Anda di halaman 1dari 11

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dalam tubuh makhluk hidup,
Anatomi amphibi mempelajari tentang struktur dalam dari amphibi, baik mengenai
sistem pencernaan, system reproduksi, sistem endokrin, sistem respires atau sistem
urogenitalnya.sedangkan amphibi merupakan hewan yang dapat hidup di darat dan di
air. Secara umum tubuh amphibi terdiri dari bagian utama yaitu caput,truncus, dan
caudal,truncus

terbagi

menjadi

extremitas

posterior

dan

extremitas

anterior

(Sudjono,2009).
Jantung katak terdiri dari tiga ruang yaitu: atrium kiri, atrium kanan, dan
ventrikel (2 atrium, 1 ventrikel). Atrium kanan menerima darah yang miskin oksigen
dari seluruh tubuh, sedangkan atrium kiri menerima darah dari paru paru. Darah dari
kedua atrium bersama sama masuk ventrikel. Walaupun tampaknya terjadi
percampuran antara darah yang miskin oksigen dengan darah yang kaya oksigen namun
percampiurn diminimalisasi oleh adanya sekat sekat yang terdapat pada ventrikel. Dari
ventrikel, masuk ke pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh( Zahra,2003)
Pada katak, oksigen berdifusi lewat selaput rongga mulut, kulit, dan paru paru.
Kecuali pada fase berudu bernafas dengan insang karena hidupnya di air. Selaput rongga
mulut dapat berfungsi sebagai alat pernafasan karena tipis dan banyak kapiler yang
bermuara di tempat itu. Pada saat terjadi gerakan rongga mulut dan faring, lubang
hidung terbuka dan glotis tertutup sehingga udara berada di rongga mulut dan berdifusi
masuk melalui selaput rongga mulut yang tipis. Dengan demikian pertukaran oksigen
dan karbondioksida dapat terjadi di kulit. Setelah itu koane menutup dan otot rahang
bawah dan otot geniohioideus berkontraksi sehingga rongga mulut mengecil.
Mengecilnya rongga mulut mendorong oksigen masuk ke paru -paru lewat celah-celah.
( Retno,2001).

Klasifikasi :
Kingdom: Animalia
Filum

: Chordata

Subfilum : Vertebrata
Kelas

: Amphibia

Ordo

: Anura

Family

: Ranidae

Genus

: Fejervarya

Spesies

: Fejervarya cancrivora

Alat pencernaan makanan diawali oleh cavum oris dan diakhiri oleh anus. Pada
beberapa bagian dari tractus digestoria mempunyai struktur dan ukuruan yang berbeda.
Mangsa yang berupa hewan kecil yang ditangkap untuk dimakan akan dibasahi oleh air
liur. Katak tidak begitu banyak mempunyai kelenjar ludah. Dari cavum oris makanan
akan melalui pharynx, oesophagues yang menghasilkan sekresi alkalis (basis) dan
mendorong makanan masuk dalam fentriculus yang berfungsi sebagai gudang
percernaan(Suratman,2000).
Ginjal amphibi sama denga ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk
mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak permeable terhadap air, maka pada
saat ia berada di air, banyak iar masuk ke tubuh katak secara osmosis. Pada saat ia
berada di darat harus melakukan konservasi air dan tidak membuangnya. Katak
menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air sesuai dengan lingkungannya dengan cara
mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh glomerulus pada ginjal atau ren( Raina,2005 ).

Katak memiliki beberapa kelenjar endokrin yang menghasilkan sekresi intern


yang disebut hormon. Fungsinya mengatur atau mengontrol tugas-tugas tubuh,
merangsang, baik yang bersifat mengaktifakan atau mengerem pertumbuhan,
mengaktifakan bermacam -macam jaringan dan berpengaruh terhadap tingkah laku
mahluk. Pada dasar otak terdapat glandulae pituitaria atcuglandulaehypophysa bagian
anterior kelenjar ini pada larva menghasilkan hormon pertumbuhan. Hormon ini
mengontrol pertumbuhan tubuh terutama panajang tulang, dn kecuali itu mempengaruhi
glandulae thyroidea( Raina,2005 ).
Organ reproduksi pada katak berbeda antara katak jantan dan katak betina. Pada
katak jantan terdapat sepasang testis (bentuknya oval, warnanya keputih putihan)
terletak disebelah atas ginjal. Testis diikat oleh alat penggantungnya yang disebut
mesdrchiutn. Dari testis terdapat saluran yang disebut fasadefferensia yang bermuara di
kloaka. ( Raymond,1999 ).
System endokrin (kelenjar buntu) pada amphibi (katak) terdapat kelenjar
paratiroid, sebagai regulator kalsium dalam system endokrin. pad hasil penagmatan
terletak di belakang, melekat ke tiroid. Umumnya 2 pasang, sepasang pada tiap lobus
tiroid. Kelenjar adrenal, koretks dan medulla bergabung tidak terpisah seperti pada ikan.
Kelenjar adrenal melekat di atas ginjal, kiri kanan. Kelenjar ini disalut kapsul dari
jaringan ikat. Terdiri dari korteks berwarna kekuningan dan medulla yang berwarna
kelabu. Letak korteks adalah di bawah control saraf simpatis( Raymond,1999 ).
Kelenjar pencernaan terdiri atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah
kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati
berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang
berwarnake hijauan. pankreas berwarna kekuningan, melekat diantara lambung dan usus
dua belas jari (duadenum). pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang
bermuara pada duodenum( Retno,2001 ).

I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Katak sawah (Fejevarya cancrivora) dipilih untuk mewakili kelas amphibia karena
mudah didapatkan. Fejevarya cancrivora dapat menunjukan persamaan dalam bentuk
dan fungsi dengan vertebrata tinggi. Susunan tubuh mudah dipelajari dan cara hidupnya
sederhana (Heru Susanto, 1994).
Amphibia berasal dari kata amphi artinya rangkap dan bios artinya hidup.
Jadi amphibia berarti hewan yang hidup dalam dua fase kehidupan, yaitu dari kehidupan
air ke kehidupan darat. Fase strukturnya menunjukkan bahwa amphibia merupakan
kelompok chordata yang keluar dari kehidupan air. Hewan yang dapat hidup di dua
habitat yang berbeda, pasti akan menjumpai dua kelompok musuh (Radiopoetro, 1996).
Cara hidup katak sangat berbeda dengan ikan, hewan ini tidak hidup di perairan
dalam, tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya di darat. Samahalnya dengan jenis
ikan, katak tidak memiliki leher. Kulitnya lunak dan agak berlendir, tidak mempunyai
ekor karna dapat menghalangi gerak meloncat. Fungsi kulit pada katak yaitu untuk
melindungi tubuh dari lingkungan luar dan sebagai alat pernapasan (Sumanto, 1994).
Proses terjadinya pernapasan melalui kulit yang dilengkapi dengan kelenjar kelenjar yang menghasilkan lendir agar permukaan kulit selalu basah. Bentuk kelenjar
kulit pada katak seperti piala, terdapat tepat di bawah epidermis dan salurannya melalui
epidermis yang bermuara di permukaan kulit. Mekanisme pernapasannya melalui dua
fase, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Sistem pencernaan makanan pada amfibi ini, hampir
sama dengan ikan, meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan katak
berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada
katak meliputi rongga mulut: terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa
dan lidah untuk menangkap mangsa, esofagus( Betty,1999).

Organ tersebut dipercaya menjdi alat bantu dalam merasakan makanan. Orgn ini
juga penting daalm tingkah laku reproduksi, karena kasi pertama adalah hewan jantan
menyentuh hidung, kepala dan leher betinanya. Mata amfibi juga seperti pada Vertebrata
lain. Lensa mata tetap tidak berubah kecembungannya untuk jarak pandang yang relatif
jauh, terdapat juga organ pareintal body berfungsi sebagai fotoreseptor, sensitif terhadap
gelombang panjang dan intensitas cahaya, berperan dalam termoregulasi dan orientasi
arah, terdapat alat pendengaran pada amfibi, katak dan kodok mempunyai pendengaran
tengah dan gendang telinga. Suara ditransmisikan dari gendang telinga melalui lubang
timpani ke telinga dalam melewati sebua tulang yang disebut kolumella, terdapat linia
lateralis pada larva amfibi dan terkadang ditemukan pada katak dewasa untuk spesies
katak yang hidup diair, yang srukturnya mirip pada ikan ( Sudjono, 2005 ).
Sistem reproduksi pada amfibi, mengawali hidupnya sebagai telur yang
diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Telurtelur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong,yang bertubuh mirip ikan
gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan
akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan,
menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu
ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil( Betty,1999 ).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum anatomi hewan kali ini adalah untuk melihat dam
mengamati anatomi katak sawah (Fejevarya cancrivora). Serta untuk mengetahui
beberapa sistem tubuh katak, seperti sistem reproduksi (beda jantan dan betina), sistem
peredaran darah dan sistem pernapasan atau respirasi.

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum anatomi amphibia dilakukan pada pukul 13.00 WIB 15.00 WIB tanggal 17
Maret 2014 bertempat di Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum anatomi amphibia yakni pisau cuter, gunting
bedah, pinset, killing bottle,bak lilin,sterofoam, tisu gulung, sabun cuci, masker, dan
sarung tangan. Sedangkan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum anatomi amphibia
ini adalah Fejervarya cancrivora jantan dan Fejervarya cancrivora betina.

3.3 Cara Kerja

Cara kerja yang dilakukan untuk berjalannya praktikum anatomi amphibia ini, yaitu
pertama Fejervarya cancrivora jantan dimasukkan di dalam killing bottle agar mati.
Kedua Fejervarya cancrivora di letakkan di sebuah bak lilin dan digambar struktur
morfologinya. Ketiga Fejervarya

cancrivora dibedah menggunakan gunting bedah

secara hati-hati agar tidak ada organ yang rusak. Setelah dibedah, organ anatomi yang
ada pada Fejervarya cancrivora diangkat menggunakan pinset dan diletakkan di atas
sterofoam. Selanjutnya disusun organ anatomi tersebut dan digambar sruktur anatomi
yang terlihat. Dilakukan langkah yang sama pada Fejervarya cancrivora betina.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Morfologi Amphibia


Pada praktikum mengenai anatomi amphibia, amphibia yang digunakan adalah
Fejeverya cancrivora (katak sawah). Sebelum mengamati anataomi dari katak tersebut
kita harus mengetahui morfologi dari katak tersebut dan beda morfologi katak jantan
dengan katak betina. Dari pengamatan yang kami lakukan kami mengamati bahwa
ukuran tubuh katak betina lebih kecil dibandingkan ukuran tubuh katak jantan. Di
dalam berbagai literatur kami dapatkan bahwa ukuran tubuh katak betina lebih besar
daripada tubuh katak jantan. Ukuran tubuh katak betina yang kami amati lebih kecil
dibandingkan dengan ukuran tubuh katak jantan karena usia dari katak betina jauh lebih
muda dibandingkan katak jantan (Raymond, 1999).
Klasifikasi Fejervarya cancrivora adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Sub filum

: Vertebrata

Kelas

: Amphibia

Ordo

: Anura

Famili

: Ranidae

Genus

: Fejervarya

Spesies

: Fejervarya cancrivora

Gambar4.1 morfologi (Jasin, 1989).

Secara umum, morfologi anggota extremitas pada katak terbagi dua yaitu,
extremitas anterior dan extremitas posterior. Organ anggota extremitas anterior pada
katak terdiri dari antebrachium, brachium, digiti, manus. Sedangkan untuk anggota

extremitas posterior tediri atas femur, cruss, pedes, digiti. Pada ujung digiti katak jantan
ditemukan adanya palm, yang merupakan alat untuk menempel pada tubuh katak betina
ketika kawin. Pada pengamatan secara morfologi katak betina kami melihat bahwa
anggota extremitas anteriornya hilang sebelah. Hal ini terjadi disebabkan putusnya
anggota extremitas anterior tersebut ketika pengambilan katak tersebut (Jasin, 1989).

4.2 Anatomi Amphibia

(a)
(b)
(c)

Gambar 4.2 (a) cor, (b) intestinum tenue (c) ventriculus


Pada pengamatan anatomi katak, katak jantan dan betina dapat dibedakan dari
organ reproduksinya. Pada katak jantan kita dapat mengamati adanya sepasang testis dan
saluran ductus spermaticus. Sedangkan untuk katak betina kita dapat mengamati adanya
sepasang ovarium ( Raina, 2005).
Pada pengamatan sistem pencernaan pada katak terdapat saluran pencernaan dan
kelenjar pencernaan. Organ saluran pencernaan pada katak yang dapat kami amati
adalah ventrikulus, intestinum tenue, intestinum crassum, dan cloaca. Pada literatur yang
didapatkan disebutkan adanya esophagus yang menghubungkan cavum oris dengan
ventrikulus. Di dalam literatur dinyatakan esophagus pada katak sangat pendek karena

amphibi tidak memiliki leher, sehingga kami sulit untuk menentukan apakah itu
esophagus atau esophagusnya terpotong sehingga tidak dapat diamati. Pada pengamatan
kelenjar pencernaan katak kami dapat mengamati adanya hati ( hepar), pankreas dan
kantong empedu ( vesica vellea). Pada kelenjar katak kami mengamati bahwa hati katak
memiliki tiga lobus (Raymond, 1999).
Di dalam literatur dinyatakan bahwa oksigen dapat masuk ke dalam tubuh katak
melalui dua cara yaitu, melalui hidun dan difusi melalui kulitnya yang lembab. Kami
mengamati paru-paru pada katak memiliki dua lobus yang tidak jauh berbeada dengan
paru-paru mamalia. Untuk pengamatan sistem urogenetalia pada katak, kami
menemukan adanya ginjal (ren). Bentuk ginjal katak sudah lebih maju dibandingkan
ginjal pada pisces. Di dalam literatur dinyatakan ginjal pada katak memiliki tipe
mesonephros. Pada katak jantan, saluran urin dan saliran sperma meruapakan satu
saluran yang disebut ductus spermaticus. Untuk pengamatan sistem reproduksi katak
jantan, kami megamati adanya sepasang testis yang berbentuk oaval dansedikit
memanjang. Di dalam literatur dinyatakan testis pada katak jantan diikat oleh alat
penggantungnya yang disebut mesorchium. Pada pengamatan organ reproduksi katak
betina kami mengamati adanya sepasang ovarium, sepasang oviduk, dan ovisak.
Ovarium, yang kami dapatkan masih dalam keadaan yang masih sedikit dan kecil,
karena katak betina yang kami amati memiliki usia yang masih muda. Ovarium pada
katak betina diikat oleh penggantungnya yang disebut mesovarium. Dibelakang ovarium
ditemukan adanya corpus adiposa yang merupakan llemak yang berfungsi sebagai
cadangan energi ketika akan terjadi pegeluaran ovum (Sudjono, 2009).
Sistem perdaran darah katak merupakan perdaran tertutup ganda. Jantung pada
katak terdiri atas tiga ruang, yaitu atrium mkiri, atrium kanan, dan ventrikel. Darah yang
kotor akan dibersihkan di dalam paru-paru (pulmo). Pada amphibi saluran
pengeluarannya disebut dengan kloaka. Kloaka meruipakan saluran pemngeluaran
akhir, baik pengeluaran sisa pencernaan ataupun dari pengeluaran sistem urogenetalia
(Raina, 2005).

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :


1. Tubuh katak terdiri dari caput, truncus, extremitas anterior dan extremitas
posterior.

2. Sistem pencernaan katak terdiri dari rongga mulut, esophagus, ventrikulus,


intestinum tenue, intestinum crasum, dan kloaka.
3. Sistem eksresi pada katak terdiri dari ginjal, ureter, vesica urinaria, dan papilla
urogenitalis.
4. Sistem genitalia pada katak terdiri atas ovarium dan oviduk (pada betina) dan
testis (pada jantan).

5.2 Saran

Dalam pelaksanaan praktikum, praktikan hendaknya melakukan pengamatan dengan


teliti sehingga data yang didapatkan akurat dan sesuai dengan literature yang ada.