Anda di halaman 1dari 19

Naufal Kamal Yurnadi

1102014189

1. Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae


1.1 Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae secara Makroskopis
1.2 Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae secara Mikroskopis
1.3 Memahami dan menjelaskan Kinesiologi Articulatio Coxae
2. Memahami dan menjelaskan Fraktur
2.1 Memahami dan menjelaskan Fraktur
2.2 Memahami dan menjelaskan Definisi
2.3 Memahami dan menjelaskan Etiologi
2.4 Memahami dan menjelaskan Klasifikasi
2.5 Memahami dan menjelaskan Patofisiologi
2.6 Memahami dan menjelaskan Manifestasi Klinik
2.7 Memahami dan menjelaskna Pemeriksaan
2.8 Memahami dan menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis banding
2.9 Memahami dan menjelaskan Komplikasi
2.10
Memahami dan menjelaskan Penatalaksanaan
2.11
Memahami dan menjelaskan Prognosis

1. Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae

1.1 Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae secara Makroskopis


Panggul merupakan articulation sferoidea synovial . Memiliki artikulasi antara
kaput femoralis yang bulat dengan acetabulum yang seperti bahu, tepinya dipertinggi oleh
adanya cincin fibrokartilaginosa- labrum acetabulare. Bangian sentral dan inferior dari
acetabulum sama sekali tidak memiliki permukaan artikularis. Regio ini disebut
acetabularisyang merupakan tempat lewat ligamentum teres menuju fovea pada kaput
femoralis. Batas inferior di bawah incissura acetabularis memiliki ligamentum
transversum acetabuli.
Kapsula articulation coxae melekat di atas batas acetabulum, termasuk
ligamentum transversum acetabuli. Kapsul ini melekat ke femur di anterior pada linea
trokanterika dan ke basis trokanter. Di posterior kapsula ini melekat ke femur di tempat
yang lebih tinggi, 1 cim di atas crista trochanterika.
Stabilitas ligamentosa dipertahankan oleh tiga ligamentum, yaitu:
- Ligamentum iliofemorale (ligamentum Bigelow), keluar dari spina iliaca anterior
inferior dan masuk ke tiap sisi linea trochanterica, mencegah hiperekstensi panggul.
- Ligamentum pubofemorale, keluar dari sambungan iliopubis dan melewati kapsula di
atas linea trokanterika yang merupakan tempat melekat.
- Ligamentum iskiofemorale, keluar dari iskium dan sebagian melingkar ke lateral
untuk melekat ke basis M.Trochanter major.

Sumber: Syamsir, M. 2014. Muskuloskeletal Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Bagian Anatomi
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Sumber: Faiz, Omar dan David Moffat. 2004. At a Glance Series Anatomi. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
1.2 Memahami dan menjelaskan Articulatio Coxae secara Mikroskopis
SUSUNAN TULANG
1

Matriks tulang
Bagian anorganik: kalsium, fosfat, bikarbonat, sitrat, magnesium, kalium dan
natrium.
Bagian organik : terutama terdiri atas kolagen tipe 1

Sel tulang
Osteoprogenitor
Sel tulang jenis ini bersifat osteogenik, karena itu dinamakan sel osteogenik.
Sel-sel tersebut berada pada permukaan jaringan tulang pada periosteum bagian
dalam dan juga endosteum. Selama pertumbuhan tulang, sel-sel ini akan
membelah diri dan mnghasilkan sel osteoblas yang kemudian akan membentuk
tulang. Sebaliknya pada permukaan dalam dari jaringan tulang tempat terjadinya
pengikisan jaringan tulang, sel-sel osteogenik menghasilkan osteoklas.
Sel sel osteogenik selain dapat memberikan osteoblas juga berdiferensiasi
menjadi khondroblas yang selanjutnya menjadi sel cartilago. Kejadian ini,
misalnya, dapat diamati pada proses penyembuhan patah tulang
Osteoblast
Berasal dari sel-sel osteoprogenitor. Osteoblast berperan untuk sintesis
komponen protein organic dari matriks tulang, meliputi kolagen tipe 1,
proteoglikan, dan glikoprotein. Sel ini mempunyai juluran sitoplasma yang mana
sel kontak dengan juluran osteoblast lainnya dan osteosit serta membentuk gap
junction. Sel ini dapat terjebak dalam lacuna namun masih dapat kontak dengan
sel-sel lain melalui juluran sitoplasmanya. Osteoblast yang terjebak ini disebut
sebagai osteosit.
Osteosit
Osteosit adalah sel tulang yang matang menempati lakunanya sendiri. Sel
ini mempunya juluran sitoplasma yang ramping yang menjulur melalui kanalikuli
dalam matriks yang kalsifikasi. Sel ini mendapat nutrisi dan dipertahankan oleh
nutrient, metabolit, dan molekul sinyal yang dibawa oleh cairan ekstraseluler yang
mengalir melalui lacuna dan kanalikuli

Osteklas
Osteoklas adalah sel besar, berinti banyak, motil yang meresorpsi tulang. Sel
ini berasal dari sel-sel sistem fagosit mononuclear. Osteoklas membentuk dan
2

menempati lekukan yang dikenal sebagai lacuna Howship yang merupakan daerah
resorpsi tulang.

STRUKTUR TULANG
Pada penampang melintang tampak substansia kompakta (padat) dan
substansia spongiosa (berongga). Ujung tulang panjang, bulat disebut
epiphysis=pertumbuhan keluar, terdiri dari tulang berongga ditutupi selapis tulang
kompakta
Bagian silindris (diaphysis=pertumbuhan diantara) terdiri dari tulang
kompakta dengan sedikit tulang spongisa di sekitar rongga sumsum tulang.
PEMBENTUKAN TULANG
Ossifikasi intramembranosa
Sel-sel mesenkim dengan adanya zona vascular, memadat menjadi pusat
osifikasi primer, berdiferensiasi menjadi osteoblast dan mulai mensekresi osteoid.
Aktivitas mitosis sel-sel mesenkim menjadi sel-sel osteoprogenitor, yang mengalami
pembelahan sel dan membentuk lebih banyak sel-sel osteoprogenitor / berdiferensiasi
menjadi osteoblast dalam lapisan dalam periosteum yang sedang terbentuk.
Periosteum dan endosteum berkembang dari bagian-bagian lapisan mesenkim yang
tidak mengalami osifikasi.
Ketika terjadi kalsifikasi, osteoblast menjadi terjebak dalam matriksnya
sendiri dan menjadi osteosit. Pusat perkembangan tulang ini disebut trabekula.
Penyatuan trabekula tulang menghasilkan tulang spongiosa ketika pembuluh darah
menyusup daerah itu dan sel-sel mesenkim yang tidak berdiferensiasi lainnya
membentuk sumsum tulang.

Ossifikasi endochondral
1 Zona tenang (Resting)
Terdiri atas tulang rawan hialin primitive, terdapat paling dekat dengan
ujung tulang. Zona ini memperlihatkan penumbuhan ke segala arah
2

Zona proliferasi

4
5

Zona ini aktif dengan banyak gambaran mitosis. Sel-sel zona tenang
membelah dan menghasilkan sel anak yang tersusun dalam deretan sejajar dengan
sumbu panjang model tulang rawan.
Zona maturasi
Di zona ini, sudah tidak terjadi mitosis lagi dan sel-sel serta lakuna
membesar, dan berubah bentuk menjadi kuboid. Pembesaran sel itu menambah
panjang tulang rawan di daerah itu.
Zona kalsifikasi
Pada zona ini matriks yang mengelilingi lakuna yang besar itu terpulas
sangat basofilik karena adanya endapan mineral di dalamnya.
Zona degenerasi
Sel-sel tulang rawan mati dan larut, sama halnya dengan matriks di antara
sel-sel itu. Sum-sum primer vascular meluas masuk ke dala rongga-rongga yang
terjadi akibat penghancuran sel-sel dan matriks.
Zona ossifikasi
Di zona ini osteoblast berkembang dari sel mesenkim yang berasal dari
jaringan sumsum dan berkumpul pada lempeng tulang rawan berkapur yang
terbuka, tempat mereka meletakkan tulang. Sisa tulang rawan berkapur
membentuk rangka penyokong.

Sumber: Eroschenko, Victor P. 2007. Difiores: Atlas of Histology with Functional Correlations
11th.Idaho: WWAMI Medical Program University of Idaho.
Sumber: Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah OrtopediEdisi 3. Jakarta: Yarsif
Watam Pone

1.3 Memahami dan menjelaskan Kinesiologi Articulatio Coxae


Gerak sendi
Fleksi :
M.iliopsoas, M.pectineus, M.rectus femoris,
M.adductor longus, M.adductor brevis, M.adductor magnus pars
anterior tensor fasciae latae.
Ekstensi
:
M. gluteus maximus, M.semitendinosis,
M.semimembranosus, M.biceps femoris caput longum, M.adductor
magnus pars posterior.
Abduksi
:
M.gluteus medius, M.gluteus minimus,
M.piriformis, M.sartorius, M.tensor fasciae latae.
Adduksi
:
M.adductor magnus, M.adductor longus,
M.adductor brevis, M.gracilis, M.pectineus, M.obturator externus,
M.quadratus femoris.
Rotasi medialis
:
M.gluteus
medius,
M.gluteus
minimus, M. tensor fasciae latae, M.adductor magnus (pars
posterior).
Rotasi lateralis :
M.piriformis,
M.obturator
internus,
Mm.gamelli, M.obturator Externus, M.quadratus femoris,
M.gluteus maximus dan Mm.adductores.
Articulatio ini dibungkus oleh capsula articularis yang terdiri dari jaringan ikat
fibrosa. Capsula articularis berjalan dari pinggir acetabulum os.coxae menyebar ke lateroinferior mengelilingi colum femoris untuk melekat ke linea intertrochanterica bagian
depan dan meliputi pertengahan posterior collum femoris kira-kira sebesar ibu jari diatas
crista trochanterica. Bagian dari lateral dan distal belakang colum femoris adalah
extracapsular articularis. Sehingga fraktur colum femoris dapat terjadi intracapsular dan
extracapsular.

2. Memahami dan menjelaskan Fraktur


2.1 Memahami dan menjelaskan Definisi
Fraktur adalah pemecahan suatu bagian, khususnya tulang atau pecah (ruptur) pada
tulang. (Dorland, 2011)
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis
yang bersifat total maupun parsial.
Sumber: Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang: Bintang
Lamupate
5

Fraktur femoris adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan
oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi
tulang/osteoporosis.
Sumber: Grace, Pierce A dan Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Edisi 3.
Jakarta: Penerbit Erlangga

2.2 Memahami dan menjelaskan Etiologi


Fraktur dapat terjadi akibat beberapa sebab, yaitu:
Trauma langsung
Benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut, misalnya
penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung
terbentur dengan benda keras.
Trauma tidak langsung
Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan,
misalnya disebabkan oleh gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah.
Karena kepala femur terikat kuat dengan ligamen didalam acetabulum oleh ligamen
iliofemoral dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah kolum femur.
Fraktur patologis
Fraktur yang disebabkan trauma yang minimal atau tanpa trauma. Contoh fraktur
patologis: Osteoporosis, infeksi tulang dan tumor tulang. Fraktur colum femur sering
tejadi pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulang akibat kombinasi proses
penuaan dan osteoporosis pasca menopause.

2.3 Memahami dan menjelaskan Klasifikasi


Menurut Mansjoer (2002) ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar di
bagi menjadi dua antara lain:
1. Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan
lunak sekitar trauma, yaitu:
Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
Tingkat 3: Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman
sindroma kompartement.
2. Fraktur terbuka (open/compound fraktur)
6

Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan/potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk ke
dalam luka sampai ke tulang yang patah. Derajat patah tulang terbuka :
Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal.
Derajat II
Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.
Menurut Mansjoer (2002) derajat kerusakan tulang dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Patah tulang lengkap (Complete fraktur)
Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya, atau
garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen tulang
biasanya berubah tempat.
2. Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )
Bila antara patahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi patah
yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut green stick.
Menurut Mansjoer (2002) bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma ada 5 yaitu:
1. Fraktur Transversal
Fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma
angulasi atau langsung.
2. Fraktur Oblik
Fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan
merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
3. Fraktur Spiral
Fraktur yang arah garis patahnya spiral yang di sebabkan oleh trauma rotasi.
4. Fraktur Kompresi
Fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah
permukaan lain.
5. Fraktur Afulsi
Fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya
pada tulang.
Menurut Smeltzer dan Bare (2001) jumlah garis patahan ada 3 antara lain:
1. Fraktur Komunitif
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2. Fraktur Segmental
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3. Fraktur Multiple
Fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
Sumber: Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 2014. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: BINARUPA
AKSARA Publisher
7

Klasifikasi fraktur collum femoris, yaitu:


1. Fraktur intrakapsular, fraktur ini terjadi di kapsul sendi pinggul
Fraktur capital
: Fraktur pada kaput femur
Fraktur subkapital : Fraktur yang terletak di bawah kaput femur
Fraktur transervikal
: Fraktur pada kolum femur
2. Fraktur ekstrakapsular, fraktur yang terjadi di luar kapsul sendi pinggul
Klasifikasi fraktur collum femur menurut Gardens adalah sebagai berikut :
Grade I
: Fraktur inkomplit
Grade II
: Fraktur lengkap tanpa pergeseran
Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)
Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen
yang bersinggungan

Klasifikasi Pauwels untuk fraktur kolum femur juga sering digunakan.Klasifikasi ini
berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang horizontal pada posisi
tegak.
Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak
Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak
Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal pada posisi
tegak

2.4 Memahami dan menjelaskan Patologi


Ketika terjadi patah tulang yang diakibatkan oleh trauma, peristiwa tekanan
atau pun patah tulang patologik karena kelemahan tulang, akan terjadi kerusakan di
korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut
adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini
menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan
jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi
jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika
terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk
memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang.
Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang
yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk
kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn
dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi
histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke
interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan
ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma compartement.
Sumber: Apley, A.G., dan Solomon, L. 1995. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem apley.
Alih
bahasa;
fr.
Edi
Nugroho.
Jakarta:
Widya
medika
Sumber: Simbardjo, Djoko. 2008. Fraktur Batang Femur dalam Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah. Jakarta: FKUI.
2.5 Manifestasi Klinis Fraktur
Fraktur collum femoris merupakan fraktur yang paling sering terjadi terutama pada usia lanjut
karena jatuh. Fraktur tersebut tidak sembuh dengan mudah sehingga menyebabkan penurunan
suplai darah pada caput femoris. Terjadi syok hebat dan pada fraktur tertutup, dan fat emboli
sering ditemukan. Kaki berotasi keluar, memendek dan deformitas. Paha membengkak dan

memar. Patah pada daerah ini menimbulkan pendarahan yang cukup banyak. Penderita biasanya
tidak hanya nyeri bahkan tidak bisa bangun. Hal ini terjadi karena ketidakstabilan fraktur.
Manifestasi klinik fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekka deformitas,
krepitus pembengkakan local dan perubahan warna. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya
sampai fragmen tulang di imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur yang merupakan
bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
a) Setelah terjadi fraktur, bagian bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak
secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas yang bisa diketahui dengan ekstermitas normal.
Terjadi pemendekan tulang karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat
fraktur.
b) Saat ekstermitas diperiksa teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus akibat gesekan antara fragmen
satu dgn yang lainnya.
c) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit yang terjadi sebagai akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur

2.6. Diagnosis dan Diagnosis Banding Fraktur Femur


1. Anamnesa (Ada tidaknya trauma)
Dilakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat mekanisme terjadinya cidera,
posisi tubuh saat berlangsungnya trauma, riwayat fraktur sebelumnya, pekerjaan, obatobatan yang dikomsumsi, merokok, riwayat alergi, riwayat osteoporosis serta riwayat
penyakit lainnya.
Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur yang terjadi adalah fraktur patologis.
Jika terjadi trauma, harus diperinci jenis, berat-ringannya trauma, arah trauma, dan posisi
penderita atau ekstrimitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).Pada penderita muda
ditemukan riwayat mengalami kecelakaan berat namun pada penderita usia tua biasanya
hanya dengan trauma ringan sudah dapat menyebabkan fraktur collum femur. Penderita
tidak dapat berdiri karena rasa sakit sekali pada pada panggul. Posisi panggul dalam
keadaan fleksi dan eksorotasi. Didapatkan juga adanya pemendekakan dari tungkai yang
cedera
Terdapat tiga situasi dimana fraktur leher femur dapat terlewatkan;

Fraktur-tekanan
: Pasien manula dengan nyeri pinggul yang tak diketahui
mungkin mengalami fraktur-tekanan; pemeriksaan sinar X hasilnya normal tetapi
scan tulang akan memperlihatkan lesi panas.
Fraktur yang terimpaksi
: Garis awal fraktur tak terlihat, tetapi bentuk kaput
femoris dan leher berubah; selalu bandingkan kedua sisi.

10

Fraktur yang tidak nyeri


mengalami fraktur diam.

: Pasien yang berada di tempat tidur dapat

2. Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum, misalnya : shock pada fraktur multiple,
fraktur pelvis, serta tanda-tanda fraktur terbuka terinfeksi.
3. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan
menyebabkan deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada
fraktur tanpa pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah
pergeseran fraktur yang terjadi, kebanyakan pasienakan mengeluhkan nyeri bila
mendapat pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan.
a Inspeksi (look)
b Palpasi (feel)
c Gerakan (moving)
A Inspeksi / look
Pada pemeriksaan fisik mula-mula dilakukan inspeksi dan terlihat adanya
asimetris pada kontur atau postur, pembengkakan, dan perubahan warna local. Pasien
merasa kesakitan, mencoba melindungi anggota badannya yang patah, terdapat
pembengkakan, perubahan bentuk berupa bengkok, terputar, pemendekan, dan juga
terdapat gerakan yang tidak normal. Adanya luka kulit, laserasi atau abrasi, dan
perubahan warna di bagian distal luka meningkatkan kecurigaan adanya fraktur terbuka.
Pasien diinstruksikan untuk menggerakkan bagian distal lesi, bandingkan dengan sisi
yang sehat.
B Palpasi / feel
Nyeri yang secara subyektif dinyatakan dalam anamnesis, didapat juga secara
objektif pada palpasi. Nyeri itu berupa nyeri tekan yang sifatnya sirkuler dan nyeri tekan
sumbu pada waktu menekan atau menarik dengan hati-hati anggota badan yang patah
searah dengan sumbunya. Keempat sifat nyeri ini didapatkan pada lokalisasi yang tepat
sama.
Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Lakukan
palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut, meliputi persendian diatas dan
dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri, efusi, dan krepitasi. Neurovaskularisasi
yang perlu diperhatikan pada bagian distal fraktur diantaranya, pulsasi arteri, warna kulit,
pengembalian cairan kapiler (capillary refill test), sensibilitas.
Palpasi harus dilakukan di sekitar lesi untuk melihat apakah ada nyeri tekan,
gerakan abnormal, kontinuitas tulang, dan krepitasi. Juga untuk mengetahui status
vaskuler di bagian distal lesi. Keadaan vaskuler ini dapat diperoleh dengan memeriksa

11

warna kulit dan suhu di distal fraktur. Pada tes gerakan, yang digerakkan adalah sendinya.
Jika ada keluhan, mungkin sudah terjadi perluasan fraktur.
C Gerakan / moving
Gerakan antar fragmen harus dihindari pada pemeriksaan karena menimbulkan
nyeri dan mengakibatkan cedera jaringan. Pemeriksaan gerak persendian secara aktif
termasuk dalam pemeriksaan rutin fraktur. Gerakan sendi terbatas karena nyeri, akibat
fungsi terganggu (Loss of function)
Pemeriksaan Penunjang Fraktur Collum Femoris
a

Sinar X
Pemeriksaan dengan sinar-X harus dilakukan. Pemeriksaan sinar X terdiri dari :
1 Dua pandangan. Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X
tunggal dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua sudut pandang (anteriorposterior dan lateral).
2 Dua sendi. Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat emngalami fraktur dan
angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga
patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi di atas dan di bawah
fraktur keduanya harus disertakan pada foto sinar X.
3 Dua tungkai. Pada sinar-X tulang anak-anak, epifisis yang normal dapat
mengacaukan diagnosis fraktur. Foto tungkai yang tidak cidera dapat bermanfaat.
Dua cidera kekuatan yang hebat sering menyebabkan cidera pada lebih dari
singkat. Karena itu bila ada fraktur pada calcaneus atau femur, perlu juga diambil
foto sinar-X pada tulang belakang.
4 Dua kesempatan. Segera setelah cidera suatu fraktur (misalnya pada skafoid
carpal) mungkins ulit dilihat. Kalau ragi-ragu sebagai akibat resorpbsi tulang,
pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat menegakkan diagnosis.
Pencitraan khusus

Kadang-kadang fraktur atau keseluruhan fraktur tidak nyata pada sinar x biasa.
Tomografi mungkin berguna untuk lesi spinal atau fraktur condylus tibia, ct dan MRI mungkin
merupakan satu-satunya cara untuk menunjukkan apakah fraktur vertebrae mengancam akan
menekan medula spinalis. Sesungguhnya potret transeksional snagat penting untuk visualisasi.
Fraktur secara tepat pada tempat yang sukar misalnya calcaneus atau acetabulum, dan potret
rekonstruksi 3 dimensi bahkan lebih baik. Scanning radioisotop berguna untuk mendiagnosis
fraktur tekanan yang dicurigai atau fraktur bergeser yang lain.

12

Intracapsular Fracture
Intertrochanteric Fracture

Subtrokchanteric fracture

13

DIAGNOSIS BANDING

a. Osteitis Pubis
Osteitis pubis adalah peradangan simfisis pubis dan sekitarnya insersi otot. Osteitis
pubis biasanya dialami oleh atlet. Gejala yang muncul dari pubis osteitis dapat hampir
semua keluhan tentang pangkal paha atau perut bagian bawah serta perbedaan
panjang kaki.

http://www.orthoclinic.com.sg/wp-content/uploads/2013/10/osteitis_pubis.jpg
b. SlippedCapital Femoral Epiphysis
Slipped capital femoral epiphysis adalah ketidakstabilan growth plate (lempeng
pertumbuhan) femoralis proksimal. Ada pemisahan epiphysis femoralis proksimal
melalui pelat pertumbuhan sehingga menyebabkan selipan terjadi diatas epifisis.

14

http://www.orthopediatrics.com/binary/org/ORTHOPEDIATRICS/images/hipimages/child_hip_slipped_c
fe_anatomy05.jpg

http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00052
c. Snapping Hip Syndrome

Snapping Hip Syndrome atau Iliopsoas Tendinitis adalah suatu kondisi dimana Anda
mendengar suara derik atau merasakan sensasi gertak di pinggul ketika sedang
berjalan, berlari, bangun dari kursi, atau mengayunkan kaki. Gertakan pinggul terjadi
akibat hasil dari kekakuan otot dan tendon di sekitar pinggul. Orang-orang yang
terlibat dalam olahraga lebih mungkin untuk mengalami patah pinggul. Penari dan
Atlet muda lebih rentan memiliki patah pinggul.

http://www.caringmedical.com/wp-content/uploads/2013/11/Snapping_Hip_syndrome.jpg
15

2.7. Penatalaksanaan Fraktur Collum Femoris


Pada prinsipnya penangganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi dan pengembalian
fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulangpada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Metode dalam reduksi adalah reduksi tertutup, traksi dan reduksi terbuka,
yang masing-masing di pilih bergantung sifat fraktur
1 Reduksi tertutup dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan traksi
manual.
2 Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi.
Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3 Reduksi terbuka , dengan pendekatan pembedahan, fragmen tulang direduksi.
Alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
b Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang harus di imobilisasi atau
di pertahankan dalam posisi dan kesejajaranyang benar sampai terjadi penyatuan.
Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal atau inernal.
1 Fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan
teknik gips atau fiksator eksternal.
2 Fiksasi internal dapat dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai
inerna untuk mengimobilisasi fraktur. Pada fraktur femur imobilisasi di
butuhkan sesuai lokasi fraktur yaitu intrakapsuler 24 minggu, intra trohanterik
10-12 minggu, batang 18 minggu dan supra kondiler 12-15 minggu.
c Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada
penyembuhan tulang dan jaringan lunak, yaitu ;
1 Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
2 Meninggikan untuk meminimalkan pembengkakan
3 Memantau status neurologi.
4 Mengontrol kecemasan dan nyeri
5 Latihan isometrik dan setting otot
6 Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
7 Kembali keaktivitas secara bertahap.
2.8. Komplikasi Fraktur Collum Femoris
Komplikasi awal
o Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan
darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal
kejaringan yang rusak.
o Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk
kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari
16

o
o
o
o
o
o

tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien
akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak
dalam aliran darah.
Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan
dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa
disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gips atau balutan yang menjerat
ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan
sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi, cidera remuk). Sindrom
ini dapat ditangani dengan fascioctomi untuk tindakan operatif dan hindari
elevasi.
Trombo-emboli: obtruksi pembuluh darah karena tirah baring yang terlalu lama.
Misalnya dengan di traksi di tempat tidur yang lama.
Infeksi: pada fraktur terbuka akibat kontaminasi luka, dan dapat terjadi setelah
tindakan operasi.
Osteonekrosis (avakular): tulang kehilangan suplai darah untuk waktu yang lama
(jaringan tulang mati dan nekrotik)
Osteoatritis: terjadi karena faktor umur dan bisa juga karena terlalu gemuk
Koksavara: berkurangnya sudut leher femur.
Anggota gerak memendek (ektrimitas).

Komplikasi lambat
o Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang
lebih lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan).
o Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan.
o Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu
semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
o Kekakuan pada sendi.
o Refraktur: terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union yang
solid.
2.9 Memahami dan menjelaskan Prognosis
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan.
Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa
jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada
penyembuhan fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila
lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis
yang penting seperti immobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam
penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat
essensial dalam penyembuhan fraktur.

17

Daftar Pustaka

Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 2014. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: BINARUPA
AKSARA Publisher
Rasjad, Chairudin. 1998. Ilmu Bedah Orthopedi. Ujung Pandang: Bintang Lamupate
Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC.
Syamsir, M. 2014. Muskuloskeletal Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Bagian Anatomi Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi
Faiz, Omar dan David Moffat. 2004. At a Glance Series Anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sumber: Eroschenko, Victor P. 2007. Difiores: Atlas of Histology with Functional Correlations
11th.Idaho: WWAMI Medical Program University of Idaho.
Tambayong, Jan. 1999. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Grace, Pierce A dan Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: Erlangga
Apley, A.G., dan Solomon, L. 1995. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem apley. Alih bahasa; fr.
Edi Nugroho. Jakarta: Widya medika
Simbardjo, Djoko. 2008. Fraktur Batang Femur dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta:
FKUI.

18