Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

Pengaruh Perubahan Suhu Panas dan Dingin terhadap Buku Tutup


Operculum Benih Ikan Mas
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Fisiologi Hewan Air

Disusun Oleh :
Imas Siti Nur Halimah

230110140084

Yunia Qonitatin AM

230110140106

Adi Prasetyo

230110140135
Perikanan B
Kelompok 18

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah begitu
banyak mencurahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kami
dapat menyelesaikan laporan praktikum Fisiologi Hewan Air yang berjudul
Pengaruh Perubahan Suhu Panas dan Dingin terhadap Buku Tutup Operculum
Benih Ikan Mas ini tepat pada waktunya.
Semoga laporan akhir ini dengan segala bentuk kesederhanaannya dapat
dijadikan salah satu acuan maupun petunjuk dan pedoman bagi pembaca dalam
memperdalam mata kuliah, khususnya mata kuliah Fisiologi Hewan Air. Besar
harapan kami semoga dengan adanya laporan akhir ini dapat membantu menambah
pengetahuan bagi pembaca.
Dalam laporan akhir ini masih terdapat begitu banyak kekurangan karena
pengetahuan kami mengenai materinya pun masih belum terlalu jauh serta
keterbatasan sumber. Oleh karena itu segala bentuk kritik dan saran yang sifatnya
membangun untuk kesempurnaan laporan akhir ini sangat kami harapkan.

Jatinangor, Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..i
DAFTAR ISI.ii
DAFTAR GAMBAR...iii
DAFTAR TABELiv
BAB I PENDAHULUAN.1
1.1 Latar Belakang.......1
1.2 Tujuan....2
1.3 Manfaat..3

BAB II LANDASAN TEORI..


2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio).
2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas.6
2.1.2 Morfologi Ikan Mas
2.2 Sistem Pernafasan
2.3 Suhu
2.4 DO (Dissolved Oxygen)
BAB III ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
3.2.2 Bahan
3.3 Prosedur Praktikum
BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Data Kelompok
4.1.2 Data Kelas
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Data Kelompok
4.2.2 Pembahasan Data Kelas
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

KASIH HALAMAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Gambar 2. Bagian-Bagian Ikan Mas..
Gambar 3. Mekanisme pernapasan fase inspirasi dan ekspirasi.
Gambar 4. Beaker Glass..
Gambar 5. Wadah plastic
Gambar 6. Water Bath
Gambar 7. Termometer
Gambar 8. Hand Counter
Gambar 9. Timer/Stopwatch

KASIH HALAMAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu Kamar
(T = 27o C).
Tabel 2. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3o C di Atas Suhu
Kamar (T = 30o C)..
Tabel 3. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3 o C di Bawah
Suhu Kamar (T = 24o C)
Tabel 4. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu Kamar
Tabel 5. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3o C di Atas Suhu
Kamar
Tabel 6. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3 o C di Bawah
Suhu Kamar
Tabel 7. Perbandingan data kelompok dan data kelas

KASIH HALAMAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan merupakan hewan yang bersifat poikilotermik, suhu tubuhnya mengikuti
suhu lingkungan. Bagi hewan akuatik, suhu media air merupakan faktor pembatas,
oleh karena itu perubahan suhu media air akan mempengaruhi kandungan oksigen
terlarut, yang akan berakibat pada laju pernafasan dan laju metabolisme hewan
akuatik tersebut.
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem respirasi,
bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem saraf, sistem
endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999).
Insang dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan kapilerkapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen, dan tiap filamen
mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah
yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2
berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup insang yang
disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan bertulang rawan tidak ditutupi oleh
operkulum.
Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi
sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan
osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan perluasan ke
atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga
tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan O 2 sehingga ikan tahan pada
kondisi yang kekurangan O2. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah ikan gabus
dan ikan lele.
Untuk menyimpan cadangan O2, selain dengan labirin, ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat punggung.Stickney (1979) menyatakan
salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air
dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air

mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya.


Ikan harus mengatur tekanan osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan
tubuhnya setiap waktu. Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni
inspirasi dan ekspirasi. Pada fase inspirasi, O2 dari air masuk ke dalam insang
kemudian O2 diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang
membutuhkan. Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO 2 yang dibawa oleh darah dari
jaringan akan bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui perubahan suhu panas dan
dingin media air terhadap membuka & menutup operculum benih ikan mas yang
secara tidak langsung ingin mengetahui laju pernafasan ikan tersebut.
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini yaitu dapat mengetahui serta memahami pengaruh
suhu pada laju pernafasan ikan mas membuka dan menutup operculum ikan mas, dan
secara tidak langsung dapat mengetahui perbedaan laju pernafasan ikan dengan kedua
perlakuan tersebut.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Gambar 1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)


Ikan mas merupakan jenis ikan air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan
sedikit pipih kesamping (Compressed), mulut terletak diujung tengah (terminal) dan
dapat disembulkan. Ikan mas bernilai ekonomis penting dan sudah tersebar luas di
Indonesia. Di Indonesia ikan mas berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok kemudian
berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat penting (Djoko S, 2000). Ikan mas
merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan
lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di
Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di
Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan
Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai
saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan
karakteristik morfologisnya (Wikipedia,2014).
2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum,
badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed)
dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat di sembulka, di
bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di
antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto,2007).
Adapun klasifikasi ilmiah ikan mas adalah sebagai berikut:

Kerajaan

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Spesies

: Cyprinus carpio (Linnaeus, 1758)

2.1.2 Morfologi Ikan Mas


Secara morfologi, ikan mas memiliki ciri-ciri bentuk tubuh agak memanjang
dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan.
Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Hampir
seluruh tubuh ikan mas ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil tidak ditutupi
sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan ke dalam tipe sisik
sikloid dengan warna yang sangat beragam (Rochdianto 2005). Ikan mas dapat
tumbuh cepat pada suhu lingkungan berkisar antara 20-28C dan akan mengalami
penurunan pertumbuhan bila suhu lingkungan lebih rendah. Pertumbuhan akan
menurun dengan cepat di bawah suhu 13C dan akan berhenti makan apabila
suhu berada di bawah 5 C (Huet 1970 dalam Ariaty 1991). Ikan mas merupakan
ikan air tawar yang memiliki sifat tenang, suka menempati perairan yang tidak
terlalu bergolak dan senang bersembunyi di kedalaman. Ikan mas termasuk
omnivora, biasanya memakan plankton. Larva ikan mas memakan invertebrata air
seperti rotifer, copepoda dan kutu air. Kebiasaan makan ikan mas berubah-ubah
dari hewan pemakan plankton menjadi pemakan dasar. Ikan mas yang sedang
tumbuh memakan organisme bentik dan sedimen organik. Ikan mas jantan akan
matang gonad pada umur dua tahun dan ikan mas betina pada umur tiga tahun.
Ikan mas akan memijah pada suhu lingkungan berkisar antara 18-20 C ( Ikenoue
1982 dalam Ariaty 1991).
Di Indonesia, ikan mas pertama kali berasal dari daratan Eropa dan
Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat

penting. Indonesia mengimpor ikan mas ras Taiwan, ras Jerman dan ras fancy
carp masing-masing dari Taiwan, Jerman dan Jepang pada tahun 1974. Indonesia
mengimpor ikan mas ras Yamato dan ras Koi dari Jepang pada sekitar tahun 1977.
Ras-ras ikan yang diimpor tersebut dalam perkembangannya ternyata sulit dijaga
kemurniannya karena berbaur dengan ras-ras ikan yang sudah ada di Indonesia
sebelumnya sehingga terjadi persilangan dan membentuk ras-ras baru (Suseno
2000 dalam Rochdianto 2005).
Tubuh ikan mas digolongkan menjadi tiga bagian yaitu kepala, badan, dan
ekor. Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung
hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang,
sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar
(Cahyono, 2000). Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Siripsirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal
merupakan anggota gerak yang bebas. Disamping alat-alat yang terdapat dalam,
rongga peritoneum dan pericardium, gelembung renang, ginjal, dan alat
reproduksi pada sistem pernapasan ikan umumnya berupa insang (Bactiar,2002)

Gambar 2. Bagian-Bagian Ikan Mas


2.2 Sistem Pernafasan
Hewan Vertebrata telah memiliki sistem sirkulasi yang fungsinya antara lain
untuk mengangkut gas pernapasan (O2) dari tempat penangkapan gas menuju sel-sel

jaringan. Begitu pula sebaliknya, untuk mengangkut gas buangan (CO 2) dari sel sel
jaringan ke tempat pengeluarannya.
Ikan bernapas menggunakan insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedang bagian dalam berhubungan erat dengan
kapilerkapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen dan tiap
filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh
darah yang memiliki banyak kapiler, sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk
dan CO2 berdifusi keluar.
Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan tutup
insang (operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes)
insangnya tidak mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang, ada pula
kelompok ikan yang bernapas dengan gelembung udara (pulmosis), yaitu ikan paruparu (Dipnoi). Insang tidak hanya berfungsi sebagai alat pernapasan, tetapi juga
berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran
ion, dan osmoregulator.
Ikan mas merupakan ikan bertulang sejati. Insang ikan mas tersimpan dalam
rongga insang yang terlindung oleh tutup insang (operkulum). Insang ikan mas terdiri
dari lengkung insang yang tersusun atas tulang rawan berwarna putih, rigi-rigi insang
yang berfungsi untuk enyaring air pernapasan yang melalui insang, dan filamen atau
lembaran insang. Filamen insang tersusun atas jaringan lunak, berbentuk sisir dan
berwarna merah muda karena mempunyai banyak pembuluh kapiler darah dan
merupakan cabang dari arteri insang. Di tempat inilah pertukaran CO 2 dan O2
berlangsung.
Oksigen diambil dari oksigen yang terlarut dalam air melalui insang secara
difusi. Dari insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke seluruh jaringan
tubuh. Dari jaringan tubuh, CO2 diangkut darah menuju jantung. Dari jantung menuju
insang untuk melakukan pertukaran gas. Proses ini terjadi secara terus-menerus dan
berulang-ulang.

Gambar 3. Mekanisme pernapasan fase inspirasi dan ekspirasi


Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme inspirasi
dan ekspirasi.
a. Fase inspirasi ikan
Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap menempel
pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah belakang
insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut lebih kecil daripada
tekanan udara luar. Celah mulut membuka sehingga terjadi aliran air ke dalam rongga
mulut. Perhatikan gambar di samping.
b. Fase ekspirasi ikan
Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup. Insang
kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang. Air dalam mulut
mengalir melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaran-lembaran insang. Pada
tempat ini terjadi pertukaran udara pernapasan. Darah melepaskan CO 2 ke dalam air
dan mengikat O2 dari air.
Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O 2 diikat oleh
kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Sebaliknya

pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan bermuara ke
insang, dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.
2.3 Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas, mudah
diukur dan sangat beragam. Suhu tersebut mempunyai peranan yang penting dalam
mengatur aktivitas biologis organisme, baik hewan maupun tumbuhan. Ini terutama
disebabkan karena suhu mempengaruhi kecepatan reaksi kimiawi dalam tubuh dan
sekaligus

menentukan

kegiatan

metabolisme,

misalnya

dalam

hal

respirasi. Sebagaimana halnya dengan faktor lingkungan lainnya, suhu mempunyai


rentang yang dapat ditolerir oleh setiap jenis organisme. Masalah ini dijelaskan dalam
kajian ekologi yaitu, Hukum Toleransi Shelford. Dengan alat yang relatif
sederhana, percobaan tentang pengaruh suhu terhadap aktivitas respirasi organisme
tidak

sulit

dilakukan,

misalnya

dengan

menggunakan

respirometer

sederhana (Amdah, 2011).


Kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung pada lengkapnya
keadaan, ketiadaan atau kegagalan suatu organisme dapat dikendalikan oleh
kekurangan maupun kelebihan baik secar kualitatif maupun secara kuantitatif dari
salah satu dari beberapa faktor yang mungkin mendekati batas-batas toleransi
organisme tersebut. Faktor-faktor yang mendekati batas biotik tersebut meliputi
komponen biotik dan komponen abiotik yang berpengaruh terhadap kehidupan
organisme tersebut. Komponen biotik yang dimaksud tidak terbatas pada tersedianya
unsur-unsur yang dibutuhkan, tetapi mencakup pula temperatur, sinar matahari, air
dan sebagainya. Tiap organisme mempunyai batas maksimum dan minimum terhadap
faktor-faktor tersebut, dengan kisaran diantaranya batas-batas toleransi (Udom,
1989).
Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda
tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu
benda. Suhu juga disebut temperatur.Benda yang panas memiliki suhu lebih tinggi
dibandingkan benda yang dingin. Suhu juga disebut temperatur . Alat yang digunakan
untuk mengukur suhu adalah thermometer. Namun dalam kehidupan sehari-hari,

untuk mengukur suhu masyarakat cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi


dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk
mengukur suhu dengan valid. Termometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur suhu (temperatur), ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari
bahasa Latin thermo yang berarti bahang dan meter yang berarti untuk mengukur.
Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam, yang paling umum digunakan
adalah termometer air raksa.
Ikan beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi fisiologi ikan salah satunya
berhubungan dengan system respirasi. Pada adaptasi ini terlihat dari gerakan
operculum ikan. Adapatasi ini dipengaruhi oleh temperature dan keadaan
lingkungannya. Kenaikan suhu pada suatu perairan menyebabkan kelarutan oksigen
atau dissolve oxygen (DO) di peraiaran tersebut akan menurun, sehingga kebutuhan
organisme air terhadap oksigen semakin bertambah dengan pergerakan operculum
yang semakin cepat, penurunan suhu pada suatu perairan dapat menyebabkan
kelarutan oksigen dalam perairan itu meningkat sehingga kebutuhan organisme dalam
air terhadap oksigen semakin berkurang, hal ini menyebabkan jarangnya frekuensi
membuka serta menutupnya operculum pada ikan tersebut (Yulianto,2011).
2.4 DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen
juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses
aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi
dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut
(Salmin, 2000).
Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,
gelombang dan pasang surut. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam
air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan

semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi,
karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses
fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen
terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada
banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik. Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada
jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam
relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau
memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas,
memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut
(Wardoyo, 1978).
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan
nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut
minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968).
Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Huet, 1970).
KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk
kepentingan wisata bahari dan biota laut (Anonimous, 2004).
Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena
oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan
anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis yang dilakukan oleh
organisme aerobik atau anaerobik.
Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan
organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat
memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan
akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk
nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen
terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan
secara alami maupun secara perlakuanaerobik yang ditujukan untuk memurnikan air
buangan industri dan rumah tangga.

Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan


pereduksibahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak
beracun. Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam
menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dan
tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air buangan industri dan limbah
sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya
(Salmin, 2005).
DO merupakan perubahan mutu air paling penting bagi organisme air, pada
konsentrasi lebih rendah dari 50% konsentrasi jenuh, tekanan parsial oksigen dalam
air kurang kuat untuk mempenetrasi lamela, akibatnya ikan akan mati lemas (Ahmad
dkk,1998). Kandungan DO di kolam tergantung pada suhu, banyaknya bahan
organik, dan banyaknya vegetasi akuatik (Lelono, 1986 dalam Anonim, 2008).
Penurunan kadar oksigen terlarut dapat disebabkan oleh tiga hal:
1. Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.
2. Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob dari dasar perairan.
3. Proses pernapasan orgaisme yang hidup di dalam air, terutama pada malam hari.
Semakin tercemar, kadar oksigen terlerut semakin mengecil (Abdilanov, 2011).

BAB III
ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu
: 9.50 11.30 WIB
Hari/Tanggal : Senin,12 Oktober 2015
Tempat: Laboratorium Akuakultur
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Beaker Glass
Beaker glass digunakan sebagai wadah untuk ikan yang akan diamati.

Gambar 4. Beaker Glass


Wadah Plastik
Wadah plastik sebagai tempat ikan sebelum dan setelah diamati.

Gambar 5. Wadah plastik

Water Bath

Water bath sebagai penangas air.

Gambar 6. Water Bath

Termometer Hg/Alkohol
Termometer sebagai alat untuk mengukur suhu air.

Gambar 7. Termometer

Hand Counter
Hand counter sebagai alat untuk menghitung bukaan operculum.

Gambar 8. Hand Counter

Timer / Stopwatch
Timer / Stopwatch sebagi alat untuk mengamati waktu.

Gambar 9. Timer/Stopwatch
3.2.2

Bahan
Benih ikan mas sebanyak 5 ekor
Stok air panas untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan
Stok es balok untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan

3.3 Prosedur Praktikum


Dalam percobaan ini langkah-langkah yang harus diperhatikan antara lain :
1

Siapkan sebuah beaker glass 1000 ml sebagai wadah perlakuan dan dua wadah
plastik sebagai tempat ikan yang belum dan yang sudah diamati

Ambil sebanyak 5 ekor benih ikan mas dari akuarium stok, lalu masukkan ke dalam
salah satu wadah plastic yang telah diberi media air.

Isi beaker glass dengan air secukupnya ( volumenya ), lalu ukur suhunya dengan
thermometer dan catat hasilnya.

Pengamatan akan dilakukan dengan tiga perlakuan yaitu :


a

T1 = untuk suhu kamar ( . 0,5 C)

T2 = untuk suhu 3 C di atas suhu kamar

T3 = untuk suhu 3 C di bawah suhu kamar

Masukkan satu persatu ikan uji ke dalam beaker glass yang sudah diketahui suhunya
(perlakuan a) kemudian hitung banyaknya membuka & menutup operculum ikan
tersebut selama satu menit dengan menggunakan hand counter dan stop watch
sebagai penunjuk waktu dan diulang sebanyak tiga kali untuk masing masing ikan.
Data yang diperoleh dicatat pada kertas lembar kerja yang telah tersedia.

Setelah selesai dengan ikan uji pertama dilanjutkan dengan ikan uji berikutnya
sampai ke sepuluh ikan tersebut teramati. Ikan yang telah diamati dimasukkan ke
dalam wadah plastik lain yang telah disediakan

Setelah selesai dengan perlakuan a, dilanjutkan dengan perlakuan b dengan mengatur


suhu air pada beaker glass agar sesuai dengan suhu yang diinginkan dengan cara
menambah air panas dari water bath sedikit demi sedikit. Usahakan pada saat
pengamatan berlangsung suhu air turun pada kisaran toleransi 0,5 C. Pengamatan
selanjutnya sama seperti pada point 5.

Setelah selesai dengan perlakuan b, dilanjutkan dengan perlakuan c dengan mengatur


suhu air pada beaker glass agar sesuai dengan suhu yang diinginkan dengan cara
menambah air panas dari water bath sedikit demi sedikit. Usahakan pada saat
pengamatan berlangsung suhu air turun pada kisaran toleransi 0,5 C. Pengamatan
selanjutnya sama seperti pada point 5.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Data Kelompok

Tabel 1. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu Kamar (T =
27o C)
Ikan ke (warna) :

Ulangan

Rata-rata

II

III

139

136

121

132

169

154

145

156

126

128

101

118

125

134

104

121

136

117

120

124

139

134

118

rata-rata

Tabel 2. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3 o C di Atas
Suhu Kamar (T = 30o C)
Ikan ke (warna) :

Ulangan

Rata-rata

II

III

133

130

133

132

142

165

164

157

145

149

163

152

180

168

152

167

157

144

123

141

151

151

147

rata-rata

Tabel 3. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3o C di


Bawah Suhu Kamar (T = 24o C)
Ikan ke (warna) :

Ulangan

Rata-rata

II

III

146

134

124

135

146

129

129

135

155

146

133

145

145

139

127

137

153

141

132

142

149

138

129

rata-rata
4.1.2 Data Kelas

Tabel 4. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu Kamar
KELOMPOK
KELOMPOK 1
KELOMPOK 2
KELOMPOK 3
KELOMPOK 4
KELOMPOK 5
KELOMPOK 6

I
177
145
119
168
128
147

MENIT
II
179
143
115
168
128
150

III
174
140
127
171
161
153

KELOMPOK 7
KELOMPOK 8
KELOMPOK 9

103
118
132

108
123
115

107
129
103

KELOMPOK 10
KELOMPOK 11
KELOMPOK 12
KELOMPOK 13
KELOMPOK 14
KELOMPOK 15
KELOMPOK 16
KELOMPOK 17
KELOMPOK 18
KELOMPOK 19
KELOMPOK 20
KELOMPOK 21
KELOMPOK 22
KELOMPOK 23
RATA-RATA

139
142
137
126
156
119
172
130
139
170
170
163
123
177
143

144
143
132
139
160
110
147
129
134
159
172
175
130
172
142

135
146
133
136
152
111
140
128
118
157
176
171
125
157
141

Tabel 5. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3o C di


Atas Suhu Kamar

KELOMPOK
KELOMPOK 1
KELOMPOK 2
KELOMPOK 3
KELOMPOK 4
KELOMPOK 5
KELOMPOK 6

I
216
186
97
215
219
194

MENIT
II
215
185
111
228
223
192

III
216
201
141
223
235
198

KELOMPOK 7

112

111

109

KELOMPOK 8
KELOMPOK 9

179
150

191
143

183
131

KELOMPOK 10
KELOMPOK 11
KELOMPOK 12
KELOMPOK 13
KELOMPOK 14

177
170
127
155
179

178
168
120
147
177

174
168
126
150
176

KELOMPOK 15
KELOMPOK 16
KELOMPOK 17
KELOMPOK 18
KELOMPOK 19
KELOMPOK 20
KELOMPOK 21
KELOMPOK 22
KELOMPOK 23
RATA-RATA

140
218
157
151
185
209
187
164
203
173

136
175
154
151
195
197
177
158
219
172

120
177
147
147
185
205
185
163
200
172

Tabel 6. Banyaknya Bukaan Operculum Benih Ikan Mas pada Suhu 3o C di


Bawah Suhu Kamar
KELOMPOK
KELOMPOK 1
KELOMPOK 2
KELOMPOK 3
KELOMPOK 4
KELOMPOK 5
KELOMPOK 6

I
142
179
95
142
154
143

MENIT
II
138
144
95
133
153
141

KELOMPOK 7

84

83

III
141
137
86
139
148
142
88

KELOMPOK 8
KELOMPOK 9

91
100

86
96

98
90

KELOMPOK 10
KELOMPOK 11
KELOMPOK 12
KELOMPOK 13
KELOMPOK 14

156
125
113
112
151

160
129
112
108
138

162
123
113
114
144

KELOMPOK 15
KELOMPOK 16
KELOMPOK 17
KELOMPOK 18
KELOMPOK 19
KELOMPOK 20
KELOMPOK 21
KELOMPOK 22
KELOMPOK 23
RATA-RATA

117
138
113
149
172
162
176
125
178
135

119
148
112
138
159
165
175
124
165
131

111
130
108
129
158
165
173
132
190
131

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Data Kelompok
1. Suhu Kamar 27C
Suhu kamar yang diperoleh pada saat praktikum menunjukan angka 27C
adalah air keran yang diambil langsung di lab tempat praktikum berlangsung.
Dari lima data ikan yang diperoleh, ikan pertama memperoleh rata rata 132 dari
tiga kali percobaan, ikan kedua memperoleh 156 bukaan operculum, ikan ketiga
sebanyak 118 bukaan operculum, ikan keempat sebanyak 121 bukaan operculum,
dan ikan kelima sebanyak 125 bukaan operculum setiap menitnya. Diperoleh pula
hasil rata-rata dari lima ikan tersebut dalam setiap menitnya. Pada menit pertama
rata-rata bukaan operculum ikan sebanyak 139 , menit kedua sebanyak 134, dan
menit ketika sebanyak 118. Semakin lama intensitas bukaan operculum pada ikan
semakin menurun seiring dengan ikan yang mulai dapat beradaptasi dengan suhu
lingkungannya.

Data tersebut menunjukan bahwa setiap ikan mempunyai nilai yang berbeda
disetiap bukaan operculumnya. Hal ini disebabkan pengaruh suhu yang dilakukan
pada praktikum ini. Faktor lain yang mengakibatkan perbedaan nilai tersebut
adalah perlakuan praktikan terhadap ikan uji. Ikan uji bisa saja terkena stress
akibat perlakuan praktikan yang asal asalan dalam pelaksanaan praktikum.
Salah satu contoh praktikan memasukan ikan tidak dengan hati hati pada toples
yang digunakan untuk melihat banyaknya bukaan operculum atau ketika ikan
baru dimasukan perhitungan langsung dimulai. Padahal hal tersebut akan
berpengaruh terhadap keadaan ikan. Ikan cenderung menjadi lebih gesit dan aktif
bergerak karena merasa takut atau terancam yang mengakibatkan aktivitas
gerakan ikan meningkat sehingga bukaan operculum pun meningkat dari yang
seharusnya normal (karena ada pada suhu kamar). Sebaiknya ketika memasukkan
ikan pada toples harus hati hati dan secara perlahan, kemudian tunggu beberapa
saat sampai ikan benar benar menstabilkan suhu tubuhnya dengan suhu
lingkungan.
2. Suhu Panas 30C
Suhu air yang digunakan adalah 30C yaitu air yang digunakan praktikum
sebelumnya dengan suhu 27C ditambahkan dengan air panas sampai naik 3C.
Dari lima data ikan yang diperoleh, ikan pertama memperoleh rata rata 132 dari
tiga kali percobaan, ikan kedua memperoleh 157 bukaan operculum, ikan ketiga
sebanyak 152 bukaan operculum, ikan keempat sebanyak 167 bukaan operculum,
dan ikan kelima sebanyak 141 bukaan operculum setiap menitnya. Diperoleh pula
hasil rata-rata dari lima ikan tersebut dalam setiap menitnya. Pada menit pertama
rata-rata bukaan operculum ikan sebanyak 151 , menit kedua sebanyak 151, dan
menit ketika sebanyak 147.
Dibandingkan dengan bukaan operculum pada suhu kamar jelas berbeda. Pada
suhu ini laju bukaan overculum menjadi lebih banyak. Ini bisa dikatakan sesuai
dengan teori yang menyebutkan bahwa jika suhu meningkat maka metabolism
meningkat begitupun sebaliknya. Atau teori yang menyebutkan bahwa jika suhu
meningkat maka kandungan DO ( Dissolved Oxygen ) menurun memang terbukti.

Jika diperhatikan bukaan operculum ikan meningkat pada suhu yang lebih panas,
ini bisa disebabkan oleh dua faktor yaitu antara kandungan DO di air atau
metabolisme tubuh ikan. Kandungan DO pada air mungkin saja bisa berkurang
diakibatkan penguapan, tetapi kemungkinannya sangat kecil untuk gas oksigen
menguap pada suhu tersebut, dibutuhkan suhu sekitar >50C untuk gas oksigen
menguap dari dalam air. Jadi kemungkinan besar ini dipengaruhi oleh metabolism
tubuh ikan tersebut sehingga bukaan operculum menjadi bertambah. Metabolism
meningkat jika suhu meningkat walaupun hanya 1C. Ini diakibatkan karena
proses metabolism tubuh membutuhkan energi, dan panas merupakan energi. Jadi
dapat disimpulkan bahwa peningkatan intensitas bukaan operculum diakibatkan
oleh aktivitas tubuh yang meningkat karena proses metabolism pada tubuh ikan
(dengan mengabaikan hal lain yang memicu peningkatan bukaan operculum
seperti stress dll).
Inilah yang mengakibatkan mengapa larva ikan umumnya lebih baik
dipelihara dalam air yang bersuhu lebih hangat dibanding suhu kamar agar
pertumbuhan larva ikan menjadi semakin cepat karena metabolism tubuh yang
meningkat juga.
3. Suhu Dingin 24C
Suhu air dingin yang dipakai adalah sekitar 24C yaitu dengan menambahkan
es batu sedikit demi sedikit sehingga suhu turun sebesar 6C dari suhu awal 30C
menjadi 24C. Dari lima data ikan yang diperoleh, ikan pertama memperoleh rata
rata 135 dari tiga kali percobaan, ikan kedua memperoleh 135 bukaan
operculum, ikan ketiga sebanyak 145 bukaan operculum, ikan keempat sebanyak
137 bukaan operculum, dan ikan kelima sebanyak 142 bukaan operculum setiap
menitnya. Diperoleh pula hasil rata-rata dari lima ikan tersebut dalam setiap
menitnya. Pada menit pertama rata-rata bukaan operculum ikan sebanyak 149 ,
menit kedua sebanyak 138, dan menit ketika sebanyak 129.
Seperti pembahasan sebelumnya, hal yang harus diingat adalah konsep
metabolisme tubuh dan kandungan DO di dalam air. Kembali lagi kepada

pembahasan mengenai metabolisme tubuh, maka ketika suhu menurun aktivitas


tubuh pun menurun karena metabolism membutuhkan energi yaitu panas, dan jika
suhu pada air tersebut dingin secara otomatis metabolisme tubuh menurun karena
seperti yang diketahui ikan merupakan organisme perairan yang memerlukan
panas atau energi dari lingkungan. Itulah sebabnya aktivitas bukaan operculum
pada ikan menjadi menurun dan ikan terlihat lebih tenang ketika berada pada air
yang bersuhu rendah.
Pada hasil pengamatan kelompok kami ditemukan bahwa bukaan operculum
pada ikan masih dalam jumlah yang banyak meskipun seharusnya menurun oleh
karena penurunan suhu. Ini mungkin disebabkan kesalahan pada praktikan pada
saat hemdak memindahkan ikan dari wadah plastik ke beaker glass, sehingga ikan
tidak bisa diam dan stress. Oleh karena itu perhitungan pun menjadi semakin
cepat. Hal lain yang mempengaruhi yaitu terjadi kesalahan saat perhitungan
menggunakan hand counter.
Kesimpulan dari praktikum tersebut pengaruh buka tutup operculum
dipengaruhi oleh suhu yang pada akhirnya suhu akan mempengaruhi proses
metabolisme tubuh. Dalam praktikum ini suhu tidak berpengaruh pada kandungan
DO yang berada di dalam air yang digunakan. Suhu kemungkinan sangat kecil
untuk menguap, karena suhu tertinggi yang digunakan hanya mencapai 30C.
Tetapi, hal lain yang tidak diperhitungkan disini adalah kondisi ikan sebelum atau
ketika pelaksanaan praktikum dalam kondisi sehat atau tidak, atau mungkin dalam
kondisi stress contohnya pada ikan pertama memiliki nilai bukaan operculum yang
tidak terlalu besar berbeda dengan ikan kedua dan ketiga. Hal lainnya lagi adalah
kandungan DO ketika praktikum terakhir, yaitu saat praktikum di media air yang
dingin. Karena jika diteliti kembali, air yang digunakan dari praktikum 1 ( suhu
kamar ) sampai yang terakhir ( suhu rendah ) tidak dirubah. Sehingga dapat
disimpulkan jika kandungan oksigennya akan berkurang yang mengakibatkan
bukaan operculum ikan yang seharusnya lebih sedikit ini menjadi lebih banyak
dari yang seharusnya.

4.2.2 Pembahasan Data Kelas


Berdasarkan data yang diperoleh dari setiap kelompok di kelas B dihasilkan
rata rata untuk suhu kamar sekitar 26 - 27C dengan rata-rata

bukaan

operculum pada menit pertama yaitu sebanyak 143, menit kedua dengan rata-rata
bukaan operculum sebanyak 142, dan pada menit ketiga sebanyak 141 bukaan .
Untuk suhu panas berada sekitar 29 - 30C dengan bukaan operculum pada menit
pertama yaitu sebanyak 173, menit kedua dengan rata-rata bukaan operculum
sebanyak 172, dan pada menit ketiga sebanyak 172 bukaan . Dan untuk suhu
dingin dari 23 - 24C dengan bukaan operculum pada menit pertama yaitu
sebanyak 135, menit kedua dengan rata-rata bukaan operculum sebanyak 131,
dan pada menit ketiga sebanyak 131 bukaan.
Dari data tersebut bisa dihasilkan analisa bahwa suhu akan membengaruhi
metabolisme tubuh dan juga aktivitas tubuh salah satunya pada buka tutup
operculum dalam satuan waktu yaitu per menit walaupun suhu yang dipakai di
media air yang digunakan hanya berbeda sedikit kurang lebih 1C dianggap
semua sama. Pada suhu kamar terdapat rata-rata bukaan operculum sebanyak 142
ini mengindikasikan bahwa bukaan normal operculum ikan dalam waktu per
menit adalah sekitar angka tersebut. Walaupun seperti yang telah dijelaskan factor
kondisi ikan dan kandungan DO di air dianggap sama dan dalam kondisi baik.
Data kedua yaitu untuk suhu panas dihasilkan data dengan nilai rata rata
sebesar 172 bukaan per menit. Sehingga dapat disimpulkan bukaan operculum
ikan meningkat ketika penambahan kurang lebih 3C. Selisih penambahannya
yaitu sekitar 30 bukaan. Dapat terlihat bahwa pada setiap ikan menunjukan
kenaikan aktivitas tubuh dengan naiknya metabolism tubuh yang berpengaruh
pada bukaan operculum.
Data ketiga untuk suhu yang dingin yaitu dengan rata rata bukaan sekitar
132 bukaan per menit. Data ini pun sama menjelaskan bahwa pengurangan suhu
sebesar 3C dari suhu kamar atau 6C dari suhu panas juga berpengaruh terhadap
metabolisme tubuh. Semakin rendah suhu maka proses metabolisme tubuh akan

berkurang, yang disebabkan ikan merupakan hewan akuatik yang mendapatkan


energi atau panas dari lingkungannya.
Pada peristiwa temperatur di bawah suhu kamar maka tingkat frekuensi
membuka dan menutupnya operculum akan semakin lambat dari pada suhu
kamar. Dengan adanya penurunan temperatur, maka terjadi penurunan
metabolism pada ikan yang mengakibatkan kebutuhan O2 menurun, sehingga
geraknnya melambat. Penurunan O2 juga dapat menyebabkan kelarutan O2 di
lingkungannya meningkat. Maka dari itu, perubahan yang mendadak dari
temperatur lingkungan akan sangat berpengaruh pada ikan itu sendiri.
Perbandingan antara data kelompok dan data kelas adalah sebagai berikut :
No
.
1.
2.
3.

Suhu yang digunakan

Data Kelompok

Data Kelas

26 - 27C ( suhu kamar )


130
142
29 30C ( suhu panas )
150
172
23 - 24C ( suhu dingin )
139
132
Tabel 7. Perbandingan data kelompok dan data kelas
Dari perbandingan di atas nilai yang diperoleh tidak terlalu jauh berbeda.

Selisih dari setiap rata rata data tidak lebih dari 20 bukaan operculum dalam
waktu satu menit. Ini bisa dikatakan nilai antara data kelompok dan rata rata
data kelas dianggap sama. Hal lainnya yang juga berpengaruh mungkin ada pada
pengambilan data dari ikan yang dilakukan manual dilihat oleh mata, karena tidak
mungkin secara tepat dapat menghitung bukaan operculum karena ikan terus
aktifbergerak sehingga menyusahkan dalam proses penghitungan.
Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan dapat diketahui bahwa
frekuensi membuka serta menutupnya operculum pada ikan mas terjadi lebih
sering pada setiap kenaikan suhu serta penurunan suhu dari suhu awal kamar,
semakin sering ikan itu membuka serta menutup operculumnya hal ini dapat
disimpulkan bahwa bila suhu meningkat, maka laju metabolisme ikan akan
meningkat sehingga gerakan membuka dan menutupnya operculum ikan akan
lebih cepat dari pada suhu awal kamar, serta sebaliknya jika suhu menurun maka
semakin jarang pula ikan itu membuka serta menutup operculumnya.

Dalam hal ini juga tidak mutlak kesalahan dari bahan ataupun alat yang kita
gunakan, praktikan juga dapat menjadi kendala dalam kesalahan kekurangtelitian
dalam melihat mekanisme membuka serta menutup operculum ikan tersebut
karena hal ini juga dapat mempengaruhi kecepatan dalam pengamatan ini. Waktu
perhitungan frekuensi gerakan membuka serta menutup operculum juga sangat
berpengaruh. Hal tersebut yaitu daya adaptasi yang berbeda pada umur benih ikan
mas dengan waktu dimulainya perhitungan sangat berkaitan erat dalam
mempengaruhi hasil pengamatan ini.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Ikan termasuk hewan poikilotermik karena ikan menyesuaikan suhu di dalam
tubuh dengan perubahan suhu lingkungan. Hewan poikilotermik memiliki rentang
toleransi terhadap perubahan suhu lingkungan. Ketika terjadi perubahan suhu
lingkungan, maka organisme akan melakukan proses homeostasis agar dapat bertahan
dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Semakin tinggi suhu dinaikkan dari suhu normal, maka gerakan operculum
juga semakin meningkat. Semakin rendah suhu pada lingkungan maka intensitas
gerakan operkulum semakin lambat. Jika perubahan suhu lingkungan melebihi batas
toleransi hewan tersebut (suhu ekstrem), maka dapat dipastikan hewan tersebut tidak
mampu bertahan.
Dari praktikum tersebut pengaruh buka tutup operculum dipengaruhi oleh
suhu yang pada akhirnya suhu akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh. Dalam
praktikum ini suhu tidak berpengaruh pada kandungan DO yang berada di dalam air
yang digunakan. Suhu kemungkinan sangat kecil untuk menguap, karena suhu
tertinggi yang digunakan hanya mencapai 29C. Jika diperhatikan bukaan operculum
ikan meningkat pada suhu yang lebih panas, ini bisa disebabkan oleh dua faktor yaitu
antara kandungan DO di air atau metabolisme tubuh ikan. Kandungan DO pada air
mungkin saja bisa berkurang diakibatkan penguapan, tetapi kemungkinannya sangat
kecil untuk gas oksigen menguap pada suhu tersebut, dibutuhkan suhu sekitar >50C
untuk gas oksigen menguap dari dalam air. Jadi kemungkinan besar ini dipengaruhi
oleh metabolism tubuh ikan tersebut sehingga bukaan operculum menjadi bertambah.
Hal lainnya lagi adalah kandungan DO ketika praktikum terakhir, yaitu saat
praktikum di media air yang dingin. Karena jika diteliti kembali, air yang digunakan
dari praktikum 1 (suhu kamar) sampai yang terakhir (suhu rendah) tidak dirubah.
Sehingga dapat disimpulkan jika kandungan oksigennya akan berkurang yang
mengakibatkan bukaan operculum ikan yang seharusnya lebih sedikit ini menjadi
lebih banyak dari yang seharusnya.

Dalam hal ini juga tidak mutlak kesalahan dari bahan ataupun alat yang kita
gunakan, praktikan juga dapat menjadi kendala dalam kesalahan kekurangtelitian
dalam melihat mekanisme membuka serta menutup operculum ikan tersebut karena
hal ini juga dapat mempengaruhi kecepatan dalam pengamatan ini. Waktu
perhitungan frekuensi gerakan membuka serta menutup operculum juga sangat
berpengaruh. Hal tersebut yaitu daya adaptasi yang berbeda pada umur benih ikan
mas

dengan waktu dimulainya

perhitungan sangat berkaitan erat dalam

mempengaruhi hasil pengamatan ini.


5.2 Saran
Untuk percobaan berikutnya mungkin bisa lebih diperlatikan dalam hal
perlakuan pada saat mengambil ikan, mungkin bisa lebih tenang pada saat mengambil
ikan agar tidak membuat ikan stress. Bisa lebih berhati-hati dalam melakukan
praktikum agar hasil bisa sesuai denga yang diharapkan. Juga menjadi cermin untuk
kita kedepannya agar bisa lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdlanov, Dikri. 2011. Hubungan antara oksigen terlarut (DO) , PH dengan


penyerapan bahan toksik oleh organisme air. Diakses melalui
http://abdilanov.blogspot.com/2011/11/hubungan-antara-oksigen-terlarut-doph.html pada tanggal 8 Oktober 2012.
Amdah, Misdar. 2011. Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Organisme. Diakses
melalui http://blognaghgeo.blogspot.com/2011/02/pengaruh-suhu-terhadapaktifitas.html pada tanggal 8 Oktober 2012.
Anonim.

2011.

Kelas

Pisces

(Cyprinus

carpio).

Diakses

melalui

http://www.scribd.com/doc/62072788/JURNAL-pisces pada tanggal 16 Oktober


2015.
Anonim.

2009.

Operculum

Ikan

Mas.

Diakses

dari

http://www.scribd.com/doc/22590155/Operculum-Ikan-Mas pada tanggal 16


Oktober 2015.
Alfiansyah. 2011. Sistem Pernapasan Ikan ( Pisces ). Diambil dari http://www.sentraedukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikan-pisces.html#.UHf4daAp3cI pada
tanggal 16 Oktober 2015.