Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

HIFEMA
Diajukan Untuk Melengkapi
Persyaratan Pendidikan Dokter Ilmu Penyakit Mata
FK UNDANA

Oleh :
Septriati M. Haning, S.Ked
NIM : 1008012005
Pembimbing:
dr.Eunike Cahyaningsih, Sp.M

SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


RSUD PROF. DR.W.Z. JOHANNES
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2015

BAB I
Pendahuluan
Hifema merupakan keadaan dimana terjadi perdarahan pada bilik mata depan, dapat
terjadi akibat trauma tumpul pada mata. Darah ini berasal dari iris atau badan siliar yang robek.
(1) Hifema dapat juga disebabkan oleh trauma intraoperasi, pecahnya neurovaskularisasi, adanya
kanker, atau kelainan vaskuler lainnya.(2) Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Amerika
Serikat, kejadian hifema diperkirakan sebanyak 17 20 kasus per 100.000 orang tiap tahunnya.
(2)
Untuk penanganan pada pasien dengan hifema dapat dilakukan dalam 2 bagian yaitu
penangan konservatif dan penanganan operatif. Prinsip penanganan dari hifema adalah
menghentikan pendarahan atau mencegah pendarahan berulang, Mengeluarkan darah dari bilik
mata depan, mengendalikan tekanan bola mata, mencegah imbibisi kornea, mengatasi uveitis,
dan mendeteksi dini penyulit yang mungkin terjadi.(2)(3)
Kejadian hifema sering memicu terjadinya berbagai komplikasi pada mata berupa
peningkatan tekanan intra okular yang berakibat pada terjadinya glaukoma, corneal
bloodstaining, sinekia anterior dan posterior serta terjadinya atrofi optik. Bila penanganan
hifema tidak tepat dapat terjadi komplikasi tersebut dan akhirnya berujung pada kebutaan.(2)
Melihat komplikasi yang sangat membahayakan, maka perlu pemahaman lebih
mendalam mengenai hifema. Hal ini dilakukan agar penanganan bifema dapat dilakukan
sebagaimana mestinya dan terhindar dari komplikasi tersebut.

BAB II
Pembahasan
2.1 Definisi
Hifema adalah suatu keadaan dimana didalam bilik mata depan ditemukan darah.
Darah didalam bilik mata depan yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi
akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur
dengan humor aqueus (cairan mata) yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan
biasanya terlihat dengan mata telanjang. Walaupun darah yang terdapat di bilik mata depan
sedikit, tetap dapat menurunkan penglihatan. Darah ini dapat mengisi seluruh bilik mata
(total hyphema) atau hanya bagian bawah bilik mata depan. Adanya darah yang terdapat di
bilik mata depan dapat menurunkan penglihatan. (1)(3)(2)

Gambar 1. Hifema

moderat, iris dan

pupil masih dapat

terlihat.(3)

Gambar 2. Hifema total, seluruh bilik mata depan dipenuhi darah.(4)

2.2. Epidemiologi
Menurut studi di Amerika, kejadian hifema terutama hifema traumatik diperkirakan
sebanyak 12 kasus dari 100.000 orang populasi. Tujuh puluh persen dari hifema traumatic terjadi
pada anak, dengan kejadian puncak antara usia 10 dan 20 tahun.(5) Hifema lebih sering terjadi
pada pria dibandingkan wanita dengan perbandingan 3:1. (2)
2.3 Anatomi Bola Mata
Bola mata merupakan organ penglihatan manusia. Bola mata menempati bagian depan orbita yang
merupakan ruang yang berbentuk pyramid bersisi empat. Bola mata orang dewasa memiliki diameter sekitar
24,2-25mm. Bola mata dilapisi oleh fascia tenon. fascia tenon adalah fascia yang menempel dari limbus sampai ke
nervus optikus. Bagian dalam fascia tenon menempel dengan episklera, sedangkan bagian luarnya merupakan
tempat perlekatan otot. Diantara fascia dan tenon terdapat ruang potensial. (6)
Bola mata terdiri dari 3 lapisan: (6)
1) Lapisan fibrosa terdiri dari sclera dan kornea, merupaka lapisan paling luar. Lapisan ini merupakan
rangka dari bola mata. Sklera merupakan lapisan berwarna putih sedangkan kornea transparan dan
menonjol kearah basis. (6)
2) Lapisan vascular, terdiri dari koroid, iris dan badan siliaris. Koroid merupakan lapisan diantara sklera dan
kornea. Koroid memiliki vaskularisasi yang tinggi. Badan siliaris adalah penebalan di sebelah posterior
korneoskleral junction, berfungsi sebagai tempat perlekatan lensa dan sekresi aqueus humor. Iris adalah
cincin kontraktil yang terlentak di anterior lensa. Di tengah iris terdapat pupil yang berfungsi sebagai
tempat masuknya cahaya. Iris berfungsi mengatur lebar pupil. Fungsi ini dapat dilakukan karena iris
memiliki 2 jenis otot yaitu muskulus dilatator pupil dan konstriktor pupil. Otot konstriktor pupil memiliki
persarafan parasimpatis sedangkan dilatator pupil memiliki persarafan simpatis. (6)
3) Lapisan neural, paling dalam yang terdiri dari retina. Retina terdiri dari pars optik (yang berfungsi
menerima rangsang cahaya) dan pars non optik. Daerah tempat fokusnya cahaya secara klinis disebut
fundus optik. Pada fundus optik terdapat papil optik yaitu tempat masuknya nervus optikus. Di lateral
papil optik terdapat macula yang merupakan daerah yang paling sensitive terhadap cahaya. (6)

Gambar 3. Sketsa penampang mata potongan sagittal. (7)


Dalam bola mata terdapat beberapa struktur yang berperan dalam refraksi cahaya. Struktur tersebut antara
lain kornea, aqueus humor, lensa, dan vitreus humor. Aqueus humor adalah cairan yang terletak pada segmen
anterior bola mata. Segmen anterior dibagi oleh iris dan pupil menjadi anterior dan posterior chamber. Aqueus
humor diproduksi di badan siliaris, muncul di chamber posterior masuk ke anterior chamber melalui pupil. Di
sudut sklerokorneal terdapat daerah trabekular yang memiliki kanal Schlemm, disini aqueus humor diserap. (6)
Lensa adalah struktur transparan dan bikonveks yang terletak di sebelah posterior iris. Tebalnya sekitar
4mm dan diameternya 9 mm. Posisi lensa dipertahankan oleh serat zonule yang muncul dari badan siliaris.(6)
Vitreus humor adalah badan gelatin yang terletak di posterior lensa dan menempel dengan retina. Vitreus humor
berkontribusi pada 2/3 volume dan berat bola mata. Vitreus humor mengandung 99% air dan sisanya kolagen
serta hialuronan yang berperan memberikan konsistensi seperti gel.(6)
Saraf utama yang berfungsi dalam penglihatan adalah nervus optikus. Nervus optikus masuk di bola mata
dimulai dari lamina cribosa sclera. Saraf lainnya adalah nervus abdusen, troklear dan oculomotor. Nervus
oculomotor terbagi atas dua bagian yaitu superior dan inferior. Bagian superior mempersarafi otot rectus superior
dan otot levator palpebra superioris. Bagian inferior mempersarafi otot rektus inferior, medial, oblikus inferior, dan
membawa neuron parasimpatis presipnatik ke ganglion siliaris. Persarafan lainnya disuplai oleh cabang
opthalmikus nervus trigeminal (N. V1). Cabang-cabang nervus ini antara lain nervus lacrimalis, nasociliaris dan
frontalis. Di dalam cavum orbita terdapat ganglion ciliaris yang dilewati oleh:
- Neuron presinaps bagian parasimpatis nervus 3
- Nervus lacrimalis
- Neuron postsinaps dari pleksus carotis interna

Gambar 4. Persarafan Orbita.(6)


Perdarahan orbita terutama disuplai oleh arteri opthalmikus (cabang arteri carotis interna) dan
infraorbitalis (cabang arteri carotis eksterna). Arteri yang mensuplai retina adalah arteri retinal central. Arteri ini
berjalan di bawah nervus optikus dan masuk ke bola mata melalui papil optik. Arteri ini mensuplai permukaan
interna retina. Sedangkan bagian eksterna retina disuplai oleh koriokapilaris. Lapisan korion mendapat suplai
perdarahan dari arteri siliaris posterior brevis secara langsung dan tidak langsung oleh arteri siliaris posterior. Vena
utama pada orbita adalah vena infraorbital dan vena optalmika inferior dan superior. Vena optalmika inferior dan
superior bergabung menjadi vena centralis retina. Vena ini masuk ke fisura orbitalis superior untuk bergabung
dengan sinus cavernosus.(6)

Gambar 5. Vaskularisasi orbita.(6)


2.4 Fisiologi Penglihatan
Sumber cahaya masuk ke dalam mata melalui kornea. Saat melewati pupil akan terjadi
daya akomodasi mata sehingga jumlah cahaya yang masuk dapat diatur banyaknya, selanjutnya
cahaya akan dibiaskan oleh lensa ke retina sehingga terbentuk bayangan yang bersifat nyata,
terbalik, diperkecil. Sel-sel batang dan sel kerucut akan meneruskan sinyal cahaya melalui saraf
optik (Nervus II : Nervus optik) menuju ke otak. Di otak, bayangan yang diterima oleh retina
akan dibalik lagi sehingga objek sesuai dengan aslinya.(8)
2.5 Etiologi
Penyebab hifema dibagi menjadi 5 bagian besar, yaitu: (2)(9)

1. Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan pecahnya
pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.
2. Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata).
3. Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga pembuluh darah
pecah. (misalnya uveitis)
4. Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile
xanthogranuloma).
5. Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma).
2.6 Klasifikasi
Klasifikasi hifema berdasarkan onset perdarahannya dapat dibedakan menjadi (10)
-

Hifema primer, terjadi langsung sampai dua hari setelah trauma pada mata

Hifema sekunder, terjadi 2-5 hari setelah trauma pada mata.

Klasifikasi hifema berdasarkan darah yang terlihat, terbagi atas: (10)


-

Makrohifema, perdarahan terlihat dengan mata telanjang

Mikrohifema, perdarahan terlihat apabila menggunakan mikroskop

Berdasarkan pemenuhan darah di bilik mata depan, hifema dibagi menjadi beberapa grade
menurut Nash berdasarkan tampilan klinisnya : (2)(10)
Grade I:

darah mengisi kurang dari sepertiga COA (58% kasus)

Grade II:

darah mengisi sepertiga hingga setengah COA (20% kasus)

Grade III:

darah mengisi hampir total COA (14% kasus)

Grade IV:

darah memenuhi seluruh COA (8% kasus)

Gambar 6. Derajat keparahan hifema


Umumnya grading inilah yang dijadikan salah satu patokan dalam menentukan
tatalaksana hifema. Pada sekitar 50% kasus, hifema masih berbentuk cairan sehingga
membentuk air fluid level, sementara 40% kasus membentuk clot dan menempel pada iris.
Sisanya 10% kasus membentuk clot berwarna gelap dan kontak dengan endothelium. Metode
lain untuk menentukan grade hifema adalah dengan mengukur (dalam millimeter) tinggi
darah dari limbus inferior (arah jam 6) dimana metode ini membantu memonitoring
perkembangan penyembuhan ataupun kemungkinan berulangnya perdarahan.(2)(10)
2.7 Patofisiologi
Hifema dapat terjadi sesudah suatu trauma tembus ataupun tumpul pada mata, akan
tetapi dapat juga terjadi secara spontan. Secara umum dianggap bahwa hifema berasal dari
pembuluh darah iris dan badan siliar. Mungkin juga berasal dari pembuluh darah di kornea
atau limbus karena terbentuknya neovaskularisasi pada bekas luka operasi atau pada rubeosis
iridis. Trauma terhadap iris dapat menyebabkan rupturnya pembuluh darah, sehingga darah
akan keluar dan mengisi bilik mata depan. Sedangkan pada neovaskularisasi pada bekas
luka operasi atau pada robeosis iridis, ruptura bisa terjadi secara spontan karena rapuhnya
dinding pembuluh darah tanpa adanya trauma. (2)(9)
Terdapat 2 mekanisme yang diduga menyebabkan terjadinya hifema. Mekanisme
pertama adalah mekanisme dimana kekuatan trauma menyebabkan kontusi sehingga terjadi
robekan pada pembuluh darah iris dan badan silier yang rentan rusak. Mekanisme kedua

adalah trauma tersebut menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler sesaat sehingga


menyebabkan ruptur pembuluh darah pada iris dan badan silier.(10)
Mekanisme hifema karena pembedahan adalah sebagai berikut: (2)(10)
- Perdarahan intraoperatif disebabkan oleh trauma pada badan siliar atau iris. Dapat
-

ditemukan pada iridektomi perifer, ekstraksi katarak, siklodialisis.


Hifema pada postoperatif awal karena dilatasi mendadak dari pembuluh darah uvea yang
mengalami trauma dari spasme sebelumnya atau karena adanya perdarahan konjungtiva

yang masuk ke bilik mata depan karena adanya saluran baru postoperasi.
Perdarahan pada masa postoperatif lanjutan berasal dari neovaskularisasi ini mudah rapuh
karena trauma minor. Erosi kronis pada iris juga dapat menyebabkan hifema.

2.8 Tanda dan Gejala (1)(9)


1. Nyeri pada mata disertai dengan mata berair
2. Penglihatan sangat menurun
3. Kadang kadang terlihat iridoplegia & iridodialisis
4. Nyeri disertai dengan efipora & blefarospasme
5. Pembengkakan pada palpebra
6. Retina menjadi edema & terjadi perubahan pigmen
7. Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan
8. Midriasis
9. Sukar melihat dekat
10. Tidak bereaksi terhadap cahaya beberapa minggu setelah trauma.
11. Pewarnaan darah (blood staining) pada kornea
12. Dapat terjadi kenaikan TIO
13. Silau akibat gangguan masuknya sinar pada pupil
14. Pupil anisokor
2.9 Diagnosis
Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan
pasien akan sangat menurun, bila ditemukan kasus hifema sebaiknya dilakukan pemeriksaan
secara teliti pada keadaan mata bagian luar. Hal ini penting mungkin saja pada riwayat
trauma tumpul akan ditemukan kelainan berupa trauma tembus. laserasi kelopak, proptosis,
enoftalmus, atau fraktur yang disertai gangguan gerakan mata.(9)
Adapun beberapa pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada hifema berupa :
1) Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen; visus dapat
menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.(9)
2) Lapangan pandang: penurunan dapat disebabkan oleh patologi vaskuler okuler,
glaukoma.(9)

3) Pengukuran tonografi: mengkaji tekanan intra okuler.(9)


4) Slit Lamp Biomicroscopy: untuk menentukan kedalaman COA dan iridocorneal contact,
aqueous flare, dan synechia posterior.(9)
5) Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler, edema retina, bentuk pupil
dan kornea.(9)
6) Tes provokatif: digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila TIO normal atau
meningkat ringan.(9)
7) Darah lengkap, laju sedimentasi LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
8) Tes toleransi glokosa : menentukan adanya /kontrol diabetes.
2.10

Tatalaksana(1)(2)(9)
Prinsip pengobatan

1. Menghentikan pendarahan atau mencegah pendarahan berulang.


2. Mengeluarkan darah dari bilik mata depan
3. Mengendalikan tekanan bola mata
4. Mencegah imbibisi kornea
5. Mengatasi uveitis
6. Mendeteksi dini penyulit yang mungkin terjadi
Berdasarkan hal di atas maka cara pengobatan penderita hifema dibagi dalam 2 bagian besar
yaitu perawatan konservatif/ tanpa operasi dan perawatan operatif.

Perawatan konservatif
- Tirah baring

Penderita baring dalam posisi terlentang dengan kepala sedikit diangkat (30-45 0), hal
ini bertujuan untuk mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta
memudahkan kita untuk mengevaluasi jumlah perdarahannya.
- Bebat mata
Mengenai penggunaan bebat mata, sebenarnya masih kontroversi. Dimana beberapa
peneliti mengatakan bahwa tujuan menggunakan bebat mata adalah untuk menghindari
pergerakan bola mata yang terlalu sering dari pasien (mengistirahatkan mata).
- Pemakaian obat-obatan
Pemberian obat-obatan pada hifema tidaklah mutlak, tetapi cukup berguna untuk
menghentikan perdarahan, mempercepat absorbsinya dan menekan komplikasi yang
timbul. Untuk maksud di atas digunakan obat-obatan seperti :
Koagulansia : golongan obat ini dapat diberikan secara oral maupun parenteral,
berguna untuk menekan/menghentikan perdarahan, misalnya Anaroxil, Transamin, Vit
K.
Ocular Hypotensive Drug : Dianjurkan pemberian golongan acetazolamide (Diamox)
secara oral 3 kali sehari, apabila ditemukan adanya kenaikan tekanan intraokuler.
Kortikosteroid dan antibiotik : pemberian hidrokortison 0,5% secara topical akan
mengurangi komplikasi uveitis atau iritis dan perdarahan sekunder dibandingkan
antibiotik
Obat-obat lain : Sedatif diberikan bila pasien gelisah. Bila ditemukan rasa sakit
dapat diberikan acetazolamide bila sakit kepala akibat kenaikan tekanan intraocular atau
analgetik diberikan untuk mengatasi nyeri seperti asetaminofen dengan atau tanpa
kodein.

Perawatan operatif
Perawatan ini akan dilakukan bilamana ditemukan tanda-tanda imbibisi kornea,
glaucoma, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila darah setelah 5 hari tidak
memperlihatkan tanda-tanda berkurang.

Tindakan operasi yang dikerjakan adalah:


-

Parasentesis atau pengeluaran darah dari bilik mata depan dilakukan pada pasien
dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema
penuh dan berwarna hitam, atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema
akan berkurang.(1) Prosedur yang dilakukan yaitu dengan mengeluarkan darah atau
nanah dari bilik mata depan dengan cara dibuat insisi kornea 2mm dari limbus kearah
kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada
bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan keluar. Bila darah tidak keluar
seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologik. Biasanya luka
insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahit. (1)

Untuk mencegah atropi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila :


-

Tekanan bola mata maksimal >50 mmHg selama 5 hari

Tekanan bola mata maksimal >35 mmHg selama 7 hari

Untuk mencegah imbibisi kornea, dilakukan pembedahan bila :


-

Tekanan bola mata rata-rata >25 mmHg selama 6 hari

Bila terdapat tanda-tanda dini imbibisi kornea

Untuk mencegah sinekia posterior perifer dilakukan pembedahan bila :


-

Hifema total bertahan selama 5 hari

Hifema difus bertahan selama 9 hari

Jika pasien adalah anak-anak, dan hifema yang terbentuk lebih dari sepertiga diameter cornea
maka sebaiknya dirujuk ke spesialis mata untuk penanganan lebih lanjut. Sedangkan hifema
yang sedikit pada orang dewasa dapat disarankan untuk istirahat total dan evaluasi ketat dalam
24 jam, namun jika ragu-ragu dapat dikonsulkan ke dokter spesialis mata. (3)
2.11 Komplikasi
Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada kasus hifema adalah (2)(10)
1. Imbibisi kornea
Darah yang terdapat pada hifema dikeluarkan dari bilik mata depan dalam bentuk sel
darah merah melalui bilik mata (kanal schlem) dan permukaan depan iris. Penyerapan melalui
permukaan depan iris ini dipercepat dengan adanya kegiatan enzim fibrinolitik yang
berlebihan didaerah ini. Sebagian hifema dikeluarkan dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat

hemosiderin yang berlebihan dalam bilik mata depan maka dapat terjadi penimbunan pigmen
ini didalam lapisan-lapisan kornea yang berwarna kecoklat-coklatan yang disebut imbibisi
kornea. Kemungkinan kemunculan komplikasi ini berhubungan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi integritas endotel seperti:
-

Kondisi endotel kornea awal


Trauma bedah pada endotel
Banyaknya bekuan yang mengalami kontak dengan endotel
Peningkatan TIO berkepanjangan
Pewarnaan kornea lebih sering terjadi pada pasien dengan hifema total yang bertahan

selama minimal 6 hari berturut-turut, diikuti dengan peningkatan TIO > 25 mmHg.
Komplikasi ini lebih jarang terjadi pada hifema sebagian ataupun hifema dengan TIO normal,
meskipun masih dapat terjadi pada pasien dengan hifema yang disertai kerusakan endotel.
Proses penyembuhan hemosiderosis kornea ini membutuhkan waktu beberapa bulan. Jika
sudah terjadi seperti ini hanya dapat diperbaiki dengan keratoplasty.
2. Sinekia posterior
Sinekia posterior atau adhesi iris terhadap lensa dapat terjadi pada pasien dengan hifema
traumatik karena efek dari terjadinya iritis atau iridosiklitis. Akan tetapi komplikasi ini jarang
terjadi pada pasien yang mendapat tatalaksana dengan baik. Sinekia posterior lebih banyak
terjadi pada pasien hifema yang menjalani evakuasi lewat pembedahan.
3. Sinekia anterior perifer
Sinekia anterior perifer dimana iris menempel ke kornea. Sering terjadi pada pasien
dengan hifema yang menetap pada periode yang panjang, biasanya mencapai 9 hari atau lebih.
Hal ini disebabkan oleh adanya iritis kronik akibat trauma awal atau adanya iritis kimiawi
karena adanya darah di bilik mata depan. Kemungkinan penyebab lain adalah adanya bekuan
di sudut bilik yang menyebabkan fibrosis trabecular meshwork sehingga menutupi sudut
terdebut.
4. Atrofi optik
Atrofi optik disebabkan oleh peningkatan TIO baik akut maupun kronik. Atrofi optic
nonglaukomatosa yang terjadi pada pasien hifema dapat disebabkan oleh trauma inisial
ataupun periode transien dari peningkatan TIO.
2.12

Prognosis

Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera okuli anterior.
Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai glaukoma, prognosisnya baik
(bonam) karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari.
Sedangkan hifema yang telah mengalami glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa
besar glaukoma tersebut menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam penglihatan
telah mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosis penderita adalah buruk (malam) karena
dapat menyebabkan kebutaan.(9)
Menurut sumber lain, pembagian Prognosis pada kasus hifema dibagi menjadi 3
berdasarkan jumlah darah dalam bilik mata depan. (11)
1. Bila darah sedikit maka darah ini akan hilang dan akan jernih sempurna
2. Bila darah lebih dari setengah tinggi bilik mata depan maka prognosisnya akan buruk dan
disertai dengan penyulit.
3. Dan bila hifema yang penuh didalam bilik mata depan akan memberikan prognosis yang
lebih buruk. Hifema sekunder yang terjadi 5-7 hari sesudah trauma biasanya dapat
memberikan rasa yang sakit. Pada hifema sekunder terjadi akibat gangguan mekanisme
pembekuan atau penyembuhan luka sehingga mempunyai prognosis buruk.
2.13

Pencegahan

Trauma kecelakaan pada mata dapat dicegah dengan menggunakan peralatan pelindung pada
mata seperti googles. Trauma pada pembedahan juga dapat terjadi, namun dapat dilakukan
pencegahan berupa menggunaan obat acetazolamid intravena dan manitol perlu diberikan apabila
terdapat peningkatan TIO atau pasien dengan anestesi umum. Pemberian terapi ini diharapkan
dapat mencegah terjadinya hifema intra dan post operatif. Untuk mencegah terjadinya
perdarahan ulang maka perlu diberikan pengobatan antifibrinolitik dan steroid sistemik pada
kasus-kasus tertentu.(9)

DAFTAR PUSTAKA

1.

Ilyas S, Yulianti S. Ilmu penyakit mata. 4th ed. Jakarta: Badan penerbit FKUI; 2013. 26870 p.

2.

Nash D. Hyphema. Sch Dep Ophthalmol East Virginia Med [Internet]. 2014; Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/1190165-overview#aw2aab6c10

3.

Kanski J. Manual of Eye Emergencies Diagnosis and Management. 2nd ed. Benson K,
editor. New York: Reed Educational and Professional Publishing; 2004. 31-3, 123-31 p.

4.

Heyworth P. Eye injuries [Internet]. American Academy of Ophthalmology; 2009.


Available from: http://peterheyworth.com/general-eye-conditions/eye-injuries/

5.

Andreoli C, Gardiner M. Traumatic hyphema: Clinical features and diagnosis [Internet].


last update 19 januari 2015; Available from: http://www.uptodate.com/contents/traumatichyphema-clinical-features-and-diagnosis?
source=search_result&search=traumathic+hyphema+epidemiology+anatomy+and+pathop
hysiology&selectedTitle=1~29

6.

Reztaputra R. Anatomi mata. Available from: http://www.medicinesia.com/kedokterandasar/penginderaan-kedokteran-dasar/anatomimata/

7.

Mayasari A. Stuktur dan anatomi mata. Available from: https://www.google.co.id/search?


q=lapisan+bola+mata&biw=1366&bih=633&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=GCmZ
VdrsN8uouwTu5eQAg&ved=0CAYQ_AUoAQ#tbm=isch&q=lapisan+bola+mata+fibrosa+vascular+neu
ral&imgrc=uJtqU0n6dCHuEM%3A

8.

ORahilly R. The Eye in Basic Human Anatomy A Regional Study of Human Structure
chapter 46th. 2008; Available from:
http://www.dartmouth.edu/~humananatomy/part_8/chapter_46

9.

Vera Y. Hifema. Kesehatan Mata THT. 2013;15. Available from:


http://redboxmedicalplus.wordpress.com/2013/06/20/hifema/html,

10.

Rizky G. Hifema. Available from: http://www.medicinesia.com/kedokterandasar/penginderaan-kedokteran-dasar/hifema/

11.

Sharma S. Hyphema. [Internet]. Canada: Insider medicine (Optocase); 2012. Available


from: http://www.optocase.com/archives/Hyphema.aspx,