Anda di halaman 1dari 20

Struktur Organisasi Puskesmas

Sebagai salah satu organisasi kesehatan yang fungsional, Puskesmas


mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam mewujudkan pelayanan
kesehatan yang bermutu, yaitu :
1. Sistem Kesehatan Nasional, yaitu sebagai sarana pelayanan kesehatan
(perorangan dan masyarakat) strata pertama.
2. Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota, yaitu sebagai unit pelaksana teknis dinas
yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan
kesehatan kabupaten atau kota.
3. Sistem Pemerintah Daerah, yaitu sebagai unit pelaksana teknis dinas
kesehatan kabupaten atau kota yang merupakan unit struktural pemerintah
daerah kabupaten atau kota.
4. Antar sarana pelayanan kesehatan strata pertama, yaitu sebagai mitra
pelayanan kesehatan swasta starta pertama.
5. Sebagai pembina pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat.

Menurut Endang S, Pengorganisasian Puskesmas adalah struktur organisasi


dan tata kerja Puskesmas yang merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga
pelaksanan Puskesmas. Struktur organisasi puskesmas menetapkan bagaimana tugas
akan dibagi, siapa melapor siapa, dan mekanisme koordinasi formal serta pola
interaksi yang akan diikuti.
Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolongkan, dan
mengatur Berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang,
dan pendelegasian

wewenang

oleh

pimpinan kepada

staff

dalam

rangka

mencapai tujuan organisasi. Pengorganisasian puskesmas didefenisikan sebagai


proses penetapan pekerjaan-pekerjaan pokok untuk dikerjakan, pengelompokan
pekerjaan, dan sumber-sumber daya untuk mencapai tujuan puskesmas secara efektif
dan efisien.
Secara aplikatif pengorganisasian puskesmas adalah pengaturan pegawai
puskesmas dengan mengisi struktur organisasi dan tata kerja puskesmas yang

ditetapkan oleh peraturan daerah kabupaten / kota disertai dengan pembagian tugas
dan tanggung jawab serta uraian tugas pokok dan fungsi, serta pengaturan tugas dan
sumber daya puskesmas untuk melaksanakan kegiatan dan program puskesmas
dalam rangka pencapaian tujuan puskesmas.
1. Hal yang diorganisasikan
a) Kegiatan puskesmas
Pengorganisasian kegiatan puskesmas yang dimaksud ialah pengaturan
kegiatan puskesmas yang terbentuk satu kesatuan yang terpadu yang secara
keseluruhan diarahkan untuk mencapai tujuan puskesmas yang telah ditetapkan.
b) Tenaga Pelaksanaan Puskesmas
Pengorganisasian tenaga pelaksanaan puskesmas yang dimaksud adalah
mencakup pengaturan pola struktur organisasi puskesmas, susunan personalia serta
hak dan wewenang dari setiap tenaga pelaksana puskesmas sedemikian rupa
sehingga setiap kegiatan ada penanggung jawabnya.
2. Proses pengorganisasian Puskesmas
Dilakukan melalui tiga langkah sebagai berikut:
a)

Perincian seluruh pekerjaan puskesmas yang harus dilaksanakan untuk


mencapai tujuan puskesmas.

b)

Pembagian beban pekerjaan puskesmas keseluruhan menjadi kegiatankegiatan secara logis dapat dilaksanakan oleh seorang pegawai puskesmas.

c)

Penyusunan dan pengembangan suatu mekanisme dan tata kerja puskesmas


untuk menguraikan tugas dan fungsi pegawai puskesmas menjadi kesatuan yang
terpadu dan harmonis.
3. Hasil Pengorganisasian Puskesmas
Hasil

dari

pekerjaan

pengorganisasian

tingkat

Puskesmas

adalah

terbentuknya suatu wadah yang pada dasarnya merupakan perpaduan antara kegiatan
puskesmas tersebut. Wadah yang terbentuk ini dikenal sebagai organisasi puskesmas.
Sesuai hasil penelitian di salah satu Pukesmas bahwa pengorganisasian Puskesmas
ini telah memenuhi syarat untuk membentuk pengorganisasian puskesmas dimana
2

seluruh kegiatan Puskesmas telah dirinci dan ada penanggung jawabnya. Dan telah
memenuhi unsur unsur pokok pengorganisasian puskeskmas yang terdiri dari
kegiatan puskesmas, tenaga pelaksanaan puskesmas dan pembagian tugas untuk
seluruh pegawai dan staf telah di bagi sesuai dengan pendidikan masing-masing
pegawai dan seluruh tugas yang diberikan dipertanggung jawabkan kepada kepala
puskesmas.
Struktur Organisasi Puskesmas
Struktur organisasi diperlukan guna menjamin manajemen yang efektif.
Struktur organisasi dipengaruhi oleh faktor desain pekerjaan dan desain organisasi
seperti perbedaan individu, kompetensi tugas, teknologi, strategi, dan karakteristik
pemimpin.
Adapun faktor-faktor yang menentukan perancangan struktur organisasi
Puskesmas adalah :
1.

Strategi untuk mencapai tujuan Puskesmas. Strategi akan menjelaskan


bagaimana aliran wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun diantara
pimpinan dengan pegawai Puskesmas.

2.

Ukuran organisasi Puskesmas. Besarnya organisasi Puskesmas secara


keseluruhan maupun unit-unit kerja fungsional akan mempengaruhi struktur
organisasi Puskesmas.

3.

Tingkat penggunaan teknologi, yaitu tingkat rutinitas penggunaan teknologi


oleh Puskesmas untuk memberikan jasa layanan kesehatan Puskesmas. Pada
layanan kesehatan dengan menggunakan teknologi tinggi akan memerlukan
tingkat standarisasi dan spesialisasi yang lebih tinggi dibanding dengan
pelayanan kesehatan dasar.

4.

Tingkat ketidakpastian lingkungan organisasi Puskesmas.

5.

Preferensi(kesukaan) yang menguntungkan pribadi dari individu atau


kelompok yang memegang kekuasaan dan kontrol dalam organisasi Puskesmas.

6.

Pegawai dan stakeholder dalam organisasi Puskesmas. Kemampuan dan cara


berfikir para pegawai dan stakeholderPuskesmas serta kebutuhan mereka untuk
bekerjasama harus diperhatikan dalam merancang struktur organisasi Puskesmas.

Kebutuhan pegawai dan stakeholder Puskesmas dalam pembuatan keputusan


akan mempengaruhi saluran komunikasi, wewenang dan hubungan diantara unitunit kerja fungsional
Tugas Struktur Organisasi Puskesmas :
1. Kepala Puskesmas.
Bertugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan puskesmas
yang dapat dilakukan dalam jabatan structural, dan jabatan fungsional.
2. Kepala urusan tata usaha.
Bertugas dibidang kepegawaian, keuangan perlengkapan dan surat menyurat serta
pencatatan dan pelaporan.
3. Unit I.
Bertugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana
dan perbaikan gizi.
4. Unit II.
Melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium sederhana.
5. Unit III.
Melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tenaga kerja dan
manula.
6. Unit IV.
Melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan sekolah dan
olahraga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya.
7. Unit V.
Melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya masyarakat dan
penyuluhan kesehatan masyarakat, kesehatan remaja dan dana sehat.
8. Unit VI.
Melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap
9. Unit VII.
Melaksanakan kegiatan kefarmasian.

Jaringan pelayanan, meliputi :


1) Puskesmas pembantu
Adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan bersifat menunjang dan
membantu melaksanakan kegiatan puskesmas yang ruang lingkupnya lebih kecil.
Pustu secara umum melaksanakan pelayanan di bawah puskesmas induk dengan
wilayah kerja antara 2-3 desa. Sasaran pelayanan kesehatan sekitar 2500 jiwa (untuk
luar jawa), dan 10.000 jiwa (untuk p.jawa dan bali).
2) Puskesmas keliling
Adalah salah satu kegiatan puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan
di wilayah kerjanya dengan memberikan pelayanan di daerah terpencil. Kegiatan
pusling, yaitu :
Melakukan penyelidikan kejadian luar biasa (KLB)
Sebagai alat transportasi penderita untuk rujukan.
Melakukan penyuluhan kesehatan menggunakan audio visual.

3) Bidan di Desa/komunitas.
Adalah salah satu kegiatan pelayanan kesehatan maupun penyuluhan di
desa/kelurahan oleh tenaga Bidan yang ditunjuk oleh Puskesmas Induk.
4) Posyandu
Merupakan kegiatan keterpaduan antara Puskesmas dan masyarakat di tingkat
desa yang diwujudkan dalam bentuk Pos Pelayanan Terpadu. Semula Posyandu
adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat sekaligus memperoleh
pelayanan KB dan kesehatan.
Dalam pengembangannya Posyandu dapat dibina menjadi forum komunikasi dan
pelayanan di masyarakat, antara sektor yang memadukan kegiatan pembangunan
sektoralnya dengan kegiatan masyarakat, untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam memecahkan masalah melalui alih teknologi. Satu Posyandu

sebaiknya melayani sekitar 100 balita (120 kepala keluarga), atau sesuai dengan
kemampuan petugas dan keadaan setempat.
Tujuan Posyandu :

Mempercepat penurunan angka kematian bayi, balita dan angka kelahiran.

Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera


(NKKBS).

Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk kegiatan kesehatan dan


kegiatan-kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan.

Sasaran Posyandu :

Ibu hamil berisiko tinggi

Ibu menyusui

Bayi

Balita

Pasangan Usia Subur (PUS)

Pelaksanaan Posyandu
Posyandu direncanakan dan dikembangkan oleh kader kesehatan desa
bersama Kepala Desa dan LKMD (seksi KB Kesehatan dan PKK) dengan
bimbingan Tim Pembina LKMD Tingkat Kecamatan. Penyelenggaraan dilakukan
oleh kader-kader terlatih di bidang KB-Kes, berasal dari PKK, tokoh masyarakat,
pemuda dan lain-lain dengan bimbingan Tim Pembina LKMD tingkat Kecamatan.
Posyandu dapat melayani semua anggota masyarakat, terutamaiIbu hamil, ibu
menyusui, bayi dan balita serta Pasangan Usia Subur (PUS).Posyandu sebaiknya
berada pada tempat yang mudah didatangi masyarakat dan ditentukan oleh
masyarakat sendiri. Dengan demikian kegiatan Posyandu dilaksanakan di pos
pelayanan yang telah ada, rumah penduduk, balai desa, tempat pertemuan RT/RW
atau di tempat khusus yang dibangun masyarakat

PERENCANAAN PELAYANAN DI PUSKESMAS


Langkah pertama dalam mekanisme Perencanaan Tingkat Puskesmas adalah
dengan menyusun Rencana Usulan Kegiatan yang meliputi Usulan Kegiatan Wajib
dan Usulan Kegiatan Pengembangan.
Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan Puskesmas harus memperhatikan
berbagai kebijakan yang berlaku baik secara global, nasional maupun daerah sesuai
dengan hasil kajian data dan informasi yang tersedia di Puskesmas. Puskesmas perlu
mempertimbangkkan

masukan

dari

masyarakat

melalui

Konsil

Kesehatan

Kecamatan/ Badan Penyantun Puskesmas. Rencana Usulan Kegiatan harus


dilengkapi pula dengan usulan pembiayaan untuk kebutuhan rutin, sarana, prasarana
dan operasional Puskesmas. RUK yang disusun merupakan RUK tahun mendatang
(H+1). Penyusunan RUK tersebut disusun pada bulan Januari tahun berjalan (H)
berdasarkan hasil kajian pencapaian kegiatan tahun sebelumnya (H-1), dan
diharapkan proses penyusunan RUK telah selesai dilaksanakan di Puskesmas pada
akhir bulan Januari tahun berjalan (H).
Rencana Usulan Kegiatan yang telah disusun dibahas di dinas kesehatan
kabuptan/kota, diajukan ke Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui dinas
kesehatan kabupaten/kota. kabupaten/kota, 8 Selanjutnya RUK Puskesmas yang
terangkum dalam usulan dinas kesehatan kabupaten/kota akan diajukan ke DPRD
untuk memperoleh persetujuan pembiayaan dan dukungan politis.
Setelah mendapat persetujuan dari DPRD, selanjutnya diserahkan ke
Puskesmas melalui dinas kesehatan kabupaten/kota. Berdasarkan alokasi biaya yang
telah disetujui tersebut, Puskesmas menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan.
Sumber pembiayaan Puskesmas selain dari anggaran Daerah (DAU) adalah dari
Pusat dan pinjaman/bantuan luar negeri yang dialokasikan melalui dinas kesehatan
kabupaten/kota.

RPK

disusun

dengan

melakukan

penyesuaian

dan

tetap

mempertimbangkan masukan dari masyarakat. Penyesuaian ini dilakukan,


olehkarena RPK yang disusun adalah persetujuan atas RUK tahun yang lalu (H-1),
7

alokasi yang diterima tidak selalu sesuai dengan yang diusulkan, adanya perubahan
sasaran kegiatan, tambahan anggaran (selain DAU) dan lain-lainnya. Penyusunan
RPK dilaksanakan pada bulan Januari tahun berjalan, dalam forum Lokakarya Mini
yang pertama.
Untuk memudahkan pemahaman terhadap mekanisme Perencanaan Tingkat
Puskesmas, dapat dilihat pada alur berikut ini:

Penyusunan Perencanaan Tingkat Puskesmas dilakukan melalui 4 (empat)


tahap sebagai berikut :
A. TAHAP PERSIAPAN
Tahap ini mempersiapkan staf Puskesmas yang terlibat dalam proses
penyusunan Perencanaan Tingkat Puskesmas agar memperoleh kesamaan pandangan
dan pengetahuan untuk melaksanakan tahap-tahap perencanaan. Tahap ini dilakukan
dengan cara :
1. Kepala Puskesmas membentuk Tim Penyusun Perencanaan Tingkat
Puskesmas yang anggotanya terdiri dari staf Puskesmas.
2. Kepala Puskesmas menjelaskan tentang pedoman Perencanaan Tingkat
Puskesmas kepada tim agar dapat memahami pedoman tersebut demi keberhasilan
penyusunan Perencanaaan Tingkat Puskesmas.

3. Puskesmas mempelajari kebijakan dan pengarahan yang telah ditetapkan


oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Dinas Kesehatan Propinsi dan Departemen
Kesehatan.
B. TAHAP ANALISIS SITUASI
Tahap ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai keadaan dan
permasalahan yang dihadapi Puskesmas melalui proses analisis terhadap data yang
dikumpulkan. Tim yang telah disusun oleh Kepala Puskesmas melakukan
pengumpulan data. Ada 2 (dua) kelompok data yang perlu dikumpulkan yaitu data
umum dan data khusus.
1. Data Umum :
a) Peta Wilayah Kerja serta Fasilitas Pelayanan
Data wilayah mencakup luas wilayah, jumlah desa/ dusun/ RT/ RW, jarak
desa dengan Puskesmas, waktu tempuh ke Puskesmas. Data ini dapat
diperoleh di kantor Kelurahan/ Desa atau Kantor Kecamatan.
b) Data Sumber Daya
Data sumber daya Puskesmas (termasuk Puskesmas Pembantu dan Bidan
di Desa, mencakup :
1) Ketenagaan
2) Obat dan bahan habis pakai
3) Peralatan
4) Sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah (Pusat dan Daerah),
masyarakat, dan sumber lainnya
5) Sarana dan prasarana, antara lain gedung, rumah dinas, komputer,
mesin tik, meubelair, kendaraan

c) Data Peran Serta Masyarakat


Data ini mencakup jumlah Posyandu, kader, dukun bayi dan tokoh
masyarakat.
d) Data Penduduk dan Sasaran Program ( Format - 4) Data penduduk dan
sasaran program mencakup : jumlah penduduk seluruhnya berdasarkan
jenis kelamin, kelompok umur (sesuai sasaran program), sosio ekonomi
pekerjaan, pendidikan, keluarga miskin (persentase di tiap desa/
kelurahan). Data ini dapat diperoleh di kantor Kelurahan/ Desa, Kantor
Kecamatan, dan data estimasi sasaran di Dinas Kesehatan Kabupaten/
Kota.
e) Data sekolah
Data sekolah dapat diperoleh dari dinas pendidikan setempat, mencakup
jenis sekolah yang ada, jumlah siswa, klasifikasi sekolah UKS, jumlah
dokter kecil, jumlah guru UKS , dll.
f) Data Kesehatan Lingkungan wilayah kerja Puskesmas
Data kesehatan lingkungan mencakup rumah sehat, tempat pembuatan
makanan/ minuman, tempat-tempat umum , tempat pembuangan sampah,
sarana air bersih, jamban keluarga dan sistem pembuangan air limbah.
2. Data Khusus (hasil penilaian kinerja Puskesmas)
a) Status Kesehatan terdiri dari :

Data kematian
Kunjungan Kesakitan
Pola Penyakit yaitu 10 penyakit terbesar yang ditemukan

b) Kejadian Luar Biasa


c) Cakupan Program Pelayanan Kesehatan 1 (satu) tahun terakhir di tiap
desa/ kelurahan, dapat dilihat dari Laporan Penilaian Kinerja Puskesmas

10

d) Hasil survey (bila ada), dapat dilakukan sendiri oleh Puskesmas atau
pihak lain

C. TAHAP PENYUSUNAN RENCANA USULAN KEGIATAN (RUK)


Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK), dilaksanakan dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Menyusun Rencana Usulan Kegiatan bertujuan untuk mempertahankan
kegiatan yang sudah dicapai pada periode sebelumnya dan memperbaiki program
yang masih bermasalah.
b. Menyusun rencana kegiatan baru yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan di
wilayah tersebut dan kemampuan Puskesmas.
Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan ini terdiri dari 2 (dua) langkah, yaitu
Analisa Masalah dan penyusunan Rencana Usulan Kegiatan.
1. Analisa Masalah
Analisa masalah dapat dilakukan melalui kesepakatan kelompok Tim Penyusun
Perencanaan Tingkat Puskesmas

dan Konsil Kesehatan Kecamatan/ Badan

Penyantun Puskesmas melalui tahapan :


a) Identifikasi masalah, Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan
kenyataan. Identifikasi masalah dilaksanakan dengan membuat daftar masalah yang
dikelompokkan menurut jenis program, cakupan, mutu, ketersediaan sumber daya.

11

b) Menetapkan urutan prioritas masalah


Mengingat adanya keterbatasan kemampuan mengatasi masalah secara
sekaligus, ketidak tersediaan teknologi atau adanya keterkaitan satu masalah dengan
masalah lainnya, maka perlu dipilih masalah prioritas dengan jalan kesepakatan tim.
Bila tidak dicapai kesepakatan dapat ditempuh dengan menggunakan kriteria
lain. Dalam penetapan urutan prioritas masalah dapat memergunakan berbagai
macam metode seperti kriteria matriks, MCUA, Hanlon, CARL dsb. Penetapan
penggunaan metode tersebut diserahkan kepada masing-masing Puskesmas
c) Merumuskan masalah
Hal ini mencakup apa masalahnya, siapa yang terkena masalahnya, berapa
besar masalahnya, dimana masalah itu terjadi dan bila mana masalah itu terjadi.
d) Mencari akar penyebab masalah
Mencari akar masalah dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan
metode:
1) diagram sebab akibat dari Ishikawa (disebut juga diagram tulang ikan karena
digambarkan membentuk tulang ikan),
2) pohon masalah (problem trees)

12

e) Menetapkan cara-cara pemecahan masalah Untuk menetapkan


cara pemecahan masalah dapat dilakukan dengan kesepakatan di antara
anggota tim. Bila tidak terjadi kesepakatan dapat digunakan kriteria
matriks. Untuk itu harus dicari alternatif pemecahan masalahnya.

D. TAHAP PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN (RPK)


Tahap penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan baik untuk upaya
kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan, upaya kesehatan
penunjang maupun upaya inovasi dilaksanakan secara bersama, terpadu
dan terintegrasi.
Hal ini sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas yaitu
keterpaduan. Langkah-langkah penyusunan RPK adalah :
a. Mempelajari alokasi kegiatan dan biaya yang sudah disetujui.
b. Membandingkan alokasi kegiatan yang disetujui dengan Rencana
Usulan Kegiatan (RUK) yang diusulkan dan situasi pada saat
penyusunan RPK.
c. Menyusun rancangan awal, rincian dan volume kegiatan yang akan
dilaksanakan serta sumber daya pendukung menurut bulan dan lokasi
pelaksanaan.
d.

Mengadakan

Lokakarya

Mini

Tahunan

untuk

membahas

kesepakatan RPK

13

e. Membuat RPK yang telah disusun dalam bentuk matriks.

14

15

PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS


A.Upaya kesehatan wajib puskesmas
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Upaya kesehatan ibu, anak & kb


Upaya promosi kesehatan
Upaya kesehatanl ingkungan
Upaya perbaikan gizi
Upaya pencegahan & pemberantasan penyakit menular
Upaya pengobatan dasar

B.Upaya kesehatan pengembangan puskesmas


Dilaksanakan sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat yang ada dan
kemampuan Puskesmas. Dalam keadaan tertentu ditetapkan sebagai penugasan dari
Dinasn kesehatan kabupaten/kota. Dilaksanakan bila upaya kesehatan wajib telah
terlaksana secara optimal
Upaya Kesehatan Pengembangan, antara lain :

Upaya Kesehatan Sekolah


Upaya Kesehatan Olah Raga
Upaya Kesehatan Kerja
Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
Upaya Kesehatan Jiwa
Upaya Kesehatan Mata
Kesehatan Usia Lanjut
Pembinaan Pengobatan Tradisional
Perawatan Kesehatan Masyarakat, dan sebagainya.

16

MANAJEMEN P1, P2, P3 PUSKESMAS

1. PERENCANAAN : P1
Rencana Usulan Kegiatan (R.U.K) :
RUK sama dengan plan of action (POA) atau rencana kerja yang biasanya
disusun menjelang pergantian tahun anggaran kegiatan baru
Rencana Kerja dan Anggaran (RKA):
RKA, merupakann pengembangan dari RUK setelah ada perbaikan tata cara
pembuatan anggaran kegiatan dalam setiap unit Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD).
Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) :
Setelah disusun rencana kegiatan itu kemudian dibuatkan strategi pelaksanaan
secara terpadu
Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) :
DPA merupakan kelanjutan dari RKA yang telah disetujui sebagai pedoman
pelaksanaan penggunaan anggaran kegiatan.

2. PENGATURAN : P2
Penggerakan : Mini Lokakarya Lintas Program
Mini Lokakarya (MinLok) ini dilaksanakan puskesmas setiap sebulan sekali, untuk
mengevaluasi hasil kegiatan pelayanan
Pelaksanaan : Mini Lokakarya Lintas Sektoral
Minlok ini dilaksanakan puskesmas setiap tiga bulan sekali dengan melibatkan
instansi terkait seperti dinkes, diknas, kecamatan, kelurahan, dan lainnya, sesuai
porsi kegiatan puskesmas.

17

PENILAIAN : P3
Pengawasan : Monitoring
Kegiatan pelayanan harus terus diawasi pelaksanaannya agar mencapai target yang
telah ditetapkan
Pengendalian : Controlling
Pelayanan yang sudah optimal tetap perlu dikendalikan arahnya agar tidak
menyimpang dari tujuan kegitan
Penilaian : Evaluation
Setiap hasil kegiatan harus dievaluasi sebagai bentuk pertanggungjawaban institusi
terhadap publik dan pemerintah daerah.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat
2. Departemen Kesehatan RI, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
128/Menkes/SK/II/2004.
3. Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas
4. Program Strengthening Leadership and Management Capacities for Health
Service Delivery, Manajemen Puskesmas
5. Bahan Kuliah manajemen puskesmas kabupaten sleman tahun 2006.

19

Struktur Organaisasi Puskesmas, Perencanaan Pelayanan


di Puskesmas, Pelayanan Kesehatan Di Puskesmas,
Manajemen P1, P2, P3 puskesmas

OLEH:
Asep Suryatna S.Ked
PEMBIMBING:
dr. Marisa Anggraini,MPd.Ked,M.Kes

UNIVERSITAS MALAHAYATI FAKULTAS KEDOKTERAN


SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
TAHUN 2015

20

Anda mungkin juga menyukai