demonstrations ‘Fight the Crisis-put People First’,


http://www.fnv.nl/defnv/news/etuc_demonstrations_may2009_crisis.asp

Economic and social crisis: ETUC positions and actions, http://www.etuc.org/a/5838

Economic crisis It is time to Act!, http://www.etuc.org/5927

ETUC Declaration to European Spring Summit of March 2009,


http://www.etuc.org/a/5985

European banks meet trade union representatives to discuss crisis impact,


http://www.esbg.eu/uploadedfiles/news/BCESA%20fianl%20draft%20press
%20release%2030%2001%2009%20(2).pdf

FNV crisis plan wants to strengthen the employee’s position,


http://www.fnv.nl/defnv/english/news/fnv_crisis_plan.asp

Focus: Economic and Social Crisis, http://www.etuc.org/r/1378

Glassner, Vera and Galgoczl, Bela, Plant-level responses to the Economic Crisis in
Europe, www.etui.org/en/content/download/9854/51670/file/WP
%202009.01%20web%20version.pdf

Hendrickx, Frank, European Labour Law and Social Policy, Student Handbook Second
Edition, 2005.

Irish & British Unions Agree Joint Action Plan on Recession,


http://www.ictu.ie/press/2008/11/21/iridh-british-unions-agree-joint-action-plan-
on-recession/

News analysis: EU takes different approach to financial crisis,


http://www.xinhuanet.com/english/2009-03/22/content_11049731.htm

PERC Women’s Conference Statement on Gender Aspects of the Financial Crisis,


http://perc.ituc-csi.org/IMG/doc/PERC_statement.doc

Precarious employment is most frequent among women,


http://www.lo.se/home/lo/home.nsf/unidview/18B572A300C85975C1257577002
DB24D

The EU Response to the financial crisis: The development dimension (CIDSE


Recommendations),

15
http://www.cidse.org/uploadedFiles/Areas_of_work/Financial_crisis/20090302_C
idese%20recommendations%20to%20the%20EU%20on%20the%20financial
%20crisis.pdf

The Government cannot continue to ignore the problems of the Industry,


http://www.lo.se/home/lo/home.nsf/unidView.340D9D5039B191E1C125757100
4FDB7E

The London Declaration: a call for fairness and tough action, Statement by the European
Trade Union Confederation (ETUC) on the crisis of casino capitalism,
http://www.etuc.org/a/5367

Trade Unions, http://www.worker-


participation.eu/national_industrial_relations/across_europe/trade_unions

Trade Unions across Europe, http://www.fedee.com/tradeunions.html

Trade Union Federations call for Euro 7 billion as we tackle the crisis together,
http://www.fnv.nl/defnv/english/news/trade_union-
federations_present_crisis_plan.asp

Watt, Andrew, The Economic and Financial Crisis in Europe: addressing the cause and
the repercussions, European Trade Union Institute, December 2008,
http://www.mpra.ub.uni-muenchen.de/12337/1/mpra_paper_12337.pdf

Windmuller, Pursey, Baker, The International Trade Union Movement, cited in Blanpain,
Comparative Labour Law and Industrial Relations in Industrialized Market
Economies (Kluwer Law International, September 2007)

16