Anda di halaman 1dari 24

Abstrak

Revolusi adalah perubahan secara cepat. Revolusi Hijau adalah suatu


perubahan cara bercocok tanam, dari cara bercocok tanam, dari cara tradisionl ke
cara modern. Revolusi hijau ditandai dengan makin berkurangnya ketergantungan
petani pada cuaca dan alam, digantikan dengan peran ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam upaya meningkatkan produksi pangan. Pengertian revolusi hijau
sering disebut Revolusi Agraria meliputi bidang pertanian, perkebunan,
peternakan, dan kehutanan.
Kegiatan budidaya tanaman, panen, penanganan pascapanen dan
pengolahan petanaman merupakan tahapan yang penting dalam pencapaian
peningkatan produksi pertanian. Seluruh tahapan ini akan mempengaruhi kualitas
dan kuantitas produk. Untuk itu diperlukan budidaya pertanian yang baik atau
Good Agricultural Practices (GAP), penanganan pascapanen yang baik atau
Good Handling Practices (GHP) dan pengolahan hasil yang baik atau Good
Manufacturing Practices (GMP).
Dalam rangka mencapai target produksi, diperlukan sumber daya manusia
pertanian khususnya Penyuluh Pertanian dan Bintara Pembina Desa khususnya
Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang kompeten melalui pendidikan dan
pelatihan. Agar penyelenggaraan diklat sistematis dan terarah maka diperlukan
petunjuk pelaksanaan diklat bagi Penyuluh Pertanian dan Bintara Pembina Desa.

Kata kunci : Revolusi hijau, GAP, GHP, GMP

Page | 1

I. Pendahuluan
1.1

Latar Belakang
Peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional sangat penting dan

strategis. Hal ini terutama karena sektor pertanian masih memberikan lapangan
pekerjaan bagi sebagian besar penduduk yang ada di pedesaan dan menyediakan
bahan pangan bagi penduduk. Peranan lain dari sektor pertanian adalah
menyediakan bahan mentah bagi industri dan menghasilkan devisa negara melalui
ekspor non migas. Bahkan sektor pertanian mampu menjadi katup pengaman
perekonomian nasional dalam menghadapi krisis ekonomi yang melanda
Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir ini.
Perhatian terhadap masalah pertanian, khususnya pangan, telah lama
mendapat perhatian para ahli. Perhatian tersebut tampak sangat menonjol ketika
muncul karya R. T. Malthus pada akhir abad ke 18 (Nurul HA. 2009). Malthus
melihat pangan sebagai pengekang hakiki dari perkembangan penduduk di
samping pengekang-pengekang lainnya yang berbentuk pengekang segera.
Menurutnya, apabila tidak ada pengekang maka perkembangan penduduk akan
berlangsung jauh lebih cepat daripada perkembangan produksi pangan (subsisten).
Hal ini karena perkembangan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan
perkembangan pangan mengikuti deret hitung.
Pemenuhan pangan merupakan kebutuhan primer manusia. Seiring dengan
pertumbuhan populasi penduduk, kebutuhan manusia akan pangan juga
meningkat dimana kebutuhan sumber daya seperti tanah, air, tanaman dan hewan
meningkat pula. Sementara itu jumlah modal sumber daya alam dan kondisi
biologi di dunia adalah tetap (Hasnelly. 2011).
Rendahnya produktifitas hasil pertanian menjadi salah satu kendala
tercapainya ketahanan pangan. Belum lagi tingginya alih fungsi lahan pertanian
serta masih banyaknya petani yang kehilangan hasil pertanian saat melakukan
panen (Saragih SE. 2008). Tidak dipungkiri bahwa sebagian besar pertanian di
Indonesia masih bergantung pada input eksternal sebagai konsekuensi revolusi
hijau yang dicetuskan pada tahun 1960-an sebagai upaya menaikkan produksi
pangan.

Page | 2

Makalah ini akan membahas secara lebih jelas mengenai beberapa teknik
budidaya yang di gunakan serta prinsip-prinsip dalam peningkatan produktivitas
tanaman yang berkelanjutan dengan adanya Revolusi Hijau yang dicanangkan
oleh Pemerintah.

II. Pembahasan

2.1

Revolusi Hijau

Page | 3

Revolusi
pertaniangelombang
pertama (tradisional)
sebelum tahun 1960-an

Revolsi pertanian
gelombang kedua
(Revolusi Hijau)
tahun 1960-2000an

Revolusi pertanian
gelombang ketiga
(pertanian
berkelanjutan) tahun
2000 - sekarang

Bersahabat dengan alam

- Pupuk kimia

Produktivitas rendah

- Pestisida kimia

berkelanjutan

- Varietas unggul

- Integrasi dengan

- Monokultur

- Sistem pertanian

ekosistem

Gambar 1. Revolusi Pertanian di Indonesia


(Tata, Indra. 2000)

Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.1, menurut Tata dan Indra


(2000) sejarah pertanian di Indonesia mengalami tiga periode revolusi. Revolusi
pertanian gelombang pertama identik dengan paktek-praktek pertanian yang
masih tradisional dan alami. Kelemahan pertanian tradisional ini adalah
rendahnya produktivitas.

Page | 4

Menurut Sadon, D (1999) dalam Pranadji dan Saptana (2005) di era 19501960an negara-negara Asia, termasuk Indonesia mengalami krisis pangan yang
gawat. Saat itu upaya mengatasi masalah kekurangan pangan dan kemiskinan
merupakan hal yang mendesak dan dijadikan prioritas utama program pemerintah.
Upaya mengatasi krisis pangan dilakukan dengan program Padi Sentra, yang
merupakan awal revolusi hijau (green revolution) di Indonesia atau disebut
revolusi pertanian gelombang kedua (Pranadji dan Saptana, 2005). Saat itu,
pemerintah mengkomando penanaman padi, pemaksaan pemakaian bibit impor,
pupuk kimia, pestisida, dan lain-lainnya, hingga pada tahun 1984-1989 Indonesia
berhasil swasembada pangan. Namun pada dekade 1990-an, petani mulai
kelimpungan menghadapi serangan hama, kesuburan tanah yang merosot,
ketergantungan pemakaian pupuk yang semakin meningkat dan pestisida tidak
manjur lagi, serta harga gabah dikontrol pemerintah.
Istilah Revolusi Hijau sebenarnya muncul sejak Norman Borlaugh
mendapat julukan Bapak Revolusi Hijau pada tahun 1944, atas keberhasilannya
meningkatkan pangan di Meksiko. Sejak itu bisnis teknologi pertanian menjadi
marak dan mendunia. Program ini mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1960an, yaitu pada masa kepemimpinan Soeharto. Tujuan utama revolusi hijau adalah
untuk menaikkan produktifitas sektor pertanian, khususnya sub-sektor pertanian
pangan, melalui paket teknologi pertanian modern. Paket tersebut terdiri atas
pupuk non-organik, obat-obatan pelindung tanaman, dan bibit padi unggul.
Melalui program ini, pada tahun 1984, Indonesia berhasil menjadi negara
swasembada pangan terbesar. Dalam waktu yang cukup lama yaitu sekitar 20
tahun, program revolusi hijau juga telah berhasil mengubah kebiasaan dan sikap
para petani Indonesia yang awalnya memakai sistem bertani secara tradisional
menjadi sistem bertani yang modern dimana para petani mulai menggunakan
teknologi-teknologi pertanian yang ditawarkan oleh program revolusi hijau.
Sebenarnya revolusi hijau tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam
kesejahteraan petani, khususnya petani kecil. Keuntungan yang didapat dari
meningkatnya produksi padi sehingga pernah berhasil membawa Indonesia
menjadi negara swasembada beras terbesar, tidak ikut dirasakan oleh petani.
Pengaruh yang dirasakan oleh petani akan adanya revolusi hijau hanya berupa
Page | 5

perubahan kebiasaan petani dalam melakukan kegiatan pertanian. Perubahan itu


berupa kegiatan pertanian yang pada awalnya mengandalkan sumber daya alam
dan manusia yang ada berubah menjadi kegiatan mekanisasi pertanian dan
mengandalkan produk-produk kimia (Slamet, M. 1995)
Koreksi terhadap revolusi hijau mulai mengemuka pada Science Academic
Summit pada tahun 1996 di Madras, India, dengan istilah Evergreen Revolution
(Revolusi Hijau Lestari, RHL), dan pada World Food Summit tahun 1996 di FAO,
Roma, dengan istilah New Green Revolution atau New Generation of Green
Revolution. Strategi utama dari koreksi tersebut adalah untuk memacu kembali
laju kenaikan produksi pangan tanpa merusak lingkungan dan dengan
menggunakan teknologi yang padat IPTEK dengan sebutan greener food
production growth (Soetrisno, Loekman. 2002)
Menurut Slamet (2001), Di Indonesia, konsep awal Revolusi Hijau Lestari
atau Revolusi Hijau Generasi Kedua makin diperjelas dan dijabarkan melalui
beberapa diskusi pada forum Pekan Padi Nasional Pertama (PPN I) pada tahun
2002 dan menjelang PPN II pada tahun 2004 di Sukamandi, Jawa Barat. Diskusi
bertitik tolak pada evaluasi
30 tahun pelaksanaan intensifikasi padi sejak 1969 yang pada umumnya bertumpu
pada pendekatan atau teknologi Revolusi Hijau dengan segala kelebihan dan
kekurangannya.
Revolusi Hijau Lestari di Indonesia diarahkan kepada:
a. Tanpa mengurangi harapan dan tumpuan pada lahan sawah irigasi, namun
perhatian harus lebih besar kepada daerah suboptimal tertinggal atau
unvapourable rice environment berupa lahan sawah tadah hujan, lahan
rawa, dan lahan kering.
b. Diversifikasi usaha tani

berbasis

padi

dengan

memperhatikan

keanekaragaman potensi sumber daya pertanian (lahan/tanah, air iklim),


kearifan lokal, dan teknologi indigenous (pupuk/bahan organik, dll).
c. Pembangunan pertanian berkelanjutan yang mampu memenuhi permintaan
dengan memanfaatkan IPTEK tinggi yang adaptif dan ramah lingkungan,
berupa inovasi teknologi VUB, komponen teknologi pengelolaan LATO
(lahan, air, tanah dan OPT), dan Sistem Farming dengan perhatian yang
lebih besar terhadap upaya peningkatan pendapatan petani.

Page | 6

d. Program intensifikasi harus memberikan perhatian yang lebih besar


terhadap masalah gizi atau kesehatan, air bersih, lingkungan, dan
pembangunan pedesaan.
e. Hambatan laju peningkatan produksi dan kesejahteraan petani tidak hanya
diatasi dengan inovasi teknologi, tetapi juga rekayasa kelembagaan,
termasuk penyuluhan dan pelatihan serta reforma agraria.
Hingga 20 tahun ke depan diperkirakan lahan sawah masih menjadi tulang
punggung ketahanan pangan, khusus dalam pengadaan beras nasional. Tanaman
padi yang mempunyai aerenkhima bisa hidup dalam keadaan tergenang seperti
pada lahan sawah. Di sisi lain, lahan sawah irigasi dimungkinkan untuk penerapan
teknologi intensif dengan kenaikan hasil yang signifikan, sehingga produktivitas
tanaman dapat mendekati potensi genetiknya. Karena itu tidak mengherankan jika
hingga saat ini perhatian, penelitian, dan pengembangan padi, pembangunan
infrastruktur, dan penyediaan kredit bagi petani lebih banyak dicurahkan pada
ekosistem lahan sawah (Tjitropranoto, P. 2003).
2.2

Teknik budidaya tanaman (Kelestaian lingkungan)


Revolusi hijau bertumpu pada penyediaan air melalui sistem irigasi,

pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat
serangan organisme pengganggu, penggunaan varietas unggul berdaya hasil
tinggi, monokultur padi ganda untuk meningkatkan hasil panen tahunan, dan
berbagai bentuk dukungan sektor publik sebagai perangsang petani (kredit lunak,
subsidi besar, dukungan harga, penyediaan prasarana mahal) (Uphoff, N. 1988).
Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil
tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam
setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak
mungkin terjadi, tetapi tanpa disadari, hal ini justru menurunkan kesuburan tanah
dan membuat hama menjadi resisten terhadap pestisida kimia tersebut. Bahkan,
Soet (1974) menyampaikan dalam laporan WHO lebih dari satu juta ton bahan
kimia untuk pertanian digunakan di seluruh dunia yang mengakibatkan lebih dari
setengah juta manusia keracunan, dan 50.000 diantaranya meninggal dunia.
Page | 7

Di samping itu, tumbuh pula kekhawatiran tentang pengaruh bahan kimia


yang digunakan dalam kegiatan usahatani pada keamanan dan kualitas pangan
(food safety and quality), kesehatan manusia dan hewan, serta kualitas
lingkungan. Revolusi hijau bahkan telah mengubah secara drastis hakekat petani.
Dalam sejarah peradaban manusia, petani bekerja mengembangkan budaya tanam
dengan memanfaatkan potensi alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Petani

merupakan

komunitas

mandiri,

tetapi

dengan

pertanian

konvensional, petani justru tidak mandiri. Petani menjadi tergantung terhadap


ketersediaan pupuk kimia, pestisida dan benih serta sarana pertanian lain. Karena
adanya kekhawatiran inilah maka tumbuh dan berkembang individu-individu dan
kelompok-kelompok

organisasi

yang

menyuarakan

gerakan

untuk

mempraktekkan usahatani alami (natural farming method) yang akrab lingkungan


dengan berbagai istilah seperti organic, biological, natural, ecological,
biodynamic, atau alternative, yang bersandar pada prinsip pertanian
berkelanjutan (Departemen Pertanian, 2007). Pertanian berkelanjutan (sustainable
agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan
(sustainable development) pada sektor pertanian (Suryana, 2005). Sustainable
development merupakan konsep yang memastikan terpenuhinya kebutuhan saat
ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi
kebutuhan mereka (Wijandi, S. 1996).
Purnama, et al (2004) menyatakan bahwa dalam implementasinya di
Thailand, sustainable agriculture memiliki banyak metode yaitu sistem pertanian
terpadu (integrated farming system), pertanian organik (organic farming),
pertanian alami (natural farming), pertanian teori baru (new theory farming) dan
Agroforestry. Hingga saat ini belum diketahui metode sustainable agriculture yang
paling dominan dilaksanakan di Indonesia, tetapi salah satu yang paling populer
adalah metode pertanian organik. Berdasarkan Trubus (2000) dalam Tambunan
(2006) di Indonesia sendiri, gaung pertanian organik sudah berkembang

Page | 8

Menurut Rusli (1989), pertanian organik adalah sistem manajemen


produksi holistik yang meningkatkan kesehatan agroekosistem termasuk
keanekaragaman, siklus hidup biologi, dan aktivitas biologi tanah. Pertanian
organik memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling bergantung
dan menghidupi, dan manusia adalah bagian di dalamnya. Prinsip ekologi dalam
pertanian organik didasarkan pada hubungan antara organisme dengan alam
sekitarnya dan antarorganisme itu sendiri secara seimbang. Pola hubungan antara
organisme dan alamnya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan,
sekaligus sebagai pedoman atau hukum dasar dalam pengelolaan alam, termasuk
pertanian. Di Indonesia, pengakuan akan pentingnya pengembangan pertanian
organik telah dituangkan dalam Revitalisasi Pembangunan Pertanian yang
dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada bulan Agustus 2005.
Pemerintah melalui Departemen Pertanian mencanangkan program pertanian
organik dengan slogan Go Organic 2010. Pertanian organik dirancang
pengembangannya dalam enam tahapan mulai dari tahun 2001 hingga tahun 2010.
2.3

Prinsip GAP, GHP, GPP dan GMP dalam peningkatan produktivias


tanaman

2.3.1

GAP (Good Agricultural Practices)


Menurut Silva, S.D. (2006) Good Agricultural Practices (GAP), mencakup

penerapan teknologi yang ramah lingkungan, penjagaan kesehatan dan


peningkatan kesejahteraan pekerja, pencegahan penularan Organisme Pengganggu
Tanaman (OPT), dan prinsip traceability (dapat ditelusuri asal-usulnya dari pasar
sampai kebun). Di bidang pertanian praktek GAP lebih diarahkan pada budidaya
tanaman hortikultura baik tanaman buah-buahan, sayuran maupun tanaman
biofarmaka. Kita ketahui ketiga komoditas inilah yang menjadi andalan Indonesia
untuk

ekspor

yang

menghasilkan

devisa

bagi

negara.

Melalui penerapan GAP terdapat empat hal yang akan dicapai yaitu keamanan
pangan, kesejahteraan pekerja (petani), kelestarian lingkungan, dan hasil pertanian
yang diketahui asal usulnya.

Page | 9

Praktek Pertanian yang Baik tersebut menerapkan urutan langkah-langkah


baku dalam budidaya tanaman sejak dari pengolahan tanah, pemilihan benih,
penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengairan, pengendalian OPT, panen, dan
penanganan pasca panen. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dengan
mengacu pada teknologi yang direkomendasikan dengan memperhatikan
ketentuan wajib dan ketentuan-ketentuan yang sangat direkomendasikan. Menurut
SK Mentan No. 48 Tahun 2010 terdapat 14 ketentuan wajib dalam GAP yaitu :
1. Lahan bebas dari cemaran limbah bahan berbahaya dan beracun.
2. Kemiringan lahan <30% untuk komoditas sayur dan buah semusim.
3. Media tanam tidak mengandung cemaran bahan berbahaya dan beracun
(B3).
4. Tindakan konservasi dilakukan pada lahan miring.
5. Kotoran manusia tidak digunakan sebagai pupuk.
6. Pupuk disimpan terpisah dari produk pertanian.
7. Pelaku usaha mampu menunjukkan pengetahuan dan keterampilan
mengaplikasikan pestisida.
8. Pestisida yang digunakan tidak kadaluwarsa.
9. Pestisida disimpan terpisah dari produk pertanian.
10. Air yang digunakan untuk irigasi tidak mengandung limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3).
11. Wadah hasil panen yang akan digunakan dalam keadaan baik, bersih dan
tidak terkontaminasi.
12. Pencucian hasil panen menggunakan air bersih.

Page | 10

13. Kemasan diberi label yang menjelaskan identitas produk.


14. Tempat/areal pengemasan terpisah dari tempat penyimpanan pupuk dan
pestisida.
Tujuan GAP
Adapun secara umum tujuan dari penerapan GAP dalam kegiatan
budidaya tanaman adalah untuk:
1. Meningkatkan produksi dan produktivitas,
2. Meningkatkan mutu hasil termasuk keamanan konsumsi,
3. Meningkatkan efisiensi produksi,
4. Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam,
5. Mempertahankan kesuburan lahan, kelestarian lingkungan dan sistem
produksi yang berkelanjutan,
6. Mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang
bertanggung
7. Meningkatkan daya saing dan peluang penerimaan produk oleh pasar
(pasar ekspor dan domestik).
Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya tanaman merupakan
upaya untuk menjawab tantangan persaingan perdagangan global yang terjadi saat
ini. Pencapaian produk pertanian yang berkualitas tinggi yang ditandai dengan
ciri-ciri aman untuk dikonsumsi, mutu fisik dan khemis yang baik, bersifat
melestarikan lingkungan telah menjadi tuntutan bagi setiap pelaku agribisnis.
Kualitas hasil yang tinggi untuk produk-produk pertanian Indonesia telah menjadi
keharusan agar produk-produk tersebut memiliki daya saing dengan produk
impor. Penerapan GAP dan SOP di tingkat lapangan masih harus diupayakan oleh

Page | 11

petani melalui penyuluhan, demfar dan demplot serta dibukanya kesempatankesempatan ekspor dengan bekerjasama dengan pengusaha agribisnis.
2.3.2

GHP (Good Handling Practices)


Penanganan Pascapanen yang baik (Good Handling Practices) yang

selanjutnya disebut GHP adalah adalah suatu pedoman yang menjelaskan cara
penanganan pascapanen hasil pertanian yang baik agar menghasilkan pangan
bermutu, aman dan layak dikonsumsi. GHP merupakan prosedur sanitasi untuk
distribusi buah dan sayuran dari ladang hingga ke meja makan.
Dalam penanganan pasca panen , salah satu permasalahan yang sering
dihadapi adalah masih kurangnya kesadaran dan pemahaman petani terhadap
penanganan pasca panen yang baik sehingga mengakibatkan masih tingginya
kehilangan hasil dan rendahnya mutu . Untuk mengatasi masalah ini maka perlu
dilakukan penanganan pasca panen yang didasarkan pada prinsip-prinsip Good
Handling Practices (GHP) agar dapat menekan kehilangan hasil dan
mempertahankan mutu hasi.
Dalam usaha-usaha di bidang pertanian atau secara tegas dalam usaha
budidaya tanaman pangan dan tanaman perdagangan, kegiatan penanganan atau
pengelolaan tanaman, penting sekali untuk diperhatikan sejak penyiapan lahan
pertanamannya sampai kepada penyimpanan hasil tanamannya. Yang dimaksud
dengan kegiatan penanganan atau pengelolaan tanaman di sini adalah kegiatan
penanganan atau pengelolaan secara benar mengikuti ketentuan-ketentuan yang
telah dianjurkan.
Tujuan utama dari kegiatan penanganan atau pengelolaan tanaman yaitu
agar dapat diperoleh hasil tanaman yang baik, dalam arti memenuhi harapan atau
memuaskan petani penanamnya, memuaskan pemenuhan kebutuhan umum atau
pasar. Berikut gabaran lingkup penanganan pasca panen hasil tanaman :
1. Penanganan atau Pengelolaan Sebelum Panen :
(1) Mempersiapkan dan pengolahan lahan
(2) Pemilihan dan penggunaan benih atau bibit bersertifikat
(3) Pemeliharaan tanaman
(4) Pengaturan pemberian air

Page | 12

(5) Pemupukan
2. Penanganan atau Pengelolaan Menjelang Panen Penanganan atau pengelolaan
menjelang panen yaitu perawatan khusus terhadap tanaman yang sedang
tumbuh subur atau sehat, antara lain pengurangan banyaknya bunga,
pemangkasan ranting, tunas dan daun-daun, peliukan ranting dan sebagainya.
3. Penanganan atau Pengelolaan Saat Panen
(1) Tidak banyak hasil terbuang
(2) Tidak banyak hasil rusak
(3) Tidak banyak buah / hasil yang masih muda yang terambil (terpetik).
4. Penanganan atau Pengelolaan Lepas Panen Kegiatan yang diperlukan kehatihatian setelah lepas panen, antara lain pengeringan, penyortiran, prosesing,
pengepakan dan penyimpanan. Pasca panen adalah suatu tahapan kegiatan yang
dimulai sejak pengumpulan hasil pertanian sampai siap untuk dipasarkan. Baik
dalam keadaan surplus maupun tidak surplus, produk agronomi khususnya
produk tanaman holtikultura, masalah pasca panen selalau timbul meskipun
dalam keadaan yang berbeda-beda. Masalah tersebut menjadi semakin gawat
pada daerah yang memiliki iklim tropis yang lembab seperti di Indonesia
(Tjiptono, Fandy. 2003).

2.3.3

GPP (Good Production Practice)


GPP (Good Production Practice) harus diperhatikan oleh setiap

perusahaan demi kemanan produk. Upaya untuk menjamin keamanan tidak


pernah berhenti pada saat hasil pertanaman baru berbuah maupun setelah dipanen.
Faktanya, penelitian menunjukan bahwa proses pengemasan yang merupakan
salah satu rantai dari ladang ke meja makan pada produk segar mempunyai resiko
tertinggi untuk kontaminasi. GHPs merupakan prosedur sanitasi untuk distribusi
buah dan sayuran dari ladang hingga ke meja makan. Penerapan GHPs dapat
membantu mengurangi resiko kontaminasi terhadap produk segar selama
penanganan, pengemasan, penyimpanan dan transportasi.

Page | 13

Pemanenan dan penanganan.


Pemanenan yang optimal untuk anggur tergantung pada tanaman, kondisi
alam pada saat musim tanam, dan untuk apa buah yang akan dipanen. Waktu
pemanenan

dapat

bervariasi

dari

tahun

ke

tahun

tergantung

kondisi

lingkungannya. Parameter pemanenan hasi pertanaman diantaranya adalah warna,


rasa, aroma, serta rasio kadar gula dan keasaman dimana rasionya 15:1 atau lebih.
Hasil pertanaman yang dijual segar biasanya dipanen dengan menggunakan
tangan, diikat kemudian diletakan dalam wadah. Sedangkan hasil panen untuk
diolah biasanya dipanen menggunakan mesin.
Kontaminasi terhadap produk segar termasuk dapat dipengaruhi selama
pemanenan. Sumber kontaminan pada tahap ini diantaranya kontak dengan
pekerja, kontamianan dengan lingkungan seperti tanah, air dan udara serta tidak
bersihya peralatan. Peralatan pemanenan seperti mesin, pisau, wadah, keranjang,
ember, dapat dibersihkan dan disanitasi sebelum digunakan. Wadah dan bahan
pengemasan dapat ditangani dengan hati-hati agar selalu bersih dan dan bebas
kotoran dan kontaminan (Winarno, F.G.2002).
Mencuci produk
Mencuci dan pemberian sanitizer terhadap buah maupun sayuran
merupakan metode untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi. Bagaimanapun,
beberapa komoditi yang banyak mengandung air seperti strawberry, beri beri
lainnya, dan anggur, apabila dicuci sebelum penyimpanan secara nyata
mengurangi umur simpan. Untuk produk produk ini, udara adalah metode terbaik
untuk membersihkan debu dan kotoran. Untuk komoditi ini, pencegahan
kontaminasi adalah cara terbaik untuk mengontrol mikroba.
Buah dan sayuran yang mempunyai struktur yang dapat mentolerasi air
sehingga harus dicuci untuk mengurangi mikroorganisme pada produk dan
menurunkan resiko penyakit yang disebabkan oleh makanan yang berkaitan
dengan produk tersebut. Mengurangi jumlah organism juga membantu
mengurangi pembusukan, memperbaiki penampilan dan meningkatkan nilai
nutrisi. Air yang digunakan untuk mencuci harus air yang bebas dari mikroba
yang dapat menyebabkan penyakit. Pencucian untuk membersihkan permukaan
yang kotor dapat dilakukan dengan air murni atau air yang mengandung detergent

Page | 14

yang

aman

untuk

produk

makanan

atau

garam

permanganate.

Peralatan yang digunakan untuk mencuci produk harus diseleksi berdasarkan


sesuai karateristik produk. Produk yang lunak biasanya dicuci dengan
menggunakan air semprotandan produk bergerak sepanjang konveyor. Buah
buahan dan sayuran yang lebih kuat dapat dicuci di alat pemutar. Umbi umbian
biasanya dicuci dengan sikat pencuci yang mempunyai sikat silinder yang
berputar.
Dimanapun pengepakan terjadi, baik di ladang ataupun di rumah
pengepakan, seluruh peralatan yang digunakan untuk menangani produk yang
baru dipanen harus di desain untuk mudah dibersihkan dan dijaga sebagaimana
mestinya untuk menghindarkan dari kontaminasi. Apabila memungkinkan,
seluruh peralatan dan petikemas/wadah yang mempunyai kontak langsung dengan
produk dibuat dari bahan stainless steel atau plastik karena bahan tersebut mudah
untuk dibersihkan dan di sanitasi, dan tidah mudah jatuh atau pecah. Seluruh
peralatan harus ditempatkan sebagaimana sehingga dapat mudah untuk
dibersihkan . bila tidak sedang digunakan, peralatan harus disimpan dengan baik
agar tidak terkontaminasi. Bila produk harus dicuci, kode warna atau melabeli
petikemas harus dilakukan untuk memisahkan produk yang sudah dicuci dan
produk yang belum dicuci. Pemisahan produk yang sudah dan belum dicuci
menjadi sangat penting untuk menghindari kontaminasai kembali produk produk
yang bersih oleh produk yang belum dicuci.
Kotak pengemasan dan krat harus ditangani sedemikian rupa agar tidak
pecah. Petikemas tidak boleh ditutup dengan paku atau staples karena hal tersebut
dapat mengkontaminasi produk. Peralatan program pembersihan dan perawatan
yang lengkap harus diadakan. Kerusakan pada peralatan harus segera dilaporkan
segera mungkin sejak kerusakan tersebut terjadi. Sehingga dapat dilakukan
tindakan yang diperlukan agar masalah kecil tidak menjadi besar.
Penyimpanan produk segar
Seluruh buah dan sayuran segar harus disimpan di tempat yang bersih
menggunakan sistem yang teratur. Kode harus ditempatkan diatas kotak agar
mudah mengidentifikasi dan memberikan informasi tentang pengepakan. Kode ini
juga dapat membantu sebagai informasi yang menjamin produk selama peredaran

Page | 15

dan penyimpanan. Sehingga jika ada permasalahan selama distribusi maupun


pemasaran dapat segera di tangani.
Kemasan produk diletakan pada pallet sebagai alas untuk menghindarkan
kontak langsung dengan lantai . Palet diberi jarak dari dinding dan antar palet
sehingga ada aliran udara dan mempermudah dalam membersihkan dan
pengecekan terhadap adanya serangga dan hewan pengerat. Bahan kimia, sampah,
limbah atau bahan berbau tajam sebaiknya disimpan jauh dari produk buah dan
sayuran segar. Dinding, lantai dan atap ruang penyimpanan harus dibersihkan
secara rutin untuk menghindari kotor dan kontaminan lain. Tempat penyimpanan
harus dapat dengan baik merekam pengaturan suhu dan kelembaban untuk
mencegah pertumbuhan mikroba.
Umur simpan produk merupakan hal penting yang harus diperhatikan
dalam produk anggur. Tempat penyimpanan produk anggur ini suhunya harus 320
F untuk menjaga kelembaban tetap tinggi sehingga dapat bertahan hingga dua
minggu. Beberapa jenis anggur dapat bertahan dengan baik dibawah kondisi
normal dan tetap terjaga kualitasnya hingga 3-4 minggu lamanya.
Transportasi
Penanganan buah dan sayuran selama transportasi merupakan tahapan
kritis dalam keamanan buah dan sayuran. Buah dan sayuran pada umumnya di
angkut menggunakan truk atau trailer yang berisi campuran berbagai produk yang
memungkinkan adanya kontaminasi silang. Idealnya bak transporasi dibersihkan
dari hama setelah digunakan untuk menghindari kontaminasi silang. Jika truk
pengangkut sebelumnya digunakan mengangkut produk hewan seperti daging,
telur, ikan atau bahan kimia maka truk wajib dibersihkan dan disucihamakan
sebelum dipakai untuk mengangkut produk buah maupun sayuran segar.
Container untuk mengangkut buah harus dibersihkan dan disanitasi secara teratur
sesuai prosedur yaitu dibersihkan menggunakan deterjen, dibilas, kemudian
sanitasi dengan menggunakan sodium hipoklorit dengan tekanan tinggi. Wadah
atau tempat buah yang telah dibersihkan diletakan dibawah matahari langsung
karena dimungkinkan pengeringan cepat dan sinar UV dapat membantu
membunuh pathogen .

Page | 16

2.3.4

GMP (Good Manufacturing Practices)


GMP atau Good Manufacturing Practices Adalah Cara / teknik

berproduksi yang baik dan benar untuk menghasilkan produk yang benar
memenuhi

persyaratan

mutu

dan

keamanan.

GMP

merupakan

sistem

pengendalian kualitas produk makanan, kosmetik dan obat-obatan yang pertama


kali dikembangkan oleh FDA, sama seperti HACCP. GMP berisi kebijakan,
prosedur dan metode yang digunakan sebagai pedoman untuk menghasilkan
produk yang memenuhi standar kualitas dan higiene yang ditetapkan. Good
Manufacturing Practices lebih berperan dalam proses produksi karena elemenelemen dalam GMP merupakan elemen-elemen dalam sistem produksi.
Beberapa industri pangan dunia menyimpulkan bahwa bisnis pangan perlu
dan harus menerapkan GMP dengan beberapa alasan sebagai berikut :

Untuk mengembangkan sistem mutu yang dapat dinilai agar dapat


dipastikan bahwa produk makanan aman, sehat dan yang terpenting adalah
memenuhi persyaratan pelanggan.

Memastikan bahwa proses pengolahan, penyimpanan dan distribusi


produk makanan dalam kondisiterkontrol dan konstan, mendekati produk
yang diinginkan (ISO 9001).
Dengan Penerapan HACCP dalam organisasi atau perusahaan anda di

harapkan proses anda akan lebih terjamin dan perusahaan mendapatkan


manfaatnya, seperti:

Menjamin kualitas dan keamanan pangan.

Meningkatkan kepercayaan dalam keamanan produk dan produksi.

Mengurangi kerugian dan pemborosan.

Menjamin efisiensi penerapan HACCP.

Memenuhi persyaratan peraturan / spesifikasi / sandar.


Metode yang diterapkan untuk membantu klien kami dalam proses

sertifikasi ISO menggunakan Metode Pendekatan Sederhana (SAS=Simple


Aproach System).

Page | 17

Prinsip dasar GMP adalah mutu dan keamanan produk tidak dapat
dihasilkan hanya dengan pengujian (inspection/ testing), namun harus menjadi
satu kesatuan dari proses produksi. Ruang lingkup GMP adalah:

Lingkungan dan Lokasi


Lingkungan sarana pengolahan harus terawat baik, bersih, dan bebas

sampah, memiliki sistem pembuangan dan penanganan limbah yang cukup baik,
serta memiliki sistem saluran pembuangan air yang lancar. Lokasi, terletak di
bagian pinggir kota, tidak padat penduduk, dan lebih rendah dari pemukiman.
Bebas banjir, polusi asap, debu, bau, dan kontaminan lain, serta bebas dari sarang
hama, seperti hewan pengerat dan serangga. Tidak berada dekat industri logam
dan kimia, serta pembuangan sampah atau limbah.

Bangunan dan Fasilitas Unit Usaha


Desain bangunan, konstruksi, dan tata ruang harus sesuai dengan alur

proses. Bangunan cukup luas dan dapat dilakukan pembersihan secara intensif.
Adanya pemisahan antara ruang bersih dan ruang kotor, serta lantai dan dinding
dari bahan kedap air, kuat, dan mudah dibersihkan. Fasilitas unit usaha, meliputi
penerangan cukup yang sesuai spesifikasi proses, ventilasi memungkinkan udara
mengalir dari ruang bersih ke ruang kotor, adanya sarana pencucian tangan dan
kaki yang dilengkapi sabun dan pengering atau desinfektan. Gudang mudah
dibersihkan, terjaga dari hama, pengaturan suhu dan kelembaban sesuai, serta
penyimpanan sistem FIFO yang dilengkapi catatan.

Peralatan Pengolahan
Alat yang kontak langsung dengan produk harus terbuat dari bahan yang

tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan mudah didesinfeksi
sehingga mudah dilakukan perawatan. Letak penempatannya disusun sesuai
dengan alur proses, dilengkapi dengan petunjuk penggunaan dan program sanitasi.

Fasilitas dan Kegiatan Sanitasi


Program sanitasi meliputi sarana penyediaan air, sarana pembuangan air

dan limbah, sarana pembersihan/ penyucian, sarana toilet/ jamban, serta sarana
hygiene karyawan.

Sistem Pengendalian Hama

Page | 18

Meliputi pengawasan atas barang/bahan yang masuk, penerapan/praktik


hygienis yang baik, menutup lubang dan saluran yang memungkinkan menjadi
tempat masuknya hama, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta
mencegah hewan peliharaan berkeliaran di lokasi unit usaha.

Hygiene Karyawan
Meliputi persyaratan dan pemeriksaan rutin kesehatan karyawan,

persyaratan kebersihan karyawan yang meliputi menjaga kebersihan badan,


mengenakan pakaian kerja dan perlengkapannya, menutup luka, selalu mencuci
tangan dengan sabun, serta melatih kebiasaan karyawan.

Pengendalian Proses
Meliputi pengendalian preproduksi (persyaratan bahan baku, komposisi

bahan, cara pengolahan bahan baku, persyaratan distribusi/ transportasi,


penyiapan produk sebelum dikonsumsi), pengendalian proses produksi, serta
pengendalian pascaproduksi (jenis dan jumlah bahan yang digunakan produksi,
bagan alir proses pengolahan, keterangan produk, penyimpanan produk, jenis
kemasan, jenis produk pangan yang dihasilkan).

Manajemen Pengawasan
Pengawasan terhadap jalannya proses produksi dan perbaikan bila terjadi

penyimpangan yang dapat menurunkan mutu dan keamanan produk. Pengawasan


rutin dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses produksi.

Pencatatan dan Dokumentasi


Berisi catatan tentang proses pengolahan, termasuk tanggal produksi dan

kadaluarsa, serta distribusi dan penarikan produk karena kadaluarsa. Dokumen


yang baik akan meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk ( Render, Barry,
Jay Heizer. 2001).

Page | 19

III. Penutup
3.1

Kesimpulan
Revolusi hijau merupakan program yang dikhususkan pada pembangunan

di sektor pertanian. Tujuan utama dari revolusi hijau adalah meningkatkan


produktifitas khususnya sub-sektor pertanian pangan, melalui teknik modernisasi,
yaitu irigasi yang baik, penggunaan varietas unggul, dan pupuk kimia. Melalui
teknik modernisasi ini, Indonesia berhasil menjadi negara swasembada beras
terbesar di Asia pada tahun 1984.
Budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP),
penanganan pascapanen yang baik atau Good Handling Practices (GHP) dan
pengolahan hasil yang baik atau Good Manufacturing Practices (GMP) sagat di
perlukan untuk meningkatkan hasil produksi pertanaman.

3.2

Saran
Penerapan metode yang telah di sebutkan di pembahasan pada makalah ini

perlu di terapkan dengan maksimal, namun dukungan dari pemerintah sangat


diharapkan guna mendukung terobosan peningkatan produktivitas hasil pertanian.
Pertanian organik tidak membutuhkan biaya produksi yang besar, karena semua
tersedia dari alam. Seperti penggunaan pupuk kandang dan kompos serta sistem
tumpang sari yang dapat memberantas hama tanpa menimbulkan kerusakan pada
lingkungan. Selain itu hasil produksi pertanian organik dijual mahal di pasaran
sehingga dapat ikut meningkatkan pendapatan petani.

Page | 20

DAFTAR PUSTAKA
Hasnelly (2011). Effect of Core Resource and Critical Resource and Market based
on the Customer Value and Its Implications on Customer Loyalty of Organic
Food Product. Proceeding APBITM, January.
Nurul HA. 2009. Revolusi Hijau 60an-70an Miskinkan Perempuan, dalam
http://www.langitperempuan. Com / 2008 / 12 / revolusi - hijau - 60 an 70
an miskinkan - perempuan/. 15 Oktober 2015
Purnama, H., Sumardjo, D. Martianto, W.Q. Mugniesjah, E. Rustandi, Sudrajat,
C.M. Kusharto, dan M. Ardiansyah. 2004. Analisis Pengembangan
Usahatani Tanaman Pangan Terpadu Cianjur Selatan. Kerjasama Fakultas
Pertanian IPB dengan Departemen Pertanian. Bogor.
Render, Barry, Jay Heizer. 2001. Prinsip-Prinsip Manajemen Operasi. Salemba
Empat. Jakarta.
Rusli, S. 1989. Perkembangan Penduduk dan Masalah Swasembada Pangan di
Indonesia. Jurnal Mimbar Sosek, Nomor 3 Desember 1989. Jurusan Ilmuilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Sadono, D. 1999. Tingkat Adopsi Inovasi Pengendalian Hama Terpadu oleh
Petani, Kasus di Kabupaten Karawang Jawa Barat. Tesis. Program
Pascasajana PB. Bogor.
Saragih Sebastian Elyas (2008). Pertanian Organik Solusi Hidup Harmoni dan
Berkelanjutan. Penerbit Swadaya. Depok.
Slamet, M. 1995. Pola, Strategi, dan Pendekatan Penyelenggaraan Penyuluhan
Pertanian pada PJP II dalam I. Yustina dan A. Sudradjat (eds). 2003.
Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan: Didedikasi-kan kepada
Prof. Dr. H.R. Margono Slamet. Bogor: IPB Press.
Slamet, M. 2001. Paradigma Baru Penyuluhan Pertanian di Era Otonomi
Daerah dalam I. Yustina dan A. Sudradjat (eds). 2003. Membentuk Pola
Perilaku Manusia Pembangunan: Didedikasikan kepada Prof. Dr. H. R.
Margono Slamet. Bogor: IPB Press.

Page | 21

Silva, S.D. 2006. ISO 9001 for The Food and Beverage Industry. Daily Mirror
edition. (http;//dailymirror.lk/2006/11/09/ft/35.asp. diakses 15 Oktober
2015).
Soetrisno, Loekman. 2002. Pembangunan Pertanian: Sebuah Tinjauan Sosiologis.
Kanisius: Yogyakarta.
Tata, Indra. 2000. Menggugat Revolusi Hijau Generasi Pertama.
Karangsari: Yogyakarta.

Tirta

Tambuan, Dr. Tulus T. H. 2006. Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia:


Beberapa Isu Penting. Ghalia Indonesia: Yogyakarta.
Tjitropranoto, P. 2003. Penyuluhan Pertanian: Masa Kini dan Masa Depan dalam
I. Yustina dan A. Sudradjat (eds). Membentuk Pola Perilaku Manusia
Pembangunan: Didedikasikan kepada Prof. Dr. H.R. Margono Slamet.
Bogor: IPB Press.
Tjiptono, Fandy. 2003. Prinsip-Prinsip Total Quality Service. ANDI. Yogjakarta.
Uphoff, N. 1988. Menyesuaikan Proyek pada Manusia. dalam M.M. Cernea (eds).
1988. Mengutamakan Manusia di Dalam Pembangunan: Variabel-variabel
Sosiologi di Dalam Pembangunan Pedesaan (Publikasi Bank Dunia).
Penerjemah B.B. Teku. Jakarta: UI Press.
Wijandi, S. 1996. Pengantar Kewiraswastaan, Bagian I: Sikap Mental
Wiraswasta. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian IPB. Bogor.
Winarno, F.G.2002. Hazart Analysis Critical Control Point (HACCP) dan
Penerapannya Dalam Industri Pangan. M-Brio Press, Bogor.

Page | 22

LAPIRAN

Gambar 2. Sistem mutu pangan segar hasil pertanian

Page | 23

Gambar 3. Pengendalian mutu dan keamanan pangan

Page | 24