Anda di halaman 1dari 3

Flame fotometri merupakan suatu metode yang didasarkan pada

penyerapan energi oleh atom. Fotometri nyala berdasarkan pada pengukuran


besaran emisi sinar monokromatis spesifik pada panjang gelombang tertentu yang
di pancarkan oleh suatu logam alkali atau alkali tanah pada saat berpijar dalam
keadaan nyala dimana besaran ini merupakan fungsi dari konsentrasi dari
komponen logam tersebut. Metode ini efektif untuk menentukan konsentrasi
rendah ion- ion logam seperti Na, K, dan Ca. Unsur-unsur dengan energi eksitasi
rendah dapat dianalisis dengan flame fotometri tetapi tidak cocok untuk unsurunsur dengan energi eksitasi tinggi. Flame fotometri memiliki range ukur
optimum pada panjang gelombang 400-800 nm (Skoog, 1980).
Mekanisme yang terjadi pada flame fotometri adalah bila atom logam
dibakar seperti pada tes nyala, maka atom logam akan menyerap energi lalu
tereksitasi, dan saat berubah ke bentuk dasar sejumlah energi akan dilepaskan.
Energy dapat berupa kalor, listrik ataupun cahaya. Misalnya logam natrium
menghasilkan pijaran warna kuning, kalium memancarkan warna ungu sedangkan
litium memancarkan sinar merah bila dibakar dalam nyala. Besaran intensitas
sinar pancaran ini ternyata sebanding dengan tingkat kandungan unsur dalam
larutan, sehingga metoda flame fotometer digunakan untuk tujuan kuantitatif
dengan mengukur intensitasnya secara relatif. Nyala pembakaran Bunsen dapat
digunakan sebagai sumber energi pada metode flame fotometri. Metoda ini
menggunakan foto sel sebagai detektornya dan pada kondisi yang sama digunakan
gas propana atau elpiji sebagai pembakarnya untuk membebaskan air sehingga
yang tersisa hanyalah kandungan logam (Hendayana, 1994).
Atom dapat pada keadaan dasar dan keadaan tereksitasi. Keadaan dasar
menunjukkan elektron pada atom berada pada tingkat energi terendah yang
mungkin ditempatinya. Eksitasi terjadi bila elektron dari atom netral keluar dari
orbitalnya ke orbital yang lebih tinggi. Sesaat setelah tereksitasi, elektron tersebut
akan kembali ke keadaan dasarnya dan proses ini dinamakan emisi. Dalam
keadaan teremisi inilah elektron tesebut akan memancarkan sejumlah sinar
monokromatis tertentu. Detektor akan mendeteksi energi terpancar tersebut.
Energy yang diemisiskan adalah:
E emisi = E eksitasi E dasar

Dipancarkannya warna sinar yang berbeda-beda oleh tiap-tiap unsur


disebabkan karena tingkat-tingkat energi eksitasi tersebut adalah khas atau
spesifik untuk suatu unsur logam tertentu, maka sinar yang dipancarkan oleh suatu
atom unsur logam tersebut adalah khas pula. Dasar ini digunakan untuk analisa
kualitatif unsur-unsur logam secara reaksi nyala.
Flame fotometer dibedakan menjadi dua yaitu Filter flame fotometer dan
spektro flame fotometer. Filter flame fotometer menggunakan filter pada
monokromatornya dan alat ini digunakan terbatas untuk analisa unsur Na,K dan
Li. Spektro flame fotometer yang berfungsi sebagai monokromatornya adalah
pengatur panjang gelombang baik prisma atau kisi difraksi dan digunakan untuk
analisa unsur K, Ca, Mg, Sr, Ba dan lain-lain. Flame fotometri menggunakan
nyala Bunsen sebagai sumber energi, sedangkan hollow cathode khusus menjadi
sumber energi untuk AAS. Cuplikan yang diukur oleh fotometer nyala adalah
berupa larutan, biasanya air sebagai pelarut. Larutan cuplikan mengalir ke dalam
ruang pengkabutan, karena terisap oleh aliran gas bahan bakar dan oksigen yang
cepat.

Berbeda

dengan

spektroskopi

sinar

tampak,

metode

ini

tidak

memperdulikan warna larutan (Hendayana, 1995; 231 & 235).


Cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel
yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya
tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan
banyaknya atom bebas logam yang berada pada sel. Hubungan antara absorbansi
dengan konsentrasi diturunkan dari Hukum Lambert yaitu bila suatu sumber
sinar monkromatik melewati medium transparan, maka intensitas sinar yang
diteruskan

berkurang

dengan

bertambahnya

ketebalan

medium

yang

mengabsorbsi. Hukum Beer: Intensitas sinar yang diteruskan berkurang secara


eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi spesi yang menyerap sinar
tersebut. Dari kedua hukum tersebut diperoleh suatu persamaan:
A = log Io / lt = a b c
Dimana:
A = absorbans
lo = intensitas sumber sinar
lt = intensitas sinar yang diteruskan

a = absortivitas molar
b = panjang medium
c = konsentrasi atom-atom yang menyerap sinar
(Day & Underwood, 1999).
Proses pengatoman dibagi menjadi Nebulization, Desolvation, Liquifaction,
Vaporization, Atomization Nebulization adalah pembentukan kabut halus menjadi
aerosol. Desolvation adalah penghilangan solvent menjadi garam padat (MX).
Liquifaction adalah pencairan kembali dari garam padat menjadi garam cair.
Vaporization adalah penguapan dari garam cair menjadi garam berbentuk gas.
Atomization adalah garam berbentuk gas terkena energi sampai terlepas dari
senyawanya membentuk atom pada ground state. Jika energi berlebihan sehingga
cukup dan sesuai maka terjadi eksitasi.
Atomisasi dapat dilakukan baik dengan nyala maupun dengan tungku.
Untuk mengubah unsur metalik menjadi uap atau hasil disosiasi diperlukan energi
panas. Tempratur harus terkendali agar proses atomisasinya sempurna. Kenaikan
tempratur menaikan efisiensi atomisasi. Tenaga radiasi emisi akan menentukan
jumlah atom tereksitasi. Ionisasi harus dihindarkan dan ini dapat terjadi bila
tempratut terlalu tinggi. Bahan bakar dan oksidator dimasukan dalam kamar
pencampur kemudian dilewatkan melalui baffle menuju ke pembakar. Nyala akan
dihasilkan. Sampel dihisap masuk ke kamar pencampur. Hanya tetesan kecil yang
dapat melalui baffle. Tetapi hal ini tidak selalu sempurna, karena nyala dapat
tersedot balik ke dalam kamar pencamur sehingga menghasilkan ledakan. Untuk
itu biasanya lebih disukai pembakar dengan lubang yang sempit dan aliran gas
pembakar (Khopkar, 2007;278).