Anda di halaman 1dari 15

Alat Kapal Penangkapan Ikan

LIFT NET

Kelompok 9
Kelas B Perikanan
Melinda Iriani

230110140024

Agiandanu

230110140071

Ade Khoerul U

230110140082

Lina Aprilia

230110140087

Felisha Gitalasa

230110140093

Adi Prasetyo

230110140135

Yunia Qonitatin Al Masyani 230110140106

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2015
KATA PENGANTAR
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT.yang telah melimpahkan


karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Alat kapal Penangkapan Ikan:
Lift Net ini dengan baik dan tepat waktu.
Jaring angkat adalah jaring biasanya berbentuk empat persegi panjang,
dibentangkan di dalam air secara horizontal, dengan menggunakan bambu, kayu, atau
besi sebagai rangkanya. Pemasangan jaring angkat ini dapat di lapisan tengah, atau dasar
permukaan perairan.. Pemahaman mengenai jarring angkat (lift net) selanjutnya akan
dibahas pada makalah ini.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan mengenai
sel, khususnya mitokondria.
Akhir kata, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta
penulis.Kritik dan saran sangat diperlukan untuk pencapaian yang lebih baik lagi.

Jatinangor, September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii
BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................1
1.2 Tujuan ....................................................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN..................................................................................................3
2.1 Pengertian Jaring Angkat..........................................................................................3
2.1.1 Jaring Angkat Perahu (Boat Operated Lift Nets).....................................................3
2.1.2 Jaring Angkat Anco (Portable Lift Nets).................................................................4
2.1.3 Jaring Angkat Tancap (Shore Operated Stationary Lift Nets).................................5
2.1.4 Jaring Angkat Bandrong (Bouke Ami)....................................................................6
2.2 Metode Pengoperasian Alat......................................................................................6
2.2.1 Jaring Angkat Perahu (Boat Operated Lift Nets.............................................6
2.2.2 Jaring Angkat Anco (Portable Lift Nets)........................................................8
2.2.3 Jaring Angkat Tancap (Shore Operated Stationary Lift Nets)........................8
2.2.4 Jaring Angkat Bandrong (Bouke Ami)...........................................................9
2.3 Target Ikan................................................................................................................10
2.3.1 Jaring Angkat Perahu (Boat Operated Lift Nets................................................10
2.3.2 Jaring Angkat Anco (Portable Lift Nets)...........................................................10
2.3.3 Jaring Angkat Tancap (Shore Operated Stationary Lift Nets)...........................10
2.3.4 Jaring Angkat Bandrong (Bouke Ami)..............................................................10
2.4 Jumlah Nelayan Lift Net...........................................................................................10
BAB III. PENUTUP ..........................................................................................................12
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................ 13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah Negara maritim yang mempunyai beribu-ribu pulau dan
wilayah perairan di Indonesia lebih besar atau lebih luas di bandingkan wilayah
daratan,sehingga sumberdaya alam dari laut lebih banyak dan melimpah di bandingkan
3

dari darat,contohnya saja Indonesia adalah Negara no 1 di dunia,Negara pengekspor ikan


tuna terbesar (Subani W, 1970).
Kontribusi produksi perikanan nasional sampai saat ini masih didominasi usaha
perikanan tangkap, khususnya perikanan laut. Produksi perikanan tangkap periode 2000
2003 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 5,21% per tahun, yakni 5,107 juta ton
pada tahun 2000 menjadi 5,948 juta ton pada tahun 2003. Selama periode tahun 2004
2005 sampai dengan kuartal ke-2, PDB subsektor perikanan mengalami kenaikan sebesar
8,78%, jauh lebih tinggi daripada kenaikan PDB sektor pertanian, peternakan, dan
kehutanan sebesar 5,80%. Kontribusi subsektor perikanan terhadap PDB sector pertanian
dalam arti luas terus meningkat, yakni pada tahun 2004 mencapai sekitar 15%, pada
tahun 2005 meningkat menjadi 15,68% (Iskandar, 2001).
Berdasarkan data badan pangan dunia FAO tahun 1994, menyebutkan Indonesia
menempati urutan ke-7 sebagai produsen perikanan dunia, setelah China, Peru, Jepang,
Chile, USA dan India. Maka sejak tahun 2002, dengan produksi 5,6 juta ton, menjadikan
Indonesia sebagai negara produsen ikan terbesar ke-6 dunia, setelah China, Peru, India,
Jepang dan USA. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2003, dinyatakan bahwa daya
saing industri Indonesia saat ini bergeser ke arah industri berbasis sumberdaya alam,
diantaranya termasuk industri berbasis perikanan (Subani dan Barus, 1989).

1.2 Tujuan
1. Memahami bagaimana konstruksi alat tangkap jaring angkat (lift net)
2. Mengetahui bagaimana gambar alat tangkap jaring angkat (lift net)
3. Memahami apa saja bahan yang digunakan
4. Mengetahui berapa jumlah nelayan
5. Mengetahui ukuran kapal yang digunakan
6. Memahami alat bantu yang digunakan dalam penangkapan ikan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jaring Angkat
Jaring angkat adalah suatu alat penangkapan yang pengoprasiannya di lakukan
dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertical,alat ini terbuat dari nilon yang
menyerupai kelambu, ukuran mata jaringnya relative kecil yaitu 0,5cm. Bentuk alat ini
menyerupai kotak, dalam pengoprasiannya sering menggunakan alat bantu lampu atau
umpan sebagai daya tarik ikan, ada berbagai jaring angkat seperti :
2.1.1

Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)

Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets) adalah alat penangkap ikan yang
dioperasikan dengan cara diturunkan ke kolom perairan dan diangkat kembali setelah
banyak ikan di atasnya, dalam pengoperasiannya menggunakan perahu untuk berpindahpindah ke lokasi yang diperkirakan banyak ikannya. Secara umum kontruksi unit
penangkapan jaring angkat berperahu terdiri dari atas kerangka kayu,waring atau jarring
(dari bahan polyethylene) seperti nilon serta perahu bermotor sebagai alat transportasi di
laut.Pada bagian atas terdapat roller yang berfungsi untuk menurunkan atau mengangkat
jaring (Ayodyoa,1981).
Ukuran alat tangkap jaring angkat perahu sangat beragam mulai dari panjang =
13 m,lebar = 2,5 m,tinggi = 1,2 m hingga panjang = 29 m,lebar = 29 m, tinggi = 17 m,
mata jarring bagan perahu umumnya perukuran 0,5 cm,sedangkan ukuran mata jarring
berkaitan erat dengan sasaran utama ikan yang mau di tangkap,ketika mau menangkap

teri yang berukuran kecil harus menggunkan mata jarring yang lebih kecil,jika mata
jarring terlalu besar maka ikan tersebut tidak akan tertangkap (Subani W. 1970).

2.1.2

Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)

Jaring Angkat Anco (Portable lift nets) adalah jaring angkat yang dipasang
menetap di perairan, berbentuk empat persegi panjang, terdiri dari jaring yang keempat
ujungnya diikat pada dua bambu yang dibelah dan kedua ujungnya dihaluskan
(diruncingkan) kemudian dipasang bersilangan satu sama lain dengan sudut 90 derajat.
Berdasarkan cara pengoperasiannya, anco tetap diklasifikasikan ke dalam kelompok
jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989).
Anco atau portable lif nets termasuk alat tangkap yang sangat sederhana,terbuat
dari bambu sebagai alat untuk menaik dan merunkuan jaring,mata jarring anco relative
lebih kecil karena tujuan penangkapan ikan adalah ikan- ikan kecil seperti ikan petek,
lebar jarring anco sangat bervariasi dari 1 m dan ada pula yang sampai 5 m.Alat ini bila di
oprasikan harus dengan bantuan lampu atau umpan untuk menarik ikan (Subani dan
Barus 1989).

2.1.3

Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)

Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift net) adalah alat penangkap
ikan yang dioperasikan dengan cara diturunkan ke kolom perairan dan diangkat kembali
setelah banyak ikan di atasnya, dalam pengoperasiannya tidak dapat dipindah-pindah dan
sekali dipasang (ditanam) berarti berlaku untuk selama musim penangkapan. Beda antara
bagan tancap dengan anco tetap dan jaring bandrong adalah bagan tancap memiliki rumah
penjaga, gulungan (roller), tali tarik dan gelangan pengikat dengan jaring. Bagan tancap
diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift nets) (Subani dan Barus 1989).
Bagan tancap pada umumnya tersusun atas dua bagian yaitu bangunan bagan
dan jarring bagan.Bangunan bagab biasanya terdiri dari rumah bagan,pelataran bagan dan
tiang pancang.Semua bangunan bagan terbuat dari bambu karena bahan ini memiliki
keunggulan yaitu tahan terhadap resapan air laut sehingga umur bangunan bagan dapat
bertahan lama.Biasanya bagian bagan berukuran 9x9 meter, namun ada juga yang
berukuran hingga 12x12 meter, sedangkan tinggi bangunan dari permukaan air laut ratarata 12 meter (Iskandar 2001).
Kontruksi bagan tancap yang selanjutnya adalah jaring bagan, jaring bagan di
letakkan di tengah bangunan bagan, jaring bagan ini terbuat dari poly prophylene atau
yang di sebut dengan waring.Ukuran jarring bagan sendiri yaitu 7x7 meter dengan ukuran
mata jarringnya yaitu 0,4 cm,jaring bagan di lengkapi dengan binkai yang terbuat dari
bambu dan gelang pengikat jaring yang berfungsi untuk memudahkan papada saat
pengoprasian alat tangkap (Ayodyoa,1981).

2.1.4

Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami)

Jaring bandrong adalah jaring angkat berbentuk empat persegi panjang atau
bujur sangkar yang ujung-ujung salah satu sisinya diikat pada patok atau tiang pancang,
sementara ujung yang lain dipasang tali untuk proses pengangkatan. Berdasarkan cara
pengoperasiannya, jaring bandrong diklasifikasikan ke dalam kelompok jaring angkat (lift
nets). Alat tangkap ini berbentuk jaring persegi empat, berukuran mulai dari 8-12 m yang
cara pengoprasiannya dilakukan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertical
dari sisi kapal.Dalam pengoprasiannya menggunakan alat tangkap bantu lampu dan
umpan sebagai alat bantu untuk mengumpulkan gerombolan ikan,dengan tujuan
menangkap ikan fototaksis positif,alat ini mempunyai mata jaring yang relative kecil
(Subani dan Barus 1989).

2.2 METODE PENGOPERASIAN ALAT


2.2.1 Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)
Tahapan-tahapan metode pengoperasian bagan perahu adalah sebagai berikut
(Iskandar 2001).
(a)

Persiapan menuju fishing ground, biasanya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan

dan persiapan terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pengoperasian bagan
perahu. Pemeriksaan dan perbaikan terutama dilakukan terhadap lampu dan mesin kapal.
Persiapan lain yang dianggap penting adalah kebutuhan perbekalan operasi penangkapan
seperti air tawar, solar, minyak tanah, garam dan bahan makanan.
(b) Pengumpulan ikan, ketika tiba di lokasi fishing ground dan hari menjelang malam,
maka lampu dinyalakan dan jaring biasanya tidak langsung diturunkan hingga tiba
6

saatnya ikan terlihat berkumpul di lokasi bagan atau ingin masuk ke dalam area cahaya
lampu. Namun tidak menutup kemungkinan ada pula sebagian nelayan yang langsung
menurunkan jaring setelah lampu dinyalakan.
(c)

Setting, setelah menunggu beberapa jam dan ikan mulai terlihat berkumpul di lokasi

penangkapan, maka jaring diturunkan ke perairan. Jaring biasanya diturunkan secara


perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung
dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang diinginkan. Proses setting ini
berlangsung tidak membutuhkan waktu yang begitu lama. Banyaknya setting tergantung
pada keadaan cuaca dan situasi hasil tangkapan, serta kondisi perairan pada saat operasi
penangkapan.
(d) Perendaman jaring (soaking), selama jaring berada di dalam air, nelayan melakukan
pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar kapal untuk memperkirakan kapan jaring
akan diangkat. Lama jaring berada di dalam perairan (perendaman jaring) bukan bersifat
ketetapan, karena nelayan tidak pernah menentukan dan menghitung lamanya jaring di
dalam perairan dan kapan jaring akan diangkat namun hanya berdasarkan penglihatan dan
pengamatan adanya ikan yang berkumpul di bawah cahaya lampu.
(e)

Pengangkatan jaring (lifting), lifting dilakukan setelah kawanan ikan terlihat

berkumpul di lokasi penangkapan. Kegiatan lifting ini diawali dengan pemadaman lampu
secara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar ikan tidak terkejut dan tetap terkosentrasi pada
bagian perahu di sekitar lampu yang masih menyala. Ketika ikan sudah berkumpul di
tengah-tengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan hingga akhirnya
ikanakan tertangkap oleh jaring.
(f)

Brailing, setelah bingkai jaring naik ke atas permukaan air, maka tali penggantung

pada ujung dan bagian tengah rangka dilepas dan dibawa ke satu sisi kapal, tali kemudian
dilewatkan pada bagian bawah kapal beserta jaringnya. Tali pemberat ditarik ke atas agar
mempermudah penarikan jaring dan lampu dihidupkan lagi. Jaring kemudian ditarik
sedikit demi sedikit dari salah satu sisi kapal ke atas kapal. Hasil tangkapan yang telah
terkumpul diangkat ke atas dek kapal dengan menggunakan serok.
(g) Penyortiran ikan, setelah diangkat di atas dek kapal, dilakukan penyortiran ikan.
Penyortiran ini biasanya dilakukan berdasarkan jenis ikan tangkapan, ukuran dan lain-

lain. Ikan yang telah disortir langsung dimasukkan ke dalam wadah atau peti untuk
memudahkan pengangkutan.

2.2.2 Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)


Tahapan-tahapan metode pengoperasian Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)
adalah sebagai berikut (Subani dan Barus 1989).
(a)

Anco tetap dioperasikan dengan cara jaring diturunkan ke arah dasar perairan pantai,

muara sungai dan teluk-teluk yang relatif dangkal dengan muka jaring menghadap ke
dalam perairan.
(b) Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan jaring diputar atau dibalik dan diangkat
ke arah permukaan hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring.
(c)

Kemudian hasil tangkapan diangkat dari jaring.

2.2.3 Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)


Pada bagan tancap, operasi penangkapan dilakukan pada malam hari, dimana
awal operasi menggunakan perhitungan bulan. Persiapan untuk melakukan operasi adalah
merapikan jaring, menyiapkan lampu yang telah diperbaiki pada waktu istirahat (terang
bulan), menyiapkan minyak dan alat-alat lain serta perbekalan atau konsumsi. Para
nelayan membawa peralatannya ke kapal motor pukul 16.00, nelayan berangkat dengan
menggunakan kapal motor menuju lokasi bagan tancap (Hayat 1996).
Setelah nelayan tiba di lokasi, hal-hal yang dilakukan nelayan selanjutnya adalah (Hayat
1996):
(a)

Memasang jaring pada palang jaring dan penurunan jaring ke dalam laut dengan

menggunakan pemutar (roller).


(b) Setelah hari gelap, nelayan mulai menghidupkan lampu kemudian lampu diturunkan
secara perlahan-lahan ke dekat permukaan laut dengan jarak 0,5 m dari permukaan laut
bila laut tenang dan 1-1,5 m dari permukaan laut bila laut bergelombang.

(c)

Setelah menunggu kurang lebih 2-3 jam, nelayan mulai melakukan pemutaran roller,

hingga sedikit demi sedikit jaring naik secara perlahan.


(d) Setelah jaring naik hingga ke geladak bagan, maka pemutaran dihentikan dan lampu
diangkat lalu disangkutkan pada paku.
(e)

Pengambilan ikan dari dalam jaring dilakukan dengan cara menarik jaring agar ikan

berkumpul pada suatu tempat tertentu hingga menyerupai kantong. Ikan diambil dengan
menggunakan serok dan wadah ikannya adalah bakul.
(f)

Selesai pengambilan ikan dari jaring, maka jaring diturunkan kembali ke dalam laut.

Pengangkatan dan penurunan jaring dapat dilakukan beberapa kali hingga pagi hari tiba.
(g) Bila pagi menjelang, nelayan mematikan lampunya dan persiapan untuk pulang
adalah menyiapkan peralatan yang akan dibawa pulang sambil menunggu jemputan kapal
motor.

2.2.4 Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami).


Tahapan-tahapan metode pengoperasian Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami) adalah
sebagai berikut (Subani dan Barus 1989).
(a)

Memasang jaring pada bangunan bandrong.

(b) Kemudian jaring diturunkan ke arah dasar perairan dengan cara mengulurkan tali
untuk pengangkatan.
(c)

Setelah ikan terkumpul, lalu secara perlahan tali pengangkatan ditarik (jaring

diangkat ke arah permukaan) hingga kumpulan ikan berada di dalam jaring dan hasil
tangkapan diangkat dari jarring.

2.3 TARGET IKAN


2.3.1 Jaring Angkat Perahu (boat operated lift nets)
Hasil tangkapan jaring angkat perahu umumnya adalah ikan pelagis kecil seperti
tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp),
pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong
(Sepia sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastrelliger sp) (Subani W, 1970).
2.3.2 Jaring Angkat Anco (Portable lift nets)
Hasil tangkapan jaring angkat anco terutama jenis-jenis ikan pantai seperti
tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera sp), selar (Charanx sp),
pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi (Loligo sp), sotong
(Sepia sp), layur (Trichiurus sp), kembung (Rastrelliger sp) dan udang (udang penaeid)
(Subani dan Barus 1989).
2.3.3 Jaring Angkat Tancap ( Shore operated stationary lift nets)
Hasil tangkapan jaring angkat tancap umumnya adalah jenis ikan perairan pantai
dan ikan pelagis seperti tembang (Clupea sp), teri (Stolephorus sp), japuh (Dussumiera
sp), selar (Charanx sp), pepetek (Leiognathus sp), kerot-kerot (Therapon sp), cumi-cumi
(Loligo sp), sotong (Sepia sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastrelliger sp)
(Subani dan Barus 1989).
2.2.4 Jaring Angkat Bandrong (Bouke ami).
Hasil tangkapan jaring angkat bandrong antara lain tembang (Clupea sp), teri
(Stolephorus sp), manyung (Tachysurus spp), pepetek (Leiognathus sp), belanak (Mugil
spp), terkadang tongkol (Auxis rochei) (Subani dan Barus 1989).
2.4 Jumlah Nelayan Lift Net
Menurut Lestari (2001) diacu dalam Takril (2005) nelayan yang
dibutuhkan dalam pengoperasian bagan tancap tidak terlalu banyak,
cukup

satu

atau

dua

orang

saja

karena

tugasnya

hanya

untuk

menurunkan dan menaikan jaring bagan pada saat pengoperasian alat


tangkap tersebut (Takril 2005)

10

Untuk wilayah jabar biasanya 1-2 orang. Untuk wilayah timur, baganbagan perahu yang buat suplai umpan kapal pole and line bisa 5-7 orang
(Nasution 2015)
Untuk operasional penangkapan termasuk lift net tidak ada
ketentuan khusus untuk jumlah nelayan. Secara umum berdasarkan
keadaan dilapangan, rata-rata lift net dioperasikan oleh 1-3 orang.
(Laksmana 2015)

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Jadi, Dalam tata cara pengoperasian dari semua jenis alat tangkap jaring angkat
tersebut bahwa pada keseluruhan pengoperasian alat penangkapan ikan jaring angkat
dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat pemeriksaan (setting) dan
diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya dapat menggunakan alat bantu
pengumpul ikan berupa lampu. Jaring angkat Anco dan jaring angkat tancap
dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di perairan
yang lebih jauh dari pantai.

12

DAFTAR PUSTAKA

Ayodyoa. 1981. Alat Tangkap Di Indonesia. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya


Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Hayat M. 1996. Suatu Tinjauan tentang Bagan Tancap di Kecamatan Polewali,
Kabupaten Polmas, Sulawesi Selatan. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Bogor: Program
Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor Subani W. 1970. Penangkapan Ikan dengan Bagan. Tanpa
Lembaga. Jakarta. 18 hal.
Iskandar. 2001. Jenis Alat Tangkap Jaring Angkat (lift nets). Malang.254 Hal.
Subani W. 1970. Penangkapan Ikan dengan Bagan. Tanpa Lembaga. Jakarta. 18 Hal.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.
Sudirman. 2003. Petunjuk Pembuatan dan Pengoperasian Bagan Rakit. Semarang: Balai
Pengembangan Penangkapan Ikan.

13