Anda di halaman 1dari 11

PEMBUATAN METIL ESTER

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa dapat memahami pembuatan metil ester.

II.

ALAT DAN BAHAN


Bahan yang digunakan:
Minyak jelantah atau minyak kelapa curah
NaOH pa
Metanol pa
Etanol pencuci
NaOH 0.1N
Indikator phenolphtalein (pp)
Alat yang digunakan:
Gelas Piala 600 mL
Gelas Ukur 50 mL
Labu Pemisah
Viskometer Ostwald
Neraca Analitik
Stopwatch
Gelas Ukur 500 mL
Buret
Piala gelas 250 ml
Hot Plate dan Stirrer
Piknometer
Pipet Ukur 10 mL
Thermometer
Labu Erlenmeyer 500 mL
Pipet Tetes
Statif Dan Klem

III.

DASAR TEORI
Bahan bakar nabati (BBN)-bioetanol dan biodiesel merupakan dua kandidat kuat
pengganti bensin dan solar yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin Otto dan
diesel. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan pengembangan dan implementasi dua
macam bahan tersebut, bukan hanya untuk menanggulangi krisis energi namun juga
sebagai salah satu solusi kebangkitan ekonomi masyarakat.
Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati,
baik minyak yang belum digunakan maupun minyak bekas dari penggorengan dan melalui

proses transesterifikasi.Biodiesel digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti


Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk motor diesel, dan apat diaplikasikan baik dalam bentuk
100% (B100) atau campuran dengan minyak solar pada tingkat konsentrasi tertentu (BBX),
seperti 10% biodiesel dicampur dengan 90% solar yang dikenal dengan nama B10, (Erliza,
dkk, 2007:8).
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah digunakan untuk menggoreng.
Dengan meningkatkan produksi dan konsumsi minyak goreng, ketersediaan minyak
jelantah kian hari kian melimpah, (Erliza, dkk, 2007: 25). Penggunaan minyak goreng
secara berulang akan mengakibatkan terjadinya reaksi oksidasi pada minyak karena adanya
kontak antara sejumlah oksigen dengan minyak. Akibat pemanasan yang berulang-ulang
serta reaksi oksidasi yang terjadi di dalam minyak, minyak jelantah dapat mengandung
senyawa-senyawa radikal seperti hidroperoksida dan peroksida. Senyawa-senyawa radikal
tersebut bersifat karsinogenik, oleh karena itu pemakaian minyak goreng yang
berkelanjutan dapat mengganggu kesehatan manusia.
Bila tak digunakan kembali, minyak jelantah biasanya dibuang begitu saja ke saluran
pembuangan. Limbah yang terbuang ke pipa pembuangan dapat menyumbat pipa
pembuangan karena pada suhu rendah minyak maupun lemak akan membeku dan
mengganggu jalannya air pada saluran pembuangan. Minyak ataupun lemak yang
mencemari perairan juga dapat mengganggu ekosistem perairan karena dapat menghalangi
masuknya sinar matahari yang sangat dibutuhkan oleh biota perairan. Oleh karena itu
diperlukan solusi untuk memanfaatkan limbah minyak goreng bekas, salah satunya dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.
Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak diesel/solar. Biodiesel dapat digunakan baik secara murni maupun
dicampur dengan petrodiesel tanpa terjadi perubahan pada mesin diesel. Bila dibandingkan
dengan bahan bakar diesel tradisional (berasal dari fosil), biodiesel lebih ramah lingkungan
karena emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan petrodiesel, bebas sulfur,
bilangan asap (smoke number) rendah, angka setana (cetane number) berkisar antara 5762, sehingga efisiensi pembakaran lebih baik. Selain itu, sifat biodiesel yang dapat terurai
(biodegradable), memiliki sifat pelumasan yang baik pada piston, serta merupakan sumber
energi yang terbaharui (renewable energy) memberikan keuntungan yang lebih dari
penggunaan biodiesel (Oberlin Sidjabat 2003: 2).

Beberapa peneliti menyatakan bahwa viskositas minyak nabati lebih tinggi


dibandingkan minyak solar, hal tersebut menyebabkan minyak nabati tidak cocok bila
digunakan langsung pada mesin diesel. Untuk itu agar viskositas minyak nabati sama
dengan viskositas minyak solar, maka harus dilakukan pengubahan minyak nabati menjadi
senyawa monoalkil ester melalui proses transesterifikasi.
Transesterifikasi merupakan reaksi organik dimana suatu senyawa ester diubah
menjadi senyawa ester lain melalui pertukaran gugus alcohol dari ester dengan gugus alkil
dari senyawa alkohol lain. Sedikit berbeda dengan reaksi hidrolisis, pada reaksi
transesterifikasi pereaksi yang digunakan bukan air melainkan alkohol. Metanol lebih
umum digunakan untuk proses transesterifikasi karena harganya yang lebih murah
dibandingkan alkohol lain. Namun penggunaan alkohol lain seperti etanol dapat
menghasilkan hasil yang serupa (Fitria Yulistika 2006: 20).
Pembuatan biodiesel dari minyak tanaman memiliki kasus yang berbedabeda sesuai
dengan kandungan FFA. Pada kasus minyak tanaman dengan kandungan asam lemak
bebas tinggi dilakukan dua jenis proses, yaitu esterifikasi dan transesterifikasi, sedangkan
untuk minyak tanaman yang kandungan asam lemak rendah dilakukan proses
transesterifikasi. Proses esterifikasi dan transesterifikasi bertujuan untuk mengubah asam
lemak bebas dan trigliserida dalam minyak menjadi metil ester (biodiesel) dan gliserol.

Proses pembuatan metil ester


Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam lemak,
diantaranya yaitu:
1) Pemakaian energi sedikit karena membutuhkan suhu dan tekanan lebih rendah
dibandingkan dengan asam lemak;
2) Peralatan yang digunakan murah. Metil ester bersifat non korosif dan metil ester
dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah, oleh karena itu proses pembuatan metil
ester menggunakan peralatan yang terbuat dari karbon steel, sedangkan asam lemak
bersifat korosif sehingga membutuhkan peralatan stainless steel yang kuat

3) Lebih banyak menghasilkan hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin


melalui reaksi transesterifikasi kering sehingga menghasilkan konsentrat gliserin,
sedangkan asam lemak, proses pemecahan lemak menghasilkan gliserin yang masih
mengandung air lebih dari 80%, sehingga membutuhkan energi yang lebih banyak
4) Metil ester lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan lebih
stabil terhadap panas
5) Dalam memproduksi alkanolamida, ester dapat menghasilkan superamida dengan
kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam lemak yang menghasilkan amida
dengan kemurnian hanya 65-70%
6). Metil ester mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat kimianya
lebih stabil dan non korosif. Metil ester dihasilkan melalui reaksi kimia esterifikasi dan
transesterifikasi.

Esterifikasi
Esterifikasi adalah tahap konversi dari asam lemak bebas menjadi ester. Esterifikasi
mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Katalis-katalis yang cocok adalah zat
berkarakter asam kuat, dan karena ini, asam sulfat, asam sulfonat organik atau resin
penukar kation asam kuat merupakan katalis-katalis yang biasa terpilih dalam praktek
industrial (Soerawidjaja,2006). Untuk mendorong agar reaksi bisa berlangsung ke konversi
yang sempurna pada temperatur rendah (misalnya paling tinggi 120 C), reaktan metanol
harus ditambahkan dalam jumlah yang sangat berlebih (biasanya lebih besar dari 10 kali
nisbah stoikhiometrik) dan air produk ikutan reaksi harus disingkirkan dari fasa reaksi,
yaitu fasa minyak.
Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi-kondisi reaksi dan metode
penyingkiran air, konversi sempurna asam-asam lemak ke ester metilnya dapat dituntaskan
dalam waktu 1 sampai beberapa jam. Reaksi esterifikasi dari asam lemak menjadi metil
ester adalah :
R-COOH +
Asam Lemak

CH3OH

Metanol

R-COOH3

+ H2O

Metil Ester

Air

Esterifikasi biasa dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar asam
lemak bebas tinggi (berangka-asam P 5 mg-KOH/g). Pada tahap ini, asam lemak bebas
akan dikonversikan menjadi metil ester. Tahap esterifikasi biasa diikuti dengan tahap

transesterfikasi. Namun sebelum produk esterifikasi diumpankan ke tahap transesterifikasi,


air dan bagian terbesar katalis asam yang dikandungnya harus disingkirkan terlebih dahulu.
Hal-hal yang Mempengaruhi Reaksi Esterifikasi
Faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi antara lain :
a.

Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin besar
sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan reaksi sudah
tercapai maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan menguntungkan karena tidak
memperbesar hasil.
b. Pengadukan
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi dengan
zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan reaksi terjadi sempurna. Sesuai dengan
persamaan Archenius :
k = A e(-Ea/RT)
dimana

T = Suhu absolut ( C)

R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)


E = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A= Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)
Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta kecepatan reaksi.
Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting mengingat larutan minyak
katalismetanol merupakan larutan yang immiscible.
c. Katalisator
Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi sehingga
pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar. Pada reaksi esterifikasi
yang sudah dilakukan biasanya menggunakan konsentrasi katalis antara 1 - 4 % berat
sampai 10 % berat campuran pereaksi (Mc Ketta, 1978).
d. Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi yang
dihasilkan, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Bila suhu naik maka harga k makin
besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi makin besar.

Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dalam minyak nabati


atau lemak hewani dengan alkohol rantai pendek seperti methanol atau etanol (pada saat
ini sebagian besar produksi biodiesel menggunakan metanol) menghasilkan metal ester
asam lemak (Fatty Acids Methyl Esters / FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin)
sebagai produk samping. Katalis yang digunakan pada proses transeterifikasi adalah
basa/alkali, biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida
(KOH).
Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) dengan
alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester asam lemak (FAME)
dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam, biasanya asam sulfat
(H2SO4) atau asam fosfat (H2PO4). Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati
maka proses pembuatan biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2 yaitu :
1.

Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan kalium hidroksida)


untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati dengan kandungan FFA rendah.

2.

Esterifikasi dengan katalis asam ( umumnya menggunakan asam sulfat) untuk minyak
nabati dengan kandungan FFA tinggi dilanjutkan dengan transesterifikasi dengan katalis
basa.
Proses pembuatan biodiesel dari minyak dengan kandungan FFA rendah secara
keseluruhan terdiri dari reaksi transesterifikasi, pemisahan gliserol dari metil ester,
pemurnian

metil

ester

(netralisasi,

pemisahan

methanol,

pencucian

dan

pengeringan/dehidrasi), pengambilan gliserol sebagai produk samping (asidulasi dan


pemisahan metanol) dan pemurnian metanol tak bereaksi secara destilasi/rectification.
Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika minyak nabati mengandung
FFA di atas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi (>5%) langsung ditransesterifikasi
dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi dengan katalis membentuk sabun.
Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup besar dapat menghambat pemisahan
gliserol dari metil ester dan berakibat terbentuknya emulsi selama proses pencucian. Jadi
esterifikasi digunakan sebagai proses pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjadi
metil ester sehingga mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan selanjutnya
ditransesterifikasi dengan katalis basa untuk mengkonversikan trigliserida menjadi metil
ester.

Transesterifikasi

Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap konversi dari


trigliserida (minyak nabati) menjadi alkyl ester, melalui reaksi dengan alkohol, dan
menghasilkan produk samping yaitu gliserol.
Di antara alkohol-alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber/pemasok gugus
alkil, metanol adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah dan
reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis).

Jadi, di sebagian besar dunia ini, biodiesel praktis identik dengan ester metil asamasam lemak (Fatty Acids Metil Ester, FAME). Transesterifikasi juga menggunakan katalis
dalam reaksinya. Tanpa adanya katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi
berjalan dengan lambat (Mittlebatch,2004).
Katalis yang biasa digunakan pada reaksi transesterifikasi adalah katalis basa, karena
katalis ini dapat mempercepat reaksi. Produksi biodiesel dari tumbuhan yang umum
dilaksanakan yaitu melalui proses yang disebut dengan transesterifikasi. Transesterifikasi
yaitu proses kimiawi yang mempertukarkan grup alkoksi pada senyawa ester dengan
alkohol. Untuk mempercepat reaksi ini diperlukan bantuan katalisator berupa asam atau
basa.
Pada tanaman penghasil minyak, cukup banyak terkandung asam lemak. Secara
kimiawi, asam lemak ini merupakan senyawa gliserida. Pada proses transesterifikasi
senyawa gliserida ini dipecah menjadi monomer senyawa ester dan gliserol, dengan
penambahan alkohol dalam jumlah yang banyak dan bantuan katalisator. Senyawa ester,
pada tingkat (grade) tertentu inilah yang menjadi biodiesel. Dalam proses transesterifikasi
untuk produksi biodiesel dari tumbuhan, biasanya digunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai
katalisator reaksi kimianya.

Selain proses transesterifikasi, dalam produksi biodiesel juga melalui tahapan:


pengempaan jaringan tanaman (misalnya biji) menghasilkan minyak mentah; pemisahan
(separator) fase ester dan gliserin; serta pemurnian/pencucian senyawa ester untuk
menghasilkan grade bahan bakar (biodiesel).
Reaksi transesterifikasi sebenarnya berlangsung dalam 3 tahap yaitu sebagai berikut:

Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil asam-asam
lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah produk, yaitu:
a)

Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi

b)

Memisahkan gliserol

c)

Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi eksoterm)


Metil ester mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan asam lemak,
diantaranya yaitu:

1.

Pemakaian energi sedikit karena membutuhkan suhu dan tekanan lebih rendah
dibandingkan dengan asam lemak

2.

Peralatan yang digunakan murah. Metil ester bersifat non korosif dan metil ester
dihasilkan pada suhu dan tekanan lebih rendah, oleh karena itu proses pembuatan metil
ester menggunakan peralatan yang terbuat dari karbon steel, sedangkan asam lemak
bersifat korosif sehingga membutuhkan peralatan stainless steel yang kuat

3.

Lebih banyak menghasilkan hasil samping gliserin yaitu konsentrat gliserin melalui
reaksi transesterifikasi kering sehingga menghasilkan konsentrat gliserin, sedangkan asam
lemak, proses pemecahan lemak menghasilkan gliserin yang masih mengandung air lebih
dari 80%, sehingga membutuhkan energi yang lebih banyak

4.

Metil ester lebih mudah didistilasi karena titik didihnya lebih rendah dan lebih stabil
terhadap panas

5.

Dalam memproduksi alkanolamida, ester dapat menghasilkan superamida dengan


kemurnian lebih dari 90% dibandingkan dengan asam lemak yang menghasilkan amida
dengan kemurnian hanya 65-70%

6.

Metil ester mudah dipindahkan dibandingkan asam lemak karena sifat kimianya lebih
stabil dan non korosif. Metil ester dihasilkan melalui reaksi kimia esterifikasi dan
transesterifikasi.
Transesterifikasi pada dasarnya terdiri atas 4 tahapan, yakni:
1. Pencampuran katalis alkalin (umumnya sodium hidroksida atau potassium
hidroksida) dengan alkohol (umumnya methanol). Konsentrasi alkalin yang digunakan
bervariasi antara 0.5 - 1 wt% terhadap massa minyak. Sedangkan alkohol diset pada rasio
molar antara alkohol terhadap minyak sebesar 9:1.
2. Pencampuran alkohol+alkalin dengan minyak di dalam wadah yang dijaga pada
temperatur tertentu (sekitar 40 - 60oC) dan dilengkapi dengan pengaduk (baik magnetik
ataupun motor elektrik) dengan kecepatan konstan (umumnya pada 600 rpm - putaran permenit). Keberadaan pengaduk sangat penting untuk memastikan terjadinya reaksi
methanolisis secara menyeluruh di dalam campuran. Reaksi methanolisis ini dilakukan
sekitar 1 - 2 jam.
3. Setelah reaksi methanolisis berhenti, campuran didiamkan dan perbedaan densitas
senyawa di dalam campuran akan mengakibatkan separasi antara metil ester dan gliserol.
Metil ester dipisahkan dari gliserol dengan teknik separasi gravitasi.
4. Metil ester yang notabene biodiesel tersebut kemudian dibersihkan menggunakan
air distilat untuk memisahkan zat-zat pengotor seperti methanol, sisa katalis alkalin,
gliserol, dan sabun-sabun (soaps). Lebih tingginya densitas air dibandingkan dengan metil
ester menyebabkan prinsip separasi gravitasi berlaku: air berposisi di bagian bawah
sedangkan metil ester di bagian atas.

IV. PROSEDUR KERJA


Pembuatan Metil Ester
1.

Timbang 1 gram NaOH yang telah dihaluskan dan larutkan dengan 41 ml Metanol pa.
Aduk dengan stirrer hingga semua NaOH larut semua. Tempatkan pada piala gelas 250 ml.

2.

200 ml sample minyak dipanaskan diatas hot plate dan aduk dengan stirrer kira-kira 75150 rpm hingga mencapai suhu 45-55C.

3.

Tambahkan larutan natrium metoksida yang telah dibuat pada langkah 1 kedalam
minyak yang telah dipanaskan dan pertahankan suhu pengadukan 55C. Lakukan
penambahan larutan ini sedikit demi sedikit. Hitung waktu pengadukan hingga 45 menit,
setelah semua natrium metoksida bercampur semua,

4.

Pindahkan metil ester ke dalam corong pisah dan diamkan hingga terbentuk dua lapisan
selama 10-15 menit, lalu keluarkan lapisan bawahnya.

5.

Masukkan metil ester ke piala gelas dan lakukan pemurnian dengan memanaskan
aquadest sebanyak 50% volume metil ester hingga suhu 60C tuangkan metil ester ke
dalam aquadest aduk perlahan selama 10 menit.

6.

Pindahkan metil ester dan aquadest ke dalam corong pisah dan biarkan hingga terbentuk
dua lapisan, kemudian lapisan bawahnya dikeluarkan.

7.

Hitung volume yield yang didapat.


Prosedur Analisa
Pengujian density

1.
2.

Timbang labu piknometer yang telah bersih dan kering sebagai a gram.
Labu piknometer diisi dengan contoh dan diimpitkan pada suhu tc kemudian timbang

sebagai b gram.
3.
Labu dibersihkan dengan sabun, kemudian dengan alkohol dan dikeringkan.
4.

Lakukan langkah 2 dengan contoh aquadest.

5.

Hitung harga density metil ester.


Pengujian viskositas

1.
2.
3.

Bersihkan terlebih dahulu alat Ostwald dengan contoh 2-3 kali.


Pipet 5 ml sample dan masukkan ke dalam alat Ostwald
Tetapkan berapa waktu yang diperlukan untuk mengalirkan sample dengan jalan
menghisapnya sampai melebihi tanda garis atas. Bila miniskus berhimpit perhitungan

4.
5.
6.

dimulai lagi dengan tanda garis bawah.


Pengamatan dilakukan berulang minimal 3 kali.
Catat juga suhu pada saat pengamatan.
Ulangi langkah diatas dengan menggunakan aquadest.
Pengujian asam lemak bebas (ALB)

1.
2.
3.

Timbang 2- 5 gram metil ester, tambahkan larutan 50 ml metanol 95% netral dan 3 tetes
indikator phenoptalin.
Lakukan titrasi dengan NaOH 0.1 N sampai berwana merah muda.
Catat banyaknya NaOH yang digunakan.

Kadar FFA =

M .V . T
10. m

Keterangan :

M = Berat molekul asam lemak (gr/mol)

T = Normalitas NaOH
m = Berat molekul asam lemak
Y = Volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi (mL)
Pembuatan Larutan
1.
2.

NaOH 0,1 N 500 mL (sebanyak 2 gram NaOH dilarutkan dalam 500 ml aquadest).
Metanol 95 % netral (masukkan metanol 95% sebanyak yang diperlukan kedalam
erlenmeyer,tambahkan 3 tetes indikator PP lalu titrasi dengan NaOH 0.1 N sampai

terbentuk warna merah muda)


3.
Indikator pp (Larutkan 0,5 gram fenolftalein dalam 100 ml etanol).