Anda di halaman 1dari 15

ISLAM DALAM RAMALAN JAYABAYA

(Telaah Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya)

PENDAHULUAN

Bagi sebagian kalangan muslim memunculkan kajian terhadap


‘keberterimaan’terhadap ramalan sudah tentu akan memantik sebuah
polemik. Betapa tidak, konsep Islam dalam memandang ramalan pada
dimensi supranatural telah tegas dan jelas. Umat Islam dikenai
larangan atas sejumlah pengharapan spekulatif, seperti mengundi
suatu pilihan dengan anak panah, berjudi, dan termasuk di dalamnya
dengan jalan mempercayai ramalan. Apa yang penulis maksudkan
dengan ramalan ini sudah tentu bukan merupakan sebuah upaya
perkiraan masa depan dengan sejumlah metode ilmiah semacam
metode forecasting penilaian kelayakan bisnis dalam perekonomian
atau sejenisnya. Namun lebih kepada ramalan yang berorientasi pada
klenik dan atau mengarah praktek kebatinan. Efek ramalan sendiri
biasanya berlainan pada tiap-tiap individu yang berbeda. Akan tetapi
umumnya, ramalan akan membuat manusia terjebak oleh angan-
angan, bahkan secara negatif menjerumuskan pada kemusyrikan.

Namun harus menjadi sebuah kesadaran bahwa realitas yang lain


tentang berkembangnya ramalan, akhir-akhir ini, justru semakin
marak menyeruak. Semakin canggih piranti teknologi, kemudahan
menikmati hidup, dan terbuka lebarnya akses informasi bukannya
mengikis kepercayaan manusia modern terhadap model klenik yang
satu ini. Ramalan justru seperti memanfaatkan kondisi dengan
berperan mengisi kekosongan jiwa “manusia modern” dari
kemiskinan spiritualitas. Ramalan bukan lagi identik dengan asap
kemenyan pedupaan, spekulasi kartu tarot, bola kristal, pendulum,
1
atau benda-benda yang dianggap memiliki tuah magis lainnya. Akan
tetapi berkembang dengan menyelusup melalui layanan jasa
komunikasi yang bisa diakses melalui piranti elektronik dengan biaya
relatif terjangkau oleh masyarakat luas.

Di kelas menegah ke bawah, kebangkitan ramalan ditandai dengan


menguatnya isu-isu lawas tentang pentahapan jaman. Kondisi
perubahan sosial kemasyarakatan yang terus didera oleh berbagai
kesulitan hidup, krisis kemanusiaan berkepanjangan, dan dekadensi
moral telah menumbuhkan angan-angan dan penantian akan
kemunculan sosok ‘ratu adil’. Tidak terkecuali, ramalan seringkali
menjadi pelarian atas kehidupan yang dianggap semakin tidak pasti.

Bagi masyarakat Jawa khususnya, ramalan Jayabaya (baca: Joyoboyo)


merupakan ramalan yang dianggap memiliki akurasi tinggi dalam
menerangkan berbagai pertanda perubahan jaman. Ramalan ini sering
diagung-agungkan sebagai memiliki gambaran tentang masa depan
secara jelas dan meyakinkan. Anehnya, masyarakat yang
mempercayai “kebesaran” ramalan Jayabaya, umumnya tidak
memiliki pengenalan mendalam tentang keyakinannya berdasarkan
sumber ‘resmi’ ramalan Jayabaya. Sikap taken for granted yang
mereka tunjukkan umumnya terbentuk hanya melalui proses oral
dengan sumber informasi yang tidak jarang sukar
dipertanggungjawabkan. Tidak jarang mereka hanya berpatokan
kepada ‘kata orang’. Demikian juga sejumlah pihak yang
memposisikan diri sebagi penolak ramalan Jayabaya, umumnya juga
tidak membangun sikapnya berdasarkan pengetahuan ataupun proses
kajian yang jelas. Bahkan kadangkala hanya didasarkan atas sikap
mula-mula yang sudah antipati terhadap istilah ‘ramalan’, maka
menjadi justifikasi bahwa ramalan Jayabaya pun memiliki kadar
‘negatif’ sebagaimana penilaian awalnya.

Hadirnya tulisan terkait ramalan Jayabaya ini bukan merupakan usaha


untuk melegalkan praktek ramalan. Namun lebih merupakan upaya
2
informatif bagi para pembaca guna bersama memahami hakikat
ramalan Jayabaya. Sehingga kejelasan sikap dan tindakan pembaca,
terutama sebagai seorang muslim, akan terbangun berlandaskan
sebuah pemahaman yang nyata. Sekaligus dalam hal ini penulis
berharap, akan tumbuh sikap bahwa baik dalam posisi menerima
maupun menolak terhadap hakikat sesuatu hendaknya didasarkan pada
sebuah pengetahuan dan bukan hanya berdasarkan penilaian awal
yang belum tentu benar apalagi sekedar ‘kata orang’.

PENULIS RAMALAN JAYABAYA

Perlu diketahui, Ramalan Jayabaya merupakan kumpulan ramalan


yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Ramalan yang
sering disebut dengan istilah Jangka Jayabaya (baca: jongko
joyoboyo) tersebut dinilai oleh banyak kalangan sebagai hasil karya
pujangga yang memiliki akurasi tinggi dalam menggambarkan jaman
dan kondisi masa depan yang diprediksi. Dengan kata lain sejumlah
‘orang Jawa’ sangat mempercayai ketepatan dan kesesuaian Jangka
Jayabaya dalam menggambarkan masa depan.

Jangka Jayabaya memiliki banyak versi, minimal ada 9 (sembilan)


macam versi. Umumnya kitab-kitab tentang ramalan Jayabaya
tersebut merupakan hasil karya abad XVII atau XIX Masehi. Dari
beragam versi Jangka Jayabaya tersebut, secara substansial
kebanyakan memiliki kesamaan ide dan gagasan. Kemungkinan besar
hal ini disebabkan beragam versi tersebut sebenarnya mengambil dari
sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau
Asrar. Oleh karena itulah maka penulis memutuskan untuk membatasi
kajian ini berdasarkan Serat Pranitiwakya Jangka Jayabaya saja. Kitab
diyakini merupakan karya Raden Ngabehi Ranggawarsita (baca:
Ronggowarsito).[1] Serat Pranitiwakya ini dapat dikatakan mewakili
ramalan Jayabaya dalam wujud yang bersifat lebih ringkas.

3
TOKOH JAYABAYA MENURUT SERAT PRANITI WAKYA

Jayabaya yang dimaksud dalam Jangka Jayabaya tidak lain adalah


Prabu Jayabaya, raja Kediri, yang dianggap memiliki kemampuan luar
biasa dalam meramal masa depan. Nama Prabu Jayabaya sendiri bagi
masyarakat Jawa sering menjadi inspirasi dalam menciptakan
gambaran tentang ratu adil. Keberadaannya kerap kali dikaitkan
sebagi penitisan Dewa Wisnu yang terakhir di tanah Jawa.[2] Hal
yang terakhir ini menjelaskan bahwa Prabu Jayabaya hidup pada
atmosfer jaman Hindhuisme dimana seorang raja besar yang pernah
hidup digambarkan memiliki hubungan dengan dunia mistik, sebagi
wujud inkarnasi Dewa dalam rangka menjaga kelangsungan
kehidupan di mayapada (bumi).

Akan tetapi pesan utama yang hendak disampaikan ramalan Jayabaya


tentang sosok prabu Jayabaya, hakekatnya justru tidak mengkaitkan
sang raja dengan Hindhuisme. Dalam Serat Praniti Wakya, Prabu
Jayabaya digambarkan sebagai seorang yang telah menganut agama
Islam. Bahkan dalam versi Serat Jayabaya yang lain digambarkan
bahwa keislaman yang paling mendekati praktek Nabi adalah
keislaman Prabu Jayabaya pada masa itu. “Yen Islama kadi Nabi, Ri
Sang Jayabaya…” (Jika ingin melihat keislaman yang yang mendekati
ajaran Nabi (Muhammad saw), orang demikian adalah Sang
Jayabaya).[3] Gambaran keislaman yang dianggap terbaik demikian,
jika memang benar terjadi, pembandingnya tentu adalah praktek
keagamaan pada jaman Hindhuisme yang mendominasi tersebut.
Parbu Jayabaya dianggap sebagai tokoh Muslim dengan parktek
keislaman terbaik mendekati parktek Nabi dibandingkan banyak
manusia pada masa itu yang masih mempraktekkan ajaran Hindhu.

Terkait dengan ‘keislaman’ Prabu Jayabaya, Serat Praniti Wakya


menjelaskan bahwa raja Kediri tersebut telah berguru kepada Maulana
4
Ngali Syamsujen yang berasal dari negeri Rum. Yang dimaksud
dengan tokoh tersebut tentu adalah Maulana ‘Ali Syamsu Zein,
seorang sufi yang kemungkinan besar berasal dari Damaskus. Pabu
Jayabaya, digambarkan dalam Praniti Wakya sebagai sangat patuh
menjalankan ajaran gurunya yang beragama Islam tersebut.

Lantas, apakah ‘keislaman’ Prabu Jayabaya yang hidup dalam


atmosfer jaman kehindhuan ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai
informasi yang shahih ? Hal ini merupakan persoalan yang sulit
diverifikasi kebenarannya. Sebab tidak terlalu banyak bahan yang
dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupan keagamaan pada
masa hidup Prabu Jayabaya. Bahkan tidak sedikit yang
menggambarkan bahwa sosok Prabu Jayabaya tidak lain hanya
sekedar tokoh fiktif belaka. Penulisan beragam versi Jangka Jayabaya
pun, umumnya berasal dari masa belakangan, dimana Islam telah
berkembang sebagai ajaran masyarakat. Namun hal ini penting
dimengerti, terutama bagi para da’i yang berdakwah kepada kaum
kebatinan dan kejawen, bahwa klaim mereka tentang Jangka Jayabaya
merupakan kitab milik kaum kebatinan dan kejawen adalah salah.
Sebab kitab ini sesungguhnya kitab ini dihasilkan berdasarkan
pengaruh ajaran Islam.

Terkait keberadaan penganut agama Islam pada masa yang diyakini


sebagai ‘Jaman’ Jayabaya, bukan merupakan persoalan yang mustahil.
Prabu Jayabaya diyakini hidup pada abad XII, pada masa antara tahun
1135 dan 1157 M.[5] Sedangkan pada masa sebelumnya, yaitu era
pemerintahan Erlangga, abad XI, di Leran, sekitar 8 (delapan)
kilometer dari Gresik, telah ditemukan batu nisan dari makam seorang
bernama Fathimah binti Maimun bin Hibatullah yang memberikan
informasi bahwa wanita yang diyakini beragama Islam tersebut
meninggal pada tanggal 7 Rajab 475 H atau tahun 1082 M.[6] Bahkan
menurut Prof. Dr. Hamka jauh-jauh hari sebelumnya, dalam catatan
China, disebutkan bahwa raja Arab telah mengirimkan duta untuk
menyelidiki seorang ratu dari Holing (Kalingga) yang bernama Ratu
Shi Ma yang diyakini telah melaksanakan hukuman had. Ratu tersebut
5
ditahbiskan antara tahun 674-675 M. Prof. Dr. Hamka menyimpulkan
bahwa raja Arab yang dimaksud adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan
yang hidup pada masa itu dan wafat pada 680 M.[7] Demikan juga
hasil kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke Indonesia menyebutkan
bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali adalah abad I H atau
abad VII-VIII M.[8]

Karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era
Jayabaya, juga memiliki kecenderungan terpengaruh oleh keberadaan
ajaran Islam. Disertasi Dr. Sucipta Wiryosuparto menyebutkan bahwa
Kakawin Gatutkacasraya karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan
kata-kata dari Bahasa Arab.[9] Penggunaan kosa kata Arab yang
serupa juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya
bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Tulisan pujangga yang
demikian tentu tidak mungkin terjadi kecuali telah terjadi interaksi
dengan penganut agama Islam. Hal ini membuktikan bahwa telah ada
komunitas umat Islam di Tanah Jawa pada masa yang diyakini sebagai
era Jayabaya. Dengan demikian dakwah kepada penguasa, termasuk
kepada Prabu Jayabaya pun bukan merupakan perihal yang mustahil.
Demikian juga tentang keislaman sang raja Jayabaya merupakan
persoalan yang sangat mungkin terjadi. Apalagi Jangka Jayabaya
seringkali disebut-sebut diturunkan dari sejumlah karya yang lebih
tua.

SUBSTANSI JANGKA JAYABAYA

Boleh dikatakan bahwa hampir sebagian besar isi Serat Praniti Wakya
berbicara tentang “masa depan” Pulau Jawa dalam visi Jayabaya.
Namun bila dicermati lebih mendalam, akan nampak bahwa Serat
Praniti Wakya banyak mengambil isnpirasi penulisan dari sumber-
sumber Islam berupa Al Quran dan Hadits. Berita-berita tentang akhir
jaman dari kedua pusaka umat Islam tersebut kemudian diolah dalam
redaksi pengarang Serat Praniti Wakya (dalam hal ini diyakini sebagai
6
karya R. Ng. Ranggawarsita). Sehingga sifat universal dari ajaran
Islam tentang berita akhir jaman kemudian diterangkan dan diterapkan
dalam lingkup Jawa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar
ajaaran islam dalam Serat tersebut telah mengalami proses yang
disebut ‘jawanisasi’. Namun demikian, substansi Islam itu sendiri
masih nampak bersifat tetap dan tidak hilang.

Simak misalnya, penuturan Jayabaya tentang kiamat. Sang Prabu


menyatakan bahwa kiamat adalah “kukuting djagad lan wiji kang
gumelar iki, iku tekane djajal laknat …”.[10] Sorotan lain Serat Praniti
Wakya juga membahas tentang pandangan Prabu Haji Jayabaya
tentang akan datangnya Yakjuja wa Makjuja[11] (Ya’juj dan Ma’juj),
kiamat kubra[12] (kiamat besar), lochil ma’pule[13] (lauh al
mahfudz), dan lain sebagainya.

Konsep-konsep yang termuat dalam Serat Paraniti Wakya tersebut di


atas jelas tidak dapat diingkari berasal dari ajaran Islam. Deskripsi
beberapa terminologi Islam dalam Praniti Wakya sebagian memang
tidak bersifat lugas dan jelas. Pembabakan Jaman menjadi 3 bagian
seperti jaman kaliswara, kaliyoga, dan kalisengara jelas bukan
merupakan visi ajaran Islam. Demikian juga beberapa ramalan tentang
‘akan’ munculnya sejumlah kerajaan di Jawa seperti Pajajaran,
Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, dan Surakarta.
Namun hal tersebut bukan tidak dapat dijelaskan. Penjelasan pertama,
sangat mungkin sang pengarang Praniti Wakya, yaitu R. Ng.
Ranggawarsita bermaksud menggambarkan pemahaman sang tokoh
Prabu Jayabaya secara apa adanya, yaitu seorang muslim yang masih
hidup dalam atmosfer Hindhuisme. Namun dengan penjelasan kedua,
hal tersebut bisa saja timbul dari pemikiran pengarang sendiri. Saat
menulis sejumlah versi ramalan Jayabaya, jelas Ranggawarsita telah
hidup pada masa dimana dia bisa mengikuti sejumlah perkembangan
terkait jatuh bangunnya sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti
Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan seterusnya. Penjelasan awal
tersebut memiliki konsekuensi memungkinkan terjadinya pembenaran
bahwa Ramalan Jayabaya memang seolah terbukti akurat. Namun
7
mengingat bahwa tidak ada catatan pasti yang menyatakan bahwa
Prabu Jayabaya merupakan sosok yang memang ‘pintar’ meramal
masa depan, maka penjelasan kedua ini lebih dapat digunakan sebagai
argumentasi. Sedang terkait banyaknya konsep Islam dalam ramalan
Jayabaya yang kadang terlihat ‘kurang’ islami lagi, mungkin hal ini
disebabkan pemahaman R. Ng. Ranggawarsita yang kurang tuntas
dalam memahami Syariat Islam.

Ranggawarsita pernah belajar di Pondok Pesantren Tegalsari,


Ponorogo, dibawah asuhan Kyai Hasan Bashori atau sering disebut
Kyai Kasan Besari dalam lidah Jawa. Sebelum berangkat ke pondok,
sebenarnya Ranggawarsita telah pandai membaca Al Quran. Oleh
karena pengajaran awal di pondok Pesantren Tegalsari, adalah
pelajaran tentang kajian Al Quran dan Fiqih maka Ranggawarsita
menjadi jengkel. Bahkan untuk melampiaskan kekesalannya, dia
sering keluar dari lingkungan pondok untuk berjudi mengadu ayam.
Kyai Kasan Besari akhirnya mengetahui kekesalan Ranggawarsita,
maka kepada sang Ranggawarsita kemudian diajarkan ilmu tassawuf.
[14] Agaknya hal ini sangat berpengaruh terhadap pemahaman syariat
Ranggawarsita pada masa selanjutnya.

Sedangkan ‘ramalan’ bersifat futuristik yang seolah memiiliki


kesesuaian dengan jaman yang diramalkan, hal tersebut bukannya
tidak dapat dijelaskan. Misalnya ungkapan bahwa “… Nusa Jawa
bakal kinalungan wesi” (Pulau Jawa akan dikalungi besi). Sebagian
penafsir memaknai ungkapan tersebut berkaitan bahwa di Jawa akan
timbul industrialisasi. Ada pula yang memaknai bahwa kalung besi
yang dimaksud adalah penggambaran bentuk rel kereta api. Jika
penafsiran ini benar, maka perlu diketahui bahwa Ranggawarsita
hidup pada masa penjajahan Belanda, dimana pengaruh Belanda
dalam lingkungan Keraton telah merasuk sedemikian kuatnya.
Sedangkan di bumi Eropa sendiri, dimulai dari Perancis dan menyebar
ke seluruh Eropa termasuk Belanda, telah mengalami Revolusi
industri sehingga industrialisasi maupun transportasi darat
menggunakan kereta api sudah umum keberadaannya. Cerita-cerita
8
demikian tentu dapat didengar di wilayah Keraton yang secara intens
terlibat dalam pergaulan bangsa Belanda. Sudah tentu dalam
pandangan Ranggawarsita, jika Jawa berada dalam genggaman
Belanda, maka tidak urung ‘kalung besi’ akan mengitari Jawa. Hal itu
bisa berupa industrialisasi maupun wujud rel kereta api.

Menariknya, serat Praniti Wakya sebagai buah karya R. Ng.


Ranggawarsita, mediskripsikan pandangan Prabu Jayabaya terhadap
tradisi kepemimpinan pendeta. Telah banyak diketahui bahwa para
pendeta dalam sistem kasta Hindhu memiliki strata kedudukan paling
tinggi secara sosial. Lebih tinggi dari kasta para raja dan bangsawan
yang masuk ke strata kedua, yaitu kasta Ksatria. Diceritakan bahwa
setelah selesai belajar kepada Maulana ‘Ali Syamsu Zain, Prabu
Jayabaya bersama putranya yang bernama Prabu Anom Jayamijaya
berniat mengantar kepulangan sang guru ke negeri Rum hingga ke
pelabuhan. Sepulang dari pelabuhan, Prabu Jayabaya dan putranya
menyempatkan diri singgah dipertapaan seorang pendeta bernama
Ajar Subrata, saudara seperguruan sang Prabu namun masih menganut
ajaran Hindhu. Sang pendeta bermaksud mencobai Prabu Jayabaya
yang dikenal sebagi titisan Bathara Wisnu dengan memberi suguhan
berupa 7 (tujuh) jenis yaitu kunyit satu rimpang, jadah (makanan dari
beras ketan ditumbuk) darah, kejar sawit, bawang putih, bunga melati,
dan bunga seruni masing-masing satu takir (wadah yang dibuat dari
daun pisang, biasanya untuk meletakkan sesaji).[15]

Suguhan tersebut bagi Prabu Jayabaya, memiliki makna tersandi atau


arti tersembunyi yang berada disebalik suguhan tersebut. Apalagi
Prabu Jayabaya dan Ajar Subrata pernah menjadi saudara seperguruan
sehingga dimungkinkan mereka memiliki pengetahuan yang kurang
lebih sama. Suguhan tersebut membuat sang Prabu sangat marah dan
akhirnya membunuh sang pendeta sekaligus putrinya yang menjadi
istri dari Prabu Anom Jayamijaya, putranya. Pasca peristiwa tersebut
Jayabaya menerangkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan untuk
menghukum kekurangajaran sang pendeta yang secara tersandi berniat
mengakhiri kekuasaan raja-raja di Jawa. Suguhan tersebut memiliki
9
makna bahwa jika Prabu Jayabaya memakannya maka kekuasaan akan
tetap berada ditangan pendeta dan jaman baru, termasuk di dalamnya
berkembangnya ajaran Islam, tidak akan pernah terjadi.

Demikianlah pandangan Serat Praniti Wakya, bahwa Prabu Jayabaya


adalah titisan Wisnu yang hanya tinggal dua kali akan turun ke
Marcapada. Pasca Prabu Jayabaya, dikisahkan bahwa Wisnu akan
menitis di Jenggala dan setelah itu tidak akan pernah menitis kembali
serta tidak memiliki tanggung jawab lagi terhadap kemakmuran
ataupun kerusakan bumi maupun alam ghaib.

“… Ingsun iki pandjenenganing Wisjnu Murti[16], kebubuhan agawe


rahardjaning bumi, dene panitahingsun mung kari pindo, katelu ingsun
iki, ing sapungkuringsun saka Kediri nuli tumitah ana ing Djenggala,
wus ora tumitah maneh, karana wus dudu bubuhan ingsun, gemah
rusaking djagad, lawan kahananing wus ginaib, ingsun wus ora kena
melu-melu, tunggal ana sadjroning kakarahe guruningsun, ...”[17]

Pernyataan di atas menggambarkan bahwa ajaran kedewaan dalam


Hindhuisme tidak akan berlaku lagi pasca penitisan wisnu di Jenggala.
Hal ini diperkuat pula bahwa pasca penitisan di Jenggala, Wisnu tidak
akan memiliki tanggung jawab lagi terhadap keutuhan dunia nyata
maupun dunia maya alam ghaib, termasuk alam kedewaan sekalipun.
Dapat kita lihat pula bahwa pasca itu, Majapahit yang dianggap
sebagai kerajaan tersohor di nusantara sekalipun ternyata sudah tidak
melaksanakan ajaran Hindhu secara murni, namun menjalankan
sinkertisme antara ajaran Syiwa dan Budha. Selanjutnya, jaman akan
berubah menuju jaman Islam yang diisyaratkan bahwa semua keadaan
akan menjadisatu dengan tongkat atau pegangan guru Jayabaya yang
bernama Maulana ‘Ali Syamsu Zein. Bahkan secara tersirat Serat
Praniti Wakya sebenarnya mencoba mengungkapkan bahwa Bathara
Wisnu, Dewa yang masuk dalam Trimurti[18] dan memiliki tanggung
jawab memelihara alam semesta, ternyata telah pula menerima ajaran
Islam sebagai agamanya.
10
PENUTUP

Demikian sekilas gambaran tentang Serat Praniti Wakya Jangka


Jayabaya. Kitab tersebut pada dasarnya merupakan buku yang
mencoba untuk memberikan apresiasi terhadap keberadaan Islam di
Pulau Jawa. Hatta, di dalamnya mengandung banyak hal-hal yang
musykil dan seolah tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun dengan
memandang kitab tersebut sebagai bagian dari proses dakwah di Pulau
Jawa, maka perlu pula kaum muslimin mengkaji dan mengapresiasi
serat tersebut. Sebab telah banyak kitab Jawa yang sebenarnya
memiliki nafas Islam secara kental, namun diklaim sebagi kitab
Hindhu maupun kebatinan. Hal ini sudah tentu disebabkan kepedulian
umat Islam yang masih minim dan sekaligus kurangnya pengetahuan
terhadap naskah-naskah lama karya pujangga. Juga mengindikasikan
bahwa kajian keilmuan dikalangan umat Islam, saat ini, masih belum
membudaya.

Serat Praniti Wakya Jangka Jayabaya, karya seorang pujangga R. Ng.


Ranggawarsita, seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara
Islam dan kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih
dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘kejawen’ sendiri terposisikan
sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan
ruh Islam.

Selanjutnya, jika pembaca termasuk ke dalam kelompok kalangan


yang mempercayai ramalan Jayabaya sebagai ramalan yang memiliki
akurasi tinggi, maka bersegeralah kembali kepada Islam dan sumber-
sumbernya berupa Al Quran dan Ash Shunnah. Sebab, hakikatnya
“ramalan” Jayabaya merupakan bagian dari upaya memahami Islam
melalui proses pencarian panjang yang belum selesai. Sedangkan bagi
kalangan yang menolak sebelum mengkaji hal ini sebelumnya, maka
11
hendaknya akan dapat mengubah sikap terhadap pemahaman hakikat
segala sesuatu. Bahwa sahnya sebuah amalan adalah pasca terbitnya
sebuah kepahaman mendalam.

FOOTNOTE

[1] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT.
Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal.

[2] Noname. Serat Praniti Wakja Djangka Djojobojo. (Penerbit


Keluarga Soebarno, Surakarta, tth). Hal. 5

[3] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya …. Opcit. Hal. 20

[4] Noname. Serat Praniti Wakja … Opcit. Hal. 5. Artinya : Sedang


yang menjadi pembuka cerita adalah beliau Prabu Haji Jayabaya, raja
yang seperti Dewa, yang disebut ratu adil, populer di dunia sebagai
titisan Dewa Wisnu.

[5] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya … Opcit. Hal. 16

[6] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya … Opcit. Hal15-16. Juga


M. C. Ricklefs. A History of Modern Indonesia. (Macmillan
Education Ltd, London and Hampshire, 1981. Edisi Indonesia
:Sejarah Indonesia Modern. Terjemah oleh Drs. Dharmono
Hardjowidjono. Cetakan II. (Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 1992). Hal. 3-4

12
[7] Prof. Dr. Hamka. Sejarah Umat Islam. Edisi Baru. Cetakan V.
(Pustaka Nasional Ltd, Singapura, 2005). Hal. 671-673

[8] Panitia Seminar Masuknya Islam ke Indonesia. Risalah Seminar


Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: Kumpulan Pidato dan
Pendapat Para Pemimpin, Pemrasaran, dan Pembanding dalam
Seminar tanggal 17 Sampai 20 Maret 1963 di Medan. (Panitia
Seminar Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, 1963). Hal. 265

[9] Selengkapnya tentang kata-kata Bahasa Arab dalam Kakawain


Gathutkacasraya lihat Prof. Dr. Sucipta Wiryosuparto. Kakawin
Gatutkaca Craya. (Disertasi Universitas Indonesia, Jakarta, 1960).

[10] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 28. Artinya: Kiamat
adalah hancurnya dunia dan benih (kehidupan) yang terhampar ini, itu
(ditandai) dengan datangnya Dajjal laknat …

[11] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 29

[12] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 30

[13] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 31

[14] Moh. Hari Soewarno. Serat Darmogandul dan Suluk Gatoloco


Tentang Islam. (PT. Antar Surya Jaya, Surabaya, 1985). Hal. 16-17.
Buku ini menurut penulis banyak memiliki kelemahan dari sisi data,
analisa, dan metodologi terutama dalam membahas tentang Serat
Darmagandul dan Suluk Gatoloco.

13
[15] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 19-20

[16] Istilah Wisnu Murti menunjukkan salah satu nama penitisan


Dewa Wisnu dalam tiap-tiap masa dalam pandangan masyarakat Jawa
pra-Islam. Dalam dunia pewayangan Jawa, terutama kisah Ramayana,
penitisan Wisnu menjelma menjadi Ramawijaya dan Laksmana. Pada
ramawijaya menitis Wisnu Purba (baca : purbo yang “artinya
memiliki wewenang”). Sedangkan pada diri Laksmana menitis Wisnu
Sejati. Sedangkan pada era Mahabarata Wisnu Murti pernah menitis
pada tokoh Kresna dan Arjuna. Sedangkan dalam Lakon wayang
Wahyu Purba Sejati, digambarakan bahwa setelah meninggalnya
Ramawijaya dan Laksmana, tokoh dari era Ramayana. Kemudian
Wisnu Purba menitis pada tokoh Kresna dan Wisnu Sejati menitis
pada Arjuna di era Mahabarata. Namun kisah lain menyebutkan
bahwa Wisnu Sejati kemudian merasa tidak betah berada dalam tubuh
Arjuna, sebab sebelumnya tokoh Laksmana terkenal sebagai karakter
wayang yang menjalani hidup wadat (selibat=tidak menikah).
Sedangkan Arjuna memiliki istri banyak. Dengan demikian Kresna,
Raja Dwarawati atau Dwaraka, mendapat dua penitisan sekaligus
yaitu Wisnu Murti dan Purba. Sedangkan Arjuna hanya merupakan
penjelmaan Wisnu Murti.

[17] Noname. Serat Praniti Wakja …Opcit. Hal. 21-22. Artinya: “…


aku ini adalah Wisynu Murti, berkewajiban membuat kesejahteraan di
bumi, dan penitisanku dibumi tinggal tersisa dua kali, penitisan ketiga
adalah diriku ini, sedangkan selanjutnya di Jenggala, pasca itu aku
sudah tidak menitis sebagi manusia lagi, sebab hal itu bukan
tanggungjawabku lagi, makmur atau rusaknya dunia serta keadaan
alam ghaib, aku sudah tidak boleh campur tangan, semuanya sudah
menjadi tanggung jawab sesuai tongkat yang dimiliki guruku .”

[18] Trimurti merupakan ajaran Hindhu yang menyebutkan bahwa


terdapat tiga unsur ketuhanan yaitu Brahma, Wisnu, Syiwa, dan
Wisnu. Brahma berperan sebagai pencipta alam raya, sedang Wisnu
14
menjadi pemelihara, dan syiwa adalah anasir kekuatan perusak alam
semesta.

15