Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi
karena perilaku merupakan resultan dari berbagai faktor, baik internal maupun
eksternal (lingkungan). Kesimpulan dari teori teori yang sudah ada bahwa
perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi berbagai gejala kejiwaan,
seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap,
dan sebagainya. Namun demikian, sulit untuk dibedakan atau disimpulkan
gejala kejiwaan yang mana menentukan perilaku seseorang. Apabila ditelusuri
lebih lanjut, gejala kejiwaan tersebut ditentukan atau dipengaruhi oleh
berbagai faktor lain, di antaranya adalah faktor pengalaman, keyakinan,
lingkungan fisik, utamanya sarana dan prasarana, sosio-budaya masyarakat
yang terdiri dari kebiasaan, tradisi, adat istiadat dan sebagainya. Selanjutnya
faktor-faktor tersebut akan menimbulkan pengetahuan, sikap, persepsi,
keinginan, kehendak, dan motivasi yang pada gilirannya akan membentuk
perilaku manusia (Notoatmodjo, 2010).
Keluarga Berencana (KB) adalah usaha untuk mengukur jumlah dan
jarak anak yang diinginkan (Rinawati dkk, 2013). Upaya peningkatan
kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia
sejahtera (Undang-Undang No. 10/1991). Keluarga Berencana (family
planning/Planned parenthood) merupakan suatu usaha menjarangkan atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.
Menurut WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yang membantu

individu/pasutri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari


kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan,
mengatur interval di antara kehamilan, dan menentukan jumlah anak dalam
keluarga (WHO dalam Hartanto, 2010). Kontrasepsi adalah pencegahan
terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan
menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim (Rinawati dkk ,
2013)
Peserta KB aktif (PA) adalah peserta KB baru dan lama yang masih
aktif memakai alat obat kontrasepsi (Alokon) terus menerus hingga saat ini
untuk menjarangkan kehamilan atau yang mengakhii kesuburan (DepKes,
2009). Peserta Aktif Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (PA MKJP) adalah
peserta KB yang saat ini sedang menggunakan salah satu metoda kontrasepsi
jangka panjang, yaitu IUD, MOW, Implan, dan MOP (BKKBN, 2012).
Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) adalah salah satu metode
kontrasepsi yang efektif karena penggunaannya bisa sampai lima tahun.
Banyak faktor yang mempengaruhi peserta KB aktif dalam pemilihan
MKJP menurut teori Green (2005) ada tiga faktor yang mempengaruhi
perilaku seseorang yaitu faktor predisposing, faktor pendukung, dan faktor
pemungkin di antaranya pengetahuan, hasil penelitian Rizali I, dkk (2013)
menunjukan bahwa ada hubungan pengetahuan dengan pemilihan metode
kontrasepsi suntik (Rizali dkk, 2013. http://www.respitori.unhas.ac.id ).
Penelitian Bernadus, dkk (2012) menunjukan terdapat hubungan antara
pengetahuan dengan pemilihan alat kontrasepsi AKDR (Bernandus dkk. 2012.
www.ejournal.unsrat.ac.id

).

Hasil

penelitian

Asmawahyunita

(2010)

menunjukan terdapat hubungan sikap dan pemilihan alat kontrasepsi dalam


rahim di RSIA Kumalasiwi Kabupaten Jepara. Hasil penelitian Putriningrum R
(2010) menunjukan pengetahuan dan faktor peran suami berpengaruh terhadap
keputusan Ibu dalam memilih alat kontrasepsi suntik, kemudian hasil
penelitian Wulandari I, dkk (2013) menunjukan bahwa ada hubungan yang
signifikan tingkat pendapatan keluarga dengan pemilihan alat suntik di Bidan
Praktik Mandiri Puji Utomo, Desa Kedung Jeruk, Kecamatan Mojogedang,
Kabupaten Karanganyar.
Faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi adalah efektivitas,
keamanan, frekuensi pemakaian, efek samping, serta kemauan dan
kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain hal
tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta peran dari
agama dan kultur budaya mengenai kontrasepsi tersebut, faktor lainnya adalah
frekuensi melakukan hubungan seksual (Sulistyawati, 2012).
Menurut Hartanto (2010) faktor-faktor dalam pemilihan metode
kontrasepsi terbagi dalam tiga faktor yaitu faktor pasangan (motivasi dan
rehabilitas) yang terdiri dari umur, gaya hidup, frekuensi senggama, jumlah
keluarga yang diinginkan, pengalaman dengan kontraseptivum yang lalu,
sikap kewanitaan, dan sikap kepriaan. Faktor kesehatan (kontraindikasi
absolut atau relatif) yang terdiri dari status kesehatan, riwayat haid, riwayat
keluarga, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan panggul. Faktor metode
kontrasepsi (penerimaan dan pemakaian berkesinambungan) yang terdiri dari
efektivitas, efek samping minor, kerugian, komplikasi-komplikasi yang
potensial, dan biaya. Hasil penelitian Fienalia (2010) menunjukan ada
hubungan antara umur ibu (p value=0,007) dan OR 2,5,jumlah anak hidup (p

value = 0,000dan OR sebesar 3,9), kelengkapan pelayanan KB (p value =


0,000 dan OR = 5,6), jarak ke tempat pelayanan KB (p value = 0,001 dan OR
= 4,3), biaya penggunaan alat kontrasepsi (p value = 0,000 dan OR = 2,6),
pengetahuan tentang MKJP (p value = 0,004 dan OR = 2,6) dengan
penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang di wilayah kerja Puskesmas
Pancoran Mas.
Penggunaan KB menurut jenis alat/cara KB di Indonesia didominasi
oleh penggunaan KB jenis suntikan KB (34,3%). Berdasarkan jenis alat/cara
KB modern dapat dikelompokkan menurut jenis kandungan hormonal dan
jangka waktu efektivitas. Kelompok KB hormonal terdiri dari KB modern
jenis susuk, suntikan dan pil sedangkan kelompok non hormonal adalah
sterilisasi pria, sterilisasi wanita, spiral/IUD, diafragma dan kondom.
Kelompok alat/cara KB modern menurut jangka waktu efektivitas untuk
MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) terdiri dari susuk, sterilisasi pria,
sterilisasi wanita serta, spiral/IUD, sedangkan kelompok non MKJP adalah
jenis suntikan, pil, diafragma dan kondom. Dominasi kelompok hormonal dan
non MKJP yang sangat dipengaruhi oleh penggunaan KB suntikan yang
tinggi.
Proporsi penggunaan KB di Indonesia pada Riskesdas tahun 2010
(55,8%) dan Riskesdas 2013 (59,7%). Secara umum terjadi peningkatan dalam
periode tiga tahun. Penggunaan KB tahun 2013 bervariasi menurut provinsi,
proporsi penggunaan KB saat ini terendah di Papua (19,8%) dan tertinggi di
Lampung (70,5%). Dominasi penggunaan alat/cara KB modern (59,3%).
Provinsi dengan penggunaan KB modern adalah tertinggi di Lampung (70,2%)
dan terendah di Papua (19,6%).

Cakupan peserta KB aktif di Provinsi Lampung tahun 2012 sebesar


65,91% menurun dibandingkan dengan capaian 2011 yaitu 73,23%, capaian
ini belum mencapai target yang diharapkan dalam Renstra Dinas Kesehatan
Provinsi Lampung sebesar 70%. Berdasarkan distribusi cakupan KB aktif per
Kabupaten Kota di Provinsi Lampung 2012 cakupan peserta KB aktif yang
terendah berada di Kota Bandar Lampung sebesar 29,40% dan tertinggi berada
di Kota Metro sebesar 92,55% (Profil DinKes Lampung, 2012). Disparitas
tingkat prevalensi KB per Kabupaten di masing masing provinsi tahun 2012
Lampung berada di urutan ke dua belas dengan prevalensi KB sebesar 69,55%
dengan jumlah 14 Kabupaten/Kota. Disparitas tingkat prevalensi KB
Kabupaten/Kota yang terendah berada di Kota Bandar Lampung sebesar
66,80% dan tertinggi di Kota Metro sebesar 73,26%. (BKKBN, 2012)
Pada Kota Bandar Lampung tahun 2012 jumlah PUS sebanyak 66,579
jiwa dengan partisipasi masyarakat peserta KB aktif sebesar 19.681 jiwa
(29,6%). Dengan menggunakan kontrasepsi MKJP yaitu IUD sebesar 1,37%,
MOP/MOW sebesar 0,97%, implant sebesar 0,97%, dan yang non MKJP yaitu
suntik sebesar 13,85%, dan pil sebesar 11,63% (Profil DinKes Kota Bandar
Lampung)
Pada Puskesmas Simpur tahun 2013 jumlah PUS sebesar 2.313 jiwa
dengan partisipasi masyarakat sebagai peserta aktif sebesar 1.488 atau 64,33
%. Dengan penggunaan kontrasepsi MKJP IUD sebesar 6,3%, MOP sebesar 0
%, implant sebesar 6,7 %, dan pengguna kontrasepsi non MKJP suntik sebesar
24,6%, pil sebesar 29,4%, dan kondom sebesar 4,9%. Total pengguna MKJP

sebesar 26,41% dan yang Non MKJP sebesar 76,22%

(Data Puskesmas

Simpur, 2013).
Puskesmas Simpur pada bulan Maret 2014 jumlah PUS sebesar 2.313
jiwa dengan partisipasi masyarakat sebagai peserta aktif sebesar 22%. Dengan
pengguna kontrasepsi MKJP IUD sebesar 1%, MOP sebesar 0%, implan
sebesar 3,58%, dan pengguna kontrsepsi non MKJP suntik sebesar 5,14%, pil
sebesar 10,89% dan kondom sebesar 1,34%. Total pengguna MKJP sebesar
4,66% dan yang Non MKJP 17,38% (Data Puskesmas Simpur, 2014).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan masalah
penelitian yaitu faktor faktor apa saja yang berhubungan dengan pemilihan
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) wanita pada peserta KB aktif di
Puskesmas Simpur pada tahun 2014?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) wanita pada peserta KB
aktif di Puskesmas Simpur tahun 2014.
1.3.2

Tujuan Khusus
1. Diketahui distribusi frekuensi pemilihan metode kontrasepsi jangka
panjang (MKJP) wanita, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dan
penghasilan keluarga pada peserta KB aktif di Puskesmas Simpur
tahun 2014.

2. Diketahui hubungan pengetahuan dengan pemilihan metode


kontrasepsi jangka panjang (MKJP) wanita pada peserta KB aktif
di Puskesmas Simpur tahun 2014.
3. Diketahui hubungan sikap dengan pemilihan metode kontrasepsi
jangka panjang (MKJP) wanita pada peserta KB aktif di
Puskesmas Simpur tahun 2014
4. Diketahui hubungan dukungan suami dengan pemilihan metode
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) wanita pada peserta KB aktif
di Puskesmas Simpur tahun 2014
5. Diketahui hubungan penghasilan keluarga dengan pemilihan
metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) wanita pada peserta
KB aktif di Puskesmas Simpur tahun 2014
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Sebagai bahan literatur dan pengembangan materi tentang alat
kontrasepsi MKJP khususnya faktor-faktor yang berhubungan dengan
kegunaannya.
1.4.2

Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat


Sebagai sumber referensi atau bacaan bagi mahasiswa/i FKM
dan peneliti lain.

1.4.3

Bagi tempat penelitian


Sebagai bahan landasan kebijakan pelayanan Keluarga
Berencana (KB) khususnya penggunaan alat kontrasepsi jangka
panjang (IUD, Implant, MOP, dan MOW).

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dibidang kesehatan masyarakat


khususnya dibidang KB mengenai penggunaan MKJP oleh peserta KB aktif
di Puskesmas Simpur tahun 2014. Secara khusus penelitian ini dibatasi oleh
predisposing factor yaitu pengetahuan, sikap dan reinforcing factor yaitu
dukungan suami dan penghasilan keluarga.