Anda di halaman 1dari 12

Pengaruh Cairan Pendingin ...

(Aan Sukandar, Enang Suma A)

PENGARUH CAIRAN PENDINGIN


EMULSI PADA KEAUSAN PAHAT BUBUT JENIS HSS
Aan Sukandar1) Enang Suma A2)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cairan pendingin pada proses
pemotongan logam yang dilakukan oleh pahat bubut. Pahat bubut akan mengalami keausan
setelah digunakan dalam waktu tertentu. Untuk mengurangi laju keausan yang dialami oleh
pahat maka diperlukan suatu cairan pendingin. Dalam penelitian ini, cairan pendingin yang
digunakan yaitu emulsi dengan perbanding 1 : 30. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh
bahwa umur pahat yang menggunakan cairan emulsi 1 : 30 yaitu 0,47 menit dengan keausan
tepi 0,31 mm. Panas yang timbul akibat proses pemotongan benda kerja oleh pahat, gesekan
yang dialami oleh pahat selama proses pemotongan berlangsung dan adanya geram yang ikut
menempel pada pahat, menyebabkan pahat mengalami perubahan bentuk dan struktur
akibatnya pahat mengalami keausan/kerusakan pada daerah mata potongnya.
ABSTRACT
The objective of this research is to understand the effects of coolant on the metal cutting
process done by lathe machine. Lathe machine will be worn out until it reaches a certain
period. To decrease the worn out rate, coolant is needed. In this research, the coolant used is
at the ratio 1:30. Based on the experiment, the age of the tool lathe with applied emulsion
1:30 will be 0.47 minutes with tip worn out 0.31 mm. The exhibited heat, as a result of the
cutting process and debris stuck to the tool lathe are the causes of structural and shape
change at which tip is broken.
Key word : coolant, emulsion, worn out, tool lathe
PENDAHULUAN

TORSI, Volume VII, No. 2, Juli 2009

Sebagai alat untuk menghasilkan mesin perkakas atau untuk menghasilkan


komponen-komponen atau perlengkapan dari mesin perkakas tersebut, suatu industri
memerlukan sebuah mesin untuk memproduksinya. Salah satu mesin perkakas yang
digunakan adalah mesin bubut. Proses pengerjaan pembubutan tak lepas dari adanya factor
kecepatan potong, gerak makan, pelumasan, geometri pahat dan kondisi mesin. Faktor-faktor
ini memiliki pengaruh terhadap hasil dari pembubutan. Dalam hal ini, factor yang paling
utama dan pada umumnya terjadi di lapangan adalah kondisi dari pahat bubut yang
digunakan. Pada saat proses pembubutan timbul suatu panas karena adanya pergeseran dan
gesekan yang terjadi langsung antara pahat dengan benda kerja. Panas yang terjadi pada saat
proses pembubutan ini akan menyebabkan pahat rusak/aus, hal ini akan berpengaruh pada
hasil bubutan dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Untuk
1,2)

Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FPTK UPI Jl. Dr. Setiabudhi No. 207 Bandung

menghindari hal tersebut, maka diperlukan suatu cairan pendidingin atau pelumas untuk
mengurangai pahat agar tidak cepat rusak/aus, sehingga membantu meningkatkan masa
pemakaian pahat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan efektifitas
dari pemakaian cairan pendingin dengan kekentalan tertentu terhadap laju keausan pahat
bubut jenis High Speed Steel (HSS).
KARAKTERISTIK PAHAT BUBUT
Pahat bubut adalah salah satu alat yang berfungsi untuk memotong atau menyayat
(removal) benda kerja yang terpasang terhadap bentuk yang diinginkan. Berbagai bentuk
penyayatan ini ditentukan oleh jenis, bahan dan bentuk pahat. Adapun jenis-jenis material
pahat yang umum digunakan adalah : (1) HSS dan (2) High Carbon Steel (HCS)
(1) High Speed Steel (HSS)
High Speed Steel merupakan pahat baja potong cepat yang berdasarkan standard DIN
17007, AISI M41 pahat ini memeiliki komposisi yaitu 0,92 % C, 4 % Cr, 5 % Mo, 1,8 V, 5 %
Co, dan 6,5 % W dengan kekerasan berkisar antara 54 sampai dengan 56 HRc. Pahat ini
umumnya digunakan untuk pembubutan bahan yang berkadar karbon rendah sampai dengan
sedang dan cocook untuk bahan-bahan yang bukan logam.

Pengaruh Cairan Pendingin ...

(Aan Sukandar, Enang Suma A)

(2) High Carbon Steel (HCS)


High Carbon Steel pahat ini merupakan pahat potong baja karbon tinggi yang
berdasar standar AISI D2 atau ASAB XW41, memiliki komposisi sebagai berikut 1,6 %C,
1,5 % Cr, 0,6 % Mo, 0,1 % V dan 0,5% W dengan kekerasan berkisar antara 62 sampai 64
HRc. Pahat jenis ini digunakan untuk pembubutan bahan yang keras dengan kadar karbon
tinggi.
Dalam melakukan pengujian ini, material pahat yang digunakan adalah pahat jenis
HSS ukuran 1/2 x 4 inchi sebanyak 6 buah dengan karakteristik yang sama dan dari pabrik
yang sama,. Pengujian pemesinan yang dilakukan terhadap pahat adalah proses pembubutan
silindris dengan kecepatan potong yang sama, dimana material benda kerja yang dibubut
adalah baja 48 Cr Mo 4, berdiameter 29 mm dan panjang 100 mm. Selama proses
pembubutan berlangsung diberi cairan pendingin emulsi 1 : 30 dimana minyak emulsi
berwarna putih, dibuat dengan cara melarutkan dalam air dengan perbandingan 1 bagian
minyak emulsi dan 30 bagian air.
LANGKAH PENELITIAN
Skema penelitian
Material pahat
jenis HSS x 4 inchi

Pemeriksaan awal material pahat :


-Komposisi
-Kekerasan

Proses Pembubutan
Cs = 40,07m/min
A =1 mm
F = 0,112 mm/put

Cairan Pendinginan emulsi 1 : 30

Benda Kerja 48 CrMo 4

29 x 100 mm

Pemeriksaan akhir material pahat

Keausan pahat

Struktur Makro

Data hasil pengujian

Kesimpulan

TORSI, Volume VII, No. 2, Juli 2009

Gambar 1. Skema penelitian


BAHAN
a. Data benda kerja
Material yang digunakan untuk dibubut dalam penelitian ini adalah baja 48 Cr Mo 4,
dengan harga kekerasan 96,7 HRB

u = 740 N/mm, 29 mm dan panjang 100

mm.
Baja dengan u = 740 N/mm, mempunyai harga ks 11 = 1650 N/mm. Sehingga gaya
potong spesifikasinya dapat dihitung dengan persamaan :
Ks = Ks 11. b(i-j) + h (i+j)
Nilai (I j) = - 0,04 dan (i + j) = 0,36. Sehingga besar k s = 750,2 N. Jadi besar gaya
potong Fv = ks x A = 84 N.
b. Data pahat bubut
Dimensi dan geometri pahat yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu sebagai
berikut :
Sudut geram orthogonal ( 0 )

= 10o

Sudut bebas orthogonal ( 0 )

= 8o

Sudut bebas Bantu

( 0 )

Sudut potong utama ( r )


Sudut potong minor (

r )

Sudut miring ( s )

= 8o
= 90o
= 10o
= 14o

c. Data komposisi material pahat


Data komposisi kimia diperlukan untuk mengetahui komposisi dan unsur yang
terdapat dalam material pahat HSS, sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap sifat fisik
pahat terutama kekerasannya serta sifat lain yang berpengaruh terhadap laju keausan pahat.
Hasil pemeriksaan dengan menggunakan alat Spektometer pada pahat jenis HSS
dapat dilihat pada tabel berikut :

Pengaruh Cairan Pendingin ...

(Aan Sukandar, Enang Suma A)

Tabel 1. Data Komposisi Kimia Material Pahat Bubut Jenis HSS


No
1
2
3
4
5
6
7

UNSUR
C
Si
Cr
Mo
V
W
Co

KOMPOSISI (%)
0,84
0,11
3,59
3,28
1,94
3,92
0,11

Dari hasil pemeriksaan komposisi dan unsur kimia tersebut, maka pahat yang digunakan
dalam pengujian ini tergolong dalam AISI DESIGNATION katagori M-2 dengan aplikasi
untuk turning carbon steel.

d. Data pengujian kekeraan


Data harga kekerasan pahat merupakan hasil pengujian kekerasan mikro yang
dilakukan pada pahat, dengan pembebanan sebesar 150 kg skala Rockwell. Pengujian
dilakukan pada bidang geram sampai kebagian tengah dari bidang geram. Adapun harga
kekerasan pahat 64,2 HRc.
e. Data pemesinan
Data pemesinan merupakan data tentang mesin, kondisi pemotongan dan cairan
pendingin yang digunakan selama proses pembubutan untuk pengujian laju keausan.
Data mesin :
Type

: EMCO Maximat V 13

Daya

: 4 KW

Buatan

: Austria

Feed range

: 0,045 s/d 0,630 mm/rev

Spindle speed range : 30 s/d 2500 rpm


Spindle hole diameter : 40 mm
Data kondisi pemotongan :
Kecepatan potong (Cs)

: 40,07 m/min

TORSI, Volume VII, No. 2, Juli 2009

Putaran spindle (n)

: 440 rpm

Gerak makan (f)

: 0,112 mm/rev

Dalam pemotongan (a)

: 1 mm

Data pendingin :
Emulsi

: Berwarna putih, dibuat dengan cara melarutkan


minyak kedalam air dengan perbandingan 1 : 30.

Laju kecepatan cairan pendingin

: 500 l/jam, menggunakan pompa aquarium merk


Aquila P 1200.

f. Data umur dan keausan pahat


Data ini diperoleh melalui proses pemesinan dengan melakukan pembubutan dengan
berdasarkan data pemesinan di atas, dimana untuk panjang pemotongan tertetu, proses
pembubutan diberhentikan untuk mengukur besarnya harga keausan tepi (VB) yang terjadi
pada pahat akibat pemakaian cairan pendingin tersebut. Pengukuran keausan tepi dilakukan
dengan menggunakan alat Toolmakers Microscope type CAT 7069 dengan pemebesaran 20 x.
data hasil proses pemesinan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Hasil proses pemesinan dengan pemakaian
cairan pendingin emulsi 1 : 30.
Panjang Pemotongan
(LT) mm
20
30
40
50

Waktu Pemotongan
(Lt) menit
0,19
0,27
0,37
0,47

Keausan Tepi (VB) mm pada komposisi


cairan pendingin Emulsi 1 :30
0,15
0,19
0,24
0,31

Pada tabel 2 dapat dilihat umur pahat (T) seccara empirik/hasil pengujian. Kriteria
saat berakhirnya umur pahat pada harga keausan VBmax = 0,31 mm dengan menggunakan
cairan pendingin emulsi 1 : 30 didapat Tc = 0,47 menit dan VB = 0,31 mm.
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
1. Penentuan umur pahat (T) secara regresi

Pengaruh Cairan Pendingin ...

(Aan Sukandar, Enang Suma A)

Pengolahan data dimaksudkan untuk menentukan umur pahat (T) untuk cairan
pendingin yang dimaksud secara regresi.
Tabel 3. Data perhitungan umur pahat dengan cairan
pendingin emulsi 1 : 30
No. Data
1
2
3
4

X=

Y=

Log tc
xi
-0,721
-0,569
-0,432
-0,328
-2,050

Log VB
yi
-0,824
-0,721
-0,620
-0,509
-2,674

xi2

0,520
0,324
0,187
0,108
1,139

Yi

xi yi

0,679
0,520
0,384
0,260
0,260

0,594
0,410
0,268
0,167
1,439

S x k xi 2,050

0,513
k
4
k 1 k
Sy

yi 2,674

0,669
k
k
4
k 1
k

SSx =

2
i

1,139

2
i

1,842

k 1
k

SSy =

k 1
k

SPxy =

x y
k 1

1,439

Sx.Sy
2,050. 2,2674
1,456
0,067
k
4

2,050 2
Sx 2
0,088
1,139
SSDx = SSx k
4

SPDxy = SPxy-

SSDy = SSy -

2,674 2
Sy 2
1,894
k
4

0,054

= Y = - 0,669

TORSI, Volume VII, No. 2, Juli 2009

SPDxy

0,062

b = SSDx 0,088 0,761


Persamaan regresinya adalah :
Y = a + b (x X)
Y = a + bx bX = - 0,669 + 0,761x (0,761. -0,513)
Y = - 0,278 + 0,761x
Untuk batas harga keausan tepi maksimum (VB max ) ditentukan sebesar 0,3 mm, maka
log VB = - 0,523. Dengan mensubtitusikan ke dalam persamaan regresi di atas akan
didapat :
-0,523 = - 0,278 + 0,761
x

0,278 0,523
0,322
0,761

Karena x = T, maka umur pahatnya adalah :


Log T = - 0,322
T = 10 0,322

= 0,47 menit

2. Penentuan umur pahat (T) secara grafis

Pengaruh Cairan Pendingin ...

(Aan Sukandar, Enang Suma A)

Gambar 2. Penentuan Umur pahat Menggunakan cairan


pendingin emulsi 1 : 30 secara grafis

Untuk batas harga keausan tepi maksimum (VB max ) ditentukan sebesar 0,3 mm, maka
log VB = - 0,523. Umur pahat dapat diperkirakan secara interpolasi pada grafik log VB dan
log Tc sebagai berikut :
0,328 x
0,509 ( 0,523)

0,328 ( 0,432)
0,509 ( 0,620)

0,126 =
x

0,328 x
0,104

= - 0,328 0,013
- 0,314
maka umur pahat (T) = 10-304 = 0,46 menit

Setelah melakukan pengujian laju keausan pahat melalui proses pembubutan dengan
menggunakan data-data yang telah ditentukan, maka mata potong pahat mengalami keausan
(kerusakan). Keausan yang dialami oleh pahat dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 3. Photo keausan pahat menggnakan photo stereo


dengan pembesaran 38 x.

TORSI, Volume VII, No. 2, Juli 2009

Sedangkan berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh umur pahat (T), untuk proses
pembubutan dengan menggunakan data pemesinan yang telah ditentukan dengan cara
menggunakan persamaan garis regresi dan secara grafis.
Data umur pahat (T) secara empirik (hasil proses pembubutan) dan umur pahat
(T)dari hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel 5.1 dan tabel 5.2 berikut :
Tabel 4. Umur pahat secara empirik (hasil proses pembubutan)
Komposisi Cairan

Kec Potong (Cs)

Umur Pahat (T)

Keausan Tepi (VB)

Pendingin
Emulsi 1 : 30

Mm/min
40,07

Menit
0,47

mm
0,31

Tabel 5. Umur pahat secara regresi dan grafis


Cairan Pendingin
T Emulsi 1 : 30

Secara Regresi
0,47

Secara Grafis
0,46

Umur pahat yang diperoleh secara regresi dan secara grafis perbedaannya tidak terlalu
jauh, hal ini disebabkan karena kecepatan potong yang digunakan pada proses pembubutan
adalah sama sehingga pada grafik tidak terdapat fungsi kemiringan linier melainkan fungsi
garis lurus dari log v terhadap log T.
Hasil pengujian keausan pahat melalui proses pembubutan, dapat dilihat pada gambar
di bawah ini :

10

Pengaruh Cairan Pendingin ...

(Aan Sukandar, Enang Suma A)

Gambar 4. Grafik Laju Keausan Tepi pada Pahat dengan Pemakaian


Cairan Pendingin Emulusi 1 : 30
Dari grafik hasil pengujian terlihat bahwa laju keausan bertambah besar/naik seiring
dengan bertambahnya waktu pemotongan (Tc).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dan pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil analisa komposisi pahat bubut yang digunakan jenis HSS konvensional dengan
standard

AISI katagori M-2, dimana elemen utamanya adalah Molybdenum (Mo),

Chromium (Cr), Wolfram (W), Vanadium (V), dan Carbon (C). Dengan harga
kekerasan Hardnes Rockwell 64,2 HRc.
2. Benda kerja yang dipakai adalah baja berstruktur 48 Cr Mo 4, dengan harga
kekerasan 96,7 HRB.
3. Dengan menggunakan data kondisi pemotongan :
Kecepata potong (Vc) = 40,07 m/min.
Putaran spindle (n) = 440 rpm.
Dalam pemotongan (a) = 1 mm.
Gerak makan (f) = 0,112 mm/put.
Umur mata potong pahat (T) adalah sebagai berikut :
T Emulsi 1:30 = 0,47 menit dengan keausan tepi 0,26 mm.

11

TORSI, Volume VII, No. 2, Juli 2009

4. Baik secara empirik (hasil proses pembubutan) maupun secara regresi dan garafis
(hasil pengolahan data), menunjukan bahwa laju keausan bertambah besar/naik
seiring dengan bertambahnya waktu pemotongan (Tc).

DAFTAR PUSTAKA
ASM, Metals Handbook, Vol. 1, 1990, Properties and Selection, Irons, Steels and High
Perfomance Alloys, American Society for Metal, Ohio.
Frank W. Wilson, 1984. Fudamental of Tool Design, Englwood Clifts, New Jersey.
Rochim, Taufik, 1993, Teori dan Teknologi Proses Permesinan, ITB, Bandung.
Steve F. Krar, 1991, Technology of Machine Tools, Mc Graw-Hill: Publishing
Company.
Surdia, Tata, 1992, Pengetahuan Bahan Teknik, Pradnya Paramita, Jakarta.

12