Anda di halaman 1dari 9

1.

Identitas

: Nur Aini, S.H.


146010100111001

Untuk

: U.P. IBU. SUPRIYATI ( manager personalia PT. Bangun


Usaha Maju )

Pokok masalah

: Terjadinya PHK sepihak terhadap Nur Faizah selaku buruh


di PT. Bangun Usaha Maju

Tanggal

: 13 Juni 2015

2. Legal Issue
a. Bahwa pada tanggal 12 Januari 2015 sebagian pekerja PT. BANGUN USAHA
MAJU membentuk serikat pekerja / serikat buruh ( SP/SB ) dengan tujuan ada
wakil pekerja ketika berkomunikasi dengan perusahaan (berita acara
terlampir). Maka bergabunglah dengan FSBDSI Kabupaten / Kota Bogor.
b. Bahwa setelah terbentuknya kepengurusan pada tanggal 13 Januari 2015 turun
surat Keputusan Dewan Perwakilan Cabang Federasi Serikat Buruh
Demokrasi Seluruh Indonesia (DPC-FSBDSI) Kabupaten / Kota Bogor,
dengan

nomor

keputusan:

KEP

./002/DPC-FSBDSI/I/2015,

tentang

pengukuhan komposisi dan personalia Pimpina Basis Federasi Serikat Buruh


Demokrasi Seluruh Indonesia (PB-FSBDSI).
c. Pada tanggal 9 Februari 2015 Jam 16.00. WIB pihak management Ibu
Supriyati melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak terhadap 5
orang Buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja / serikat buruh FSBDSI
beserta ketua Basis dengan alasan habis kontrak kerjanya. Hari berikutnya
pada tanggal 10 Februari 2015 Jam 00.00. WIB pihak management memutus

hubungan kerja (PHK) sepihak lagi terhadap 4 orang Buruh yang tergabung
dalam Serikat Pekerja FSBDSI.
d. Bahwa dengan demikian PHK sepihak yang dilakukan oleh Perusahaan
terhadap menjadi 9 (Sembilan) orang buruh Yang tergabung dalam Serikat
Pekerja FSBDSI.
e. Bahwa pada tanggal 11 Februari 2015 karyawan yang di putus hubungan
kerjanya mencoba untuk masuk kerja kembali. Akan tetapi perusahaan
menolak dengan alasan telah habis masa kontrak kerjanya. Terhadap hal
tersebut pada hari itu juga PB-FSBDSI PT. Bangun Usaha Maju melayangkan
surat pemberitahuan aksi mogok kerja yang dikarenakan perusahaan menolak
untuk menyeselsaikan secara musyawarah.
f. Bahwa pada tanggal 18 Februari 2015 aeluruh anggota FSBDSI PT. Bangun
Usaha Maju melakukan aksi mogok kerja sesuai surat intruksi PBFSBDSI yang dilayangkan sebelumnya. Selama aksi 10 (sepuluh) hari PBFSBDSI mencoba untuk melakukan penyelesaian secara musyawarah mufakat
akan tetapi tidak adanya itikad baik dari Pihak managemen yang mengarah ke
penyelesaian perselisihan.
g. Bahwa pada tanggal 26 Februari 2015 PB-FSBDSI mencoba untuk
menyelesaikan secara musyawarah di perusahaan dan menghasilkan
kompensasi dengan nominal yang sangat tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan ketenagakerjaan
h. Bahwa pada tangal 27 Februari PB-FSBDSI melakukan perundingan kembali
dengan pihak perusahaan dan menghasilkan Kesepakatan Bersama dengan

adanya kesepakatan tersebut perselisihan Pemutusan hubungan Kerja (PHK)


selesai dengan cara musyawarah mufakat.
i. Bahwa setelah di putus hubungan kerjanya para pengurus yang di sepakati
pada tanggal 27 Februari 2015 PB-FSBDSI mengadakan pertemuan untuk
MUBAS (Musyawarah Basis) kepengurusan PB-FSBDSI PT. Bangun Usaha
Maju dan terpilihlah ketua serikat baru yang bernama Nur Faizah sesuai
AD/ART serikat pekerja itu sendiri. Pada tanggal 02 Maret 2015 PB-FSBDSI
melayangkan surat pemberitahuan perubahan susunan kepengurusan PBFSBDSI PT. Bangun Usaha Maju yang baru.
j. Bahwa pada tanggal 25 Maret 2015 pukul.22.00 WIB Sdri.Nur Faizah selaku
ketua PB-FSBDSI PT. Bangun Usaha Maju di panggil oleh Ibu Supriyati
( Manager Personalia ) untuk menyampaikan pemberitahuan Pemutusan
Hubungan Kerja ( PHK ) sepihak secara lisan.
k. Bahwa pada tanggal 26 Maret 2015 PB-FSBDSI melayangkan surat
permohonan penyelesaian perselisihan tehadap Sdri.Nur Faizah sebagai
karyawan dan sebagai Pimpinan/Ketua Basis, karna Sdri. Nur Faizah akan di
PHK pada tanggal 1 April 2015.
l. Bahwa pada tanggal 27 Maret 2015 pukul. 06.50. WIB, Sdri. Nur Faizah
selaku ketua PB-FSBDSI PT. Bangun Usaha Maju di panggil kembali dan
perusahaan bersikeras untuk memPHK serta menawarkan uang kompensasi
sebesar Rp.1.000.000,- akan tetapi Sdri. Nur Faizah menolaknya karena
PKWT yang ada telah batal demi hukum menjadi PKWTT.Melalui sms
perusahaan menawarkan kembali nominal kompensasi sebesar Rp.2.500.000,-

3. Jawaban sementara
Dalam kasus pemutusan hubungan kerja secara sepihak di PT. Bangun Usaha
Maju menurut saya musyawarah mufakat merupakan penyelesaian yang paling
optimal, dikarenakan sebenarnya baik perusahaan maupun buruh masih
membutuhkan satu sama lainnya.

4. Statement of fact
Melihat dalam duduk perkara di atas, maka terjadi perbuatan melawan hukum
yang disebabkan adanya pelanggaran mencoba menghalang-halangi pekerja untuk
membentuk, menjadi dan menjalankan organisasi serikat pekerja/serikat buruh
yang dimana menimbulkan :
a. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang bertentangan dengan hukum.
b. Perjanjian kerja waktu tertentu serta adanya harian lepas di PT. Bangun Usaha
Maju bertentangan dengan undang-undang ketenagakerjaan.
c. Mangemen PT. Bangun Usaha Maju dalam hal menerima serikat
pekerja/serikat buruh di perusahaannya tidak bisa menerima keberadaan
serikat pekerja/serikat buruh dengan baik. Disini bertentangan dengan amanah
undang-undang serikat pekerja/serikat buruh.
d. Managemen PT. Bangun Usaha Maju dalam hal tidak patuhnya terhadap
hukum ketentuan serta undang-undang yang berlaku dan tidak adanya itikad
baik terhadap penyelesaian perselisihan yang terjadi akibat dari ketidak
taatannya terhadap hukum adalah bertentangan dengan kepatutan yang harus
di indahkan dalam ketenagakerjaan.

5. Analisis Pembahasan
Melihat beberapa hal mengenai hal tersebut. Maka yang dilakukan oleh PT.
Bangun Usaha Maju termasuk perbuatan melawan hukum undang-undang
Ketenagakerjaan nomor 13 Tahun 2003 sebagai mana dalam pasal 4 Pembangunan
ketenagakerjaan bertujuan :
a. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan
manusiawi;
b. Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang
sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah;
c. Memberikan

perlindungan

kepada

tenaga

kerja

dalam

mewujudkan

kesejahteraan; dan
d. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.
Berkaitan dengan pasal tersebut diatas dalam memberdayakan tenagakerja
harusalah disertai dengan jaminan keberlagsungan hidup yang layak terhadap
pekerja beserta keluarganya dengan menjalankan seluruh aturan hukum
ketenagakerjaan.
PT. Bangun Usaha Maju dalam perjanjian kerja yang dibuat bersama
pekerjanya haruslah melihat pasal 59 yang berbunyi:
(1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan
tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai
dalam waktu tertentu, yaitu :
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu
lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;

c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau


d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau
produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
(2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan
yang bersifat tetap.
(3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui.
(4) Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu
dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang
1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.
(5) Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah
melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja
waktu tertentu yang lama, pembaruan.
(6) perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan
paling lama 2 (dua) tahun.
(7) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6)
maka demi hokum menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu.
Berkenaan

dengan

pasal

tersebut

sistem

Parjanjian

Kerja

Waktu

Tertentu (PKWT)harus melihat jenis dan sifat pekerjaanya apabila bila jenis dan
sifatnya bisa memenuhi untuk memakai sistem perjanjian kerja waktu tertentu,
maka pakailah sistem PKWT yang benar sesuai ketentuan pasal 59 undangundang nomor 13 tahun 2003. Berkenaan dengan hal perjanjian kontrak kerja
yang terjadi di PT. Bangun Usaha Maju yang di awali dengan adanya harian lepas
jelas disini adanya masa percobaan maka dalam hal ini masuk pada pasal 58 ayat

(1) junto ayat (2) dimana status pekerja berubah status hubungan kerjanya menjadi
pekerja tetap. Berkaitan dengan status pekerja sebagai pekerja tetap maka terhadap
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan alasan habisnya masa perjanjian
kontrak kerja sangatlah tidak berdasarkan hukum, meski perusahaan telah
mengeluarkan uang kompensasi terhadap pekerja yang di PHK dengan alasan
habis masa kontrak kerja, tetap disini perusahaan telah melakukan perbuatan
melawan hukum karena terhadap Pemutusan Hubungan Kerja hanya dapat
dilakukan setelah melalui mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan
industrial melalui putusan majelis hakim. Dalam hal penyelesaian perselisihan
hubungan industrial yang dilakukan oleh managemen PT. Bangun Usaha Maju
tidak sesuai dengan amanah undang-undang PPHI nomor 02 tahun 2004.
Dalam undang-undang ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 mengatur
mengenai pemutusan hubungan kerja yaitu pasal 150, pasal 151, pasal 152 dan
junto di pasal 155. Bahwa terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tidak
melalui pengadilan hubungan industrial batal demi hukum. Terhadap batalnya
pemutusan hubungan kerja tersebut maka sesuai pasal 155 ayat (2) dan ayat (3)
dimana sebelum adanya keputusan yang inkrah dari pengadilan kedua belah pihak
harus menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing. Apabila pekerja ingin
menjalankan kewajibannya sebagai pekerja untuk bekerja di PT. Bangun Usaha
Maju, akan tetapi perusahaan tidak mau mempekerjakannya maka perusahan
wajib membayar upah kerjanya sampai di tetapkannya hukum yang inkrah dari
pengadilan sebagaimana tercantum dalam pasal 93 ayat (2) huruf (f).
Dalam hal pemutusan hubungan kerja yang dilakukan managemen PT.
Bangun

Usaha

Maju

terhadap

Nur

Faizah

yang

merupakan

sebagai

pimpinan/ketua serikat pekerja/serikat buruh di PT. Bangun Usaha Maju sangatlah


tidak sepantasnya terjadi dimana Sdri tersebut merupakan pimpinan organisasi
dimana hak dan kewajibannya telah dilindungi oleh undang-undang serikat
pekerja nomor 21 tahun 2000 pasal 28 yang berbunyi Siapapun dilarang
menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak
membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota
atau tidak menjadi anggota dan/atau menjalankan atau tidak menjalankan
kegiatan serikat pekerja/serikat buruh dengan cara:
a.

melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara,

menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi;


b.

tidak membayar atau mengurangi upah pekerja/buruh;

c.

melakukan intimidasi dalam bentuk apapun;

d.

melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja/serikat buruh.

Dimana pemutusan hubungan kerja terhadap Sdri Nur Faizah bisa dimasukan
terhadap upaya pemberangusan serikat pekerja/serikat buruh, terhadap ini jelas
dalam pasal 43 termasuk tindak pidana kejahatan
Berkenaan dengan perselisihan yang terjadi di PT. Bangun Usaha
Maju bahwa tidak adanya upaya untuk memperbaiki, mengakui kesalahan yang
telah terjadi serta tidak adanya upaya untuk menyelesaikan perselisihan yang
sesuai dengan amanah undang-undang nomor 2 tahun 2004 tentang penyelesaian
perdelisihan hubungan industrial.

6. Kesimpulan

Dalam penyelesaian perselisihan yang terjadi di PT. Bangun Usaha Maju


musyawarah mufakat merupakan penyelesaian yang paling optimal dilaksanakan
sebagaimana amanah undang-undang PPHI nomor 02 tahun 2004 serta undangundang nomor 13 tahun 2003 pasal 151. Karena antara pekerja dengan pengusaha
masih

membutuhkan

keberlangsungan

produksi

untuk

pengusaha

serta

keberlangsungan hidup dengan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk pekerja.


Dengan mempekerjakan kembali pekerja yang diputus hubungan kerjanya yang
batal demi hukum akan lebih menciptakan suasana yang adil tertib serta damai
dalam perusahaan dengan menjunjung tinggi hukum serta ketentuan yang
berlaku.
7. Rekomendasi
Berdasarkan isu hukum di atas maka menurut saya telah terjadi pelanggaran
atas perjanjian kerja antara Nur Faizah selaku buruh dan PT. Bangun Usaha Maju
selaku perusahaaan. Hal ini sesuai dengan dasar hukum undang-undang PPHI
nomor 02 tahun 2004 serta undang-undang nomor 13 tahun 2003 pasal 151. Dan
PT Bangun Usaha Maju berkewajiban Memikirkan keberlangsungan hidup dari
para pekerja yang di-PHK.