Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI KELUARGA TERHADAP USIA KAWIN

PERTAMA DI KECAMATAN BATANG KUIS KABUPATEN DELI SERDANG

ABSTRAK
Faktor sosial mencakup berbagai hal seperti keadaan keluarga dan pendidikan, sedangkan
faktor ekonomi meliputi pekerjaan, pendapatan keluarga, dan kekayaan. Sosial dan ekonomi
memiliki hubungan yang sangat erat dalam sebuah perkawinan. Sehingga peneliti menganalisis
bahwa sosial ekonomi memiliki pengaruh terhadap usia kawin pertama.
Penelitian sosial ekonomi pengaruhnya terhadap usia kawin pertama menitik berat pada
aspek usia kawin, pendidikan, tahapan keluarga, dan tempat tinggal. Keempat aspek tersebut sangat
dekat dan terlihat gambaran pengaruh terhadap usia kawin pertama, sehingga dilakukan penelitian
sebagai bentuk upaya penekanan usia kawin pertama.
Waktu penelitian selama 1 bulan dengan populasi 59.989 dan 10.837 kepala keluarga yang
terdiri dari 11 desa di Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang. Berdasarkan populasi yang
cukup banyak dan waktu pelaksanaan yang singkat, maka sampel dengan taraf kesalahan 5%
diambil sebanyak 100 responden wanita dengan status telah menikah.
Kata kunci: usia, kawin, keluarga, sosial, dan ekonomi
ABSTRACT
Social factors include things such as family circumstances and education, while economic
factors include employment, income, and wealth. Social and economic have a very close
relationship in a marriage. So the researchers analyzed that the social economy has an influence on
age at first marriage.
Research socioeconomic effects on age at first marriage drip heavily on aspects of
marrying age, education, family stage, and shelter. These four aspects are very close and visible
picture of the influence of the age at first marriage, so do research as an effort to pressure the age at
first marriage.
When the study for 1 month with a population of 59.989 and 10.837 heads of families
consisting of 11 villages in the district of Batang Kuiz Deli Serdang. Based on the population is
large enough and short implementation time, the sample with 5% error level is taken as many as
100 female respondents were married status.
Keywords: age, marriage, family, social, and economic
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Faktor sosial mencakup berbagai hal
seperti keadaan keluarga dan pendidikan,
sedangkan faktor ekonomi meliputi pekerjaan,
pendapatan keluarga, dan kekayaan. Sosial
dan ekonomi memiliki hubungan yang sangat
erat dalam sebuah perkawinan. Sehingga
peneliti menganalisis bahwa sosial ekonomi
memiliki pengaruh terhadap usia kawin
pertama. Misalnya studi kasus kemiskinan
yang saat ini merupakan penyebab terjadinya
putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh

ketidakmampuan orangtua untuk membiayai


anaknya sekolah sehingga orangtua ingin
anaknya segera menikah, dengan harapan bisa
lepas dari tanggung jawab dan orangtua
berharap setelah anaknya menikah akan
mendapat bantuan secara ekonomi. Pada
umumnya mereka yang perekonomiannya di
bawah keadaan sosial pendidikannya rata-rata
hanya tamat SD, SMP, atau SMA. Bagi
mereka yang memiliki perekonomian rendah
kemungkinan besar tidak melanjutkan sekolah
dan akhirnya menganggur. Kondisi tersebut
menjadi beban keluarga akhirnya orangtua

menganjurkan anaknya segera menikah


terutama pada anak perempuan. Hal ini
biasanya disebabkan oleh sosial ekonomi yang
rendah, tetapi kemungkinan lain bisa saja
terjadi di lapangan. Oleh karena itu, peneliti
akan melakukan penelitian tentang pengaruh
faktor sosial ekonomi terhadap usia kawin
pertama.
1.2. Batasan Masalah
Berdasarkan perumusan masalah
tentang pengaruh faktor sosial ekonomi
terhadap usia kawin pertama di atas, maka
peneliti akan membatasi masalah penelitian
sosial ekonomi hanya fokus pada:
1. Usia;
2. Pendidikan;
3. Tempat Tinggal;
4. Tahapan
Keluarga
(Keluarga
prasejahtera, keluarga sejahtera I,
keluarga sejahtera II, keluarga
sejahtera III, dan keluarga sejahtera
III+.
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka
masalah penelitian ini mencakup hal-hal yang
berkaitan langsung dengan faktor-faktor sosial
ekonomi terhadap usia kawin pertama
(UKP).Perumusan masalah ini dapat dirinci
dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah
keadaan
sosial
ekonomi masyarakat Batang Kuis?
2. Bagaimanakah keadaan usia kawin
pertama di Batang Kuis?
3. Apakah ada pengaruh sosial ekonomi
terhadap usia kawin pertama di
Batang Kuis?
1.4. Tujuan
Secara umum tujuan penelitian ini
adalah untuk memperoleh data dari pengaruh
faktor sosial ekonomi terhadap usia kawin
pertama (UKP) di Batang Kuis. Secara khusus
studi ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui keadaan sosial
ekonomi masyarakat Batang Kuis;
2. Untuk mengetahui keadaan usia kawin
pertama di Batang Kuis;

3. Untuk mengetahui ada atau tidak


pengaruh sosial ekonomi terhadap
usia kawin pertama di Batang Kuis.
1.5. Manfaat
Penelitian ini tentunya memiliki nilai
kebermanfaatan untuk meningkatkan kualitas
hidup.
Berikut
kebermanfaatan
yang
diharapkan dari hasil penelitian:
1. Dapat dijadikan referensi bagi
pengelola BKKBN nasional dan
daerah sebagai upaya menekanusia
kawin pertama yang rendah;
2. Dapat dijadikan sebagai bahan studi
penelitian dari daerah lain untuk
melakukan pertimbangan dan acuan
yang lebih memantapkan program
BKKBN;
3. Dapat menambah pengetahuan bagi
peneliti untuk dapat ikut serta dalam
program BKKBN;
4. Dapat dijadikan referensi oleh SKPD
KB untuk pemberdayaan perempuan
dalam upaya menekan usia kawin
pertama yang rendah;
5. Dapat dijadikan bahan untuk membuat
langkah strategis bagi SKPD KB
dalam menjalankan pogram KB bagi
wanita yang usia kawin pertamanya
rendah.
2. LANDASAN TEORITIS
2.1. Pengertian Sosial Ekonomi
Pengertian sosial ekonomi jarang
dibahas secara bersamaan. Pengertian sosial
dan pengertian ekonomi sering dibahas secara
terpisah. Pengertian sosial dalam ilmu sosial
menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat.
Sedangkan
pada
departemen
sosial
menunjukkan pada kegiatan yang ditunjukkan
untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh
masyarakat dalam bidang kesejahteraan yang
ruang lingkup pekerjaan dan kesejahteraan
sosial.
Dalam
Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia, kata sosial berarti segala sesuatu
yang
berkenaan
dengan
masyarakat
(KBBI,2007). Sedangkan dalam konsep
sosiologi, manusia sering disebut sebagai

makhluk sosial yang artinya manusia tidak


dapat hidup wajar tanpa adanya bantuan orang
laindisekitarnya. Sehingga kata sosial sering
diartikan sebagai hal-hal yang berkenaan
dengan masyarakat.
Secara etimologi ekonomi berasal dari
bahasa Yunani yaitu oikos yang berarti
keluarga atau rumah tangga dan nomos yaitu
peraturan, aturan, hukum. Maka secara garis
besar ekonomi diartikan sebagai aturan rumah
tangga atau manajemen rumah tangga. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ekonomi
berarti ilmu yang mengenai asas-asas
produksi, distribusi dan pemakaian barangbarang serta kekayaan (seperti keuangan,
perindustrian dan perdagangan) (KBBI,2007).
Berdasarkan beberapa pengertian di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa sosial
ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat,
antara lain sandang, pangan, perumahan,
pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
2.2. Pengertian Keluarga
Termuat dalam UU No. 52 tahun 2009
pasal 1 ayat 6 tentang keluarga menyatakan
keluarga adalah unit terkecil dalam
masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau
suami, istri dan anaknya atau ibu dan anaknya.
UU No. 52 juga menjelaskan tentang
ketahanan dan kesejahteraan adalah kondisi
keluarga yang memiliki keuletan dan
ketangguhan serta mengandung kemampuan
fisik materil gunahidup mandiri dan
mengembangkan diri dan keluarganya untuk
hidup
harmonis
dalam
meningkatkan
kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.
Penekanan tentang keluarga kembali
dibahas dalam PP No. 87 tahun 2014 tentang
perkembangan
kependudukan
dan
pembangunan keluarga, keluarga berencana,
dan sistem informasi keluarga. PP No. 87
tahun 2014 dalam pasal 1 ayat 7 tentang
keluarga menyatakan keluarga berkualitas
adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan
atas perkawinan yang sah, dan bercirikan
sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki
jumlah anak yang ideal, berwawasan ke
depan, bertanggung jawab, harmonis dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


2.3. Fungsi Keluarga
Menurut para ahli fungsi keluarga
terbagi, sebagai berikut :
1. Fungsi Pendidikan, Dalam hal ini tugas
keluarga
adalah
mendidik
dan
menyekolahkan
anak
untuk
mempersiapkan kedewasaan dan masa
depan anak bila kelak dewasa.
2. Fungsi Sosialisasi anak, Tugas keluarga
dalam menjalankan fungsi ini adalah
bagaimana keluarga mempersiapkan anak
menjadi anggota masyarakat yang baik.
3. Fungsi Perlindungan, Tugas keluarga
dalam hal ini adalah melindungi anak dari
tindakan-tindakan yang tidak baik sehingga
anggota keluarga merasa terlindung dan
merasa aman.
4. Fungsi Perasaan, Tugas keluarga dalam hal
ini adalah menjaga secara instuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan
anggota yang lain dalam berkomunikasi
dan berinteraksi antar sesama anggota
keluarga. Sehingga saling pengertian satu
sama
lain
dalam
menumbuhkan
keharmonisan dalam keluarga.
5. Fungsi Religius, Tugas keluarga dalam
fungsi ini adalah memperkenalkan dan
mengajak anak dan anggota keluarga yang
lain dalam kehidupan beragama, dan tugas
kepala keluarga untuk menanamkan
keyakinan bahwa adakeyakinan lain yang
mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan
lain setelah di dunia ini.
6. Fungsi Ekonomis,Tugas kepala keluarga
dalam hal ini adalah mencari sumbersumber kehidupan dalam memenuhi
fungsi-fungsi keluarga yang lain, kepala
keluarga
bekerja
untuk
mencari
penghasilan, mengatur penghasilan itu,
sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan keluarga.
7. Fungsi Rekreatif, Tugas keluarga dalam
fungsi rekreasi ini tidak harus selalu pergi
ke tempat rekreasi, tetapi yang penting
bagaimana menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam keluarga sehingga
dapat dilakukan di rumah dengan cara

nonton TV bersama, bercerita tentang


pengalaman masing-masing.
8. Fungsi Biologis, Tugas keluarga yang
utama dalam hal ini adalah untuk
meneruskan keturunan sebagai generasi
penerus.
2.4. Pengertian Perkawinan
Menurut Undang-Undang Pokok
Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 1
dijelaskan perkawinan adalah ikatan lahir dan
batin antara seorang laki-laki dengan seorang
perempuan sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga (rumah tangga) yang
berbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa. Oleh karena itu perkawinan
merupakan suatu yang alami yang sudah
menjadi kodrat alam, bahwa dua jenis kelamin
yang berbeda akan mempunyai daya tarik
antara satu dengan yang lainnya untuk hidup
bersama.
Ahmad (2007) dan Heriyanti (2002)
mendefinisikan perkawinan adalah sebagai
ikatan antara laki-laki dan perempuan atas
dasar persetujuan kedua belah pihak yang
mencakup hubungan dengan masyarakat di
lingkungan dimana terdapat norma-norma
yang mengikat untuk menghalalkan hubungan
antara kedua belah pihak.
2.5. Perkawinan Usia Muda
Perkawinan
usia
muda
dapat
didefenisikan sebagai ikatan lahir batin antara
seorang pria dengan wanita sebagai suami istri
pada usia yang masih muda/remaja.
Sehubungan dengan perkawinan usia muda,
maka ada baiknya kita terlebih dahulu melihat
pengertian dari pada remaja (dalam hal ini
yang dimaksud rentangan usianya). Golongan
remaja muda adalah para gadis berusia 13-17
tahun, ini pun sangat tergantung pada
kematangan
secara
seksual,
sehingga
penyimpangan-penyimpangan secara kasuistik
pasti ada. Dan bagi laki-laki yang disebut
remaja muda berusia 14-17 tahun. Dan apabila
remaja muda sudah menginjak 17-18 tahun
mereka lazim disebut golongan muda/ anak
muda. Sebab sikap mereka sudah mendekati
pola sikap tindak orang dewasa, walaupun dari

sudut perkembangan mental belum matang


sepenuhnya (Soerjono,2004).
Perkawinan
usia
muda
yaitu
merupakan institusi agung untuk mengikat dua
insan lawanjenis yang masih remaja dalam
satu ikatan keluarga (Lutfiati, 2008).
Perkawinan usia muda adalah perkawinan di
bawah usia yang seharusnya belum siap untuk
melaksanakan pernikahan (Nukman, 2009).
Sedangkan
menurut
(Riyadi,
2009),
perkawinan usia muda adalah perkawinan
yang para pihaknya masih sangat muda dan
belum memenuhi persyaratan-persyaratan
yang telahditentukan dalam melakukan
perkawinan.
Menurut Aimatun (2009), perkawinan
usia muda adalah pernikahan yang dilakukan
olehusia muda antara laki-laki dengan
perempuan yang mana usia mereka belum ada
20 tahun, berkisar antara 17-18 tahun.
Menurut BKKBN (2010), perkawinan usia
muda adalah perkawinan yang dilakukan di
bawah usia 20 tahun. Hal yang sama
disampaikan Sarwono (2006), perkawinan
usia muda adalah nama yang lahir dari
komitmen moral dan keilmuan yang
kuat,sebagai
sebuah
solusi
alternatif,
sedangkan batas usia dewasa bagi laki-laki 25
tahun dan bagi perempuan 20 tahun, karena
kedewasaan seseorang tersebut ditentukan
secara pasti baik oleh hukum positif maupun
hukum Islam. Sedangkan dari segi kesehatan,
perkawinan usia muda itu sendiri yang ideal
adalah untuk perempuan di atas 20 tahun
sudah boleh menikah, sebab perempuan yang
menikah di bawah umur 20 tahun berisiko
terkena kanker leher rahim, dan pada usia
remaja, sel-sel leher rahim belum matang,
maka kalau terpapar Human Papiloma Virus
(HPV) pertumbuhan sel akan menyimpang
menjadi kanker (Kompono, 2007).
2.6. Batasan Usia Perkawinan
Dalam hubungan dengan hukum
menurut UU, usia minimal untuk suatu
perkawinan adalah 16 tahun untuk wanita dan
19 tahun untuk pria (Pasal 7 UU No. 1/1974
tentang perkawinan). Jelas bahwa UU tersebut
menganggap orang di atas usia tersebut

bukan lagi anak-anak sehigga mereka sudah


boleh menikah, batasan usia ini dimaksud
untuk mencegah perkawinan terlalu dini.
Walaupun begitu selama seseorang belum
mencapai usia 21 tahun masih diperlukan izin
orang tua untuk menikahkan anaknya. Setelah
berusia di atas 21 tahun boleh menikah tanpa
izin orang tua (Pasal 6 ayat 2 UU No. 1/1974).
Tampaklah di sini, bahwa walaupun UU tidak
menganggap mereka yang di atas usia 16
tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria
bukan anak-anak lagi, tetapi belum dianggap
dewasa penuh. Sehingga masih perlu izin
untuk mengawinkan mereka. Ditinjau dari segi
kesehatan reproduksi, usia 16 tahun bagi
wanita, berarti yang bersangkutan belum
berada dalam usia reproduksi yang sehat.
Meskipun batas usia kawin telah ditetapkan
UU, namun pelanggaran masih banyak terjadi
dimasyarakat terutama dengan menaikkan usia
agar dapat memenuhi batas usia minimal
tersebut (Sarwono, 2006).
2.7. Indikator Tahapan Keluarga
2.7.1. Keluarga Pra Sejahtera
a. Indikator Ekonomi

Makan dua kali atau lebih


sehari.
Memiliki pakaian yang berbeda untuk
aktivitas
(misalnya
di
rumah,
berkerja,sekolah dan bepergian).
Bagian terluas lantai rumah bukan dari
tanah.
b. Indikator Non-Ekonomi

Melaksanakan ibadah.
Bila anak sakit dibawa ke sarana
kesehatan.
2.7.2. Kelurga Sejahtera I
a. Indikator Ekonomi
Paling kurang sekali seminggu
keluarga makan daging atau ikan atau
telur.
Setahuan terakhir seluruh anggota
keluarga memperoleh paling kurang
satu stel pakaian baru.
Luas lantai rumah paling kurang 8m
untuk tiap penghuni.
b. Indikator Non-Ekonomi

Ibadah teratur
Sehat tiga bulan terakhir.

Punya penghasilan tetap.


Usia 10-60 tahun dapat baca tulis
huruf.

Usia 6-15 tahun bersekolah.

Anak lebih dari 2 orang.


2.7.3. Keluaraga Sejahtera II
Adalah keluaraga yang karena
alasan ekonomi tidak dapat memenuhi
salah satu atau lebih indikator
meliputi:

Memiliki tabungan keluarga.


Makan
bersama
sambil
berkomunikasi.

Mengikuti
kegiatan
masyarakat

Rekreasi bersama (6 bulan


sekali)

Meningkatkan
pengetahuan
agama.
Memperoleh berita dari surat kabar,
radio, TV, dan majalah.

Menggunakan
sarana
transporstasi.
2.7.4. Keluarga sejahtera III
Sudah
dapat
memenuhi
beberapa indikator, meliputi:

Memiliki tabungan kelurga.


Makan
bersama
sambil
berkomunikasi.

Mengikuti
kegiatan
masyarakat.

Rekreasi bersama (6 bulan


sekali).

Meningkatkan pengetahuan
agama.
Memperoleh berita dari surat kabar,
radio, TV, dan majalah.

Menggunakan
sarana
transporstasi.
Belum
dapat
memenuhi
beberapa indikator. meliputi :
Aktif
memberikan
sumbangan
material secara teratur.
Aktif sebagai pengurus organisasi
kemasyarakatan.

2.7.5.

Keluarga sejahtera III+


Sudah
dapat
indikator meliputi :
Aktif
memberikan
material secara teratur.
Sebagi
pengurus
kemasyarakatan.

memenuhi
sumbangan
organisasi

2.8.Hipotesis
Berdasarkan uraian yang telah
dipaparkan pada rumusan masalah dan
tinjauan pustaka, maka dapat dirumuskan
hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ho: Tidak ada pengaruh faktor sosial ekonomi
keluarga (pendidikan, usia, tempat
tinggal, dan tahapan keluarga terhadap
usia kawin pertama (UKP) di Batang
Kuis.
Ha: Ada pengaruh faktor sosial ekonomi
keluarga (pendidikan, usia, tempat
tinggal, dan tahapan keluarga terhadap
usia kawin pertama (UKP) di Batang
Kuis.

3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Metode Penelitian
Penelitian
dilakukan
secara
kuantitatif, karena keterbatasan waktu dan
tenaga yang tidak memungkinkan melakukan
penelitian secara kualitatif. Oleh karena itu,
metode yang akan digunakan untuk
pencapaian penelitian ini, yaitu dengan
metode survey. Metode survey dipilih karena
teknik riset yang digunakan memberikan
batasan data yang jelas.
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian
akan
dilakukan
di
Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli
Serdang Provinsi Sumatera Utara. Di tempat
inilah peneliti akan menggali pengaruh faktor
sosial ekonomi keluargaterhadap usia kawin
pertama.
3.3. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah Kecamatan


Batang Kuis dengan mengambil sampel desa.
Berdasarkan data BPS tahun 2010, penduduk
di Batang Kuis berjumlah 59.989 dan 10.837
kepala keluarga yang terdiri dari 11 desa.
Penentuan sampel diambil berdasarkan
indikator pedesaan dan perkotaan. Ukuran
sampel ditentukan dengan taraf kesalahan 5%
sebanyak 100 responden.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang peneliti
gunakan yaitu dengan menggunakan kuesioner
(angket). Kuesioner akan diberikan kepada
responden mengenai sosial ekonomi keluarga
dan usia kawin pertama yang meliputi aspek
tahapan keluarga, pendidikan, tempat tinggal
dan usia kawin.
3.5. Analisis Data
Hasil analisis data sampel penelitian
akan
diberlakukan
untuk
membuat
kesimpulan/generalisai terhadap populasi yang
ada di Kecamatan Batang Kuis, sehingga
untuk menganalisis data diperlukan teknik
analisis statistik inferensial nonparametris.
Penggunaan Analisis data secara statitistik
inferensial nonparametris mengacu pada cara
regresi linear multivariat, karena data sampel
bersifat ordinal.
4. PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Data
Untuk memperoleh data dalam
penelitian ini, penulis mengumpulkan data
dengan menggunakan kuesioner (angket).
Kuesioner diberikan kepada responden,
meliputi aspek tahapan keluaraga, pendidikan,
tempat tinggal, dan usia kawin pertama di
Kecamatan Batang Kuis di beberapa desa
dengan kriteria perkotaan dan pedesaan.
Jumlah sampel di Kecamatan Batang Kuis
berjumlah 100 responden wanita yang telah
menikah dari 10.836 kk.
Setelah dilakukan penelitian sosial
ekonomi (tahapan keluaraga, pendidikan,
tempat tinggal) terhadap usia kawin pertama
dengan
menggunakan
metode
survey
lapangan, data disajikan dalam bentuk tabulasi

silang. Hasil tabulasi dapat dilihat pada tabel


4.1 yang menyajikan persentase usia kawin
pertama menurut karakteristik sosial ekonomi.

Persentase Faktor Sosial Ekonomi Keluarga Terhadap Usia Kawin Pertama di Batang Kuis

<18
Tahun

INDIKATOR

USIA KAWIN
18-19
20-21
Tahun
Tahun

>22
Tahun

RATA-RATA
UKP

Umur Ibu
15-24

10

13

14

9,25

25-34

31

12,5

35-49

10

3,25

Perkotaan

13

12

19

12,75

Pedesaan

11

24

13

Tidak sekolah

0,25

Tidak tamat SD

0,5

SD/Sederajat

4,75

SLTP/Sederajat

12

10

9,25

SMA/Sederajat

20

8,25

PT

PKS

KS I

10

KS II

4,25

KS III

12

15

7,25

KS III

1,75

Total

15,25

Tempat Tinggal

Pendidikan

Tahapan Keluarga

Tabel

4.1.

Persentase

usia

kawin

15,84
pertama

Rata-rata usia kawin pertama (UKP)


lebih rendah (kawin muda) di wilayah
pedesaan dibandingkan di perkotaan. Usia
kawin yang tinggi di wilayah perkotaan
kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktorfaktor di luar analisa.

25,07
menurut

43,37
karakteristik

24,88
sosial

ekonomi

4.2. Analisis Data


Berdasarkan hasil penelitian yang
telah disajikan pada tabel 4.1, data dianalisis
dengan cara regresi linear multivariat untuk
mengetahui pengaruh sosial ekonomi terhadap

usia kawin pertama. Analisis ini untuk


memprediksi nilai dari variabel dependent,
yakni usia kawin pertama apabila mengalami
kenaikan atau penurunan dan mengetahui arah
hubungan antara variabel bebas, yakni sosial
ekonomi terhadap variabel terikat, apakah
masing-masing berhubungan positif atau
negatif. Di bawah ini dijelaskan hasil analisis
uji hipotesis menggunakan olahan software
SPSS.
4.2.1. Model Summary
Tabel 4.2
Hasil Olahan SPSS Faktor Sosial Ekonomi
Terhadap Usia Kawin Pertama
Model Summary
R
Adj. R
Std.
Mod
R
Square Square Error
1
,562(a)
,316
,295
,942
a Predictors: (Constant), Tahapan Keluarga,
Tempat Tinggal, Pendidikan
b Dependent Variable: Usia Kawin Pertama
Tabel 4.2 Nilai R Square = 0,316
menunjukkan secara keseluruhan bahwa
31,6% dari varian usia kawin pertama dapat
dijelaskan oleh perubahan dalam variabel
sosial ekonomi (tempat tinggal, tingkat
pendidikan, dan tahapan keluarga). Sedangkan
68,4% sisanya dijelaskan oleh faktor lain
diluar model analisis.
4.2.2. Model Anova (b)
Tabel 4.3
Hasil Olahan SPSS Faktor Sosial Ekonomi
Terhadap Usia Kawin Pertama
Persamaan Regresi Linear Multivariat
ANOVA(b)
Sum of
M.
Model
Squ
df Squ
F
Sig.
Regres
39,37 3 13,12 14,8
,00
Residu
85,19 96 ,887
Total
124,56 99
a Predictors: (Constant), Tahapan Keluarga,
Tempat Tinggal, Pendidikan
b Dependent Variable: Usia Kawin Pertama

Tabel 4.3 meunjukkan pengujian


variabel pendidikan p value F test sebesar
0,000 (<0,005), maka secara keseluruhan
variabel sosial ekonomi (tempat tinggal,
tingkat pendidikan, dan tahapan keluarga)
berpengaruh signifikan terhadap usia kawin
pertama.

4.2.3. Model Coefficients (a)


Tabel 4.4
Hasil Olahan SPSS Faktor Sosial Ekonomi
Terhadap Usia Kawin Pertama
Regresi Linear Multivariat
Coefficients(a)

Model
(Constant)
Tempat
Tinggal
Pendidikan
Tahapan
Keluarga

Unstd.
Coeff
Std.
B
Err
,947
,103
,289
,311

,549
,194
,134
,103

Std.
Coeff

t
Tole
Beta
ran
1,72
3
-,046
,528
,254 2,15
3,01
,357
2

Sig.
VIF
,088
,599
,034
,003

a Dependent Variable: Usia Kawin Pertama


Tabel 4.4 menunjukkan p-value untuk
variabel tingkat pendidikan, dan tahapan
keluarga <0,05 sehingga kedua variabel
tersebut berpengaruh terhadap peningkatan
usia kawin pertama. Sedangkan p-value untuk
varianel tempat tinggal sebesar 0,599 >0,05
sehingga variabel ini tidak berpengruh
signifikan terhadap peningkatan usia kawin
pertama. Dari dua variabel yang signifikan,
jika dilihat dari koefisien beta sebesar 0,357,
maka variabel yang paling berpengaruh
terhadap usia kawin pertama adalah variabel
tahapan keluarga.
4.3. Grafik
4.3.1. Grafik Tingkatan Pendidikan
Terhadap Usia Kawin Pertama

Pengaruh sosial ekonomi variabel


pendidikan dijelaskan pada grafik 4.5. grafik
memperlihatkan
usia
kawin
pertama
berdasarkan tingkatan pendidikan (tidak
sekolah, tidak tamat SD, SD, SLTP/Sederajat,
SMA/Sederajat, Perguruan Tinggi) yang
berpengaruh signifikan terhadap usia kawin
pertama di Kecamatan Batang Kuis.

4.3.3. Grafik Tempat Tinggal Terhadap


Usia Kawin Pertama
Pengaruh sosial ekonomi variabel
tahapan keluarga dijelaskan pada grafik 4.5.
grafik memperlihatkan usia kawin pertama
berdasarkan tahapan keluarga (KPS, KS I, KS
II, KS III, KS III+) yang berpengaruh
signifikan terhadap usia kawin pertama di
Kecamatan Batang Kuis.

500
20

<18
18-19

Grafik Sosial Ekonomi


Terhadap Usia Kawin
Pertama

20-21
>22
0
KPS

Grafik 4.1. Tingkat pendidikan yerhadap usia


kawin pertama

4.3.2. Grafik Tempat Tinggal Terhadap


Usia Kawin Pertama
Pengaruh sosial ekonomi variabel
tempat tinggal dijelaskan pada grafik 4.5.
grafik memperlihatkan usia kawin pertama
berdasarkan tempat tinggal (perkotaan dan
pedesaan) yang tidak diketahui pengaruhnya
terhadap usia kawin pertama di Kecamatan
Batang Kuis.
30
25
20
15
10
5
0
<18

18-19
20-21
>22
Perkotaan
Pedesaan

Rata-Rata
UKP

Grafik 4.2. Tempat tinggal terhadap usia


kawin pertama

<18 Tahun

18-19 Tahun

20-21 Tahun

>22 Tahun

KS I

KS II

KS III

KS III+

Grafik 4.3. Sosial ekonomi terhadap usia


kawin pertama
5. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari
hasil
penelitian
dapat
disimpulkan analisis data yang diperoleh dari
variabel sosial ekonomi (tempat tinggal,
tingkatan pendidikan, dan tahapan keluarga)
terhadap usia kawin pertama di Kecamatan
Batang Kuis adalah sebagai berikut.
1) Variabel tingkat pendidikan, dan
tahapan keluarga berpengaruh
signifikan terhadap peningkatan usia
kawin pertama.
2) Variabel tempat tinggal tidak
berpengruh signifikan terhadap
peningkatan usia kawin pertama.
3) Dari variabel pendidikan dan tahapan
keluarga, jika dilihat dari koefisien
beta sebesar 0,357, maka variabel
yang paling berpengaruh terhadap usia
kawin pertama adalah variabel
tahapan keluarga.
Dapat disimpulkan uji hipotesis Ha
diterima dan Ho ditolak. Hipotesis Ha yaitu

Ada pengaruh sosial ekonomi terhadap usia


kawin pertama.
5.2. Saran
1) Agar usia kawin pertama (menikah
muda) dapat ditekan, sebaiknya Badan
Kependudukan
dan
Keluarga
Berencana
Nasional
serta
pemerintahmemberikan penyuluhan
akan pentingnya pendidikan dijenjang
yang lebih tinggi.
2) Agar usia kawin pertama (menikah
muda) dapat ditekan, sebaiknya Badan
Kependudukan
dan
Keluarga
Berencana Nasional serta pemerintah
memperhatikan secara ekstra terhadap
keluarga pra sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA
BKKBN. 2010. Definisi Perkawinan. [Online]
www.bkkbn.go.id.
Akses
(5
November 2014).
J. Goode, William. 1995. Sosiologi Keluarga.
Jakarta:Bumi Aksara.
Mawardi. 2009. Ilmu Sosial Dasar. Bandung:
CV. Pustaka Setia.
Republik Indonesia. 2009. Undang-undang
No. 52 Tahun 2009 Tentang
Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 2014. PP No. 87 Tahun
2014 Tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga, Keluarga Berencana, dan
Sistem Informasi Keluarga. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Republik Indonesia. 1974. UU No. 1/1974
Tentang Perkawinan. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Sujana, Djuju. 1996. Peran Keluarga dalam
Lingkungan Masyarakat. Bandung:
Rosdakarya.
Supardan, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu
Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Penyusun Pusat Kamus. 2007. Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Edisi 3
Cetakan 4). Jakarta: Balai Pustaka.