Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Populasi

dan

jumlah

penduduk

di

suatu

wilayah

selalu

berubahpergerakannya, tidak tetap seiring dengan perjalanan waktu.Pertambahan


pendudukterjadi karena angka kelahiran dan angka kematian tidak seimbang,
dimana angkakelahiran lebih besar dari angka kematian.Pertambahan penduduk
juga dipengaruhiselisih angka penduduk yang masuk dan keluar dalam suatu
wilayah.Persebaran atau distribusi penduduk penduduk disuatu wilayah atau
negara juga tersebar tidak merata, hal ini menambah deretan masalah kepadatan
penduduk.
Kepadatan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan lahan, baik lahan
untuk tempat tinggal, sarana penunjang kehidupan, industri, tempat pertanian, dan
sebagainya.Untuk mengatasi kekurangan lahan, sering dilakukan dengan
memanfaatkan lahan pertanian produktif untuk perumahan dan pembangunan
sarana dan prasarana kehidupan.Selain itu pembukaan hutan juga sering dilakukan
untuk membangun areal industri, perkebunan, dan pertanian.Meskipun hal ini
dapat dianggap sebagai solusi, sesungguhnya kegiatan itu merusak lingkungan
hidup yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Jadi peluang terjadinya
kerusakan lingkungan akan meningkat seiring dengan bertambahnya kepadatan
penduduk.
Kepadatan penduduk erat kaitannya dengan kemampuan wilayah dalam
mendukungkehidupan penduduknya. Daya dukung lingkungan dari berbagai
daerah di Indonesiatidak sama. Daya dukung lingkungan pulau Jawa lebih tinggi
dibandingkan dengan pulaupulaulain, sehingga setiap satuan luas di Pulau Jawa
dapat mendukung kehidupan yanglebih tinggi dibandingkan dengan di
Kalimantan, Papua, Sulawesi, danSumatra.Kemampuan suatu wilayah dalam
mendukung kehidupan itu ada batasnya.Apabila kemampuan wilayah dalam
mendukung lingkungan berlebihan, maka dapat berakibatpada terjadinya tekanantekanan penduduk.Jadi, meskipun pada suatu daerah memilikidaya dukung

lingkungannya

tinggi,

wilayahtersebut

namun

dalam

juga

perlu

mendukung

diingat

batas

kemampuan

keberlangsungan

kehidupan

selanjutnya.Thomas Robert Maltus, seorang sosiolog Inggris, mengemukakan


teori yang berjudul Essay on The Principle of Population. Maltus menyimpulkan
bahwa pertambahan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan pertambahan
produksi pangan mengikuti deret hitung. Jadi semakin meningkat pertumbuhan
penduduk, semakin tinggi pula kebutuhan pangan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah:
1. Interelasi faktor-faktor demografi terhadap persebaran penduduk (menurut
WilburZelensky)?
2. Konsep faktor-faktor demografi dan persebaran penduduk?
3. Interelasi faktor-faktor demografi terhadap persebaran penduduk?
4. Permasalahan persebaran penduduk di Indonesia dan solusinya?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk

mengetahui

interelasi

faktor-faktor

demografi

terhadap

persebaranpenduduk (menurut Wilbur Zelensky)


2. Untuk mengetahui konsep faktor-faktor demografi danpersebaran penduduk
3. Untuk mengetahuiinterelasi faktor-faktor demografiterhadap persebaran
penduduk
4. Untuk mengetahui permasalahan persebaran penduduk diIndonesia dan
solusinya

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Interelasi Faktor-faktor Demografi Terhadap Persebaran Penduduk


(MenurutWilbur Zelensky)
2.1.1 Hubungan Di Dalam Sifat Demografi (Menurut Wilbur Zalensky)
Banyak dimensi dan sifat dari populasi manusia selain dari ukurannya
yangharus dideskripsikan, dijelaskan dan diinterpretasikan dengan baik sehingga
dapatdipahami oleh masyarakat yang mana berimbas pada keunikan geografis
dalammasyarakat itu sendiri. Hal ini tidak akan cukup jika hanya dengan
menjelaskanbagaimana

dan

mengapa

karakteristik

populasi

ini

seperti

kelihatannya sekarang. Sifattimbal-balik dari populasi yang terjadi dan berimbas


pada fenomena geografis harusdiidentifikasi lebih lanjut agar bias didapatkan
hasil analisis geografis yang lebihlengkap.
Jika angka mutlak dan distribusi relative dari masyarakat telah disetujui
denganbukti dan detil yang lengkap, hal ini semata untuk tujuan ilustratif. Secara
kasar,beberapa hasil analisis yang sama telah diaplikasikan pada sekian banyak
topic demografi yang telah seringkali dipakai. Ini benar terjadi bahwa topik yang
membahastentang jumlah populasi merefleksikan hampir pada semua orang atau
lapisanmasyarakat, yang mana kelimpahan informasi yang berikatan telah tersedia
pada subjektersebut, dan topic ini seringkali menjadi yang paling strategis karena
dapat dengancepat dan efektif menunjukkan jalan ke banyak aspek geografi
penduduk.
Subjek manapun yang sama sulitnya dengan geografi penduduk
membutuhkanidentifikasi lebih lanjut pada isu-isu yang penting, yang dalam hal
ini elemen lain yangberhubungan dengan fenomena ini bergantung pada
kesensitifitasannya pada kondisiyang bermacam yang akan sangat berharga untuk
tujuan diagnosa masalah. Meskipunjumlah penduduk dan distribusi seringkali
membantu berjalannya fungsi ini, cara initerkadang tidak cocok dengan topik
yang lain yang masih berhubungan. Perubahanpopulasi mungkin saja dapat
menjadi subjek sentral untuk banyak bagian dari duniakontemporer;
tatanan

etnik,

komposisi

karakteristikmigrasi

yang

perumahan,
mungkin

sangat

struktur
penting

jabatan,
dalam

atau
situasi

manapun.Penelitian yang umum danmandiri, pemilihan panitia khusus dari

hampir semua poin strategis dari fungsi ini sangatdibutuhkan untuk pemilihan
awal untuk penelitian regional secara khusus dalam geografipenduduk.
Untungnya, sifat populasi hampir selalu berhubungan antara satu dengan
yanglain. Berdasarkan definisi dasarnya yang membawa mereka menuju
keadaannya saat ini.Dengan hubungannya saat ini yang sanagat erat kaitannya
dengan aspek biologi,sosiologi, dan lainnya maka aspek populasi akan meningkat
dengan pesat.
2.1.2 Organik Dan Asosiasi Universal Lain Antar Sifat Populasi (Menurut Wilbur
Zelinsky)
Apa hubungan sifat di antara karakteristik populasi? Tiga atau empat jenis
hubungan dapat dideteksi. "Mari kita mulai dengan hubungan organik yang
ditentukan sifat demografis, sifat demografis ini adalah universal dan tergantung
pada biologi dasar manusia, dengan variasi antara ras manusia yang salah satunya
antara kelalaian atau keraguan. Risiko kematian akibat penyakit organik atau
menular sangat bervariasi terhadap usia, mencapai maksimal pada awal masa
kelahiran, setelah itu menurun drastis, dan meningkat secara bertahap setelah
tingkat minimum pada masa kanak-kanak dan remaja ke tingkat akhir saat usia
tua. Seperti usia tertentu tingkat kematian dapat diamati dalam setiap kelompok
yang cukup besar untuk meminimalkan efek dari faktor yang acak, meskipun
tingkat tersebut dapat digelapkan sesekali oleh epidemi yang besar atau kematian
kekerasan dalam skala besar.
Selain itu, sebuah fisiologi yang berbasis perbedaan jenis kelamin pada
angka kematian mendukung perempuan saat usia paruh baya dan tua (serta pada
periode janin), dan hubungan dekat yang ada antara usia atau jenis kelamin di satu
sisi dan penyebab kematian atau risiko yang menimbulkan salah satu dari daftar
panjang penyakit di sisi yang lain. Keproduktifan dari kedua jenis kelamin ini,
sebagian besar, ditentukan oleh usia, maka, kejadian melahirkan sangat terkait
dengan usia tua, yang diperjelas, tentu saja, oleh praktek-praktek seksual dari
budaya tertentu dan adat perilaku reproduksi tersebut di dalam atau di luar
pernikahan. Dalam semua masyarakat urutan pekerjaan terjadi dalam perjalanan
siklus kehidupan. Meskipun identitas urutan ini sangat bervariasi, keberadaannya

jelas terkait dengan perubahan dalam kapasitas fisik dan mental individu yang
berlangsung selama rentang hidupnya.
Hubungan lainnya dari sifat populasi adalah perilaku dan kemungkinannya
hubungan ini khususnya aspek sosial dan ekonomi mereka-adalah yang paling
memprihatinkan bagi ahli demografi tersebut. Mereka ditangani secara sistematis
dalam banyak risalah yang baik, di antaranya hal berikut ini bisa sangat
dianjurkan: Departemen Sosial PBB, Divisi Kependudukan, Penentu dan
Konsekuensi Pemantau Kependudukan: Sebuah Ringkasan Temuan Penelitian
pada Hubungan antara Perubahan Kependudukandan Kondisi Ekonomi dan
Sosial (New York, 1953), T. Lynn Smith, Dasar-Dasar StudiKependudukan
(1'hilaclclphia: Lip pincott , 1960); William Petersen, Populasi (New York:
Macmillan, 1961).
Budaya di asalnya, namun begitu luas bahwa mereka diambil begitu
saja.Faktanya, banyak dari perilaku yang bersangkutan mungkin menjadi naluriah
sebanyak yang diketahui.Misalnya, sifat bekerja yang dilakukan oleh laki-laki
dapat bervariasi secara drastis dari yang dilakukan oleh perempuan.Melahirkan
anak adalah mungkin satu-satunya tugas yang diragukan oleh perempuan, namun
laki-laki memiliki control eksklusif ketika berperang, jenis yang lebih berbahaya
dari berburu, dan kegiatan agresif lainnya membutuhkan kecakapan fisik.Hampir
semua tugas yang diberikan secara tegas digambarkan sebagai laki-laki atau
perempuan, walaupun ada pekerjaan tertentu yang dapat dialokasikan untuk kedua
jenis kelamin, tergantung pada adat istiadat suatu masyarakat tertentu.Keluarga
(dengan atau tanpa pernikahan resmi) merupakan fenomena universal yang
lainnya, hal tersebut berfungsi sebagai sosial dasar, seksual, reproduksi,
pendidikan, dan sampai saat ini, unit ekonomi suatu masyarakat. Tidak adanya
organisasi keluarga yang normal atau keseimbangan normal suatu jenis kelaminsituasi yang ditemukan dalam masyarakat perbatasan yang baku, populasi
institusional, atau kekerasan tertentu yang mengganggu kelompok-akan
menyebabkan kesuburan yang rendah, struktur usia yang berubah, dan kondisi
pekerjaan dan migrational yang agak ekstrim.
Meskipun hubungan sebelumnya merupakan dasar, penting, dan universal,
mereka disaingi (dan umumnya melebihi) secara signifikan dan jauh kalah jumlah

oleh korelasi antara sifat-sifat demografis khusus untuk masyarakat tertentu.


Beberapa jenis hubungan individu dapat diulang dengan sedikit perubahan dari
satu tempat ke tempat yang lain, tapi secara keseluruhan, mereka unik untuk
daerah atau orang tertentu,. Jelas, banyak hubungan yang besar benar-benar hilang
di antara masyarakat yang kurang berteknologi maju karena karakteristik yang
diperlukan sama sekali tidak ada. Masyarakat relatif tidak rumit di mana orang
hidup dengan.berburu dan mengumpulkan atau di mana mereka beroperasi pada
tahap lebih sederhana dari pembangunan pertanian. Kota tidak ada dalam
masyarakat ini, maka, populasi tidak dibagi kedalam komponen perkotaan dan
pedesaan.Baik

itu

tulisan

maupun

pendidikan

formal

yang

telah

dikembangkan, sehingga perbedaan pendidikan atau keaksaraan itu tidak


ada. Hanya sebuah saran yang samar pada kelas sosial atau spesialisasi
pekerjaan adalah bukti-kecuali yang ditetapkan berdasarkan jenis kelamin
dan usia.Pendapatan moneter hanya memiliki sedikit, jika ada, makna, dan
tidak ada perbedaan yang berarti dalam standar kehidupan atau kondisi
perumahan. Masing-masing kelompok biasanya ras homogen, dan semua
anggota berbicara dangan bahasa yang sama dan memegang kepercayaan
agama yang sama (baik bahasa dan agama mungkin terbatas kepada
kelompok yang bersangkutan). Meskipun masyarakat sebagai.keseluruhan
bias berubah dari satu tempat ke tempat lain, hampir tidak ada individu
atau keluarga bermigrasi masuk atau keluar dari masyarakat, maka tidak
ada migrasi dalam arti sosialkecuali para tawanan perang atau pengantin
yang diambil dari masyarakat sekitar.
2.1.3 Korelasi Status Residential dengan Komposisi Penduduk (Menurut Wilbur
Zelinsky)
Sebuah masyarakat yang lebih kompleks, berkembang dari kemajuan
teknologi, memperluas daftar kategori di mana populasi dapat diklasifikasikan,
dan sangat menguatkan asosiasi antara kategori ini. Semua hubungan tersebut
dapat dikelompokkan menjadi dua kelas besar: yang pada dasarnya logis dan
fungsional, dan random atau sewenang-wenang. Di antara yang pertama, empat
kelompok asosiasi utama, yaitu yang berdasarkan tempat tinggal, status migrasi,

kelas, dan pekerjaan, dapat dideteksi dalam masyarakat yang relatif maju. Hal ini
ada di samping universal, hubungan organik yang sudah dibahas (usia kematian,
seks kematian, usia dan jenis kelamin-morbiditas, usia kesuburan, dan usiapekerjaan), tapi mungkin sering terjerat dengan mereka.
Status Residential adalah dasar untuk apa yang mungkin sistem yang
paling mencolok dari asosiasi sifat. Grup berubah saat mereka berevolusi dari
pedesaan yang tegas, masyarakat terpencil ke masyarakat pedesaan yang semakin
terkena pengaruh metropolitan, melalui desa-desa yang menambah ukuran dan
kompleksitas, sampai jajaran 'kota-kota kecil dan menengah sampai konurbasi
terbesar. Selain sebuah peningkatan yang besar dalam kepadatan penduduk, salah
satu memperhatikan sebuah peningkatan kompleksitas fungsi dan, dengan
demikian, struktur kerja; keragaman yang lebih besar dari ras dan etnis, bahasa,
dan agama daripada yang biasanya ditemukan di desa-desa negara kecil menjadi
terlihat sebagai pertumbuhan kota. Pendapatan rata-rata dan standar hidup
cenderung jelas lebih tinggi di kota-kota daripada di daerah pedesaan, namun
penyimpangan dari norma juga cenderung lebih luas, Struktur kelas kota
menyimpang jauh dari yang ada di daerah pedesaan tetapi biasanya tidak begitu
dalam cara yang hanya berlaku untuk suatu wilayah tertentu. Populasi perkotaan
sangat berbeda dari kelompok pedesaan dalam hal usia dan komposisi jenis
kelamin; umumnya ada sebuah representasi kuat orang dewasa yang muda dan
ketidakseimbangan jenis kelamin. Hampir di manamana, kesuburan perkotaan dan
ukuran keluarga telah jauh di bawah tingkat desa, kadangkadang sangat banyak;
dan mobilitas rakyat kota telah sangat tinggi sebagai pertumbuhan metropolis
terutama oleh migrasi dari pedesaan dan dari kota-kota lain. Tingkat kematian,
pola morbiditas, struktur perkawinan, dan penyebab kematian berbeda di kotakota dan daerah pedesaan, tetapi karena mereka bervariasi melalui waktu dan dari
tempat ke tempat, generalisasi luas menjadi tidak mungkin. Kota, sebagai sebuah
kelas, telah terdaftar lebih kuat tingkat positifnya dari pertumbuhan bersih
daripada yang dimiliki oleh traktat perdesaan, dan semakin besar kota, besar pada
umumnya, semakin besar pula peningkatan absolut dan relatifnya. Hampir setiap
indeks tindakan prestasi sosial-ekonomi kota lebih baik dari pedesaan: melek
huruf, pencapaian pendidikan, atau persentase angkatan kerja dalam profesi dan

pekerjaan lainnya yang relatif maju. Atau daerah perkotaan lebih unggul dalam
bidang perumahan yang kurang jelas, tetapi ada perbedaan mencolok antara jenis
perumahan perkotaan dan pedesaan di setiap masyarakat, arah dan sifat dari
perbedaan ini lagi-lagi sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain.
Untuk setiap negara urban, sistem diferensiasi internal dalam kota individu juga
dapat dikemukakan, terutama di kota-kota yang lebih besar; kita bisa membuat
asosiasi yang berbeda antara sifat-sifat di satu sisi dan lingkungan kota, dalam hal
usia, fungsi, atau lokasi, di sisi lainnya. Namun, aturan dasar untuk suatu anatomi
demografi kota berbeda.
2.1.4 Keterkaitan

Fungsional

Diantara Ciri Ciri

Populasi Demografis:

Migrasi, Kelas, Dan Pekerjaan


Antara budaya kota yang berbeda-beda, membuatnya tak putus harapan
untukmencari generalisasi yang valid. Ciri-ciri yang lain, secara fungsinya, dari
gejala migrasi,dimana sebuah populasi dengan pelengkap migrasi yang relatif
komplit sepertinya, secararadikal, supaya berbeda dari seseorang yang sudah
menetap. Perbedaan antara imigrandan residual group bisa mengantarkan pada
keseluruhan karakter demokrafis, tapi padadasarnya perbedaan-perbedaan yang
tergantung pada

alasan

spesifik

mengapa

merekapindah

itu, membuat

penyamarataan yang berbahaya. Di satu sisi, volume migrasi,tanggal, durasi,


sumber, jarak, motivasi, ukuran kebebasan, dan faktor-faktor yang lainharus
dipertimbangkan

sebelum

membentuk

hubungan

antara

migrasi

dan

strukturpopulasi. Ketika dasar yang dibutuhkan itu lengkap, maka analisis


demikian bisa memberikan wawasa yang luas mengenai populasi baik migran
maupun masyarakatsetempat.
Dua tipe pergaulan di depan sangat menarik perhatian ahli geografi
karenamereka sering bertemu dengan hal yang demikian. Beberapa bagian dunia
yang sangatpenting sangat jelas di peta populasi karena banyaknya karakter
militan, contohnya jalurtiga daerah industri perkotaan yang sangat besar
merenggangkan tenggara bagian timurmelintasi eropa dari Belgium sampai
ukraina bagian tengah, bagian tengah inggris,Amerika bagian timur laut, daerah
pinggiran ukraina bagian tenggara, pusat kota italibagian timur laut, atau pusat

Ihonshu bagian tenggara. Penduduk yang terkemuka adalahzona luas yang


karakternya sangat pedalaman; tapi ketika orang pedalaman dan orangperkotaan
bercampur, biasanya seseorang bisa mengenal populasinya dengan gampangdari
segi tempat tinggal, kontrasnya area perkotaan dan pedalaman dalam
strukturpopulasi. Dengan cara yang sama, sangat mudah untuk mengidentifikasi
zona yang kuat,dan gigih sebagai pengetahuan manusia and to mendeteksi
perbedaan yang signifikansecara geografis dalam populasi itu. Tidak ada
guananya kukatakan, ada asumsi,walaupun tidak lengkap, meliputi identitas
masyarakat dan tempat yang diklasifikasimenurut skala kota, pedalaman, dan
migrasi.
Asosiasi fungsional yang lain sebenarnya tak terlalu begitu penting bagi
ahligeografi, mekipun hal ini menjadi sangat penting bagi ahli demografi. Untuk
kalanganmenengah dan menengah-kebawah, yang status ekonominya berdasarkan
padapenghasilan, kekuasaan atau gengsi, membawa dampak pada kecocokan
dengan persepsiahli demografi dengan jenis yang bermacam-macam dari suatu
budaya ke budaya yanglain. Umumnya, semakin tinggi jumlah lelaki di
masyarakat, semakin rendah pula tingkatkematian dan kelahrian yang terjadi,
mobilitas spasial yang tinggi, perumahan perkotaan,dan fasilitas rumah yang
memadai; hal inilah yang menjadikan pola yang tak baik untukorang-orang yang
hidup dibawahnya, yang mana dari kalangan yang terpelajar yangmembutuhkan
masa belajar atau sekolah yang lebih lama dan memiliki lebih dari satukeahlian
yang dapat membawanya menuju pekerjaan yang bergengsi.
Meskipun tidak mungkin untuk dilakukan penilaian tingkatan dari
terendah ketertinggi, namun benar terjadi bahwa setiap jabatan tinggi atau industri
membawakonsekuensi demografi masing-masing.Sifat ini dihubungkan dengan
kelas atau jabatan yang harusnya distratifikasikan di kalangan sosial, dan sangat
jarang terjadi ketikapenempatan area yang dilakukan di area kossong lebih tinggi
daripada yang dapat dilihatsecara samar-samar. Sejak ekspresi spasial mereka
masih tak jelas dan seringkali dibatasioleh faktor genetis yang lain yang lebih
sensitif pada lokasinya, para ahli geografi hanyamemperhatikan pada kelas dan
jabatan di pupulasi yang mereka pelajari saat ini.

2.1.5 Ras, Bahasa, Dan Agama Sebagai Faktor Demografi (Menurut Wilbur
Zelinsky)
Fungsi asosiasional yang lain di tengah sifat pupulasi dipusatkan pada
ras,bahasa, agama, dan diperluas pada jenis kelamin, yang mana merupakan suatu
kualifikasiyang acak dan bahkan tidak rasional.Jelas bahwa sangat banyak
perbedaan di antara ras,bahasa dan agama, namun sangat sedikit perbedaan yang
kelihatan yang lebih signifikan.Penelitian intensif telah gagal, yang pada awalnya
berusaha untuk mengungkapperbedaan dan menghilangkan hal tersebut yang
maan menyangkut kapasitas moral danmental pada ras yang bermacam.Masalah
pada bahasa yang digunakan para kalangan atasdengan kalangan bawah atau
dengan masalah agama merupakan masalah yang sangatsulit. Suatu bahasa
mungkin dapat mengekspresikan lebih baik daripada yang lain, atauagama yang
dibawa sejak lahir mungkin terlalu besar berpengaruh pada satu jalur
danmengerdilkan yang lain. Dinilai dari kesuksesan relatif dari bahasa tersebut
danteologinya secara umum merupakan suatu pendapat yang pasti berbeda antara
satu denganyang lain. Di kasus manapun, beberapa ras maupun bahasa ataupun
agama memlikikekuatannya masing-masing yang pada umumnya karena jejak
sejarah yang lebih kuatdaripada yang lain dan bukan karena superioritas ataupun
inferioritas.
Contohnya adalah, silahkan ambil buku kontemporer British East
Africa,dimana populasinya telah distratifikasikan secara kaku di di seluruh jalur
ras yang manajuga membedakan antara ras, bahasa dan kelas sosial. Semakin
rendah strata sosial yangterbentuk pada penduduk asli Afrika yang berbicarqa
dengan bahasa Bantu atau Sudandan telah menjelajahi agama suku tradisional
mereka, kecuali pada minoritas umatKristen. Di beberapa level yang lebih tinggi,
sekelompok kecil dari penduduk IndianTimur, yang mayoritasnya beragama
Hindu, masih berbicara dengan bahasa asli mereka.Di level tertinggi, sekelompok
kecil orang eropa menganut agama Kristen dan berbicarabahasa inggris. Struktur
Demografis masing-masing suku dari tiga komunitas memilikicara yang khusus.
Dan sebagai karakter populasi bisa dinilai secara kuantitatif, merekamemiliki
status social yang bersifat kesukuan.

Diantara planet-planet yang tidak terbatas jumlahnya yang mungkin


memilikikondisi fisik yang sama dengan bumi dimana kehidupan manusia itu,
sangatlah mungkinterdapat sebuah daerah di suatu planet dimana masyarakatnya
sama dengan orang inggrisdan afrika. Mungkin saja terdapat sebuah masyarakat
negro yang dapat berbicara bantudan melekat pada hinduisme atau cara pemujaan
masyarakat Afrika, sementara itumasyarakat yang lebih sedikit mungkn terdiri
dari masyarakat Kristen yang berkulit putihdan coklat dan mereka berbicara
bahasa Inggris. Meskipun hal tersebut berbandingterbalik dengan masyarakat
Afrika timur sekarang, tetapi masih banyak jenis-jenissifat/karakter yang
berhubungan dengan masyarakat, status migrasi, kelas, dan jabatan.
Dalam hal tertentu, seseorang dapat mengamati banyak bagian dari grupgrup penting
dunia tentang cirri-ciri demograsi yang termasuk di dalamnya adalah suku,
bahasa, danagama. Karena perkumpulan seperti ini memiliki area yang
berbeda.Mereka dapatmenjadi ahli bumi yang handal.
2.1.6 Sebuah Pendekatan Terhadap Bentuk Geografis Dari Daerah Penduduk
(MenurutWilbur Zelinsky)
Salah satu tujuan utama dari adanya geografi penduduk adalah untuk
mengertitempat penduduk yang bervariasi tentang tempat mereka, peenyebab,
resiko, dan diatassemua itu adalah interaksi mereka dengan masyarakat lain secara
budaya dan fisik dengandemikian menghasilkan kepribadian geografis bagi
masing-masing penduduk dunia. Duapendekatan yang dapat diterapkan telah
dianalisa terhadap pola pendistribusian tentangkarakteristik penduduk dan
mempelajari perbedaan genetika tentang karakteristik tersebut.
Meskipun dua teknik tersebut berguna, tetapi masih dibutuhkan kerangka
yanglebih komprehensif yang dapat menggabungkan metode yang satu dengan
metode yanglain sehingga menghasilkan hasil yang optimal dengan wacana ilmiah
tingkat tinggi dananalisis geografi yang dapat dicapai. Kerangka kerja yang
bersifat metodologi seharusnyadapat memberikan pemahaman kepada siswa.Dan
juga pengertian tentang lokasi dalamruang dan waktu dengan fenomena yang
telah diteliti sebelumnya. Jika bagian kecil darisebuah Negara sedang diteliti,

interkoneksi antara penduduknya dan Negara secarakeseluruhan seharusnya dapat


dilihat dan jika sebuah Negara sedang diteliti, maka sebuahmetodologi yang ideal
akan menjelaskan dengan gambling perbedaan dan kesamaantentang penduduk
tersebut yang bertentangan dengan Negara-negara yang lain. Sebuahmetodologi
yang berhasil harus membahas microregion dan macroregion, dan jugatentang
dunia dan hal tersebut harus dapat memberikan kecepatan dalam hal
menunjukanarah dan tingkat perubahan.Selain itu, hal tersebut juga harus
mengarah pada tafsirangeografis yang terluas dan terdalam dari kenyataan jumlah
penduduk.
Hal tersebut mengharapkan banyak dari metodologi apapun.Apa
yangditawarkan disini adalah, frankly, sebuah model experiment yang
mengisyaratkan pengetahuan. Mungkin, kita tidak memiliki cara penyelesaian
yang bagus selamabeberapa tahun. Meskipun beberapa penelitian telah
menunjukan bahwa banyak materiyang hilang akan dihasilkan dalam waktu yang
dekat. Dalam menjaga kerumitan darikenyataan tersebut, sistim ini tidak
menawarkan formula yang sederhana yang dapatdigunakan tanpa persiapan kerja.
Sama dengan gangguan kepada mereka yangmembayangkan dunia dalam bentuk
pola pengulangan adalah penemuan yang manasetiap daerah digambarkan melalui
sistim ini disebut istilah umum dan itu hanya dalamcara yang terbatas yang mana
hal tersebut meniru cirri-ciri dari daerah lain.
Rencana yang diusulkan tersebut menerapkan baik daerah dari tempat
terkecilsampai Negara terbesar atau suku-suku atau penduduk lain termasuk
mereka yangterasingkan. Jumlah penduduk geografi masyarakat Finlandia atau
Cina sangatlah berbedadari masyarakat yang tinggal di Negara Finlandia ataupun
Cina.Kedua pendekatantersebut tentu saja benar, penelitiannya bergantung pada
sasaran penelitian. Untukmenghindari pengulangan yang tidak perlu, harus
dipahami terlebih dahulu ketika istilaharea, daerah, atau sinonimnya Nampak.
Seseorang mungkin membaca jumlahpenduduk, rubah,grup etnik atau
istilah yang sama. Area pengelompokan dari hasililmu bentuk tubuh yang
diusulkan sangat berguna tidak hanya bagi jumlah pendudukgeografi tetapi juga
untuk cabang-cabang geografi ekonomi dan kebudayaan yang lain.

2.2 Konsep Faktor-Faktor Demografi Dan Persebaran Penduduk


2.2.1 Faktor-faktor Demografi
Faktor-faktor demografi meliputi tiga hal, yaitu kelahiran, kematian, dan
migrasi(migrasi masuk dan migrasi keluar). Kelahiran akan menambah jumlah
penduduk,sedangkan kematian akan mengurangi jumlah penduduk. Migrasi
adalah perpindahanpenduduk dari satu daerah ke daerah lain. Migrasi masuk akan
menambah jumlahpenduduk, sedangkan migrasi keluar akan mengurangi jumlah
penduduk.
Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke
tempatyang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang
merupakanperpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara
lain dan juga migrasiinternal yang merupakan perpindahan penduduk yang
berkutat pada sekitar wilayah satunegara saja.
Alasan yang menyebabkan manusia atau seseorang melakukan aktivitas
migrasi:
a) Alasan Politik
Kondisi perpolitikan suatu daerah yang panas atau bergejolak akan
membuat pendudukmenjadi tidak betah atau kerasan tinggal di wilayah
tersebut.
b) Alasan Sosial Kemasyarakatan
Adat-istiadat yang menjadi pedoman kebiasaan suatu daerah dapat
menyebabkanseseorang harus bermigrasi ke tempat lain baik dengan
paksaan

maupun

tidak.Seseorang

yang

dikucilkan

dari

suatu

pemukiman akan dengan terpaksa melakukankegiatan migrasi.


c) Alasan Agama atau Kepercayaan
Adanya tekanan atau paksaan dari suatu ajaran agama untuk berpindah
tempat dapatmenyebabkan seseorang melakukan migrasi.
d) Alasan Ekonomi
Biasanya orang miskin atau golongan bawah yang mencoba mencari
peruntungandengan melakukan migrasi ke kota. Atau bisa juga
kebalikan di mana orang yang kayapergi ke daerah untuk membangun
atau berekspansi bisnis.
e) Alasan lain
Contohnya seperti alasan pendidikan, alasan tuntutan pekerjaan, alasan
keluarga, alasan cinta, dan berbagai lain sebagainya.

Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu
terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda kehidupan,
seperti

bernapas,

berteriak,

bergerak,

jantung

berdenyut

dan

lain

sebagainya.Sedangkan paritas merupakan jumlah anak yang telah dipunyai oleh


wanita. Apabila waktu lahir tidak ada tanda-tanda kehidupan, maka disebut
dengan lahir mati (still live) yang di dalam demografi tidak dianggap sebagai
suatu peristiwa kelahiran. Kemampuan fisiologis wanita untuk memberikan
kelahiran

atau

berpartisipasi

dalam

reproduksi

dikenal

dengan

istilah

fekunditas.Tidak adanya kemampuan ini disebut infekunditas, sterilitas atau


infertilitas fisiologis.Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil
reproduksi yang nyatadari seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata
lain fertilitas ini menyangkutbanyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas,
sebaliknya, merupakan potensi fisik untukmelahirkan anak.Jadi merupakan lawan
arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti samadengan fertilitas hanya berbeda
ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiranpada perubahan
penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran padaperubahan
penduduk dan reproduksi manusia.
Pengetahuan yang cukup dapat dipercaya mengenai proporsi dari wanita
yangtergolong subur dan tidak subur belum tersedia.Ada petunjuk bahwa di
beberapamasyarakat yang dapat dikatakan semua wanita kawin dan ada tekanan
sosial yang kuatterhadap wanita/ pasangan untuk mempunyai anak, hanya sekiat
satu atau dua persen sajadari mereka yang telah menjalani perkawinan beberapa
tahun tetapi tidak mempunyaianak.Seorang wanita dikatakan subur jika wanita
tersebut pernah melahirkan palingsedikit seorang bayi.Pengukuran fertilitas lebih
kompleks dibandingkan dengan pengukuran mortalitas(kematian) karena seorang
wanita hanya meninggal sekali, tetapi dapat melahirkan lebihdari seorang
bayi.Kompleksnya pengukuran fertilitas ini karena kelahiran melibatkan duaorang
(suami dan istri), sedangkan kematian hanya melibatkan satu orang saja (orang
yangmeninggal).Seseorang yang meninggal pada hari dan waktu tertentu, berarti
mulai saat ituorang tersebut tidak mempunyai resiko kematian lagi.Sebaliknya,
seorang wanita yangtelah melahirkan seorang anak, tidak berarti resiko
melahirkan dari wanita tersebutmenurun.

Menurut PBB dan WHO, mortalitas (kematian) adalah hilangnya semua


tanda-tandakehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah
kelahiran hidup.Still birth dan keguguran tidak termasuk dalam pengertian
kematian. Perubahan jumlahkematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah
sama, tergantung pada berbagai macamfaktor keadaan. Besar kecilnya tingkat
kematian ini dapat merupakan petunjuk atauindikator bagi tingkat kesehatan dan
tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas (kematian) dibagi menjadi
dua yaitu:
a) Faktor langsung (faktor dari dalam), yang meliputi:
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Penyakit
d. Kecelakaan, kekerasan, bunuh diri.
b) Faktor tidak langsung (faktor dari luar), yang meliputi:
a. Tekanan, baik psikis maupun fisik
b. Kedudukan dalam perkawinan
c. Kedudukan sosial-ekonomi
d. Tingkat pendidikan
e. Pekerjaan
f. Beban anak yang dilahirkan
g. Tempat tinggal dan lingkungan
h. Tingkat pencemaran lingkungan
i. Fasilitas kesehatan dan kemampuan mencegah penyakit
j. Politik dan bencana alam.
2.2.2 Faktor-Faktor Persebaran Penduduk
Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk pada tiap-tiap
daerahatau negara meliputi:
1. Faktor Fisiografis, penduduk selalu memilih tempat tinggal yang tanahnya
subur, reliefbaik, dan cukup air.
2. Faktor Biologi, pertumbuhan penduduk di setiap daerah dipengaruhi oleh
perbedaantingkat kematian, tingkat kelahiran, dan angka kelahiran.
3. Faktor Kebudayaan dan Teknologi, daerah yang masyarakatnya maju/pola
berpikirnyabagus dan keadaan pembangunan fisiknya maju akan tumbuh
lebih cepat dibandingkandengan daerah yang terbelakang.
Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi persebaran penduduk pada
tiap-tiapdaerah atau negara adalah:

1. Kesuburan tanah, daerah atau wilayah yang ditempati banyak


penduduk, karena dapat dijadikan sebagai lahan bercocok tanam dan
sebaliknya.
2. Iklim, wilayah yang beriklim terlalu panas, terlalu dingin, dan terlalu
basah biasanyatidak disenangi sebagai tempat tinggal.
3. Topografi atau bentuk permukaan tanah padaumumnya masyarakat
banyak bertempat tinggal di daerah datar,
4. Sumber air
5. Perhubungan atau transportasi.
Kemudian seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa terdapat beberapa
factor yang juga mampu mempengaruhi penyebaran penduduk, yaitu faktor
pendorong danfaktor penarik. Faktor pendorong dapat disebabkan oleh alasan
ekonomi, politis danagama. Contohnya orang Vietnam yang mengungsi, orang
Yahudi yang kembali ke Cinasetelah Perang Dunia II, orang islam di India yang
beremigrasi massal ke Pakistan. Faktor penarik sifatnya umum, misal propaganda
suatu Negara untuk menarik para imigran.
Dampak atau akibat dari persebaran yang tidak merata berpengaruh
terhadaplingkungan hidup.Daerah-daerah yang padat penduduknya terjadi
exploitasi sumber alamsecara berlebihan sehingga terganggulah keseimbangan
alam.Sebagai contoh adalah hutanyang terus menyusut karena ditebang untuk
dijadikan lahan pertanian maupun pemukiman.
Dampak buruk dari berkurangnya luas hutan adalah:
1. Terjadi banjir karena peresapan air hujan oleh hutan berkurang
2. Terjadi kekeringan
3. Tanah sekitar hutan menjadi tandus karena erosi
4. Binatang dan hewan yang ada didalam hutan pindah ke kawasan rumah
penduduk
2.3 Interelasi Faktor-faktor Demografi Terhadap Persebaran Penduduk
Persebaran penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran,
kematiandan perpindahan penduduk atau migrasi baik perpindahan ke luar
maupun ke luar.Persebaran penduduk dapatlah diartikan sebagai pindahnya
penduduk dari satu tempat ketempat lain oleh apapun sebabnya, yang akan
mengakibatkan terjadinya perubahanpenduduk. Prosesnya dengan imigrasi atau
emigrasi dan transmigrasi.Persebaranpenduduk yang minus berarti jumlah

penduduk yang ada pada suatu daerah mengalamipenurunan yang bisa disebabkan
oleh banyak hal.
2.3.1 Pengaruh Fertilitas (Kelahiran) Terhadap Persebaran Penduduk
Banyak faktor yang mempengaruhi fertilitas (fertilitas) yaitu tingkat
pendapatan,biaya anak, jam kerja, usia kawin pertama, tingkat pendidikan (SLTP
ke bawah dan SLTPke atas, serta jenis pekerjaan (dalam rumah ataupun luar
rumah). Keterkaitan pada pendapatanterhadap fertilitas adalah ketika pendapatan
seseorang naik akan semakinbesar pengaruhnya terhadap penurunan fertilitas
yang terjadi.
Keuntungan financial (materi) dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang
tuaapabila mempunyai anak, tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan
dalammembesarkan anak. Jika jumlah anak dalam keluarga itu besar, maka biaya
dan waktualokasi untuk anak akan besar pula dan hal tersebut dapat membebani
orang tuanya. Daribeberapa hasil penelitian tentang fertilitas, dilihat dari segi
ekonomi yang menjadi sebabutama tinggi rendahnya fertilitas (fertilitas) adalah
beban ekonomi keluarga.Penelitian mengenai kaitan pendidikan wanita dengan
kesuburan

di

beberapanegara,

sudah

maupun

kurang

berkembang,

mengungkapkan adanya kaitan yang eratantara tingkat pendidikan dengan tingkat


kesuburan.Semakin tinggi pendidikan semakinrendah kesuburan begitupun
sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan maka semakinbesar pula tingkat
kesuburannya. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi fertilitasadalah jam kerja
yang dihabiskan oleh wanita untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehariharinya.Semakin banyak waktu yang dikeluarkan untuk bekerja semakin
kecilkemungkinan

untuk

memperoleh

anak.Dan

faktor

terakhir

yang

mempengaruhi fertilitasyaitu jenis pekerjaan yang dilakukan di dalam rumah atau


di luar rumah. Jika pekerjaandilakukan di dalam rumah maka akan semakin besar
pula peluang untuk dapat memilikianak lebih banyak sementara jenis pekerjaan
yang dilakukan di luar rumah peluang untukmenambah anak akan semakin kecil
dikarenakan intensitas waktu di rumah akanberkurang.
New household economics berpendapat bahwa bila pendapatan dan
pendidikanmeningkat maka semakin banyak waktu (khususnya waktu ibu) yang
digunakan untukmerawat anak.Jadi anak menjadi lebih mahal. Sehingga hal ini

dapat mengurangi angkakelahiran (Mundiharno:1997).Sedangkan Menurut Bouge


(Lucas:1990) mengemukakan bahwa pendidikanmenunjukkan pengaruh yang
lebih kuat terhadap fertilitas dari pada variabel lain. Seorangdengan tingkat
pendidikan

yang

relative

tinggi

tentu

saja

dapat

mempertimbangkan

berapakeuntungan financial yang diperoleh seorang anak dibandingkan dengan


biaya yang harusdikeluarkan untuk membesarkannya.Sehingga dapat di
simpulkan bahwa faktor pemenuhan kebutuhan ekonomi(pendapatan) dan
pendidikan akan mendorong seseorang untuk melakukan migrasi,urbanisasi,
ataupun

transmigrasi

untuk

meningkatkan

pendapatan

maupun

memperolehkesempatan belajar (pendidikan) yang lebih baik. Semakin tinggi


tingkat pendapatan danpendidikan seseorang, maka akan berpengaruh terhadap
tinggi rendahnya fertilitas, dantinggi rendahnya tingkat kelahiran (fertilitas) akan
berpengaruh terhadap percepatanpersebaran penduduk.
2.3.2 Pengaruh Mortalitas (Kematian) Terhadap Persebaran Penduduk
Banyak sekali penyebab dari faktor kematian ini, yang biasanya
dipengaruhi olehusia, lingkungan sekitar/tempat tinggal dimana ada atau tidaknya
sarana prasaranapendukung kehidupan misalkan makanan, kebersihan serta
kesehatan. Selain factor tersebut juga dapat dipengaruhi oleh kejadian luar biasa
seperti bencana alam dan kejadianyang tidak terduga lainnya.Biasanya faktor ini
hanya berprosentase rendah.
Faktor-faktor di atas mampu mendorong dan menarik seseorang untuk
melakukanperpindahan tempat menuju daerah yang lebih baik dengan
pertimbangan utamanya adalahmenghindari terjadinya peristiwa yang terduga atau
bencana alam. Proses tinggi rendahnyaperpindahan tersebut akan mempengaruhi
persebaran

penduduk

pada

suatu

wilayahtertentu.

2.3.3 Pengaruh Migrasi Terhadap Persebaran Penduduk


Seperti yang telah di uraikan di atas bahwa penduduk Indonesia bersifat
highlyimmobile, tidak banyak berpindah-pindah untuk menetap di luar daerah
kelahiran merekakalau tidak terpaksa atau dipaksa untuk pindah.Istilah berpindah
ini disebut migrasi, yaituperpindahan ke luar dari batas daerah kebudayaan

seseorang.Pengertian ini lebih tepatuntuk kondisi migrasi di Indonesia, yang pada


umumnya mobilitas penduduk Indonesiabersifat merantau dengan tujuan mencari
mata pencaharian yang lebih baik, bersifatsementara dan punya harapan kembali
ke kampung halaman.Migrasi yang tidakberdasarkan sikap serta harapan untuk
kembali ke kampung halaman asli, terjadi padamasyarakat batak toba akibat
terlalu padat penduduknya sekitar tahun 1930.
Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu tempat
ketempat lainnya. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari
sumbercadangan-makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan
yang mungkinterjadi karena datangnya musim dingin atau karena kepadatan
penduduk. Selain migrasiada istilah lain tentang dinamika penduduk yaitu
mobilitas. Pengertian Mobilitas ini lebihluas daripada migrasi sebab mencakup
perpindahan wilayah secara permanen dansementara.Migrasi ini merupakan
akibat dari keadaan lingkungan seklitar yang kurangmenguntungkan bagi dirinya.
Sebagai akibat dan keadaan alam yang kurangmenguntungkan menimbulkan
terbatasnya sumberdaya yang mendukung pendudukdidaerah tersebut. Sehingga
untuk mememuhi kebutuhan tersebut, kebanyakan daripenduduk akan melakukan
migrasi dengan harapan memperoleh kehidupan yang eratkaitannya dengan
kesejahteraan dari lingkungan alam yang lebih baik danmenguntungkan.
Sehingga semakin berkurangnya sumber daya alam, menyempitnya
lapanganpekerjaan, adanya tekanan atau diskriminasi politik, agama dan ras, tidak
cocok denganadat, budaya, dan kepercayaan di daerah asalnya, dan adanya
bencana alam (banjir, gempabumi, gunung meletus, wabah penyakit akan mampu
mendorong seseorang untukbermigrasi, dan Semakin tinggi tingkat migrasi
penduduk yang disebabkan oleh factor fisiologis, biologi, kebudayaan dan
teknologi seperti bencana alam, daerahnya kritis,daerahnya terlalu padat, dan
adanya

proyek

pemberontakan),

pembangunan
mencari

pemerintah,

nafkah,

ikatan

alasan
keluarga

keamanan(adanya
(pernikahan)

dan

bersekolah.,maka akan berpengaruh pada tingkat percepatan pemerataan


persebaran penduduk padasuatu daerah.
2.3.4 Pengaruh Ras, Agama, Dan Bahasa Terhadap Persebaran Penduduk

Ada kecenderungan dari masyarakat untuk mendiami suatu daerah tertentu


karenarasa kesukuan dan keagamaan yg tinggi. Misalnya suku atau agama tertentu
lebih senangmemilih tempat tinggal yang sama dengan orang orang yg sesuku
atau seagama denganmereka, begitu pula dengan bahasa.
Sebagai contoh dapat kita lihat bahwa orang jawa tidak mau meninggalkan
kampung halamannya atau beralih pola hidup sebagai petani.Padahal hidup
mereka umumnya miskin.Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari daerah
yang terkena bencana alam juga sering mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan
karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa ditempat yang baru hidup mereka
akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka ditempat yang lama.
Selain itu, sikap etnosentris adalah sikap yang mengagungkan budaya suku
bangsa sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Sikap seperti ini
akan memicu timbulnya pertentangan-pertentangan suku, ras, agama, dan antar
golongan. Kebudayaan yang beraneka ragam yang berkembang disuatu wilayah
seperti Indonesia terkadang menimbulkan sikap etnosentris yang dapat
menimbulkan perpecahan dan juga berakibat pada tidak meratanya persebaran
penduduk.
2.4 Persebaran penduduk di Indonesia
Persebaran penduduk erat kaitannya dengan tingkat hunian atau
kepadatanpenduduk Indonesia yang tidak merata. Sekitar 60% penduduknya
tinggal di Pulau Jawayang hanya memiliki luas 6,9% dari luas wilayah daratan
Indonesia. Secara umum,tingkat kepadatan penduduk atau population density
dapat diartikan sebagai perbandinganbanyaknya jumlah penduduk dengan luas
daerah atau wilayah yang ditempati berdasarkansatuan luas tertentu.
Kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi tiga macam, berikutini:
a. Kepadatan

Penduduk

Berdasarkan

Lahan

Pertanian.

Kepadatan

penduduk berdasarkanlahan pertanian dapat dibedakan atas kepadatan


penduduk agraris dan kepadatanpenduduk fisiologis.
b. Kepadatan penduduk agraris adalah perbandingan antara jumlah
penduduk yangbekerja di sektor pertanian dengan luas lahan pertanian.

c. Kepadatan penduduk fisiologis adalah perbandingan antara jumlah


penduduk total (baikyang bermata pencaharian sebagai petani ataupun
tidak) dengan luas lahan pertanian.
Kepadatan penduduk di tiap-tiap wilayah Indonesia tidaklah sama, hal ini
tentusaja menimbulkan permasalahan kependudukan. Permasalahan ini terkait
denganpenyediaan sarana dan prasarana sosial, kesempatan kerja, stabilitas
keamanan, sertapemerataan pembangunan.Informasi kepadatan penduduk tiap
daerah perlu diketahui untuk mengetahui adatidaknya gejala kelebihan penduduk
(overpopulation), untuk mengetahui pusat-pusataglomerasi penduduk, serta untuk
mengetahui penyebaran dan pusat-pusat kegiatanekonomi maupun budaya.
Informasi-informasi tersebut pada akhirnya akan digunakansebagai dasar
perencanaan pembangunan di tiap-tiap daerah.
Akibat dari tidak meratanya penduduk yaitu luas lahan pertanian di Jawa
semakinsempit. Lahan bagi petani sebagian dijadikan permukiman dan industri.
Sebaliknyabanyak lahan di luar Jawa belum dimanfaatkan secara optimal karena
kurangnya sumberdaya manusia. Sebagian besar tanah di luar Jawa dibiarkan
begitu saja tanpa ada kegiatanpertanian. Keadaan demikian tentunya sangat tidak
menguntungkan dalam melaksanakanpembangunan wilayah dan bagi peningkatan
pertahanan keamanan negara.Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya tingkat
migrasi ke pulau Jawa, antaralain karena pulau Jawa Sebagai pusat pemerintahan,
Sebagian besar tanahnya merupakantanah vulkanis yang subur, Merupakan pusat
kegiatan ekonomi dan industri sehinggabanyak tersedia lapangan kerja, Tersedia
berbagai jenjang dan jenis pendidikan, Memilikisarana komunikasi yang baik dan
lancar.

2.5 Upaya Mengatasi Persebaran Peduduk Yang Tidak Merata


Persebaran

penduduk

antara

kota

dan

desa

juga

mengalami

ketidakseimbangan.Perpindahan penduduk dari desa ke kota di Indonesia terus


mengalami peningkatan dariwaktu ke waktu. Urbanisasi yang terus terjadi
menyebabkan terjadinya pemusatanpenduduk di kota yang luas wilayahnya

terbatas. Pemusatan penduduk di kota-kota besarseperti Jakarta, Surabaya, Medan


dan kota-kota besar lainnya dapat menimbulkan dampakburuk terhadap
lingkungan hidup seperti Munculnya permukiman liar, Sungai-sungaitercemar
karena dijadikan tempat pembuangan sampah baik oleh masyarakat maupun
daripabrik-pabrik industri, Terjadinya pencemaran udara dari asap kendaraan dan
industri,Timbulnya berbagai masalah sosial seperti perampokan, pelacuran dan
lain-lain.
Oleh karena dampak yang dirasakan cukup besar maka perlu ada upaya
untuk meratakan penyebaran penduduk di tiap-tiap daerah, Upaya-upaya tersebut
meliputi:
a.Pemerataan pembangunan.
b. Penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah yang jarang penduduknya dan
daerahpedesaan.
c.Pemberian penyuluhan terhadap masyarakat tentang pengelolaan lingkungan
alamnya.
Selain di Jawa ketimpangan persebaran penduduk terjadi di Irian Jaya
danKalimantan. Luas wilayah Irian Jaya 21,99% dari luas Indonesia, tetapi
jumlahpenduduknya hanya 0,92% dari seluruh penduduk Indonesia. Pulau
Kalimantan luasnya28,11% dari luas Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hanya
5% dari jumlah pendudukIndonesia. Untuk mengatasi persebaran penduduk yang
tidak merata dilaksanakanprogram transmigarasi. Tujuan pelaksanaan transmigrasi
yaitu Meratakan persebaranpenduduk di Indonesia, Peningkatan taraf hidup
transmigran, Pengolahan sumber dayaalam, Pemerataan pembangunan di seluruh
wilayah Indonesia, Menyediakan lapangankerja bagi transmigran, Meningkatkan
persatuan dan kesatuan bangsa, Meningkatkanpertahanan dan kemananan wilayah
Indonesia.
Sedangkan

untuk

mengatasi

kepadatan

penduduk,

pemerintah

menggalakkanprogram transmigrasi. Adapun jenis-jenis transmigrasi yang ada


adalah:
a) Transmigrasi umum, yaitu transmigrasi yang biayanya ditanggung
pemerintahditujukan untuk penduduk yang memenuhi syarat.

b) Transmigrasi spontan/swakarsa, yaitu transmigrasi yang seluruh


pembiayaannyaditanggung sendiri. Pemerintah hanya menyediakan
lahan pertanian dan rumah.
c) Transmigrasi lokal, yaitu transmigrasi yang dilakukan dalam satu
wilayah provinsi.
d) Transmigrasi khusus/sektoral, yaitu transmigrasi yang dilakukan karena
pendudukterkena bencana alam.
e) Transmigrasi bedol desa, yaitu transmigrasi yang dilakukan oleh
seluruh penduduk desaberikut pejabat-pejabat pemerintahan desa.
Untuk

mengatur

kelahiran

penduduk,

pemerintah

menggalakkan

programKeluarga Berencana dalam rangka mencapai Norma Keluarga Kecil


Bahagia danSejahtera (NKKBS).Program KB juga mengarah pada catur warga,
yaitu keluarga yangterdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak.Ternyata program
KB di Indonesia berhasilsangat baik dan bahkan dijadikan contoh oleh banyak
negara untuk mengatasi masalahkependudukan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Persebaran penduduk akan selalu dikaitkan dengan tingkat kelahiran,
kematian danperpindahan penduduk (migrasi). Perpindahan penduduk atau
migrasi merupakan akibat dari keadaan lingkungan sekitar yang kurang
menguntungkan dan menimbulkan terbatasnya sumberdaya yang mendukung
penduduk

didaerah

tersebut.

Sehingga

untuk

memenuhi

kebutuhannya,

kebanyakan dari penduduk akan melakukan migrasi dengan harapan memperoleh


kehidupan yang erat kaitannya dengan kesejahteraan dari lingkungan alam yang
lebih baik dan menguntungkan.Selain itu, penyebab tidak meratanya pesebaran
penduduk juga karena adanya kecenderungan dari masyarakat untuk mendiami
suatu daerah tertentu karena rasa kesukuan dan keagamaan yg tinggi. Misalnya
suku atau agama tertentu lebih senang memilih tempat tinggal yang sama dengan
orang orang yg sesuku atau seagama dengan mereka, begitu pula dengan bahasa.

Kepadatan penduduk di tiap-tiap wilayah Indonesia tidaklah sama, hal ini


tentu saja menimbulkan permasalahan kependudukan. Permasalahan ini terkait
dengan penyediaan sarana dan prasarana sosial, kesempatan kerja, stabilitas
keamanan, serta pemerataan pembangunan.Informasi kepadatan penduduk tiap
daerah perlu diketahui untuk mengetahui ada tidaknya gejala kelebihan penduduk
(overpopulation), untuk mengetahui pusat-pusat aglomerasi penduduk, serta untuk
mengetahui penyebaran dan pusat-pusat kegiatan ekonomi maupun budaya.
Informasi-informasi tersebut pada akhirnya akan digunakan sebagai dasar
perencanaan pembangunan di tiap-tiap daerah.
3.2 Saran
Pemusatan penduduk di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan
dan kotakotabesar lainnya dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan
hidup sepertiMunculnya permukiman liar dan kumuh (Slum Area), Sungai-sungai
tercemar karena dijadikan tempat pembuangansampah baik oleh masyarakat
maupun dari pabrik-pabrik industri.Oleh karena dampak yang dirasakan cukup
besar maka perlu ada upaya untukmeratakan penyebaran penduduk di tiap-tiap
daerah, upaya-upaya tersebut meliputi pemerataan pembangunan, penciptaan
lapangan kerja di daerah-daerah yang jarang penduduknya dan daerah pedesaan,
dan pemberian penyuluhan terhadap masyarakat tentang pengelolaan lingkungan
alamnya.

DAFTAR PUSTAKA
Brem, Peper. Pertumbuhan Penduduk Jawa, Penerbit Bratara 1975.
Breman, J.C. Djawa Pertumbuhan Penduduk dan Struktur Demografis. Penerbit
Bhratara,
1971.
Daldjoeni, N, Masalah Registrasi di Indonesia, Ekonomi dan Keuangan di
Indonesia, Vol
XXII, No. 4 Desember 1975.
Kementrian Kesehatan RI, Pendaftaran Penduduk, Kelahiran dan Kematian di
Indonesia,
Tahun 1975.
Prawiro, Ruslan H., Kependudukan Teori, Fakta dan Masalah, Bab IV, Bandung:
Alumni,
1979.