Anda di halaman 1dari 32

1

Kode Etik &


Study Kasus

I. KODE ETIK IKATAN NOTARIS INDONESIA


-Berdasarkan ketentuan AD Perkumpulan Notaris yang telah
disahkan oleh Menkeh RI tgl. 23 Januari 1995, Ikatan
Notaris
Indonesia
merupakan
satu-satunya
wadah
organisasi bagi setiap notaris di seluruh Indonesia yang
berbentuk Perkumpulan yang berbadan hukum.

-Selaras dengan ketentuan AD tersebut pasal 82 Undang-Undang


Jabatan Notaris nomor: 30/2004; (UUJN) yang berbunyi:

Pasal 82:
(1) Notaris berhimpun dalam satu wadah Organisasi Notaris.

-Sesuai pasal 83 ayat 1 UUJN, telah ditetapkan bahwa Organisasi


Notaris-lah yang menetapkan dan menegakkan Kode Etik.

KODE ETIK
Kode Etik adalah norma atau peraturan
mengenai etika, baik tertulis maupun
tidak tertulis. Etika tidak lepas dari
pandangan
moral-filosofie
karena
mempunyai kaitan erat dengan moral,
integritas dan perilaku seseorang yang
tercermin dari hati nurani seseorang.

Moral

adalah akhlak, budi pekerti mengenai baik


buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap
dan kewajiban.

Hati Nurani

merupakan kesadaran yang diucapkan


dalam menjawab pertanyaan, apakah sesuatu yang
dilakukannya itu sebagai manusia baik atau tidak baik,
etis atau tidak etis.

Integritas

adalah kesadaran atas fungsi seseorang


didalam
masyarakat
(tanpa
dipengaruhi
oleh
kepentingan subyektif apapun).

KODE ETIK NOTARIS


Kode Etik Notaris dan untuk selanjutnya akan disebut
Kode Etik adalah seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh
Perkumpulan dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh
setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang
yang menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris, termasuk
didalamnya para Pejabat Sementara Notaris, Notaris
Pengganti dan Notaris Pengganti Khusus.
(Kode Etik rumusan Kongres Bandung, Tahun 2005)

PROFESI

Pekerjaan
tetap
yang
berwujud
karya
pelayanan yang pelaksanaannya dijalankan
dengan
penguasaan
dan
penerapan
pengetahuan di bidang keilmuan tertentu,
yang pengembanannya dihayati sebagai suatu
panggilan hidup, dan pelaksanaannya terikat
pada nilai-nilai etika tertentu yang dilandasi
semangat
pengabdian
terhadap
sesama
manusia, demi kepentingan umum, serta
berakar pada penghormatan dan upaya untuk
menjunjung tinggi martabat manusia.

NOTARIS
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk
membuat akta otentik dan kewenangan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
(Pasal 1 ayat (1) UUJN)
Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua
perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan
perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang
berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin
kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan
grosse, salinan dan kutipan akta. Semua itu sepanjang pembuatan
akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat
lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
(Pasal 15 ayat (1) UUJN).

Mengapa diperlukan Kode Etik


?
Kode Etik diperlukan untuk mencegah terjadinya halhal yang tidak diinginkan bagi Notaris dalam
menjalankan tugas jabatannya. Kode Etik merupakan
rambu-rambu atau pengaman bagi Notaris agar tidak
terjadi
pelanggaran
didalam
melaksanakan
jabatannya.
Notaris adalah pejabat umum yang tugasnya
melayani masyarakat, diharapkan dapat menjadi
panutan dan teladan didalam masyarakat. Untuk itu
perlu diberi pengaman agar tidak terjadi pelanggaran
yang tidak diinginkan.

9
SUMPAH NOTARIS

(Undang-undang RI No.30 Tahun 2004 Tgl. 6 Oktober 2004)


Pasal 4

Sebelum menjalankan jabatannya, Notaris wajib mengucapkan sumpah / janji


menurut agamanya dihadapan Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
Sumpah / janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut :

Saya bersumpah / berjanji; bahwa saya akan patuh dan setia kepada Negara
Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Undang-undang tentang jabatan Notaris, serta peraturan
perundang-undangan lainnya. bahwa saya akan menjalankan jabatan saya
dengan amanah, jujur, saksama, mandiri, dan tidak berpihak.
bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku saya, dan akan menjalankan
kewajiban saya sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan
tanggung jawab saya sebagai Notaris.
bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam
pelaksanaan jabatan saya.
bahwa saya untuk dapat diangkat dalam jabatan ini, baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan nama atau dalih apapun, tidak pernah dan tidak
akan memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada siapapun.

Aksioma Moralitas

Standar Minimum Disiplin Profesi Hukum

10

Contoh:
Seorang pengemban profesi Hukum harus memelihara dan menjaga
kepercayaan serta rahasia yang menyangkut urusan dan kepentingan
yang sah dari klien yang telah mempercayakan urusan dan
kepentingan kepadanya.

Pedoman Etik

Dimuat dalam Kode Etik dari masing-masing profesi hukum.

Contoh:
Seorang Notaris berkewajibann untuk merahasiakan semua informasi
yang perolehnya dari klien dalam rangka pelaksanaan tugas Notaris,
kecuali bila pembukaan rahasia itu diijinkan oleh klien atau
diharuskan berdasarkan ketentuan Undang-undang.

Pasal 16 ayat (1) UUJN


(1)

Dalam menjalankan jabatannya, Notaris berkewajiban:


e. merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan
segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan
sumpah/ janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain.

Aturan

disiplin (diciplinary rules)

Contoh:
Seorang Notaris tidak boleh memberitahukan
sesuatu berkenaan dengan perjanjian/akta
yang dibuatnya kepada pihak lain yang bukan
menjadi pihak dari akta tersebut.

11

12
11. Aksioma Moralitas Profesi Hukum di Indonesia (termasuk Notaris)
1.

The duty to uphold Justice and the administration of justice.


Seorang pengemban profesi hukum berkewajiban untuk
senantiasa menjalankan profesinya dengan intigritas yang tinggi
dan untuk menegakkan serta melaksanakan keadilan.

Kode Etik Pasal 3 butir (6) Kongres INI di Jakarta Tahun 2006

Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan Masyarakat dan


Negara.
Ketentuan tersebut semula berdasarkan keputusan Kongres Luar Biasa di Bandung
Tahun 2005 berbunyi sebagai berikut:
Kode Etik Pasal 3 butir (6)

Mengabdi kepada Negara dan masyarakat dengan cara memberikan


pelayanan dan penyuluhan hukum serta turut berpartisipasi dalam
pembangunan nasional, khususnya di bidang hukum.

13

2.

Principle of honesty, candor and reasonableness.


Seorang pengemban profesi hukum berkewajiban untuk
selalu menjalankan profesinya dengan penuh rasa
pengabdian kepada masyarakat berdasarkan azas
kejujuran, keterbukaan dan kepatutan.
Notaris dalam berpraktek harus selalu memegang teguh nilai
kejujuran dan tidak berupaya untuk menyenangkan hati klien
dengan menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya, namun apa
yang dilakukan tersebut dilakukan setelah mempertimbangkan
dengan seksama kepatutan dari persoalan yang dihadapi.

Contoh

14

Notaris harus menyampaikan secara jujur kepada klien, bahwa pengesahan


badan hukum PT sampai dengan saat ini nampaknya masih belum dapat
diperoleh dalam tempo 14 (empatbelas) hari ataupun 7 (tujuh) hari setelah
disampaikan secara phisik dan lengkap dokumen yang disyaratkan untuk
permohonan pengesahan yang bersangkutan, secara terbuka dan bijaksana
harus pula diberitahu kepada klien tentang kendala objektif yang masih ditemui
dan apakah ada upaya yang sah dan wajar yang mungkin dilakukan uintuk
mengatasi kendala tersebut.

Ketentuan Kode Etik:


Pasal 3 butir 4:
Notaris dan orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris wajib:

4. Bertindak jujur, mandiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab,


berdasarkan peraturan perundang-undangan dan isi sumpah jabatan
Notaris.

15

3.

Principle of competence.
Seorang
pengemban
profesi
berkewajiban untuk menangani persoalan
dimana
dia
memiliki
kompetensi
menanganinya dan harus melaksanakan
pelayanan hukum yang disanggupinya
diberikan demi kepentingan klien.

hukum
hukum
untuk
semua
untuk

16
Notaris di Indonesia masih belum mengenal pengkhususan bidang praktek, pada
dasarnya Notaris boleh membuat akta apa saja yang dikehendaki oleh klien,
sejauh perbuatan akta tersebut tidak bertentangan dengan hukum. Namun harus
pula diakui perkembangan bidang-bidang hukum tertentu (mis. Hukum/Peraturan
Pasar Modal) telah berkembang dengan begitu cepat sehingga tidak semua
Notaris
memahami Peraturan Perundang-undangan Pasar Modal yang
menyangkut akta yang hendak dibuat klien tersebut. Sehingga untuk bidang Pasar
Modal memang diperlukan pendidikan lanjutan bagi Notaris.
Seyogyanya Notaris yang tidak memahami ketentuan perundang-undangan Pasar
Modal tidak menerima pembuatan akta di bidang Pasar Modal sebelum
menguasai peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, patut pula diingatkan adanya Peraturan yang mewajibkan pendaftaran Notaris sebagai Profesi
Penunjang Pasar Modal Peraturan Bapepam & L.K nomor: VIII D.1.

Ketentuan Kode Etik:


Pasal 3 butir 5:
Notaris dan orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris wajib:

5.
Meningkatkan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki tidak terbatas pada
ilmu pengetahuan hukum dan kenotariatan.

17

4.

Principle of prudence and reasonable belief.


dan Duty to avoid professional impropriety and
indecency.
Seorang pengemban profesi hukum harus
senantiasa memberikan pelayanan jasa hukum
dan atau melaksanakan keahlian hukumnya
termasuk mengakhiri pelayanan jasa hukumnya
dengan penuh kehati-hatian.

18
Seorang Notaris harus melaksanakan tugas jabatannya dengan amanah,
seksama dan penuh rasa tanggung jawab, baik sebelum pada waktu maupun
setelah menyelesaikan pembuatan aktanya. Notaris tidak mengenal istilah akta
( yang penting jadi atau pokokee dadi )

Isi Sumpah Jabatan Notaris (Pasal 4 UU Jabatan Notaris)


Saya bersumpah / berjanji:

Bahwa saya akan menjalankan jabatan saya dengan amanah, seksama

Pasal 3 butir 4:
Notaris wajib:

4.
Bertindak .. penuh rasa tanggung jawab

19

5.

The duty to avoid and to prevent any form of


unauthorized legal practice.
Seorang pengemban profesi hukum harus
senantiasa menghindarkan diri dari, serta
mendukung setiap upaya untuk mencegah,
pelaksanaan profesi hukum secara tidak sah
dan/atau melawan hukum.
Walaupun Notaris tidak termasuk aparat Penegak
Hukum, namun Notaris selalu berupaya dan mendukung
setiap upaya untuk mencegah pelaksanaan profesi
Notaris secara tidak syah misalnya dengan mengirim
minuta kepada klien untuk ditanda-tangani, atau
membuka kantor cabang.

Pasal 4 butir 6 Kode Etik:


Notaris dilarang:

6.
Mengirimkan minuta kepada klien untuk ditanda-tangani.

20

Pasal 3 butir 8 Kode Etik:


Notaris wajib:

8.
Menetapkan satu kantor di tempat kedudukan dan kantor tersebut
merupakan satu-satunya kantor bagi Notaris yang bersangkutan dalam
melaksanakan tugas jabatan sehari-hari.

Kecuali Pasal 3 butir 14


Notaris wajib:

14.
Menjalankan jabatan Notaris terutama dalam pembuatan, pembacaan dan
penandatanganan akta dilakukan dikantornya, kecuali karena alasan-alasan
yang sah.

21

6.

Princple of trust and confidentiality.


Seorang pengemban profesi hukum harus
memelihara dan menjaga kepercayaan dan
rahasia
yang
menyangkut
urusan
dan
kepentingan yang sah dari klien dan/atau
pihak
pencari
keadilan
lain
yang
mempercayakan urusan dan kepentingan
kepadanya.
Sebagaimana telah disebutkan terdahulu
dalam sumpah jabatan Notaris, Notaris dalam
berpraktek haruslah berperilaku amanah dan
penuh rasa tanggung jawab.

22

Pasal 4 ayat 2 UUJN:


Saya bersumpah/berjanji:

bahwa saya akan menjalankan jabatan saya dengan amanah

Pasal 3 butir 4 Kode Etik:


Notaris wajib:

4.
Bertindak penuh rasa tanggung jawab

23

7. Principle of impartiality and avoidance of conflict


of interest.
Seorang pengemban profesi hukum harus
senantiasa
membuat
keputusan-keputusan
profesional yang bebas demi kepentingan klien
atau pencari keadilan lainnya, dan menghindarkan
diri
dari
timbulnya
perbenturan
antara
kepentingan klien dengan kepentingan pribadinya,
dan/atau klien lain, dan/atau pihak-pihak ketiga.
Sesuai dengan bunyi sumpah jabatan Notaris
serta ketentuan pasal 3 butir 4 Kode Etik, Notaris
dalam berpraktek harus memegang teguh prinsip
kemandirian (on afhankelijk) dan tidak memihak
(on partijdig).

24
8.

The duty to avoid and to prevent any unjust and unfair legal practice to
exploit any persons disadvantageous legal or otherwise circumstances.
Seorang
pengemban
profesi
hukum
berkewajiban
untuk
mengesamping-kan dan/atau mencegah pemanfaatan secara tidak
wajar dan/atau tidak adil atas kedudukan hukum/non-hukum yang
lemah atau kurang menguntungkan dari warga masyarakat di dalam
atau di luar pengadilan.

Pasal 3 butir 6 Kode Etik:


(menurut versi Kongres Luar Biasa di Bandung Tahun 2005)

6. memberikan pelayanan dan penyuluhan hukum ...


Namun sekarang bunyinya telah diubah sehingga berbunyi:
Pasal 3 butir 6 Kode Etik:

6. Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan masyarakat dan negara.


Dari versi Kongres Luar Biasa di Bandung Tahun 2005, sebenarnya diharapkan
Notaris berfungsi memberikan akses yang seimbang atas informasi (access for
Information), sehingga para pihak dalam akta dapat menentukan kehendaknya
dengan bebas.

25
9.

Duty of Continous Effort to Improve the legal


system and justice system.
Seorang pengemban profesihukum harus selalu
berupaya dan mendukung tiap upaya untuk
memajukan dan mengembangkan sistem hukum
dan sistem peradilan.

Kode Etik Pasal 3 butir (6) Kongres Luar Biasa di Bandung Tahun 2005

Mengabdi kepada Negara dan masyarakat dengan cara memberikan


pelayanan dan penyuluhan hukum serta turut berpartisipasi dalam
pembangunan nasional, khususnya di bidang hukum.
Kode Etik Pasal 3 butir (6) Kongres INI di Jakarta Tahun 2006

Mengutamakan pengabdian kepada kepentingan Masyarakat dan


Negara.

26

10.Principle of mutual respect and incessant


consciousness to preserve honor and integrity
amongst members of the legal professions.
Dalam
pelaksanaan
profesinya,
seorang
pengemban
profesi
hukum
harus
selalu
berpartisipasi aktif dalam upaya menghormati
dan mengawasi pelaksanaan tugas pengembanan
profesi hukum, baik oleh pengemban profesi
hukum yang memiliki bidang-karya yang sama
atau yang berbeda, demi mempertahankan
integritas dan kehormatan profesi hukum pada
umumnya.

Pasal 3 butir 3 Kode Etik:


Notaris wajib:

3. Menjaga dan membela kehormatan Perkumpulan.

Pasal 3 butir 2 Kode Etik:


Notaris wajib:

2.
Menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat jabatan Notaris.

Pasal 3 butir 15 Kode Etik:


Notaris wajib:

15.
Menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan dalam
melaksanakan tugas dan jabatan dan kegiatan sehari-hari serta saling
memperlakukan rekan sejawat secara baik, saling menghormati, saling
menghargai, saling membantu serta selalu berusaha menjalin komunikasi
dan tali silaturahmi.

27

28

11.

The Duty to honor and respect justified and


reasonable disciplinary rulings and decisions
endorsed by the profesional.
Kecuali terdapat alasan-alasan yang sah untuk
bersikap
dan
bertindak
sebaliknya,
setiap
pengemban profesi hukum berkewajiban untuk
senantiasa menghormati dan mentaati setiap
keputusan dan/atau tindakan disipliner yang
dimaksudkan untuk menegakkan prinsip-prinsip
moral umum dan kode etik profesi yang berlaku
terhadapnya.

29

Pasal 3 butir 3 Kode Etik:


Notaris wajib:

3. Menjaga dan membela kehormatan Perkumpulan.

Pasal 3 butir 2 Kode Etik:


Notaris wajib:

2.
Menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat jabatan Notaris.

I. Kasus

30

PT A mengadakan RUPST di kota X, 2 (dua) hari kemudian


Direksi PT A memberikan Laporan tertulis kepada Bapepam LK
tentang hasil keputusan RUPST tersebut.
Dalam salah satu keputusan disebutkan Rapat menyetujui
Laporan Tahunan Direksi Tahun Buku 2010. Bapepam LK
selanjutnya memintakan laporan Tahunan Direksi Tahun Buku
2010 yang telah disetujui tersebut.
Menurut keterangan Notaris yang membuat Akta Berita Acara
Rapat tersebut pada waktu rapat Direksi memperlihatkan
suatu bentuk buku yang menurut keterangan Direksi itu
adalah Laporan Tahunan.
Pada waktu di cek oleh Bapepam LK ternyata laporan tahunan
yang dibacakan oleh Direksi dalam RUPS diambil dari
beberapa catatan-catatan yang dibuat secara terpisah oleh
Direksi.
Harap anda meneliti kasus ini dari berbagai sudut yang
relevan bagi profesi Notaris, dan bagaimana pendapat anda
mengenai tangung jawab Notaris dalam soal ini.

II. KASUS :

31

PT Alpha Tbk memiliki 312 pemegang saham. Sebagai pemegang saham


mayoritas adalah PT Betha yang memiliki 55% dari jumlah seluruh saham yang
ditempatkan dalam PT Alpha Tbk, serta Benthos Coy Ltd. yang berdomisili di
Hongkong memiliki 44,5% dari jumlah saham. Selebihnya adalah pemegang saham
yang berasal dari karyawan dan mantan karyawan PT Alpha Tbk yang masing-masing
memiliki kurang lebih 300 saham atau seluruhnya merupakan 0,5% dari jumlah saham
yang dikeluarkan.
Diantara PT Betha dan Benthos Coy Ltd. telah dibuat perjanjian Shareholders
Agreement dan Perjanjian Bantuan Tehnik (Technical Assistance Agreement), dimana
antara lain dipersyaratkan bahwa :
a. Presiden Direktur dan Direktur Keuangan diangkat atas usul Benthos Coy Ltd.
Sedangkan Wapresdir dan 2 Direktur lainnya diangkat dari PT Betha.
b. Sebelum usul perluasan usaha dan penambahan modal diajukan ke Dewan
Komisaris dan RUPS PT Alpha Tbk, harus terlebih dahulu disetujui 2 Komisaris,
masing-masing yang diangkat dari PT Betha dan dari Benthos Coy Ltd.
c. Sebelum pengangkatan manajer pabrik, Presiden Direktur harus berkonsultasi
terlebih dahulu dengan Benthos Coy Ltd dan PT Betha.
d. Ketentuan a + b hendak dimuat dalam anggaran dasar PT Alpha Tbk.

Bagaimana sikap anda dan bagaimana yang anda usulkan


sebagai Notaris dalam hal ini ?

32

Semoga
Bermanfaat
Jakarta, 7 Oktober 2011