Anda di halaman 1dari 40

SKENARIO 1

MATA DIOBATI MENJADI BUTA


Tidak terima matanya menjadi buta, Haslinda bersama tim kuasa hukum dari Lembaga
Bantuan Hukum Kesehatan mendatangi ke Polda Metro Jaya untuk melaporkan dugaan
malpraktek dokter, Waldensius Girsang di Rumah Sakit Jakarta Eyes Center.
Haslinda menuturkan, pada 6 Maret lalu, Kemerahan pada mata, kabur penglihatan, kepekaan
terhadap cahaya (ketakutan dipotret), gelap, mata sakit sudah disampaikan ke okter Fikri
Umar Purba yang kemudian didiagnosis sebagai penyakit uveitis tuberkulosa. Namun
beberapa hari kemudian setelah ditangani oleh dokter Purba, mata Haslinda tidak kembali
berfungsi normal atau menjadi buta.
Sementara itu, Dokter Purba yang ditemui di Rumah Sakit Jakarta Eyes Center membantah
telah melakukan malpraktek terhadap Haslinda.
Dalam pengaduannya, Jakarta Timur ini tidak menyebutkan tuntutan materil dan inmateril
kepada dokter Purba dan Rumah Sakit Jakarta Eyes Center sebagai pihak yang diduga
melakukan malpraktek.
Pengacara pasien juga menuliskan dasar gugatannya berdasarkan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pasal 27 (1) UUD 1945


Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kesehatan
UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Kode Etik Kedokteran
UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

Kata Sulit :

1. Malpraktek : Kegagalan seorang dokter untuk menggunakan tingkat keterampilan dan ilmu
pengetahuan yang lazim digunakan untuk mengobati pasien
2. Uveitis Tuberkulosa : Radang pada uvea yang disebabkan oleh bakteri tuberkulosa
3. Hukum Pidana : Keseluruhan dan peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan apa
yang dilarang dan termasuk kedalam tingkat pidana serta menentukan hukuman apa yang
dijatuhkan kepada pelakunya
4. Hukum Perdata : Ketentuan yang mengatur hak-hak dan kepentingan individu-individu
dalam masyarakat.

Pertanyaan :

1. Bagaimana kriteria malpraktek menurut islam ?


2. Bagaimana dokter dikatakan malpraktek ?
3. Mengapa pelapor tidak menuntut materil dan inmateril ?
4. Apa saja jenis-jenis malpraktek ?
5. Apakah dokter perlu melakukan informed consent ?
6. Apa tugas lembaga bantuan hukum kedokteran ?
7. Apabila dokter terbukti bersalah, hukuman apa yang diberikan ?
8. Bagaimana perlindungan hukum bagi dokter ?

Jawaban :

1. Haram. Karena kita harus mengutamakan manfaat daripada mudharat. Jika dilakukan
dengan sengaja, maka menjadi dosa
2. - Jika tindakannya tidak sesuai SOP
- Malpraktek hanya boleh dinilai oleh sesame dokter
- Merugikan dan mengancam nyawa
3. Karena hanya butuh pertanggung jawaban dokter
4. Jenis jenis malpraktek : 1. Medis
2. Etik
3. Yuridis Pidana & Perdata
5. Perlu. Sebagai bukt persetujuani atas tindakan yang telah dilakukan oleh dokter kepada
pasien
6. Membantu menyelesaikan masalah hokum dalam bidang kedokteran

7. - Denda
- Ancaman pencabutan surat izin praktek
3

- Penjara
8. Dilindungi oleh KODEKI, Undang-undang, dan majelis kehormatan etik kedokteran.

Hipotesis :

Apabila seorang pasien mengalami perburukan atas kondisinya dan pasien menduga dokter
telah melakukan tindakan malpraktek, maka pasien tersebut akan melaporkan malpraktek
tersebut ke POLDA atau IDI. Setelah menjalani beberapa tahap penyelidikan, baru dapat
diputuskan dokter bersalah atau tidak bersalah. Jika dokter bersalah, maka dokter akan
dikenakan hukuman bisa berupa denda, penjara atau pencabutan surat izin praktek.

Sasaran Belajar :

LI.1. Memahami dan menjelaskan Malpraktek


5

LI.2. Memahami dan menjelaskan alur hukum pada dugaan malpraktek


LI.3. Memahami dan menjelaskan Informed Consent
LI.4. Memahami dan menjelaskan Hukum malpraktek dalam islam.

LI.1. Memahami dan menjelaskan Malpraktek


Definisi malpraktek

Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktik mempunyai arti
pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktik berarti pelaksanaan atau tindakan yang
salah. Definisi malpraktik profesi kesehatan adalah kelalaian dari seseorang dokter atau
perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati
dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Definisi Menurut Kedokteran
Kegagalan dokter untuk memenuhi standar pengobatan dan perawatan terhadap pasien
atau adanya kekurangan keterampilan atau kelalaian dalam pengobatan dan perawatan
yang menimbulkan cedera pasien. Namun,tidak semua kegagalan medis disebabkan oleh
malpraktek kedokteran. Contohnya adalah perjalanan penyakir seorang pasien yang
semakin berat, reaksi tubuh yang tidak dapat diramalkan, komplikasi penyakit yang
terjadi secara bersamaan. (World Medical Association, 1992)
Sesuatu perbuatan atau sikap medis dianggap lalai apabila memenuhi empat unsur 4D,
yaitu:
a. Duty. Ada kewajiban medis untuk melakukan tindakan medis tertentu terhadap pasien
pada situasi kondisi tertentu
b. Derelection of that duty. Adanya penyimpangan kewajiban tersebut
c. Damage. Segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari
layanan kesehatan kedokteran yang diberikan
d. Direct causal relationship. Dapat dibuktikan adanya hubungan sebab akibat yang
nyata antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian
Definisi Menurut Hukum
Istilah malpraktek hanya digunakan untuk menyatakan adanya tindakan yang salah
dalam pelaksanaan suatu profesi; baik dibidang kedokteran maupun bidan hukum.
Tindakan yang salah secara yuridis penal diartikan setelah melalui putusan pengadilan.
Tindakan yang salah dimaksud sebagai tindakan yang dapat menumbuhkan kerugian
baik nyawa, maupun harta benda.

MALPRACTICE

MEDICAL MALPRACTICE

PROFESI LAIN

ETHICAL
MALPRACTICEYURIDICAL
MALPRACTICE
Jenis-jenis
Malpraktek
CRIMINAL MALPRACTICE
7

CIVIL MALPRACTICE
ADMINISTRATIVE MALPRACTICE

a. Criminal Malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice
manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana, yakni:
Perbuatan tersebut (positive/negative act) merupakan perbuatan tercela
Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional), kecerobohan (recklessness) atau kealpaan (negligence)
o Intensional: melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia
jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263
KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis (pasal 299 KUHP)
o Recklessness: melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed
consent
o Negligence: kurang hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya
pasien, ketinggalan klem dalam perut pasien saat melakukan operasi
Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain
atau kepada rumah sakit / sarana kesehatan
b. Civil Malpractice
Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang
telah disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga kesehatan yang dapat
dikategorikan civil malpractice antara lain:
Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya

Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak


sempurna
Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi


dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability.
Dengan prinsip ini maka RS / sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas
kesalahan yang dilakukan karyawannya (tenaga kesehatan) tersebut dalam rangka
melaksanakan tugas kewajibannya.
Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan
dengan dua cara yakni :
1. Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolak ukur adanya 4 D yakni
a Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian tenaga dokter dengan pasien, dokter haruslah bertindak
berdasarkan:
Adanya indikasi medis
Bertindak secara hati-hati dan teliti
Bekerja sesuai standar profesi
Sudah ada informed consent.
b Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)
Jika seorang dokter melakukan tindakan menyimpang dari apa yang seharusnya atau
tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya, maka
dokter dapat dipersalahkan.
c Direct Cause (hubungan sebab akibat yang nyata)
d Damage (kerugian)
yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan
kesehatan / kedokteran yang diberikan oleh pemberi layanan.
2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien, yakni
dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil layanan perawatan
(doktrin res ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta
yang ada memenuhi kriteria:
a Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila dokter tidak lalai
b Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab dokter
c Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada
contributory negligence.

c. Administrative Malpractice
Tenaga perawatan dikatakan telah melakukan administrative malpractice
manakala tenaga tenaga perawatan tersebut telah melanggar hukum administrasi.
Perlu diketahui bahwa melakukan police power, pemerintah mempunyai
kewenangan menertibkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya
9

tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan profesinya (Surat


Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga
perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang
bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum administrasi.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan
nonfeasance:
Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat /
layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi
yang memadai.
Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi
dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya
melakukan tindakan medisdengan menyalahi prosedur
Nonfeasance adalah
tidak melakukan
tindakan medis
yang merupakan
kewajiban baginya.
Adapun jenis- jenis lainnya
1) Intenttional
Professional misconducts
fraud/ misrepresentasi
Pelanggaran standar secara sengaja (deliberate violation)
Pidana umum : keterangan palsu, buka rahasia kedokteran tanpa hak, aborsi
legal, euthanasia
2) Negligence (kelalaian medik)
Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak
tepat/layak (unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis
tanpa indikasi yang memadai.
Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi
dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance), yaitu misalnya
melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur
Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan
kewajiban baginya. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentukbentuk error (mistakes, slips and lapses), namun pada kelalaian harus
memenuhi keempat unsur kelalaian dalam hukum khususnya adanya kerugian,
sedangkan error tidak selalu mengakibatkan kerugian.
3) Lack of skill
Penyebab eror tersering, berkaitan dengan kompetensi intitusi
4) Erors
Berkaitan dengan masalah informasi.Misalnya : lupa, kurang pengetahuan
5) Violation

10

Berkaitan dengan motivasi.Misalnya : Rendahnya moral, kurang supervise, tidak


serius, tidak patuh, tidak disiplin.
Pasal-pasal yang Mengatur Malpraktek
Peraturan Non Hukum
Diatur oleh Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). KODEKI semula
merupakan peraturan non hukum karena peraturan ini telah menjadi petunjuk
perilaku atau etika seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Dalam KODEKI
diatur tentang kewajiban dokter terhadap pasien yang dicantumkan di dalam Pasal 10
sampai dengan Pasal 14, yaitu:
Pasal 10 KODEKI: Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya
melindungi makhluk insani
Pasal 11 KODEKI: Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan
segala ilmu dan keterampilannya untu kepentingan penderita. Dalam hal ia tidak
mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka ia wajib merujuk
penderita kepada dokter lain yang mempunyai keahlian dalam bidang penyakit
tersebut
Pasal 13 KODEKI: Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang penderita, bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia
Pasal 14 KODEKI: Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai
suatu tugas perikemanusiaan, kecuali ia yakin ada orang lain yang bersedia dan lebih
mampu memberikan pertolongan darurat terhadap pasien yang membutuhkannya,
padahal ia mampu dapat terkena sasaran tuntutan malpraktek juga
Peraturan Hukum
1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pasal-pasal didalam KUHP yang terkait dengan malpraktik medik, yaitu:
a. Pasal 263 dan 267 KUHP (Membuat Surat Keterangan Palsu)
b. Pasal 290 KUHP (Melakukan Pelanggaran Kesopanan)
c. Pasal 299 KUHP (Mengobati seorang wanita dengan memberitahukan atau
menimbulkan harapan bahwa kandungannya dapat digugurkan)
d. Pasal 322 KUHP (Membuka Rahasia)
e. Pasal 304 KUHP (Pembiaran / Penelantaran)
f. Pasal 306 KUHP (Apabila tindakan penelantaran tersebut mengakibatkan
kematian)
g. Pasal 322 KUHP (Membocorkan rahasia profesi)
h. Pasal 333 KUHP (Dengan sengaja dan tanpa hak telah merampas kemerdekaan
seseorang)
i. Pasal 344 KUHP (Euthanasia)
j. Pasal 347 KUHP (Sengaja melakukan abortus tanpa persetujuan wanita yang
bersangkutan)
k. Pasal 348 KUHP (Sengaja melakukan abortus dengan persetujuan)
11

l. Pasal 349 KUHP (Membantu atau melakukan tindakan abortus provocatus


criminalis)
m. Pasal 359 KUHP (Kelalaian yang menyebabkan kematian)
n. Pasal 360 KUHP (Kelalaian yang menyebabkan luka / cacat)
o. Pasal 386 KUHP (Memberi atau menjual obat palsu)
p. Pasal 531 KUHP (Tidak memberi pertolongan pada orang yang berada dalam
keadaan bahaya)
Pemberlakukan hukum pidana dalam kasus-kasus kelalaian medis yang terjadi di
dalam penyelenggaraan praktek kedokteran haruslah sebagai ultimatum remidium
artinya hukum pidana sebagai alternatif terakhir apabila upaya-upaya non litigasi
sudah tidak bisa lagi berhasil untuk mengatasi permasalahan yang timbul. Selain iitu
juga karena praktek kedokteran merupakan profesi yang sangat mulia dan luhur yang
diperlukan oleh banyak orang dan praktek kedokteran dijamin pelaksanaannya oleh
undang-undang.
2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Pasal-pasal didalam KUHPerdata yang terkait dengan malpraktek medik, yaitu:
a. Pasal 1239 KUH Perdata (Melakukan wanprestasi atau cidera janji)
b. Pasal 1365 KUH Perdata(Melakukan perbuatan melawan hukum)
c. Pasal 1366 KUH Perdata (Melakukan kelalaian sehingga menimbulkan
kerugian)
d. Pasal 1367 KUH Perdata (Bertanggung jawab atas kelalaian yang dilakukan
oleh bawahannya)
3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
a. Pasal 54 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Kesalahan atau
kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan)
b. Pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Sengaja melakukan
tindakan medis tidak sesuai dengan Standart Operational Procedure pada ibu
hamil)
c. Pasal 81 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Sengaja melakukan
transplantasi organ tubuh untuk tujuan komersil)
d. Pasal 81 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Tanpa keahlian
sengaja melakukan transplantasi, implan alat kesehatan, bedah plastik)
e. Pasal 81 ayat 2a Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 (Sengaja mengambil
organ tanpa memperhatikan kesehatan dan persetujuan pendonor / ahli waris)
4) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran
a. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 (Pengaturan praktek
kedokteran bertujuan untuk, Pertama memberikan perlindungan kepada pasien,
Kedua mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang
diberikan oleh dokter dan dokter gigi, dan Ketiga memberikan kepastian
hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi)
b. Pasal 44 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 (Mensyaratkan kepada setiap
dokter dan dokter gigi dalam memberikan pelayanan haruslah mempunyai

12

standar pelayanan. Standar pelayanan disini adalah pedoman yang harus diikuti
oleh dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktek kedokteran)
c. Pasal 75 dan 76 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 (Mensyaratkan setiap
dokter harus mempunyai surat registrasi yang ditandatangani oleh konsil
kedokteran. Sedangkan surat izin praktek kedokteran ditandatangani oleh
pejabat kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat praktek
kedokteran atau dokter gigi dilaksanakan. Kedua persyaratan tersebut menjadi
suatu hal yang mutlak dimiliki oleh seorang dokter. Apabila dokter tidak
mempunyai surat registrasi dan surat izin praktek, maka selain dokter tersebut
tidak sah, masyarakat juga tidak berani di diagnosa oleh dokter tersebut karena
takut terjadi malpraktek)
5) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
a. Pasal 32 (Pasien berhak atas ganti rugi apabila dalam pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
mengakibatkan terganggunya kesehatan, cacat atau kematian yang terjadi
karena kesehatan atau kelalaian
Dalam perikatan sebagaimana diatur di dalam KUHPerdata dikenal adanya dua
macam perjanjian, yaitu:
Inspanningverbintenis: perjanjian upaya, artinya kedua belah pihak yang
berjanji berdaya upaya secara maksimal untuk mewujudkan apa yang
diperjanjikan
Resultaatbintennis: perjanjian bahwa pihak yang berjanji akan memberikan
result, yaitu sesuatu hasil yang nyata sesuai dengan apa yang diperjanjikan.

Sanksi Hukum
Sanksi Pidana
1) KUHP 359
Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selamalamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.

2) KUHP 360
1. Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka berat dihukum
denganhukuman penjara selama-lamanya lima tahun atau hukuman kurungan selamlamanya satu tahun.
2. Barangsiapa karena kesalahannya menyebabkan orang luka sedemikian rupa
sehinggaorang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatannya
atau pekerjaannya sementara, dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya
sembilan bulan atau hukuman kurungan selama-lamanya enam bulan atau hukuman
denda setinggi-tingginya Rp.4500,3) KUHP 361
13

Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam melakukan sesuatu
jabatan atau pekerjaan, maka hukuman dapat ditambah dengan sepertiganya dan
bersitersalah dapat dipecat daripekerjaannya, dalam waktu mana kejahatan itu dilakukan
dan hakim dapat memerintahkan supayakeputusannya itu diumumkan.
4) UU RI No. 23 Tahun 1992
1. Pasal 80
Barangsiapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil
yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat 1 dan
ayat 2, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana
denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima puluh juta rupiah)
2. Pasal 81
Barangsiapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja:
a. Melakukan transplantasi organ dan atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34 ayat 1.
b. Melakukan implan alat kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat 1.
c. Melakukan bedah plastik dan rekonstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37ayat 1.
d. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7(tujuh) tahun dan atau pidana denda
paling banyak Rp.140.000.000,- (seratus empat puluh juta rupiah).
1. Pasal 82
Barangsiapa yang tanpa keahlian dan kewenangan dengan sengaja:
a. Melakukan pengobatan dan atau perawatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 ayat 4.
b. Melakukan transfusi darah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat 1.
c. Melakukan implan obat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat 1.
d. Melakukan pekerjaan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63
ayat 1.
e. Melakukan bedah mayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat 2.
f. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana
denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah).
5) UU RI No. 29 Tahun 2004
1. Pasal 75
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 ayat 1 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
2. Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau
denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)
3. Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda
paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau
dokter gigi yang:
a. Dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 41 ayat 1.
14

b. Dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 46 ayat 1.
c. Dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e.
Sanksi Perdata
1) KUH Perdata 1366
Setiap orang bertanggung jawab tidak saja atas kerugian yang disebabkan karena
perbuatannya, tetapi juga atas kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang
hati-hatinya.
2) KUH Perdata 1367
Mengatur tentang kewajiban pemimpin atau majikan untuk mengganti kerugian yang
disebabkan oleh kelalaian yang dilakukan oleh anak buah atau bawahannya.
3) KUH Perdata 1370
Dalam hal pembunuhan (menyebabkan matinya orang lain) dengan sengaja atau kurang
hati-hatinya seseorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan, anak atau orang tua
korban yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan korban, mempunyai hak untuk
menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut kedudukannya dan kekayaan kedua
belah pihak serta menurut keadaan.
4) KUH Perdata 1371
Penyebab luka atau cacatnya suatu anggota badan dengan sengaja atau kurang hati-hati,
memberikan hak kepada korban, selain penggantian biaya-biaya penyembuhan, juga
menuntut penggantian kerugian yang disebabkan oleh luka atau cacat tersebut.
5) UU RI No. 23 Tahun 1992
1. Pasal 55
a. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
tenaga kesehatan.
b. Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Sanksi Administratif
1) UU RI No. 29 Tahun 2004
1. Pasal 66
a. Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan dokter atau
dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis
kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat:
1. Identitas pengadu
2. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu tindakan
dilakukan.
b. Alasan pengaduan.

15

Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak menghilangkan hak
setiap orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana kepada pihak yang
berwenang dan atau menggugat kerugian perdata ke pengadilan.
2. Pasal 67
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia memeriksa dan memberikan
keputusan terhadap pengaduan yang berkaitan dengan disiplin dokter dan dokter gigi.
3. Pasal 69
a. Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat dokter,
dokter gigi dan Konsil Kedokteran Indonesia.
b. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa dinyatakan tidak bersalah
atau pemberian sanksi disiplin.
c. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dapat berupa:
a) Pemberian peringatan tertulis.
b) Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik.
c) Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.
2) PERMENKES RI No.1419/MENKES/PER/X/2005
1. Pasal 24
a. Menteri, Konsil Kedokteran Indonesia,Pemerintah Daerah, dan organisasi
profesimelakukan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan peraturan ini sesuai
dengan fungsi, tugas dan wewenang masing-masing.
b. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diarahkan
padapemerataan dan peningkatan mutu pelayanan yang diberikan oleh dokter dan
dokter gigi.
2. Pasal 25
a. Dalam rangka pembinaan dan pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota
dapat mengambil tindakan administratip terhadap pelanggaran peraturan ini.
b. Sanksi administratip sebagaimana dimaksud ayat 1 dapat berupa peringatan lisan,
tertulis sampai pencabutan SIP.
c. Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota dalam memberikan sanksi administrative
sebagaimana dimaksud ayat 2 terlebih dahulu dapat mendengar pertimbangan
organisasi profesi.
3. Pasal 26
Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota dapat mencabut SIP dokter dan dokter gigi:
a. Atas dasar keputusan MKDKI
b. STR dokter atau dokter dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia.
c. Melakukan tindak pidana.
4. Pasal 27
a. Pencabutan SIP yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota wajib
disampaikan kepada dokter dan dokter gigi yang bersangkutan dalam waktu
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal keputusan
ditetapkan.
b. Dalam hal keputusan dimaksud pada ayat 1 tidak dapat diterima, yang
bersangkutan dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi untuk diteruskan kepada Menteri Kesehatan dalam waktu 14 (empat
belas) hari setelah keputusan diterima.
16

c. Menteri setelah menerima keputusan sebagaimana dimaksud ayat 2 meneruskan


kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia paling lambat 14
(empat belas) hari.
5. Pasal 28
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota melaporkan setiap pencabutan SIP dokter
dan dokter gigi kepada Menteri Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia dan Dinas
Kesehatan Provinsi, serta tembusannya disampaikan kepada organisasi profesi
setempat.
Menjelaskan upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga medis karena adanya
malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena
perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan
berhasil (resultaat verbintenis).
Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.

Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat


sekitarnya.

Menjelaskan upaya menghadapi tuntutan hukum


Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan sehingga
perawat menghadapi tuntutan hukum, maka tenaga kesehatan seharusnyalah bersifat pasif
dan pasien atau keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian tenaga kesehatan.
Apabila tuduhan kepada kesehatan merupakan criminal malpractice, maka tenaga kesehatan
dapat melakukan :
a. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/ menyangkal bahwa
tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrin-doktrin yang
ada, misalnya perawat mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan
tetapi merupakan risiko medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa
dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam
perumusan delik yang dituduhkan.
b.Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan atau
menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan dengan cara
menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan pembelaan untuk
17

membebaskan diri dari pertanggung jawaban, dengan mengajukan bukti bahwa yang
dilakukan adalah pengaruh daya paksa.
Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya perawat menggunakan jasa penasehat
hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan kepadanya.
Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana perawat digugat
membayar ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil
penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan harus
membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya harus
membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (perawat) bertanggung jawab
atas derita (damage) yang dialami penggugat.
Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah, utamanya tidak
diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk
membuktikan adanya tindakan menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan
adanya hubungan langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya
kesehatan (damage), sedangkan yang harus membuktikan adalah orang-orang awam
dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga perawatan.
Menjelaskan penanganan malpraktek
Seorang dokter atau dokter gigi yang menyimpang dari standar profesi dan melakukan
kesalahan profesi belum tentu melakukan malpraktik medis yang dapat dipidana, malpraktik
medis yang dipidana membutuhkan pembuktian adanya unsur culpa lata atau kalalaian berat
dan pula berakibat fatal atau serius (Ameln, Fred, 1991). Hal ini sesuai dengan ketentuan
Pasal 359 KUHP, pasal 360, pasal 361 KUHP yang dibutuhkan pembuktian culpa lata dari
dokter atau dokter gigi.
Dengan demikian untuk pembuktian malpraktik secara hukum pidana meliputi unsur :
1) Telah menyimpang dari standar profesi kedokteran;
2) Memenuhi unsur culpa lata atau kelalaian berat; dan
3) Tindakan menimbulkan akibat serius, fatal dan melanggar pasal 359, pasal 360, KUHP.
Adapun unsur-unsur dari pasal 359 dan pasal 360 sebagai berikut :
1) Adanya unsur kelalaian (culpa).
2) Adanya wujud perbuatan tertentu .
3) Adanya akibat luka berat atau matinya orang lain.
4) Adanya hubungan kausal antara wujud perbuatan dengan akibat kematian orang lain itu.
Tiga tingkatan culpa:
a Culpa lata: sangat tidak berhati-hati (culpa lata), kesalahan serius, sembrono
(grossfault or neglect)
b Culpa levis: kesalahan biasa (ordinary fault or neglect)
c Culpa levissima: kesalahan ringan (slight fault or neglect)(Black 1979 hal. 241).
Dalam pembuktian perkara perdata, pihak yang mendalilkan sesuatu harus
mengajukan bukti-buktinya.
18

Dalam hal ini dapat dipanggil saksi untuk diminta pendapatnya. Jika kesalahan yang
dilakukan sudah demikian jelasnya (res ipsa loquitur, thething speaks for itself) sehingga
tidak diperlukan saksi ahli lagi, maka beban pembuktian dapat dibebankan pada dokternya.
LI.2. Memahami dan menjelaskan alur hukum pada dugaan malpraktek
Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas,
yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib
simpan rahasia kedokteran, profesionalisme.
Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek
hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum,
atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika.
Dalam kenyataan pasien yang kecewa terhadap pelayanan dokter akan menghadapi gugatan.
Masalah : Pelanggaran ini sulit dipilah-pilah apakah pelanggaran hukum atau pelanggaran
etika atau bahkan hanya pelanggaran pribadi. Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli
hukum menganggap bahwa standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai
domain hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi
adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian pelanggaran standar
profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum.
Pelanggaran serius :

Berkaitan dengan kompetensi dan kemampuan


Mengabaikan tanggung jawab profesional
Peresepan tak bertanggung jawab
Perilaku sexual menyimpang
Kecurangan akademik
Pengiklanan diri
Pelanggaran Etik

Suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin profesi bentuk
peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat : kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan
tertentu (bila akibat kurang kompeten), pencabutan haknya berpraktik profesi.
Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan
bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran.

MKEK
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa
melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin
profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas,
profesionalisme dan keluhuran profesi.
Persidangan MKEK
19

Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan anggota)
bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai
penuntut.
Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian sebagaimana
lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian tetap berupaya
melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim

Wewenang MKEK :
Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :

Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak terkait
(pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang
dibutuhkan
Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/ brevet dan
pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek
Tenaga Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti hubungan dokter dengan
rumah sakit, hospital bylaws, SOP dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain
yang berkaitan dengan kasusnya.

Putusan MKEK

Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan tidak dapat dipergunakan
sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam bentuk permintaan
keterangan ahli.
Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik,
kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan tentang jalannya persidangan dan putusan
MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat untuk sepaham dengan putusan MKEK
Eksekusi

Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau
Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan.
Khusus untuk SIP, eksekusinya diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila
eksekusi telah dijalankan maka dokter teradu menerima keterangan telah menjalankan
putusan

Penanganan sengekta medik

Identifikasi seluruh masalah keluhan utama pasein


Dokter teradu diminta untuk membuat kronologi lengkap mengenai kasus itu
Menganalisa secara ilmiah dengan pertimbangan dari ahli terkait
20

Lakukan konfrontasi dengan pengaduupayakan damai

Bila sampai di pengadilan

Tidak jarang kasus sudah disidik polisi


Dan dilimpahkan kejaksaan
Terus sampai pengadilan
IDI dalam hal ini MKEK akan diminmta menjadi saksi ahli
Keputusan di majelis hakim
Vonis sesuai undang-2 yang berlaku

Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia


Lembaga yang yang berwenang untuk menentukan ada dan tidaknya kesalahan yang
dilakukan oleh dokter dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran dan menetapkan sanksi.
Dibentuk ditingkat Pusat dan provinsi
Tugas MKDI

Menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter


yang diajukan
Menyusun pedoman dan tatacara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter
MKDP bekerja sebagai MKDI ditingkat provinsi

MKDKI-MKEK
Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah disiplin profesi, yaitu permasalahan yang timbul
sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan internal profesinya, yang
menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang (profesional) dengan
pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata.
Dalam hal MKDKI dalam sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI
akan meneruskan kasus tersebut kepada MKEK

21

Proses Pengaduan Pelanggaran


TAHAP PENEGAKAN DISIPLIN OLEH MKDKI
TAHAP 1: INVESTIGATIONAL STAGE (TAHAP INVESTIGASI)
PENGADUAN (ADMISSION)
VERIFIKASI
PEMERIKSAAN AWAL OLEH MPA
INVESTIGASI (INQUIRY)
TAHAP 2: ADJUDICATORY STAGE (PEMERIKSAAN DAN KEPUTUSAN)
PEMERIKSAAN DISIPLIN OLEH MPD
PEMBUKTIAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
TAHAP 3: DISPOSITIONAL STAGE (PENYAMPAIANKEPUTUSAN)
PEMBACAAN KEPUTUSAN
PENGAJUAN KEBERATAN TERADU (JIKA ADA)
PENYAMPAIAN KEPUTUSAN KEPADA PIHAK TERKAIT
Pelanggaran disiplin kedokteran adalah pelanggaran terhadap aturan-aturan dan/atau
ketentuan dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran/kedokteran gigi. Dokter/dokter gigi
dianggap melanggar disiplin kedokteran bila :
22

1
2
3

Melakukan praktik dengan tidak kompeten


Tidak melakukan tugas dan tanggung jawab profesionalnya dengan baik (dalam hal
ini tidak mencapai standar-standar dalam praktik kedokteran)
Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesinya

Yang termasuk pelanggaran disiplin kedokteran/kedokteran gigi antara lain ketidakjujuran


dalam berpraktik, berpraktik dengan ketidakmampuan fisik dan mental, membuat laporan
medis yang tidak benar, memberikan "jaminan kesembuhan" kepada pasien, menolak
menangani pasien tanpa alasan yang layak, memberikan tindakan medis tanpa persetujuan
pasien/keluarga, melakukan pelecehan seksual, menelantarkan pasien pada saat
membutuhkan penanganan segera, mengistruksikan atau melakukan pemeriksaan
tambahan/pengobatan yang berlebihan, bekerja tidak sesuai standar asuhan medis, dsb
Suatu pengaduan diputuskan menjadi kewenangan MKDKI apabila :
1 Dokter/dokter gigi yang diadukan telah terregistrasi di Konsil Kedokteran Indonesia.
2 Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter/dokter gigi yang diadukan terjadi setelah
tanggal 6 Oktober 2004 (setelah diundangkannya UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran)
3 Terdapat hubungan profesional dokter-pasien dalam kejadian tersebut
4 Terdapat dugaan kuat adanya pelanggaran disiplin kedokteran/kedokteran gigi
Jika keempat kriteria tersebut terpenuhi, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh Majelis
Pemeriksa Disiplin (MPD)
Dalam formulir pengaduan, terdapat beberapa informasi yang harus diberikan, antara lain :
1 Identitas pengadu/pelapor;
2 Identitas pasien (jika pengadu bukan pasien);
3 Nama dan tempat praktik dokter/dokter gigi yang diadukan;
4 Waktu tindakan dilakukan;
5 Alasan pengaduan dan kronologis;
6 Pernyataan tentang kebenaran pengaduan, dsb
Setelah semua kelengkapan data pengaduan diterima, Anda akan mendapatkan tanda
terima pengaduan (berisi nomor register pengaduan). Setelah dilakukan verifikasi, pengaduan
akan ditangani oleh Majelis Pemeriksa Awal ataupun Majelis Pemeriksa Disiplin.
Sesuai UU Praktik Kedokteran, sanksi disiplin dalam keputusan MKDKI dapat berupa:
1 Pemberian peringatan tertulis
2 Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) atau Surat Izin Praktik (SIP);
dan/atau
3 Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran
atau kedokteran gigi
MKDKI dapat menangani permintaan ganti rugi/kompensasi yang diajukan terhadap
dokter teradu:
1 MKDKI berwenang untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran disiplin oleh
dokter/dokter gigi
2 MKDKI berwenang menetapkan sanksi disiplin kepada dokter/dokter gigi yang
dinyatakan melanggar disiplin kedokteran/kedokteran gigi
3 MKDKI tidak menangani sengketa antara dokter dan pasien/keluarganya
4 MKDKI tidak menangani permasalahan ganti rugi yang diajukan pasien/keluarganya
23

Keputusan MKDKI bersifat final dan mengikat dokter/dokter gigi yang diadukan, KKI,
Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, serta instansi terkait.
Dokter/dokter gigi yang diadukan dapat mengajukan keberatan terhadap keputusan MKDKI
kepada Ketua MKDKI dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari sejak dibacakan atau
diterimanya keputusan tersebut dengan mengajukan bukti baru yang mendukung
keberatannya
LI.3. Memahami dan menjelaskan Informed Consent
Informed consent adalah persetujuan individu terhadap pelaksanaan suatu tindakan,
seperti operasi atau prosedur diagnostik invasif, berdasarkan pemberitahuan lengkap tentang
risiko, manfaat, alternatif, dan akibat penolakan. Informed consent merupakan kewajiban
hukum bagi penyelengara pelayanan kesehatan untuk memberikan informasi dalam istilah
yang dimengerti oleh klien sehingga klien dapat membuat pilihan. Persetujuan ini harus
diperoleh pada saat klien tidak berada dalam pengaruh obat seperti narkotika.
Secara harfiah informed consent adalah persetujuan bebas yang didasarkan atas informasi
yang diperlukan untuk membuat persetujuan tersebut. Dilihat dari pihak-pihak yang terlibat ,
dalam praktek dan penelitian medis, pengertian informed consent memuat dua unsur
pokok, yakni:
1) Hak pasien (atau subjek manusiawi yang akan dijadikan kelinci percobaan medis) untuk
dimintai persetujuannya bebasnya oleh dokter (tenaga medis) dalam melakukan kegiatan
medis pada pasien tersebut, khususnya apabila kegiiatan ini memuat kemungkinan resiko
yang akan ditanggung oleh pasien.
2) Kewajiban dokter (tenaga riset medis) untuk menghormati hak tersebut dan untuk
memberikan informasi seperlunya, sehingga persetujuan bebas dan rasional dapat
diberikan kapada pasien.
Dalam pengertian persetujuan bebas terkandung kemungkinan bagi pasien untuk
menerima atau menolak apa yang ditawarkan dengan disertai penjelasan atau pemberian
informasi seperlunya oleh tenaga medis.
Dilihat dari hal-hal yang perlu ada agar informed consent dapat diberikan oleh pasien
maka, seperti yang dikemukakan oleh Tom L. Beauchamp dan James F. Childress, dalam
pengertian informed consent terkandung empat unsur, dua menyangkut pengertian
informasi yang perlu diberikan dan dua lainnya menyangkut perngertian persetujuan yang
perlu diminta. Empat unsur itu adalah: pembeberan informasi, pemahaman informasi,
persetujuan bebas, dan kompetensi untuk membuat perjanjian. Mengenai unsur pertama,
pertanyaan pokok yang biasanya muncul adalah seberapa jauh pembeberan informasi itu
perlu dilakukan. Dengan kata lain, seberapa jauh seorang dokter atau tenaga kesehatan
lainnya memberikan informasi yang diperlukan agar persetujuan yang diberikan oleh
pasien atau subyek riset medis dapat disebut suatu persetujuan informed. Dalam
menjawab pertanyaan ini dikemukakan beberapa standar pembeberan, yakni:
a. Standar praktek profesional (the professional practice standard)
b. Standar pertimbangan akal sehat (the reasonable person standard)
24

c. Standar subyektif atau orang perorang (the subjective standard)


Menurut Permenkes No.585/Menkes/Per/IX/1989, PTM berarti persetujuanyang
diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang
akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Dari pengertian diatas PTM adalah persetujuan
yang diperoleh sebelum melakukan pemeriksaan, pengobatan atau tindakan medik apapun
yang akan dilakukan.
Persetujuan tersebut disebut dengan Informed Consent Informed. Consent hakikatnya
adalah hukum perikatan, ketentuan perdata akan berlaku dan ini sangat berhubungan
dengan tanggung jawab profesional menyangkut perjanjian perawatan dan perjanjian
terapeutik. Aspek perdata Informed Consent bila dikaitkan dengan Hukum Perikatan yang
di dalam KUH Perdata BW Pasal 1320 memuat 4 syarat sahnya suatu perjanjjian yaitu:
a. Adanya kesepakatan antar pihak, bebas dari paksaan, kekeliruan dan penipuan.
b. Para pihak cakap untuk membuat perikatan
c. Adanya suatu sebab yang halal, yang dibenarkan, dan tidak dilarang oleh peraturan
perundang undangan serta merupakan sebab yang masuk akal untuk dipenuhi.
Fungsi informed consent
Menurut Katz & Capran, fungsi informed Consent :
a. Promosi hak otonomi individu.
b. Proteksi terhadap pasien dan subjek.
c. Menghindari kecurangan, penipuan dan paksaan.
d. Rangsanagn kepada profesi medis introspeksi terhadap diri sendiri
e. Mendorong adanya penelitian yang cermat.
f. Promosi keputusan yang rasional
g. Menyertakan public sebagai :
a) Nilai social
b) pengawasan
Semua tindakan medik/keperawatan yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan. Persetujuan :
a. Persetujuan ; Tertulis maupun lisan.
b. Persetujuan diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat.
c. Cara penyampaian informasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan
situasi pasien.
d. Setiap tindakan yang mengandung risiko tinggi harus dengan persetujuan, selain itu
dengan lisan.
Tujuan Informed Consent
a. Perlindungan pasien untuk segala tindakan medik. Perlakuan medik tidak
diketahui/disadari pasien/keluarga, yang seharusnya tidak dilakukan ataupun yang
merugikan/membahayakan diri pasien.
b. Perlindungan tenaga kesehatan terhadap terjadinya akibat yang tidak terduga serta
dianggap meragukan pihak lain. Tak selamanya tindakan dokter berhasil, tak terduga

25

malah merugikan pasien meskipun dengan sangat hati-hati, sesuai dengan SOP. Peristiwa
tersebut bisa risk of treatment ataupun error judgement.
Hakikat Informed Consent
a. Merupakan sarana legimitasi bagi dokter untuk melakukan intervensi medik yang
mengandung resiko serta akibat yang tidak menyenangkan
b. Merupakan pernyataan sepihak; maka yang menyatakan secara tertulis (written consent)
hanya yang bersangkutan saja yang seharusnya menandatangani
c. Merupakan dokumen walau tidak pakai materai tetap syah.
Dasar Hukum dan Informed Consent
1)

Pasal 1320 KUHPerdata syarat syahnya persetujuan


a. Sepakat mereka yang mengikatkan diri
b. Kecakapan untuk berbuat suatu perikatan
c. Suatu hal tertentu
d. Suatu sebab yang halal
2) Pasal 1321
Tiada sepakat yang syah apabila sepakat itu diberikan karena kehilafan atau diperlukan
dengan paksaan atau penipuan
3) KUHP Pidana pasal 351
a. Penganiayaan dihukum dengan hukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan
bulan.
b. Menjadikan luka berat hukum selama-lamanya 5 tahun (KUHP 20)
c. Membuat orang mati hukum selam-lamanya 7 tahun (KUHP 338)
4) UU No. 23/1992 tentang kesehatan pasal 53
a.Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya
b.
Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi
standar profesi dan menghormati hak pasien
c.Hak pasien antara lain ; hak informasi, hak untuk memberikan persetujuan, hak atas rahasia
kedokteran dan hak atas pendapat kedua (second opinion).
5) UU No. 29/2004
Ttentang Praktik Kedokteran pasal 45 ayat (1), (2), (3), (4), (5,) (6)
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan
6) Permenkes No. 585/1989 tentang persetujuan tindakan medis
Dokter melakukan tindakan medis tanpa informed consent dari pasien atau keluarganya
saksi administratif berupa pencabutan surat ijin prakteknya.
7) UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
8) Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996 Tentang tenaga Kesehatan
9) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159 b/Menkes/SK/Per/II/1998 Tentang RS

26

10) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749A/Menkes/Per/IX/1989 tentang Rekam medis/


Medical record
11) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/Per/IX/1989 Tentang Persetujuan
Tindakan Medis
12) Kep Menkes RI No. 436/Menkes/SK/VI/1993 dan standar Pelayanan Medis di RS
13) Fatwa pengurus IDI Nomor: 139/PB/A.4/88/Tertanggal 22 Februari 1988 Tentang
Informed Consent
14) Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1981 Tertanggal 16 juni 1981Tentang Bedah
Mayat Klinik dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan/atau Jaringan
Tubuh Manusia.
Adapun pernyataan IDI tentang informed consent tersebut adalah:
a. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang
hendak dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis
yang bertentangan dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.
b. Semua tindakan medis (diagnotik, terapeutik maupun paliatif) memerlukan informed
consent secara lisan maupun tertulis.
c. Setiap tindakan medis yang mempunyai risiko cukup besar, mengharuskan adanya
persetujuan tertulis yang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya pasien memperoleh
informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta
risikonya.
d. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan
atau sikap diam.
e. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun
tidak diminta oleh pasien. Menahan informasi tidak boleh, kecuali bila dokter menilai
bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini
dokter dapat memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien. Dalam memberi
informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien, kehadiran seorang perawat /
paramedik lain sebagai saksi adalah penting.
f. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan,
baik diagnostik, terapeutik maupun paliatif. Informasi biasanya diberikan secara lisan,
tetapi dapat pula secara tertulis.
Sedangkan tatacara pelaksanaan tindakan medis yang akan dilaksanakan oleh dokter pada
pasienlebih lanjut diatur dalam Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran
yang menegaskan sebagai berikut :
(1) Setiap Tindakan Kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien diberikan
penjelasan lengkap
(3) Penjelasan lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup :
a. Diagnosis dan tatacara tindakan medis
b. Tujuan tindakan medis dilakukan
c. Alternatif tindakan lain dan resikonya
d. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan
e. Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan.
27

Dengan lahirnya UU No. 29 Tahun 2004 ini, maka semakin terbuka luas peluang bagi pasien
untuk mendapatkan informasi medis yang sejelas-jelasnya tentang penyakitnya dan sekaligus
mempertegas kewajiban dokter untuk memberikan informasi medis yang benar, akurat dan
berimbang tentang rencana sebuah tindakan medik yang akan dilakukan, pengobatan mapun
perawatan yang akan di terima oleh pasien. Karena pasien yang paling berkepentingan
terhadap apa yang akan dilakukan terhadap dirinya dengan segala resikonya, maka Informed
Consent merupakan syarat subjektif terjadinya transaksi terapeutik dan merupakan hak pasien
yang harus dipenuhi sebelum dirinya menjalani suatu upaya medis yang akan dilakukan oleh
dokter terhadap dirinya .

Bentuk Informed Consent


Ada dua bentuk informed consent
a. Implied constructive Consent (Keadaan Biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan , telah diketahui, telah dimengerti oleh masyarakat umum,
sehingga tidak perlu lagi di buat tertulis misalnya pengambilan darah untuk laboratorium,
suntikan, atau hecting luka terbuka.
b. Implied Emergency Consent (keadaan Gawat Darurat)
Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien)
kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis
dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
a) Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung
resiko
besar,
sebagaimana
ditegaskan
dalam
PerMenKes
No.
585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3,
yaitu intinya setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar,
mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah sebelumnya pihak pasien
memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang
berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent)
b) Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif
dan tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien
c) Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang
akan disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya
sebagai tanda menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. Tujuan
Informed Consent:
a. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya
tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan
tanpa sepengetahuan pasiennya.
b. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat
negatif, karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap
tindakan medik ada melekat suatu resiko

Isi Inform Consent

28

Dalam Permenkes No. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan
bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien / keluarga
diminta atau tidak diminta, jadi informasi harus disampaikan.Mengenai apa yang
disampaikan, tentulah segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakit pasien. Tindakan apa
yang dilakukan, tentunya prosedur tindakan yang akan dijalani pasien baik diagnostic
maupun terapi dan lain-lain sehingga pasien atau keluarga dapat memahaminya. Ini
mencangkup bentuk, tujuan, resiko, manfaat dari terapi yang akan dilaksanakan dan
alternative terapi (Hanafiah, 1999).
Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasien yang harus diinformasikan sebelumnya, namun izin yang harus diberikan oleh pasien
dapat berbagai macam bentuknya, baik yang dinyatakan ataupun tidak. Yang paling untuk
diketahui adalah bagaimana izin tersebut harus dituangkan dalam bentuk tertulis, sehingga
akan memudahkan pembuktiannya kelak bila timbul perselisihan. Secara garis besar dalam
melakukan tindakan medis pada pasien, dokter harus menjelaskan beberapa hal, yaitu:
1) Garis besar seluk beluk penyakit yang diderita dan prosedur perawatan / pengobatan yang
akan diberikan / diterapkan.
2) Resiko yang dihadapi, misalnya komplikasi yang diduga akan timbul.
3) Prospek / prognosis keberhasilan ataupun kegagalan.
4) Alternative metode perawatan / pengobatan.
5) Hal-hal yang dapat terjadi bila pasien menolak untuk memberikan persetujuan.
6) Prosedur perawatan / pengobatan yang akan dilakukan merupakan suatu percobaan atau
menyimpang dari kebiasaan, bila hal itu yang akan dilakukan Dokter juga perlu
menyampaikan (meskipun hanya sekilas), mengenai cara kerja dan pengalamannya dalam
melakukan tindakan medis tersebut (Achadiat, 2007).
Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran dilaksanakan
adalah:
1) Diagnosa yang telah ditegakkan.
2) Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan.
3) Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut.
4) Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran tersebut.
5) Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara
pengobatan yang lain.
6) Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut.
Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan
tindakan kedokteran :
1) Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut.
2) Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya
Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan
melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan ( Pasal 11 Ayat 1 Permenkes No 290 /
Menkes / PER / III / 2008 ). Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran
sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 merupakan dasar daripada persetujuan (Ayat 2).
Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan persetujuan
tindakan kedokteran adalah:
29

1) Dalam keadaan gawat darurat (emergency), dimana dokter harus segera bertindak untuk
menyelamatkan jiwa.
2) Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi situasi
dirinya.Ini tercantum dalam PerMenKes no 290/Menkes/Per/III/2008.
Persetujuan
Bentuk persetujuan atau penolakan
Rumah sakit memiliki tugas untuk menjamin bahwa informed consent sudah didapat.
Istilah untuk kelalaian rumah sakit tersebut yaitu fraudulent concealment. Pasien yang akan
menjalani operasi mendapat penjelasan dari seorang dokter bedah namun dioperasi oleh
dokter lain dapat saja menuntut malpraktik dokter yang tidak mengoperasi karena kurangnya
informed consent dan dapat menuntut dokter yang mengoperasi untuk kelanjutannya.
Bentuk persetujuan tidaklah penting namun dapat membantu dalam persidangan
bahwa persetujuan diperoleh. Persetujuan tersebut harus berdasarkan semua elemen dari
informed consent yang benar yaitu pengetahuan, sukarela dan kompetensi.
Beberapa rumah sakit dan dokter telah mengembangkan bentuk persetujuan yang merangkum
semua informasi dan juga rekaman permanen, biasanya dalam rekam medis pasien. Format
tersebut bervariasi sesuai dengan terapi dan tindakan yang akan diberikan. Saksi tidak
dibutuhkan, namun saksi merupakan bukti bahwa telah dilakukan informed consent.
Informed consent sebaiknya dibuat dengan dokumentasi naratif yang akurat oleh dokter yang
bersangkutan.
Otoritas untuk memberikan persetujuan
Seorang dewasa dianggap kompeten dan oleh karena itu harus mengetahui terapi yang
direncanakan. Orang dewasa yang tidak kompeten karena penyakit fisik atau kejiwaan dan
tidak mampu mengerti tentu saja tidak dapat memberikan informed consent yang sah.
Sebagai akibatnya, persetujuan diperoleh dari orang lain yang memiliki otoritas atas nama
pasien. Ketika pengadilan telah memutuskan bahwa pasien inkompeten, wali pasien yang
ditunjuk pengadilan harus mengambil otoritas terhadap pasien.
Persetujuan pengganti ini menimbulkan beberapa masalah. Otoritas seseorang
terhadap persetujuan pengobatan bagi pasien inkompeten termasuk hak untuk menolak
perawatan tersebut. Pengadilan telah membatasi hak penolakan ini untuk kasus dengan alasan
yang tidak rasional. Pada kasus tersebut, pihak dokter atau rumah sakit dapat memperlakukan
kasus sebagai keadaan gawat darurat dan memohon pada pengadilan untuk melakukan
perawatan yang diperlukan. Jika tidak cukup waktu untuk memohon pada pengadilan, dokter
dapat berkonsultasi dengan satu atau beberapa sejawatnya.
Jika keluarga dekat pasien tidak setuju dengan perawatan yang direncanakan atau jika pasien,
meskipun inkompeten, mengambil posisi berlawanan dengan keinginan keluarga, maka
dokter perlu berhati-hati. Terdapat beberapa indikasi dimana pengadilan akan
mempertimbangkan keinginan pasien, meskipun pasien tidak mampu untuk memberikan
persetujuan yang sah. Pada kebanyakan kasus, terapi sebaiknya segera dilakukan (1) jika
keluarga dekat setuju, (2) jika memang secara medis perlu penatalaksanaan segera, (3) jika
tidak ada dilarang undang-undang.

30

Cara terbaik untuk menghindari risiko hukum dari persetujuan pengganti bagi pasien dewasa
inkompeten adalah dengan membawa masalah ini ke pengadilan.
Kemampuan memberi perijinan
Perijinan harus diberikan oleh pasien yang secara fisik dan psikis mampu memahami
informasi yang diberikan oleh dokter selama komunikasi dan mampu membuat keputusan
terkait dengan terapi yang akan diberikan. Pasien yang menolak diagnosis atau tatalaksana
tidak menggambarkan kemampuan psikis yang kurang. Paksaan tidak boleh digunakan dalam
usaha persuasif. Pasien seperti itu membutuhkan wali biasanya dari keluarga terdekat atau
yang ditunjuk pengadilan untuk memberikan persetujuan pengganti.
Jika tidak ada wali yang ditunjuk pengadilan, pihak ketiga dapat diberi kuasa untuk
bertindak atas nama pokok-pokok kekuasaan tertulis dari pengacara. Jika tidak ada wali bagi
pasien inkompeten yang sebelumnya telah ditunjuk oleh pengadilan, keputusan dokter untuk
memperoleh informed consent diagnosis dan tatalaksana kasus bukan kegawatdaruratan dari
keluarga atau dari pihak yang ditunjuk pengadilan tergantung kebijakan rumah sakit. Pada
keadaan dimana terdapat perbedaan pendapat diantara anggota keluarga terhadap perawatan
pasien atau keluarga yang tidak dekat secara emosional atau bertempat tinggal jauh, maka
dianjurkan menggunakan laporan legal dan formal untuk menentukan siapa yang dapat
memberikan perijinan bagi pasien inkompeten.
Pihak Yang Berhak Menyatakan Persetujuan:
1)
Pasien sendiri (bila telah berumur 21 tahun atau telah menikah)
2)
Bagi pasien di bawah umur 21 tahun diberikan oleh mereka menurut hak sebagai
berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Saudara-saudara kandung.
3)
Bagi yang di bawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya
berhalangan hadir diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut: (l) Ayah/ibu
adopsi, (2) Saudara-saudara kandung, (3) Induk semang.
4)
Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, diberikan oleh mereka menurut urutan
hak sebagai berikut: (1) Ayah/ibu kandung, (2) Wali yang sah, (3) Saudara-saudara
kandung.
5)
Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampuan (curatelle), diberikan menurut
urutan hak sebagai berikut: (1) Wali, (2) Curator.
6)
Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua, diberikan oleh mereka menurut
urutan hak sebagai berikut: a. Suami/istri, b. Ayah/ibu kandung, c. Anak-anak kandung, d.
Saudara-saudara kandung.
7)
Wali: yang menurut hukum menggantikan orang lain yang belum dewasa untuk
mewakilinya dalam melakukan perbuatan hukum atau yang menurut hukum
menggantikan kedudukan orang tua. Induk semang : orang yang berkewajiban untuk
mengawasi serta ikut bertanggung jawab terhadap pribadi orang lain seperti pimpinan
asrama dari anak perantauan atau kepala rumah tangga dari seorang pembantu rumah
tangga yang belum dewasa.

Perlindungan Pasien
31

Perlindungan pasien tentang hak memperoleh Informed Consent dan Rekam Medis dapat
dijabarkan seperti dibawah ini: UU N0 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 56
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan
yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai
tindakan tersebut secara lengkap
(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada:
a. Penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat
yang lebih luas
b. Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c. Gangguan mental berat
Akibat Yang Ditimbulkan Dari Adanya Informed Consent
Akibat hukum dari dilakukannya perjanjian tertuang di dalam Pasal 1338 dan 1339
KUHPerdata, sebagai berikut :
Pasal 1338 : Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.
Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau
karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
Pasal 1339 : Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas
dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian,
diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang- undang.
Dari kedua pasal tersebut dapat diambil pengertian sebagai berikut :
1. Perjanjian terapeutik berlaku sebagai undang-undang baik bagi pihak pasien maupun
pihak dokter, dimana undang-undang mewajibkan para pihak memenuhi hak dan
kewajibannya.
2. Perjanjian terapeutik tidak dapat ditarik kembali tanpa kesepakatan pihak lain.
3. Kedua belah pihak, baik dokter maupun pasien harus sama-sama beritikad baik dalam
melaksanakan perjanjian terapeutik.
4. Perjanjian hendaknya dilaksanakan sesuai dengan tujuan dibuatnya perjanjian yaitu
kesembuhan pasien, dengan mengacu pada kebiasaan dan kepatutan yang berlaku dalam
bidang pelayanan medis maupun dari pihak kepatutan pasien.
Kapan Dibutuhkan Persetujuan Tertulis
Informed Consent adalah suatu persetujuan mengenai akan dilakukannya tindakan
kedokteran oleh dokter terhadap pasiennya. Persetujuan ini bisa dalam bentuk lisan maupun
tertulis. Pada hakikatnya Informed Consent adalah suatu proses komunikasi antara dokter dan
pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap pasien (ada
kegiatan penjelasan rinci oleh dokter), sehingga kesepakatan lisan pun sesungguhnya sudah
cukup. Penandatanganan formulir Informed Consent secara tertulis hanya merupakan
pengukuhan atas apa yang telah disepakati sebelumnya. Formulir ini juga merupakan suatu
tanda bukti yang akan disimpan di dalam arsip rekam medis pasien yang bisa dijadikan
sebagai alat bukti bahwa telah terjadi kontrak terapeutik antara dokter dengan pasien.
32

Pembuktian tentang adanya kontrak terapeutik dapat dilakukan pasien dengan mengajukan
arsip rekam medis atau dengan persetujuan tindakan medis (informed consent) yang
diberikan oleh pasien. Bahkan dalam kontrak terapeutik adanya kartu berobat atau dengan
kedatangan pasien menemui dokter untuk meminta pertolongannya, dapat dianggap telah
terjadi perjanjian terapeutik.Persetujuan tertulis dalam suatu tindakan medis dibutuhkan saat :
1. Bila tindakan terapeutik bersifat kompleks atau menyangkut resiko atau efek samping
yang bermakna.
2. Bila tindakan kedokteran tersebut bukan dalam rangka terapi.
3. Bila tindakan kedokteran tersebut memiliki dampak yang bermakna bagi kedudukan
kepegawaian atau kehidupan pribadi dan sosial pasien.
4. Bila tindakan yang dilakukan adalah bagian dari suatu penelitian.
Saat Timbul dan Berakhirnya Hubungan Pasien-Dokter
Saat timbulnya perjanjian antara dokter dan pasien adalah pada saat pasien meminta seorang
dokter untuk mengobatinya dan dokter menerimanya.Berakhirnya hubungan dokter-pasien
dapat dilakukan dengan cara :
1) Sembuhnya pasien dari keadaan sakitnya dan sang dokter menganggap tidak diperlukan
lagi pengobatan. Penyembuhan tidak usah sampai total namun melihat keadaan pasien
tidak usah memerlukan lagi pelayanan medik.
2) Dokter mengundurkan diri, dengan syarat :
a. Pasien menyetujui pengunduran diri tersebut.
b. Kepada pasien diberikan waktu cukup dan pemberitahuan sehingga ia bisa memperoleh
pengobatan dari dokter yang lain.
c. Jika dokter merokemendasikan kepada dokter lain yang sama kompetensinya untuk
menggantikan dokter semula itu dengan persetujuan pasiennya.
3) Pengakhiran oleh pasien. Seorang pasien bebas untuk mengakhiri pengobatannya
dengandokternya. Apabila diakhiri maka sang dokter berkewajiban untuk memberikan
nasihat apakah masih diperlukan pengobatan lanjutan dan memberikan informasi yang
cukup kepada penggantinya sehingga pengobatan dapat diteruskan oleh penggantinya.
Apabila dokter memakai seorang dokter lain maka dianggap bahwa dokter yang pertama
telah diakhiri hubungannya, kecuali diperjanjikan bahwa mereka akan mengobati bersama
atau dokter kedua hanya dipanggil untuk konsultasi tujuan khusus.
4) Meninggalnya si pasien.
5) Meninggalnya si dokter atau ia sudah tidak mampu lagi menjalani profesinya sebagai
dokter.
6) Sudah selesainya kewajiban dokter seperti ditentukan dalam kontrak.
7) Dalam kasus gawat darurat, apabila dokter yang mengobati atau dokter pilihan pasien
sudah datang atau terdapat penghentian keadaan kegawat-daruratannya.
8) Lewatnya jangka waktu, apabila kontrak medik itu ditentukan dalam jangka
waktu tertentu.
9) Persetujuan kedua belah pihak bahwa hubungan dokter-pasien itu sudah diakhiri.
Konsep Baku Persetujuan Tindakan Medis
33

Istilah perjanjian baku dialihbahasakan dari istilah yang dikenal dari bahasa Belanda, yaitu
standaart contract atau standaart voorwarden. Hukum Inggris menyebut perjanjian baku
sebagai standa dized contrac, standaart form of contract. Adapun definisi yang diberikan
oleh Darus Mariam Badrulzaman mengenai perjanjian baku adalah : Perjanjian yang isinya
baku dan diberikan dalam bentuk formulir
Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perjanjian baku mengandung
pengertian yang lebih sempit dari perjanjian pada umumnya atau merupakan bentuk
perjanjian tertulis yang isinya telah dibakukan atau distandarisasi dan umumnya telah
dituangkan dalam bentuk formulir atau bentuk perjanjian lain yang sifatnya tertentu.
Pada prakteknya, perjanjian baku tumbuh sebagai perjanjian tertulis dalam bentuk formulir.
Pembuatan perjanjian sejenis yang selalu terjadi berulang-ulang dan teratur serta melibatkan
banyak orang, menimbulkan kebutuhan untuk mempersiapkan isi perjanjian terlebih dahulu
dan kemudian dibakukan lalu dicetak dalam jumlah banyak sehingga setiap saat mudah
didapat jika dibutuhkan
Perjanjian baku isinya dibuat secara sepihak, dalam arti salah satu pihak telah menentukan isi
dan bentuk perjanjian pada satu bentuk pembuatannya, sehingga dapat dikatakan bahwa
dalam perjanjian baku ada ketidakseimbangan kedudukan para pihak, karena pihak yang
tidak membuat perjanjian baku ini biasanya hanya bisa bersikap menerima atau menolak
keseluruhan isi perjanjian dan tidak dimungkinkan untuk merubah isi perjanjian tersebut.
Perjanjian baku mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan bentuk-bentuk perjanjian
bernama lainnya, yakni :
1. Isinya ditetapkan oleh pihak yang lebih kuat.
2. Pihak lain yang biasanya adalah masyarakat, sama sekali tidak ikut bersama-sama
menentukan isi perjanjian.
3. Terdorong kebutuhannya, pihak lain terpaksa menerima isi perjanjian.
4. Dipersiapkan terlebih dahulu secara massal dan kolektif.
Bentuk persetujuan tindakan medis pada umumnya telah disusun sedemikian rupa sehingga
pihak dokter dan Rumah Sakit tinggal mengisi kolom yang disediakan untuk itu setelah
menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien. Sebelum ditandatangani, sebaiknya surat
tersebut dibaca sendiri atau dibacakan oleh yang hadir terlebih dahulu. Pasien seharusnya
diberikan waktu yang cukup untuk menandatangani persetujuan dimaksud.
Ketentuan Informed Consent
Ketentuan persetujuan tidakan medik berdasarkan SK Dirjen Pelayanan Medik
No.HR.00.06.3.5.1866 Tanggal 21 April 1999, diantaranya :
1) Persetujuan atau penolakan tindakan medik harus dalam kebijakan dan prosedur
(SOP) dan ditetapkan tertulis oleh pimpinan RS.
2) Memperoleh informasi dan pengelolaan, kewajiban dokter.
3) Informed Consent dianggap benar :
a.
Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk
tindakan medis yang dinyatakan secara spesifik.

34

b.

Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa


paksaan (valuentery)
c.
Persetujuan dan penolakan tindakan medis diberikan oleh
seseorang (pasien) yang sehat mental dan memang berhak memberikan dari
segi hukum
d.
Setelah diberikan cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang
diperlukan.
4) Isi informasi dan penjelasan yang harus diberikan :
a. Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada dilakukan
(purhate of medical procedure)
b. Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan (consenpleated medical
procedure)
c. Tentang risiko
d. Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
e. Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko risikonya
(alternative medical procedure and risk)
f. Tentang prognosis penyakit, bila tindakan dilakukan
g. Diagnosis
5) Kewajiban memberi informasi dan penjelasan
a. Dokter yang melakukan tindakan medis tanggung jawab
b. Berhalangan diwakilkan kepada dokter lain, dengan diketahui dokter yang
bersangkutan
6) Cara menyampaikan informasi
a. Lisan
b. Tulisan
7) Pihak yang menyatakan persetujuan
a. Pasien sendiri, umur 21 tahun lebih atau telah menikah
b. Bagi pasien kurang 21 tahun dengan urutan hak :
a)
Ayah/ibu kandung
b)
Saudara saudara kandung
c.
Bagi pasien kurang 21 tahun tidak punya orang tua/berhalangan,
urutan hak :
a) Ayah/ibu adopsi
b) Saudara-saudara kandung
c) Induk semang
d.
Bagi pasien dengan gangguan mental, urutan hak :
a) Ayah/ibu kandung
b) Wali yang sah
c) Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa dibawah pengampuan (curatelle) :
a)
Wali
b)
Kurator
f. Bagi pasien dewasa telah menikah/orangtua
a)
Suami/istri
35

b)
Ayah/ibu kandung
c)
Anak-anak kandung
d)
Saudara-saudara kandung
8) Cara menyatakan persetujuan
a. Tertulis; mutlak pada tindakan medis resiko tinggi
b. Lisan; tindakan tidak beresiko
9) Jenis tindakan medis yang perlu informed consent disusun oleh komite medik ditetapkan
pimpinan RS.
10) Tidak diperlukan bagi pasien gawat darurat yang tidak didampingi oleh keluarga pasien.
11) Format isian informed consent persetujuan atau penolakan
a. Diketahui dan ditandatangani oleh kedua orang saksi, perawat bertindak
sebagai salah satu saksi
b. Materai tidak diperlukan
c. Formulir asli harus dismpan dalam berkas rekam medis pasien
d. Formulir harus ditandatangan 24 jam sebelum tindakan medis dilakukan
e. Dokter harus ikut membubuhkan tanda tangan sebagai bukti telah diberikan
informasi
f. Bagi pasien/keluarga buta huruf membubuhkan cap jempol ibu jari tangan
kanannya
Jika pasien menolak tandatangan surat penolakan maka harus ada catatan pada rekam
medisnya.
LI.4. Memahami dan menjelaskan hukum malpraktek dalam islam
Malpraktek yang menjadi penyebab dokter bertanggung-jawab secara profesi bisa
digolongkan sebagai berikut:
1) Tidak Punya Keahlian (Jahil)
Yang dimaksudkan di sini adalah melakukan praktek pelayanan kesehatan tanpa memiliki
keahlian, baik tidak memiliki keahlian sama sekali dalam bidang kedokteran, atau
memiliki sebagian keahlian tapi bertindak di luar keahliannya. Orang yang tidak memiliki
keahlian di bidang kedokteran kemudian nekat membuka praktek, telah disinggung oleh
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau:


"Barang siapa yang praktek menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui memiliki
keahlian, maka ia bertanggung-jawab"
Kesalahan ini sangat berat, karena menganggap remeh kesehatan dan nyawa banyak
orang, sehingga para Ulama sepakat bahwa mutathabbib (pelakunya) harus
bertanggung-jawab, jika timbul masalah dan harus dihukum agar jera dan menjadi
pelajaran bagi orang lain.
2) Menyalahi Prinsip-Prinsip Ilmiah (Mukhlafatul Ushl Al-'Ilmiyyah)
Yang dimaksud dengan pinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang telah
baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori maupun praktek, dan harus
dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi kedokteran.

36

Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk mengikuti prinsip-prinsip ini
dan tidak boleh menyalahinya. Imam Syfi'i rahimahullah misalnya- mengatakan: "Jika
menyuruh seseorang untuk membekam, mengkhitan anak, atau mengobati hewan piaraan,
kemudian semua meninggal karena praktek itu, jika orang tersebut telah melakukan apa
yang seharusnya dan biasa dilakukan untuk maslahat pasien menurut para pakar dalam
profesi tersebut, maka ia tidak bertanggung-jawab. Sebaliknya, jika ia tahu dan
menyalahinya, maka ia bertanggung-jawab."[6] Bahkan hal ini adalah kesepakatan
seluruh Ulama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.
Hanya saja, hakim harus lebih jeli dalam menentukan apakah benar-benar terjadi
pelanggaran prinsip-prinsip ilmiah dalam kasus yang diangkat, karena ini termasuk
permasalahan yang pelik.
3) Ketidaksengajaan (Khatha')
Ketidaksengajaan adalah suatu kejadian (tindakan) yang orang tidak memiliki maksud di
dalamnya. Misalnya, tangan dokter bedah terpeleset sehingga ada anggota tubuh pasien
yang terluka. Bentuk malpraktek ini tidak membuat pelakunya berdosa, tapi ia harus
bertanggungjawab terhadap akibat yang ditimbulkan sesuai dengan yang telah digariskan
Islam dalam bab jinayat, karena ini termasuk jinayat khatha' (tidak sengaja).
4) Sengaja Menimbulkan Bahaya (I'tid')
Maksudnya adalah membahayakan pasien dengan sengaja. Ini adalah bentuk
malpraktek yang paling buruk. Tentu saja sulit diterima bila ada dokter atau paramedis
yang melakukan hal ini, sementara mereka telah menghabiskan umur mereka untuk
mengabdi dengan profesi ini. Kasus seperti ini terhitung jarang dan sulit dibuktikan
karena berhubungan dengan isi hati orang. Biasanya pembuktiannya dilakukan
dengan pengakuan pelaku, meskipun mungkin juga factor kesengajaan ini dapat
diketahui melalui indikasi-indikasi kuat yang menyertai terjadinya malpraktek yang
sangat jelas. Misalnya, adanya perselisihan antara pelaku malpraktek dengan pasien
atau keluarganya.
Pembuktian Malpraktek
Agama Islam mengajarkan bahwa tuduhan harus dibuktikan. Demikian pula, tuduhan
malparaktek harus diiringi dengan bukti, dan jika terbukti harus ada pertanggungjawaban dari
pelakunya. Ini adalah salah satu wujud keadilan dan kemuliaan ajaran Islam. Jika tuduhan
langsung diterima tanpa bukti, dokter dan paramedis terzhalimi, dan itu bisa membuat mereka
meninggalkan profesi mereka, sehingga akhirnya membahayakan kehidupan umat manusia.
Sebaliknya, jika tidak ada pertanggungjawaban atas tindakan malpraktek yang terbukti,
pasien terzhalimi, dan para dokter bisa jadi berbuat seenak mereka. Dalam dugaan
malpraktek, seorang hakim bisa memakai bukti-bukti yang diakui oleh syariat sebagai
berikut:
Pengakuan Pelaku Malpraktek (Iqrr ).
Iqrar adalah bukti yang paling kuat, karena merupakan persaksian atas diri sendiri, dan ia
lebih mengetahuinya. Apalagi dalam hal yang membahayakan diri sendiri, biasanya
pengakuan ini menunjukkan kejujuran.
37

Kesaksian (Syahdah).
Untuk pertanggungjawaban berupa qishash dan ta'zr, dibutuhkan kesaksian dua pria yang
adil. Jika kesaksian akan mengakibatkan tanggung jawab materiil, seperti ganti rugi,
dibolehkan kesaksian satu pria ditambah dua wanita. Adapun kesaksian dalam hal-hal yang
tidak bisa disaksikan selain oleh wanita, seperti persalinan, dibolehkan persaksian empat
wanita tanpa pria. Di samping memperhatikan jumlah dan kelayakan saksi, hendaknya hakim
juga memperhatikan tidak memiliki tuhmah (kemungkinan mengalihkan tuduhan malpraktek
dari dirinya).
Catatan Medis.
Yaitu catatan yang dibuat oleh dokter dan paramedis, karena catatan tersebut dibuat agar
bisa menjadi referensi saat dibutuhkan. Jika catatan ini valid, ia bisa menjadi bukti
yang sah.
Bentuk tanggung jawab Malpraktek
Jika tuduhan malpraktek telah dibuktikan, ada beberapa bentuk tanggung jawab yang dipikul
pelakunya. Bentuk-bentuk tanggung-jawab tersebut adalah sebagai berikut:
Qishash
Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak malpraktek sengaja untuk
menimbulkan bahaya (i'tida'), dengan membunuh pasien atau merusak anggota tubuhnya, dan
memanfaatkan profesinya sebagai pembungkus tindak kriminal yang dilakukannya. Ketika
memberi contoh tindak kriminal yang mengakibatkan qishash, Khalil bin Ishaq al-Maliki
mengatakan: "Misalnya dokter yang menambah (luas area bedah) dengan sengaja.
Dhamn
(Tanggung
Jawab
Materiil
Berupa
Ganti
Rugi
Atau
Diyat)
Bentuk tanggung-jawab ini berlaku untuk bentuk malpraktek berikut:
a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan tidak ada
kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.
b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.
c. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi terjadi kesalahan tidak
disengaja.
d. Pelaku memiliki keahlian, mengikuti prinsip-prinsip ilmiah, tapi tidak mendapat ijin dari
pasien, wali pasien atau pemerintah, kecuali dalam keadaan darurat.
Ta'zr
Berupa hukuman penjara, cambuk, atau yang lain. Ta'zr berlaku untuk dua bentuk
malpraktek:
a. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian, tapi pasien tidak mengetahuinya, dan tidak ada
kesengajaan dalam menimbulkan bahaya.
b. Pelaku memiliki keahlian, tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah.
Pihak yang bertanggung jawab
38

Tanggung-jawab dalam malpraktek bisa timbul karena seorang dokter melakukan kesalahan
langsung, dan bisa juga karena menjadi penyebab terjadinya malpraktek secara tidak
langsung. Misalnya, seorang dokter yang bertugas melakukan pemeriksaan awal sengaja
merekomendasikan pasien untuk merujuk kepada dokter bedah yang tidak ahli, kemudian
terjadi malpraktek. Dalam kasus ini, dokter bedah adalah adalah pelaku langsung malpraktek,
sedangkan dokter pemeriksa ikut menyebabkan malpraktek secara tidak langsung.
Jadi, dalam satu kasus malpraktek kadang hanya ada satu pihak yang bertanggung-jawab.
Kadang juga ada pihak lain lain yang ikut bertanggung-jawab bersamanya. Karenanya, rumah
sakit atau klinik juga bisa ikut bertanggung-jawab jika terbukti teledor dalam tanggung-jawab
yang diemban, sehingga secara tidak langsung menyebabkan terjadinya malpraktek, misalnya
mengetahui dokter yang dipekerjakan tidak ahli.

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku Panduan HAM bagi Pasien dan Dokter untuk Mencegah Malpraktek, Diakses dari:
http://www.balitbangham.go.id/index/images/judul_pdf/sipol/pengembangan/2008/malpr
aktek.pdf
2. Etika Kedokteran, Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/96601676/etika-kedokteran
3. Malpraktek
Dalam
Kajian
Hukum
Pidana,
Diakses
dari:http://eprints.undip.ac.id/20768/1/2380-ki-fh-98.pdf
4. Malpraktek
Medik,
Diakses
dari:http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/matkul/Forensik/MALPRAKTEK
%20MEDIK.pdf
5. Malpraktek
Menurut
Syariat
Islam,
Diakses
dari:
http://almanhaj.or.id/content/2836/slash/0/malpraktek-menurut-syariat-islam/
6. Rekam Medis, Diakses dari:http://medicalrecord.webs.com/kegunaanrekammedis.htm
39

40