Anda di halaman 1dari 18

Asuhan keperawatan pada klien HERNIA HIATUS ESOFHAGUS

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATARBELAKANG.
Hernia Hiatus Esophagus merupakan suatu keadaan dimana terjadi perpindahan secara
intermiten (sementara) atau secara permanen (menetap) bagian lambung, disertai perpindahan
bagian esophagus dari iintra abdomen kedalam rongga dada (rongga toraks) di atas diagfragma
melalui hiatus esophagus yang normal. Atas dasar patogenesisnya, maka ada 3 macam hernia
hiatus esophagus ;
a) hernia hiatus aksial
b) Hernia esophagus didafati bagian fundus
c) Silidling hiatus hernia
Karena hernia hiatus tidak begitu sering dijumpai pada usia dibawah 40 tahun, maka penyebab
yang sering sebagai berikut:
1. kelemahan otot sering disebutkan sebagai suatu faktor primer dalam patogenesinya. Hilangnya
tonus otot pada usia menengah atau setelah menderita penyakit yang lama, kelemahan otot
membuatnya lebih lemas dan merupakan predisposisi untuk timbulnya hernia hiatus.
2. meningkatnya tekanan intra abdominal yang memudahkan (membantu) bagian atas lambung
untuk melewari pembukaan diafragma.
3. Diet yang rendah serat merupakan penyebab utama konstipasi dan penyakit divertikel, boleh
juga merupakan suatu penyebab hernia hiatus.
4. Keadaan obesitas biasa dijumpai pada pasien hernia hiatus.
5. Kehamilan trimester III.
2. TUJUAN.
Adapun tujuan dari penyusunan asuhan keperawatan ini,yaitu:
a) Agar kita sebagai tenaga perawat mampu menerapkan Proses keperawatan berupa pengkajian
pada klien dengan Diagnosa medis Hernia Hiatus Esofagus.
b) Mampu menerapkan rencana tindakan keperawatan kepada klien sesuai dengan diagnosa
keperawatan.
c) Mampu melakukan tindakan keperawatan secara sistematis sesuai dengan intervensi
keperawatan.
d) Mampu mengevaluasi hasil tindakan keparawatan pada klien.
3. RUMUSAN MASALAH.
a) Definisi Hernia Hiatus Esophagus ?
b) Tanda dan gejala klien dengan Hernia Hiatus Esofagus ?
c) Etiologi Hernia Heatus Esofagus ?
d) Patofisiologi serta Pathway Nursing Herni Heatus Esofagus ?
e) Asuhan keperawatan pada klien dengan Hernia Hiatus Esophagus ?
f) Tinjauan kasus pada klien Hernia Hiatus Esofagus ?

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI.
Hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal suatu organ atau bagian suatu organ melalui
lubang (apertura) pada stuktur disekitarnya, umumnya protusio organ abdominal melalui celah
dari dinding abdomen. (Sue Hinchliff, 1999: 206).
Hernia adalah penonjolan dari organ internal melalui pembentukan abnormal atau lemah pada
otot yang mengelilinginya. (Winter Griffith, 1997 : 340).
Hernia Hiatus Esophagus merupakan suatu keadaan dimana terjadi perpindahan secara
intermiten (sementara) atau secara permanen (menetap) bagian lambung, disertai perpindahan
bagian esophagus dari iintra abdomen kedalam rongga dada (rongga toraks) di atas diagfragma
melalui hiatus esophagus yang normal.

Atas dasar patogenesisnya, maka ada 3 macam hernia hiatus esophagus ;


1. Sliding hiatus hernia (hernia hiatus aksial).
Pada hernia hiatus ini didapati esophagus intra abdomen, bagian kardia lambung esophagus
(gastroesophageal junction) melorot ke dalam rongga dada diatas diagfragma dan dapat secara
intermiten maupun permanent.
2. Hernia Esofageal .

Hernia eofageal didapati bagian fundus/korpus lambung disertai sebahagian esophagus intra
abdomen berada diluar rongga dada diatas diagfragma, sedangkan hubungan lambung esophagus
(gastroeophageal junction) tetap berada didalam ronnga perut (abdomen) di bawah diafragma.
3. Hernia Hiatus Campuran
Pada sliding hiatus hernia (hernia hiatus aksial yang besar, dapat pula terjadi hernia hiatus
esofageal, maka terjadilah kedua macam hernia hiatus tersebut diatas, hingga timbul bentuk
campuran yang disebut hernia hiatus tipe campuran. Pada hernia hiatus bentuk ini dadapati
seluruh bagian esofagus intra abdomen, gatroesophageal junctin, sebahagian besar lambung,
mungkin seluruh bagian lambung berpindah tempat ke dalam rongga dada diatas diafragma.
B. TANDA DAN GEJALA.
1) Keluhan esofagitis refluks.
2) Rasa jantung terbakar (heartburn).
3) Regurgitasi asam dan disfagia karena spasme esophagus.
4) Perdarahan.
5) Muntah mendadak.
6) Bunyi tympani pada pemeriksaan perkusi.
7) Nyeri uluh hati.
C. ETIOLOGI.
Karena hernia hiatus tidak begitu sering dijumpai pada usia dibawah 40 tahun, maka penyebab
yang sering sebagai berikut:
1) kelemahan otot sering disebutkan sebagai suatu faktor primer dalam patogenesinya. Hilangnya
tonus otot pada usia menengah atau setelah menderita penyakit yang lama, kelemahan otot
membuatnya lebih lemas dan merupakan predisposisi untuk timbulnya hernia hiatus.
2) meningkatnya tekanan intra abdominal yang memudahkan (membantu) bagian atas lambung
untuk melewari pembukaan diafragma.
3) Diet yang rendah serat merupakan penyebab utama konstipasi dan penyakit divertikel, boleh
juga merupakan suatu penyebab hernia hiatus.
4) Keadaan obesitas biasa dijumpai pada pasien hernia hiatus.
5) Kehamilan trimester III.
Manifestasi klinik
1. Mungkin tidak bergejala.
2. Heartburn/perasaan panas dalam perut (dengan atau tanpa regurgitasi dari isi lambung ke
mulut)
3. Disfagia; nyeri dada.
Komplikasi.
- Penyakit paru yang kronik, hal ini disebabkan karna regurgitasi noktural dan aspirasi.
Patofisiologi.
Karena hernia hiatus tidak begitu sering dijumpai pada usia dibawah 40 tahun, maka kelemahan
otot sering disebutkan sebagai suatu faktor primer dalam patogenesinya. Hilangnya tonus otot
pada usia menengah atau setelah menderita penyakit yang lama, kelemahan otot membuatnya

lebih lemas dan merupakan predisposisi untuk timbulnya hernia hiatus. Faktor penting yang lain
ialah meningkatnya tekanan intra abdominal yang memudahkan (membantu) bagian atas
lambung untuk melewari pembukaan diafragma. Diet yang rendah serat merupakan penyebab
utama konstipasi dan penyakit divertikel, boleh juga merupakan uatu penyebab hernia hiatus.
Keadaan obesitas biasa dijumpai pada pasien hernia hiatus.
1. Sliding hiatus hernia (hernia hiatus aksial).
Sliding hiatus hernia (hernia hiatus aksial), merupakan tipe hernia hiatus yang biasa dijumpai.
Pada hernia hiatus ini bagian bawah esofagus (bagian esofagus intra abdomen) dan kardia
lambung melorot ke atas masuk ke dalam rongga dada di atas diafragma disertai esofageal
junction-nya sesuai dengan porosnya melalui hiatus esofagus yang normal , jadinya susunan
anatomis bagian bawah kardia lambung yang normall terganggu, maka terjadilah refluks asam
lambung dengan akibat timbulnya rasa panas dijantung. Bila hiatusnya ini terjadi secara
permanen , timbulnya kongesti dengan akibat timbulnya gastritis, erosi dan ulserasi bagian
lambung yang mengalami herniasi.
2. Hernia hiatus paraesofageal (hernia tipe rolling)
Pada hernia paraesofageal ini, lambung dengan secara sederhana mengalami perputaran
memasuki rongga dada, sedangkan gastroesofageal junction tetap berada dibawah diafragma.
Pada keadaan ini sebenarnya yang terjadi ialah suatu bagian kecil peritoneum mengalami
perputaran keatas rongga dada samping esofagus diikuti kurvatura mayor lambung, kadangkadang disertai omentum gastrokolika. Semakin lanjut besar bagian lambung yang mengalami
perputaran keatas memasuki rongga dada dan suatu saat bagian fundus lambung akan terletak
diatas gastroesopageal junction . Perpindahan (migrasi) lambung ini dihubungkan perputaran
(rotasi) organoaksial, yang menyebabkan kurvutura mayor lambung mengalami perputran keatas
dan kekanan kedalam rongga dada. Hal inilah yang menyebabkan hernia paraesofageal sering
dijumpai didalam rongga dada bagian kanan. Komplikasi yang bisa timbul adalah obstruksi akut
dan inkarserai. Inkarserai merupakan komplikasi yang sangat hebat yang dapat terjadi pada kasus
hernia.
3. Hernia hiatus congenital.
Pada keadaan ini timbul kesan adanya esofagus yang pendek secara kongetinal. Hal ini
sebenarnya terjadi karna spasme muskular. Pembuluh darah pada keaadan ini biasanya sampai
kebagian bawah diafragma, hal ini menunjukkan posisi semula. Esofagus yang pendek padaa
bayi dan anak-anak kebanyakan timbulnya sebagai akibat esofagu yang mengalami peradangan
akibat esofagus mengalami peradangan karna refluks asam pada akalasia abnormalitas
kongenital yang sebenarnya atau yang disebut Barrets esophagus.
D. PATHWAY NURSING.

Diagnostic test
1. Radiografi yaitu tampak bayangan udara dibelakang jantung pada foto dada atau thoraks
2. Fluroscopi yaitu bagian lambung yang mengalami herniasi tidak ikut dalam gelombang
peristaltik yang mendorong esofagus kebawah.
3. Endoscopi yaitu untuk mengetahui komplikasi yang mungkin timbul tetapi pemeriksaan ini
jarang digunakan.
Evaluasi diagnostic
1. Pemeriksaan barium dari hernia sepanjang esophagus.
2. Pemeriksaan endoskopi melihat defek.
Penanganan
1. Tinggikan bagian kepala tempat tidur (15-20 cm) / 6 8 inci untuk mengurangi refluks pada
malam hari.
2. Therapi antasidauntuk menetralisir asam lambung.
3. Histamin-2 reseptor antagonis (cimetidin, rantidin) jika pasien menjalani esofagitis.
4. Perbaikan bedah dari hernia jika gejala memberat.
Tindakan keperawatan /Pembelajaran pasien
A. Anjurkan pasien pencegahan dari refluks isi lambung ke dalam esophagus dengan :
1. Makan sedikit-sedikit.
2. Menghindari rangsangan sekresi lambung dengan menghindari kafein dan alcohol.
3. Menghentikan merokok.
4. Menghindari makanan berlemak meningkatkan refluks dan menghambat pengosongan
lambung.
5. Menghindari berbaring terlentang paling tidak 1 jam setelah makan.
6. Menurunkan berat, jika obesitas.
7. Menghindari menekuk pinggang dan atau memakai pakaian yang ketat.
B. Nasehati pasien untuk melaporkan ke fasilitas kesehatan segera jika timbul nyeri dada akut

mungkin mengindikasikan inkarserasi dari hernia paraesofageal besar.


Tindakan Farmakologi
1. Antasida : dosis 15-30 ml (syrup) untuk menetralkan asam lambung
2. Gavison : 2-3 tablet setiap hari untuk membentuk gel alkali lambung
3. Metoklopramid : 10-20 mg ( perektal) setiap hari, 4 kali setiap hari selama 16 minggu.
Menghasilkan perbaikan frekuensi dan beratnya heatburn, antiemesis, gangguan peristaltic yang
lemah dan setelah pembedahan.
4. Kolinergik : 25 mg betanol 4 kali setiap hari selama 2 bulan ( supositoria ) menghasilkan
perbaikan yang nyata terhadap keluhan heatburn dan dapat mengurangi pemakaian antasida.
5. Simetidin : 1,6 gr perhari selama 4 minggu ( intravena ) menghambat sekresi asam lambung
6. Pilihan terakhir yaitu dengan operasi
E. ASKEP TEORITIS.
1) Pengkajian.
a. Anamnesis.
1. Biodata : terdiri dari nama lengkap, jenis kelamin, umur, penanggung jawab, pekerjaan,
pendidikan, agama, alamat, suku bangsa.
2. Riwayat Kesehatan.
a. Keluhan utama.
b. Riwayat kesehatan sekarang.
c. Riwayat kesehatan masa dahulu : Penyakit (masa kanak-kanak, penyakit yang terjadi secara
berulang-ulang, operasi yang pernah dialami)
Alergi : Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll).
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Orang tua, Saudara kandung, Anggota keluarga lain. Faktor resiko terhadap kesehatan (kanker
hypertensi, DM, penyakit jantung, TBC, Epilepsi, dll.
e. Keadaan psikologis.
Perilaku, Pola emosional, Konsep diri, Penampilan intelektual, Pola pemecahan masalah, Daya
ingat.
b. Pemeriksaan fisik.
1. Keadaan Umum / Tingkat kesadaran.
2. Tanda-tanda vital : Tekanan Darah, Suhu, Nadi, Respirasi.
3. Sistem Respirasi.
Kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung, deformitas, bersin, warna mukosa, perdarahan,
nyeri sinus, bentuk dada, kesimetrisan, nyeri dada, frekwensi pernafasan, jenis pernafasan, bunyi
nafas, dll.
4. Sistem Pencernaan.
Bentuk bibir, lesi mukosa mulut, kelengkapan gigi, muntah, kemampuan menelan, mengunyah,
bentuk peut, BU, distensi abdomen, dll.
5. Sistem Kardiovaskuler.
Konjungtiva anemis/tidak, akral dingin/hangat, CRT, JVP, bunyi jantung, tekanan darah,
pembesaran jantung, Cyanosis, dll.
6. Sistem integumen.
Warna kulit, turgor kulit, temperatur, luka/lesi, kebersihannya, integritas, perubahan warna,
keringat, eritema, kuku, rambut (kebersihan, warna, dll.)

7. Sistem persyarafan.
Tingkat kesadaran, kepala ukuran, kesimetrisan, benjolan, ketajaman mata, pergerakan bola
mata, kesimetrisan, reflek kornea, reflek pupil, nervus 1 s.d. 12, kaku kuduk, dll.
8. Sistem endokrin.
Pertumbuhan dan perkembangan fisik, proporsi dan posisi tubuh, ukuran kepala dan ekstremitas,
pembesaran kelaenjar tyroid, tremor ekstremitas, dll.
9. Sistem muskuloskeletal.
Rentang gerak sendi, gaya berjalan, posisi berdiri, ROM, kekuatan otot, deformitas, kekakuan
pembesaran tulang, atrofi, dll.
10. Sistem reproduksi.
- Laki-laki: penis skrotum, testis, dll.
- Perempuan: pembengkakan benjolan, nyeri, dll.
11. Sistem perkemihan.
Jumlah, warna, bau, frekwensi BAK, urgensi, dysuria, nyeri pinggang, inkontinensia, retensi
urine, dll.
c. Pemeriksaan penunjang.
1. Radiografi.
2. Endoskopi.
2) Diagnosa.
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan.
2. Immobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman.
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakitnya.
3) Intervensi.
Diagnosa 1: Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan.
Tujuan : Menunjukkan nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
- Pasien melaporkan nyeri hilang /terkontrol.
- Normal
Intervensi :
a. Kaji nyeri, catat lokasi intensitas (Skala 0 10).
Rasional : Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesic atau
dapat menyatakan terjadinya komplikasi.
b. Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Respons autoromik meliputi perubahan pada TD, nasi dan pernafasan yang
berhubungan dengan keluhan/penghilangan nyeri.
c. Dorong Ambulasi diri.
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ contoh merangsang perstaltik dan lelancaran
flaktus.
d. Ajarkan teknik relaksasi dan Distraksi.
Rasional : Meningkatkan ostirahat, memusatkankembali perhatian dapat meningkatkankoping.
e. Kolaborasi Pemberian Obat Alagetik.

Rasional : Memberikan penurunan nyeri hebat


Diagnosa 2: Immobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak.
Tujuan : Pasien dapat beraktivitas dengan nyaman
Kriteria hasil : - Menunjukkan mobilitas yang aman.
- Meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit.
Intervensi :
a. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien
Rasional : Imbolitas yang dipaksakan dapat memperberat keadaan.
b. Anjurkan pasien untuk beraktivitas sehari-hari dalam keterbatasan pasien
Rasional : Partisipasi pasien akan meningkatkan kemandirian pasien.
c. Anjurkan keluarga dalam melakukan meningkatkan kemandirian pasien
Rasional : Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya
berkembang dengan lambat sesuai toleransi.
d. Kolaborasi dalam pemberian obat.
Rasional : Obat dapat meningkatkan rasa nyaman dan kerjasama pasien selama melakukan
aktivitas.
Diagnosa 3: Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi.
Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : - Menunjukkan penyembuhan luka tepat.
- Menunjukkan perilaku/teknik untuk meningkatkan penyembuhan, mencegah komplikasi.
Intervensi :
a. Lihat semua insisi.
b. Evaluasi proses penyembuhan.
c. Kaji ulang penyembuhan terhadap penyembuhan dengan pasien
d. Catat adanya distensi dan auskultasi peristaltic usus
Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus merupakan tanda bahwa fungsi defekasi hilang.
Diagnosa 4: Resiko infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil : - tanda-tanda vital dalam batas normal.
- Luka kering tidak ada pus.
Intervensi :
a. Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Suhu malam hari memucak yang kembali ke normal pada pagi hari adalah
karakteristik infeksi.
b. Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi.
Rasional : Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan.
c. Pertahankan keperawatan luka aseptic.
Rasional : Lindungi pasien dari kontaminasi selama pengantian.
d. Pertahankan balutan kering.
Rasional : Balutan basah bertindak sebagai sumbu penyerapan kontaminasi.

e. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi.


Rasional : Diberikan untuk mengatasi nyeri-nyeri.
Diagnosa 5 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya.
Tujuan : Keluarga dan pasien mengetahui dan memahami tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil : - Pasien dan keluarga mengungkapkan pamahaman tentang proses penyakitnya.
Intervensi
a. Tinjau ulang pengetahuan pasien dan keluarga.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dan keluarga fapat membuat pilihan
berdasarkan informasi.
b. Libatkan keluarga dalam proses penyembuhan.
Rasional : Keluarga dapat melakukan perawatan sepulang dari RS
c. Anjurkan pasien untuk menghindari aktivitas berat.
Rasional : Aktivitas berat dapat memperparah keadaan hernia.
d. Kaji ulang proses penyakit, factor penyebab terjadinya.
Rasional : Pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat
pilihan tentang masa depan dan control penyakit kronis.

BAB III
TINJAUAN KASUS
Ny. F 36 Th, suku jawa, pendidikan sarjana, klien datang ke rumah sakit pada tanggal 3 maret
dengan keluhan muntah proyektif yang disertai darah, dada kiri terasa panas, klien mengeluh
sulit menelan sehingga BB turun, BB 85 kg, TB 160 cm, klien sedang hamil trimester III, saat
makan klien merasa penuh di kerongkongan, keadaan umum CM, tanda vital : TD 130/ 90, RR
24x/m, S 37,4 C, diagnosa medis hernia hiatus esophagus .
1. PENGKAJIAN.
a) Anamnesis.
a. Identitas Pasien.
Inisial pasien : Ny. F.
Umur : 36 Tahun.
Status Perkawinan : Kawin.
Agama : Islam.
Suku Bangsa : Jawa Indonesia.
Pendidikan : Sarjana/S1.
Pekerjaan : Wiraswasta.

b. Diagnosa medik dan Informasi Medik yang Penting.


Tanggal / jam masuk : 3 maret 2011 / 08.00 wita
Tanggal pengkajian : 03 maret.
Diagnosa medic : Hernia hiatus esophagus
No. Medical Record : 065789
Ruang rawat : Melati I RSUD MATARAM.

c. Riwayat kesehatan.
1. Keluhan utama.
Muntah proyektif yang disertai darah.
2. Riwayat penyakit sekarang.
Muntah proyektif yang disertai darah,dada kiri klien terasa panas dan Sulit menelan, saaat makan
klien merasa penuh di kerongkongan.
3. Riwayat penyakit dahulu : 4. Riwayat penyakit keluarga : 5. Riwayat psikososial : b) Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum :
a. CM dan Klien sedang hamil trimester III.
2) B1 (breathing)
a. RR : 24 x/menit.
3) B2 (blood)
a. TD : 130/90 mmHg,
b. Nadi: 100x/menit,
c. Suhu: 37,4 0C.
4) B3 (brain)
a. Kesadaran (CM)/(ComposMentis)/(Sadar penuh)
5) B4 (bladder) : 6) B5 (bowel) : 7) B6 (bone) : -

ANALIA DATA
NO SYMPTOM ETIOLOGI MASALAH
1

2.

DS :
- Pasien mengeluh sulit menelan sehingga BB turun
DO :
- BB 85 kg,
- TB 160 cm
DS:
- Saat makan klien merasa penuh di kerongkongan
DO:
- TD 130 mm Hg, N 100x/m, S 37,4 C, RR 24x/m Spasme Esophagus

Regurgitasi asam dan disfagia


Perubahan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan

B. PERUMUSAN DIAGNOSA.
1. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan.
2. Immobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan gerak, karena kehamilan.
3. Koping individu tidak efektif (ansietas) sehubungan dengan krisis situasional, perubahan
status kesehatan.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan disfagia.
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit.

C. INTERVENSI.
NO TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
DX.1 Menunjukkan nyeri berkurang atau hilang -Pasin melaporkan nyeri hilang /terkontrol
-Normal
a. Kaji nyeri, catat lokasi intensitas (Skala 0 10)

b. Pantau tanda-tanda vital

c. Kolaborasi Pemberian Obat Alagetik

d. Ajarkan teknik relaksasi dan Distraksi


e. Dorong Ambulasi diri Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan keefektifan
analgesic atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi.
Respons autoromik meliputi perubahan pada TD, nasi dan pernafasan yang berhubungan dengan
keluhan/ penghilangan nyeri.
Meningkatkan normalisasi fungsi organ contoh merangsang perstaltik dan lelancaran flaktus
Meningkatkan Istirahat, memusatkankembali perhatian dapat meningkatkan koping.
Memberikan penurunan nyeri hebat

DX.2 Pasien dapat beraktivitas dengan nyaman -Menunjukkan mobilitas yang aman
-Meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit
a. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien

b. Anjurkan pasien untuk beraktivitas sehari-hari dalam keterbatasan pasien


c. Anjurkan keluarga dalam melakukan meningkatkan kemandirian pasien

d. Kolaborasi dalam pemberian obat


Imbolitas yang dipaksakan dapat memperberat keadaan
Partisipasi pasien akan meningkatkan kemandirian pasien
Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan
lambat sesuai toleransi
Obat dapat meningkatkan rasa nyaman dan kerjasama pasien selama melakukan aktivitas.

DX.3 Pasien dapat mengurangi asietas dan dapat memilih koping yang tepat umtuk penyakitnya
Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang.
Mengkaji situasi terbaru dengan akurat mendemonstrasikan ketrampilan pemecahanmasalah.
a. Kaji tingkat ansietas klien, tentukan bagaimana pasien menangani masalahnya sebelumnya
dan sekarang
b. berikan informasi yang akurat
c.berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya
d. Catat perilaku dari orang terdekat atau keluarga yang meningkatkan peran sakit
Mengidentifikasi keterampilan untuk mengatasi keadaannya sekarang.
Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang didasarkan pad
pengetahuannya.
Kebanyakan pasien mengalami permasalahan yang perlu diungkapkan dan diberi respon.

Orang terdekat mungkin secara tidak sadar memungkinkan pasien untuk


mempertahankan ketergantungannya
DX4

DX5
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

Keluarga dan pasien mengetahui dan memahami tentang penyakitnya


Meningkatkan masukan oral dengan pola makan sedikit tapi sering
Menjelaskan faktor penyebab apabila diketahui

Pasien dan keluarga mengungkapkan pamahaman tentang proses penyakitnya.


Tentukan kebutuhan kalori harian yang adekuat, kolaborasi dengan ahli gizi

Timbang berat badan dan pantau hasil laboratorium

Berikan makanan dalam jumlah sedikit tapi sering

A.Tinjau ulang pengetahuan pasien dan keluarga


1.
2.
3. B.Libatkan keluarga dalam proses penyembuhan
4.
5. C.Anjurkan pasien untuk menghindari aktivitas berat
6.
7. D.kaji ulang proses penyakit, factor penyebab terjadinya
Mencukupi kalori sesuai kebutuhan, memudahkan menentukan intervensi yang sesuai dan
mempercepat proses penyembuhan.
Dapat digunakan untuk memudahkan melakukan intervensi yang akurat dan sesuaidengan
kondisi klien.
Untuk meminimalkan hilangnya cairan dan nutrisi

Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dan keluarga fapat membuat pilihan berdasarkan

informasi
Keluarga dapat melakukan perawatan sepulang dari RS
Aktivitas berat dapat memperparah keadaan hernia
Pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat pilihan tentang
masa depan dan control penyakit kronis.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Hernia hiatius Esofagus merupakan perpindahan secara intermiten (sementara) atau peranen
(mnetap) bagian lambung disertai perpindahan esophagus dari intra abdomen kerongga daa
melalui hiatus esophagus yang normal, ada tiga tipe yaitu:
1. Hernia sebagian atas lambung dan hubungan antara lambung dan esophagus.
2. Hernia sebagian atas lambung dan sebagian bawah esophagus.
3. Gabungan tipe yang kedua diatas sehiga timbul hernia espfagus bawah, hubungan esophagus
dan lambung dan sebagian lambung atau bahkan semua lambung.
Tanda dan Gejala:
1) Keluhan esofagitis refluks.
2) Rasa jantung terbakar (heartburn).
3) Regurgitasi asam dan disfagia karena spasme esophagus.
4) Perdarahan.
5) Muntah mendadak.
6) Bunyi tympani pada pemeriksaan perkusi.
7) Nyeri uluh hati.
Penyebab/Etiologi:
1. Hilangnya tonus otot
2. Meningkatnya tekanan intra gaster

3. Obesitas
4. Kehamilan trimester tiga

B. Saran.
Guna kesempurnaan laporan ini,kami kelompok 2 sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bisa membangun.Oleh karena itu sekiranya Rekan-rekan dari kelompok lain beserta Dosen
Pembimbing untuk memberikan tambahan yang insya Allah akan membangun dari Laporan yang
kami buat ini.

DAFTAR PUSTAKA
Inayah, Iin. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Pencernaan . Jakarta :
Salemba Medika.
Smelzer, Suzzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Volume 2. Jakarta : EGC.
http://fayldestu.blogspot.com/2010/03/askep-hernia.html