Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH TOKSIKOLOGI

Di Susun oleh:
DISUSUN OLEH
ISTI SHOFIA

13341019

JURUSAN DIV ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN TANJUNG KARANG
2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji serta syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan nikmat sehat, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Tak lupa, shalawat serta salam marilah kita haturkan kepada Nabi besar
Muhammad SAW .
Makalah ini berjudul Klasifikasi Toksik Berdasarkan Organ yang di
Serang. Makalah ini membahas klasifikasi Toksik berdasarkan kerusakan
organ target. Semoga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah
Toksikologi. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada
Ibu Sri Nuraini, S.Pd,M.Kes atas bimbingan yang telah diberikan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
akan tetapi kami berharap makalah ini bermanfaat bagi para pembaca serta
kami.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Bandar lampung, 05 Oktober 2015

Penyusun
DAFTAR ISI
COVER....................................................................................................... .

KATAPENGANTAR 2
DAFTAR ISI... 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.... 4
1.2 Tujuan.. 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7

Pengertian Toksikologi................................................................................ 5
Klasifikasi Toksik berdasarkan kerusakan organ target..................... 8
Hepatoksik... 10
Nefrotosik.... 11
Neurotoksik. 12
Hematoksik. 15
Sistematik 19

BAB III PENUTUP....................................................................................... 20


3.1

Kesimpulan.................................................................................... 20

3.2

Saran ........................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia (Casarett and
Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari jelas/kerusakan/ cedera pada organisme
(hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi, mempelajari
racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme dan
mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap organisme. Banyak sekali peran toksikologi
dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan dikenal istilah toksikologi
lingkungan dan ekotoksikologi.
Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama maknanya ini
sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari racun
kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan menimbulkan pencemaran lingkungan
(Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada
mahluk hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan masuknya
agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan demikian ekotoksikologi
merupakan bagian dari toksikologi lingkungan.
Kebutuhan akan toksikologi lingkungan meningkat ditinjau dari :
Proses Modernisasi yang akan menaikan konsumsi sehingga produksi juga harus
meningkat, dengan demikian industrialisasi dan penggunaan energi akan meningkat yang
tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis.
Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi yang akan
menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, dan padat yang meningkat. Buangan ini tentunya
4

akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang mengakibatkan resiko pencemaran,


sehingga resiko toksikologi juga akan meningkat.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui Mekanisme dan Gejala klinis keracunan yang disebabkan oleh racun yang
bersifat Neurotosik, Hepatoksik, Nefrotoksik, Hematoksik, Sistemik.

BAB II

2.1 Pengertian Toksikologi


Toksikologi merupakan ilmu atau pemahaman tentang pengaruh
berbagai macam zat-zat kimia yang merugikan bagi kelangsungan hidup
makhluk hidup. Toksikologi menurut para ahli kimia merupakan ilmu yang
bersangkut paut dengan berbagai macam efek dan mekanisme kerja yang
dapat

merugikan

dari

agen

kimia

terhadap

binatang

dan

manusia.

Toksikologi menurut para ahli farmakologi adalah cabang dari farmakologi


yang berhubungan dengan efek samping zat kimia di dalam sistem biologik.
Dalam toksikologi terdapat unsur unsur yang saling berinteraksi antara
satu dengan yang lain dengan suatu cara tertentu sehingga dapat
menimbulkan suatu respon pada sistem biologi yang dapat menimbulkan
kerusakan terhadap sistem biologi tersebut. Toksikologi merupakan ilmu
yang lebih dulu berkembang dari Farmakologi. Pengertian dan definisi
Toksikologi diantaranya sebagai berikut:
1.

Istilah Toksikologi awalnya berasal dari bahasa latin yaitu toxon yang
artinya racun, sedangkan ilmu pengetahuan dikenal dengan kata logos.
Kombinasi arti ini terbitlah bidang ilmu yang diketahui umum sebagai
Toksikologi, dan dalam bahasa inggris disebut Toxicology. Secara etimology
Toksikologi terbagi dari dua kata diatas dan didefinisikan sebagai ilmu
tentang racun. Toksikologi juga didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari

efek-efek merugikan dari suatu zat. (Nelwan, 2010.)


2. Ilmu yang mempelajari tentang efek negative atau efek racun dari bahan
kimia dan material lain hasil kegiatan manusia terhadap organisme termasuk
6

bagaimana bahan tersebut masuk kedalam organisme. (Rand, GM and


Petrocelli, S.R. 1985. Fundamentals of Aquatic Toxicity : Methods and
Aplication, Hempsphere Public Corporation)
3.
Ilmu yang mempelajari tentang efek
4.

membahayakan

dari

suatu

persenyawaan terhadap organisme hidup, terutama manusia


Ilmu yang mempelajari racun, berikut asal, efek, deteksi dan metode
pengolahannya. (Dictionary of Stientific and Technical Terms, McGraw Hill,

1984).
5.
Toksikologi adalah disiplin ilmu yang berkaitan dengan pemahaman
mekanisme efek beracun yang dihasilkan bahan kimia pada jaringan hidup
atau organisme; studi tentang kondisi (termasuk dosis) di mana paparan
6.

bahan kimia pada makhluk hidup berbahaya.


Toksikologi didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme
efek toksik berbagai bahan terhadap mahluk hidup dan sistem biologik

lainnya.
7. Toksikologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sifat sifat
dan

cara

kerja

racun.

Ilmu

ini

membutuhkan

disiplin

lain

untuk

memahaminya. Cabang cabang ilmu biologi, kimia, biokimia, farmakologi,


fisiologi dan patologi adalah ilmu ilmu yang sangat menunjang dalam
mempelajari atau mendalami toksikologi.
Para ahli toksikologi (Toxicologist), dengan tujuan dan metoda tertentu
tugasnya adalah mencari/mempelajari bagaimana bekerjanya (Harmful
action) bahan bahan kimia (beracun) pada jaringan atau tubuh.
Sementara Racun sendiri mempunyai dua pengertian, yaitu :
a. Menurut Taylor, Racun adalah Setiap bahan/zat yang dalam jumlah tertentu
bila

masuk

ke

dalam

tubuh

akan

menyebabkan penyakit dan kematian.


7

menimbulkan

reaksi

kimia

yang

b.

Menurut pengertian yang dianut sekarang, Racun adalah Suatu zat yang
bekerja pada tubuh secara kimia dan fisiologis yang dalam dosis toksik selalu
menyebabkan gangguan fungsi dan mengakibatkan penyakit dan kematian.

2.2 Klasifikasi Toksik berdasarkan kerusakan organ target

Hepatotoksik : beracun bagi hepar atau hati


Nefrotoksik :beracun bagi nefron atau ginjal
Neurotoksik :beracun bagi neuron atau saraf
Hematotoksik : beracun bagi darah atau system pembentukan sel darah
Keracunan sistemik : yakni keracunan yang menyerang seluruh anggota tubuh

2.3 Hepatoksik
Hepatoksik adalah dimana suatu X mempunyai daya racun terhadap hepar atau hati. Ke
dalam kelompok ini terdapat banyak zat racun, seperti DDT, aflatoksin-B, acrolein, CCl4,
Be, Mn, Fe, dll. (Williams and Burson, 1985).

Mekanisme hepatoksik:
Mekanisme toksik berbagai racun terhadap hepar sangat variatif, tetapi ada beberapa factor
anatomi dan faal yang menyebabkan hati menjadi peka terhadap toksikan.
1.

Hati atau hepar secara normal terletak dibagian kanan atas rongga perut dibawah
diafragma. Hati merupakan organ terbesar di dalam tubuh manusia, dan menerima semua
hasil absorpsi usus lewat pembuluh darah balik (vena) dari usus yang akhirnya terkumpul
dalam satu vena bessar disebut Vena porta. Dapat dimengerti bahwa vena porta ini berisi
8

banyak nutrient, disamping semua xenobiotik berasalkan usus. Selain darah dari usus,
darah juga menerima darah balik dari ginjal dan tungkai bawah. Darah yang memasuki
hepar 70% berasal dari vena porta, sedangkan 30%-nya lagi dating dari aorta sebagai
arteri terbesar didalam tubuh untuk vaskularisasi hati. Akibat dari keadaan anotomi dan
faali hati, dapat difahami bahwa hepatotoksikan akan lebih toksik bagi hepar apabila
2.

masuk per oral dibandingkan apabila masuk melalui inhalasi atau dermal.
Karena tugas detoksikasi terutama dilakukan oleh hati, maka apabila terjadi metabolit
yang lebih toksik atau lebih reaktif, maka hepar ini pula yang pertama-tama menderita
efek toksiknya. Efek ini dapat mempengaruhi berbagai fungsi hepar seperti gangguan
pada metabolism dan penyimpanan hidrat karbon, metabolism hormon, zat buangan, dan
xenobiotik, sintesa protein darah, formasi urea, metabolism lemak, dan formasi empedu.
Seperti halnya xenobiotik, semua nutrient akan dimetabolisme, akan dimetabolisme, atau
disimpan, atau di-biotransformasi, dan/atau dikonyugasi lalu disalurkan ke organ
ekskresi.akan tetapi Fase I, sehingga metabolit intermediet (bersifat reaktif) yang
terbentuk, dan tidak dapat dikonyugasi dan bereaksi dengan sel hati dan menyebabkan
kerusakan dan/atau kematian sel. Apabila reaksi terjadi dengan DNA maka mungkin
sekali akan terjadi kanker. Efek terhadap hati/hepar ini tergantung pada sifat kimiafisikaxenobiotik, dosis yang diterima, dan lamanya paparan, selain bahwa ada pula
pengaruh dari kondisi fisik hepar yang terpapar. Toksikologi hati dipersulit oleh berbagai
kerusakan hati dan berbaga mekanisme yang menyebabkan kerusakan itu. Hati sering
menjadi organ sasaran karena beberapa hal. Sebagian besar toksikan memasuki tubuh
melalui system gastrointestinal,dan setelah diserap,toksikan dibawa oleh vena porta hati
ke hati. Hati mempunyai banyak tempat pengikatan. Kadar enzim yang metabolisme
xenobiotik dalam hati juga tinggi (terutama sitokrom P-450) : ini membuat sebagian
9

besar toksikan menjadi kurang toksik dan lebih mudah larut air,dan karenanya lebih muda
dieksresikan. Tetapi dalam bebrpa kasus toksikan diaktifkan sehingga dapat menginduksi
lesi. Lesi hati yang sring bersifat sentrilobuler telah dikaitkan dengan kadar sitokrom P450 yang lebih tinggi (Zimmerman 1982).
Efek toksikan pada organel subsel dalam sel hati.
Organel
Membran plasma

Fungsi
Pemasukan,sekresi

Efek
Kebocoran enzim

Contoh toksikan
Faloidin

Inti sel

Pengontrol sel

Mutasi,neoplasiel

Aflatoksin,berilium,dimetilnitrosamin

Mitokondria

Repirasi sel

Bengkak

Karbon tetrachloride,
dimetil-nitrosamin, etionin,
fosfor

Lisosom

Autofagia,penyimpanan

Akumulasi

Brilium,karbon tetraklorida,
etioni,fosfor

Peroksisom

Oksidasi

Proliferasi

Klofibrat,trikloretilen,diet
tinggi lemak

Reticulum endoplasma

Kanalikuli empedu

Sintesi protein,

Degranulasi,

Karbon tetraklorida,dimetil

metabolisme obat

proliferasi

nitrosamine,etionin,fosfor

Sekresi empedu

Dilatasi

Litokolat,taurokolat

Gejala Klinis Hepatoksik :


Rasa mual
Muntah
Sakit Kepala ,urine pekat dan pembesaran hati
2.4 Neurotoksik
10

System saraf terdiri dari susunan saraf (SSP), yakni otak dan sumsum tulang
belakang; dan susunan saraf periferi, yakni, semua diluar SSP yang terletak di periferi.
System saraf ini fungsinya sangat kompleks, dan bersama dengan system endokrin
mengelola semua fungsi tubuh. Neurotoksin juga sangat beragam, sehingga efek dapat
timbul pada bagian-bagian tertentu saja atau pada sel-sel spesifik saja.
Untuk dapat memahami kerusakan saraf perlu diketahui, bahwa fungsi saraf
utama adalah mentransmisikan impuls lewat sel-sel saraf. Sel saraf yang satu tersambung
dengan yang lain atau tersambung dengan sel organ seperti otot melalui suatu
sinap/junction. Stimulus dapat melalui sinap in dengan menggunakn transmitter yang
didapat pada sinap. Dengan demikian ada dua mekanisme racun saraf, yakni, gangguan
pada transmitter, dan gangguan pada aktivita keluar masuknya ion na dan k sepanjang
akson saraf, sehingga impuls elektrik terganggu.

Mekanisme Neurotoksik :
Xenobiotik yang meracuni saraf disebut neurotoksik, dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yakni,
Racun yang mengganggu neuro-transmisi
Racun yang menyebabkan saraf kekurangan oksigen atau hipoksia sampai

anoksia, dan
Racun yang merusak system saraf secara fisik.

Gejala Klinis Neurotoksik


kehilangan memori jangka pendek,
kehilangan sirkulasi,
ketidakseimbangan,
11

gejala mirip flu.


Sedangkan gejala yang dirasakan pada system perifer seperti :
mati rasa,
kesemutan,
kehilangan sensasi dan gerakan perubahan suasana hati atau perasaan
(kecemasan, kemarahan, depresi, kebingungan, vertigo, kurang konsentrasi).

2.5 .Nefrotoksik
Efek terhadap ginjal sangat dipengaruhi oleh faal ginjal sebagai organ eksresi.Semua
buangan yang terbentuk cairan atau larutan akan dikeluarkan dari ginjal.Tetapi ginjal juga
mempunyai tugas untuk menjaga homeostatis tubuh.misalnya cairan dan beberapa jenis gula
akan diserap kembali.ginjal juga meregulasi tekanan darah metabolisme vitamin D,dll.
(Hard,1985).
Sifat toksisitas
Ginjal mempunyai kemampuan kompensasi yang luar biasa bahkan setelah beberapa
peerubahan yang cukup penting pada fungsi dan morfologi ginjal, ginjal dapat mengkompensasi
dan berfungsi secara normal. Karenanya ,beberapa pengujian penting dilakukan pada interfal
waktu yang tepat dan berulang kali.
Kelompok utama nefronotoksikan adalah logam berat, antibiotic, analgesic, dan
hidrokarbon berhalogenasi tertentu. Semua bagian nefron secara potensial dapat dirusak oleh
efek toksikan. Beratnya beberapa efek beragam dari satu perubahan biokima atau lebih sampai
kematian sel, dan efek ini dapat muncul sebagai perubahan kecil pada fungsi ginjal atau gagal
total.

12

Nefrotoksikan dapat menyebabkan efek buruk pada bagian ginjal,yang mengkibatkan


berbagai perubahan fungsi. Karenanya , sebaiknya dilakukan berbagai jenis pengujian.
Tampaknya pengujian yang paling peka dan dapat dipercaya untuk suatu zat kimia berbeda-beda
tergantung pada sifat nefrrotoksikan dan juga keadaaan percobaan (misalnya spesian
hewan,lamanya pajanan).
Dalam menilai efek ginjal suatu toksikan,sebaiknya dipertimbangkan beberapa factor
diluar ginjal yang mungkin dipengaruhi volume darah atau tekanan darah, karna beberapa factor
tersebut dapat merusak fungsi ginjal secara tidak langsung.selain itu penyakit ginjal,seperti
penyakit ginjal yang berkaitan dengan usia lebih banyak ditemukan dan juga harus
dipertimbangkan (cotchin dan Roe, 1967).

Mekanisme nefrotoksik
Ginjal merupakan organ eksresi utama bagi cairan yang tidak digunakan tubuh,dan
disalurkan lewat pembuluh darah.ginjal manusia setiap harinya akan menyaring 1700
liter darah menjadi 1 liter urin.Ginjal menrima dari output kardial per menit.Selain itu
ginjal juga mempunyai berbagai fungsi penting seperti
o Regulasikomposisi dan volume cairan ekstra seluler,
o Mengendalikan elektrolit dan keseimbangan asam basa,
o Memelihara adanya protein berat molekul rendah didalam sirkulasi,
o Terkait dalam homoeostasis system kardio-vaskuler,
o Mensentesa/memperoses berbagai hormone (Williams and Burson,1985)
Unit funsional ginjal disebut nefron,yang terdiri atas tiga elemen
utama,yakni,glomerulus (kapiler pembuluh darah berbentuk bola) yang berhubungan
dengan pembuluh darah sekita tubulus,peredaran darah untuk vaskulerisasi dan elemen
tubule.Didalam tubule terjadi filtrasi;filtrate akan memasuki tubules,dan akan terjadi
13

reabsorbsi dan eleminasi selektifdari air dan elektrolit.Vaskulerisasi adalah pembuluh


darah yang membawanutrien bagi ginjal dan mengambil kembali buanga dari organ
tersebut.Ginjal merupakan organ yang sangat aktif dalam proses metabolisme,sehingga
meerlukan laju suplai oksigen yang besar dan nutrient yang banyak agar tetap
normal.Struktur gijal yang terditi atas lapisan endotel yang luas,sehingga cenderung
terjadi deposisi kompleks antigen-antibodi. Sebagai organ eksresiginjal juga terpapar zat
kimia asing yang mungkin saja merusak jaringannya,untuk mencegah kerusakanginjal
mempunyai mekanisme system enzim sitokrom p-450,system
oksidasi,reeduksi,hidrolisis,dan konjugasi.
Racun dapat menyebabkan kerusakan pada ketiga elemen dari nefron dan dapat
menyebabkan anuri (tidak terbentuk urin),seperti pada keracunan jengkol,karena
filtrasigolmerulus (GFR)terhenti,atau urin yang terbentuk nsangat sedikit,atau sebaliknya
urin menjadi sangat banyak akibat permeabilitas berubah (misalnya pada itaiitai/keracunan Cd)juga dapat terbawa keluar berbagi protein dan enzim. Kerusakan fungsi
ginjal akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal,dan kematian,baik secara akut maupun
kronis.karena paparan yang diterima didalam ginjal beserta saluran dan kandung
kemihnya dapat terjadi kristalisasi dan terjadi batu,atau pun tumbuh berbagai tumor
termasuk kanker.

Gejala Klinis Nefrotoksik


Penurunan pengeluaran urin atau tidak sama sekali
Pembengkakan ginjal secara menyeluruh, akibat retensi

cairan
Mual dan muntah
Terjadinya penurunan kesadaran

14

2.6 Hematoksik
Sistem hematoksik adalah system yang membentuk sel-sel darah dan berfungsi dalam
respirasi seluler. Racun dapat mengganggu pembentukan sel maupun fungsi dari system ini.
System hematopoetik terdiri atas sel darah merah (eritrosit),sel darah puth(leukosit),dan
trombosit. Eritrosit yang mengandung hemoglobin(Hb) berfungsi mentransfer oksigen dari paruparu ke jaringan dan membawa kembali CO2 ke paru-paru untuk eksresi.Leukosit melindungi
tubuh dari segala infeksi dan benda asing. Trombosit berfungsi dalam pembekuan darah.berbagi
racun dapat mengganggu fungsi-fungsi tersebut dan terjadi keadaan yang tidak normal.

Penyebab hematoksik
Penyebab hematotoksisititasdapat digolongkan kedalam dua golongan besar yakni kelainan yang
berdasarkan atas kelainan kuantitas dan kualitas sel darah dan dilihat dari system transport gas
dalam sel darah..

1) Kelainan sel-sel darah


Dilihat dari segi kualitas dan kuantitas sel darah,penyakit/gejala keracunan dapat
digolongkan atas dasar beberaparacun lingkungan,seperti berkurangnya
trombosit/thrombositopenia,hilangnya sel darah putih yang polimorfonuklear/agranulositosis,
tidak dibentuknya sel sel darah/aplastik anemia dan pansitopenia,hemolitik anemia atau
hemolisis sel-sel darah dan leukemia atau kanker darah.
Racun penyebab trombositopenia adalah;

15

Tilenol, Aminopirin, aspirin, benzene, bismuth, klordane, klorampenikol, kortikosteroid, valium,


DES, digitoksin, dimercaprol, insulin, lindane, Hg, fenobarbital, fenilbutazone, KI, kuinidine,
tertracline, TDI, dan trinitrotoluene.
Racun penyebab agranolusitosis adalah:
Actazolamide, amidopirin, ampicilin, arsfenamine, barbiturate, benzene, busulfant,
kloramfenicol, suklofosfamide, diazepam, DDT, deniropenol, hidroksiquinoline, indometacin,
Hg, nitrofurantain, parasetamol, phenilbutazone, procainamida, propiltiourasil, quinine,
salisilata, sulfa, tiourea, trinitrotoluene.
Racun penyebab Aplastik anemia dan Pancytopenia adalah:
Alkilating agen, ampisilin, arsfenamid, aspirin, benzeena, CCL4, cloramfenicol, chlordane,
chloroquine, kolchicine, diazepam, Au, hidrokloroquine, insektisida, isoniazida, lindane,
meprobamat, tetrasklin, dan trinitrotoluene.
Zat kimia terkait dengan anemia hemolitik adalah:
Amidopirin, antazolin, cefalospirin, insektisida, insulin, isoniazide, penicillin, fenacetin,
quinidin, quinine, rifampicin, salisilata, dan sulfa.
Beberapa penyebab leukemia adalah radiasi pengion, benzena, dan zat yang sering
menyebabkan anemia aplastik. (William M. Burson, 1985).
2) Kelainan Transfor Gas
Dilihat dari system transfor gas, ada tiga kelainan utama, yakni berkurangnya suplai
oksigen, sel atau jaringan tidak dapat memanfaatkan suplai oksigen karena sel keracunan, dan
lain-lain gangguan darah.
16

Keadaan dimana sel atau jaringan kekurangan oksigen disebut keadaan hipoksia.
Hipoksia dapat disebabkan oleh dua factor, yakni tersumbatnya atau kelumpuhan saluran
pernafasan, sehingga oksigen tidak dapat memasuki peredaran darah, dan suplai oksigen
berkurang akibat transfor oksigen oleh hemoglobin terganggu. Racun dapat melumpuhkan
saluran pernafasan sehingga terjadi hipoksia. Selanjutnya akan dibahas dua kondisi dimana hb
tidak dapat berfungsi normal yakni akibat terikat dengan CO, dan nitrat-nitrit.
Hb yang terikat dengan CO disebut karboxyhemoglobin. Keadaan ini merupakan contoh
yang paling dikenal. Mekanisme terjadinya karboksi hemoglobin didasarkan afinitas CO yang
lebih besar terhadap hb dibanding oksigen.
Afinitas CO terhadap hemoglobin pada manusia berkisar antara 210-245. Dengan afinitas
CO terhadap hb duaratus kali lebih besar daripada oksigen, maka seluruh hb dapat terikat pada
CO dan orang dapat meninggal karena lemas. Apabila, hemoglobin yang terikat pada CO dan
oksigen sama yakni 50% keadaan ini dapat terjadi apabila konsentrasi Co mendekati 0.1%
dihitung atas dasar konsentrasi persen oksigen sebanyak 21% dan afinitas CO terhadap hb adalah
210.
Kadar oksigen yang dapat dilepas oleh HbO2 kedalam jaringan menjadi lebih sedikit
apabila kadar Hb CO meningkat. Disosiasi oksigen kedalam jaringan untuk 5% pertama terjadi
apabila PO2 turun menjadi 40mmHg. Adanya hb CO tidak hanya mengurangi jumlah oksigen
dalam darah, tetapi pelepasan oksigen kejaringan menjadi lebih sedikit, sekalipun turunnya PO2
sama seperti keadaan normal yakni sebanyak 40mmHg.
Hb yang terikat pada nitrit, dan aromatikamin, senyawa nitroso dan klorat disebut
methemoglobin mekanismenya adalah karena terjadi oksidasi Fe dalam hb dari fero menjadi feri.
Oksidasi mengubah warna hb menjadi coklat kehijauan sampai kehitaman. Methomoglobin tidak
dapat mengikat baik oksigen mmaupun karbon dioksida. Dengan demikian terjadi hipoksia.
Kadar normal methemoglobin dalam darah adalah 4% (WHO 1977). Apabila kadar

17

methemoglobin meningkat sampai 15 maka akan timbul gejala kekurangan oksigen yakni kulit
menjadi kebiruan. Methemoglobinia sering dijumpai pada bayi karena system enzimnya
(NADH-NADPH) masih belum sempurna, maka penyakit sedemikian disebut penyakit
bluebabies. Korelasi antara methemoglobin dengan gejala hipoksia sangat jelas, karena selain
membentuk methemoglobin, senobiotix tadi juga menyebabkan terjadinya pelebaran pembuluh
darah(vasodilatasi), sehingga aliran darah menjadi stagnan, dan hipoksia menjadi diperparah,
karena volume darah yang mengalir berkurang.
Lain-lain hipoksia dapat terjadi akibat sel tidak dapat memanfaatkan oksigen dalam
proses metabolismenya. Dalam keadaan ini , kadar oksigen dalam sel atau jaringan adalah
normal atau bahkan berlebih. Keadaan ini sering terjadi akibat keracunan sianida dan sulfida.
Sianida didalam sel akan menghambat kerja enzim sitokrom oksidase, sehingga
menghambat trnasfor electron fosforilase oksidatif metabolisme glukosa yang aerobic dan
mengakibatkan kadar HbO yang sangat tinggi dan juga terdapat dipembuluh darah balik (vena).
Dengan demikian kulit tampak merah menyerupai kadar HbCO. Kematian dapat terjadi apabila
dosis oral sianida mencapai 100mg. Kematian disebabkan karena berhentinya system pernafan
pusat, biasanya terjadi dalam waktu tidak lebih dari satu jam.
Keracunan hydrogen sulfide (H2S), suatu inhibitor sitokrom oksiddaseyang kuat.
Keracunan seperti ini seringkali terjadi karena semburan gas didaerah pemboran minyak dan gas
bumi. Gejala keracunan dan akibatnya sama saja dengan halnya sianida, hanya dalam hal sulfide
ini terjadi iritasi pada mata dan paru-paru, sehingga terjadi edema paru-paru (William and
Burson 1985).
Gejla Klinis Hematoksik :
edema, perdarahan lokal ,
dapat disertai nyeri setempat
demam , mual , muntah ,
pingsan ,kelemahan , nadi cepat dan lemah ,
kejang , gangguan pernafasan
2.8 Sistemik
18

Keracunan sistemik adalah keracunan yang mengenai seluruh badan, jadi tidak organ
spesifik. Penyebabnya banyak yang antara lain adalah Pb, Cd, Hg, Va, P, Bo, Ti, TEL. dapat
dipahami bahwa terjadinya keracunan sistemik dapat menyerupai keracunan organ spesifik,
seperti logam berat timah hitam dan merkuri . oleh karena itu gejala seperti ini saja akan
menyulitkan diagnose.

BAB 111
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Toksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari efek merugikan dari
bahan kimia terhadap organisme hidup. Setiap orang yang berhubungan
dengan zat kimia harus membuat anggap sama seperti Paracelsus, yaitu
bahwa semua zat kimia beracun apabila tidak ditangani dengan baik maka
dengan sendirinya akan memberika efek racun dan potensi bahaya terhadap
makhluk hidup dan lingkungannya.

3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah
selanjutnya bias lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.

19

DAFTAR PUSTAKA

Cotton dan Wilkinson . 2009 . Kimia Anorganik Dasar . Jakarta : UI-Press


Darmono . 2006 . Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya Dengan
Toksikologi Seyawa Logam . Jakarta . UI-Press
Darmono . 2009 . Farmasi Forensik dan Toksikologi . Jakarta : UI-Press
Alifia, U, 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. Semarang: PT Bengawan Ilmu.
Darmono, 2009. Farmasi Forensik dan Toksikologi. Jakarta: UI Press.
Munim Idries, Abdul. 2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto.
Munim Idries. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa Aksara

20

Nelwan, Denny 2010. Bahan Ajar Toksikologi Dasar. Manado

21