Anda di halaman 1dari 42

BAB IV

RENCANA POLA RUANG


WILAYAH PROVINSI BANTEN

4.1

Dinamika Penggunaan Lahan


Dinamika penggunaan lahan suatu daerah dapat dilihat dari potensi yang dimiliki

serta kecenderungan perubahan fungsi lahan mungkin terjadi. Kecenderungan perubahan


fungsi dan pola penggunaan lahan sangat berkaitan dengan kondisi eksisting serta
kestabilan pemanfaatannya. Berkenaan dengan dinamika penggunaan lahan, terdapat
beberapa skenario perubahan masing-masing jenis penggunaan lahan sekarang yang akan
terjadi di masa mendatang, sehingga perlu adanya konsep pengendalian pengembangan
kawasan yang dapat dilihat pada Gambar 4.1 serta beberapa skenario yang dapat dilihat
pada Gambar 4.2.
Gambar 4.1
Peta Konsep Pengembangan Kawasan

IV - 1

Gambar 4.2
Alternatif Skenario Pengembangan Kawasan

(Existing)

(Arahan

Antisipasi

Rencana)

Lanjutan

(20 Tahun)

(>20 Thn)

Keterangan
Skenario

(Non-Built Up Area/Kawasan Tidak Terbangun)

1. Mantap/Stabil
Non-Built Up

A1

A2

A2

1. Transisi ke Non-Built Up
Jenis Lain

2. Transisi ke Terbangun
dan Mantap

X*y

3. Transisi ke Terbangun
dan Dinamis

(Built Up Area/Kawasan Terbangun)

4. Mantap/Stabil
Kawasan/Fungsi

X*y

X*Y*

5. Dinamis
Kawasan/Fungsi

X*Z

X*Z

6. Transisi ke Mantap
Kawasan/Fungsi

IV - 2

Jika skenario tersebut diterapkan dalam pengarahan peruntukkan pola ruang, maka
diperkirakan akan terdapat beberapa bentuk pola ruang dan peluang perubahan pola ruang
sebagaimaan dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3
Beberapa Model Arahan Pola Ruang
dan Peluang Perubahan Peruntukkan Pola Ruang

Permukiman:
Permukiman Perdesaan

Konsentrasi rendah

Permukiman Perdesaan

Aksesibilitas rendah

Aksesibilitas semakin tinggi

Permukiman Perdesaan

(fungsi terus
berkembang)

(densifikasi ruang
/ konsentrasi
semakin tinggi))

Permukiman Perkotaan

Permukiman Perkotaan

Densifikasi ruang

Permukiman Perkotaan

horizontal dan vertikal

Kebun Campuran:
Kebun Campuran

Tetap dan semakin

Kebun Campuran

produktif

Pertumbuhan penduduk

Menjadi terbangan:

dan keg. Sosial ekonomi

- rumah/perumahan
- fas.sosial/komersial

IV - 3

Sawah:
Mantap dan

Sawah, hamparan luas dan


beririgasi

semakin produktif

Sawah, hamparan kecil


dan beririgasi

semakin produktif

Sawah,
hamparan kecil

Mantap dan

Potensial dikembangkan

Sawah beririgasi

Sawah beririgasi

Sawah beririgasi

irigasi

Tetap potensial dikembangkan

Sawah

dengantadah hujan/teknologi lainnya

Tidak potensial beririgasi, tapi

Kebun, Kebun Campuran

tetap menjadi lahan pertanian

Pertanian lainnya

Tidak potensial beririgasi,

Menjadi terbangan:

dan beralih menjadi terbangun

- rumah/perumahan
- fas.sosial/komersial

IV - 4

Tambak:
Tambak

Hamparan relatif luas,

Tambak (mantap)

potensial dukungan sistem saluran

Kondisi khusus, dijadikan

Hutan Bakau atau fungsi

konservasi di pesisir

konservasi lainnya

Alih fungsi

Menjadi terbangan:

menjadi terbangun

- rumah/perumahan
- fasilitas/objek wisata

Pertanian Lahan Kering:


Pertanian Lahan Kering

Potensial pengembangan

Sawah beririgasi

sistem irigasi

Tetap dipertahankan

Pertanian Lahan Kering

dan semakin produktif

Alih fungsi
menjadi pertanian lainnya

Perkebunan (rakyat,besar)

Kebun campuran

Alih fungsi

Menjadi terbangan:

menjadi terbangun

- rumah/perumahan
- fasilitas/objek wisata

Semak Belukar:
Semak Belukar

Berdekatan dengan permukiman


perdesaan

Kebun Campuran
Pertanian Lahan Kering

Di bagian hulu wilayah

Perkebunan (rakyat,besar)

dan dijadikan produktif

Hutan Tanaman/Rakyat

Potensial pengembangan

Sawah beririgasi

sistem irigasi

Alih fungsi

Menjadi terbangan:

menjadi terbangun

- rumah/perumahan
- fasilitas/objek wisata

IV - 5

Hutan:
Hutan Lindung

Berfungsi Lindung

Hutan

Hutan Suaka Alam

HL, HSA, dll

Berfungsi Budidaya

Hutan Produksi, dg
peningkatan kualitas

atau Produksi

Rawa:
Berfungsi Lidung:

Rawa

Rawa
dg fungsi lindung

Ramsar, Rawa

Potensial penataan sistem

Sawah / Sawah Lebak

saluran/irigasi

Sawah Pasang-Surut

Potensial berfungsi sebagai

Kolam: Retensi,

tampungan air di bagian hulu

Perikanan, Rekreasi

Di pesisir dan potensial


pengembangan sistem saluran

Tambak
Kolam Retensi, Rekreasi

Lahan Terbuka:
Di daratan

Lahan Terbuka

dekat permukiman

Pasir Pantai

Rumah,Fasilitas,Lain2
Kebun Campuran

Rekreasi Pantai
Bagian Sempadan pantai

Gosong Sungai

Bagian Sempadan sungai

Galian C dg AMDAL

4.2

Rencana Pola Ruang

4.2.1

Rencana Kawasan Lindung


Pengertian kawasan berfungsi lindung dalam suatu rencana tata ruang wilayah

provinsi sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.15/PRT/M/2009 tentang Pedoman


Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, terdiri atas:
1) Kawasan hutan lindung;
2) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
3) Kawasan perlindungan setempat;
4) Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
5) Kawasan rawan bencana alam;

IV - 6

6) Kawasan lindung geologi;


7) Kawasan lindung lainnya.
Adapun kawasan lindung yang terdapat di Wilayah Provinsi Banten meliputi kawasan
hutan lindung, kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya,
kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya,
dan kawasan rawan bencana alam. Rencana kawasan lindung di Wilayah Provinsi Banten
tahun 2030 seluas kurang lebih 260.843 Ha atau 30,15 % dari luas wilayah Provinsi
Banten, meliputi :
A. Kawasan Hutan Lindung
a) Perlindungan terhadap kawasan hutan lindung dilakukan untuk mencegah
terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi dan menjaga fungsi hidrologis tanah
untuk menjamin tersedianya unsur hara tanah dan air permukaan.
b) Kriteria Penetapan
Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan
yang melebihi nilai skor 175 dan atau;
Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan di atas 40% dan/atau;
Kawasan hutan yang mempunyai tingkat keaneka-ragaman hayati yang tinggi.
Kawasan Hutan Lindung di Wilayah Provinsi Banten ditetapkan seluas kurang lebih
20.646 Ha (2,39%) dari luas Provinsi Banten yang terdapat di sebagian Kabupaten
Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, dan Kota
Cilegon.
B. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya
a) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya meliputi
kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi resapan
air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan
penanggulangan banjir, untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang
bersangkutan.
b) Kriteria Penetapan

IV - 7

Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang
mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air
hujan secara besar-besaran.
Kawasan resapan air terdapat di Kecamatan Cinangka Kabupaten Serang, Kecamatan
Anyer Kabupaten Serang, Kecamatan Waringinkurung Kabupaten Serang, Kecamatan
Cigeulis Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Cimanggu Kabupaten Pandeglang,
Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Cibaliung Kabupaten
Pandeglang, Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Kaduhejo
Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak, Kecamatan Cibeber
Kabupaten Lebak, Rawa Danau di Kabupaten Serang, Pegunungan Aseupan-KarangPulosari (Akarsari) di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.
C. Kawasan Perlindungan Setempat
1. Sempadan Pantai
a) Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah
pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai.
b) Kriteria Penetapan
Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari
titik pasang tertinggi ke arah darat.
Kawasan sempadan pantai ditetapkan seluas kurang lebih 5.174 Ha (0,60%) dari
luas Provinsi Banten yang terdapat di sebagian Kabupaten Serang, Kota Serang,
Kabupaten Tangerang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten lebak dan Kota Cilegon.
2. Sempadan Sungai
a) Perlindungan terhadap sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari
kegiatan manusia yang dapat menganggu dan merusak kualitas air sungai,
kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai.
b) Kriteria Penetapan
Sekurang-kurangnya 100 meter kiri-kanan sungai besar dan 50 meter kiri
kanan anak sungai di luar kawasan pemukiman.

IV - 8

Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang


diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 - 15 meter.
Kawasan sempadan sungai di Provinsi Banten terdiri dari DAS Ciujung, DAS
Cidurian, DAS Cilemer, DAS Ciliman, DAS Cibanten, DAS Cidanao, DAS
Cimanceuri, DAS Cisadane, DAS Cibinuangeun, DAS Cihara, DAS Cimadur, dan
DAS Cibareno dengan total panjang sungai 787,68 Km dengan luas sempadan
sungai kurang lebih 7.877 Ha (0,91%) dari luas Provinsi Banten sedangkan
kawasan hutan untuk DAS paling sedikit ditetapkan 30 (tiga puluh) persen.
3. Kawasan Sekitar Danau atau Waduk
a) Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk/situ untuk melindungi
danau/waduk/situ dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestarian
fungsi danau/waduk/situ.
b) Kriteria Penetapan
Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah daratan sepanjang tepian
danau/waduk yang.lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi
danau/waduk antara 50 - 100 meter ke arah darat.
Kawasan sekitar danau atau waduk ditetapkan seluas kurang lebih 83.155,09 Ha
(9,61%) dari luas Provinsi Banten yang terdapat di sebagian Kabupaten Serang,
Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten
Pandeglang, Kabupaten lebak, dan Kota Cilegon.
4. Kawasan Sekitar Mata Air
a) Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi
mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas dan kondisi fisik
kawasan di sekitarnya.
b) Kriteria Penetapan
Kawasan mata air adalah daratan sekurang-kurangnya dengan radius (jari-jari)
200 meter di sekitar mata air.

IV - 9

Kawasan sekitar mata air ditetapkan seluas kurang lebih 787 Ha (0,09%) dari luas
Provinsi Banten yang terdapat di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan
Kabupaten Serang.
D. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
1) Perlindungan terhadap kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya
dilakukan untuk melindungi keanekaragaman hayati, tipe ekosistem, gejala dan
keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan
pembangunan pada umumnya.
2) Kriteria Penetapan Kawasan Suaka, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya adalah
sebagai berikut.
a.

Kriteria Cagar Alam, adalah :


- kawasan yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta
tipe ekosistemnya;
- mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunnya;
- mempunyai kondisi alam baik biota maupun fisiknya masih asli dan tidak
atau belum diganggu manusia;
- mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang
efektif dengan daerah penyangga yang cukup luas;
- mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu satunya contoh di suatu
daerah serta keberadaannya memerlukan konservasi.
Cagar alam di Wilayah Provinsi Banten ditetapkan sebagai berikut :
1. CA Rawa Danau seluas kurang lebih 2.500 Ha (0,29%) dari luas Provinsi
Banten yang terdapat di Kabupaten Serang.
2. CA G. Tukung Gede seluas kurang lebih 1.700 Ha (0,20%) dari luas
Provinsi Banten yang terdapat di Kabupaten Serang.
3. CA Pulau Dua seluas kurang lebih 30 Ha (0,003%) dari luas Provinsi
Banten yang terdapat di Kota Serang.

b.

Kriteria Taman Nasional, adalah :

IV - 10

- Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin


kelangsungan proses ekologis secara alami;
- Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis
tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih
utuh dan alami;
- Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh;
- Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai
pariwisata alam;
- Merupakan kawasan yang dapat dibagi kedalam Zona Inti, Zona
Pemanfaatan, Zona Rimba dan Zona lain yang karena pertimbangan
kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar
kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri.
Taman Nasional yang terdapat di Wilayah Provinsi Banten ditetapkan sebagai
berikut :
1. TN Ujung Kulon seluas kurang lebih 78.619 Ha (9,09%) dari luas Provinsi
Banten yang termasuk daratan terdapat di Kabupaten Pandeglang.
2. TN Gunung Halimun-Salak seluas kurang lebih 42.925 Ha (4,96%) dari
luas Provinsi Banten yang terdapat di Kabupaten Lebak.
c.

Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan
utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.
Adapun kriteria penunjukan dan penetapan taman wisata alam adalah sebagai
berikut :
- mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala
alam serta formasi geologi yang menarik;
- mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian fungsi potensi dan
daya atarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;
- kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan
pariwisata alam.

IV - 11

Kawasan taman wisata alam yang terdapat di Wilayah Provinsi Banten,


meliputi :
1. TWA Pulau Sangiang seluas kurang lebih 528 Ha (0,06%) dari luas
Provinsi Banten yang termasuk daratan terdapat di Kabupaten Serang.
2. TWA Carita seluas kurang lebih 95 Ha (0,01%) dari luas Provinsi Banten
yang terdapat di Kabupaten Pandeglang
d.

Kriteria Kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) adalah kawasan berhutan


atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam,
memiliki arsitektur bentang alam (landscape) yang baik, memiliki akses yang
baik untuk keperluan pariwisata, perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya serta pemanfaatan secara
lestari. Rekomendasi yang memungkinkan dijadikan kawasan TAHURA di
Provinsi Banten adalah Komplek Gunung Aseupan seluas kurang lebih 7.000
Ha. Adapun alokasi pemanfaatan TAHURA pada tahun 2030 diarahkan seluas
kurang lebih 3.026 Ha (0,35%) dari luas Provinsi Banten. Adapun di dalam
komplek Gunung Aseupan tersebut terdiri dari kawasan hutan lindung dan
kawasan hutan produksi yang saat ini dikelola oleh Perum Perhutani, kawasan
Taman Wisata Alam dan Kawasan Suaka Alam yang dikelola oleh Balai
Konservasi Sumber Daya Alam serta Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus
(KHDTK) yang saat ini dikelola oleh Badan Litbang Kehutanan Departemen
Kehutanan RI.

e.

Kriteria Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah tempat serta
ruang di sekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala, dan kawasan
dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk ilmu
pengetahuan. Kawasan konservasi cagar budaya perlindungan atas hak ulayat
masyarakat Baduy seluas kurang lebih 5.137 Ha (0,59%) dari luas Provinsi
Banten yang terdapat di Kabupaten Lebak.

E. Kawasan Rawan Bencana Alam


1) Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana alam dilakukan untuk melindungi
manusia dan kegiatannya dari bencana yang disebabkan oleh alam maupun secara
tidak langsung oleh perbuatan manusia.

IV - 12

2) Kriteria Penetapan Kriteria kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang
diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan
gunung berapi, gempa bumi, dan tanah longsor serta gelombang pasang dan banjir.
Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, maka arahan pengelolaan kawasan lindung
antara lain :
a. Pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan
lindung.
b. Penambahan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil perubahan fungsi
kawasan hutan produksi menjadi hutan lindung/konservasi.
c. Pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.
d. Pengembangan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan lindung.
e. Percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria
kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat di
gunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil hasil
hutan non-kayu.
f. Membuka

jalur

wisata

jelajah/pendakian

untuk

menanamkan

rasa

memiliki/mencintai alam.
g. Peruntukan

kawasan

lindung

untuk

sarana

pendidikan

penelitian

dan

pengembangan kecintaan terhadap alam.


h. Percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai
dengan fungsi lindung.
Kawasan rawan bencana alam di luar kawasan hutan konservasi dan lindung
ditetapkan seluas kurang lebih 8.643,00 Ha (1,00%) dari luas Provinsi Banten yang
terdapat di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Adapun kawasan rawan
bencana alam tersebut, meliputi :
a. Kawasan rawan letusan gunung api terdapat di Gunung Krakatau.
b. Kawasan rawan banjir terdapat di Kabupaten Tangerang (berada pada DAS
Cisadane, Pasanggrahan, Cirarab, Cimanceuri, Cidurian), Kota Tangerang (berada
pada DAS Cisadane), Kabupaten Pandeglang (berada pada DAS Ciliman,
Cilemer), Kabupaten Lebak (berada pada DAS Ciujung dan Cibinuangeun),
Kabupaten Serang (berada pada DAS Ciujung).

IV - 13

c. Kawasan rawan tsunami terdapat di Pantai Utara (Kabupaten Serang, Kota Serang,
dan Kabupaten Tangerang), Pantai Selatan (Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten
Lebak), Pantai Barat (Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota
Cilegon).
d. Kawasan rawan gerakan tanah terdapat di Kabupaten Pandeglang (Kecamatan,
Kecamatan

Pandeglang,

Kecamatan

Cadasari,

Kecamatan

Mandalawangi,

Kecamatan Cibaliung, Kecamatan Cibitung, Kecamatan Cigeulis), Kabupaten


Lebak (Kecamatan Cigemblong, Kecamatan Lebak Gedong, Kecamatan Sobang,
Kecamatan Cibeber, Kecamatan Panggarangan).
Arahan kawasan lindung Provinsi Banten dapat dilihat pada Gambar 4.4 dan Tabel
4.1 Arahan Kegiatan, Lokasi dan Pengendalian Peruntukan Ruang Pada Kawasan
Lindung dan Budidaya Provinsi Banten.

IV - 14

GAMBAR 4.4
ARAHAN KAWASAN LINDUNG

IV - 15

NCANA

YUNG

Tabel 4.1
Arahan Kegiatan, Lokasi, dan Pengendalian Peruntukan Ruang
Pada Kawasan Lindung Provinsi Banten
Arahan Pengelolaan
Kawasan
Lindung
1. Kawasan Hutan
Lindung

Sub Kawasan
Diperbolehkan

Dilarang, Diperbolehkan
dengan syarat

Lokasi

Kegiatan budidaya
yang diperkenankan
adalah minimal
kegiatan hutan
produksi terbatas.
Dengan kata lain,
apabila terdapat hutan
produksi yang masuk
kriteria kawasan hutan
lindung, agar
ditingkatkan upaya
konservasinya menjadi
hutan produksi terbatas
Pada kawasan hutan
lindung yang berada di
luar kawasan hutan,
kegiatan budidaya yang
diperkenankan adalah
kegiatan yang tidak
mengolah permukaan
tanah secara intensif
seperti hutan atau
tanaman keras yang
panennya atas dasar
penebangan pohon
secara terbatas/terpilih
sehingga tidak terjadi
erosi tanah.

Kegiatan yang ada di


kawasan hutan lindung yang
tidak menjamin fungsi
lindung, secara bertahap
dikembalikan pada fungsi
utama kawasan. Proses
peralihan fungsi ini
dilaksanakan sesuai dengan
kondisi fisik, sosial ekonomi
setempat, dan kemampuan
pemerintah dengan
pengembalian yang layak
Kawasan budidaya yang
diperkenankan adalah
kegiatan yang tidak
mengolah permukaan tanah
seperti hutan atau tanaman
keras yang panennya tidak
atas dasar penebangan
pohon atau merubah
bentang alam seperti
penambangan bahan galian
atau perindustrian, kecuali
kegiatan tersebut
mempunyai nilai ekonomi
yang tinggi bagi
kepentingan nasional atau
regional.

Kab. Serang, Kota


Serang, Kab.
Tangerang dan
Kota Cilegon
Reklamasi Fungsi
Hutan, dari Hutan
Produksi menjadi
Hutan Lindung di:
1. Gunung
Aseupan
2. Gunung
Karang.
3. Gunung
Pulosari
Seluas 12.500
Ha dan 4.00 Ha di
TN Ujung Kulon

IV - 16

Arahan Pengelolaan
Kawasan
Lindung

Sub Kawasan
Diperbolehkan

2. Kawasan yang Kawasan Resapan


Air
Memberikan
Perlindungan
Terhadap Kawasan
Bawahannya

3. Kawasan
perlindungan
setempat

a. Sempadan
Sungai

Dilarang, Diperbolehkan
dengan syarat

Wilayah yang
diperkirakan
mengandung potensi
resapan air, dapat
dialokasikan sebagai
kebun campuran
berbagai tanaman
tahunan, hutan
produksi terbatas,
ataupun hutan lindung.
Kegiatan budidaya
yang diperbolehkan
adalah kegiatan yang
tidak mengurangi
fungsi lindung
kawasan.
Kegiatan yang masih
boleh dilaksanakan di
kawasan ini adalah
pertanian tanaman
semusim atau tahunan
yang disertai tindakan
konservasi dan
agrowisata.

Kegiatan yang bersifat


menutup kemungkinan
adanya infiltrasi air ke
dalam tanah dilarang.

Pada kawasan
sempadan sungai yang
belum terbangun,
masih diperbolehkan
kegiatan pertanian
dengan jenis tanaman
yang diijinkan.
Kegiatan lain yang
tidak memanfaatkan
lahan secara luas masih
bisa diperbolehkan.

Pada kawasan sempadan


sungai yang belum
dibangun, pendirian
bangunan tidak diijinkan
(IMB tidak diberikan).
Kegiatan atau bentuk
bangunan yang secara
sengaja dan jelas
menghambat arah dan
intensitas aliran air sama
sekali tidak diperbolehkan.
Kegiatan lain yang justru
memperkuat fungsi
perlindungan kawasan
sempadan sungai tetap boleh
dilaksanakan tapi dengan
pengendalian agar tidak
mengubah fungsi
kegiatannya di masa
mendatang.

Lokasi
Kab. Serang :
1.Cinangka.
2.Anyer.
3.Waringin
Kurung.
Kab.
Pandeglang :
1. Sumur.
2. Cimanggu.
3. Cibaliung.
4. Cigeulis.
Kab. Lebak :
1.Cipanas.
2.Cibeber.
Kota Cilegon

Kawasan-kawasan
yang terletak di
sepanjang sisi
Sungai :
1. Cisadane
2. Cidurian
3. Ciujung.
4. Cibanten.
5. Cibareno.
6. Cimandur.
7. Cihara.
8. Cisiih.
9. Cisimeut.
10.Ciberang.

IV - 17

Arahan Pengelolaan
Kawasan
Lindung

Sub Kawasan
Diperbolehkan

Dilarang, Diperbolehkan
dengan syarat

Lokasi

b.Sempadan
Pantai

Kegiatan yang
diperbolehkan
dilakukan di sepanjang
garis pantai sepanjang
517,42 Km adalah
kegiatan yang mampu
melindungi atau
memperkuat
perlindungan kawasan
sempadan pantai dari
abrasi dan infiltrasi air
laut ke dalam tanah.

Kegiatan-kegiatan yang
dikhawatirkan dapat
mengganggu atau
mengurangi fungsi lindung
kawasan tidak
diperbolehkan.

Kab. Serang, Kota


Serang, Kab.
Tangerang, Kab.
Pandeglang, Kab.
Lebak dan
Kota Cilegon

c.Kawasan sekitar
danau, waduk.
atau situ.

Kegiatan yang masih


boleh diusahakan
adalah perikanan,
pariwisata yang hanya
untuk menikmati
pemandangan saja,
pertanian dengan jenis
tanaman yang
diijinkan, pemasangan
papan pengumuman,
pemasangan pondasi
dan rentang kabel,
pondasi jembatan/jalan
umum maupun kereta
api, bangunan lalu
lintas air, serta
pengambilan dan
pembuangan air.

Kawasan yang
memiliki danau/
situ/ dam, terutama
di Kab. Serang,
Kab. Tangerang,
Kota Tangerang,
Kab. Lebak dan
kota Cilegon

d.Kawasan sekitar
mata air

Kegiatan yang
diutamakan adalah
kegiatan penghutanan
atau tanaman tahunan
yang produksinya tidak
dengan penebangan
pohon.

Kegiatan yang mengganggu


kelestarian daya tampung
seperti pendirian bangunan,
permukiman dan
penanaman tanaman
semusin yang mempercepat
proses pendangkalan tidak
diperkenankan dan dilarang.
Selain bangunan
pengendali/pengukur
volume air, yang
diperkenankan adalah
kegiatan yang berkaitan
dengan pariwisata seperti
hotel, rumah makan, tempat
rekreasi, dengan tetap
mengupayakan
pembangunan fisik yang
mampu mencegah
terjadinya sedimentasi ke
dalam danau.
Penggalian atau perubahan
bentuk medan atau
pembangunan bangunan
fisik yang mengakibatkan
penutupan jalannya mata air
serta mengganggu
keberadaan dan kelestarian
mata air dilarang.

Kab. Serang,
Pandeglang,
Lebak, dan
Tangerang

IV - 18

Arahan Pengelolaan
Kawasan
Lindung
4. Kawasan suaka
alam, pelestarian
alam, dan cagar
budaya

Sub Kawasan
Diperbolehkan
a.Cagar Alam

b.Kawasan suaka
alam laut dan
perairan lainnya

c.Suaka marga
satwa

d.Kawasan pantai
berhutan bakau

Kegiatan lain, selain


perlindungan plasma
nutfah, yang
diperkenankan tetap
berlangsung di dalam
kawasan ini adalah
kegiatan pariwisata
atau pos pengawas
yang pengelolaannya
diupayakan sedemikian
rupa sehingga
ekosistem binatang,
ikan, atau tumbuhan
langka yang dilindungi
tidak terganggu.
Kegiatan pariwisata
terbatas dan penelitian

Kegiatan pariwisata
terbatas dan penelitian

Kegiatan tambak dan


kegiatan lain yang
berhubungan dengan
aktivitas kelautan
diperkenankan.

Dilarang, Diperbolehkan
dengan syarat

Lokasi

Kegiatan yang sudah ada,


yang berada di dalam
kawasan Cagar Alam, yang
mengganggu fungsi
kawasan secara bertahap
akan dipindahkan dengan
diberi penggantian yang
layak oleh Pemerintah.
Kegiatan pembangunan
yang mengakibatkan
penurunan kualitas
lingkungan dan
perlindungan plasma nutfah
dilarang.

Kawasan CA.
Rawa Danau, CA.
G. Tukung Gede
dan CA. Pulau
Dua

Kegiatan yang tidak


diperbolehkan di kawasan
ini adalah pengambilan
karang dan kerang,
penangkapan ikan untuk
keperluan ekonomis,
pengerukan pasir,
penimbunan pantai yang
mengganggu keaslian obyek
wisata, dan sebagainya.
Kegiatan yang
mengakibatkan terganggunya
fungsi lindung tersebut
dilarang.
Kegiatan yang tidak
menunjang perlindungan
terhadap flora dan fauna di
kawasan ini dilarang.

Kawasan yang
memiliki
laut/pantai

Taman Nasional
Ujung Kulon dan
Taman Nasional
Gn. Halimun salak
Kab. Tangerang:
1.Kosambi.
2.Paku Haji.
3.Mauk.
4.Kronjo.
Kab. Serang:
1.Tirtayasa.
2.Pontang.
3.Kasemen.
4.Kramat Watu.
5.Bojonegara.

e.Taman wisata
alam dan taman
wisata alam laut

Kegiatan pariwisata
yang dilindungi,
terbatas dan
penelitian.

Kegiatan yang tidak


menunjang perlindungan
terhadap flora dan fauna di
kawasan ini dilarang.

Kota Cilegon :
Pulo Merak
TWA Carita dan
TWA Pulau
Sangiang

IV - 19

Arahan Pengelolaan
Kawasan
Lindung

Sub Kawasan

5.Kawasan rawan
bencana alam

a.Kawasan rawan
banjir

Diperbolehkan
Pembangunan fisik
berupa pengembangan
saluran drainase

b. Kawasan rawan
tanah longsor

c.Rawan Bencana
gunung berapi

Pada zona waspada dan


zona siaga di kawasan
rawan bencana alam,
masih diperkenankan
adanya budidaya yang
bersifat sementara,
pertanian tanaman
semusim dan tahunan.
Pada zona siaga masih
diperkenankan adanya
permukiman, namun
perlu diwaspadai dan
selalu siap untuk
mengadakan
pengungsian apabila
sewaktu-waktu gunung
berapi menunjukkan
aktivitas yang
membahayakan.

Dilarang, Diperbolehkan
dengan syarat

Lokasi

Kegiatan untuk permukiman


dilarang.
Kegiatan lain yang
berdampak dapat
mempengaruhi kelancaran
tata drainase di kawasan ini
dilarang,
Tertutup bagi kegiatan
permukiman, persawahan,
tanaman semusim, kolam
ikan, atau kegiatan budidaya
lainnya yang berbahaya bagi
keselamatan manusia dan
lingkungan.

Daerah pesisir
barat Banten,
Kabupaten Lebak;
Malimping. serta
kawasan-kawasan
yang terletak di
sepanjang DAS.

Pada kawasan rawan


bencana yang disebabkan
oleh aktivitas gunung berapi
dan rawan gas beracun,
khususnya pada zona bahaya
dan zona waspada,
ditetapkan sebagai daerah
yang tertutup bagi
permukiman penduduk. Bila
pada daerah ini terdapat
permukiman, maka
penduduk yang bermukim di
dalam kawasan ini
mendapatkan prioritas
pertama untuk dipindahkan.

Di daerah pesisir
barat Banten; Kab.
Pandeglang dan
daerah selatan
Kab. Lebak serta
kawasan-kawasan
yang terletak di
sepanjang DAS
Kawasan sekitar
gunung berapi

IV - 20

4.2.2

Rencana Kawasan Budidaya


Kawasan budidaya yang dimaksud merupakan arahan peruntukan yang terdiri

dari :
a)

Kawasan Peruntukan Hutan Produksi.

b)

Kawasan Peruntukan Pertanian.

c)

Kawasan Peruntukan Perkebunan.

d)

Kawasan Peruntukan Perikanan

e)

Kawasan Peruntukan Pertambangan

f)

Kawasan Peruntukan Industri

g)

Kawasan Peruntukan Pariwisata

h)

Kawasan Peruntukan Permukiman.

Selain kawasan peruntukan tersebut di atas, di Wilayah Provinsi Banten juga terdapat
Kawasan Budidaya yang Memiliki Nilai Strategis Nasional yaitu Kawasan Bojonegara
Merak Cilegon dengan sektor unggulan industri, pariwisata, pertanian, perikanan, dan
pertambangan. Selain itu diarahkan pula pengembangan Laut Krakatau dan sekitarnya
dengan sektor unggulan perikanan, pertambangan, dan pariwisata.
Adapun rencana pengembangan kawasan budidaya di wilayah Provinsi Banten tahun 2030
seluas kurang lebih 604.277 Ha atau 69,85% dari luas Wilayah Provinsi Banten, meliputi :

A. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi


a) Pengelolaan terhadap kawasan hutan produksi dilakukan untuk memanfaatkan ruang
beserta sumber daya hutan, baik dengan cara tebang pilih maupun tebang habis dan
tanaman untuk menghasilkan hasil hutan bagi kepentingan negara, masyarakat,
industri,

dan

ekspor

dengan

tetap

menjaga

kelestarian

lingkungan

dan

keanekaragaman hayati.
b) Kriteria Penetapan
kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis tanah dan intensitas hujan
setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai
(score) 124 atau kurang, di luar hutan suaka alam dan hutan pelestarian alam.
kawasan secara ruang apabila digunakan untuk budidaya, hutan alam dan hutan
tanaman dapat memberikan manfaat:

IV - 21

- mendorong perkembangan sektor atau kegiatan ekonomi di sekitarnya;


- meningkatkan fungsi lindung;
- meningkatkan upaya pelestarian sumber daya hutan;
- meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di daerah setempat;
- meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
- meningkatkan kesempatan kerja terutama untuk masyarakat daerah setempat;
- meningkatkan ekspor;
- mendorong perkembangan usaha dan peran serta masyarakat terutama di daerah
setempat.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan hutan produksi :
Kawasan hutan produksi yang mempunyai tingkat kerapatan tegakan rendah harus
dilakukan percepatan reboisasi, serta percepatan pembangunan hutan rakyat.
Mengarahkan pada kawasan perkotaan untuk mewujudkan hutan kota di dalam
atau di tepi kota.
Kawasan peruntukan hutan produksi diarahkan di Kabupaten Serang, Kabupaten
Lebak, dan Kabupaten Pandeglang
Kawasan peruntukan hutan produksi diarahkan pengembangannya seluas kurang lebih
58.091 Ha (6,71%) dari luas Provinsi Banten.

B. Kawasan Peruntukan Pertanian


a) Pengelolaan lahan baku sawah dilakukan untuk memanfaatkan potensi lahan yang
sesuai untuk lahan basah dalam menghasilkan produksi pangan, dengan tetap
memperhatikan kelestarian lingkungan untuk mewujudkan pembangunan yang
berkelanjutan
b) Kriteria Penetapan
kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk sawah
kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan sawah secara ruang dapat
memberikan manfaat:
- peningkatan produksi pangan dan mendayagunakan investasi yang telah ada;
- meningkatkan perkembangan sektor dan kegiatan ekonomi sekitarnya;
IV - 22

- meningkatkan fungsi lindung;


- upaya pelestarian sumber daya alam untuk pertanian pangan;
- meningkatkan pendapatan masyarakat;
- meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
- meningkatkan kesempatan kerja;
- meningkatkan ekspor;
- mendorong perkembangan masyarakat.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan pertanian :
pengembangan sawah irigasi teknis dilakukan dengan memprioritaskan perubahan
dari sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi sejalan dengan perluasan jaringan
irigasi dan pengembangan waduk/embung.
perubahan kawasan pertanian harus tetap memperhatikan luas kawasan yang
dipertahankan sehingga perlu adanya ketentuan tentang pengganti lahan pertanian.
peruntukan kawasan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi dan
produktifitas tanaman pangan dengan mengembangkan kawasan pertanian terpadu
dan holtikultura dengan mengembangkan kawasan pertanian berteknologi tinggi.
apabila di wilayah kota terdapat lahan pertanian pangan, lahan tersebut dapat
ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan untuk dilindungi sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan diarahkan di Kabupaten Serang,
Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan
Kabupaten Lebak.
kawasan peruntukan hortikultura diarahkan di Kabupaten Serang, Kabupaten
Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak.
kawasan peruntukan peternakan diarahkan di Kabupaten Serang, Kabupaten
Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak.
kawasan pertanian pangan berkelanjutan berada pada kawasan perdesaan yang
diarahkan di Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten
Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Lebak.
Kawasan peruntukan budi daya tanaman pangan diarahkan pengembangannya seluas
kurang lebih 216.577 Ha (25,03%) dari luas Provinsi Banten.

IV - 23

C. Kawasan Peruntukan Perkebunan


a) Pengelolaan kawasan peruntukan perkebunan dilakukan untuk memanfaatkan
potensi lahan yang sesuai untuk kegiatan lahan kering dalam meningkatkan
produksi tanaman lahan kering dengan tetap memperhatikan kelestarian
lingkungan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
b) Kriteria Penetapan
kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan tanaman lahan
kering.
kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan tanaman lahan kering secara
ruang dapat memberikan manfaat:
- meningkatkan produksi tanaman lahan kering dan pendayagunaan investasi
yang adil;
- meningkatkan perkembangan sektor dan kegiatan ekonomi sekitarnya;
- meningkatkan fungsi lindung;
- upaya pelestarian sumber daya alam untuk pertanian pangan;
- meningkatkan pendapatan masyarakat;
- meningkatkan pendapatan daerah dan nasional;
- meningkatkan kesempatan kerja;
- meningkatkan ekspor;
- meningkatkan perkembangan masyarakat.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan perkebunan :
pengembangan kawasan perkebunan hanya di kawasan yang dinyatakan
memenuhi syarat, dan diluar area rawan banjir serta longsor.
dalam penetapan komoditi tanaman tahunan selain mempertimbangkan
kesesuaian lahan, konservasi tanah dan air juga perlu mempertimbangkan aspek
sosial ekonomi dan keindahan/estetika.
peningkatan Peruntukan kawasan perkebunan dilakukan memalui peningkatan
peran serta masyarakat yang tergabung dalam kawasan Kimbun masing-masing.

IV - 24

perubahan fungsi lahan kawasan perkebunan dapat dilakukan melalui


mekanisme penilaian biaya dan manfaat ditinjau dari aspek fisik, sosial,
ekonomi, dan kemasyarakatan.
kawasan peruntukan perkebunan diarahkan di Kabupaten Lebak, Kabupaten
Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kota
Cilegon, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.
Kawasan peruntukan perkebunan meliputi kawasan budidaya lahan kering diarahkan
pengembangannya seluas kurang lebih 176.957 Ha (20,45%) dari luas Provinsi Banten.

D. Kawasan Peruntukan Perikanan


Arahan pengelolaan kawasan peruntukan perikanan antara lain :
mempertahankan, merehabilitasi dan merevitalisasi tanaman bakau/mangrove.
pengembangan minapolitan berupa budidaya perikanan tangkap dan budidaya
perikanan laut.
menjaga kelestarian sumber daya air terhadap pencemaran limbah industri maupun
limbah lainnya.
pengendalian melalui sarana kualitas air dan mempertahankan habitat alami ikan.
peningkatan produksi dengan memperbaiki sarana dan prasarana perikanan.
kawasan peruntukan perikanan diarahkan di Kabupaten Serang, Kabupaten
Tangerang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kota Serang.

E. Kawasan Peruntukan Pertambangan


a) Kawasan peruntukan pertambangan memiliki fungsi antara lain menghasilkan
barang hasil tambang yang meliputi minyak dan gas bumi; bahan galian
pertambangan secara umum, dan bahan galian C;
b) Kriteria Penetapan
Pemanfaatan ruang beserta sumber daya tambang dan galian di kawasan
peruntukan

pertambangan

harus

diperuntukan

untuk

sebesar-besarnya

kemakmuran rakyat, dengan tetap memelihara sumber daya tersebut sebagai


cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan kaidahkaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup;

IV - 25

Setiap kegiatan pertambangan harus memberdayakan masyarakat di lingkungan


yang dipengaruhinya guna kepentingan dan kesejahteraan masyarakat setempat;
Kegiatan pertambangan ditujukan untuk menyediakan bahan baku bagi industri
dalam negeri dan berbagai keperluan masyarakat, serta meningkatkan ekspor,
meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan daerah serta memperluas
lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha;
Kegiatan pertambangan harus terlebih dahulu memiliki kajian studi Amdal yang
dilengkapi dengan RPL dan RKL;
Kegiatan pertambangan mulai dari tahap perencanaan, tahap ekplorasi hingga
eksploitasi harus diupayakan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan
perselisihan dan atau persengketaan dengan masyarakat setempat;
Rencana kegiatan eksploitasi harus disetujui oleh dinas pertambangan setempat
dan atau oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan
pelaksanaannya dilaporkan secara berkala;
Pada lokasi kawasan pertambangan fasilitas fisik yang harus tersedia meliputi
jaringan listrik, jaringan jalan raya, tempat pembuangan sampah, drainase, dan
saluran air kotor.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan pertambangan :
Pengembangan kawasan pertambangan dilakukan dengan mempertimbangkan
potensi bahan galian, kondisi geologi dan geohidrologi dalam kaitannya dengan
kelestarian lingkungan.
Pengelolaan kawasan bekas penambangan yang telah digunakan harus
direhabilitasi dengan melakukan penimbunan tanah subur sehingga menjadi
lahan yang dapat digunakan kembali sebagai kawasan hijau, ataupun kegiatan
budidaya lainnya dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan
hidup.
Setiap kegiatan usaha pertambangan harus menyimpan dan mengamankan
lapisan tanah atas (top soil) untuk keperluan rehabilitasi/reklamasi lahan bekas
penambangan.
Kawasan peruntukan pertambangan mineral meliputi bahan galian logam (emas)
diarahkan di Kabupaten Lebak (Desa Cikotok, Desa Warung Banten, Desa
Lebak Situ, Desa Sinargalih, Desa Cimancak, Desa Sukamulya, Desa Cidikit,

IV - 26

Desa Citorek, Desa Cikate, Desa Kanekes, Desa Guradog, Desa Bojongmanik,
Desa Caringin, Desa Gunung Kendang, dan Desa Bulakan), Kabupaten
Pandeglang (Desa Padasuka, Desa Mangkualam, dan Desa Kramatjaya).
Kawasan peruntukan pertambangan batubara diarahkan di Kabupaten Lebak
(Desa Cihara/Cimandiri, Desa Darmasar, dan Desa Bojongmanik).
Kawasan peruntukan pertambangan panas bumi diarahkan di Kabupaten
Pandeglang dan Kabupaten Serang (WKP Kaldera Danau Banten Possible 115
MW, Gunung Karang Possible 170 MW), Kabupaten Pandeglang (Gunung
Pulosari Hipotetik 100 MW), Kabupaten Lebak (Pamancalan Speculative 225
MW, Gunung Endut Speculative 100 MW Possible 40 MW, dan Ciseeng
Hipotetik 100 MW).
Kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi diarahkan di Blok
Banten (3.999,00 Km2), Blok Rangkas (3.977,13 Km2), Blok Ujung Kulon
(3.706,47 Km2), Selat Sunda I (8.159,40 Km2), Selat Sunda II (7.769,85 Km2),
Selat Sunda III (6.035,64 Km2).
Untuk lebih jelasnya mengenai wilayah kerja pertambangan mineral dan wilayah kerja
pertambangan minyak dan gas dapat dilihat pada Gambar 4.5.

F. Kawasan Peruntukan Industri


a) Pengelolaan kawasan budidaya peruntukan industri dilakukan untuk meningkatkan
nilai tambah ruang guna memenuhi kebutuhan ruang untuk pengembangan
kegiatan industri, dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan dalam
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
b) Kriteria Penetapan
kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan industri, serta tidak
mengganggu kelestarian lingkungan
kawasan yang dalam Pola Dasar Pembangunan Provinsi Banten diarahkan bagi
pengembangan kegiatan industri

IV - 27

Gambar 4.5
Peta Wilayah Kerja Pertambangan di Provinsi Banten

IV - 28

kawasan yang memiliki kelayakan fisik lokasi sebagai berikut:


- lahan relatif datar (lereng <5 %),
- luas minimal 5 Ha,
- dukungan prasarana jalan regional/lokal dengan ROW 8 m,
- dukungari prasarana air bersih,
- dukungan prasarana energi listrik,
- dukungan prasarana telekomunikasi,
- dukungan prasarana pembuangan/pengolahan limbah industri.
- tidak menimbulkan gangguan terhadap permukiman penduduk kawasan di
sekitarnya yang apabila dikembangkan kegiatan industri dapat memberikan
manfaat secara, antara lain:
meningkatkan produksi hasil industri dan meningkatkan dan daya guna
investasi yang ada di daerah sekitarnya;
meningkatkan kegiatan sektor dan ekonomi di daerah sekitarnya;
tidak mengganggu kelestarian sumber daya alami; meningkatkan
pendapatan masyarakat;
meningkatkan kontribusi pada pendapatan daerah dan nasional;
meningkatkan kesempatan kerja dan peluang berusaha;
meningkatkan ekspor;
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan industri :
pengembangan kawasan industri dilakukan dengan mempertimbangkan aspek
ekologis.
pengembangan kawasan industri harus didukung oleh adanya jalur hijau sebagai
penyangga antar fungsi kawasan.
pengembangan zona industri yang terletak pada sepanjang jalan arteri atau
kolektor harus dilengkapi dengan frontage road untuk kelancaran aksesibilitas.
pengembangan kegiatan industri harus dalam satu kawasan industri dengan
didukung oleh sarana dan prasarana industri.
pengelolaan kegiatan industri dilakukan dengan mempertimbangkan keterkaitan
proses produksi mulai dari industri dasar/hulu dan industri hilir serta industri
antara, yang dibentuk berdasarkan pertimbangan efisiensi biaya produksi, biaya
keseimbangan lingkungan dan biaya aktifitas sosial.
IV - 29

setiap kegiatan industri harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan terhadap


kemungkinan adanya bencana industri.
segala bentuk kegiatan industri yang berpotensi memberikan dampak besar dan
penting harus memiliki rencana aksi tanggap darurat terhadap berbagai potensi
bencana dan atau kecelakaan industri.
kawasan peruntukan industri meliputi :
- Industri besar, diarahkan pada : Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang,
dan Kota Cilegon.
- Industri menengah, diarahkan pada : Kota Tangerang, Kota Tangerang
Selatan, Kota Cilegon, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan
Kabupaten Serang.
- Industri kecil, diarahkan pada : Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang,
Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Tangerang, Kota Tangerang
Selatan, Kota Serang, dan Kota Cilegon.

G. Kawasan Peruntukan Pariwisata


a) Pengelolaan kawasan pariwisata dilakukan untuk memanfaatkan potensi keindahan
alam

dan

budaya

guna

mendorong

perkembangan

pariwisata

dengan

memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya adat istiadat, mutu dan keindahan


lingkungan alam untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
b) Kriteria Penetapan
kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kegiatan pariwisata, serta
tidak mengganggu kelestarian lingkungan
kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan pariwisata secara ruang dapat
memberikan manfaat:
- meningkatkan devisa dari sektor pariwisata dan meningkatkan investasi di
daerah;
- mendorong kegiatan lain yang ada di sekitarnya;
- tidak mengganggu fungsi lindung;
- tidak mengganggu upaya kelestarian sumber daya alam;
- meningkatkan pendapatan masyarakat;
- meningkatkan kontribusi pada pendapatan daerah dan nasional;

IV - 30

- meningkatkan kesempatan kerja;


- melestarikan budaya lokal;
- meningkatkan perkembangan masyarakat.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan pariwisata :
tetap melestarikan alam sekitar untuk menjaga keindahan obyek wisata.
tidak melakukan pengerusakan terhadap obyek wisata alam seperti menebang
pohon.
melestarikan perairan pantai, dengan memperkaya tanaman mangrove untuk
mengembangkan ekosistem bawah laut termasuk terumbu karang dan biota laut
yang dapat di jadikan obyek wisata taman laut.
tetap melestarikan tradisi petik laut/larung sesaji sebagai daya tarik wisata.
menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah.
meningkatkan

pencarian/penelusuran

terhadap

benda

bersejarah

untuk

menambah koleksi budaya.


pada obyek yang tidak memiliki akses yang cukup, perlu ditingkatkan
pembangunan dan pengendalian pembangunan sarana dan prasarana transportasi
ke obyek-obyek wisata alam, budaya dan minat khusus.
merencanakan kawasan wisata sebagai bagian dari urban/regional desain untuk
keserasian lingkungan.
meningkatkan daya tarik wisata melalui penetapan jalur wisata, kalender wisata,
informasi dan promosi wisata.
menjaga keserasian lingkungan alam dan buatan sehingga kualitas visual
kawasan wisata tidak terganggu.
meningkatkan peranserta masyarakat dalam menjaga kelestarian obyek wisata,
dan daya jual/saing.
kawasan peruntukan pariwisata diarahkan di Kawasan wisata Pantai Barat
(Anyer, Labuan/ Carita, Tanjung Lesung dan Sumur), Kawasan Banten Lama,
Pelabuhan Karangantu, Kawasan Wisata Pantai Selatan (sepanjang pantai
selatan dari pantai Muara Binuangeun-Panggarangan-Bayah), Permukiman
Baduy (Leuwidamar, Cimarga), T.N. Ujung Kulon (Cigeulis, Cimanggu,
Sumur, P. Panaitan, P. Handeuleum, P. Peucang, Taman Jaya, Pantai Ciputih
dan Gunung Honje).

IV - 31

H. Kawasan Peruntukan Permukiman


a) Pengeloaan kawasan permukiman dilakukan untuk menyediakan

tempat

bermukim yang sehat dan aman dari bencana alam serta dapat memberikan
lingkungan yang sesuai untuk pengembangan masyarakat dengan tetap
memperhatikan kelestarian nilai-nilai budaya adat istiadat, mutu dan keindahan
lingkungan alam untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
b) Kriteria Penetapan
kawasan yang secara teknis dapat digunakan untuk kawasan permukiman yang
aman dari bahaya bencana alam, sehat dan mempunvai akses untuk kesempatan
berusaha.
kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan pemukiman secara ruang dapat
memberikan manfaat:
- ketersediaan areal pemukiman dan mendayagunakan prasarana dan sarana
investasi yang ada di daerah sekitarnya;
- mendorong kegiatan lain yang ada di sekitarnya;
- tidak mengganggu fungsi lindung;
- tidak mengganggu upaya kelestarian sumber daya alam;
- meningkatkan pendapatan masyarakat;
- meningkatkan kontribusi pada pendapatan daerah dan nasional;
- meningkatkan kesempatan kerja;
- mendorong perkembangan masyarakat.
c) Arahan pengelolaan kawasan peruntukan permukiman :
pengembangan kawasan budidaya yang secara teknis dapat digunakan untuk
permukiman harus aman dari bahaya bencana alam, sehat, mempunyai akses
untuk kesempatan berusaha dan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan
ketersediaan permukiman, mendayagunakan fasilitas dan utilitas disekitarnya
serta meningkatkan sarana dan prasarana perkembangan kegiatan sektor
ekonomi yang ada.
pengembangan permukiman perdesaan dilakukan dengan menyediakan fasilitas
dan infrastruktur secara berhirarki sesuai dengan fungsinya sebagai: pusat
pelayanan antar desa, pusat pelayanan setiap desa, dan pusat pelayanan pada
setiap dusun atau kelompok permukiman

IV - 32

menjaga kelestarian permukiman perdesan khususnya kawasan pertanian.


pengembangan permukiman perkotaan dilakukan dengan tetap menjaga fungsi
dan hirarki kawasan perkotaan serta tetap memperhatikan proporsi kawasan
terbangun terhadap ruang terbuka baik berupa ruang terbuka hijau dan ruang
terbuka non hijau.
membentuk cluster-cluster permukiman untuk menghindari penumpukan dan
penyatuan antar kawasan permukiman, dan diantara cluster permukiman
disediakan ruang terbuka hijau
pembentukan perkotaan metropolitan, dihubungkan dengan sistem transportasi
yang memadai diantaranya mass rapid transit.
pengembangan KEK untuk kegiatan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
perkembangan perkotaan menengah dilakukan dengan membentuk pelayanan
wilayah yang mampu mendorong pertumbuhan wilayah sekitarnya.
permukiman perkotaan kecil dilakukan melalui pembentukan pusat pelayanan
skala kabupaten dan perkotaan kecamatan yang ada di kabupaten.
permukiman kawasan khusus seperti penyediaan tempat peristirahatan pada
kawasan pariwisata, kawasan permukiman baru sebagai akibat perkembangan
infrastruktur, kegiatan sentra ekonomi, sekitar kawasan industri, dilakukan
dengan tetap memegang kaidah lingkungan hidup dan bersesuaian dengan
RTRW masing-masing kabupaten/kota.
kawasan peruntukan permukiman diarahkan tersebar di setiap kabupaten/kota
di Provinsi Banten
Kawasan peruntukan industri, kawasan peruntukan pariwisata, dan kawasan
peruntukan permukiman yang dikategorikan sebagai kawasan perkotaan dikembangkan
seluas kurang lebih 152.651 Ha (17,65%) dari luas Provinsi Banten.
Untuk lebih jelasnya mengenai Arahan Kawasan Budidaya dan Kawasan
Pariwisata dapat dilihat pada Gambar 4.6 dan Gambar 4.7, serta arahan pengembangan
kawasan budidaya lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.2.

IV - 33

Gambar 4.6
Peta Arahan Kawasan Budidaya

SITUS
BANTEN LAMA

IV - 34

Gambar 4.7
Peta Arahan Kawasan Pariwisata

IV - 35

Tabel 4.2
Arahan Kegiatan, Lokasi, dan Pengendalian Ruang
Pada Kawasan Budidaya Provinsi Banten
Arahan Kegiatan
Kawasan
Budidaya
1. Kawasan
Peruntukan
Hutan Produksi

2. Kawasan
Peruntukan
Pertanian

Sub kawasan
Diperbolehkan
Pemanfaatan hasil hutan
dengan memperhatikan
prinsip-prinsip kelestarian
lingkungan
Pembangunan
infrastruktur yang
dibutuhkan untuk
menunjang kegiatan
pemanfaatan hasil hutan
Penanaman tanaman padi
secara terus menerus
sesuai dengan pola tanam
tertentu
Penanaman tanaman
selain padi, dengan
mempertimbangkan
tingkat ketersediaan air
dan optimalitas
kemampuan produksi
Pemanfaatan untuk
pembangunan
infrastruktur penunjang
kegiatan pertanian
(irigasi)

Dilarang,
Diperbolehkan
dengan syarat
Pemanfaatan lahan
untuk fungsi-fungsi
yang berdampak
negatif terhadap
keseimbangan
ekologis

Kab. Lebak, Kab.


Pandeglang, dan
Kab. Serang.

Pembangunan
bangunan fisik
dengan fungsi yang
tidak mendukung
kegiatan pertanian
Pemanfaatan lahan
untuk kegiatan
pertanian bukan
lahan basah

Kab. Tangerang,
Kab. Pandeglang,
Kab. Serang, Kab.
Lebak, Kota
Tangerang
Selatan, Kota
Serang, Kota
Tangerang dan
Kota Cilegon

3. Kawasan Peruntukan Industri, Pariwisata, dan Permukiman


Pemanfaatan lahan
Kegiatan yang diizinkan
3.1 Kawasan
untuk kegiatan yang
adalah
tempat
tinggal,
Permukiman
berdampak negatif
pertemuan dan
terhadap
penunjangnya seperti
keseimbangan
pelayanan pemerintah,
ekologis
perdagangan, perbankan
dan lain-lain yang sejenis. Membangun/
mengembangkan
Jenis bangunan yang
kegiatan yang tidak
diizinkan yaitu rumah
sesuai dengan
tinggal, rumah toko,
kegiatan permukiman
gedung pertemuan,
sekolahan, poliklinik,
puskesmas, pasar,
pertokoan, bank asuransi,
dan lain-lain yang sejenis.

Lokasi

Tersebar di
wilayah Propinsi
Banten

IV - 36

Arahan Kegiatan
Kawasan
Budidaya

3.2 Kawasan
Industri

Sub kawasan
Diperbolehkan
-

Pemanfaatan lahan untuk


pembangunan bangunan
dan infrastruktur yang
menunjang kegiatan
industri
Penguasaaan/pemilikan
tanah yang telah ada dan
tidak sejalan sengan
kegiatan industri, dengan
syarat tidak diintensifkan
ataupun diekstensifkan
(pada kawasan industri)
Penguasaan, pemilikan
penggunaan dan
pemanfaatan tanah yang
telah ada, sepanjang
mendukung kegiatan
utama diizinkan (pada
wilayah industri)

Dilarang,
Diperbolehkan
dengan syarat
Pemanfaatan lahan
untuk fungsi-fungsi
yang berdampak
negatif terhadap
keseimbangan
ekologis
Membangun/
mengembangkan
kegiatan yang tidak
sesuai dengan
kegiatan industri

Lokasi

Kab. Serang:
1.Kragilan.
2.Cikande.
3.Pamarayan.
4.Kopo.
5.Tirtayasa.
6.Pontang.
7.Kasemen.
8.Kramat Watu
9.Bojonegara.
Kab. Pandeglang:
1.Menes.
2.Labuan.
Kab. Lebak:
1.Pangarangan
2.Bayah.
3.Maja.
4.Sajira.
Kab. Tangerang:
1.Pasar Kemis,
2.Balaraja,
3.Cikupa,
4.Kosambi,
5.Legok,
6.Jayanti,
7.Tigaraksa,
8.Sepatan
9.Pagedangan.
Kota Tangerang:
1.Jatiuwung,
2.Batuceper,
3.Cipondoh,
4.Pinang
5.Karang Tengah,
6.Larangan.
Kota Cilegon:
1.Ciwandan,
2.Citangkil,
3.Grogol,
4.Pulomerak.
Kota Tangerang
Selatan:
1.Serpong
2.Setu

IV - 37

Arahan Kegiatan
Kawasan
Budidaya

3.3 Kawasan
Pertambangan

3.4 Kawasan
Pariwisata

Sub kawasan
Diperbolehkan
-

Kegiatan yang diijinkan


adalah industri
penambangan, pengolahan
awal dan pengemasan,
pengangkutan,
pengelolaan dan
pemantauan kawasan,
penelitian.
Jenis bangunan yang
diijinkan adalah bangunan
pengolahan dan
penunjang, fasilitas
pengangkutan dan
penunjangnya, pos
pengawasan dan kantor
pengelola, balai penelitian.
Kegiatan yang diijinkan
adalah kunjungan atau
pelancongan, olahraga
dan rekreasi, pertunjukan
dan hiburan, komersial,
menginap/bermalampenga
matan, pemantauan,
penjagaan dan
pengawasan, pengelolaan
kawasan.
Jenis bangunan yang
diijinkan adalah gardu
pemandangan, restoran
dan fasilitas penunjang
lainnya, fasilitas rekreasi
dan olahraga, tempat
pertunjukan, pasar dan
pertokoan serta fasilitas
parkir, fasilitas
pertemuan, hotel, cottage,
kantor pengelola dan
pusat informasi serta
bangunan lainnya yang
dapat mendukung upaya
pengembangan aktivitas
kepariwisataan.

Dilarang,
Lokasi
Diperbolehkan
dengan syarat
Tersebar di :
Pemanfaatan lahan
untuk kegiatan yang
Kab. Lebak dan
berpotensi untuk
Kab. Pandeglang.
mengganggu
produktivitas kegiatan
pertanian
Kegiatan
pertambangan dengan
mengabaikan
kelestarian
lingkungan

Vandalisme dan
tindakan-tindakan
lainnya yang dapat
mengurangi nilai
obyek wisata serta
dapat mencemari
lingkungan

Kawasan wisata
Pantai Barat
(Anyer, Labuan/
Carita, Tanjung
Lesung dan
Sumur), Komp
Banten Lama, Pel.
Karangantu,
Kawasan wisata
Pantai Selatan
(sepanjang pantai
selatan dari pantai
Muara
BinuangeunPanggaranganBayah),
Permukiman
Baduy
(Leuwidamar,
Cimarga), T.N.
Ujung Kulon
(Cigeulis,
Cimanggu, Sumur,
P. Panaitan, P.
Handeuleum, P.
Peucang, Taman
Jaya, Pantai
Ciputih dan
Gunung Honje)

IV - 38

Arahan Kegiatan
Kawasan
Budidaya
4. Kawasan
Peruntukan
Perkebunan

Sub kawasan
Diperbolehkan
Pemanfaatan lahan untuk
kegiatan agroindustri dan
agrowisata
Pemanfaatan lahan untuk
usaha pertambangan,
dengan syarat memiliki
nilai tinggi serta tidak
menggangu keseimbangan
lingkungan
Pemanfaatan lahan untuk
kegiatan penyediaan
sarana dan prasarana jalan,
listrik, air minum, jaringan
irigasi serta pipa minyak
dan gas; dengan syarat
tidak menurunkan daya
dukung kawasan
Konservasi fungsi sebagai
kawasan pertanian sawah
dengan
mempertimbangkan daya
dukung lingkungan

Dilarang,
Diperbolehkan
dengan syarat
Pemanfaatan lahan
untuk fungsi-fungsi
yang berdampak
negatif terhadap
keseimbangan
ekologis

Lokasi

Kab. Lebak, Kab.


Pandeglang, Kab.
Serang, Kab.
Tangerang, Kota
Serang, Kota
Cilegon dan Kota
Tangerang

Untuk lebih lebih jelasnya mengenai luas dan presentasi arahan pola ruang kabupaten/kota
di Provinsi Banten dapat dilihat pada tabel 4.3 dan rencana pola ruang pada Gambar 4.8
berikut.

IV - 39

Tabel 4.3
Luas dan Presentasi Arahan Pola Ruang kabupaten/kota di Provinsi Banten Tahun 2030
NO

Pola Ruang

Luas dan Presentasi Pola Ruang di Kabupaten / Kota


Kabupaten Serang
Kota Serang
Kabupaten Tangerang
Kota Tangerang
Kota Tangerang Selatan
Kabupaten Pandeglang
Kabupaten Lebak
Kota Cilegon
PROVINSI BANTEN
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Presentasi (%) Terhadap
Luas (Ha)
Luas (Ha)
Luas (Ha)
Luas (Ha)
Luas (Ha) Presentasi (%)
Luas (Ha)
Luas (Ha)
Luas (Ha)
Luas (Ha)
Kabupaten Provinsi
Kota Provinsi
Kabupaten Provinsi
Kota Provinsi
Kota Provinsi
Kabupaten Provinsi
Kabupaten Provinsi
Kota Provinsi

I Kawasan Lindung
1. CA Rawa Danau
2. CA G. Tukung Gede
3. CA Pulau Dua
4. TWA Carita
5. TWA Pulau Sangiang
6. TN Ujung Kulon (TNUK)
7. TN Gunung Halimun-Salak
8. Taman Hutan Raya (TAHURA)
9. Hutan Lindung
10. Kawasan Sekitar Danau atau Waduk
11. Sempadan Pantai
12. Sempadan Sungai
13. Kawasan Rawan Bencana Alam
14. Kawasan Sekitar Mata Air
15. Kawasan Konservasi Cagar Budaya

12,086.88
2,500.00
1,700.00

II Kawasan Budidaya
1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi
2. Kawasan Peruntukan Pertanian
3. Kawasan Peruntukan Perkebunan
4. Kawasan Perkotaan
JUMLAH

528.15

9.15%
1.89%
1.29%

0.40%

4.63% 107.10
100.00%
100.00%
30.00

0.16%

0.04% 5,021.34

4.81%

1.93% 943.29

7.02%

0.36%

66.73

0.40%

96,524.60

40.65%

37.00% 144,382.95

44.41%

55.35% 1,710.20

95.00

0.04%

100.00%

78,619.00

33.11%

100.00%

3,026.52
9,963.66
0.08% 139.77
3,336.84
782.95
322.00
238.86

1.27%
4.20%
0.06%
1.41%
0.33%
0.14%
0.10%

100.00%
48.26%
0.17%
64.49%
9.94%
3.73%
30.33%

59.35%
10.70%
23.12%
21.68%
3.84%

23.32%
43.74%
25.35%
29.09%
5.98%

100.00%

9.96%

0.66% 260,843.09
2,500.00
1,700.00
30.00
95.00
528.15
78,619.00
42,925.15
3,026.52
6.85% 20,646.19
0.02% 83,155.09
5.39% 5,174.19
7,876.79
8,643.00
787.43
5,136.58

30.15%
0.29%
0.20%
0.003%
0.01%
0.06%
9.09%
4.96%
0.35%
2.39%
9.61%
0.60%
0.91%
1.00%
0.09%
0.59%

42,925.15

13.20%

100.00%

4,437.60
80,177.13
245.77
2,838.01
8,321.00
301.71
5,136.58

1.36%
24.66%
0.08%
0.87%
2.56%
0.09%
1.58%

21.49% 1,414.31
96.42% 17.00
4.75% 278.89
36.03%
96.27%
38.32%
100.00%

8.24%
0.10%
1.62%

180,740.29
32,451.57
57,888.78
80,057.18
10,342.76

55.59%
9.98%
17.81%
24.62%
3.18%

29.91% 15,463.37
55.86%
26.73%
1.34
45.24% 2,624.87
6.78% 12,837.16

90.04%
0.01%
15.28%
74.75%

2.56% 604,276.91
58,091.26
0.001% 216,577.54
1.48% 176,956.97
8.41% 152,651.14

69.85%
6.71%
25.03%
20.45%
17.65%

27.45% 325,123.24

100.00%

37.58% 17,173.57 100.00%

1.99% 865,120.00

100.00%

100.00%

100.00%

3,238.77
2,478.33
825.28
569.49

2.45%
1.88%
0.62%
0.43%

15.69%
2.98%
15.95%
7.23%

246.86

0.19%

31.35%

119,999.31
227.70
44,134.82
35,772.56
39,864.23

90.85%
0.17%
33.41%
27.08%
30.18%

19.86%
0.39%
20.38%
20.22%
26.11%

132,086.19 100.00%

0.57%

77.10

0.41%

1,591.85
222.92
1.49% 410.31
2796.26

1.53%
0.21%
0.39%
2.68%

7.71%
0.27% 53.21
7.93%
35.50% 890.08

0.40%

0.06%

66.73

0.40%

6.62%

11.30%

18,732.76

99.43%

3.10% 99,307.75

95.19%

16.43% 12,502.58

92.98%

2.07% 16,622.19

99.60%

474.99
3,090.52
15,167.25

2.52%
16.40%
80.51%

0.22% 59,176.27
1.75% 2,203.03
9.94% 37,928.45

56.72%
2.11%
36.35%

27.32%
1.24% 523.85
24.85% 11,978.73

3.90%
89.09%

0.30% 1,215.16
7.85% 15,407.03

7.28%
92.32%

2.75% 140,908.67
25,411.99
54,901.34
0.69% 51,469.80
10.09% 9,125.54

15.27% 18,839.86

100.00%

2.18% 104,329.09

100.00%

12.06% 13,445.87 100.00%

1.55% 16,688.92

100.00%

1.93% 237,433.27

Sumber : Hasil Analisis, Tahun 2008

IV - 40

Gambar 4.8
Peta Arahan Pola Ruang ganti dengan yang baru diperbaiki yeyet...............

IV - 41

V - 42