Anda di halaman 1dari 9

Sistem Ekonomi Islam

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam


1. Norma Dasar Ekonomi Islam
Norma dasar islam di bidang ekonomi dapat diungkapkan dalam doa
sehari-hari:


Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Al-Baqarah [2]: 201)
2. Prinsip-prinsip Ekonomi Berdasarkan Syariah Islam
Berdasarkan (QS Al-Baqarah [2]: 201) dengan dikaitkan dengan ayat-ayat
lainnya, secara kontekstual dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip ekonomi islam
adalah:1
a. Alam adalah mutlak milik Allah (QS Al-Maidah [5]: 120);
b. Alam merupakan karunia allah yang diperuntukkan bagi manusia (QS
Luqman [31]: 20 dan Ibrahim [14]: 33-35); (hal 377)
c. Alam ini untuk diolah, dimanfaatkan dan dinikmati, tanpa melampaui
batas (QS Al-Araf [7]: 31 dan Al-Zukhruf [43]: 32);
d. Hak milik perorangan adalah tidak mutlak (relatif), diakui sebagai hasil
jerih payah yang halal dan hanya boleh digunakan untuk hal-hal yang
halah pula (QS Al-Nisa [4]: 32, Al-Baqarah [2]: 274, Al-Nahl [16]: 71, AlTaghabun [64]: 15, dan Al-Zukhruf [43]: 25);
e. Allah melarang menimbun harta kekayaan yang tidak digunakan untuk
kesejahteraan bersama (QS Al-Taubah [9]: 34 dan Al-Hasyr [59]: 7);
f. Pada harta orang kaya terdapat hak orang-orang miskin (QS Al-Isra [17]:
26, Al-anam [6]: 14, Al-Dzariyat [51]: 19, dan Al-Taubah [9]: 60);
g. Allah memerintahkan kita untuk melakukan jual-beli atas dasar suka sama
suka (an taradlin) dan melarang keras memakan makanan secara batil
1 Saleh, Hasan, KAJIAN FIQI NABAWI dan FIQIH KONTEMPORER, Rajawali Pers, 2008, Jakarta, hal.
377-378

(QS Al-Nisa [4]: 29, Al-Baqarah [2]: 188) baik dengan jalan tipuan (QS
Al-Anam [6]: 152) maupun dengan jalan melanggar janji atau sumpah
(kolusi) (QS Al-Nahl [16]: 92) ataupun dengan jalan mencuri (QS AlMaidah [5]: 38);
h. Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba (QS Al-Baqarah [2]:
275, 278-280, dan Ali Imran [3]: 130).
3. Prinsip-pinsip Keseimbangan
Prinsip Ekonomi Islam adalah prinsip keseimbangan.
a. Larangan Berlaku Boros
Dari satu segi islam melarang pemborosan, tetapi dari segi lain Islam
melarang sifat bakhil (QS Al-Furqan, [25]: 67, Al-Lail [92]: 8-10); (hal 378)
b. Perintah Menyantuni Orang-orang Miskin
Dari satu segi Islam memerintahkan orang kaya untuk menyantuni orang
miskin (QS Al-Maarij [70]: 24-25 dan Al-Taubah [9]: 60), tetapi dari segi lain
Islam melarang orang miskin mempertahankan status quo-nya sebagai orang
miskin (QS Al-Rad [13]: 11 dan riwayat Muslim).
Sebagaimana firman Allah (QS Al-Maarij [70]: 24-25):

(24)








(25)
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi
orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang
tidak mau meminta). (QS Al-Maarij [70]: 24-25)
Dan firman Allah yang lain (QS Al-Taubah [9]: 60):

...









Sesungguhnya zakat-zakat itu, hannyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin,... (Al-Taubah [9]: 60)
Dalam hal ini, Islam melarang orang miskin mempertahankan status quonya sebagai orang miskin, sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga


mereka sendiri berusaha merubahnya. (QS Al-Rad [13]: 11)
Senada dengan pernyataan ayat tersebut, Nabi Saw. Menegaskan:


Tangan d iatas lebih mulia daripada tangan di bawah. (HR Muslim)
c. Antara mencari Keuntungan dan Beramal Saleh
Dari satu segi, Islam membenarkan orang untuk mencari keuntungan
sebanyak-banyaknya, tetapi pada waktu yang sama Islam memerintahkan agar
harta berfungsi sosial.
Berdasarkan, ayat-ayat dan hadis-hadis di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa sistem ekonomi Islam:
1) Merupakan harmoni atau keseimbangan antara kepentingan individu
dan kepentingan masyarakat;
2) Perlu suatu organisasi yang mengatur keseimbangan antara hak-hak
individu dan hak-hak masyarakat;
3) Menciptakan keseimbangan (sintesa) antara sistem ekonomi kapitalis
dan sistem ekonomi sosialis;
4) Memadukan hal-hal yang positif dari sistem ekonomi kapitalis dan halhal yang positif dari sistem ekonomi sosialis (Baca: Syafruddin
Prawiranegara, Sistem Ekonomi Islam, hlm. 19, 23 dan 27) (hal 380).2
TUJUAN EKONOMI
A. Prinsip Ekonomi
Firman Allah yang menunjukkan tentang prinsip ekonomi antara lain
sebagai berikut :
1. Prinsip Ekonomi Zulumat/ Syar (Non Islam)
Prinsip ekonomi Zulumat adalah prinsip ekonomi yang melandaskan
pada pola pikir materialisme, yang menempatkan manusia sebagai segala-galanya,
baik secara kolektif atau komunal maupun individual atau liberal. Tata aturan
yang bersangkut paut dengan kegiatan ekonomi ditetapkan berdasarkan aturan
manusia. Berdasarkan itu ajaran Tuhan ditolaknya. Prinsip ekonomi inilah yang
melandasi ekonomi konvensional pada kurun waktu sejak dunia Barat
2 Saleh, Hasan, KAJIAN FIQI NABAWI dan FIQIH KONTEMPORER, Rajawali Pers, 2008, Jakarta, hal.
378-380

mendominasi peradaban. Prinsip ekonomi yang demikian dinyatakan dalam AlQuran sebagai menyesat kehidupan, yang pada akhirnya akan melahirkan
peradabanyang saling baku hantam dan mencari kelengahan pihak lain.








Barang siapa mencari Agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
merugi. (QS. Ali-Imran (3): 85)
2. Prinsip Ekonomi Nur (Khair)
Prinsip ekonomi Nur yaitu prinsip ekonomi yang didasarkan atas
konsep ketuhanan secara fungsional. Maksudnya hal yang berkaitan dengan
kegiatan ekonomi ditetapkan berdasarkan aturan Allah dalam Al-Quran
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Di antara prinsip-prinsip tersebut
adalah : (hal 26)
a. Alam ini milik mutlak Allah SWT.




Kepunyaan Allah-lah semua yang ada di langit, semua yang dibumi, semua
yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (QS.Thaha (20): 6)




Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
dalamnya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Al-Maidah (5): 120)



Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup
kekal, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah apa yang dilangit dan
bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah
mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka
tidak megetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Ilmu Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS.Al-Baqarah (2): 255)
(hal 27)
b. Alam merupakan nikmat kurnia Allah, diperuntukkan bagi
manusia:

Tidaklah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk


(kepentingan)mu apa yang dilangit dan apa yang ada di bumi dan
menyempurnakan untuk mu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan diantara manusia
ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau
petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan (QS.Luqman (31): 20)






)( 32)

( 33
(34)

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan
dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu, berbagai buahbuahan menjadi rizki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu
supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah
menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar
(dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia
telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu
mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat
kamu menghitugnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lazim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah). (QS.Ibrahim (14): 32-33-34) (hal 28)
c. Alam kurnia Allah ini untuk di nikmati dan dimanfaatkan dengan
tidak melampaui batas-batas ketentuan :



Hai anak Adam, pakailah pakaian mu yang iindah di setiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-Araf (7): 31)
d. Hak milik perseoragan diakui sebagai hasil jerih payah usaha yang
halal dan hanya boleh dipergunakan untuk hal-hal yang halal pula.
(hal 29)

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari


hasil usaha mu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari
bumi untuk kamu. Dan jannganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu

nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya


melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa
Allah maha kaya lagi Maha terpuji. (QS. Al-Baqarah (2): 267)
e. Allah melarang menimbun kekayaan tanpa ada manfaat bagi
sesama manusia :

Hai orang-orang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang


alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan
jalan yang batil, dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.
Dan orang-orang yang menyimpan Emas dan Perak dan tidak menafkahkannya
pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan
mendapat) siksa yang pedih. (QS. At-Taubah (9): 34) (hal 30)
f. Di dalam harta orang kaya itu terdapat hak orang miskin, fakir dan
lain sebagainya.


Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada
orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (QS. Al-Isra (17): 26)

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan
orang miskin yang tidak mendapat bahagia. (QS. Adz-Dzaariyaat (15): 26)
(31).3
B. Tujuan Ekonomi Islam
1) Mewujudkan kehidupan ekonomi umat manusia yang makmur dan
selalu dalam taraf lebih maju, dengan jalan melaksanakan produksi
barang dan jasa dalam kualitas dan kuantitas yang cukup, guna
memenuhi kebutuhan jasmani, rohani serta kebutuhan spiritual, dalam
rangka menumbuhkan taraf kesejahteraan duniawi maupun ukhrowi
secara serasi dan seimbang. (hal 46)
2) Mewujudkan kehidupan ekonomi ummat manusia yang adil dan
merata,

dengan

jalan

melaksanakan

distribusi

barang,

jasa,

kesempatan, kekuasaan dan pendapatan masyarakat secara jujur dan


terarah dan selalu meningkatkan taraf keadilan dan pemerataannya.
3) Mewujudkan kehidupan ekonomi ummat yang stabil dengan jalan
menghindarkan gangguan-gangguan inflasi dan depresi ataupun
stagnasi, namun tidak menghambat laju pertumbuhan ekonomi
masyarakat, dengan jalan mengendalikan tingkaah laku masyarakat
yang membawa ke arah kegoncangan ekonomi.
4) Mewujudkan kehidupan ekonomi yang serasi, bersatu, damai, dan
maju, dalam suasana kekeluargaan sesama ummat, dengan jalan
menghilangkan nafsu untuk menguasai, menumpuk harta, ataupun
sikap-sikap lemah terhadap gejala-gejala yang negatif.
5) Mewujudkan kehidupan ekonomi yang relatif menjamin kemerdekaan,
baik dalam memilih jenis barang dan jasa, memilih sistem dan
organisasi produksi, maaupun memilih sistem distribusi, sehingga
tingkat partisipasi masyarakat dapat dikerahkan secara maksimal,
dengan meniadakan penguasaan berlebih dari sekelompok masyarakat
ekonomi, serta menumbuhkan sikap-sikap kebersamaan (solidaritas).

3 Marzuki, Muharrom, Ph.D, dkk, ISLAM untuk DISIPLIN EKONOMI, Departemen Agama RI, 2002,
Jakarta. 2, hal. 26-31

6) Mewujudkan kehidupan ekonomi yang tidak menimbulkan kerusakan


di bumi, sehingga kelestarian dapat dijaga sebaik-baiknya, baik alam
fisik, kultural, sosial maupun spiritual keagamaan.
7) Mewujudkan kehidupan ekonomi ummat manusia yang relatif mandiri
tanpa adanya ketergantungan yang berlebihan dari kelompokkelompok masyarakat lain.
Untuk memudahkan dalam mengingatnya rumusan tujuan ekonomi Islam
tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Makmur dan sejahtera


Adil dan merata
Tentram (stabil) dan maju
Serasi, damai dan maju
Merdeka
Kelestarian alam
Mandiri. 4

4 Marzuki, Muharrom, Ph.D, dkk, ISLAM untuk DISIPLIN EKONOMI, Departemen Agama RI, 2002,
Jakarta. 2, hal.46-47