Anda di halaman 1dari 7

Hipertrofi Adenoid

Pendahuluan
Adenoid / tonsila faringea adalah jaringan limfoepitelial berbentuk triangular
yang terletak pada aspek posterior nasofaring. Adenoid terletak pada dinding posterior
nasofaring, berbatasan dengan kavum nasi dan sinus paranasalis pada bagian anterior,
kompleks tuba eustachius-telinga tengah-kavum mastoid pada bagain lateral.
Vaskularisasi adenoid diperoleh melalui cabang faringeal a.carotis eksternal, beberapa
cabang minor berasal dari a.maxilaris interna dan a.fasialis. Inervasi sensible merupakan
cabang dari n.glosofaringeus dan n.vagus. Anatomi mikro dan makroskopik dari adenoid
menggambarkan fungsinya dan perbedaannya dengan tonsila palatine. Adenoid adalah organ
limfoid yang mengalami invaginasi dalam bentuk lipatan yang dalam, hanya terdiri beberapa
kripte berbeda dengan tonsila palatine yang memiliki jumlah kripte lebih banyak.
Adenoid merupakan massa yang terdiri dari jaringan limfoid pada dinding posterior
nasofaring di atas batas palatum molle dan termasuk dalam cincin waldeyer. Secara fisiologik
pada anak-anak, adenoid dan tonsil mengalami hipertrofi. Adenoid ini membesar pada anak
usia 3 tahun dan kemudian mengecil dan menghilang sama sekali pada usia 14 tahun. Apabila
sering terjadi infeksi pada saluran napas bagian atas, maka dapat terjadi hipertrofi adenoid
yang akan mengakibatkan sumbatan pada koana, sumbatan tuba eustachius.
Akibat sumbatan koana maka pasien akan:
a. Jika berlangsung lama menyebabkan palatum durum lengkungnya menjadi tinggi dan
sempit, area dentalis superior lebih sempit dan memanjang daripada arcus dentalis
inferior hingga terjadi malocclusio dan overbite (gigi incisivus atas lebih menonjol ke
depan).
b. Muka penderita kelihatannya seperti anak yang bodoh, dan dikenal sebagai facies
adenoidea.
c. Mouth breathing juga menyebabkan udara pernafasan tidak disaring dan
kelembabannya kurang, sehingga mudah terjadi infeksi saluran pernafasan bagian
bawah.
d. Pada sumbatan, tuba eustachius akan terjadi otitis media serosa baik rekuren maupun
otitis medis akut residif, otitis media kronik dan terjadi ketulian. Obstruksi ini juga
menyebabkan perbedaan dalam kualitas suara.

Gejala umum yang ditemukan pada hipertrofi adenoid yaitu gangguan tidur, tidur
ngorok/mendengkur, retardasi mental dan pertumbuhan fisis kurang dan dapat menyebabkan
sumbatan pada jalan napas bagian atas yang dapat mencetuskan kor pulmonale dimana sukar
disembuhkan dengan penggunaan diuretik tetapi memberikan respon yang cepat terhadap
adenoidektomi.1

Epidemiologi
Pada tahun 1960 dan 1970-an, telah dilakukan 1 sampai 2 juta tonsilektomi,
adenoidektomi atau gabungan keduanya setiap tahunnya di Amerika serikat. Angka ini
menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu dimana pada tahun 1996, diperkirakan anakanak di bawah 15 tahun menjalani tonsilektomi, dengan atau tanpa adenoidektomi. Dari
jumlah ini, 248.000 anak (86,4%) menjalani tonsiloadenoidektomi. Di Indonesia, fenomena
ini juga terlihat pada jumlah operasi tonsiloadenoidektomi dengan puncak kenaikan pada
tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003 (152 kasus).2

Etiologi
Adenoid adalah pembesaran subepitelial dari limfosit pada minggu ke 16 kehamilan.
Normalnya, pada saat lahir pada nasofaring dan adenoid banyak di temukan organisme dan
terdapat pada bagian atas saluran pernafasan yang mulai aktif sesaat setelah lahir. Organismeorganisme

tersebut

adalah

lactobacillus,

streptococcus

anaerobik,

actynomycosis,

lusobacteriurn dan nocardia mulai berkembang. Flora normal yang ditemukan pada adenoid
antara lain alfa-hemolytic streptococcus, euterococcus, corynebacterium, staphylococcus,
neissria, micrococcus dan stomatococcus.
Etiologi pembesaran adenoid dapat di ringkas menjadi dua yaitu secara fisiologis dan
faktor infeksi. Secara fisiologis adenoid akan mengalami hipertrofi pada masa puncaknya
yaitu 3-7 tahun. Biasanya asimptomatik, namun jika cukup membesar akan menyebabkan
gejala. Hipertrofi adenoid juga didapatkan pada anak yang mengalami infeksi kronik atau
rekuren pada saluran pernapasan atas atau ISPA.3

Etiologi pembesaran adenoid dapat di ringkas menjadi dua yaitu secara fisiologis dan
faktor infeksi. Secara fisiologis adenoid akan mengalami hipertrofi pada masa puncaknya
yaitu 3-7 tahun. Biasanya asimptomatik, namun jika cukup membesar akan menimbulkan
gejala. Hipertrofi adenoid juga didapatkan pada anak yang mengalami infeksi kronik atau
rekuren pada saluran pernapasan atas atau ISPA. Hipertrofi adenoid terjadi akibat adenoiditis
yang berulang kali antara usia 4-14 tahun.4

Patogenesis
Pada balita jaringan limfoid dalam cincin waldeyer sangat kecil. Pada anak berumur 4
tahun bertambah besar karena aktivitas imun, karena tonsil dan adenoid (pharyngeal tonsil)
merupakan organ limfoid pertama di dalam tubuh yang menfagosit kuman-kuman patogen.
Jaringan tonsil dan adenoid mempunyai peranan penting sebagai organ yang khusus dalam
respon imun humoral maupun selular, seperti pada bagian epithelium kripte, folikel limfoid
dan bagian ekstrafolikuler. Oleh karena itu, hipertrofi dari jaringan merupakan respons
terhadap kolonisasi dari flora normal itu sendiri dan mikroorganisme patogen.1
Adenoid

dapat

membesar

seukuran

bola

ping-pong,

yang

mengakibatkan

tersumbatnya jalan udara yang melalui hidung sehingga dibutuhkan adanya usaha yang keras
untuk bernafas sebagai akibatnya terjadi ventilasi melalui mulut yang terbuka. Adenoid dapat
menyebabkan obstruksi pada jalan udara pada nasal sehingga mempengaruhi suara.
Pembesaran adenoid dapat menyebabkan obstruksi pada tuba eustachius yang akhirnya
menjadi tuli konduktif karena adanya cairan dalam telinga tengah akibat tuba eustachius yang
tidak bekerja efisien karena adanya sumbatan.3

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik (tanda dan gejala klinik)
3. Pemeriksaan rinoskopi anterior dengan melihat tertahannya gerakan velum palatum
mole pada waktu fonasi.
4. Pemeriksaan rinoskopi posterior (pada anak biasanya sulit).
5. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat membantu untuk melihat ukuran adenoid secara
langsung.

6. Pemeriksaan radiologi dengan membuat foto polos lateral dapat melihat pembesaran
adenoid.
7. CT-Scan merupakan modilitas yang lebih sensitif daripada foto polos untuk
identifikasi patologi jaringan lunak, tapi kekurangannya karena biaya yang mahal.1

Penatalaksanaan
Terapinya terdiri atas adenoidektomi untuk adenoid hipertrofi yang menyebabkan
obstruksi hidung, obstruksi tuba Eustachius, atau yang menimbulkan penyulit lain. Operasi
dilakukan dengan alat khusus (adenotom). Kontraindikasi operasi adalah celah palatum atau
insufisiensi palatum karena operasi ini dapat mengakibatkan rinolalia aperta.5
Indikasi adenoidektomi:

Sumbatan: sumbatan hidung yang menyebabkan bernapas melalui mulut, sleep apnea,
gangguan menelan, gangguan berbicara, kelainan bentuk wajah muka dan gigi

(adenoid face).
Infeksi: adenoiditis berulang/kronik, otitis media efusi berulang/kronik, otitis media

akut berulang.
Kecurigaan neoplasma jinak / ganas.1

Teknik adenoidektomi terbagi atas dua cara yaitu :


1. Eksisi melalui mulut
Merupakan teknik yang paling banyak di gunakan. Adenoid di keluarkan melalui
mulut setelah mulut dibuka dengan menggunakan suatu alat dan menarik langit-langit
mulut. Suatu cermin digunakan untuk melihat adenoid karena adenoid terletak pada
rongga hidung bagian belakang melalui pendekatan ini beberapa instrumen dapat
dimasukkan.
a. Cold Surgical Technique:
Curette adenoid: Merupakan patokan dan metode konvensional yang
sukses dilakukan. Alat adenoid currete mempunyai sisi yang tajam dan
bengkok. Untuk mengangkat adenoid digunakan mata pisau yang tajam
setelah terlebih dahulu memposisikan nasofaring. Perdarahan dapat
dikontrol dengan elektrocauter.

Adenoid Punch: Penekanan pada adenoid dengan menggunakan satu


instrumen bengkok yang mempunyai celah dan ditempatkan di atas

adenoid kumudian celah itu ditutup dan pisau bedah mengangkat adenoid.
Magill Forceps: Adalah suatu instrumen yang berbentuk bengkok yang

digunakan untuk mencabut jaringan sisa pada adenoid.


b. Elektrocauter dengan suction bovie: Teknik kedua dengan menggunakan
elektrocauter dengan suatu suction bovie yang berfungsi untuk mencabut jaringan
adeno.
c. Surgical

microdebrider:

Ahli

bedah

lain

sudah

menggunakan

metode

microdebrider, sebagian orang menganggapnya lebih efektif. Perdarahan pasti


terjadi pada pengangkatan tetapi sebagian besar dilaporkan perdarahan dengan
menggunakan tradisional currete. Mikrodebrider memindahkan jaringan adenoid
yang sulit di jangkau oleh teknik lain.
2. Eksisi melalui hidung.
Satu-salunya teknik bermanfaat untuk memindahkan adenoid melalui rongga hidung
dengan menggunakan alat mikrodebrider. Dengan prosedur ini, jika terjadi perdarahan
dikontrol dengan menggunakan cauter suction.5,6

Komplikasi
Komplikasi dari tindakan adenoidektomi adalah perdarahan bila pengerokan adenoid
kurang bersih. Jika terlalu dalam menyebabkan akan terjadi kerusakan dinding belakang
faring. Bila kuretase terlalu ke lateral maka torus tubarius akan rusak dan dapat
mengakibatkan oklusi tuba eustachius dan timbul tuli konduktif.1

Prognosis
Adenotonsillektomi merupakan suatu tindakan yang kuratif pada kebanyakan
individu. Jika pasien ditangani dengan baik diharapkan dapat sembuh sempurna, kerusakan
akibat cor pulmonal tidak menetap dan sleep apnea dan obstruksi jalan nafas dapat diatasi.7

Penutup
Adenoid merupakan massa yang terdiri dari jaringan limfoid pada dinding posterior
nasofaring di atas batas palatum molle dan termasuk dalam cincin waldeyer. Secara fisiologik
pada anak-anak, adenoid dan tonsil mengalami hipertrofi. Adenoid ini membesar pada anak
usia 3 tahun dan kemudian mengecil dan menghilang sama sekali pada usia 14 tahun. Apabila
sering terjadi infeksi pada saluran napas bagian atas, maka dapat terjadi hipertrofi adenoid
yang akan mengakibatkan sumbatan pada koana, sumbatan tuba eustachius.
Pembesaran adenoid dapat di ringkas menjadi dua yaitu secara fisiologis dan faktor
infeksi. Secara fisiologis adenoid akan mengalami hipertrofi pada masa puncaknya yaitu 3-7
tahun. Biasanya asimptomatik, namun jika cukup membesar akan menyebabkan gejala.
Hipertrofi adenoid juga didapatkan pada anak yang mengalami infeksi kronik atau rekuren
pada saluran pernapasan atas atau ISPA. Terapinya terdiri atas adenoidektomi untuk adenoid
hipertrofi yang menyebabkan obstruksi hidung, obstruksi tuba Eustachius, atau yang
menimbulkan penyulit lain.

Daftar Pustaka
1. Rusmarjono, Efiaty Arsyad Soepardi . Faringitis, tonsilitis, dan hipertrofi adenoid .
Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher.
Ed 6. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2007. 224-225.
2. Joseph GD, Wohl DL. Complication in Pediatric Otolaryngology. London: Taylor&
francis Group. 2005. p.232,296, 305.
3. MaQlay J. Adenoidectomy.[online]. Diakses tanggal 11 Juni 2014. Available from:
http://www.emedicine.com/oph/topic410.htm
4. Gardjito, Widjoseno. Tindak Bedah Organ dan Sistem Organ Kepala dan Leher.
Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2, oleh R Sjamsuhidat, Wim de Jong, 368.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2004.
5. Adams, Goerge L. "Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring." Boies Buku ajar
Penyakit THT Edisi 6, by Lawrence R Boies, Peter A Higler Goerge L Adams, 325327. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
6. http://emedicine.medscape.com/article/872216-treatment, diakses tanggal 11 Juni
2014.
7. http://emedicine.medscape.com/article/872216-followup, diakses tanggal 11 Juni
2014.