Anda di halaman 1dari 117

LOMBA NASIONAL RANCANG BANGUN MESIN IV 2014

BADAN KERJA SAMA TEKNIK MESIN

KAKI PROSTETIK
Sebagai Alat Bantu Untuk Penyandang Tuna Daksa
Diusulkan oleh
Abdullah Hawari

1106052505

Anggita Dwi Liestyosiwi

1106019804

Muhammad Ridho

1106067904

Reza Dianofitra

1106067854

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK
2014

KATA
PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan anugerahnya telah
memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan karya tulis ini dengan baik. Melalui
kegiatan Lomba Nasional Rancang Bangun Mesin IV - 2014 yang diselenggarakan oleh
Badan Kerja Sama Teknik Mesin (BKSTM) ini, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang
didapat mengenai inovasi tentang alat bantu untuk penyandang cacat fisik khususnya tuna
daksa. Kami berharap, ilmu dan pengalaman yang kami peroleh dapat menjadi bekal untuk
kami di masa depan.
Karya tulis kami berjudul Kaki Prostetik ini berisikan hasil rancangan Prototype yang kami
buat untuk membantu orang-orang yang menyandang tuna daksa atau cacat fisik.
Harapan kami kedepannya, selain untuk memenangkan Lomba Nasional Rancang Bangun
Mesin IV 2014, rancangan dan karya tulis ini akan siap diaplikasikan untuk kegiatan sosial.
Pada kesempatan ini, kami juga hendak mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak
yang memiliki peran besar dalam keberlangsungan kegiatan dan penulisan laporan ini.
1. Allah SWT atas berkatnya yang melimpah telah mengijinkan kami untuk menyelesaikan
hasil rancangan dan karya tulis ini
2. Kepada Pihak Penyelenggara Lomba Nasional Rancang bangun Mesin IV 2014, yaitu
Badan Kerja Sama Teknik Mesin (BKSTM) beserta pihak sponsor sehingga acara ini
terselenggara dan kami mendapatkan kesempatan untuk ikut serta pada lomba ini serta
mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sangat bernilai
3.

Kepada Dr, Ario Sunar Baskoro S.T, M.T., M.Eng selaku dosen pembimbing atas
dukungan dan bimbingannya dalam proses pengerjaan sehingga kami dapat menyelesaikan
rancangan Kaki Prostetik dengan baik

4. Kepada selurh jajaran dosen Departemen Teknik Mesin FTUI atas ilmu yang kami dapat
selama ini untuk aplikasi dalam pengerjaan karya ini
5. Kepada seluruh teman-teman yang tentunya tidak dapat disebutkan satu per satu yang
telah memberikan dukungan moril kepada kami
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................................


1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................................
1
1.2 Tujuan Penulisan ..............................................................................................................................
2
1.3 Kegunaan Tulisan .............................................................................................................................
2
1.4 Metode................................................................................................................................................
2
1.5 Batasan Masalah ...............................................................................................................................
3
BAB II - LANDASAN TEORI ...................................................................................................................
4
2.1.
4

Disabilitas.....................................................................................................................................

2.2.
4

Gaya Pegas...................................................................................................................................

2.3.
5

Torsi .............................................................................................................................................

2.4.
5

Dinamika......................................................................................................................................

2.5.
5

Ergonomi .....................................................................................................................................

2.6.
6

Proses Perancangan ....................................................................................................................

..................................................................................................................................................................
6
BAB III - DESKRIPSI ALAT....................................................................................................................
7
3.1 Deskripsi Alat ....................................................................................................................................
7
3.2
10

Deskripsi komponen ...................................................................................................................

BAB IV - DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY..........................................................


15

BAB V PENUTUP..................................................................................................................................
17
1.1.
17

Kesimpulan ................................................................................................................................

1.2.
17

Saran ..........................................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................


18

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1
Latar
Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, baik jasmani maupun rohani.
Oleh karena itu tiap manusia harus bersyukur atas keadaan yang diberikan langsung oleh
tuhan. Namun, tidak jarang ditemui manusia yang memiliki kelainan, seperti cacat fisik atau
pun mental. Kelainan tersebut dapat terjadi sejak lahir maupun tidak. Menurut data Kementrian
Sosial Republik Indonesia 2012, dapat dilihat pada tabel dibawah ini, tentang jumlah
penyandang cacat yang ada di Indonesia. Namun, tidak semua penyandang cacat mendapatkan
treatment yang baik dikarenakan keadaan ekonomi yang kurang memadai. Situasi ini
diperburuk oleh rendahnya keselamatan lalulintas dan keselamatan kerja. Indonesia memang telah
mempunyai UU RI No. 4 tahun
1977 tentang Penyandang Cacat. Selain implementasinya yang lemah, UU ini dipandang kurang
memberdayakan subyek hukumnya. Istilah penyandang cacat yang digunakan dianggap
menstigmatisasi karena kata penyandang menggambarkan seseorang yang memakai label atau
tanda-tanda negatif kecacatan itu pada keseluruhan pribadinya (whole person).

Sekarang ini, manusia yang cacat fisiknya juga dapat melakukan aktivitas seperti manusia
dengan kondisi fisik yang sempurna. Hal ini disebabkan oleh berkembangnya teknologi,
sehingga dapat menyokong mereka yang cacat fisiknya dapat beraktivitas layaknya manusia
pada umumnya.
Apa yang paling didamba bagi penderita cacat fisik di bagian kaki? Jawabannya sudah pasti
mereka membutuhkan kaki palsu, meski ada juga tongkat atau kursi roda sebagai alat bantu
berjalan. Kaki palsu lebih memudahkan bagi penyandang disabilitas untuk beraktivitas.
Memang harganya mahal dan hanya sebagian saja yang mampu membeli alat bantu tersebut.
Karena itu, semua pihak baik pemerintah, swasta, maupun kalangan masyarakat sewajarnya
membantu para penyandang disabilitas.
Umumnya mereka tidak mampu membeli kaki palsu dari rumah sakit yang harganya bisa
mencapai Rp15 juta-an untuk sebelah kaki. Ketua Forum Perjuangan Difabel Jabar Jumono
menuturkan terkadang para penyandang cacat fisik itu tidak leluasa hanya menggunakan
tongkat atau kursi roda. Menggunakan kaki palsu lebih cocok sebagai alat bantu untuk
memperlancar aktivitas mereka. Namun, harga kaki palsu bagi kebanyakan penyandang cacat
fisik masih terlalu berat. Baik di rumah sakit atau di beberapa tempat yang menyediakan alat
bantu tersebut, harga sebelah kaki palsu di bawah lutut dengan bahan dasar fiberglass berkisar
Rp4-10 juta.
Dalam paper ini akan dibahas mengenai perancangan alat yang dapat membantu orang yang
mengalami cacat fisik di bagian kaki (kaki buntung) dapat berjalan layaknya orang normal.
Karena mereka yang kurang beruntung tersebut tidak mau didiskriminasi akan keadaan fisik
yang dimilikinya.
1.2
Tujuan
Penulisan
Terdapat beberapa tujuan penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini. Berikut merupakan
tujuan dari dibuatnya karya tulis ini:
1. Sebagai bahan materi untuk mengikuti Lomba Nasional Tahunan Rancang Bangun
Mesin
IV 2014 yang diadakan oleh BKSTM

2. Memberi rancangan kaki buatan dengan sistem torsional spring


3. Agar kaki buatan yang telah dirancang dapat diproduksi dan dipakai secara luas
oleh penderita yang bersangkutan
1.3
Kegunaan
Tulisan
Penulis melakukan percangan terhadap kaki buatan dengan sistem torsional spring agar
rancangan dapat diproduksi dan dipakai secara luas oleh penderita yang bersangkutan. Hal ini
untuk menjadikan orang yang memiliki cacat fisik dapat juga melakukan aktivitas seperti
orang yang sehat jasmani dan rohani.
1.4
Metode
Terdapat beberapa metode yang digunakan oleh para penulis dalam menyelesaikan
perancangan kaki buatan dengan sistem torsional spring, yaitu:
1.4.1
Metode
Pustaka

Studi

Metode ini digunakan guna memperoleh landasan teoritis dengan membaca dan mempelajari
bukubuku literatur, buku manual, dan juga melalui internet yang berhubungan dengan objek
yang diteliti.
1.4.2
Analitis

Metode

Metode ini dilakukan dengan menganalisa melalui pemanfaatan dasar teori dan rumus yang
ada dalam melakukan perancangan. Hasil yang didapatkan melalui metode ini akan dipaparkan
pada bab III. Proses analisa melalui dasar teori dan rumus ilmiah akan dipaparkan pada
lampiran
1.4.3 Metode
Lunak

Pemanfaatan

Perangkat

Metode ini dilakukan dengan cara melakukan perhitungan, penggambaran, dll dengan
memanfaatkan perangkat lunak. Beberapa perangkat lunak yang digunakan penulis dalam
melakukan penggambaran dan perhitungan adalah Autodesk Inventor, Autodesk Force Effect,
dan Microsoft Excel.
1.5
Batasan
Masalah
Dalam melakukan perancangan, terdapat beberapa batasan masalah yang tidak dibahas pada
karya tulis ini. Pembatasan masalah yang dimaksud adalah:
- Kaki buatan dirancang dengan sistem torsional
spring
- Kaki buatan dirancang mampu menahan orang dengan beban maksimum 100
kg
- Kaki buatan dapat bergerak pada 3 lokasi, yaitu lutut, engkel, dan jari
kaki
BAB II - LANDASAN
TEORI

2.1.Disabilit
as
Di sebagian masyarakat Indonesia, istilah Disabilitas mungkin kurang akrab karena berbeda
dengan Penyandang Cacat.

Istilah Disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia berasal

dari serapan kata bahasa Inggris disability (jamak: disabilities) yang berarti cacat atau
ketidakmampuan. Penyandang Disabilitas dapat diartikan individu yang mempunyai
keterbatasan fisik atau mental/intelektual. Segala jenis gangguan baik fisik, mental
maupun psikis dapat diartikan sebagai suatu disabilitas. Kondisi seseorang yang dijelaskan
sebagai suatu disabilitas merupakan kondisi yang kompleks, yang mencerminkan interaksi
antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari masyarakat tempat dia tinggal.
Istilah Cacat sendiri berkonotasi sesuatu yang negatif. Kata penyandang memberikan
predikat kepada seseorang dengan tanda atau label negatif yaitu cacat pada keseluruhan

pribadinya. Kenyataannya bisa saja seseorang penyandang disabilitas hanya mempunyai


kekurangan fisik tertentu, bukan disabilitas secara keseluruhan. Untuk itu, melalui UU
RI No. 4, istilah cacat dirubah menjadi disabilitas yang lebih berarti ketidakmampuan
secara penuh.
Para penyandang disabilitas fisik layak mendapat bantuan agar dapat menjalankan aktifitas
sebagaimana mestinya. Kaki palsu/ Kaki Prostetik adalah bantuan bagi penyandang disabilitas
alat gerak bawah, hingga dapat melakukan aktifitas sebagaimana mestinya.

2.2.Gaya
Pegas
Bila sebuah benda pada salah satu ujungnya dipegang tetap, dan sebuah gaya F dikerjakan
pada ujung yang lainnya, maka pada umumnya benda itu akan mengalami perubahan panjang
Dx. Untuk bahan-bahan atau benda-benda tertentu, dan dalam batas tertentu perubahan
panjang tersebut besarnya berbanding lurus dengan besar gaya yang menyebabkannya. Secara
skalar dinyatakan oleh persamaan
F
=
k.
Dx
(2.1)
dengan k adalah sebuah konstanta dan gambaran inilah yang dinyatakan dengan hukum
Hooke. Harus diperhatikan bahwa hukum Hooke ini tidak berlaku pada semua benda atau
bahan dan untuk semua gaya yang bekerja padanya.

2.3.To
rsi
Torsi dapat dipikir sebagai gaya rotasional. Analog rotational dari gaya,
masa, dan percepatan adalah torsi, momen inersia dan percepatan angular. Gaya yang bekerja
pada lever, dikalikan dengan jarak dari titik tengah lever, adalah torsi.
Contohnya,
gaya
dari tiga newton bekerja sepanjang dua meter dari titik tengah
mengeluarkan torsi yang sama dengan satu newton bekerja sepanjang enam meter dari titik
tengah. Ini menandakan bahwa gaya dalam sebuah sudut pada sudut yang tepat kepada
lever lurus. Lebih umumnya, seseorang dapat

mendefinisikan
silang:

torsi

sebagaiperkalian

di mana
r adalah vektor dari axis putaran ke titik di mana gaya bekerja
F adalah vektor gaya.

(2.2)

2.4.Dinami
ka
Dinamika
adalah
cabang
dari
ilmu
fisika
(terutama
mekanika
klasik)
yang mempelajari gaya dan torsi dan efeknya pada gerak. Dinamika merupakan
kebalikan dari kinematika, yang mempelajari gerak suatu objek tanpa memperhatikan apa
penyebabnya.
Secara umum, para peneliti yang menekuni dinamika akan mendalami bagaimana sistem
fisika mengalami perubahan dan penyebab mereka berubah. Isaac Newton
menciptakanhukum-hukum fisika yang menjadi panduan dalam fisika dinamika. Secara umum,
dinamika sangat berkaitan erat dengan Hukum kedua newton tentang gerak. Namun, ketiga
hukumnya tetap saling berkaitan satu sama lain

2.5.Ergono
mi
Ergonomika adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan elemen-elemen
lain dalam suatu sistem, serta profesi yang mempraktekkan teori, prinsip, data, dan metode
dalam perancangan untuk mengoptimalkan sistem agar sesuai dengan kebutuhan, kelemahan,
dan keterampilan manusia. ergonomi adalah ilmu atau kaidah yang mempelajari manusia
sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup karakteristik fisik maupun nonfisik,
keterbatasan
manusia, dan kemampuannya dalam rangka merancang suatu sistem yang efektif, aman,
sehat, nyaman, dan efisien.

2.6.Proses Perancangan

BAB III - DESKRIPSI


ALAT

3.1
Deskripsi
Alat
Hasil rancangan produk dapat berfungsi sebagai ganti alat gerak pada tubuh manusia bagian
kaki, dengan memanfaatkan gaya berat dari tubuh sebagai gaya aksi dan gaya gesek dengan
permukaan yang diinjak dan juga gaya pegas per sebagai gaya reaksi. Pada rancangan per
berfungsi sebagai pengganti sendi pada tubuh manusia.
Tabel
3.1

12

1
2

3
4

10
11

Gambar 3.1

Gambar 3.2
Komponendari :

komponen

1. Betis atas

terdiri

2. Betis bawah
3. Paha atas
4. Paha bawah
5. Per torsi
6. Per Tarik
7. Baut ( DIN ISO 4016 M6, DIN 7969 M10, ISO 4016 M6)
8. Bearing (JIS B 1521 SKF)
9. Pin (ISO 2341-B-, GB_T_882-1986 B)
10. Telapak Kaki
11. Jari Kaki
12. Holder Kaki
Panjang disesuaikan berdasarkan data dari Antopometri Indonesia, bahwa panjang dari paha
hingga ujung kaki rata rata usia produktif (20-50 tahun) di Indonesia adalah 72 cm.
Panjang yang diperuntukan untuk kaki palsu sesuai dimensi antopometri adalah 67 77 cm,
pengaturan dapat dilakukan pada bagian betis dan paha dengan sekala berpindah sebanyak
1 cm, caranya hanya dengan menggeser dan memindahkan baut

Gambar
3.3

Gambar
3.4
Keunggulan dari alat ini dibandingkan kaki palsu pada
umumnya :
1. Harga produksi murah maka harga jual juga akan murah
2. Desain yang sederhana dan hanya memanfaatkan per dan gaya berat sehingga
mudah diperbaiki
3. Bentuk yang menyerupai kaki manusia (protestik), sehingga bila diselimuti tidak
akan
terlihat sebagai kaki buatan namun seperti kaki normal

3.2

Deskripsi komponen

Shear

= (

72.03 kN

Tensile

= (

Fork End

)
1

93.14 kN

Shear

= (
1

)
1

54.02 kN

3.2.1

Paha

Berdiameter 50mm dengan panjang 220 mm, dimensi mengacu pada data antopometri dari
Antopometri Indonesia. Terpisah menjadi 2 bagian yang dimana memungkinkan
perpanjangan dimensi untuk menyesuaikan dengan tinggi pengguna, dapat memanjang
hingga 2 cm. Dibuat dengan material almunium pejal dengan yield strength 310 MPa.
Terdapat lubang untuk pemasangan per tarik.
3.2.2 Betis

Betis memiliki diameter 50 mm dan panjang 400 mm, mengambil dari acuan
Antopometri Indonesia. Terbuat darimaterial yang sama yaitu Almunium pejal dengan yield
streght 310 MPa mempunyai lubang untuk pengaturan tinggi seperti pada bagian paha, namun
pada bagian betis pengaturan bisa mencapai 8 cm. pada bagian bawah (diberi tanda panah pada
gambar) terdapat per torsional. Bagian betis dihubungkan dengan baut DIN 7969 M10 dengan
bagian paha.

3.2.3. Kaki
Bagian kaki terbuat dari almunium dengan proses casting, mempunyai dimensi panjang
total
22 cm dengan standar acuan dari dimensi antopometri. Didesain dengan bentuk layaknya
kaki manusia

3.2.4. Jari

Jari pada desain ini berfungsi sebagai penumpu awal saat bergerak.

Posisi jari akan maju dikarenakan berat dari jari tersebut, dan menjadi permukaan
pertama yang mengalami kontak.

3.2.5. Coil
a. Coil Tarik

Per terik berfungsi sebaga pengganti sendi lutut yang menjadi tumpuan saat bergerak.

Per Menekuk

Per Terentang

Sambungan ditahan oleh pin berdiameter


6mm. b.
Per Torsional
Diletakkan pada bagian mata kaki sebagai peredam sekaligus
sendi

Pemasangan pegas torsi sebagaimana yang tertera di gambar.

Panah menggambarkan aliran gaya yang terjadi, gaya berat yang diterima ada yang teredam
dan juga ada yang tersalurkan melalui bergeserya per torsi, disinilah per torsi berfungsi sebagai
peredam karena bila setelah menerima gaya maka reaksi per tidak akan langsung seketika
sehingga menyentak pemakai namun akan lebih perlahan.
BAB IV - DESIGN FOR MANUFACTURE AND ASSEMBLY

Proses manufaktur dan perakitan produk merupakan tahapan yang paling penting dalam
menciptakan suatu produk. Proses ini juga merupakan salah satu penentu cost product
dari produk tersebut. Untuk itu, dibutuhkan suatu kajian dalam tahap perancangan
untuk menentukan proses yang tepat pada saat proses manufaktur dan perakitannya
agar cost product produk tersebut dapat dioptimalkan. Secara ekonomi, produk yang
didesain sedapat mungkin memiliki biaya produksi yang serendah mungkin
namun dengan nilai jual yang setinggi mungkin. DFMA atau Design for Manufacture
and Assembly memiliki fungsi untuk sebagai guidance untuk desain dalam
simplifikasi struktur produk untuk mengurangi biaya manufaktur dan perakitan,
untuk mengukur peningkatan, untuk mempelajari produk saingan, dan mengukur
kesulitan dalam assembly, serta sebagai alat pengukur biaya paling efektif untuk
membantu mengontrol biaya dan membantu negosiasi dengan kontrak supplier

Berikut merupakan detil dari komponen komponen, status, dan juga


prediksi harga tiap jenis komponen yang diperlukan untuk mempuat 1 (satu)
unit Kaki Prostetik. Pada kolom status, penulis menentukan apakah komponen
tersebut akan diproduksi sendiri (insource), ataupun membeli (outsource) dari
produsen yang memproduksi komponen tersebut sehingga proses produksi
dari Kaki Prostetik akan lebih mudah. Detil dari DFMA akan dijelaskan lebih
lanjut pada bagian lampiran
Berikut ini adalah tabel proses produksi yang dilakukan untuk membuat part
Kaki Prostetik yang bersifat insource
N
o
.

Part

De Uni Un Axi Reg Ca Enc No


pre Wa iSe sR XS ptC lose Dr
ss ll
aft
ct ot ec av d

1
2

Foot -1
Foot -2

Y
Y

N
N

N
N

Y
Y

Y
Y

N
N

Y
Y

N
N

Paha Atas

Paha Bawah

Betis Atas

6
7

Betis Bawah
Holder Kaki

Y
Y

N
N

N
N

Y
Y

Y
Y

N
N

Y
Y

N
N

Secondar
y
Tertiary
Primary
Cold Chamber Die
Casting
Injection Molding
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Injection Molding

Triming
Triming

Coloring
Coloring

Triming

Coloring

Triming

Coloring

Triming

Coloring

Triming
Triming

Coloring
Coloring

Berikut ini adalah tabel production cost dari part Kaki Prostetik
No
1

Bagian
Foot -1

Jumlah
1

Status
Insource

Material
Alumunium 6061

Harga Per Satuan


Rp
32.766

2
3
4
5
6
7

Foot -2
Paha atas
Paha Bawah
Betis Atas
Betis Bawah
Holder Kaki

1
1
1
1
1
1

Insource
Insource
Insource
Insource
Insource
Insource

ABS Plastic
Aluminium 6061
Aluminium 6061
Aluminium 6061
Aluminium 6061
ABS Plastic

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

527.078
29.202
26.831
26.111
26.078
527.386

Coil

Outcource

Steel

Rp

1.200

Harga Total
Rp
32.766
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
1.200

527.078
29.202
26.831
26.111
26.078
527.386

Torsional Coil

Outsource

Steel

Rp

1.200

10

Bearing SKF

Outsource

Steel

1.200

11

Bolt M6

Outsource

Steel

12

Bolt M10

Outsource

Steel

13

Pin

Outsource

Steel

Rp
Rp
117
Rp
117
Rp
117
Jumlah

Biaya Perakitan
Total Keseluruhan
Dibulatkan

Biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu Kaki Prostetik adalah Rp.1.204.000,00

16

Rp
2.400
Rp
1.200
Rp
234
Rp
234
Rp
117
Rp 1.200.836
Rp
3.000
Rp
Rp

1.203.836
1.204.000

BAB V PENUTUP

1.1.Kesimpulan

Dari perhitungan DFMA diketahui biaya produksi adalah Rp.1.204.000,00, maka harga
alat akan jauh lebih murah dibandingkan harga yang beredar di pasaran. Karena harga yang
beredar kini yang terendah adalah Rp.4.000.000.
Kaki prostetik memiliki massa 3kg, lebih ringan daripada kaki manusia umumnya
Pegas tarik bekerja menggantikan sendi lutut
Pegas torsi bekerja mengantikan sendi mata kaki merangkap menjadi damper
Jari adalah permukaan yang pertama kali kontak dengan tanah bila bergerak, dengan
adanya pin pada jari dapat menyesuaikan hentakan pada saat berjalan

1.2.Saran
Agar dilakukan kajian lebih lanjut untuk mekanisme pendaratan jari dan pemasangan pada
pangkal paha
Agar dapat direalisasikan karena sangat mudah terjangkau untuk rumah sakit / puskesmas
dan biaya perawatan yang murah
DAFTAR
PUSTAKA

Callistee, William D. Material Science and Engineering an Introduction. 2007


Khurmi, R.S,. Gupta, J.K. Text Book of Machine Design. 1999
Boothroyd, Product Design for Manufacture and Assembly

LAMPIRAN 1
PERHITUNGAN
1. Perhitungan
Baut
Sambungan Baut Paha Atas-Paha Bawah dan Betis Atas-Betis Bawah

Tensile
Beban maksimal yang mampu diterima oleh sambungan baut yang disebabkan oleh
Tensile stress

Dengan

d
dc

= 0.006 m
= 0.00535 m

4
= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield Strength Mild Steel)

Shear
Beban maksimal yang mampu diterima oleh sambungan baut yang disebabkan oleh
shear stress :
=

4
Dengan, d

= 0.006 m

= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear Yield

Strength Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh knuckle pin adalah
4.65 kN dan didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh knuckle pin
adalah 5.85 kN. Sementara beban yang didapat dari berat tubuh manusia dewasa dengan
tinggi 162 cm (data antopometri) adalah berkisar 60 100 kg hanya 1000 Newton atau
1kN jadi desain baut aman.

2. Perhitungan Lutut

2.1.Knuckle Pin
a. Tensile stress

Beban maksimal yang mampu diterima oleh knuckle pin yang disebabkan oleh tensile
stress :
=

4
Dengan

= 0.02 m

= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield

Strength Mild Steel)

b. Shear stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh knuckle pin yang disebabkan oleh shear stress :

=2
4
Dengan,

= 0.02 m
= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear
Yield Strength Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh knuckle pin adalah
65,02
kN dan, didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh knuckle pin adalah
75,46 kN.
2.2.Rod End
a. Tensile stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh rod end yang disebabkan oleh tensile stress :

= (2 1)

Dengan

d1

= 0,02 m

d2

= 0,05

mt

0,02 m
= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield Strength Mild Steel)

b. Shear stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh rod end yang disebabkan oleh shear stress :

= (2

Dengan,

d1

= 0,02 m

d2

= 0,05

mt

1)

0,02 m

= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear


Yield Strength Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah 124.19 kN
dan, didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah 72.03 kN.

2.3.Fork End
a. Tensile stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh fork end yang disebabkan oleh tensile stress :

= (2 1 )

Dengan

d1

= 0,02 m

d2

= 0,05 m

t1

= 0,015
= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield Strength Mild Steel)

b. Shear stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh fork end yang disebabkan oleh shear stress :

= (2

Dengan,

d1

= 0,02 m

d2

= 0,05

m t1

1) 1

0,015

= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear


Yield Strength Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah
93.14

kN dan, didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah
54.02 kN. Dengan beban yang diterima hanya 1000 newton (1kN) maka desain aman
3. Perhitungan Engkel
3.1.Tensile stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh knuckle pin yang disebabkan oleh tensile stress
:
=

4
Dengan

= 0.02 m

= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield

Strength Mild Steel)

3.2.Shear stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh knuckle pin yang disebabkan oleh shear stress :

=24

Dengan,

= 0.02 m

= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear Yield Strength Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh knuckle pin adalah
65,02 kN dan, didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh knuckle pin
adalah 75,46 kN.
3.3.Rod
End
a. tensile stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh rod end yang disebabkan oleh tensile
stress :

= (2

Dengan
m

d1

= 0,02

d2

= 0,05

mt

1)

0,02 m

= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield Strength Mild Steel)

b.

Shear stress

Beban maksimal yang mampu diterima oleh rod end yang disebabkan oleh shear
stress :

= (2

Dengan,
m

d1

= 0,02

d2

= 0,05

mt

1)

0,02 m

= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear


Yield Strength Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah 124.19
kN

d
a
n,
Sehingga didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah 72.03
kN.
3.4.Fork
End
a. Tensile stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh fork end yang disebabkan oleh tensile stress :

= (2 1 )

Dengan

d1

= 0,02 m

d2

= 0,05

m t1

0,016
= 206,98 x 106 Pa (Tensile Yield Strength Mild Steel)

b. Shear stress
Beban maksimal yang mampu diterima oleh fork end yang disebabkan oleh shear stress :

= (2 1)

Dengan,

d1

= 0,02 m

d2
m t1

= 0,05
=

0,016
= 0,58 x 206,98 x 106 Pa (Shear Yield Strength

Mild Steel)

Sehingga didapat bahwa beban F maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah 99.35
kN
dan,didapat bahwa beban Fs maksimal yang bisa diterima oleh rod end adalah 57.62 kN.

LAMPIRAN 2
D
F

M
A
Pada lampiran ini dijelaskan proses produksi dari masing-masiing part yang
bersifat insource. Penjelasan ini akan dirangkum menjadi bentuk tabel.
Terdapat dua proses produksi, yaitu proses die casting dan injection molding.
M
a
n
u
f
a
c
t
u
r
i
n
g
N
o
.

Part

De Uni Un Axi Reg Ca Enc No


pre Wa iSe sR XS ptC lose Dr
ss ll
aft
ct ot ec av d

1
2

Foot -1
Foot -2

Y
Y

N
N

N
N

Y
Y

Y
Y

N
N

Y
Y

N
N

Paha Atas

Paha Bawah

Betis Atas

6
7

Betis Bawah
Holder Kaki

Y
Y

N
N

N
N

Y
Y

Y
Y

N
N

Y
Y

N
N

Secondar
y
Tertiary
Primary
Cold Chamber Die
Casting
Injection Molding
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Injection Molding

Triming
Triming

Coloring
Coloring

Triming

Coloring

Triming

Coloring

Triming

Coloring

Triming
Triming

Coloring
Coloring

Design For Die Casting


No

Nama Part

1 Betis Atas

Material
Alummunium 6061

Proses
Cold Chamber Die
Casting

Volume
(cm^3)
1,74092

Massa
(kg)
0,472

Harga per
kg ($)

Nt

1,4 100000

2 Betis Bawah

Alummunium 6061

3 Paha Atas

Alummunium 6061

4 Paha Bawah

Alummunium 6061

5 Foot-1

Alummunium 6061

No

Nama Part

Cold Chamber Die


Casting
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting
Cold Chamber Die
Casting

Td
(jam)

k1

M1

Crt

Tp

Cd1

1,73416

0,47

1,4 100000

2,43966

0,661

1,4 100000

0,516

1,4 100000

6,66259

0,879

1,4 100000

Ct1

Jumlah
Cavities
Optimum
(n)

Ca

Biaya total

Bia
Pa

Betis Atas

0,5

10

62

0,005

0,4 8000 0,7

2000 0,6608

37

223553,855

2,23

Betis Bawah

0,5

10

62

0,005

0,4 8000 0,7

2000

0,658

37

223273,855

2,2

Paha Atas

0,5

10

62

0,005

0,4 8000 0,7

2000 0,9254

37

250013,855

2,5

Paha Bawah

0,5

10

62

0,005

0,4 8000 0,7

2000 0,7224

37

229713,855

2,2

Foot-1

0,5

10

62

0,005

0,4 8000 0,7

2000 1,2306

37

280533,855

2,8

Jumlah biaya per part dari proses die casting adalah $12,1
Design For Injection Molding
No

Nama
Part

Foot-2

Holder
kaki

No
1
2

Nama
Part
Foot-2
Holder
kaki

Material
ABS
Plastic
ABS
Plastic

Proses

Volume
(cm^3)

Massa
(kg)

Harga per
kg ($)

Nt

k1

Injection Molding

0,118182

0,0176

1,5

500

25

0,10689

0,0352

1,5

500

25

Injection Molding

Biaya
Total

Biaya Per
Part ($)

10000

Cavities
Optimum
Number
1

22563,25

45,1265

10000

22576,45

45,1529

C1

0,01
0,01

Jumlah biaya per part dari proses injection molding adalah $90,28
Design For Assembly

Par
t
I.D.
N

Number
Of
Times
Name
The
of
Operat
Parts
ion is
Carrie
d out
consec
utively

TwoDigit
Man
ual
Hand
ling

Manual
Handling
Time Per
Part

TwoDigit
Man
ual
Inser
tion

Manual
Insertion
Time Per
Part

Oper
ation
Time
(seco
nd)

Opera
tion
Cost
(Rp)
40 / s

Name of
Assembly

1
2
11
6
4

Foot -1
Foot -2
Srew tightning
Betis Bawah
Torsional Coil

1
1
1
1
1

30
30
10
30
30

1,95
1,95
1,5
1,95
1,95

00
00
92
00
12

1,5
1,5
5
1,5
5

3,45
3,45
6,5
3,45
6,95

138
138
260
138
278

place in fixtu
add
add and srew tig
add
add

11
5
12
4
3
10
11
8
11
7

Srew tightning
Betis Atas
Srew tightning
Paha Bawah
Paha Atas
Bearing SKF
Srew tightning
Coil
Srew tightning
Holder Kaki

1
2
1
1
1
1
1
1
1
1

10
10
10
30
30
0
10
0
10
10

1,5
1,5
1,5
1,95
1,95
1,13
1,5
1,13
1,5
1,5

92
00
92
00
00
10
92
20
92
00

5
1,5
5
1,5
1,5
4
5
5,5
5
1,5

6,5
6
6,5
3,45
3,45
5,13
6,5
6,63
6,5
3

260
240
260
138
138
205,2
260
265,2
260
120

add and srew tigh


add
add and srew tigh
add
add
add
add and srew tigh
add
add and srew tigh
add

Waktu yang dibutuhkan untuk merakit satu alat Kaki Prostetik adalah 3098,4 detik atau 51,6
menit
Analisis Ekonomi
Dengan estimasi 8 jam bekerja,
=

8 60

51,6

9
,
2
3
maka dalam waktu satu hari, satu pekerja dapat merakit 9 Kaki Prostetik

LAMPIRAN 3
Image Width (pixels):

Stress Analysis
Report

Analyzed File:

Assembly1.iam

Autodesk Inventor Version: 2013 (Build


170138000, 138)
Creation Date:
9/1/2014, 6:03 PM
Simulation Author:

ari

Summary:

Project Info (iProperties)


Summary
Author Ridho Hassan

Project
Part Number
Assembly1
Designer
Ridho
Hassan
Cost
$0.00

Date Created
8/23/2014

Status
Design Status WorkInProgress

Physical
Mass
kg
Area
mm^2
Volume
mm^3
Center of
Gravity

3.92997
392881
1770810
x=-61.7443
mm
y=265.261
mm z=190.991 mm

Note: Physical values could be diferent from Physical values used by FEA reported
below.

Simulation:1
General objective and settings:
Design Objective

Single Point

Simulation Type

Static Analysis

Last Modification Date

9/1/2014, 6:01
PM
No

Detect and Eliminate Rigid Body


Modes
Separate Stresses Across Contact No
Surfaces
Motion Loads Analysis
No
Mesh settings:

Avg. Element Size (fraction of model 0.1


diameter)
Min. Element Size (fraction of avg.
0.2
size)
Grading Factor
1.5
Max. Turn Angle
Create Curved Mesh Elements

60
deg
No

Use part based measure for


Assembly mesh

Yes

Material(s)
Name
General

Stress

Stress
Thermal

Part
Name(s)
Name
General

Stress

Stress
Thermal

Part
Name(s)

Name

PAEK Plastic
Mass Density

1.32 g/cm^3

Yield Strength

99.97 MPa

Ultimate Tensile
Strength
Young's Modulus

210 MPa

Poisson's Ratio

0.42 ul

Shear Modulus

0.387324 GPa

Expansion
Coefficient
Thermal
Conductivity
Specific Heat

0.0000468 ul/c

1.1 GPa

0.25 W/( m K )
1339.84 J/( kg c )

Foot-1
Foot-2 holder kaki
Aluminum 6061
Mass Density

2.71 g/cm^3

Yield Strength

275 MPa

Ultimate Tensile
Strength
Young's Modulus

310 MPa

Poisson's Ratio

0.33 ul

Shear Modulus

25.9023 GPa

Expansion
Coefficient
Thermal
Conductivity
Specific Heat

0.0000236
ul/c
167 W/( m K
)
1256.1 J/( kg
c)

Betis Atas
Paha
Bawah
Paha Atas
Betis
Bawah
Steel

68.9 GPa

Mass Density
General

Stress

Yield Strength

7.85
g/cm^3
207 MPa

Ultimate Tensile
Strength
Young's Modulus

345 MPa

Poisson's Ratio

0.3 ul

Shear Modulus

80.7692
GPa
0.000012
ul/c
56 W/( m K
)
460 J/( kg c
)

210 GPa

Stress
Thermal

Expansion
Coefficient
Thermal
Conductivity
Specific Heat

Part
Name(s)

Coil
Torsional Coil
Torsional Coil-2
DIN EN ISO 4016 M6x30
DIN EN ISO 4016 M6x30
DIN EN 24033 M6
DIN EN 24033 M6
ISO 2341 - B - 20 x
95ISO ISO 4016 - M6
x 55
ISO 4016 - M6 x 55
Steel, Mild

Name

Mass Density
General

Stress

Stress
Thermal

Yield Strength

7.86
g/cm^3
207 MPa

Ultimate Tensile
Strength
Young's Modulus

345 MPa

Poisson's Ratio

0.275 ul

Shear Modulus

86.2745
GPa
0.000012
ul/c
56 W/( m K
)
460 J/( kg c
)

Expansion
Coefficient
Thermal
Conductivity
Specific Heat

220 GPa

JIS B 1521 SKF (D) - SKF


6200-Z JIS B 1521 SKF (D)
- SKF 6200-Z DIN 7969 M10 x 60
Rivet GB 868 6 x 24 x
19.365
PIN GB_T 882-1986 B 10
x 120

Part
Name(s)

Name

Stainless Steel, 440C

General

Stress

Stress
Thermal

Mass Density

7.75 g/cm^3

Yield Strength

689 MPa

Ultimate Tensile
Strength
Young's Modulus

861.25 MPa

Poisson's Ratio

0.27 ul

Shear Modulus

81.378 GPa

Expansion
Coefficient
Thermal
Conductivity
Specific Heat

0.0000104
ul/c
24.23 W/( m
K)
160.57 J/( kg
c)

ISO
4036
M10(2)
ISO
4035 - M6ISO
ISO
4035
M6ISO

Part
Name(s)

Operating conditions
Force:1
Load
Type
Magnitu
de
Vector X

Force
1000.000
N
0.000 N

Vector Y -999.891
N
Vector Z -14.732
N
Selected Face(s)

206.7 GPa

Fixed Constraint:1
Constraint Type Fixed Constraint
Selected Face(s)

Fixed Constraint:2
Constraint Type Fixed Constraint
Selected Face(s)

Contacts (Bonded)
Name

Part Name(s)

Foot-1:1
Bonded:
Foot-2:1
1
Foot-1:1
Bonded:
Foot-2:1
2
Foot-1:1
Bonded:
Foot-2:1
3
Foot-1:1
Bonded:
Foot-2:1
4
Foot-1:1
Bonded:
Foot-2:1
5
Foot-1:1
Bonded:
Betis Bawah:1
6
Foot-1:1
Bonded:
Betis Bawah:1
7

Foot-1:1
Bonded:
Betis Bawah:1
8
Foot-1:1
Bonded:
Betis Bawah:1
9
Foot-1:1
Bonded:
Torsional Coil:1
10
Foot-1:1
Bonded:
ISO 2341 - B - 20 x 95ISO:1
11
Foot-1:1
Bonded:
ISO 2341 - B - 20 x 95ISO:1
12
Foot-1:1
Bonded:
ISO 2341 - B - 20 x 95ISO:1
13
Foot-1:1
Bonded:
PIN GB_T 882-1986 B 10 x
14
120:1
Foot-1:1
Bonded:
PIN GB_T 882-1986 B 10 x
15
120:1
Foot-1:1
Bonded:
PIN GB_T 882-1986 B 10 x
16
120:1
Foot-2:1
Bonded:
PIN GB_T 882-1986 B 10 x
17
120:1
Betis Atas:2
Bonded:
Paha Bawah:1
18
Betis Atas:2
Bonded:
Paha Bawah:1
19
Betis Atas:2
Bonded:
Betis Bawah:1
20
Betis Atas:2
Bonded:
Betis Bawah:1
21
Betis Atas:2
Bonded:
Betis Bawah:1
22
Betis Atas:2
Bonded:
Coil:1
23
Betis Atas:2
Bonded:
Coil:1
24

Betis Atas:2
Bonded:
JIS B 1521 SKF
25
6200-Z:1
Betis Atas:2
Bonded:
JIS B 1521 SKF
26
6200-Z:1
Betis Atas:2
Bonded:
JIS B 1521 SKF
27
6200-Z:1
Betis Atas:2
Bonded: JIS B 1521 SKF
28
6200-Z:2
Betis Atas:2
Bonded:
JIS B 1521 SKF
29
6200-Z:2
Betis Atas:2
Bonded:
JIS B 1521 SKF
30
6200-Z:2

(D) - SKF

(D) - SKF

(D) - SKF

(D) - SKF

(D) - SKF

(D) - SKF

Betis Atas:2
Bonded:
DIN EN ISO 4016 M6x30:1
31
Betis Atas:2
Bonded:
DIN EN ISO 4016 M6x30:1
32
Betis Atas:2
Bonded:
DIN EN ISO 4016 M6x30:1
33
Betis Atas:2
Bonded:
DIN EN 24033 M6:2
34
Betis Atas:2
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:1
35
Betis Atas:2
Bonded:
ISO 4035 - M6ISO:2
36
Paha Bawah:1
Bonded:
Paha Atas:1
37
Paha Bawah:1
Bonded:
Paha Atas:1
38
Paha Bawah:1
Bonded:
Paha Atas:1
39
Paha Bawah:1
Bonded:
Paha Atas:1
40

Paha Bawah:1
Bonded:
Coil:1
41
Paha Bawah:1
Bonded:
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
42
6200-Z:2
Paha Bawah:1
Bonded:
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
43
6200-Z:2
Paha Bawah:1
Bonded:
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
44
6200-Z:2
Paha Bawah:1
Bonded:
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
45
6200-Z:2
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN 7969 - M10 x 60:1
46
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN 7969 - M10 x 60:1
47
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN 7969 - M10 x 60:1
48
Paha Bawah:1
Bonded:
ISO 4036 - M10(2):1
49
Paha Bawah:1
Bonded: DIN EN ISO 4016 M6x30:2
50
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN EN ISO 4016 M6x30:2
51
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN EN ISO 4016 M6x30:2
52
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN EN ISO 4016 M6x30:2
53
Paha Bawah:1
Bonded:
DIN EN 24033 M6:1
54
Paha Bawah:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:2
55
Paha Bawah:1
Bonded:
ISO 4035 - M6ISO:1
56
Paha Atas:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:2
57

Paha Atas:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:2
58
Paha Atas:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:2
59
holder
Bonded:
kaki:1
60
holder
kaki:1
holder
Bonded:
kaki:1
61
holder
kaki:1
holder
Bonded:
kaki:1
62
holder
kaki:1
holder
Bonded:
kaki:1
63
holder
kaki:1
Betis Bawah:1
Bonded:
Torsional Coil:1
64
Betis Bawah:1
Bonded:
Torsional Coil:1
65
Betis Bawah:1
Bonded:
ISO 2341 - B - 20 x 95ISO:1
66
Betis Bawah:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:1
67
Betis Bawah:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:1
68
Betis Bawah:1
Bonded:
ISO 4016 - M6 x 55:1
69
Coil:1
Bonded:
DIN EN 24033 M6:1
70
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded:
6200-Z:1
71
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
6200-Z:2
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded: 6200-Z:1
72
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
6200-Z:2

JIS B 1521
Bonded:
6200-Z:1
73
JIS B 1521
6200-Z:2
JIS B 1521
Bonded:
6200-Z:1
74
JIS B 1521
6200-Z:2

SKF (D) - SKF


SKF (D) - SKF
SKF (D) - SKF
SKF (D) - SKF

JIS B 1521 SKF (D) - SKF


Bonded:
6200-Z:1
75
DIN 7969 - M10 x 60:1
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded:
6200-Z:1
76
DIN 7969 - M10 x 60:1
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded:
6200-Z:1
77
DIN 7969 - M10 x 60:1
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded:
6200-Z:2
78
DIN 7969 - M10 x 60:1
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded:
6200-Z:2
79
DIN 7969 - M10 x 60:1
JIS B 1521 SKF (D) - SKF
Bonded:
6200-Z:2
80
DIN 7969 - M10 x 60:1
DIN 7969 - M10 x 60:1
Bonded:
ISO 4036 - M10(2):1
81
DIN EN ISO 4016 M6x30:1
Bonded:
DIN EN 24033 M6:2
82
DIN EN ISO 4016 M6x30:2
Bonded:
DIN EN 24033 M6:1
83
ISO 2341 - B - 20 x 95ISO:1
Bonded:
Rivet GB 868 6 x 24 x
84
19.365:1
ISO 4016 - M6 x 55:1
Bonded:
ISO 4035 - M6ISO:2
85
ISO 4016 - M6 x 55:2
Bonded: ISO 4035 - M6ISO:1
86

Results

Reaction Force and Moment on Constraints


Constraint
Name

Fixed
Constraint:1

Reaction Force

Reaction Moment

Magnitu Component
de
(X,Y,Z)
0N

Magnitud Component
e
(X,Y,Z)
25.8346 N m

499.995
N

499.94 N
7.36353 N

25.8615 N -0.0947893 N m
m
-1.17448 N m

0N
Fixed
Constraint:2

499.995
N

25.8346 N m

499.94 N
7.36353 N

25.8615 N -0.0947893 N m
m
-1.17448 N m

Result Summary
Name

Minimum

Volume

1771790 mm^3
3.93138 kg

Mass

Maximum

Von Mises
Stress
1st Principal
Stress
3rd Principal
Stress
Displacement

0 MPa

26.1191 MPa

-4.4901 MPa

22.2724 MPa

-29.688 MPa

4.49614 MPa

0 mm

Safety Factor

7.92524 ul

0.0385276
mm
15 ul

Stress XX

-9.01183 MPa

11.5492 MPa

Stress XY

-9.58379 MPa

9.28173 MPa

Stress XZ

-3.99757 MPa

4.62554 MPa

Stress YY

-24.2875 MPa

18.4696 MPa

Stress YZ

-11.7352 MPa

12.643 MPa

Stress ZZ

-14.0397 MPa

11.1136 MPa

X
-0.00305767
Displacement mm
Y Displacement -0.0265237
mm
Z
-0.0277854
Displacement mm
Equivalent
0 ul
Strain
1st Principal
Strain
0.0000024956

0.00300766
mm
0.000842336
mm
0.000162958
mm
0.000767728
ul
0.000809934
ul

5 ul
3rd Principal
Strain
Strain XX
Strain XY
Strain XZ
Strain YY
Strain YZ
Strain ZZ
Contact
Pressure
Contact
Pressure X
Contact
Pressure Y
Contact
Pressure Z

-0.000678308
ul
-0.000130019
ul
-0.000572617
ul
-0.000215295
ul
-0.000549944
ul
-0.000310426
ul
-0.000147371
ul
0 MPa

0.000002254
ul
0.000237072
ul
0.000331404
ul
0.000176384
ul
0.000254473
ul
0.000377623
ul
0.000380209
ul
12.5897 MPa

-3.86101 MPa

2.70229 MPa

-11.7893 MPa

9.40906 MPa

-11.1128 MPa

6.85736 MPa

Figures
Von Mises Stress

1st Principal Stress

3rd Principal Stress

Displacement

Safety Factor

Stress XX

Stress XY

Stress XZ

Stress YY

Stress YZ

Stress ZZ

X Displacement

Y Displacement

Z Displacement

Equivalent Strain

1st Principal Strain

3rd Principal Strain

Strain XX

Strain XY

Strain XZ

Strain YY

Strain YZ

Strain ZZ

Contact Pressure

Contact Pressure X

Contact Pressure Y

Contact Pressure Z

E:\Kuliah\BKSTM\BKSTM fix\BKSTM-FIX\Assembly1.iam

Image Width (pixels):

LAMPIRAN 4

Step 0, kaki dalam kondisi steady per tarik panjang maksimum, load dari berat
tubuh

Step 1 : kaki diangkat, per tarik bekerja, dikarenakan beban hilang/berkurang


per tarik memendekkan diri sehingga terbentuk posisi berikut. Jari terjatuh
seperti pada gambar karena beratnya

Step 2 : Jari menginjak tanah sebagai penerima gaya pertama, per torsi
bekerja mengatur alur kembalinya kaki ke posisi semula.

Step 3 : posisi setelah melangkah dan siap untuk langkah selanjutnya