Anda di halaman 1dari 7

Budaya Pop (Pop Culture)

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Semakin derasnya fenomena tren kapitalisme dan hedonisme akhir-akhir ini
menuntut sebuah pembacaan yang mendalam. Secara langsung maupun tidak
langsung, hal tersebut mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum muda remaja
sekarang ini dan jelas kita rasakan kehadirannya. Hal ini semisal tentang fenomena
banyak orang muda yang membeli telepon seluler blackberry yang mahal harganya
hanya karena trend, bukan karena kebutuhan yang mendesak karena pekerjaannya
menuntut perlunya pemakaian telepon selular seperti itu. Dan fenomena yang
mungkin terjadi beberapa bulan terakhir; yaitu tentang fenomena tokoh Idol baru
yang bernama Justin bieber, banyak remaja rela mengorbankan segala-galanya
hanya untuk bertemu dan melihat aksi sang bintang yang merupakan produk
industrialisasi dalam bidang musik tersebut. Bahkan sampai ada beberapa remaja
yang menangis histeris, hanya karena tidak dapat menemui sang Idol di bandara,
sungguh aneh bagi penulis melihat kejadian tersebut, dimana seorang yang tidak
mempunyai keterkaitan langsung dengan diri mereka, lha kok sampai dibela-belain
menangis seperti itu. Pergeseran budaya seperti inilah yang mulai menjangkiti kaum
muda dewasa ini. Mereka tidak menyadari bahwasanya mereka telah terkungkung
oleh sebuah kesadaran palsu, yang selalu dihegemonikan oleh media massa demi
menopang dan menkokohkan kapitalisme. Dan ini merupakan salah satu ciri dari
kebudayaan pop, dimana Ridho bukan Rhoma menyatakan bahwa budaya pop
bercirikan : cepat, dangkal, dan massal (Ridho bukan Rhoma: 2009).
Memang gaya hidup berikut symbol-simbolnya saat ini tengah mengguncang
struktur kesadaran manusia. Masyarakat cenderung terserap dalam keperkasaan
budaya pop yang kian hegemonik dengan segala atributnya. Gaya hidup telah
menjadi komoditas. Dalam menapaki kehidupannya kebayakan orang tampak lebih
mementingkan kulit ketimbang isi(Ibrahim, 2004).
Fenomena di atas secara jelas telah menggambarkan bagaimana budaya pop telah
merasuk ke segala lini kehidupan. Penampilan dan gaya menjadi lebih penting dari
pada moralitas sehingga nilai-nilai tentang baik atau buruk telah lebur dan
dijungkirbalikan. Budaya populer merupakan suatu pola tingkah laku yang disukai
sebagian besar masyarakat. Tanda-tanda pesatnya pengaruh budaya populer ini
dapat kita lihat pada masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif. Membeli barang
bukan didasarkan pada fungsi guna dan kebutuhan tetapi lebih didasarkan pada
maknanya atau prestise. Semakin maraknya dan menjamurnya pusat-pusat
perbelanjaan seperti mall, industri mode atau fashion, industri kecantikan, industri
gosip, dan real estate menjadi pendukung semakin kuatnya pengaruh budaya pop
ini. Dan tentu fakta-fakta demikian tidak telepas dari peran media massa, yang
dewasa ini memiliki pengaruh yang besar dalam ruang kehidupan manusia. Apalagi
beberapa decade terakhir media mengalami perkembangan yang begitu cepat,
hingga membuat batas ruang dan waktu semakin absurd.
Melihat realitas yang demikian, maka menjadi penting kemudian, jika hal tersebut
dikaji secara mendalam dalam sebuah makalah yang kemudian dapat dijadikan

sebagai bahan diskusi dalam mata kuliah sosiologi komunikasi saat ini. Namun
tentu saja kelompok kami sangat menyadari akan berbagai kekurangan yang
terdapat dalam makalah kami, oleh karena itu sebuah kritikan, sanggahan, dan
tambahan sangat dibuthkan dalam proses dialektika kedepannya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka kelompok kami dalam
pembahasannya akan terfokus pada masalah:
1. Bagaimanakah hubungan antara Budaya Pop dan Media Massa?
2. Apakah Budaya Pop memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial
masyarakat?
C. Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah;
1. Untuk mengetahui hubungan antara media massa dan budaya pop
2. untuk mengetahui dampak budaya pop bagi kehidupam sosial masyarakat.

II. Pembahasan
A. Pengertian Budaya Pop
Sebelum terlalu jauh berbicara tentang budaya pop, alangkah baiknya kita
mesti memberikan sebuah frame terlebih dahulu perihal pengertian dari budaya dan
pop itu secara terpisah. Ada tiga pemahaman tentang budaya sebagaimana yang
ditawarkan oleh Raymond Williams. Pertama, budaya merupakan suatu proses
umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Misal, kita berbicara tentang
budaya orang Indonesia dengan merujuk pada faktor-faktor kaum cendekiawannya,
spiritualis para agamawannya, senimannya, serta penyair-penyair besarnya.
Kedua,budaya bisa berarti pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau
kelompok tertentu. Pemahaman seperti ini mencakup perkembangan sastra, hiburan
olahraga, dan upacara ritual agama tertentu. Ketiga, budaya bisa merujuk pada
karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistic, teks-teks semacam
itu menciptakan makna tertentu. Misal, puisi, ballet, opera, dan lukisan.[1]
Sedangkan istilah pop sendiri, singkatan dari kata Popular yang arti sederhananya
disukai oleh banyak orang. Sehingga makna sederhana dari budaya pop adalah
budaya yang disukai oleh banyak orang, dan menyenangkan.[2] Kadang ada
ambiguitas antara budaya pop dan budaya tinggi, namun Storey membedakan
keduanya, yaitu budaya pop merupakan budaya komersil sebagai dampak dari
produksi massal, sedangkan budaya tinggi adalah kreasi hasil kreativitas individu.[3]

Istilah lain dari budaya pop adalah budaya massa, yaitu budaya yang diproduksi
oleh massa untuk konsumsi massa. Budaya massa adalah budaya yang dianggap
sebagai dunia impian secara kolektif. Misalnya, meryakan Valentines Day. Budaya
seperti ini seolah memberikan impian bagi anak muda akan dunia yang serba
menyenangkan. Mereka hanya terbawa arus, dan hal-hal seperti perayaan
Valentines Day dianggap menyenangkan.[4] Sedangkan berdasarkan dari sumber
Wikipedia, budaya pop adalah budaya indah dan menakjubkan yang dilakukan oleh
masyarakat modern. Dan kebanyakan isi budaya ini ditentukan industri-industri yang
melahirkan bentuk-bentuk kebudayaan seperti film, televisi dan industri penerbitan.
[5]
Bagi Idi Subandy Ibrahim, budaya pop merupakan kebudayaan massa yang popular
dan ditopang oleh industri kebudayaan, serta mengkonstruksi masyarakat berbasis
konsumsi. Budaya massa yang terjadi disebabkan masifikasi, yaitu industrialisasi
dan komersialisasi yang menuntut standarisasi produk budaya dan homogenisasi
cita rasa. Dengan komersialisasi, produk budaya massa berubah, sejalan
percepatan tuntutan pasar.[6]
Dalam beberapa pengertian diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai
budaya pop, yang merupakan suatu budaya yang menyenangkan yang lebih
bertujuan kepada profit melaui komersialisasi, yang sengaja dibentuk oleh industriindustri secara massa untuk konsumsi massa, dan prosesnya cepat berubah sesuai
dengan tuntutan pasar.
Karakteristik budaya pop
Ev. Junedy Lee, VDM, M.Div, dalam makalahnya mengkarakteristikkan budaya pop
sebagai berikut;
Kontemporer
Budaya populer merupakan sebuah kebudayaan yang menawarkan nilai-nilai yang
bersifat sementara, kontemporer, tidak stabil, yang terus berubah dan berganti
(sesuai tuntutan pasar dan arus zaman). Hal ini dapat dilihat dari lagu-lagu pop yang
beredar, termasuk lagu-lagu pop rohani yang terus berubah dan berganti.

Budaya Hiburan
Budaya hiburan merupakan ciri yang utama dari budaya populer di mana segala
sesuatu harus bersifat menghibur. Pendidikan harus menghibur supaya tidak
membosankan, maka muncullah edutainment. Olah raga harus menghibur, maka
muncullah sportainment. Informasi dan berita juga harus menghibur, maka
muncullah infotainment. Bahkan muncul juga religiotainment, agama sebagai
sebuah hiburan, akibat perkawinan agama dan budaya populer.
Hedonisme

Budaya populer lebih banyak berfokus kepada emosi dan pemuasannya daripada
intelek. Yang harus menjadi tujuan hidup adalah bersenang-senang dan menikmati
hidup, sehingga memuaskan segala keinginan hati dan hawa nafsu.
Hal seperti ini menyebabkan munculnya budaya hasrat yang mengikis budaya malu.
Para artis dengan mudah mempertontonkan auratnya sebagai bahan tontonan. Seks
yang kudus dan hanya boleh dilakukan dalam konteks pernikahan dipertontonkan
secara murahan dalam film-film dengan tujuan untuk menghibur.
Budaya Konsumerisme
Budaya populer juga berkaitan erat dengan budaya konsumerisme, yaitu sebuah
masyarakat yang senantiasa merasa kurang dan tidak puas secara terus menerus,
sebuah masyarakat konsumtif dan konsumeris, yang membeli bukan berdasarkan
kebutuhan, tidak keinginan, bahkan gengsi.
Hal tersebut juga disebabkan oleh iklan yang semakin berkembang di zaman ini
dengan tujuan menciptakan rasa ingin (want), walaupun sesuatu yang diiklankan itu
mungkin tidak dibutuhkan (need). Misalnya: banyak orang muda yang membeli
telepon seluler blackberry yang mahal harganya hanya karena trend, bukan karena
kebutuhan yang mendesak karena pekerjaannya menuntut perlunya pemakaian
telepon selular seperti itu. Hal yang serupa juga dapat dilihat dari maraknya
penggunaan facebook di kalangan remaja dan orang muda saat ini.
Budaya Instan
Segala sesuatu yang bersifat instan bermunculan, misalnya: mie instan, kopi instan,
makanan cepat saji, sampai pendeta instan dan membuat makalah atau skripsi
secara instan.
B. Media Massa dan Budaya Pop dan dampaknya bagi Masyarakat
Ketika berbicara budaya Pop dan budaya massa tentu hal ini tidak dapat dilepaskan
dengan peran media massa. Bagaimana kita mengetahui tentang Street dance, hiphop, musik, fashion yang lagi ngetrend , kalau bukan dari media massa. Media
massa seperti yang ada dalam teori difusi dan Inovasi, yaitu sebagai mediator antara
penemu hal baru dengan seseorang yang menginginkan informasi baru. George
Gerbner menyimpulkan pentingnya media massa sebagai berikut: kemampuan
untuk menciptakan masyarakat, menjelaskan masalah, memberikan referensi
umum, dan memindahkan perhatian dan kekuasaan.[7] Jadi media massa secara
tidak langsung memberikan sebuah rujukan tentang suatu pola atau gaya hidup
yang sedang dijalani oleh suatu masyarakat tertentu. Kemudian refensi yang
diberikan oleh media massa tersebut dijadikan sebuah acuan dalam melakukan
tindakan-tindakan sosial. Selain itu, media ikut serta dalam penciptaan sebuah
budaya yang ada dalam masyarakat, media tersebut digunakan oleh beberapa
golongan sebagai instrument bagi penyebaran ideologi dan hegemoni.[8] Memang
budaya pop yang hadir dalam masyarakat kebanyakan akibat dari dampak negatif
media massa. Media massa saat ini, khususnya yang ada di Indonesia kontennya
lebih banyak hiburan dari pada pendidikan. Tayangan-tayangan tentang gaya hidup
yang hedonis dan konsumtif terus dijejalkan kedalam diri audiens melalui proses

signifikansi, dengan harapan audiens meniru apa yang ada dalam media tersebut.
Tentang bagaimana hidup gaul ala anak muda, sering mendapat porsi lebih dalam
tayangan televisi, anak muda yang dalam proses pencarian jati diri, dikasih sebuah
referensi mengenai bagaimana seharusnya dia menghabiskan hidup. Didalam
sinetron atau film-film yang ditayangkan. Misal, mahasiswa hanya direpresentasikan
tentang bagaimana cara untuk menghabiskan waktunya untuk memadu kasih,
bersenang-senang. Sangat jarang penulis menemukan sebuah representasi
mahasiswa yang tekun dan sibuk mengerjakan tugas-tugas, belum lagi aksesoris
yang digunakan mulai dari kamera dlsr, hp Blackberry, sepeda Fixi. Tayangan
demikian lebih mengajak remaja untuk menghabiskan waktu bersenang-senang dan
mengajak pola hidup yang konsumtif, daripada harus susah-susah memikirkan
persoalan sosial yang ada dalam masyarakat.
Akhirnya sampai perkembangan terakhir, budaya pop sudah mewabah pada urusan
gaya bergaya, hingga istilah dari Idi Subandy Ibrahim aku bergaya maka aku ada.
Segala sesuatu lebih dilakukan demi makna yang ingin didapat, kalau dulu kita
mengkonsumsi sesuatu lebih kepada nilai guna, namun sekarang lebih kepada
makna, kalau tidak mengikuti tren, kita takut dicap tidak gaul, kolot, kuper dan udik.
Belum lagi anak-anak muda sekarang gandrung akan merk-merk asing, makanan
serba instan (fast-food), hp, dan tentunya serbuan gaya hidup lewat industri iklan
dan televisi yang sudah sampai ke ruang-ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan
sampai ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam. (Idi Subandi Ibrahim, 2004).
Dan juga serbuan majalah-majalah mode dan gaya hidup dalam edisi bahasa
Indonesia di kalangan anak muda baik pria ataupun wanita yang berselera kelas
menengah atas. Majalah-majalah itu menawarkan cita rasa dan gaya yang tinggi
dan terlihat jelas dari kemasan, rubric, kolom dan slogan yang ditawarkannya Be
smarter, richer & sexier atau Get fun!. Marak juga penerbitan majalah islam
(khususnya Muslimah) yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan majalah umum
lainnya, bedanya hanya atas nama agama. Yang ditawarkan pun sama, mode,
shopping, soal gaul, dan pacaran yang dianggap pengelolanya. Sedang slogan yang
ditawarkannya pun tetap samajadilah muslimah yang gaul dan smart; jadilah
muslimah yang cerdas, dinamis, dan trendi; jadilah cewek muslimah yang proaktif
dan ngerti fashion! (Idi Subandi Ibrahim, 2004) kini agamapun diperjualbelikan.
Realitas memang menunjukkan bahwa anak-anak muda sekarang sudah benarbenar sudah menjadi sasaran empuk bagi para pemodal industri tersebut. Merka
disajikan menu variatif dari ujung rambut sampai ujung kuku. Identitas mereka yang
seharusnya rajin belajar, dan hemat pangkal kaya mulai sirna dengan kehadiran
produk-produk yang mengikis kepribadian mereka. Mereka tidak sadar bahwa
mereka sedang dijajah oleh dunia pasar yang tidak terlihat oleh mereka.[9]

III. Penutup Dan Kesimpulan


Budaya populer yang pada akhirnya disebut sebagai budaya komoditas ini
diproduksi secara besar besaran hanya didasarkan pada keuntungan ekonomi
semata sehingga hal ini memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat karena
penilaian baik atau buruk bukan lagi didasarkan pada ajaran moral tetapi lebih pada
kemampuan ekonomi untuk mendapatkan prestise. Selain itu, produk produk
budaya populer akan merusak budaya elite dan sistem tata krama alam kehidupan

bermasyarakat. Budaya populer ini akan menciptakan khalayak-khalayak pasif


karena semua kebutuhan hidup sudah disediakan. Penilaian baik buruk dan
pedoman pedoman dalam hidup sudah ditentukan dan diatur oleh industri budaya.
Keragaman budaya indonesia yang menjadi kekayaan negeri ini sedikit demi sedikit
telah luluh dan menghilang digantikan oleh budaya-budaya modern yang dianggap
lebih maju. Budaya-budaya yang menggiring manusia pada pendangkalan makna.
Industri budaya memproduksi budaya yang bersifat homogen dengan standar
karakterkarakter yang dianggap ideal. Karakter karakter manusia yang unik menjadi
homogen sesuai standar standar yang di kontruksi oleh industri budaya. Manusia
tidak lagi dapat memahami secara mendalam apa yang menimpa mereka saat ini,
terutama pengaruh televisi yang dirasa membuat manusia sangat dangkal dalam
memahami fenomena kehidupan. Televisi telah menjadi narkoba bagi manusia,
bagaimana tidak, setiap hari masyarakat Indonesia menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk melihat televisi. Berbagai suguhan acara diperlihatkan, dari mulai
sinetron percintaan yang penuh fitnah dan air mata sampai berbagai bentuk
kekerasan dan kejahatan yang menampilkan darah. Suguhan acaraacara tersebut
menjadikan manusia tidak lagi dapat membedakan antara ranah simbolik dan realita
sebenarnya. Bahkan bagi pecandu berat televisi, menjadikan televisi sebagai
pedoman atau sumber kebenaran dari realita. Resapan budaya pop sepertinya tidak
berhenti begitu saja menciptakan manusia yang pasif dan konsumtif. Lebih jauh
budaya pop mencoba menjadi ideologi baru. Ranah agama yang dianggap suci dan
merupakan sumber dari ajaran-ajaran moral tidak luput dari resapan budaya populer.
Banyak ustadz gaul bermunculan. Begitu pula dengan fashion-fashion muslim seksi
yang seolah terlihat menutup aurat tetapi tetap saja mengumbar aurat.Nilai-nilai
luhur yang bersumber dari agama lebih banyak dijadikan lipstik demi melancarkan
kepentingan industri budaya. Tak pelak lagi kita jumpai perdebatan mengenai
masalah agama tanpa pemahaman yang mendalam dan disesuaikan dengan
konteks. Kita bisa berkaca pada masalah poligami. Siapa yang mempunyai
kepentingan maka akan mencari-cari dasar-dasar yang mendukung tanpa konteks
dan situasi memperhatikan keterkaitan dengan hal lain.Nilai nilai agama yang ideal
dijadikan sebagai komoditas untuk memenuhi keinginan bukan sebagai pedoman
atau pandangan hidup. Akibatnya, pesan-pesan yang disampaikan hanya
mengambang pada level simbolik. Sebagai contoh dengan maraknya wisata religius
untuk kepentingan ekonomi yang hanya menghargai keindahan mata tanpa
memahami makna yang terkandung didalamnya.[10]

Daftar Pustaka
1. Ridho Bukan Rhoma, Berhala Itu Bernama Budaya Pop. Yogyakarta, Leutika,
2009.

2. Stephen W. Littlejohn, dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi; Theories of Human


Communication. Jakarta, Salemba Humanika, 2009
3. Ev. Junedy Lee, makalah: BUDAYA POPULER: BUDAYA DIMANA KITA HIDUP
SAAT INI.
4. http://Budaya Pop Antara Simbol, Gaya Hidup, dan Fungsi Majalah OPINI.htm.

[1] Ridho Bukan Rhoma, Berhala Itu Bernama Budaya Pop. Yogyakarta, Leutika,
2009, hal. 1
[2] Ibid, hal. 2
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid, hal. 3
[6] ibid
[7] Baca selengkapnya Stephen W. Littlejohn, dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi;
Theories of Human Communication. Jakarta, Salemba Humanika, 2009, hal. 405
6 Stephen W. Littlejohn, dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi; Theories of Human
Communication. Jakarta, Salemba Humanika, 2009,Hal. 437
[9] Ridho Bukan Rhoma, Berhala Itu Bernama Budaya Pop. Yogyakarta, Leutika,
2009, hal. 5-6
[10] http://Budaya Pop Antara Simbol, Gaya Hidup, dan Fungsi Majalah
OPINI.htm, diakses tanggal 30 Mei 2011, Jam 16.30 wib.