Anda di halaman 1dari 9

Shahihkah Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma

Tentang Bolehnya Nyanyian dan Alat Musik

Penulis : Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma:


‫ِ ِمِطَأ َءاَنِف ُناَّسَح َّشَر ْدَقو َجَرَخ َمَّلَسَو ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ِ للا َلوُسَر َّنَأ‬
‫ٌةيِراَج ْمُ َنْيَبَو ِنيَطاَمِس َمَّلَسَو ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ِ للا ِلوُسَر ُباَحْصَأَو‬
‫ُنيِريِس اَ ـَل ُلاَقُي َناَّسحِل‬، ‫اَ ِئاَنِغ يِف ُلوُقَت َيِ َو ْمِ يِّنَغُت اَ َل ٌرَ ْزِم اَ َعَمَو‬:
َ‫ٍجَرَح ْنِم ُتْوَ َل ْنإ * ْمُكَحْيَو َّيَلَع ْل‬. ‫ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ِ للا ُلوُسَر َمَّسَبَتَف‬
‫َلاَقَو َمَّلَسَو‬: ‫َجَرَح َال‬
Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ketika Hassan1
radhiyallahu 'anhu telah menyirami halaman tempat tinggalnya, sementara para
sahabat radhiyallahu 'anhum duduk dua shaf, di tengah-tengah mereka budak
perempuan milik Hassan radhiyallahu 'anhu bernama Sirin membawa mizhar-nya
(sejenis alat musik berdawai seperti kecapi) berdendang untuk para sahabat.
Dalam nyanyiannya dia mengatakan: “Celaka! Apakah ada atasku * dosa jika
aku berdendang?” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum
seraya bersabda: “Tidak mengapa (tidak ada dosa atasmu).”
Sepintas, siapapun yang membaca hadits ini akan berkesimpulan bahwa
nyanyian dan alat musik adalah sesuatu yang wajar dan boleh-boleh saja.
Demikian dipahami dari zhahir hadits ini. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
memberikan hukum atas perbuatan budak Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu
dengan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam: “La haraj” (tidak mengapa),
yang menunjukkan kebolehan apa yang dilakukan Sirin, budak perempuan
Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu.
Dalam hadits ini juga terdapat taqrir (persetujuan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam kepada para sahabat radhiyallahu 'anhum yang menikmati mizhar dan
mendengarkan alunan suara Sirin. Sehingga dipahami bahwa perbuatan
tersebut adalah perkara mubah, sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu ushul
bahwa persetujuan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atas perbuatan yang
dilakukan di hadapan beliau menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut.
Para pembaca rahimakumullah (semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati
Anda). Sesungguhnya hadits ini adalah sekian dari syubhat-syubhat yang
dijadikan sandaran oleh hati-hati berpenyakit untuk membolehkan nyanyian dan
alat musik. Akan tetapi benarkah hadits ini adalah dalil untuk mereka? Shahihkah
penyandaran hadits ini kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Tinjauan Sanad Hadits


Ibnu ‘Asakir2 menyebutkan hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma di
atas dalam kitab beliau Tarikh Dimasyq (12/415) dari jalan Abu Uwais, dari Al-
Husain bin Abdillah, dari ‘Ikrimah, dari Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib
radhiyallahu 'anhuma.
Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan
tergolong hadits yang maudhu’ (palsu). Abul Faraj Ibnul Jauzi memasukkannya
dalam kitab beliau Al-Maudhu’at (3/115-116) pada bab Fi Ibahatil Ghina (Bab
Tentang Bolehnya Nyanyian). Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
rahimahullahu dalam takhrij beliau terhadap risalah Ada`u Ma Wajaba Min
Bayani Wadh’il Wadhdha’ina Fi Rajab (hal. 150) mengatakan bahwa hadits ini
bathil3.
Batilnya hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma dapat diketahui dari beberapa
tinjauan.
Pertama, kelemahan sanadnya.
Kedua, penyelisihannya terhadap Al-Qur`an.
Ketiga, penyelisihannya terhadap As-Sunnah yang shahih.
Keempat, hadits ini sangat bertentangan dengan keadaan sahabat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik, yang sangat menjaga
batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sangat jauh dari perkara-
perkara yang diharamkan.
Empat tinjauan inilah yang insya Allah akan dibahas pada kesempatan kali ini.
Diawali dari tinjauan sanad hadits, kita dapatkan dalam hadits ini dua orang
perawi yang diperbincangkan yaitu Al-Husain bin ‘Abdillah dan Abu Uwais.
Perawi pertama, dia adalah Al-Husain bin ‘Abdillah bin ‘Ubaidillah bin ‘Abbas bin
‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi Al-Madani. Berikut kita nukilkan hukum ulama Al-
Jarh wa At-Ta’dil tentang Al-Husain bin ‘Abdillah.4
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata dalam riwayat Al-Atsram:
“Lahu asy-ya`u munkarah (Dia mempunyai beberapa perkara mungkar).”
Yahya bin Ma’in rahimahullahu berkata: “Huwa dha’if (Dia lemah).”
Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullahu berkata: “Laisa bi qawiyyin (Dia bukanlah
orang yang kuat).”
Abu Hatim Ar-Razi rahimahullahu berkata: “Dha’iful hadits (Haditsnya lemah).”5
An-Nasa`i rahimahullahu berkata: “Matruk (Ditinggalkan).”6
Al-Jauzajani rahimahullahu berkata: “Laa yusytaghal bi haditsihi (Tidak
disibukkan dengan haditsnya).”7
Ibnu Hibban rahimahullahu berkata: “Yuqallibul asanid wa yarfa’ul marasil (Dia
membolak-balik sanad dan me-marfu’-kan yang mursal).”8
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Dha’if (lemah).”9
Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata dalam kitabnya Al-Maudhu’at (3/116) –setelah
menyebutkan hadits di atas–: “Adapun Al-Husain, ‘Ali bin Al-Madini berkata
tentangnya: “Taraktu haditsahu (Aku meninggalkan haditsnya).”10
An-Nasa`i berkata: “Matrukul hadits (Haditsnya ditinggalkan).” As-Sa’di berkata:
“Laa yusytaghal bi haditsihi (Tidak disibukkan dengan haditsnya).”
Dari perkataan-perkataan ulama Al-Jarh wa At-Ta’dil di atas didapatkan bahwa
mereka bersepakat akan kedhai’fan (kelemahan) Al-Husain. Hal ini tentunya
mengakibatkan lemah dan tertolaknya hadits yang diriwayatkannya. Oleh karena
itulah Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu dalam kitab beliau Mizanul I’tidal
(2/292) memasukkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma ini sebagai salah
satu dari kemungkaran-kemungkaran hadits Al-Husain bin ‘Abdillah.
Tentang perawi kedua yaitu Abu Uwais, berkata Ibnul Jauzi: “ Abu Uwais,
namanya adalah ‘Abdullah bin ‘Abdillah bin Uwais. Ahmad (bin Hanbal) dan
Yahya (bin Ma’in) berkata: “Dha’iful hadits (Haditsnya lemah).” Dan Yahya
pernah berkata: “Kana yasriqul hadits (Adalah dia mencuri hadits).” (Al-
Maudhu’at 3/116)
Adz-Dzahabi berkata tentang Abu Uwais: “Laisa biqawiyyin (Dia bukan orang
yang kuat).”11
Demikian secara singkat beberapa nukilan ucapan ulama tentang kedha’ifan Al-
Husain dan Abu Uwais. Wallahu a’lam.

Penyelisihan terhadap Al-Qur`an


Para pembaca rahimakumullah (semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati
Anda).
Lemahnya hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma bukan hanya ditinjau dari
sisi sanad. Penyelisihan hadits ini terhadap Al-Qur`an dan hadits shahih semakin
memperjelas kebatilannya. Al-Qur`an menunjukkan haramnya musik dan alat-
alat musik. Demikian pula sabda-sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
yang shahih.
Di antara ayat yang menunjukkan haramnya musik adalah firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:
‫َكِلِجَرَو َكِلْيَخِب ْمِ ْيَلَع ْبِلْجَأَو َكِتْوَصِب ْمُ ْنِم َتْعَطَتْسا ِنَم ْزِزْفَتْساَو‬
‫اًروُرُغ َّالِإ ُناَطْيَّشلا ُمُ ُدِعَي اَمَو ْمُ ْدِعَو ِدَالوَألْاَو ِلاَوْمَألْا يِف ْمُ ْكِراَشَو‬
“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suara
(ajakan)mu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan
pasukanmu yang berjalan kaki, dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan
anak-anak serta beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan
kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (Al-Isra`: 64)
Mujahid rahimahullahu mengatakan bahwa makna (‫ )ڭ‬adalah perkataan sia-sia
dan nyanyian. Demikian Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu meriwayatkan
perkataan Mujahid rahimahullahu dalam tafsirnya.12
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
‫ٍمْلِع ِرْيَغِب ِ للا ِليِبَس ْنَع َّلِضُيِل ِثيِدَحْلا َوْ َل يِرَتْشَي ْنَم ِساَّنلا َنِمَو‬
‫ٌنيِ ُم ٌباَذَع ْمُ َل َكِئَلوُأ اًوُزُ اَ َذِخَّتَيَو‬
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak
berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan
menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang
menghinakan.” (Luqman: 6)
Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata dalam tafsir
beliau: “Yang dimaksud dengan ‘perkataan yang tidak berguna’ adalah
perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalangi hati dari tujuan
yang mulia. Maka masuk di dalamnya seluruh jenis perkataan haram, yang sia-
sia dan batil, ucapan-ucapan yang tidak masuk akal dari perkataan yang
menjerumuskan kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. (Juga)
perkataan orang-orang yang menolak kebenaran dan berdebat dengan kebatilan
untuk menghancurkan al-haq, ghibah, namimah (adu domba), dusta, cercaan
dan celaan. (Termasuk juga) nyanyian, dan alat-alat musik,13 dan perkara-
perkara melalaikan yang tidak ada manfaatnya, baik dunia atau agama.” (Taisir
Al-Karimir Rahman, 6/150)
As-Sunnah Ash-Shahihah Bertentangan dengan Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
'anhuma
Di antara hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menunjukkan haramnya
musik dan alat musik adalah yang diriwayatkan dari sahabat Abu Malik Al-Asy’ari
radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
‫َفِزاَعَمـْلاَو َرْمَخْلاَو َريِرَحْلاَو َرِحْلا َنوُّلِحَتْسَي ٌماَوْقَأ يِتَّمُأ ْنِم َّنَنوُكَيَل‬
“Sungguh akan ada dari umatku sekelompok kaum yang menghalalkan zina,
sutera, khamr, dan alat-alat musik.”
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu meriwayatkan hadits ini secara mu’allaq
dalam Ash-Shahih. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban rahimahullahu dalam
Shahih-nya, juga yang lainnya dengan sanad yang shahih.14
Hadits yang mulia ini sangat tegas menyatakan haramnya alat musik
sebagaimana haramnya zina, khamr, dan sutera (bagi laki-laki). Hadits ini
sekaligus menjadi bukti dari sekian banyak bukti kenabian, di mana Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan perkara yang belum terjadi, kemudian
terjadi seperti apa yang beliau kabarkan. Betapa banyak kaum muslimin
menghalalkan musik dan alat-alat musik dengan berbagai model dan alirannya.
Kenyataan yang menimpa umat ini sangat menyedihkan. Dan lebih menyedihkan
lagi, ketika orang yang menghalalkannya adalah sosok yang mengaku sebagai
da’i dan ustadz, kemudian menjual dagangannya dengan menyuguhkan hadits-
hadits palsu yang tidak sah dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Subhanallah! Tidakkah mereka takut dengan ancaman Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dalam hadits yang mutawatir:
‫ِراَّنلا َنِم ُ َدَعْقَم ْأَّوَبَتَيْلَف َّيَلَع َبَذَك ْنَم‬
“Barangsiapa berdusta atasnamaku hendaknya dia menyiapkan tempat
duduknya di neraka.”15
Hadits kedua di antara hadits-hadits yang mengharamkan musik dan alat musik
adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
‫ِناَنْوُعْلَم ِناَتْوَص‬: ‫ٍةَبْيِصُم َدْنِع ٍلْيَو ُتْوَصَو ٍةَمْعِن َدْنِع ٍراَمْزِم ُتْوَص‬
“Dua suara yang dilaknat: suara mizmar (seruling) di kala suka, dan suara
(ratapan) celaka di kala musibah.”16
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Dalam hadits terdapat
pengharaman alat musik, karena mizmar adalah alat (musik) yang ditiup. Hadits
ini merupakan salah satu dari banyak hadits yang membantah pembolehan Ibnu
Hazm terhadap alat-alat musik.”17

Kemuliaan Sahabat Membantah Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma


Para pembaca rahimakumullah. Seorang muslim yang mengenal kesempurnaan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kemuliaan para sahabat beliau
radhiyallahu 'anhum, akan merasakan keanehan dan keganjilan pada hadits
yang kita bahas ini. Bagaimana tidak? Hadits tersebut mengandung celaan
terhadap sahabat radhiyallahu 'anhum, bahkan kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam.
Inilah sisi keempat yang dengannya kita mengenal kebatilan hadits yang kita
bahas. Yaitu dengan membandingkan keadaan sahabat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam yang sangat berlawanan dengan apa yang ditunjukkan oleh
hadits.
Telah menjadi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya sahabat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah generasi terbaik umat ini,
sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
‫ْمُ َنوُلَي َنيِذَّلا َّمُث ْمُ َنوُلَي َنيِذَّلا َّمُث يِنْرَق ِساَّنلا ُرْيَخ‬
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi
sesudahnya (tabi'in), kemudian generasi sesudahnya (tabi'ut tabi'in)."18
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata: “Yang wajib diyakini
tentang sahabat, bahwasanya mereka adalah umat yang paling mulia dan
generasi terbaik. Karena mereka adalah pendahulu (dalam kebaikan), memiliki
kekhususan berupa menyertai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, berjihad
bersama beliau, mengemban syariat dari beliau, kemudian menyampaikannya
kepada orang-orang sesudah mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah memuji mereka dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
‫ٍناَسْحِإِب ْمُ وُعَبَّتا َنيِذَّلاَو ِراَصْنَألْاَو َنيِرِجاَ ُمْلا َنِم َنوُلَّوَألْا َنوُقِباَّسلاَو‬
‫َنيِدِلاَخ ُراَ ْنَألْا اَ َتْحَت يِرْجَت ٍتاَّنَج ْمُ َل َّدَعَأَو ُ ْنَع اوُضَرَو ْمُ ْنَع ُ للا َيِضَر‬
‫ُميِظَعْلا ُزْوَفْلا َكِلَذ اًدَبَأ اَ يِف‬
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari orang-
orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Itulah kemenangan yang
besar." (At-Taubah: 100)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
‫ْمُ اَرَت ْمُ َنْيَب ُءاَمَحُر ِراَّفُكْلا ىَلَع ُءاَّدِشَأ ُ َعَم َنيِذَّلاَو ِ للا ُلوُسَر ٌدَّمَحُم‬
‫ِرَثَأ ْنِم ْمِ ِ وُجُو يِف ْمُ اَميِس اًناَوْضِرَو ِ للا َنِم ًالْضَف َنوُغَتْبَي اًدَّجُس اًعَّكُر‬
‫ُ َأْطَش َجَرْخَأ ٍعْرَزَك ِليِجْنِإلْا يِف ْمُ ُلَثَمَو ِةاَرْوَّتلا يِف ْمُ ُلَثَم َكِلَذ ِدوُجُّسلا‬
‫َف‬.‫ُمِ ِب َظيِغَيِل َعاَّرُّزلا ُبِجْعُي ِ ِقوُس ىَلَع ىَوَتْساَف َظَلْغَتْساَف ُ َرَز‬
‫ َنيِذَّلا ُ للا َدَعَو َراَّفُكْلا‬.‫اًميِظَع اًرْجَأَو ًةَرِفْغَم ْمُ ْنِم ِتاَحِلاَّصلا اوُلِمَعَو اوُنَم‬
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.
Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.
Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti
tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu
kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu
menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan
hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah
menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang
shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath: 29)19
Perhatikan sifat-sifat mulia yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada
sahabat dalam dua ayat di atas. Tidak ada lagi keraguan akan kemuliaan
sahabat dan tingginya derajat mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sejarah Islam turut membuktikan bahwa mereka adalah generasi terdepan umat
ini. Waktu mereka dipenuhi dengan mempelajari ilmu, mengamalkan dan
menyebarkannya. Mereka adalah mujahidin yang senantiasa berlaga di medan
jihad untuk menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala di muka bumi.
Gelapnya malam mereka lalui dengan bertaubat dan berdiri di hadapan Allah
Subhanahu wa Ta'ala, membaca dan mentadaburi ayat-ayat-Nya. Demikianlah
sejarah bertutur, mereka adalah generasi termulia yang paling bersemangat
dalam kebaikan serta paling jauh dari perkara yang tidak Allah Subhanahu wa
Ta'ala ridhai.
Adalah suatu hal yang mustahil bagi sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam yang waktu mereka dipenuhi dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala, kemudian mereka membuang waktu dengan perbuatan sia-sia
bahkan diharamkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sangat mustahil, sahabat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang demikian mulianya, duduk bershaf
menyia-nyiakan waktu dengan perkara haram, memandang wanita, menikmati
alunan lagu dan alat musik dari seorang perempuan yang tidak halal di tengah-
tengah mereka. Demi Allah, hal ini adalah kedustaan yang nyata! Dan lebih tidak
mungkin lagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membiarkan kemungkaran
yang tampak di hadapan beliau.
Di akhir pembahasan, sejenak kita buka lembaran kehidupan sahabat
radhiyallahu 'anhum bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
penuh dengan kemuliaan. Sebuah sejarah yang setiap muslim tidak pernah
bosan membacanya.
Al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats As-Sijistani rahimahullahu dalam
kitabnya As-Sunan, meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah
radhiyallahu 'anhu. Beliau radhiyallahu 'anhu menceritakan di antara kisah
kesungguhan sahabat dalam beribadah dan berjihad fi sabilillah.
‫َدَمْحَأ َدْنِع ٍةَياَوِر يِف[ ٍرِباَج ْنَع‬: ‫ِ للا ِلوُسَر ِباَحْصَأ ِداَ ِتْجا َنِم ُرُكْذَي اَمْيِف‬
‫َلاَق ]ِةَداَبِعْلا يِف ملسو يلع للا ىلص‬: ‫ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ِ للا ِلوُسَر َعَم اَنْجَرَخ‬
‫َنيِكِرْشُمْلا َنِم ٍلُجَر َةَأَرْما ٌلُجَر َباَصَأَف ِعاَقِّرلا ِتاَذ ِةَوْزَغ يِف يِنْعَي َمَّلَسَو‬
‫َفَلَحَف‬: ‫ٍدَّمَحُم ِباَحْصَأ يِف اًمَد َقيِرَ ُأ ىَّتَح َيِ َتْنَأ َال ْنَأ‬. ‫َرَثَأ ُعَبْتَي َجَرَخَف‬
‫َمَّلَسَو ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ُّيِبَّنلا َلَزَنَف َمَّلَسَو ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ِّيِبَّنلا‬
‫َلاَقَف اًلِزْنَم‬: ‫َنِم ٌلُجَرَو َنيِرِجاَ ُمْلا َنِم ٌلُجَر َبَدَتْناَف ؟اَنُؤَلْكَي ٌلُجَر ْنَم‬
‫ِراَصْنَأْلا‬، ‫َلاَقَف‬: ‫ِبْعِّشلا ِمَفِب اَنوُك‬. ‫َلاَق‬: ‫ِمَف ىَلِإ ِنَالُجَّرلا َجَرَخ اَّمَلَف‬
‫ىَأَر اَّمَلَف ُلُجَّرلا ىَتَأَو يِّلَصُي ُّيِراَصْنَأْلا َماَقَو ُّيِرِجاَ ُمْلا َعَجَطْضا ِبْعِّشلا‬
‫ِمْوَقْلِل ٌةَئيِبَر ُ َّنَأ َفِرَع ُ َصْخَش‬، ‫ُ َعَزَنَف ِ يِف ُ َعَضَوَف ٍمْ َسِب ُ اَمَرَف‬
‫ُ ُبِحاَص َ َبَتْنا َّمُث َدَجَسَو َعَكَر َّمُث ٍمُ ْسَأ ِةَثَالَثِب ُ اَمَر ىَّتَح‬، ‫َفِرَع اَّمَلَف‬
‫َبَرَ ِ ِب اوُرِذَن ْدَق ْمُ َّنَأ‬، ‫َلاَق ِمَّدلا َنِم ِّيِراَصْنَأْلاِب اَم ُّيِرِجاَ ُمْلا ىَأَر اَّمَلَو‬:
‫ِ للا َناَحْبُس‬، ‫ ؟ىَمَر اَم َلَّوَأ يِنَتْ َبْنَأ َالَأ‬:‫اَ ُؤَرْقَأ ٍةَروُس يِف ُتْنُك َلاَق‬، ‫ْمَلَف‬
‫اَ َعَطْقَأ ْنَأ َّبِحُأ‬
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu [tentang kesungguhan sahabat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam beribadah]20, beliau berkata:
Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang
Dzatur Riqa’, (ketika itu) seorang sahabat membunuh perempuan –istri dari
seorang musyrikin–21, maka dia (laki-laki musyrik tersebut) bersumpah tidak
akan berhenti (mengejar) hingga menumpahkan darah pada sahabat
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pergilah dia mengikuti jejak Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka singgahlah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
di suatu tempat, kemudian beliau bersabda: “Siapakah yang akan menjaga
kami?” Bangkitlah seorang sahabat dari Muhajirin dan seorang dari Anshar.22
Beliau bersabda: “Berjagalah di ujung syi’b (lembah antara dua bukit).” Tatkala
keduanya telah pergi menuju ujung lembah di antara dua bukit, tidurlah sahabat
dari Muhajirin, sedangkan sahabat dari Anshar tadi berdiri shalat. (Di saat itu)
datanglah laki-laki musyrik melihat sahabat Anshar (dalam keadaan shalat), dan
tahu bahwa dia adalah penjaga kaum. (Maka) dilepaskanlah anak panah hingga
mengenai sahabat Anshar. Lantas (oleh sahabat yang terpanah) dicabutnya
anak panah itu, hingga tiga kali terkena anak panah. Kemudian sahabat Anshar
itu ruku’ dan sujud, hingga bangunlah sahabatnya (dari Muhajirin). Orang
musyrik inipun tahu bahwasanya sahabat telah bersiaga, maka dia pun lari.
Berkatalah si Muhajir ketika melihat darah pada sahabatnya: “Subhanallah,
mengapa engkau tidak bangunkan aku ketika engkau baru dipanah?” Sahabat
Anshar itu menjawab: “Aku ketika itu sedang membaca sebuah surat, dan aku
tidak suka untuk memotongnya.”23
Perang Dzatur Riqa’ terjadi pada tahun ke-4 Hijriah demikian dikatakan Ibnu
Hisyam dalam Sirah-nya. Disebut perang Dzatur Riqa’ karena para sahabat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika itu banyak yang membalut kaki-
kaki mereka yang terluka dalam peperangan, sebagaimana ditunjukkan riwayat
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya, dari sahabat Abu
Musa Al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu. Beliau radhiyallahu 'anhu berkata:
‫ٍرَفَن ُةَّتِس ُنْحَنَو ٍةَوْزَغ يِف َمَّلَسَو ِ ْيَلَع ُ للا ىَّلَص ِّيِبَّنلا َعَم اَنْجَرَخ‬
‫يِراَفْظَأ ْتَطَقَسَو َياَمَدَق ْتَبِقَنَو اَنُماَدْقَأ ْتَبِقَنَف ُ ُبِقَتْعَن ٌريِعَب اَنَنْيَب‬،
‫َقَرِخْلا اَنِلُجْرَأ ىَلَع ُّفُلَن اَّنُكَو‬، ‫اَّنُك اَمِل ِعاَقِّرلا ِتاَذ َةَوْزَغ ْتَيِّمُسَف‬
‫اَنِلُجْرَأ ىَلَع ِقَرِخْلا َنِم ُبِصْعَن‬
“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah
peperangan, dan kami enam orang memakai satu onta bergantian dalam
mengendarainya. Kaki-kaki kami terluka, dan terluka juga kakiku hingga lepas
kuku-kukunya. Kami ketika itu membalut kaki-kaki kami dengan kain-kain, maka
dinamailah perang tersebut dengan perang Dzatur Riqa’ karena apa yang kami
lakukan, (yaitu) membalut kaki-kaki kami dengan kain.”24
Lihatlah pembaca rahimakumullah, sebagian dari perjuangan yang sangat
menakjubkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan generasi terbaik
umat ini. Berjalan siang malam menempuh sahara dengan segala kesukarannya.
Mengorbankan jiwa dan raga untuk menegakkan kalimat Laa ilaa ha illallah di
muka bumi.
Perhatikan pula bagaimana sahabat Anshar itu tegak berdiri membaca kalam
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam shalatnya di tengah-tengah tugas menjaga
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Darah yang mengalirpun tidak lagi
dihiraukan untuk tetap merenungi kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demikian
pula kakinya tetap kokoh berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka,
orang yang mengetahui sejarah dan sadar akan kedudukan sahabat, dia akan
terkejut ketika mendengar hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma yang sangat
tidak sesuai dengan kehidupan sahabat radhiyallahu 'anhum. Selanjutnya dia
akan bertanya: “Shahihkah hadits ini?” Maka jawabnya: Hadits ini bathil dan
didustakan atas nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Pembaca rahimakumullah (semoga Anda dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala).
Di akhir pembahasan ini, kita meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar
Dia melindungi kita dari kesesatan dan penyimpangan di tengah badai fitnah
yang menimpa umat ini. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan hati
kita mencintai keimanan, mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
generasi terbaik umat ini. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengumpulkan kita bersama mereka di jannah-Nya yang penuh kenikmatan dan
kebahagiaan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan shalawat dan
salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, dan
para sahabatnya.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

1 Beliau adalah Hassan bin Tsabit bin Al-Mundzir bin Haram Al-Anshari Al-
Khazraji, penyair Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau meninggal
tahun 54 H. Lihat Taqrib At-Tahdzib karya Ibnu Hajar Al-’Asqalani.
2 Beliau adalah Al-Hafizh Abul Qasim ‘Ali bin Al-Hasan bin Hibatullah bin
Abdillah Asy-Syafi’i. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Asakir, meninggal
tahun 571 H. 3 Lafadz bathil ketika digunakan untuk menghukumi sebuah hadits,
semakna dengan lafadz maudhu’ atau makdzub atau hadza min ifkihi.
Semuanya adalah lafadz-lafadz sharih (jelas) yang menunjukkan akan kepalsuan
hadits. Wallahu a’lam.
4 Lafadz-lafadz jarh (pencacatan rawi) tersebut adalah istilah yang harus
dipahami dan dicermati secara khusus dalam ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil. Semua
ibarat yang dilontarkan terhadap Al-Husain bin ‘Abdillah dan Abu Uwais adalah
jarh (pencacatan) terhadap keduanya. Wallahu a’lam.
5 Ucapan Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim Ar-Razi, Abu
Zur’ah Ar-Razi, dan An-Nasa`i disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi dalam
kitab beliau Al-Jarh Wa At-Ta’dil (2/57).
6 Lihat Adh-Dhu’afa` wal Matrukin karya Al-Imam An-Nasa`i (1/33). Ibnu Abi
Hatim juga menukilkan ucapan An-Nasa`i dalam Al-Jarh wa At-Ta’dil (2/57).
7 Lihat Asy-Syajarah Fi Ahwalir Rijal karya Al-Jauzajani, hal. 240.
8 Lihat Al-Majruhin karya Ibnu Hibban Al-Busti (1/242).
9 Lihat Taqribut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani.
10 Ucapan ‘Ali bin Al-Madini disebutkan Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wa At-
Ta’dil (2/57). Lihat juga Ad-Dhu’afa` karya Al-‘Uqaili (1/245).
11 Mizanul I’tidal karya Adz-Dzahabi (2/292).
12 Tafsir At-Thabari (15/118)
13 Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsir beliau (21/61-64) meriwayatkan sejumlah
riwayat dari sahabat dan tabi’in tentang makna ( ‫ )ﭵ ﭴ‬yaitu nyanyian, maka
rujuklah kepadanya.
14 Pendapat Ibnu Hazm tentang dha’ifnya hadits ini adalah pendapat yang
tertolak. Untuk menambah keterangan, lihat pembahasan Asy-Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam risalah beliau Tahrim
Alat Ath-Tharb (hal. 38).
15 HR. Al-Bukhari no.108, dari hadits Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu
'anhu. Di awal hadits ini disebutkan bahwa 'Abdullah bin Az-Zubair rahimahullahu
bertanya kepada ayahnya: “Aku tidak mendengar engkau banyak menyampaikan
hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana fulan dan fulan
menyampaikannya.” Kemudian Az-Zubair berkata sebagaimana lafadz hadits di
atas.
16 HR. Abu Bakr Asy-Syafi’i dalam Ar-Ruba’iyat (2/22/1). Lihat pembahasan
hadits pada Ash-Shahihah, no. 427.
17 Lihat Ash-Shahihah (1/2/790) hal. 791.
18 HR. Al-Bukhari no. 2652.
19 Kitab At-Tauhid (hal. 122-123) oleh Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan.
20 Apa yang ada di antara dua kurung ada dalam riwayat Al-Imam Ahmad. Lihat
Musnad Al-Imam Ahmad (3/359).
21 Faedah: Pada asalnya perempuan tidak boleh dibunuh dalam peperangan,
kecuali jika dia termasuk pasukan musyrikin yang ikut berperang. Maka tidak ada
isykal dalam hadits ini karena dibunuhnya perempuan musyrik dalam perang
Dzatur Riqa’. Boleh jadi karena dia masuk dalam barisan pasukan musyrikin,
atau terbunuh tanpa disengaja. Demikian keterangan Asy-Syaikh Abdul Muhsin
Al-‘Abbad hafizhahullah ketika mensyarah hadits ini.
22 Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud (1/333) penulis memberikan faedah bahwa Al-
Imam Al-Baihaqi dalam Dala`il An-Nubuwah menyebutkan nama dua sahabat ini,
yaitu ‘Ammar bin Yasir dari kalangan Muhajirin dan ‘Abbad bin Bisyr dari Anshar.
23 HR. Abu Dawud (No.198)
Di antara faedah hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu yang bisa kita petik:
(1) Hadits ini merupakan dalil bahwa darah (selain darah haid dan nifas) tidak
najis (2) Keluarnya darah dengan sebab luka tidak membatalkan wudhu,
sebagaimana sahabat Anshar terus melakukan shalat dalam keadaan darah
mengalir (3) Menempuh sebab tidak menafikan tawakal, sebagaimana
ditunjukkan hadits bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
memerintahkan sahabat untuk melakukan penjagaan (4) Shalat malam tidak
disyaratkan harus tidur sebelumnya, sebagaimana shalatnya sahabat Anshar ini.
Juga ditunjukkan oleh hadits wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu untuk shalat witir sebelum tidur. Wallahu
ta’ala a’lam bish-shawab.
24 HR. Al-Bukhari dalam Ash-Shahih, kitab Al-Maghazi, Bab Ghazwatu Dzatur
Riqa’ (no. 4128) dan Muslim dalam Ash-Shahih, Kitab Al-Jihad was Sair, Bab
Ghazwatu Dzatir Riqa’ (no.1816)