Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Di dalam praktik kedokteran gigi dibutuhkan konsepsi baru untuk dapat

menjalankan praktek kedokteran gigi untuk masa kini dan mendatang. Fenomena ini
dapat diketahui dalam praktek kedokteran gigi yang semakin kompleks yang
ditandai dengan semakin canggihnya teknologi kedokteran gigi, sistem pembayaran
yang mengalami perubahan serta situasi masa kini yang semakin kompetitif. Di lain
pihak masyarakat sudah mulai meningkat kesadarannya terhadap pelayanan
kedokteran gigi. Konsekuensi dari masalah ini adalah praktik kedokteran gigi
semakin

melibatkan

lebih

banyak

pihak.

Manajemen

diperlukan

dalam

perkembangan kedokteran gigi agar dapat didayagunakan kemampuan professional


hingga mencapai tingkat produktifitas yang optimal.
Manajemen
perencanaan,

merupakan

pengorganisasian,

suatu

proses

pelaksanaan

untuk
dan

menjalankan

fungsi

pengendalian.

Fungsi

manajemen dijalankan untuk mengelola perangkat manajemen yang terdiri atas


sumber daya manusia, dana, material, peralatan, metode. Pada dasarnya
manajemen praktek dokter gigi harus dapat menciptakan praktik yang efektif agar
timbul suatu komunikasi yang terbuka dan baik antara personal yang terlibat dalam
praktik dan pasien. Dengan adanya keramahan, perhatian kepada pasien akan
membuat pasien merasa nyaman selama menjalanin perawatan. Selain itu,
dibutuhkan juga kerja sama antar para medis yang baik dalam menunjang
kesehatan pasien. Praktek dokter gigi dalam lingkungan kerja juga harus sesuai
dengan prinsip ergonomi agar pelayanan kesehatan dapat optimal serta efisien.
Ergonomi dalam kedokteran gigi yaitu operator dan lingkungan pekerjaannya agar
tidak menimbulkan kelelahan, ketakutan dan kebosanan pasien. Prinsipnya
mengatur tata letak dari tempat praktek dokter gigi agar pergerakkan dokter gigi
minimal serta mengatur limbah kesehatan agar tidak berdampak pada lingkungan
disekitarnya.

1.2

Tujuan
1.

Agar memahami manajemen praktik dan tatalaksana sesuai standar


pelayanan kedokteran gigi.

2.

Membuat perencanaan praktek kedokteran gigi yang efektif dan efisien.

3.

Menjelaskan pengorganisasian dalam menjalankan praktek.

4.

Menjelaskan cara memantau dan mengevaluasi praktek.

5.

Menjelaskan lingkungan kerja yang sehat sesuai dengan prinsip ergonomik.

6.

Menerapkan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja.

7.

Mengelola dampak praktik terhadap lingkungan sekitar.

8.

Melakukan prosedur perawatan gigi yang tepat bersama-sama dengan


tenaga medis lainnya.

9.

Melakukan komunikasi secara efektif dan bertanggung jawab secara lisan


maupun tulisan dengan tenaga kesehatan, pasien dan masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

1.1

Hasil Pengamatan

1.1.1 Jumlah pasien, berapa dan apa saja kasus yang ditangani pada saat
observasi
Pada hari Senin, 24 November 2014, jumlah pasien di Puskesmas Tumpang
ada 27 orang, terdiri dari 23 orang dewasa dan 4 anak-anak. Ada delapan kasus
yang dilakukan tindakan dan satu kasus yang diperiksa saja kemudian dilakukan
KIE. Kasus yang ditemukan antara lain nekrosis pulpa, sisa akar dan pulpitis
reversibel. Tindakan yang dilakukan berupa 8 pencabutan gigi permanen pada
dewasa, 2 pencabutan gigi sulung pada anak, tumpatan permanen dan tumpatan
sementara. Kasus terbanyak yang pada hari tersebeut adalah penyakit pulpa dan
pencabutan.
Pada hari Selasa, 25 November 2014, jumlah pasien di Puskesmas Tumpang
ada 30 orang, terdiri dari 13 orang dewasa dan 17 anak-anak. Kasus yang
ditemukan antara lain nekrosis pulpa, sisa akar dan pulpitis reversibel. Tindakan
yang dilakukan berupa 4 pencabutan gigi permanen pada dewasa, 7 pencabutan
gigi sulung pada anak, tumpatan permanen dan tumpatan sementara. Kasus
terbanyak yang pada hari tersebut adalah penyakit pulpa dan pencabutan.
Adapun tindakan yang bisa dilakukan di Puskesmas Tumpang adalah sebagai
berikut:
1.

Pencabutan gigi permanen

2.

Pencabutan gigi sulung

3.

Scaling

4.

Tambalan GIC atau komposit

5.

Tumpatan sementara (Perawatan saluran akar)

6.

Tambal permanen dengan pulp capping

7.

Pemeriksaan rongga mulut

1.1.2 Alur pasien poli gigi (loket-poli gigi-apotek)


Alur pasien poli gigi di Puskesmas Tumpang adalah sebagai berikut:
a. Pasien mengambil nomor antrian, kemudian menunggu dipanggil sesuai
nomor antrian (atau bisa langsung dipanggil jika tidak ada pasien lain)
b. Pasien menuju loket pendaftaran, kemudian dilayani pendaftaran loket.
Setelah itu, pasien menunggu untuk dipanggil sesuai poli yang dituju
c. Pasien dipanggil oleh poli (poli gigi), kemudian pasien memperoleh
pelayanan. Pelayanan berupa: pemeriksaan, tindakan, penyuluhan (KIE),
konsultasi
d. Pasien ke kasir
e. Pasien ke apotek (bila perlu)
f.

Pasien mengambil nomor antrian loket pendaftaran poli gigi kasir


apotek

2.1.3 Hubungan kerja dengan tenaga medis lainnya


Poli gigi yang berada dipuskesmas Tumpang hanya memiliki 2 tenaga medis,
yaitu Dokter gigi yang bernama drg.Didit Hidayat dan perawat gigi yang bernama Ibu
Risma. Hubungan kerja antara dokter gigi dan perawat gigi tersebut sangat
harmonis. Mereka saling bekerja sama dan tahu tentang tugasnya masing-masing.
Apabila pasien tiba, perawat gigi langsung menyapa dan tersenyum serta
menanyakan nama dan identitas pasien. Dokter gigi dengan cekatan memeriksa
rongga mulut pasien sementara perawat gigi membantu menyiapkan alat dan
keperluan lain yang dibutuhkan dokter gigi. Perawat gigi juga membantu untuk
mensterilkan alat dan membuang bahan yang tidak steril pada tempatnya. Dokter
gigi dan perawat juga saling bercanda dengan agar pasien merasa nyaman
sehingga pekerjaan mereka menjadi lebih mudah.
2.1.4 Sistem rujukan

Sistem rujukan yang dilaksanakan pada poligigi di puskesmas Tumpang


adalah dengan merujuk langsung dari puskesmas ke Rumah Sakit. Dengan syarat
harus membawa barang seperti:
1.

Jamkesmas

2.

Askes

3.

Kartu rujukan untuk Rumah Sakit yang bersangkutan

2.1.5 Komunikasi terpadu dokter dan pasien


Awalnya pasien akan dipanggil oleh perawat gigi sesuai dengan urutannya.
Setelah itu pasien akan masuk dengan membawa rekam medis yang baru atau yang
lama. Rekam medis yang baru berisi data bahwa pasien tidak pernah melakukan
perawatan pada giginya atau baru pertama kali ke dokter gigi. Sementara rekam
medis yang lama menunjukkan jika pasien tersebut telah melakukan perawatan
pada giginya dan kembali lagi untuk melanjutkan perawatan sebelumnya. Setelah
memberikan rekam medis pada perawat, pasien akan menandatangani lembar
inform consent untuk menyetujui dilakukannya tindakan. Dokter akan menanyakan
tentang keluhan pasien, obat yang dikonsumsi, menderita penyakit sistemik atau
tidak, sudah berapa lama rasa sakitnya, dll. Untuk pasien lansia, dokter gigi akan
mengukur tekanan darahnya terlebih dahulu agar tidak terjadi komplikasi. Setelah itu
pasien akan diperiksa rongga mulutnya oleh dokter gigi dengan dibantu perawat gigi
dan langsung dilakukan tindakan. Setelah selesai, dokter gigi dan perawat akan
meminta pasien untuk membayar biayanya dan memepersilahkan pasien untuk
keluar dengan diberikan resep jika perlu.
2.1.6 Pembuangan limbah praktik
Terdapat dua macam tempat pembuangan limbah praktik di Poli Gigi
Puskesmas Tumpang, yaitu:
1. Limbah jarum suntik anastesi
Jarum suntik yang telah digunakan untuk anastesi pasien ditutup kembali
kemudian dibuang di kotak khusus pembuangan jarum suntik yang telah
disediakan dan diletakkan di dekat tempat sterilisasi alat.

Gambar 1. Tempat pembuangan limbah praktik berupa jarum suntik


2. Limbah praktik lain
Limbah praktik selain jarum suntik seperti tissue, gigi yang dicabut, botol
ampul anastesi, handscoon, masker, dan kapas dibuang kedalam tempat
sampah yang telah dilapisi plastic sampah.

Gambar 2. Tempat pembuangan limbah praktik lain

A06 kPa
120C
30 dibungkus
20 tidak dibungkus

2.1.7 Pencegahan infeksi terhadap dokter dan pasien ditempat praktek


Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami di Puskesmas Tumpang,
terdapat beberapa hal yang dilakukan operator guna pencegahan infeksi terhadap
dokter dan pasien ditempat kerja, yaitu:
1.

Penggunaan alat perlindungan diri (APD) bagi operator


Operator (dokter gigi dan perawat gigi) di Poli Gigi Puskesmas Tumpang sudah
melakukan sesuai dengan strategi penggulangan masalah ergonomi kerja,
dimana pada proses produksi atau proses kerja haruslah Safety atau healthy.
Safety atau healthy disini difokuskan pada upaya spesifik protection ditujukan
pada pekerja yang belum sakit. Penggunaan alat perlindungan diri (APD) seperti
masker, handscoon, dan kacamata kerja dapat menjadi sarana pencegahan
infeksi terhadap dokter dan pasien. Setiap pergantian pasien, operator wajib
mengganti masker dan handscoon yang digunakan.

Gambar 3. Penggunaan alat perlindungan diri pada operator


2.

Melakukan sterilisasi pada instrumen yang digunakan


Melakukan sterilisasi pada instrumen yang digunakan juga merupakan salah
satu cara pencegahan infeksi terhadap dokter dan pasien ditempat kerja.

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan di poli gigi Puskesmas Tumpang,


tahapan dalam sterilisasi alat adalah sebagai berikut:
a.

Alat yang telah digunakan direndam dalam ember yang berisikan larutan
bayclin sebagai desinfektan selama beberapa waktu (kurang lebih 5 menit).

b.

Cuci alat dibawah air mengalir.

c.

Sikat alat dengan sabun.

d.

Cuci kembali dibawah air mengalir.

e.

Mengeringkan dengan handuk bersih yang telah disiapkan.

f.

Letakkan alat dalam tray kemudian masukkan dalam alat sterilisasi


(autoklaf).

g.

Tunggu beberapa saat untuk proses sterilisasi dalam autoklaf, setelah alat
menunjukkan bahwa proses sterilisasi telah selesai, tunggu kembali
beberapa saat hingga alat dingin dan kembali dapat digunakan untuk
prosedur kerja.

Gambar 4. Alat dan bahan sterilisasi (ember berisikan cairan bayclin)

Gambar 5. Alat sterilisasi (autoklaf)

Gambar 6. Instrumen yang siap digunakan dalam prosedur kerja (telah disterilisasi)
2.1.8 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nasional
2.1.8.1 Definisi BPJS Kesehatan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) adalah
badan hukum publik yang bertanggungjawab kepada Presiden dan berfungsi
menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia
termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia.
2.1.8.2

Fungsi BPJS Kesehatan

UU BPJS menetukan bahwa BPJS Kesehatan berfungsi menyelenggarakan


program

jaminan

kesehatan.

Jaminan

Kesehatan

menurut

UU

SJSN

diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip


ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. BPJS

Ketenagakerjaan menurut UU BPJS berfungsi menyelenggarakan 4 program, yaitu


program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan
kematian. Menurut UU SJSN program jaminan kecelakaan kerja diselenggarakan
secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial, dengan tujuan menjamin agar
peserta memperoleh manfaat pelayanan kesehatan dan santunan uang tunai
apabila seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja atau menderita penyakit akibat
kerja.
Selanjutnya program jaminan hari tua diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, dengan tujuan untuk
menjamin agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun,
mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Kemudian program jaminan
pensiun diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau
tabungan wajib, untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak pada saat
peserta kehilangan atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia pensiun
atau mengalami cacat total tetap. Jaminan pensiun ini diselenggarakan berdasarkan
manfaat pasti. Sedangkan program jaminan kematian diselenggarakan secara
nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dengan tujuan untuk memberikan
santuan kematian yang dibayarkan kepada ahli waris peserta yang meninggal dunia.

2.1.8.3 Visi BPJS Kesehatan


Paling lambat 1 Januari 2019, seluruh penduduk Indonesia memiliki jaminan
kesehatan nasional untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan
perlindungan

dalam

memenuhi

kebutuhan

dasar

kesehatannya

yang

diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang handal, unggul dan terpercaya.


2.1.8.4
a.

Misi BPJS Kesehatan

Membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga dan mendorong


partisipasi masyarakat dalam perluasan kepesertaan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN).

b.

Menjalankan dan memantapkan sistem jaminan pelayanan kesehatan yang


efektif, efisien dan bermutu kepada peserta melalui kemitraan yang optimal
dengan fasilitas kesehatan.

c.

Mengoptimalkan pengelolaan dana program jaminan sosial dan dana BPJS


Kesehatan secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel untuk mendukung
kesinambungan program.

d.

Membangun BPJS Kesehatan yang efektif berlandaskan prinsip-prinsip tata


kelola organisasi yang baik dan meningkatkan kompetensi pegawai untuk
mencapai kinerja unggul.

e.

Mengimplementasikan dan mengembangkan sistem perencanaan dan evaluasi,


kajian, manajemen mutu dan manajemen risiko atas seluruh operasionalisasi
BPJS Kesehatan.

f.

Mengembangkan dan memantapkan teknologi informasi dan komunikasi untuk


mendukung operasionalisasi BPJS Kesehatan.

2.1.8.5 Landasan Hukum BPJS Kesehatan


a.

Undang-Undang Dasar 1945

b.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial


Nasional

c.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara


Jaminan Sosial
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara

Jaminan Sosial (UU BPJS), secara tegas menyatakan bahwa BPJS yang dibentuk
dengan UU BPJS adalah badan hukum publik. BPJS yang dibentuk dengan UU
BPJS adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Kedua BPJS tersebut
pada dasarnya mengemban misi negara untuk memenuhi hak konstitusional setiap
orang atas jaminan sosial dengan menyelenggarakan program jaminan yang
bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.

Penyelenggaraan

jamianan

sosial

yang

adekuat

dan

berkelanjutan

merupakan salah satu pilar Negara kesejahteraan, disamping pilar lainnya, yaitu
pendidikan bagi semua, lapangan pekerjaan yang terbuka luas dan pertumbuhan
ekonomi yang stabil dan berkeadilan. Mengingat pentingnya peranan BPJS dalam
menyelenggarakan program jaminan sosial dengan cakupan seluruh penduduk
Indonesia, maka UU BPJS memberikan batasan fungsi, tugas dan wewenang yang
jelas kepada BPJS. Dengan demikian dapat diketahui secara pasti batas-batas
tanggung jawabnya dan sekaligus dapat dijadikan sarana untuk mengukur kinerja
kedua BPJS tersebut secara transparan.
2.1.8.6 Tugas BPJS Kesehatan
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas BPJS bertugas
untuk:
a.

Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;

b.

Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;

c.

Menerima bantuan iuran dari Pemerintah;

d.

Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta;

e.

Mmengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial;

f.

Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai


dengan ketentuan program jaminan sosial; dan

g.

Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial


kepada peserta dan masyarakat.
Dengan kata lain tugas BPJS meliputi pendaftaran kepesertaan dan

pengelolaan

data

kepesertaan,

pemungutan,

pengumpulan

iuran

termasuk

menerima bantuan iuran dari Pemerintah, pengelolaan Dana jaminan Sosial,


pembayaran manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan dan tugas
penyampaian informasi dalam rangka sosialisasi program jaminan sosial dan
keterbukaan informasi. Tugas pendaftaran kepesertaan dapat dilakukan secara pasif
dalam arti menerima pendaftaran atau secara aktif dalam arti mendaftarkan peserta.
2.1.8.7 Wewenang BPJS Kesehatan

Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana diamksud di atas BPJS


berwenang:
a.

Menagih pembayaran Iuran;

b.

Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan


jangka panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehatihatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai;

c.

Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan


pemberi kerja dalam memanuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan jaminan sosial nasional;

d.

Membuat

kesepakatan

dengan

fasilitas

kesehatan

mengenai

besar

pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang


ditetapkan oleh Pemerintah;
e.

Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;

f.

Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang


tidak memenuhi kewajibannya;

g.

Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai


ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam memenuhi kewajiban
lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

h.

Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan


program jaminan sosial.
Kewenangan menagih pembayaran Iuran dalam arti meminta pembayaran

dalam hal terjadi penunggakan, kemacetan, atau kekurangan pembayaran,


kewenangan melakukan pengawasan dan kewenangan mengenakan sanksi
administratif yang diberikan kepada BPJS memperkuat kedudukan BPJS sebagai
badan hukum publik.
2.1.8.8

Pelaksanaan BPJS di poligigi

BAB III
ANALISA HASIL PENGAMATAN

Kelompok kami melakukan observasi dokter gigi di poli gigi Puskesmas


Tumpang selama dua hari, yaitu Senin 24 November 2014 dan Selasa 25 November
2014. Kami melakukan observasi dengan cara membagi kelompok kami menjadi
beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang, dimana masing-masing berperan
di bagian registrasi, persiapan alat, dan sterilisasi alat. Pada bagian registrasi, kami
melakukan observasi mengenai beberapa hal, seperti: yang pertama, jumlah pasien,
berapa dan apa saja yang ditangani pada saat observasi. Kedua, yaitu mengenai
alur pasien poli gigi, dimana pasien mengambil nomor antrian, kemudian menunggu
dipanggil sesuai nomor antrian, pasien menuju loket pendaftaran, kemudian dilayani
pendaftaran loket. Setelah itu, pasien menunggu untuk dipanggil oleh poli (poli gigi),
kemudian pasien memperoleh pelayanan. Pelayanan berupa: pemeriksaan,
tindakan, penyuluhan (KIE), konsultasi. Kemudian alur dilanjutkan pembayaran di
kasir dan ke apotek (bila diperlukan).
Ketiga, kami mengamati hubungan kerja dokter gigi dengan tenaga medis
lainnya, hubungan kerja antara dokter gigi dan perawat gigi tersebut sangat
harmonis. Keduanya saling bekerja sama dan tahu tentang tugasnya masingmasing. Hal ke empat yang kami amati pada begian registrasi yaitu mengenai
sistem rujukan, dimana sistem rujukan yang dilaksanakan pada poligigi di
puskesmas Tumpang adalah dengan merujuk langsung dari puskesmas ke Rumah
Sakit. dengan syarat harus membawa barang seperti: Jamkesmas, Askes, dan kartu
rujukan untuk Rumah Sakit yang bersangkutan. Terakhir, pada bagian registrasi
kami mengamati mengenai komunikasi terpadu dokter-pasien. Dokter akan
menanyakan tentang keluhan pasien, obat yang dikonsumsi, menderita penyakit
sistemik atau tidak, sudah berapa lama rasa sakitnya, dll.
Pada bagian persiapan dan sterilisasi alat, kami melakukan pengamatan
mengenai pembuangan limbah praktik dan mengenai pencegahan infeksi terhadap
dokter dan pasien di tempat praktek. Pembuangan limbah praktik menurut hasil
pengamatan kami masih kurang sekali. Dimana seharusnya terdapat beberapa
macam pembuangan, harus dibedakan dari masing-masing jenis limbahnya. Pada
poli gigi ini, hanya terdiri dari dua macam pembuangan, yaitu pembuangan limbah
praktek yang berupa jarum suntik ke dalam kotak kardus, dan pembuangan limbah

praktek lainnya yang seperti bekas pencabutan gigi, bekas ampul anastesi, kapas
darah, tissue dan lain-lain, ke dalam tempat sampah pada umumnya.
Dan mengenai pencegahan infeksi terhadap dokter dan pasien di tempat
praktek, operator (dokter gigi dan perawat gigi) di Poli Gigi Puskesmas Tumpang
sudah melakukan sesuai dengan strategi penggulangan masalah ergonomi kerja,
dimana pada proses produksi atau proses kerja haruslah Safety atau healthy.
Safety atau healthy disini difokuskan pada upaya spesifik protection ditujukan
pada pekerja yang belum sakit. Penggunaan alat perlindungan diri (APD) seperti
masker, handscoon, dan kacamata kerja dapat menjadi sarana pencegahan infeksi
terhadap dokter dan pasien. Selain itu, melakukan sterilisasi pada instrumen yang
digunakan juga merupakan salah satu cara pencegahan infeksi terhadap dokter dan
pasien ditempat kerja.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 KESIMPULAN
Menurut pengamatan yang kami lakukan terhadap Puskesmas Tumpang
semua telah memenuhi target. Manajemen pengelolaan puskesmas yang sudah
sangat baik dan teratur dengan adanya tatacara dan alur yang jelas sehingga
memudahkan pasien dalam melakukan pemeriksaan kesehatan nya khususnya di
poli gigi.
Hubungan antara tenaga medis dan dokter gigi juga sudah terjalin sangat
baik sehingga menciptakan adanya suasana yang teratur di dalam ruang praktik.
Tenaga medis sudah sangat tanggap akan tugasnya sehingga memudahkan juga
kerja dokter gigi di dalam ruang praktik.
Alat sterilisasi yang sudah sangat memadai penting dimiliki sebuah ruang
praktik. Terlihat di Puskesmas tumpang semua alat dekontaminasi, sterilisasi panas,
dan aultoklaf sudah tersedia sehingga pencegahan infeksi dapat dicegah. Untuk alat
pembuangan sampah-sampah medis juga sudah cukup baik.
Untuk self protection terhadap dokter dan tenaga medis sudah baik dilihat
dengan adanya pemakaian masker, goggles, dan sarung tangan pada saat
melakukan tindakan. Ini merupakan salah satu cara pencegahan infeksi yang paling
mendasar dalam praktik dokter gigi.

1.2 SARAN
-

Terus menjaga kekompakan antar tenaga medis dan dokter

Menambah alat-alat yang diperlukan

Menjaga alat-alat dan peralatan yang telah diberikan

Menjaga relasi yang baik antara dokter dan pasien

Selalu melakukan inspeksi terhadap alat-alat yang sudah lama dan tua.

Melakukan penataan ruang terhadap ruang praktik sehingga bisa


memberikan suasana baru yang tidak membosankan