Anda di halaman 1dari 9

1.

Penamaan Obat
Nama Generik

: Metformin

Nama Dagang
- Benoformin

- Bestab

- Diabex

- Eraphage

- Forbetes

- Formell

- Glucophage

- Glucotika

- Gludepatic

- Glufor

- Glumin

- Methpica

- Metphar

- Neodipar

- Rodiamet

- Tudiab

- Zendiab

- Zumamet

- Metformin (Generic)

Nama dagang metformin di Amerika Serikat adalah Actoplus Me.t dan di Indonesia
Glucovance.

2. Deskripsi
2.1.Sifat Metformin
2.1.1 Nama dan Struktur Kimia
Nama : N,N-dimethylimidodicarbonimidic diamide

Metformin umumnya terdapat dalam bentuk metformin hidroklorida, merupakan kristal putih
atau putih tulang (off-white) dengan BM 165,63. Metformin hidroklorida sangat mudah larut
dalam air, dan praktis tidak larut dalam aseton, eter ataupun kloroform. pKa metformin =
12,4 dan pH larutan 1% metformin hidroklorida = 6,68.

2.2 Bentuk Sediaan


Tablet (film coated)

2.3 Komposisi

per tab 1,25mg/250mg mengandung glibenklamid 1,25 mg, metformin HCl 250 mg.
per tab 2,5mg/500mg mengandung glibenklamid 2,5 mg, metformin HCl 500 mg.
per tab 5mg/500mg mengandung glibenklamid 5 mg, metformin HCl 500 mg.

2.4 Dosis
Sebagaimana aturan umum pemberian OHO, pemakaian metformin harus dimulai dari dosis
rendah. Penggunaan metformin dosis awal diberikan dua kali sehari sebanyak 500 mg, pada
saat pagi dan malam setelah makan atau 850 mg per hari setelah sarapan. Bila diperlukan,
dokter dapat meningkatkan dosis secara bertahap. Konsumsi metformin dianjurkan bersama
atau sesaat sesudah sarapan, untuk mengurangi efek samping mual, muntah, diare dan
gangguan pencernaan lainnya. Adapun pengobatan metformin jarang digunakan untuk anakanak.
Pada pengobatan kombinasi dengan sulfonilurea, mula-mula diberikan 1 tablet Metformin
500 mg, dosis dinaikkan perlahan-lahan sampai diperoleh kontrol optimal. Dosis sulfonilurea
dapat dikurangi, pada beberapa pasien bahkan tidak perlu diberikan lagi. Pengobatan dapat
dilanjutkan dengan metformin sebagai obat tunggal.
Jika pasien mengalami keterlambatan waktu dalam pemakaian obat, maka pasien dianjurkan
meminum obat sesegera mungkin. Bila waktunya sudah mendekati pemakaian obat
selanjutnya, maka hiraukan dosis yang terlewat, kembali pada aturan pakai semula, dan
hindari pemakaian obat dengan dosis ganda.

3. Perhatian Sebelum Penggunaan Obat


1. a.

Alergi

Ceritakan pada dokter, jika pernah memiliki alergi terhadap metformin dan ceritakan pada
konsultan kesehatan jika terdapat alergi terhadap makanan, pengawet, dan pewarna.
1. b.

Ibu Hamil

Metformin dapat menyebabkan bayi di dalam kandungan pada saat lahir mengalami obesitas,
memiliki cacat lahir, atau memiliki gula darah tinggi atau rendah.
1. c.

Ibu Menyusui

Meskipun dapat diperkirakan bahwa obat yang masuk ke dalam ASI dalam jumlah kecil, tapi
tidak menutup kemungkinan jika obat tersebut dapat berpengaruh besar terhadap ASI.
1. d.

Anak dan Remaja

Tidak ada informasi yang spesifik mengenai penggunaan metformin untuk remaja dan anakanak.

1. e.

Lansia

Dosis yang diberikan dapat disesuaikan oleh dokter


1. f.

Obat lain

Berikut bahan-bahan yang dapat di kombinasikan dengan metformin sesuai dengan ketentuan
dokter :
Alcohol dengan jumlah kecil
Cimetidine ( misalnya Tagamet)
Digoxin ( obat jantung)
Furosemide ( misalnya lasix )
Morphine ( misalnya Demerol )
Procainamide ( misalnya Pronestyl )
Quinidine ( misalnya Quinidex )
Quinine ( obat malaria )
Ranitidine ( misalnya Zantac)
Triamterene (misalnya dyrenium)
Trimethoprim (misalnya proloprim)
Vanxomisin (misalnya Vancocin)

4. Indikasi Metformin
- Pengobatan penderita diabetes yang baru terdiagnosis setelah dewasa dengan atau tanpa
kelebihan berat badan dan bila diet tidak berhasil.
- Sebagai kombinasi terapi pada penderita yang tidak responsif terhadap terapi tunggal
sulfonilurea baik primer maupun sekunder.
- Sebagai obat pembantu untuk mengurangi dosis insulin apabila dibutuhkan.
Kontraindikasi:
Penderita kardiovaskular, gagal ginjal, gagal hati, dehidrasi dan peminum alkohol, koma
diabetik, ketoasidosis, infark miokardial, keadaan penyakit kronik akut yang berkaitan
dengan hipoksia jaringan, keadaan yang berhubungan dengan asidosis laktat seprti syok,
insufisiensi pulmonar, riwayat asidosis laktat.

5. Perhatian Terhadap Penyakit Lain


Dalam Penggunaan Metformin

Asam dalam darah


o Metformin dapat asidosis laktat, yaitu penumpukan asam laktat dalam darah,
terutama orang yang mengalami kelainan ginjal. Oleh karena itu jangan
minum metformin jika memiliki masalah penyakit ginjal, atau adanya penyakit
hati, orang dengan penyakit jantung.

Luka bakar

Dehidrasi

Diare

Perubahan hormone pada perempuan

Demam tinggi

Infeksi berat

Cedera berat

Keton dalam urin

Stress

Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (tidak terkontrol)

Penyakit pencernaan

Slow stomach emptying

Muntah

Kondisi lain yang menyebabkan masalah penyerapan makanan


o Kondisi lain dimana gula darah berubah dengan cepat. Dalam beberapa kasus
merformin dapat digantikan dengan insulin, kemungkinan untuk waktu yang
singkat. Penggunaan insulin adalah cara terbaik untuk mengontrol diabetes
militus pada pasien dengan kondisi tersebut.

Penyakit jantung atau ganguan pembuluh darah

Penyakit ginjal atau masalah ginjal

Penyakit hati
o Ginjal, jantung, atau masalah lain yang memerlukan system medis atau
pemeriksaan dengan menggunakan obat-obatan tertentu yang disebut dengan
agen kontras, dengan x-rays, metformin harus berhenti digunakan selama dua
hari sebelum tes diagnosis yang mengakibatkan urin kurang dari biasanya.
Jumlah urin yang luar biasa rendah dapat mengakibatkan efek yang tidak
diinginkan.

Kelenjar adrenal dan hipofisis yang tidak terkontrol.

Kondisi atau kekurangan gizi.

Kondisi fisik lemah/


o Pasien yang memiliki penyakit darah rendah, sebaiknya tidak menggunakan
metformin, karena dapat menyebabkan peningkatan gula dalam darah.

6. Efek Samping
Metformin dapat mengakibatkan efek samping yang memerlukan penanganan medis
dan efek samping yang tidak memerlukan penanganan medis.
1. 1. Efek samping yang memerlukan penanganan medis
-

Jarang terjadi

Gejala asidosis laktat meliputi perut tidak nyaman, penurunan nafsu makan, diare, napas
cepat, pernapasan dangkal, perasaan tidak nyaman, sakit otot atau kram, kantuk yang tidak
biasa, dan lelah berkepanjangan.
-

Umum

Gula darah rendah meliputi perasaan cemas, kehilangan kesadaran, penglihatan kabur,
berkeringat dingin, kebingungan, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, mengantuk, lapar
berlebihan, detak jantung cepat, sakit kepala, mual, gugup, mimpi buruk, gelisah, gemetaran,
dan bicara cadel.
1. 2.
-

Efek samping yang tidak memerlukan penanganan medis

Umum

Tidak nafsu makan, rasa logam di mulut, perut kembung, sakit perut, muntah, dan penurunan
berat badan.

Efek samping lain yang tidak tercantum diatas dapat juga terjadi pada beberapa pasien. Jika
Anda menemukan efek lain, silakan hubungi dokter Anda.

7. Informasi Tambahan Untuk Umum


7.1 Informasi Pasien
Jangan konsumsi obat lain tanpa seizin dokter atau apoteker
Obat ini hanya berperan sebagai pengendali diabetes, bukan penyembuh
Obat ini hanya faktor pendukung dalam pengelolaan diabetes, faktor utamanya adalah
pengendalian diet (pola makan) dan olah raga
Konsumsi obat sesuai dosis dan aturan pakai yang diberikan dokter
Monitor kadar glukosa darah sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter
Jika Anda merasakan gejala-gejala hipoglikemia (pusing, lemas, gemetar, pandangan
berkunang-kunang, pitam (pandangan menjadi gelap), keluar keringat dingin, detak jantung
meningkat, segera hubungi dokter
Laporkan pada dokter jika Anda berencana untuk hamil
Obat ini tidak boleh dikonsumsi semasa hamil atau menyusui, kecuali sudah diizinkan oleh
dokter

7.2 Interaksi
Dengan Obat Lain :
a.

Alkohol: dapat menambah efek hipoglikemik, risiko asidosis laktat

b.

Antagonis kalsium: misalnya nifedipin kadang-kadang mengganggu toleransi glukosa

c.
Antagonis Hormon: aminoglutetimid dapat mempercepat metabolisme OHO; oktreotid
dapat menurunkan kebutuhan insulin dan OHO
d.

Antihipertensi diazoksid: melawan efek hipoglikemik

e.

Antidepresan (inhibitor MAO): meningkatkan efek hipoglikemik

f.

Antihistamin: pada pemakaian bersama biguanida akan menurunkan jumlah trombosit

g. Anti ulkus: simetidin menghambat ekskresi renal metformin, sehingga menaikkan kadar
plasma metformin

h.
Hormon steroid: estrogen dan progesterone (kontrasepsi oral) antagonis efek
hipoglikemia
i.
Klofibrat: dapat memperbaiki toleransi glukosa dan mempunyai efek aditif terhadap
OHO
j.
Penyekat adrenoreseptor beta : meningkatkan efek hipoglikemik dan menutupi gejala
peringatan, misalnya tremor
k.

Penghambat ACE: dapat menambah efek hipoglikemik

Dengan Makanan : Makanan dapat menurunkan absorpsi dan memperpanjang waktu


absorpsi metformin

7.3 Mekanisme Aksi


Antidiabetik oral golongan biguanida mempunyai mekanisme kerja yang berbeda dengan
golongan sulfonilurea. Obat-obat ini bekerja tidak melalui perangsangan sekresi insulin,
melainkan langsung pada hati (hepar), yaitu menurunkan produksiglukosa hati dengan jalan
mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis. Disamping itu, metformin juga
meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh terhadap insulin dengan jalan memperbaiki transport
dan meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel-sel otot dan ekstrahepatik lainnya.

7.4 Lain-Lain
Dalam pengobatan kombinasi dengan sulfonilurea atau insulin, kadar gula darah harus
diperiksa, mengingat kemungkinan timbulnya hipoglikimea.
Dosis harus diperbesar secara perlahan-lahan, satu tablet 500 mg 3 kali sehari atau satu tablet
850 mg 2 kali sehari seringkali cukup untuk mengendalikan penyakit diabetes. Hal ini dapat
dicapai dalam beberapa hari, tetapi tidak jarang efek ini baru dicapainya dalam waktu dua
minggu. Apabila efek yang diinginkan tidak dicapai, dosis dapat dinaikkan secara berhati-hati
sampai maksimum 3 g sehari. Bila diperlukan tablet 850 mg dapat diberikan 3 kali sehari.
Bila gejala diabetes telah dapat dikontrol, ada kemungkinan dosis dapat diturunkan.
Apabila dikombinasikan dengan pengobatan sulfonilurea yang hasilnya kurang memadai,
mula-mula diberikan satu tablet 500 mg, kemudian dosis metformin dinaikkan perlahan-lahan
sampai diperoleh kontrol maksimal. Seringkali dosis sulfonilurea dapat dilanjutkan dengan
metformin sebagai obat tunggal. Apabila diberikan bersama dengan insulin dapat diikuti
petunjuk ini:
1. Bila dosis insulin kurang dari 60 unit sehari, mula-mula diberikan 1 tablet metformin
500 mg, kemudian dosis insulin dikurangi secara berangsur-angsur (4 unit setiap 2 4
hari). Pemakaian tablet dapat ditambah setiap interval mingguan.
b. Bila dosis insulin lebih dari 60 unit sehari, pemberian metformin adakalanya
menyebabkan penurunan kadar gula darah dengan cepat. Pasien demikian harus
diamati dengan hati-hati selama 24 jam pertama setelah pemberian metformin,
sesudah itu dapat diikuti petunjuk yang diberikan pada (a) di atas.

2.2.2 Biguanida (metformin)


Mekanisme Kerja
Golongan Biguanida ini mempunyai efek menurunkan kadar gula darah yang meningkat
pada penderita diabetes, tetapi tidak meningkatkan sekresi insulin. Penurunan kadar gula
darah ini disebabkan oleh peningkatan asupan glukosa ke dalam otot, penurunan
glukoneogenesis yang meningkat dan penghambatan absorpsi glukosa intestinal. Metformin
meningkatkan sensitivitas insulin di hati dan jaringan periferal (otot). Mekanisme pasti
bagaimana metformin dapat meningkatkan sensitivitas insulin masih diteliti. Tetapi mungkin
berhubungan dengan adanya adenosine-5-monofosfat yang mengaktifkan aktivitas protein
kinase, tirosin kinase dan glukosa transporter.
Efeknya ialah turunnya kadar insulin yang terlalu kuat dan penurunan berat badan, karena
bersifat menekan nafsu makan. Pada orang normal, mekanisme antiregulasi akan menutupi
efek obat sehingga kadar gula tidak berubah. Metformin tampaknya memperkuat efek
insulin dengan meningkatkan ikatan insulin pada reseptornya.
Farmakokinetik
Penyerapan oleh usus baik sekali dan obat ini dapat digunakan bersamaan dengan insulin
atau sulfonilurea. Metformin mencapai kadar puncak dalam darah setelah 2 jam dan
diekskresi melalui urin dalam keadaan utuh dengan waktu paruh 2-5 jam. Metformin
mempunyai bioavailabilitas oral sekitar 50-60%, kelarutan rendah pada lemak & memiliki
volume distribusi pada cairan tubuh. Metformin tidak dimetabolisme dan tidak berikatan
dengan protein plasma. Metformin dieliminasi melalui sekresi tubular ginjal dan filtrasi
glomerular. Waktu paruh metformin yaitu 6 jam, secara farmakodinamik efek
antihiperglikemia metformin > 24 jam.
Efek Samping
Metformin mempunyai efek gastrointestinal seperti mual, kembung, diare pada sekitar 30%
pasien, anoreksia dan perasaan kenyang menyebabkan terjadinya penurunan berat badan.
Efek samping ini dapat diatasi dengan pemberian obat secara titrasi lambat. Efek samping
ini biasanya terjadi selama beberapa minggu. Jika terjadi efek samping pastikan pasien
minum metformin dengan makanan atau setelah makan dan kurangi dosis hingga efek
samping gastrointestinal ini tidak terjadi. Peningkatan dosis dapat dilakukan dalam beberapa
minggu. Terapi metformin jarang terjadi asidosis laktat (3 kasus per 100.000 pasien tiap
tahun). Metformin digunakan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, jika diketahui
kadar serum kreatinin yaitu 1,4 mg/dl pada wanita dan 1.5 mg/dl pada pria maka metformin
dikontraindikasikan. Metformin tidak boleh diberikan pada pasien lanjut usia yang telah
mengalami penurunan masa otot, dimana jumlah rata-rata filtrasi glomerular kreatinin urin
selama 24 jam kurang dari 70-80 ml/menit.
Interaksi
Interaksi yang Merugikan :
a. Metformin-fenprokumon
Menyebabkan peningkatan eliminasi fenprokumon. Hal ini dihubungkan dengan adanya
peningkatan aliran darah ke hati.
b. Metformin-alkohol
Alkohol meningkatkan efek antihiperglikemi dan hiperlaktatemi dari metformin. Meskipun
demikian, pasien yang diobati dengan metformin sebaiknya menghindari alcohol.
Interaksi yang Menguntungkan :
a. Metformin-golongan sulfonilurea

Merupakan kombinasi yang rasional karena mekanisme kerja yang berbeda yang saling
aditif. Kombinasi tersebut dapat menurunkan kadar glukosa darah lebih banyak daripada
pengobatan tunggal masing-masing obat tersebut.
b. Metformin-insulin
Kombinasi ini dianjurkan pada pasien obesitas yang kadar glukosa darahnya sulit
dikendalikan.
Dosis dan Pemberian
Metformin biasanya diberikan dengan dosis 500 mg 2 kali sehari dengan makanan untuk
mengurangi efek samping gastrointestinal. Metformin dapat ditingkatkan dosisnya dari 500
mg tiap minggu hingga tercapai glikemik atau 2000 mg/hari. Dimungkinkan dosis metformin
sehari 850 mg dan kemudian ditingkatkan setiap 1 atau 2 minggu hingga mencapai dosis
maksimal 850 mg sehari 3 kali (2550 mg/hari), sekitar 80% efek penurunan glikemik terlihat
pada dosis maksimal efektif 1500 mg dan 2000 mg/hari.
Cara penggunaan
Pemberian metformin dapat dimulai dengan dosis 500 mg saat makan malam atau sesudah
makan dan dititrasi tiap minggu sebesar 500 mg dengan toleransi pemberian dosis tunggal
malam hari sebesar 2000 mg/hari. Metformin dengan pemberian 2-3 kali sehari dapat
mengurangi efek samping gastrointestinal dan memberi kontrol glikemik. Penggunaan
metformin maksimal 3g/hari.
Tablet Metformin 750 mg dapat dititrasi tiap minggu hingga mencapai dosis maksimum 2250
mg/hari dengan terlebih dahulu diberikan dosis 1500 mg/hari dapat memberikan efek
penurunan glikemik.
Perhatian
Metformin tidak dianjurkan untuk anak-anak. Obat ini pernah diberikan pada ibu hamil tanpa
timbulnya masalah khusus. Tetapi umumnya kehamilan dianggap sebagai kontraindikasi.
Metformin dapat masuk ke dalam air susu ibu dalam jumlah kecil karena itu sebaiknya
dihindarkan pada wanita menyusui.