Anda di halaman 1dari 17

Referat Kepaniteraan Klinik - Ilmu Kesehatan Jiwa

Terapi Psikososial Pada Anak dengan ADHD


Prilly Pricilya Theodorus
11-2013-058
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
No. Telp (021) 5694-2061
E-mail: prilly.p.theodorus@gmail.com

Abstrack
Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is a common neurodevelopmental disorder
that may affect about 5% children and 2,5% of adults. It is associated with a triad of
symptoms; impulsivity, inattention, and hyperactivity. Children with ADHD tends to be late
in diagnosed because problems occur when they start to attend school. The managements for
children with ADHD are through medication and psychosocial therapy. For psychosocial
therapy itself, the best result came from team work that consist family and school in order to
help the childs impulsive, inattetion, and hyperactive behaviour. Optimum prognosis can be
done by fixing child social function, to decrease child agresivity, and fixing family condition
as soon as possible.
Keyword : ADHD, psychosocial therapy, teamwork.

Abstrak
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) adalah sebuah kelainan dari
perkembangan saraf, yang diderita sekitar 5% anak-anak dan 2,5% dewasa. GPPH
dihubungkan dengan trias simtomnya yakni; impulsivitas, inatensi, dan hiperaktivitas. Anak
dengan GPPH cenderung terlambat didiagnosis karena permasalahan baru timbul ketika anak
sudah mulai bersekolah. Tatalaksana untuk anak dengan GPPH ialah dengan obat dan terapi
psikososial. Pada tatalaksana psikosial, hasil yang paling baik jika ada kerjasama antara pihak
keluarga dan juga pihak sekolah dalam membantu perilaku anak yang impulsive, inatensi,
dan hiperaktif. Prognosis yang optimal dapat didukung dengan cara memperbaiki fungsi
sosial anak, mengurangi agresivitas anak, dan memperbaiki keadaan keluarganya secepat
mungkin.
Kata kunci : ADHD, terapi psikososial, kerjasama tim.

Pendahuluan
ADHD adalah gangguan yang ditandai oleh defisit perhatian, hiperaktivitas, dan perilaku
impulsif.1
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) atau disebut juga Attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD), terdiri atas pola yang tidak menunjukkan atensi yang
persisten dan / atau perilaku yang impulsif serta hiperaktif, yang bersifat lebih berat dari yang
diharapkan pada anak dengan usia dan tingkat perkembangan yang serupa. Untuk memenuhi
kriteria diagnosis ADHD, beberapa gejala harus ada sebelum usia 7 tahun, meskipun banyak
anak yang tidak terdiagnosis hingga usia mereka lebih dari 7 tahun, yakni saat perilaku
mereka menimbulkan masalah di sekolah dan di tempat lain. Hendaya akibat tidak adanya
atensi dan atau hiperaktivitas-impulsivitas harus ada pada sedikitnya dua keadaan dan
mengganggu fungsi secara sosial, akademik, dan aktivitas ekstrakurikuler yang sesuai
perkembangan. Gangguan ini tidak boleh ada di dalam perjalanan gangguan perkembangan
pervasif, skizofrenia, atau gangguan psikotik lain, serta tidak boleh disebabkan oleh
gangguan jiwa lain.

Definisi
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) adalah sebuah kelainan daripada
perkembangan saraf (neurodevelopmental disorder), dimana ini dapat mengenai sekitar 5%
anak-anak dan 2,5% dewasa. GPPH dihubungkan dengan trias simtomnya yakni;
impulsivitas, inatensi, dan hiperaktivitas.

Epidemiologi
Sebanyak 3-5% anak umur sekolah terkena ADHD (DSM IV) dengan ratio anak laki-laki
dengan perempuan 4:1. Onset biasanya <7 tahun, gejala-gejala berlangsung selama >6
bulan.1 Gejala ADHD sering muncul pada usia 3 tahun, tetapi diagnosis umumnya tidak
didapatkan hingga anak akhirnya masuk sekolah dan mulai menimbulkan masalah di sekolah
melalui laporan guru sekolah.2
Etiologi3
Yang menjadi penyebab dari ADHD adalah faktor-faktor lingkungan dan sifat keturunan,
bukan bagaimana caranya anak itu dibesarkan, yaitu:3
-

Perubahan fungsi dan anatomi otak. Terdapat perbedaan struktur otak dan aktivitas
area otak yang mengontrol tingkat aktivitas dan perhatian.

Keturunan. ADHD cenderung menurun dalam satu keluarga.

Merokok, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, serta paparan terhadap toksin


selama kehamilan. Keempat hal ini akan meningkatkan resiko lahirnya anak dnegan
ADHD. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan selama kehamilan dapat
menurunkan aktivitas sel saraf (neuron) yang menghasilkan neurotransmitter.

Paparan terhadap toksin-toksin di lingkungan. Paparan terhadap logam berat seperti


lead (Pb) akan menyebabkan perilaku yang disruptif bahkan agresif, dan
mempengaruhi kemampuan berkonsentrasi.

Zat tambahan dalam makanan. Bahan-bahan yang ditambahkan ke makanan seperti


pewarna buatan atau pengawet makanan dapat menjadikan anak hiperaktif. Walaupun
gula sering dicurigai menyebabkan hiperaktivitas, tidak terdapat bukti yang nyata.

Faktor resiko
Faktor resiko ADHD adalah paparan maternal terhadap toksin, merokok, minum alkohol atau
menggunakan narkoba selama kehamilan, riwayat keluarga ADHD atau gangguan perilaku
dan mood lainnya, serta berat badan lahir rendah.4

Patofisiologi
Perjalanan ADHD itu bervariasi, ada yang mengalami remisi, ada yan menetap.
1. Persisten atau menetap. Pada 40-50% kasus, gejala akan persisten hingga masa remaja
atau dewasa.3 Gejala akan lebih cenderung menetap jika terdapat riwayat keluarga,
peristiwa negatif dalam hidupnya, komobiditas dengan gejala-gejala perilaku, depresi
dan gangguan cemas. Dalam beberapa kasus, hiperaktivitasnya akan menghilang,
tetapi tetap mengalami inatensi dan kesulitan mengontrol impuls (tidak hiperaktif,
tetapi impulsif dan ceroboh). Anak ini rentan dengan penyalahgunaan alkohol dan
narkoba, kegagalan disekolah, sulit mempertahankan pekerjaan, serta pelanggaran
hukum.2
2. Remisi. Pada 50% kasus, gejalanya akan meringan atau menghilang pada masa
remaja atau dewasa muda. Biasanya remisi terjadi antara usia 12 hingga 20 tahun.
Gejala yang pertama kali memudar adalah hiperaktivitas dan yang paling terakhir
adalah distractibility.3
a. Remisi total. Anak yang mengalami remisi total akan memiliki masa remaja dan
dewasa yang produktif, hubungan interpersonal yang memuaskan, dan memiliki
gejala sisa yang sedikit.

b. Remisi parsial. Pada masa dewasanya, anak dengan remisi parsial mudah menjadi
antisosial, mengalami gangguan mood, sulit mempertahankan pekerjaan,
mengalami kegagalan disekolah, melanggar hukum, dan menyalahgunakan
alkohol dan narkoba.

Diagnosis
Gejala ADHD lebih jelas terlihat pada aktivitas-aktivitas yang membutuhkan usaha mental
yang terfokus. Agar dapat didiagnosa dengan ADHD< tanda dan gejalanya harus muncul
sebelum usia 7 tahun, kadang sampai semuda usia 2-3 tahun.3 Gejala ADHD terbagi menjadi
tiga kelompok, yaitu kurang perhatian atau inattentiveness, hiperaktivitas, dan perilaku
impulsif atau impulsivity.4 Gejala akan meringan seiring pertumbuhan anak, tetapi tidak akan
menghilang sepenuhnya.3,4.
Kriteria Diagnosis untuk ADHD dapar berupa:2-5
1. Tanda dan gejala inatensi adalah:2,3
Seringkali gagal memperhatikan detail/perincian atau membuat kecerobohan dalam
mengerjakan tugas dari sekolah ataupun aktivitas lainnya, serta berganti-ganti kegiatan
dengan cepat.
Sering mengalami kesulitan untuk menjaga tingkat atensi yang sama selama
mengerjakan tugas atau bermain atau kesulitan berkonsentrasi pada satu kegiatan saja.
Terlihat seperti tidak mendengar walaupun diajak berbicara langsung.
Mengalami kesulitan untuk mengikuti perintah dan sering gagal menyelesaikan tugas
dari sekolah, pekerjaan rumah, ataupun tugas-tugas lainnya.
Menghindari atau tidak menyukai atau mengalami kesulitan tugas-tugas yang
membutuhkan usaha mental yang lama, seperti tugas dari sekolah atau pekerjaan rumah,
Seringkali kehilangan barang yang diperlukan seperti buku, pensil, mainan atau
peralatan.
Mudah bosan pada suatu tugas atau kegiatan, kecuali melakukan sesuatu yang mereka
sukai.
Mengalami kesulitan untuk memfokuskan diri pada mengorganisasi dan menyelesaikan
suatu tugas atau mempelajari sesuatu yang baru.
Perhatiannya dapat teralihkan dengan mudah.
Mengalami kesulitan untuk memproses informasi secepat dan seakurat anak lain.
Kesulitan untuk mengikuti instruksi.

Berkhayal, mudah menjadi bingung, dan bergerak dengan lamban.


Seperti tidak mendengar ketika diajak berbicara.
Pelupa.
2. Tanda dan gejala perilaku hiperaktivitas:2,3
Gelisah, tidak bisa diam ditempat duduk, selalu bergerak ditempat duduk.
Berbicara nonstop.
Seringkali berdiri meninggalkan bangkunya dikelas atau situasi lainnya dimana
seharusnya tetap duduk.
Berlari atau memanjat berlebihan ketika tidak seharusnya, atau pada remaja, selalu
merasa gelisah.
Sulit untuk bermain dengan tenang
Selalu siap bergerak.
3. Tanda dan gejala impulsivitas:2,3
Berbicara berlebihan.
Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaannya selesai dikatakan.
Seringkali sulit menunggu gilirannya.
Seringkali menyela atau mengganggu pembicaraan atau permainan orang lain.
Perilaku ADHD pada anal laki-laki dan wanita dapat berbeda, seperti:2
Anak laki-laki lebih cenderung hiperaktivitasnya yang menonjol, sedangkan anak
perempuan lebih sering tidak terdiagnosa karena cenderung inatentif secara diam-diam.
Anak perempuan yang sulit berkonsentrasi, seringkali berkhayal, tetapi anak laki-laki
yang inatentif lebih cenderung bermain atau bergerak tanpa tujuan.
Anal laki-laki lebih cenderung kurang menurut dengan guru atau orang dewasa lainnya,
sehingga perilakunya cenderung lebih mudah diamati.
Dapat digolongkan ADHD jika perilaku-perilaku diatas:2,5
Berlangsung lebih dari enam bulan.
Muncul sebelum berusia 7 tahun.
Terjadi pada lebih dari satu setting (sekolah dan rumah).
Mengganggu aktivitas sekolah, bermain, dan aktivitas sehari-hari lainnya secara reguler.

Menyebabkan masalah dalam hubungannya dengan orang dewasa dan anak-anak


lainnya.
Pada bayi:2
Anak dg ADHD sangat sensitif terhadap bunyi, cahaya, suhu, serta perubahan lingkungan
lainnya, sehingga sangat aktif dalam buaian, tidurnya sangat sedikit, dan sering menangis.
Atau sebaliknya, tenang dan lemas, tidur berlebihan, dn berkembang sangat lambat pada
beberapa bulan pertama.

Manifetasi klinik
Ciri khas anak ADHD yang paling sering disebutkan ialah; hiperaktivitas, hendaya motorik
perseptual, labilitas emosi, defisit koordinasi umum, defisit atensi (rentang atensi singkat,
mudah teralih perhatiannya, perseverasi, gagal menyelesaikan tugas, inatensi, konsentrasi
buruk), impulsivitas (bertindak sebelum berpikir, pergeseran tiba-tiba dalam beraktivitas,
kurang teratur, melompat dalam kelas), defisit daya ingat dan berpikir, ketidakmampuan
belajar spesifik, defisit pendengaran dan bicara, serta tanda neurologis ekuivokal dan
ketidakteraturan EEG. Kesulitan di sekolah, baik daam belajar atau perilaku, adalah masalah
lazim yang sering timbul bersama dengan ADHD; kesulitan ini kadang-kadang yang datang
akibat gangguan komunikasi atau gangguan belajar yang ada atau akibat mudah teralih
perhatiannya / atensi yang berflutuasi, yang menghambat perolehan retensi, dan penunjukan
pengetahuan. Kesulitan ini terutama diamati secara khusu pada tes kelompok.2

Tatalaksana
Terapi standar anak dengan ADHD terdiri dari medikasi dan konseling. Terapi lainnya adalah
untuk meringankan efeksi gejala ADHD, yaitu akomodasi khusus didalam ruang kelas, serta
dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar. Mengobati ADHD merupakan kerjasama
antara pemberi pelayanan kesehata, orangtua atau pengasuh, dan anak itu sendiri. Agar terapi
sukses, harus membuat target terapi yang spesifik dan sesuai, memulai terapi medikamentosa
dan perilaku, serta melakukan followup dengan dokter untuk memeriksa target, hasil, dan
efek samping pengobatan. Selama pengecekan ini, gali informasi dari orangtua, guru dan
anak itu sendiri. Jika pengobatan tampaknya tidak berpengaruh, pemberi pelayanan kesehatan
sebaiknya memastikan apakah anak tersebut memang memiliki ADHD, memeriksan apakah
ada alasan lain yang mungkin menyebabkan gejala yang mirip, dan memastikan bahwa
rencana pengobatan diikuti dengan baik.2,6

a. Medika Mentosa
1. Psikostimulan atau stimulan
Adalah obat ADHD yang paling sering digunakan.1 Walaupun disebut stimulan, tetapi
memiliki efek menenangkan pada orang dengan ADHD. Obat-obatan ini adalah
Amfetamin-dekstroamfetamin

(Adderall),

Deksmetilfenidat

(Focalin),

Dekstroamfetamin (Dexedrine, Dextrostat), Lisdeksamfetamin (Vyvanse), dan


Metilfenidat (ritalin, Concerta, Metadate, Daytrana). Yang terdapat di Indonesia
adalah golongan metilfenidat dan dekstroamfetamin, hanya dengan merek dagang
yang berbeda.4
Obat ini bekerja dengan meningkatkan dan menyeimbangkan kadar neurotransmitter
otak, sehingga memperbaiki tanda-tanda dan gejala-gejala inti (inatensi, impulsivitas
dan hiperaktivitas). Tetapi obat-obatan ini hanya bekerja untuk waktu terbatas. Selain
itu, dosisnya berbeda pada tiap anak, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama
hingga tercapai dosis yang sesuai.3,6
Ada 2 jenis stimulan, yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Yang jangka panjang
berfungsi selama 6-12 jam, sementara yang jangka pendek berfungsi selama kurang
lebih 4 jam. Metilfenildat merupakan stimulan jangka panjang yang berupa patch
ditempelkan pada pinggul dan berfungsi selama 9 jam. Walaupun dapat bekerja
selama 9 jam, tetapi obat ini baru akan berfungsi setelah 3 jam. Agar dapat bekerja
pada pagi hari, patch-nya harus ditempelkan sewaktu anak masih tertidur.
Efek samping paling umum dari obat-obatan stimulan adalah penurunan selera
makan, penurunan berat badan, gangguan tidur, dan irritability sewaktu efek obat
berkurang. Beberapa anak dapat menderita gerakan otot yang menyentak, seperti tics,
yang akan menghilang sewaktu dosis diturunkan. Obat ini juga dapat sedikit
menurunkan kecepatan pertumbuhan anak, walaupun pada sebagian besar kasus, tidak
ada efek permanen. Efek samping yang jarang terjadi adalah kematian anak karena
penyakit jantung, terutama pada yang telah memiliki penyakit jantung atau defek
jantung.3,6
Sebelum memberikan obat jenis ini kepada anak, sebaiknya lakukan pemeriksaan
fisik, tekanan darah, denyut nadi, berat badan dan tinggi badan anak. Selain itu
periksa tekanan darah, denyut nadi, berat badan dan tinggi badan pasien tiap 3 bulan
sekali dan lakukan pemeriksaan fisik tiap tahun.1,7

Tabel 1. Obat-obatan Stimulan untuk Terapi ADHD7


Nama Obat

Sediaan

Lama

(mg)

kerja

Dosis Anjuran

Golongan Metilfenildat
Ritalin

5, 10, 15, 3-4 jam

0,3-1

20

~60mg/hari

mg/kg

Ritalin-SR

20

8 jam

~60mg/hari

Concerta

18, 36, 54

12 jam

~54mg/tiap pagi

Metadate ER

10,20

8 jam

~60mg/hari

Metadate CD

20

12 jam

~60mg/tiap pagi

Ritalin LA

5, 10, 15, 8 jam

3x/hari;

20
Golongan
Deksmetilfenidat
Focalin

2,5, 5, 10

3-4 jam

~10mg

Focalin XR

5, 10, 20

6-8 jam

~20mg

5, 10

3-4 jam

0,15-0,5mg/kgBB

Golongan
Dekstroamfetamin
Dexedrin

2x/hari;

~40mg/hari
Dexedrin Spansule

5, 10, 15

8 jam

~40mg/tiap pagi

Golongan
Dekstroamfetamin

&

Garam Amfetamin
Adderall

Adderall XR

5, 10, 20, 4-6 jam

0,15-0,5mg/kgBB

30

~40mg/hari

10, 20, 30

12 jam

2x/hari;

~40mg/tiap pagi

2. Non-Stimulan
Obat nonstimulan, yaitu Atomoksetin (Strattera) dapat bekerja sebaik stimulan, tetapi
kemungkinan penyalahgunaan lebih rendah.

Obat ini diberikan pada anak dengan ADHD yang tidak merespon obat-obatan
stimulan atau mengalami efek samping pada pemberian stimulan. Selain mengurangi
gejala ADHD, atomoksetin juga dapat mengurangi rasa cemas. Obat ini diberikan satu
atau dua kali sehari. Efek samping dari atomoksetin adalah rasa mual dan sedasi,
penurunan selera makan dan berat badan. Efek samping yang jarang muncul adalah
gangguan fungsi hati yang ditandai dengan kulit yang berwarna kuning (jaundice),
urin berwarna gelap atau gejala-gejala flu yang tidak dapat dijelaskan, peningkatan
resiko timbulnya ide-ide bunuh diri pada anak dan remaja atau tanda-tanda depresi
lainnya. Tetapi obat ini tidak dijual diIndonesia.3,4,6
Tabel 2. Obat-obatan Nonstimulan untuk Terapi ADHD7
Obat
Golongan

Sediaan (mg)

Dosis Anjuran

10, 18, 25, 40

(0,5-1,8mg/kgBB)

Amoksetin

HCl
Strattera

40-80

mg/haril

boleh dibagi menjadi 2 dosis


Golongan Bupropion
Wellbutrin

75, 100

(3-6mg/kgBB)

150-300mg/hari;

~150mg/x, 2x/hari
Wellbutrin SR

100, 150

(3-6mg/kgBB)
~150mg/tiap

150-300mg/hari;
pagi;

>150mg/hari,

2x/hari
Golongan Venlafaxin
Effexor

25, 37,5 , 50, 75, 25-150 mg/hari; 2x/hari


100

Effexor XR

37,5, 75, 150

37,5-150mg tiap pagi

0,1, 0,2, 0,3

3-10g/kg/hari dibagi 3dosisl hingga

Golongan Agonis adrenergik


Clonidine (Catapres)

0,1mg 3x/hari
Guanfacine (Tenex)

1, 2

0,5-1,5mg/hari

3. Antidepresan
Obat ini digunakan pada anak yang tidak merespon stimulan atau atomoksetin, dan
memiliki gangguan mood penyerta.3
4. Obat anti hipertensi
Beberapa yang dimaksud seperti Clonidine (Catapres) dan Guanfacine (Intuniv,
Tenex). Obat ini akan membantu menredakan gejala-gejala ADHD. Diberikan untuk
mengurangi tics atau insomnia yang disebabkan obat ADHD lainnya atau mengobati
agresi yang disebabkan oleh ADHD.3

b. Non-Medika Mentosa
Tatalaksan lain untuk anak dengan ADHD ialah terapi psikososial. Hal ini meliputi
terapi perilaku. Terapi perilaku dan konseling diberikan oleh psikiater, psikolog, atau
petugas kesehatan jiwa lainnya. Beberapa anak dengan ADHD juga mengalami
kondisi lainnya seperti gangguan cemas dan depresi. Konseling dapat membantu
ADHD dan masalah penyertanya.
Pengobatan psikososial adalah bagian penting dari pengobatan untuk attention-deficit
/ hyperactivity disorder (ADHD) pada anak-anak dan remaja. Literatur ilmiah, Institut
Nasional Kesehatan Mental (NAMI - National Alliance on Mental Illness), dan
banyak organisasi profesional setuju bahwa perawatan psikososial berorientasi
perilaku - juga disebut terapi perilaku atau modifikasi perilaku - dan obat stimulan
memiliki dasar yang solid menunjukkan adanya efektivitas. Modifikasi perilaku
adalah satu-satunya pengobatan nonmedis untuk ADHD dengan basis bukti ilmiah
yang besar. Mengobati ADHD pada anak-anak sering melibatkan intervensi medis,
pendidikan dan perilaku. Pendekatan ini komprehensif untuk pengobatan disebut
"multimodal" dan terdiri dari orang tua dan anak pendidikan tentang diagnosis dan
pengobatan, teknik manajemen perilaku, obat-obatan, dan pemrograman sekolah dan
mendukung.Tingkat keparahan dan jenis ADHD mungkin faktor dalam menentukan
komponen yang diperlukan. Pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan unik
dari masing-masing anak dan keluarga.8

Terapi psikososial dapat dibagi menjadi terapi kognitif, terapi interpersonal,


dan terapi perilaku. Terapi psikososial ini mempunyai kelebihan yaitu adanya
pendekatan mendalam terhadap individu yakni mendorong pasien untuk melihat ke
dalam solusi, bukan tergantung pada sumber-sumber eksternal.9

Terapi psikososial10

Terapi psikososial meliputi beberapa tipe berbeda dari psikoterapi dan pelatihan ketrampilan,
dengan tujuan menyediakan dukungan (support). Edukasi dan pedoman untuk orang-orang
dengan penyakit kejiwaan dan keluarga mereka. Terapi ini nantinya akan mendatangkan hasil
yang baik seperti berkurangnya frekuensi dirawat di rumah sakit, kesulitan dalam rumah, di
sekolah dan di tempat bekerja.

Jenis-Jenis Terapi Psikososial:

Psikoterapi
Terapi ini umumnya disebut juga dengan terapi bicara. Psikoterapi adalah ketika sang
pasien, keluarganya, atau bisa juga pasangan atau kelompok duduk bersama dan
berbicara dengan terapis atau tenaga kesehatan dalam bidang kejiwaan. Psikoterapi
membantu pasien belajar tentang situasi perasaan (mood), pikiran, perilaku dan
bagaimana mereja dapat memaknai hidup mereka. Terapi ini juga menyediakan caracara untuk menstruktur ulang cara berpikir dan merespon terhadap stres kondisikondisi lain.

Psikoedukasi
Psikoedukasi mengajarkan orang tentang penyakit mereka dan bagaimana mereka
akan menerima penatalaksanaannya. Psikoedukasi juga meliputi edukasi kepada
keluarga dan teman dimana mereka belajar beberapa hal seperti strategi Coping,
ketrampilan memecahkan masalah (problem solving skills), dan bagaimana mengenali
tanda-tanda kekambuhan dari pasien. Psikoedukasi pada keluarga dapat menolong
menurunkan ketegangan (tension) dalam rumah, dimana hal ini dapat membantu
pasien dengan penyakit kejiwaan untuk sembuh.

Self-Help dan Support Group


Metode self-help dan gruoup support dapat membantu mengatasi perasaan terisolasi
atau menyendiri dan membantu dalam menambah insight pada kondisi mental pasien.
Anggota-anggota dari support group dapat berbagi perasaan frustasi dan keberhasilan
mereka, serta mendapat rujukan untuk bergabung dengan komunitas (support group)
yang cocok, dan tips mengenai hal terbaik apa yang perlu dilakukan ketika sedang
dalam tahap penyembuhan.

Dalam terapi ini, pasien juga dapat membentuk sebuah perkawanan dengan anggota
lain dalam kelompok tersebut dan saling membantu dalam proses penyembuhan.

Rehabilitasi Psikososial
Rehabilitasi Psikososial membantu mengembangkan sosial, emosi, dan ketrampilan
intelektual yang mereka butuhkan untuk hidup bahagia dengan jumlah tenaga
profesional sesedikit munkgin. Rehabilitas psikososial menggunakan 2 strategi untuk
intervensinya, yakni: mempelajari tentang ketrampilan Coping dimana mereja
nantinya akan lebih baik dalam menangangi lingkungan yang berat (stressful
environment) dan megembangkan sumber daya yang nantinya akan mengurangi
stresor-stresor di kemudian hari.

Berikut terapi psikososial untuk anak dengan ADHD:11


A. Konseling
1. Terapi Perilaku. Guru dan orang tua dapat mempelajari strategi-strategi yang dapat
mengubah perilaku anak untuk menangani situasi yang sulit. Strategi-strategi ini dapat
berupa sistem reward dan timeout.
2. Psikoterapi. Ini memungkinkan anak dg ADHD yang lebih tua untuk membicarakan
masalah-masalah yang mengganggunya, menelaah pola tingkah laku dan belajar cara
untuk menangani gejalanya.
3. Parenting Skills Training. Ini akan membantu orang tua mengembangkan cara untuk
memahami dan mengarahkan perilaku anaknya.
4. Terapi Keluarga. Cara ini dapat membantu orangtua dan saudaranya untuk mengatasi
stress hidup dengan orang dengan ADHD.
5. Pelatihan social skills. Ini akan membantu anak mempelajari perilaku sosial yang sesuai.
6. Kelompok Dukungan. Kelompok support dapat memberikan anak dengan ADHD dan
orangtuanya jaringan dukungan sosial, informasi, dan pendidikan.
B. Terapi Perilaku
Terapi saling berbicara untuk anak dan keluarganya akan membantu semua pihak memahami
dan mengatasi perasaan-perasaan tertekan karena ADHDnya. Orangtua sebaiknya
menggunakan sistem reward dan hukuman untuk membantu angarahkan perilaku anaknya.
Mempelajari bagaimana mengatasi perilaku disruptif sangatlah penting. Kelompok
pendukung dapat membantu keluarga untuk berhubungan dengan orang lain yang memiliki
masalah yang sama.

C. Terapi Gaya Hidup dan Penanganan di rumah


Karena ADHD merupakan gangguan yang kompleks, dan setiap orang dengan ADHD itu
gejalanya unik, sulit memberikan anjuran yang tepat bagi tiap anak. Tetapi beberapa hal
berikut mungkin dapat membantu.
(i)Di Rumah
Tunjukkan kasih sayang anda pada anak. Anak-anak perlu mendengar bahwa mereka
dicintai dan dihargai. Hanya memperhatikan aspek-aspek negatif perilaku anak dapat
merusak hubungan orangtua dan anak atau merusak rasa percaya diri dan harga diri anak.
Jika anak sulit menerima tanda-tanda verbal rasa kasih sayang, berikan senyuman, tepuk
pundaknya, atau peluk anak untuk menunjukkan kasih sayang. Puji perilaku yang baik.
Bersabarlah. Tetap sabar dan tenang ketika menangani anak, walaupun sepertinya tidak
dapat dikontrol. Jika orangtua tenang, anak akan menjadi lebih tenang.
Jaga perspektif diri. Orangtua harus realisitis dalam pengharapan akan perbaikan kondisi
anak.
Kenali anak. Bermainlah bersama anak. Luangkan waktu dimana anak hanya bermain
dengan orangtua, tanapa ada orang lain. Coba berikan perhatian positif daripada negatif.
Jaga agar anak memiliki jadwal tidur dan makan yang tetap. Gunakan kalender yang
besar untuk menandari aktivitas-aktivitas penting yang akan terjadi. Anak dengan ADHD
mengalami kesulitan untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Hindari
transisi yang tiba-tiba dari satu aktivitas menjadi aktivitas lainnya.
Pastikan anak beristirahat cukup. Anak yang tidak cukup istirahat akan menunjukkan
gejala ADHD yang lebih buruk.
Identifikasi situasi yang sulit. Coba hindari situasi yang sulit bagi anak anda, seperti
duduk diam selama presentasi yang panjang atau berbelanja di Mall dan Supermarket
dimana aneka ragam barang dapat membuatnya bingung.
Gunakan timeout atau hilangkan priviledge untuk mendisiplinkan anak. Untuk anak
dengan ADHD, timeout dari stimulasi sosial sangat efektif. Sebaiknya timeout dilakukan
dengan waktu yang singkat, tetapi cukup lama bagi anak untuk mengontrol dirinya.
Intinya adalah untuk memutuskan dan menghentikan perilaku yang tak terkontrol. Ini
tidak selelalu dapat diterapkan, tetapi bagi banyak orang telah terbukti dapat membantu
mengatasi perilaku anak yang impulsif atau overaktif.
Bantu anak anda mengorganisir dan membuat sebuah buku tugas harian. Dan pastikan
anak memiliki tempat yang tenagn untuk belajar. Kelompokkan barang-barang dalam

kamar anak dan simpan dalam tempat-tempat yang ditandai dengan jelas. Jaga
lingkungan anak tetap terorganisir dan rapi.
Cari cara untuk memperbaiki rasa percaya diri dan rasa disiplin anak. Anak dengan
ADHD seringkali berprestasi dalam membuat karya seni, les musik atau les menari, atau
les bela diri, terutama karate atau tae kwon do. Tetapi jangan memaksa anak ke dalam
aktivitas yang diluar kemampuannya. Beberapa kesuksesan kecil yang berturut-turut
lebih membangun rasa percaya diri anak dari pada satu kesuksesan yang besar.
Gunakan kata-kata yang singkat dan demonstrasikan ektika memberikan anak instruksi.
Berbicaralah dengan perlahan dan tenang, bicaralah dengan spesifik dan konkret.
Berikan instruksi satu demi satu. Hentikan anak dan lakukan kontak mata dengan anak
sebelum dan selama memberikan instruksi.
Orangtua juga harus beristirahat. Jika orangtua kelelahan dan stress, akan menjadi
kurang efektif sebagai orangtua.

(ii) Di sekolah
Tanyakan program sekolahnya.
Apakah ada program khusus disekolah tersebut untuk anak dengan ADHD. Ini dapat
termasuk penyesuaian kurikulum, perubahan tata urang kelas, modifikasi teknik
mengajar, instruksi keahlian belajar, serta peningkatan kerjasama antara orangtua dan
guru.
Orangtua perlu berbicara dengan guru.
Sebaiknya orangtua berkomunikasi dengan guru ankanya, dan mendukung usaha guru
untuk menangani anak didalam kelas. Pastikan guru mengawasi belajar anak, dan
memberikan umpanbalik positif, fleksibel dan sabar. Minta agar guru memberikan
instruksi dan target yang jelas.
Penggunaan komputer didalam kelas.
Anak dengan ADHD cenderung mengalami kesulitan menulis dan penggunaan komputer
atau mesin ketik akan sangat membantu, berangkat dari tersebut orang tua perlu
mendiskusikan hal ini juga dengan guru atau pihak sekolah.

(iii)Coping dan Dukungan


Mengasuh anak dengan ADHD merupakan tantangan bagi seluruh keluarganya. Orangtua
mungkin akan tersakiti oleh perilaku anaknya dan bagaimana orang lain bereaksi terhadap

perilaku anaknya. Stress menangani anak dengan ADHD dapat menekan pernikahannya.
Belum lagi ditambah dengan beban keuangan yang ditangggung oleh karena ADHD.
Saudara-saudara anak dengan ADHD juga mungkin mengalami kesulitan. Mereka dapat
terpengaruh oleh saudaranya yang agresif atau menuntut tersebut, dan juga mungkin akan
menerima perhatian yang lebih sedikit, karena anak dengan ADHD membutuhkan waktu dan
perhatian yang lebih banyak dari orangtuanya.
Teknik Coping
Banyak orangtua yang menyadari pola perilaku anaknya dan respons mereka terhadap
perilaku mereka itu. Contohnya, anak mungkin akan menangis meraung-raung sebelum
waktunya makan malan, dan orangtuanya akana memberikan cemilan agar anak itu diam
sementara orangtua menyiapkan makanan. Ini secara tidak langsung mendorong anak untuk
mengulang perilakunya. Merubah kebiasaan lama dengan yang baru memang sulit dan
membutuhkan kerja keras. Jadi pastikan orangtua memiliki target dan pengharapan yang
realisitis, sesuai dengan kemampuan fisik dan mental anak. Susun target-target kecil bagi
orangtua dan anak, serta jangan mencoba nutuk membuat perubahan yang besar atau banyak
sekaligus.

Preventif
Sampai saat ini tidak ada cara mencegah ADHD. Tetapi ada cara untuk mencegah masalah
yang mungkin ditimbulkannya, serta untuk memastikan bahwa sang anak akan sesehat
mungkin. Baik itu sehat secara fisik, mental, ataupun emosional, yaitu:2
Hindari penggunaan apapun yang dapat mengganggu pertumbuhan fetus selama
kehamilan. Jangan merokok, minum alkohol, ataupun menggunakan narkoba atau obatobat yang dapat merusak janin.
Lindungi anak dari paparan polutan dan toksin, termasuk asap rokok, bahan kimia untuk
pertanian (pestisida, pupuk kimia) atau industru, dan cat yang mengandung Pb.
Selalu konsisten. Buat batasan dan hukuman yang jelas untuk perilaku anak.
Susun jadwal kegiatan rutin anak dengan tujuan yang jelas yang termasuk waktu tidur,
kegiatan pagi hari, waktu makan, tugas-tugas sederhana dirumah dan waktu menonton
TV.
Hindari multitasking ketika berbicara dengan anak, lakukan kontak mata saat
memberikan instruksi, dan berikan pujian pada anak setiap hari.

Bekerjasama dengan guru dan pengasuh untuk mengidentifikasi masalah sedini mungkin.
Jika anak memang memiliki ADHD atau kondisi lainnya yang mengganggu
pembelajaran atau interaksi sosial, pengobatan dini dapat mengurangi efek dari
kondisinya.

Komplikasi
ADHD dapat membuat anak-anak mengalami:6,7
Kesulitan belajar didalam kelas, yang dapat menyebabkan kegagalan akademik dan
dihakimi oleh anak-anak lainnya dan orang dewasa.
Cenderung untuk mengalami kecelakaan dan berbagai macam cedera lebih sering
daripada anak lainnya.
Lebih cenderung mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman dan orang
dewasa.
Lebih beresiko menyalahgunakan alkohol dan narkoba, serta tindakan-tindakan
delinquent lainnya.

Prognosis
Prognosa anak dengan ADHD tergantung dari derajat persistensi psikopatologi komorbidnya,
terutama gangguan perilaku, disabilitas sosial, serta faktor-faktor keluarga. Prognosa yang
optimal dapat didukung dengan cara memperbaiki fungsi sosial anak, mengurangi agresivitas
anak, dan memperbaiki keadaan keluarganya secepat mungkin.7

DAFTAR PUSTAKA

1. Brough H, Alkurdi R, Nataraja R, Surendranathan A. Rujukan cepat pediatri dan


kesehatan anak. Gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (ADHD). Penerbit buku
kedokteran EGC : 2008. h. 95-6.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ganguan defisit atensi. Edisi II.
Penerbit buku kedokteran EGC : 2010. h. 597-601.
3. Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) in Children by MayoClinic Staff. 5
Maret 2015. Diunduh dari: http://www.mayoclinic.com/health/adhd/DS00275. 29 Juni
2015.
4. Facts

about

ADHD.

18

Maret

2015.

diunduh

dari:

http://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/facts.html. 29 Juni 2015.


5. Attention deficit hyperactivity disorder. Davis Zieve, Fred K. Berger. 18 Maret 2015.
Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002518/. 29 Juni
2015.
6. ADHD diagnosis. Anandya M. 28 Mei 2012. Diunduh dari: http://www.newsmedical.net/health/ADHD-Diagnosis.aspx. 30 Juni 2015.
7. Junior WWH, Levin MJ, Deterding RR, Abzug MJ. LANGE Current diagnosis and
treatment pediatrics : Attention-deficit hyperactivity disorder. Ed. XXII. United States
of America: McGraw-Hill Education; 2014. h. 210-4.
8. Psychosocial Treatment for Children and Adolescents with ADHD (WWK7).
Diunduh dari: http://www.help4adhd.org/en/treatment/behavioral/wwk7. 30
Juni 2015.
9. Crane R. Mindfulness-Based Cognitive Therapy. 2009: h. 15-21.
10. Psychosocial Treatments. Diunduh dari: https://www.nami.org/LearnMore/Treatment/Psychosocial-Treatments. 1 Juli 2015.
11. Kaiser NM, Pfiffner LJ. Journal of Psychiatric annals. Evidence psychosocial
treatments

for

childhood

ADHD.

PsychiatricAnnalsOnline.com. h. 41:1.

January

2011.

Diunduh

dari