Anda di halaman 1dari 4

Bila Cinta Harus Memilih

Oleh: Sigit Nur Setiyawan


Bel masuk sekolah membuat suasana menjadi ramai, sebagian anak-anak kelas 2 B
mempersiapkan catatan kecil yang ditulis di meja untuk nyontek karena konon kabarnya
pagi itu akan diadakan ulangan matematika Pak Budi yang super killer itu. Tetapi sebagian
yang lain seperti tidak takut akan adanya ulangan matematika, malahan mereka pada
ngerumpi masalah aktual seputar film, hiburan dan terutama cowok dan cewek mereka.
Wawan salah satu makhluk penghuni kelas 2 B yang termasuk anak yang rajin dan selalu
dapat ringking itu kelihatan santai kayak tidak akan terjadi apa-apa saja pagi itu. Dia
malah sedang asyik mencorat-coret buku tulisnya dengan beberapa huruf yang dirangkai
menjadi sebuah nama. Ya mungkin dialah nama yang menjadi pujaan hati Wawan. Ya
Anggi nama gadis imut-imut bendahara Rohis yang terkenal ulet dan pantang menyerah
dan berpenampilan cool itu ternyata telah berhasil mengisi renung hati Wawan.
"Kamu sungguh manis Nggi, manis orangnya dan manis kepribadiannya" gumam Wawan
dalam hati.
"Anggi, andai saja kau tau perasaanku padamu, apakah kamu akan menerimanya?"
Wawan terus-menghayal tanpa memperhatikan Pak Budi yang sudah berdiri di depan pintu
Kelas 2 B.
Lamunan Wawan pada pagi itu mendadak menjadi hilang ketika Pak Budi The Killer Man itu
datang ke kelas dan membagikan soal ulangan harian.
Ya pagi yang berat telah dilalui oleh naka-anak kelas 2 B SMU Biru itu. Rasa lega dan
gembira dilukiskan dengan berbagai ekspresi. Ada yang meloncat kegirangan dan ada
yang biasa-biasa saja termasuk Wawan. Ulangan itu ternyata tidak menggoyahkan
konsentrasinya tuk ngebayangin wajah nan manis dengan kedua lesung di pipi ketika
tersenyum. Bel istirahatpun berbunyi. Anak-anak pada bubar berhamburan di halaman.
Ada yang segera ke kantin tuk memberi makan ayam yang di piara di perut yang sudah
dari tadi berkokok terus meminta jatah makan pagi itu. Tetapi ada sebagian yang malahan
pergi ke musholla tuk sholet Duha. Wawan, Indar, Paras dan Taufiq adalah sebuah gank
anak Rohis yang keliatan kompak banget. Kalau istirahat pertama gank itu saling berebut
shof pertama tuk sholet duha. Begitu juga halnya dengan Anggi sang idola di Rohis itu,
juga hadir tuk njalanin sholat duha. Seperti biasa setelah sholat, makhluk penghuni
musholla itu tidak langsung pulang ke kelas masing-masing, mereka biasa ngetam di
Perpus musholla tuk ngejaga buku, kali aja ada yang mo pinjam atau mo ngembalikan
buku perpustakaan rohis.
Sembari jaga ternyata mata Wawan yangudah terkenal dengan sebutan mata elang itu
mengawasi gerak-gerik Anggi dengan senyum yang begitu mempesona yang sedang asik
bercerita didepan ruang Rohis yang kebetulan memang jadi satu dengan Mushooal itu.
Anggi mungkin tidak menyadari kalau dia sedang diawasi oleh cowok keren Ketua Rohis
SMU Biru itu.
"Anggi-Anggi, kenapa aku tidak berani ngungkapkan isi hati ini pada dirimu ya Nggi????"
lamunan Wawan seolah tak percaya akan nasib yang dialaminya.
"Nha!!!!, mikirin siapa hayooo??!!!!" sapa Paras secara tiba tiba sehingga membikin
Wawan jadi terperanjat dari duduknya.
" Salam dulu kek, jangan main sentak donk.kayak gak pernah ikut pengajian aja!!!"
Wawan nerocos memprotes perlakuak sohibnya yang paling setia itu.
"Baru melamunin Anggi ya.?" Tebak Paras membut Wawan tersentak.
"Yeeee siapa yang baru ngelamunin orang, wong kita tadi baru ngelamunin ummat Islam
kok pada loyo , eeee dikira melamunin orang" bela Wawan seolah gak mau kalau
sohibnya itu ikut terlibat dalam persoalan yangsatu ini.
" Ah jangan gitu Wan, aku tau kok kamu suka ama Anggi, kan aku gak sengaja pernah
baca buku kamu yang ada coretan-coretan tinta pink nama Anggi pas aku pinjam buku
Fisika kemarin" Paras njelasin ke Wawan.
Seketika itu Wawan tak bisa berkutik, soalnya rahasia yangselama ini ia pendam ternyata
diketahui oleh Paras sang sohib yang perhatian banget apa dia.
"Eh Ras! Akupercaya kamu bisa nyimpen rahasia ini, soalnya aku belum serani tuk
ungkapkan cinta ke Anggi, takut nih" minta Wawan seolah agak memaksa.
"Beres Wan< jamin aman deh." Jawab Paras meyakinkan Wawan.
Akhirnya tak terasa bel masuk pun berbunyi, mereka bergegas kembali meninggalkan
Musholla ke kelas masing-masing. Tapi kayaknya ada yang gak beres, soalnya baju

belakang Wawan keliatan gak rapi, padahal Wawan terkenal anak yang rapi banget di SMU
Biru itu. Akhirnya dia bergegas menuju kamar kecil sebelah utara musholla. Tetapi sayang
didalam ada orang yang pakai. Wawan menunggu beberapa lama, dan akhirnya.
"Klek" bunyi pintu kamar mandi itu terbuka.
Tak lama kemudian muncullah sesosok tubuh yang tidak asing lagi bagi Wawan. Y, Anggi
keluar ruangan itu dengan melemparkan senyuman khasnya yang membuat jantung
Wawan berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Serrrr. DakDikDuk."begitu mungkin suasana jantung Wawan melihat senyum Anggi
dengan begitu manis.
"Kok belon masuk Wan, kan udah bel.??" Tanya Anggi
" Iy iy iyya, Nggi, Maklum baju belakang keluar nih, takut entar gak lkeliatan rapi" jawab
Wawan agak gerogi
"Ooo, gitu ya.. Ya udah duluan yaAsalamualaikum" Pamit Anggi smbil melempar senyum
mautnya kembali kepada Wawan yang membuat Wawan jadi salah tingkah kembali.
"Waalaikum salam" sahut Wawan.
Hampir dua bulan Wawan memendam rasa ke Anggi, tetapi tidak berani
mengungkapkannya. Dia hanya bisa curhat ke Paras kalau dia itu cinta ama Anggi, tapi
gak berani ngungkapin ke Anggi. Ya tanggal 31 Maret 2001, Wawan mengetahui bahwa
hari itu adalah hari spesial bagi Anggi, ya hari Ulang tahun yang ke 17, Wawan berpikir
keras tuk ngungkapin rasa cintanya secara non verbal. Yaitu dengan hadiah di hari spesial
itu. Wawan meminta pendapat ke Paras, soal hadiah apa yang cocok diberikan ke Anggi
tuk hadiah Ultahnya.
"mo kasih apa ya Ras????" tanya wawan minta pendapat Paras.
" kasih bunga aja, biar romantis!" jawab Paras
"gak ah, takut gak ada manfaatnya, gimana kalau aku berikan Khimar?" Wawan minta
pendapat ke Paras
"wah, hebat kamu Wan, bagu banget tuh" Paras mendukung
"Tapi Pas" Wawan Menyela.
"Aku gak berani ngasihkan ke dia, tolongin aku ya kan kamu temen setia aku! Ya ras ya
Please!!!!!!" Rengek Wawan seolah memaksa paras tuk menurutinya.
"Wah kok aku sih, mapa gak kamu sebndiri aja yang nyampaiin, kan yang suka ama dia
kan kamu kok suruh aku sih?" ledek Paras.
"Iya deh Wan, jangan kuatirpasti aku sampaiin ke dia"Jawaban Paras melegakan.
Pagi yang cerah dia awal bulan April. Seperti biasaanak-anak pada berkerumun ke gank
nya masing-masing. Termasuk Wawan yang udah ngetam ama Paras di taman Sekolah
depan kelas 2 B. temapembicaraanyynya apa lagi kalu enggak masalah Anggi. Tetapi
pembicaraan mereka terhenti sejenak karena ada sesosok tubuh berjalan dihadapan
mereka. Ya Anggi berjalan dengan lamem menuju kelas 2 A.
"Subkhanallah, Ras itu khimar yang kemarin aku kasih ke dia" ucap Wawan seolah
enggak percaya akan apa yang ia saksikan.
"Haa.. yang beber Wan?" tanya Paras
"Iya, beneritu yang aku kasih ke AnggiSubkhanallah, tau berterimakasih bener
dia.."gumam Wawan
"Wah beruntung kamu Wan, berarti hadiah kamu special baginya" ledek paras.
Kedua sahabat itu masih enggak percaya akan perlakuan Anggi pada pagi itu yang
membuat Wawan seperti diatas angin.
Bel istirahatpun tiba. Seperti biasa gank rohis itu pergi ke musholla tuk ngejalanin sholet
duha. Tetapi entah mengapa Anggi udah duluan sebelum bel tadi ke musholla. Entah apa
yang dilakukan Anggi di musholla itu, tetapi perlakuannya tidak begitu digubris oleh anakanak lainnya. Mereka sholet seperti biasanya. Dan sudah menjadi kebiasaan juga sehabis
sholet ya 5 menitan-lah anak-anak pada istirahat sambil nongkrong di ruang rohis
disebelah selatan musholla. Pas mo balik ke kelas karena udah bel. Wawan menemukan
sepucuk surat yangditujukan kepadanya dilaci yang biasa tuk nyimpan pecinya kalau mau
masuk kelas. Ya sebuah surat dengan sampul biru muda dengan tulisan yang sudah tidak
asing lagi bagi Wawan.
"Hah surat dari Anggi????" batin wawan seolah gak percaya

"Eh Wan surat dari siap tuh?" tanya Paras pingin tau
"Dari Anggi"jawab Wawan..
"Kok jadi berdebar gini ya Ras"sahut Wawan sedikit gerogi.
" Udah lah Wan, jangan terlalu dipikirin berat-berat. Lagian udah bel tuh" nasehat paras
sambil mengajak sohibnya itu masuk ke kelas.
Tetapi langkah mereka berdua tidak semulus yang ia duga. Mereka dihadang oleh sesosok
tubuh yang kini sedang mengisi renung hati Wawan. Ya Anggi. Anggi menghadang
perjalanan mereka. Biasa sebelum dia mengucapin kata-kata, Anggi menebarkan senyum
yang begitu mempesona.
"Wah, makashi banget ya Wan yaenggak ada hadiah sebagus yang udah Wawan sampain
ke Anggi, sekali lagi makasih ya." Kata Anggi sembari meneber senyum kembali
membuat hati Wawan berontak.
"iya deh Nggi, selamat Ulang tahun ya" jawan Wawan
"makasih lhoEh udah dibaca Surat Anggi?" tanya Anggi.
"Belon, mungkin nanti siang aja ba'da sholat Duhur" jawab Wawan
"Iya deh. Anggi tunggu ta jawabannya" Jawab Anggi
"Insya Allah, Nggi" Jawaban Wawan meyakinkan.
Setelah Anggi pergi, paras yang dari tadi cuman dijadiin obat nyamuk protes.
"Busyet kamu Wan, kalau udah ketemu ama yang cocok gak inget ama temen kambali"
protes Paras
"Sory deh Ras, habis mo gimana lagi?"jawab Wawan
Setelah Anggi pergi, paras yang dari tadi cuman dijadiin obat nyamuk protes.
"Busyet kamu Wan, kalau udah ketemu ama yang cocok gak inget ama temen kambali"
protes Paras
"Sory deh Ras, habis mo gimana lagi?"jawab Wawan.
Kedua sahabat itu akhirnya lenyap dilorong laboratorium biologi yang mereka lewati.
Selama pelajaran berlangsung, bukannya pelajaran yang dipikirkan oleh Wawan tetapi dia
mencoba membayangkan berbagai kemungkinan isi surat Anggi siang itu. Ya, hampir 3
jam penuh dia menciummi surat bersampul biru muda itu dengan penuh perasaan. 3 jam
bagi Wawan amatlah lama dan membosankan. Tanpa sadar ia kembali terhanyud dalam
lamunan yang memang membuat bibirnya senyam-senyum sendiri. Walaupun begitu dia
masih bisa nyembunyiin ketergelisahannya itu sehingga tidak sempat menjadikan
perhatian Pak Pardjo yang sedang mengajar Momen Gaya. Dan bel yang begitu indah pun
terdengan dengan diiringi jerat jerit anak-anak SMU Biru itu. Rasa lega dan bimbang
menyelimuti perasaan Wawan yang sudah sejak dari tadi tidak bisa konsentrasi kepada
pelajaran dari guru-guru yang mengajar. Ia bergegas menunaikan sholet duhur dengan
berjamaah di musholla sekolah. Setelah cukup berdoa dan berdzikir Wawan segera
bergegas menuju ruangan Rohis yang menang sudah mulai rame dengan anak-anak kelas
1 dan 2 yang sedang asyik membaca buku perpustakaan. Tanpa diketahui oleh merek,
Wawan berhasil mengambil sepucuk surat yang memang sudah menjadikannya gak lagi
bisa berfikir jernih. Ya surat dari Anggi. Ia segera menuju gudang musholla yang memang
dia yang memiliki kuncinya dan segera membaca surat itu. Tak ketinggalan Paras yang
sudah dari tadi menyertai Wawan ikut menyimaknya.
"Assalamualaikum Wr. Wb.
Untuk Akhi Wawan yang Dirohmati Allah
Sebelumnya Anggi mengucapkan terima kasih banyak kepada Akhi Wawan yang udah
memberikan perhatian lebih kepada Anggi. Anggi merasa bahwa hidup ini adalah
perjuangan. Siapa yang mau berjuang dialah yang akan mendapatkan sesuatu yang ia
impikan. Akhi Wawan. Anggi sebenarnya mengerti bahwa akhi Wawan menyukai Anggi.
Perlu diketahui sajasebenarnya Anggi juga gak bisa menmbohongi hati Anggi sendiri
bahwa Anggi juga menyukai Wawanya memang suka tak harus memiliki. Mungkin Akhi
Wawan bisa faham maksud hati Anggi.Teruslah berjuang tuk mengapai cinta..
Wassalamualaikum Wr Wb
Anggi"
Itulah surat yang diberikan Anggi kepada Wawan. Singkat, Padat dan penuh dengan
makna.
"Wah gimana nih Ras???" tanya Wawan seolah gak percaya.

" Lho kok gimana sih, nha ini kan tyang sebenarnya kamu inginkan." Ledek Paras.
"Serius atuh!!!, Wawan butuh pendapat nih." Rengek Wawan
" kalau aku sih ya ungkapin aja ama dia." Jawab Paras.
Diskusi singkat itu akhirnya membuahkan keputusan yang bulat. Ya sebelum bel masuk
wawan akan ungkapkan isi hati Wawan kepada Anggi.
Memang hari itu keberuntungan wawan. Belum juga dia nyari Anggi, eee Anggi-nya udah
nongol di depan musholla. Kontan aja wajah Wawan jadi berseri-seri dan akhirnya dia
mengejar tuk mendapatkan kepastian hidup.
"Ngi! Aku pingin ngomong nih."
"Apa Wanyang tadi ya..?" jawab Anggi.
"Iya" jawab wawan
"Gimana Nggi' Sumpah deh aku cinta mati ama kamubener .terimalah cintaku ini ya
Nggi!" Rengek wawan.
"Wah gimana yabenarnya Anggi belum berani tuk mengatakannya tapi apa boleh buiat
anggi juga cinta kok ama wawan."ungkapan yang begitu indah terdenganr dari mulut
Anggi seolah-olah telah mampu menghancurkan kebekuan hati Wawan selama ini.
Seiring dengan waktu dan seiring dengan perkembangan situasi kedua pasangan serasi
Rohis SMU Biru itu semakin dekat aja. Walaupun mereka melakukan aktifitas pacaran
tetapi tetap tidak diketahui oleh teman-temannya. Ya karena mereka adalah anak-anak
Rohis. Wawan adalah ketua dan Anggi adalah Bendahara. Jadi ketika kedua pasangan itu
bercakap-cakap dianggap oleh teman-temannya adalah koordinasi kegiatan.
Ya genap sudah 4 bulan mereka berpacaran tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali Paras.
Sudah menjadi kebiasaan ketika cawu 3 Rohis SMU Biru mengadakan sarasehan mengenai
pelajar dan masalah lain yang menyangkut langsung dalam dunia pelajar.
"Gimana Fik, udah kelar bigraundnya?" tanya Wawan dalam sebuah rapat pengecekan
akhir.
"udah kok Wan.tapi ada yang belon beres nihmengenai moderator tuk acara besok.."
"jadi gimana sudah ada belonkalau belon ada Wawan juga bisa kok jadi moderator"
tawaran Wawan, serius
"bener Wan..apa gak aneh entar?" Tanggapan Taufik
"Lho kok aneh sih..emang kalau dah jadi ketua gak boleh jadi moderator ya, enak
aja..kalau gitu mendingan gak usah jadi ketuayeeee" Sahut Wawan penuh semangat.
Akhirnya acara sarasehanpun diadakan. Dengan dihadiri oleh hampir seratus orang siswa
SMU Biru dan beberapa guru yang memang diundang oleh pihak panitia. Temanya pun
tidak tanggung-tanggung. YaPeran pelajar dalam mengubah dunia". Walaupun temanga
agak berat tetapi karena yang membawakan sarasehan itu adalah ustadz yang agak gaul
jadi para peserta bisa menangkap dengan baik. Bahkan karena merasa cocok beberapa
siswa menginginkan ada follow up dari kegiatan itu. Dan Rohispun mengsepakati. Setelah
disepakati oleh Mas Ardiansyah ustadz gaul yang belakangan mulai naik daun namanya itu
akhirnya setiap pekannya akan mengisi kajian Rohis. Hari Rabu siang jam 14.00 WIB.
Seiring dengan berjalannya pengajian yang mulai membahas tema-tema cinta dan
pacaran. Sedikit banyak Wawanyang memang sedang ada "main' dengan bendahara Rohis
ini mengalami kegelisahan batin. Antara mencintai nya (Anggi) dengan mencintai-Nya.
Tetapi seiring dengan waktu akhirnya pemahaman mereka telah menuntun kepada jalan
yang benar. Akhirnya merekapun kemudian saling menjauh walaupun sebenarnya dekat.
Dan saling mendekat walaupun mereka jauh. Ya akhirnya mereka lebih mencintai Allah
dari pada mencintai sesama makhluknya
Ya Bila Cinta harus Memilihmaka kan ku pilih tuk mencintai-Nya.