Anda di halaman 1dari 12

REFERAT INTERNA

HIPERTIROID

Disusun oleh :
Marina Gusti Ayu 07700144

Pembimbing :
Dr. Moch. Izza, Sp.PD

SMF ILMU PENYAKIT DALAM


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SIDOARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
rahmat dan karunia-Nya lah saya mampu menyelesaikan tugas referat yang berjudul
Hipertiroid. Referat ini diajukan untuk memenuhi tugas dalam rangka menjalani
kepaniteraan klinik di SMF Ilmu Penyakit Dalam di Rumah Sakit Daerah Sidoarjo. Pada
kesempatan ini saya hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada dr.Moch.Izza,
Sp.PD selaku dokter pembimbing referat di SMF Ilmu Penyakit Dalam di Rumah Sakit
Daerah Sidoarjo.
Demikian karya tulis ini masih banyak kekurangan oleh karena itu besar harapan
saya atas kritik serta saran. Semoga referat ini dapat bermanfaat untuk dokter muda yang
melaksanakan kepaniteraan klinik pada khususnya, serta pembaca pada umumnya. Akhir
kata ijinkan saya mengucapkan terima kasih.

Sidoarjo, 14 Agustus 2013


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI
BAB I.

............................................................................................................... ii

PENDAHULUAN.......................................................................................... 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 2


2.1

Definisi.................................................................................................. 2

2.2

Etiologi.................................................................................................. 2

2.3

Patofisiologi.......................................................................................... 4

2.4

Manifestasi Klinis................................................................................. 4

2.5

Pemeriksaan Penunjang........................................................................ 6

2.6

Pengobatan............................................................................................ 6

2.7

Komplikasi............................................................................................ 7

2.8

Prognosis............................................................................................... 7

BAB III. KESIMPULAN.............................................................................................. 8


DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 9

ii

BAB I
PENDAHULUAN
Hipertiroid adalah respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik
hormon tiroid yang berlebihan. Bentuk yang umum dari masalah ini adalah penyakit
graves,sedangkan bentuk yang lain adalah toksik adenoma , tumor kelenjar hipofisis yang
menimbulkan sekresi TSH meningkat,tiroditis subkutan dan berbagai bentuk kanker
tiroid.
Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves, yaitu suatu
penyakit tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan
hormone yang berlebihan. Pada penyakit hipertiroidisme atau hipertiroid memerlukan
asuhan keperawatan yang komprehensif karena disamping faktor efek penyakit itu sendiri
biasanya terdapat pula kondisi stress psikologi.
Hipertiroidisme dapat timbul spontan atau akibat asupan hormon tiroid yang
berlebihan. Terdapat dua tipe hipertiroidisme spontan yang paling sering dijumpai yaitu
penyakit Graves dan goiter nodular toksik. Pada penyakit Graves terdapat dua kelompok
gambaran utama yaitu tiroidal dan ekstratiroidal, dan keduanya mungkin tak tampak.
Ciri-ciri tiroidal berupa goiter akibat hiperplasia kelenjar tiroid, dan hipertiroidisme
akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan. Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak
tahan panas, keringat semakin banyak bila panas, kulit lembab, berat badan menurun,
sering disertai dengan nafsu makan yang meningkat, palpitasi dan takikardi, diare, dan
kelemahan serta atropi otot. Manifestasi ekstratiroidal oftalmopati ditandai dengan mata
melotot, fisura palpebra melebar, kedipan berkurang, lig lag, dan kegagalan konvergensi.
Goiter nodular toksik, lebih sering ditemukan pada pasien lanjut usia sebagai komplikasi
goiter nodular kronik, manifestasinya lebih ringan dari penyakit Graves

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana
didapatkan kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks
fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid
berlebihan. Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi
tiroid, yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan.
Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor pencetus:
infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus, stress emosi,
penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit
serebrovaskular/stroke, palpasi tiroid terlalu kuat.
2.2 Etiologi
Hipertiroid dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Graves disease.
Graves disease adalah kelainan autoimun dimana sistem imun dalam tubuh membentuk
suatu antibodi yang disebut thyroid stimulating immunoglobulin (TSI), suatu IgG yang
dapat merangsang reseptor TSH sehingga meningkatkan pembentukan dan pelepasan T3
dan T4. Namun, berbeda dengan TSH, TSI tidak dipengaruhi oleh inhibisi umpan bailk
negatif oleh hormon tiroid sehingga sekresi dan pertumbuhan tiroid terus berlangsung. 5
Kelainan ini ditandai eksoptalmus, akibat reaksi inflamasi autoimun yang mengenai
daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokular yang memiliki reseptor yang sama
dengan TSH.6
2. Inflamasi dari kelenjar tiroid atau tiroiditis
Tiroiditis tidak menyebabkan peningkatan produksi hormon oleh kelenjar tiroid, namun
menyebabkan kebocoran penyimpanan hormon tiroid sehingga bocor dan keluar dari
kelenjar yang meradang dan meningkatkan kadar hormon tiroid di dalam darah.
3. Masukan iodine yang berlebih
Kelenjar tiroid menggunakan iodine untuk menghasilkan hormon tiroid, jadi jumlah
iodine yang dikonsumsi akan mempengaruhi jumlah hormon tiroid yang dihasilkan. Ada
beberapa obat ada yang mengandung iodine dalam jumlah relatif banyak, antara lain

amiodarone yang digunakan sebagai terapi penyakit jantung, suplemen yang mengandung
ruput laut, dan beberapa jenis sirup obat batuk.
4. Pengobatan dengan hormon tiroid sintetik
Pada penanganan pasien hipotiroid yang memakai hormon tiroid terlalu banyak dapat
menyebabkan terjadinya hipertiroiod. Pada pemakaian tiroid sintetik maka dibutuhkan
monitoring kadar tiroid paling tidak sekali dalam satu tahun. Beberapa obat juga dapat
bereaksi dengan tiroid sintetik sehingga kadar tiroid dalam darah meningkat.
5. Struma
Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid.
Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang
dibutuhkan untuk produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid
dikarenakan sebagai usaha meningkatkan hormon yang dihasilkan. Adanya struma atau
pembesaran kelenjar tiroid dapat oleh karena ukuran sel-selnya bertambah besar atau oleh
karena volume jaringan kelenjar dan sekitarnya yang bertambah dengan pembentukan
struktur morfologi baru. Pada struma dapat terjadi hipertiroid, hipotirooid, dan eutiroid.
6. Hipertiroidisme sekunder
Hipertiroidisme bisa disebabkan oleh tumor hipofisa yang menghasilkan terlalu banyak
TSH, sehingga merangsang tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan.
Penyebab lainnya adalah perlawanan hipofisa terhadap hormon tiroid, sehingga kelenjar
hipofisa menghasilkan terlalu banyak TSH.
Wanita dengan mola hidatidosa (hamil anggur) juga bisa menderita hipertiroidisme
karena perangsangan yang berlebihan terhadap kelenjar tirois akibat kadar HCG (human
chorionic gonadotropin) yang tinggi dalam darah. Jika kehamilan anggur berakhir dan
HCG tidak ditemukan lagi di dalam darah, maka hipertiroidisme akan menghilang.

2.3 Patofisiologi
Hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dibentuk di sel epitel (tirosit) yang
mengelilingi folikel kelenjar tiroid. Pembentukan dan pelepasan T3 dan T4 serta
pertumbuhan kelenjar tiroid dirangsang oleh tirotropin (TSH) dari hipofisis anterior.

Pelepasannya selanjutnya dirangsang oleh tirolibelin (TRH) dari hipotalamus. Stres dan
esterogen akan meningkatkan pelepasan TSH, sedangkan glukokortikoid, somastotatin,
dan dopamine akan menghambatnya.
Efek yang umum dari hormon tiroid adalah mengaktifkan transkripsi inti
sejumlah besar gen. Oleh karena itu, di semua sel tubuh sejumlah besar enzim protein,
protein struktural, protein transpor, dan zat lainnya akan disintesis. Hasil akhirnya adalah
peningkatan menyeluruh aktivitas fungsional di seluruh tubuh. Hormon tiroid
meningkatkan aktivitas metabolik selular dengan cara meningkatkan aktivitas dan jumlah
sel mitokondria, serta meningkatkan transpor aktif ion-ion melalui membran sel. Hormon
tiroid juga mempunyai efek yang umum juga spesifik terhadap pertumbuhan. Efek yang
penting dari fungsi ini adalah meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak selama
kehidupan janin dan beberapa tahun pertama kehidupan pascalahir. Efek hormon tiroid
pada mekanisme tubuh yang spesifik meliputi peningkatan metabolisme karbohidrat dan
lemak, peningkatan kebutuhan vitamin, meningkatkan laju metabolisme basal, dan
menurunkan

berat badan. Sedangkan efek pada sistem kardiovaskular meliputi

peningkatan aliran darah dan curah jantung, peningkatan frekuensi denyut jantung, dan
peningkatan kekuatan jantung. Efek lainnya antara lain peningkatan pernafasan,
peningkatan motilitas saluran cerna, efek merangsang pada sistem saraf pusat (SSP),
peningkatan fungsi otot, dan meningkatkan kecepatan sekresi sebagian besar kelenjar
endokrin lain.
2.4 Manifestasi klinis
Peningkatan frekuensi denyut jantung.
Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap

katekolamin.
Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran

terhadap panas, keringat berlebihan.


Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik).
Peningkatan frekuensi buang air besar.
Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid.
Gangguan reproduksi.
Tidak tahan panas.
Cepat letih.
Tanda bruit.

Haid sedikit dan tidak tetap.


Pembesaran kelenjar tiroid.
Mata melotot (exoptalmus )

Diagnosis hipertiroid dengan berdasarkan tanda dan gejala klinis dapat ditegakkan
dengan penilaian
Indeks Wayne.
Gejala Subyektif
Disneu deffort
Palpitasi
Mudah lelah
Suka pana
Suka dingin
Keringat banyak
Gugup

Angka
+1
+2
+2
-5
+5
+3
+2

Tangan basah

+1

Tangan panas
-1
Nafsu makan >>
+3
Nafsu makan <<
-3
Berat badan >>
-3
Berat badan <<
+3
Nilai:< 11 : eutiroid> 19 : hipertiroid
Table 1. Indeks Wayne

Gejala Obyektif
Tiroid teraba
Bruit pada tiroid
Eksoptalmus
Retraksi palpebra
Palpebra terlambat
Hiperkinesis
Telapak tangan
lembab
Nadi

Ada
+3
+2
+2
+2
+1
+4
+2

Tidak
-3
-2

-2
-2

< 80x/menit
> 90x/menit
Fibrilasi atrium

+3
+4

-3

11 - 18 : normal

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Diagnosa bergantung kepada beberapa hormon berikut ini :
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan
memastikan diagnosis
keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.

TSH (Tiroid Stimulating Hormone)

Bebas T4 (tiroksin)

Bebas T3 (triiodotironin)

Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultrabunyi untuk memastikan


pembesaran kelenjar tiroid

Tiroid scan untuk melihat pembesaran kelenjar tiroid

Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum

Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia


.
X Ray atau CT Scan untuk mendeteksi adanya Tumor.

2.6 Pengobatan
1. Konservatif : dengan obat-obatan
Obat hipertiroid yang sering di gunakan : Obat anti tiroid bekerja dengan
menghambat sintesis
hormon tiroid dan menghambat konversi T4 menjadi T3.
Obat
-

Karbimatol
Metimazol
Propiltiourasil

Dosis awal (mg/hari)

Pemeriksaan (mg/hari)

30 60
30 60
300 600

5 20
5 20
50 200

Obat-obatan ini umumnya diberikan sekitar 18 24 bulan.


2. Pembedahan : subtotal thyroidectomy
Indikasi operasi adalah :
a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat
antitiroid
b. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis
besar
c. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif.
d. Adenoma toksik atau strauma multinodular toksik.
3. Radioaktif : memakai iodium
Indikasi :
a. Pasien umur 35 tahun atau lebih
b. Menolak pembedahan
c. Karena kondisinya tak dapat di bedah
Pengobatan exopthalmus : bila ada,
a. Hindari iritasi pada cornea ( + salep mata )
b. Kalau perlu, kortikosteroid injeksi retro oculi dan per oral
Untuk dermopatinya : Kortikosteroid lokal dan per oral.
2.7 . Komplikasi
Komplikasi tiroid adalah suatu aktivitas yang sangat berlebihan dari kelenjar
tiroid, yang terjadi
secara tiba-tiba. Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah
krisis tirotoksik
(thyroid storm). Hal ini dapat berkernbang secara spontan pada pasien hipertiroid
yang menjalani
terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid yang
tidak terdiagnosis.

Akibatnya adalah pelepasan TH dalam jumlah yang sangat besar yang


menyebabkan takikardia,
agitasi, tremor, hipertermia (sampai 106 oF), dan, apabila tidak diobati, kematian
Penyakit jantung
Hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves, infeksi.
Komplikasitiroid bisa menyebabkan :
1. Demam, kegelisahan, perubahan suasana hati, kebingungan
2. Kelemahan dan pengisutan otot yang luar biasa
3. Perubahan kesadaran (bahkan sampai terjadi koma)
4. Pembesaran hati disertai penyakit kuning yang ringan.
2.8

Prognosis
Mortalitas krisis tiroid dengan pengobatan adekuat adalah 10-15% .
Individu dengan tes fungsi tiroid normal-tinggi, hipertiroidisme subklinis, dan
hipertiroidisme klinis akan meningkatkan risiko atrium fibrilasi. Hipertiroidisme juga
berhubungan dengan peningkatan risiko gagal jantung (6% dari pasien), yang mungkin
menjadi
sekunder
untuk
atrium
fibrilasi
atau
takikardia
yang
dimediasi cardiomyopathy.Gagal jantung biasanya reversibel bila hipertiroidisme
diterapi. Pasien dengan hipertiroidisme juga berisiko untuk hipertensi paru sekunder
peningkatan cardiac output dan penurunan resistensi vaskuler paru. Pada pasien dengan
penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya, hipertiroidisme meningkatkan risiko
kematian (rasio hazard [HR] = 1,57), dan bahkan mungkin pada pasien tanpa jantung. Hal
ini juga meningkatkan risiko stroke iskemik (HR = 1,44) antara dewasa usia 18 sampai
44 years. Hipertiroidisme tidak diobati juga berpengaruh terhadap kepadatan mineral
tulang yang rendah dan meningkatkan risiko fraktur pinggul

BAB III
KESIMPULAN

Hipertiroid merupakan keadaan / sindroma klinik karena adanya kelainan /


perubahan-perubahan fisiologis dan biokimia yang kompleks dari jaringan, sebagai akibat
kenaikan kadar hormon tiroid dalam sirkulasi. Hipertiroid disebabkan oleh beberapa hal :
Graves disease, Inflamasi dari kelenjar tiroid / tiroiditis, Masukan iodine yang berlebih,
Pengobatan dengan hormon tiroid sintetik, Struma, Hipertiroidisme sekunder.
Patofisiologi hipertiroid, Hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dibentuk di
sel epitel (tirosit) yang mengelilingi folikel kelenjar tiroid. Pembentukan dan pelepasan

T3 dan T4 serta pertumbuhan kelenjar tiroid dirangsang oleh tirotropin (TSH) dari
hipofisis anterior. Pelepasannya selanjutnya dirangsang oleh tirolibelin (TRH) dari
hipotalamus. Stres dan esterogen akan meningkatkan pelepasan TSH, sedangkan
glukokortikoid, somastotatin, dan dopamine akan menghambatnya.
Manifestasi klinis dari hipertiroid, Peningkatan frekuensi denyut jantung,
Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap katekolamin,
Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran terhadap
panas, keringat berlebihan., Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik),
Peningkatan frekuensi buang air besar, Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran
kelenjar tiroid, Gangguan reproduksi, Tidak tahan panas, Cepat letih, Tanda bruit, Haid
sedikit dan tidak tetap, Pembesaran kelenjar tiroid, Mata melotot (exoptalmus ).
Pengobatan, Konservatif : dengan obat-obatan misal Methimazole. Pembedahan :
subtotal thyroidectomy. Radioaktif : memakai iodium.

DAFTAR PUSTAKA

Djolomoeljanto R. Pengelolahan Hipotiroidisme dan Hipertiroidisme secara umum.


Naskah Lengkap Endokrinologi Klinis IV. Eds. Johan S.Mashjur dan Sri Hartini KS
Kariadi. Perkeni Bandung.2002.hal.R1

Gede Konthen, Putu, Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/ SMF Ilmu Penyakit
Dalam. Surabaya: balai penerit FK Unair. 2008. hal. 112-114.

Tjokroprawito, Askandar, Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya: Airlangga


University Press. 2007; hal. 88-89
8

http://forum.republika.co.id/showthread.php?99752-Apa-itu-Hipertiroid-BagaimanaMenagatasinya

http://www.totalkesehatananda.com/index.html

http://el-moshii.blogspot.com/2013/02/makalah-hiperthiroid_27.html

http://ciciek919istichomah.wordpress.com/2012/05/26/hipertiroid/

http://putrisayangbunda.blog.com/2010/08/29/patofisiologi-hipertiroid/

http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/04/25/hipertiroidisme/