Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Temper tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba,


tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari
orang dewasa saja.

Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung

melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras,


berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit, dsb. 1,2
Normalnya, tantrum pada anak-anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai
2 menit saja. Tapi, jika kemarahan berlanjut sampai pada tingkat yang
membahayakan dirinya atau orang lain, maka ini bisa menjadi hal yang sangat
serius. 1,2
Temper tantrum biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Meski tidak
menutup kemungkinan anak-anak yang lebih tua, bahkan orang dewasa pun
pernah mengalami ledakan kemarahan ini. Dan pada dasarnya, marah-marah pada
anak-anak usia 1-4 tahun adalah hal yang wajar terjadi bagi usia mereka.
Kebanyakan anak-anak mengalami hal ini. 1,3
Pada umumnya temper tantrum dapat dikategorikan menjadi tiga jenis
yaitu usia dibawah 3 tahun yang sering diekspresikan dengan menangis,
memukul, menjerit, menendang bahkan dalam kasus yang parah adalah
membentur bentur kepalanya ke tembok. kedua pada usia tiga sampai empat tahun
dengan ekspresi kemarahan yang diungkapkan dengan membanting, merengek,

mengkritik bahkan sampai menghentak-hentakan kaki. Terakhir adalah pada usia


5 tahun ke atas dengan mengkritik diri sendiri, memukul bahkan yang lebih parah
merusak benda benda yang ada disekitarnya. 1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Temper tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak
terkontrol. Temper tantrum seringkali muncul pada anak sesuai bulan hingga 6
tahun. Umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada
usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Pada
usia 2-4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya atau
temper tantrum. Sikap yang ditunjukkan untuk menampilkan rasa tidak
senangnya, anak melakukan tindakan yang berlebihan, misalnya menangis,
menjerit-jerit,melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau
aktivitas besar lainnya. 1,3,4

Tantrum lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap sulit dengan ciriciri memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar yang tidak teratur, sulit
menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru, lambat beradaptasi terhadap
perubahan, suasana hati lebih sering negative, mudah terprovokasi, gampang
merasa marah dan sulit dialihkan perhatiannya. Tantrum adalah suatu perilaku
yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan,
suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif, dan emosi. Sebagai periode
dari perkembangan, tantrum pasti akan berakhir. Berdasarkan teori-teori di atas

disimpulkan bahwa temper tantrum merupakan luapan emosi yang meledak-ledak


akibat suasana yang tidak menyenangkan yang dirasakan oleh anak. 3,4

B. EPIDEMIOLOGI
Temper tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi
berlimpah. Temper tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang
dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
Sulit dialihkan perhatiannya. 1,3

C. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi tantrum berdasarkan kelompok usia. Berdasarkan kelompok usia
tantrum dibedakan menjadi :
a. Dibawah 3 tahun
Anak dengan usia di bawah 3 tahun ini bentuk tantrumnya adalah
menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik,
melengkungkan punggung, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan
tangan, menahan napas, membentur-benturkan kepala dan melemparlempar barang. 2
b. Usia 3-4 tahun
Anak dengan rentang usia antara 3 tahun sampai dengan 4 tahun
bentuk tantrumnya meliputi perilaku pada anak usia di bawah 3 tahun

ditambah dengan menghentak-hentakkan kaki, berteriak-teriak, meninju,


membanting pintu, mengkritik dan merengek. 1,3
c. Usia 5 tahun ke atas
Bentuk tantrum pada anak usia 5 tahun ke atas semakin meluas
yang meliputi perilaku pertama dan kedua ditambah dengan memaki,
menyumpah, memukul, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang
dengan sengaja dan mengancam.

Menurut Purnamasari (2005) menyebutkan bahwa stiap anak yang


setidaknya telah berusia 18 bulan hingga tiga tahun dan bahkan lebih akan
menentang perintah dan menunjukkan individualitasnya sekali waktu. Hal ini
merupakan bagian normal balita karena mereka terus menerus mengeksplorasi dan
mempelajari batasan-batasan disekelilingnya. Anak akan menunjukkan berbagai
macam tingkah laku, seperti keras kepala dan membangkang karena sedang
mengembangkan kepribadian dan otonominya. Tantrum juga merupakan cara
normal untuk mengeluarkan semua perasaan yang menumpuk. Seorang anak pada
usia ini akan menunjukkan beberapa atau semua tingkah laku sebagai berikut :

Penolakan atas kontrol dalam bentuk apapun


Keinginan untuk mandiri, lebih banyak menuntut dan menunjukkan

tingkah laku yang membangkang.


Berganti-ganti antara kemandirian dan bertingkah manja.
Ingin mendapatkan kendali dan ingin mengendalikan. 1,3,5

D. FAKTOR PENYEBAB
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya temper tantrum,
diantaranya adalah :

a. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu


Anak jika menginginkan sesuatu harus selalu terpenuhi, apabila
tidak berhasil terpenuhinya keinginan tersebut maka anak sangat
dimungkinkan untuk memakai cara tantrum guna menekan
orangtua agar mendapatkan apa yang ia inginkan. 6,7
b. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri
Anak-anak mempunyai keterbatasan bahasa, pada saatnya dirinya
ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtua pun
tidak dapat memahami maka hal ini dapat memicu anak menjadi
frustasi dan terungkap dalam bentuk tantrum. 6,7
c. Tidak terpenuhinya kebutuhan
Anak yang aktif membutuhkan ruang dan waktu yang cukup untuk
selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama.
Apabila suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan
panjang dengan mobil, maka anak tersebut akan merasa stress.
Salah satu contoh pelepasan stresnya adalah tantrum. 6,7
d. Pola asuh orangtua
Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk
menyebabkan tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu
mendapat apa yang ia inginkan, bisa tantrum ketika suatu kali
permintaannya ditolak. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu
mendapatkan apa yang diinginkan, bisa tantrum ketika suatu kali
permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dan didominasi oleh
orantuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang
dominasi orangtua dengan perilaku tantrum.Orangtua yang

mengasuh anak secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan


anak tantrum. 7,8
Pola asuh orangtua dalam hal ini sebenarnya lebih pada
bagaimana orangtua dapat memberikan contoh atau teladan kepada
anak dalam setiap bertingkah laku karena anak akan selalu meniru
setiap tingkah laku orangtua. Jika anak melihat orangtua
meluapkan kemarahan atau meneriakkan rasa frustasi karena hal
kecil, maka anak akan kesulitan untuk mengendalikan diri. Seorang
anak perlu melihat bahwa orang dewasa dapat mengatasi frustasi
dan kekecewaan tanpa harus lepas kendali, dengan demikian anak
dapat belajar untuk mengendalikan diri. Orangtua jangan
menghadapkan anak dapat menunjukkan sikap yang tenang jika
selalu memberikan contoh yang buruk. 5,6
e. Anak merasa lelah, lapar atau dalam keadaan sakit
Kondisi sakit, lelah serta lapar dapat menyebabkan anak
menjadi rewel. Anak yang tidak pandai mengungkapkan apa yang
dirasakan maka kecenderungan yang timbul adalah rewel,
menangis serta bertindak agresif.
f. Anak sedang stress dan merasa tidak aman
Anak yang merasa terancam, tidak nyaman dan stress
apalagi bila tidak dapat memecahkan permasalahannya sendiri
ditambah lagi lingkungan sekitar yang tidak mendukung menjadi
pemicu anak menjadi temper tantrum. 5,6

E. FAKTOR RISIKO
Pemicu tantrum menurut Purnamasari (2005) menyebutkan bahwa :
a. Mencari perhatian

Walaupun tantrum jarang dilakukan hanya untuk memanipulasi orangtua,


jika hasil dari tantrum adalah perhatian penuh orang dewasa, hal ini
memberi alasan untuk mulai menunjukkan tantrum
b. Meminta sesuatu yang tidak bisa ia miliki
Anak memaksa ingin sarapan es krim atau meminta ibunya memeluknya
saat menyiapkan makanan.
c. Ingin menunjukkan kemandirian
Anak ingin mengenakan pakaian yang kurang sesuai dengan cuaca hari itu,
seperti kaus di hari-hari yang dingin, atau tidak mau makan makanan yang
sudah disiapkan.
d. Frustasi dengan kemampuan yang terbatas untuk melakukan aktivitas yang
ia coba, anak ingin menunjukkan kemampuannya melakukan beberapa hal
sendiri, seperti berpakaian, atau menemukan potongan puzle, tetapi tidak
bisa berhasil menyelesaikannya.
e. Cemburu
Biasanya ditunjukkan kepada kakak, adik atau lain. Ia menginginkan
mainan atau buku mereka.
f. Menantang otoritas
Anak tiba-tiba tidak ingin melakukan rutinitas seperti rutinitas sebelum
tidur, atau menolak berangkat ke tempat penitipan anak, walaupun ia
selalu senang di sana. 4,5

F. Aspek-aspek dalam Temper Tantrum

Bates, Freelow dan Lounsburry menyatakan ada empat


aspek dalam temper tantrum, yaitu : a) fussy difficult, b)
unudaptable, c) dull (positive affect), d) unpredictable.
Fussy

Difficult

adalah

perilaku

protes

anak

yang

memberikan respon yang ditandai dengan sikap menangis atau


sikap mudah marah dengan lingkungan.
Unadaptable adalah ketidakmampuan anak beradaptasi
dengan lingkungan yang kemudian memunculkan sebuah reaksi
negative, sebagai contoh anak bayi yang akan terus menangis di
sepanjang acara keluarga dan anak bayi tersebut tidak mau
digendong oleh orang lain selain ibunya sendiri.
Dull atau efek positif adalah suatu perasaan positif dan
aktivitas

yang

berhubungan

dengan

kemampuan

untuk

mendekati lingkungan social anak.


Unpredictable

adalah suatu sikap atau respon emosi

maupun perilaku yang sulit diduga seperti ketika anak stress


maka akan muncul rasa lapar atau mengantuk.

5,6,7

G. PENATALAKSANAAN
Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm

banyak ahli

perkembangan anak menilai bahwa tantrum adalah suatu perilaku yang masih

tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu


periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari
proses perkembangan, episode tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang
bisa dilihat dari perilaku tantrum adalah bahwa dengan tantrum anak ingin
menunjukkan

independensinya,

mengekpresikan

individualitasnya,

mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan


membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. Namun
demikian bukan berarti bahwa tantrum sebaiknya harus dipuji ataupun diberikan
dukungan atau disemangati (encourage). 1,4,5
Jika orangtua membiarkan tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan
anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia tantrum) atau bereaksi dengan
hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah
menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif
(padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal
tersebut). Dengan bertindak keliru dalam menyikapi tantrum, orangtua juga
menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang
bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi,
takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat
sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan
emosi tersebut.8
Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam
menyikapi anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut

kami mencoba untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang


sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal tersebut. 7,8

Ketika Tantrum Terjadi


Jika tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan
yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:
1. Memastikan segalanya aman. Jika tantrum terjadi di muka umum,
pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi.
Selama tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari
benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru
jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika
selama tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri,
jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.
3,5,8

2. Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar


tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak
marah pada anak. 5,6
3. Tidak memberi perhatian pada tantrum anak (ignore). Selama tantrum
berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak
memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan tantrumnya,
karena anak tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan
tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api,

anak akan semakin lama tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang


terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika
orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau
paksaan. 7,8

4. Jika perilaku tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan
tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul anda, peluk anak
dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta
(karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak),
minimal anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama
melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint. Yang
penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu
bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak dia. 7,8

Ketika Tantrum Telah Selesai


Saat tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan
emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihatnasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan
anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika tantrum terjadi
karena menginginkan sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang

diinginkan si anak, orangtua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar
bahwa ia tidak bisa memanipulasi orangtuanya. 6,8
Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak,
membaca buku atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak,
sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihinya. 6,8
Setelah tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa
sampai terjadi tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau
orangtua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak
merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar
orangtua bisa mencegah tantrum berikutnya. 6,8
Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk
mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak
mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi
nasihat, jangan dilakukan setelah tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika
keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orangtua dan anak. Waktu yang
tenang dan nyaman adalah ketika tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak
ada tanda-tanda akan terjadi tantrum. Saat orangtua dan anak sedang gembira,
tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal. 7,8
Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak
yang "sulit" dan mudah menjadi tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan
sepenuhnya kesalahan orangtua. Namun harus diakui bahwa orang tualah yang

punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan


mempermudah kehidupan anak agar tantrum tidak terus-menerus meletup. 7,8

H. PENCEGAHAN
Langkah pertama untuk mencegah terjadinya tantrum adalah dengan
mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisikondisi seperti apa muncul tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu
bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika
terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia
tidak tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan seringsering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar
mobil. 6,7,8
Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang
harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan
tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya) dan mengajarkan
hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena
beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas
sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi
orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu
dengan memberikan petunjuk. 7,8
Langkah kedua dalam mencegah tantrum adalah dengan melihat
bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan?

Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka
melarang? Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak?
Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?
Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan
seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat
dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya
tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga
sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat
dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan
kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar
anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun. 6,7,8

BAB III
KESIMPULAN
Temper tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba,
tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari
orang dewasa saja.

Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung

melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras,


berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit, dsb.
Pada umumnya temper tantrum dapat dikategorikan menjadi tiga jenis
yaitu usia dibawah 3 tahun yang sering diekspresikan dengan menangis,
memukul, menjerit, menendang bahkan dalam kasus yang parah adalah
membentur bentur kepalanya ke tembok. kedua pada usia tiga sampai empat tahun
dengan ekspresi kemarahan yang diungkapkan dengan membanting, merengek,
mengkritik bahkan sampai menghentak-hentakan kaki. Terakhir adalah pada usia
5 tahun ke atas dengan mengkritik diri sendiri, memukul bahkan yang lebih parah
merusak benda benda yang ada disekitarnya.
Langkah pertama untuk mencegah terjadinya tantrum adalah dengan
mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisikondisi seperti apa muncul tantrum pada si anak.
Langkah kedua dalam mencegah tantrum adalah dengan melihat
bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya karena pola asuh orang tua sangat
mempengaruhi tingkah laku dari anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Dariyo, Agoes. Psikologi Perkembangan Anak Tiga


Tahun Pertama, Bandung : PT. Refika Aditama, 2007

2.

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. Psikologi Pendidikan,


Jakarta : PT.Grasindo, 2006

3.

Hasan, Maimun. Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta :


Diva Press, 2009

4.

Lichtenstein,

Screening:Identifying

dan

Ireton,
Young

H.

Preeschool

Children

With

Developmental and Educational Problem, Orlando :


Groune and Statton,Harcout Brace Javanovich 1984
5.

Shelov, Steven P. Caring For Your Baby and Young Child,


New York : Bantam Book, 1993

6.

Smith, K Mark, Dkk.

Teori Belajar dan pembelajaran

(Terjemh). Jakarta : Mirza Media Pustaka. 2009.


7.

Sujiono, Yuliani Nurani. Konsep Dasar Pendidikan Anak


Usia Dini, Jakarta : PT. Indeks,2009

8.

Santrock, W John. Psikologi Pendidikan . Jakarta :


Kencana. 2007