Anda di halaman 1dari 18

MENULIS FIKSI DAN NON FIKSI

BAB I
PENDAHULUAN
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang melambangkan suatu
bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik
tersebut kalau mereka memahami bahasa dan grafik tersebut (Tarigan, 1989:15). Rusyana (1982:1)
menyatakan bahwa wujud pengutaraan sesuatu secara tersusun dapat mempergunakan bahasa
disebut karangan. Jadi, karangan itu adalah susunan bahasa sebagai pengutaraan pikiran, perasaan,
penginderaan, khayalan, kehendak, keyakinan, dan pengalaman kita.

Hal ini menyebabkan persamaan dan perbedaan dalam menyusun


pengertian menulis. Ada ahli yang menyebutnya dengan istilah menulis. Ada pula yang menyebut
dengan istilah mengarang. Hasil dari kegiatan menulis berdasarkan istilah pertama disebut tulisan dan
istilah kedua disebut karangan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah proses mengutarakan
pikiran, perasaan, penginderaan, khayalan, kemauan, keyakinan, dan pengalaman yang disusun
dengan lambang-lambang grafik secara tertulis untuk tujuan komunikasi. Menulis merupakan salah
satu keterampilan berbahasa yang tersusun secara sistemik. Penggunaan tanda baca dan kepaduan
kata serta kalimat juga harus diperhatikan. Selain itu, keterampilan menulis juga tidak dapat langsung
direspon karena ada batas ruang dan waktu. Menulis bersifat produktif karena menghasilkan suatu
informasi melalui tulisan.
Para ahli bahasa menggolongkan jenis-jenis tulisan atau karangan berdasarkan sudut pandang
masing-masing yang berbeda, sehingga menimbulkan perbedaan penggolongan jenis tulisan. Ahli
bahasa ada yang meninjau tulisan dari keilmiahan karangan dan dari isi tulisan atau cara menulis.
Dalam menulis kita dapat menemukan jenis-jenis tulisan yang ditinjau dari keilmiahan karangan
tersebut. Jenis-jenis tulisan (karangan) itulah yang akan kami bahas dalam makalah ini. Ditinjau dari
keilmiahannya, karangan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu karangan fiksi dan karangan nonfiksi;

karangan ilmiah, karangan populer, dan karangan ilmiah populer.


BAB II
PEMBAHASAN
Ditinjau dari keilmiahannya, karangan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu karangan fiksi dan
karangan nonfiksi. Karangan fiksi adalah karangan yang di dalamnya terdapat unsur khayal atau
imajiinasi pengarang. Dapat terjadi dari peristiwa yang sebenarnya atau peristiwa hasil rekaan
pengarang saja. Karangan nonfiksi adalah karangan yang berupa data dan fakta. Jadi, tidak ada unsur
imajinasi pengarang.
Lebih spesifik lagi disebut karangan ilmiah dan karangan nonilmiah. Selain itu, ada ahli yang
menggolongkan menjadi karangan ilmiah, karangan populer, karangan ilmiah populer, surat-menyurat,
dan karangan sastra.
a. Karangan ilmiah adalah karangan yang membahas suatu disiplin ilmu.
b. Karangan populer adalah karangan yang bersifat umum dan mudah dibaca.
c. Karangan ilmiah populer adalah karangan yang bersifat tentang disiplin ilmu tapi tidak mengikuti
prosedur karya ilmiah dengan tujuan agar lebih mudah dipahami oleh berbagai golongan.
d. Karangan sastra adalah karangan yang menggunakan perasaan dengan lebih menonjolkan nilai
estetika.
e. Surat menyurat adalah jenis karangan paparan sebagai wujud percakapan secara terulis sebagai
sarana komunikasi tertulis yang lebih singkat dan memilki bentuk khusus. Salah satu hal yang sangat
khas, yang membedakan surat dari bentuk karangan lainnya adalah bagian-bagian surat yang disusun
dalam posisi tertentu sesuai dengan bentuk surat yang digunakan. Masing-masing bagian memilki
fungsi. Jumlah bagian surat berbeda-beda, tergantung jenisnya. Pada surat pribadi misalnya, hanya
terdapat bagian-bagian yang dianggap penting saja. Keberadaan bagian-bagian itu bervariasi antara
satu orang dengan yang lainnya. Sebaliknya, dalam surat resmi atau surat dinas, bagian-bagian itu
biasanya relatif lebih lengkap dan seragam.
A. KARANGAN FIKSI
Karangan fiksi adalah karangan yang di dalamnya terdapat unsur khayal atau imajinasi pengarang
(Aceng Hasani, 2005: 21). Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa sebuah karangan dapat
digolongkan ke dalam karangan fiksi apabila didalamnya merupakan hasil dari imajinasi atau khayalan
si pengarang, baik dari segi kejadian, tokoh, latar, serta unsur-unsur lainnya.
Altenbernd dan Lewis dalam buku Teori Pengkajian Fiksi karangan Burhan Nurgiyantoro (2007: 2-3),
juga mendefinisikan karangan fiksi sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya
masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia.
Maksud dari pernyataan tersebut adalah karangan fiksi merupakan hasil imajinasi pengarang yang
bisa diterima oleh masyarakat umum. Secara tidak disengaja, karangan fiksi juga dapat saja terjadi
dalam kehidupan nyata. Seperti terjadinya kesamaan cerita, tokoh maupun tempat kejadian. Bahkan

si pengarang lebih sering mengangkat sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan
nyata. Akan tetapi, semua itu sengaja dilebih-lebihkan oleh si pengarang agar lebih menarik dan
banyak diminati oleh masyarakat umum.
Di lain pihak, Sudjiman (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah cerita rekaan juga
memaparkan mengenai pengertian fiksi, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang
dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Dalam hal ini, Sudjiman menjelaskan
bahwa karangan fiksi merupakan hasil imajinasi seorang pengarang yang didalamnya mengandung
unsur-unsur seperti tokoh, alur, dan lainnya. Unsur-unsur tersebut saling berkesinambungan agar
terjadinya sebuah cerita.
Dilihat dari ketiga pandangan di atas, terdapat kesamaan mengenai pengertian karangan fiksi yang
telah dipaparkan oleh Aceng Hasani dan Sudjiman, bahwa karangan fiksi merupakan hasil imajinasi.
Karangan fiksi yang telah dipaparkan oleh Aceng Hasani dan Sudjiman berbeda dengan Altenbernd
dan Lewis. Altenbend dan Lewis mendefinisikan karangan fiksi tidak hanya sebagai hasil imajinasi saja
tetapi juga cerita tersebut dapat saja terjadi dalam kehidupan nyata yang dilebih-lebihkan oleh si
pengarang.
Dari ketiga ahli di atas dapat disimpulkan bahwa karangan fiksi merupakan hasil imajinasi pengarang
yang dituangkan menjadi sebuah cerita. Cerita tersebut bisa saja secara tidak sengaja terjadi di
kehidupan nyata, tetapi dilebih-lebihkan oleh pengarang untuk memancing daya khayal dan daya tarik
pembaca. Bahkan tidak jarang kita menemukan sebuah cerita fiksi yang benar-benar bersifat imajinasi
dan tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia, misalnya pada novel Harry Potter, Lord of the Ring,
dan lain-lain. Karangan fiksi juga menghubungkan berbagai masalah kehidupan manusia dalam
interaksinya dengan diri sendiri, lingkungan, maupun interaksinya dengan Tuhan. Selain itu, karangan
fiksi bertujuan untuk menghibur para pembaca yang haus akan cerita kehidupan.
Jenis-jenis karangan fiksi di antaranya adalah roman, novel, cerita pendek, cerbung (cerita
bersambung), novelet, dan puisi. Roman berisi paparan cerita yang panjang yang terdiri dari beberapa
bab yang saling berhubungan. Sama halnya pada roman, novel adalah cerita berbentuk prosa yang
menceritakan kehidupan manusia. Bedanya, novel lebih sederhana dan lebih singkat daripada roman.
Novel menceritakan kejadian luar biasa yang melahirkan konflik yang pada akhirnya melahirkan
perubahan nasib para pelakunya dengan uraian-uraian yang sederhana. Cerita pendek merupakan
kisah mengenai kehidupan manusia yang memiliki konflik. Akan tetapi, cerita pendek memiliki alur
dan tokoh yang lebih sedikit dibandingkan novel dan roman. Novel merupakan karya fiksi yang
menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif, yang
dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya, seperti peristiwa, plot, tokoh, penokohan, latar, sudut
pandang, dan lain-lain yang semuanya juga bersifat imajinatif. Puisi adalah suatu pernyataan
perasaan dan pandangan hidup seorang penyair yang memandang suatu peristiwa alam dengan
ketajaman perasaannya. Karangan fiksi dapat diterbitkan melalui majalah, tabloid, koran maupun
berbentuk buku.
1. Unsur-Unsur Fiksi
a. Intrinsik
Unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur
inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual

akan dijumpai jika seseorang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur
yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan unsur intrinsik inilah yang membuat
sebuah novel berwujud, atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah
yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah novel. Unsur yang dimaksud diantaranya adalah tema,
tokoh, penokohan, alur, latar, gaya bahasa, sudut pandang, amanat, dan lain-lain.

b. Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara
tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem karya sastra. Unsur ekstrinsik juga terdiri dari
sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud (Wellek & Warren, 1956:75-135) antara lain adalah
keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang
kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya. Unsur ekstrinsik berikutnya adalah
psikologi, baik berupa psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca,
maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya.
2. Macam-Macam Karangan Fiksi
a. Dongeng
Suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup
dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya.
b. Cerpen
Suatu bentuk naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan
karya-karya fiksi yang lebih panjang.
c. Novel
Sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Biasanya dalam bentuk cerita.
d. Drama
Suatu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor.
e. Roman
Sejenis karya sastra dalam bentuk prosa yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak
dan isi jiwa masing-masing.
Contoh Karangan Fiksi Cerpen Albasri dan Gadis Kecil
Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa
pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya

untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam
aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang
memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan
badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya
untukmu semalam, Ayah?
Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah?
Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam
Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang
menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah
yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan
untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?
B. KARANGAN NONFIKSI
Karangan nonfiksi menurut Aceng Hasani (2005:21) adalah karangan yang berupa data dan fakta.
Jadi tidak ada unsur imajinasi pengarang. Dalam hal ini, Aceng Hasani memberikan batasan bahwa
sebuah karangan dapat digolongkan ke dalam karangan nonfiksi apabila didalamnya terdapat datadata yang dapat dibuktikan kebenarannya. Selain itu, karangan nonfiksi juga disusun melalui faktafakta yang secara nyata terjadi di lapangan tanpa adanya unsur imajinasi dari pengarang.
Karangan nonfiksi menurut Yeti Mulyati (2004: 7. 3) adalah tulisan yang disusun berdasarkan
kenyataan. Maksud dari pernyataan tersebut adalah suatu tulisan yang mengandung unsur-unsur
kebenaran dalam pembuatannya dan didapatkan dari kenyataan yang terjadi di lapangan, maka dapat
dikategorikan ke dalam karangan nonfiksi.
Dalam buku Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi, P. Suparman Natawijaya (2004:
2.29) mengatakan bahwa jenis bacaan nonfiksi adalah jenis bacaan yang berbentuk artikel. Dalam
jenis bacaan ini yang memegang peranan penting adalah akal dan pikiran. Dalam hal ini, P. Suparman
menyatakan bahwa karangan nonfiksi merupakan suatu bacaan yang berbentuk artikel. Seperti yang
kita ketahui bahwa artikel merupakan karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai dalam
majalah. Menurut definisi ini, sebuah artikel idealnya membahas seluk beluk suatu tema secara
tuntas. Dari pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa P. Suparman memberikan batasan bahwa
karangan nonfiksi merupakan suatu tulisan yang berdasarkan realitas atau sesuai dengan kenyataan
dan menggunakan akal serta pikiran sebagai patokan penting dalam pembuatannya.
Karangan nonfiksi menurut Ade Nurdin, Yani Maryani, dan Mumu (2005: 162) adalah jenis karangan
yang disusun berdasarkan sistematika ilmiah dan aturan-aturan rasionalitas atau kelogisan. Dalam hal
ini, Ade Nurdin, dkk. memberikan batasan nonfiksi sebagai suatu tulisan yang didalamnya
mengandung unsur kelogisan dan disusun dengan sistematika penulisan ilmiah yang baik dan benar.
Dilihat dari keempat pandangan di atas, ditemukan beberapa perbedaan pandangan mengenai
pengertian karangan nonfiksi. Menurut Aceng Hasani, karangan nonfiksi merupakan karangan yang
berupa data-data dan didalamnya mengandung fakta-fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya,
tanpa hasil khayalan atau imajinasi dari pengarang. Berbeda halnya dengan pemaparan yang
disampaikan oleh Aceng Hasani, Yeti Mulyati memberikan batasan bahwa karangan nonfiksi
merupakan tulisan yang didalamnya didapatkan dari kenyataan dan berupa kebenaran tanpa disertai
data. Di lain pihak, P. Suparman Natawijaya juga menyatakan hal yang berbeda dengan Aceng Hasani

dan Yeti Mulyati. P. Suparman menyamakan bentuk karangan nonfiksi dengan artikel yang bersifat
realitas. Ade Nurdin juga memaparkan hal yang berbeda dengan ketiga ahli sebelumnya. Ade Nurdin
hanya membatasi karangan nonfiksi sebagai tulisan yang logis dan disusun dengan sistematika ilmiah
tanpa disertakan dengan fakta, data dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Pandangan antara Yeti Mulyati dengan P. Suparman juga memiliki persamaan. Yeti Mulyati
menempatkan karangan nonfiksi pada kenyataan. Sama halnya dengan P. Suparman yang
menempatkan karangan nonfiksi berdasarkan realitas. Bedanya, P. Suparman menyamakan bentuk
karangan nonfiksi dengan artikel yang tidak disertakan dalam pernyataan Yeti Mulyati. Pandangan
yang dipaparkan oleh Yeti dan Ade juga memiliki perbedaan. Yeti memberikan batasan karangan
nonfiksi sebagai tulisan yang disusun berdasarkan kenyataan. Sedangkan Ade tidak menyebutkannya,
melainkan hanya sebatas karangan yang logis dan sistematis. Hal yang serupa juga terjadi pada P.
Suparman dan Ade Nurdin. P. Suparman menyatakan bahwa nonfiksi berbentuk seperti artikel. Hal
tersebut tidak dipaparkan oleh Ade. Tetapi Ade juga menyatakan hal yang tidak ada di Suparman,
yakni tulisan yang disusun secara sistematis.
Dari pemaparan keempat ahli di atas mengenai batasan karangan nonfiksi, maka dapat diartikan
bahwa karangan nonfiksi merupakan suatu karangan yang dihasilkan melalui proses penelitian, baik
itu secara langsung maupun tidak langsung dan dapat dibuktikan kebenarannya tanpa adanya unsur
imajinasi atau khayalan pengarang. Suatu tulisan yang didalamnya mengandung unsur-unsur fakta
dan memiliki data-data yang sah, maka dapat digolongkan ke dalam karangan nonfiksi. Karangan
nonfiksi juga ditulis dengan bahasa yang baku sesuai dengan EYD yang berlaku secara tepat, jelas dan
efektif. Selain itu, karangan nonfiksi juga disusun secara jelas dan logis dengan sistematika penulisan
ilmiah yang baik dan benar.
Karangan nonfiksi memiliki ciri sebagai berikut:
1. Memiliki ide yang ditulis secara jelas dan logis serta sistematis;
2. Mengandung informasi yang sesuai dengan fakta;
3. Menyajikan temuan baru atau penyempurnaan temuan yang sudah ada;
4. Motivasi, rancangan dan pelaksanaan penelitian yang tertuang jelas;
5. Penulis memberikan analisis dan interpretasi intelektual dari data yang diketengahkan dalam
tulisannya. Untuk karya nonfiksi diharuskan menggunakan kata baku sesuai dengan kamus umum
Bahasa Indonesia. Karya nonfiksi harus memakai bahasa berciri tepat, singkat, jelas, resmi dan
teratur agar efektif.
Jenis-jenis tulisan nonfiksi dapat meliputi beberapa hal di bawah ini:
a. Pengumuman
Iklan adalah sejenis pengumuman. Tetapi diantara keduanya terdapat sedikit perbedaan.
Pengumuman tidak perlu menggunakan majas dan peribahasa sebab pengumumannya hanya
bermaksud memberitahukan kepada khalayak tentang sesuatu. Oleh karena itu, pengumuman harus
ditulis dengan bahasa yang lugas. Bahasa pengumuman tidak boleh menimbulkan kemungkinan salah

tafsir.
b. Naskah pidato
Apabila kita mendapat tugas untuk berpidato, setidaknya kita dihadapkan kepada dua tugas yang
sangat penting, yaitu menyusun naskah pidato dan melaksanakan pidato. Naskah pidato yang kita
siapkan boleh berupa naskah lengkap, boleh juga berupa garis besar isi pidato. Cara yang manapun
yang kita tempuh menyusun pidato itu dimaksudkan untuk memperlancar pelaksanaan pidato.
c. Laporan
Kata laporan berasal dari bentuk dasar lapor. Laporan adalah segala sesuatu yang dilaporkan. Laporan
sama dengan berita.
d. Makalah
Makalah adalah tulisan resmi tentang suatu hal untuk dibacakan di muka umum atau sering juga
disusun untuk diterbitkan.
C. KARANGAN ILMIAH
Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian
dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang
bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M.
Eko, 1995:11). Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa suatu karangan yang dihasilkan
setelah melalui proses penelitian, memiliki aturan dalam hal penulisan dan disusun dengan bahasa
yang formal serta santun yang isinya dapat dibuktikan kebenarannya, maka dapat digolongkan ke
dalam karangan ilmiah.
Ali Sastrohoetomo dalam buku Menulis 2 karangan Encep Kusumah, dkk. (2003: 3.4) memberi
batasan bahwa karya ilmiah sebagai suatu karangan yang ditulis berdasarkan kenyataan ilmiah yang
didapat dari penyelidikan-penyelidikan, seperti penyelidikan pustaka, laboratorium, atau penyelidikan
lapangan. Ali Sastrohoetomo juga mengatakan sebuah karya digolongkan ilmiah bila dapat
menyajikan data yang dibutuhkan dalam suatu kegiatan. Dalam hal ini, Ali Sastrohoetomo
memaparkan bahwa karangan ilmiah harus dibuat melalui proses penelitian, baik secara tidak
langsung maupun secara langsung yang isinya sesuai dengan kenyataan.
Dalam buku Pendidikan Keterampilan Berbahasa karangan Djago Tarigan, dkk. (2003:9.20),
Brotowidjoyo menyatakan bahwa karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang
menyajikan fakta umum yang ditulis menurut metodologi yang baik dan benar. Brotowidjoyo
memaparkan bahwa suatu karangan dapat digolongkan ke dalam karangan ilmiah apabila didalamnya
memuat hal-hal mengenai ilmu pengetahuan dan disajikan menggunakan metodologi yang benar
serta dapat dibuktikan kebenarannya.
Batasan karangan ilmiah yang telah dipaparkan oleh ketiga ahli di atas sebenarnya hampir serupa.
Akan tetapi, diantaranya terdapat sedikit perbedaan. Seperti yang terlihat pada pernyataan Susilo, M.
Eko dengan Ali Sastrohoetomo. Pemaparan yang disampaikan oleh Susilo lebih luas dibandingkan Ali.
Susilo memberikan batasan bahwa karangan ilmiah tidak hanya sampai pada penelitian saja layaknya

Ali. Tetapi Susilo memberikan batasan bahwa selain didapatkan dari hasil penelitian, karangan ilmiah
juga harus menggunakan metode yang baik dan benar serta menggunakan bahasa yang santun dan
isinya dapat dibuktikan kebenarannya. Brotowidjoyo memaparkan hampir serupa dengan Susilo.
Bedanya, Brotowidjoyo hanya terbatas kepada karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta
umum dan ditulis dengan metodologi yang baik dan benar tanpa disertai dengan penelitian. Yang
terlihat antara Ali dengan Brotowidjoyo juga hampir serupa. Bedanya, Brotowidjoyo tidak menerakan
bahwa karangan ilmiah harus berdasarkan penelitian layaknya Ali. Sedangkan Ali tidak menerakan
bahwa suatu karangan ilmiah harus menggunakan metodologi yang baik dan benar layaknya
Brotowidjoyo.
Dari ketiga pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa karangan ilmiah merupakan suatu tulisan
yang memuat hasil penelitian, baik melalui penelitian pustaka maupun penelitian di lapangan yang
disusun menggunakan metodologi yang baik dan benar serta menggunakan bahasa yang baik dan
santun sesuai dengan EYD yang berlaku serta ditulis secara sistematis. Karangan ilmiah juga
menggunakan data-data yang akurat bersifat fakta dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Tujuantujuan karya ilmiah sebagai berikut:
a. Memberi penjelasan (memerikan);
b. Memberi komentar atau penilaian;
c. Memberi saran dan usulan;
d. Memberi sanggahan dan penolakan;
e. Membuktikan hipotesis;
f. Membuat suatu rancangan.
Ciri-ciri karya ilmiah sebagai berikut:
Secara ringkas, karya ilmiah dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Bahan: menyajikan fakta yang benar atau objektif, dapat dibuktikan. Tulisan ilmiah diperoleh
melalui serangkaian kegiatan ilmiah seperti observasi, survey, percobaan laboratorium, percobaan
lapangan, studi pustaka, dan lain-lain. Sebuah tulisan baru akan dapat dirasakan keilmiahannya
manakala ia mengandung kebenaran secara objektif, karena didukung oleh fakta dan informasi yang
kebenarannya sudah di uji (melalui pengamatan yang tidak subjektif) dan disajikan secara mendalam;
dalam arti merupakan hasil penalaran dan analisis dan juga tidak pandang bulu.
b. Penyajian dan penyampaian tulisan suatu karya ilmiah sebagai berikut.
1) Menggunakan bahasa yang cermat (formal dan konkrit); sistematis (sesuai dengan langkah kerja
ilmiah); Jelas dan tegas, artinya segala keterangan yang dikemukakan mampu mengungkapkan
maksud secara jernih;
2) Saksama dan tuntas, artinya selalu berusaha untuk tidak melakukan kekeliruan sekecil apapun

dengan kejelian dan kecermatan mengupas permasalahan dengan selengkap-lengkapnya;


3) Logis sistematis, artinya segala keterangan yang disajikan merupakan hasil penalaran sehingga
dapat diterima oleh akal pikiran sehat, tersusun dalam urutan yang teratur yang menunjukkan
kesinambungan jalan pikiran penulisannya sehingga tulisannya itu mudah dipahami pembaca;
4) Penyajian mengikuti kaidah tata tulis ilmiah, artinya mengikuti konvensi penulisan ilmiah yang
sudah baku dan digunakan secara umum.
c. Sikap penulis karya ilmiah adalah jujur (tidak melebih-lebihkan atau mengurangi sesuatu) dan
objektif (tidak mengejar keuntungan pribadi).
d. Penyimpulan yang dibuat juga harus berdasarkan fakta dan tidak emotif.
Unsur-unsur dan pola umum komposisi karya ilmiah sebagai berikut:
a. Pembuka (preliminaries), terdiri atas:
1) Halaman judul
2) Lembar pernyataan khusus (manasuka)
3) Kata pengantar
4) Ucapan terimakasih
5) Abstrak
6) Daftar isi
7) Daftar tabel/gambar/diagram
b. Isi (batang tubuh), terdiri atas:
1 Pendahuluan (introduction)
2 Induk tulisan (main body):
a) Bahan (kajian teori) dan metode
b) Data hasil penelitian
c) Diskusi/pembahasan hasil analisis
d) Kesimpulan/saran
c. Penutup terdiri atas:

1) Daftar pustaka
2) Lampiran
3) Indeks
4) Curiculum vitae/riwayat hidup penulis
JenisJenis Karya Ilmiah
a. Laporan;
b. Kertas kerja atau makalah;
c. Skripsi;
d. Tesis;
e. Disertasi;
f. Textbook (buku teks);
g. dan lain lain.
Hubungan antara Karangan Ilmiah dengan Karangan Eksposisi dan Karangan Argumentasi
Telah dikatakan sebelumnya bahwa karangan ilmiah merupakan suatu tulisan yang memuat hasil
penelitian, baik melalui penelitian pustaka maupun penelitian di lapangan yang disusun menggunakan
metodologi yang baik dan benar serta menggunakan bahasa yang baik dan santun sesuai dengan EYD
yang berlaku serta ditulis secara sistematis. Karangan ilmiah juga menggunakan data-data yang
akurat bersifat fakta dan dapat dibuktikan kebenarannya. Dari sekian banyaknya karangan yang kita
ketahui, terdapat beberapa karangan yang lebih dominan dengan karangan ilmiah, yakni karangan
argumentasi dan karangan eksposisi.
Karangan argumentasi adalah karangan yang terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat
untuk membangun suatu kesimpulan. Karangan argumentasi ditulis dengan maksud untuk
memberikan alasan, untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Jadi,
pada setiap karangan argumentasi selalu kita dapati alasan ataupun bantahan yang memperkuat
ataupun menolak sesuatu secara sedemikian rupa guna memengaruhi keyakinan pembaca sehingga
berpihak atau sependapat dengan penulis.
Bentuk-bentuk karangan ilmiah seperti makalah, esai, skripsi, tesis, disertasi dan naskah-naskah
seperti tuntutan pengadilan pembelaan maupun surat keputusan adalah paparan yang bercorak
argumentasi. Pada setiap karangan ilmiah, biasanya argumen digunakan untuk memperhatikan atau
meyakinkan kebenaran pendapat, ide, atau konsep mengenai suatu masalah kepada pembaca
berdasarkan data, fenomena, atau fakta yang dikemukakan.
Tujuan utama karangan argumentasi adalah untuk meyakinkan pembaca agar menerima atau

mengambil suatu doktrin, sikap, dan tingkah laku tertentu. Syarat utama untuk menulis karangan
argumentasi adalah penulisnya harus terampil dalam bernalar dan menyusun ide yang logis.
Karangan argumentasi memilki ciri-ciri, yakni:
1) Mengemukakan alasan atau bantahan sedemikian rupa dengan tujuan memengaruhi keyakinan
pembaca agar menyetujuinya;
2) Mengusahakan pemecahan suatu masalah;
3) Mendiskusikan suatu persoalan tanpa perlu mencapai suatu penyelesaian.
Karangan ilmiah adalah tulisan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan
lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis, dan sintetis-analitis. Tampilan karangan
ilmiah sering kita temukan dalam bentuk kombinasi. Karangan ilmiah yang umumnya berupa
argumentasi atau eksposisi itu kadang-kadang ditunjang oleh deskripsi, bahkan narasi, sehingga
wujud karangan ilmiah itu merupakan campuran dua atau tiga jenis karangan. Kondisi itu dapat
dibenarkan atau diterima asalkan penulisannya memperhatikan keharusan adanya porsi besar yang
mendominasi karangan ilmiah, yaitu argumentasi. Dengan porsi mayoritas itulah karangan ilmiah bisa
tampil memakai bendera argumentasi.
Eksposisi ialah tulisan yang bertujuan memberikan informasi, menjelaskan, dan menjawab pertanyaan
apa, mengapa, kapan, dan bagaimana. Eksposisi yaitu tulisan yang berusaha menerangkan,
menjelaskan dan menguraikan masalah, persoalan atau ide, yang dapat memperluas pandangan
pembaca. Walaupun pada akhirnya sama-sama memperluas pandangan dan pengetahuan pembaca,
jika dibandingkan dengan deskripsi, argumentasi dan narasi, eksposisi lebih menonjolkan tujuan
memperluas pandangan dan pengetahuan pembaca.
Dilihat dari pengertian eksposisi di atas, terlihat jelas bahwa eksposisi memiliki kesamaan dengan
karangan ilmiah. Hal itu disebabkan karena eksposisi merupakan bentuk tulisan yang sering
digunakan dalam menyampaikan uraian ilmiah dan tidak berusaha memengaruhi pendapat pembaca.
Melalui eksposisi, pembaca tidak dipaksa untuk menerima pendapat penulis; setiap pembaca boleh
menolak dan menerima apa yang dikemukakan oleh penulis. Akan tetapi, setidaknya pembaca
mengetahui memang ada penulis yang berpendapat dan berpendirian seperti itu.
Disamping ada eksposisi panjang, terdapat pula eksposisi pendek. Yang termasuk eksposisi panjang
umumnya berupa artikel dan penulisan ilmiah populer. Yang termasuk eksposisi pendek misalnya
petunjuk penggunaan obat, petunjuk penggunaan alat tertentu dan lain-lain.
Sebuah eksposisi bisa bersifat polemis maksudnya, bisa diperbantahkan. Orang lain bisa saja setuju
dengan Jo Stralen yang mengatakan bahwa pasta gigi itu sebenarnya sudah ketinggalan zaman; tapi
bisa pula tidak setuju, serta beranggapan bahwa kemasan, promosi serta rasa dan tekstur pasta gigi
yang ada sekarang ini sudah sempurna, tidak memerlukan perubahan apa-apa serta patut
dilestarikan. Hampir untuk setiap eksposisi dapat kita buatkan eksposisi tandingannya, dapat kita
polemik-kan.

Sebagian besar penulisan ilmiah menggunakan pola eksposisi ini sebagai dasar. Yang dimaksudkan
dengan penulisan ilmiah ini bermacam-macam, mulai dari yang sangat formal seperti disertasi, tesis,
skripsi, sampai pada makalah-makalah untuk sebuah seminar, simposium, dan sebagainya.
Perhatikan contoh berikut.
Kemajuan pesat dalam ilmu Fisika terapan yang terjadi dalam pertengahan abad ke-20 ini adalah
konversi langsung dari panas menjadi listrik. Dr. Volney C. Wilson telah mendemonstrasikan alat
ciptaannya yang disebut Thermionikc vonverter. Alat itu berupa gelas tabung berukuran 6, 5 x 40 cm
yang diisi dengan gas bertekanan rendah dan 2 buah elektrode metal yang dipasang paralel. Satu
elektrode dipanasi elektron-elektron dari orbitnya dalam atom dari metal tersebut. Oleh sebab adanya
beda temperatur antara 2 metal yang lebih dingin dan timbullah aliran listrik.
(Brotowidjoyo, 1993.24)

Seperti yang terlihat dari contoh di atas bahwa dalam paragraf tersebut menggambarkan mengenai
kemajuan yang pesat dalam ilmu Fisika. Pemaparan yang terkandung dalam karangan di atas juga
memiliki data-data yang sudah terbukti kebenarannya. Istilah-istilah yang digunakan juga ditujukan
untuk pembaca yang berkecimpung dalam dunia Fisika. Karangan di atas juga menggunakan bahasa
yang baku. Oleh karena itu, karangan di atas termasuk ke dalam karangan ilmiah.
D. KARANGAN ILMIAH POPULER
Karangan ilmiah populer merupakan bagian dari karangan ilmiah, bahkan dapat dikatakan sejajar
dengan karangan ilmiah. Yang membedakannya adalah cara penyajiannya. Karangan ilmiah disajikan
dengan bahasa yang formal atau baku. Sasaran baca karangan ilmiah adalah masyarakat profesional,
sedangkan karangan ilmiah populer ditujukan kepada masyarakat umum yang cara dan tingkat
berpikirnya berbeda dengan kelompok masyarakat profesional.
Karangan ilmiah populer adalah karangan ilmiah yang disajikan dengan gaya bahasa yang populer
atau santai sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dan menarik untuk dibaca. Jenis tulisan ini
menggunakan gaya bahasa yang tidak formal, artinya kata-kata yang digunakan penulisnya tidak
khas. Jika penulis terpaksa menggunakan kata istilah teknis, maka istilah itu segera diikuti dengan
definisi yang dirumuskan secara populer.
Perhatikan contoh berikut.
Hujan Tropis Digorok, Dolar Dikail
Sepanjang tahun 1989, isu lingkungan seakan tidak henti-hentinya bertiup di dunia internasional.
Yang sampai sekarang masih terus disuarakan di antaranya adalah adanya gerakan untuk memboikot
penggunaan kayu tropis oleh konsumen di negara industri, dengan alasan penebangan karya tropis
merusak plasma nutfah hutan tropis.

Di Indonesia kasus terakhir adalah mundurnya perusahaan kertas multinasional Scott Industrie yang
berpatungan dengan perusahaan nasional membangun pabrik di Irian Jaya karena protes keras LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat) di luar negeri.
Indonesia termasuk salah satu negara yang paling sering dikecam karena dianggap kurang berupaya
melindungi keanekaragaman hayati dan kecaman itu bisa dimengerti karena Indonesia termasuk salah
satu dari tiga negara di dunia yang memiliki hutan tropis terbesar.
(AKUTAHU, Maret 1990: 24)
Ciri-ciri karangan ilmiah populer:
1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi;
2. Fakta yang disimpulkan subjektif;
3. Gaya bahasa formal dan populer;
4. Mementingkan diri penulis;
5. Melebih-lebihkan sesuatu;
6. Usulan-usulan bersifat argumentatif dan bersifat persuasif.
E. KARANGAN POPULER (Nonilmiah)
Karangan nonilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan
pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan
biasanya menggunakan gaya bahasa yang populer atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Menurut Aceng Hasani (2005: 21) karangan populer adalah karangan yang bersifat umum dan mudah
dibaca.
Ciri-ciri Karangan Populer:
1) Ditulis berdasarkan fakta pribadi;
2) Fakta yang disimpulkan subyektif;
3) Gaya bahasa konotatif dan populer;
4) Tidak memuat hipotesis;
5) Penyajian dibarengi dengan sejarah;
6) Bersifat imajinatif;
7) Situasi didramatisir;

8) Bersifat persuasif;
9) Tanpa dukungan bukti.
Sifat-sifat karangan nonilmiah:
1) Emotif: Sedikit informasi, kemewahan dan cinta menonjol, memberikan kebenaran mencari
keuntungan, tidak sistematis.
2) Persuasif: Cukup informatif, penilaian fakta tidak dengan bukti, bujukan untuk meyakinkan
pembaca, mempengaruhi sikap dan cara berpikir pembaca.
3) Deskriptif: Informasi sebagian imaginatif dan subyektif, nampaknya dapat dipercaya, pendapat
pribadi.
4) Kritik tanpa dukungan bukti: Tidak memuat informasi spesifik, berisi bahasan dan kadang-kadang
mendalam tanpa bukti, berprasangka menguntungkan atau merugikan, formal tetapi sering dengan
bahasa kasar, subyektif dan pribadi.
Teknik Penyajian Karangan Populer
1. Teknik Narasi
Narasi adalah suatu bentuk karangan yang berusaha menggambarkan dengan sejelasjelasnya
tentang peristiwa pada suatu waktu kepada pembaca. Hal terpenting dalam karangan narasi adalah
unsur tindakan atau perbuatan sehingga ketika membaca karangan narasi pembaca seolaholah
melihat atau mengalami peristiwa itu. Terdapat dua jenis narasi yaitu:
a. Narasi Sugesti atau Imajinatif
Merupakan suatu rangkaian peristiwa yang disajikan sedemikian rupa, sehingga merangsang daya
khayal pembaca. Melalui narasi sugestif kita dapat menyampaikan peristiwa pada suatu waktu dengan
makna yang tersirat atau tersurat dengan bahasa yang lebih condong ke bahasa figuratif dengan
menitikberatkan penggunaan katakata konotatif. Contoh narasi sugestif antara lain dongeng, cerpen,
dan novel. Ciri khas dari narasi sugestif yaitu adanya alur dan suspensi, latar dan waktu, sudut
pandang dan makna yang terkandung di dalamnya.
b. Narasi Ekspositoris
Narasi yang bersifat nonfiktif yang disajikan dengan bahasa denotatif. Tujuan utamanya bukan
menimbulkan daya imajinasi melainkan untuk menambah pengetahuan pembaca dengan pemaparan
yang rasional. Contoh dari narasi ekspositoris adalah sejarah, biografi, dan autobiografi.
2. Teknik Deskripsi
Deskripsi adalah bentuk karangan yang melukiskan objek yang sebenarnya untuk memperluas
pengetahuan dan pengalaman pembaca. Hal yang menonjol pada karangan deskripsi adalah aspek
pelukisan objek yang sebenarnya tentang ciri, sifat, atau hakikat sehingga pembaca dapat mengenal

objek yang dimaksud.


3. Teknik Eksposisi
Eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau memberitahukan suatu informasi tanpa ada
pemaksaan.
4. Teknik Persuasi
Persuasi adalah karangan yang berusaha untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang
dikehendaki penulis pada waktu sekarang atau waktu yang akan datang.
Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam karangan persuasi yaitu:
a. Kredibilitas penulis
Kredibilitas penulis akan timbul, apabila pembaca tahu bahwa penulis mengetahui dengan baik
persoalan yang ditulis. Orang yang kurang kredibilitasnya akan kurang berhasil dalam mempengaruhi
pembaca. Seseorang tidak akan dipercayai bila ia tidak menguasai persoalan yang ditulis.
b. Kemampuan mensugesti pembaca
Merupakan kemampuan penulis mempengaruhi pikiran pembaca.
c. Bukti bukti
5. Teknik Argumentasi
Argumentasi adalah karangan yang berusaha untuk memengaruhi sikap dan pendapat orang lain
dengan cara merangkaikan faktafakta sedemikian rupa sehingga dapat diketahui apakah suatu
pendapat itu benar atau tidak.
Hubungan antara Karangan Nonilmiah dengan Karangan Narasi dan Karangan Deskripsi
Telah kita bahas sebelumnya bahwa karangan nonilmiah atau karangan populer adalah karangan yang
menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan, pengalaman dan kejadian secara kronologis dalam
kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan
gaya bahasa yang populer atau biasa digunakan (tidak terlalu formal). Karangan populer memiliki ciriciri sebagai berikut:
1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi;
2. Fakta yang disimpulkan subyektif;
3. Gaya bahasa konotatif dan populer;
4. Tidak memuat hipotesis;
5. Penyajian dibarengi dengan sejarah;

6. Bersifat imajinatif;
7. Situasi didramatisir;
8. Bersifat persuasif;
9. Tanpa dukungan bukti.
Karangan Narasi adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan,
merangkaikan tindak tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang
berlangsung dalam suatu kesatuan waktu (Lamuddin Finoza, 2010: 244). Ciri-ciri tulisan narasi adalah
sebagai berikut:
1. Tulisan itu berisi cerita tentang kehidupan manusia;
2. Peristiwa kehidupan manusia yang diceritakan itu boleh merupakan kehidupan nyata, imajinasi, dan
boleh gabungan keduanya;
3. Cerita itu memiliki nilai keindahan, baik keindahan isinya maupun penyajiannya;
4. Di dalam peristiwa itu ada konflik, pertentangan kepentingan, kemelut, atau kesenjangan antara
harapan dan kenyataan. Tanpa konflik cerita tidak menarik;
5. Didalamnya sering kali terdapat dialog untuk menghidupkan cerita;
6. Tulisan disajikan dengan menggunakan cara kronologis.
Karangan deskripsi ialah suatu tulisan yang bertujuan untuk memberikan rincian atau detail tentang
objek sehingga dapat memberikan pengaruh pada emosi dan menciptakan imajinasi pembaca
bagaikan melihat, mendengar atau merasakan langsung apa yang disampaikan penulis (Atar Semi,
2003: 41). Ciri-ciri karangan deskripsi di antaranya:
1. Deskripsi berupa memperlihatkan detail atau rincian tentang objek;
2. Lebih bersifat mempengaruhi emosi dan membentuk imajinasi pembaca;
3. Menyangkut objek yang dapat di tangkap oleh panca indera;
4. Deskripsi disampaikan dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata yang mudah dibaca.
Dilihat dari pemaparan mengenai pengertian dan ciri-ciri karangan nonilmiah, karangan narasi serta
karangan deskripsi di atas, dapat kita simpulkan bahwa adanya kesinambungan antara karangan
nonilmiah dengan karangan narasi dan karangan deskripsi. Ketika kita membuat suatu karangan
nonilmiah, sering kali didalamnya kita temukan karangan narasi yang digunakan si pengarang untuk
menceritakan kronologis cerita yang hendak disampaikan. Selain itu, dalam karangan nonilmiah juga
sering kali kita temukan penggambaran-penggambaran yang diberikan oleh pengarang untuk
menggambarkan suatu objek yang hendak disampaikan kepada pembaca. Semua itu menjadi satu

sistem yang kerap kali menjadi unsur menarik dalam pembuatan suatu karangan nonilmiah.
Karangan nonilmiah atau karangan populer lebih dominan dengan karangan narasi. karena dalam
suatu karangan penulis dituntut untuk membuat suatu cerita dengan menggunakan daya hayal atau
imajinasinya dan penulis berusaha menyampaikan serangkaian kejadian menurut urutan terjadinya
(kronologis), dengan maksud memberi arti kepada sebuah atau serentetan kejadian, sehingga
pembaca dapat memetik hikmah dari cerita tersebut. Karangan narasi harus memperhatikan prinsipprinsip dasar narasi sebagai tumpuan berpikir bagi terbentuknya karangan narasi. Prinsip-prinsip
tersebut di antaranya adalah alur, penokohan, latar, sudut pandang, dan pemilihan detail peristiwa.
Karangan nonilmiah atau karangan populer lebih dominan dengan karangan deskripsi. Dalam suatu
karangan, pengarang memberikan secara detail gambaran-gambaran pada sebuah cerita sehingga
dapat memengaruhi emosi dan membentuk imajinasi pembaca dalam menggambarkan suatu objek
dari karangan yang ditulis oleh pengarang. Pengarang menggunakan gaya bahasa yang santai dan
mudah dimengerti oleh pembaca sehingga dapat memikat hati pembaca. Deskripsi juga lebih sering
kita gunakan sebagai alat bantu bentuk karangan yang lain. Dalam karangan narasi, deskripsi dapat
digunakan untuk menghidupkan karangan dan menghindarkan kebosanan pembaca, serta menambah
kejelasan dan keyakinan pembaca.
Contoh karangan populer novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy
Memasuki ruang tamu Syaikh Utsman kakiku seperti lumpuh. Aku hampir tidak bisa mengangkat
kakiku. Tubuhku gemetar. Ruang tamu yang penuh dengan kitab-kitab klasik ini akan menjadi saksi
penting dalam sejarah hidupku. Syaikh Utsman mempersilakan aku duduk di sofa busa yang
menghadap ke barat. Di sebelah selatan ada sofa panjang menghadap utara untuk dua orang. Di
sebelah barat ada sofa menghadap ke timur untuk satu orang. Di sebelah utara ada dua sofa
menghadap ke selatan. Pintu ada dekat tempat aku duduk.
BAB III
SIMPULAN
Menulis adalah proses mengutarakan pikiran, perasaan, penginderaan, khayalan, kemauan,
keyakinan, dan pengalaman yang disusun dengan lambang-lambang grafik secara tertulis untuk
tujuan komunikasi.
Para ahli bahasa menggolongkan jenis-jenis tulisan atau karangan berdasarkan sudut pandang
masing-masing yang berbeda, sehingga menimbulkan perbedaan penggolongan jenis tulisan. Ahli
bahasa ada yang meninjau tulisan dari keilmiahan karangan dan dari isi tulisan atau cara menulis.
Ditinjau dari keilmiahannya, karangan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu karangan fiksi dan
karangan nonfiksi. Selain itu, karangan fiksi dan karangan nonfiksi digolongkan menjadi karangan
ilmiah, karangan populer, dan karangan ilmiah populer. Karangan populer merupakan salah satu
contoh dari karangan fiksi. Yang termasuk ke dalam karangan fiksi adalah novel, roman, cerpen,
cerbung, novelet, dan puisi. Sedangkan karangan ilmiah dan karangan ilmiah populer termasuk ke
dalam golongan karangan nonfiksi. Yang termasuk ke dalam karangan nonfiksi adalah skripsi, tesis,
disertasi, textbook, makalah, laporan, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Finoza, Lamuddin. 2010. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Hasani, Aceng. 2005. Ikhwal Menulis. Serang: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Press.
Kusuma, Encep, dkk. 2003. Menulis 2. Jakarta: Universitas Terbuka.
Marahimin, Ismail. 2010. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.
Mulyati, Yeti. 2004. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Nurdin, Ade, dkk. 2005. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia: Ringkasan Materi Lengkap, Contoh,
Soal-Jawab, dan Soal-Soal Latihan UNAS (untuk SMA kelas X, XI, dan XII). Bandung: Pustaka Setia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Semi, M. Atar. 2007. Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Djago. 2003. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wardhani, I.G.A.K. 2007. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Universitas Terbuka.
Yunus, Mohamad, dan Suparno. 2006. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.
http://ainuamri.wordpress.com/2008/12/26/kumpulan-cerita-fiksi-kisah-fiksi-cerita-indah-kisahindah-cerita-hikmah-kisah-hikmah-cerita-bijak-kisah-bijak-cerita-tragedi-legenda-cerita-religiuscerita-spiritual-cerita-bij/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/perbedaan-karangan-ilmiah-semi-ilmiah-dan-nonilmiah-2/