Anda di halaman 1dari 23

1

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA


KLIEN DENGAN FRAKTUR PELVIS

Laporan Pendahuluan

oleh
Dwi Indah Lestari, S.kep
NIM 082311101064

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I KONSEP DASAR FRAKTUR PELVIS


1.1 Anatomi Fisiologi Pelvis
Gelang panggul atau tulang pelvis adalah penghubung antara badan dan
anggota bawah. Sebagian kerangka aksial, yaitu tulang sakrum dan tulang
koksigeus yang letaknya terjepit antara dua tulang koksa. Dua tulang koksa itu
bersendi satu dengan lainnya di tempat simfisis pubis. Pelvis terbagi atas panggul
besar atau pelvis mayor yang merupakan suatu pasu dan terleta di bawah garis
tepi atau linea terminalis dan panggul kecil yang dibentuk dari tulang ilium yang
melebar di atas linea terminalis. Pintu atas panggul yang disebut aditus pelvis
dibentuk promontorium sakrum, garis ilio pektinal dan krista tulang-tulang pubis.
Pintu bawah panggul atau eksitus pelvis dilingkari oleh os koksigeus dan
tuberositas iski (Pearce, 2009).
Cincin pelvis terdiri dari dua tulang inominata dan sakrum, berartikulasi di
depan simfisis pubis (jembatan anterior dan jembatan pubis) dan di bagian
posterior di sendi sakroiliaka (jembatan posterior atau jembatan sakroiliaka).
Struktur mirip cekungan ini memindahkan berat dari badan ke tungkai bawah dan
memberikan perlindungan pada visera, pembuluh darah dan saraf pelvis. Stabilitas
cincin pelvis tergantung pada kekakuan tulang-tulang dan integritas ligamen yang
kuat yang mengikat tiga segmen tulang itu bersama-sama pada simfisis pubis dan
sendi sakroiliaka. Ligamen pengikat yang kuat dan paling penting adalah ligamen
sakroiliaka dan iliolumbal. Ini adalah faktor yang dapat membedakan cedera stabil
dan cedera tak stabil pada cincin pelvis (Apley, 1995).
Cabang pertama dari iliaka komunis muncul di dalam pelvis di antara
tingkat sendi sakroiliaka dan insisura iskiadika mayor. Bersama cabang venanya,
pembuluh darah itu mudah terkena cedera bila fraktur melalui bagian posterior
cincin pelvis. Saraf pada pleksus lumbalis dan sakralis juga menghadapi risiko
cedera pelvis posterior.
Pada cedera pelvis yang berat, uretra dapat rusak bila prostat dipaksa ke
belakang sementara uretra tetap diam. Bila ligamen puboprostat robek, prostat dan

dasar kandung kemih dapat banyak mengalami dislokasi dari uratra membranosa.
Kolon pelvis, dengan mesenteriumnya, merupakan struktur yang dapat bergerak
sehingga tidak mudah cedera. Namun, rektum dan saluran anus lebih erat
tertambat pada struktur urogenital dan otot dasar pelvis sehingga mudah terkena
bila terjadi fraktur pelvis (Apley, 1995).
1. Tulang pangkal paha (os coxae)
Terdiri dari tiga buah tulang yang berhubungan satu dengan lainnya pada
asetabulum, yaitu mangkok tempat dari kepala tulang pada (kaput femoris).
Ketiga tulang tersebut adalah tulang usus (os ilium), tulang duduk (os ichium),
dan tulang kemaluan (os pubis).
a. Tulang usus (os ilium)
i.
Merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk bagian atas dan
ii.
iii.

belakang panggul
Batas atasnya merupakan penebalan tulang yang disebut krista iliaca
Ujung depan dan belakang krista iliaca menonjol : spina iliaca anterior

iv.

superior dan spina iliaca posterior superior


Terdapat tonjolan memanjang di bagian dalam tulang usus yang membagi

pelvis mayor dan pelvis minor disebut linea innominata (linea terminalis)
v.
Linea terminalis merupakan bagian dari pintu atas panggul
b. Tulang duduk (os ichium)
i.
Terdapat di sebelah bawah tulang usus
ii.
Pinggir belakangnya menonjol : spina ischiadica
iii.
Pinggir bawah tulang duduk sangat tebal yang mendukung badan saat
duduk disebut tuber ischiadicum
c. Tulang kemaluan (os pubis)
i.
Terdapat di sebelah bawah dan depan tulang usus
ii.
Dengan tulang duduk dibatasi fragmen osturatum
iii.
Tangkai tulang kemaluan yang berhubungan dengan tulang usus: ramus
superior ossis pubis
2. Tulang kelangkang (os sacrum)
Tulang ini berbentuk segitiga dengan lebar bagian atas dan mengecil di bagian
bawahnya. Tulang kelangkang terletak diantara kedua tulang pangkal paha
yang terdiri dari dan mempunyai ciri:
a. Terdiri dari lima ruas tulang yang berhubungan erat
b. Permukaan depan licin dengan lengkungan dari atas ke bawah dan dari
kanan maupun kiri
c. Di kanan dan kiri, garis tengah terdapat lubang yang akan dilalui saraf:
foramina sacralia anterior

d. Tulang kelangkang berhubungan dengan tulang pinggang ruas kelima


e. Tulang kelangkang yang paling atas mempunyai tonjolan besar ke depan di
sebut promotorium
f. Ke samping tulang kelangkang berhubungan dengan tulang pangkal paha
melalui artikulasio sacro-iliaca
g. Ke bawah tulang kelangkang berhubungan dengan tulang tungging (os
coccygis)
3. Tulang tungging (os coccygis)
a. Bentuk segitiga dengan ruas 3 sampai 5 buah dan bersatu
b. Pada saat persalinan tulang tungging dapat didorong ke belakang sehingga
memperluas jalan lahir (Manuaba. 1998)

1.2 Definisi Fraktur Pelvis


Fraktur pelvis adalah fraktur yang terjadi pada tulang panggul (pelvis).
Fraktur pelvis berkaitan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bawah, uterus,
testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Fraktur pelvis dapat
mengakibatkan timbulnya hemoragi (pelvis mampu menampung lebih dari 4 liter
darah) dan biasanya terdapat manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri penekanan
pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih.
Fraktur pelvis merupakan cedera yang membahayakan keselamatan jiwa.
Perdarahan luas yang terjadi akibat fraktur pelvis relatif umum, tetapi biasanya
lebih sering terjadi pada fraktur pelvis berkekuatan tinggi. Sebanyak 1530%
pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi mengalami ketidak stabilan secara
hemodinamik, yang mungkin dapat dihubungkan dengan hilangnya darah akibat
cedera pelvis. Perdarahan adalah penyebab utama kematian pada pasien yang
mengalami fraktur pelvis. Gaya berenergi tinggi yang menimbulkan disrupsi

pelvis dapat mengakibatkan sejumlah cedera yang menyertainya. Disamping itu,


kehilangan darah yang hebat dapat terjadi sekunder akibat disrupsi pada pleksus
arterialis dan venosus yang besar serta berjumlah banyak di dalam rongga pelvis.
Cedera pelvis dibagi dalam empat kelompok yaitu sebagai berikut.
1. Fraktur yang terisolasi dengan cincn pelvis yang utuh.
a. Fraktur avulsi, yaitu fraktur yang diakibatkan karena tertariknya sepotong
tulang oleh kontraksi otot yang besar. Fraktur ini sering terjadi pada atlet
dan olahragawan
b. Fraktur langsung, yaitu fraktur yang diakibatkan oleh pukulan langsung
pada pelvis, biasanya setelah jatuh dari tempat tinggi dan diperlukan
istirahat di tempat tidur hingga nyeri mereda.
c. Fraktur tekanan, yaitu fraktur yang diakibatkan tekanan akibat kondisi yang
lemah. Fraktur ini sering terjadi akibat kondisi osteoporosis pada lansia
2. Fraktur pada cincin pelvis
Mekanisme dasar pada cedera cincin pelvis adalah adanya tekanan
anteroposterior, tekanan lateral, pemuntiran ventrikel, dan kombinasi dari semua
ini. Fraktur ini dikelompokkan menjadi fraktur dengan cedera stabil (fraktur pada
pelvis dengan sedikit atau tanpa pergeseran), fraktur dengan rotasi tak stabil tetapi
vertikal stabi (daya rotasi ke luar dapat merusak simpisis dan daya rotasi ke dalam
dapat merusak rami iskiopubik), dan fraktur dengan rotasi dan vertikal tak stabil
(terdapat kerusakan pada ligamen posterior dan atau mungkin terdapat fraktur
asetabulum).
3. Fraktur asetabulum
Fraktur asetabulum terjadi bila kaput femoris terdorong ke dalam pelvis.
Hal ini disebabkan ole pukulan pada sisi tersebut atau disebabkan oleh pukulan
pada bagian depan lutut. Fraktur asetabulum menggabungkan kerumitan fraktur
pelvis (terutama seringnya cedera jaringan lunak yang menyertai) dengan
kerusakan sendi (kerusakan kartilago artikular, pembebanan tak sesuai, dan
osteoartritis sekunder). Terdapat empat tipe utama fraktur asetabulum yaitu,
fraktur kolumna anterior, fraktur kolumne posterior, fraktur melintang, dan fraktur
kompleks.
4. Cedera pada sakrum dan koksigis
Pukulan dari belakang atau jatuh pada tulang ekor dapat mematahkan
sakrum dan koksigis atau menyebabkan keseleo pada sendi antara keduanya.

Terjadi memar yang luas dan nyeri tekan muncul bila sakrum dan koksigis
dipalpasi dari belakang atau melalui rektum.
1.3 Etiologi fraktur pelvis
1. Trauma langsung yaitu benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur
pada tempat tersebut.
2. Trauma tidak langsung bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya
fraktur berjauhan.
3. Proses penyakit seperti kanker dan riketsia.
4. Compresion force yaitu klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat
mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang.
5. Muscle (otot) terjadi akibat injuri/sakit akibat regangan otot yang kuat
sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).

1.4 Tanda Dan Gejala Fraktur Pelvis


Pada cidera tipe fraktur avulasi pasien tidak mengalami syok berat tetapi
merasa nyeri bila berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan local tetapi jarang
terdapat kerusakan pada viscera pelvis. Foto polos pelvis dapat mempelihatkan
fraktur. Pada cidera tipe langsung dan tipe fraktur tekanan pasien mengalami syok
berat, sangat nyeri dan tidak dapat berdiri, tidak dapat kencing. Mungkin terdapat
darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat local tapi sering meluas, dan
usaha menggerakkan satu atau kedua ossis ilii akan sangat nyeri. Salah satu kaki
mungkin mengalamai anastetik sebagian karena mengalami cidera saraf skiatika.
Cidera ini sangat hebat sehingga membawa resiko tinggi terjadinya kerusakan
visceral, perdarahan di dalam perut dan retroperitoneal, syok, sepsis, ARDS,
hipotensi, nyeri dengan penekanan pada pelvis, dan perdarahan peritoneum atau
saluran kemih. Angka kematian juga cukup tinggi (Apley, 1995).
Manifestasi klinis awal DDH dapat diidentifikasi selama pemeriksaan
yang baru lahir. Temuan pemeriksaan klasik terungkap dengan manuver Ortolani,
sebuah "suara bising" jelas hadir ketika pinggul berkurang masuk dan keluar dari

acetabulum dan atas neolimbus. Sebuah "klik" bernada tinggi (sebagai lawan dari
suara bising ) dalam semua kemungkinan memiliki sedikit hubungan dengan
pathology. Ortolani awalnya digambarkan suara bising ini sebagai terjadi dengan
baik subluksasi atau pengurangan pinggul (dalam atau di luar acetabulum itu).
1.5 Patofisiologi Fraktur Pelvis
Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih
bagian bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang.
Dapat menyebabkan hemoragi (pelvis dapat menahan sebanyak + 4 liter darah)
dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri dengan penekanan
pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih.
Penanganan fraktur pelvis tergantung pada tingkat keparahan fraktur.
Fraktur pelvis yang tidak stabil, weight bearing ditangani dengan fiksasi eksternal
dan ORIF. Pada fraktur yang tidak terlalu parah, non weight bearing dapat
ditangani dengan bedrest. Manajemen tindakan keperawatan yang dapat dilakukan
adalah dengan mempertahankan sirkulasi kulit yang adekuat. Klien juga
memerlukan kontrol nyeri yang adekuat, pengkajian status neurovaskuler dan
pengkajian terhadap komplikasi seperti tromboflebitis dan emboli lemak. Proses
yang patofisiologi yang terjadi selama fraktur adalah sebagai berikut.
1.

Inflamasi
a. Setelah fraktur awal, pembuluh darah mikro yang melewati garis fraktur
terputus yang menyebabkan iskemia sampai kehancuran ujung tulang.
b. Ujung tulang yang mengalami kerusakan menjadi nekrosis, yang kemudian
memicu respon inflamasi.
c. Fase inflamasi ini singkat, namun menciptakan respon inflamasi.

2. Reparatif
a. Fase reparasi dimulai dengan jaringan ganulasi yang menginfiltrasi daerah
fraktur.
b. Jaringan granulasi berisi sel-sel yang mensekresikan dan membentuk
kolagen, kartilago dan tulang; jaringan ini membentuk callus, yang dengan
cepat mengelilingi ujung fraktur tulang.

c. Callus bertanggungjawab untuk menstabilkan ujung tulang yang fraktur.


Seiring menyembuhnya fraktur, callus mengalami mineralisasi dan sangat
padat.
d. Batas nekrotik fragmen fraktur diserang oleh osteoklas, yang menyerap
tulang.
3. Remodelling
a. Remodelling merupakan fase akhir penyembuhan tulang.
b. Tulang perlahan-lahan memperoleh kembali bentuk, kontur dan kekuatan
aslinya.
c. Remodelling memakan waktu bertahun-tahun.
d. Callus diserap, tulang baru muncul oleh osteoblas.
e. Trabekula, densitas linear mudah terlihat pada tulang normal, merupakan
hasil akhir proses fisiologis yang membentuk kembali tulang dan memberi
kekuatan maksimum sehubungan dengan jumlah tulang yang digunakan.
f. Keberhasilan remodelling tulang bergantung pada beberapa faktor:
i. Anak-anak memiliki kapasitas remodelling lebih besar dibandingkan
dengan orang dewasa.
ii. Besar dan arah angulasi yang tidak direduksi, dan lokasi fraktur pada
tulang.
iii. Keremajaan.
iv. Dekatnya fraktur pada ujung tulang.
v. Arah angulasi ketika dibandingkan dengan taraf gerakan sendi alami.
vi. Keputusan mengenai reduksi fraktur membutuhkan pengetahuan fisiologi
penyembuhan tulang dan hubungannya dengan usia pasien.
Biasanya penyebab perdarahan pada fraktur pelvis adalah dari pleksus
vena pelvis posterior dan perdarahan yang menghapus permukaan tulang. Sekitar
< 10% kasus perdarahan, disebabkan dari perdarahan arteri yang cukup dikenal.
Pengobatan awal harus berfokus pada kontrol perdarahan vena. Reduksi dan
stabilisasi pada dislokasi cincin pelvis membantu mencapai pengontrolan tersebut.
Reduksi akan mengurangi volume pelvis dan lakukan tampon pembuluh darah
yang mengalami perdarahan dengan cara kompresi viscera dan hematom pelvis.

Stabilisasi mempertahankan reduksi dan mencegah pergerakan hemipelvis,


mengurangi nyeri dan membatasi disrupsi gumpalan terorganisir. Reduksi dan
stabilisasi saja biasanya mengontrol perdarahan vena, maka pasien yang tidak
merespon manuver ini lebih mungkin mendapat perdarahan arteri.
Meningkatnya tekanan pada ruang fascia tertutup menyebabkan
menurunnya tekanan perfusi dan pada akhirnya cedera sel dan kematian neuron
dan jaringan otot. Mekanismenya sebagai berikut: hipoksia menyebabkan cedera
sel, melepaskan mediator, dan meningkatkan permeabilitas endotel yang
menyebabkan oedem, selanjutnya meningkatkan tekanan kompartemen, pH
jaringan menurun, lalu terjadi nekrosis, dan terlepasnya mioglobin. Tekanan
jaringan lebih besar dari tekanan kapiler; biasanya terlihat pada > 30 mmHg
tekanan intra-kompartemen. Waktu iskemik: nervus < 4 jam, otot < 4 jam;
beberapa mengatakan sampai 6 jam.
1.6 Komplokasi dan Prognosis
Nyeri sakroiliaka yang menetap sering ditemukan setelah fraktur pelvis
yang tak stabil dan kadang-kadang mengaharuskan dilakukannya artrodesis pada
sendi sakroiliaka. Cedera uretra yang berat dapat mengakibatkan striktur uretra,
inkontinensia, atau impotensi. Komplikasi fraktur pelvis dibagi dalam:
1. Komplikasi segera
a. Trombosis vena ilio-femoral
Komplikasi ini sering ditemukan dan sangat berbahaya. Apabila ada
keraguansebaiknya diberikan antikoagulan secara rutin untuk profilaktik.
b. Robekan kandung kemih
Robekan dapat terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau tusukan dari
bagiantulang panggul yang tajam.
c. Robekan uretra
Robekan uretra terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah
uretra parsmembranosaRuptur uretra posterior paling sering disebabkan
oleh fraktur tulang pelvis.Frakttur yang mengenai ramus atau simfisis
pubis dan menimbulkan kerusakan padacincin pelvis dapat menyebabkan

10

robekan uretra pars prostate-membranacea. Fraktur pelvis dan robekan


pembuluh darah yang berada di kavum pelvis menyebabkanhematom yang
luas di kavum retzius sehingga jika ligamentum pubo-prostatikum
ikutrobek, prostat beserta buli-buli akan terangkat ke cranial.
Ruptur uretra anterior, cidera dari luar yang sering menyebabkan
kerusakanuretra anterior adalah straddle injury (cidera selangkangan) yaitu
uretra terjepitdiantara tulang pelvis dan benda tumpul. Jenis kerusakan
uretra yang terjadi berupakontusio dinding uretra, rupture parsial, atau
rupture total dinding uretra. Padakontusio uretra pasien mengeluh adanya
perdarahan per-uretram atau hematuria. Jikaterdapat robekan pada korpus
spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau butterfly hematom.
Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.
d. Trauma rektum dan vaginae.
e. Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahanmasif
sampai syok
f. Trauma pada saraf
1) Lesi saraf skiatik
Lesi saraf skiatik dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat operasi.
Apabila dalam jangka waktu 6 minggu tidak ada perbaikan, maka
sebaiknya dilakukaneksplorasi.
2) Lesi pleksus lumbosakralis
Biasanya terjadi pada fraktur sakrum yang bersifat vertikal disertai
pergeseran.Dapat pula terjadi gangguan fungsi seksual apabila
mengenai pusat saraf.
2. Komplikasi lanjutan
a. Pembentukan tulang heterotrofik
Pembentukan tulang heterotrofik biasanya terjadi setelah suatu trauma
jaringan lunak yang hebat atau setelah suatu diseksi operasi. Dapat
diberikan indometasin untuk profilaktik.
b. Nekrosis avaskuler
Nekrosis avaskuler dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu setelah
trauma.

11

c. Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder


Apabila terjadi fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi
yangakurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, maka akan terjadi
ketidak-sesuaian sendi yang akan memberikan gangguan pergerakan serta
osteoartritis dikemudian hari.
d. Skoliosis kompensatoar
Prognosis dikatakan baik jika penderita secepat mungkin dibawa ke rumah
sakit sesaat setelah terjadi trauma, kemudian jenis fraktur yang diderita ringan,
bentuk dan jenis perpatahan simple, kondisis umum pasien baik, usia pasien
relative muda, tidak terdapat infeksi pada fraktur dan peredaran darah lancar.
Penanganan yang diberikan seperti operasi dan pemberian internal fiksasi juga
sangat mempengaruhi terutama dalam memperbaiki struktur tulang yang patah.
Setelah operasi dengan pemberian internal fiksasi berupa plate and screw,
diperlukan terapi latihan untuk mengembalikan aktivitas fungsionalnya.
Pemberian terapi latihan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik
bilamana (1) quo ad vitam baik jika pada kasus ini tidak mengancam jiwa pasien,
(2) quo ad sanam baik jika jenis perpatahan ringan, usia pasien relative muda dan
tidak ada infeksi pada fraktur, (3) quo ad fungsionam baik jika pasien dapat
melakukan aktivitas fungsional, (4) quo ad cosmeticam yang disebut juga dengan
proses remodeling baik jika tidak terjadi deformitas tulang. Dalam proses
rehabilitasi, peran fisioterapi sangat penting terutama dalam mencegah komplikasi
dan melatih aktivitas fungsionalnya.
Sekitar 40 persen pasien dengan fraktur pelvis mengalami perdarahan
intraabdominal yang dapat berujung pada kematian. Manajemen yang sukses pada
perdarahan fraktur pelvis paling baik dikerjakan oleh sebuah pendekatan tim yang
melibatkan profesional dari berbagai macam spesialisasi. Ahli bedah ortopedi
yang berpengalaman dapat menyediakan pengenalan yang tepat terhadap pola
fraktur, mencapai stabilisasi pelvis dengan segera, dan membantu dengan
pembuatan keputusan yang tepat untuk memaksimalkan ketahanan hidup pasien.
1.7 Pengobatan dan Penatalaksanaan

12

Ada beberapa metode untuk stabilisasi fraktur pelvis. Stabilisasi dapat


dilakukan dengan fiksasi eksterna, seperti pemasangan kerangka Slatis atau
Pittburgh ataupun C-clamp (alat penstabil pelvis). Metode yang lebih mudah,
tetapi tidak selalu efektif adalah penggunaan MAST (military antishock trousers).
Ketika pakaian antirejan ini digelembungkan di daerah pelvis, akan terdapat
stabilisai pelvis khususnya sebelum pasien tiba di rumah sakit. Jika alat ini tidak
ada, kita dapat menggunakan selimutu yang dibebatkan di daerah panggul dan
diikat kuat-kuat sebagai suatu metode sementara.
Tujuan stabilisasi pelvis di lingkungan kegawatdaruratan adalah untuk
mencegah terjadinya dislokasi pelvis yang lebih lanjut dan mengendalikan
perdarahan dengan meluruskan fragmen fraktur sehingga ruang tempat
berkumpulnya darah menjadi lebih kecil. Imobilisasi pelvis akan menghasilkan
efek tamponade yang membantu mengendalikan perdarahan (Oman dan Scheetz,
2008).

1. Military Antishock Trousers


Penatalaksanaan menggunakan Military antishock trousers (MAST) atau
celana anti syok militer dapat memberikan kompresi dan imobilisasi sementara
pada pelvis yang mengalami injuri dan bagian bawah pelvis melalui tekanan berisi
udara. Hal ini dapat menyebabkan tamponade pelvis dan meningkatkan aliran
balik vena untuk membantu proses resusitas. Namun, penggunaan Military
antishock trousers (MAST) atau celana anti syok militer harus diperhatikan
efeknya, salah satunya dapat menyebabkan kompartemen ekstremitas bawah.
Meskipun MAST masih berguna, hal tersebut telah dialihkan untuk menggunakan
pengikat pelvis yang tersedia banyak dipasaran dan tersebar secara komersil.
2. Pengikat dan Sheet Pelvis
Kompresi melingkar mungkin siap dicapai pada keadaan pra rumah-sakit
dan pada awalnya memberikan keuntungan stabilisasi selama pengangkutan dan
resusitasi. Lembaran terlipat yang dibalutkan secara melingkar di sekeliling pelvis
efektif secara biaya, non-invasif, dan mudah untuk diterapkan. Pengikat pelvis
komersial beragam telah ditemukan. Tekanan sebesar 180 N tampaknya

13

memberikan efektivitas maksimal. Sebuah studi melaporkan pengikat pelvis


mengurangi kebutuhan transfusi, lamanya rawatan rumah sakit, dan mortalitas
pada pasien dengan cedera APC.
Penatalaksanaan menggunakan pengikat dan sheet pelvis lebih banyak
digunakan pada penderita fraktur pelvis sebab penggunaan ini memberikan
stabilitas selama pengangkutan dan resusitasi. Lembaran terlipat yang dibalutkan
secara

Gambar 1. Ilustrasi yang mendemonstrasikan aplikasi alat kompresi


melingkar pelvis (pengikat pelvis) yang tepat, dengan gesper tambahan (tanda
panah) untuk mengontrol tekanan

Rotasi eksterna ekstremitas inferior umumnya terlihat pada orang dengan


fraktur pelvis disposisi, dan gaya yang beraksi melalui sendi panggul mungkin
berkontribusi pada deformitas pelvis. Koreksi rotasi eksternal ekstremitas bawah
dapat dicapai dengan membalut lutut atau kaki bersama-sama, dan hal ini dapat
memperbaiki reduksi pelvis yang dapat dicapai dengan kompresi melingkar.

14

3. Fiksasi Eksternal
Fiksasi Eksternal Anterior Standar
Beberapa studi telah melaporkan keuntungan fiksasi eksternal pelvis
emergensi pada resusitasi pasien yang tidak stabil secara hemodinamik dengan
fraktur pelvis tidak stabil. Efek menguntungkan fiksasi eksternal pada fraktur
pelvis bisa muncul dari beberapa faktor. Imobilisasi dapat membatasi pergeseran
pelvis selama pergerakan dan perpindahan pasien, menurunkan kemungkinan
disrupsi bekuan darah. Pada beberapa pola (misal, APC II), reduksi volume pelvis
mungkin dicapai dengan aplikasi fiksator eksternal. Studi eksperimental telah
menunjukkan bahwa reduksi cedera pelvis open book mengarah pada
peningkatan tekanan retroperitoneal, yang bisa membantu tamponade perdarahan
vena. Penambahan fraktur disposisi dapat meringankan jalur hemostasis untuk
mengontrol perdarahan dari permukaan tulang kasar.
C-Clamp
Fiksasi pelvis eksternal standar tidak menyediakan stabilisasi pelvis
posterior yang adekuat. Hal ini membatasi efektivitas pada pola fraktur yang
melibatkan disrupsi posterior signifikan atau dalam kasus-kasus dimana ala ossis
ilium mengalami fraktur. C-clamp yang diaplikasikan secara posterior telah
dikembangkan untuk menutupi kekurangan ini. Clamp memberikan aplikasi gaya
tekan posterior tepat melewati persendian sacroiliaca. Kehati-hatian yag besar
harus dilatih untuk mencegah cedera iatrogenik selama aplikasi; prosedur
umumnya harus dilakukan dibawah tuntunan fluoroskopi. Penerapan Cclamppada regio trochanter femur menawarkan sebuah alternatif bagi fiksasi
eksternal anterior standar untuk fiksasi sementara cedera APC.
4. Balutan Pelvis
Balutan pelvis dikembangkan sebagai sebuah metode untuk mencapai
hemostasis langsung dan untuk mengontrol perdarahan vena yang disebabkan
fraktur pelvis. Selama lebih dari satu dekade, ahli bedah trauma di Eropa telah
menganjurkan laparotomi eksplorasi yang diikuti dengan balutan pelvis. Teknik
ini diyakini terutama berguna pada pasien yang parah. Ertel dkk menunjukkan
bahwa pasien cedera multipel dengan fraktur pelvis dapat dengan aman ditangani
menggunakan C-clamp dan balutan pelvis tanpa embolisasi arteri. Balutan lokal
juga efektif dalam mengontrol perdarahan arteri.

15

Teknik ini memfasilitasi kontrol perdarahan retroperitoneal melalui sebuah


insisi kecil (gambar 2). Rongga intraperitoneal tidak dimasuki, meninggalkan
peritoneum tetap utuh untuk membantu mengembangkan efek tamponade.
Prosedurnya cepat dan mudah untuk dilakukan, dengan kehilangan darah
minimal. Balutan retroperitoneal tepat untuk pasien dengan beragam berat
ketidakstabilan hemodinamik, dan hal ini dapat mengurangi angiografi yang
kurang penting. Hal ini memungkinkan tidak adanya kematian sebagai akibat dari
kehilangan darah akut pada pasien yang tidak stabil secara hemodinamik persisten
ketika balutan langsung digunakan.

Gambar 2. Ilustrasi yang mendemonstrasikan teknis pembalutan


retroperitoneal. A, dibuat sebuah insisi vertikal midline 8-cm. Kandung kemih
ditarik ke satu sisi, dan tiga bagian spons tak terlipat dibungkus kedalam pelvis
(dibawah pinggir pelvis) dengan sebuah forceps. Yang pertama diletakkan secara
posterior, berbatasan dengan persendian sacroiliaca. Yang kedua ditempatkan di
anterior dari spons pertama pada titik yang sesuai dengan pertengahan pinggiran
pelvis. Spons ketiga ditempatkan pada ruang retropubis kedalam dan lateral
kandung kemih. Kandung kemih kemudian ditarik kesisi lainnya, dan proses
tersebut diulangi. B, Ilustrasi yang mendemonstrasikan lokasi umum enam bagian
spons yang mengikuti balutan pelvis.

16

1.8 Pencegahan
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya begitu juga
dengan frakur pelvis. Fraktur pelvis dapt terjadi akibat trauma atau benturan atau
terjatuh baik ringan maupun berat. Pencegahannya dapat dilakukan dengan 3 cara
yakni:
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan upaya menghindari terjadinya
trauma benturan, terjatuh atau kecelakaan lainnya. Misalnya bekerja atau
melakukan sesuatu dengan hati-hati , jika perlu gunakan alat perlindungan diri
untuk keselamatan diri.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan untuk mengurangi akibat akibat yang
lebih serius dari terjadinya fraktur dengan memberikan pertolongan pertama yang
tepat dan terampil pada penderita. Misalnya ketika terjadi fraktur pelvis maka saat
mengangkat penderita dengan posisi yang benar agar tidak memperparah bagian
tubuh yang terkena fraktur, dan bisa juga dilanjutkan dengan pemeriksaan klinis ,
misalnya pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis dapat membantu
mengetahui bagian tulang yang patah.Bisa juga dengan traksi, pembidaian dengan
gips atau dengan fiksasi internal maupun eksternal.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier pada penderita fraktur yang bertujuan untuk
mengurangi terjadinya komplikasi yang lebih berat dan memberikan tindakan
pemulihan yang tepat untuk menghindari atau mengurangi kecacatan, bisa dengan
tindakan operatif dan rehabilitasi, namun harus disesuaikan dengan berat dan jenis
frakturnya.

17

BAB 2. ASUHAN KEPERAWATAN


2.1 Pengkajian
1.

Aktivitas/istirahat
Tanda: Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin
segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan
jaringan, nyeri)

2.

Sirkulasi
Gejala: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap
nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)

3.

Neurosensori
Gejala: Hilang gerak/sensasi,spasme otot Kebas/kesemutan (parestesis)
Tanda: Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan,ratotasi,krepitasi
(bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).

4.

Nyeri/kenyamanan
Gejala: Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera ( mungkin terlokalisasi pada arah
jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri
akibat kerusakan saraf.

5.

Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala: Lingkungan cidera
Pertimbangan: DRG menunjukkan rata-rata lama dirawat karena fraktur femur
7-8 hari, panggul/pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan
dirumah sakit.

6.

Riwayat penyakit
Dilakukan anamnesa untuk mendaptkan riwayat mekanisme terjadinya cidera,
posisi tubuh saat berlangsungnya trauma, riwayat fraktur sebelumnya,
pekerjaan osteoporosis serta riwayat penyakit lainnya.

7.

Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi (look)
Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak, pemendekan, rotasi,
angulasi, fragmen tulang (pada fraktur terbuka).
2. Palpasi (Feel)

18

Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status neurologis


dan vaskuler dibagian distal fraktur. Palpasi bagian daerah ekstrimitas
tempat fraktur meliputi pulsasi ertei, warna kulit, capilary refill test.
3. Gerakan moving
Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur.
8.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemerikasaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus
mengikuti aturan role of two, yang terdiri dari:
a. Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior(AP) dan lateral;
b. memuat dua sendi antara frakur yaitu bagian proximal dan distal;
c. memuat dua extrimitas (terutama pada anakanak) baik yang cedera
maupun yang tidak cedera (untuk membandingkan dengan yang normal);
d. dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.
2. Pemeriksaan laboratorium meliputi:
a. Darah rutin;
b. faktor pembekuan darah;
c. golongan darah (terutama otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk
klien ginjal)
d. pemeriksaan ateriografi dilakukan jika dicurigai terjadi kerusakan
vaskuler akibat fraktur.

2.2 Pohon Masalah


gangguan perfusi jaringan
penurunan perfusi jaringan
penekanan pembuluh darah
edema
protein plasma hilang

Gangguan perawatan diri

19

pelepasan histamine

Aktivitas terganggu

peningkatan kapiler
spasme otot

PK: syok hipovolemik


kehilangan volume cairan

gangguan mobilitas fisik

perdarahan

gangguan fungsi

putus vena dan arteri

deformitas

kerusakan integritas kulit

Pergeseran frag tulang

laserasi kulit

Perubahan jaringan sekitar

gangguan rasa nyaman

Nyeri

Diskontinuitas tulang

pergeseran

fragmen tulang
Fraktur
Trauma langsung (kecelakaan)

20

2.3 Diagnosa keperawatan


No.
1

Diagnosa
Nyeri akut
berhubungan
dengan agen cedera
fisik, trauma
langsung,tak
langsung, fraktur
pelvis

Tujuan
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama....x....jam
nyeri pasien
dapat teratasi
Kriteria Hasil:
1. Pasien tidak
meringis
kesakitan
2. Menunjukka
n teknik
relaksasi
secara
individu
yang efektif
3. Skala nyeri
berkurang

Intervensi

Rasional

1.

a. Mengurangi rasa
nyeri dan
mencegah dislokasi tulang dan
perluasan luka
pada jaringan.

imobilisasi
pada bagian
yang patah
dengan cara bed
rest, gips,
spalek, traksi
2. Meninggikan
dan melapang
bagian kaki
yang fraktur
3. Evaluasi rasa
nyeri, catat
tempat nyeri,
sifat, intensitas,
dan tanda-tanda
nyeri non verbal
4. Kolaborasi
dalam
pemberian
analgetik

b. Meningkatkan
aliran darah,
mengurangi edema
dan mengurangi
rasa nyeri.
c. Mempengaruhi
penilaian
intervensi, tingkat
kegelisahan
mungkin akibat
dari presepsi/
reaksi terhadap
nyeri.
d. Diberikan obat
analgetik untuk
mengurangi rasa
nyeri.

Gangguan
mobilitas fisik
berhubungan
dengan kerusakan
rangka/tulang
neuromuskuler.

Tujuan:
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selamaxjam
diharapkan
pasien
meningkatkan
mobilitas pada
tingkat yang
paling tinggi
Kriteria Hasil:
1. Klien
meningkat
dalam

a. Kaji tingkat
mobilitas yang bisa
dilakukan pasien

a. Mengetahui
kemandirian pasien
dalam mobilisasi

b. Anjurkan gerak
aktif pada
ekstremitas yang
sehat

b. Rentang gerak
meningkatkan
tonus atau
kekuatan otot serta
memperbaiki
fungsi jantung dan
pernafasan

c. Pertahankan
penggunaan spalek
dan elastis perban

c.Mempertahankan
imobilisasi pada
tulang yang patah.

21

aktivitas
fisik
2. Mengerti
tujuan dari
peningkatan
mobilitas
.

Gangguan Perfusi
jaringan
berhubungan
dengan darah ke
perifer inadekuat

Syok
hipovolemik
berhubungan
dengan
kehilangan
volume cairan

d. bantu pasien
d. Edukasi tentang
menggunakan
kemampuan gerak
tongkatsaat berjalan pasien
e. ajarkan pasien
tentang teknik
ambulasi
latih pasien dalam
pemenuhan ADL
secara mandiri
sesuai kemampuan

Tujuan: perfusi b. Kaji secara


perifer dapat
komprehensif
dipertahankan
sirkulasi perifer
secara adekuat
(nadi perifer,
CRT, warna dan
temperatur
ekstremitas)
c. Elevasi anggota
badan 20 derajat
dari jantung
untuk
meningkatkan
venous return
d. Ubah posisi
pasien minimal 2
jam sekali
e. Jaga
keadekuatan
hidrasi untuk
mencegah
peningkatan
viskositas darah
a. Identifikasi
tingkat
kecemasan
b. Gunakan
pendekatan yang
menenangkan
c. Pahami
perspektif pasien
terhadap situasi

e.Memandirikan
pasien.

a.memantau perfusi
jaringan

b.memantau
venous retum klien

c.menghindari
dikubitus.
d. Kontol cairan

Beri kesempatan
pada klien untuk
mengekspresikan
perasaannya

22

Gangguan
perawatan diri

stres
d. Berikan
informasi
mengenai
diagnosis,
tindakan, dan
prognosis
e. Dorong pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, dan
persepsi
f. Kolaborasikan
tentang
pemberian obat
pengurang
kecemasan
Tujuan:pasien a. Kaji kemampuan
dapat
pasien untuk
melakukan
perawatan diri
perawatan diri
mandiri
secara mandiri b. Kaji kebutuhan
pasien untuk alat
bantu kebersihan
diri
c. Sediakan
bantuan sampai
klien mampu
secara utuh
untuk melakukan
self care

Pmendorong
pasien untuk
melakukan
aktivitas perawtan
diri secara mandiri
sesuai
kemampuannya

23

DAFTAR PUSTAKA
Pearce, E. C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Manuaba, I. B. G. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan &Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Oman, K. S., Mclain, J. K., dan Scheetz, L. J. 2008. Panduan Belajar
Keperawatan Emergensi. Jakarta: EGC.
Eliastam, M., Sternbach, G. L., dan Bresler, M. J. 1998. Buku Saku Penuntun
Kedaruratan Medis. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Palmer, P. E. S. 1995. Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter Umum. Jakarta:
EGC.
Gibson, J. 2003. Fisiologi & Anatomi Modern Untuk Perawat. Edisi 2. Jakarta:
EGC.
Apley, A. Graham dan Solomon, Louis. 1995. Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley.
Edisi Ketujuh. Jakarta: Widya Medika.