Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu
sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di
antaranya kebudayaan , sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat
perkembangan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi
karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan
terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum. Begitu pula sebagai seorang petugas laboratorium,
kita wajib memperhatikan kebersihan dan keselamatan kerja. Oleh karena itu kita perlu untuk
mempelajari Higiene Perorangan/Kesehatan Petugas Lab.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan Higiene Perorangan / Personal Hygiene?
1.2.2 Apa saja Prinsip Higiene Perorangan ?
1.2.4 Apa saja tindakan higiene perorangan ?
1.2.5 Apa tujuan dari higiene perorangan?
1.2.6 Apa itu APD dan macam-macam APD di laboratorium?
1.3 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui definisi dari Higiene Perorangan / Personal Hygiene.
1.2.2 Untuk mengetahui prinsip dari Higiene Perorangan.
1.2.3 Untuk mengetahui jenis-jenis dari Higiene Perorangan.
1.2.4 Untuk mengetahui apa saja tindakan higiene perorangan.
1.2.5 Untuk mengetahui tujuan dari higiene perorangan.
1.2.6 Untuk mengetahui definisi APD dan macam-macam APD di laboratorium.
1.4 Manfaat
Bagi mahasiswa paper ini bermanfaat untuk semakin memperjelas definisi dari Higiene Perorangan /
Personal Hygienelaboratorium. Bagi dosen paper ini bermanfaat bahan refrensi untuk materi fraksi mol,
molalitas, molaritas, dan normalitas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Higiene Perorangan / Personal Hygiene


Higiene perorangan atau yang lebih dikenal dengan istilah Personal hygiene berasal dari bahasa

Yunani, personal artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Personal hygiene atau kebersihan
perorangan adalah cara perawatan diri seseorang untuk memelihara kesehatannya.
Higiene perorangan yaitu suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang
untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Perry, 2005). Higiene perorangan dapat dilihat dari cara seseorang
makan, mandi, mengenakan pakaian sehari-hari, serta kebersihan badan meliputi rambut, kuku, badan,
telinga, gigi, dan sebagainya.
Maria (2009) juga mengatakan bahwa higiene perorangan adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Sebaliknya, kurang
perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk
dirinya. Melihat hal itu higiene perorangan diartikan sebagai kebersihan pribadi yang mencakup semua
aktivitas serta bertujuan untuk mencapai kebersihan tubuh, meliputi membasuh, mandi, merawat rambut,
kuku, gigi, gusi dan membersihkan daerah genital. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan
kurang diperhatikan.
Manfaat dari higiene perorangan antara lain : meningkatkan derajat kesehatan seseorang,
memelihara kebersihan diri seseorang, memperbaiki kebersihan seseorang yang kurang baik, menciptakan
keindahan, serta meningkatkan rasa percaya diri. (Maria, 2009).
2.2

Prinsip Higiene Perorangan


Prinsip higiene perorangan dalam penerapannya adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui apakah ada sumber cemaran yang berasal dari tubuh
Sumber cemaran yang penting diketahui adalah : hidung, mulut, telinga, isi perut, dan kulit. Sumber
cemaran yang berasal dari tubuh harus selalu dijaga kebersihannya agar tidak menambah potensi
pencemaran.
b. Mengetahui sumber cemaran yang berasal dari perilaku
Sumber cemaran yang berasal dari perilaku biasanya tercipta karena pola hidup maupun kebiasaan
seseorang dalam menjalani aktifitasnya sehari-hari
c. Sumber cemaran karena ketidak tahuan
Sumber cemaran ini biasanya terjadi karena belum mengetahui apa saja yang bisa mengakibatkan
cemaran dalam kebersihan pribadi serta tidak menyadari bahwa hal tersebut menimbulkan penyakit

2.3

Jenis-Jenis Higiene Perorangan


Higiene perorangan dapat dikategorikan dalam beberapa jenis perawatan antara lain seperti :

(Agus, 2009)
a. Higiene Perorangan Kulit
Kulit merupakan salah satu bagian penting dari tubuh yang dapat melindungi tubuh dari berbagai
kuman atau trauma. Perawatan kulit dapat dilakukan dengan mandi minimal dua kali sehari yang
bermanfaat untuk menghilangkan atau membersihkan bau badan, keringat dan sel yang mati, merangsang
sirkulasi darah, serta membuat rasa nyaman.
b. Higiene Perorangan Kuku Tangan dan Kaki
Menjaga kebersihan kuku merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan perawatan
diri karena kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui kuku. Perawatan memotong kuku jari tangan dan
jari kaki dapat mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam kuku yang panjang.
c. Higiene Perorangan Rambut
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu.
Melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat diidentifikasi. Rambut barmanfaat mencegah
infeksi daerah kepala. Untuk menjaga supaya rambut kelihatan bersih dan tidak berketombe dianjurkan
minimal dua hari sekali keramas (cuci rambut) dengan memakai samphoo. Samphoo berfungsi
membersihkan rambut juga memberikan beberapa vitamin bagi rambut sehingga rambut subur dan
berkilau.
d. Higiene Perorangan Gigi dan Mulut
Gigi dan mulut harus dipertahankan kebersihannya sebab melalui organ ini kuman dapat masuk.
Menyikat gigi bertujuan untuk menghilangkan plak yang dapat menyebabkan gigi berlubang dan
menyebabkan sakit gigi. Sebagaimana kita ketahui gigi berfungsi disamping untuk keindahan juga untuk
mengunyah makanan. Oleh karena itu, makanan yang tidak dibersihkan dan menempel di gigi dapat
menjadi sarang penyakit. Dianjurkan untuk menyikat gigi minimal dua kali dalam sehari.
e. Higiene Perorangan Lingkungan Sekitar
Lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan seseorang seperti tempat
penyimpanan pakaian atau lemari, tempat tidur, alat-alat mandi dan sebagainya. Kebersihan pribadi
apabila tidak ditunjang dengan kebersihan di lingkungan sekitarnya tetap akan berpotensi dalam
menularkan penyakit. Oleh karena itu higiene perorangan lingkungan sekitar dapat dilakukan dengan cara
membersihkan lemari pakaian, menjemur kasur atau tempat tidur, memperhatikan kebersihan alat-alat
mandi, dan sebagainya.
2.4

Tindakan higiene perorangan di laboratorium


Contoh tindakan higiene personal dilaboratorium :
a) Menggunakan alat pelindung diri ( APD ) saat melakukan penelitian, contohnya : sarung tangan,
masker, jas laboratorium, alas kaki tertutup, dll

b) Tidak makan atau minum di dalam laboratorium


c) Tidak meletakkan zat-zat berbahaya di sembarang tempat
d) Tidak memegang alat yang menggunakan arus listrik saat tangan basah
e) Mencuci tangan dan menggunakan antiseptik sesering mungkin,setelah bekerja dan sebelum makan.
f) Mensterilkan ohse atau alat-alat yang digunakan setelah selesai bekerja.
g) Tidak memakai perhiasan atau melepas perhiasan karena akan menimbulkan kontaminasi
mikrobiologis secara tidak langsung atau kontaminasi fisik.
2.5

Tujuan ghienopra
a) Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
b) Memelihara kebersihan diri seseorang
c) Memperbaiki higiene personal yang kurang
d) Mencegah penyakit

Berdasarkan kriteria hygiene perorangan, yang berisiko tinggi adalah yang tidak mencuci tangan
sesudah bekerja sehingga faktor yang paling berpengaruh disini adalah perilaku dari petugas dalam
membiasakan diri untuk mencuci tangan
sesudah bekerja. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pemahaman petugas akan bahaya
dari sampel yang ditangani atau tidak dipatuhinya prosedur kerja yang ada. Khusus di laboratorium
hematologi, proporsi petugas yang berisiko tinggi berdasarkan penggunaan APD sampai 75%;
padahallaboratorium ini lebih banyak menangani sample yang bersifat infeksius bila dibandingkan
dengan laboratorium lainnya. Risiko akan semakin tinggi apabila petugas selain mempunyai kebiasaan
menggunakan APD juga tidak mencuci tangan sesudah menangani sampel. Hal ini terjadi di
laboratorium hematologi karena berdasarkan hygiene perorangan, 75% petugas di laboratorium ini juga
berisiko terinfeksi penyakit berbahaya
2.6

Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan peralatan pelindung yang digunakan oleh seorang pekerja
untuk melindungi dirinya dari kontaminasi lingkungan. APD dalam bahasa Inggris dikenal dengan
sebutan Personal Protective Equipment (PPE). Dengan melihat kata "personal" pada kata PPE terebut,
maka setiap peralatan yang dikenakan harus mampu memperoteksi si pemakainya. Sebagai contoh,
proteksi telinga (hearing protection) yang melindungi telinga pemakainya dari transmisi kebisingan,
masker dengan filter yang menyerap dan menyaring kontaminasi udara, dan jas laboratorium yang
memberikan perlindungan pemakainya dari kontaminisasi bahan kimia.
APD dapat berkisar dari yang sederhana hingga relatif lengkap, seperti baju yang menutup
seluruh tubuh pemakai yang dilengkapi dengan masker khusus dan alat bantu pernafasan yang dikenakan
dikala menangani tumpahan bahan kimia yang sangat berbahaya. APD yang sering dipakai a.I., proteksi
kepala (mis., helm), proteksi mata dan wajah (mis., pelindung muka, kacamata pelindung), respirator
(mis., masker dengan filter), pakaian pelindung (mis., baju atau jas yang tahan terhadap bahan kimia), dan
proteksi kaki (mis., sepatu tahan bahan kimia yang menutupi kaki hingga mata kaki).
1. Perlindungan Mata dan Wajah.
Proteksi mata dan wajah merupakan persyaratan yang mutlak yang harus dikenakan oleh
pemakai dikala bekerja dengan bahan kimia. Hal ini dimaksud untuk melindungi mata dan wajah dari
kecelakaan sebagai akibat dari tumpahan bahan kimia, uap kimia, dan radiasi. Secara umum perlindungan
mata terdiri dari :

Kacamata pelindung

Goggle

Pelindung wajah

Pelindung mata special (goggle yang menyatu dengan masker khusus untuk melindungi mata dan
wajah dari radiasi dan bahaya laser). Walaupun telah banyak model, jenis, dan bahan dari
perlindungan mata tersebar di pasaran hingga saat ini, Anda tetap harus berhati-hati dalam
memilihnya, karena bisa saja tidak cocok dan tidak cukup aman melindungi mata dan wajah Anda
dari kontaminasi bahan kimia yang berbahaya.

2. Perlindungan Badan

Baju yang dikenakan selama bekerja di laboratorium, yang dikenal dengan sebutan jas
laboratorium ini, merupakan suatu perlengkapan yang wajib dikenakan sebelum memasuki laboratorium.
Jas laboratorium yang kerap sekali dikenal oleh masyarakat pengguna bahan kimia ini terbuat dari katun
dan bahan sintetik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika Anda menggunakan jas laboratorium,
kancing jas laboratorium tidak boleh dikenakan dalam kondisi tidak terpasang dan ukuran dari jas
laboratorium pas dengan ukuran badan pemakainya.
Jas laboratorium merupakan pelindung badan Anda dari tumpahan bahan kimia dan api
sebelum mengenai kulit pemakainya. Jika jas laboratorium Anda terkontaminasi oleh tumpahan bahan
kimia, lepaslah jas tersebut secepatnya.
Selain jas laboratorium, perlindungan badan lainnya adalah Apron dan Jumpsuits. Apron
sering kali digunakan untuk memproteksi diri dari cairan yang bersifat korosif dan mengiritasi.
Perlengkapan yang berbentuk seperti celemek ini biasanya terbuat dari karet atau plastik.Untuk apron
yang terbuat dari plastik, perlu digarisbawahi, bahwa tidak dikenakan pada area larutan yang mudah
terbakar dan bahan-bahan kimia yang dapat terbakar yang dipicu oleh elektrik statis, karena apron jenis
ini dapat mengakumulasi loncatan listrik statis.
Jumpsuits atau dikenal dengan sebutan baju parasut ini direkomendasikan untuk dipakai
pada kondisi beresiko tinggi (mis., ketika menangani bahan kimia yang bersifat karsinogenik dalam
jumlah yang sangat banyak). Baju parasut ini terbuat dari material yang dapat didaur ulang. Bahan dari
peralatan perlindungan badan ini haruslah mampu memberi perlindungan kepada pekerja laboratorium
dari percikan bahan kimia, panas, dingin, uap lembab, dan radiasi.
3. Pelindungan Tangan
Kontak pada kulit tangan merupakan permasalahan yang sangat penting apabila Anda
terpapar bahan kimia yang korosif dan beracun. Sarung tangan menjadi solusi bagi Anda. Tidak hanya
melindungi tangan terhadap karakteristik bahaya bahan kimia tersebut, sarung tangan juga dapat memberi
perlindungan dari peralatan gelas yang pecan atau rusak, permukaan benda yang kasar atau tajam, dan
material yang panas atau dingin.
Bahan kimia dapat dengan cepat merusak sarung tangan yang Anda pakai jika tidak dipilih
bahannya dengan benar berdasarkan bahan kimia yang ditangani. Selain itu, kriteria yang lain adalah
berdasarkan pada ketebalan dan rata-rata daya tembus atau terobos bahan kimia ke kulit tangan. Sarung
tangan harus secara periodik diganti berdasarkan frekuensi pemakaian dan permeabilitas bahan kimia
yang ditangani. Jenis sarung tangan yang sering dipakai di laboratorium, diantaranya, terbuat dari bahan
karet, kulit dan pengisolasi (asbestos) untuk temperatur tinggi.

Jenis karet yang digunakan pada sarung tangan, diantaranya adalah karet butil atau alam,
neoprene, nitril, dan PVC (Polivinil klorida). Semua jenis sarung tangan tersebut dipilih berdasarkan
bahan kimia yang akan ditangani. Sebagai contoh, sarung tangan yang terbuat dari karet alam baik apabila
Anda bekerja dengan Ammonium hidroxida, tetapi tidak baik bila bekerja dengan Dietil eter.
4. Perlindungan Pernafasan
Kontaminasi bahan kimia yang paling sering masuk ke dalam tubuh manusia adalah lewat
pernafasan. Banyak sekali partikel-partikel udara, debu, uap dan gas yang dapat membahayakan
pernafasan. Laboratorium merupakan salah satu tempat kerja dengan bahan kimia yang memberikan efek
kontaminasi tersebut.
Oleh karena itu, para pekerjanya harus memakai perlindungan pernafasan, atau yang lebih
dikenal dengan sebutan masker, yang sesuai. Pemilihan masker yang sesuai didasarkan pada jenis
kontaminasi, kosentrasi, dan batas paparan. Beberapa jenis perlindungan pernafasan dilengkapi dengan
filter pernafasan yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk. Filter masker tersebut memiliki
masa pakai. Apabila tidak dapat menyaring udara yang terkontaminasi lagi, maka filter tersebut harus
diganti.
Dari informasi mengenai beberapa APD diatas, maka setiap pengguna bahan kimia haruslah
mengerti pentingnya memakai APD yang sesuai sebelum bekerja dengan bahan kimia. Selain itu, setiap
APD yang dipakai harus sesuai dengan jenis bahan kimia yang ditangani. Semua hal tersebut tentunya
mempunyai dasar, yaitu kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium.
Ungkapan mengatakan bahwa "Lebih baik mencegah daripada mengobati". APD merupakan
solusi pencegahan yang paling mendasar dari segala macam kontaminasi dan bahaya akibat bahan kimia.
Jadi, tunggu apa lagi. Gunakanlah APD sebelum bekerja dengan bahan kimia.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
3.2 Saran

DAFTRPUSK