Anda di halaman 1dari 12

KORUPSI

Disusun Oleh :
Nurul Fadhilah 14330147

TUGAS ETIKA

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL


FAKULTAS MIPA
PROGRAM STUDI FARMASI
JAKARTA SELATAN
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya sehingga penulisan paper Etika ini telah diselesaikan. Paper ini ditujukan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Etika yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Dahmir
Dahlan M.Sc.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini, khususnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Dahmir Dahlan M.Sc. selaku
dosen Etika yang telah memberikan tugas ini. Penulis memperoleh banyak manfaat setelah
menyusun paper ini.
Menyadari akan keterbatasan dan kemampuan, kami bersedia menerima kritik dan
saran yang bersifat membangun.
Semoga paper ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilannya
dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai suatu proses perubahan yang
direncanakan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan
pembangunan terutama ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumberdaya manusia, yakni (orangorang yang terlibat sejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan.
Diantara dua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya.
Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari keanekaragaman
kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya, negara tercinta ini dibandingkan dengan
negara lain di kawasan Asia bukanlah merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk
negara yang miskin. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas
sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau
intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral
dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara negara menyebabkan terjadinya
korupsi.
Korupsi di Indonesia bukan hanya dilakukan oleh para pejabat tinggi yang memiliki
kekuasaan, tetapi tindak korupsi ini bisa dilakukan oleh semua orang baik itu anak kecil,
pemuda, ataupun orang dewasa. Korupsi dikalangan mahasiswa sudah menyebar luas baik
dalam hal akademik maupun non akademik. Korupsi dalam hal akademik seperti menyontek
saat ujian, menitip absensi dalam perkuliahan, dan lain-lain. Sedangkan korupsi dalam hal
non akademik seperti para mahasiswa yang membuat suatu organisasi untuk melakukan suatu
acara tetapi dana yang ada seringkali dipakai untuk hal-hal yang menguntungkan diri mereka
sendiri dan merugikan pihak lain. Hal ini merupakan cerminan rendahnya moralitas dan rasa
malu sehingga sering menyalahgunakannya.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan korupsi?
2. Apa saja contoh tindak korupsi dikalangan mahasiswa?
3. Bagaimana cara menghilangkan budaya korupsi dikalangan mahasiswa?
1.3. Tujuan Penulisan

1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian korupsi.


2. Mahasiswa mampu mengetahui contoh tindak korupsi dikalangan mahasiswa.
3. Mahasiswa mampu mengetahui cara menghilangkan budaya korupsi dikalangan
mahasiswa.

II. KAJIAN PUSTAKA


3.1. Pengertian Korupsi secara Teoritis
Kata Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya busuk,
rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi
adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk
keuntungan, dan merugikan kepentingan umum. Korupsi menurut Huntington (1968) adalah
perilaku pejabat publik yang menyimpang dari norma-norma yang diterima oleh masyarakat,
dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi. Maka
dapat disimpulkan korupsi merupakan perbuatan curang yang merugikan Negara dan
masyarakat luas dengan berbagai macam modus.
Banyak para ahli yang mencoba merumuskan korupsi, yang jka dilihat dari struktrur
bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada hakekatnya mempunyai makna

yang sama. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang
menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan
kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari
kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara
dengan menggunakan wewenang dan kekuatankekuatan formal (misalnya denagan alasan
hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.
Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang
dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan
pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan
bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari
seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang
menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan
hadiahdalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi. Selanjutnya, Wertheim
menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang diterima atau diminta oleh seorang
pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau partainya/ kelompoknya atau orang-orang
yang mempunyai hubungan pribadi dengannya, juga dapat dianggap sebagai korupsi. Dalam
keadaan yang demikian, jelas bahwa ciri yang paling menonjol di dalam korupsi adalah
tingkah laku pejabat yang melanggar azas pemisahan antara kepentingan pribadi dengan
kepentingan masyarakat, pemisaham keuangan pribadi dengan masyarakat.
3.2. Tindak Pidana Korupsi Dalam Perspektif Normatif
Memperhatikan Undang-undang nomor 31 tahun 1999 Undang-undang Nomor 20
tahun 2001,maka tindak Pidana Korupsi itu dapat dilihat dari dua segi yaitu korupsi Aktif dan
Korupsi Pasif, Adapun yang dimaksud dengan Korupsi Aktif adalah sebagai berikut :

Secara melawan hukum memperkaya diri sendiri atau orang lain atau Korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara (Pasal 2 Undang-

undang Nomor 31 Tahun 1999).


Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau Korporasi yang
menyalahgunakan

kewenangan,kesempatan

atau

dapat

merugikan

keuangan

Negara,atau perekonomian Negara (Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999).


Memberi hadiah Kepada Pegawai Negeri dengan mengingat kekuasaan atau
wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya,atau oleh pemberi hadiah
atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut (Pasal 4 Undangundang Nomor 31 Tahun 1999).

Percobaan pembantuan,atau pemufakatan jahat untuk melakukan Tindak pidana

Korupsi (Pasal 15 Undang-undang Nomor 20 tahun 2001).


Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau Penyelenggara Negara
dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang
bertentangan dengan kewajibannya (Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor

20 tahun 2001).
Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau Penyelenggara negara karena atau
berhubung dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dilakukan atau
tidak dilakukan dalam jabatannya (Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 20

Tagun 2001).
Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Hakim dengan maksud untuk
mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili (Pasal 6 ayat

(1) huruf a Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001).


Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan
bangunan,sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf

a (Pasal 7 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 20 tahun 2001).


Setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan Tentara nasional
Indonesia atau Kepolisian negara Reublik Indonesia melakukan perbuatan curang
yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang (Pasal 7 ayat

(1) huruf c Undang-undang Nomor 20 tahun 2001).


Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan Tentara nasional
indpnesia atau Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan sengaja mebiarkan
perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf c (pasal 7 ayat (1) huruf d

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001).


Pegawai negeri atau selain pegawai negeri yang di tugaskan menjalankan suatu
jabatan umum secara terus-menerus atau untuk sementara waktu,dengan sengaja
menggelapkan uang atau mebiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau
digelapkan oleh orang lain atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut

(Pasal 8 Undang-undang Nomor 20 tahun 2001)


Pegawai negeri atau selain Pegawai Negeri yang diberi tugas menjalankan suatu
jabatan umum secara terus menerus atau sementara waktu,dengan sengaja memalsu
buku-buku atau daftar-daftar khusus pemeriksaan administrasi (Pasal 9 Undang-

undang Nomor 20 Tahun 2001).


Pegawai negeri atau orang selain Pegawai Negeri yang diberi tugas menjalankan
suatu jabatan umum secara terus-menerus atau untuk sementara waktu dengan sengaja
menggelapkan

menghancurkan,merusakkan,atau

mebuat

tidak

dapat

dipakai

barang,akta,surat atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di


muka pejabat yang berwenang yang dikuasai karena jabatannya atau membiarkan
orang lain menghilangkan,menghancurkan,merusakkan,attau membuat tidak dapat
dipakai barang, akta, surat atau daftar tersebut (Pasal 10 Undang-undang Nomor 20

tahun 2001).
Pegawai negeri atau Penyelenggara Negara yang dimaksud menguntungkan diri
sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu atau menerima pembayaran
dengan potongan atau mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri (pasal 12 e undang-

undang Nomor 20 tahun 2001).


Pada waktu menjalankan tugas telah menggunakan tanah negara yang di atasnya
terdapat hak pakai,seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang-undangan,telah
merugikan orang yang berhak,apadahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau baik langsung maupun tidak
langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan,pengadaan,atau persewaan
yang pada saat dilakukan perbuatan,untuk seluruhnya atau sebagian ditugaskan untuk

mengurus atau mengawasinya.


Memberi hadiah kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang
yang melekat pada jabatan atau kedudukannya,atau oleh pemberi hadiah atau janji
dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan itu (Pasal 13 Undang-undang Nomor
31 Tahun 1999).

Sedangkan Korupsi Pasif adalah sebagai berikut :


Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji
karena berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan
kewajibannya (pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 20 tahun 2001).
Hakim atau advokat yang menerima pemberian atau janji untuk mempengaruhi
putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili atau untuk mepengaruhi
nasihat atau pendapat yang diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan
kepada pengadilan untuk diadili (Pasal 6 ayat (2) Undang-undang nomor 20 Tahun
2001).
Orang yang menerima penyerahan bahan atau keparluan tentara nasional indonesia,
atau kepolisisan negara republik indonesia yang mebiarkan perbuatan curang
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau c Undang-undang nomor 20 tahun
2001 (Pasal 7 ayat (2) Undang-undang nomor 20 tahun 2001.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal
diketahui atau patut diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut
diberikan utnuk mengerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya,atau sebaga akibat atau
disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya
yang bertentangan dengan kewajibannya (pasal 12 huruf a dan huruf b Undangundang nomor 20 tahun 2001).
Hakim yang enerima hadiah atau janji,padahal diketahui atau patut diduga bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang
diserahkan kepadanya untuk diadili (pasal 12 huruf c Undang-undang nomor 20 tahun
2001).
Advokat yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga,bahwa
hadiah atau janji itu diberikan untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat uang
diberikan berhubungan dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk
diadili (pasal 12 huruf d Undang-undang nomor 20 tahun 2001)
Setiap pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima gratifikasi yang
diberikan berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau
tugasnya (pasal 12 Undang-undang nomor 20 tahun 2001).

III. ANALISIS

Korupsi adalah suatu tindakan yang tidak baik/tidak jujur dan seringkali
menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain demi kepentingan
sendiri. Tindak korupsi ini bukan hanya ada dikalangan pejabat tinggi saja, bahkan
dikalangan pelajar dan mahasiswa pun seringkali sudah bertindak korupsi. Padahal
mahasiswa merupakan generasi muda sebuah bangsa yang berkesempatan untuk memiliki
kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik baik secara akademis maupun secara moral
dalam bersikap.
Jika dilihat dari stratanya, mahasiswa merupakan strata paling tinggi di tingkat
akademik. Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang harus tau segala sesuatu dan mampu
untuk menyelesaikan masalah. Namun kenyataannya sekarang ini sangat banyak mahasiswa
yang tidak lagi menjunjung nilai-nilai etika dan banyak sekali tindakan kecurangan (korupsi)
yang dilakukan oleh para mahasiswa seperti menyontek pada teman saat ujian, mencari
jawaban diinternet saat ujian, dan juga menitip absen ketika tidak hadir dalam perkuliahan.
Budaya titip absen ini dimaksud agar orang yang tidak hadir tetap dianggap hadir dalam
perkuliahan tersebut karena ia merasa bahwa persentase penilaian terhadap absen
berpengaruh dalam nilai. Tindak korupsi ini sering kali dilakukan oleh pihak-pihak yang

tidak bertanggung jawab dan dari hal yang dirasa sepele ini lama kelamaan akan menjadi
tindak korupsi yang lebih besar.
Menitip absen pada teman bisa terjadi karena beberapa faktor seperti adanya suatu hal
yang penting dan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan sedangkan nilai kehadiran dalam
perkuliahan sangat penting terutama untuk syarat mengikuti ujian nantinya dan pada akhirnya
mahasiswa memilih untuk meninggalkan kuliah karena kegiatan yang dianggapnya lebih
penting pada saat itu. Alasan selanjutnya adalah karena mereka sudah jenuh mengikuti
perkuliahan karena dosennya yang menakutkan atau bahkan membosankan. Ada sebagian
yang menganggap materi yang disampaikan dosen tidak menambah pengetahuan yang
dimiliki, sementara belajar secara otodidak lebih membuahkan hasil. Ada juga mereka yang
benar-benar memiliki sifat pemalas, mereka bisa tidak kuliah hanya karena terlambat bangun
akibat semalaman bergadang ataupun alasan yang tidak masuk akal lainnya. Orang yang
menitip absen maupun yang menolong untuk dititipi absen sama-sama patut untuk
disalahkan.

Orang yang meminta titip absen akan menjadi koruptor dimasa depannya, sedangkan
orang yang menolong temannya yang tidak hadir juga bisa menjadi penerima suap. Karena
alasan teman akrab, seseorang dengan mudah menerima suap dari temannya yang korupsi.
Selain itu menitip absen adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Jika seorang
mahasiswa tidak hadir maka dia harus menerima konsekuensi bahwa dia memang absen
(tidak hadir).
Suatu ketidakjujuran meskipun kecil maka jelas akan mengikis integritas dari
mahasiswa itu dan bahkan kelak suatu saat ia akan berani melakukan kecurangan yang lebih
besar lagi, karena hal-hal besar dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan.
Seperti halnya para pejabat yang melakukan korupsi, hal ini disebabkan karena hilangnya
integritas diri karena telah terbiasa melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil yang
dianggapnya sepele. Oleh karena itu kita sebagai generasi muda haruslah memperbaiki
kecurangan-kecurangan yang sering terjadi dan dimulai dari diri kita sendiri.

IV. KESIMPULAN
Korupsi adalah sebuah tindak kecurangan yang sekarang telah merajalela. Bahkan
korupsi ini tidak hanya terjadi dikalangan para pejabat atau pengusaha sukses melainkan para
mahasiswa yang mulai menyepelekan suatu hal yang sebenarnya hal itu merupakan tindakan
korupsi misalnya seperti menyontek pada teman saat ujian, mencari jawaban diinternet saat
ujian, menitip absen ketika tidak hadir dalam perkuliahan, dan masih banyak lagi bentuk
kecurangan yang terjadi dikalangan mahasiswa. Hal ini sangat disayangkan mengapa
mahasiswa harus melakukan tindak korupsi seperti ini.
Suatu ketidakjujuran dimulai dari hal kecil dan lama-kelamaan akan semakin berani
melakukan kecurangan yang lebih besar lagi. Hal-hal besar dimulai dari kebiasaan-kebiasaan
kecil yang dilakukan. Oleh karena itu kita sebagai generasi muda haruslah menghindari
bentuk kecurangan-kecurangan yang pada akhirnya hanya akan merugikan diri kita sendiri
dan bahkan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Poerwadarminta, W. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka.
Handoyo, Eko. 2009. Pendidikan Anti Korupsi. Semarang : Widyakarya Press.