Anda di halaman 1dari 16

PAPER SEMINAR ANTI KORUPSI

FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB KORUPSI

OLEH:
9F KELOMPOK 2
1. CHRISNA ADHITAMA S. N. / NPM 144060005934
2. EKI MAHIPAL / NPM 144060005852
3. IKHSANTINO AKBAR / NPM 144060005935
4. RIZKI WULANDARI / NPM 144060005837
5. SAEFUL AZIS / NPM 144060005718

PROGRAM DIPLOMA IV KEUANGAN SPESIALISASI AKUNTANSI REGULER

SEKOLAH TINGGI AKUTANSI NEGARA


2014

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KORUPSI

Chrisna Adhitama S Nugroho 1),Eki Mahipal 2), Ikhsantino Akbar3), Rizki Wulandari4), Saeful
Azis5)
1) Program Diploma IV Keuangan Spesialisasi Akuntansi Reguler, STAN, Tangerang
email: chrisna.adhitama@gmail.com
2) Program Diploma IV Keuangan Spesialisasi Akuntansi Reguler, STAN, Tangerang
email: ekimahipal@gmail.com
3) Program Diploma IV Keuangan Spesialisasi Akuntansi Reguler, STAN, Tangerang
email: ikhsantino@gmail.com
4) Program Diploma IV Keuangan Spesialisasi Akuntansi Reguler, STAN, Tangerang
email: catalanz10@gmail.com
5) Program Diploma IV Keuangan Spesialisasi Akuntansi Reguler, STAN, Tangerang
email: ajis.ajiz@gmail.com

Abstrak Agenda pemberantasan korupsi telah digulirkan Pemerintahan Indonesia selama beberapa tahun
terakhir. Langkah-langkah tersebut dimulai dengan ditetapkannya berbagai macam regulasi hingga
pembentukan komisi khusus pemberantasan korupsi, KPK. Beragam langkah yang telah dicanangkan tidak
akan efektif jika penyebab munculnya korupsi tidak dapat terdeteksi. Berbagai kajian teoritis maupun
pengamatan telah dilakukan untuk mengetahui apa sajakah yang menjadi penyebab-penyebab timbulnya
korupsi.
Kata kunci: Penyebab, korupsi.

1.

pemerintahannya.

PENDAHULUAN

Tuntutan

masyarakat

akan

pemerintahan yang bersih dan transparan menjadi

Salah satu isu yang paling krusial untuk

prioritas kala itu selain perbaikan ekonomi. Indeks

dipecahkan oleh bangsa dan pemerintah Indonesia

Persepsi

adalah masalah korupsi. Hal ini disebabkan semakin

Korupsi

tahun

2014

yang

dirilis

Transparancy International, Indonesia berada pada

lama tindak pidana korupsi di Indonesia semakin

peringkat 107 dari 175 negara dengan indeks 34.

sulit untuk diatasi. Maraknya korupsi di Indonesia

Sedangkan

disinyalir terjadi di semua bidang dan sektor

pada

tahun

sebelumnya,

Indonesia

menduduki peringkat 114 dengan indeks 32 dari 175

pembangunan. Sudah tujuh tahun semenjak reformasi

negara. Indeks tersebut berada pada kisaran 0 (paling

pemerintahan digulirkan dan agenda pemberantasan

koruptif) hingga 100 (paling tidak koruptif).

korupsi pun telah dicanangkan setiap periode

Menurut catatan Indonesia Corruption Watch

Di sisi lain Jack Bologne yang mengemukakan

(ICW), kasus korupsi yang terjadi selama semester I

teori GONE (Bologne: 2006) bahwa faktor yang

tahun 2014 ada 308 kasus. Dimana sebagian besar

menyebabkan korupsi meliputi :

dari tersangka kasus tersebut dilakukan oleh pejabat,


pegawai

pemerintah

daerah

dan

a) Greeds

kementerian

terkait

korupsi

macam

tindakan

represif

yang

b) Opportunities (Kesempatan), terkait dengan

dilakukan semua pihak untuk memberantas korupsi

adanya peluang unutk melakukan korupsi

belumlah efektif jika kita belum dapat mengenali

c) Needs (Kebutuhan), terkait sikap

penyebab-penyebab korupsi itu sendiri. Oleh karena

yang tak pernah merasa cukup, dan

itu, faktor-faktor penyebab korupsi inilah yang

hukuman yang dijatuhkan

Berbagai faktor yang diamati antara lain faktor

pelaku

eksternal,

korupsi

tidak

berefek

memberi

kesan

bahwa

faktor

internal

hingga

mental

d) Exposure (pengungkapan) terkait dengan

diangkat menjadi fokus pembahasan paper ini.

faktor

struktural/organisasi.
2.

dengan

keserakahan dan kerasukan para pelaku

sebanyak 42,6%.
Berbagai

(keserakahan),

kepada para

jera

sehingga

perbuatan

yang

mereka lakukan bukanlah hal serius.

LANDASAN TEORI
Melalui berbagai kajian teoritis, beberapa pakar

Menurut Nur Syam, korupsi dapat terjadi

telah membahas faktor-faktor penyebab korupsi.

karena struktur sosial, politik dan ekonomi dan


dapat pula timbul karena mentalitas dan budaya.

Lord Acton pernah mengungkapkan adanya


hubungan antara korupsi dengan kekuasaan

Tekanan sosial yang begitu sulit menyebabkan

melalui istilahnya yakni, Power tends to

berbagai tindakan koruptif. Kekuasaan monopoli

corrupt

dan kewenangan yang longgar tanpa pengawasan

and

absolut

power

corrupts

absolutely. Artinya, kekuasaan adalah bagian

akuntabel juga memberi kontribusi

pada hal

yang sangat rawan terhadap penyalahgunaan

tersebut, ditambah lagi lemahnya mentalitas di

wewenang. Hal tersebut dapat diartikan bahwa

tengah berbagai peluang.

kekuasaan dapat dijadikan sebagai sarana bagi

Robert K. Merton dalam teorinya menyatakan

pemangkunya untuk melakukan korupsi. Hal

bahwa struktur sosial dapat menekan warganya

senada ditulis pada kajian yang dilakukan oleh

untuk melakukan tindak kriminal. Tekanan ini

Robert Klitgaard, yang melihat bahwa korupsi

dapat bersifat struktural yang mana mengacu

terjadi

kekuasaan

pada proses di tingkat sosial yang memengaruhi

dibarengi dengan kewenangan memutuskan namun

bagaimana individu memandang kebutuhannya.

tanpa akuntabilitas (Corruption = Monopoly +

Tekanan juga dapat bersifat individual,

Discretion - Accountability). Baik pada sektor publik

mengacu pada pengalaman tidak menyenangkan

maupun privat,

yang dialami oleh seseorang ketika ia mencari

sebuah

karena

adanya

korupsi

organisasi

atau

monopoli

akan

ditemui

seseorang

ketika

cara

memiliki

yaitu

untuk memuaskan keinginannya. Merton

kekuasaan atas barang atau jasa dan kewenangan

dalam bukunya, Social Structure and Anomie,

untuk memutuskan siapa yang dapat menerima dan

when the aim of victory is shorn of its

berapa yang dapat ia terima, namun tidak

institutional trappings and success in contests

ada

becomes construed as winning the game rather

pengawasan secara akuntabel (Klitgaard, 1998).

than winning through circumscribed modes of

is non-shareable, are aware this problem can be

activity, a premium is implicitly set upon the use

secretly resolved by violation of the position of

of illegitimate but technically efficient means,

financial trust, and are able to apply to their own

dapat diterjemahkan ketika dalam suatu struktur

conduct in that situation verbalizations which

sosial

enable

lebih

ketimbang

menekankan
cara-cara

pada

to

adjust

their

trusted

tersebut. Kegagalan dalam mencapai tujuan terlepas

conceptions

of

themselves

dari bagaimana proses untuk mencapainya dianggap

entrusted funds or property.

failure

conceptions of

persons
as

with
users

their
of

the

anggota

Secara lebih jelas, Cressey mengemukakan teorinya

masyarakat lebih mengutamakan pada pencapaian

dalam suatu model yaitu The Fraud Triangle, dimana

tujuan ketimbang fairness dalam prosesnya. Strain

ada tiga faktor utama penyebab korupsi yaitu,

theory Merton iniyang juga disebut anomie

kesempatan, tekanan dan rasionalisasi. Berikut ini

theory atau means-ends theorysecara sederhana

adalah ilustrasi tentang The Fault Theory yang

menjelaskan bahwa pelanggaran norma tersebut

diambil dari Committee of Sponsoring Organizations

dapat terpicu ketika adanya ketimpangan antara

of the Treadway Commission.

apa

yang

bagi

membuat

tujuan

them
as

total

mencapai

akhir

themselves

sebagai

untuk

tujuan

struktur

sosial

merupakan

keberhasilan (goals) dan cara yang tepat untuk


menggapai keberhasilan itu (means).
Selain itu adanya teori motivasi atas suatu
tindakan yang dikemukakan oleh Victor H. Vroom,
seorang

professor

dari

Yale

School

of

Management, y a n g menyajikan expectancy theory


of motivation. Teori tersebut menjelaskan mengapa
individu

memilih

melakukan

tindakan

tertentu

daripada

tindakan yang lainnya. Pemilihan

tindakan tersebut didasarkan pada ekspektasi yang


Gambar 1.
The Fraud Triangle
(sumber : coso.org)

ingin diperoleh oleh personal yang bersangkutan.


Motivasi inilah jika diarahkan pada pengambilan
keputusan yang salah merupakan penyebab kenapa

Riset-riset sosial yang ada menjelaskan

seseoran melakukan korupsi.


Adanya

justifikasi

atas

suatu

perilaku koruptif dari penyebab-penyebab yang

tindakan

ada di luar dari kontrol individual dan ini memang

penyalahgunaan sebagai suatu hal yang dapat

lebih populer di berbagai literatur, sebab social

dimaklumi juga menjadi salah satu alasan seseorang

science

melakukan korupsi. Cressey menyebutkan dalam

Psychology

of

Embezzlement

berurusan

dengan

konsep

daripada realita, sebagaimana diutarakan Gjalt De

bukunya Other People's Money: A Study in the


Social

biasanya

Graaf dalam Causes of Corruption: Towards a

(1973)

Conceptual Theory of Corruption.

sebagaimana dikutip oleh acfe.com bahwa trusted

Graaf lebih lanjut mengutip Gerald E.

persons become trust violators when they conceive

Caiden mengenai hal ini: Just as there are many

of themselves as having a financial problem which

varieties of corrupt behavior, so there are

multitudinous factors contributing to corruption

dari peran aparat penegak hukum dalam pencegahan

So many explanations are offered that it is

dan pemberantasan

difficult to classify them in any

peraturan

manner.

Caiden

kemudian

systematic

anti

korupsi seperti sosialisasi

korupsi

kepada

masyarakat,

menyebutkan

internalisasi program-program anti korupsi, hingga

beberapa sumber dari korupsi, yaitu dari segi

penyelesaian kasus tindak pidana korupsi melalui

psikologis, ideologis, eksternal, ekonomi, politik,

pengadilan. Penyelesaian kasus korupsi melalui

sosio-kultural, dan teknologi. Meskipun demikian,

pengadilan

baginya, faktor yang berkontribusi pada korupsi,

pencegahan korupsi, melalui sanksi yang diberikan

tidaklah sama dengan penyebab dari korupsi itu

kepada para koruptor sehingga menimbulkan efek

sendiri.

jera, serta sekaligus menghilangkan perilaku korupsi

atas, bisa disimpulkan bahwa korupsi disebabkan

ganda

berupa

Meskipun sistem hukum memegang peranan

karena adanya faktor internal dimana motivasi

yang sangat penting, penelitian Political and

timbul dalam diri si pelaku dan juga faktor eksternal

Economic Risk Consultancy (PERC) dari tahun

karena adanya pengaruh-pengaruh dari lingkungan

1997-2002 menunjukkan bahwa sistem hukum di

dan organisasi serta masyarakat sekitar.

Indonesia masih berada pada level yang buruk.


Penelitian

1.

efek

di Indonesia.

Dari keseluruhan teori yang dijabarkan di

3.

memberikan

yang

dilakukan

lembaga

tersebut

memberikan nilai 8,00 - 9,83 untuk sistem hukum

HASIL DAN PEMBAHASAN

Indonesia (nilai 1 untuk yang terbaik dan 10 untuk

Faktor Ekternal

yang

Faktor eksternal merupakan faktor yang

terburuk).

Buruknya

sistem

hukum

di

muncul dari luar subjek pelaku korupsi. Diiuraikan

Indonesia menyebabkan tumbuh suburnya perilaku

dalam penjelasan sebagai berikut:

korupsi, terutama terkait dengan hal-hal berikut ini:

1.1

a. Pengenaan sanksi terhadap koruptor rendah

Sistem Hukum
Dengan sistem hukum yang kuat, orang jahat

Pengenaan sanksi terhadap koruptor melalui

akan dipaksa berperilaku baik. Jika dengan sistem

proses pengadilan di Indonesia pada dasarnya

hukum yang buruk, orang baik akan ikut buruk.

bertujuan untuk memberikan efek jera bagi para


koruptor serta edukasi kepada masyarakat. Efek jera

Demikianlah

Ihza

akan berhasil dirasakan jika sanksi yang diberikan

Mahendra, seorang pakar hukum tata negara yang

merupakan sanksi yang berat. Dengan adanya hal

menyatakan

sangat

tersebut maka seseorang akan lebih takut untuk

berpengaruh terhadap perilaku korupsi di suatu

berbuat korupsi sebab hukuman yang berat telah

negara. Sistem hukum sangat erat kaitanya dengan

menantinya. Begitu pula sebaliknya, jika sanksi

perilaku korupsi sebab korupsi merupakan salah

untuk para koruptor adalah sanksi yang ringan,

satu perilaku yang dianggap melanggar hukum

maka orang tidak akan segan untuk berbuat korupsi

Indonesia. Interaksi sistem hukum di Indonesia

sebab kenikmatan hasil korupsi masih jauh lebih

dengan perilaku korupsi bisa terjadi pada ranah

tinggi daripada sanksi yang harus dipikul karena

pemberantasan

perbuatan korupsi tersebut.

bahwa

pernyataan

sistem

maupun

Yusril

hukum

pencegahan

perilaku

korupsi di Indonesia. Beberapa hal tersebut terlihat

Jika dilihat dari keputusan pengadilan tindak

celah dan kesempatan kepada para koruptor untuk

pidana korupsi, pengenaan sanksi terhadap koruptor

terus menjalankan perilaku korupsi tersebut.

di Indonesia masih sangat rendah. Indonesian

c. Buruknya perilaku aparat penegak hukum

Corruption Watch (ICW) menyebutkan bahwa pada


Sebagai

2014 rata-rata hanya 2 tahun 8 bulan. Rata-rata

sebaliknya, misalnya mudah disuap atau bahkan

Dari data tahun 2014 tersebut jumlah terdakwa yang

melakukan tindak pidana korupsi lainnya, maka

mendapat vonis berat (di atas 10 tahun) hanya 5

masyarakat akan dengan mudahnya menganggap

orang dari 437 terdakwa yang divonis bersalah.

bahwa korupsi merupakan sesuatu yang tidak

Rendahnya vonis tersebut berpotensi menjadi salah


tumbuhnya

perilaku

korupsi

pemberantasan

berperilaku anti korupsi. Jika mereka bertindak

dengan tahun 2013 yaitu sebanyak 2 tahun 11 bulan.

pemicu

tombak

korupsi, para aparat penegak hukum seharusnya

hukuman ini menurun jika dibandingkan dengan

satu

ujung

terlarang dan pada akhirnya melakukan tindakan

di

korupsi tersebut. Sayangnya di Indonesia aparat

Indonesia.

penegak hukumnya tidak dapat dikatakan bersih.


b. Keterbatasan Kapabilitas aparat penegak hukum
Pemberantasan

korupsi

yang

Indonesia

menyebutkan bahwa tiga lembaga terkorup di

melibatkan beberapa institusi penegakan hukum di

Indonesia adalah Kepolisian, DPR, dan Pengadilan.

Indonesia seperti KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan.

Dari tiga lembaga tersebut dua di antaranya

Dari ketiga institusi tersebut sayangnya hanya KPK

merupakan aparat penegak hukum (Kepolisian dan

saja yang masih mendapat kepercayaan dari

Pengadilan) sedangkan DPR merupakan lembaga

masyarakat

legislative

sebagai

garda

di

Hal ini terlihat dari pernyataan KPK

terdepan

dalam

yang

salah

satu

tugasnya

adalah

pemberantasan korupsi. Akan tetapi ekspektasi

menyusun peraturan perundang-undangan yang

masyarakat tersebut tidak diimbangi dengan sumber

menjadi salah satu pilar dalam sistem hukum di

daya yang memadai di internal KPK. Hal ini salah

Indonesia. Jika lembaga-lembaga tersebut juga

satunya terlihat dari masih sangat terbatasnya

melakukan praktik korupsi, menjadi sesuatu yang

jumlah penyidik di KPK. Data KPK menunjukkan

wajar jika korupsi masih merajalela di Indonesia.

bahwa pada tahun 2014 jumlah penyidiknya hanya

1.2 Sistem Politik

56 orang. Dengan total pegawai pemerintah

Struktur dan sistem politik banyak dimaknai

sebanyak 5,2juta orang maka satu orang penyidik

sebagai proses bagaimana kekuasaan didapatkan dan

KPK bertugas untuk mengawasi lebih dari 90 ribu

dijalankan. Sistem politik bisa menjadi salah satu

pegawai. Hal tersebut sangat berbeda jauh jika


dibandingkan
Independent

dengan

Hongkong

Commission

Against

di

penyebab munculnya perilaku korupsi sebagaimana

mana

penjelasan berikut ini:

Corruption

a. Transisi

(ICAC) Hong Kong memiliki jumlah penyidik

politik

tradisional

menuju

politik

modern

sebanyak 900 orang. Satu orang penyidik tersebut


pegawai

Pada sistem kerajaan di zaman dahulu, raja

pemerintah. Keterbatasan jumlah penyidik tersebut

diposisikan sebagai seorang pemimpin tertinggi

tentu menyebabkan penanganan kasus korupsi

yang berhak untuk menikmati segala macam hasil

menjadi tersendat dan pada akhirnya menimbulkan

bumi di wilayahnya. Oleh karena itu pada zaman

ditugaskan

mengawasi

200

orang

dahulu muncul istilah upeti yang wajib disetorkan

kepada raja. Dengan kekuasannya, raja berhak untuk

sebagai penguasa akan merasa berhutang budi

menggunakan upeti tersebut untuk kepentingan

kepada tim suksesnya. Perasaan hutang budi

pribadi dan keluarganya. Hal ini sebenarnya

tersebut dapat menyebabkan toleransi atas tindakan

bertentangan dengan prinsip upeti itu sendiri yang

korupsi tim suksesnya menjadi semakin meningkat,

pada dasarnya dimaksudkan untuk dikelola demi

memberikan perlindungan atas kesalahan yang

kemaslahatan masyarakat. Namun karena kesalahan

dilakukan tim suksesnya, atau bahkan menunjuk

tersebut dilakukan oleh seorang penguasa tertinggi

mereka untuk menduduki jabatan strategis. Hal

maka tidak ada yang berani untuk menegur atau

tersebut merupakan salah satu pemicu munculnya

menjatuhkan

korupsi.

hukuman

kepadanya.

Kebiasaan

tersebut terbawa hingga saat ini di mana sebagian


besar

pimpinan

lembaga

pemerintahan

d.

Monopoli kekuasaan

masih
Beberapa daerah di Indonesia pemimpinnya

menganggap diri mereka sebagai seorang raja yang


berhak

untuk

memanfaatkan

setoran

memiliki hubungan kekeluargaan atau lebih dikenal

dari

sebagai dinasti politik. Di negara demokrasi seperti

masyarakatnya untuk kepentingan pribadinya.

Indonesia yang pemilihan wakil rakyatnya melalui


b. Sistem Politik Patron Client

cara yang demokratis, namun kebanyakan yang


atasan

menjabat di dalamnya seolah terpilih jika memiliki

(patron) dan bawahan (client) merupakan suatu

hubungan dengan salah seorang penguasa, bukan

hubungan yang saling membutuhkan di mana atasan

terpilih atas kehendak rakyat. Pada akhirnya

memberikan pekerjaan dan perlindungan sedangkan

timbulah monopoli kekuasaan oleh sekelompok

bawahan memberikan penghormatan, dukungan

keluarga atau perkumpulan orang dengan satu

politik, dan lain-lain. Sistem ini dapat memicu

kepentingan

tindakan korupsi sebab jika atasan melakukan

masyarakat.

Sistem

korupsi

ini

maka

menganggap

bawahan

tidak

bahwa

berani

untuk

1.3

melakukan kritik karena perasaan tidak enak atau

profesionalitas

dan

tidak
kinerja

didasarkan

atau

berasal atau dipengaruhi oleh ajaran agama maupun


tradisi. Kedua ajaran tersebut selalu mengarahkan

c.Sistem Politik Akomodasi dan Politik Daging Sapi


sebuah
kekuasaan

kompetisi
sering

perilaku kepada kebaikan seperi kejujuran, tidak


saling

untuk
kali

memenangkan

kompetisi

menipu,

bersikap

professional,

dan

sebagainya. Sebuah lembaga yang menjunjung nilai

para

(value)

kandidatnya menggunakan bantuan dari tim sukses


dapat

instansi

landasan kerja. Nilai (value) tersebut biasanya

kepada atasannya.

agar

sebuah

corporate culture adalah nilai (value) yang menjadi

seorang bawahan merasa memiliki hutang budi

memperebutkan

pada

diterima sebagai standar perilaku kinerja. Inti dari

namun

didasarkan pada kedekatan dengan atasan sehingga

Dalam

pegawai

organisasi yang dibentuk dan dibakukan serta

pada

pegawai

kepentingan

Budaya Lembaga

seluruh

muncul terutama jika proses rekrutmen ataupun


jabatan

bukan

Corporate Culture adalah kebiasaan kerja

menjaga hubungan baik. Perasaan tersebut dapat

promosi

kelompoknya,

tersebut

dengan

baik

akan

mampu

mengarahkan perilaku pegawainya agar terhindar

tersebut.

dari

Penggunaan tim sukses ini dapat memicu terjadinya

perilaku

yang

buruk

seperti

korupsi.

Lingkungan dengan budaya lembaga yang baik akan

korupsi sebab kandidat yang menang dan terpilih

menuntun setiap orang di dalamnya untuk ikut

memberi tidak membenarkan pemberian yang

berperilaku baik sebab perilaku jelek tidak akan

bersifat mewah dan mengandung maksud dan/ atau

pernah mendapat tempat di lingkungan tersebut.

tujuan tertentu dibaliknya. Tradisi memberi yang

Sebaliknya, jika budaya lembaga adalah budaya

dibenarkan oleh budaya adalah memberi yang ikhlas

yang

saling

tanpa mengharap imbalan berupa apapun. Namun

menyuap, serakah, atau membiasakan diri korupsi,

jika tidak disikapi dengan bijak tradisi ini bisa

maka pegawai di lembaga tersebut juga akan

menimbulkan dampak buruk misalnya berupa

cenderung

benturan kepentingan antara si pemberi dan si

buruk,

misalnya

terpengaruh

terbiasa

sehingga

untuk

bukan

tidak

mungkin ikut terjerumus ke dalam perilaku korupsi.

penerima atau bahkan mengarah kepada wujud


gratifikasi dan bribery.

1.4 Struktur dan Sistem Sosial

c.

Struktur dan sistem sosial yang berkembang

Tradisi kekeluargaan

di masyarakat dan memberi peluang terjadinya

Senada dengan dua tradisi sebelumnya di atas,

korupsi jika tidak disikapi dengan bijak. Beberapa

tradisi kekeluargaan sebenarnya merupakan sebuah

contoh bentuk struktur dan sistem sosial yang

tradisi yang baik. Sesuai dengan tradisi ini maka

memberi peluang terjadinya korupsi adalah sebagai

setiap kesenangan atau kesusahan harus dibagi

berikut:

dengan anggota keluarga yang lain. Tradisi ini

a.

kemudian

Nrimo dan Ewuh Pakewuh

diselewengkan

menjadi

praktek

nepotisme dengan mengangkat keluarganya untuk


Kebiasaan yang berasal dari Jawa ini mengajarkan

menduduki posisi atau jabatan strategis walaupun

agar manusia menerima keadaan dengan ikhlas

tidak memiliki kapabilitas yang baik. Praktek

(nrimo) dan tidak banyak mengkritisi perbuatan

nepotisme bisa menyebabkan tumbuh suburnya

orang lain karena hal tersebut akan menimbulkan

perilaku korupsi sebab kurangnya mekanisme

hubungan yang kurang baik dengan orang lain. Inti

control internal dan check and balance karena

dari hal tersebut sebenarnya baik namun jika tidak

adanya latar belakang balas budi di antara para

disikapi dengan baik maka akan menimbulkan

pejabat yang berasal dari satu keluarga tersebut.

dampak buruk, termasuk menyebabkan munculnya


korupsi.

Sebagai

contoh,

kita

tidak

1.5 Sistem Pendidikan

berani

menanyakan kepada seorang kepala desa yang

Sistem

pendidikan

juga

bisa

menjadi

memiliki kekayaan yang luar biasa yang di luar

penyebab munculnya perilaku korupsi. Salah satu

batas kewajaran darimana beliau mendapatkan

contohnya adalah dari dijadikannya nilai sebagai

kekayaan

indicator utama keberhasilan siswa. Hal tersebut

tersebut

menyinggung

karena

perasaan

khawatir

beliau

dan

akan

akhirnya

menjadikan

menimbulkan hubungan yang tidak baik nantinya.


b.

siswa

menghalalkan

segala

cara,

termasuk berbuat curang, demi memperoleh nilai


yang baik. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung

Tradisi memberi

membuat siswa menganggap bahwa hasil akhir


Tradisi memberi sebenarnya ditujukan kepada
teman,

saudara,

atau

pihak-pihak

merupakan sesuatu yang menjadi ukuran mutlak

yang

dari sebuah kegiatan. Jika tidak disikapi dengan

membutuhkan tanpa adanya motif-motif tertentu dan

bijak maka hal tersebut akan membawa dampak

dalam jumlah dan bentuk yang wajar. Tradisi

buruk termasuk memicu korupsi misalnya dengan

yang didorong oleh sifat serakah dari pelaknya). Oleh

memberikan suap demi melancarkan niatannya.

karena itu, meskipun persoalan kemiskinan sering


menjadi alasan, tetapi faktor tersebut sudah tercampur

Perilaku pendidik yang buruk juga bisa

dengan faktor sistem dan keserakahan.

menjadi salah satu pemicu munculnya korupsi.


Dalam istilah jawa dikenal dengan istilah bahwa

2. Faktor Internal

guru merupakan singkatan dari digugu (dipercaya)

Faktor internal, merupakan faktor dari dalam

dan ditiru (diikuti). Guru yang melakukan praktik

diri si pelaku terkait dengan persepsi terhadap korupsi

korupsi maka murid-muridnya kemungkinan akan

dan moralitas, maupun integritas moral individu yang

mengikuti perilaku tersebut. Selain itu, kurikulum

bersangkutan.

pendidikan di Indonesia yang kurang menaruh

2.1 Persepsi terhadap Korupsi

perhatian pada nilai-nilai dan pembentukan karakter


yang baik juga

Pemahaman seseorang mengenai korupsi tentu

menjadi salah satu pemicu

berbeda-beda. Menurut Pope (2003), salah satu

munculnya korupsi.

penyebab masih bertahannya sikap primitif terhadap


korupsi karena belum jelas mengenai batasan bagi

1.6 Sistem Ekonomi

istilah korupsi, sehingga terjadi ambiguitas dalam

Persoalan kemiskinan dan gaji yang tidak

melihat korupsi.

memadai menjadi faktor klasik pemicu korupsi.

Korupsi adalah suatu tindak pidana yang

Keadaan ekonomi yang kekurangan sering kali

merugikan banyak pihak. Penyebab adanya tindakan

dijadikan alasan yang melatarbelakangi tindakan


korupsi

seseorang.

selamanya

muncul

Akan
karena

tetapi
motif

korupsi

korupsi sebenarnya bervariasi dan beraneka ragam.

tidak

Meskipun

keterbatasan

kerena

lapis, yaitu:

dapat

meningkatkan

derajat

ekonomi

membantu kebutuhan-kebutuhan dasar kehidupan


PNS dan keluarganya. Tetapi pendapat yang melihat

Nepotisme, kronisme dan kelas baru yang

korupsi bersifat fungsional semakin tidak relevan.

mendapatkan kemudahan untuk usaha mereka

Jeremy Pope menyatakan bahwa rakyat suatu negara

Jejaring korupsi cabal yang meliputi birokrat,

mungkin mau membayar uang administrasi untuk

politisi, aparat hukum dan aparat keamanan

mendapat surat izin, lisensi, dan sebagainya yang

negara, perusahaan negara dan swasta tertentu,

jumlahnya tidak besar. Akan tetapi hal itu bukan

serta lembaga hukum, pendidikan, dan penelitian

berarti bahwa mereka menyetujuinya. Meskipun

yang memberikan kesan objectif dan ilmiah

uang administrasi merupakan cara yang paling

terhadap apa yang menjadi kebijakan jejaring

praktis

tersebut.

Sedangkan

jenis

dapat

memperoleh

apa

yang

menjadi tidak benar, karena jumlah yang diminta

dikelompokkan pada corruption by need (korupsi


kebutuhan).

untuk

dibutuhkan, tetapi anggapan ini lama kelamaan

Jenis korupsi yang pertama dan kedua dapat

karena

yang

maka korupsi pun disinyalir dapat memenuhi /

suap

c.

anggapan

seseorang. Misalnya karena gaji PNS yang kecil,

Korupsi yang langsung berkaitan antara warga


(citizen) dan birokrasi dengan bentuk seperti

b.

ada

mengatakan bahwa korupsi bersifat fungsional,

ekonomi. Aditjondro membagi korupsi dalam tiga

a.

demikian,

semakin besar.

ketiga

dikelompokkan kepada corruption by greed (korupsi

Di samping persepsi korupsi fungsional

Ketika berbicara tentang moralitas pasti akan

tersebut, tindakan korupsi seringkali disebabkan

dihubungkan dengan ajaran agama. Di dunia ini, bisa

karena minimnya pengetahuan pada pelaku korupsi.

dipastikan seluruh ajaran agama mengajarkan manusia

Misalnya dalam pembuatan SIM, seringkali kita

pada kebaikan, kejujuran dan larangan untuk mencuri

mempunyai mindset untuk membayar sejumlah uang

termasuk korupsi. Bahkan agama juga mengancam

agar bisa melewati prosedur / beberapa tes dan

tindakan yang tidak baik dengan suatu hukuman di

ujian. Tambahan biaya yang sering kali disebut

akhirat nanti. Apabila nilai-nilai agama telah tertanam

dengan biaya administrasi ini dianggap cara yang

pada diri manusia semenjak masih kecil dan terus

paling praktis dalam memperoleh sesuatu yang

terpelihara hingga dewasa, maka hal ini dapat

sedang diurusnya dalam Kantor Pemerintahan.

mencegahnya dari perbuatan korupsi.

Parahnya anggapan ini seringkali dianggap bukan

Persoalan integritas individu juga sangat penting

bagian dari tindakan korupsi.

sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Taverne,


korupsi

Berikan aku hakim dan jaksa yang baik, maka

merupakan hal lumrah sangat memperburuk

dengan undang-undang yang buruk pun aku bisa

kondisi perkorupsian di Indonesia. Bila kita lihat

membuat putusan yang bagus. Artinya, semua

dari kegiatan keseharian masyarakat Indonesia,

keputusan itu ada pada diri masing-masing. Ketika

sangat sering kita temui praktik-praktik korupsi

seseorang yang menduduki jabatan adalah orang yang

yang terjadi di masyarakat. Sebagaimana contoh

memiliki integritas, maka ia akan mengubah keadaan

yang

dalam

yang buruk menjadi baik, namun sebaliknya, jika

pengurusan SIM, berkas perizinan atau lisensi yang

yang menduduki jabatan itu adalah orang yang tidak

diurus di Kantor Pemerintahan itu dianggap oleh

memiliki integritas, maka ia akan menjadikan keadaan

masyarakat Indonesia dengan hal yang wajar dan

yang sudah baik menjadi buruk.

Anggapan

telah

masyarakat

disampaikan

tentang

sebelumnya,

lumrah, dengan dalih biaya administrasi. Anggapan

Seseorang yang mempunyai integritas pasti

lumrah inilah yang akan terus mengembangkan

tidak mudah untuk melakukan tindakan korupsi.

dan membudayakan praktik korupsi di masyarakat.

Korupsi itu muncul karena adanya kemauan dan

Selain

masyarakat

kesempatan. Dan ketika seseorang yang mempunyai

menjadikan

integritas dihadapkan pada pilihan ini maka sesulit

itu

mengenai

minimnya
korupsi

pemahaman

inilah

yang

masyarakat secara tidak sadar melakukan praktik-

apapun

praktik korupsi.

seberapa besar kesempatan dan peluang yang ada, ia

Tradisi pemberian biasanya dilakukan secara

motif-motif

Adanya sifat serakah dalam diri manusia dan


himpitan ekonomi serta self esteem yang rendah

pemberian sudah menyalahi prinsip-prinsip tersebut,

juga dapat membuat seseorang melakukan korupsi.

maka

Pada mulanya, banyak argumen yang mengatakan

kemungkinan

tertentu.

kondisinya,

Jika

besar

tanpa

bagaimanapun

tetap tidak akan tergoda untuk melakukan korupsi.

sukarela kepada teman, saudara atau pihak-pihak yang


membutuhkan

keadaan,

pemberian

tersebut

termasuk suap dan uang pelicin. Inilah yang kemudian

bahwa

korupsi

adalah

persoalan

kemiskinan,

disebut dengan korupsi.

rendahnya gaji pegawai. Akan tetapi, koruptor lebih


banyak yang sudah memiliki gaji yang tinggi. Jika

2.2. Moralitas dan integritas individu

penyebabnya hanya kebutuhan mungkin pelaku


akan berhenti ketika kebutuhannya terpebuhi.

10

Namun penghasilan yang cukup saja masih dirasa

melakukan setiap aktivitasnya secara sukarela atau

kurang. Inilah sifat keserakahan dan ketamakan

bebas dari paksaan. Meskipun ada peluang dan

manusia yang ingin terus memperkaya diri.

kesempatan untuk melakukan korupsi, keputusan

Debat tentang penyebab korupsi biasanya

tetap ada pada tangan manusia itu sendiri, apakah

berputar-putar di antara faktor individu dan faktor

akan dimanfaatkan untuk kecurangan atau tetap

sistem. Persoalan antara peran dan pengaruh

memegang integritas untuk tidak berbuat curang.

individu dengan sistem dan struktur di masyarakat

Kita juga sering mendengar istilah the man behind

merupakan persoalan klasik dalam ilmu sosiologi.

the gun. Artinya suatu tindakan semua tergantung

Apakah sistem dan struktur yang menentukan

pada siapa yang memegang jabatan.

individu atau sebaliknya individu yang menentukan

Meskipun demikian, selama ini kita masih

sistem dan struktur.

sering melihat kasus-kasus korupsi masih banyak

William Perdue memberikan gambaran tiga

terjadi di Indonesia. Padahal Indonesia adalah

paradigm (cara pandang) dalam melihat interaksi

negara yang demokratis. Dengan menerapkan sistem

antara

dan

ketatanegaraannya yang demokratis diharapkan bisa

lingkungan. Pertama, order paradigm menganggap

memperkuat kontrol sosial terhadap pemerintah

manusia sebagai makhluk yang mementingkan diri

sehingga ada tanggung jawab atau akuntabilitas

sendiri, memiliki nafsu yang cenderung untuk

pemerintah terhadap masyarakat. Pers sudah bebas,

merugikan orang lain. Oleh karena itu, diperlukan

masyarakat juga sudah memilih presiden dan

aturan-aturan

tercipta

wakilnya serta pejabat-pejabat lain secara langsung,

keteraturan (order). Kedua paradigma pluralist atau

namun dalam kondisi seperti ini masih banyak

conventionalist melihat tindakan individu sebagai

didapati pejabat-pejabat yang melakukan korupsi.

intentional dan voluntary. Artinya, individu adalah

Dan disini terdapat dua kemungkinan jawaban.

makhluk yang bebas, bisa menentukan pilihan

Pertama,

secara

pejabat

individu

dengan

yang

rasional

sistem,

mengikat

menggunakan

struktur

agar

akalnya,

dan

melakukan setiap aktivitasnya secara sukarela /

rendahnya
negara

yang

integritas

moral

terpilih,

kedua,

individu
belum

sempurnanya sistem demokrasi kita.

bebas dari paksaan. Ketiga paradigma konflik yang

Dalam buku pendidikan anti korupsi untuk

lebih berkaitan dengan persoalan kelas. Bahwa

perguruan tinggi dirinci poin-poin faktor pendorong

manusia secara individual memang tidak bebas

korupsi dari dalam diri, sebagai berikut:

untuk memilih dia berada pada kelas yang mana dan

a.

Aspek Perilaku Individu

memiliki alat produksi (mode of production).

Sifat tamak/rakus manusia.

Namun demikian, manusia memiliki potensi untuk

Korupsi

yang

dilakukan

bukan

karena

mengubahnya dengan modal pengalaman, akal, dan

kebutuhan primer, yaitu kebutuhan pangan. Korupsi

pendidikan.

adalah kejahatan orang profesional yang rakus.

Jadi ketika ada seorang pejabat negara atau

Sudah berkecukupan, tapi serakah. Mempunyai

siapapun yang memiliki kesempatan untuk korupsi

hasrat

akan terlibat dalam perbuatan korup atau tidak, akan

penyebab korupsi pada pelaku semacam itu datang

tergantung

untuk

dari dalam diri sendiri, yaitu sifat tamak dan rakus.

menempatkan diri sebagai makhluk bebas. Manusia

Maka tindakan keras tanpa kompromi, wajib

bebas menentukan pilihannya secara rasional, dan

hukumnya.

pada

kemampuannya

11

besar

untuk

memperkaya

diri.

Unsur

yang tak pernah merasa cukup, dan

Moral yang kurang kuat

d) Exposure

Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah

(pengungkapan)

terkait

tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan itu bisa

hukuman yang dijatuhkan

berasal dari atasan, teman setingkat, bawahannya,

pelaku

atau pihak yang lain yang memberi kesempatan

Opportunities

kepada para

(kesempatan)

menjadi

penyebab korupsi di mana struktur dan sistem

untuk itu.

dengan

memberi peluang untuk melakukan korupsi, yang

Gaya hidup yang konsumtif.


Kehidupan

mendorong

di

gaya

kota-kota
hidup

bisa diperluas keadaan organisasi atau masyarakat


besar

seseorang

sering

yang

sedemikian

rupa

sehingga

terbuka

menjadi

kesempatan bagi seseorang untuk melakukan

konsumtif. Perilaku konsumtif bila tidak diimbangi

kecurangan. Struktur dan sistem ini terkait salah

dengan pendapatan yang memadai akan membuka

satunya dengan praktik-praktik penyelenggaraan

peluang seseorang untuk

negara

melakukan berbagai

di

mana

struktur

dan

sistem

tersebut

masih

tindakan untuk memenuhi hajatnya. Salah satu

penyelenggaraan

kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi.

memungkinkan adanya peluang untuk melakukan

b.

Aspek Sosial

negara

korupsi.

Perilaku korup dapat terjadi karena dorongan

Menurut Tanzi (1998), terdapat beberapa

keluarga. Kaum behavioris mengatakan bahwa

faktor yang dapat menyebabkan korupsi, terutama

lingkungan

kuat

dalam struktur dan sistem penyelenggaraan negara.

memberikan dorongan bagi orang untuk korupsi dan

Faktor ini terbagi menjadi dua, yaitu faktor

mengalahkan sifat baik seseorang yang sudah

langsung

menjadi traits pribadinya. Lingkungan dalam hal ini

langsung antara lain (1) regulasi dan otorisasi; (2)

malah

karakteristik dari sistem perpajakan; dan (3)

keluargalah

memberikan

memberikan

hukuman

yang

dorongan
pada

secara

dan

orang

bukan

ketika

dan

tidak

langsung.

Faktor-faktor

keputusan terkait pengeluaran publik.

ia

Pada beberapa negara berkembang, negara

menyalahgunakan kekuasaannya.

mengatur perizinan, lisensi, dan otorisasi terhadap


3. Struktur dan Sistem yang Memberikan Peluang

suatu hal yang harus diperoleh sebelum melakukan

Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa

atau melanjutkan hal-hal lainnya, contohnya

korupsi dapat disebabkan oleh faktor internal

membuka

(berkaitan dengan individu) dan faktor eksternal

investasi, mengemudi, membangun rumah, dan

(di luar individu), selain itu menurut Jack Bologne

lain sebagainya. Dengan adanya regulasi ini,

yang mengemukakan teori GONE (Bologne: 2006)

pemerintah

bahwa faktor yang menyebabkan korupsi meliputi :

kepada

a)

Greeds

(keserakahan),

terkait

dengan

otorisasi

sebuah

toko,

memberikan

pejabat

tertentu

terhadap

suatu

peminjaman

kekuatan
dalam

uang,

monopoli
memberikan

aktivitas.

Hal

ini

keserakahan dan kerasukan para pelaku

memungkinkan

korupsi

menunda pemberian otorisasi dan menggunakan

pejabat

untuk

menolak

atau

b) Opportunities (Kesempatan), terkait dengan

kewenangannya untuk membuka celah penyuapan

adanya peluang unutk melakukan korupsi

kepada siapa yang membutuhkan izin atau

Needs (Kebutuhan), terkait sikap

otorisasi. Survei pada beberapa negara berkembang

c)

mental

12

menyatakan bahwa perusahaan membutuhkan

publik ditujukan untuk memberikan kesempatan

waktu yang lama pada saat berurusan dengan

kepada beberapa individu atau kelompok politik

birokrasi

untuk mendapatkan komisi dari pihak yang

pemerintah.

Waktu

tersebut

dapat

dipersingkat dengan melakukan penyuapan.

terpilih melaksanakan proyek. Hal ini tentunya

Sistem perpajakan yang kurang baik juga

mengurangi produktivitas dari pengeluaran tersebut

dapat memberikan peluang terjadinya korupsi. Hal

dan menghasilkan proyek-proyek yang tidak sesuai

ini dapat terjadi ketika:

dengan kriteria pemilihan investasi seperti cost-

(1) peraturan perpajakan sulit dimengerti dan

benefit analysis karena pengeluaran publik tersebut

berbeda

telah diatur sedemikian rupa untuk dikorupsi.

sehingga wajib pajak membutuhkan asistensi

Korupsi juga banyak terjadi dalam pengadaan

dalam mematuhinya;

barang dan jasa, yaitu memungkinkan bagi oknum

dapat

diinterpretasikan

secara

pemerintah melakukan markup harga barang atau

(2) pembayaran pajak memerlukan kontak secara

jasa tertentu. Dalam area ini, kurangnya transparansi

teratur antara wajib pajak dan petugas pajak;


(3) gaji petugas pajak rendah;

dan pengendalian terhadap institusi yang efektif

(4) kegiatan korupsi di pihak petugas pajak

merupakan faktor utama yang menyebabkan korupsi.

diabaikan, tidak mudah dideteksi, atau ketika

Selain itu, terdapat faktor tidak langsung yang


dapat menyebabkan korupsi antara lain (1) tradisi

terdeteksi hanya dihukum secara ringan;

dan kualitas birokrasi; (2) tingkat gaji pegawai

(5) prosedur administratif tidak transparan dan


tidak

dapat

diawasi

dalam

sektor publik; (3) pengendalian institusional; dan (4)

administrasi

transparansi peraturan, hukum, dan proses.

perpajakan;
dan

Kualitas birokrasi berbeda pada tiap negara.

seperti

Pada beberapa negara, bekerja pada sektor publik

pemberian insentif pajak, keputusan tentang

menjadi sebuah kebanggaan dan meningkatkan

kewajiban pajak, seleksi audit, dan sebagainya;

status sosial, sementara pada bebera. pa tidak begitu.

dan

Max Weber (1947) menyatakan bahwa tradisi dan

(6) petugas pajak memiliki wewenang


keputusan-keputusan

penting,

(7) kendali pemerintah (prinsipal) yang rendah

efeknya pada kebanggaan yang dimiliki seorang

terhadap agen yang memiliki fungsi perpajakan

yang bekerja dalam pemerintahan dapat menjelaskan

ini.

bahwa, ceteris paribus, beberapa birokrasi lebih

Laporan dari beberapa negara mengindikasikan

efisien dan lebih sedikit rentan terhadap korupsi


dibanding yang lain.

bahwa tidak biasanya pelamar pekerjaan dalam


administrasi pajak dan bea cukai yang bergaji rendah

Tingkat penghasilan yang dibayarkan kepada

berjumlah besar hal ini mengacu pada kemungkinan

pegawai sektor publik juga dapat menjadi faktor

pelamar pekerjaan mengetahui bahwa pekerjaan ini

penyebab korupsi. Sebagai contoh, Assar Lindbeck

memberikan

(1998) mengungkapkan bahwa tingkat korupsi yang

peluang

atau

kesempatan

untuk

rendah di Swedia pada saat itu sebagian besar

memperoleh pendapatan tambahan.

didapatkan dari kenyataan bahwa para pejabat

Korupsi juga dapat disebabkan dengan adanya


publik

negara mempunyai penghasilan 12-15 kali lebih

merupakan aktivitas yang memiliki kemungkinan

tinggi daripada penghasilan pekerja industri pada

tinggi untuk korupsi. Selama ini, proyek-proyek

umumnya. Hubungan antara tingkat penghasilan

pengeluaran

publik.

Proyek-proyek

13

dengan indeks korupsi telah dibuktikan secara

peningkatan mutu SMP menunjukkan adanya 2

empiris bahwa semakin tinggi tingkat penghasilan,

kasus 6 IHPS I Tahun 2013 Badan Pemeriksa

tingkat korupsi semakin rendah.

Keuangan Buku I IHPS kerugian negara/daerah


senilai

Pengendalian dan pengawasan yang paling

Rp1.351,17

juta

yaitu

kasus

belanja

efektif pada umumnya adalah dari intern institusi.

perjalanan dinas fiktif senilai Rp1.092,11 juta dan

Hal

pertama.

biaya perjalanan dinas ganda dan/atau melebihi

Supervisor yang jujur dan efektif, kantor audit yang

standar yang ditetapkan senilai Rp259,06 juta. Hal

baik, dan aturan etika perilaku yang jelas seharusnya

tersebut antara lain terjadi karena verifikasi,

mampu mengurangi atau

mendeteksi aktivitas

pengawasan, dan pengendalian kegiatan perjalanan

kecurangan. Prosedur yang baik dan transparan

dinas tidak optimal. Direktorat Pembinaan SMP

dapat membuat kegiatan pengendalian menjadi lebih

telah melakukan penyetoran ke kas negara senilai

mudah.

dapat

Rp761,93 juta yaitu atas pemahalan harga tiket

memberikan peluang bagi individu untuk melakukan

senilai Rp230,78 juta dan tiket tidak sesuai dengan

tindakan menyimpang. Pada beberapa negara,

manifes senilai Rp531,15 juta.

ini

merupakan

Ketiadaan

lini

pertahanan

pengendalian

ini

pengendalian intern tidak dilakukan, sehingga


b) Pengajuan SPM Palsu pada Satker SNVT

korupsi lebih banyak ditemukan secara tidak sengaja


atau dari laporan orang luar, seperti media.
Terakhir,

kurangnya

Kementerian Pekerjaan Umum.

transparansi

dalam
Kasus ini bermula dari penerbitan Surat Perintah

peraturan, hukum dan proses akan menciptakan


lahan

untuk

korupsi.

membingungkan,

Peraturan

dokumen

Membayar (SPM) bernomor 00155/440372/XI/2008

seringkali

penjelasnya

tanggal 19 November 2008 yang ditandatangani salah

tidak

seorang pejabat pada Satker (SNVT) lingkup Ditjen

tersedia secara umum, dan dalam waktu tertentu

Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum yang

peraturan diubah tanpa diumumkan dengan baik.

berinisial SUP senilai Rp9,95 miliar atas nama PT.

Hukum dan regulasi ditulis dengan gaya bahasa yang


hanya

ahli

hukum

dapat

memahaminya

Surya Cipta Cemerlang (SCC). Dalam hal ini pihak

dan

ketiga adalah PT SSC selaku rekanan PU. Diketahui

seringkali secara konsep kurang jelas sehingga

sebelum

terdapat berbagai macam interpretasi. Prosedur

menandatangani 60 blangko SPM kosong.

kebijakan juga masih kurang jelas, sehingga sulit


untuk memahami proses yang harus dilakukan

c)

sebelum mencapai keputusan. Hal ini memberikan

Kasus Korupsi di Unair


Kasus mark up senilai 5,8 M terjadi karena dasar

kesempatan bagi pihak tertentu untuk mengambil

perhitungan harga perkiraan sendiri tidak jelas,

keuntungan yang dapat menyebabkan kerugian bagi

spesifikasi mengarah kepada merk tertentu, dan proses

negara.
4.

berangkat menunaikan ibadah haji SUP

pembentukan harga ditentukan oleh sole agent

Contoh Kasus Korupsi dan Penyebabnya

tertentu, sehingga rekanan terindikasi memperoleh


keuntungan tidak wajar.

a) Korupsi Perjalanan Dinas pada Kementerian


Pendidikan dan Kebudayaan.

4.

Pertanggungjawaban perjalanan dinas kegiatan

KESIMPULAN
Berbagai

workshop pada program perluasan akses dan

macam

langkah-langkah

pemberantasan korupsi telah diagendakan pemerintah

14

setiap

periodenya.

Langkah-langkah

tersebut

http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNACT874.pdf

diwujudkan dalam bentuk regulasi anti korupsi

[diakses pada 29/03/2014]

maupun pembentukan komisi khusus pemberantasan

[4] Badan

Pemeriksa

Keuangan.

Intisari

Hasil

korupsi (KPK). Namun, tidak kalah penting dalam

Pemeriksaan Semester I tahun 2013, Jakarta, 2004.

pemberantasan korupsi adalah dengan mendeteksi

[5] Dani Prabowo. Idealnya KPK perlu 26.000

apa saja hal-hal potensial yang dapat menyebabkan

Penyidik untuk Awasi PNS, kompas.com. 29

seseorang melakukan korupsi. Penyebab-penyebab

Oktober

tersebut dikategorikan menjadi dua jenis yaitu faktor

http://nasional.kompas.com/read/2013/08/29/14105

internal dan faktor eksternal.

10/Idealnya.KPK.Perlu.26.000.Penyidik.untuk.Aw

Faktor

internal

berarti

penyebab

baik

persepsi

terhadap

korupsi

.[Tersedia:

asi.PNS] [Diakses pada 29/03/2015]

korupsi

datang dari dalam diri si pelaku dan ini terkait


dengan

2014

[6] Deloitte & Touche LLP dan Dr. Patchin Curtis &

dan

Mark

Carey.

Risk

Management

moralitas maupun integritas moral individu yang

Practise,coso.org.

bersangkutan. Faktor eksternal meliputi faktor di

https://www2.deloitte.com/content/dam/Deloitte/gl

luar

obal/Documents/Governance-Risk-

diri pelaku yang memberi peluang bagi

munculnya

perilaku

korupsi

dan

sistem

dan

Oktober

2012.

in

[Tersedia:

Compliance/dttl-grc-riskassessmentinpractice.pdf]

struktur hukum, politik, corporate culture, sistem

[Diakses pada 30/03/2015]

dan struktur sosial, dan sistem pendidikan.

[7] G j a l t

Dengan mengetahui sebab-sebab dari korupsi

De

Graaf.

Causes

of

Corruption:

Towards a Conceptual Theory of Corruption.

kemudian dapat diputuskan instumen yang tepat

2007.

untuk melawan korupsi. Penguatan sistem dan

unpan1.un.org/intradoc/groups/public/documents/u

struktur hukum, peningkatan pengawasan yang

n-dpadm/unpan049603.pdf]

akuntabel, struktur sosial yang dibenahi, mentalitas

29/03/2015]

yang diperbaiki, kestabilan ekonomi, dan berbagai


opsi

solusional

lain

dapat

dilahirkan

[Tersedia:

[diakses

pada

[8] Jeremy Pope, Strategi Memberantas Korupsi,

apabila

Penerbit TI, Jakarta, 2006

diketahui sebab dari korupsi, tidak hanya secara

[9] Komisi Pemberantasan Korupsi. Siaran Pers:

mikro namun juga dalam skala yang lebih besar.

KPK Umumkan Survei Integritas Sektor Publik


2013, kpk.go.id, 16 Desember 2013. [Tersedia

5.

http://www.kpk.go.id/id/berita/siaran-pers/1574-

DAFTAR REFERENSI

kpk-umumkan-survei-integritas-sektor-publik-

[1] Azyumardi Azra, dkk, Pendidikan Antikorupsi

2013] [Diakses pada 29/03/2015]

di Perguruan Tinggi, Center for the Study of

[10]Nur Syam. Indonesia di Tengah Problem

Religion and Culture (CSRC), Jakarta, 2011.

Keterpurukan: Memotong Tradisi Korupsi. Tanpa

[2] Association of Certified Fraud Examiners. The

tahun.

Fraud

[11]Robert

triangle.aspx] [diakses pada 29/03/2015]

Management

Klitgaard.

International

Cooperation

Against Corruption, Finance & Development,

[3] David Chapman. Corruption and the Education


USAID

http://eprints.uinsby.ac.id/]

[diakses pada 29/03/2015]

Triangle.[Tersedia:http://www.acfe.com/fraud-

Sector,

[Tersedia:

1998.[Tersedia:https://www.imf.org/external/pubs

Systems

/ft/fandd/1998/03/pdf/klitgaar.pdf] [Diakses pada

International, Washington D.C., 2002. [Tersedia

15

29/03/2015]
[12]Tanpa Nama. Koruptor Masih Dihukum Ringan
Vonis Ringan tak Berpihak pada Pemberantasan
Korupsi,

republika.com.

17

Maret

2015.

[Tersedia:http://www.republika.co.id/berita/koran
/hukum-koran/15/03/17/nlcfj0-koruptor-masihdihukum-ringan-vonis-ringan-tak-berpihak-padapemberantasan-korupsi]

[diakses

pada

29/03/2015]
[13] Tri Susanto Setiawan.Indonesia Terkorup di Asia
Tenggara, ICW: Tak Aneh,
Oktober

tempo.co, 16

2014.

[Tersedia:

http://www.tempo.co/read/news/2014/10/16/07
8614728/Indonesia-Terkorup-di-AsiaTenggara-ICW-Tak-Aneh][Diakses
29/03/2015]
[14]Yogi Gustaman. Tiga Lembaga Paling Korup
Menurut KPK,tribunnews.com, 16 September
2013.[Tersedia:
http://www.tribunnews.com/nasional/2013/09/1
6/ini-tiga-lembaga-paling-korup-menurut-kpk

16