Anda di halaman 1dari 15

ESSAY

SISTEM PERINGATAN DINI BENCANA BANJIR SUNGAI


BENGAWAN SOLO HULU (KOTA SURAKARTA)
Tugas Mata Kuliah Monitoring Sumber Bencana dan Peringatan Dini
Dosen : Teuku Faisal Fathani, Ph.D

Oleh :
Unin Restriana Suparno
13/353635/PMU/07779

MAGISTER MANAJEMEN BENCANA


FAKULTAS SEKOLAH PASACASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

A. LATAR BELAKANG
Kota Surakarta merupakan daerah berawa-rawa dan terletak diantara beberapa
pegunungan yang menjadi sumber mata air sungai Bengawan Solo sehingga Kota
Surakarta menyerupai mangkuk yang sewaktu-waktu dapat mengalami musibah banjir
akibat genangan air (sungai) yang mengalir melintasi kota. Saluran drainase primer di
Kota Surakarta yaitu Sungai Bengawan Solo, Kali Pepe/Kali Anyar yang melintasi pusat
kota, Kali Jenes, dan Kali Wingko yang bermuara ke Bengawan Solo.
Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa, mengalir dari
pegunungan Sewu di selatan Surakarta ke Laut Jawa di utara Surabaya melalui alur
sepanjang 600 km. Wilayah Sungai Bengawan Solo merupakan daerah beriklim tropis,
musim kemarau terjadi pada bulan Mei - Oktober, sedangkan musim hujan terjadi pada
bulan Nopember April. Salah satu stasiun hujan DAS Bengawan Solo yang terdapat
paling dekat dengan Kota Surakarta (Upper/Hulu) yaitu di Pabelan, Kartasura. Curah
hujan maksimal di bagian hulu terjadi pada bulan Januari yaitu mencapai 437 mm/bulan
dan curah hujan minimal terjadi pada bulan Agustus yaitu 25,5 mm/bulan. Kapasitas
sungai bagian hulu 800-1800 m/s (BBWSBS, 2012).
Gambar. Bencana Banjir
Besar Kota Surakarta tahun
1966 menggenangi Gladak

Bencana banjir besar


pernah

melanda

Sungai

Bengawan Solo Hulu yang


menggenangi hampir seluruh
wilayah Kota Surakarta pada
tahun

1966

dengan

debit

banjir puncak mencapai 2.000


m/s dan tinggi genangan 1,5
2 meter. Banjir disebabkan
oleh hujan sangat lebat yang tidak pernah dialami sebelumnya, hujan turun dipunggung
pegunungan yang gundul tidak memungkinkan tanah meresap air untuk penahan aliran
yang deras. Mata air-mata air Bengawan Solo yang berpusat di kali Lanang atau Padekso
di daerah Giriwoyo, Kecamatan Tirtomoyo yang bertemu di kali Weroko, dukuh Ngerjo,
Nguntoronadi meluap. Demikian juga sumber mata air di kali Ngrawan yang mengalir dari
Pasekan Eromoko, air meluncur ke bawah. Kali Kaduwang yang bermata air di hutan

Donoloyo, Slogohimo yang kemudian bertemu di daerah Somoulun yang menjurus kearah
daerah Wonogiri, secara serentak terus turun menelusuri Bengawan Solo dengan kecepatan
air rata-rata 30 km/jam. Rusaknya beberapa tanggul yang membentengi Kota Surakarta
menyebabkan air sungai Bengawan Solo tidak dapat dicegah dan dengan cepat masuk
menggenangi wilayah kota. Berikut adalah peta genangan bencana banjir besar yang
menggenangi sebagian besar wilayah Kota Surakarta pada tahun 1966 (Taqabalallah,
Ridha. 2009).

Gambar. Peta Genangan Bencana Banjir tahun 1966 di Kota Surakarta


Sumber : Taqabalallah, Ridha. 2009

Hingga saat ini beberapa wilayah di Kota Surakarta hampir selalu mengalami banjir
tahunan. Banjir tersebut merupakan banjir kiriman dari daerah sekitar Surakarta. Misalnya,
banjir di daerah Laweyan disebabkan meluapnya Kali Premulung yang melintasi selatan
Kota Surakarta, bersumber dari daerah hulu Kabupaten Sukoharjo. Banjir di daerah
Kadipiro dan Banyuanyar akibat meluapnya Kali Pepe dan Kali Anyar yang bersumber
dari Kabupaten Boyolali Lereng Timur Gunung Merapi. Banjir kiriman dari Klaten yang
akan masuk Bengawan Solo melalui Kali Dengkeng. Banjir tahunan paling sering berasal
dari Waduk Gajah Mungkur yang telah mengalami pendangkalan sehingga daya tampung

waduk berkurang dan mudah mengalami overcapacity sehingga saat hujan lebat dengan
durasi panjang melebihi batas normal, maka sebagian air akan dilepaskan. Banjir ini akan
menggenangi daerah tenggara Kota Surakarta. Kondisi kerawanan masing-masing wilayah
di Kota Surakarta terhadap bencana banjir tahunan tersebut dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.

Gambar. Peta Rawan Banjir Kota Surakarta


Sumber : Tri Susetia, Siswa. 2013

Adanya potensi banjir di Kota Surakarta dengan adanya Sungai Bengawan Solo serta
Kali Pepe dan Kali Jenes yang melintasi dalam kota maka terdapat beberapa fasilitas
pengendalian banjir di Kota Surakarta yang telah dibangun sejak pemerintahan Belanda.
Fasilitas tersebut berupa tanggul di sebelah utara kota berfungsi menahan air yang
mengalir di Kali Pepe/Kali Anyar sehingga air tidak melalui dalam kota tetapi langsung
dialirkan menuju Sungai Bengawan Solo dan tanggul di sebelah selatan kota melingkar
dari Tipes hingga Semanggi berfungsi menahan air yang mengalir di Kali Jenes menuju
Sungai Bengawan Solo. Selain itu terdapat delapan pintu air yaitu 3 di utara kota, 1 di
timur kota dan 4 di selatan kota (Taqabalallah, Ridha. 2009).

Pemilihan lokasi bermukim oleh kelompok masyarakat Kota Surakarta dipengaruhi


oleh dua hal yaitu pertama dipengaruhi oleh persepsi manusia untuk menempati lahan
tersebut. Manusia memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pemilihan lokasi
permukiman dengan mempertimbangkan keuntungan serta kerugian dalam pemilihan
lokasi permukimannya. Kedua adalah permasalahan sosial ekonomi, artinya bahwa dalam
pemilihan lokasi permukimannya manusia dituntut oleh keadaan sosial ekonomi yang
mengharuskan untuk menempati lokasi tersebut.
Gambar. Bantaran Kali Pepe padat
permukiman

Pada

tahun

1951

pemerintah

Kota

Surakarta melakukan program pembersihan


kota dengan merelokasi secara besar-besaran
permukiman liar yang berada di dalam kota ke
daerah

pinggiran

Bengawan

Solo

yaitu

Sangkrah, Semanggi dan Joyotakan. Daerah


pinggiran Bengawan Solo yang sebelumnya
berupa tanah kosong dan dihuni oleh beberapa
permukiman

berubah

menjadi

lahan

permukiman padat. Hingga saat ini, pola


bermukim di bantaran sungai menjadi suatu
hal yang wajar di Kota Surakarta karena tuntutan ekonomi (Taqabalallah, Ridha. 2009).
Kondisi wilayah Kota Surakarta yang rawan akan bencana banjir dan masih banyaknya
permukiman penduduk di bantaran sungai, dibutuhkan suatu sistem pengurangan risiko
bencana banjir berupa Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) yang tepat. Sistem
peringatan dini adalah serangkaian sistem yang memberitahukan akan timbulnya kejadian
alam berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya. Peringatan dini atas bencana yang
disampaikan kepada masyarakat harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami atau
dicerna oleh masyarakat, dapat diwujudkan dalam bentuk kentongan atau sirine. Kedua
alat ini dipilih karena dapat mengantarkan informasi secara cepat kepada masyarakat
sehingga masyarakat dapat merespon dengan cepat dan tepat. Semakin dini suatu
peringatan akan bencana, maka semakin longgar bagi masyarakat untuk meresponnya.

B. PEMBAHASAN PERMASALAHAN DAN SOLUSI


1. Permasalahan Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir di Kota Surakarta
Sistem peringatan dini banjir dimaksudkan sebagai upaya mengurangi dampak
banjir baik korban jiwa mapun harta benda. Sistem peringatan dini dalam pengendalian
banjir di Kota Surakarta merupakan satu kesatuan yang saling terkait satu sama lain
antara jalur evakuasi, posko banjir, standar operasional prosedur, dan peringatan bahaya
banjir (Tri Susetia, Siswa. 2013).

Standar Operasional Prosedur (SOP)


Peringatan Bahaya Banjir

Posko Banjir

Jalur Evakuasi

Gambar. Hubungan antar sub variabel Sistem Peringatan Dini


Sumber : Tri Susetia, Siswa. 2013

a. Peringatan bahaya banjir merupakan media dalam menginformasikan bahaya banjir


secara langsung kepada masyarakat. Informasi tentang bahaya banjir merupakan
muara dari suatu alur proses analisis data-data mentah tentang sumber bencana dan
sintesis dari berbagai pertimbangan. Terdapat dua bagian utama dalam peringatan
bahaya banjir yaitu bagian hulu yang berupa usaha-usaha untuk mengemas data-data
menjadi informasi yang tepat dan hilir yang berupa usaha agar informasi cepat
sampai di masyarakat.

Peringatan bahaya banjir di Kota Surakarta sudah terpasang pada titik-titik rawan
banjir dengan menggunakan alarm yang berada tidak lebih dari 1 kilometer (Tri
Susetia, Siswa. 2013).

b. Evakuasi berarti berpindahnya atau pemindahan orang-orang dari zona yang


terancam atau berbahaya ke zona aman sesuai rencana dan prosedur. Jalur evakuasi
harus bisa dilalui dengan baik dan cepat, dapat memuat dua kendaraan sehingga
apabila saling berpapasan tidak menghalangi proses evakuasi.

Jalur evakuasi di Kota Surakarta telah diatur dalam Perda No.12 Tahun 2012
tentang Rencana Tata Ruang Kota Surakarta Tahun 2011-2031. Penetapan jalan
utama di Kota Surakarta sebagai jalur evakuasi dirasa sangat efektif dengan
melihat kapasitas jalan yang mencukupi. Jalur ini paling mudah dijangkau
menuju pos pengungsian. Untuk evakuasi tinggal lokal menggunakan jalan
lingkungan yang memiliki banyak simpul jalan untuk menuju tempat yang lebih
aman sehingga tidak menimbulkan penumpukan pada satu titik (Tri Susetia,
Siswa. 2013).

c. Pos Komando (Posko) Banjir adalah salah satu jenis posko yang digunakan untuk
mengantisipasi kejadian bencana banjir, dibentuk di tingkat desa/kelurahan,
kecamatan, kabupaten bahkan propinsi. Posko banjir ditentukan pada lokasi yang
aman, mudah dijangkau dan mudah dikenali, misalnya balai desa. Pada masingmasing tingkat, fungsi posko akan berbeda-beda. Posko tingkat desa/kelurahan
berfungsi sebagai posko yang kegiatannya aktif terkait langsung dalam persiapan
menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Posko tingkat kecamatan dan
kabupaten lebih berfungsi sebagai pusat informasi, koordinasi dan kemungkinan
bantuan bila diperlukan. Posko tingkat propinsi berfungsi sebagai pusat informasi
dan koordinasi.

Posko banjir di Kota Surakarta yang terbagi menjadi tingkat kelurahan,


kecamatan dan kota sudah memiliki kelembagaan yang disesuaikan dengan
fungsi masing-masing. Koordinasi, prosedur pelaporan serta pelaksanaan
kegiatan pada setiap tingkat sudah berjalan dengan baik. Akan tetapi dalam
pelaksanaan antar tingkat kelembagaan belum memiliki komunikasi yang lancar
dalam pemberian tingkatan logistik maupun bantuan medis. Masing-masing
tingkatan memiliki acuan sendiri dan kontrol dari pemerintah daerah masih lemah
(Tri Susetia, Siswa. 2013).

d. Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk


melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja
berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai dengan
tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan.

SOP peringatan dini banjir di Kota Surakarta belum berjalan maksimal karena
masih terjadi kesalahan komunikasi antar tingkatan posko banjir karena tiap

tingkatan masih mengacu pada prosedur yang dimiliki masing-masing. Selain itu,
SOP untuk masyarakat belum ada (Tri Susetia, Siswa. 2013).
2. Sistem Peringatan Dini Tepat yang dapat diterapkan di Kota Surakarta
Sistem peringatan dini di Kota Surakarta yang perlu untuk ditingkatkan kualitasnya
adalah alat peringatan bahaya banjir dan SOP peringatan dini, sedangkan untuk jalur
evakuasi dan posko banjir yang ditetapkan telah memenuhi ketentuan.
Penyampaian informasi yang tepat waktu dan efektif melalui kelembagaan yang
jelas sehingga memungkinkan setiap individu yang terancam bahaya dapat mengambil
langkah untuk menghindari atau mengurangi risiko dan mempersiapkan diri untuk
melakukan tanggap darurat yang efektif pula. Informasi tentang bahaya banjir yang
merupakan hasil analisis data-data mentah tentang sumber bencana memegang peranan
sangat penting untuk menjadi informasi yang tepat sehingga diperlukan suatu alat
peringatan bahaya banjir dengan kinerja keandalan tinggi dan kemampuan operasi
secara terus menerus.
Ketinggian air sungai dapat dijadikan suatu parameter untuk menentukan status
bahaya suatu sungai dan dapat dipantau menggunakan alat telemetri. Telemetri Tinggi
Muka Air memiliki spesifikasi dan fitur yang cukup handal dalam menangani berbagai
kemungkinan yang terjadi di lapangan, termasuk kendali jarak jauh, penanganan format
data, filtering, serta sistem reset baik secara manual maupun secara otomatis. Sistem
yang dikembangkan untuk memantau status bahaya sungai melalui indikator ketinggian
muka air sungai terbagi menjadi dua sistem yaitu sistem pemancar data dan sistem
penerima data (Purnomo, Fuad, 2011).

Sistem Pemancar Data


Sistem pemancar data memiliki subsistem didalamnya yang bertugas untuk

Antena

mengambil data yang kemudian dipancarkan. Subsistem tersebut adalah alat


pemantau ketinggian air berbasis sensor ultrasonik SRF02.

LCD

Alat Pemantau Ketinggian Air (Telemetri)


Mikrokontroler Modul Pemancar Data
Gambar. Sistem Pemancar Data

Sistem Penerima Data


Sistem penerima data berfungsi menerima data dari sistem pemancar data.

Antena
LCD

Modul Penerima Data

Mikrokontroler

Personal Komputer

Gambar. Sistem Penerima Data

Sistem peringatan bahaya banjir merupakan gabungan dari sistem pemancar data dan
sistem penerima data. Sistem pemancar data ditempatkan pada suatu bangunan yang
disebut sebagai stasiun pemantau, sedangkan sistem penerima data ditempatkan sebagai
stasiun pusat lengkap dengan sistem energi. Jarak muka air dengan sensor (Telemetri
Tinggi Muka Air) yaitu 20 cm hingga 250 cm. Desain sistem peringatan dini
menggunakan telemetri dapat dilihat pada gambar berikut ini. (a. Stasiun pemantau, b.
Stasiun pusat, c. Ultrasonik SRF02, d. Daerah aliran sungai Bengawan Solo, e. Beton
penyangga sensor, f.1. sel surya stasiun pemantau, f.2. sel surya stasiun pusat, g.1
antena pemancar data, g.2. antena penerima data, h.konektor sensor SRF02, i.1 sumber
energi listrik PLN stasiun pemantau, i.2 sumber energi listrik PLN stasiun pusat, dan j.
Arah rambat gelombang ultrasonik (Purnomo, Fuad, 2011).

Gambar. Desain Sistem Alat Peringatan Bahaya Banjir di Kota Surakarta


Sumber : Purnomo, Fuad. 2011

Telemetri Tinggi Muka Air di Kota Surakarta dipasang pada setiap pintu air sungai
yang masuk ke dalam kota, yaitu sebanyak delapan alat sebagai berikut :
a. 3 di utara kota

Kali Pepe di Kelurahan Banyuanyar

Kali Anyar di Kelurahan Sumber

pertemuan Kali Jenes dengan Kali Anyar di Kelurahan Gilingan

b. 1 di timur kota

Pertemuan Kali Anyar dengan Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Jebres

c. 4 di selatan kota

Pertemuan Kali Jenes dengan Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Sangkrah

Pertemuan Kali Wingko dengan Sungai Bengawan Solo di Kelurahan Joyosuran

Pertemuan Kali Wingko dan Kali Jenes di Kelurahan Serengan

Kali Wingko di Kelurahan Pajang

Telemetri

Gambar. Persebaran Telemetri Tinggi Muka Air di Kota Surakarta


Sumber :Penulis

Stasiun pusat adalah stasiun yang menerima data tinggi mata air sungai kemudian
mengolahnya menjadi informasi yang harus disebarkan kepada masyarakat dengan
memberi peringatan waspada, siaga atau awas. Stasiun pusat peringatan banjir di Kota
Surakarta terletak pada setiap ibukota kecamatan.

Stasiun pusat di Kecamatan Banjarsari bertugas menerima data dari telemetri Tinggi
Muka Air (TMA) pintu air di Kelurahan Banyuanyar, Sumber dan Gilingan.

Stasiun pusat di Kecamatan Jebres bertugas menerima data dari telemetri Tinggi
Muka Air (TMA) pintu air di Kelurahan Jebres.

Stasiun pusat di Kecamatan Pasar Kliwon bertugas menerima data dari telemetri
Tinggi Muka Air (TMA) pintu air di Kelurahan Sangkrah dan Joyosuran.

Stasiun pusat di Kecamatan Serengan bertugas menerima data dari telemetri Tinggi
Muka Air (TMA) pintu air di Kelurahan Serengan.

Stasiun pusat di Kecamatan Laweyan bertugas menerima data dari telemetri Tinggi
Muka Air (TMA) pintu air di Kelurahan Pajang.

Stasiun
Gambar. Persebaran Stasiun Pusat Penerima Data Telemetri Tinggi Muka Air di Kota
Surakarta
Sumber :Penulis

Informasi dari stasiun pusat masing-masing kecamatan akan diteruskan oleh petugas
kecamatan kepada petugas kelurahan di bawahnya melalui Handphone atau HT.
Kelurahan tersebut tidak semuanya merupakan wilayah administrasi pada kecamatan
tersebut. Misal Kelurahan Gandekan yang secara administrasi masuk dalam Kecamatan
Jebres, akan tetapi pada alur informasi bahaya banjir ini, Kelurahan Gandekan masuk
pada stasiun pusat Kecamatan Pasar Kliwon karena wilayahnya yang dilalui Kali Jenes
dan dekat dengan pintu air yang masuk dalam kewenangan stasiun pusat Kecamatan
Pasar Kliwon. Berikut adalah daftar stasiun pusat pada setiap kecamatan beserta
kelurahan yang menjadi alur informasi dibawahnya :
a. Stasiun Pusat Kecamatan Banjarsari
Kelurahan Banyuanyar, Nusukan, Kadipiro, Gilingan, Sumber, Punggawan, Ketelan,
dan Setabelan.
b. Stasiun Pusat Kecamatan Pasar Kliwon
Kelurahan Joyosuran, Semanggi, Sangkrah, Sewu, Kedung Lumbu, Gandekan,
Sudiroprajan, Kampung Baru, Kepatihan Kulon, Kepatihan Wetan, Jagalan, dan
Purwodiningratan.
c. Stasiun Pusat Kecamatan Jebres
Kelurahan Mojosongo dan Pucangsawit.
d. Stasiun Pusat Kecamatan Serengan
Kelurahan Serengan, Danukusuman, dan Joyotakan
e. Stasiun Pusat Kecamatan Laweyan
Kelurahan Sondakan, Pajang, Laweyan, dan Panularan.
Informasi yang diberikan kepada masing-masing kelurahan adalah jenis bahaya
banjir yaitu Waspada, Siaga, atau Awas. Jika peringatan berupa siaga atau awas,
informasi berapa lama lagi banjir datang juga disertakan, dan RW mana saja yang akan
terkena banjir tersebut.
Setelah pesan diterima oleh petugas kelurahan, informasi akan diteruskan kepada
ketua RW masing-masing RW yang akan terkena bencana banjir menggunakan
Handphone atau HT. Ketua RW yang menerima informasi tersebut harus segera
memukul kentongan sebagai tanda bahaya banjir. Kentongan merupakan alat informasi
yang masih digunakan di Kota Surakarta.

Petugas Kelurahan

Stasiun Pusat
(Kecamatan)

Petugas Kelurahan

Petugas Kelurahan

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Ketua RW

Masyarakat

Gambar. Alur Informasi Peringatan Bahaya Banjir di Kota Surakarta


Sumber :Penulis

Sistem peringatan dini adalah kunci untuk mengurangi risiko yang efektif jika sistem
dapat dikenali dan dipahami oleh publik dan hasil deteksi dapat diinformasikan kepada
masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah sekitar rawan banjir. Oleh karena
itu, sistem peringatan akan efektif jika dibuat dalam bentuk Standar Operasi Prosedur
(SOP). Sistem peringatan dini yang efektif harus dipahami oleh seluruh masyarakat
untuk meningkatkan kesadaran. Sehingga dapat menjadi kuat untuk menjadikannya
sebagai kebutuhan bersama. SOP yang dibuat dengan masyarakat harus realistis dan
kredibel, karena masyarakat lebih tahu tentang karakteristik dan kebutuhan mereka
(JICA, 2011).
SOP bencana banjir yang dibentuk di Kota Surakarta adalah SOP untuk masingmasing RW. SOP itu dijalankan oleh organisasi siaga bencana tiap RW dan terdiri dari
koordinator, wakil koordinator, bagian data dan informasi EWS, bagian keamanan,
bagian mobilisasi pengungsi, bagian logistik, dan bagian P3K. Setiap bidang memiliki
tugas masing-masing, berikut adalah tugas masing-masing bidang organisasi siaga
bencana untuk keadaan normal dan untuk keadaan setiap jenis ancaman bencana banjir
di Kota Surakarta.

Tabel. Tugas Masing-Masing Bidang Organisasi Siaga Bencana berdasarkan Kondisi Jenis
Ancaman Bencana Banjir

STATUS

WASPADA

BIDANG

TUGAS

Koordinator Bidang Data


dan Informasi EWS
Koordinator Evakuasi

Menerima tanda bahaya


dari petugas

Koordinator Bidang Data


dan Informasi EWS

Cek pendataan warga

Pendataan anggota
keluarga dan barang
bawaan saat mengungsi
Memastikan kesiapan
pengungsi dan keamanan
rumah

Koordinator mobilisasi
pengungsi
Koordinator bidang
Keamanan
Koordinator bidang
logistik
Koordinator bidang P3K
Koordinator Bidang Data
dan Informasi EWS
Koordinator Evakuasi
Koordinator Bidang Data
dan Informasi EWS
Koordinator bidang
Keamanan

SIAGA

Koordinator mobilisasi
pengungsi
Koordinator bidang
Keamanan
Koordinator bidang
logistik
Koordinator bidang P3K

AWAS

KETERANGAN

Persiapan evakuasi
Menyelamatkan harta
benda
Menyiapkan anggota
keluarga untuk evakuasi
Cek persiapan P3K dan
logistik

Menerima tanda bahaya


dari petugas
Persiapan evakuasi
Menyelamatkan harta
benda
Menyiapkan anggota
keluarga untuk evakuasi
Evakuasi kelompok rentan
menuju Posko Banjir
Warga lain menyesuaikan
Pemantauan keamanan
Persiapan P3K dan logistik
di Posko Banjir

Koordinator Bidang Data


dan Informasi EWS
Koordinator Evakuasi
Koordinator mobilisasi
pengungsi
Koordinator Bidang Data
dan Informasi EWS

Menerima tanda bahaya


dari petugas

Koordinator bidang
Keamanan

Pemantauan keamana

Evakuasi seluruh warga ke


Posko Banjir
Pendataan warga di tempat
evakuasi

Pelampung
Tandu
Alat P3K
Makanan
Minuman
-

Memastikan kesiapan
pengungsi dan keamanan
rumah

Membantu kelompok
rentan menuju Posko
Banjir
Memantau keamanan
lingkungan
Pelampung
Tandu
Alat P3K
Makanan
Minuman
Setiap warga yang akan
meninggalkan Posko
Banjir harus mendapat
ijin dari koordinator
organisasi siaga bencana
di RW tersebut.
Menjaga keamanan
lingkungan

Sumber :Modifikasi dari materi kuliah Teuku Faisal Fathani, Ph.D

C. KESIMPULAN
Kondisi wilayah Kota Surakarta rawan akan bencana banjir dan masih banyak
permukiman penduduk di bantaran sungai sehingga membutuhkan suatu sistem
pengurangan risiko bencana banjir berupa Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)
yang tepat. Sistem peringatan dini yang telah ada dalam pengendalian banjir di Kota
Surakarta merupakan satu kesatuan yang saling terkait satu sama lain antara jalur
evakuasi, posko banjir, standar operasional prosedur, dan peringatan bahaya banjir.
Sistem peringatan dini di Kota Surakarta perlu untuk ditingkatkan kualitasnya karena
alat peringatan bahaya banjir dan SOP peringatan dini belum berjalan dengan baik. Sistem
peringatan bahaya banjir yang diterapkan dapat berupa Telematri Tinggi Muka Air yang
dipasang pada setiap pintu air dan dihubungkan ke stasiun pusat yang berada di setiap
kecamatan. Informasi peringatan bahaya banjir memiliki alur dari stasiun pusat hingga
masyarakat dimana pada masyarakat telah terbentuk organisasi siaga bencana pada
lingkup RW dan telah memiliki tugas masing-masing untuk setiap jenis ancaman bahaya
banjir.
D. REFERENSI
BBWSBS. 2012. Profil Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo
Tahun 2012. Surakarta : Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo
Faisal Fathani, Teuku. 2014. Pelatihan Evakuasi Bencana Banjir berbasis Masyarakat.
UGM : Fakultas Teknik.
JICA. 2011. Standard Operating Procedure (SOP) Sistem Peringatan Dini Sebelum
Kejadian Banjir Bandang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalipakis Kabupaten Jember.
Jember : Yayasan Pengabdian Masyarakat
Purnomo, Fuad. 2011. Purwarupa Sistem Peringatan Dini Bencana Banjir Sungai
Bengawan Solo Menggunakan Telemetri Berbasis Mikrokontroler ATMEGA 8535. UNS
: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Taqabalallah, Ridha. 2009. Banjir Bengawan Solo Tahun 1966 : Dampak dan Respon
Masyarakat Kota Solo. UNS : Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Tri Susetia, Siswa. 2013. Tingkat Kualitas Pengendalian Banjir Non-Struktural Di Daerah
Rawan Banjir Kota Surakarta. UNS : Fakultas Teknik

Beri Nilai