Anda di halaman 1dari 44

Nyeri Sendi Siku

Kelompok B-7
Ketua
:
Nazza Rizky Ramdhagama
1102014190
Sekretaris :
Anggota

Putri Justicarici N

1102014213

: Lika Iriana Risda Putri


1102014148
Muhammad Khalil Akbar
1102014169
Nabila Sari Annisa
1102014183
Naufal Kamal Yurnadi
1102014189
Nisa Nabiilah
1102014195
Puput Aurelia Harjanto
1102014210
Zahra Faras Sukma
1102014291

NYERI SENDI
SIKU
Seorang laki-laki 50 tahun, datang ke rumah
sakit dengan keluhan sendi siku dirasakan
nyeri dan berdenyut serta mengganggu
rentang gerak (range of movement/ROM) sejak
2 bulan ini.
(Skenario Bertingkat)
Pada anamnesis, sebelumnya terdapat
bengkak di metatarso phalangeal 1 dan ada
kemerahan. Pasien juga telah mengonsumsi
obat nyeri dan nyeri berkurang, lalu pasien
mengganti obat dengan NSAID dan
uricosuric.Pada pemeriksaan laboratorium
terdapat hiperusemia.

Kata Sulit
1. Range of Movement (ROM) : Ruang lingkup
gerak sendi
2. Metatarso phalangeal 1 : Ruas ibu jari kaki
3. Olekranon : Penonjolan ulna pada siku
4. Hiperusemia : Kadar asam urat tinggi didalam
darah
5. NSAID : obat non-steroid yang terbagi menjadi
antipiretik, anti inflamasi, dan analgesic.
6. Uricosuric : Obat yang meningkatkan ekskresi
asam urat melalui urin.

PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa faktor penyebab asam urat yang tinggi?


Mengapa terjadi pada metatarso phalangeal 1 dan olecranon?
Apa kemungkinan diagnosis penyakit pada skenario?
Apa saja faktor resiko yang mempengaruhi pada skenario?
Bagaimana terjadinya proses nyeri pada pasien ini?
Apa saja jenis ROM pada manusia?
Apa hubungan penyakit terdahulu dan sekarang?
Apa hubungan asam urat dengan nyeri sendi?
Apa pencegahan agar asam urat tetap dalam kadar normal dalam
darah?
10.Berapa kadar normal asam urat?
11.Mengapa rentang gerak terganggu?
12.Apa efek samping NSAID?
13.Apakah gangguan 1 sendi dapat mempengaruhi ROM lainnya?
14.Dimana saja tempat yang dapat terjadi pembengkakan akibat
hiperusemia?

JAWABAN
1.
2.
3.

4.

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Gangguan metabolism basa purin.


Karena termasuk sebagian sendi diartrosis
Pada anamnesis didapatkan nyeri sendi siku, ada pembengkakan di
metatarso phalangeal 1. Pada PF, terdapat olecranon yang bengkak dan
merah. Pembengkakan asimetris. Pada PP, terdapat hiperusemia. Maka
kemungkinan diagnosis ini adalah Got artritis.
Usia, jenis kelamin (pada pria lebih beresiko karena tidak punya
esterogen. Dan wanita lebih beresiko pada saat menopause.) *esterogen:
menghambat reabsorbsi asam urat.
Kristal asam urat -> opsonisasi -> sel2 inflamasi datang -> mediator
keluar (merah, bengkak).
Fleksi, ekstensi, adduksi, abduksi, supinasi, pronasi, dll.
Karena pada pengobatan pertama hanya diberikan analgesik sedang
kadar asam urat masih tinggi.
Penimbunan akibat deposisi monosodium asam urat / super saturasi pada
cairan sendi.
Diet rendah purin, tidak mengonsumsi alkohol.
Laki-laki: 3,5-7,2 mg/dl. Perempuan: 2,6- 6,0 mg/dl.
Karena penimbunan Kristal monosodium asam urat.
Mual, diare, tukak lambung, infark myokard, kerusakan hati, dll.
Tidak ada.
Pada sendi diartrosis.

Hipotesis

Asam urat yang tinggi disebabkan oleh


gangguan metabolisme basa purin yaitu
hiperusemia.Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi yaitu usia, jenis kelamin, gaya
hidup dan genetik.Hubungan nyeri sendi dan
asam urat adalah penimbunan akibat deposisi
monosodium asam urat/ super saturasi pada
cairan sendi.
Proses ini terjadi karena adanya kristal asam urat
sehingga mediator keluar dan menyebabkan
kemerahan dan nyeri pada saat melakukan gerak
sendi. Dapat dilakukan pemeriksaan darah dan
juga dapat dilakukan aspirasi cairan synovial
untuk mendiagnosis Gout

Sasaran Belajar
LO 1. Memahami dan Menjelaskan Sendi, Tulang, dan Tulang Rawan
1.1 Makroskopik
1.2 Mikroskopik
1.3 Fungsi Alat Gerak
LO 2. Memahami dan Menjelaskan Metabolisme Asam Urat
2.1 Metabolisme
2.2 Ekskresi
LO 3. Memahami dan Menjelaskan Got Artrithis
3.1 Definisi
3.2 Epidemiologi
3.3 Etiologi dan Klasifikasi
3.4 Patofisiologi dan Patogenesis
3.5 Manifestasi Klinis
3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.7 Penatalaksanaan
3.8 Prognosis
3.9 Komplikasi

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Sendi, Tulang, dan Tulang Rawan

Makroskopis

SENDI

A. Articulatio Glenohumeralis
Tulang
: Caput humeri dengan gleinoidalis serta labrum
gleinoidale
Gerak sendi : Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi,
Rotasi,Medialis,Rotasi Lateralis

B. Articulatio Cubiti (Articulatio humero ulnaris & art.


Humeroradialis)
Tulang
: Incissura throclearis ulna, trochlea humeri danantara
fovea caput
articularis radii dan capitulum
humeri .
Gerak Sendi : Fleksi dan eksten
Otot- otot Shunt : Otot yang mempunyai origo dekat dengan
sendi daninsertio jauh dari sendi
(contoh : M. Brachioradialis).
-Otot- otot Spurt : Otot yang mempunyai origo jauh dari sendi
dan insertiodekat dengan sendi (contoh : M. Biceps brachii)Otototot shunt lebih berfungsi sebagai stabilitator daripada rotator,
sedangkanotot- otot spurt lebih berfungsi sebagai rotator daripada

D. Articulatio Radio Ulnaris distalis


Tulang : Incissura ulnaris radii dan capitulum ulnae
Jenis sendi : trochoidea
Gerak sendi : pronasi dan supinasi

E. Articulatio Radiocarpalis
Tulang : Bagian distal Os. Radius dan
ossacarpalesproximalis kecuali os piriforme
Gerak sendi : Fleksi, ekstensi,Abduksi ulnaris
F. Articulatio carpometacarpales
Articulatio carpometacarpales I
Tulang : Antara Metacarpales dan trapesium
Gerak sendi : Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, oposisi dan
reposisi
Articulatio carpometacarpales II
Tulang : Antara Metacarpale II V dengan Os. Carpi deretan
distalis
Gerak sendi : Geser
G. Articulatio Metacarpophalangealis
Art. Metacarpophalangealis I
Tulang : Antara Os metacarpal I dan phalanx I
Gerak sendi : Fleksi, ekstensi, sedikit abduksi dan adduksi
Art. Metacarpophalangealis II sampai V
Tulang : Antara OS metacarpal II dan V dengan PhalanxII
dan V

H. Articulationes interphalangealis
Tulang
: Antar phalanges
Gerak sendi : Fleksi dan ekstensi

Klasifikasi Persendian
1.

Synarthrosis : Sendi yang tidak bergerak sama sekali


a. Sutura
b. Syndesmosis
c. Syncrondrosis
d. Scindenlysis
e. Gamphosis

2.

Ampiarthosis : Sendi yang bergeraknya sedikit

3.

Diarthosis
: Sendi yang dapat bergerak bebas
a. Arthoidea ( Sendi Luncur)
b. Ginglymus (Sendi Engsel)
c. Pivot (Sendi Vertical)
d. Ellipsoidea (Sendi Putar)
e. Spheroidea (Sendi Peluru)
f. Sellaris (Sendi Pelana)

Gambar 1. Sendi Luncur


(Arthroidea)

Gambar 2. Sendi Engsel (Ginglymus)

Gambar 3. Sendi vertical (Pivot)

Gambar 4. Sendi putar (ellipsoidea)

Gambar 5. Sendi peluru (Spheroidea)

Gambar 6. Sendi pelana (Sellaris)

TULANG
Pada potongan tulang terdapat 2
macam struktur :
- Substantia spongiosa (berongga)
- Substantia compacta (padat)

A. Ekstremitas atas :

HUMERUS
RADIUS dan ULNA
KARPAL
METAKARPAL
PALANGES

B. Ekstremitas bawah :

FEMUR
TIBIA dan FIBULA
PATELA
TARSAL
METATARSAL
PALANGES

TULANG RAWAN
Tulang Rawan Hialin
Jenis kartilago terbanyak pada dewasa dan tersebar luas di seluruh
tubuh
Lokasi: ujung ventral os.costae, larynx, trachea, bronchus,
permukaan tulang di daerah persendian, lempeng epifisis pada
fetus dan anak yang sedang mengalami pertumbuhan
Makroskopis : bening, putih kebiruan seperti kaca

Kartilago Elastis
Lokasi --> auricula, dinding saluran telinga luar, tuba eustachius,
epiglotis dan sebagian larynx
Makroskopis --> warna kekuningan, tidak transparan dan lentur

Kartilago Fibrosa
Lokasi --> anulus fibrosus diskus intervertebrae, simphisis pubis,
cartilago articularis, perlekatan tendo terutama tendo-tendo
besar.
Makroskopis putih tidak transparan, padat dan kaku

LI 1.2 Mikroskopis
SENDI
A. Sendi Fibrosa
B. Sendi Kartilaginosa
C. Sendi Sinovial
Ginglimus : fleksi dan ekstensi, monoaxis ;
Selaris : fleksi dan ekstensi, abd & add, biaxila ;
Globoid : fleksi dan ekstensi, abd & add; rotasi sinkond
multi axial ;
Trochoid : rotasi, mono aksis ;
Elipsoid : fleksi, ekstensi, lateral fleksi, sirkumfleksi,
multi axis.

TULANG
Secara Mikroskopis tulang terdiri dari :
1. Sistem Havers (saluran yang berisi serabut
saraf, pembuluh darah, aliran limfe)
2.
Lamella (lempeng tulang yang tersusun
konsentris).
3.
Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di
antara
lempenganlempengan yang
mengandung sel tulang).
4. Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan
tempat
difusi makanan sampai ke osteon)

TULANG RAWAN
A. Tulang Rawan Hialin

B. Kartilago elastis

C. Fibrokartilago

LI 1.3 Fungsi Alat Gerak

ngsi Gerak Sendi

Fleksi: gerakan yang mendekatkan bagian tulang yang membentuk sendi


Ekstensi: gerak berlawanan arah dengan fleksi
Abduksi: gerak menjauhi bidang sagital
Adduksi: gerak yang berlawanan arah dengan abduksi yaitu mendekati bidang sa
Gerak berputar di bidang transversal, pada ekstremitas dapat berupa :
Endorotasi, gerak berputar dari lateral anterior medial
Eksorotasi, gerak berputar dari medial anterior lateral
Laterofleksi, gerak fleksi ke arah samping
Sirkumdiksi, gabungan gerak rotasi yang terdiri dari fleksi, laterofleksi dan e
levasi, gerak menaikkan alat gerak sebagian atau keseluruhan
Depresi, gerak menurunkan alat gerak sebagian atau keseluruhan

Fungsi Tulang

a.Penunjang. tulang menyediakan suatu kerangka bagi tempat


penempelan otot dan jaringan lain.
b. Perlindungan. Tulang-tulang seperti tengkorak dan tulang
sangkar rusak melindungi organ-organ dalam dari luka-luka.
c. Pergerakan. Tulang memungkinkan pergerakan tubuh
dengan berfungsi sebagai tuas dan titik penempelan otot.
d. Penyimpanan mineral. Tulang berfungsi sebagai gudang
kalsium dan fosfor, mineral yang penting bagi kegiatan sel di
seluruh tubuh.
e. Produksi sel darah. Produksi sel darah atau hematopoiesis
terjadi di sumsum tulang yang berada di dalam rongga tulang
tertentu.
f. Penyimpanan energi. Lipida (lemak) yang disimpan di dalam
sel-sel adiposa di sumsum kuning bertindak sebagai gudang
energi.

LO 2. Memahami dan Menjelaskan


Metabolisme Asam Urat
2.1 Metabolisme

2.2 Ekskresi

Asam urat adalah hasil


akhir asam nukleat atau
hasil akhir metabolisme
zat purin

Purin adalah salah satu


kelompok struktur kimia
pembentuk DNA

Saat DNA dihancurkan, purin pun


akan dikatabolisme. Hasil buangan
berupa asam urat

Anak-anaknormalnya 3,4-4,0
mg/dl; laki-laki dewasa 6,8 mg/dl;
wanita pramenopause 6,0 mg/dl.

2.1 Metabolisme

Sintesis purin melibatkan dua jalur:


Jalur de novo
jalur penghematan(salvage pathway).

1. Jalur De Novo
Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat
melaluiprekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang
diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin. Terdapat
suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang
terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.

Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian


mekanisme yang kompleks, dan terdapat
beberapa enzim yang mempercepat reaksi
yaitu: 5-fosforibosil pirofosfat (PRPP) sintetase
dan amido fosforibosil transferase (amidoPRT).

2. Jalur Penghematan
Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin
melalui basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan
makanan. Jalur ini tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur
de novo

Basa purin bebas (adenin, guanin, hipoxantin)


berkondensasi dengan PRPP untuk
membentuk prekursor nukleotida purin dari
asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua
enzim:hipoxantin guanin fosforibosil
transferase (HGPRT) dan adenine fosforibosil
transferase (APRT)

2.2 Ekskresi
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin
akan difiltrasi secarabebas oleh glomerulus dan
diresorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam
urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron
distal dandikeluarkan melalui urin.Ekskresi netto asam
urat total pada manusia normal adalah 400-600
mg/24jam. Ekskresi ginjal asam urat siang hari lebih
besar dibanding malam hari (Rodwell, 1995).
Dua jalur utama sekresi asam urat yaitu
melalui urikolisis dan ginjal. Urikolisis terjadi di
dalam usus oleh enzim bakteri dalam intestinal
dengan mengekspresikan 1/3 jumlah total
asam urat. Ginjal akan mengekskresikan
sisanya (Wyngaarden, 1982)

LO 3. Memahami dan Menjelaskan


Gout Arthritis

LI 3.1 Definisi

Gout adalah penyakit dimana terjadi penumpukan asam urat


dalam tubuh secara berlebihan, baik akibat produksi yang
meningkat, pembuangannya melalui ginjal yang menurun,
maupun akibat tingginya asupan makanan kaya purin

LI 3.2 Epidemiologi
Gout artritis banyak diderita oleh laki-laki dan wanita postmenopause, jarang
pada laki-laki sebelum remaja dan wanita sebelum menopause. Prevalensi
gout meningkat seiring dengan bertambahnya usia yaitu meningkat sampai
9% pada laki-laki dengan usia lebih dari 80 tahun dan 6% pada wanita.
Di Indonesia sendiri penyakit Arthritis Gout pertama kali ditemukan oleh
seorang dokter Belanda, dr. Van Den Horst, pada tahun 1935. Saat dilakukan
penelitian, ditemukan 15 kasus Arthritis Gout berat pada masyarakat kurang
mampu di Jawa.
Di Indonesia asam urat banyak dijumpai pada etnis Minahasa, Toraja Dan
Batak. Prevalensi tertinggi pada penduduk pantai dan yang paling tinggi
yaitu daerah Manado-Minahasa, ini dikarenakan kebiasaan mereka
mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar. Angka kejadian Arthritis Gout di
Minahasa sebesar 29,2% pada tahun 2003.

LI 3.3 Etiologi dan


Klasifikasi
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam
pembentukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari
ginjal yang menyebakan hyperuricemia. Hyperuricemia pada
penyakit ini disebabakan oleh :
1. Pembentukan Asam urat yang berlebih
2. Kurangnya ekskresi asam urat melalui ginjal
3. Perombakan dalam usus yang berkurang

Klasifikasi
a. Gout primer metabolik, disebabkan sintesis langsung yang
bertambah
b. Gout sekunder metabolik, disebabkan pembentukan asam urat
berlebihan
karena penyakit lain seperti leukimia, terutama bila diobati dengan
sitostatistika, psoriasis, polisitemia vena dan mielofibrosis

LI 3.4 Patofisiologi dan


Patogenesis
Patofisiologi
Perjalanan penyakit gout sangat
khas dan mempunyai 3 tahapan :
1. Artritis gout akut
2. Artritis gout akut intermiten
3. Artritis gout akut bertofus

Patogenesis

1. Presipitasi kristal monosodium urat


2. Respon leukosit polimorfonukuler (PMN)
3. Fagositosis
4. Kerusakan lisosom
5. Kerusakan sel

LI 3.5 Manifestasi
Klinis
Gejala umum yang sering dirasakan pada penderita gout
antara lain : pegal-pegal,nyeri pada sendi,rasa linu pada
kaki dan tangan kiri.Jika linu telah menyerang tangan kiri
biasanya akan menjalar ke bahu hingga leher.Nyeri hebat
akan dirasakan penderita gout kala malam.
Tahap 1: Hiperuresemia Asimtomatik
Tahap 2: Serangan gout akut

Tahap 3: Interval kritis


Tahap 4: Gout tingkat lanjut

LI 3.6 Diagnosis dan Diagnosis


Banding
Penetapan diagnosis gout, Subkomite The American
Rheumatism Association menetapkan bahwa kriteria
diagnostic untuk gout adalah 1 dari 3 pilihan dibawah ini

a.

Adanya Kristal urat yang khas dalam cairan sendi

b. Tofi terbukti mengandung Kristal urat berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan


mikroskopik
c.

Diagnosis lain, seperti :


Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut
Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari
Oligoarthritis (jumlah sendi meradang kurang dari 4)
Kemerahan di sekitarsendi yang meradang
Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau
membengkak
Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki)
Tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat) di kartilagoartikular
(tulang rawan sendi) dan kapsula sendi
Hiperurisemia
Pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja)

Diagnosis Banding
1. Rheumatoid
Arthritis
2. Pseudogout
3. Septic arthritis
4. Osteoarthritis

LI 3.7 Penatalaksanaan
Ada 2 macam golongan obat yang digunakan :
Pada saat stadium akut : obat golongan NSAID
Pada stadium kronik

: obat golongan urikosurik

1. NSAID : menghentikan proses inflamasi akut, obatnya


kolkisin, fenilbutazon, oksifenbutazon dan indometasin
a. Kolkisin
2.

Urikosurik : mempengaruhi kadar asam urat, tidak


berguna mengatasi serangan
klinis : probenesid, allopurinol dan sulfinpirazon
a. Allopurinol
b. Probenesid
c. Sulfinpirazon

Pencegahan
Pembatasan purin
Kalori sesuai dengan kebutuhan
Tinggi karbohidrat
Rendah protein
Rendah lemak
Tinggi cairan
Konsumsi cairan yang tinggi
Tanpa alkohol

Operasi Pengangkatan Tofus


Terkadang pengangkatan tofus terasa
diperlukan terutama jika pasien merasa
sangat terganggu akan tofus, lebih kepada
ketidaknyamanan dibanding rasa sakit yang
dirasakan. Ada beberapa alasan yang
membuat pasien memutuskan
pengangkatan tofi, seperti:
1. Terganggunya ROM
2. Masalah komestika/penampilan
3. Resiko Infeksi

LI 3.8
Prognosis
Jarang pada kasus ini menyebabkan kematian. Angka kematian
artritis gout adalah tidak berbeda degan angka kematian
populasi pada umumnya. Biasanya gout dapat menyebabkan
kematian bila dihubungkan denga penyakit penyertanya yang
jelas berbahaya dengan mortalitas yang cukup tinggi sebagai
contoh dapat menjadi kronik bila tidak diobati.

LI 3.9
Komplikasi

Gout berulang. Beberapa orang mungkin tidak pernah


mengalami tanda-tanda dan gejala gout lagi. Tetapi yang lain
mungkin mengalami beberapa kali gout setiap tahun. Obatobatan dapat membantu mencegah serangan gout pada
orang dengan gout berulang.
Gout lanjutan. Gout yang tidak diobati dapat menyebabkan
deposito untuk membentuk kristal urat di bawah kulit yang
disebut nodul tophi (TOE-fi). Tophi atau tofus dapat
berkembang di beberapa daerah seperti jari, tangan, kaki,
siku atau tendon Achilles di sepanjang bagian belakang
pergelangan kaki Anda. Tofus biasanya tidak menyakitkan,
tetapi mereka dapat menjadi bengkak dan sakit selama
serangan gout.

Batu ginjal. Kristal Urat dapat mengumpulkan dalam saluran


kemih penderita gout, menyebabkan batu ginjal. Obat dapat
membantu mengurangi risiko batu ginjal

Daftar Pustaka

Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi. (2007). Farmakologi dan Terapi ed 5. Jakarta : FKUI

Murray,Robert.K, dkk. (2009). Biokimia Harper Edisi 27.Jakarta : EGC

Sudoyo AW,dkk. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi V Jilid III.Jakarta : Interna
Publishing.

Arif,A., Mirdhatillah,S., et al (2014). "Cara Mudah Belajar Farmakologi". Badan Penerbit


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
Ian, Taanu. 2012. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Badan Penerbit FKUI
Sobotta, J., 2010. Telinga: Ikhtisar. Dalam: Sobotta, J. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Edisi
22 Jilid 1: Kepala, Leher, Ekstremitas Atas. Jakarta: EGC
Syamsir, H.M. 2014. Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Universitas Yarsi
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4. Jakarta:Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
FKUI; 2006.
W.A Newman Dorland. 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31. Jakarta: EGC.
Dennis Thompson Jr, Pat F. Bass III, MD, MPH, 2010. Do I Need Surgery?.
http://www.everydayhealth.com/gout/do-i-need-surgery-for-gout.aspx, Diakses pada
tanggal 11-09-2015, Pukul 21.56.