Anda di halaman 1dari 3

KURSI PANAS ITU TELAH DI DUDUKINYA KEMBALI

Oleh : Khairuddin Kedang


Mahasiswa PPKn, Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Surabara

Lima tahun sudah negeri ini di pimpin oleh sosok seorang SBY yang pada
awal kepemimpinannya hingga menjelang akhir periode kepemimpinannya,
hampir tidak terlepas dari berbagai macam konflik dan bencana. Sebuah
pertanyaan kemudian muncul, bahwa apakah segala bentuk peristiwa-peristiwa
kemanuasiaan baik itu konflik, bencana alam ataupun permasalahan-permasalahan
ketatanegaraan yang muncul dari awal datangnya SBY samapai pada akan
perginya SBY dari kursi republik ini semata-mata karena takdir dari Yang Kuasa
ataukah hanya semacam sebuah Dramatugri Kepemimpinan SBY?

Bukan saja itu, persoslan-persoalan semacam gizi buruk yang melanda


sebagian daerah di NTT, Papua dan daerah-daerah lainnya, juga tiada henti
membayang-bayangi keseharian pemimpin republik itu. Sulit dibayangkan, betapa
panasnya kursi keramat itu.

Memang, sebagai seorang pemimpin atau kepala pemerintahan tentunya


Beliau membawahi beberapa mentri-mentri negara ang khusus menangani kasus-
kasus seperti yang telah kita sebutkan di atas, dan tidak seberpa rumit tugas
seorang pemimpin jika kita logikakan. Namun adakah keadaan seperti ini akan
membuat seorang pemimpin tenang dengan hanya berjalan-jalan ke luar negeri
sebagai tamu negara sekaligus adalah merupakan ajang refreshing walaupun di
sana nantinya tidak sedikit persoalan-persoalan seputar hubungan luar negeri akan
diperbincangkan, ataukah hanya sekedar menunggu tanda tangan persetujuan,
peresmian, melntik dan mencopot jabatan, dan lainnya yang tentu tidak memeras
tenaga waktu dan pikiran?

SBY punya sejuta kekhususan yang mampu membawa Beliau duduk dan
akan duduk kembali di kursi panas itu. Berangkat dari menjadi seorang prajurit
sampai pada menjadi seorang pucuk pimpinan di republik ini, membuat Beliau
mahir dalam menata kehidupan baik itu kehidupan pribadi, keluarga, para mentri-
mentrinya hingga rakyat yang dipimpinnya. Beliau juga adalah sosok seorang
pemimpin yang penuh dedikasi, pengayoman yang mau merangkul iapa saja
tampa pandang kawan atau lawan, kaya atau miskin, pintar atau bodoh dan kecil
maupun besar. Beliau punya ketegasan, disiplin yang tinggi, ulet dan pantang
menyerah dalam menghadapi segala bentuk tantangan yang merintangi. Terakhir
saya akan mengatakan bahwa SBY is e Super Heronya Indonesia sekarang ini.

Demokrat, SBY dan Demokrasi


Jika di pertengahan tahun 1954, tepatnya pada tanggal 20 Juli keluar tulisan
Natsir dalam “Suara Masyumi” yang merupakan seruan kepada semua patriot
untuk membela demokrasi yang sedang terancam, kata Natsir Masyumi sebagai
suatu partai yang dalam saat yang bagimanapun selalu berusaha
mempertahankannya dari keruntuhan. Masyumi dengan restan-restan hak
demokrasi yang masih tinggal akan menentang setiap tindakan yang hendak
menghancrukan sendi-sendi demokrasi (Panitia Buku Peringatan Moh Natsir/Moh
Roem 70 Tahun, 1978 : 204), maka SBY pada tahun 2004 dengan partainya yaitu
Demokrat muncul sebagai peserta pesta demokrasi, merangkul suara rakyat dan
membawanya menjadi presiden pertama di dalam pelaksanaan demokrasi
langsung oleh rakyat yang sekaligus seolah-olah menyatakan kepada Mohammad
Natsir bahwa inilah hasil dari perjuanganmu mempertahankan demokrasi yang
hampir punah dari peradabannya kala itu.

Memang, demokrasi pada masa-masa kepemimpinan sebelumnya belum


terlalu tampak ke permukaan karena memang dikekang oleh penguasa-penguasa
kala itu, dalam artian demokrasi pada masa itu hanya sekedar nama dan semboyan
ketika akan mengawali sebuah kepemimpinan. Demokrasi seolah hilang makna
bahwa demokrasi berarti dari, oleh dan untuk rakyat itu berbelok ke arah dari
rakyat oleh pemimpin dan untuk pemimpin dan yang punya kepentingan di sana.
Keadaan seperti inilah oleh SBY dengan cita-cita yang besar ingin meubahnya
kembali menjadi demokrasi sesungguhnya.
Kita bisa lihat betapa upaya-upaya itu ada. Berbagai program untuk rakyat
dicanangkan demi kemaslahatan masyarakan di republik ini. Hal demikian seolah
memberikan jawaban kepada rakyat bahwa demokrasi dari dan untuk rakyat itu
masih ada dan memang harus selalu ada di dalam detak jantung dan bayangan
yang selalu ikut kemanapun kita pergi. Dengan begitu maka para pendiri
demokrasi akan tersenyum bangga melihat negeri ini begitu hidup dengan
demokrasi yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.