Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam penulisan makalah ini, kami memiliki latar belakang yaitu agar kami dapat mengisih nilai ekonomi, dapat
mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan sistem pembayaran. Serta menambah wawasan bagi pembaca
makalah ini. Pada dasarnya sistem pembayaran tersebut adalah suatu cara yang disepakati untuk mentransfer
suatu nilai (value) antara pembeli dan penjual dalam suatu transaksi. Sistem pembayaran memfasilitasi
pertukaran barang dan jasa dalam suatu perekonomian.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka rumusan masalah pada penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut.
1. Bagaimanakah sistem pembayaran?
2. Bagaimanakah evolusi sistem pembayaran?
3. Bagaimanakah peran BI dalam sistem pembayaran?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini yaitu sebagai berikut.
1. Mengetahui apa itu Sistem Pembayaran
2. Mengetahui Evolusi Sistem Pembayaran
3. Mengetahui Peran BI dalam sistem pembayaran

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sistem Pembayaran
1. Pengertian Sistem Pembayaran
Pada tingkat yang paling dasar, sistem pembayaran adalah suatu cara yang disepakati untuk
mentransfer suatu nilai (value) antara pembeli dan penjual dalam suatu transaksi. Sistem pembayaran
memfasilitasi pertukaran barang dan jasa dalam suatu perekonomian.
Dalam pandangan Manuel Guitian mantan Direktur the Monetary and Exchange Affairs
Department IMF, sistem pembayaran mencakup seperangkat alat dan sarana umum yang diterima dalam
melakukan pembayaran, kerangka kelembagaan dan organisasi yang mengatur pembayaran tersebut (termasuk
peraturan prudensial), dan prosedur operasi serta jaringan komunikasi yang digunakan untuk memulai dan
mengirimkan informasi pembayaran dari pembayar kepada penerima dan menyelesaikan pembayaran.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia
dikatakan bahwa sistem pembayaran adalah suatu sistem yang mencakup seperangkap aturan, lembaga, dan
mekanisme, yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suati kewajiban yang
timbul dari suatu kegiatan ekonomi. Sementara itu menurut Bank for Internasional Settlement (BIS), sistem
pembayaran mencakup seperangkat sarana, prosedur perbankan dan sistem transfer dana antarbank yang
menjamin sirkulasi uang.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem pembayaran merupakan sistem yang berkaitan dengan
pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak ke pihak lain. Hal ini juga melibatkan berbagai lembaga, seperti
bank sentral, bank umum, bank komersial dan lembaga keuangan lainnya. Bank sentral dan bank umum atau
bank komersial menjadi penyelenggara dan penguna sistem pembayaran yang besar.
2. Komponen- komponen yang Membentuk Sistem Pembayaran
Adapun komponen-komponen yang membentuk sistem pembayaran adalah sebagai berikut.
a.
Alat pembayaran (payment instruments). Setiap transaksi pembayaran memerlukan beberapa bentuk
alat pembayaran yang memenuhi standar fisik, hukum dan peraturan. Alat pembayaran dapat dikelompokkan
atas alat pembayaran tunai dan alat pembayaran nontunai. Alat pembayaran tunai contoh sederhana dari alat

pembayaran. Alat pembayaran tunai lebih banyak memakai uang kartal (uang kertas dan logam). Sementara itu,
alat pembayaran nontunai memerlukan penggunaan satu atau lebih untuk menyelesaikan transaksi.
b. Sistem pembayaran yang memproses berbagai instrumen pembayaran (interbank fund transfer system).
Variasi cukup banyak tergantung pada alat pembayaran yang diprosesnya. Faktor penting yang memengaruhi
pengoprasian sistem transfer dana antarbank adalah penggunaan teknologi informasi. Pengolahan data
elektronik dan telekomunikasi, misalnya, telah memungkinkan pengenalan Real Time Gross Settlement System
(RTGS). RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per
transaksi dan bersifat real time.
c.
Lembaga yang memproses sistem pembayaran (payment systems operators). Di Indonesia lembaga
tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
1)
Bank Indonesia menggunakan sistem BI-RTGS dan SKNBI. Dengan BI-RTGS, Bank Indonesia
memproses setelmen transfer kredit antarbank untuk high value transfer, setelmen kliring BI, setelmen kliring
pasar modal, setelmen kliring switching company, setelmen surat berharga dan transfer dalam rangka
pengelolaan dan fiskal. Semuanya menggunakan central bank money. Sementara itu dengan SKNBI, Bank
Indonesia melakukan kliring antarbank untuk alat pembayaran cek, BG, nota debet lainnya, dan transfer kredit
antarbank.
2)
PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menggunakan Central Depository and Book Entry
Settlement System (C-BEST). Perusahaan ini menyelenggarakan kliring surat berharga pasar modal di Bursa
Efek Indonesia. Settlement kliring surat berharga ini disetel pada Sistem BI-RTGS.
3)
Switching atau penyelenggara Kliring Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK). Sistem yang
digunakan adalah Shared ATM Network, Shared Debit Network dan Shared Credit Card Network. Dengan sistem
ini mereka memproses kliring APMK dan melakukan setelmen pada bank atau lembaga lain yang ditunjuk
sebagai lembaga setelmen.
d. Saluran pembayaran (delivery channel), antara lain mencakup hal-hal berikut.
1)
Electronic Data Capturing (EDC) yang ada di merchant/took untuk membaca transaksi yang dilakukan
menggunakan alat pembayaran, seperti katu ATM, debet, kartu kredit.
2)
Teller input atau petugas teller di bank yang melakukan pengiriman dana atas dasar draft perintah
transfer yang dibuat oleh pengirim dana.
3)
Mesen ATM (Anjungan Tunai Mandiri) pengganti teller yang dapat melanjutkan instruksi pengiriman
dana.
4)
Internet, mobile banking dan phone banking.
3. Peran Sistem Pembayaran dalam Perekonomian
Adapun peran sistem pembayaran dalam perekonomian adalah sebagai berikut.
a.
Menjamin kelancaran pasar sebagai tempat di mana transaksi terjadi.
b.
Memungkinkan terjadinya spesialisasi pada produksi.
c.
Membantu menentukan seberapa efisien transaksi dilakukan dan diselesaikan.
d.
Mempengaruhi tingkat dan laju pertumbuhan ekonomi serta efisien pasar keuangan.
e.
Elemen penting dalam infrastruktur keuangan untuk mendukung terciptanya stabilitas sistem keuangan.
f.
Sebagai channel utama transmisi kebijakan moneter untuk mendukung kebijakan pengendalian
moneter yang lebih efektif dan efisien.
g.
Mendukung efisiensi dan efektivitas fungsi intermediasi lembaga keuangan.
h.
Mendorong mobilitas aliran dana secara lebih cepat melalui layanan sistem pembayaran yang lebih
beragam.
4. Risiko dalam Sistem Pembayaran dan Pengendalian
Perkembangan teknologi informasi denagn segala bentuknya memang member berbagai kemudahan,
kecepatan dan kelancaran sistem pembayaran. Di balik ini semua, ada juga ketergantungan. Misalnya
ketergantungan sistem transfer dana elektronik terhadap kehandalan infrastruktur jaringan komunikasi. Kinerja
yang kurang baik dari jaringan komunikasi dapat menimbulkan risiko operasional. Gangguan operasional juga
berpotensi memperlambat mekanisme settlement dana. Timbullah risiko likuiditas. Risiko ini terjadi karena pihak
yang berutang tidak dapat memenuhi kewajiban pada waktunya. Akibatnya, likuiditas pihak lain terpengaruh.
Pada gilirannya risiko likuiditas dapat meningkat menjadi risiko kredit. Hal yang paling ditakuti karena dapat
menggoncangkan stabilitas sistem keuangan adalah risiko sistemik.
Selain risiko-risiko ini masih banyak risiko lain yang akan dihadapi jika sistem pembayaran tidak
dikendalikan dengan baik. Hal ini menjadi tanggung jawab masing-masing penyelenggara sistem pembayaran.

Untuk itu, Bank Indonesia yang berperan sebagai operator, regulator, dan pengguna sistem pembayaran
mempunyai kewajiban sebagai berikut.
a.
Merumuskan dan menetapkan kebijakan, baik yang dituangkan dalam bentuk regulasi atau bentuk
lainnya.
b.
Memberikan izin penyelenggaraan sistem pembayaran.
c.
Konsultasi dan fasilitas pada penyelenggara sistem pembayaran.
d.
Pengawasan (oversight) terutama kepada penyelenggara sistem pembayaran untuk menilai kesesuaian
sistem yang dikelolanya dengan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia di bidang sistem pembayaran.
e.
Melakukan sosialisasi dan edukasi.
B. Evolusi Sistem Pembayaran: Dari Barter ke Sistem Pembayaran E-Commerce
Sistem pembayaran mengikuti tahapan perkembangan ekonomi. Tahapan evolusi si8stem
pembayaran dimulai dari sistem barter. Sistem ini merupakan sistem perekonomian yang paling sederhana di
kalangan masyarakat primitif. Dalam masyarakat primitif, transaksi melibatkan pertukaran fisik langsung barang
atau barter. Barter merupakan sistem pembayaran dengan komoditas barang tertentu yang merepresentasikan
suatu nilai tertentu.
Kelemahan utama barter sebagai sistem pembayaran terletak pada kenyataan bahwa
transaksi dapat terjadi karena ada dua keinginan pada waktu tertentu. Dalam transaksi ini penjual harus mau
menerima apa yang akan diserahkan oleh pembeli. Hal ini terjadi karena masyarakat primitif hanya memiliki
seperangkat barang yang terbatas yang akan ditukar dalam sistem barter. Dalam perekonomian masyarakat
primitif, masih sedikit spesialisasi tenaga kerja atau produksi.
Seiring dengan perkembangan zaman, muncullah spesialisasi tenaga kerja dalam
perekonomian. Bila ada spesialisasi tenaga kerja, perekonomian akan menjadi lebih maju. Spesialisasi membuat
produktivitas lebih besar. Akibatnya, pendapatan meningkat dan barang yang akan dikonsumsi akan lebih
banyak. Selain itu, spesialisasi mengarah pada kebutuhan akan adanya perdagangan. Dengan spesialisasi,
masing-masing anggota masyarakat tidak lagi menghasilkan semua atau sebagian besar dari kebutuhannya.
Itulah sebabnya mereka harus mencarinya melalui perdagangan. Dalam kondisi seperti ini sistem barter menjadi
lebih sulit. Perlu ada alat pertukaran yang dapat diterima secara umum sebagai pembayaran dalam transaksi,
penyimpan nilai yang aman, dan mewakili unit hitung standar. Dalam hal ini uang komoditas memfasilitasi
spesialisasi dan perdagangan. Uang komoditasi adalah barang yang diterima secara umum sebagai alat tukar.
Barang itu tetap memilikinilai meskipun tidak sedang digunakan sebagai uang. Contoh uang komoditas adalah
logam mulia, merica, tembakau, kulit hewan, dan garam.
Dengan adanya uang komoditas, perdagangan menjadi semakin luas. Tidak perlu ada dua
keinginan yang saling timbale balik sebagai dasar terjadinya transaksi. Akibatnya, uang komoditas dapat
menurunkan biaya transaksi dan memfasilitasi perdagangan, yang ada gilirannya memungkinkan spesialisasi
dan produktivitas yang lebh besar.
Meskipun demikian uang komoditas juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya antara lain
sebagai berikut.
1.
Uang komoditas tidak berlaku secara universal. Uang komoditas diterima sebagai alat tukar secara
lokal.
2.
Uang komoditas tidak memiliki nilai yang stabil. Hal ini karena nilainya berfluktuasi sesuai dengan
pasokan dan permintaan untuk komoditas tersebut.
3.
Uang komoditas tidak dapat dibagi sesuai dengan kebutuhan.
4.
Banyak jenis uang komoditas yang besar, berat, atau tidak nyaman untuk dibawa.
Dengan kelemahan uang komoditas, akhirnya, sistem pembayaran berevolusi sampai pada situasi yang kita lihat
sekarang. Uang fiat sebagian besar menggantikan uang yang terbuat dari logam mulia. Secara historis,
kebanyakan negara menggunakan standar emas. Hal ini terjadi pada periode waktu ketika nilai nominal mata
uang yang diperlukan harus didukung 100% oleh emas dengan nilai yang sama. Jumlah uang yang beredar
dalam negeri pada waktu itu selalu ditukarkan dengan emas. Jumlah uang yang beredar itu hanya bisa
berkembang jika cadangan emas semakin banyak. Sejarah mencatat bahwa penemuan emas besar-besaran di
California dan Alaska menyebabkan peningkatan besar persediaan emas di seluruh dunia yang pada gilirannya
menyebabkan periode inflasi harga di seluruh dunia. Saat ini, sebagian besar mata uang dalam negeri tidak
didukung oleh emas. Stok mata uang ditentukan oleh negara sendiri.

Uang fiat adalah uang kertas yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai alat pembayaran yang sah. Uang fiat
melibatkan pengaturan secara hukum dan negara dapat mengubahnya sesuai dengan keinginannya. Uang fiat
diterima secara luas, karena dinyatakan oleh pemerintah/berdasarkan undang-undang sebagai alat pembayaran
yang sah dan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah utang piutang.
Kelemahan utama uang kertas dan uang logam antara lain adalah mudah dicuri dan cukup berat untuk dibawa
dalam jumlah besar. Untuk mengatasi masalah ini, digunakanlah cek dalam sistem pembayaran.
Cek adalah perintah dari seseorang ke bank tempat dia memiliki rekening untuk mengirimkan uang dari
rekeningnya ke rekening orang lain ketika orang tersebut meyetorkan cek yang diterimanya. Dengan adanya
cek, transaksi ekonomi dapat terjadi tanpa ada sejumlah besar uang. Dengan ini sistem pembayaran pun
semakin efisien. Kelebihan cek dibanding dengan alat tukar sebelumnya antara lain sebagai berikut.
1.
Dengan cek, pembayayaran yang saling membatalkan dapat diselesaikan dengan pembatalan cek
tanpa perpindahan uang secara fisik.
2.
Pembayaran transaksi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan mudah.
3.
Cek memberikan bukti pembelian dengan nyaman.
Meskipun demikian. Kita juga menghadapi kesulitan dalam menggunakan cek. Pertama, kita tidak dapat
melakukan pembayaran yang cepat dengan orang yang di lokasi yang berbeda. Selain itu, biaya administrasinya
juga mahal. Kesulitan-kesulitan ini mulai teratasi dengan perkembangan teknologi komunikasi. Internet telah
mempermudah kita untuk melakukan transaksi pembayaran. Teknologi pembayaran secara elektronik tidak
hanya menggantikan cek tetapi juga tunai dengan e-money. Bentuk pertama e-money adalah kartu debit. Kartu
debit memungkinkan konsumen membeli barang dan jasa secara langsung dengan memindahkan dana secara
elektronik dari rekening pribadinya ke rekening penjualnya.
Pembayaran secara elektronik semakin berkembang seiring dengan perkembangan e-commerce. Contoh sistem
pembayaran elektronik untuk e-commerce dapat dilihat pada peraga berikut.
Sistem Pembayaran
Keterangan
Contoh
Sistem pembayaran kartu kredit digital (Digital credit card payment system)
Pelayanan yang aman untuk
pembayaran kartu kredit melalui internet. Tujuannya agarinformasi yangditransmisikan antara pengguna, penjual,
dan bank terlindungi.
e-Charge
Dompet digital (digital wallet)
Piranti lunak untuk menyimpan informasi kartu kredit dan informasi lainnya
yang digunakan dalam pengisian formulir dan pembayaran barang melalui jaringan internet.
MSN Wallet
MasterPass Wallet
Sistem pembayaran digital dengan saldo terakumulasi (accumulated balance digital payment system)
Mengakumulasi pembelian micropayment sebagai saldo utang yang harus dibayar secara berkala pada
kartu kredit dan tagihan telpon. Micropayment adalah sistem pembayaran untuk pembelian barang yang nilainya
sangat kecil, seperti mengunduh sebuah artikel atau klip music dari situs internet.Qpass, Valista. Peppercoin
Sistem pembayaran nilai tersimpan (stored value payment system)
Memungkinkan konsumen melakukan
pembayaran langsung kepada penjual berdasarkan nilai yang tersimpan dalam rekening digital.
eCount
Mondex Card
Uang tunai digital (e-cash) Mata uang digital yang dapat digunakan untuk pembayaran
ClearBit
Sistem pembayaran rekan ke rekan (peer-to-peer payment system) berbasis Web
Mengirimkan
uang
menggunakan Web ke seseorang atau penjual yang tidak memiliki sarana untuk menerima pembayaran kartu
kredit. PayPal
Cek digital (digital checking)
Cek elektronik dengan tanda tangan digital untuk pengamanan E-Check
Sistem pembayaran dan penyampaian tagihan elektronik
Mendukung
pembayaran
elektronik
untuk
pembelian barang secara online maupun secara fisik untuk produk dan layanan setelah pembeliannya dilakukan.
CheckFree, Yahoo!Bill Pay
C. Peran Bank Indonesia dalam Sistem Pembayaran
1. Peran Bank Indonesia
Tujuan bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut,
diperlukan pengaturan dan pengelolaan kelancaran sistem pembayaran nasional (SPN). Kelanacaran SPN juga
perlu didukung oleh infrastruktur yang andal. Semakin lancar dan andal SPN, semakin lancar pula transmisi
kebijakan moneternya. Kelancaran kebijakan moneter tersebut pada akhirnya akan bermuara pada stabilitas nilai
tukar.

Bank Indonesia adalah lembaga yang mengatur dan menjaga kelancaran SPN. Sebagai otoritas
moneter, bank sentral berhak menetapkan dan memberlakukan kebijakan SPN. Selain itu, Bank Indonesia juga
memiliki wewenang memberikan persetujuan dan perizinan serta melakukan pengawasan atas SPN.
Selain itu, masih ada tugas Bank Indonesia dalam SPN, misalnya, peran sebagai penyelenggara sistem
kliring antarbank untuk jenis alat-alat pembayaran tertentu. Bank sentral adalah satu-satunya lembaga yang
berhak mengeluarkan dan mengedarkan alat pembayaran tunai seperti uang rupiah. BI juga berhak mencabut,
menarik, hingga memusnahkan uang rupiah yang sudah tak berlaku dari peredaran.
Dalam hal alat pembayaran tunai, Bank Indonesia adalah satu-satunya lembaga yang berwenang
mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah, serta mencabut, menarik, dan memusnahkan uang dari
peredaran. Terkait dengan peran tersebut, Bank Indonesia senantiasa berupaya untuk memenuhi kebutuhan
uang kartal di masyarakat baik dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam
kondisiyang layak edar (clean money policy).
Sebelum mengeluarkan uang rupiah, dilakukan perencanaan terlebih dahulu agar uang yang
dikeluarkan memiliki kualitas yang baik. Perencanaan yang dilakukan Bank Indonesia meliputi perencanaan
pengeluaran emisi baru dengan mempertimbangkan tingkat pemalsuan, nilai intrinsik, serta masa edar uang.
Selain itu, dilakukan pula perencanaan terhadap jumlah serta komposisi pecahan uang yang akan dicetak
selama satu tahun ke depan. Berdasarkan perencanaan tersebut, kemudian dilakukan pengadaan uang baik
untuk uang emisi baru maupun pencetakan rutin terhadap uang emisi lama yang telah dikeluarkan.
Uang rupiah yang telah dikeluarkan kemudian diedarkan ke seluruh wilayah melalui kantor Bank
Indonesia. Kegiatan pengedaran uang juga dilakukan melalui pelayanan kas kepada bank umum maupun
masyarakat umum. Layanan kas kepada bank umum dilakukan melalui penerimaan setoran dan pembayaran
uang rupiah. Sementara itu, kepada masyarakat dilakukan melalui penukaran secara langsung melalui loketloket penukaran di seluruh kantor Bank Indonesia atau melalui kerjasama dengan perusahaan yang
menyediakan jasa penukaran uang kecil.
Setelah mengeluarkan uang rupiah, kegiatan pengelolaan yang dilakukan Bank Indonesia adalah
pencabutan uang terhadap pecahan dengan tahun emisi tertentu yang tidak lagi berlaku sebagai alat
pembayaran yang sah. Pencabutan ini dimaksudkan untuk mencegah dan meminimalisasi peredaran uang palsu
serta menyederhanakan komposisi dan emisi pecahan. Uang rupiah yang dicabut dapat ditarik dengan cara
menukarkan ke Bank Indonesia atau pihak lain yang ditunjuk oleh Bank Indonesia.
Sementara itu, untuk menjaga kualitas uang rupiah dalam kondisi yang layak edar di masyarakat, Bank
Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan uang. Uang yang dimusnahkan adalah uang yang sudah dicabut
dan ditarik dari peredaran, uang hasil cetakan yang kurang sempurna, dan uang yang sudah tidak layak edar.
2. Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Nontunai
Alat pembayaran nontunai sudah berkembang dan lazim digunakan masyarakat. Hal ini menunjukkan
bahwa jasa pembayaran nontunai yang dilakukan bank maupun lembaga keuangan bukan bank, baik dalam
proses pengiriman dana, penyelenggara kliring, maupun sistem penyelesaian akhir (settlement) sudah tersedia
dan dapat berlangsung di Indonesia.
Transaksi pembayaran nontunai dengan nilai yang besar diselenggarakan Bank Indonesia melalui
sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) dan sistem kliring.
Hampir 95% transaksi keuangan nasional bernilai besar dan bersifat mendesak. Contohnya, transaksi
di Pasar Uang AntarBank (PUAB), transaksi di bursa saham, transaksi pemerintah, transaksi valuta asing, serta
settlement hasil kliring dilakukan melalui sistem BI-RTGS. Pada tahun 2010, misalnya, BI-RTGS telah melakukan
transaksi sedikitnya Rp174,3 triliun per hari. Sementara itu, sebagai perbandingan, transaksi nontunai dengan
Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan uang elektronik yang dilakukan bank atau lembaga
keuangan bukan bank hanya sekitar Rp8,8 triliun per hari.
Mengingat pentingnya peran BI-RTGS dalam sistem pembayaran nasional, maka kontinuitas dan
stabilitasnya harus dijaga. Jika sesaat saja sistem BI-RTGS mengalami gangguan, maka akan sangat
mengganggu kelancaran dan stabilitas sistem keuangan. Oleh karena itu, Bank Indonesia sangat peduli dalam
menjaga stabilitas BI-RTGS yang dikategorikan sebagai Systemically Important Payment System (SIPS). SIPS
adalah sistem yang memproses transaksi pembayaran bernilai besar dan bersifat mendesak. Selain SIPS,
dikenal pula System Wide Important Payment System (SWIPS), yaitu sistem yang digunakan oleh masyarakat
luas. Sistem Kliring dan APMK termasuk dalm kategori SWIPS ini. Bank Indonesia juga peduli dengan SWIPS
karena sistem ini digunakan secara luas oleh masyarakat. Jika terjadi gangguan, maka kepentingan masyarakat
dalam melakukan pembayaran akan terganggu.

Bank Indonesia tidak hanya peduli pada terciptanya efisiensi dalam sistem pembayaran, tapi juga
kesetaraan akses dan perlindungan konsumen. Terciptanya efisiensi sistem pembayaran berarti member
kemudahan bagi pengguna untuk memilih metode pembayaran yang dapat diakses di seluruh wilayah dengan
biaya serendah mungkin. Kesetaraan akses berarti Bank Indonesia memperhatikan penerapan asas kesetaraan
dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Sementara itu, aspek perlindungan konsumen dimaksudkan Bank
Indonesia mewajibkan penyelenggara sistem pembayaran nontunai untuk mengadopsi asas-asas perlindungan
konsumen secara wajar dalam penyelenggaraan sistemnya.

BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada tingkat yang paling dasar, sistem pembayaran adalah suatu cara yang disepakati untuk mentransfer suatu
nilai (value) antara pembeli dan penjual dalam suatu transaksi. Sistem pembayaran memfasilitasi pertukaran
barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Dalam mentransfer pasti memiliki kendala-kendala, maupun risikorisikonya.
B.
Saran
Dalam melakukan sistem pembayaran apalagi dala mentransfer uang hendaklah berhati-hati, karena terdapat
banyak kendala atau risiko yang terjadi pada sistem pembayaran.

DAFTAR PUSTAKA
S. Alam. 2013. Ekonomi Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: ESIS.