Anda di halaman 1dari 6

Tinjauan Kritis Upaya Pengembangan Ekonomi Lokal di Jawa

Tengah
Studi Kasus: Klaster Mebel Ukir di Kabupaten Jepara
Disusun Oleh: Inas Nadia Hanifah (21040112130081)

LATAR BELAKANG
Peningkatan perekonomian Indonesia sebagai negara berkembang, secara
efektif dapat didorong melalui peningkatan perekonomian di tingkat daerah.
Salah satu caranya melalui pengembangan ekonomi lokal yang berperan
memaksimalkan potensi-potensi lokal agar dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat luas. Langkah awal dalam pengembangan ekonomi lokal menitik
beratkan pada pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) melalui konsep
pengembangan klaster industri (Evi, 2011).
Klaster sendiri merupakan
aglomerasi dari perusahaan-perusahaan beserta komponen pendukungnya yang
memiliki banyak kesamaan, bersifat saling melengkapi dan saling terkait dalam
hubungan fungsional tertentu (Porter, 1998 dalam Andersson et al, 2004).
Salah satu provinsi yang menerapkan klaster sebagai upaya
pengembangan ekonomi lokal daerahnya adalah Provinsi Jawa Tengah. Pada
tahun 2005 di Jawa Tengah telah ditetapkan tiga klaster unggulan, yaitu klaster
pertanian berbasis processing industry, klaster pariwisata unggulan dan klaster
industri berbasis ekspor. Diantara ketiga klaster tersebut, klaster industri
berbasis ekspor memberikan kontribusi paling besar dalam PDRB Provinsi Jawa
Tengah. Salah satu klaster industri berbasis ekspor yang cukup berkembang di
Jawa Tengah adalah klaster ukiran mebel di Kabupaten Jepara. Industri mebel
Jepara cukup mendapat perhatian dari pemerintah daerah untuk dapat
dikembangkan secara maksimal dan menjadi komoditi ekspor utama. Pemerintah
berkepentingan dengan keberlanjutan industri mebel dikarenakan penyerapan
tenaga kerja yang besar, berbahan baku dari sumber yang bisa diperbarui serta
berpotensi memberikan nilai tambah yang tinggi. Pada tahun 2010,
industrumebel jepara berkontribusi terhadap perekonomian Kabupaten sebesar
26% dengan nilai ekspor 130 juta dolar AS atau lebih dari 1 trilliun rupiah (Rika,
2012).
Kabupaten Jepara telah dikenal sebagai pusat industri desain ukir dan
mebel Indonesia yang berkualitas tinggi. Mebel Jepara diperkirakan
menyumbang 10% dari total ekspor Indonesia pada tahun 2010 berdasarkan
data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jepara. Tidak hanya di kancah
perdagangan nasional, predikat Jepara The World Carving Center atau Jepara
Pusat Ukir Dunia menunjukkan seni kerajinan ukir mebel Jepara telah mampu
merambah hingga kancah perdagangan internasional. Bahkan saat ini Jepara
telah merambah delapan puluh negara tujuan ekspor. Eksistensi klaster ukir
Jepara juga ditunjukkan dengan terdapatnya showroom-showroom mebel/ukiran
yang berbaris sepanjang 20 km di jalan Senenan-Tahunan-Pecangaan serta
diresmikannya klaster ketiga yaitu klaster ukir di Desa Petekeyan, menyusul dua
klaster yang telah terbentuk sebelumnya yaitu klaster relief di Desa Senenan
dan klaster patung di Desa Mulyoharjo. Perkembangan klaster ukir jepara
mencapai puncaknya pada tahun 1998-2000 dimana eksportir dan importir

diuntungkan dengan tukar rupiah yang murah, sementara bahan baku kayu
berasal dari lokal dan daerah sekitar sehingga cukup mudah diperoleh.
Perkembangan klaster ukiran Jepara salah satunya didukung oleh SDM yang
berkualitas yang memiliki skill dalam bidang kerajinan ukir. Selain itu adanya
dukungan dari pemerintah dan organisasi/lembaga terkait serta kemudahan
perolehan sumber bahan baku membuat klaster ukiran Jepara dapat terus
bertahan hingga saat ini. Namun perkembangan klaster ukiran Jepara saat ini
tidak seperti dulu, saat ini ekspor mebel ukir Jepara menunjukkan angka yang
fluktuatif setiap tahunnya, dengan trend yang cenderung menurun (Naniek,
2012). Hal tersebut diakibatkan mahalnya harga bahan baku dan sulitnya
memperoleh bahan baku dengan kualitas terbaik. Kondisi ini berimbas pada
rendahnya daya saing mebel Jepara dengan industri mebel dari daerah lain.
Selain dari sisi ketersediaan bahan baku, menurunnya perkembangan klaster
industri mebel ukir Jepara juga terancam karena rendahnya minat generasi muda
untuk melestarikan budaya mengukir. Hal-hal tersebut merupakan beberapa
permasalahan yang ada dalam klaster ukir Jepara disamping permasalahan lain
yang menyebabkan klaster ukir Jepara tidak berkembang pesat seperti dulu.
Faktor kegagalan klaster Jepara saat ini dan keberhasilan klaster Jepara di tahun
1990-an menjadi bahasan utama dalam penulisan ini untuk kemudian disusun
rekomendasi atau solusi tepat agar klaster Jepara dapat terus berkembang dan
memberikan positive impact kepada masyarakat sekitar khususnya masyarat di
Kabupaten Jepara.
KAJIAN LITERATUR
Kebijakan dan Strategi Pengembangan Klaster di Jawa Tengah
Klaster merupakan pengembangan dari konsep sentra yang telah ada
sebelumnya. Sentra adalah kumpulan produsen dalam suatu wilayah tertentu.
Sentra dikembangkan menjadi klaster, dengan cara dihubungkan dengan
berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan bisnis, mulai dari industri
pendukung, institusi pendukung, supplier sampai dengan pasar.
Pihak-pihak yang diharapkan terlibat dalam pengembangan sentra menjadi
klaster, meliputi antara lain pengusaha besar, asosiasi, Kadin, BDS (Business
Development Services), Perbankan dan Pemerintah terkait. Dukungan
Pemerintah Daerah dibutuhkan dalam rangka menginisiasi terjadinya linkages
tersebut, mendorong terjadinya proses kerjasama yang partisipatif. Disamping
tentunya dukungan Pemerintah dibutuhkan untuk regulasi dan penyediaan
infrastruktur. Dukungan Pemerintah dibutuhkan pada Tingkat mikro, meso dan
makro. Sebagai bentuk fasilitasi Pemerintah Jawa Tengah tersebut, maka pada
tingkat mikro dibentuk Forum Rembug Klaster, meso dibentuk FEDEP dan makro
Jawa Tengah dibentuk FPESD.
Klaster dalam tatanan global diartikan sebagai jaringan perusahaanperusahaan yang terkonsentrasi secara geografis, yang dikhususkan kepada
pemasok, penyedia jasa-layanan, perusahaan yang terkait secara industri, dan
lembaga asosiasi di daerah tertentu yang saling bersaing, namun juga saling
bekerjasama (Porter, 1998). Kluster industri sendiri dipandang melalui dua cara
yang berbeda. Pertama adalah dibatasi secara fungsional. Sebagaimana
dikemukakan oleh Michael Porter, bahwa kluster industri lebih dipandang sebagai

sekelompok perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan yang serupa di dalam


suatu ekonomi nasional daripada hanya sekadar terletak di dalam lokasi
tertentu. Karena itu, faktor yang paling penting di dalam kluster industri adalah
adanya keterkaitan (linkages) antara perusahaan-perusahaan di dalam sektor
tertentu atau dengan sektor-sektor yang lain tetapi saling mendukung. Aspek
kewilayahan tidak dibatasi secara kaku. Kedua, kluster industri ditekankan pada
sekelompok industri yang ada di dalam wilayah tertentu.Dalam hal ini, kluster
industri dilihat sebagai sectoral and spatial concentration of firms. Sementara
itu dalam tatanan lokal di Jawa Tengah, klaster dimaknai sebagai
UMKM yang sejenis, yang mengelompok dan tinggal dalam wilayah yang
berdekatan di pedesaan, sudah ada sejak turun temurun, berbentuk sentra
usaha dengan didukung oleh Institusi baik Pemerintah maupun Swasta untuk
mengembangkan usaha secara bersama (FPESD, 2005).
Pemilihan konsep pengembangan klaster didasari pada beberapa pertimbangan,
yaitu sebagai berikut :
1. Pendekatan klaster merupakan pengembangan UMKM secara mengelompok
sehingga lebih mempermudah dalam pengalokasian sumber daya yang
dibutuhkan untuk pengembangan UMKM kelompok tersebut.
2. Pendekatan klaster berprinsip kepada penguatan sumber daya lokal berupa
potensi dan sumber daya manusia, mobilisasi stakeholder lokal, kerjasama
dan kebersamaan.
3. Pengembangan klaster adalah pengembangan pedesaan yang berdampak
pada kesejahteraan masyarakat desa dan pengurangan urbanisasi ke kota.
4. Pengembangan klaster akan mendorong usaha mikro dan kecil
mendapatkan manfaat external economy dan efisiensi kolektif
5. Pengembangan klaster meningkatkan produktivitas, added value dan
penyerapan tenaga kerja.
Konsep pengembangan klaster yang diadopsi Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah adalah penguatan-penguatan terhadap komponen produksi klaster,
dengan didasarkan prinsip-prinsip:
1. Bottom up (pengembangan industri berdasarkan kompetensi daerah) dan
Partisipatif yaitu keterlibatan multi stakeholder yang mendorong dan
mengakomodasi inisiatif dan partisipasi masyarakat lokal dalam
pengembangan klaster
2. Integrated Program bahwa kegiatan dilaksanakan secara komprehensif dan
integrated.
3. Fokus dan lokus (lokasi) yang diputuskan bersama. Fokus kegiatan
pengembangan ini khususnya pada sektor-sektor produksi pengembangan
pertanian berbasis prosessing, pengembangan industri yang berbasis
ekspor, dan pengembangan kawasan pariwisata unggulan.
4. Penciptaan iklim usaha kondusif dalam rangka mendorong kesejahteraan
lokal, dan memberikan nilai tambah yang baik terhadap resource lokal. Hal
ini meliputi kegiatan menciptakan iklim usaha kondusif, melakukan integrasi
program yang berorientasi fokus pada kebutuhan klaster, serta mendorong
dan mengakomodasi inisiatif dan partisipasi masyarakat lokal dalam
pengembangan usaha klaster.

Konsep pengembangan klaster didasarkan pada 3 (tiga) pilar pengembangan


ekonomi Jawa Tengah, yaitu pertanian berbasis processing, industri berbasis
ekspor dan pariwisata berbasis klaster.
Sejalan dengan RPJP-D Jawa Tengah tahun 2005 2025 (Perda no. 3 Tahun
2008), maka konsep pengembangan klaster adalah pengembangan ekonomi
wilayah pada tataran makro dan pengembangan ekonomi lokal pada tataran
mikro. Pengembangan ekonomi kewilayahan dilakukan dengan kebijakan:
a. mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan dalam pencapaian
tujuan daerah,
b. menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi baik antar
daerah, antarruang, antarwaktu, antarfungsi pemerintah maupun antara
Pusat dan Daerah,
c. menjamin
keterkaitan
dan
konsistensi
antara
perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan,
d. menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif,
berkeadilan dan berkelanjutan, dan
e. mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

Sejalan dengan kebijakan pengembangan klaster di Jawa Tengah tersebut


maka strategi pengembangan klaster adalah :
A. Strategi penguatan kelembagaan
1. Mendorong perkuatan kelembagaan pengembangan klaster pada 3 lini :
a. Pada Tingkat Provinsi bernama Forum Pengembangan Ekonomi dan
Sumber Daya (FPESD Jawa Tengah)
FPESD bertujuan untuk memfasilitasi dialog antara Pemerintah, pelaku
usaha, masyarakat beserta asosiasi dan stakeholder terkait, LSM dan
parlemen. Diharapkan dari dialog ini akan mampu mendesain langkahlangkah ke depan (memperbaiki peraturan, iklim usaha yang lebih
kondusif, kemudahan permodalan, pengembangan manajemen, teknologi
tepat guna, dll) serta langkah-langkah yang dapat diambil guna
pengembangan ekonomi di Jawa Tengah
b. Pada Tingkat Kabupaten/Kota
bernama Forum for Economic
Development and Employment Promotion (FEDEP)
c. Pada Tingkat Klaster bernama Forum Rembug Klaster (FRK)
2. Memfasilitasi pemilihan klaster unggulan bersama dengan FEDEP
Pada masing-masing Kabupaten/Kota melalui FEDEP, diharapkan dapat
memilih 1 (satu) klaster yang merupakan unggulan daerah untuk didukung
pada Tingkat Provinsi Jawa Tengah
3. Memfasilitasi program pengembangan klaster
a. Memfasiltisi proses perencanaan program klaster oleh Forum Rembug
Klaster bersama dengan FEDEP
b. Memfasilitasi hasil perencanaan dari bawah (klaster) dapat diakses
dalam program Pemerintah Daerah dan pihak-pihak lain melalui POKJAFPESD
c. Memfasilitasi promosi dan pameran klaster melalui workshop dan
pameran klaster

4.
5.

d. Mendorong FEDEP dan Forum Klaster untuk menghasilkan program


pengembangan klaster yang inovatif
(misal : eco-efisiensi,
pengembangan batik network Jateng, BTC-SMK, klaster manajemen)
e. Mendorong FEDEP melakukan evaluasi pengembangan klaster
Mendorong pemerkuatan BDS pendamping Klaster ke arah inovasi dan
profesionalisme
Mendorong pemerkuatan klaster melalui kerjasama antar FEDEP pada
Tingkat Regional, namun tidak menutup kemungkinan pada wilayah
BAKORWIL maupun dalam skala wilayah Provinsi dan Nasional

B. Strategi Pengembangan program teknis


1. Memfasilitasi akses permodalan dan koperasi
2. Memfasilitasi ketersediaan bahan baku
3. Memfasilitasi peningkatan kualitas produk
4. Memfasilitasi peningkatan akses pasar, berupa pameran, temu usaha, dan
lain-lain
5. Memfasilitasi kepemilikan HAKI
6. Memfasilitasi pengurangan pencemaran lingkungan
7. Memfasilitasi pengembangan desa wisata berbasis klaster

PROFIL KLASTER INDUSTRI UKIR JEPARA

Jepara telah dikenal sebagai pusat industri desain ukir dan mebel sejak
abad ke 17-an dan mulai masuk kancah perdagangan dunia internasional sejak
tahun 1990-an. Di Jepara terdapat tiga klaster utama yaitu klaster patung di
Desa Mulyoharjo (yang juga merupakan centre of production), klaster ukir di
Desa Petekeyan dan klaster relief di Desa Senenan. Menurut Center For
International Fouretry Research (CIFOR), industri furniture telah menjadi sumber
pendapatan di Jepara selama bertahun-tahun. Jepara diperkirakan menyumbang
10% dari total ekspor mebel Indonesia pada tahun 2010 (data Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Jepara) dan menyumbang sekitar 50% dari
seluruh ekspor Kabupaten Jepara pada tahun 2011. Pada tahun 2012, mebel
ukiran Jepara mengekspor hingga ke 105 negara. Kontribusi industri mebel
terhadap perekonomian Kabupaten Jepara mencapai 26% dengan nilai ekspor
130 juta dolar AS atau lebih dari satu triliun rupiah. Klaster industri ukir Jepara
terus berkembang, pada tahun 2010 terdapat 11.981 unit usaha di Jepara yang
terdiri dari 92% unit usaha kecil, 6% unit usaha menengah, dan 2% unit usaha
besar.
Dalam catatan sejarah perkembangan ukir kayu Jepara tidak dapat
dilepaskan dari peranan Ratu Kalinyamat. Satu bukti yang masih dapat dilihat
dari seni ukir masa pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah adanya ornamen ukir
batu di Masjid Mantingan. Selain itu juga terdapat sosok Raden Ajeng Kartini
yang cukup berjasa dalam perkembangan ukir Jepara karena pada masanya
Raden Ajeng Kartini lah yang memperkenalkan ukiran Jepara ke kancah nasional
hingga internasional. Untuk menunjang perkembangan ukir Jepara yang telah
dirintis oleh Raden Ajeng Kartini, pada tahun 1929 didirikan sekolah kejuruan.
Tepat pada tanggal 1 Juli 1929, sekolah pertukangan dengan jurusan meubel dan

ukir dibuka dengan nama Openbare Ambachtsschool yang kemudian


berkembang menjadi Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri. Di dalam
sekolah ini diajarkan berbagai macam desain motif ukir serta ragam hias
Indonesia yang pada mulanya belum diketahui oleh masyarakat Jepara.
Motif ukiran khas Jepara adalah daun trubusan, motif jumbai, bunga dan
buah serta pecahan. Semakin bertambahnya motif ukir yang dikuasai oleh para
pengrajin Jepara serta kualitas ukiran yang tidak kalah saing dengan negara
penghasil mebel ukir lainnya membuat mebel dan ukiran Jepara semakin
diminati dan semakin berkembang hingga kancah internasional. Perkembangan
yang cukup pesat ini membuat Jepara memperoleh predikat The World Carving
Center atau pusat ukiran dunia sebagai identitas daerah melalui pemetaan dan
pengembangan potensi unggulan daerah yang bertujuan menarik investor,
pembeli dari dalam dan luar negeri, sekaligus wisatawan domestik dan
mancanegara. Seiring semakin berkembangnya mebel ukir Jepara, permintaan
juga semakin meningkat sehingga perusahaan seni ukir Jepara tidak hanya
berdiri di Jepara, tetapi juga berdiri di beberapa kota besar lain seperti
Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta dan lainlain.

ANALISIS KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN KLASTER UKIR JEPARA

Klaster mebel ukir Jepara merupakan salah satu pendekatan klaster yang
berprinsip kepada penguatan sumber daya lokal berupa potensi dan sumber
daya manusia, hal ini dapat dilihat dari lokasi yang strategis baik dalam hal
pemasaran (dekat dengan Kota Semarang yang memiliki infrastruktur lengkap)
maupun dalam hal perolehan bahan baku yang ada (bahan baku kayu berasal
dari daerah sekitar Kabupaten Jepara). Selain itu dari sisi SDM dapat terlihat dari
peran masyarakat dalam perkembangan klaster mebel ukir sebagai tenaga kerja
ahli dan terampil dalam bidang mengukir. Pendekatan klaster Jepara juga
berprinsip pada mobilisasi stakeholder lokal, kerjasama dan kebersamaan.
Kondisi ini terlihat dari adanya peran serta pemerintah daerah dalam
memberikan pelatihan, bantuan peralatan, penyediaan kredit, perbaikan
infrastruktur hingga mensponsori pameran mebel baik dalam skala regional,
nasional maupun internasional. Selain unsur pemerintah, pengembangan klaster
mebel Jepara juga melibatkan produsen, asosiasi pedagang, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), dan masyarakat Jepara sendiri. Beberapa lembaga terkait
meliputi asosiasi pengrajin Jepara (APKJ dan ASMINDO), forum pemangku
kepentingan (FRK dan FEDEP), badan-badan pemerintah (Dinas Perdagangan dan
Perindustrian, Koperasi, UKM, pengelola pasar, Badan Perencanaan dan
Pengembangan Daerah, serta Dinas Kehutanan), Himpunan pengusaha kayu
Jepara (HPKJ), sekolah dan perguruan tinggi, serta perbankan.
Pengembangan klaster mebel ukir Jepara merupakan pengembangan
bottom up, yaitu pengembangan industri kecil dan menengah yang berdasarkan
kompetensi daerah. dan Partisipatif yaitu keterlibatan multi stakeholder yang
mendorong dan mengakomodasi inisiatif dan partisipasi masyarakat lokal dalam
pengembangan klaster