Anda di halaman 1dari 24

BIOKIMIA PERIKANAN

MINERAL

Disusun Oleh:
Kelompok 7 Perikanan B

Firdaus

230110140073

Membuat Power Point

Amalia Fajri Rachmadiany

230110140076

Novi Pusvita Wati

230110140081

Mencari Bahan

Nurhalimah

230110140097

Mencari Bahan dan


Menyusun Makalah

Imas Siti Zaenab

230110140102

Mencari Bahan

Isma Yuniar

230110140103

Mencari Bahan

Alif Rizki

230110140118

Gilang Fazar R

230110140127

Print Makalah

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami
dapat menyelesaikan paper ini dengan judul Mineral. Tujuan penulisan paper ini
adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Biokimia Prikanan. Paper ini
membahas mengenai sistem endokrin pada ikan.
Pada kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dosen mata kuliah Biokimia Perikanan ;
2. Seluruh anggota kelompok 7 ;
3. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Demikianlah harapan kami, semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kami
dan juga pembaca tentunya. Adanya saran yang membangun dari pembaca untuk
perbaikan paper selanjutnya sangat dihargai, kami ucapkan terima kasih.

Jatinangor, 15 Oktober 2015

Penyusun

BIOKIMIA MINERAL

II

DAFTAR ISI

KATA PENGATAR .............................................................................................ii


DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 2
2.1 Pengertian Mineral ................................................................................ 2
2.2 Pembentukan Mineral ........................................................................... 3
2.3 Klasifikasi Mineral ................................................................................. 6
2.4 Sumber Mineral ....................................................................................14
2.5 Itensitas Antara Mineral dan Defisiensi Mineral .................................17
2.6 Level Mineral dalam Pakan Ikan dan Udang .......................................18
2.7 Fungsi Mineral .....................................................................................19
BAB III KESIMPULAN ..................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

BIOKIMIA MINERAL

III

BAB I
PENDAHULUAN

Mineral merupakan bahan anorganik yang dibutuhkan oleh ikan untuk


pembentukan jaringan tubuh, proses metabolisme serta mempertahankan
keseimbangan osmotik dan untuk proses pertumbuhan normal ikan . Ikan dapat
menyerap (absorpsi) beberapa mineral, tidak hanya mineral yang berasal dari pakan
tetapi juga berasal dari lingkungan perairan yaitu seperti kalsium, magnesium,
sodium, potassium, iron, zinc, copper dan selenium yang merupakan jenis mineral
diperoleh dari air untuk memenuhi sebagian kebutuhan nutrisi ikan serta phosphat
dan sulfat lebih efektif bila diperoleh dari pakan.

Ikan sebagai organisme air yang memiliki kemampuan dalam menyerap beberapa
unsur anorganik, tidak hanya dari makanan tetapi juga dari lingkungan. Jumlah
mineral yang dibutuhkan oleh ikan sangat sedikit tetapi mempunyai fungsi yang
sangat penting. Dalam penyusunan pakan buatan mineral mix biasanya
ditambahkan berkisar antara 25% dari total jumlah baha baku dan bervariasi
bergantung pada jenis ikan yang akan mengkonsumsinya (Gusrina, 2008).

BIOKIMIA MINERAL

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mineral

Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah
mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur
mineral.

Mineral menurut bebrapa ahli :

A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977


Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi
kimia tertentu atau dalam batas-batas dan mempunyai sifat-sifat tetap,
dibentuk di alam dan bukan hasil suatu kehidupan.

The International Mineralogical Association tahun 1995 telah mengajukan


definisi baru tentang definisi material.
Mineral adalah suatu unsur atau senyawa yang dalam keadaan normalnya
memiliki unsur kristal dan terbentuk dari hasil proses geologi.

Skinner (2005) memandang semua padatan sebagai mineral potensial dan


termasuk biomineral dalam kerajaan mineral, yang adalah mereka yang
dibuat oleh aktivitas metabolisme organisme. Inklusi mineral ini biogenik
memerlukan definisi diperluas mineral sebagai:

Sebuah unsur atau senyawa, amorf atau kristal, terbentuk melalui


proses biogeokimia.

"Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam


terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas
BIOKIMIA MINERAL

tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur" (Berry &
B. Mason, 1959). "Mineral adalah homogen padat yang terjadi secara alami,
berbentuk anorganik, dengan komposisi kimia tertentu dan susunan ordered
atom" (Mason, et al, 1968).

"Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi
kimia tertentu atau dalam batas-batas dan mempunyai sifat-sifat tetap,
dibentuk di alam & bukan hasil suatu kehidupan" (A.W.R. Potter & H.
Robinson, 1977). "Mineral yang terjadi secara substansi anorganik alamiah
dengan komposisi kimia tertentu , dapat diprediksi dan memiliki sifat fisik."
(O 'Donoghue, 1990).

Jadi dapat disimpulkan bahwa mineral ialah suatu senyawa yang terbentuk
melalui proses biogeokimia dan memiliki struktur kristal.
2.2 Pembentukan Mineral
Ada sumber pembentuk Mineral di alam ini, yaitu:

Air permukaan, yang selama perjalanannya melalui batuan-batuan akan


melarutkan mineral-mineral yang mudah larut dan disebut air meteorik atau
air tanah.

Air magmatis atau Air yang terdapat di bagian yang lebih dalam

BIOKIMIA MINERAL

Dari 2 macam air tadi ada beberapa metode pembentukan


mineral, yaitu:

1. Penguapan Larutan
Anhydrit dan halit umumnya berasal dari larutan-larutan yang
mengandung kedua bahan tadi. Pengendapannya sering berupa lapisanlapisan yang tebal. Larutannya akan mengalami penguapan sehingga
kelarutan mineral tersebut semakin berkurang dan terendapkan.

2. Pengeluaran gas yang bekerja sebagai pelarut


Air yang mengandung banyak gas CO2 bila mengenai batuan kapur maka
CaCO3 akan larut dalam bentuk asam bikarbonat CaH2 (CO3)2 yang
merupakan persenyawaan yang tidak mantap (stabil). Karena pengaruh
beberapa faktor seperti suhu, udara dll, maka gas CO2 dalam larutan akan
keluar yang menyebabkan perubahan asam bikarbonat ke bentuk yang
lebih sukar larut yaitu bentuk asalnya CaCO3.

3. Kenaikan Suhu dan Tekanan


Larutan air magmatis terbentuk dalam keadaan dengan tekanan dan suhu
air yang tinggi, maka diendapkanlah mineral-mineral Hidrothermal.
Sumber-sumber air panas dan geyser geyser terdapat di daerah dimana
terdapat intrusi magma yang mendekati permukaan bumi. Maka air tanah
yang bergerak ini akan mengalami penaikan suhu dan tekanan, sehingga
akan lebih banyak bahan mineral yang terlarut di dalamnya dari pada
keadaan biasa, dimana suhu dan tekanan ketika di permukaan.

4. Interaksi antar larutan


Keadaan ini terjadi seperti di dalam laboratorium, dimana dapat terjadi
endapan kalau kita mencampurkan dua atau lebih macam larutan.
Larutan CaSO4 bila bertemu dengan BaCO3 yang mudah larut maka
akan langsung membentuk endapan BaSO4 (mineral Barit).
BIOKIMIA MINERAL

Keadaan seperti di atas sering terjadi dengan memberikan endapanendapan mineral sebagai akibat pencampuran air magmatis yang satu
dengan yang lain, atau air magmatis dengan air permukaan.

5. Interaksi Larutan dengan Zat Padat


Larutan yang mengandung ZnSO4 bila melalui derah kapur akan
menyebabkan

terbentuknya

ZnCO3

(mineral

Smithsonit)

dan

CaSO4 (Anhydrit atau Gips). Umumnya suatu larutan melarutkan suatu


mineral, selanjutnya mengendapkan mineral lain di tempatnya. Maka
mineral Galenit (PbS) dan sulfide lain akan diendapkan dari larutan
sekaligus menempati / mengganti batuan kapurnya dimana larutan akan
saling berhubungan.

Tekstur atau struktur mineral yang terdahulu, umumnya dipertahankan


oleh mineral yang menggantikannya. Contoh lain ialah pengisi bahan
selisium (silikasi) kayu, dimana larutan silisium mengganti bahan
selulosa dengan opal, tetapi dengan strukturnya seperti kayu.

6. Interaksi Gas dengan Larutan


Air yang mengandung H2S akan memberikan endapan sulfide bila
berhubungan dengan larutan dari daerah tambang yang mengandung Zn,
Cu, Fe, dll.

7. Pengaruh Makhluk dalam larutan


Mollusca, Crikoida dll menyerap CaCO3

dari air laut dan

mengeluarkannya lagi dalam bentuk badan-badan pelindungnya, dalam


bentuk aragonite atau kalsit. Radiolaria, Diatomea dan Bunga karang
(spons) mengeluarkan bahan selisium dan membentuk diatomea.
Limonit dan belerang dapat terjadi karena pengaruh bakteri-bakteri

BIOKIMIA MINERAL

dalam air yang mengandung besi atau sulfat ,begitu pula pengendapan
NaNO3dianggap sebagai hasil aktivitas makhluk hidup juga.
2.3 Klasifikasi Mineral
Umumnya mineral dalam pakan ikan digolongkan menjadi 2 yaitu mineral
makro dan mineral mikro. Ada juga yang membagi kembali menjadi mineral
mikro esensial dan mineral mikro non esensial. Esensial yang dimaksud adlah
jika kebutuhannya tidak tercukupi akan tampak gejala-gejala defisiensi pada
ikan. Semua unsur mineral tidak dapat disintesis dari mineral lainnya. Kriteria
makro dan mikro didasarkan atas jumlah kebutuhan dan penggunaan unsur
mineral tersebut didalam pakan.
1) Mineral Mikro
Mineral mikro adalah mineral yang konsentrasinya dalam tubuh setiap
organisme dalam jumlah sedikit (kurang dari 100 mg/kg pakan
kering),yaitu : Besi (Fe), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), Seng (Zn), Cobalt
(Co), Molybdenum (Mo), Cromium (Cr), Selenium (Se), Fluorine (F),
Iodine/Iodium (I), Nickel (Ni), dan lain-lain.

a. Besi (Fe)
Menurut Gusrina (2008), zat besi merupakan unsur mineral mikro yang
paling banyak terdapat dalam tubuh ikan dan manusia. Dalam makanan
terdapat dua macam zat besi, yaitu dalam bentuk heme dan nonheme.
Zat besi heme ditemukan dalam bentuk hemoglobin dan zat besi
nonheme dalam otot yang disebut myoglobin. Manfaat Fe, yaitu:

Bagian essensiil dari haeme dalam haemoglobin dan cytochromes

Unsur yang sangat penting dalam pigmen darah (hemoglobin dan


myoglobin)

Terlibat dalam pengangkutan oksigen dalam darah dan urat daging


(otot) serta pemindahan/transfer elektron dalam tubuh

BIOKIMIA MINERAL

Unsur yang sangat penting dari variasi sistem enzim, yang meliputi
enzim katalase, enzim peroxidase, enzim xantin oksidase, enzim
aldehyde oxidase dan enzim succinic dehydrogenase.

Kekurangan (defisiensi) zat besi menyebabkan :

Microcytic dan hypochromic anemia .

Kebutuhan Fe sekitar 0,15 0,17 gram/kg pakan. Menurut Okeefe and


Newman (2011) zat besi untuk udang yaitu maksimal 200 mg per kg
pakan.
b. Copper
Manfaat Copper, yaitu:

Komponen haeme dalam haemocyanin (pada cephalopods)

Sebagai kofaktor (mengaktifkan) kerja pada tyrosinase dan oksidasi


vitamin c

Kebutuhan copper sekitar 1-4 g/kg pakan. Menurut akiyama (1991),


kebutuhan mineral copper untuk pakan udang yaitu 15 mg/kg pakan.
Sedangkan menurut okeefe and newman (2011) copper untuk udang
sekitar 35 mg per kg pakan dan ikan yaitu 2.000 mg/kg pakan.

c. Mangan (Mn)
Manfaat Mangan, yaitu:

Sebagai kofaktor untuk arginase dan enzyme metabolik

Untuk pembentukan tulang dan regenerasi erythrocyte

Sebagai enzim aktivator untuk enzim yang menjembatani transfer


dari grup phosphatase

Sebagai komponen essensial dari enzim piruvate carboxylase

BIOKIMIA MINERAL

Sebagai kofaktor (mengaktifkan) atau komponen kunci dari


beberapa sistem enzim

Mangan essensial untuk pembentukan tulang, metabolisme


karbohidrat dan siklus reproduksi

Kebutuhan mangan sekitar 20 50 mg/kg pakan. Menurut Akiyama


(1991), kebutuhan mineral mangan untuk pakan udang yaitu 20 mg/kg
pakan. Sedangkan menurut Okeefe and Newman (2011) mangan untuk
udang sekitar 20 mg per kg pakan dan ikan yaitu 500 mg/kg pakan.

d. Cobalt
Manfaat cobalt, yaitu:

Sebagai komponen dari cyanocobalamin (B12) sangat dibutuhkan


untuk sintesa microflom pada saluran usus

Untuk pembentukan sel darah merah dan perawatan jaringan syaraf

Sebagai agen kegiatan untuk sistem variasi enzim dan mencegah


anemia

Kebutuhan cobalt sekitar 5-10 mg/kg pakan. Menurut okeefe and


Newman (2011) cobalt untuk udang sekitar 0,05 mg per kg pakan.
e. Seng/Zinc (Zn)
Manfaat zinc, yaitu:

Sebagai essensiil untuk struktur dan fungsi insulin

Sebagai kofaktor (mengaktifkan) dari beberapa sistem enzim yng


penting dalam proses metabolisme

Kekurangan (defisiensi) Zn menyebabkan, yaitu:

Dapat meningkatkan mortalitas, katarak pada mata serta erosi pada


sirip dan kulit

BIOKIMIA MINERAL

Pertumbuhan menurun, nafsu makan rendah dan menurunkan


tingkat serum alkaline phosphatase

Kebutuhan zinc sekitar 30-100 mg/kg pakan. Menurut Akiyama (1991),


kebutuhan mineral zink untuk pakan udang yaitu 50 mg/kg pakan.
Sedangkan menurut okeefe and Newman (2011) zink untuk udang
sekitar 20 mg per kg pakan dan ikan yaitu 10.000 mg/kg pakan.

f.

Iodin/Yodium (I)
Gusrina (2008) menyatakan bahwa yodium adalah komponen integral
dari hormon thyroid dan sangat penting untuk sintesis hormon thyroid,
yaitu Triiodothyronine (T3) dan thyroxine (Tetra iodothyronine/T4).
Manfaat yodium, yaitu:

Unsur pokok dari thyroxine dan regulasi penggunaan oxygen


mengatur laju metabolisme seluruh proses ke dalam tubuh

Kekurangan (defisiensi) yodium menyebabkan:

Thyroid hyperplasia (goiter)

Kebutuhan iodin sekitar 100-300 mg/kg pakan. Menurut okeefe and


newman (2011) yodium untuk ikan sekitar 5 mg per kg pakan.

g. Selenium (Se)
Selenium adalah bagian yang melengkapi dari enzim Glutation
Peroksidase yaitu suatu enzim yang merubah hydrogen peroxide dan
lemak hydroperoxides ke dalam air dan lemak alkohol secara berurutan
(Gusrina, 2008). Manfaat selenium, yaitu:

Melindungi sel dari pengaruh peroxides

BIOKIMIA MINERAL

Bersama-sama dengan vitamin e berfungsi sebagai antioksi dan


biologis yang melindungi polyunsaturated phospholipid di dalam sel
dan sub sel membran dari kerusakan peroksidatif.

Menurut Akiyama (1991), kebutuhan mineral selenium untuk pakan


udang yaitu 0,3 mg/kg pakan. Sedangkan menurut Okeefe and Newman
(2011) selenium untuk udang sekitar 0,05 mg per kg pakan dan ikan
yaitu 70 mg/kg pakan.

h. Unsur Mikro lainnya


Unsur alumunium diketahui berpengaruh terhadap pertumbuhan belut,
sedangkan flourin diduga penting untuk ikan salmon. Kobalt (Co)
merupakan komponen penting dalam pembentukan vitamin B12,
kromium penting dalam proses metabolisme glukosa dan lemak, dan
sulfur diperlukan dalam proses sintesis sistin. Unsur lain seperti
molibdenum, silikon dana vandium belum banyak diketahui fungsinya
untuk ikan.

2) Mineral Makro
Mineral makro adalah mineral yang konsentrasinya dalam tubuh organisme
dibutuhkan dalam jumlah besar (lebih dari 100 mg/kg pakan kering), yaitu
kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Sodium (Na), Potassium (K), fosfor (P),
Chlorine (Cl), dan Sulfur (S).

a. Kalsium (Ca)
Kalsium merupakan unsur mineral makro yang di dalam tubuh disimpan
pada tulang, gigi dan sebagian besar pada kulit dan kerangka tubuh
(Gusrina, 2008). Manfaat kalsium, yaitu:

Perkembangan dan pemeliharaan system skeletal dan berperan


dalam beberapa proses fisiologis ikan dan udang.

BIOKIMIA MINERAL

10

Kontraksi dan relaksasi otot, transmisi impuls syaraf, pembekuan


dan pengentalan darah.

Sebagai intracellular regulator atau messenger yaitu membantu


regulasi aktivitas otot kerangka, jantung dan jaringan lainnya.

Komponen utama pembentuk kerangka tubuh, gigi, kulit, tulang


dan sisik.

Mempertahankan integritas sel dan keseimbangan asam-basa

Aktivasi dari beberapa enzim

Membantu penyerapan vitamin B12 dan menjaga keseimbangan


osmotik.

Ikan dapat mengabsorpsi (menyerap) kalsium secara langsung dari


lingkungannya. Pengambilan kalsium melalui insang, sirip dan
epithelium mulut. Insang memegang peranan penting dalam regulasi
kalsium. Kebutuhan kalsium pada ikan berkisar antara 5 gram/kg
pakan. Menurut Okeefe and Newman (2011), kebutuhan kalsium
untuk udang maksimal 2,3% per kg pakan. Kalsium dalam pakan
umumnya didapatkan dari bahan baku seperti tepung ikan, namun
kekurangannya bisa di sumplementasi dengan tepung batu. Pada saat
proses metabolisme makanan ada interaksi antara kalsium dengan
vitamin D3, Ng dan Zn.
b. Phosphor (P)
Fosfor adalah komponen pembentuk kerangka tubuh dimana tulang itu
disusun oleh mineral P sebesar 16% dan Ca 37%.
Manfaat phosphor, yaitu:

Komponen pembentuk kerangka tubuh

Penyusunan tulang, asam nukleat dan membran sel serta dalam


reaksi seluler

Metabolisme karbohidrat, lipid dan asam amino

Sebagai penyanggah (buffer) dalam cairan tubuh ikan dan udang

BIOKIMIA MINERAL

11

Komponen DNa, RNa, ATP dan berbagai koenzim, pergerakan otot


dan memelihara keseimbangan asam basa

Kekurangan (defisiensi) phosphor dapat menyebabkan

Pertumbuhan menjadi lambat dan penurunan efisiensi pakan

Menyebabkan tulang belakang bengkok dan rapuh

Hambatan mineralisasi pada tulang

Peningkatan aktivitas enzim gluconeogenic di hati dan lemak karkas


dengan penurunan kandungan air karkas

Penurunan level phosphat pada darah dan kandungan glikogen di


hati

Deformitas kepala dan deformitas vertebrae

Intake phosphor yang rendah juga dapat meningkatkan aktivitas


serum alkaline phosphatase

Peningkatan deposisi lipid di otot, hati dan vertebrae

Kebutuhan phosphor sekitar 7 gram/kg pakan. Menurut Okeefe and


Newman (2011), kebutuhan phosphor untuk udang yaitu 0,8% per kg
pakan.
c. Magnesium (Mg)
Magnesium merupakan kofaktor bagi semua enzim yang terlibat di
dalam reaksi pemindahan fosfat (fosfokinase) yang menggunakan ATP
dan fosfat nukleotida yang lain sebagai substrat (Gusrina, 2008).
Manfaat magnesium, yaitu:

Berperan sebagai kofaktor (mengaktifkan) kerja enzyme dalam


metabolisme lemak, karbohidrat dan protein.

Sebagai komponen esensial dalam menjaga homeostasis intra dan


ekstra seluler.

Kekurangan (defisiensi) magnesium, yaitu:


BIOKIMIA MINERAL

12

Dapat menyebabkan penurunan nafsu makan

Pertumbuhan menjadi lambat dan aktivitas ikan berkurang

Kandungan ca dan mg dalam tubuh dan vertebrae akan berkurang

Abnormal pada tulang atau organ tubuh ian dan udang

Kebutuhan magnesium untuk ikan sekitar 500 mg/kg pakan. Menurut


Akiyama (1991), kebutuhan mineral magnesium untuk pakan udang
yaitu 200 mg/kg pakan. Sedangkan menurut Okeefe and Newman
(2011) magnesium untuk sekitar 0,2% per kg pakan.
d. Sodium
Manfaat sodium, yaitu :

Sebagai kation monovalent antar cairan sellular

Untuk keseimbangan antara asam basa dan osmoregulasi

Kekurangan (defisiensi) sodim menyebabkan:

Dehidrasi, keletihan, anorexia dan kram otot.

Kebutuhan sodium sekitar 1-3 g/kg pakan.

e. Potassium (K)
Gusrina (2008) menyatakan bahwa ion potassium (K) adalah elektrolit
yang banyak dijumpai dalam tubuh dalam bentuk ion terdisosiasi penuh
dan merupakan partikel utama yang bertanggungjawab dalam
osmolaritas. Ion K ini akan mempengaruhi kelarutan protein dan
komponen lainnya. Manfaat potassium, yaitu:

Sebagai kation monovalent dalam cairan sellular, sistem syaraf dan


osmoregulasi

Memelihara keseimbangan air dan distribusinya

BIOKIMIA MINERAL

13

Memelihara keseimbangan osmotik normal, asam basa dan


iritabilitas otot.

Kekurangan (defisiensi) pottasium menyebabkan:

Penggunaan pakan tidak efisien

Pertumbuhan lambat dan kematian meningkat

Kebutuhan potassium sekitar 1-3 g/kg pakan. Menurut Akiyama


(1991), kebutuhan mineral potassium untuk pakan udang yaitu 100
mg/kg pakan. Sedangkan menurut okeefe and Newman (2011),
kebutuhan potassium untuk udang yaitu 0,9% per kg pakan.

f. Klorin
Manfaat klorin, yaitu:
Sebagai

anion monovalent dalam cairan sellular dan sistem

keseimbangan asam basa


Komponen
Berperan

dari pencernaan (hcl)

besar dalam aktivitas osmoregulasi

Kebutuhan klorin sekitar 1-5 g/kg pakan.


Selain mineral-mineral yang disebutkan diatas, ada beberapa mineral yang
tida diketahui fungsinya untuk ikan anatara lain aumunium, arsenic,
mercury, nikel, silicon,tin dan vanadium.

2.4 Sumber Mineral

Sumber mineral untuk ikan dan udang sedikit berbeda dengan hewan pada
umumnya. Ikan dan udang bisa mendapatkan mineral dari air (lingkungan
hidupnya) dan makanannya, sedangkan hewan darat pada umumnya hanya
mendapat asupan mineral dari makanannya. Mineral yang bisa didapatkan dari
BIOKIMIA MINERAL

14

air antara lain Ca, K, Cu, dan Iodine, sedangkan mineral lainnyaperlu tersedia
dalam pakan.

Mineral dalam pakan bisa berasal dari bahan baku pakan. Namun, mineral
dalam bahan baku variasinya sangat tinggi, begitu juga mineral dalam air. Oeh
karena itu perlu ada tambahan sumber mineral murni yang bisa disuplementasi
dalam pakan (Net et al., 2005). Baik mineral dalam bahan baku dan sumber
mineral murni perlu agar bisa menjamin pakan tidak defisiensi mineral dan
juga tidak mengandung mineral yang berlebihan dan bersifat toksik.

Tabel 1. Bahan minerl makro dan miko

BIOKIMIA MINERAL

15

Sumber : Anonim (2005), Charlton dan Ewing (2007)

Bahan baku utama dlama pakan hanya mengandung sedikit mineral sehingga
perlu ada bahan tambahan yang konsentrasi mineralnya cukup tinggi.bahan
buku mikro yang bisa digunakan sebagai sumber mineral dalam pakan ikan dan
udang adalah sebagai berikut: CaCo3 (38%), kulit kerang (38%), kalsium sulfat
dihydrate (21%), kalsium sulfat anhydride (26,5%), tepung tulang (23%),
monokalsium fosfat (15-18%), dikalsium fosfat (19-22%) dan deflourinated
(30-32%).

Sedangkan sumber-sumber fosfor untuk pakan ikan antara lain : asam fosforik
(23,7%), deflourinater fosfat (18%. 1%), dikalsium fosfat (18,5% fosfor total
dan 65 fosfor tersedia), monokalsium fosfat (21% fosfor total dan 94% fosfor
tersedia), monosodium fosfat (26%), monoamonium fosfat (24%), amonium
polifosfat (14,8%-16%) dan tepung tulang (8-14%).

Pada umumnya monokalsium fosfat dan dialsium fosfat sering digunakan


dalam pakan untuk menutupi kekurang unsure P dari tepung ikan. Tepung ikan
sendiri mengandung 2%-7% fosfor total tetapi yang tersedia untuk ikan air
tawar hanya 30-4-% saja. Umumnya CaCO2, mengandung Mg sekitar 0,2%0,9% dan kadar air 0,5%. Mono atau dikalsium fosfat berbentuk granul 95%
berwarna abu-abu dengan berat jenis antara 560-590 kg/m3.

BIOKIMIA MINERAL

16

Sumber-sumber mineral lainnya umumnya dijual di pasaran sudah dalam


bentuk premix. Premix yang dimaksud adlah campuran beberapa bahan mieral
dengan kandungan unsur yang telah ditentukan terlebih dahulu. Bahan- bahan
tersebut bisa dilihat pada tabel 1.

2.5 Intensitas Anatara Mineral dan Defisiensi Mineral

Defisiensi mineral pada hewan disebabkan 2 hal yaitu kekurangan asupan


mineral dari pakan atau lingkungannya dan adanya kelebihan salah satu
mineral yang menyebabkan penyerapan mineral lainnya tergganggu. Oleh
karena itu perlu juga diketahui interelasi antara mineral satu dengan lainnya
dalam tubuh ikan. Interelasi pad amineral ada 2 macam yaitu satu arah dan 2
arah berlawanan. Penyerapan Zn akan berkurang jika level Ca dalam makanan
berlebihan tetapi tidak berlaku sebaliknya. Sedangkan Mn dan P saling
terpengaruh, jika salah satu diantaranya berlebihan makan akan mempengaruhi
penyerapan unsur keduanya. Oleh karena itu selain level mineral,
keseimbangan anatar mineral menjadi penting supaya tidak terjadi defisiensi.

Ca, Mg, Zn, Fe, Al dan Be mempengaruhi penyerapan P dan sebaliknya.


Sedangkan Cu yang rendah Mo yang tinggi menambah kehilangan P dalam
tubuh, Cu dibutuhkan untuk mensintesis fosfolipid. Kalsium juga
berinterkolerasi dengan vitamin D, dalam bentuk vitamin D3. Beberapa
vitamin lainnya seperti lainnya seperti niacin, vitamin B1 dan vitamin B6
berinteraksi juga dengan unsur P. Fe dan Se berinteraksi dengan PUFA,
sedangkan Se juga berinteraksi dengan vitamin E.

Umumnya defisiensi mineral bik makro maupun mikro akan menyebabkan


pertumbuhan menurun, namun ada beberapa ciri yang bisa menunjukan
defisiensi unsur yang spesifik. Sebagai contoh defisiensi Ca akan

BIOKIMIA MINERAL

17

menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tulang dan ukuran yang tida


sempurna.

2.6 Level Mineral dalam Pakan Ikan dan Udang

Rekomendasi jumlah mineral untuk ikan dan udang berbeda, bahkan untuk
setiap spesies udangpun bisa berbeda. Rekomendasi mineral makro biasanya
dinyatakan dalam g/100g pakan (%), sedangkan kebutuhan mineral makro
dinyatakan dalam mg/kg pakan atau ppm. Satuan ppm (part per milion) adlah
untuk menyatakan kandungan suatu bahan yang jumlahnya satu per satu juta
total keseluruhan bahan (Schofield, 2005). Kestaraan satuan tersebut sama
dengan mg/kg bahan padat didalam bahan padat, dan bisa sama dengan mg/L
air untuk dosis obat berbentuk tepung yang dimasukan kedalam air.
Sama halnya dengan ikan, udang juga memerlukan mineral dalam dalam
makananya. Penelitian kebutuhan mineral pada berbagai jenis udang sudah
sudah dilakukan sejak tahun 197-an. Kebutuhan kalsium berkisar antara 1,02,0% untuk semua spesies udang,sedangkan fosfor berkisar antara 0,75-2%.
Hubungan antara kebutuhan kalsium dan fosfoe pada udang dinyatakan dengan
rasio Ca:P yaitu berkisar antara 0,5:1 hingga 1:1. Kebutuhan mineral-mineral
makro tersebut dan beberapa mineral mikro lainnya seperi Cu, Zn, dan Se
dipengaruhi oleh kelimpahan didalam tambak pemeliharaan.

Tabel 2 kebutuhan mineral beberapa jenis ikan

BIOKIMIA MINERAL

18

2.7 Fungsi Mineral

Fungsi utama nineral dapat digolongkan menjadi tiga fungsi, yaitu sebagai
berikut:

1) Fungsi pernapasan. Mineral yang berperan besar dalam proses pernapasan,


yaitu mineral besi (Fe), tembaga (Cu), dan kalsium (Ca).
2) Fungsi struktural. Mineral pembentukan rangka berperan dalam
pembentukan struktur tubuh ikan, seperti dalam pembentukan tulang, gigi,
dan sisik ikan. Mineral yang termasuk dalama kelompok ini, yaitu kalsium
(Ca), fosfor (P), flour (F), dan magnesium (Mg).
3) Fungsi metabolisme. Mineral yang membantu proses metabolisme
meliputu semua mineral esensial dan nonesensial. Mineral- mineral
tersebut

berperan

dalam

pembentukan

enzin

dan

pengaturan

keseimbangan antara cairan tubuh dan cairan lingkungannya.

Selain fungsi utama tersebut, beberapa fungsi lain dari mineral antara lain
a) Berperan dalam proses pembentukan hemaglobin dan proses
pembekuan darah (terutama Fe, Cu, dan Co)
b) Mengatur keseimbangan asan basa dan proses osmosis antara
cairan tubuh ikan dengan lingkungannya (terutama Na, Ca, Cl, dan
K)
c) Mengatur fungsi sel (Cu dan Zn), mematangkan kelenjar kelamin
(Br), mematangkan hormon tiroid (I)
d) Berperan dalam proses metabolisme (Mg, Cl, dan P).

BIOKIMIA MINERAL

19

BAB III
KESIMPULAN

Mineral adalah zat organik yang dibutuhkan oleh ikan untuk proses metabolisme,
pembentukan jaringan, dan mempertahankan keseimbangan osmotik. Mineral
dibutuhkan dalam jumlah yang relatif kecil, tetapi berperan sangat penting dalam
menjaga kelangsungan hidup karena beberapa proses yang berlangsung di dalam
tubuh ikan membutuhkan mineral.

Berdasarkan

jumlah

kebutuhannya,

mineral

dibagi

menjadi

dua

yaitu

makromolekul dan mikromolekul. Makromolekul adalah mineral yang dibutukan


dalam jumlah relatif besar yang meliputi fosfor (P), kalsium (Ca), belerang (S),
klorida (Cl), natrium (Na), kalium (K), dan magnesium (Mg). Sementara itu
mikromolekul yaitu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang relatif
sedikit yang meliputi seng (Z), selenium (Se), molibdenum (Mo), krom (cr), fluor
(F), iodium (I), dan besi (Fe).

Fungsi utama mineral dapat digolongkan menjadi tiga fungsi, yaitu fungsi
pernafasan, fungsi struktural, dan fungsi metbolisme.

BIOKIMIA MINERAL

20

Daftar Pustaka

Kuncoro, Eko Budi. 2004. Akuarium Laut. Kanisus : Yogyakarta


Mahyudin, Kholis. 2008. Panduan lengkap agribisnis lele. Swadaya: Jakarta
http://bisakimia.com/2013/01/07/sebenarnya-mineral-itu-apa-sih/ ( diakses 14
oktober 2015)

BIOKIMIA MINERAL

21