Anda di halaman 1dari 443

KATA PENGANTAR

Guna memenuhi target Millenium Development Goals (MDGs), Rencana Strategis PU serta
peningkatan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan permukiman, diperlukan
kompetensi para pelaku pembangunan bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman, khususnya
bidang Air Limbah di Indonesia. Berbagai upaya strategis termasuk fasilitasi penguatan
kapasitas aparat pemerintah daerah dalam bidang Air Limbah terus dilakukan, antara lain
melalui diseminasi keteknikan yang dilaksanakan secara berjenjang untuk tingkat provinsi dan
dilanjutkan ke seluruh kabupaten/kota dengan tujuan untuk penyamaan persepsi, pemahaman
dan pengetahuan bidang Air Limbah secara lebih baik, sesuai dengan pola pengelolaan air
limbah yang mengacu pada peraturan dan kebijakan yang terkait, seperti Permen PU Nomor
16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air
Limbah Permukiman.
Materi diseminasi keteknikan bidang air limbah ini terbagi menjadi Buku I dan Buku II. Buku II
meliputi :
Operasi dan Pemeliharaan Unit IPLT
Pedoman Pengoperasian dan Pemeliharaan IPAL
Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Sistem Komunal
Pembiayaan Operasi dan Pemeliharaan IPLT dan IPAL
Monitoring dan Evaluasi
Panduan Kunjungan Lapangan
Studi Kasus
Penyusunan materi diseminasi keteknikan air limbah permukiman merupakan rangkuman
materi dari berbagai sumber yang telah ada, dan dilakukan atas kerjasama Direktorat
Pengembangan PLP dengan Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, Fakultas
Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS, Jurusan Teknik
Lingkungan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti,
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, serta Balai Teknik Air Minum dan
Sanitasi Wilayah I Bekasi dan Balai Teknik Air Minum dan Sanitasi Wilayah II Surabaya.
Semoga materi ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan berbagai kegiatan
penanganan dan pengelolaan air limbah domestik di Indonesia.

Maret, 2013
Direktur Pengembangan PLP,
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum

Ir. Djoko Mursito, M.Eng, MM.

DAFTAR ISI
BAGIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
Modul 10 : Operasi dan Pemeliharaan Unit IPLT ........................................................... 505 534
Modul 11 : Pedoman Pengoperasian dan Pemeliharaan IPAL ....................................... 535 604
Modul 12 : Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Sistem Komunal ................................ 605 618
Modul 13 : Pembiayaan Operasi dan Pemeliharaan IPLT dan IPAL .............................. 619 648

BAGIAN MONITORING DAN EVALUASI


Modul 14 : Monitoring dan Evaluasi .............................................................................. 649 732

BAGIAN TINJAUAN LAPANGAN DAN STUDI KASUS


Modul 15 : Panduan Kunjungan Lapangan ..................................................................... 733 748
Modul 16 : Studi Kasus ................................................................................................... 749 752

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
Lampiran 1A : Draft Peraturan Menteri tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan ................................................................ 753 776
Lampiran 1B : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan
dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP) 777 812
Lampiran 1C : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan
dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNPSPALP) .......................................................................................................................... 813 854

LAMPIRAN 2
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ............................................... 855 903

ii

MODUL 10
OPERASI DAN PEMELIHARAAN UNIT IPLT

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN

C I P T A

U M U M
K A R Y A

LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI
1.
2.
3.
4.

5.

6.

7.
8.

UMUM
505
PERSYARATAN TEKNIS UNTUK UNIT-UNIT DALAM IPLT 505
PERSYARATAN TEKNIS UNTUK KEGIATAN PENDUKUNG 508
PERSIAPAN PENGOPERASIAN UNIT-UNIT IPLT 509
4.1 Persiapan Pembangkit Tenaga Listrik/Generator
509
4.2 Persiapan Pompa
509
4.3 Pengujian Kolam Ekualisasi
. 509
4.4 Pengujian Tangki Imhoff dan/dtau Kolam Stabilisasi Anaerobik
510
4.5 Pengujian Kolam Stabilisasi Fakultatif
510
4.6 Pengujian Kolam Stabilisasi Fakultatif
.. 510
4.7 Pengujian Kolam Aerasi
. 511
4.8 Pengujian Kolam Maturasi
.. 511
OPERASI DAN PEMELIHARAAN UNIT-UNIT IPLT................................................ 512
5.1 Operasi dan Pemeliharaan Truk Tinja
. 512
5.2 Operasi dan Pemeliharaan Bak Pengumpul
516
5.3 Operasi dan Pemeliharaan Pompa, Alat Ukur Debit Dan Sump Well . 517
5.4 Operasi dan Pemeliharaan Unit Penyaring
.. 518
5.5 Operasi dan Pemeliharaan Tangki Imhoff
. 519
5.6 Operasi dan Pemeliharaan Kolam-Kolam Stabilisasi 520
5.7 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Pengering Lumpur
525
5.8 Operasi dan Pemeliharaan Unit Pengolahan Kimia .. 528
PEDOMAN PEMELIHARAAN SISTEM DAN PROSES/TEKNOLOGI PENGOLAHAN
AIR LIMBAH
.. 528
6.1 Program Pemeliharaan
528
6.2 Permasalahan Operasi yang Sering Terjadi dan Penanganannya
529
PEMELIHARAAN SISTEM PERPIPAAN. 531
PEMELIHARAAN BANGUNAN PADA IPLT.. 533

DAFTAR TABEL
Tabel 5.1.
Tabel 5.2.
Tabel 5.3.
Tabel 5.4

Tipe-Tipe Saringan (Screen)


.
Estimasi Kebutuhan Tenaga Kerja

Permasalahan dalam Pengoperasian Kolam Maturasi

Sumber dan Karakteristik Lumpur di IPLT

518
522
523
525

DAFTAR GAMBAR
Gambar 5.1.
Gambar 5.2.
Gambar 7.1.

ii

Proses Penyedotan Lumpur Tinja dari Tangki Septik


.. 514
Pengolahan Biologis pada IPLT
.. 524
Metoda Pembersihan Endapan dalam Pipa .................................................. 532

OPERASI DAN PEMELIHARAAN UNIT IPLT

1. UMUM
Pengoperasian instalasi pengolahan air lumpur tinja (IPLT) mengacu pada Petunjuk Teknis
No. CT/AL/Op-TC/003/98 tentang Tata Cara Pengoperasian IPLT Sistem Kolam. Ruang
lingkup dalam petunjuk teknis ini memuat ketentuan teknis dan cara persiapan pengoperasian,
pelaksanaan pengoperasian, pelaksanaan pemeliharaan dan pelaksanaan pengendalian IPLT.
Ketentuan umum yang harus dipenuhi untuk pengoperasian dan pemeliharaan IPLT adalah
sebagai berikut:
a. di instalasi dilengkapi dengan gambar bangunan
b. setiap peralatan harus dilengkapi katalog dan daftar operasi dan pemeliharaan
c. air Iimbah yang diolah adalah lumpur tinja
d. tersedia influen air Iimbah
e. tersedia fasilitas penyediaan air bersih yang memadai
f.

telah diuji coba terhadap pengaliran air (profil hidrolis) dan kebocoran

g. ada penanggunjawab pengolah air Iimbah yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
h. tersedia biaya pengolahan yang dialokasikan pada institusi pengelola
i.

kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan IPLT harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
perundangan pengolahan air Iimbah dan ketentuan kesehatan dan keselamatan kerja

j.

masyarakat sudah diberi informasi

2.

PERSYARATAN TEKNIS UNTUK UNIT-UNIT DALAM IPLT

Persyaratan teknis dalam operasional IPLT memuat ketentuan tentang kriteria dan persyaratan
yang harus diikuti untuk mendapatkan efisiensi pengolahan sesuai dengan yang telah
direncanakan. Persyaratan teknis ini meliputi kualitas dan kuantitas influent lumpur tinja (air
limbah) yang akan masuk ke tiap unit pengolahan di dalam IPLT, waktu retensi (waktu tinggal)
lumpur tinja di dalam tiap unit, serta kriteria disain lainnya.
Persyaratan teknis untuk kualitas lumpur tinja yang masuk ke dalam IPLT harus memenuhi:

Laju/kapasitas lumpur tinja (cairan dan endapan) sebesar 0,5 L/org/hari

505

BOD (KOB) = 5.000 mg/L

TS = 40.000 mg/L

TVS = 2.500 mg/L

TSS = 15.000 mg/L

Bila parameter-parameter influent lumpur tinja yang masuk ke IPLT melebihi konsentrasi
tersebut, maka diperlukan pengenceran dengan persyaratan:

Bahan yang digunakan sebagai pengencer tinja dapat menggunakan air sungai atau air
pengencer lain dengan konsentrasi BOD (BOD5) maksimal 10 mg/L

Unit pengolahan yang memerlukan pengenceran adalah influent pada tangki imhoff dengan
kadar minyak dan lemak tinggi dan influent pada kolam stabilisasi fakultatif dengan BOD
yang melebihi 400 mg/L
Pengolahan lumpur tinja yang digunakan pada IPLT menggunakan pengolahan secara
biologis dengan memanfaatkan mikroba untuk menguraikan material organik yang berada
didalamnya. Mikroba sebagai makhluk hidup menggunakan lumpur tinja sebagai sumber
nutrien untuk hidup dan berkembang biak. Oleh karena sifatnya sebagai makhluk hidup,
maka pengolahan limbah dengan mikroba memerlukan kehati-hatian terkait dengan
kualitas influent yang masuk karena akan mempengaruhi kinerja mikroba.

Persyaratan teknis untuk pengoperasian tangki imhoff

Zona sedimentasi:
1. Kecepatan aliran horizontal I cm/det
2. Beban permukaan 30 m3/m2.hari
3. Waktudetensi 1,5 jam
4. Efisiensi pemisahan TSS = (40-60)% dan konsentrasi BOD berkisar (30-40)%

pH antara 7-8

Ketinggian zona netral 0,5 m

Slot tidak boleh tersumbat

Permukaan zona sedimentasi harus bersih dari buih dan kotoran mengambang

506

Lumpur matang mempunyai karakteristik:


1. Kadar air (88-92)%
2. Asam volatil < 2.000 mg/l
3. Lumpur berwarna hitam, berbau ter, kental dan mudah meresap

Laju endapan lumpur 0,06 l/orang/hari dengan waktu retensi satu bulan

Setiap pembuangan lumpur matang, pipa inlet dan distribusi harus digelontor atau
dibersihkan

Persyaratan teknis untuk pengoperasian kolam stabilisasi anaerobik

Permukaan kolam harus tertutup buih

Beban BOD volumetrik berkisar antara (60-100) g BOD/m3. hari

Efisiensi pemisahan BOD 50%

ph influen (8-9)

Lumpur harus dikuras secara berkala dengan pompa

Persyaratan teknis untuk pengoperasian kolam stabilisasi fakultatif

Permukaan air harus berwarna hijau yang menandakan adanya algae

Beban BOD volumetrik (60-100) g BOD/m3.hari

BOD influen 400 mg/l

Efisiensi pemisahan BOD 70%

pH antara 7-8

Persyaratan teknis untuk pengoperasian kolam stabilisasi maturasi

Beban BOD volumetrik (40-60) g BOD/m3.hari

Efisiensi pemisahan BOD 70%

Efisiensi pemisahan E. Coli sebesar 95% (berdasarkan penurunan konsentrasi E. Coli dari
kolam-kolam sebelumnya

507

Persyaratan teknis untuk pengoperasian kolam stabilisasi aerasi

Beban BOD volumetrik (400-600) g BOD/m3.hari

Efisiensi pemisahan BOD 70%

Tenaga pengadukan:
1. 6 Watt/m3 untuk kolam aerasi aerobik
2. (2-3) Watt/m untuk kolam aerasi fakultatif

Persyaratan teknis untuk pengoperasian bak pengering lumpur

Kadar air lumpur kering optimal (70-80)%

Tebal lumpur kering di atas pasir (20-30) cm

Tebal lumpur basah di atas pasir (30-45) cm

Media pasir yang harus diganti secara berkala dan dipasang pada lapisan teratas mempunyai
kriteria seperti berikut:
1. Ukuran efektif = (0,30 0,50) mm
2. Koefisien keseragaman 5
3. Tebal pasir (15-22,5) cm
4. Kandungan kotoran 1 % terhadap volume pasir

3.

Waktu pengeringan lumpur (7-10) hari

PERSYARATAN TEKNIS UNTUK KEGIATAN PENDUKUNG

Ketentuan teknis lainnya yang dilakukan pada IPLT adalah sebagai berikut:

Tenaga operator dibagi tiga shift dalam sehari dan setiap shift minimal terdiri dari dua orang
yaitu masing-masing operator proses/lab dan operator mekanik/listrik

Tenaga operator mekanik/listrik dengan kualifikasi minimal STM/SMU

Tenaga operator proses/Lab dengan kualifikasi minimal analisis/SMU

Setiap tenaga operator harus sudah mengikuti pelatihan sesuai bidangnya.

508

Peralatan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan IPLT diantaranya adalah sebagai berikut
yaitu peralatan pengoperasian, pemeliharaan, pemantauan dan peralatan keselamatan dan
kesehatan. Peralatan yang dibutuhkan untuk lebih detilnya dapat dilihat pada Petunjuk Teknis
No. CT/AL/Op-TC/003/98 tentang Tata Cara Pengoperasian IPLT Sistem Kolam.

4.

PERSIAPAN PENGOPERASIAN UNIT-UNIT IPLT

4.1 Persiapan Pembangkit Tenaga Listrik/Generator

4.2

4.3

Periksa tegangan listrik yang tersedia dan PLN

Periksa semua saklar ada pada posisi off

Pindahkan saklar utama pada posisi on

Persiapan Pompa

Pastikan semua skrup dan baut dalam keadaan kencang/ketat

Periksa jumlah bahan bakar yang tersedia

Periksa permukaan minyak pelumas mesin setiap kali akan menjalankan mesin atau
minimal seminggu sekali tambahkan bila ketinggiannya berkurang.

Periksa air radiator harus penuh, tambahkan bila kurang

Pastikan tidak ada benda yang menghalangi aliran udara untuk mesin pendingin

Pastikan baterai dalam kondisi baik

Periksa tegangan V-belt.

Pengujian Kolam Ekualisasi

Pastikan unit pompa berada pada kondisi yang stabil dan kokoh

Pastikan kabel tenaga tersambung pada sumber daya dengan baik

Pastikan setiap komponen pompa dalam kondisi kering

509

4.4

4.5

4.6

Pengujian Tangki Imhoff dan/atau Kolam Stabilisasi Anaerobik

Masukkan air kedalam unit ekualisasi melalui bagian inlet sampai air keluar pada
bagian peluap.

Ukur kedalaman air pada titik outlet, atur ketinggian sesuai ketentuan rancangan

Pengujian Kolam Stabilisasi Fakultatif

Masukkan lumpur tinja hingga penuh. Selama pengisian perlu diperhatikan agar
tidak terjadi pergolakan aliran.

Jaga derajat keasaman lumpur sesuai ketentuan teknis

Tambahkan bibit mikrooganisme (dapat berupa buangan resapan tangki septik atau
lumpur stabil dan unit digeser dan sistem pengolahan air Iimbah konvensional)

Biarkan selama seminggu agar bakteri pembentuk asam dapat tumbuh dan
berkembang, atau sebulan bila tidak dilakukan penambahan bibit. Selama waktu
tersebut tidak boleh ada aliran yang keluar (efluen). Untuk sementara aliran air
Iimbah masuk dapat di bypass ke saluran terdekat yang direncanakan. Setelah
waktu tersebut pengoperasian rutin dapat dilaksanakan dimana air Iimbah dapat
dialirkan secara kontinyu dan effluent dapat dibuka.

Amati perkembangan edapan lumpur yang terjadi dengan mencatat kenaikan


endapan lumpur untuk setiap penambahan lumpur tinja (rn/rn3)

Arnbil sarnpel endapan lumpur terbawah setelah ketebalan Iurnpur rnencapai zona
netral

Lakukan analisis kandungan BOD (Kebutuhan Oksigen Biologis) dan Suspended


Solid (SS) dalam sampel endapan lumpur

Pengujian Kolam Stabilisasi Fakultatif


Uji coba kolarn fakultatif dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a) Metode kultur
Isikan air tawar biasa kedalarn kolam sesuai ketinggian yang ditetapkan

510

Tarnbahkan kultur algae sebagai bibit

Jaga ketinggian perrnukaan air setiap hari dengan rnenambah air lirnbah baku
secukupnya ke dalam kolam

Setelah pertumbuhan algae cukup banyak ( beberapa han kernudian ), sejurnlah


air limbah baku perlu ditarnbahkan ke dalarn kolam hingga kedalaman operasi
yang direncanakan

Biarkan selarna 2-3 han tanpa adanya pengaliran effluent

Kolarn siap dioperasikan secara kontinyu dengan rnengalirkan air lirnbah baku
secara terus rnenerus dan rnernbuka aliran pada pipa outlet

b) Metode alami:
Isikan air limbah baku ke dalam kolam hingga mencapai kedalaman operasi
penuh

4.7

4.8

Biarkan selama 15 hari agar terjadi pembibitan secara alamiah

Biarkan selama 15 hari lagi atau hingga jumlah algae yang terdapat di dalam
kolam sesuai dengan ketentuan.

Kolam siap dioperasikan secara kontinyu

Pengujian Kolam Aerasi

Isi reaktor aerasi dengan air secara perlahan

Hidupkan aerator bila air di reaktor aerasi sudah penuh

Tes semua pipa pembuang, katup, pintu air dan pompa

Reaktor aerasi diisi dengan air Iimbah, sehingga aerator dapat mentransfer udara ke
air Iimbah

Pengujian Kolam Maturasi

Isikan air tawar biasa kedalam kolam maturasi yang dipasang seri

Unit kolam maturasi pertama dapat menerima Iangsung effluent kolam fakultatif
primer/sekunder yang telah diuji coba. Dalam hal ini lokasi outlet kolam fakultatif
agar dibuat sedemikian rupa sehingga banyak algae yang lolos ke kolam maturasi

Unit kolam maturasi kedua juga dapat menerima langsung buangan dan kolam
maturasi pertama. Demikian seterusnya hingga pengaliran sampai pada unit kolam
maturasi yang terakhir

511

5.

Kolam maturasi siap dioperasikan secara kontinyu dengan beban pengolahan sesuai
perancangan yang disusun

OPERASI DAN PEMELIHARAAN UNIT-UNIT IPLT

5.1 Operasi dan Pemeliharaan Truk Tinja


Truk penguras lumpur tinja ini umumnya terdiri dari tangki tertutup dengan bahan baja
dengan kapasitas antara (4-6) m3 yang dilengkapi atau dihubungan dengan satu unit pompa
penguras baik berupa pompa vakum ataupun pompa sentrifugal. Secara umum model truk
penguras tinja ini mirip dengan truk pembawa air bersih, namun untuk membedakannya
maka truk penguras Lumpur tinja harus diberi warna yang berbeda, untuk truk tinja tangki
maupun truk umumnya dicat dengan warna kuning.

Pengoperasian Truk Tinja


Untuk mengoperasikan vacuum truk yang tepat dan benar adalah penting untuk memperoleh hasil
kerja secara efektif dan efisien. Operasi dan pemeliharaan truk tinja mengacu pada
Petunjuk Teknis Tata Cara Operasi Dan Pemeliharaan Truk Tinja. Operator (pengemudi
dan mekanik) harus benar-benar mengerti dan memahami petunjuk yang diberikan sebelum
memulai operasi.

Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam pengoperasian truk tangki antara lain:
a. Hentikan kendaraan pada tempat yang rata dan keras.
b. Hidupkan mesin kendaraan pada putaran yang rendah/idle.
c. Hidupkan pompa vakum.

Pada saat penyedotan langkah prinsip yang dilakukan terdiri dari:


a. Lakukan langkah 1,2 dan 3 dalam Persiapan Untuk Operasi.
b. Siapkan lubang manhole tangki septik yang akan disedot.
c. Masukan selang penyedot/penghisap ke dalam tangki septik.
d. Tutuplah katup (valve) penyedot dan pembuangan/discharge. Buatlah pompa dalam keadaan
vakum dengan bantuan pompa.
e. Pastikan hubungan antar tangki dan pompa vakum dalam kondisi normal.

512

f.

Tunggu sesaat, apabila manometer (pressure gauge) menunjukkan angka vakum (0 bar), atau
minus (-40 psi s/d 0 psi), maka buka valve penyedot/suction valve.

g. Perhatikan tanda masuk lumpur ke tangki melalui sight glass, apabila ketinggian sudah
mencapai maksimum, tutup kembali valve penyedot, kemudian matikan pompa vakum.
h. Periksa kelengkapan kendaraan untuk persiapan dalam perjalanan dan gulung selang penyedot
pada posisinya semula, untuk kemudian kendaraan dapat dijalankan.

Pada saat pembuangan, sistem sirkulasi pada peralatan vakum dapat dikemukakan sebagai berikut:

Lakukan langkah persiapan untuk operasi seperti diterangkan di atas

Siapkan selang pembuangan ke dalam unit pengumpul.

Normalkan tekanan dalam tangki sesuai dengan tekanan sekitar 1 bar.

Pastikan hubungan antar pompa vakum dan tangki dalam keadaan normal.

Buka valve pembuangan, pastikan tekanan pada pressure gauge tidak lebih dari 20 psi di atas
nol pada saat pembuangan.

Apabila langkah pembuangan sudah selesai, maka tutup kembali valve pembuangan.

Matikan pompa vacuum.

Periksa kelengkapan kendaraan untuk persiapan datam perjalanan dan gulung selang
pembuangan pada posisi semula, untuk kemudian kendaraan dapat dijalankan

Dalam proses penyedotan maka diperlukan waktu cukup untuk dapat ke kondisi vakum, sedangkan
pada proses pembuangan aliran akan terjadi secara gravitasi

513

Gambar 5.1. Proses Penyedotan Lumpur Tinja Dari Tangki Septik


(Sumber: Indah Water, 2011)

Pemeliharaan truk tinja


Setelah pengoperasian bila diperlukan untuk peralatan dan bagian-bagian kendaraan serta ujung
dari selang yang kotor, maka dapat mengunakan air pada tangki air pembersih yang dapat diisi melalui
lubang pengisian dengan air bersih. Langkah-langkah pencucian truk tangki adalah sebagai berikut:
1. Lakukan langkah 1, 2 dan 3 dalam Persiapan Untuk Operasi.
2. Putar valve mesin vakum pada posisi pressure.
3. Putar valve yang menghubungkan sistem sirkulasi pressure ke tangki air/water tank, ke arah
on.
4. Buka drain dan bersihkan dengan semprotan air.
5. Apabila proses pencucian sudah selesai, injak pedal kopling dan matikan vakum.

Proses pengisian tangki air bersih dapat dilakukan dengan menggunakan sistem vakum seperti cara
pengoperasian dalam langkah penyedotan seperti di atas, hanya pada langkah ke-6, three way
valve di putar ke arah water tank, kemudian drain dibuka dan melalui selang penyemprotan dapat
difungsikan sebagai selang penyemprot air bersih. Dalam mengunakan air untuk mengisi maupun
pembersihan, tidak dianjurkan mengunakan sistem pompa vakum karena kapasitas pompa yang
besar tekanannya.

Beberapa petunjuk teknis mengatasi kemungkinan adanya gangguan saat operasi dan cara
penggulangannya.
1. Pompa Vakum Tidak Berputar

514

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi ini antara lain:

Buka drain dan bersihkan dengan semprotan air.

Posisi switch belum on sehingga pompa vakum belum bekerja.

Kabel mesin vakum putus dan tidak bekerja.

Sirkulasi oli pelumas pompa tidak bekerja. Oli habis tidak ada sama sekali, juga
kemungkinan oli sudah kotor dan perlu penggantian dengan membuka plug.

Pompa vakum terlalu panas, karena terlalu lama beroperasi.

2. Sirkulasi sistem penyedot dan pembuangan tidak bekerja


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi ini antara lain:

Pompa vakum terlalu panas, karena terlalu lama beroperasi.

Pompa vakum tidak berputar (penyebabnya seperti item 1 di atas).

Jumlah aliran oil pelumas terlalu banyak, atur penyetel valve pompa.

Ada kebocoran pada sistem pipa, flens atau klem selang, diatasi dengan mengencangkan
pada baut-bautnya.

Terdapatnya jebakan air pada mesin vakum, diatasi dengan membuang air rembesan
tersebut melalui plug.

3. Suction filter kotor, diatasi dengan membuka flens penutup untuk membersihkannya.

4. Ujung selang pada saat menyedot dalam tangki septik mampat oleh kotoran.

5. Penggantian Suku Cadang, hal ini dilakukan jika terjadi kerusakan bagian-bagian tertentu dari
truk tinja dan tidak dapat diperbaiki lagi, maka perlu dilakukan penggantian suku cadang.
Pada saat kita membeli truk tinja untuk investasi, maka perlu dipertimbangkan kemudahan
memperoleh suku cadang truk tersebut dan di mana saja suku cadang tersebut dapat diperoleh.
Ada baiknya memiliki persediaan beberapa suku cadang truk tinja yang diketahui mudah rusak
untuk mengantisipasi berhentinya pengoperasian truk tinja. Selain suku cadang tinja perlu pula
diadakan persediaan suku cadang pompa yang digunakan untuk menghisap lumpur tinja.

515

5.2

Operasi dan Pemeliharaan Bak Pengumpul

Operasional pemasukan lumpur tinja dari truk ke dalam bak pengumpul


Bak pengumpul atau tangki ekualisasi berupa bak penampung sementara yang langsung
menerima influen lumpur tinja, berbentuk persegi panjang dengan kedalaman 2-3 meter. Bak
pengumpul berfungsi untuk:

Menyederhanakan debit dan konsentrasi akibat adanya variasi dan fluktuasi kedatangan
mobil tinja

Meningkatkan kemampuan dan menghemat biaya pengolahan unit berikutnya

Mengurangi ukuran dan biaya investasi pembangunan fasilitas pengolahan

Lokasi fasilitas akan bervariasi dan tergantung dari sistem yang digunakan, berupa tipe
pengolahan, karakteristik sistem pengumpulan dan jenis lumpur tinja.

Operasional pemasukan (unloading) lumpur tinja dari truk ke dalam bak pengumpul dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

Masukkan limbah cair ke dalam bak penyaring

Amati aliran air yang mengalir ke dalam Sump Well, dimana apabila tidak lancar maka
harus segera bersihkan screen/penyaring dari kotoran yang menyumbat

Hasil buangan kotoran dan pasir dari bak penampung awal tidak diperkenankan dibuang ke
dalam Sump Well dan ditempatkan ke dalam bak khusus

Air dapat ditambah untuk memperlancar aliran dan membersihkan permukaan penyaring

Pemeliharaan bak pengumpul (Platform)


Letak bak pengumpul berada di hulu proses pengolahan sehingga unit ini memerlukan
pemeliharaan yang seksama mengingat berpotensi terjadinya akumulasi lumpur didalamnya.
Hal yang harus diperhatikan adalah pengaliran effluent dari bak pengumpul ke dalam kolam
anaerobik agar jangan sampai merusak lapisan kerak buih yang menutupi kolam. Buih tersebut
berfungsi untuk mencegah keluarnya bau ke sekitar lingkungan kolam.

516

5.3

Operasi dan Pemeliharaan Pompa, Alat Ukur Debit dan Sump Well

Pemompaan limbah dari sump well


Prosedurnya adalah sebagai berikut:

Amati level/kedalaman limbah dalam Sump Well, dan jika sudah penuh maka nyalakan
pompa submersible dan perhatikan apakah aliran ke Imhoff Tank telah masuk

Pompa secara otomatis berhenti jika level air telah mencapai titik tertentu, dan apabila
pompa masih tetap menyala maka lakukan pengecekan pada switch otomatisnya

Hidupkan pompa I dan II (back up) secara bergantian dari waktu ke waktu

Pemeliharaan pompa & sump pit


a. Harus diperhatikan jangan sampai ada gangguan/halangan terhadap sistem dan peralatannya
akibat masuknya benda-benda besar/tak terolah oleh Bangunan Pengolahan. Benda-benda
padat tersebut umumnya masuk dalam unit sump pit melalui tutup manhole yang
rusak/bocor
b. Bila waktu tinggal air limbah di sump pit terlalu lama akan berakibat timbulnya bau yang
berlebihan
c. Waktu kerja pompa efluen dari sump pit dilakukan secara bergiliran dan bekerja bersamasama pada saat beban puncak. Waktu detensi dapat diatur melalui level pada sensor
d. Pada pompa sump pit secara periodk harus dilakukan perawatan karena air limbah yang
dipompa dapat mengandung senyawa-senyawa asam yang dapat mempersingkat umur
pompa yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi pompa.

Pemeliharaan alat ukur debit aliran


a. Upayakan dilakukan pembersihan dari akumulasi kotoran, busa (slum), ganggang/alga yang
mungkin terbentuk karena adanya proses fotosintesa sel, maksudnya agar kebocoran dan
tumbuhan tersebut tidak mengganggu kecepatan aliran dan sistem pembaca alat ukur
b. Upayakan menghindari adanya kerusakan akibat faktor lingkungan, karena alat ukur
umumnya dibangun secara terbuka
c. Untuk pemeriksaan rutin setiap hari kalibrasi (menentukan ukuran sesuatu) dan
pemeriksanaan kebenaran pengukuran alat ini

517

5.4

Operasi dan Pemeliharaan Unit Penyaring

Unit penyaringan merupakan proses pertama dalam pengolahan limbah tinja, yang berfungsi
untuk menahan padatan yang ada pada lumpur tinja. Penyaring terdiri dari batangan-batangan
paralel atau kawat, kawat jala, kisi-kisi atau piringan yang berlubang-lubang. Penyaring ini pada
umumnya berbentuk lingkaran atau persegi panjang. Beberapa tipe saringan yang sering
digunakan pada pengolahan limbah dapat dilihat pada Tabel 1. Saringan batang juga digunakan
untuk melindungi pompa, katup, perpipaan dan perlengkapan lainnya dari kerusakan akibat
penyumbatan kotoran.

Tabel 5.1. Tipe-Tipe Saringan (Screen)


Pembagian Tipe
Penyaring
Saringan Batang
Lengkungan (tetap)
Lengkungan
(berputar)

Permukaan Penyaring

Kasar

Rentang
(inci)
0,6 1,5

Sedang

0,01 0,1

Klasifikasi

Aplikasi
Materi
Besi, stainless steel
Stainless steel, kawat besi
berlubang piringan
Tembaga atau gilingan
perunggu
Stainless steel, kawat besi
berlubang

Kasar

0,03 x 0,09 x
2
0,1 x 0,2

Sedang

0,1 0,2

Stainless steel, kawat besi


berlubang

Halus

0,01 0,1

Stainless steel, kawat besi


berlubang

Kasar

Pra pengolahan
Pengolahan primer
Pra pengolahan
Pra pengolahan

Pengolahan primer

Drum (berputar)

Sedang
Sedang

60,01 0,4

Stainles steel dan kain


penyaring polyester
Stainless steel

Halus

0,001 0,02

Stainless steel

Halus

0,002 0,02

Stainless steel dan variasi


penyaring polyester

Pengendapan residu
materi padatan dari
pengolahan sekunder
Pengolahan primer
Pengolahan primer

Cakram berputar

Sentrifugal

Pengolahan primer
Pengolahan primer,
pengolahan sekunder
dengan pengendapan
materi padat

Sumber: Balai Pelatihan Air Bersih Dan Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2000

518

Pembersihan saringan dilakukan setiap kali selesai pemasukan limbah dari mobil tinja, terutama
untuk sampah non-tinja yang kemungkinan ditemukan seperti plastik, kondom dan pembalut.
Pembersihan pada unit bar screen/mechanical screen dilakukan dengan cara:
a. Untuk bar screen (manual) secara periodik dibersihkan dari benda-benda yang tertahan di
kisi-kisinya
b. Untuk mechanical screensecara periodik dilakukan perawatan pada motor kerja
c. Dilakukan pengencangan pada rantai dan memberikan tambahan pelumas secara teratur
d. Melakukan pengaturan tekanan pada rantai kerja dan mengatur lengan kerja mechanical
screen

5.5

Operasi dan Pemeliharaan Tangki Imhoff

Persiapan pengoperasian (start up)


a) Isi TangkiImhoff dengan air hingga penuh dan melimpah keluar melalui pipa outlet dan
biarkan selama 2 (dua) hari
b) Masukkan lumpur tinja melalui ruang penerima lumpur tinja sebanyak duat atau tiga truk
dan biarkan selama (2-5) hari
c) Buka kran pipa pembuang lumpur untuk mengalirkan lumpur ke bak pengering
d) Biarkan lumpur tersebar di bak pengering selama 10 hari dan buat catatan harian kondisi
proses pengeringan lumpur

Tata cara pengoperasian tangki imhoff


Proses yang berlangsung adalah proses sedimentasi, dimana adanya pemisahan lumpur tinja
menjadi bagian padat dan bagian cair yang terjadi dalam ruang sedimentasi. Bagian padat
membentuk endapan lumpur di dasar tangki dan sedangkan bagian cair di lapisan atasnya
disebut supernatan. Supernatan akan mengalir keluar melalui penyekat (baffle) dari pipa outlet
menuju kolam stabilisasi. Endapan secara periodik dikeluarkan melaui pipa pembuang lumpur
dan mengalir menuju bak pengering lumpur. Upayakan aliran lumpur didistribusikan secara
merata dan hindari gejolak dalam tangki.

519

Pelaksanaan pemeliharaan tangki imhoff


Lumpur tinja dari truk dipompakan ke dalam TangkiImhoff melalui pipa ke ruang lumpur
dengan hati-hati. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan Tangki Imhoff
antara lain:

Ruang penerima lumpur harus selalu dibersihkan sebelum dan sesudah pelaksanaan
pemompaan lumpur ke tangki

Pembersihan lemak dan zat-zat padat yang mengapung pada permukaan air di ruang
sedimentasi harus dilakukan setiap hari

Pengikisan/pengerukan zat pada yang menempel pada dinding dan pada bagian dasar yang
landai dari ruang sedimentas dengan sikat atau sapu karet dan harus dilakukan setiap
minggu

Pembersihan celah (slot) pada dasar ruang sedimentasi dengan menggunakan keruk rantai
harus dilakukan setiap minggu

Pengendalian busa/buih yang terdapat pada ruang busa dengan menggunakan air bertekanan
dan busa akan keluar setelah ketebalan 0,5m

Pengendapan lumpur dari tangki dilakukan sebelum permukaan lapisan endapan lumpur di
ruang pengendapan mendekati 0,5m ke celah (slot) dasar ruang sedimentasi. Estimasi
volume lumpur yang dikeluarkan dari tangki kira-kira 20-25% volume lumpur tinja yang
masuk

Setelah pelaksanaan pengeluaran lumpur, pipa pembuang dibersihkan dengan


penggelontaran menggunakan air bersih. Hal ini berguna untuk mencegah pengerasan dalam
pipa

Apabila terdapat endapan pasir maka pipa berpotensi tersumbat

Saluran inlet dan outlet Tangki Imhoffharus dibersihkan secara berkala dari timbunan zat
padat

5.6

Operasi dan Pemeliharaan Kolam-Kolam Stabilisasi

Sebuah IPLT pada umumnya akan terdiri dari beberapa kolam, yaitu:
1. Kolam/Bak Pengumpul
2. Kolam Anaerobik/Kolam Fakultatif
3. Kolam Maturasi

520

4. Kolam Pengeringan Lumpur


Adapun operasi dan pemeliharaan masing-masing adalah sebagai berikut:

Operasional Kolam/Bak Pengumpul


Bak pengumpul telah dijelaskan pada bagian segingga sehingga tidak akan diuraikan lagi.
Namun, perlu diingatkan agar pengaliran effluent dari bak pengumpul ke dalam kolam
anaerobik jangan sampai merusak lapisan kerak buih yang berfungsi untuk mencegah keluarnya
bau ke lingkungan di sekitar kolam.

Operasional Kolam Anaerobik /Kolam Fakultatif


Kolam anaerobik dapat diletakkan setelah bak pengumpul, atau juga dapat berfungsi sebagai
penerima apabila bak pengumpul tidak ditemukan. Hal yang harus diperhatikan pada kolam ini
adalah:
a. Kolam ini beroperasi tanpa adanya oksiden terlarut DO (dissolved oxygen)
b. Pembersihan terhadap screen harus dilakukan secara regular agar tidak mengganggu
pengisian kolam
c. Apabila pengoperasian bar screen secara otomatis maka perlu diberikan oli/pelumas pada
alat-alat mekanik
d. Tanaman disekitar tanggul kolam diusahakan pendek (tanaman perdu) dan jangan sampai
meluas ke dalam kolam
e. Buih (scum) dan alga dari kolam fakultatif dikurangi dan dibersihkan
f.

Inlet dan outlet dari kolam untuk pengaliran air harus bebas dari akumulasi lumpur

g. Pemeriksaan rutin terhadap kerusakan tanggul akibat gangguan binatang, dan apabila
perluditambah dengan racun atau perangkap binatang
h. Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke dalam kolam

Operasional Kolam Maturasi


Penempatannya adalah setelah Kolam Fakultatif dengan proses aerobik penuh sehingga kolam
ini relatif dangkal (< 1 m) dan mempunyai waktu tinggal (retention time) selama 5-7 hari.
Operasi dan pemeliharaannya adalah sebagai berikut:

521

a. Inlet dan outlet harus dijaga kelancaran pengolahannya, dimana inlet harus bebas dari
lumpur
b. Alga yang terbentuk tidak boleh tinggal dan harus dibuang dari permukaan karena
berpotensi menimbulkan bau
c. Tidak boleh adanya tumbuhan/tanaman keras disektiar tanggul kolam, namun rumput boleh
asalkan disekeliling tanggung
d. Pencatatan debit, kualitas efluen, inlet dan outlet dilakukan agar proses dapat dikontrol dari
segi kualitas (efluen, beban aliran hidrolik dan organik) maupun kuantitas (kebocoran, dsb)
e. Pemeriksaan rutin terhadap kerusakan tanggul akibat gangguan binatang, dan apabila
perluditambah dengan racun atau perangkap binatang
f.

Pemagaran untuk menghindari hal-hal yang mungkin terjatuh ke dalam kolam

Adapun estimasi keperluan tenaga kerja untuk kolam ini akan tergantung dari jumlah populasi
yang dilayani. Estimasi kebutuhan tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.

Tabel 5.2. Estimasi Kebutuhan Tenaga Kerja


Kebutuhan Tenaga
Tenaga Supervisi
Tenaga Mekanik (*)
Tenaga Laboratorium (**)
Asisten Supervisi
Tenaga Penunjang
Driver (***)
Pengawas (***)
JUMLAH

10.000
1
1
2

25.000
1
1
2
1
1
6

Jumlah Penduduk
50.000
100.000
1
1
1
1
1
2
2
4
6
1
1
1
3
10
15

Sumber: Balai Pelatihan Air Bersih Dan Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2000
Catatan:
(*)

tergantung jumlah peralatan yang dipakai

(**)

tergantung ada tidaknya laboratorium di lokasi

(***)

tergantung ada tidaknya fasilitas kendaraan atau mesin pemotong rumput

522

250.000
1
1
2
2
10
2
5
23

Pada saat pengoperasian, beberapa masalah dapat dihindari dengan adanya perencanaan yang
baik dan waktu istirahat yang memadai. Masalah yang mungkin terjadi beserta
penanggulangannya adalah sebagai berikut:

Operasional Aerator Dan Tangki Aerasi

Proses aerasi/penguraian zat organik harus berfungsi secara baik sehingga menghasilkan
efluen yang dapat diendapkan dengan baik pada unit clarifier

Sistem mekanis aeratornya harus berfungsi dengan baik serta pengamatan terus-menerus
terhadap zat/bahan pengganggu proses biologis yang ada pada influent air limbah domestik

Tabel 5.3. Permasalahan dalam Pengoperasian Kolam Maturasi


No.

Masalah/Gangguan

Penanggulangan/Solusi

Bau pada kolam fakultatif

Biasanya terjadi apabila akumulasi busa (scum) dan peningkatan


alga biru karena proses anaerobik mendominasi proses pada
sistem. Agar segera dibersihkan scum dari permukaan
air/pinggiran kolam. Bila pH < 7 maka tambahkan kapur pada
inletnya

2.

Rembesan tinggi pada kolam

Kondisi ini sering terjadi pada dasar kolam, yang nantinya akan
tertutup dengan sendirinya. Kolam memerlukan bahan proteksi
air misalnya plastik, semen, dsb. Alternatif lain adalah memakai
penutup/sealing secara menyeluruh dengan tanah liat

3.

Tanaman yang tumbuh

Semua jenis tanaman harus dijauhkan dari dasar kolam sebelum


kolam diisi

4.

Lapisan alga tumbuh pada kolam


fakultatif dan maturasi

Semprotkan air dengan tekanan tinggi secara teliti pada


permukaan, atau tambahkan CuSO4 dengan konsentrasi 1
mg/liter

Ketinggian tanaman di kolam

Pemotongan dilakukan secara periodik untuk menjaga agar


tanaman tersebut dikendali dan tidak tumbuh liar

6.

Tumbuhan berkembang sampai


permukaan kolam

Kedalaman kolam ditambah atau ditingkatkan beban untuk


menutup cahaya dari dasar kolam. Rumput liar harus dihilangkan
secara hati-hati dari dasar kolam dengan alat (perahu) agar
lapisan kedap air tidak rusak

7.

Lubang hewan dan serangga pada


tanggul kolam

Lubang yang ada harus ditutup, hindarkan keberadaan makanan


hewan yang mungkin tumbuh di sekitar fasilitas pengolahan air
limbah. Perangkap atau racun bila diperlukan

1.

523

No.

Masalah/Gangguan

Penanggulangan/Solusi

8.

Gangguan hewan terbang

Usahakan agar bagian pinggir kolam dalam keadaan bersih dari


tumbuhan liar

9.

Konsentrasi alga yang tinggi


pada efluen aliran penerima

Hentikan aliran dari bawah ke permukaan dimana populasi alga


rendah, pakai aliran horisontal dengan filter dari batu kerikil

10.

Terjadinya aliran pendek yang


mengakibatkan efisiensi
treatment rendah

Perbaiki sistem aliran (sirkulasi) dengan menambahkan inlet atau


outlet dengan penyekat (baffle), perbaiki sistem sirkulasi arah air
bila mungkin dan bersihkan lumpur serta daur ulang

Sumber: Balai Pelatihan Air Bersih Dan Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2000

Pengukuran Biomasa

Untuk mengetahui beban lumpur yang mengendap digunakan pengukuran secara manual
dengan melihat ketinggian yang ada. Konsentrais lumpur sebaiknya diukur di laboratorium
sebagai MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid), tingkat keterendapan lumpur
sebaiknya diukur sebagai SVI (Sludge Volume Index).

Pengolahan lumpur
1. Lumpur berlebihan yang dihasilkan setiap hari harus dibuang untuk menjaga F/M ratio
(rasio makanan dengan jumlah mikroba) atau waktu tinggal sel yang sudah ditetapkan
2. Kelebihan lumpur dialirkan ke tangki primer/tangki pengentalan
3. Kelebihan lumpur juga dapat dikeluarkan dengan cara membuang mixed liquor
langsung dari pipa effluent ke tangki aerasi

Gambar 5.2. Pengolahan Biologis Pada IPLT


(Sumber: Dirjen Tata Perkotaan Dan Tata Perdesaan, 2003)

524

5.7

Operasi dan Pemeliharaan Kolam Pengering Lumpur

Untuk mengoperasikan kolam ini dengan efisien perlu diketahui sumber, karakteristik dan
kuantitas dari lumpur yang akan diolah. Permasalahan yang terkait dengan penanganan lumpur
sangat kompleks karena:

Komposisi lumpur sebagian besar memiliki karakter buangan yang tidak terolah

Lumpur yang berasal dari pengolahan biologi memerlukan pembuangan terdiri dari materi
organik yang berasal dari lumpur tinja atau air limbah tetapi dalam bentuk yang berbeda,
dimana lumpur tersebut dapat terdekomposisi dan menjadi tidak stabil

Hanya sedikit bagian dari lumpur yang berupa materi padat

Perbedaan karakteristik lumpur tergantung dari sumber lumpur, tipe pengolahan yang
menghasilkan lumpur tersebut, penambahan zat-zat kimia dalam proses pengolahan, kandungan
pH, alkanitas serta asam organik. Adapun karakteristik lumpur dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5.4 Sumber dan Karakteristik Lumpur di IPLT


No.

Lumpur/Padatan

1.

Penyaring/screening

2.

Buih dan lemak

3.

Lumpur pada pengolahan


primer

4.

Lumpur
sludge

5.

Lumpur yang
secara aerobik

terurai

6.

Lumpur yang
secara anaerob

terurai

7.

Lumpur hasil
pengomposan

aktif/activated

Karakteristik
Menyangkut semua tipe materi organik and anorganik yang
banyak tersaring pada jaring-jaring
Buih mengandung materi-materi terapung yang tersaring
dipermukaan pada proses pengendapan. Buih mengandung lemak
dan minyak yang berasal dari hewan dan tumbuhan
Biasanya tipis, berwarna abu-abu, dan sering berbau menusuk.
Lumpur ini mudah terurai
Umumnya berwarna coklat dan berupa gumpalan-gumpalan. Jika
berwarna hitam maka lumpur tersebut dalam kondisi septik (tidak
mengandung oksigen). Jika berwarna lebih terang maka lumpur
tersebut telah diaerasi. Lumpur aktif akan terurai dengan
sendirinya atau ketika bercampur dengan lumpur primer
Umumnya berwarna hitam kecoklatan dan berupa gumpalan.
Baunya tidak terlalu menusuk dan lumpur yang terurai dengan
baik secara biologi akan mudah dikeringkan pada bak pengering
lumpur
Umumnya berwarna kehitaman dan banyak mengandung gas
ketika terjadi proses penguraian sehingga menimbulkan bau
menusuk
Umumnya berwarna coklat kehitaman, namun juga bervariasi jika
terdapat zat-zat lain dalam proses pengomposan seperti golongangolongan kayu tidak akan menimbulkan bau busuk

525

No.
8.

Lumpur/Padatan
Lumpur tangki septik

Karakteristik
Umumnya berwarna hitam walaupun lumpur tersebut terurai
dengan baik melalui proses penyimpanan yang lama, berbau
menusuk karena mengandung gas H2S

Sumber: Balai Pelatihan Air Bersih Dan Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2000

Volume Lumpur
Volume lumpur bergantung pada kandungan airnya. Sebagai contoh lumpur yang terdiri dari
90% air dan 10% materi padatan akan disebut lumpur 10%. Kuantitas lumpur yang memasuki
suatu sistem pengolahan akan berfluktuatif sehingga faktor-faktor seperti rata-rata aliran lumpur
maksimum dan kapasitas penyimpanan dari unit pengolahan harus diperhatikan saat mendesain
sebuah IPLT.

Operasional Pengolahan Lumpur


Secara umum, pengolahan lumpur terbagi atas 2 jenis yaitu pengolahan secara biologi dan
bukan biologi dengan tahapan mulai dari stabilisasi, pengkondisian dan akhirnya pengeringan.
a) Stabilisasi Lumpur
Tujuannya adalah:

Mereduksi bakteri patogen

Mengurangi bau

Mencegah, mengurangi atau menghilangkan faktor-faktor pembusukan

Keberhasilan dari stabilisasi lumpur tergantung dari pengaruh proses stabilisasi terhapat
materi-materi organik yang dikandung oleh lumpur tersebut. Kemampuan hidup bakteri
patogen, pembebasan bau dan pembusukan yang terjadi selama mikroorganisme
menghancurkan materi organik di dalam lumpur, yang meliputi:
Pengurugan meteri organik secara biologi

Oksidasi secara kimia materi organik

Penambahan zat-zat kimia ke dalam lumpur

Pengolahan dengan proses untuk mendefinisikan atau menstrerilkan lumpur

526

b) Pengkondisian
Bertujuan untuk mempermudah pengeringan, yang dapat dilakukan dengan metode kimia
maupun metode panas.
c) Pengeringan
Bertujuan untuk menurunkan kadar air yang terkandung dalam lumpur. Hal yang harus
dipertimbangkan dalam tahap pengeringan antara lain:

Biaya yang diperlukan untuk mengangkut lumpur kering akan lebih murah apabila telah
dikeringkan

Penguraian kadar air dilakukan untuk mencegah bau dan pembusukan

Lahan yang tersedia

Pengeringan dapat di lalukan pada bak pengering lumpur, dimana keuntungannya antara lain
biaya operasi yang murah, tidak dibutuhkan operator yang banyak, tidak dibutuhkan keahlian
khusus untuk mengoperasikannya, keperluan energi yang kecil, serta tidak terlalu sensitif
terhadap variasi perubahan lumpur. Lumpur dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu dari unit
pengolahan awal (preliminary treatment) dan dari unit pengolahan sekunder (kolam fakultatif
dan kolam maturasi). Lama waktu yang diperlukan untuk mengeringkan lumpur adalah sekitar
(1-2) minggu (tergantung pada ketebalan lumpur yang ditampung).

Hal yang harus diperhatikan dalam pengoperasian dan pemeliharaan bak pengering lumpur
adalah:

Ketebalan lumpur di dalam setiap sel bak pengering harus selalu dijaga setebal 0,1-0,3 m

Pengisian bak pengering lumpur dilakukan secara bertahap (satu per satu atau sel demi sel)

Pengambilan lumpur kering dari setiap sel kolam pengering dilakukan setelah lumpur
menetap selama 10 hari setelah waktu pengisiannya

Apabila setelah hujan lebat, di atas permukaan pasir yang masih kosong biasanya akan
terdapat kotoran-kotoran yang menggumpal dan akan mengganggu proses perembesan
sehingga perlu dibersihkan atau dikeruk

Pada saat pengerukan, perhatikan apakah ada lapisan pasir yang terangkat. Apabila ada
maka perlu penambahan pasir agar ketebalan media di dalam bak pengering lumpur tetap
terjaga

527

Hasil buangan endapan lumpur dari Tangki Imhoff akan mengalami pengeringan dengan panas
matahari yang berlangsung selama 14 hari (saat kemarau). Tanah/hasil dari proses pengeringan
dapat dibuang ke TPA atau digunakan sebagai pupuk alam.

5.8

Operasi dan Pemeliharaan Unit Pengolahan imia

Sebagian besar klorin digunakan di pengolahan air limbah domestik untuk


desinfeksi dan mengontrol bau busuk

Klorin juga digunakan pada pembersih nitrogen, melalui sebuah proses yang
menghubungkan titik patah klorinasi (break point chlorination). Untuk pembersihan
nitrogen cukup ditambahkan klorin ke air limbah untuk mengkonversi mengubah
semua amonium nitrogen ke gas nitrogen. Kira-kira 10 mg/liter klorin harus
ditambahkan setiap 1 mg/liter amonium nitrogen air limbah

Untuk desinfeksi dengan klorin, waktu kontak antara klorin dengan aliran air
limbah selama direncanakan selama 30 menit sehingga dapat mematikan organisme
penyebab penyakit yang ditemukan di pengolahan air limbah domestik.

7.

PEDOMAN PEMELIHARAAN SISTEM DAN PROSES/TEKNOLOGI


PENGOLAHAN AIR LIMBAH

7.1

Program Pemeliharaan

Tujuan utama program pemeliharaan adalah untuk memanfaatkan modal investasi yang telah
ditanam dalam pembangunan sistem pengolahan air limbah domestik, agar dapat dioperasikan
dengan efisien dan kinerja yang optimum. Jenis-jenis program pemeliharaan diantaranya yang
penting adalah sebagai berikut:

Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance): jadwal operasi pemeliharaan harus


direncanakan dengan sistematis dan ketat, agar dapat memperkecil gangguan (misal:
pelapis/coating tidak cepat keropos akibat korosi) dan memperbaiki kemacetan (misal:
pelumasan peralatan) serta memperlancar operasi setempat (misal: pengetesan alat-alat
seperti ada mur baut yang akan lepas) sehingga umur efektifnya panjang

Pemeliharaan Perbaikan (Corrective Maintenance): Pemerliharaan perbaikan meliputi


normalisasi jaringan pipa, perbaikan atau mengganti peralatan atau perlengkapan yang telah
rusak. Kerusakan pada saluran diklasifikasikan ke dalam 2 tipe yaitu kerusakan struktur dan
kerusakan fungsi

528

Pemeliharaan Urusan Rumah Tangga (House Keeping Maintenance): menjaga kebersihan


dan keindahan semua unit fasilitas yang ada

Pendataan dan Pelaporan (Records and Report): Pendataan dan pelaporan ada dua
kelompok, yaitu data intern dan ekstern. Data internal yaitu data sistem organisasi dan
sumber daya manusia, desain dan pelaksanaan pembangunan, investasi pelaksanaan dan
pembiayaan operasi dan pemeliharaan. Sedangkan data eksternal adalah dampaknya
terhadap lingkungan sekitar

7.2

Permasalahan Operasi yang Sering Terjadi dan Penanganannya

Permasalah hidrolis
Ketersediaan air penggelontor sangat kecil, sehingga transportasi tinja tidak selalu dapat berang
hanyut, melainkan sebagian kandas, tertinggal dan lengket pada dasar saluran. Hal ini dapat
mengakibatkan kekerasan pipa menjadi besar dan mengecilnya ruang dalam pipa, di samping itu
emisi gas H2S tidak dapat dihindari. Alternatif penanganan:

Sistem penggelontor di setiap WC distandarisasi, misal 15 liter

Mejaga agar kotoran pada dari luar tidak masuk ke dalam pipa dengan membuat saringan
pada setiap inlet pemasukan, misal inlet pengenceran air hujan dan pada bak kontrol pada
tanah persil

Pembersihan saluran diintensifkan, terutama pembilasan air dari terminal clean out sering
dilakukan, serta sistem penggelontor yang ada diefektifkan

Elevasi setiap bak kontrol dibuat lebih tinggi dari elevasi permukaan tanah disektiarnya,
agar tidak terbenan oleh limpasan air hujan yang mungkin dapat masuk dan membawa
kotoran yang hanyut

Sistem drainase jalan yang dilalui jalur perpipaan diperbaiki, agar air infiltrasi yang masuk
celah-celah lubang tutup manhole tidak membawa hanyutan benda-benda padat kasar yang
berpotensi menyebabkan penyumbatan

Program kerja pemeliharaan pencegahan meliputi pekerjaan rutin terjadwal pengawasan dan
pembersihan saluran. Dimulai dengan pengawasan pendahuluan diperoleh metoda dan jenis
pemeliharaan dan pencegahan berikutnya sehingga dapat diketahui peralatan yang diperlukan.

529

Permasalah Endapan dan Sampah


Sistem drainasei yang buruk menyebabkan infiltrasi air hujan yang membawa hanyutan
suspensi diskrit padat dan sampah. Hal ini berpotensi untuk membuat sumbatan-sumbatan aliran
sehingga menghasilkan gas H2S, CO2 dan methan.
Permasalahannya adalah operasi pembersihan endapan tidak dapat dilakukan karena adanya gas
CO2 yang bisa meracuni operator. Agar dihindari pengujian dengan nyala lampu lilin atau
lantera, karena bisa menimbulkan ledakan bila konsentrasi gas methan tinggi. Disarankan untuk
perbaikan di dalam pipa menggunakan tabung udara. Alternatif penanganan:

Perbaikan sistem drainase

Kebersihan jalan masuk dan jalan akses dijaga

Tutup manhole(lubang kontrol) dikunci sehingga tidak dapat diisi sampah

Inspeksi rutin sistem penyaluran air limbah baik kinerja maupun peralatan dan perlengkapan

Permasalahan Akar Pohon


Akar pepohonan disekitar jalur perpipaan berpotensi untuk:

Merubah dudukan peletakan pipa, yang dapat mengangkat, menurunkan, menggeser, dan
mungkin mengakitbatkan sambungan pipa lepas atau patah

Akar serabut yang halus dapat masuk ke dalam celah-celah sambungan pipa sehingga
mengakibatkan kebocoran dan mengganggu jalannya aliran yang akhirnya dapat
menyebabkan penyumbatan

Alternatif Penanganan:

Dilarang menanam pohon terlalu dekat dengan jalur perpipaan, terutama jenis pohon
berakar panjang dan serabut

Pemeliharaan rutin dan bila telah diperlukan harus dilakukan pembersihan dengan alat (root
cutting saw)

530

8.

PEMELIHARAAN SISTEM PERPIPAAN

Beberapa masalah teknis yang sering terjadi dalam pemeliharaan suatu sistem perpipaan air
limbah adalah :
Masalah Hidrolis

Belum seluruh saluran kakus (water closet) memakai tangki penggelontor, sehingga air
untuk menggelontor saluran tidak mencukupi dan ini akan dapat mengakibatkan terjadinya
pengendapan partikel-partikel padat sepanjang saluran

Perlu dilakukan upaya penggelontoran yang cukup keras, sehingga adanya kedalaman
berenang yang cukup untuk menghanyutkan benda-benda keras yang ada di dalamnya

Masalah Endapan

Sistem drainase sepanjang jalur air limbah domestik harus diperbaiki

Tutup manhole air limbah harus jauh dari bahaya limpasan air hujan, yakni harus dijaga
jangan sampai terbuka

Perlu membangun kesadaran masyarakat melalui penyuluhan dan penetapan peraturan agar
tidak membuang sampah ke dalam manhole

Perlu program inspeksi yang terjadwal terhadap setiapmanhole jaringan penyaluran air
limbah yang ada untuk dapat mengatasi masalah yang timbul sedini mungkin

Untuk sistem setempat perlu dilakukan penggelontoran secara periodik dan pembuatan bak
kontrol untuk mengawasi timbul endapan yang berlebihan

Metoda Pembersihan Endapan

Pembersihan manual menggunakan pipa bambu dengan sikat kawat

Alat angkat dengan gulungan tangan harus digunakan dalam satu set yang terdiri dari 2 unit.
Alat gulung mempunyai tali kawat yang akan dimasukkan ke dalam saluran pipa yang akan
dibersihkan melalui manhole. Sebelum dimasukkan, pasang ember pada ujung kawat.
Dengan alat angkat ini, tanah dan pasir dapat diangkat dari dasar lautan

531

Gambar 7.1. Metoda Pembersihan Endapan Dalam Pipa

Mesin pengangkat dengan ember penjepit (bucket machine), yaitu mesin yang dilengkapi
dengan alat angkat dengan gulungan mesin dilengkapi dengan suatu rangka dengan alat
penarik dipasang pada kendaraan atau traktor trailer

Mesin pemberih khusus, yang terdiri dari 2 tipe yaitu tipe manual dan tipe tenaga
penggerak. Pembersih dipasang pada tongkat (rod) yang dapat diputar dengan handle dan
bergerak maju mundur untuk membuang tanah, pasir dan sampah

Kendaraan pembersih berkecepatan tinggi dilengkapi dengan pompa dan tangki air. Dengan
mengoperasikan pompa bertekanan tinggi, mesin menekan air dalam tangki air sehinigga
terbentuk pancaran air (water jet) sebesar 70-100 kg/cm2 yang keluar dari nozzle khusus
yang dipasang pada kepala/ujung pipa dan mendorong pasir dan tanah yang berada dalam
pipa saluran keluar melalui manhole

Mesin pembersih berkecepatan tinggi ukuran kecil, yaitu sebuah mesin yang dilengkapi
dengan pompa dan tangki air. Pipa mensuplai air dari tangki dan pompa bertekanan tinggi
memompa air tersebut dan disemprotkan melalui nozzle khusus yang dipasang pada kepala
pipa, semprotan air dapat membersihkan tanah dan pasir

Mobil penghisap (vaccum vehicle/vaccum truck), yang dapat diklasifikasikan dalam 2 tipe
yaitu tipe mobil penghisap dengan tenaga reguler dan mobilpenghisap dengan tenaga tinggi

Sistem pemeliharaan tutup manhole, yang diterapkan sebagai berikut:

Konstruksi tutup manhole harus diberi lubang penghawaan (vent) dan dikunci

Harus dihindarkan jalur saluran air limbah domestik, khususnya yang memiliki banyak
manhole, berada pada jalur jalan lalu lintas kelas berat

532

9.

Perlu dilalukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap urgensi pemeliharaan


sistem penyaluran air limbah domestik melalui program penyuluhan

PEMELIHARAAN BANGUNAN PADA IPLT

Pemeliharaan bangunan pengolahan air limbah sistem terpusat maupun setempat merupakan
upaya menjamin operasional bangunan berjalan optimal sesuai dengan tujuan dari pengelolaan
yang dilakukan. Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan operasi dan pemeliharaan, antara
lain:
a. Pemeriksaan peralatan dan memastikan bahwa semua peralatan yang ada sesuai dengan
petunjuk pelaksanaan (juklak) atau manual operasi yang dikeluarkan oleh pabrik
pembuatnya
b. Seluruh operator yang bertugas harus melewati penataran/training agar dapat melakukan
operasisesuai denganjuklak yang ada
c. Seluruh operator dan pengawas yang bertugas pada bangunan pengolahan air limbah
domestik tersebut mengerti fungsi dan letak dari masing-masing peralatan yang ada dalam
bangunan tersebut
d. Program pemeliharaan harus sesuai dengan instruksi yang ada pada manual operasi dan
pemeliharaan
e. Semua buku juklak harus siap dibaca sesuai dengan kepentingan/keperluan serta harus
diletakkan pada tempat yang mudah untuk ditemukan secara cepat
f.

Buku catatan/laporan harian harus dipergunakan setiap hari/dibuat untuk memudahkan


pengawasan keadaan sehari-hari

533

MODUL 11
PEDOMAN PENGOPERASIAN &
PEMELIHARAAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

C I P T A

U M U M
K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI
1.

UMUM .............................................................................................................................. 535

2.

PEMELIHARAAN SISTEM PERPIPAAN ...................................................................... 536

3.

SISTEM PELISTRIKAN .................................................................................................. 539

4.

OPERASI DAN PEMELIHARAAN UNIT PRETREATMENT ....................................... 544

5.

PENGOPERASIAN KOLAM STABILISASI LIMBAH ................................................ 559

6.

PEMELIHARAAN KOLAM STABILISASI LIMBAH .................................................. 566

7.

PENGOPERASIAN UNIT PENGOLAHAN AIR LIMBAH ........................................... 582

8.

PERAWATAN RBC ......................................................................................................... 588

9.

OPERASI DAN PEMELIHARAAN OXYDATION DITCH ............................................ 592

10. UASB (UPFLOW ACTIVATED SLUDGE BLANKET) ................................................ 600


11. PEMECAHAN MASALAH /TROUBLE SHOOTING .................................................... 603

DAFTAR TABEL
Tabel 6. 1
Kondisi Permukaan Kolam ................................................................... 567
Tabel 6. 2
Warna Kolam ........................................................................................ 568
Tabel 6. 3
Permasalahan Dan Perawatan Kolam Stabilisasi .................................. 570
Tabel 6. 4
Frekuensi Pengurasan Lumpur Kolam.................................................. 571
Tabel 6. 5
Contoh Catatan Pemeliharaan Kolam Stabilisasi ................................. 573
Tabel 6. 6
Contoh Catatan Pemeriksaan Harian .................................................... 576
Tabel 6. 7
Contoh Catatan Pemeriksaan Mingguan ............................................... 578
Tabel 6. 8
Contoh Catatan Pemeriksaan Bulanan .................................................. 579
Tabel 6. 9
Contoh Catatan Pemeriksaan Catur Wulanan ....................................... 580
Tabel 6. 10 Contoh Catatan Pemeriksaan 6 (enam) Bulanan .................................. 580
Tabel 6. 11 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan ................................................. 581
Tabel 6. 11 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan (Lanjutan) ............................... 582
Tabel 9. 1
Kelebihan dan Kelemahan Oxidation Ditch ......................................... 592
Tabel 9. 2
Proses Checklist .................................................................................... 595
Tabel 9. 3
Permasalahan Pada Tangki ................................................................... 599
Tabel 10. 1 Keuntungan dan Kerugian pada UASB ..................................................... 601

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Metoda Pembersihan Endapan Dalam Pipa ............................................. 538
Gambar 3. 1
Panel Listrik........................................................................................ 540
Gambar 3. 2
Panel listrik IPAL dan isinya (Mexico) .............................................. 541
Gambar 3. 3
No Fuse Breaker (NFB) Dan Magnetic Circuit Breaker (MCB) ....... 542
Gambar 3. 4
Contactor, Overload Dan Tombol On/Off ......................................... 543
Gambar 3. 5
Lampu Indikator Dan Saklar Geser .................................................... 543
Gambar 3. 6
Terminal.............................................................................................. 544
Gambar 4. 1
Bar Screen .......................................................................................... 545
Gambar 4. 2
Pompa Ulir (Screw Pump) .................................................................. 546
Gambar 4. 3
Operasi Grit Chamber Tipe Kanal ..................................................... 549
Gambar 4. 4
Grit Chamber Tipe Circular rake / Detritus Tank / Square
HorizontalFlow (Metcalf & Eddy, 2000) ........................................... 551
Gambar 4. 5
Operasional Grit Chamber Tipe Circular Rake/Detritus ................... 552
Gambar 4. 6
Cyclone Separator .............................................................................. 553
Gambar 4. 7
Screw Separator ................................................................................. 554
Gambar 4. 8
Bar Screen Kedua ............................................................................... 554
Gambar 4. 9
Grease Trap ........................................................................................ 556
Gambar 4. 10 Contoh Pompa Angkat (Lift Pump) .................................................... 557
Gambar 5. 1
Proses Pengisian Kolam ..................................................................... 562
Gambar 5. 2
Kolam Stabilisasi Dengan Scum Box.................................................. 563
Gambar 6. 1
Kegiatan Pemeliharaan Kola .............................................................. 567
Gambar 6. 2
Pemeliharaan Tanggul ........................................................................ 569
Gambar 6. 3
Jenis Tanggul Pada Kolam Stabilisasi (Tanggul Dengan Konstruksi
Dari Beton dan Pasangan Batu) .......................................................... 569
Gambar 6. 4
Kegiatan Pemeriksaan Ketebalan Lumpur ......................................... 571
Gambar 6. 5
Kegiatan Pemindahan Lumpur Kering ............................................... 573
Gambar 7. 1
Tangki Pengendap Pertama Tipe Mechanical Circular (Metcalf &
Eddy, 2000) ........................................................................................ 582
Gambar 7. 2
Kompartemen Pada Filter Anaerobik ................................................. 584
Gambar 7. 3
Rotating Biological Contactor............................................................ 585
Gambar 7. 4
Bak Pengendap Kedua ........................................................................ 587
Gambar 8. 1
Unit Desinfeksi ................................................................................... 589

iii

PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN IPAL


1. UMUM
Sebelum mengoperasikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), Kepala bagian IPAL yang
bertanggung jawab penuh atas instalasi, harus mengorganisir dan menginstruksikan tindakantindakan yang tepat kepada personel-personel yang bertanggung jawab atas pengoperasian
instalasi tersebut.
a. Kepala IPAL harus menentukan kondisi pengoperasian aktual dari waktu ke waktu
dengan mempertimbangkan flow rate, kualitas influent dan efluen, sudut pandang
ekonomis, usia masing-masing peralatan, dan lain-lain.
b. Kepala IPAL harus mengkonfirmasikan kegiatan harian dalam sistem pengoperasian
IPAL. Kepala IPAL harus menerangkan hal penting berkaitan dengan sistem
operasional berikut ini kepada operator:
Detail pengoperasian
Pencatatan Data Pengoperasian
Memelihara Kebersihan lokasi
Langkah Pengamanan
Pedoman pengoperasian dan pemeliharaan IPAL mengacu pada Pedoman dan Tata Cara
Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Sub Bidang Air Limbah.
Pedoman dan Tata Cara yang diacu adalah sebagai berikut:

Pedoman operasi dan pemeliharaan IPAL Kolam Stabilisasi


Pedoman operasi dan pemeliharaan IPAL Rotating Biological Contactor (RBC)
Tata Cara Perencanaan Jaringan Perpipaan Air Limbah Terpusat tentang Pedoman
Operasi dan Pemeliharaan

Tujuan utama program pemeliharaan adalah untuk memanfaatkan modal investasi yang telah
ditanam dalam pembangunan sistem pengolahan air limbah domestik, agar dapat dioperasikan
dengan efisien dan kinerja yang optimum. Jenis-jenis program pemeliharaan diantaranya yang
penting adalah sebagai berikut:

Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance): jadwal operasi pemeliharaan harus


direncanakan dengan sistematis dan ketat, agar dapat memperkecil gangguan (misal:
pelapis/coating tidak cepat keropos akibat korosi) dan memperbaiki kemacetan (misal:
pelumasan peralatan) serta memperlancar operasi setempat (misal: pengetesan alat-alat
seperti ada mur baut yang akan lepas) sehingga umur efektifnya panjang

535

Pemeliharaan Perbaikan (Corrective Maintenance): Pemerliharaan perbaikan meliputi


normalisasi jaringan pipa, perbaikan atau mengganti peralatan atau perlengkapan yang telah
rusak. Kerusakan pada saluran diklasifikasikan ke dalam 2 tipe yaitu kerusakan struktur dan
kerusakan fungsi
Pemeliharaan Urusan Rumah Tangga (House Keeping Maintenance): menjaga kebersihan
dan keindahan semua unit fasilitas yang ada
Pendataan dan Pelaporan (Records and Report): Pendataan dan pelaporan ada dua
kelompok, yaitu data intern dan ekstern. Data internal yaitu data sistem organisasi dan
sumber daya manusia, desain dan pelaksanaan pembangunan, investasi pelaksanaan dan
pembiayaan operasi dan pemeliharaan. Sedangkan data eksternal adalah dampaknya
terhadap lingkungan sekitar

2. PEMELIHARAAN SISTEM PERPIPAAN


Beberapa masalah teknis yang sering terjadi dalam pemeliharaan suatu sistem perpipaan air
limbah adalah:
Masalah Hidrolis
Ketersediaan air penggelontor sangat kecil, sehingga transportasi tinja tidak selalu dapat berang
hanyut, melainkan sebagian kandas, tertinggal dan lengket pada dasar saluran. Hal ini dapat
mengakibatkan kekerasan pipa menjadi besar dan mengecilnya ruang dalam pipa, di samping itu
emisi gas H2S tidak dapat dihindari. Alternatif penanganan:

Sistem penggelontor di setiap WC distandarisasi, misal 15 liter


Menjaga agar kotoran pada dari luar tidak masuk ke dalam pipa dengan membuat
saringan pada setiap inlet pemasukan, misal inlet pengenceran air hujan dan pada bak
kontrol pada tanah persil
Pembersihan saluran diintensifkan, terutama pembilasan air dari terminal clean out
sering dilakukan, serta sistem penggelontor yang ada diefektifkan
Elevasi setiap bak kontrol dibuat lebih tinggi dari elevasi permukaan tanah disektiarnya,
agar tidak terbenan oleh limpasan air hujan yang mungkin dapat masuk dan membawa
kotoran yang hanyut
Sistem drainase jalan yang dilalui jalur perpipaan diperbaiki, agar air infiltrasi yang
masuk celah-celah lubang tutup manhole tidak membawa hanyutan benda-benda padat
kasar yang berpotensi menyebabkan penyumbatan

Program kerja pemeliharaan pencegahan meliputi pekerjaan rutin terjadwal pengawasan dan
pembersihan saluran. Dimulai dengan pengawasan pendahuluan diperoleh metoda dan jenis

536

pemeliharaan dan pencegahan berikutnya sehingga dapat diketahui peralatan yang diperlukan.
Selain itu perlu dilakukan upaya penggelontoran yang cukup keras, sehingga adanya kedalaman
berenang yang cukup untuk menghanyutkan benda-benda keras yang ada di dalamnya

Masalah Endapan
Sistem drainase yang buruk menyebabkan infiltrasi air hujan yang membawa hanyutan suspensi
diskrit padat dan sampah. Hal ini berpotensi untuk membuat sumbatan-sumbatan aliran
sehingga menghasilkan gas H2S, CO2 dan methan.
Permasalahannya adalah operasi pembersihan endapan tidak dapat dilakukan karena adanya gas
CO2 yang bisa meracuni operator. Agar dihindari pengujian dengan nyala lampu lilin atau
lantera, karena bisa menimbulkan ledakan bila konsentrasi gas methan tinggi. Disarankan untuk
perbaikan di dalam pipa menggunakan tabung udara. Alternatif penanganan:

Sistem drainase sepanjang jalur air limbah domestik harus diperbaiki


Kebersihan jalan masuk dan jalan akses dijaga
Tutup manhole air limbah harus jauh dari bahaya limpasan air hujan, yakni harus dijaga
jangan sampai terbuka
Perlu membangun kesadaran masyarakat melalui penyuluhan dan penetapan peraturan
agar tidak membuang sampah ke dalam manhole
Perlu program inspeksi yang terjadwal terhadap setiapmanhole jaringan penyaluran air
limbah yang ada untuk dapat mengatasi masalah yang timbul sedini mungkin
Untuk sistem setempat perlu dilakukan penggelontoran secara periodik dan pembuatan
bak kontrol untuk mengawasi timbul endapan yang berlebihan

Metoda Pembersihan Endapan

Pembersihan manual menggunakan pipa bambu dengan sikat kawat


Alat angkat dengan gulungan tangan harus digunakan dalam satu set yang terdiri dari 2
unit. Alat gulung mempunyai tali kawat yang akan dimasukkan ke dalam saluran pipa
yang akan dibersihkan melalui manhole. Sebelum dimasukkan, pasang ember pada
ujung kawat. Dengan alat angkat ini, tanah dan pasir dapat diangkat dari dasar lautan

537

Gambar 2. 1 Metoda Pembersihan Endapan Dalam Pipa

Mesin pengangkat dengan ember penjepit (bucket machine), yaitu mesin yang
dilengkapi dengan alat angkat dengan gulungan mesin dilengkapi dengan suatu rangka
dengan alat penarik dipasang pada kendaraan atau traktor trailer
Mesin pemberih khusus, yang terdiri dari 2 tipe yaitu tipe manual dan tipe tenaga
penggerak. Pembersih dipasang pada tongkat (rod) yang dapat diputar dengan handle
dan bergerak maju mundur untuk membuang tanah, pasir dan sampah
Kendaraan pembersih berkecepatan tinggi dilengkapi dengan pompa dan tangki air.
Dengan mengoperasikan pompa bertekanan tinggi, mesin menekan air dalam tangki air
sehinigga terbentuk pancaran air (water jet) sebesar 70-100 kg/cm2 yang keluar dari
nozzle khusus yang dipasang pada kepala/ujung pipa dan mendorong pasir dan tanah
yang berada dalam pipa saluran keluar melalui manhole
Mesin pembersih berkecepatan tinggi ukuran kecil, yaitu sebuah mesin yang dilengkapi
dengan pompa dan tangki air. Pipa mensuplai air dari tangki dan pompa bertekanan
tinggi memompa air tersebut dan disemprotkan melalui nozzle khusus yang dipasang
pada kepala pipa, semprotan air dapat membersihkan tanah dan pasir
Mobil penghisap (vaccum vehicle/vaccum truck), yang dapat diklasifikasikan dalam 2
tipe yaitu tipe mobil penghisap dengan tenaga reguler dan mobilpenghisap dengan
tenaga tinggi

Sistem pemeliharaan tutup manhole, yang diterapkan sebagai berikut:

538

Konstruksi tutup manhole harus diberi lubang penghawaan (vent) dan dikunci
Harus dihindarkan jalur saluran air limbah domestik, khususnya yang memiliki banyak
manhole, berada pada jalur jalan lalu lintas kelas berat

Perlu dilalukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap urgensi


pemeliharaan sistem penyaluran air limbah domestik melalui program penyuluhan

Permasalahan Akar Pohon


Akar pepohonan disekitar jalur perpipaan berpotensi untuk:

Merubah dudukan peletakan pipa, yang dapat mengangkat, menurunkan, menggeser,


dan mungkin mengakitbatkan sambungan pipa lepas atau patah
Akar serabut yang halus dapat masuk ke dalam celah-celah sambungan pipa sehingga
mengakibatkan kebocoran dan mengganggu jalannya aliran yang akhirnya dapat
menyebabkan penyumbatan

Alternatif Penanganan:

Dilarang menanam pohon terlalu dekat dengan jalur perpipaan, terutama jenis pohon
berakar panjang dan serabut
Pemeliharaan rutin dan bila telah diperlukan harus dilakukan pembersihan dengan alat
(root cutting saw)

3. SISTEM PELISTRIKAN
Pasokan listrik biasanya dari jaringan PLN, tetapi jika diperlukan bisa juga di backup dengan
unit genset tersendiri. Jika dengan dua sumber, maka penel listrik untuk power supply juga
dipasang (lihat Gambar 3.1).
Handle pada posisi 0

: Netral, semua listrik baik dari jaringan PLN maupun Genset tidak
tersambung kejaringan, sehingga semua peralatan tidak bisa
berjalan / berfungsi.

Handle pada posisi I

: Sumber listrik berasal dari PLN.

Handle pada posisi II

: Sumber listrik berasal dari Genset.

539

Gambar 3. 1 Panel Listrik


Dari panel power supply ini, listrik akan masuk ke panel listrik utama. Panel listrik dan
perlengkapannya adalah untuk memudahkan komunikasi dan interaksi antara operator dengan
mesin yang dikelolanya. Semua peralatan mesin pada suatu plant IPAL dikontrol dan dimonitor
melalui panel listrik yang sudah diatur dan disetel sedemikian rupa, baik susunan peralatan
listrik dan masing masing kapasitasnya serta kabel dan sambungannya.
Beragam bentuk dan dimensi dari panel listrik adalah bergantung pada banyaknya peralatan dan
mesin yang dikontrol, dan juga sampai seberapa jauh/detil akan memonitor dan mengamati
unjuk kerja dari setiap peralatan atau mesin yang terpasang. Bila ada peralatan/mesin yang bisa
bekerja secara otomatis, maka pasti ada peralatan sensor yang mengatur sistem otomatisasi
tersebut. Secara umum peralatan listrik standar yang selalu ada pada box panel adalah sebagai
berikut:
a) NFB (No Fuse Breaker) :

Untuk pembatas daya / beban listrik yang digunakan oleh sesuatu mesin.

Sebagai pengaman jaringan jika terjadi hubungan arus pendek

Sebagai penghubung atau pemutus jaringan/tegangan listrik yang mempunyai kapasitas


amper tinggi

b) MCB (Magnetic Circuit Breaker):

540

MCB berfungsi sama dengan NFB namun MCB digunakan untuk kekuatan arus dengan
amper yang kecil

Gambar 3. 2 Panel listrik IPAL Tower City, Jakarta

c)

Contactor :
Saklar yang bekerja berdasarkan magnit listrik
Untuk mengaktifkan/bekerjanya magnit, kontaktor memerlukan tegangan listrik.
Untuk mengaktifkan magnitnya hanya membutuhkan tegangan listrik + 3 watt, bisa
difungsikan sebagai otomatisasi untuk mengkontrol alat/jaringan yang mempunyai
tegangan sampai ribuan watt.

541

Gambar 3. 3 No Fuse Breaker (NFB) Dan Magnetic Circuit Breaker (MCB)

d) Overload thermis :

Fungsinya untuk mengamankan beban listrik, terutama motor listrik agar tidak rusak /
terbakar jika kelebihan beban/tidak kuat memutar alat yang digerakkan. Overload
thermis bekerja berdasarkan sensor panas.

e) Tombol tekan on/off (Push Button) :

542

Warna hijau : untuk mengaktifkan kontaktor, menghubungkan kontaktor dengan


tegangan listrik agar aktif/bekerja.
Warna merah : untuk memutuskan kontaktor dari aliran/jaringan tegangan listrik supaya
mati /off

Kontaktor

Overload
Gambar 3. 4 Contactor, Overload Dan Tombol On/Off

f) Lampu indikator :

Sebagai alat bantu visual yang dihubungkan ke push button, sehingga mudah dilihat
apakah posisi pada on (lampu warna hijau) atau posisi pada off (lampu warna merah)
Pada indikator power supply dengan jaringan 3 phasa, lampu indikatornya ada 3 warna,
yaitu merah, kuning dan hijau. Sehingga jika power supply dihidupkan harusnya ketiga
lampu tersebut akan menyala, jika ada yang mati salah satu, artinya salah satu pasokan
listrik dari aliran 3 phasa tersebut ada yang mati. Jangan mengaktifkan semua
peralatan/mesin jika salah satu phasa mati.

g) Saklar geser :

Untuk memindahkan fungsi kerja, dari / ke automatis dan manual

Auto

Manual

Gambar 3. 5 Lampu Indikator Dan Saklar Geser

543

h) Penghubung Kabel/Terminal

Untuk menghubungkan kabel kabel

Gambar 3. 6 Terminal

i)

Aksesoris Pelengkap Lainnya :

Alat bantu untuk memudahkan penyambungan / pengerjaan electrical

Buatlah Plakat berisi urut urutan cara menghidupkan dan mematikan peralatan
listrik untuk pengoperasian IPAL, Plakat ditempekan pada pintu panel
listrik, supaya mudah terlihat dan terbaca.

4. OPERASI DAN PEMELIHARAAN UNIT PRETREATMENT


a. Saringan /Screen Awal (Sebelum Pompa Angkat)
Sampah seperti plastik dan kotoran-kotoran mengambang dalam influen disaring
dengan saringan kasar.

Kotoran yang tersaring pada bar screen seperti yang tersebut diatas diambil secara
manual dengan alumunium rake.

Jika menggunakan/terpasang saringan mekanis (mechanical screen), maka dengan


conveyor belt sampah yang terangkat dipisahkan dan dimasukan dalam pengumpul
sampah.

Kotoran diambil dan dibuang paling tidak satu kali sehari jika menggunakan bar screen
dan sistem manual, dan jika memakai saringan mekanis juga dibuang sekali sehari.

544

Bar Screen

Gambar 4. 1 Bar Screen

b. Pompa Angkat / Lift Pump


Pada suatu IPAL biasanya selalu terdapat 3 unit pompa angkat, 2 unit pompa untuk
dioperasikan dan 1 unit pompa untuk standby. Standby bisa berarti pompa bisa dioperasikan
sewaktu-waktu, misal dalam kondisi air di stasiun pompa dalam keadaan banjir, atau bila salah
satu pompa mengalami kerusakan atau macet, dan lain sebagainya.
Persiapan operasi/ item yang harus diperiksa
i.

Periksa apakah operation panel (Kontrol Panel Pompa) sudah menyala. Panel
operasi ada di ruang mesin untuk lift pump. Periksa lampu yang berwarna hijau.
Jika power indicator lamp (lampu indikator power) tidak menyala, hidupkan NFB
untuk power supply.

ii.

Periksa listrik yang disalurkan ke pompa. Listrik tersambung jika lampu indicator
yang warna hijau menyala. Jika lampu operasi tidak menyala, hidupkan NFB untuk
pompa yang diinginkan didalam panel listrik.

iii.

Tergantung dari jenis pompa yang dipakai pada plant IPAL yang ada, Lift pump
dengan tipe screw biasanya dilengkapi dengan sistem pompa gemuk/grease pump.
Periksa apakah tangki/wadah gemuk (grease) sudah diisi dengan gemuk dengan
jumlah yang disyaratkan.

545

iv.

Periksa listrik yang disalurkan ke grease pump. Listrik sudah tersalur jika lampu
indikator yang warna hijau menyala. Jika lampu operasi tidak menyala, hidupkan
NFB yang ada di dalam panel. Grease akan dipompakan pada bearing dan bagian
bagian bergerak lainnya secara otomatis.

Gambar 4. 2 Pompa Ulir (Screw Pump)

Pengoperasian
Lift pump selalu punya 2 mode operasi, yaitu pengoperasian otomatis atau manual.
Pengoperasian Otomatis
Ada dua jenis pengoperasian, tergantung tinggi permukaan air di stasiun (rumah) pompa.
Detail dari pengoperasian adalah sebagai berikut:
Pengoperasian Otomatis 1
Jika tinggi permukaan air di rumah pompa mencapai level tinggi tertentu, misalnya X
(+6), pompa otomatis menyala, dan jika air mencapai level Z (+5), pompa otomatis
mati.
Jika memilih mode auto-1, pompa otomatis menyala dan mati ketika air di rumah
pompa mencapai level X dan Z .

546

Pengoperasian Otomatis 2
Jika tinggi permukaan air di rumah pompa mencapai level Y (+6), pompa otomatis akan
menyala, dan jika air mencapai level Z (+5), pompa otomatis akan mati.
Jika diatur pada mode auto-2, pompa otomatis akan hidup dan mati ketika air di rumah
pompa diantara level air Y dan Z.
Jika aliran limbah sesuai dengan kondisi desain, dua pompa angkat akan beroperasi,
sementara pompa yang lain dalam kondisi stand by. Karena itu, satu pompa harus diatur
dalam mode auto-1 dan satu pompa lainnya diatur dalam mode auto-2.

Catatan: Tombol pengoperasian untuk masing-masing pompa biasanya selalu punya


pilihan yaitu : auto-1, auto-2, manual dan stop.

Mode pengoperasian untuk masing-masing pompa harus dipilih berdasarkan kondisi


inflow. Pompa yang sudah dipilih akan beroperasi secara otomatis dengan level air yang
sudah ditentukan di rumah pompa. Pengoperasian grease pump untuk pompa yang yang
sudah dipilih harus dilakukan dengan prosedur yang sama seperti yang dijelaskan pada
bagian sebelumnya.
Periksa apakah pompa mengangkat limbah sesuai dengan mode pengoperasian yang sudah
dipilih. Limbah yang dialirkan oleh pompa secara otomatis diatur menurut inflow limbah.
Karena itu instalasi dengan sistem pompa seperti ini tidak memerlukan operator untuk
mengawasi aliran air limbah.
Pengoperasian Manual
o Tombol Pengoperasian pompa yang ingin dioperasikan oleh operator, harus
diposisikan pada tulisan manual, baru pompa tersebut bisa berkerja secara
manual.
o Jika tombol pengoperasian diposisikan ke stop, maka pompa akan mati.
Periode harian pengoperasian pompa angkat.
Pada pompa angkat tipe screw pump, biasanya di dalam panelnya terdapat alat hitung
(counter) pengoperasian. Alat hitung punya angka dari 0~9999. Setiap hitungan satu
menandakan pompa beroperasi selama satu menit . Sebagai contoh, pada suatu hari, alat
hitung menunjukkan 1.200. Ini artinya dalam satu hari operasi tersebut pompa beroperasi
selama 1.200 menit (20 jam).

547

c. Screen Tahap Kedua (Setelah Pompa)


Sampah seperti plastik dan kotoran-kotoran mengambang dalam influen disaring dengan
saringan kasar.
Kotoran yang tersaring pada bar screen seperti yang tersebut diatas diambil secara
manual dengan alumunium rake.
Jika menggunakan / terpasang mechanical screen, maka dengan conveyor belt sampah
yang terangkat dipisahkan dan dimasukan dalam pengumpul sampah.
Kotoran diambil dan dibuang paling tidak satu kali sehari jika menggunakan bar screen
dan sistem manual, dan jika memakai saringan mekanis juga dibuang sekali sehari.

d. Penangkap Butiran Kasar/ Grit Chamber


Bila jenis grit chamber yang digunakan adalah sistem kanal, dan grit diambil/dikuras dengan
pompa pasir jenis submersible, pompa pasir jenis ini biasanya digantungka pada derek
listrik/chain hoist. Maka sistem operasinya adalah sebagai berikut:

Persiapan operasi/ item yang harus diperiksa


o
o
o
o

Sama seperti pada prosedur yang sudah sudah seperti diatas, nyalakan pompa pasir dan
derek.
Pompa pasir dioperasikan melalui kontrol panel yang dipasang di ruang mesin untuk
rumah pompa.
Listrik disalurkan ke derek melalui panel kontrol yang sama dengan pompa pasir, dan
derek dioperasikan dengan cara mengoperasikan push button pada derek.
Derek punya tiga jenis pengoperasian yaitu jalan maju, jalan mundur, dan mengerek
naik atau turun.

Memulai Pengoperasian
o Pompa pasir tergantung diatas di grit chamber yang akan dikuras (jika ada beberapa
grit chamber)
o Biasanya terdapat beberapa derek dan setiap
independen.

pasang derek

dioperasikan secara

o Hidupkan pompa pasir dengan tombol pengoperasian yang terdapat di panel kontrol
o Setelah memeriksa jalannya pompa, tekan tombol travelling forward/jalan maju pada
derek supaya derek mulai berjalan. Jika Derek telah mencapai sisi inflow grit chamber,

548

mulailah dengan memompa dari sisi ke sisi pada bagian inflow tersebut, hentikan/stop
chain hoist, dan tekan tombol travelling backward/ jalan mundur untuk memundurkan
derek. Ulangi operasi seperti tadi yaitu memompa dari satu sisi ke sisi lainnya, prosedur
tersebut diulang bolak-balik sebanyak tiga sampai lima kali.
o Jalankan pompa pasir untuk memompa grit, dengan dereknya sekali atau dua kali sehari

Gambar 4. 3 Operasi Grit Chamber Tipe Kanal

Menghentikan Pengoperasian
o

Setelah menyelesaikan pengurasan grit seperti yang dijelaskan di atas, hentikan pompa
pasir dengan memencet tombol Stop Operation di panel kontrol

Matikan NFB Derek listrik (didalam panel kontrol)

Catatan:
o

Biasanya dua grit chamber dioperasikan secara paralel

Pindahkan pasir dan kotoran-kotoran lain yang tersedimentasi dan terkumpul di grit
chamber menggunakan pompa pasir dan derek listrik yang dioperasikan manual. Walau
demikian, hindari pengoperasian secara bersamaan.

Hentikan derek tepat didalam tutup tahan air.

Grit akan dpompa masuk ke pengumpul/cyclone separator.

549

Bila tipe grit chamber yang digunakan adalah tipe kolam detritus/square horizontalflow/circular rake, maka sistem operasinya adalah sebagai berikut:

Persiapan operasi/ item yang harus diperiksa


o
o
o

Nyalakan sekop putar/scoop, nyalakan mekanik pencuci grit, juga nyalakan pompa
untuk mengembalikan bahan organik.
Sekop putar dioperasikan melalui panel kontrol yang dipasang di ruang mesin untuk
pompa angkat.
Juga pencuci grit dan pompa pengembalian organik, semua diopersikan melalui panel
kontrol yang berada diruang mesin untuk pompa angkat.

Memulai Pengoperasian
Sekop mekanik berada didasar setiap grit chamber yang akan dikuras (jika ada beberapa
grit chamber)

Mekanisme pencuci grit/rake yang bergerak maju mundur, terletak disebelah dari bak
kotak, dan berhubungan dengan sekop putar pad kolam pengumpul grit. Mekanisme ini
dijalankan secara bebas, juga mekanis/pompa untuk mengembalikan kandungan
organik.

Hidupkan sekop putar dengan tombol pengoperasian yang terdapat di kontrol panel

Setelah memeriksa jalannya sekop putar, hidupkan rak pencuci grit/rake grit washer.
Setelah mengamati dan memeriksa jalannya mekanisme take dan sekop, hidupkan juga
pompa atau mekanik untuk mengembalikan kandungan organic dari hasil pencucian
grit, kembali ke bak / kolam detritus.

Grit yang telah bersih dan kering akan keluar melalui ujung rak, dikumpulkan dan
masukan pada gerobak /kereta dan buang ketempat pembuangan grit

Jalankan seluruh mekanisme sekop, rake pencuci an pengembalian organik pada grit
chamber, sekali atau dua kali sehari

Menghentikan Pengoperasian
o

Setelah menyelesaikan pengurasan dan pencucian grit seperti yang dijelaskan diatas,
hentikan sekop putar, rake pencuci dengan memencet tombol Stop Operation dikontrol
panel
o

550

Matikan NFB didalam kontrol panel, jika tombol on /off berada diluar ruang
control.

Gambar 4. 4 Grit Chamber Tipe Circular rake / Detritus Tank / Square HorizontalFlow (Metcalf & Eddy, 2000)

551

Gambar 4. 5 Operasional Grit Chamber Tipe Circular Rake/Detritus

e. Pemisah Tipe Pusaran & Tipe Ulir /Cyclone Separator & Screw Separator
Cyclone separator adalah rangkaian peralatan dari sistem pemisahan grit dari grit chamber
sistem kanal, pada sistem kolam detritus grit sudah dicuci dan dikumpulkan pada ujung rak
pencuci. Operasional Cyclone separator adalah sebagai berikut:

Cyclone separator dihubungkan langsung dengan pipa keluar dari pompa pasir, tanah dan
pasir dan butiran kasar lainnya yang terkumpul di dasar grit chamber disedot bersama-sama
dengan limbah cair oleh pompa pasir tersebut dan dipisahkan menjadi bahan padat dan cair
didalam cyclone separator. Tanah dan pasir yang sudah dipisahkan, terkumpul dan
tersimpan di chamber di dasar cyclone separator.

Setelah selesai mengoperasikan pompa pasir, buka kran yang terpasang di bagian bawah
chamber di bagian bawah cyclone separator, lalu limbah disalurkan kedalam parit.

Tanah dan pasir akan tetap berada di dalam parit, dan limbah secara alami mengalir kembali
ke grit chamber.

Tanah dan pasir yang terkumpul di parit diciduk 1-2 kali seminggu dan pindahkan ke sludge
drying bed. Kadang perlu dicuci supaya tidak bau.

552

Gambar 4. 6 Cyclone Separator

Screw separator mempunyai konstruksi seperti ulir yang miring dan bertumpu pada dasar bak,
dimana bak tersebut adalah sebagai dasar dari grit chamber. Dasar dari grit chamber dibuat
konus dan miring kearah ujung screw separator. Operasional screw separator adalah sebagai
berikut:

Hidupkan scew separator, screw/ulir akan berputar dan mengangkat air berserta grit yang
terkumpul didasarnya naik keatas

Dinding screw separator terbuat dari plat berlubang lubang, sehingga air akan keluar
melaui lubang tersebut, sedangkan grit akan terangkat naik.

Efek dari putaran serta dorongan dari screw akan membersihkan grit dari bahan organik
lainnya, sehingga grit yang keluar dari sistem ini sudah tercuci bersih dan tidak bau.

Grit akan keluar melalui ujung dari screw, dan akan ditampung pada wadah/bin, dan setiap
hari dibuang.

f. Saringan Kasar Grit chamber


Biasanya pada ujung grit chamber sistem kanal, terdapat lagi bar screen, sistem
operasionalnya sama yaitu:

Plastik dan kotoran mengambang lainnya dalam influen disaring dengan saringan kasar /

553

bar screen.

Kotoran-kotoran yang menempel di saringan diambil secara manual dengan alumunium


rake. Ambil kotoran 1-2 kali sehari. Misal pada titik ini dipasang mechanical screen maka
secara otomatis sampah akan dikumpulkan dan dibuang secara rutin.

Gambar 4. 7 Screw Separator

Jika menggunakan mechanical screen, maka dengan conveyor belt sampah yang terangkat
dipisahkan dan dimasukan dalam pengumpul/container sampah.

Kotoran diambil dan dibuang paling tidak 1 (satu) kali sehari jika menggunakan bar screen
sistem manual, dan jika mamakai saringan mekanis juga dibuang sekali sehari.

Gambar 4. 8 Bar Screen Kedua

554

g. Bak pembagi
Setelah unit pretreatment, pada awal/hulu dari sistem pengolahan dengan kolam stabilisasi,
selalu terdapat bak pembagi aliran. Pengolahan dengan sistem kolam stabilisasi umumnya
terdiri dari minimal 2 (dua) jalur sistem pengolahan, karena hal tersebut memungkinkan
penanganan yang maksimal dan baik jika terjadi problem pada salah satu jalur, bisa juga
berfungsi pada saat pasokan limbah sangat sedikit atau kurang dari 50%, maka pengolahan bisa
dilakukan hanya dengan sat jalur pengolahan.
Pada bak pembagi/distribution chamber, terdapat 2 (dua) pintu air/gate (jika ada 2 jalur
pengolahan), setiap gate/pintu air berfungsi untuk menyalurkan air limbah ke salah satu
jalur/baris kolam stabilisasi. Pengoperasian pintu air bisa secara manual atau secara otomatis.
Operasional bak pembagi tersebut adalah sebagai berikut:
Jika aliran air limbah 100% dari kapasitas desain, maka 2 (dua) pintu air dibuka normal,
kedua pintu air tersebut akan mendistribusikan efluen ke kolam stabilisasi No.1 dan
No.2. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dua baris kolam dipasang paralel di dalam
sistem ini
Biasanya Setiap baris terdiri dari 2 (dua) atau 3 (tiga) kolam anaerobik (paralel) ditambah
dengan 2 (dua) kolam fakultatif (paralel) dan 2 (dua) kolam maturasi yang disusun
secara seri.
Air limbah tersalurkan ke semua kolam secara normal.
Jika aliran air limbah kurang dari 50% dari kapasitas desain, mengoperasikan satu baris
kolam boleh dilakukan. Dalam hal ini, "tutup" salah satu pintu air/distribution gate pada
baris kolam yang akan diistirahatkan.

h. Perangkap Lemak/ Grease Trap

Sebaiknya grease trap dipasang/berada pada setiap rumah, sehingga resiko penyumbatan
pada jaringan perpipaan jadi minim/kecil, sehingga pemeliharaan jaringan perpipaan secara
keseluruhan akan menjadi ringan. Pemeliharaan grease trap menjadi tanggung jawab
masing masing rumah tangga.

Jika grease trap dibuat sentral, maka terdapat 2 (dua) jenis grease trap yang bisa
digunakan. Jenis pertama adalah grease trap dengan konstruksi sederhana yaitu kolam
yang diberi sekat-sekat. Grease trap jenis ini tidak memerlukan pengoperasian secara
khusus, hanya perawatan dan pemeliharaan saja. Lemak dan kotoran mengambang pada
kolam, diambil dan dibersihkan setiap hari dan dibuang ketempat pembuangan sampah atau
bisa dibakar di incinerator.

555

Grease trap jenis kedua adalah grease trap yang menggunakan aerasi udara, disebut juga
dengan sistem flotation. Operasional grease trap jenis ini adalah sebagai berikut:
o Hidupkan pompa udara / kompressor untuk flotasi, tombol ada pada panel listrik
diruang utama.
o Hidupkan skimmer/ pengeruk dan pengumpul scum
o Scum yang terkumpul pada kolam pengumpul diambil dan dibuang 1-2 kali dalam
sehari.

Gambar 4. 9 Grease Trap

i. Bak Perata/ Ekualisasi


Bak ekualisasi berfungsi sebagai pengumpul air limbah selama 24 jam dari cakupan wilayah
kerja IPAL yang ada, juga sebagai kolam pengumpul sebelum dipompakan ke unit pengolahan
berikutnya. Dari bak ekualisasi ini, air limbah dipompa masuk ke unit pengolahan selama 24
jam. Tidak ada operasi khusus pada bak ekualisasi ini.

j. Pompa Angkat/ Lift pump


Pada suatu IPAL biasanya selalu terdapat 3 (tiga) unit pompa angkat, 2 (dua) unit pompa untuk

556

dioperasikan (bergantian) dan 1 (satu) unit pompa untuk standby. Standby bisa berarti pompa
bisa dioperasikan sewaktu waktu, misal dalam kondisi air di pump station tinggi/ banjir, atau
bila salah satu pompa mengalami kerusakan atau macet, dan lain sebagainya. Jenis pompa
angkat (positip) bermacam macam, bergantung pada besarnya volume dan berapa tingginya air
yang mau dipindah, dan lain sebagainya. Untuk IPAL komunal, biasanya dipakai pompa jenis
sump-pump yang submersible (terbenam di dalam air limbah).

Gambar 4. 10 Contoh Pompa Angkat (Lift Pump)

Persiapan operasi/item yang harus diperiksa


o

Periksa apakah operation panel (panel kontrol ompa) sudah menyala. Panel operasi ada
di ruang mesin. Periksa lampu indikator yang berwarna hijau.

Jika power indicator lamp (lampu indikator listrik) tidak menyala, hidupkan NFB untuk
power supply.
Periksa listrik yang disalurkan ke pompa. Listrik tersambung jika lampu indicator yang
warna hijau menyala.
Jika lampu operasi tidak menyala, hidupkan NFB untuk pompa yang diinginkan
didalam panel listrik.

o
o

Pengoperasian
Pompa angkat selalu punya 2(dua) mode operasi, yaitu pengoperasian otomatis atau manual.
Pengoperasian Otomatis
Ada dua jenis pengoperasian, tergantung ketinggian permukaan air di rumah pompa. Detail

557

dari pengoperasian adalah sebagai berikut:


Pengoperasian Otomatis 1
Jika tinggi permukaan air di rumah pompa mencapai level tinggi tertentu, misalnya X,
pompa otomatis menyala, dan jika air mencapai level Y, pompa otomatis mati. Jika memilih
mode auto-1, pompa otomatis menyala dan mati ketika air di rumah pompa mencapai level
X dan Y .
Pengoperasian Otomatis 2
Jika tinggi permukaan air di rumah pompa mencapai level X, pompa otomatis menyala,
dan jika air mencapai level Y, pompa otomatis akan mati. Jika diatur pada mode auto-2,
pompa otomatis akan hidup dan mati ketika air di rumah pompa diantara level air X dan Y.

Timer otomatis pada POMPA 1 diatur pada


00.00

off / mati

06.00

on /nyala

12.00

off / mati

18.00

on /nyala

Timer otomatis pada POMPA 2 diatur pada


00.00

on /nyala

06.00

off / mati

12.00

on /nyala

18.00

off / mati

Jika aliran limbah sesuai dengan kondisi desain, dua pompa akan beroperasi secara
bergantian setiap 6 jam, sementara pompa ketiga dalam kondisi standby. Karena itu, satu
pompa harus diatur dalam mode auto-1 dan satu pompa lainnya diatur dalam mode auto-2.
Catatan:
Tombol pengoperasian untuk masing-masing pompa biasanya selalu punya pilihan :
auto-1, auto-2, manual dan stop.
Pompa yang sudah dipilih akan beroperasi secara otomatis dengan level air dan waktu yang
sudah ditentukan di rumah pompa. Periksa apakah pompa mengangkat limbah sesuai dengan

558

mode pengoperasian yang sudah dipilih.

Operasi Manual
Tombol Pengoperasian pompa yang ingin dioperasikan oleh operator, harus diposisikan pada
tulisan manual, baru pompa tersebut bisa berkerja secara manual. Jika tombol pengoperasian
diposisikan ke stop, maka pompa akan mati. Waktu kerja (berapa jam nyalanya) pompa juga
akan bekerja secara manual.
Biasanya operasi pompa ini dihubungkan dengan sistem alarm baik pada pengoperasian secara
otomatis maupun manual, sehingga jika pompa tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka
alarm akan memberikan sinyal supaya operator bisa bertindak sebagaimana mestinya.

k. Pengatur aliran/ Flow control


Jika aliran air limbah yang masuk ke IPAL akan diatur/dibagi rata masuknya berapa m 3 /jam,
dan kontinyu selama 24 jam, maka diperlukan alat pengatur aliran/flow control box.
Konstruksinya biasanya dengan V-notch, sehingga bisa diatur debit yang diinginkan masuk ke
unit IPAL.

Atur ketinggian permukaan air pada V-Notch

Ukur debit yang keluar, jika sudah tercapai debit yang sesuai , kencangkan baut gate Vnotch tersebut.

5. PENGOPERASIAN KOLAM STABILISASI LIMBAH


a.

Umum

Sistem ini pada umumnya tidak dilengkapi peralatan mekanis, maka pengoperasian dan
pemeliharaan sistem ini relative mudah , sederhana dan murah. Mengoperasikan kolam
stabilisasi membutuhkan tenaga orang-orang yang terlatih. Pengoperasian dan perawatan
mencakup memulai pengoperasian kolam, mengelola kondisi permukaan kolam, menjaga
tanggul dan lokasi site kolam, dan juga menguras kolam serta membuang lumpur.

b.

Peralatan yang diperlukan

Untuk mengelola permukaan kolam, yang dibutuhkan: perahu kecil dan garu bergagang
panjang, selang air atau pompa portabel dan sumber air. Untuk memelihara tanggul dan lokasi
kolam, yang dibutuhkan: sekop, kapak, parang, alat potong rumput dan ilalang, gerobak sorong,

559

persediaan batu, tiang kayu, pagar kawat, palu, paku, pipa cadangan, semen. Peralatan lain yang
dibutuhkan antara lain tool shed, rambu peringatan, bahan pembuat pagar, dan sarung tangan
dan sepatu bot dari karet. Jangan lupa memakai sepatu bot dan sarung tangan jika berkerja di
sekitar kolam stabilisasi.
Kolam stabilisasi yang beroperasi dengan baik dan dipelihara sebagaimana mestinya biasanya
tidak berbau. Bagi anak-anak maupun orang dewasa, tempat ini tampak seperti tempat untuk
berenang atau bermain. Tindakan-tindakan ini harus dilarang. Harus dilakukan tindakan
pencegahan untuk mencegah orang-orang yang tak berwenang masuk ke dalam lokasi. Pasang
rambu peringatan, atau pasang pagar atau barikade.

c. Definisi umum
- Algae:
Tumbuhan kecil berwarna hijau, biasanya mengambang di permukaan air; tumbuhan ini
tumbuh dan berkembang di kolam stabilisasi dan menghasilkan oksigen.
- Kolam anaerobik:
Kolam stabilisasi yang menerima sewage/air limbah dari sistem jaringan pengumpul air
limbah dan mengalirkan ke kolam fakultatif
- Efluen:
Air limbah yang sudah melewati proses pengolahan.
- Kolam fakultatif:
Kolam stabilisasi yang menerima air limbah yang sudah terolah di kolam anaerobik, dan
mengalirkan air yang sudah diolah ke selokan kering atau ke kolam maturasi.
- Kolam maturasi:
Kolam stabilisasi yang menerima air limbah yang sudah diolah di kolam fakultatif,
selanjutnya mengolah air limbah tersebut dan mengalirkannya ke selokan kering; kolam
maturasi kadang-kadang digunakan untuk memelihara ikan.
- Scum:
Kotoran/padatan/partikel mengambang yang muncul di permukaan cairan, sangat lazim
terjadi di kolam anaerobik.
- Sewage (air limbah):
Air yang berasal dari kegiatan rumah tangga seperti air cucian, tinja, dan air yang
digunakan untuk menggelontor tinja dari bangungan/rumah lewat pipa jaringan pengumpul
dan menuju tangki septik, jamban atau kolam stabilisasi.
- Lumpur (Sludge):
Padatan / lumpur yang mengendap

560

- Sewage (air limbah) olahan:


Air limbah yang mengalir keluar dari kolam stabilisasi atau sistem pengolahan lain.
Sewage olahan lebih aman dari pada sewage yang sudah diendapkan dan bisa digunakan
untuk irigasi tanaman yang bukan dikonsumsi manusia.

d. Memulai Pengoperasian Kolam Stabilisasi


Jika rancangan waktu retensi suatu kolam tidak lebih dari 10 hari, atau jika hanya sebagian dari
seluruh hunian tersambung ke sistem jaringan pipa pengumpul air limbah, mungkin lebih
menguntungkan untuk membagi kolam dalam beberapa bagian. Pembagian akan membuat dasar
kolam lebih cepat kedap air dan mencegah tumbuhnya rumput dan tanaman liar. Buatlah satu
atau dua tanggul selebar kolam. Tanggul tersebut membagi kolam menjadi dua atau tiga bagian.
Tanggul ini dibuat dari tanah dan tingginya tidak lebih dari 5 m.
Alirkan sewage ke dalam kolam. Padatan yang mengendap akan mengendap pelan-pelan dan
pelan-pelan menutupi dasar kolam bagian pertama. Setelah beberapa hari, kolam bagian
pertama akan penuh dan air limbah yang akan diolah (sewage) akan luber dan melewati tanggul
sementara dan mulai menutupi dasar kolam bagian kedua. Setelah satu atau dua minggu,
tergantung ukuran kolam dan volume aliran per hari, kolam akan terisi dengan efflent hingga
kedalaman yang direncanakan.

Jika ada dua atau lebih kolam:


i. Tutup inlet kolam pertama dan alihkan sewage ke kolam ke-dua, isi bagian per-bagian.
ii. Biarkan efluen di kolam yang sudah terisi hingga mencapai matang selama 10-20 hari.
Efluen perlahan-lahan berubah warna menjadi kehijau-hijauan.
iii. Alihkan aliran efluen kembali ke kolam pertama sehingga sewage yang sudah diolah
mengalir keluar lewat outlet. Jika kolam terhubung secara seri, sewage yang sudah diolah
akan mengalir dari kolam pertama mejuju kekolam ke dua dan disalurkan keluar dari
outlet kolam kedua.

Jika kolam-kolam berhubungan secara paralel:


i. Biarkan kolam yang sudah diisi bersamaan, matang selama 10-20 hari, sampai berwarna
kehijau-hijauan
ii. Biarkan sewage memasuki kedua kolam tersebut dan mengalir keluar dari kedua kolam
sebagai sewage olahan.

561

Aliran
masuk
Kolam
yg
sedang
diisi

Kolam yg sdh
penuh, dan
Kran
matang

Aliran
masuk
Kolam
yg
sdh
penuh,
dan
matang
Kolam
yg
sedang
diisi

tutu
Kranp
buka

Sekat tanah
Kran
Temporer,
buka
+ 0,5 m

Kran
tutup

Sekat tanah
Temporer,

Aliran
keluar

KOLAM secara paralel


PARALEL

+ 0,5 m

Aliran
keluar
KOLAM secara seri

Gambar 5. 1 Proses Pengisian Kolam

Seperti telah dipaparkan di muka, sistem ini terdiri dari 3 (tiga) urutan proses, yaitu proses pada
kolam anaerobik, kolam fakultatif dan kolam maturasi.

e. Kolam Anaerobik
Periksa kedalaman kolam anaerobik, apakah sudah sesuai dengan desain/rencana, periksa juga
bagian selokan pemasukan/inlet dan pengeluaran/outlet dari sistem, apakah letaknya sudah
sesuai dengan desain. Bersihkan seluruh tanaman yang tumbuh dikolam kosong calon untuk
kolam anaerobik.
Isi kolam dengan air limbah mentah, pengisian dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu
tertentu. Pengisian pertama bisa dengan 25% dari kapasitas kolam. Jika memungkinkan,
inokulasikan biomass aktif pada awal operasi ini. Biomasss aktif bisa diambil dari kolam
anaerobik lain atau dari reaktor lain yang masih aktif (UASB, Baffle septic tank, tangki septik,

562

dan sebagainya). Kolam anaerobik diisi secara bertahap hingga mencapai daya tampung yang
direncanakan selama kurun waktu 3 (tiga) minggu hingga 6 (enam) minggu.
Waktu pengisian kolam tersebut sangat tergantung dari kondisi pertumbuhan microorganisme,
ada tidaknya penambahan microorganisme aktif dalam kolam tersebut (sehingga dapat
mempercepat). Selama masa start-up ini kondisikan dan pertahankan pH pada 7-7,5 supaya
memungkinkan populasi archareal methanogenic tumbuh.
Jika pH bersifat asam/merosot menjadi < 7, koreksilah dengan menambahkan kapur/gamping
kedalam kolam. Sangat penting menjaga kondisi pH pada awal start up ini. Lakukan sampling
dan analisa setiap minggu, chek kandungan organik dari influen dan efluen sehingga tahu
bahwa kolam anaerobik telah berfungsi sesuai desain kriteria, dan dapat dioperasikan secara
normal.
Setelah beroperasi secara normal, lakukan operasi standar sebagai berikut.

Periksa saluran inlet dan outlet sehari dua kali, untuk memastikan tidak tersumbat oleh
benda atau kotoran besar yang akan mengganggu aliran limbah.
Lokalisir scum yang terjadi pada permukaan kolam, dengan konstruksi scum box (lihat
gambar)
Bersihkan segala tumbuhan yang tumbuh ditepi kolam atau dari dalam kolam.
Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar, setiap bulan.
Lakukan analisa kualitas limbah baik influen dan efluen setiap minggu.

Inspeksi kondisi tanggul setiap hari, jika terjadi kerusakan baik oleh binatang (kelinci, yuyu,
tikus, dsb) maupun oleh air dan kondisi tanahnya sendiri, maka bisa segera dilakukan
perbaikan.
Lakukan perbaikan darurat segera setelah ditemukan kerusakan pada tanggul, dan lakukan
perbaikan permanen secepatnya.

Gambar 5. 2 Kolam Stabilisasi Dengan Scum Box

563

f. kolam Fakultatif

564

Kolam Fakultatif pada tahap awal memulai sistem kolam stabilisasi


o

Kolam fakultatif dioperasikan terlebih dahulu sebelum mengoperasikan kolam


anaerobik agar bau tidak timbul jika efluen dari kolam anaerobik disalurkan ke
kolam fakultatif.

Periksa kedalaman kolam fakultatif, apakah sudah sesuai dengan desain/rencana,


periksa juga bagian selokan pemasukan/inlet dan pengeluaran /outlet dari sistem,
apakah letaknya sudah sesuai dengan desain.

Isi kolam dengan air bersih, bukan air limbah. Air bersih bisa didapat dari air
permukaan/air sungai, atau air tanah/air dari sumur. Isi penuh sesuai kapasitas
desain

Diamkan selama 3-4 minggu dan tidak ada penambahan air baru. Penambahan bisa
dilakukan jika muka air menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.

Selama periode tersebut akan tumbuh populasi bakteri heterotropik dan algae yang
diperlukan bagi pengolahan limbah.

Jika tidak tersedia air bersih, boleh diisi dengan air limbah mentah. Isi penuh sesuai
kapasitas.

Diamkan dalam kurun waktu 3 sampai 4 minggu, tidak ada penambahan air baru.
Penambahan bisa dilakukan jika muka air menurun, artinya terjadi kebocoran pada
kolam.

Akan tumbuh populasi mikrobaia pada masa start up tersebut, jika memakai air
limbah mentah, kemungkinan akan timbul bau pada periode tersebut.

Lakukan Sampling dan analisa setiap minggu, chek kandungan organik dari influen
dan efluen sehingga tahu bahwa kondisi kolam fakultatif telah berfungsi sesuai
desain kriteria, dan dapat dioperasikan secara normal.

Setelah beroperasi secara normal, lakukan standard operasi sebagai berikut.


o

Periksa saluran inlet dan outlet sehari dua kali, untuk memastikan tidak tersumbat
oleh benda atau kotoran besar yang akan mengganggu aliran limbah.

Buang lapisan scum yang timbul, karena scum pada kolam fakultatif akan
menghambat proses fotosintesis dari algae.

Bersihkan segala tumbuhan yang tumbuh di tepi kolam atau dari dalam kolam.

Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar, setiap bulan.

Lakukan analisa kualitas limbah baik influen dan efluen setiap minggu.

Inspeksi kondisi tanggul setiap hari, jika terjadi kerusakan baik oleh binatang
(kelinci, yuyu, tikus, dan sebagainya) maupun oleh air dan kondisi tanahnya sendiri,
maka bisa segera dilakukan perbaikan.

Lakukan perbaikan darurat segera setelah ditemukan kerusakan pada tanggul, dan
lakukan perbaikan permanen secepatnya.

g. Kolam Maturasi/ Pematangan


Kolam maturasi pada tahap awal memulainya sama dengan tahap awal pada sistem kolam
stabilisasi. Operasional kolam ini adalah sebagai berikut:
o

Kolam maturasi dioperasikan bersamaan dengan pengoperasian kolam fakultatif, sebelum


mengoperasikan kolam anaerobik. Maksudnya supaya bau tidak timbul jika efluen dari
kolam anaerobik disalurkan ke kolam fakultatif dan maturasi.

Periksa kedalaman kolam maturasi, apakah sudah sesuai dengan desain/rencana, periksa
juga bagian selokan pemasukan/inlet dan pengeluaran/outlet dari sistem, apakah letaknya
sudah sesuai dengan desain.

Isi kolam dengan air bersih, bukan air limbah. Air bersih bisa didapat dari air permukaan /
air sungai, atau air tanah/air dari sumur. Isi penuh sesuai kapasitas desain

Diamkan selama 3 sampai 4 minggu dan tidak ada penambahan air limbah baru (influen).
Penambahan bisa dilakukan jika muka air menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.

Selama periode tersebut akan tumbuh populasi bakteri heterotropik dan algae
diperlukan bagi pengolahan limbah.

Jika tidak tersedia air bersih, boleh diisi dengan air limbah mentah. Isi penuh sesuai
kapasitas.

Diamkan dalam kurun waktu 3 sampai 4 minggu, tidak ada penambahan air baru.
Penambahan bisa dilakukan jika muka air menurun, artinya terjadi kebocoran pada kolam.

Akan tumbuh populasi mikrobia pada masa start up tersebut, jika memakai air limbah
mentah, kemungkinan akan timbul bau pada periode tersebut.

yang

565

Lakukan sampling dan analisa setiap minggu, periksa kandungan organik dari influen dan
efluen sehingga tahu bahwa kolam anaerobik telah berfungsi sesuai desain kriteria, dan
dapat dioperasikan secara normal.

Setelah beroperasi secara normal, lakukan standar operasi unit ini adalah sebagai berikut:
o

Periksa saluran inlet dan outlet sehari 2 (dua) kali, untuk memastikan tidak tersumbat oleh
benda atau kotoran besar yang akan mengganggu aliran limbah.

Bersihkan segala tumbuhan yang tumbuh ditepi kolam atau dari dalam kolam.

Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar, setiap bulan.

Lakukan analisa kualitas limbah baik influen dan efluen setiap minggu.

Inspeksi kondisi tanggul setiap hari, jika terjadi kerusakan baik oleh binatang (kelinci, yuyu,
tikus, dan sebagainya) maupun oleh air dan kondisi tanahnya sendiri, maka bisa segera
dilakukan perbaikan.

Lakukan perbaikan darurat segera setelah ditemukan kerusakan pada tanggul, dan lakukan
perbaikan permanen secepatnya.

6. PEMELIHARAAN KOLAM STABILISASI LIMBAH


a.

Mengelola kondisi permukaan kolam

Perubahan cuaca, volume aliran harian air limbah, temperatur air, dan arah angin bisa
menimbulkan kondisi-kondisi yang tidak diinginkan pada permukaan kolam, khususnya
perkembang-biakan algae. Pada permukaan kolam akan muncul lapisan scum dan lapisanlapisan lumpur (sludge) yang mengambang. Algae bisa berkembang-biak dan membentuk
lembaran-lembaran yang mengambang di permukaan dan menghalangi sinar matahari dan
merusak efisiensi kolam. Lembaran-lembaran algae yang mati bisa membusuk dan
menimbulkan bau tak sedap. Lembaran-lembaran tersebut harus dipecah dan dibuyarkan dengan
semprotan air dari selang atau dengan kait. Jika diperlukan, gunakan perahu untuk menjangku
lembaran-lembaran tersebut.
Lapisan scum sering sekali terbentuk di permukaan kolam anaerobik. Scum akan menimbulkan
bau tak sedap dan merangsang serangga berkembangbiak disana. Hancurkan scum dengan
semprotan air atau kait bergagang panjang.

566

Pengait

Sampah
mengamba
ng
Screen pelindung
outlet

Pengait

Lembaran
ganggang,
scum,
lumpur

Permukaan kolam
Permukaan kolam

Outlet
Dasar kolam
Dasar kolam
Outlet
PEMELIHARAAN
Pakailah selalu Baju Pelampung jika bekerja
PERMUKAAN
di Kolam
KOLAM
Gambar 6. 1 Kegiatan Pemeliharaan Kola

Masalah di permukaan lainnya adalah kotoran-kotoran yang terbawa angin, misalnya daundaunan. Benda-benda seperti ini bisa menganggu outlet kolam. Benda ini harus dibuang dari
kolam dan dikumpulkan di luar kolam.
Tabel 6. 1 Kodisi Permukaan Kolam
Kondisi

Masalah Yang Ditimbulkan

Solusi

Pertumbuhan Algae

Bau, Kinerja Kolam Menurun Buyarkan Lembaran Algae

Lapisan Scum

Bau, Serangga berkembang biakBuyarkan Lapisan Scum

Lumpur yang naik ke Bau


permukaan
Sampah mengambang

Mengganggu outlet

Buyarkan lapisan lumpur


Buang sampah
mengambang

yang

Kondisi permukaan lain yang harus diperiksa secara berkala adalah warna kolam. Setiap jenis
kolam punya ciri warna, dan perubahan warna biasanya menandakan masalah yang harus
diperiksa secepatnya. Warna kolam yang berjalan pada kondisi normal/berimbang dapat dilihat
pada Tabel 6.2.

567

Tabel 6. 2 Warna Kolam


JenisKolam

Ciri Warna

Anaerobik

Hitam kehijau-hijauan

Fakultatif

Hijau atau hijau kecoklat-colatan

Maturasi

Hijau

Perubahan warna biasanya menandakan perubahan dalam sewage yang masuk ke dalam kolam.
Ini bisa terjadi oleh kenaikan konsentrasi tinja, air hujan atau air dibawah permukaan masuk ke
dalam sistem sewer. Atau karena bahan seperti minyak, bahan kimia, darah binatang masuk
bersama dengan sewage. Apapun penyebabnya, itu harus ditemukan dan dihentikan secepat
mungkin. Jika ada laboratorium, sampel air kolam di permukaan dan dibawah permukaan
diteliti untuk mengetahui penyebab perubahan pada kolam.

b. Pemeliharaan tanggul dan lokasi sekitar kolam


Lakukan pemeriksaan tanggul dan lokasi kolam setiap satu atau dua minggu. Selain kondisi
permukaan kolam seperti yang sudah dibahas sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu
diperiksa. Jika ada masalah, perbaiki segera. Pemeliharaan tanggul dapat dilihat pada Gambar
berikut ini.

568

Memotong
rumput
Menyiangi

Mengisi
lubang
dengan tanah
Tanah

Tanggul dalam
Tanggul luar
Kolam

Gambar 6. 2 Pemeliharaan Tanggul

Gambar 6. 3 Jenis Tanggul Pada Kolam Stabilisasi (Tanggul Dengan Konstruksi Dari Beton
dan Pasangan Batu)

c. Pengelolaan lumpur
Pada tahun pertama pengoperasian kolam, lumpur akan terkumpul di dasar kolam. Setelah itu,
proses biologis akan mulai menguraikan lumpur pada kecepatan yang sama dengan kecepatan
terkumpulnya lumpur di dasar kolam, umumnya membuat akumulasi lumpur bisa diabaikan.

569

Walau demikian, ketebalan lumpur harus diperiksa setiap tahun. Jika lebih dari sepertiga dari
kedalaman kolam yang direncanakan, hal ini bisa mengganggu proses alamiah dari kolam
tersebut dan bisa menyumbat pipa inlet. Jika demikian, kolam harus dikuras dan lumpur harus
dibuang. Seberapa sering hal ini harus dilakukan tergantung pada kondisi lokal dan jenis kolam.
Frekuensi pengurasan lumpur dapat dilihat pada Tabel 6.3 berikut ini.
Tabel 6. 3 Permasalahan Dan Perawatan Kolam Stabilisasi
Area yang diperiksa

Kondisi atau
masalah

Tindakan

Area disekeliling
kolam

lokasi Pohon atau semak yang Potong dan buang


baru tumbuh

Area disekeliling
kolam

lokasi Limpahan air permukaan

Alihkan atau hindari supaya


tidak masuk kolam dengan
dam kecil atau parit

Lereng Tanggul bagian luar Erosi air atau angin


dan puncak tanggul

Isi dengan bahan padat; tanam


rumput

Lereng Tanggul bagian luar Rumput atau ilalang


dan puncak tanggul

Potong rumput atau ilalang;


buang rumput yang sudah
dipotong

Lereng tanggul
dalam

bagian Erosi karena cuaca atau Ganti batu yang dipasang untuk
gelombang air kolam
melindungi tanggul kolam

Tepian kolam

Rumput

Potong dan buang hasil potongan

Outlet kolam

Sampah di sekitar outlet

Buang
sampah
menghalangi outlet

Permukaan kolam

Nyamuk

Penyemprotan minyak bahan


bakar berukuran halus atau
pelihara ikan yang memakan
jentik-jentik nyamuk

yang

Jika sistem sewer komunitas dihubungkan pada satu kolam saja, walaupun hanya sementara,
perlu dibuat kolam lain atau pengolahan komunal secara temporer. Efluen dari sistem sewer
temporer ini tak boleh dibuang ke sungai, danau atau selokan kering.

570

Tabel 6. 4 Frekuensi Pengurasan Lumpur Kolam


Jenis Kolam

Frekuensi

Anaerobik

2-12 tahun

Fakultatif

8-20 tahun

Maturasi

Mungkin tidak pernah

Memeriksa Ketebalan Lumpur.


Sekali setahun, ukur ketebalan lumpur di dekat inlet kolam. Gunakan perahu dan tongkat
panjang dengan ujung yang dililiti kain berwarna terang sepanjang satu meter. Gambaran
kegiatan pemeriksaan ketebalan lumpur terlihat pada Gambar 6.4 berikut ini.

Tongkat pengukur

Perahu

Kain warna terang


diikat pd
tongkat

Lumpur

Warna hitam menunjukan


kedalaman lumpur

Ps. Batu

Tanggul

Inlet

Dasar kolam

Gambar 6. 4 Kegiatan Pemeriksaan Ketebalan Lumpur

Celupkan tongkat ke dasar kolam dan setelah satu menit, angkat pelan-pelan. Partikel-partikel
lumpur akan menempel pada kain dan ketebalan lumpur bisa diukur. Jika ketebalan kurang dari
sepertiga dari kedalaman kolam yang direncanakan, tak diambil tindakan apapun. Jika ketebalan
lumpur sama dengan atau lebih besar dari sepertiga dari kedalaman kolam yang direncanakan,
kolam harus dikuras dan lumpur harus dibuang. Lakukan pengurasan pada musim kering.

571

Menguras kolam.
Jika kolam-kolam berhubungan secara seri, alihkan aliran ke kolam berikutnya. Jika kolamkolam berhubungan secara paralel, alihkan seluruh aliran sewage ke kolam yang tidak sedang
dikuras.
Untuk menguras kolam, copot sambungan sambungan/sock pipa dari outlet vertikal satu
persatu. Ini memungkinkan untuk menurunkan permukaan kolam secara bertahap hingga
permukaan lumpur terlihat.

Memindahkan lumpur.
Biarkan lumpur kering karena sinar matahari. Ini akan butuh beberapa minggu tergantung pada
kondisi lokal. Jika lumpur benar-benar kering, lumpur bisa diambil dengan escavator atau
sekop. Angkut lumpur dengan truk atau pedati. Lumpur dalam jumlah kecil bisa dibiarkan
dalam kolam untuk membantu memulai proses biologis ketika kolam kembali beroperasi.

Membuang lumpur
Buang lumpur kering di tempat penimbunan atau gunakan sebagai pupuk, lebih tepatnya untuk
tanaman yang tidak ditujukan untuk manusia. Jangan gunakan lumpur untuk tanaman yang akan
dimakan mentah, seperti tomat atau selada.

Mengisi Kolam.
Ketika kolam kosong, periksa pipa inlet dan outlet, dan saringan. Jika ada kerusakan, perbaiki
secepatnya. Jika kolam-kolam dihubungkan secara seri, alihkan kembali aliran efluen ke inlet
kolam yang kosong. Jika kolam dihubungkan secara paralel, kolam kedua mungkin perlu
dikosongkan dan dibersihkan. Alihkan aliran efluen ke kolam kosong dan kolam kedua
dikeringkan dan lumpur dipindahkan, alihkan efluen sehingga aliran efluen mengalir sama besar
ke kedua kolam.

572

Kolam terisi
dan
beroperasi

Aliran
masuk

Mengangkut
Mengisi gerobak

Membajak
Lumpur
untuk
pertanian

Lumpur

Tanggul
Aliran
keluar

Gambar 6. 5 Kegiatan Pemindahan Lumpur Kering

d. Pengelolaan peralatan
Alat untuk mengoperasikan dan memelihara sebuah kolam kolam stabilisasi harus disimpan di
gudang di dekat lokasi kolam. Bersihkan semua alat dan simpan dalam kondisi yang baik.
Buatlah catatan yang menunjukkan semua kegiatan pemeliharaan.
Tabel 6. 5 Contoh Catatan Pemeliharaan Kolam Stabilisasi
Tanggal

Tugas

1 Jan 2008

Memotong Rumput dan Ilalang di Tanggul. Mencabuti rumput


yang tumbuh di tepian kolam; membuang rumput yang sudah
dicabut.

5 jan 2008

Dengan perahu mengambili sampah yang menutupi saringan


pelindung outlet

1 Feb 2008

Memotong dan Membuang rumput dan ilalang di tanggul.

15 Mar 2008

Memotong dan Membuang rumput dan ilalang di tanggul.

30 Mar 2008

Dengan perahu, memecahkan lembaran algae yang muncul


dipermukaan kolam.

573

Tanggal

Tugas

10 April 2008

Dengan perahu, mengukur ketebalan lumpur. Hasil pengukuran


tebal lumpur 1,5 meter. Hasil bagus.

28 April 2008

Memotong rumput dan ilalang di tanggul. Mencabuti rumput


yang tumbuh di tepian kolam; membuang rumput yang sudah
dicabut.

e. Pemeliharaan rutin
Begitu kolam mulai berfungsi dalam kondisi yang mapan, pemeliharaan rutin yang diperlukan
adalah pemeliharaan minimal, walau demikian sangat diperlukan supaya dapat beroperasi
dengan baik. Kegiatan perawatan rutin yang utama adalah:

Membuang grit atau bahan yang tersaring dari unit pengolahan awal

Memotong rumput di tanggul kolam

Membuang scum dan makrofita mengambang dari permukaan kolam fakultatif dan kolam
maturasi.

Jika lalat berkembang biak dalam jumlah besar pada scum di kolam anaerobik, scum harus
dipecah dan ditenggelamkan dengan semprotan air.

Membuang setiap material yang menghalangi inlet dan outlet

Memperbaiki setiap kerusakan pada kolam yang disebabkan oleh hewan pengerat atau atau
hewan penggali lainnya.

Memperbaiki setiap kerusakan di pagar dan gerbang.

f. Pegurasan Lumpur

Sesuai dengan nilai desain, berapa lumpur yang akan terkumpul setiap tahun dalam kolam
anaerobik. Lumpur harus dikuras/ dikurangi jika sudah mencapai sepertiga dari kapasitas
lumpur maksimal

Sludge yang terkumpul sebaiknya diambil dan dibuang dari kolam anaerobik sekali setiap
tahun.

Alat penyedot lumpur hendaknya cukup memadai, seperti unit penyedot kontinus,
kompresor udara dan kapal.

574

g. Pembuangan lumpur

Sludge drying bed dibagi jadi 3 (tiga) bagian jalur operasi, artinya secara bergantian sludge
drying bed akan dioperasikan untuk isi, pengeringan, kuras dan rawat .

Lumpur yang terkumpul di kolam anaerobik disalurkan ke sludge drying bed lewat sludge
discharge unit atau secara manual setahun sekali.

Pengisian sludge drying bed harus dilakukan dari kolam ke kolam. Jika konsentrasi lumpur
sebesar 20%, dan kapasitas serta lama operasi unit pompa diketahui, maka dapat dihitung
pengisian kolam akan penuh dalam berapa hari .

Lumpur yang sudah berada dalam drying bed akan terpisah menjadi lapisan atas yang
bening dan lapisan bawahnya yang kental. Atur pintu air/stop log supaya lapisan bening
bagian atas dapat dibuang keluar dan masuk ke kolam pengolahan lagi. Atur pintu tersebut
berulang ulang sehingga konsentrasi lumpur semakin kental dan tidak mau memisah lagi
beningannya.

Setelah itu lumpur dikeringkan dengan sinar matahari selama 2 (dua) atau 3 (tiga) bulan
sampai bisa diambil dengan sekop. Lumpur yang sudah kering bisa diangkut dengan truk
dan dibuang ke tempat pembuangan sludge atau dibuat pupuk.

h. Kebersihan Lingkungan

Instalasi pengolahan air limbah dapat saja menjadi kotor karena operasi-operasi seperti
halnya memindahkan pasir dari grit chamber, memindahkan sludge yang terkumpul dari
anaerobik lagoon, memindahkan lumpur kering dari sludge drying bed, dan lain sebagainya.
Gunakan service water pump untuk memelihara kebersihan instalasi pengolahan limbah.

Sediakan beberapa titik strategis tempat kran air dengan tekanan pompa service ini.

Sediakanlah beberapa hose station pada beberapa lokasi yang strategis, setiap hose station
ada sebuah kotak yang berisi peralatan seperti selang, sikat, sprayer.

Sebelum mengoperasikan pompa air, siapkan selang untuk area yang akan dibersihkan, baru
kemudian operasikan pompa . pompa air bisa dioperasikan dengan menekan tombol on/off
pompa.

i.

Pemeliharaan Peralatan

Adalah penting untuk menjalankan tugas-tugas pemeliharaan yang layak supaya tercapai fungsi
dan kinerja instalasi pengolahan limbah yang baik. Manual ini berisi kegiatan-kegiatan

575

pemeliharaan instalasi pengolahan limbah sistem kolam stabilisasi. Personil yang terlibat harus
detail dalam memahami dan memelihara agar instalasi ini senantiasa dalam kondisi yang baik.
Pemeliharaan harus dilakukan secara periodik sesuai dengan suatu standar yang spesifik:
1) Inspeksi Harian
Pemeriksaan harian ditetapkan pada jam yang sama setiap hari untuk melihat apakah ada
kelainan/ anomali pada mesin atau peralatan yang sedang berkerja. Hasil inspeksi dicatat
dalam Tabel Inspeksi Harian
2) Inspeksi Periodik
Inspeksi periodik dilakukan menurut standar inspeksi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Ini dimaksudkan untuk memahami kondisi abrasi / ke-aus-an dan kelapukan pada mesin
dan peralatan yang ada, sehingga dapat dilakukan perbaikan dan penggantiannya secara
sistematis. Jika ditemukan cacat atau kerusakan, langkah-langkah perbaikan harus
dilakukan saat itu juga. Hasil pemeriksaan harus dicatat.
3) Standar Inspeksi/Pemeliharaan
Dengan inspeksi tahunan, 6 (enam) bulanan, 4 (empat) bulanan, bulanan atau harian, item
dan hasil inspeksi tiap-tiap mesin dan peralatan harus dicatat seperti berikut ini:
Tabel 6. 6 Contoh Catatan Pemeriksaan Harian
Tanggal: _______________
No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Pompa angkat

Suara, getaran, dan panas


Pengukuran Arus Listrik

Temperatur Bearing (diukur dengan tangan)

Gate / Pintu air

Minyak pada bagian berulir pada spindle

Sand Pump

Penurunan flow rate akibat penyumbatan

Cyclone
Separator /
Screw
Separator

Catatan pasir yang dipindahkan dari sand pot

Aerator
ada)

Pengukuran Arus Listrik

Temperatur Bearing (diukur dengan tangan)

576

(jika

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Tabel 6. 7 Contoh Catatan Pemeriksaan Harian (Lanjutan)


No
6

Nama Servis

Hasil
Pemeriksaan

Item Pemeriksaan

Service
Water
Pump

Suara, getaran, dan panas

Temperatur Bearing (diukur dengan tangan)

Derek /

Suara

Rake screen

disimpan dan diberi tutup jika tidak sedang


digunakan
pemeriksaan
aspek
pengoperasian

keamanan

Keterangan

saat

3
8

Saringan kasar
(Coarse
ScreenI

Membersihkan sludge dari saringan dan


memeriksa catatannya.

Unit

Kebocoran

pengoperasian Pompa /

Pembuangan
Lumpur

pengoperasian kapal keruk


10

Engine
generator

Jumlah minyak pelumas, air pendingin dan


minyak bahan bakar
air cleaner

kekencangan pada belt, kabel, dll

3
Keterangan: Dalam kondisi baik
X Tidak baik/rusak

j. Pemeliharaan Trunk Sewer/Saluran Limbah Utama


Saluran limbah harus terus menerus menyalurkan limbah ke instalasi pengolahan air limbah.
Patroli harus memeriksa setiap manhole (lubang masuk gorong-gorong) di trunk sewer secara
periodik. Saat pemeriksaan, semua sampah seperti grit, kantong plastik, atau benda asing
lainnya yang terkumpul di manhole harus dibuang sampai tuntas.

577

k. Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah


Unit IPAL secara keseluruhan dicek dan dicatat semua aktivitas yang dilakukan oleh operator.
Untuk memudahkan pemeriksaan pada kegiatan pemeliharaan IPAL, buatlah tabel pencatatan
seperti contoh dibawah ini, sehingga pekerjaan pemeliharaan bisa lebih sistematis.
Tabel 6. 8 Contoh Catatan Pemeriksaan Mingguan
Tanggal: _____________________
No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Lift pump

Hasil
Pemeriksaan

Memeriksa
tinggi
permukaan
minyak pada grease tank dan
pengisian kembali
minyak pelumas

2
2

Aerator
ada)

(jika

Minyak pelumas

Kekencangan belt

Service
water
pump

Minyak pelumas

Derek /

Minyak pelumas

Inlet pompa/float switch (tersumbat


oleh lumpur)

Rake screen
5

Unit
Pembuanga
n Lumpur

sambungan pipa yang longgar


2

3
Keterangan: Dalam kondisi baik
X Tidak baik/rusak

578

sambungan
longgar

kabel/selang

yang

Keterangan

Tabel 6. 9 Contoh Catatan Pemeriksaan Bulanan


Tanggal: _______________
No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Lift pump

1 Mengencangkan baut yang longgar


(termasuk baut pondasi)

Aerator
ada)

Unit Pembuang
Lumpur

1 Mengencangkan baut yang longgar

Derek /

1 Pengoperasian tanpa beban untuk


mencegah tidak mengoperasikan
dalam waktu yang lama, karena
generator
tidak
dalam
pengoperasian secara konstan

Rake screen

(jika

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

1 Kekencangan drive belt

perubahan air pendingin


perubahan oli
perubahan minyak bahan bakar

Generator

1 Pengoperasian tanpa beban untuk


mencegah tidak mengoperasikan
dalam waktu yang lama, karena
generator
tidak
dalam
pengoperasian secara konstan.
perubahan air pendingin
perubahan minyak bahan bakar

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

579

Tabel 6. 10 Contoh Catatan Pemeriksaan Catur Wulanan


Tanggal: _____________
Hasil
Pemeriksaan

No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Lift pump

Penggantian minyak pelumas

Gate / pintu air

Pemberian grease baru pada spindle

Sand pump

pemeriksaan dan mengisi kembali


minyak pelumas

Aerator (jika ada)

Mengganti minyak pelumas

Keterangan

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

Tabel 6. 11 Contoh Catatan Pemeriksaan 6 (enam) Bulanan


Tanggal : ______________
No

Nama Servis

Service
pump

Engine
Generator

water 1

Penggantian
pelumas

minyak

Penggantian
pelumas

minyak

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

580

Hasil
Pemeriksaan

Item Pemeriksaan

Keterangan

Tabel 6. 12 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan


Tanggal: ___________
No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Lift pump

Memperbaharui coating

Overhaul pada driving section

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Abrasi pada saringan

Gate / pintu air

membuang pasir dari bagian hisap

memperbaharui coating

karat dan abrasi pada gate

3
3

Sand pump

sampah yang menempel permukaan


water-stop dan karat serta
kerusakannya
memperbaharui coating
bagian dalam impeller

perubahan dalam minyak pelumas

motor test insulation


onderdil yang perlu diganti

Cyclone separator /
Screw separator

memperbaharui coating
overhaul

2
5

Aerator (jika ada)

memperbaharui coating
overhaul bagian bergerak

onderdil yang perlu diganti

3
6

Service water pump

memperbaharui coating
overhaul bagian yang bergerak

onderdil yang perlu diganti

581

Tabel 6. 13 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan (Lanjutan)


No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Derek / rake

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Mengganti oli gear case


Mengganti oli roda trolley gear

Memperbaharui coating

3
8

Screen

Memperbaharui coating

Unit

memperbaharui coating

Pembuangan
Lumpur

overhaul bagian dalam pompa / tangki


2

abrasi katup-katup

3
Keterangan: Dalam kondisi baik
X Tidak baik/rusak

7. PENGOPERASIAN UNIT PENGOLAHAN AIR LIMBAH


a. Pengendapan /Sedimentasi awal
Jika memakai tangki pengendapan dengan peralatan mekanik (mechanical clarifier).

Gambar 7. 1 Tangki Pengendap Pertama Tipe Mechanical Circular (Metcalf &


Eddy, 2000)

582

Hidupkan listrik pada clarifier 1 pada kontrol panel.


Periksa apakah mekanik scapper dan scoop pada tangki clarifier sudah berjalan normal.
Hidupkan pompa lumpur sekali atau dua kali setiap harinya.
Periksa apakah lumpur tersalurkan dengan baik kekolam pengering lumpur.

Jika memakai kolam pengendapan natural, misal


operasionalnya adalah sebagai berikut:

dengan konstruksi tangki septik, maka

Sedot dan buang lumpur pada periode tertentu menurut desain, misal setiap 6 (enam)
bulan atau setiap tahun.
Serok dan buang juga scum yang terkumpul pada bagian atas air.
Penyedotan bisa memakai pompa lumpur, pompa vacuum, pompa angkat dengan udara,
atau bisa memakai jasa mobil sedot tinja.
Masukan lumpur dan scum tersebut pada kolam pengering lumpur.
Serok lumpur yang telah kering dari kolam pengering tersebut secara periodik, buang ke
pembuangan lumpur, atau gunakan sebagai pupuk.

b. Pengolahan Anaerobik
Teknologi pengolahan secara Anaerobik sebagai pengolahan awal/primary treatment pada
IPAL komunal, bertujuan untuk mengurangi/menekan biaya operasi yang timbul, bandingkan
jika hanya memakai pengolahan aerobik (misal RBC) saja. Teknologi yang biasa dipakai adalah
tangki septik model baffle atau anaerobik filter.
Pada kedua teknologi tersebut tidak diperlukan sistem pengoperasian khusus, setelah air limbah
masuk secara kontinyu lewat kota pengontrol aliran, maka pemeliharaan rutin adalah :
Sedot lumpur dari kolam anaerobik, setiap tahun
Penyedotan bisa memakai pompa lumpur, pompa vacuum, pompa angkat dengan udara, atau
bisa memakai jasa mobil sedot tinja.
Pada konstruksi baffle septic tank, penyedotan lumpur tidak boleh sampai habis, sisakan
sekitar sepertiga dari akumulasi lumpur yang ada.
Masukan lumpur ke sludge drying bed, dan keringkan.

583

Ambil/sekop lumpur yang telah kering dari kolam pengering lumpur, buang lumpur tersebut
ke tempat pembuangan atau gunakan untk keperluan lain.

Media

Filter Anaerobik

Gambar 7. 2 Kompartemen Pada Filter Anaerobik

c. RBC (Rotating Biological Contactor)


Unit RBC bisa diletakkan selevel dengan unit anaerobik, dibawah tanah, dan bisa juga diletakan
di atas tanah ataupun di atas bangunan. Peletakan unit RBC bergantung pada kondisi lokasi
yang ada.
Secara umum teknologi RBC mengkonsumsi energi/listrik sangat kecil, sehingga hal inilah
yang menjadikan RBC berkembang pesat. Perbandingan kasar antara teknologi RBC dan
Activated sludge (sama sama pengolahan dengan sistem aerobik) adalah 1 : 10, sehingga biaya
operasional dengan sistem RBC sangat rendah. Sebagai gambaran RBC dengan teknologi lattice
3 dimensi dengan motor penggerak hanya 2 HP (1,5 KW) sanggup menghilangkan kandungan
BOD sampai 20 Kg BOD per harinya. Teknologi lumpur aktif dengan kapasitas sama akan
membutuhkan energi sampai 20 HP (15 KW).

584

Gambar 7. 3 Rotating Biological Contactor

Persiapan operasi/ item yang harus diperiksa


o

Periksa apakah operation panel (panel kontrol operasi) sudah menyala. Panel operasi
ada di ruang mesin.

o
o

Periksa lampu indikator yang berwarna hijau.


Jika lampu indikator energi/listrik tidak menyala, hidupkan NFB untuk power supply.

Periksa listrik yang disalurkan ke RBC. Listrik tersambung jika lampu indikator yang
warna hijau menyala.

Jika lampu operasi tidak menyala, hidupkan NFB untuk RBC didalam panel listrik.

Pengoperasian
o
o
o
o

RBC hanya punya sistem pengoperasian secara manual.


Pada panel listrik RBC terdapat tombol on dan off
Pijit tombol on maka RBC akan berputar, dan tekan tombol off, maka RBC akan
berhenti.
Pada panel listrik tersebut juga terdapat satu tombol besar berwarna merah, namanya
tombol emergensi, jika terjadi kondisi darurat tertentu, pijitlah tombol merah tersebut
dan seluruh unit mesin yang bergerak akan segera berhenti/stop.
RBC dioperasikan non-stop tanpa berhenti, hentikan RBC hanya untuk pemeliharaan
rutin dan atau dalam keadaan darurat.

585

d. Cara menumbuhkan Mikroba Pada Awal Operasi RBC


Secara natural mikroba akan tumbuh sendiri pada media RBC setelah beberapa minggu RBC
beroperasi. Ada beberapa trik untuk mempercepat pertumbuhan mikroba yaitu:

Pasokan limbah yang masuk diperbesar debitnya, contoh: bila desain parameter untuk
pasokan limbah masuk sebesar 1 m3/ menit, maka jadikan menjadi 2 m3/menit, setelah
mikroba terlihat tumbuh (sekitar 2 minggu), maka pasokan dikembalikan lagi ke
normal.

Bisa menambahkan nutrisi kedalam bak/vessel RBC contohnya susu atau pupuk urea.
Jika diberi nutrisi, maka pasokan limbah yang masuk hendaknya dihentikan atau
diperkecil menjadi 25% sampai terlihat mikroba tumbuh pada media, dan secara
berangsur aliran air limbah ditambah sampai pada aliran normal.

Secara umum mikroba pada media RBC akan tumbuh antara 2-6 minggu, dalam kondisi
pH netral dan tidak terdapat kandungan yang bersifat toksik bagi mikroba.

Secara natural mikroba akan tumbuh lebih banyak pada bagian hulu RBC, dan semakin
menuju ke outlet maka pertumbuhannya akan semakin kecil

Kondisi Microorganisme pada RBC.


o

Pada umumnya putaran RBC telah dirancang sesuai dengan beban limbah yang akan
diolah, sehingga pertumbuhan mikroba tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu kecil
yang terlihat dari tebal atau tipisnya lapisan lendir pada cakram RBC.

Jika mikroba pada RBC terlalu tipis, bisa berarti bahwa kandungan organik pada limbah
telah diuraikan pada pengolahan pada hulunya, misal dengan pengolahan anaerobik,
sehingga dapat dikatakan mikroba pada RBC telah kehabisan makanan sehingga tidak
bisa tumbuh dengan baik/sehat.

Tetapi jika dari analisis efluen, ternyata kandungan organiknya masih tinggi, berarti ada
sesuatu hal yang menjadikan mikroba tidak mau tumbuh pada media RBC. Beberap hal
bisa menjadikan kondisi seperti ini antara lain putaran RBC terlalu cepat, sehingga
mikroba sulit menempel dan berkembang karena banyak yang rontok, pH mungkin
terlalu asam atau terlalu basa atau terdapat kandungan yang bersifat toksik terhadap
mikroba, seperti disinfektan, kandungan kimia, dan sebagainya.
Jika mikroba terlalu tebal, hal ini juga akan merugikan kinerja RBC karena luas
permukaan RBC menjadi lebih kecil sehingga mikroba yang aktif jadi berkurang
juga. Akibatnya efisiensi RBC akan menurun.

586

Mikroba terlalu tebal bisa diakibatkan karena beban organik yang masuk terlalu
besar, dengan kata lain makanan terlalu banyak sehingga mikroba akan tumbuh
terlalu gemuk
Atau putaran RBC terlalu lambat, sehingga mikroba tua yang berada pada
permukaan tidak mau rontok, padahal mikroba tua kinerjanya juga sudah
berkurang, dan harus dirontokan, supaya mikroba yang muda dan aktif bisa lebih
berperan.
Kadang warna mikroba pada RBC berbeda beda, hal ini dikarenakan variasi
mikroba pada RBC memang banyak, sehingga koloni jenis mikroba tertentu akan
berwarna tertentu pula. Jika terjadi hal ini menandakan RBC berjalan dan
berfungsi sangat baik.

e. Pengendapan akhir / Secondary Clarifier


Bak pengendap pada pengolahan ini berfungsi mengendapkan padatan tersuspensi atau partikel
dan mikroba dari proses aerobik dihulunya. Sama seperti pada bak pengendapan awal, biasanya
pada IPAL komunal hanya dipakai kostruksi sederhana saja, tanpa mekanik tertentu. Konstruksi
bak pengendapan akhir bisa lebih kecil dibanding pengendapan awal, karena disini tidak
didesain untuk menyimpan lumpur dalam jangka waktu tertentu (1 tahun). Endapan/lumpur
pada kolam ini dipompa setiap hari dan dimasukan pada bak pengendapan awal, pompa bisa
menggunakan pompa lumpur, atau jenis pompa angkat lainnya.

Gambar 7. 4 Bak Pengendap Kedua

587

f. Suci Hama/Disinfection
Unit disinfeksi untuk IPAL komunal hendaknya dipakai yang sederhana saja, seperti tipe kotak
atau kanal dengan tablet klorin. Bentuk bak atau tangki untuk proses desinfeksi dapat dilihat
pada Gambar 31 di bawah. Operasional desinfeksi akan diuraikan selanjutnya.

Masukan klorin tablet pada wadah yang telah disediakan

Atur bukaan pintu air (gate) pada alat tersebut

Periksa/analisa kandungan khlorin pada efluen akhir, setelah kandungan mencapai 4 ml/lt,
kencangkan baut pada gate tersebut.

Secara berkala periksa unit desinfeksi ini dari kotoran yang menyumbat pada pintunya.

Tablet klorin dimasukan pada wadah yang tersedia, dan klorin akan mencair secara perlahan
jika terkena aliran air limbah efluen, dan secara berkala diperiksa dan ditambahkan tablet
klorin nya jika telah habis.

8. PERAWATAN RBC
a. Perawatan Rutin
Motor
Apabila mitor dilengkapi dengan grease fittings dan relief plugs, maka sebaiknya diberikan
pelumasan ulang setiap setahun sekali dengan minyak untuk motor secukupnya.

Reducer / Gear Box


Reducer/Gear Box pada unit RBC diisi dengan oli sederajat SAE 40, atau isi sesuai
dengan spesifikasi pada brosur. Diperlukan pengecekan visual secara berkala. Perikasa level
oli dan tambahkan dengan oli yang sama sehingga level yang diperlukan. setiap tahun sekali
oli gear box diganti dengan oli yang baru dengan jenis dan tipe yang sama.

588

Wadah khlorin tablet


Chlorinated

Efluen
Chlorin Tablet

Gambar 8. 1 Unit Desinfeksi


Bearings
Bearings dilumasi dengan grease/gemuk. Pelumas lama-kelamaan akan habis dan laju
pengurangannya merupakan fungsi dari kondisi operasi. Setiap minggu sekali
pompa/masukan grease ke bearing lewat grease nipple nya dengan alat grease-gun.

Sprocket dan Rantai


Penggerak rantai sebaiknya diperiksa setiap 3 (tiga) bulan untuk hal-hal berikut dibawah ini:
o

jika rantai ditutupi pasir atau kotoran, harus dibersihkan dengan kerosin dan kemudian
diberi pelumas kembali.

periksa oli dan pengotor seperti potongan kayu, debu atau pasir

ganti oli jika perlu ( disarankan menggunakan oli dengan viskositas SAE 30 pada suhu
ruangan 5-30o C )

periksa tegangan rantai dan kencangkan jika diperlukan

b.

Perawatan Sistem Proses


Hal-hal berikut harus diperhatikan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi RBC
yang optimum :
o

Hindari masukan deterjen dalam jumlah banyak kedalam RBC, gunakan deterjen yang

589

biodegradable. Sistem ini sendiri dapat mendegradasikan deterjen dalam jumlah yang
normal. Harus diperhatikan untuk penggunaan mesin cuci agar digunakan jumlah
deterjen yang sesuai petunjuk pemakaian. Jumlah deterjen yang berlebihan dapat
menimbulkan bau pada sistem pengolahan.
o

Hindari masukan minyak dalam jumlah banyak ke dalam RBC. Sistem dapat mengolah
minyak dan lemak dalam jumlah tertentu. Jika minyak dan lemak terlalu banyak hingga
menutupi saluran permukaan air limbah di primary clarifier yang mengakibatkan
terhalangnya air limbah dengan udara.

Jangan membuang minyak dalam jumlah yang banyak di pipa inlet.

Lumpur dan padatan yang terapung harus dibuang minimum tiga bulan sekali untuk
mempertahankan operasi optimal dalam sistem.

Jangan masukan bahan-bahan yang tidak dapat diolah secara biologis seperti plastik,
karet, popok bayi, pembalut wanita, rokok dll.

Jangan masukan bahan-bahan kimia kedalam sistem karena dapat mematikan bakteri yang
digunakan untuk pengolahan. Contohnya pembersih lantai, desinfektan, bahan kimia yang
bersifat asam atau basa, bensin, oli, dll

Jangan hubungkan aliran listrik lain ke panel kontrol karena akan merusak sistem kontrol.

c.

Perawatan Mekanikal RBC

RBC sangat mudah dioperasikan dan beberapa pekerjaan dapat dilaksanakan secara otomatis.
Kondisi ini memiliki kecendrungan kecendrungan untuk mengabaikan perawatan. Perlu diingat
bahwa kecermatan pengamatan akan sangat mendukung program pemeliharaan dan perawatan
sehingga dapat diperoleh umur pakai dan kinerja terbaik. Untuk mencapai hal tersebut langkah
yang perlu dilakukan adalah :

Penggerak RBC Motor Penggerak


o Amati tingkat kepanasan motor (dapat dipegang dengan tangan terbuka selama 5 menit)
o Teliti dan cermati apakah ada bunyi gesekan yang tidak wajar
o Perhatikan apakah ada gerakan/ayunan yang tidak wajar

Pemerikasaan Reducer / Gear Motor

590

Amati tingkat kepanasan pada reducer

Amati ketinggian minyak pelumas dalam reducer

Amati apakah ada gerakan /ayunan yang berulang .

Pemeriksaan Bearing
o

Periksa pelumas pada bearing baik jumlahnya maupun sifat pelumasannya. Bila grease
sudah mengalami penurunan dalam tingkat pelumasannya, ganti dengan grease yang
baru

Amati apakah ada gerakan /hentakan/ bunyi gesekan yang tidak normal

Dengan pengamatan tersebut , indikasi adanya gangguan pada :


o Bearing: menunjukkan kemungkinan adanya gangguan pada shaft
o Reducer: menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan beban atau dudukan motor dan
reducer tidak kokoh
o Rantai: Periksa keluasan rantai pada waktu berputar
o Periksa ketegangan rantai pada bagian sisi penarik (tigth strand) maupun bagian
pengulur (slack strand).
o Ketidak selarasan dan ketidak seimbangan pada rantai menunjukkan perlu pengaturan
ulang kedudukan reducer

Pemeriksaan Sprocket
o

Amati keausan pada gigi Sprocket

Amati Keselarasan antara sprocket besar dan sprocket kecil

Bak Pelumas Rantai (Oil Bath)


o

Periksa ketinggian oli yang ada, tambahkan bila kurang

Ganti Oli tersebut bila terkontaminasi (kotoran padat, bercampur air, dsb)

Selain pengamatan terhadap bagian bergerak tersebut diatas, perlu dilaksanakan pengamatan
terhadap keteraturan putaran RBC. Putaran dinilai normal apabila:
o

putaran teratur dan tidak tersendat-sendat

591

apabila bagian RBC yang mengalami kelambatan, maka pengamatan terhadap putaran RBC
dibagi dalam lingkaran. Apabila selisih waktu putaran antara lingkaran kurang dari tiga
detik, putaran RBC masih dianggap normal.

9. OPERASI DAN PEMELIHARAAN OXYDATION DITCH


a. Deskripsi
Oxydation Ditch adalah metoda pengolahan air limbah sebagai salah satu modifikasi
proses lumpur aktif konvensional. Prinsip utama dari proses ini adalah untuk
mengurangi produk lumpur (excess sludge), dengan lima perbedaan utama dibandingan
dengan proses lumpur aktif konvensional, yaitu:

Waktu detensi yang lebih lama, sehingga volume reaktor lebih besar
Beban organik yang lebih rendah
Konsentrasi MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid) yang lebih tinggi
Konsumsi oksigen yang lebih tinggi
Tidak dilengkapi dengan bak pengendap pertama dan unit digester

Lebih lengkapnya, berikut diuraikan kelebihan dan kelemahan Oxydation Ditch:


Tabel 9. 1 Kelebihan dan Kelemahan Oxidation Ditch
Keuntungan

Kerugian

Lebih ekonomis, terutama bila lahan mahal


dan suilt didapati

Membutuhkan operator
terampil dan terdidik

Sedikit membutuhkan peralatan mekanis

Kebutuhan listrik yang tinggi

Biaya konstruksi yang murah

Pemeliharaan aerator yang banyak

Instalasi tidak menimbulkan bau

Adanya potensi kenaikan lumpur karena


denitrifikasi pada pengendap kedua
(secondary clarifier)

Lumpur terbuang dapat di dewatering


dengan cepat pada unit drying bed tanpa bau
Lumpur terbuang relatif lebih stabil

592

yang

terlatih,

Tabel 9. 1 Kelebihan dan Kelemahan Oxidation Ditch(Lanjutan)


Keuntungan

Kerugian

Volume lumpur terbuang lebih besar


Tingkat menetralisasi lumpur terbuang tinggi
Tidak membutuhkan unit prasedimentasi atau
digester
Dapat di desain untuk memisahkan fosfor
dan nitrogen secara biologis

Oxydation Ditch memberikan efisiensi yang cukup bagus dengan > 95% pemisahan
suspended solid, > 98% pemisahan BOD dan 40-80% pemisahan amonia nitrogen.
Disamping itu, Oxydation Ditch dapat mengolah air limbah industri secara efisiensi
pada konsentrasi BOD5 hingga 8.000 mg/liter dan biaya proses akan lebih murah
dibandingkan pengolahan biologis biasa apabila debit air yang diolah sekitar 380-3.800
m3/hari.
Adapun alur proses dari Oxydation Ditch adalah sebagai berikut:
Raw sewage dari unit bar screen atau communitor dialirkan langsung ke
Oxydation Ditch sementara rotor bekerja kontinyu
Efluen Oxydation Ditch dialirkan ke bak pengendap agar lumpur yang terjadi
selama proses oksidasi dapat dipisahkan
Sebagian lumpur yang mengendap dikembalikan lagi ke Oxydation Ditch dengan
pompa, dan sisanya sebagai produksi lumpur (excess sludge/wasted sludge)
dialirkan langsung ke unit drying bed (unit pengolahan lumpur)
Lumpur yang telah diolah akan lebih stabil sehingga bisa dimanfaatkan sebagai
soil conditioner dan pupuk
b. Kebutuhan Operasi dan Pemeliharaan
Monitor kualitas efluen sesuai dengan standar aliran dan/atau standar efluen
yang berlaku
Analisis proses operasi (seperti MLSS, DO, selimut lumpur, settleability)

593

Pembersihan rutin screen, pelimpah, mekanisme skimmer, dinding tangki, dan


komponen lainnya

c. Pra-Start Up
Analisis Air Limbah
Manfaat analisis di sini sebagai informasi untuk estimasi: start up loading,
kebutuhan kimia, level pH dan sebagainya. Informasi yang diperlukan adalah
analisis konsentrasi BOD5, COD, TSS, pH, NH3-N, Ortho-Phosphor dan analisis
khusus.
Pembibitan (Seeding)
Urutan kegiatan persiapan pembibitan:
o Pilih sampel dari sistem pengolahan dan jenis limbah yang sama. Jika tidak
tersedia tetap diperlukan periode akilmatisasi biologi mulai berproduksi
secara tepat
o Urutan prioritas sumber-sumber air limbah yang harus diambil terdiri dari:
Sludge underflow dari final setting tangki pengendap II
Mixed liquor pada tangki aerasi
Mixed liquor pada digester aerobik
Lakukan pengujian mikroskopik terhadap bahan-bahan dasar secepat
mungkin agar kualitasnya dapat segera diketahui. Kualitas
mikroorganisme yang baik adalah dalam bentuk kehidupan mikroskopik
yang lebih tinggi dan dalam jumlah moderat dan tinggi
Lakukan tes DO up-take pada masing-masing sampel agar lebih terjamin
kualitas yang lebih baik
Perlunya pengamanan transportasi dengan baik
Kapasitas seed material dicari dengan formula:
Kap = VX / x, .(1)
Keterangan:
Kap = kapasitas bahan dasar (liter)
V = kapasitas tangki aerasi (liter)
X = konsentrasi MLSS awal dalam tangki aerasi = 500 mg/liter
x = konsentrasi bahan dasar, (mg/liter)
594

a) Proses Checklist
Proses Checklist dapat menggunakan tabel berikut
Tabel 9. 2 Proses Checklist
Hasil analisa sampel

BOD5 = . mg/liter
COD = . mg/liter
pH =
NH3 = . mg/liter
O-P = . mg/liter

Kondisi start-up

Debit = m3/hari
Rasio F/M =
Nutrien N = kg/hari
Nutrien P = kg/hari
Asam = liter/menit
Basa = liter/menit

Seeding

Jumlah Sumber

12345

Jenis proses (serupa/tidak)


Jenis limbah (serupa/tidak)
Mocro exam (ok/tidak ok)
Sumber titik sampling
VSS (mg/liter)
Kebutuhan seed material
- kg
- liter
Kebersihan transportasi

d. Start Up (Uji Coba)


i. Dry Check-Up (pemeriksaan dalam kondisi kering)
Kegiatannya meliputi:
595

Arah aliran pada masing-masing pipa ditandai dengan cat berbeda, misalnya
untuk influen, efluen, lumpur dan sebagainya
Pemberian pelumas, dan tes setiap perlengkapan
Tangki-tangki dan perpipaan dibersihkan dari debu dan kotoran
Light meter, indikator dan recorder harus dalam keadaan siap dioperasikan
Dokumen berupa instruksi pabrik dan manual pemeliharaan harus sudah
dibaca dan disiapkan di tempat khusus sebagai referensi
Kelengkapan daily operating log untuk mencatat data-data harian

ii. Wet Check-Up (pemeriksaan dalam kondisi basah)


Kegiatannya meliputi:
Isi tangki aerasi dengan air secara perlahan
Untuk diffused air system, suplai udara segera diberikan begitu aerator mulai
terendam dan debit udara ditingkatkan secara bertahap hingga tangki aerasi
terisi penuh
Untuk surface aerator akan dihidupkan bila air di tangki aerasi sudah penuh
Isi final settling tank hingga penuh, periksa limpahan air pada pelimpah dan
apabila elevasinya tidak merata maka perlu penyesuaian ketinggian
pelimpah
Tes semua drain, valve, gate dan pompa return sludge
Tangki aerasi diisi dengan air limbah dan secara estafet air yang ada akan
diganti oleh air limbah sehingga aerator dapat mentransfer udara ke air
limbah
iii.

Pembentukan Lumpur Aktif


Kegiatannya meliputi
Lakukan seeding
Gunakan rasio resirkulasi tinggi dari final settling tank, bahkan bila perlu
ditambah dengan bypassing sludge dari primary settling tank (untuk
membentuk padatan)
Waktu pembentukan lumpur aktif sekitar 1,5-3 bulan dan pada masa tersebut
kemungkinan diperlukan desinfeksi efluen guna mencegah pencemaran badan air
mengingat efisiensi sistem belum optimal.

iv. Pengendalian
596

Untuk mencapai efisiensi yang diinginkan, ada tiga metode pengendalian zat
padat dengan cara pembuangan lumpur (waste sludge) untuk menjaga MLVSS
selalu konstan, menjaga rasio F/M selalu konstan atau menjaga umur lumpur
selalu konstan.
e. Monitoring
i. Konsep dasar
Membandingkan indikator kualitas yang terjadi dan yang diharapkan
Membuat action plan, antara lain:
o Kapan saat menghidupkan dan mematikan pompa
o Kapan saat menutup dan membuka katup-katup
o Kapan dan berapa debit return sludge dan waste sludge disalurkan

ii. Teknik Monitoring


Terdapat dua metode yang dapat digunakan, yaitu:
Secara Visual:
Warna (lumpur yang baik dan aerobik biasanya berwarna merah tua kecoklatan
dan lumpur yang berwarna hitam gelap tidak aerobik)
Bau
Buih (apabila banyak berarti kondisi pengoperasian yang kurang baik)
Pertumbuhan alga (apabila banyak berarti nutrien yang tinggi pada influen
instalasi)
Pola penyebaran aerator
Kebeningan efluen
Gelembung udara (apabila ada maka kemungkinan lumpur yang tertahan di
dalam tangki sudah terlalu lama sehingga return sludge perlu dinaikkan atau
lumpur terbuang harus dikurangi)
Bahan-bahan yang mengapung (disebabkan tingginya konsentrasi minyak dan
lemak dapat mengganggu proses pengendapan lumpur yang pada ujungnya
mengurangi efisiensi reduksi BOD5)
Akumulasi zat padat (biasanya disebabkan oleh pengadukan yang kurang
memadai dan tidak efektifnya grit chamber yang disediakan sebelum
pengendapan primer)
597

Secara analisis:
a. DO
b. BOD
c. COD
d. Tes laju DO up-take
e. SS dab VSS di mixed liquor
f. Nutrien
g. pH
h. Minyak dan lemak
i. Temperatur
j. Analisis mikroskopik
k. Kedalaman selimut lumpur
l. Asiditas dan alkalinitas
m. Jar test
n. Debit
o. Waktu detensi
p. Kapasitas pembubuhan kimia

598

Masalah yang mungkin timbul serta solusinya


Masalah yang kemungkinan akan timbul pada instalasi unit dapat dilihat pada Tabel 9.3
di bawah ini.
Tabel 9. 3 Permasalahan Pada Tangki
Masalah

Penyebab

Solusi

Bulking Sludge, dimana


lumpur dari reaktor
mempunyai
karakteristik
pengendapan jelek atau
kompaktibilitas jelek

Berkembangnya
organisme
filamentous,
terutama
sphaerotilas yang tidak dapat
mengendapkan
dibawah
kondisi kurang/tidak sesuai
atau

Dapat dikurangi atau dihilangkan


dengan cara

- DO dan pH rendah
- Rasio F/M tinggi

- Tingkatkan DO di TA hingga 2
mg/liter
- Tambahkan kapur hingga pH > 8
-

Klorinasi
berat
hingga
membasmi organisme penyebab
bulking

- Nutrien kurang
- Lonjakan beban organik
Lumpur mengambang
klarifier

di

Deflokulasi di klarifier

Flok berjurai (straggler floc)


di klarifier

Floc seperti peniti (pin floc)


di klarifier terutama
pada sistem extended
aeration

Tebal selimut lumpur terlalu tinggi

Sediakan clear zone diatas selimut


sludge 0,5 m dengan menambah
waste sludge secara bertahap

- pH rendah/rendah

-Tambahkan kapur

- Nutrien kurang

-Tambahkan nutrien

- Mengandung bahan toksik

-Pengendalian influen

- Lumpur terlalu muda

-Tambahkan kapur

- MCRT rendah

-Tambahkan nutrien

- Lonjakan beban organik

-Pengendalian influen

- Aerasi berlebihan

-Pola operasi aerator

- Lumpur terlalu tua

-Naikkan lumpur terbuang secara


bertahap
hingga
MCRT
minimum

- MCRT tinggi

599

Tabel 9. 3Permasalahan Pada Tangki (Lanjutan)


Masalah

Penyebab

Solusi

Buih putih bergelembung

- Lumpur terlalu muda

-Kurangi lumpur terbuang secara


bertahap

- MCRT rendah
- DO rendah
- Lonjakan beban organik

-Pola operasi atau modifikasi aerator


-Pengendalian influen

- Mengandung bahan toksik


Buih coklat tua
tebal/kental

dan

- Lumpur terlalu tua


- MCRT tinggi

Naikkan lumpur terbuang secara


bertahap hingga MCRT minimal

10. UASB (UPFLOW ACTIVATED SLUDGE BLANKET)


UASB terdiri dari lapisan lumpur kental yang terflokulasi atau berbutir (sludge blanket) yang
dikembangkan di dalam suatu reaktor, dimana air limbah baku dialirkan ke dalamnya dengan
pola up-flow. Butiran lumpur berdiameter 1-2 mm tertahan di dalam suspensi dengan ketebalan
tertentu sebagai pertumbuhan biologi aktif. Di dalam reaktor akan terbentuk tiga lapisan cair
yaitu:
1. Bed lumpur (lapisan bawah) dengan konsentrasi 40-100 kg VSS/m3
2. Selimut lumpur (lapisan aktif) dengan konsentrasi 15-30 kg VSS/m3
3. Cairan bening (lapisan atas)
Aplikasi UASB terutama untuk mengolah air limbah industri dan limbah domestik dengan
prosentase BOD/COD tinggi dalam bentuk terlarut seperti gula bit, pemrosesan kentang,
maizena, ragi, bir, susu, pengalengan sayur dan buah, kertas, tempat potong hewan, tepung
terigu dan gandum, alkohol, kimia, asam sitrat, kopi, lindi dan air limbah domestik.
Adapun keuntungan dan kerugian metode ini jenis pengolahan ini dapat dilihat pada Tabel 10.1
berikut:

600

Tabel 10. 1 Keuntungan dan Kerugian pada UASB


Keuntungan

Kerugian

Cocok diterapkan di daerah tropis

Memerlukan waktu yang lama


menstabilkan slude blanket

Konstruksi sederhana

Memerlukan debit yang relatif konstan

untuk

Peralatan mekanik yang minim sehingga biaya Pemisahan COD hanya 60-80%
operasi dan pemeliharaan rendah
Ada produk biogas yang dapat dimanfaatkan

Diperlukan post treatment untuk memenuhi


standar efluen seperti aerasi dengan
cascade, pemisahan BOD/SS lanjutan atau
desinfeksi

Lebih murah daripada filter anaerobik

Beberapa kesulitan untuk uji coba pada air


limbah penyulingan, ragi dan jagung
terutama untuk pengembangan lumpur
yang kental dan berbutir

Efluen dapat digunakan untuk irigasi karena


fosfat dan nitrat tidak banyak tereduksi

Masalah buih pada tipe air limbah kaya


protein

Produk lumpur bersifat stabil, mudah Pemanfaatan gas untuk membangkitkan tenaga
penanganannya dan baik untuk pupuk
membutuhkan peralatan khusus dan
operator ahli

a. Start Up
Tujuan pengaktifan proses UASB mempunyai 3 sasaran:
1. Akumulasi lumpur
2. Perbaikan kualitas lumpur
3. Formulasi blanket (selimut lumpur)
Pekerjaan uji coba dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut:
Gunakan bibit lumpur granulated sebesar 10.000-15.000 g VSS/m3 atau < 40.000
g TSS/m3 volume reaktor yang diperoleh dari UASB tempat lain yang telah
beroperasi dengan baik atau dengan kotoran sapi

601

Beban lumpur awal 0,05-0,1 g COD/g VSS.hari dengan cara mengatur debit yang
masuk yaitu
o Q = d X V / L1(2)
Keterangan:
Q = debit yang masuk, m3/hari
d = beban lumpur awal, g COD/g VSS.hari = 0,05-0,1 g COD/g VSS.hari
X = VSS dalam reaktor, g/m3 = 10.000 - 15.000 g VSS/m3
L1 = COD yang masuk, g/m3> 5.000 mg/liter
Jangan tingkatkan beban tersebut bila volatile fatty acid (VFA, COD degradable)
yang terdegradasi masih < 80%
Lakukan wash-out terhadap lumpur yang mempunyai sifat pengendapan jelek
Sebaiknya tahan bagian lumpur yang berat
Jaga kondisi lingkungan di reaktor (pH > 6,2, penuhi nutrien, hilangkan/kurangi
senyawa toksik)
Pelaksanaan start up dapat juga dilakukan meskipun tanpa pembibitan, hanya waktunya
lebih lama hingga 10 minggu.

b. Memonitor Pengoperasian
Kegiatan monitoring kualitas terdiri dari:
BOD, COD, TSS pada influen dan efluen, periksa kinerjanya dan lakukan
minimal setiap minggu
pH, VSS dan kadar air pada bed lumpur melebihi 100 kg/m3, maka diperlukan
pembuangan lumpur dan lakukan minimal setiap minggu
Monitor produksi, komposisi dan bau gas dilakukan minimal setiap minggu
Penanganan lumpur yang dikeluarkan dari dasar UASB dan disalurkan langsung
ke unit penanganan lumpur. Dengan drying bed, lumpur dapat dikeringkan
selama minimal 6 hari atau bila kadar air sudah mencapai maksimal 70%.
Dengan waktu pengeringan selama 1 minggu, maka sebaiknya pengeluaran
lumpur UASB dilakukan setiap minggu.
Penyesuaian jumlah unit drying bed dapat dihitung berdasarkan persamaan:
I = As h / q P (3)
602

Keterangan:
I = interval lumpur dan belum termasuk 1 hari pengambilan cake (hari)
As = luas bed, m2
h = tebal operasi lumpur basah di atas bed (m)
q = kapasitas lumpur spesifik, 0,00015 m3/orang/hari
P = penduduk terlayani, manusia
Bila I < 6 maka diperlukan penambahan unit drying bed

11. PEMECAHAN MASALAH /TROUBLE SHOOTING


a) Begitu terjadi kondisi atau masalah yang abnormal, personil yang mengetahui harus
melapor ke kepala IPAL. Dalam hal ini, standby unit yang sudah siap harus segera
menggantikan
b) suku cadang dan onderdil yang rusak harus diganti sesuai dengan petunjuk perawatan
dari penjual mesin atau peralatan tersebut.
c) jika standby unit dan onderdil yang rusak tidak tersedia di tempat, kepala IPAL harus
memberitahu Kepala Dinas yang membawahi IPAL secara mendetail, supaya bisa
menghubungi vendor.
d) Catatlah alamat, telpon, email, dlsb. semua daftar vendor dan sub-vendor sebagai
referensi.
e)

Pada kasus gawat darurat yang luar biasa, kepala IPAL harus menginstruksikan langkah
langkah optimum kepada operator-operator tiap instalasi. Pada kasus terburuk, instalasi
harus dihentikan sementara dan limbah dialirkan lewat by-pass tanpa pengolahan.
Walau demikian, penghentian harus diminimalisir.

f)

Untuk peralatan yang terpisah, periksa petunjuk perawatan masing-masing peralatan


tersebut.

603

MODUL 12
PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
SISTEM KOMUNAL

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

C I P T A

U M U M
K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

UMUM .................................................................................................................................... 605


ORGANISASI ......................................................................................................................... 605
ASPEK DAN SENDI-SENDI OPERASI DAN PEMELIHARAAN ..................................... 606
DUKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA .......................................................... 610
OPERASI DAN PEMELIHARAAN SISTEM MCK ............................................................. 610
OPERASI DAN PEMELIHARAAN SISTEM KOMUNAL.................................................. 613
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 617

DAFTAR GAMBAR
Gambar 5. 1 Pemeliharaan MCK ........................................................................................................ 611
Gambar 5. 2 Pengurasan IPAL ............................................................................................................ 612
Gambar 6. 1 Pemeliharaan bagi Pengguna Sistem Komunal .............................................................. 614
Gambar 6. 2 Titik Sampling ................................................................................................................ 616

DAFTAR TABEL
Tabel 5. 1 Biaya Operasi dan Pemeliharaan Sistem MCK .................................................................. 613
Tabel 6. 1 Biaya Operasi dan Pemeliharaan........................................................................................ 616

1. UMUM
Untuk kesinambungan prasarana dan sarana Penyehatan Lingkunngan Permukiman (PLP), perlu
dibentuk organisasi operasi dan pemeliharaan (O&P). Kegiatan operasi dan pemeliharaan
(O&P) ini bertujuan untuk keberlanjutan pelayanan dan pelestarian aset yang telah dibangun,
oleh masyarakat. Dalam Program PLP, salah satu prasarana dan sarana yang dibangun adalah
sarana Sanitasi Berbasis Masyarakat. Dalam kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat, keterlibatan
Kelompok Masyarakat khususnya pengguna perempuan lebih diutamakan.
Oleh sebab itu, keterlibatan perempuan dalam operasional dan pemeliharaan sangat penting
karena perempuan adalah pengguna seharihari sarana Sanitasi Berbasis Masyarakat. Untuk
beberapa daerah, teknologi yang dipilih bagi Prasarana dan Sarana PLP masih terhitung baru,
contohnya dalam kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat, untuk bangunan pengolahan limbah
manusia yang berupa air kotor dan tinja. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mendapat pelatihan
tentang cara penggunaan dan pemeliharaan sarana sanitasi agar tetap berfungsi dengan baik
melalui sistem dan mekanisme operasi dan pemeliharaan yang baik.
Dalam modul pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem komunal ini akan dibahas beberapa
hal sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Organisasi
Aspek dan Sendi-sendi Operasi dan Pemeliharaan
Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota
Operasi dan Pemeliharaan Sistem MCK
Operasi dan Pemeliharaan Sistem Komunal

2. ORGANISASI
Agar pelaksanaan operasional dan pemeliharaan dapat berjalan lancar, maka diperlukan
organisasi untuk mengelola sarana sanitasi setelah masa pelaksanaan konstruksi. Pada tahap
ini berfungsinya Badan Pengelola untuk operasional dan pemeliharaan berperan penting
untuk keberlanjutan proyek Sanitasi Berbasis Masyarakat.
Badan pengelola ini berfungsi setelah adanya keputusan dari pemerintah kampung dan
kelurahan (setelah ditanda tangani oleh Kepala Kampung/Lurah). Badan pengelola juga harus
memiliki aturan-aturan organisasi dan operasional prasarana dan sarana, yang diputusakan
bersama-sama secara musyawarah antar anggota badan pengelola dengan masyarakat, agar

605

semua pihak dapat mengetahui dan mematuhinya. Badan pengelola harus mempunyai
aturan sesuai dengan kondisi setempat, yang mengatur siapa penerima manfaat, besarnya
iuran yang harus dibayar, waktu pembayaran iuran, serta siapa petugas yang melakukan
pemeriksaan dan perbaikan kalau terjadi kerusakan dan menentukan besarnya biaya
operasi rutin, seperti honor petugas, biaya listrik dll. Setiap pengguna wajib untuk
memelihara prasarana dan sarana yang ada. Jika terjadi pelanggaran dapat ditindak.
Peningkatan kapasitas badan pengelola tetap dibutuhkan untuk keberlajutan proyek sanitasi
berbasis masyarakat, sehingga masih diperlukan pelatihan lanjutan untuk memperkuat
kapasitas dan meningkatkan jaringan kerja bagi badan pengelola. Badan pengelola sebaiknya
berasal dari kelompok pemanfaat.
Tugas-tugas pokok pasca konstruksi adalah :
a. Iuran Pengguna :

b.

Membicarakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana


Mengumpulkan iuran,
Membuat perencanaan belanja,
Membukukan dan
Melaporkan secara rutin.
Operasional & Pemeliharaan

c.

Mengoperasikan dan memelihara sarana fisik Sanitasi Berbasis Masyarakat


Mengontrol semua saluran perpipaan secara rutin
Mengembangkan mutu pelayanan & jumlah sarana pengguna
Penyuluhan Kesehatan

Melakukan kampanye tentang kesehatan rumah tangga dan lingkungan

3. ASPEK DAN SENDI-SENDI OPERASI DAN PEMELIHARAAN


Pelestarian prasarana dan sarana Sanitasi Berbasis Masyarakat sangat bergantung pada kemauan
dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, memanfaatkan, dan memelihara
prasarana dan sarana yang ada. Secara umum, aspek yang perlu diperhatikan dalam
pelestarian adalah pengelolaan prasaran dan sarana, penyuluhan, dan pedoman pemeliharaan.

606

A. Pengelolaan
Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama pelestarian hasil fisik terbangun.
Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal:

Kinerja prasarana yang dikelola

Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia

Jumlah prasarana dan sarana yang digunakanTarget/sasaran perencanaan

Standar prosedur operasional dan pemeliharaan Standar kriteria teknis


prasarana dan sarana

Rencana pengembangan sarana di masa datang

Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan, Badan Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut:

B.

Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana.

Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan


dan pemeliharaan yang baik.

Melakukan rehabilitasi tepat waktu.

Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala.

Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur.

Penyuluhan

Dari hal-hal di atas, kelompok pengguna diharapkan mampu menindaklanjuti operasi dan
pemeliharaan (O&P) secara tepat. Melalui kegiatan O&P diharapkan dapat mencapai
umur teknis prasarana dan sarana sesuai dengan target dan standar perencanaan.
Dalam pelaksanaan pelestarian prasarana & sarana, diharapkan pemerintah kabupaten/ kota
dapat berperan aktif memberikan dukungan teknis kepada masyarakat (penyuluhan) agar
mereka mampu mengoperasikan dan memanfaatkan prasarana dan sarana yang ada.

607

C.

Pedoman

Badan pengelola perlu menyusun pedoman, yang akan menjadi acuan dalam
melakukan kegiatannya. Selain pedoman untuk operasional kegiatan, juga diperlukan aturan
untuk organisasi badan pengelola itu sendiri, yang di dalamnya mengatur hak dan kewajiban
anggota serta pengurusnya, lama periode kepengurusan dan mekanisme pemilihannya,
musyawarah berkala untuk pertanggungjawaban pengurus, dan sebagainya.
Pedoman ini disusun oleh pengurus bersama Kelompok pemanfaat, dimusyawarahkan bersama
dalam forum musyawarah desa, dan setelah dicapai mufakat disahkan oleh Kepala Lurah.
Setiap Kampung dapat mengembangkan pedoman kerjanya sendiri, sesuai dengan kondisi,
kemampuan dan budaya yang ada di daerahnya masing-masing.
Dalam upaya mencapai keberhasilan pengelolaan perlu didukung organisasi yang handal,
dimana organisasi tersebut harus:

Mampu mengorganisasikan anggotanya untuk mendukung program kerja yang


telah dibuat;

Dapat menjamin kepentingan pemanfaat dan mencarikan alternative pemecahan


permasalahan yang dihadapi;

Mampu melakukan hubungan kerja dengan lembaga lain di luar Badan


pengelola;

Mampu menerapkan sanksi organisasi bagi anggota yang melanggar peraturan.

Selain itu dalam upaya melestarikan prasarana dan sarana terbangun perlu adanya dukungan
kemampuan teknis, seperti :

Kemampuan menyusun rencana operasional dan Pemeliharaan;

Kemampuan untuk mempelajari prinsip dasar cara kerja prasarana terbangun,


dan melakukan inventarisasi kerusakan serta usulan perbaikannya;

Kemampuan untuk menyusun rencana kegiatan operasi dan pemeliharaan


(O&P) serta pelaksanaannya.

608

D.

Pendanaan

Sumber dana berasal dari masyarakat, berupa iuran yang dihitung berdasarkan kesepakatan
bersama akan kebutuhan operasional dan pemeliharaan serta rencana pengembangan sarana di
masa datang. Pendanaan diperuntukkan bagi operasional dan pemeliharaan ditambah
honorarium pengelola untuk melakukan operasional dan pemeliharaan serta orang yang
bertugas untuk melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan.
Komponen yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung biaya pengoperasian dan
pemeliharaan meliputi:
Biaya penggantian komponen yang rusak sesuai dengan sistem sarana yang dibangun;

Biaya perbaikan sarana;

Biaya Operasional (solar, listrik, dll)

Honorarium pengelola.

Depresiasi alat / sarana

Sesuai dengan tipe dan jenis prasarana dan sarana, dapat disusun mekanisme pendanaan
pengelolaannya. Pendanaan untuk prasarana dan sarana kelompok dapat dilakukan dengan
mekanisme penarikan pembayaran atas penggunaan/ pemanfaatan prasarana dan sarana
atau iuran bersama masyarakat. Sedangkan pendanaan untuk prasarana umum, yang
dimanfaatkan oleh orang banyak dapat dilakukan melalui pengenaan tarif kepada pegguna.
Pada dasarnya yang membiayai Badan Pengelola adalah warga pemanfaat prasarana
berlandaskan gotong-royong dan kesadaran bahwa pemeliharaan, perbaikan, dan
pengembangan prasarana adalah tugas bersama. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan
pengurus Badan Pengelola untuk mencari sumber dana di luar iuran warga pemanfaat,
diantaranya adalah:

Bantuan Pemerintah
Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan kepada Badan Pengelola yang
bersumber dari APBD yang sudah dituangkan dalam peraturan kampung, dimana
hal ini disesuai- kan dengan kemampuan Daerah masing-masing.

Bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat.


Pengurus Badan Pengelola dapat mencari sumber dana dari Ormas,

LSM,

609

Orsospol, Perusahaan Swasta atau Yayasan selama bantuan ini tidak bersifat
mengikat.

Usaha lain yang sesuai dengan peraturan yang ada.

4. DUKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA


Sesuai dengan definisi pelestarian sebelumnya, Pemerintah Daerah sebagai pembina
atau fasilitator kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat diharapkan dapat meneruskan
bantuannya pada tahap pelestarian. Bentuk pembinaan dan bantuan yang diberikan dapat
berupa bantuan teknis dan/atau bantuan pendanaan.
Secara rinci mengenai Operasi dan Pemeliharaan mengacu pada Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Proyek Sanitasi Berbasis Masyarakat di tingkat masyarakat.

5. OPERASI DAN PEMELIHARAAN SISTEM MCK


5.1

Petunjuk operasi dan pemeliharaan bagi pengguna MCK


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jangan memasukkan benda padat karena akan menyumbat saluran


Buang sampah di tempat sampah yang disediakan
Hindari air sabun dari air mandi maupun cuci masuk ke dalam kloset
Jangan membuang bahan kimia karena akan mematikan bakteri
Gunakan sabun cuci sehemat mungkin
Jangan mencoret-coret di dinding kamar mandi, WC maupun tempat cuci

610

Gambar 5. 1 Pemeliharaan MCK

5.2

Petunjuk operasi dan pemeliharaan bagi pengelola MCK/operator:


1. Setiap hari bersihkan gayung dengan sikat atau sabuk
2. 2 (dua) kali per hari gunakan pel untuk membersihkan teras luar (gunakan bahan
pembersih jika sangat kotor saja)
3. Setiap hari bersihkan saringan di lantai KM/WC dari kotoran padat
4. Setiap hari buang sampah dalam kamar mandi/WC
5. Setiap hari bersihkan lantai dan dinding kamar mandi/WC menggunakan sikat
(gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja)

6.
7.

Setiap hari bersihkan kloset


Setiap hari bersihkan kuras bak dengan sikat (gunakan bahan pembersih jika
sangat kotor saja)
8. 1 (satu) kali perminggu kuras dan bersihkan tangki/tendon air dari lumut dan
kotoran lainnya
9. Setiap hari bersihkan/sapu taman
10. 1 (satu) kali perminggu rapikan taman (tanaman dan

611

11. 1 (satu) kali perbulan bersihkan langit-langit kamar mandi/WC dari sarang labalaba
12. 1 (satu) kali perminggu periksa bak kontrol, jika terdapat kotoran padat/sampah,
keluarkan kemudian buang ke tempat sampah
13. 1 (satu) kali per 6 bulan, buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung
tepat di bawah manhole. Ambil kotoran tepat di bawah manhole. Mulai dari bak
inlet, dilanjutkan ke bak-bak berikutnya. Keluarkan semua kotoran yang
mengapung dan buang ke tempat sampah. Mintalah tukang untuk memperbaiki
semua kebocoran secepat mungkin dan lihat sebabnya
14. 1 (satu) kali per 6 bulan, tes kualitas air limbah
Telepon dinas terkait. Ambil 2 sample air limbah dari bak inlet dan bak outlet,
masing-masing 2 liter dalam botol terpisah. Bawa 2 botol sample ke
laboratorium yang dirujuk, minta pemeriksaan untuk pH, BOD5, COD, TSS dan
lemak

5.3

Petunjuk pelaksanaan pengurasan IPAL:


1.
2.
3.
4.
5.

1 (satu) kali per 2 tahun, pengurasan dengan truk tinja


Telepon perusahaan jasa.
Buka semua tutup manhole pada IPAL.
Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah.
Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak, sedot mulai dari bak pertama.
Hentikan pengurasan jika lumpur yang disedot adalah lumpur yang masih segar.

Gambar 5. 2 Pengurasan IPAL

612

5.4

Biaya Operasi dan Pemeliharaan Sistem MCK


Tabel 5. 1 Biaya Operasi dan Pemeliharaan Sistem MCK
I. Biaya Operasi dan Pemeliharaan
No Kebutuhan
Keterangan
Rp./Bulan
1.
Opearator dan Penjaga
Pekerjaan yang tidak tetap
400.000,2.
Listrik
250 Watt (Pompa dan Lampu)
250.000,3.
Pengurusan IPAL
Rp. 400.000,-/2 tahun
16.650,4.
Peralatan pembersihan
Sabun, pemebersih lantai, dll
35.000,5.
Perbaikan pompa
Rp. 250.000,-/tahun
20.830,6.
Lain-lain
Serok, lampu, kran, cat dinding, 30.000,dll
Total biaya operasi dan pemeliharaan
622.480,II. Biaya Pemakaian
No Fasilitas
Rp./pakai
Rata-rata per
KK*)/perhari
1.
Kamar mandi
150 600
Rp. 750,- s/d Rp. 3.000,2.
WC/Jamban
150 400
Rp. 750,- s/d Rp. 2.000,3.
Mencuci & ambil air
150 500
Rp. 750,- s/d Rp. 2.500,*) 1 KK = 5 orang

6. OPERASI DAN PEMELIHARAAN SISTEM KOMUNAL


6.1

Petunjuk operasi dan pemeliharaan bagi pengguna Sistem Komunal


IPAL akan berfungsi dengan baik jika beberapa hal berikut ini diperhatikan :
1. Jangan membuang minyak bekas ke saluran pembuangan dapur karena ketika
mongering lemaknya dapat menyumbat pipa
2. Jangan memasukkan limbah padat ke jamban karena akan menyumbat saluran
3. Jangan membuang bahan kimia ke saluran karena akan mematikan bakteri di unit
pengolahan
4. Jangan menanam pohon di dekat saluran perpipaan dan IPAL karena dapat
merusak pipa
5. Gunakan secukupnya sabun cuci dan pembersih karena baik untuk sistem
pengolahan dan menghemat

613

6. Ambil kotoran mengapung dari bak penangkap lemak setiap 3 hari sekali
7. Buanglah hanya limbah cair dari kamar mandi dan dapur, dan beri saringan untuk
memisahkan limbah padat
8. Periksa bak kontrol di rumah setiap 3 (tiga) hari sekali
9. Buang limbah padat, pasir/lumpur, dengan sekop/serok kumpulkan dalam tas
plastick dan bawa ke tempat pembuangan

Gambar 6. 1 Pemeliharaan bagi Pengguna Sistem Komunal

6.2

Petunjuk operasi dan pemeliharaan bagi /operator sistem komunal


1. Lakukan 1 (satu) kali perminggu:
a. Periksa setiap bak kontrol pada sistem perpipaan
b. Buang limbah padat dan kotoran mengapung
c. Jika tidak ada aliran air dalam bak kontrol, mungkin pipa tersumbat atau
rusak
Hentikan kegiatan di rumah
Buka perpipaan, minta tukang untuk memperbaiki kerusakan
d. Jika ada luapan air dari bak kontrol, mungkin pipa tersumbat
Hentikan kegiatan di rumah, segera perbaiki jika ada kerusakan pipa
Sodok dari bak kontrol ke bak kontrol lain
Minta tukang untuk memperbaiki kerusakan secepatnya
e. Buang limbah padat dan kotoran mengapung dari bak inlet
f. Semua tutup bak kontrol dan manhole IPAL harus bisa dibuka untuk
mempermudah pengoperasian dan pemeliharaan

614

g. Kumpulkan semua kotoran, masukkan dalam tas plastik. Buang ke tempat


sampah
2. Lakukan 1 (satu) kali 2 minggu: buang kotoran padat dan kotoran yang
mengapung tepat di bawah manhole
a. Mulai dari bak inlet, dilanjutkan ke bak-bak berikutnya
b. Ambil kotoran tepat di bawah manhole
c. Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole
d. Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa

3. Lakukan 1 (satu) kali per 6 bulan: tes kualitas air limbah


a. Telepon dinas terkait
b. Ambil 2 sample air limbah dari bak inlet dan bak outlet, masing-masing 2
liter dalam botol terpisah
c. Bawa 2 botol sample ke laboratorium yang dirujuk, minta pemeriksaan pH,
BOD5, COD, TSS dan lemak

615

Gambar 6. 2 Titik Sampling

6.3

Petunjuk pelaksanaan pengurasan IPAL Komunal:

1 (satu) kali per 2 tahun, pengurasan dengan truk tinja


a. Telepon perusahaan jasa pengurasan tinja
b. Buka semua tutup manhole pada IPAL
c. Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah
d. Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak, sedot mulai dari bak pertama
e. Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam
f. Hentikan pengurasan jika lumpur yang disedot adalah lumpur yang masih segar
6.4 Biaya Operasi dan Pemeliharaan
Sistem komunal untuk 750 Jiwa (150 KK)
Tabel 6. 1 Biaya Operasi dan Pemeliharaan
Biaya Operasi dan Pemeliharaan
Rp./bulan
II. Jamban/Kakus
Biaya operasi dan pemeliharaan menjadi
tanggung jawab setiap pengguna (KK)
III. Sambungan Rumah
IV. Pipa utama dan IPAL
1. Operator inspeksi 4x/bulan di IPAL, pipa
300.000,utama, pipa sekunder @ Rp. 75.000,-

616

/inspeksi
Pengurasan setiap 2 tahun Rp. 600.000,3. Lain-lain: perbaikan pipa, bak kontrol,
IPAL (Asumsi: perbaikan pipa 40 m setiap
2 tahun)
Total biaya operasi dan pemeliharaan
Biaya operasi dan pemeliharaan/KK/bulan
Dibulatkan
2.

25.000,70.000,-

395.000,2.633,33,2.650,-

7. DAFTAR PUSTAKA
Pedoman Sanitasi Berbasis Masyarakat, Kementerian Pekerjaan Umum, 2012

617

MODUL 13
PEMBIAYAAN OPERASI DAN
PEMELIHARAAN IPLT DAN IPAL

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

C I P T A

U M U M
K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI
1.

2.

3.

PEMBIAYAAN OPERASI & PEMELIHARAAN IPLT ................................................. 619


1.1

Pendahuluan .......................................................................................................... 619

1.2

Biaya Investasi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja ............................................. 619

1.3

Pengertian Biaya Operasi Dan Pemeliharaan IPLT .............................................. 620

1.4

Biaya Pengoperasian Armada Angkutan Lumpur Tinja ....................................... 622

1.5

Biaya Administrasi Dan Umum Seperti Biaya Alat Tulis dan Listrik .................. 623

1.6

Kriteria Dasar Perhitungan Biaya Operasi dan Pemeliharaan Pada Tahun Dasar. 625

1.7

Contoh Perhitungan Biaya Operasi, Pemeliharaan IPLT dan Pengembalian Biaya


.............................................................................................................................. 625

1.8

Kesimpulan............................................................................................................ 630

PEMBIAYAAN OPERASI & PEMELIHARAAN IPAL ............................................ 630


2.1

Pendahuluan .......................................................................................................... 630

2.2

Biaya Investasi Instalasi Pengolahan Air Limbah ................................................. 631

2.3

Biaya Pemasangan Pipa......................................................................................... 632

2.4

Biaya Operasi Dan Pemeliharaan IPAL ................................................................ 635

2.5

Biaya Spesifik ....................................................................................................... 636

PENENTUAN HARGA RETRIBUSI PENGELOLAAN AIR LIMBAH DAN


MEKANISME PEMBAYARAN TAGIHAN DI INDONESIA ................................... 638
3.1

Penentuan Harga ................................................................................................... 638

3.2

Mekanisme Pembayaran Tagihan ......................................................................... 639

3.3

Contoh-contoh Kasus di Indonesia........................................................................ 641

DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Gambaran Biaya Pemasangan Pipa .......................................................................... 634
Tabel 2. 2 Interval Biaya Spesifik Investasi IPAL Sistem OffSite ............................................ 637
Tabel 2. 3 Interval Biaya Spesifik Jaringan Perpipaan Sistem OffSite...................................... 637
Tabel 2. 4 Interval Biaya Spesifik Instalasi Pengolahan Air Limbah Sistem On Site ............... 637
Tabel 3. 1Biaya Investasi beberapa IPAL di Indonesia ............................................................ 641
Tabel 3. 2 Biaya Investasi beberapa IPAL di Indonesia ........................................................... 641
Tabel 3. 3 Tarif Air Limbah di Kota Banjarmasin .................................................................... 642
Tabel 3. 4 Tarif Air Limbah di Kota Jakarta ............................................................................. 644
Tabel 3. 5 Tarif Air Limbah Kota Medan ................................................................................. 645
Tabel 3. 6 Tarif Air Limbah Kota Medan ................................................................................. 645
Tabel 3. 7 Tarif Air Limbah Kota Medan ................................................................................. 646
Tabel 3. 8 Tarif untuk Penyedotan Lumpur Tinja ..................................................................... 646

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Pembiayaan Instalasi/Proyek ................................................................................ 631

ii

PEMBIAYAAN OPERASI & PEMELIHARAAN


INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT) DAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)
1. PEMBIAYAAN OPERASI & PEMELIHARAAN IPLT
1.1 Pendahuluan
Hampir seluruh kota di Indonesia, penanganan lumpur tinja dilakukan oleh Dinas Kebersihan.
Pengolahan lumpur tinja merupakan salah satu dari bidang penanganan sarana umum yang
termasuk cost recovery melalui retribusi yang dibebankan kepada masyarakat pelanggan atas
jasa pengolahan lumpur. Proses pengolahan lumpur tinja adalah menyedot lumpur tinja dari
septic tank yang selanjutnya diolah di IPLT. Atau dapat juga dilakukan secara langsung dengan
cara mengalirkan melalui sistem perpipaan air lumpur yang sudah tersedia di Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja.
Dengan demikian atas jasa di dalam pengolahan IPLT tersebut, dapat dipungut biaya retribusi
yang ditetapkan per-m3 lumpur yang diangkut ke IPLT, biaya retribusi yang dikenakan
disesuaikan dengan jenis pelanggan, tingkatan pendapatan dan fasilitas bisnis maupun fasilitas
sosial. Selisih antara retribusi dengan biaya operasi dan pemeliharaan merupakan keuntungan
bagi pengelola.
Agar keuntungan yang diperoleh ataupun kerugian yang diderita oleh pihak pengelola dapat
dioptimalkan maka salah satu upaya adalah membuat suatu perencanaan biaya operasi dan
pemeliharaan secara matang sebagai pedoman sehingga realisasi dapat dicapai seefisien
mungkin, berdasarkan persamaan berikut dapat dilihat bahwa:
Laba/rugi = Pendapatan Retribusi (R) - Biaya Operasi dan Pemeliharaan (C)

1.2 Biaya Investasi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja


Biaya investasi yang dibutuhkan untuk instalasi pengolahan lumpur tinja meliputi:
1. Investasi untuk pengadaan sarana penyedotan dan pengangkutan tinja.
2. Investasi untuk pengadaan peralatan dan pembangunan IPLT meliputi:
1) Pembebasan tanah lokasi IPLT
2) Pembangunan IPLT meliputi:
a. Ram dan peralatan penerima (ada dan tanpa peralatan)
b. Penyaring sampah

619

c.
d.
e.
f.

Penangkap pasir
Pemisah lemak
Imhoff tank (ada yang tanpa imhoff tank)
Kolam anaerobik atau kolam aerasi. Untuk yang menggunakan kolam aerasi ada
yang menggunakan aerator/blower.
g. Kolam fakultatif, ada yang tanpa aerasi, ada yang dengan aerasi.
h. Kolam maturasi.
i. Bak pengering lumpur.
j. Generator/listrik dari PLN.
k. Pompa-pompa.
l. Bengkel.
m. Kantor.
n. Gudang.
o. Laboratorium.
p. Pagar pengaman.
q. Jalan lingkungan.
1.3 Pengertian Biaya Operasi Dan Pemeliharaan IPLT
Biaya operasi dan pemeliharaan IPLT yang dimaksud adalah biaya yang dikeluarkan untuk
mengoperasikan dan merawat seluruh armada penyedotan dan pengangkutan tinja serta
peralatan dan bangunan di lokasi IPLT. Biaya operasi dan pemeliharaan meliputi:
a) Biaya personil (upah dan gaji)
b) Biaya operasi yang meliputi bahan bakar, sampling dan pemeriksaan laboratorium,
bahan kimia, pelumas, dan listrik)
c) Biaya pemeliharaan (penyediaan, perbaikan dan penggantian suku cadang)
d) Biaya perlindungan (kesehatan, pakaian, perlengkapan K3 dan asuransi)
e) Biaya penunjang (ATK, keamanan dan komunikasi)
Biaya pemeliharaan bangunan IPLT meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memelihara
dan mempertahankan agar bangunan IPLT selalu siap untuk dioperasikanSebagai perkiraan
besarnya biaya pemeliharaan IPLT, biasanya ditetapkan sebesar persen tertentu dari nilai
anggaran. Biaya ini harus disusun sesuai dengan kondisi peralatan dan bangunan serta petunjuk
pabrik untuk perawatan.

620

Sebagai contoh pada IPLT kapasitas 20 m3/hari dengan menggunakan kombinasi sistem tangki
imhoff dan kolam stabilisasi membutuhkan personil sebanyak 12 orang. Ilustrasi perhitungan
biaya operasi dan pemeliharaan pada IPLT dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut di bawah ini
dengan estimasi kebutuhan personil sebanyak 14 orang.

Tabel 1. 1 Pola Perkiraan Tenaga dan Staf Operasional dan Susunan Biaya Personil di
IPLT
No
Posisi Personil
Jumlah
Pendidikan/
Honorarium
Personil
Pengalaman
Bulan (Rp)
Tahun (Rp)
(orang)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Kepala instalasi
Tenaga keuangan
Tenaga supervisi
Tenaga laboratorium
Tenaga mekanik
Tenaga administrasi
Tenaga pembelian
Mandor
Supir truk
Tenaga kebersihan
Tenaga keamanan
Jumlah I

No
1.
2.
3.

1
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2

S1 / 2 tahun
D3 / 1 tahun
D3 / 1 tahun
D3 / 1 tahun
D3 / 1 tahun
D3 / 2 tahun
D3 / 1 tahun
SLTA / 3 tahun
SLTP / 2 tahun
SLTP / 1 tahun
SLTP / 2 tahun

3.500.000
2.500.000
2.500.000
2.500.000
2.500.000
2.500.000
2.500.000
2.000.000
1.800.000
1.500.000
1.750.000

14

Tabel 1. 2 Biaya-biaya Pengadaan


Pengadaan
Jumlah

45.500.000
32.500.000
32.500.000
32.500.000
32.500.000
32.500.000
32.500.000
26.000.000
46.800.000
38.000.000
45.500.000
397.800.000

Tahun (Rp)

Pakaian seragam
3 stel/orang @ Rp 150.000/stel
Sepatu khusus (5 2 pasang/orang @ Rp 150.000/psng
orang)
Peralatan kesehatan
Ls

6.300.000
1.500.000

Jumlah II

9.300.000

1.500.000

621

Sebagai contoh untuk biaya untuk pemeriksaan sampel untuk pemantauan kualitas pengolahan
IPLT dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Biaya pemeriksaan sampel dari IPLT: Rp. 300.000, Dalam satu minggu dilakukan pengambilan & pemeriksaan sampel sebanyak 2 kali
Maka dalam satu bulan diperlukan biaya pemeriksaan lab untuk sampel sebanyak Rp
300.000 x 2 kali/minggu x 4 minggu/bulan = Rp 2.400.000,- per bulan
1.4 Biaya Pengoperasian Armada Angkutan Lumpur Tinja
Biaya yang diperlukan untuk pengoperasian armada pengangkut adalah bahan bakar, minyak
pelumas, biaya perbaikan atas kerusakan, biaya penggantian suku cadang, biaya perpanjangan
STNK, biaya penyusutan, biaya asuransi, biaya alat bantu dan biaya sampel. Besarnya jumlah
biaya yang dibutuhkan dapat dilihat pada ilustrasi yang diberikan di bawah ini. Acuan dalam
yang digunakan dalam penyusunan pembiayaan operasi dan pemeliharaan ini dapat mengacu
pada Petunjuk Teknis Pembiayaan Operasi dan Pemeliharaan IPLT yang saat ini masih dalam
bentuk draft.
Ilustrasi biaya pengoperasian untuk satu truk vakum adalah sebagai berikut:
1. Untuk bahan bakar
Diasumsikan mobilitas mobil tinja satu hari sejauh 50 km (1 trip)
Konsumsi bahan bakar solar
= 1 L/5 km
Solar 1 L/5 km
= Rp. 5.500,Satu hari, 4 trip
= Rp. 220.000,Satu bulan, 20 hari kerja
= Rp. 4.400.000,2. Untuk minyak pelumas
Kebutuhan minyak pelumas diasumsikan 10% dari kebutuhan bahan bakar, sebesar
= Rp. 440.000,- per bulan.
3. Biaya perbaikan atas kerusakan
Biaya perbaikan atas kerusakan diasumsikan 15% dari biaya bahan bakar, sebesar
Rp. 660.000,- per bulan.
4. Biaya penggantian suku cadang
Biaya penggantian suku cadang diasumsikan 15% dari biaya bahan bakar, sebesar
Rp. 660.000,- per bulan.

622

5. Biaya perpanjangan STNK dan KIR


Biaya perpanjangan STNK truk tinja diasumsikan sebesar Rp. 1.500.000,- per
tahun.

6. Biaya penyusutan
Biaya penyusutan 10% dari nilai beli truk tinja, asumsi harga truk vakum Rp.
250.000.000,- per unit, biaya penyusutan per tahun sebesar Rp. 25.000.000,-.

7. Biaya asuransi kendaraan


Biaya asuransi 2% dari nilai beli truk tinja sebesar Rp. 5.000.000,- per tahun.

8. Biaya peralatan bantu


Biaya peralatan bantu untuk satu tahun diasumsikan sebesar Rp. 3.000.000,-.

Biaya operasi dan pemeliharaan IPLT menjadi:


Biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan: Rp 6.160.000
Biaya bulanan dalam setahun menjadi Rp 6.160.000 x 12 bulan = Rp 73.920.000/truk
Biaya yang harus dikeluarkan sekali dalam setahun: Rp 34.500.000/truk

Sehingga biaya total operasi dan pemeliharaan armada angkutan menjadi Rp 108.420.000/truk
per tahun.
Demikian pula untuk uraian biaya operasi lainnya. Sedangkan biaya pemeliharaan armada truk
vakum meliputi: penggantian minyak pelumas, suku cadang, ban dan lain-lain agar selalu siap
untuk beroperasi.
1.5 Biaya Administrasi Dan Umum Seperti Biaya Alat Tulis Dan Listrik
Besar kecilnya laba/rugi sangat bergantung pada besaran pendapatan retribusi dan biaya operasi
serta pemeliharaan sebagai mana diuraikan sebelumnya. Efisiensi biaya operasi dan
pemeliharaan harus selalu diupayakan agar laba yang diperoleh optimal ataupun rugi yang
diderita menjadi minimal. Untuk dapat mencapai efisiensi di dalam realisasi biaya pengelolaan

623

dilakukan penetapan standar biaya yang disusun untuk setiap unsur biaya sesuai dengan kondisi
peralatan, bangunan maupun daerah setempat dengan kriteria yang diperlukan. Berdasarkan
biaya standar yang dihitung dan ditetapkan selanjutnya dipergunakan untuk menyusun anggaran
biaya operasi dan pemeliharaan tahunan. Anggaran biaya yang telah disusun sampai dengan
biaya standar ini diharapkan mampu menjadi pedoman sehingga tercapai efisiensi yang
diharapkan.
Setiap pengeluaran biaya harus mengacu kepada anggaran yang telah disusun dan disepakati.
Pada akhir setiap bulan/triwulan dibuat laporan pertanggungjawaban untuk setiap bagian.
Tabel 1. 3 Contoh Format Laporan Biaya Operasional & Pemeliharaan
Laporan pertanggungjawaban biaya operasi dan pemeliharaan
Bagian
: ...........................................................
Periode
: ...........................................................
No
1

Jenis Biaya

Realisasi

Anggaran

Selisih (+/-)

Controlled cost
Sub total cont. cost

Un-controlled cost
Sub total un-cont. cost
Total Biaya O & P

Catatan:
Controlled cost adalah biaya-biaya yang tanggung jawab pengeluaran/terjadinya
sepenuhnya menjadi wewenang bagian tersebut.
Un-controlled cost adalah biaya-biaya yang pengeluaran/terjadinya bukan menjadi
wewenang bagian tersebut, walaupun menjadi beban bagian ini.
Contohnya penyusutan, asuransi dll.

624

1.6 Kriteria Dasar Perhitungan Biaya Operasi Dan Pemeliharaan Pada Tahun Dasar
Di dalam uraian butir tiga disebutkan bahwa terdapat dua jenis biaya operasi dan pemeliharaan,
yaitu:
Biaya operasi dan pemeliharaan untuk aset yang sudah ada/dioperasikan.
Biaya operasi dan pemeliharaan untuk aset yang baru dibangun.
Setiap unsur biaya O & P terdiri dari dua bagian, yaitu:
1. Volume
Seberapa banyak volume yang seharusnya dipergunakan bergantung pada kondisi
teknis peralatan/volume kegiatan.
Contohnya:
Pengoperasian truk vakum
Berdasarkan pengamatan kondisi teknis truk vakum dinilai untuk operasi per-jam
memerlukan solar 10 liter (60 Km)
Kebutuhan bahan bakar untuk operasi truk pengangkut dalam 1 tahun adalah
sebagai berikut::
- Perusahaan mengoperasikan 2 buah truk vakum
- Jumlah jam operasi masing-masing 8 jam/hari
- Jumlah hari operasi tahun = 2 unit x 8 jam/hari x 10 L/jam x 360 hari/tahun
= 57.600 L/tahun
2. Harga satuan
Harga satuan yang dipergunakan adalah harga satuan pada tahun dasar disesuaikan
dengan rata-rata inflasi periode sebelumnya atau estimasi inflasi tahun yang akan
datang. Sedangkan harga satuan pada tahun dasar yang dipergunakan adalah:
a) Rata-rata harga 2 3 4 tahun terakhir
b) Rata-rata harga bulanan selama tahun dasar
Harga satuan barang pada bulan terakhir tahun dasar
Harga satuan yang paling ekonomis berdasarkan survey pasar.

1.7 Contoh Perhitungan Biaya Operasi, Pemeliharaan IPLT dan Pengembalian


Biaya
Pelayanan IPLT di kota A ini diharapkan meliputi kira-kira 60% jumlah penduduk kota,
dengan estimasi bahwa 25% penduduk lainnya dilayani oleh jaringan perpipaan (off site) dan 15
% yang lain losses atau belum mempunyai prasarana sanitasi.

625

Asumsi awal :
Produksi Tinja

: 40 gr per orang per hari

Volume air yang masuk Tangki Septik

: 10-30 L per orang per hari

Volumetrik tinja

: 1,50-4,00 gr/L

Produksi lumpur per siklus pengolah anaerob efektif


: 0,15 gr/hr
Produksi lumpur

Volume lumpur sisa

0,15 gr/hr x 360 hr

45 gr per orang per tahun

(1)

45/2 = 22,5 L per orang per tahun

(2)

Produksi lumpur per tangki septik per tahun


:

22,5 L x 5

112,5 L

Produksi lumpur selama lima tahun

: 562,5 m3

Volume tangki septik

: 1,5-2 m3

Kapasitas lumpur pada tangki septik

: 50%

(3)

Dalam 5 tahun tangki septik telah dipenuhi lumpur


Langkah Perhitungan :
Jumlah penduduk Kota A tahun 2012 : 634000 jiwa
1 KK

5 jiwa

Jumlah KK

634000/5

= 112320 KK

15 % tidak jelas

16848 KK

Pelayanan off site

28080 SR

Jumlah Tangki Septik

67392 unit

(4)

Jumlah produksi lumpur pertahun (dengan safety factor 20% untuk seluruh Kota A)

626

80000x 112,5 liter

9000 m3/tahun

(4) x (3)

1. BIAYA KAPITAL
Biaya kapital terdiri dari :
a. Biaya sarana pengangkutan
Truk tangki tinja (2 unit) = 2-3 m3

Rp.

500.000.000

b. Biaya IPLT
-

Tangki imhoff

Rp.

50.000.000

Sludge drying bed

Rp.

275.000.000

Kolam aerobik/maturasi (1000 m3)

Rp.

300.000.000

Rp.

625.000.000

Rp.

300.000.000

Rp.

1.125.000.000

Biaya kantor

2. BIAYA TAHUNAN
a. Operasi dan pemeliharaan truk tinja termasuk depresiasi (lihat sub bab 1.4)
Rp. 108.420.000,00/truk per tahun
Ada 2 truk sehingga dibutuhkan Rp. 216.840.000
b. Operasi IPLT
-

Tenaga listrik pompa lumpur


= 2,0 jam x 3,7 Kw x 1 x Rp. 800 x 365 hari/tahun
= Rp. 2.160.800,00

Penerangan
= 10 jam x 1 Kw x Rp. 800 x 365 hari/tahun
= Rp. 2.920.000,00

Zat kimia
Analisa contoh air
= 2 x 4 x 12 x Rp. 300000
= Rp. 28.800.000/tahun

Kebersihan & keamanan


= Rp. 150.000/bulan

627

= Rp. 1.800.000/tahun
Total operasi IPLT = Rp. 35.680.800,00

c. Pemeliharaan IPLT
Eksisting = Rp. 6.000.000

d. Bayar kantor
-

Gaji pegawai 14 orang ( lihat sub bab 1.3)

= Rp.

397.800.000

Pengadaan seragam 3 stel/org/tahun

= Rp.

6.300.000

Perlengkapan sepatu khusus

= Rp.

1.500.000

Peralatan kesehatan dan K3

= Rp.

1.500.000

Rp.

407.100.000

e. Biaya depresiasi

f.

IPLT 2,5 %

Rp.

15.625.000

Kantor 1 %

Rp.

3.000.000

Rp.

18.625.000

Pengembalian biaya ( Cost recovery)


f = r (1 + r)n
(1 + r)n-1
r = interest rate = 10 %
n = payback period = 10 tahun
f = 0,6
cost recovery = 0,16 x Rp. 1.125.000.000 = Rp. 180.000.000

g. Ringkasan biaya tahunan

628

Gaji

Rp.

407.100.000

Operasi truk dan IPLT

Rp.

252.520.800

Pemeliharaan

Rp.

6.000.000

Depresiasi

Rp.

18.625.000

Cost recovery

Rp.

180.000.000

Administrasi

Rp.

12.000.000

Rp.

876.245.800

h. Volume lumpur tinja yang dikuras = 9000 m3/tahun

i.

j.

Maka biaya pengurasan lumpur tinja adalah


=

Rp. 876.245.800/ 9000 m3

Rp. 96.138

Pendapatan dari pembuatan kompos


Biaya produksi :
-

Tenaga kerja

= Rp. 25/kg

Bakteri penyubur

= Rp. 150/kg

Pengolahan lumpur

= Rp. 50/kg

Packaging

= Rp. 100/kg

Biaya administrasi & promosi

= Rp. 50/kg

Total biaya produksi

= Rp. 375/kg

Dekomposisi lumpur :
VSS = 0,8

= 7.2 ton/hari

70 % degredasi = 5,04 ton/hari


= 2.16 ton/hari
FSS = 0,2

= 1,4 ton/hari
= 3,6 ton/hari

Total biaya produksi

= 4000 x 300 x Rp. 375 = Rp. 405.000.000

Biaya penjualan = 4000 x 300 x Rp. 600= Rp. 648.000.000


Keuntungan

= Rp. 243.000.000/tahun

629

k. Biaya per RT
-

Pengurasan 5 tahun

Volume lumpur = 2 m3

Biaya pengurasan

= Rp. 96.138/m3
= Rp. 194.721/5 tahun
= Rp. 38.944/tahun
= Rp.

3.245/bulan

Dapat ditarik melalui PDAM = Rp 3500-5000/bulan dengan pengurasan gratis.

1.8 Kesimpulan
Di Indonesia penanganan lumpur merupakan salah satu penanganan sarana umum yang
termasuk cost recovery yang diperoleh melalui retribusi. Penentuan besarnya retribusi
dilakukan dengan menghitung besarnya biaya operasi dan pemeliharaan IPLT ditambah dengan
besarnya keuntungan yang ingin diperoleh.
Perhitungan biaya operasi dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu biaya operasi dan
pemeliharaan alat pengangkutan lumpur dan alat pengolah lumpur tinja. Dengan
memperhatikan unsur biaya operasi dan pemeliharaan, yaitu volume dan harga satuan dasar
maka dapat dilakukan penyusunan anggaran biaya operasi dan pemeliharaan.

2.

PEMBIAYAAN OPERASI & PEMELIHARAAN IPAL

2.1 Pendahuluan
Aspek pembiayaan dalam pengelolaan air limbah sangat penting mengingat sektor air limbah
merupakan sektor yang tidak memberikan keuntungan bagi pengelolanya.
Permasalahan saat ini :
a. Ketidakseimbangan Anggaran dengan Beban Pelayanan
Banyak kota menghadapi keterbatasan anggaran untuk melaksanakan pelayanan
pengelolaan air limbah, baik anggaran untuk pengadaan/penggantian prasarana dan sarana,
anggaran operasional, juga anggaran pemeliharaan/perawatan.
Kondisi diatas disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: prioritas dan perhatian yang
masih rendah untuk sektor air limbah, keterbatasan APBD, dan perencanaan anggaran yang
kurang memadai.

630

b. Penerimaan Retribusi Tidak Sebanding dengan Biaya Pengelolaan


Hingga saat ini pengelolaan air limbah kabupaten/kota masih mendapatkan subsidi. Subsidi
operasional masih merupakan unsur dominan dalam penyelenggaraan pengelolaan air
limbah. Rendahnya penerimaan retribusi dan tingginya beban subsidi ini merupakan salah
satu faktor penyebab terbatasnya dana operasional yang berdampak pada rendahnya mutu
pelayanan.
Beberapa IPAL menunjukkan kinerja yang baik karena dikelola oleh PDAM sehingga biaya
operasional mendapatkan subsidi dari pelanggan air minum. Tarif pengelolaan air limbah
menjadi satu dengan rekening air minum sehingga tingkat pembayaran lebih tinggi.
2.2 Biaya Investasi Instalasi Pengolahan Air Limbah
Perkiraan biaya investasi instalasi/proyek terdiri atas: biaya konstruksi, biaya kompensasi, biaya
administrasi, biaya jasa perencanaan teknik, biaya tak terduga perubahan harga, serta biaya tak
terduga perubahan fisik dan pajak pertambahan nilai (PPN). Komponen biaya instalasi/proyek
dinyatakan pada Gambar 2.1.

Gambar 2. 1 Pembiayaan Instalasi/Proyek

631

Pembiayaan inventasi instalasi/proyek meliputi :


1. Biaya Konstruksi
Biaya Konstruksi terdiri dari biaya langsung (dasar perkiraan dari perkalian jumlah/ volume
pekerjaan dikalikan harga satuan) dan biaya tidak langsung, yang diperkirakan dari
persentase biaya langsung.
2. Biaya Kompensasi
Biaya kompensasi akan meningkat bila ada pembebasan tanah dan bangunan dan segala
sesuatu yang berhubungan dalam pembangunan. Biaya ini tergantung Surat Keputusan
Pemerintah Daerah, yaitu Bupati atau Gubernur.
3. Biaya Administrasi
Biaya administrasi proyek adalah pengeluaran untuk Pengelola Proyek dalam pelaksanaan
sebenarnya. Biaya ini adalah 5% dari biaya konstruksi, ditambah biaya tak terduga fisik.
4. Biaya Jasa Perencanaan Teknik
Biaya jasa perencanaan teknik dipakai untuk pembiayaan pekerjaan detail desain dan
supervisi pekerjaan konstruksi, utamanya yang dilakukan oleh Konsultan. Biaya jasa
perencanaan teknik diperkirakan 12% dari biaya konstruksi ditambah biaya tak terduga fisik.
5. Biaya Tak Terduga Harga
Biaya ini disediakan untuk mengatasi terjadinya eskalasi harga. Dari sudut pandang
ekonomi, dapat diterapkan 2% per tahun untuk total porsi asing dan lokal.
6. Biaya Tak Terduga Fisik
Biaya tak terduga fisik diterapkan 10% dari biaya konstruksi. Biaya ini disediakan untuk
pembiayaan pengeluaran lainnya, seperti biaya kompensasi, biaya administrasi, dan biaya
untuk kejadian-kejadian lainnya dalam konstruksi.
7. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) diterapkan 10% dari biaya konstruksi ditambah biaya tak
terduga fisik. Perkiraan Biaya Proyek terdiri dari: biaya konstruksi, biaya tak terduga fisik,
biaya administrasi, biaya jasa perencanaan teknik dan pajak pertambahan nilai (PPN).
2.3 Biaya Pemasangan Pipa
Biaya pekerjaan pemasangan pipa air limbah dengan metode clean construction, meliputi biaya
untuk:
Pekerjaan persiapan
Pekerjaan galian dan pengangkutan tanah galian
Pekerjaan pemasangan pipa dan manhole
Pekerjaan timbunan kembali
Pekerjaan perbaikan jalan, kecuali untuk pekerjaan pengaspalan (overlay) dimasukkan
dalam jenis pekerjaan tersendiri.

632

Unit biaya pemasangan pipa dikelompokkan berdasarkan:


Diameter pipa
Kedalaman pipa terpasang
Kedalaman pemasangan pipa dan kondisi tanah setempat serta tinggi muka air tanah akan
menentukan metode pelaksanaan di lapangan, demikian pula lebar jalan dan kondisi
lapangan akan menentukan jenis, tipe, dan kapasitas peralatan yang digunakan, dimana hal
tersebut akan mempengaruhi besarnya biaya pemasangan. Pembayaran didasarkan pada hasil
pengukuran pipa terpasang di lapangan, dari pusat mainhole ke mainhole berikutnya. Secara

633

ringkas biaya pemasangan untuk setiap meter panjang pipa seperti terlihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2. 1 Gambaran Biaya Pemasangan Pipa

Item
Pipe material (800mm)
Pipe Jacking Work
Temporary Facility Work
Pipe Installation thru Shaft
Invert Mortar
Dewatring for jacking
Temporary Facility of Shaft
Pipe Cleaning
Shaft Type 2
Shaft Type 4
Shaft Type 1
Backfill for Shaft
Disposal
Total

unit
m
m
m
m
m
m
m
m
no.
no.
no.
m3
m3

Jacking Pipe Construction - Unit Rate


Exchange rate (Rp/yen)
Unit Rate
Amount
Q'ty
Rp.
Yen
Rp.
Yen
2,282.4
2,282.4
2,282.4
2,282.4
2,282.4
2,282.4
2,282.4
2,282.4
4
8
20
1,021
765

1,431,743
0 3,267,810,223
5,928,780 73,948 13,531,847,472
290,619
351
663,308,806
1,020
0
2,328,048
5,195
0
11,857,068
177,566
0
405,276,638
11,525
0
26,304,660
12,625
0
28,815,300
225,739,131 435,244
902,956,524
358,093,722 627,225 2,864,749,776
113,256,526 192,507 2,265,130,520
119,262
0
121,766,502
25,392
0
19,424,880

0
168,778,915
801,122
0
0
0
0
0
1,740,976
5,017,800
3,850,140
0
0

3,267,810,223
33,402,577,350
757,626,788
2,328,048
11,857,068
405,276,638
26,304,660
28,815,300
1,107,925,633
3,455,506,911
2,718,416,358
121,766,502
19,424,880

24,111,576,417

180,188,954

45,325,636,359

10,564,133

78,947

19,858,761

Unit rate per meter =

Unit Rate =

117.7323
Equiv. Total
Rp.

Fixed Cost + Variable Cost


Total Length

Equiv. Total
Rp.

5,747,887,446 168,778,500

25,618,568,442

5,747,887,446 168,778,500

25,618,568,442

Breakdown for the original scope


Fixed Cost 25,618,568,442 <= 2 untis of Jacking Machine and equipment)
Variable Cost 19,707,067,918 <= Other work item cost
Total Cost 45,325,636,359
For 2.2 km Jacking
Fixed Cost
Variable Cost

25,618,568,442 Rp.
8,957,758 Rp./m

For 5.0 km Jacking


Fixed Cost
Variable Cost
Unit rate for 5.0 km jacking =

634

Fixed Cost
Amount
Rp.
Yen

25,618,568,442 Rp.
8,957,758 Rp./m
14,081,472 Rp./m

2.4 Biaya Operasi Dan Pemeliharaan IPAL


Unsur-unsur biaya terdiri dari :
1. Biaya investasi
2. Biaya operasi dan pemeliharaan
3. Biaya pengembangan
4. Biaya retribusi
5. Biaya depresiasi
Penjelasan unsur-unsur biaya tersebut berikut :
1. Biaya Investasi, dalam operasi dan pemeliharaan IPAL yang termasuk dalam investasi
adalah antara lain peralatan untuk mendukung operasi IPAL. Yang dimaksud dengan
Investasi disini bukan membuat instalasi IPAL namun alat-alat perlengkapan pendukung
operasi dan pemeliharaan instalasi.
2. Biaya Operasi Dan Pemeliharaan
Biaya operasi dan pemeliharaan terdiri dari :
a. Biaya tetap (fixed cost) atau biaya tidak langsung.
1) Biaya personil (upah/gaji pegawai) termasuk lembur, uang makan dan transport.
2) Biaya kantor :
- Pemeliharaan gedung
- Pemeliharaan kendaraan operasional kantor
- Pemeliharaan peralatan kantor dan peralatan kerja, P3K
- Biaya langganan listrik dan telepon
- Biaya kebersihan kebun/halaman/lantai
- Biaya operasional kantor (ATK, rapat, dll)
- Biaya bahan : bahan kimia, laboratorium, bahan untuk treatment lumpur kering
- Biaya Perjalanan
b. Biaya operasi dan pemeliharaan IPAL :
Biaya operasi dan pemeliharaan instalasi IPAL :
1) Operasi dan pemeliharaan unit-unit
- Persiapan operasi (start up)
- Operasi harian
- Operasi mingguan
2) Biaya pemeliharaan jaringan (perpipaan/ IPAL)
- Biaya tenaga kerja
- Biaya pemeliharaan bangunan atau perpipaan
- Biaya operasional
- Biaya pemeliharaan sarana penggelontoran
635

3) Biaya pemeliharaan sambungan rumah ( house Connection)


- Biaya tenaga kerja
- Biaya pembesihan
- Biaya pemeliharaan bak
4) Biaya O dan P instalasi IPAL
- Biaya pembersihan saringan
- Biaya perawatan mekanik (aerator, pompa)
- Biaya perawatan scraper
3. Biaya Pengembangan
Biaya pengembangan bertalian dengan perluasan (ekspansi) instalasi maupun perluasan
daerah pelayanan. Hal-hal yang menyangkut kegiatan ini direncanakan secara matang, dari
segi teknis dan pembiayaan. Dari segi teknis tidak memerlukan teknologi tinggi dan dari
segi pembiayaan layak secara ekonomi dan dapat dijangkau dengan kondisi keungan yang
ada. Biaya pengembangan misalnya pengadaan truk tinja baru, pengadaan gerobak, vacuum
pump, submersible pump dan sebagainya, penambahan sambungan rumah.
4. Biaya Retribusi
Biaya ini dikeluarkan setiap bulan atau setiap tahun, yang ditarik oleh Pemda. Retribusi
ditetapkan dengan PERDA. Retribusi dari pemda misalnya retribusi jalur pipa, retribusi air
baku untuk penggelontoran (flushing).
5. Biaya Depresiasi
Semua barang-barang yang termasuk kategori investasi, akan mengalami penyusutan atau
depresiasi, seperti instalasi IPAL, peralatan pendukung, peralatan kantor akan depresiasi
dapat digunakan untuk pengadaan barang/investasi baru.
2.5 Biaya Spesifik
Biaya spesifik merupakan biaya yang diperlukan untuk pembangunan dan/atau biaya operasi
dan pemeliharaan seluruh atau sebagian komponen sistem pengelolaan sanitasi yang
menggunakan jenis, teknologi dan bahan tertentu. Biaya spesifik dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut ini.

636

Tabel 2. 2 Interval Biaya Spesifik Investasi IPAL Sistem OffSite


(Harga dalam US $, 1 US$ = Rp. 9600, harga berlaku tahun 2006, angka-angka
dibulatkan)
No.
1
2
3
4
5
6

SISTEM
Sanitasi Komunal
Model l
Sanitasi Komunal
Model ll
Biofilter
Aerated lagon
Stabilization Pond
Rotating Biological
Contactor

Biaya IPAL /
(m3/Hari)
Int.Bwh
Int.Atas

Biaya IPAL / Jiwa


Int.Bwh

Int.Atas

Biaya IPAL /
(kg/BOD5/Hr)
Int.Bwh
Int.Atas

538

663

44

54

1.261

1.543

19

18

57

504

1.740

1
263
794

2
3.613
2052

108
43
118

131
156
252

3.599
9.262
3.710

4.114
25.205
7.769

231

333

26

96

Sumber : Buku Saku Biaya Spesifik Investasi Air Limbah, Subdit Investasi PLP, Departemen PU, 2008

Tabel 2. 3 Interval Biaya Spesifik Jaringan Perpipaan Sistem OffSite


(Harga dalam US $, 1 US$ = Rp. 9600, harga berlaku tahun 2006, angka-angka
dibulatkan)
Biaya / PE
Biaya / m Panjang Pipa
SISTEM
Int. Bwh
Int. Atas
Int. Bwh
Int .Atas
Jaringan Perpipaan
79
169
137
216
Sumber : Buku Saku Biaya Spesifik Investasi Air Limbah, Subdit Investasi PLP, Departemen
PU, 2008
Tabel 2. 4 Interval Biaya Spesifik Instalasi Pengolahan Air Limbah Sistem On Site
(Harga dalam US $, 1 US$ = Rp. 9600, harga berlaku tahun 2006, angka-angka
dibulatkan)
No.

SISTEM

Biaya / KK

Biaya / Jiwa

Int.Bwh

Int. Atas

Int. Bwh

Int. Atas

Tangki Septik +resapan

450

550

90

110

Cubluk Kembar

39

42

IPLT

56

109

11

22

Biaya / (M3/hari)
Int.Bwh

Int.Atas

Sumber : Buku Saku Biaya Spesifik Investasi Air Limbah, Subdit Investasi PLP, Departemen PU,
2008

637

3.

PENENTUAN HARGA RETRIBUSI PENGELOLAAN AIR LIMBAH DAN


MEKANISME PEMBAYARAN TAGIHAN DI INDONESIA

3.1 Penentuan Harga


Panduan nasional tentang pengelolaan air limbah (2003) menyatakan bahwa peran pemerintah
kota / kabupaten dalam pelayanan pengolaan air limbah mencakup pembentukannya suatu
organisasi pengelola yang layak dan system pemulihan biyaya yang terjangkau. Panduan
tersebut juga menyatakan bahwa pertimbangan pertimbangan berikut ini perlu disertakan
dalam menentukan harga layanan air limbah:
1. Kesesuaian dengan panduan yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
2. Penerapan subsidi-silang dari kelompok ekonomi yang lebih kuat kepada yang lebih
lemah.
3. Persetujuan dari bupati/walikota dan DPRD.
4. Penetapan harga berdasarkan banyaknya air limbah yang dikelola.
5. Jika metode yang dinyatakan dalam butir 4 diatas tidak dapat diterapkan, maka tarif
ditentukan berdasarkan suatu persentase konsumsi air minum jika data konsumsi
tersebut tersedia.
6. Pilihan lainnya adalah untuk jaringan air limbah terpusat tarif dapat ditetapkan
bredasarkan fungsi, wilayah, dan klasifikasi bangunan.
7. Untuk system terpusat dimana terdapat jaringan perpipaan yang membawa air limbah
dari sumbernya ke suatu jaringan utama pengumpul dan selanjutnya ke suatu instalasi
pengolahan air limbah, tarif harus ditetapkan dengan mempertimbangkan :
a. Biaya operasi dan pemeliharaan jaringan perpipaan dan instalasi
pengolahan
b. Penyusutan
c. Biaya pelestarian dan pemulihan lingkungan
d. Biaya pembangunan
8. Untuk Sistem tidak terpusat (penyedotan tangki septic). Tariff harus ditetapkan dengan
mempertimbangkan banyaknya air limbah yang dihasilkan (kapasitas tangki septic atau
kapasitas penyedotan) dan memperhitungkan factor factor berikut ini
a. Biaya penyedotan
b. Biaya transportasi
c. Biaya operasi dan pemeliharaan instalasi pengolahan limbah tangki septic
d. Penyusutan
e. Biaya pelestarian dan pemulihan lingkungan
Pengamatan sementara menunjukan bahwa kebanyakan instansi pengelola air limbah di
Indonesia telah berusaha untuk mengikuti panduan nasional yang dinyatakan dalam butir 1
sampai 6 di atas. Tetapi, untuk butir 7 dan 8, hanya terdapat sedikit data tentang upaya dari

638

instansi yang bersangkutan, sedangkan informasi tidak resmi menunjukkan bahwa penyusutan
dan biaya pelestarian serta pemulihan lingkungan praktis tidak diperhitungkan dalam penentuan
tariff air limbah.
Masih terdapat keraguan apakah tarif yang berlaku dikebanyakan daerah di Indonesia saat ini
dapat memulihkan biaya operasi dan pemeliharaan jaringan dengan memadai. Bahkan dengan
subsidi sekalipun, diyakini masih banyak jaringan yang terus menghadapi risiko berkurangnya
usia teknis dan ekonomis karena tidak tersedianya anggaran yang memadai untuk operasi dan
pemeliharaan.
Wawancara dengan sejumlah instansi pengelola air minum dan air limbah menujukkan bahwa
adanya persyaratan untuk mendapatkan persetujuan dari DPRD juga meninmbulkan masalah
yang besar dalam menentukan tarif yang layak. Banyak instansi yang diharuskan untuk
meningkatkan pelayanannya terlebih dahulu sebelum mengusulkan kenaikan tarif. Tetapi untuk
meningkatkan pelayanan tersebut instansi yang bersangkutan harus terlebih dahulu
menghasilkan pendapatan yang lebih besar (yang berarti harus menaikan tarif) agar bias
melakukan investasi untuk peningkatan dan perluasa jaringan, situasi semacan ini cepat
berkembang menjadi lingkaran setan, dimana disuatu pihak DPRD tidak berkenan menyetujui
kenaikan tarif sebelum melihat adanya peningkatan pelayanan, sedangkan di lain pihak instansi
pengelola tidak dapat melakukan peningkatan tanpa menaikkan tarif.( JBIC, 2007)

3.2 Mekanisme Pembayaran Tagihan


Mekanisme pembayaran tagihan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu pengelolaan air limbah
sistem setempat dan pengelolaan air limbah sistem terpusat.
3.2.1

Pengelolaan Air Limbah Sistem Setempat

Pada pengelolaan air limbah dengan sistem setempat berarti instalasi pengolahan limbah tangki
septic yang mengolah limbah, tangki septic (berasal dari rumah tangga). Lumpur hasil
penyedotan tangki septik atau IPAL Komunal dikumpulkan dan dibawa ke IPLT oleh trucktruck tinja yang dioperasikan oleh pihak swasta maupun instansi pemerintah.
1. Penagihan pembayaran dari Armada truk yang dioperasikan pemerintah
Secara tipikal, instansi pemerintah yang bertanggung jawab atas armada tersebut
membentuk atau bekerjasama dengan koperasi yang mengelola armada. Tetapi armada
juga bisa menjadi bagian dari operasional regular instansi yang bersangkutan (Misalnya
Dinas Kebersihan)
Jika armada dimiliki oleh koperasi, instansi pengelola IPLT yang bertanggung
jawab atas instalasi pengolahan lumpur tinja akan menerbitkan tagihan dan
menagih pembayaran dari koperasi

639

Jika armada merupakan bagian dari operasional regular instansi, maka instansi
sendirilah yang akan menagih pembayaran dari pemilik tangki septik atau IPAL
komunal.

2. Penagihan pembayaran dari Armada truk swasta


Mekanisme Pembayaran dalam hal ini cukup sederhana. Perusahaan truk bisa
membayar langsung kepada operator instalasi pengolahan limbah sepik (instansi
pengelola air limbah) setiap kali trucknya mengirmkan limbah septic ke instalasi, atau
mereka dapat membuat kontrak untuk ditagih dan membayar secara berkala.
3.2.2 Pengelolaan Air Limbah Sistem terpusat
Untuk Tujuan laporan ini, suatu jaringan terpusat berarti suatu jaringan air limbah yang terdiri
dari jaringan pemipaan yang mengumpulkan air limbah dari sumbernya dan membawanya ke
suatu instalasi pengolahan pusat.
Terdapat dua jenis pengaturan kelembagaan bagi pengelolaan jaringan air limbah semacam ini.
(1) Jaringan dikelola oleh perusahaan air minum milik pemerintah daerah , atau
PDAM, seperti misalnya PDAM Bandung dan Surakarta.
(2) Jaringan dikelola oleh instansi yang khusus dibentuk untuk mengelola air limbah,
seperti misalnya PD PAL Jaya di Jakarta dan PD PAL Banjarmasin.
1. Untuk IPAL yang dikelola PDAM
Idealnya, tagihan air limbah diterbitkan dan ditagihkan sebagai bagian dari tagihan air minum.
Alasannya adalah
(i) menurut panduan nasional, tagihan air limbah dapat ditetapkan berdasarkan konsumsi
air;
(ii) lebih mudah untuk menerapkan tindakan penertiban bagi pelanggan nakal karena sanksi
yang diberikan dapat dikaitkan dengan layanan air minum dimana penduduk memiliki
ketergantungan yang lebih tinggi ketimbang pelayanan air limbah yang manfaatnya
cenderung masih belum disadari banyak orang.
Meskipun demikian, pendekatan ini juga memiliki beberapa kelemahan. Pertama. tidak semua
pelanggan layanan air limbah juga sekaligus menjadi pelanggan PDAM. Kedua
mengintegrasikan tagihan air limbah dan air minum memerlukan penyesuaian sistemik terhadap
praktek penagihan PDAM, yang bisa mengarah pada meningkatnya kebutuhan sumber data
manajemen maupun teknis.
2. Untuk IPAL yang dikelola oleh instansi yang dibentuk khusus
Dari data terbatas yang terkumpul, instansi pengelola air limbah yang dibentuk secara khusus
untuk tujuan tersebut, misalnya PD PAL, melakukan penagihan melalui divisi penagihannya
sendiri biasanya terdapat di dalam bagian keuangan. Akan tetapi terdapat indikasi bahwa

640

penagihan dapat ditingkatkan dengan arti jika tagihan diterbitkan dan ditagihkan sebagai bagian
dari utifilitas lain, terutama air minum

3.3 Contoh-contoh Kasus di Indonesia


3.3.1 Biaya Investasi dan Biaya Operasional Pemeliharaan IPAL
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Ausaid 2006 pada pengelolaan air limbah sistem
terpusat yang ada di Indonesia diperoleh hasil seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3. 1Biaya Investasi beberapa IPAL di Indonesia
Operator
Bandung

Banjarmasin

Cirebon

Operator
Jogja
Medan

PD PAL
Solo

475

Investasi/
m3
disain (Rp)
63

Investasi/SR
terpakai (Rp
000)
2.650

Investasi/SR
Disain (Rp
000)
892

3.274

3.228

16.506

15.845

423

218

1.485

698

Sistem
Pengolahan

Investasi/m3
terpakai (Rp)

Kolam
aerobik
UASB. Kolam
: aerobic,
fakultatif
Kolam
aerobik
Kolam
aerobik

1.109

Investasi/
m3
disain (Rp)
812

Investasi/SR
terpakai (Rp
000)
6.649

Investasi/SR
Disain (Rp
000)
4.871

133

35

1.133

319

92

11

5.012

91

1.658

1.619

3.802

1.166

Sistem
Pengolahan

Investasi/m3
terpakai (Rp)

Kolam :
anaerobic,
fakultatif dan
maturasi
Rotating
Biological
contactor
(RBC)
Kolam :
fakultatif dan
maturasi

Sumber : AUSAID, 2006

Tabel 3. 2 Biaya Investasi beberapa IPAL di Indonesia


Operator
PDAM Bandung
PDAM Banjarmasin
PDAM Balikpapan

Total Biaya/Rp/bln/SR
14.751
225.161

Biaya O dan P
Rp/bln/SR
12.450
62.900

Revenue
Rp/bln/SR.
15.265
73.090

641

PDAM Cirebon
PD PAL Jaya
PDAM Medan
PDAM Solo
Dinas Tangerang

11.545
NA
35.580
9.144

Dinas Yogyakarta

7.035
NA
16.895
5.914

NA
15.715
4.950

7.591

774

Sumber : AUSAID, 2006 (berdasarkan data keuangan tahun 2004)

Dari Tabel 3.1 dan 3.2 di atas, terihat bahwa biaya investasi dan biaya operasi serta
pemeliharaan sangat bervariasi tergantung sistem pengolahan yang digunakan. Pengolahan
dengan sistem kolam relatif lebih murah bila dibandingkan dengan sistem pengolahan yang lain.
3.3.2 Struktur Tarif
1. Kota Banjarmasin
Tabel 3. 3 Tarif Air Limbah di Kota Banjarmasin
Kategori
A . Sosial
A 1. Sosial umum
A 2. Sosial Khusus

B NON-USAHA
B 1 Rumah Tangga A1
B 2 Rumah Tangga A2
B 3 Rumah Tangga A3
B 4 Rumah Tangga A 4
C .USAHA
C. 1 Usaha kecil
C. 1.1 Usaha kecil I

C. 1.2 Usaha kecil II


C. 1.3 Usaha klecil III

642

Diskripsi

Tarif
(Rp/bulan)

Hidran Umum, WC Umum, Tempat


ibadah termasuk Musholla dan Langgar
Pusat layanan kesehatan, puskesmas,
rumah sakit umum, pusat rehabilitasi,
sarana social lainnya.

10.000

Rumah sederhana
Rumah tidak sederhana & tidak mewah
Rumah mewah
Perumahan pemerintah/ABRI

5.000
10.000
25.000
25.000

Kios, pedagangan depan rumah, bengkel


kecil. Usaha rumah tangga kecil, tukang
cukur
Penjahit, usaha salon kecantikan di rumah
Praktek dokter di rumah, apotik, gudang,
WC umum di pasar, bengkel las, penjualan

5.000

5.000

20.00
30.000

Kategori

C. 2 Usaha menengah

C. 3. Usaha besar

D .Industri
D. 1. Industry kecil/rumah

D. 2. Industri menengah
D. 3. Industri besar

Diskripsi
air, kos-kosan, usaha lain sesuai dengan
ijin usahanya.
Rumah sakit swasta, motel, hotel melati,
depot, pusat pembelanjaan, gedung
bioskop, salon kecantikan, pusat
perbaikan, praktek, klinik dokterm usaha
makanan dan minuman, tempat pencucian
kendaraan bermotor, usaha lainnya sesuai
dengan ijin usahanya.
Hotel berbintang, restoran, mall,
supermarket, bank, kantor PLN dan
Telkom, dealer/Showroom
Kerajinan, kerajinan rumah tangga, usaha
konveksi kecil, usaha perternakan kecil,
industri kecil lainnya.
Toko mebel. Toko batako batubata,
Perikanan, pabrik es, pabrik makanan dan
minuman, Bandar udara, pelabuhan,
industri besar lain sesuai ijin usahanya

Pedagang di pasar
A. Pedagang emper
B. Pedagang meja
C. Kios
D. Toko
E. Grosir
Pembuangan Limbah Tinja ke
Instalasi Pengolahan Limbah
Tinja
Pengolahan Air Lindi dari
tempat pembuangan Akhir
Basirih
Sumber : PD PAL Kota Banjarmasin, 2007

Tarif
(Rp/bulan)

50.000

100.000

20.000

50.000

5.000
500
10.000
15.000
20.000
10.000/m3

2.000/m3

2. DKI Jakarta

643

Tabel 3. 4 Tarif Air Limbah di Kota Jakarta


No.

Kategori Pelanggan

Tarif (Rp per m2 ) Luas


Lantai/bulan

I.
1.
2.
3.
4.
II
1.
2.
3.
4.
5.
6
7
III
1
2

Rumah Tangga
Rumah Tangga Tipe A
72
Rumah Tangga Tipe B
90
Rumah Tangga Tipe C
108
Rumah Tangga Tipe D
126
Usaha kecil
Toko
Kantor (sampai 3 lantai)
108
Salon kecantikan
126
Katering
144
Restoran/rumah makan kecil
180
Motel
180
Usaha kecil lainnya
180
Usaha Besar
Bangunan bertingkat
396
Bangunan bertingkat termasuk
396
restoran dan pusat kebugaran
3
Pusat pembelanjaan/Mall
396
4
Hotel Bintang l, ll, dan lll
396
5
Apartement/kondominium
540
6
Hotel bintang lV
540
7
Pusat hiburan
576
8
Rumah sakit Swasta
576
9
Hotel bintang V
576
10
Usaha besar Lainnya
576
IV
Sosial
1
Tempat ibadah
40
2
Puskesmas
85
Sumber : Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 2379 Tahun 2003

3. Kota Medan
a. Tarif air limbah ditetapkan pada tahun 2002 berdasarkan Keputusan Gubernur No.
539/1023/2002 tanggal 23 Desember 2002 dan SK direksi PDAM Tirtanadi NO.
151/KPTS/2002 tanggal 25 November 2002. Sejak saat itu belum pernah ada
perubahan tarif. Tarif yang berlaku terlalu rendah dan tidak memadai untuk

644

memenuhi kebutuhan operasi dan pemeliharaan sehingga perlu disubsidi. Baik oleh
pemerintah daerah maupun oleh PDAM.
b.

Tarif dikenakan per meter persegi bangunan dan dibagi menjadi dua kelas. Kelas A
adalah untuk pelanggan dengan konsumsi air minum kurang dari 30 m3 per bulan
dan kelas B adalah untuk konsumsi lebih dari 30 m3 per bulan.
Tabel 3. 5 Tarif Air Limbah Kota Medan
Klasifikasi Tarif
A
1
2
B
1
2
3
4

Kelas A*) Rp/m2

Kelas B **) Rp/m2

25
35

25
55

45
55
65
70

65
75
80
85

Kelas A*) Rp/m2

Kelas B **) Rp/m2

Sosial
Sosial Umum-S1
Sosial Khusus-S2
Non Komersial
Rumah Tangga A-NA1
Rumah Tangga B-NA2
Rumah Tangga C-NA3
Rumah Tangga D-NA4
Klasifikasi Tarif

Kedutaan Besar/Konsulat80
NA5
6
Institusi Pemerintah
55
C
Usaha
1
Usaha Kecil N1
140
2
Usaha kecil N2
175
D
Industry
1
Industr kecil IN1
170
2
Industry Besar IN2
175
E
Komersial Khusus
575
Sumber : Keputusan Gubernur No. 539/1023/2002
5

100
95
140
175
140
175
170

4. Kota Cirebon
a. 25% dari tariff air minum (belum diterapkan)
b. Pengguna layanan hanya dikenakan biaya penyambungan. Tidak ada tagihan
bulanan meskipun sudah terdapat peraturan daerah yang mengaturnya. Biaya
penyambungan adalah sebagai berikut.
Tabel 3. 6 Tarif Air Limbah Kota Medan
Non-komersial

Komersial I

Komersial II

645

Biaya penyambungan
baru
Biaya penyambungan
kembali (untuk
mengaktifkan kembali
sambungan yang
diputus)
Biaya administrasi dan
pencatatan

Non-komersial

Komersial I

Komersial II

Rp 1.200.000

Rp 1.500.000

Rp 2.000.000

Rp 150.000

Rp 165.000

Rp 225.000

Rp 150.000

Rp 165.000

Rp 225.000

Sumber : JBIC, 2007


5. Kota Tangerang
a.
Struktur tarif dibagi menjadi 3 kategori
b.
Struktur tarif ini disusun oleh Dinas PU Kota Tangerang

Tabel 3. 7 Tarif Air Limbah Kota Medan

3.3.3

Kategori

Rumah Mewah

Tarif

Rp 25.000/rumah

Rumah kecil
Rp 17.500/rumah

Tarif Penyedotan Lumpur Tinja di Beberapa Kota di Indonesia

Kota
Kota Makasar

Kota Mataram

Kota Denpasar

646

Rumah
Menengah
Rp 20.000/rumah

Tabel 3. 8 Tarif untuk Penyedotan Lumpur Tinja


Tarif Penyedotan Tangki
Sumber
Septik
Layanan biasa (2-5 hari
Kinerja Pengelolaan Air
setelah permintaan) Rp 75.000 Limbah Perkotaan Di
per trip
Indonesia, 2003
Layanan cepat (kurang dari 1
hari setelah permintaan) Rp
125.000 per trip
Rp 100.000 untuk
mengosongkan satu tangki
septik
Rp 100.000 untuk
mengosongkan satu tangki
septik

Kinerja Pengelolaan Air


Limbah Perkotaan Di
Indonesia, 2003
Kinerja Pengelolaan Air
Limbah Perkotaan Di
Indonesia, 2003

Kota
Kota Surabaya

Kota Samarinda

Kota Balikpapan

Kota Ambon

Tarif Penyedotan Tangki


Septik
Rp 3750 / m3 untuk
pengiriman limbah septik ke
instalasi pengolahan limbah
tinja
Rp 150.000 untuk
mengosongkan satu tangki
septik
Rp 100.000 untuk
mengosongkan satu tangki
septik
Rp 70.000 untuk
mengosongkan satu tangki
septik

Sumber
Kinerja Pengelolaan Air
Limbah Perkotaan Di
Indonesia, 2003
Kinerja Pengelolaan Air
Limbah Perkotaan Di
Indonesia, 2003
Kinerja Pengelolaan Air
Limbah Perkotaan Di
Indonesia, 2003
Kinerja Pengelolaan Air
Limbah Perkotaan Di
Indonesia, 2003

647

MODUL 14
MONITORING DAN EVALUASI

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

C I P T A

U M U M
K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI
1.

PENDAHULUAN ............................................................................................................ 649


1.1.
Maksud Dan Tujuan Monitoring Dan Evaluasi ....................................................... 650
1.2.
Manfaat Monitoring Dan Evaluasi........................................................................... 650
1.3.
Prinsip-Prinsip Monitoring Dan Evaluasi ................................................................ 651
1.4.
Mekanisme Dan Prosedur ........................................................................................ 652
2. MONITORING DAN EVALUASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH SISTEM
KOMUNAL .............................................................................................................................. 653
2.1.
Pengumpulan Data ................................................................................................... 653
2.2.
Pelaporan ................................................................................................................. 653
3. MONITORING DAN EVALUASI INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA
(IPLT) ........................................................................................................................................ 663
3.1.
Pengumpulan Data ................................................................................................... 663
3.2.
Pelaporan ................................................................................................................. 681
4. MONITORING DAN EVALUASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH ....... 684
4.1.
Pengumpulan Data ................................................................................................... 684
4.2.
Pelaporan ................................................................................................................. 728
5. INDIKATOR DAN KRITERIA PENILAIAN ................................................................ 728

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perbedaan Monitoring dan Evaluasi ......................................................................... 650
Tabel 2.1 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Air Limbah Sistem Komunal ....................... 655
Tabel 3.1 Lembar Pemantauan Pengujian Kuantitas dan Kualitas Air Limbah Pada IPLT ...... 663
Tabel 3.2.Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Truk Tinja .................................................... 667
Tabel 3.3 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan IPLT ............................................................. 670
Tabel 4.1 Baku Mutu Air Limbah Domestik ............................................................................ 685
Tabel 4.2 Contoh Catatan Pemeriksaan Harian......................................................................... 686
Tabel 4.3 Contoh Catatan Pemeriksaan Mingguan ................................................................... 688
Tabel 4.4 Contoh Catatan Pemeriksaan Bulanan ...................................................................... 688
Tabel 4.5 Contoh Catatan Pemeriksaan Catur Wulanan ........................................................... 689
Tabel 4.6. Contoh Catatan Pemeriksaan 6 (enam) Bulanan ...................................................... 690
Tabel 4.7 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan ..................................................................... 691
Tabel 4.8 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan (Lanjutan) .................................................... 692
Tabel 4.9 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Jaringan Perpipaan ....................................... 693
Tabel 4.10 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan IPAL ........................................................... 704
Tabel 4.11 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan IPAL dengan RBC ..................................... 716
Tabel 5.1 Komponen Penilaian dan IndikatorPengelolaan IPAL/IPLT .................................... 729

ii

MONITORING DAN EVALUASI


1.

PENDAHULUAN

Keberhasilan suatu pekerjaan dapat dilihat dari kesesuaian antara perencanaan dan
pelaksanaannya, terukur atau akuntabel hasilnya, serta ada keberlanjutan aktivitas yang
merupakan dampak dari pekerjaan itu sendiri.Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi
(monev) maka keberhasilan, dampak dan kendalapelaksanaan suatu pekerjaan dapat
diketahui.Ditinjau dari aspek pelaksanaan, monev memerlukan keterampilan petugas.Petugas
adalah seorang evaluator yang terampil untuk mengumpulkan berbagai data yang sesuai dengan
tujuan monitoring dan evaluasi.Selain itu, kejujuran, keuletan, dan penguasaan pengetahuan
tentang monitoring dan evaluasi menjadi tututan kualifikasi petugas.Bila ditinjau dari aspek
sistim monitoring dan evaluasi, maka staf yang terlibat dalam kegiatan ini harus mampu
merencanakan,menyiapkan, melaksanakan dan melaporkan seluruh kegiatan monitoring dan
evaluasi. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh petugas yang profesional, dan didukung
dengan instrumen yang baku akan dapat diperoleh data obyektif. Data obyektif yang dianalisis
dengan teknik yang tepat akan didapatkan informasi yang terpercaya untuk dasar pengambilan
keputusan manajemen. Sehingga keputusan yang diambil tepat untukmencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Usaha pencapaian tujuan program dalam sebuah organissasi harus selalu diupayakan oleh pihak
manajemen.Upaya tersebut dimulai dari menyusun rencana stategis jangka panjang 5 tahunan
yang memuat penetapan visi, misi dan tujuan organisasi. Visi, misi dan tujuan strategis
organisasi merupakan komitmen bersama seluruh warga di dalam
organisasi untuk
mewujudkannya. Rencana strategis selanjutnya dijabarkan dalam rencana operasional satu
tahunan yaitu dengan menjabarkan Visi, misi dan tujuan menjadi sasaran jangka pendek dan
program-program kegiatan.
Setelah monitoring selalu diikuti juga dengan evaluasi. Evaluasi dilakukan berdasarkan pada
hasil monitoring. Evaluasi membandingkan hasil yang telah dicapai dengan target yang telah
ditentukan sehingga dapat diketahui apakah tujuan masih dapat dicapai. Berdasarkan hasil
evaluasi yang dilakukan, lalu disusun rencana tindak lanjut dan rekomendasi untuk
memperbaiki kinerja yang ada.
Perbedaan mendasar antara monitoring dan evaluasi terletak pada substansi kegiatan. Secara
singkat dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut ini:

649

Tabel 1.1 Perbedaan Monitoring dan Evaluasi


Monitoring
1) Kegiatan di dalam internal program yang menilai
beberapa variabel, yaitu:

Evaluasi
1) Kegiatan-kegiatan yang menilai:

Apakah sumberdaya kegiatan (uang, bahan, staf)


dipergunakan sesuai dengan anggaran dan jadwal yang
disetujui

Apakah keluaran (output) yang diharapkan dihasilkan


dalam cara yang tepat waktu dan cost-effective

Seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan


membawa dampak (impact) atau hasil (outcome)
Keefektifan biaya (cost-effectiveness) kegiatan yang
dilaksanan dibandinkan dengan alternatif/pilihan
lain yang mungkin

2) Apakah kegiatan sedang berjalan secara efisien


1) Monitoring kinerja berkaitan dengan masukan dan 1) Evaluasi dampak pengaruh kegiatan terhadap
keluaran
target populasi
2) Monitoring proses sistem delivery kegiatan

1.1.

2) Analisis keefektifan biaya perbandingan biaya


dengan alternatif lain

Maksud dan Tujuan Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan Evaluasi dilakukan dengan maksud agar pelaksanaan proyek dapat berjalan
sesuai dengan rencana, tepat waktu, dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Secara
detail tujuan pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi adalah sebagai berikut :
1) Mengkaji apakah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan rencana.
2) Mengidentifikasi masalah yang timbul agar langsung dapat diatasi.
3) Melakukan penilaian apakah pola kerja dan manajemen yang digunakan sudah tepat untuk
mencapai tujuan kegiatan.
4) Mengidentifikasi kaitan antara kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh ukuran progres.
5) Menyesuaikan kegiatan bila terjadi perubahan kondisi di lapangan, tanpa menyimpang dari
tujuan semula.
6) Memberi masukan dalam pemecahan permasalahan yang terjadi.
1.2.

Manfaat Monitoring dan Evaluasi

Manfaat pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi bagi pihak penanggung jawab kegiatan adalah
sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu fungsi manajemen yaitu pengendalian atau supervisi.
2. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas) kinerja.
650

3. Untuk meyakinkan pihak-pihak yang berkepentingan


4. Membantu penentuan langkah-langkah yang berkaitan dengan kegiatan
5. Sebagai dasar untuk melakukan Monitoring dan Evaluasi selanjutnya.
1.3.

Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi

Keberhasilan pelaksanaan monitoring dan evaluasi perlu dilandasi oleh kejujuran, motivasi dan
kesungguhan yang kuat dari para petugas. Selain itu, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan
dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi adalah (Bappenas):
1. Obyektif dan profesional
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara profesional berdasarkan analisis data
yang lengkap dan akurat agar menghasilkan penilaian secara obyektif dan masukan yang
tepat
2. Transparan
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara terbuka dan dilaporkan secara luas
3. Partisipatif
Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan dengan melibatkan secara aktif dan
interaktif
4. Akuntabel
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dapat dipertanggung- jawabkan secara internal
maupun eksternal.
5. Tepat waktu
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dilakukan sesuai dengan waktu yang
dijadwalkan.
6. Berkesinambungan
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan agar dapat
dimanfaatkan sebagai umpan balik bagi pengambilan keputusan.
7. Berbasis indikator kinerja
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria atau indikator
kinerja,baik indikator masukan, proses, keluaran, manfaat maupun dampak.

651

1.4.

Mekanisme dan Prosedur

1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan bagian dari upaya pemantauan dan evaluasi. Data dan informasi
yang diperlukan dalam rangka monitoring dan evaluasi diperoleh dari:
(1) Hasil laporan rutin harian, bulanan, triwulan;
(2) Hasil pendataan operator IPAL/IPLT, Kantor Badan Pusat Statistik atau dinas terkait;
(3) Hasil penelitian dari perguruan tinggi bila ada;
(4) Hasil laporan dari kelompok masyarakat
2. Pelaporan
Pelaporan hasil monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang
kondisiIPAL Komunal /IPLT/IPAL dan kinerja kebijakan/program secara obyektif dan
sistematik. Pelaporan dilakukan oleh semua pihak yang terlibat sebagai pelaku monev. Laporan
yang dihasilkan harus diverifikasi dan dikonsolidasi agar menghasilkan informasi yang akurat
dan sistematis.
Pelaporan hasil monitoring dan evaluasi dilakukan secara teratur dan berkala serta disusun
dalam bentuk laporan lengkap. Pelaporan hasil-hasil monev juga memuat indikator yang
disesuaikan dengan indikator Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah (PKPD) Kementrian
Pekerjaan Umum Bidang Cipta Karya.
Untuk IPLT/IPAL yang termasukjenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi
denganAnalisis mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) menurut Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup nomor 05 tahun 2012 wajib memberikan laporan eksternal UKL dan
UPL kepada Dinas/Badan Lingkungan Hidup terkait dengan format laporan sesuai dengan
Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 45 Tahun
2005.

3. PemanfaatandanTindak Lanjut
Hasil temuan dari kegiatan monitoring dan evaluasi dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan:
1) Memberikan umpan balik bagi perbaikan kebijakan dan program,
2) meningkatkan pengelolaan, dan
3) pertanggungjawaban terhadap pelaksanaan kegiatan.

652

2.

MONITORING DAN EVALUASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH SISTEM


KOMUNAL

2.1. Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan bagian yang sangat penting dalam monitoring dan evaluasi,
data-data yang harus dikumpulkan untuk monitoring dan evaluasi pengelolaan air limbah
sistem komunal dapat selain data-data dasar seperti di bawah ini, juga data-data yang lebih
detail dari setiap aspek seperti dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Data-data Dasar
1. Jenis Prasarana

: ...........................................................

2. Tahun Pembangunan

:...........................................................

3. Biaya Pembangunan

: ...........................................................

4. NamaPenyediaJasa

a. KonsultanPerencana

:...........................................................

b. KontraktorPelaksana

:...........................................................

5. NamaLokasi

:. ...........................................................

6. Koordinat

: ...........................................................

7. Kabupaten/Kota

:...........................................................

8. Propinsi

:...........................................................

9. Hasil Evaluasi

:...........................................................

2.2. Pelaporan
Laporan yag harus disiapkan Kelompok Swadaya Masyarakat sebagai operator pengelolaan air
limbah sistem komunal adalah sebagai berikut :
1. Laporan Keuangan tiap minggu dan diumumkan (ditempel di papan
pengumuman/tempat strategis) sehingga dapat dilihat dengan mudah oleh masyarakat.
2. Laporan bulanan (laporan penggunaan dan adan laporan harian sesuai format yang
ditentukan) yang diserahkan kepada PPK pada Satker Pengembangan PLP Provinsi.
653

3. Laporan akhir keuangan setelah seluruh pekerjaan konstruksi selesai yang disertai
dengan bukti-bukti semua transaksi.
4. Menyiapkan daftar hadir pekerja.

654

Tabel 2.1 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Air Limbah Sistem Komunal
No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

KONDISI FISIK

LOKASI & LAHAN

Tindak

JaringanPipa
1. LuasJaringanpipa
2. Tata Ruang di Jaringan pipa
3. Kondisi Lingkungan
BangunanPengolahan
1. Penempatan
/pemilihanLokasi
2. Status Kepemilikan Lahan
3. LuasLahan TS Komunal
4. Radius lokasi dari pusat kota
5. Tata Ruang Lahan
Sekitarnya
6. Kondisi Lingkungan
B

SAMBUNGAN RUMAH
1. Jumlah SR
2. Pemanfaatan SR

PIPA SR
655

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa SR
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
5. Kondisi Pipa
6. Status Pemanfaatan
D

PIPA PELAYANAN
/SERVICE
1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa
a. Pipa pelayanan
b. Pipa pelayanan -2
c. dst
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
5. Kondisi Pipa

656

Tindak

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

Tindak

6. Status Pemanfaatan
E

MANHOLE
1. Jumlah Manhole
2. Bahan Manhole
3. Diameter Manhole
4. Jarak maksimum tiap
Manhole
5. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
6. Kondisi Manhole
7. Status Pemanfaatan

BANGUNAN PENGOLAHAN
Unit Biodigester
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. KapasitasPengolahan
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Debit rata-rata masuk
657

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

7. Kualitas BOD yang Keluar


8. Gas yang dikeluarkan
Unit ABR
1. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas Pengolahan
5. Kondisi
6. Status Pemanfaatan
7. Debit rata-rata masuk
8. Kualitas BOD yang keluar
Unit Anaerobic
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas Pengolahan
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Debit rata-rata masuk
7. Kualitas BOD yang Keluar
Unit Settler
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
658

Tindak

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

Tindak

3. Kapasitas Pengolahan
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Debit rata-rata masuk
G

PERALATAN
1. Jenis Penggunaan Peralatan
2. Macamnya Peralatan
3. Jumlah
4. Kondisi Peralatan
5.

Status Pemanfaatan

II

KONDISI PENGELOLAAN

LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga
2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personil
4. Kompetensi
659

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

5. Job Discription
B

OPERASI &
PEMELIHARAAN PIPA
1. PemantauanPipa
2. PenggelontoranPipa
3. PerbaikanPipa
4. PenggantianPipa

PEMELIHARAAN
MANHOLE
1. PerawatanFisik
2. Pengurusan Lumpur
3. PerbaikanFisik

PEMBIAYAAN
PENGELOLAAN
1. BiayaPersonil
2. BiayaPemeliharaanPipa
3. BiayaPemeliharan Manhole
4. BiayaPenggelontoranPipa
5. BiayaPenyambunganRumah
6. BiayapemeliharaanBanguna
n /Desludging

660

Tindak

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

PENGATURAN

Tindak

1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. AturanTarif
4. PERDA Tentang Air
Limbah
F

PENGENDALIAN
1. Jenis yang dikendalikan
2. Pemeriksaan BOD

PELATIHAN PERSONIL
1. Ketersediaan Program
Pelatihan
2. KetersediaanPrasarana&Sar
anaPelatihan
3. PelaksanaanPelatihan

SOSIALISASI
1. Ketersediaan program
Sosilisasi
2. KetersediaanPrasarana&Sar
anaSosialisasi
3. PelaksanaanSosialisasi
661

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran dan Rencana

PENDAPATAN OPERASI
1. TarifRetribusi
2. PendapatanOperasi

RENCANA
PENGEMBANGAN
1. RencanaPenambahan SR

662

RENCANA PEMANFAATAN
1.
Pemanfaatan Biogas

Tindak

3.

MONITORING DAN EVALUASI INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA


(IPLT)

3.1.

Pengumpulan Data

Dalam pengoperasian unit pengolahan, jika konsentrasi (beberapa paramater seperti BOD, TSS dan
mikrobiologi masih tinggi, maka kondisi ini menunjukkan bahwa IPLT bermasalah dan tidak berjalan
dengan baik. Parameter yang rutin dipantau dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3.1 Lembar Pemantauan Pengujian Kuantitas dan Kualitas Air Limbah Pada IPLT
SUB SISTEM DAN
PARAMETER YANG
DIUJI

SATUAN

SPESIFIKASI

FREKUENSI

M3/hari

Sesuai desain

1 Hari - 1 Kali

- pH

8-Jun

1 Hari - 1 Kali

- SS

mg/L

< 3000

1 Hari - 1 Kali

- SS Endapan 30 menit

mg/L

30 Hari - 1
Kali

- VSS endapan 30 menit

mg/L

30 Hari - 1
Kali

30 Hari - 1
Kali

mg/L

< 8000

7 Hari - 1 Kali

- COD/BOD

<2

7 Hari - 1 Kali

- Parameter air limbah


industri

Bila COD/BOD > 3

7 Hari - 1 Kali

- Kotoran Screening

M3/hari

15 Hari - 1
Kali

- Kecepatan Aliran

M/detik

0.30 - 0.60

1 Hari - 1 Kali

- Kotoran Grit

mg/L

30 Hari - 1
Kali

- Kecepatan Aliran

mg/L

0.3 (konstan)

1 Hari - 1 Kali

KETERANGAN

Air Limbah Baku


- Debit rata-rata

- Kadar air endapan 30


menit
- BOD

Bar Screen

Grit Chamber

Tinggi Imhoff

663

SUB SISTEM DAN


PARAMETER YANG
DIUJI

SATUAN

SPESIFIKASI

FREKUENSI

> 0.50

1 Hari - 1 Kali

- SS Lumpur

mg/L

30 Hari - 1
Kali

- VSS Lumpur

mg/L

30 Hari - 1
Kali

- Kadar Air Lumpur

90 - 95

30 Hari - 1
Kali

- Warna Lumpur

Hitam

30 Hari - 1
Kali

- Bau Lumpur

Bau ter

30 Hari - 1
Kali

M3/(m2.hari)

> 30

1 Hari - 1 Kali

jam

1.50 - 2

1 Hari - 1 Kali

- SS

30 - 40

30 Hari - 1
Kali

- BOD

40 - 60

30 Hari - 1
Kali

- pH Lumpur teratas

8-Jun

7 Hari - 1 Kali

Kepadatan

Tidak sampai padat

7 Hari - 1 Kali

Ruang Ventilasi

Tidak boleh ada

7 Hari - 1 Kali

Zona Pengendap

- Tinggi Zona Bersih

- Beban Hidraulik
Permukaan
- Waktu detensi

KETERANGAN

Zona Pengendap

- Efisiensi Pemisahan

- Buih

664

Tabel 3.1 Lembar Pemantauan Pengujian Kuantitas dan Kualitas Air Limbah Pada IPLT
(Lanjutan)
SUB SISTEM DAN
SATUAN
SPESIFIKASI
FREKUENSI KETERANGAN
PARAMETER YANG DIUJI
Kolam Anaerobik
- DO

mg/L

1 Hari - 1 Kali

gr BOD5 (M3/hari)

100 - 400

1 Hari - 1 Kali

8-Jun

1 Hari - 1 Kali

- SS

30 - 40

7 Hari - 1 Kali

Per-unit

- BOD

40 - 60

7 Hari - 1 Kali

Per-unit

- Buih

Kepadatan

Tdk sampai padat

7 Hari - 1 Kali

mg/L

> 0.50

1 Hari - 1 Kali

Chlorela

7 Hari - 1 Kali

>3

1 Hari - 1 Kali

40 - 50

1 Hari - 1 Kali

K. Fakultatif

20 - 40

1 Hari - 1 Kali

K. Maturasi

- Beban BOD Volumetrik


- pH Lumur Teratas
- Efisiensi Pemisahan :

Kolam Fakultatif/Maturasi
- MLDO
- Jenis Biologi yang dominan
- Waktu detensi
- Beban BOD volumetrik

hari
3

gr BOD5 (M /hari)

- Efisiensi Pemisahan :
- SS

30 - 40

7 Hari - 1 Kali

Per-unit

- BOD

40 - 50

7 Hari - 1 Kali

Per-unit

- MLDO

mg/L

> 0.50

- MLSS

mg/L

100 - 300

1 Hari - 1 Kali

1 Hari - 1 Kali

>3

7 Hari - 1 Kali

gr BOD5 (M /hari)

0.10 - 0.40

1 Hari - 1 Kali

kg BOD5
(M3/hari)

5-8

7 Hari - 1 Kali

K. Aerasi
Aerobik

1-2

7 Hari - 1 Kali

K. Aerasi
Fakultatif

Kolam Aerasi

- Jenis Biologi yang dominan


- Waktu Detensi
- Beban BOD Volumetrik
- Kebutuhan Power

hari
3

665

SUB SISTEM DAN


PARAMETER YANG DIUJI

SATUAN

SPESIFIKASI

FREKUENSI

- SS

30 - 40

7 Hari - 1 Kali

- BOD

> 70

7 Hari - 1 Kali

< 70

15 Hari - 1 Kali

(M /hari)

7 Hari - 1 Kali

Sesuai
Pemanfaatan

30 Hari - 1 Kali

(M3/hari)

> 8 Q air Limbah

15 Hari - 1 Kali

- BOD di Hulu dan Hilir

mg/L

Sesuai di Hulu
atau
peruntukkannya

30 Hari - 1 Kali

- Oksigen terlarut di Hulu dan


Hilir

mg/L

Sesuai di Hulu
atau
peruntukkannya

30 Hari - 1 Kali

Sesuai di Hulu
atau
peruntukkannya

30 Hari - 1 Kali

- Efisiensi Pemisahan :

Drying Bed
- Kadar Air Cake
- Produk Cake
- Kadar N dan P Cake

Badan Air
- Debit Air Rata-rata

- Biota air di Hulu dan Hilir

Sumber: Petunjuk Teknis No. CT/AL/Op-TC/003/98

666

KETERANGAN

Data Dasar
1. Jenis Prasarana

: ........................................................................................

2. Tahun Pembangunan

:........................................................................................

3. Biaya Pembangunan

: ........................................................................................

4. Nama Penyedia Jasa

: ........................................................................................

a. Konsultan Perencana

: ........................................................................................

b. Kontraktor Pelaksana

: ........................................................................................

5. Nama Lokasi

: ........................................................................................

6. Titik Koordinat

: ........................................................................................

7. Kabupaten/Kota

: ........................................................................................

8. Propinsi

: ........................................................................................

9. Hasil Evaluasi

No
1
I

Tabel 3.2.Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Truk Tinja


Kondisi Lapangan &
Uraian
Rencana /Kriteria
Permasalahan
2

Saran & Rencana


Tindak
5

KONDISI FISIK
667

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

TRUK TINJA
1. Jenis
2. Jumlah
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan

POOL TRUK TINJA


1. Luas Bangunan
2. Jumlah Petugas
3. Kondisi
4. Status Pemanfatan

RUMAH JAGA
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
Keamanan
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
5. Status Pemanfatan

668

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

II

KONDISI
PENGELOLAAN

LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga
2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personil
4. Kompetensi
5. Job Discription

OPERASI &
PEMELIHARAAN TRUK
TINJA
1. Pemeliharaan
2. Perbaikan
3. Penggantian Peralatan

BIAYA OPERASI
1. Biaya Personil
669

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

2. Biaya Pemeliharaan
3. Biaya Operasional
F

PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. PERDA Tarif

PENDAPATAN OPERASI
1. Tarif Pembuangan
LumpurTinja
2. Pendapatan Operasi
3. Jumlah Truk masuk/hari

RENCANA
PENGEMBANGAN
1. Penambahan Armada

Tabel 3.3 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan IPLT

670

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

KONDISI FISIK

LOKASI & LAHAN


1. Penempatan /pemilihan
Lokasi
2. Status Kepemilikan Lahan
3. Luas Lahan IPLT
4. Radius lokasi dari pusat kota
5. Tata Ruang Lahan Sekitarnya
6. Kondisi Lingkungan

IMHOFTANK
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas Pengolahan
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Debit rata-rata masuk
7. Kualitas BOD Yang Masuk

KOLAM ANAEROBIK
1. Jumlah Kolam
2. Bahan Konstruksi
671

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

3. Dimensi
4. Kapasitas Pengolahan
5. Kondisi
6. Status Pemanfaatan
7. BOD in
8. BOD Out
D

KOLAM FAKULTATIF
1. Jumlah
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas
5. Kondisi
6. Status Pemanfaatan
7. BOD in
8. BOD Out

KOLAM MATURASI
1. Jumlah Kolam
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas

672

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

5. Kondisi
6. Status Pemanfaatan
7. BOD in
8. BOD Out
F

SALURAN PEMBUANGAN
AKHIR
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Kualitas BOD Keluar

KOLAM PENGERING
LUMPUR
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan

RUMAH POMPA
673

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Rumah Pompa -1
Lokasi Rumah Pompa
b. Bahan Konstruksi
c. Dimensi Rumah Pompa
d. Kondisi Rumah Pompa
e. Status Pemanfaatan
2. Rumah Pompa -2
a. Lokasi Rumah Pompa
b. Bahan Konstruksi
c. Dimensi Rumah Pompa
3. dst
I

POMPA
1. Jumlah Pompa
2. Jenis Pompa
3. Kapasitas Pompa
4. Sistem Pemompaan
5. Daya Listrik
6. Efisiensi Pompa
7. Kondisi Pompa
8. Status Pemanfaatan

J
674

GENSET

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Jumlah Genset
2. Jenis Genset
3. Kapasitas Daya Genset
4.

Kondisi Genset

5. Status Pemanfaatan
K

LABORATORIUM
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Lingkup Pemeriksaan
4. Jenis Peralatan
5. Status Pemanfatan

KANTOR
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Kantor
5. Status Pemanfatan

RUMAH JAGA
1. Luas Bagunan
675

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

2. Jumlah Petugas Keamanan


3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
5. Status Pemanfatan
N

SALURAN AIR HUJAN DI


IPLT
1.

Luas tangkapan

2.

Panjang Saluran

3.

Bahan Saluran

4.

Pemanfaatan Lumpur

5.

Bentuk Saluran

6.

Dimensi Saluran

7.

Kapasitas

8.

Kondisi Saluran

9.

Status pemanfaatan

JALAN DI LOKASI IPLT


1

Materia Perkerasan Jalan

Panjang

4. Lebar
5. Kondisi Fisisk Jalan
3
676

Status Pemanfaatan

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

SISTEM PENERANGAN
1.

Daya Listrik

2.

Sistem Penerangan

3.

Panjang Jaringan

4.

Status pemanfaatan

PAGAR PENGAMAN
1

Bahan Pagar

Tinggi Pagar

Panjang Pagar

Kondisi Pagar

5. Sastus Pemanfaatan Pagar


II

KONDISI PENGELOLAAN

LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga
2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personil
4. Kompetensi
5. Job Discription

OPERASI &
PEMELIHARAAN IPLT
677

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Pemantauan IPLT
2. Pemeliharaan Fisik IPLT
3. Pengerukan Lumpur
4. Perbaikan Fisik IPLT
5. Penggantian Peralatan
C

O & P POMPA
1. Perawatan Pompa
2. Perbaikan Pompa
3. Penggantian Pompa
4. Pengoperasian Pompa

O & P GENSET
1. Perawatan Genset
2. Perbaikan Genset
3. Penggantian Genset
4. Pengoperasian Genset

PEMBIAYAAN
PENGELOLAAN
1. Biaya Personil
2. Biaya Pelatihan Personil
3. Biaya Pemeliharaan IPLT
4. Biaya Pemeliharaan Pompa

678

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

5. Biaya Operasional Pompa


6. Biaya Pemeliharaan Genset
7. Biaya Operasional Genset
8. Biaya Listrik PLN
F

PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. PERDA Tarif
4. PERDA Tentang Air Limbah

PENGENDALIAN
1. Jenis yang dikendalikan
2. Durasi Pengendalian
3. Pemeriksaan Kualitas BOD

PELATIHAN PERSONIL
1. Ketersediaan Program
Pelatihan
2. Ketersediaan Prasarana &
Sarana Pelatihan
3. Pelaksanaan Pelatihan

SOSIALISASI
1. Ketersediaan program
679

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

Sosilisasi
2. Ketersediaan Prasana &
Sarana Sosilisasi
3. Pelaksanaan Sosilisasi
J

PENDAPATAN OPERASI
1. Tarif Pembungan
LumpurTinja
2. Pendapatan Operasi

RENCANA
PENGEMBANGAN
1. Ketersediaan Master Plan
2. Ketersediaan Studi Kelayakan
3. Ketersediaan Rencana Tenkis
4. Rencana Penambahan
Kapasitas IPLT

680

3.2.

Pelaporan

1. Laporan Internal
Laporan kegiatan monitoring dan evaluasi internal merupakan salah satu bentuk
pertanggungjawaban pengelola dalam menjamin bahwa IPAL/IPLT beroperasi sesuai dengan
aturan dan mencapai sasaran yang telah ditargetkan. Melalui kegiatan monitoring ini juga,
persoalan dan kendala yang dihadapi dalam implementasi dapat ditengarai, diantisipasi dan
ditanggulangi.
2. Laporan Eksternal
Seperti sudah diuraikan di atas, untuk IPLT/IPAL yang termasuk jenis rencana usaha dan/atau
kegiatan yang wajib dilengkapi denganAnalisis mengenai Dampak Lingkungan Hidup
(AMDAL) wajib memberikan laporan eksternal UKL dan UPL kepada Dinas/Badan
Lingkungan Hidup terkait dengan format laporan sesuai dengan Lampiran Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2005, sebagai berikut.

Pengelola dalam menyusun laporan pelaksanaan RKL dan RPL mengikuti sistematika sebagai
berikut:
BAB I PENDAHULUAN
A. IDENTITAS
PERUSAHAAN
Tuliskan identitas pemrakarsa dan domisili usaha dan atau kegiatan
Nama Perusahaan/Pemrakarsa :
Jenis Badan Hukum

:CV/PT/Koperasi/.

Alamat Perusahaan/Pemrakarsa:
Nomor Telepon

:(kodewilayah)

Nomor Fax.

:(kodewilayah)...

e-mail

:.

Status pemodalan

:PMA/PMDN/.

Bidang usaha dan atau kegiatan:.


SKAMDALyang disetujui
Penanggungjawab

:.
:(NamadanJabatan)

Izin yang terkait dengan


AMDAL (lampirkan)

B. LOK ASI USAHA DAN ATAU KEGIATAN


Tuliskan secara jelas lokasi usaha dan atau kegiatan (alamat lengkap dan nomor
telepon). Lengkapi dengan peta dan koordinat.
Uraikan secara singkat kegiatan dan status pelaksanaan kegiatan tersebut pada
saat pelaporan beserta kapasitas produksi dan atau luasan lahan yang
dimanfaatkan.Uraian ini harus dapat menjelaskan apakah kegiatan perusahaan
tersebut dalam tahap pra-kontruksi, konstruksi, operasi atau pasca operasi.
Pemrakarsa dapat mencantumkan berbagai penghargaan yang dimiliki, baik dari
dalam negeri, luar negeri atau institusi lain (misalnya: ISO14000, Program
Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan- PROPER).
D. PERKEMBANGANLINGKUNGAN SEKITAR
Informasikan secara lengkap dan jelas, apabila terjadi perubahan-perubahan di
sekitar kegiatan selama proyek berlangsung yang kemungkinan dan atau turut
mempengaruhi kegiatan.
BAB II PELAKSANAAN DAN EVALUASI
A. PELAKSANAAN
Uraikan secara rinci hasil pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup. Apabila terdapat rekomendasi terhadap laporan hasil pelaksanaan
pengelolaan dan pemantauan sebelumnya, maka hasil pelaksanaan terhadap
rekomendasi tersebut turut dilaporkan.
Teknik dan metodologi pengelolaan dan pemantauan yang digunakan dalam
pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan rencana
pemantauan lingkungan hidup (RPL) harus dilakukan sesuai dengan teknik dan
metodologi standar atau yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Dalam penulisan laporan, harus ada kesesuaian uraian antara dampak yang
dikelola dengan komponen lingkungan yang dipantau. Uraian pelaksanaan
pengelolaan dapat dilakukan per komponen kegiatan dan pelaksanaan
pemantauan per komponen lingkungan.
1.RKL

682

Uraikan pelaksanaanpengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai


meliputi: jenis dampak, sumber dampak, tindakan pengelolaan
lingkungan hidup, tolok ukur pengelolaan, lokasi pengelolaan dan
periode/waktu pengelolaan.

Untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan pengelolaan


lingkungan hidup perlu diuraikan tentang besaran dampak dari masingmasing sumber dampak. Misalnya untuk menjelaskan pengelolaan
dampak penurunan kualitas udara akibat emisi dari cerobong perlu
diuraikan tentang besaran sumber dampak (dalam hal ini adalah uraian

tentang berapa emisi yang dikeluarkan dari cerobong) dan uraian tentang
besaran dampak yang terjadi di lingkungan (dalam hal ini informasi hasil
pemantauan kualitas udara ambien).

Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (misalnya


foto-foto, grafik, tabel, peta lokasi pengelolaan, dan sebagainya).

2. RPL

Uraikan pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai


meliputi: jenis dampak, sumber dampak, lokasi pemantauan, parameter
lingkungan yang dipantau, metode pemantauan, jangka waktu dan
frekuensi pemantauan.

Lampirkan berbagai hasil pelaksanaan pengukuran, antara lain hasil


analisis dari laboratorium yang terakreditasi atau diakui oleh
pemerintah, catatan tingkat kesehatan masyarakat dan data pelaporan
aspek sosial. Lampirkan juga visualisasi pelaksanaan pemantauan
lingkungan (misalnya foto-foto, grafik, tabel, peta lokasi pemantauan,
dsb).

B.EVALUASI
Evaluasi ditujukan untuk:

Memudahkan identifikasi penaatan pemrakarsa terhadap


lingkungan hidup seperti standar-standar baku mutu lingkungan,

Mendorong pemrakarsa untuk mengevaluasi kinerja pengelolaan dan


pemantauan lingkungan sebagai upaya perbaikan secara menerus (continual
improvement),

Mengetahui kecenderungan pengelolaan dan pemantauan lingkungan


suatukegiatan, sehingga memudahkan instansi yang melakukan pengendalian
dampak lingkungan dalam penyelesaian permasalahan lingkungan dan
perencanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam skala yang lebih besar,

Mengetahui kinerja pengelolaan lingkungan hidup oleh pemrakarsa untuk


program penilaian peringkat kinerja.

peraturan

Uraian evaluasi meliputi hal-hal sebagai berikut:


1. Evaluasi Kecenderungan (trend evaluation)
Evaluasi kecenderungan adalah evaluasi untuk melihat kecenderungan (trend)
perubahan kualitas lingkungan dalam suatu rentang ruang dan waktu
tertentu.Untuk melakukan evaluasi ini mutlak dibutuhkan data hasil
pemantauan dari waktu ke waktu (time series data), karena penilaian
perubahan kecenderungan hanya dapat dilakukan dengan data untuk waktu
pemantauan yang berbeda.
Data perubahan dari waktu ke waktu dapat menggambarkan secara lebih jelas
mengenai kecenderungan proses suatu kegiatan maupun perubahan kualitas

lingkungan yang diakibatkannya, karena proses suatu kegiatan tidak selalu


dalam kondisi normal atau optimal.
2. Evaluasi Tingkat Kritis (criticial level evaluation)
Evaluasi tingkat kritis dimaksudkan untuk menilai tingkat kekritisan (critical
level) dari suatu dampak. Evaluasi tingkat kritis dapat dilakukan dengan data
hasil pemantauan dari waktu ke waktu maupun data dari pemantauan sesaat.
Evaluasi tingkat kritis adalah evaluasi terhadap potensi risiko dimana suatu
kondisi akan melebihi baku mutu atau standar lainnya, baik untuk periode
waktu saat ini maupun waktu mendatang.
3. Evaluasi Penaatan (compliance evaluation).
Evaluasi penaatan adalah evaluasi terhadap tingkat kepatuhan dari
pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi berbagai ketentuan yang terdapat
dalam izin atau pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam
dokumen pengelolaan lingkungan hidup (RKL-RPL).
Ketiga jenis evaluasi di atas dapat dilakukan untuk menilai tingkat penaatan
terhadap ketentuan yang berlaku mau pun untuk menilai kinerja pengelolaan
lingkungan hidup dari suatu usaha dan atau kegiatan.
BAB III KESIMPULAN
Uraikan dalam bab ini hal-hal penting yang dihasilkan dari pelaksanaan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup. Dalam bab ini dapat diuraikan pula temuan dan
usulan untuk perbaikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
selanjutnya,yaitu:
1. Kesimpulan mengenai efektivitas pengelolaan lingkungan hidup dan kendalakendala yang dihadapi;
2. Kesimpulan mengenai kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan
pemantauan lingkungan dengan rencana pengelolaan dan pemantauan dalam
dokumen RKL dan RPL.

4.

MONITORING DAN EVALUASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR


LIMBAH

4.1. Pengumpulan Data


Monitoring/pemantauan sistem pengelolaan air limbah perlu dilakukan tidak hanya untuk
melihat efisiensi setiap unit pengolahan yang ada namun juga untuk melihat bagaimana kualitas
effluent limbah (baik lumpur maupun airnya) sebelum dibuang ke badan air ataupun ke
684

lingkungan lainnya. Kualitas effluent diperiksa di laboratorium dan selanjutnya dibandingkan


dengan standar baku mutu yang ada.
Saat ini standar baku mutu yang berlaku baik untuk IPLT maupun IPAL mengacu pada Baku
mutu efluen (Effluent Standard) untuk air limbah yang diatur dalam Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup nomor 112 tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik yang
mensyaratkan bahwa baku mutu untuk tiap parameter adalah kadar maksimumnya seperti
tercantum dalam Tabel 1 berikut:

Tabel 4.1 Baku Mutu Air Limbah Domestik


Parameter

Satuan

pH

Kadar Maksimum
6 -10

BOD

mg/L

100

TSS

mg/L

100

Lemak dan minyak

mg/L

10

Dalam pasal 2 dan pasal 4 di tegaskan bahwa baku mutu tersebut berlaku bagi:
a. semua kawasan permukiman (real estate), kawasan perkantoran, kawasan
b. perniagaan, dan apartemen
c. rumah makan (restauran) yang luas bangunannya lebih dari 1000 meter persegi
d. asrama yang berpenghuni 100 (seratus) orang atau lebih
selain itu baku mutu tersebut hanya berlaku untuk pengolahan air limbah domestik terpadu.
Baku mutu air limbah domestik daerah dapat ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi
dengan ketentuan sama atau lebih ketat dan apabila baku mutu air limbah domestik daerah
belum ditetapkan, maka berlaku baku mutu air limbah domestik secara nasional. Apabila hasil
kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal) atau hasil kajian Upaya
Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dari usaha dan
atau kegiatan mensyaratkan baku mutu air limbah domestik lebih ketat, maka diberlakukan
baku mutu air limbah domestik sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Amdal atau UKL dan
UPL. Beberapa provinsi memiliki Baku mutu air limbah domestik daerah yang lebih ketat
daripada baku mutu air limbah domestik secara nasional.
Format pengumpulan data harian, bulanan, catur wulan dan enam bulanan dapat dilihat pada
table-tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Contoh Catatan Pemeriksaan Harian


Tanggal: _______________
No
1

Nama Servis
Pompa angkat

Item Pemeriksaan
1

Suara, getaran, dan panas


Pengukuran Arus Listrik

Temperatur Bearing (diukur


dengan tangan)

Gate / Pintu air

Minyak pada bagian berulir pada


spindle

Sand Pump

Penurunan flow rate akibat


penyumbatan

Cyclone
Separator /
Screw
Separator

Catatan pasir yang dipindahkan


dari sand pot

Aerator (jika
ada)

Pengukuran Arus Listrik

Temperatur Bearing (diukur


dengan tangan)

Service Water
Pump

Suara, getaran, dan panas

Temperatur Bearing (diukur


dengan tangan)

Derek /

Suara

Rake screen

disimpan dan diberi tutup jika tidak


sedang digunakan

pemeriksaan aspek keamanan saat


pengoperasian
3
8

Saringan kasar
(Coarse
ScreenI

Membersihkan sludge dari saringan


dan memeriksa catatannya.

Unit

Kebocoran

686

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

No

10

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Pembuangan
Lumpur

Engine
generator

pengoperasian Pompa /
pengoperasian kapal keruk
Jumlah minyak pelumas, air
pendingin dan minyak bahan bakar
air cleaner

kekencangan pada belt, kabel, dll

3
Keterangan: Dalam kondisi baik
X Tidak baik/rusak

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Tabel 4.3 Contoh Catatan Pemeriksaan Mingguan


Tanggal: _____________________
No
1

Nama Servis

Item Pemeriksaan
1

Lift pump

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Memeriksa tinggi permukaan


minyak pada grease tank dan
pengisian kembali
minyak pelumas

Aerator (jika
ada)

Minyak pelumas

Kekencangan belt

Service water
pump

Minyak pelumas

Derek /

Minyak pelumas

Inlet
pompa/float
switch
(tersumbat oleh lumpur)

Rake screen
5

Unit
Pembuangan
Lumpur

sambungan pipa yang longgar


2

Sambungan kabel/selang yang


longgar

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

Tabel 4.4 Contoh Catatan Pemeriksaan Bulanan


Tanggal: _______________
No
1

688

Nama Servis
Lift pump

Item Pemeriksaan
1 Mengencangkan baut yang longgar
(termasuk baut pondasi)

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Aerator (jika
ada)

1 Kekencangan drivebelt

Unit Pembuang
Lumpur

1 Mengencangkan baut yang longgar

Derek /

1 Pengoperasian tanpa beban untuk


mencegah tidak mengoperasikan
dalam waktu yang lama, karena
generator tidak dalam pengoperasian
secara konstan

Rake screen

perubahan air pendingin


perubahan oli
perubahan minyak bahan bakar

1 Pengoperasian tanpa beban untuk


mencegah tidak mengoperasikan
dalam waktu yang lama, karena
generator tidak dalam pengoperasian
secara konstan.

Generator

perubahan air pendingin


perubahan minyak bahan bakar
Keterangan: Dalam kondisi baik
X Tidak baik/rusak

Tabel 4.5 Contoh Catatan Pemeriksaan Catur Wulanan


Tanggal: _____________
No

Nama Servis

Item Pemeriksaan

Lift pump

Penggantian minyak pelumas

Gate / pintu air

Pemberian grease baru pada


spindle

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Sand pump

pemeriksaan dan mengisi kembali


minyak pelumas

Aerator (jika
ada)

Mengganti minyak pelumas

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

Tabel 4.6. Contoh Catatan Pemeriksaan 6 (enam) Bulanan


Tanggal : ______________
No

Nama Servis

Service
pump

Engine
Generator

Item Pemeriksaan

water 1

Penggantian minyak
pelumas

Penggantian minyak
pelumas

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

690

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

Tabel 4.7 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan


Tanggal: ___________
N
o
1

Nama Servis
Lift pump

Item Pemeriksaan
1

Memperbaharui coating

Overhaul pada driving section


Abrasi pada saringan

Gate / pintu air

Sand pump

membuang pasir dari bagian hisap

memperbaharui coating

karat dan abrasi pada gate

sampah
yang
menempel
permukaan water-stop dan karat
serta kerusakannya

memperbaharui coating
bagian dalam impeller

perubahan dalam minyak pelumas

motor test insulation


onderdil yang perlu diganti

Cyclone separator 1
/ Screw separator

memperbaharui coating
overhaul

2
5

Aerator (jika ada)

memperbaharui coating
overhaul bagian bergerak

onderdil yang perlu diganti

3
6

Service
pump

water 1

memperbaharui coating
overhaul bagian yang bergerak

onderdil yang perlu diganti

Hasil
Pemeriksaan

Keterangan

N
o
7

Tabel 4.8 Contoh Catatan Pemeriksaan Tahunan (Lanjutan)


Hasil
Nama Servis
Item Pemeriksaan
Pemeriksaan
Derek / rake

Mengganti oli gear case


Mengganti oli roda trolley gear

Memperbaharui coating

3
8

Screen

Memperbaharui coating

Unit Pembuangan
Lumpur

memperbaharui coating

overhaul bagian dalam pompa /


tangki

abrasi katup-katup

Keterangan: Dalam kondisi baik


X Tidak baik/rusak

692

Keterangan

Tabel 4.9 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Jaringan Perpipaan


Uraian
Rencana /Kriteria
Kondisi Lapangan
Saran & Rencana
& Permasalahan
Tindak

No
1

KONDISI FISIK

LOKASI & LAHAN


1. Luas Jaringan pipa
2. Tata Ruang di Jaringan pipa
3. Kondisi Lingkungan

SAMBUNGAN RUMAH
1. Jumlah SR
a.

Permukiman

b. Non Permukiman
2. Jumlah Manfaat/Eqivalen (jiwa)
C

PIPA SR
1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa SR
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
a) Minimum

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

b) Maksimum
5. Kondisi Pipa
6. Status Pemanfaatan
D

INSPECTION CHAMBER
1. Jumlah IC
2. Bahan IC
3. Dimansi IC
4. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
5. Kondisi IC
6. Status Pemanfaatan

PIPA PELAYANAN /SERVICE


1.
2.

Bahan Pipa
Dimensi Pipa
a. Pipa pelayanan -1
b. Pipa pelayanan -2
c. dst

3.
694

Panjang Pipa

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

4.

Kedalaman Pemasangan
d. Minimum
e. Maksimum

5.
6.
F

Kondisi Pipa
Status Pemanfaatan

MANHOLE
1. Jumlah Manhole
2. Bahan Manhole
3. Diameter Manhole
4. Jarak maksimum tiap Manhole
5. Kedalaman Pemasangan
6. Minimum
7. Maksimum
8. Kondisi Manhole
9. Status Pemanfaatan

PIPA SEKUNDER /LATERAL


1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa
a. Pipa Sekunder -1

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

b. Pipa Sekunder -2
c. dst
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
5. Kondisi Pipa
H

LIFT PUMP
Pompa -1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Lokasi
Luas lahan
Jumlah Pompa
Kapasitas Pompa
Jenis Pompa
Sistem Pemompaan
Head Pompa
Kebutuhan Daya Listrik
Efisiensi Pompa
Kondisi Pompa

11. Kedalam pemasangan


12. Status Pemanfaatan
696

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

Pompa -2
1. Lokasi
2. Luas Lahan
3. Jumlah Pompa
4. Kapasitas Pompa
5. Jenis Pompa
6. Sistem Pemompaan
7. Head Pompa
8. Kebutuhan Daya Listrik
9. Efisiensi Pompa
10. Kondisi Pompa
11. Kedalam pemasangan
12. Status Pemanfaatan
dst .
I

PIPA INDUK /TRUNK SEWER


1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa
a. Pipa Induk -1
b. Pipa Induk -2

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

c. dst
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
d. Minimum
e. Maksimum
5. Kondisi Pipa
6. Status Pemanfaatan
J

RUMAH POMPA (BOSTER PUMP)


1. Lokasi Rumah Pompa
2. Luas lahan
3. Bahan Konstruksi
4. Dimensi Rumah Pompa
5. Elevasi dibawah Muka Tanah
6. Kondisi Rumah Pompa
7. Status Pemanfaatan

BOSTER PUMP
1. Lokasi
2. Jumlah Pompa
3. Jenis Pompa

698

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

4. Kapasitas Pompa
5. Head Pompa
6. Sistem Pemompaan
7. Kebutuhan Daya Listrik
8. Efisiensi Pompa
9. Kondisi Pompa
10. Status Pemanfaatan
L

PERALATAN
1.
2.
3.
4.
5.

KANTOR
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Penggunaan
Macamnya Peralatan
Jumlah
Kondisi Peralatan
Status Pemanfaatan

Luas Bagunan
Jumlah Petugas
Jumlah Ruangan
Kondisi Fisik Bangunan
Status Pemanfatan

POS JAGA

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1.
2.
3.
4.

Luas Bagunan
Jumlah Petugas
Kondisi Fisik Bangunan
Status Pemanfatan

II

KONDISI PENGELOLAAN

LEMBAGA PENGELOLA
1.
2.
3.
4.
5.

Bentuk Lembaga
Dasar Hukum
Jumlah Personil
Kompetensi
Job Discription

OPERASI & PEMELIHARAAN


PIPA
1. Pemantauan Pipa
2. Penggelontoran Pipa
3. Perbaikan Pipa

4. Penggantian Pipa
O & P PERALATAN
1. Jetty Cleaner
2.
Rodding Machine

D
700

O & P POMPA

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Perawatan Pompa
2. Perbaikan Pompa
3. Penggantian Pompa
4. Pengoperasian Pompa
E

PEMELIHARAAN MANHOLE
1. Perawatan Fisik
2. Pengursan Lumpur
3. Perbaikan Fisik

PEMBIAYAAN PENGELOLAAN
1. Biaya Personil
2. Biaya Pelatihan Personil
3. Biaya Pemeliharaan Pipa
4. Biaya Pemeliharaan Peralatan
5. Biaya Pemeliharan Manhole
6. Biaya Pemeliharaan Pompa
7. Biaya Operasional Pompa
8. Biaya Penggelontoran Pipa
9. Biaya Penyambungan Rumah

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

10. Biaya pemeliharaan Kantor &


Rumah Jaga
11. Biaya Listrik PLN
G

PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. PERDA Tarif
4. PERDA Tentang Air Limbah
5. Ada MOU antara pusat dan Daerah

PENGENDALIAN
1. Jenis yang dikendalikan
2. Durasi Pengendalian

PELATIHAN PERSONIL
1. Ketersediaan Program Pelatihan
2. Ketersediaan Prasarana & Sarana
Pelatihan
3. Pelaksanaan Pelatihan
4. JumlahPersonil yg sdh dilatih

J
702

SOSIALISASI

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan
& Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Ketersediaan program Sosilisasi


2. Ketersediaan Prasarana & Sarana
Sosialisasi
3. Pelaksanaan Sosialisasi
K

PENDAPATAN OPERASI
1. Tarif Retribusi Permukiman
2. Tariff Retribusi Non Permukiman
3. Pendapatan Operasi

RENCANA PENGEMBANGAN
1. Ketersediaan Master Plan
2. Ketersediaan Studi Kelayakan
3. AMDAL/Dok. Lingkungan
4. Ketersediaan Rencana Teknis/DED
5. Rencana Penambahan SR

No

Uraian

KONDISI FISIK

LOKASI & LAHAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penempatan /pemilihan
Lokasi
Status Kepemilikan Lahan
Luas Lahan IPAL
Radius lokasi dari pusat
kota
Tata
Ruang
Lahan
Sekitarnya
Kondisi Lingkungan

BAK PENERIMA
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas Pengolahan
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Debit rata-rata masuk
7. Kualitas BOD Yang
Masuk

704

Tabel 4.10 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan IPAL


Rencana /Kriteria
Kondisi Lapangan &
Saran & Rencana
Permasalahan
Tindak
3

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

POMPA ULIR
1. Jumlah Pompa
2. Jenis Pompa
3. Kapasitas Pompa
4. Head Pompa
5. Sistem Pemompaan
6. Kebutuhan Daya Listrik
7. Efisiensi Pompa
8. Kondisi Pompa
9. Status Pemanfaatan

GRIT CHAMBER
1. Ukuran Ruang
2. Jenis
3. Bahan
4. Jarak Grit
5. Status Pemanfaatan

KOLAM PENGERING
LUMPUR

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfatan
F

KOLAM ANAEROBIK
1. Jumlah Kolam
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas Pengolahan
5. Kondisi
6. Status Pemanfaatan
7. BOD In
8. BOD Out

KOLAM FAKULTATIF
1. Jumlah
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi

706

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

4. Kapasitas
5. Kondisi
6. Status Pemanfaatan
7. BOD In
8. BOD Out
H

KOLAM MATURASI
1. Jumlah Kolam
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas
5. Kondisi
6. Status Pemanfatan
7. BOD In
8. BOD Out

BADAN AIR PENERIMA


1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

4. Kondisi
5. Status Pemanfatan
6. Kualitas BOD Keluar
J

RUMAH POMPA LUMPUR


1. Rumah Pompa -1
a. Lokasi Rumah Pompa
b. Bahan Konstruksi
c. Dimensi Rumah
Pompa
d. Kondisi Rumah
Pompa
e. Status Pemanfaatan
2. Rumah Pompa -2
a. Lokasi Rumah Pompa
Balham Konstruksi
b. Dimensi Rumah
Pompa
3 .dst

K
708

POMPA LUMPUR

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
L

Jumlah Pompa
Jenis Pompa
Kapasitas Pompa
Sistem Pemompaan
Daya Listrik
Efisiensi Pompa
Kondisi Pompa
Status Pemanfaatan

GENSET
1. Jumlah Genset
2. Jenis Genset
3. Kapasitas Daya Genset
4. Kondisi Genset
5. Status Pemanfaatan

LABORATORIUM
1.

Luas Bagunan

2.

Jumlah Petugas

3.

Lingkup Pemeriksaan

4.

Jenis Peralatan

5.

Status Pemanfatan

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

KANTOR
1.

Luas Bagunan

2.

Jumlah Petugas

3.

Jumlah Ruangan

4.

Kondisi Kantor

5.

Status Pemanfatan

POS JAGA
1.

Luas Bangunan

2.

Jumlah Petugas
Keamanan

3.

Jumlah Ruangan

4.

Kondisi Fisik Bangunan

5.

Status Pemanfatan

SALURAN AIR HUJAN DI


IPAL
1.
2.
3.
4.
5.

710

Luas Tangkapan
Panjang Saluran
Bahan Saluran
Bentuk Saluran
Dimensi Saluran

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

6.
7.
8.
Q

Kapasitas
Kondisi Saluran
Status Pemanfaatan

JALAN DI LOKASI IPAL


1. Materia Perkerasan Jalan
2. Panjang
a. Lebar
b. Kondisi Fisik Jalan
3. Status Pemanfaatan

SISTEM PENERANGAN
1

Daya Listrik

Sistem Penerangan
a. Panjang Jaringan
b. Status pemanfataan

PAGAR PENGAMAN
1

Bahan Pagar

Tinggi Pagar

Panjang Pagar

Kondisi Pagar

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

Status Pemanfatan Pagar

II

KONDISI PENGELOLAAN

LEMBAGA PENGELOLA

712

Bentuk Lembaga

Dasar Hukum

Jumlah Personil

Kompetensi

Job Discription

O&P PIPA/SALURAN
PEMBAWA
1

Pemantauan Pipa

Penggelontoran Pipa

Perbaikan Pipa

Penggantian Pipa

O & P POMPA
1

Perawatan Pompa

Perbaikan Pompa

Penggantian Pompa

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

4
D

Pengoperasian Pompa

PEMELIHARAAN
MANHOLE
1

Perawatan Fisik

Pengursan Lumpur

Perbaikan Fisik

PEMBIAYAAN
PENGELOLAAN
1

Biaya Personil

Biaya Pelatihan Personil

Biaya Pemeliharaan Kolam


& SDB

Biaya Pemeliharan
Peralatan

Biaya Pemeliharaan
Pompa

Biaya Operasional Pompa

Biaya pemeliharaan Kantor


& Rumah Jaga

Biaya Listrik PLN

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

PENGATURAN

714

Ketersediaan SOP

Pemanfaatan SOP

PENGENDALIAN
1

Jenis yang dikendalikan

Durasi Pengendalian

Pemeriksaan BOD berkala

PELATIHAN PERSONIL
1

Ketersediaan Program
Pelatihan

Ketersediaan Prasarana &


Sarana Pelatihan

Pelaksanaan Pelatihan

Personil yg sdh dilatih

RENCANA
PENGEMBANGAN
1

Ketersediaan Master Plan

Ketersediaan Studi
Kelayakan

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

AMDAL/Dok. Lingkungan

Ketersediaan Rencana
Tenis

Rencana Penambahan SR

No

Uraian

KONDISI FISIK

LOKASI & LAHAN

Tabel 4.11 Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan IPAL dengan RBC


Rencana /Kriteria
Kondisi Lapangan &
Saran & Rencana
Permasalahan
Tindak
3

1. Penempatan /pemilihan
Lokasi
2. Status Kepemilikan Lahan
3. Luas Lahan IPAL
4. Radius lokasi dari pusat
kota
5. Tata
Ruang
Sekitarnya

Lahan

6. Kondisi Lingkungan
B

BAK PENERIMA
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas Pengolahan
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Debit rata-rata masuk

716

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

7. Kualitas BOD Yang


Masuk
C

BAK EKUALISASI
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan

ANAEROBIK
TREATMENT
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. BOD In
7. BOD Out

IPAL- RBC
1

BOD surface Loading

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

BOD Loading.

Hidraulik Loading

Jumlah limbah

Jumlah Stage ,

Kecepatan putaran
biasanya

Temperatur

BOD Out

SETTLING TANK
1

Bahan

Dimensi

Sisyem Operasi

Kapasitas

Status Pemanfaatan

BOD In

BOD Out

KOLAM PENGERING
LUMPUR
1. Bahan Konstruksi

718

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfatan
H

DESINFEKSI
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfaatan
6. Kualitas BOD Keluar

BADAN AIR PENERIMA


1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Status Pemanfatan

RUMAH POMPA LUMPUR

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

1. Rumah Pompa -1
c. Lokasi Rumah Pompa
f.

Bahan Konstruksi

g. Dimensi Rumah Pompa


h. Kondisi Rumah Pompa
i.

Status Pemanfaatan

2. Rumah Pompa -2
a. Lokasi Rumah Pompa
b. Bahan Konstruksi Dimensi
c. Rumah Pompa
3
dst
K

POMPA LUMPUR
1. Jumlah Pompa
2. Jenis Pompa
3. Kapasitas Pompa
4. Sistem Pemompaan
5. Daya Listrik

720

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

6. Efisiensi Pompa
7. Kondisi Pompa
8. Status Pemanfaatan
L

GENSET
1. Jumlah Genset
2. Jenis Genset
3. Kapasitas Daya Genset
4. Kondisi Genset
5. Status Pemanfaatan

LABORATORIUM
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Lingkup Pemeriksaan
4. Jenis Peralatan
5. Status Pemanfatan

KANTOR
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Kantor
5. Status Pemanfatan
O

POS JAGA
1. Luas Bangunan
2. Jumlah Petugas
Keamanan
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
5. Status Pemanfatan

SALURAN AIR HUJAN DI


IPAL
1
2
3
4
5
6
7
8

722

Luas Tangkapan
Panjang Saluran
Bahan Saluran
Bentuk Saluran
Dimensi Saluran
Kapasitas
Kondisi Saluran
Status Pemanfaatan

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

JALAN DI LOKASI IPAL


1
2
3
4
5

SISTEM PENERANGAN
1.
2.
3.
4.

Materia Perkerasan Jalan


Panjang
Lebar
Kondisi Fisisk Jalan
Status Pemanfaatan

Daya Listrik
Sistem Penerangan
Panjang Jaringan
Status pemanfataan

PAGAR PENGAMAN
1. Bahan Pagar
2. Tinggi Pagar
3. Panjang Pagar
4. Kondisi Pagar
5.

Status Pemanfatan Pagar

II

KONDISI PENGELOLAAN

LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personil
4. Kompetensi
5. Job Discription
B

OPERASI &
PEMELIHARAAN PIPA
1. Pemantauan Pipa
2. Penggelontoran Pipa
3. Perbaikan Pipa
4. Penggantian Pipa

O & P POMPA
1. Perawatan Pompa
2. Perbaikan Pompa
3. Penggantian Pompa
4. Pengoperasian Pompa

PEMELIHARAAN
MANHOLE
1. Perawatan Fisik
2. Pengursan Lumpur

724

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

3. Perbaikan Fisik
E

PEMBIAYAAN
PENGELOLAAN
1. Biaya Personil
2. Biaya Pelatihan Personil
3. Biaya Pemeliharaan RBC
4. Biaya Pemeliharan
Peralatan
5. Biaya Pemeliharaan
Pompa
6. Biaya Operasional Pompa
7. Biaya pemeliharaan Kantor
& Rumah Jaga
8. Biaya Listrik PLN

PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP

PENGENDALIAN
1. Jenis yang dikendalikan

No

Uraian

Rencana /Kriteria

Kondisi Lapangan &


Permasalahan

Saran & Rencana


Tindak

2. Durasi Pengendalian
3. Pemeriksaan BOD
Berkala
H

PELATIHAN PERSONIL
1. Ketersediaan Program
Pelatihan
2. Ketersediaan Prasarana &
Sarana Pelatihan
3. Pelaksanaan Pelatihan
4. Jumlah personil yg dilatih

RENCANA
PENGEMBANGAN
1
2
3
4
5

726

Ketersediaan Master Plan


Ketersediaan Studi
Kelayakan
Ketersediaan Rencana
Teknis/DED
Rencana Penambahan SR
AMDAL /Dok.
Lingkungan

4.2. Pelaporan
Pelaporan sama dengan sub bab 3.2

5.

INDIKATOR DAN KRITERIA PENILAIAN

Monitoring dan evaluasi tidak hanya dilakukan pada kinerja operasional IPLT atau IPAL tapi
juga menyangkut keseluruhan manajemen IPLT dan IPAL yang meliputi, dan memiliki
indikator serta kriteria penilaian (Penilaian PKPD PU, 2012) sehingga memacu untuk
memperoleh skor lebih tinggi dengan melakukan perbaikan sistem :
a. Aspek Non Fisik :
- Peraturan kelembagaan
- Manajemen pembangunan
b. Aspek Fisik :
- Fungsi
- Kondisi O dan P

728

Tabel 5.1 Komponen Penilaian dan IndikatorPengelolaan IPAL/IPLT


Skala Penilaian
Komponen yang Dinilai
Peraturan dan
Kelembagaan

Manajemen Pembangunan

Indikator

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

91-100

81-90

61-80

<60

Peraturan Perundangan /
Peraturan Daerah (PERDA)

Ada 3, ada
penyesuaian tarif
retribusi

Ada 2

Ada 1

Tidak ada

Pemisahan Fungsi Regulator


& Operator

Ada antar instansi,


berfungsi

Ada antar
instansi

Ada dalam satu


instansi

Tidak ada

Tingkat Esselon Institusi


Pengelola Air Limbah

Eselon II

Eselon III

Eselon IV

Staf

SDM Pengelola Air Limbah


IPAL

Struktural setingkat
sarjana lebih dari 1
orang, operator
setingkat SLTA > 3
orang dan sarjana
muda 1 orang

Struktural
setingkat sarjana
1 orang,
operator
setingkat SLTA
min 3 orang

Struktural
minimal sarjana
muda, operator
lulusan SMA dan
terlatih min 2
orang

Tidak ada sarjana


muda (minimal),
tidak ada operator
lulusan SLTA

SDM Pengelola Air Limbah


IPLT

Struktural setingkat
sarjana lebih dari 1
orang, operator
setingkat SLTA > 3
orang dan sarjana
muda 1 orang

Struktural
setingkat sarjana
1 orang,
operator
setingkat SLTA
min 3 orang

Struktural
minimal sarjana
muda, operator
lulusan SMA dan
terlatih min 2
orang

Tidak ada sarjana


muda (minimal),
tidak ada operator
lulusan SLTA

Dokumen Perencanaan,DED

Ada dokumen
perencanaan dan
sepenuhnya

Ada dokumen
perencanaan dan
dilaksanakan

Ada dokumen
perencanaan,
kadaluarsa

Tidak ada dokumen


perencanaan

Skala Penilaian
Komponen yang Dinilai

Data Fisik Prasarana

Data Fisik Prasarana

Fungsi Prasarana Air


Limbah

Indikator

Baik

Cukup

Kurang

91-100

81-90

61-80

<60

dilaksanakan

sebagian

kegiatan

Kesesuaian Pelaksanaan
Pembangunan dengan
Perencanaan

Sesuai

Kurang sesuai

Tidak sesuai

Pembangunan
tanpa perencanaan

Tingkat Pelayanan Saat ini

> 65%

6-65%

55-60%

<55%

Sistem Pengolahan Air


Limbah Terpusat (IPAL)

baik

Rusak ringansedang

Rusak berat

Tidak ada

Sistem Pengolahan Air


Limbah Setempat (IPLT)

baik

Rusak ringansedang

Rusak berat

Tidak ada

Sistem Pengolahan Air


Limbah komunal

baik

Rusak ringansedang

Rusak berat

Tidak ada

Fasilitas Pendukung IPAL /


IPLT

Memiliki jalan
masuk, air bersih,
bak pengering
lumpur, buffer zone,
laboratorium,
bengkel, gudang,
pagar, rumah jaga

Memiliki jalan
masuk, air
bersih, bak
pengering
lumpur, buffer
zone,
laboratorium,
bengkel,
gudang, pagar

Memiliki jalan
masuk, air bersih,
bak pengering
lumpur, buffer
zone,
laboratorium,
bengkel

Memiliki jalan
masuk, air bersih,
bak pengering
lumpur

Berfungsinya Sistem
Pengolahan Air Limbah
Terpusat

Berfungsi, kapasitas
> 71%, berfungsi 3

Berfungsi
kapasitas 5170%, berfungsi
2

Berfungsi,
kapasitas < 50%,
berfungsi 1

Tidak berfungsi

Kapasitas pemakaian IPAL


730

Sangat Baik

Skala Penilaian
Komponen yang Dinilai

Indikator

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

91-100

81-90

61-80

<60

telah 100 %
Jaringan perpipaan sudah
difungsikan ?
Berfungsinya Sistem IPLT :
Kapasitas pemakaian IPLT
telah 100 %

Berfungsi, kapasitas
> 71%, berfungsi 3

Berfungsi
kapasitas 5170%, berfungsi
2

Berfungsi,
kapasitas < 50%,
berfungsi 1

Tidak berfungsi

Pengolahan Air Limbah Skala


Kecil / Kawasan / Komunitas
masih berfungsi

Berfungsi, kapasitas
> 71%, berfungsi 3

Berfungsi
kapasitas 5170%, berfungsi
2

Berfungsi,
kapasitas < 50%,
berfungsi 1

Tidak berfungsi

Fasilitas pendukung IPAL /


IPLT

Berfungsi, kapasitas
> 71%, berfungsi 3

Berfungsi
kapasitas 5170%, berfungsi
2

Berfungsi,
kapasitas < 50%,
berfungsi 1

Tidak berfungsi

Effluen IPAL sudah


memenuhi baku mutu yang
ditetapkan

Efluen memenuhi
standar

Kualitas efluen
20% di bawah
standar

Kualitas efluen
21-39% di bawah
standar

Kualitas efluen
tidak memenuhi
standar

Dana O&P untuk sistem


perpipaan

Rp. 90.000
/org/tahun

Rp. 60.000
/org/tahun

< Rp. 60.000


/org/tahun

Tidak ada

Pencatatan volume lumpur


tinja yang masuk

1 bulan sekali

3 bulan sekali

6 bulan sekali

Tidak ada

Dana O&P untuk sistem

>Rp 5.000/m3

Rp 5.000/m3

Rp 2.000/m3

Tidak ada

Truk tinja beroperasi setiap


hari?

Kondisi Operasi dan


Pemeliharaan

Skala Penilaian
Komponen yang Dinilai

Indikator

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

91-100

81-90

61-80

<60

IPLT

732

Truck tinja yg dimiliki pemda Beroperasi efisien


dapat dioperasikan
dan terawat bersih

Beroperasi dan
terawat

Kurang
dioperasikan dan
kurang terawat

Tidak dioperasikan
dan tidak terawat

Kualitas efluen dianalisa


secara rutin

Dianalisa teratur
minimal 3 bulan
sekali

Dianalisa
berkala 6 bulan
sekali

Dianalisa
kadang-kadang

Tidak dianalisa

Sistem Pengolahan Air


Limbah skala Kecil /
Kawasan / Komunitas
terpelihara dengan baik

Terawat baik

Ada
pemeliharaan,
kerusakan alat
10-30%

Pemeliharaan
kurang,
kerusakan alat
30-50%

Tidak terawat

Fasilitas pendukung

Terawat baik

Ada
pemeliharaan,
kerusakan alat
10-30%

Pemeliharaan
kurang,
kerusakan alat
30-50%

Tidak terawat

MODUL 15
PANDUAN KUNJUNGAN LAPANGAN

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

C I P T A

U M U M
K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

DAFTAR ISI
1.

2.

3.

PENDAHULUAN .................................................................................................... 733


1.1

Maksud dan Tujuan........................................................................................... 733

1.2

Kompetensi yang Diharapkan ........................................................................... 733

1.3

Metodologi Kunjungan Lapangan .................................................................... 733

1.4

Sistematika Laporan Kunjungan Lapangan ...................................................... 733

KUNJUNGAN KE IPLT ......................................................................................... 734


2.1

Pengelolaan Truk Tinja ..................................................................................... 734

2.2

Pengelolaan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).................................. 735

KUNJUNGAN KE IPAL ......................................................................................... 740


3.1

Pengelolaan Jaringan Perpipaan ....................................................................... 740

3.2

Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ..................................... 744

PANDUAN KUNJUNGAN LAPANGAN


1.
1.1

PENDAHULUAN
Maksud dan Tujuan

Panduan Kunjungan Lapangan adalah modul yang bertujuan untuk memberikan bekal kepada
peserta diseminasi agar peserta dapat memahami, menjelaskan, menganalisis khususnya dalam
pengamatan lapangan secara terpadu. Peserta melihat dan mengamati secara langsung
permasalahan di lapangan yang berkaitan dengan pengelolaan bidang air limbah dan dapat
membuat deskripsi teoritis dan analitis dari sudut pandang bidang yang bersangkutan serta
memberikan / menjelaskan alternatif pemecahannya dalam bentuk laporan.

1.2

Kompetensi yang Diharapkan

Kompetensi dasar yang ingin dicapai setelah peserta diseminasi melakukan kunjungan lapangan
adalah peserta dapat:
1. Memahami tujuan dan manfaat kunjungan lapangan
2. Memahami manfaat observasi lapangan, pembekalan materi dan teknis
3. Melakukan pengamatan/ obsevasi dan pengumpulan data di lapangan/lokasi
4. Menjelaskan hasil data observasi lapangan yang diperoleh selama kunjungan lapangan
5. Membuat laporan kunjungan lapangan

1.3

Metodologi Kunjungan Lapangan

Metodologi kunjungan lapangan :


1. Pemahaman obyek kunjungan lapangan
2. Pengumpulan data lapangan
3. Pembuatan laporan

1.4

Sistematika Laporan Kunjungan Lapangan

Sistematika laporan kunjungan lapangan adalah sebagai berikut :

733

Bab I Pendahuluan
Bab II Gambaran Umum Lapangan/Lokasi yang dikunjungi
Bab III Permasalahan dan Pembahasan
Bab IV Kesimpulan dan Saran

2.

KUNJUNGAN KE IPLT

2.1

Pengelolaan Truk Tinja

Data-data yang harus dikumpulkan mengenai pengelolaan truk tinja dapat dilihat pada Tabel 2.1
berikut ini.

No
I
A

II
A

734

Tabel 2.1 Daftar Data yang dibutuhkan terkait Pengelolaan Truk Tinja
Uraian
Hasil Observasi
KONDISI FISIK
TRUK TINJA
1. Jenis
2. Jumlah
3. Kapasitas
4. Kondisi
POOL TRUK TINJA
1. Luas Bangunan
2. Jumlah Petugas
3. Kondisi
RUMAH JAGA
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas Keamanan
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
KONDISI PENGELOLAAN
LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga
2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personil
4. Job Discription
OPERASI & PEMELIHARAAN TRUK TINJA
1. Pemeliharaan
2. Perbaikan
3. Penggantian Peralatan

No
C

F
G

2.2

Uraian

Hasil Observasi

BIAYA OPERASI
1. Biaya Personil
2. Biaya Pemeliharaan
3. Biaya Operasional
PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. PERDA Tarif
PENDAPATAN OPERASI
1. Tarif Pembuangan LumpurTinja
2. Pendapatan Operasi
3. Jumlah Truk masuk/hari
RENCANA PENGEMBANGAN
1. Penambahan Armada
PERMASALAHAN

Pengelolaan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)

Data-data yang harus dikumpulkan mengenai pengelolaan IPLT dapat dilihat pada Tabel 2.2
berikut ini.
Tabel 2.2 Daftar Data yang dibutuhkan terkait Pengelolaan IPLT
No
I
A

Uraian

Hasil Observasi Lapangan

KONDISI FISIK
LOKASI & LAHAN
1. Penempatan /pemilihan Lokasi
2. Status Kepemilikan Lahan
3. Luas Lahan IPLT
4. Radius lokasi dari pusat kota
5. Kondisi Lingkungan
IMHOF TANK
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas Pengolahan
4. Kondisi
5. Debit rata-rata masuk
6. Kualitas BOD Yang Masuk

735

No
C

736

Uraian
KOLAM ANAEROBIK
1. Jumlah Kolam
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas Pengolahan
5. Kondisi
6. BOD in
7. BOD Out
KOLAM FAKULTATIF
1. Jumlah
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas
5. Kondisi
6. BOD in
7. BOD Out
KOLAM MATURASI
1. Jumlah Kolam
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas
5. Kondisi
6. BOD in
7. BOD Out
SALURAN PEMBUANGAN AKHIR
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Kualitas BOD Keluar
KOLAM PENGERING LUMPUR
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
RUMAH POMPA
1. Rumah Pompa -1
a. Lokasi Rumah Pompa
b. Bahan Konstruksi

Hasil Observasi Lapangan

No

Uraian

Hasil Observasi Lapangan

c. Dimensi Rumah Pompa


d. Kondisi Rumah Pompa
2. Rumah Pompa -2
dst
POMPA
1. Jumlah Pompa
2. Jenis Pompa
3. Kapasitas Pompa
4. Sistem Pemompaan
5. Daya Listrik
6. Kondisi Pompa
GENSET
1. Jumlah Genset
2. Jenis Genset
3. Kapasitas Daya Genset
4. Kondisi Genset
LABORATORIUM
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Lingkup Pemeriksaan
4. Jenis Peralatan
KANTOR
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Kantor
RUMAH JAGA
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas Keamanan
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
SALURAN AIR HUJAN DI IPLT
1. Luas tangkapan
2. Panjang Saluran
3. Bahan Saluran
4. Pemanfaatan Lumpur
5. Bentuk Saluran
6. Dimensi Saluran
7. Kapasitas

737

No
O

II
A

738

Uraian
8. Kondisi Saluran
JALAN DI LOKASI IPLT
1 Materia Perkerasan Jalan
2 Panjang
3. Lebar
4. Kondisi Fisisk Jalan
SISTEM PENERANGAN
1. Daya Listrik
2. Sistem Penerangan
3. Panjang Jaringan
PAGAR PENGAMAN
1 Bahan Pagar
2 Tinggi Pagar
3 Panjang Pagar
4 Kondisi Pagar
KONDISI PENGELOLAAN
LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga
2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personil
4. Diskripsi tugas
OPERASI & PEMELIHARAAN IPLT
1. Pemantauan IPLT
2. Pemeliharaan Fisik IPLT
3. Pengerukan Lumpur
4. Perbaikan Fisik IPLT
5. Penggantian Peralatan
O & P POMPA
1. Perawatan Pompa
2. Perbaikan Pompa
3. Penggantian Pompa
4. Pengoperasian Pompa
O & P GENSET
1. Perawatan Genset
2. Perbaikan Genset
3. Penggantian Genset
4. Pengoperasian Genset
PEMBIAYAAN PENGELOLAAN
1. Biaya Personil

Hasil Observasi Lapangan

No

Uraian

Hasil Observasi Lapangan

2. Biaya Pelatihan Personil


3. Biaya Pemeliharaan IPLT
4. Biaya Pemeliharaan Pompa
5. Biaya Operasional Pompa
6. Biaya Pemeliharaan Genset
7. Biaya Operasional Genset
8. Biaya Listrik PLN
PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. PERDA Tarif
4. PERDA Tentang Air Limbah
PENGENDALIAN
1. Jenis yang dikendalikan
2. Durasi Pengendalian
3. Pemeriksaan Kualitas BOD
PELATIHAN PERSONIL
1. Ketersediaan Program Pelatihan
2. Ketersediaan Prasarana & Sarana Pelatihan
3. Pelaksanaan Pelatihan
SOSIALISASI
1. Ketersediaan program Sosilisasi
2. Ketersediaan Prasana & Sarana Sosilisasi
3. Pelaksanaan Sosilisasi
PENDAPATAN OPERASI
1. Tarif Pembungan LumpurTinja
2. Pendapatan Operasi
RENCANA PENGEMBANGAN
1. Ketersediaan Master Plan
2. Ketersediaan Studi Kelayakan
3. Ketersediaan Rencana Tenkis
4. Rencana Penambahan Kapasitas IPLT
PERMASALAHAN

739

3.
3.1

KUNJUNGAN KE IPAL
Pengelolaan Jaringan Perpipaan

Data-data yang harus dikumpulkan mengenai pengelolaan jaringan perpipaan dapat dilihat pada
Tabel 3.1 berikut ini.

No
I
A

740

Tabel 3.1 Daftar Data yang dibutuhkan terkait Pengelolaan Jaringan Perpipaan
Uraian
Hasil Observasi Lapangan
KONDISI FISIK
LOKASI & LAHAN
1. Luas Jaringan pipa
2. Tata Ruang di Jaringan pipa
3. Kondisi Lingkungan
SAMBUNGAN RUMAH
1. Jumlah SR
a. Permukiman
b. Non Permukiman
2. Jumlah Manfaat/Eqivalen (jiwa)
PIPA SR
1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa SR
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
a) Minimum
b) Maksimum
5. Kondisi Pipa
INSPECTION CHAMBER
1. Jumlah IC
2. Bahan IC
3. Dimensi IC
4. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
5. Kondisi IC
PIPA PELAYANAN /SERVICE
1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa
a. Pipa pelayanan -1
b. Pipa pelayanan -2
c. dst
3. Panjang Pipa

No

Uraian
4. Kedalaman Pemasangan
d. Minimum
e. Maksimum
5. Kondisi Pipa
MANHOLE
1. Jumlah Manhole
2. Bahan Manhole
3. Diameter Manhole
4. Jarak maksimum tiap Manhole
5. Kedalaman Pemasangan
6. Minimum
7. Maksimum
8. Kondisi Manhole
PIPA SEKUNDER /LATERAL
1. Bahan Pipa
2. Dimensi Pipa
a. Pipa Sekunder -1
b. Pipa Sekunder -2
c. dst
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
a. Minimum
b. Maksimum
5. Kondisi Pipa
LIFT PUMP
Pompa -1
1. Lokasi
2. Luas lahan
3. Jumlah Pompa
4. Kapasitas Pompa
5. Jenis Pompa
6. Sistem Pemompaan
7. Head Pompa
8. Kebutuhan Daya Listrik
9. Kondisi Pompa
10. Kedalaman pemasangan
Pompa -2
11. dst .
PIPA INDUK /TRUNK SEWER
1. Bahan Pipa

Hasil Observasi Lapangan

741

No

742

Uraian
2. Dimensi Pipa
a. Pipa Induk -1
b. Pipa Induk -2
c. dst
3. Panjang Pipa
4. Kedalaman Pemasangan
d. Minimum
e. Maksimum
5. Kondisi Pipa
RUMAH POMPA (BOSTER PUMP)
1. Lokasi Rumah Pompa
2. Luas lahan
3. Bahan Konstruksi
4. Dimensi Rumah Pompa
5. Elevasi dibawah Muka Tanah
6. Kondisi Rumah Pompa
BOSTER PUMP
1. Lokasi
2. Jumlah Pompa
3. Jenis Pompa
4. Kapasitas Pompa
5. Head Pompa
6. Sistem Pemompaan
7. Kebutuhan Daya Listrik
8. Efisiensi Pompa
9. Kondisi Pompa
PERALATAN LAIN
1. Jenis Penggunaan
2. Macamnya Peralatan
3. Jumlah
4. Kondisi Peralatan
KANTOR
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
5. Status Pemanfatan
POS JAGA
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas

Hasil Observasi Lapangan

No
II
A

Uraian
3. Kondisi Fisik Bangunan
KONDISI PENGELOLAAN
LEMBAGA PENGELOLA
1. Bentuk Lembaga
2. Dasar Hukum
3. Jumlah Personi
4. Job Discription

Hasil Observasi Lapangan

OPERASI & PEMELIHARAAN PIPA


1. Pemantauan Pipa
2. Penggelontoran Pipa
3. Perbaikan Pipa
4. Penggantian Pipa
O & P PERALATAN
1. Jetty Cleaner
2. Rodding Machine
O & P POMPA
1. Perawatan Pompa
2. Perbaikan Pompa
3. Penggantian Pompa
4. Pengoperasian Pompa
PEMELIHARAAN MANHOLE
1. Perawatan Fisik
2. Pengursan Lumpur
3. Perbaikan Fisik
PEMBIAYAAN PENGELOLAAN
1. Biaya Personil
2. Biaya Pelatihan Personil
3. Biaya Pemeliharaan Pipa, peralatan, manhole,
pompa
4. Biaya Penggelontoran Pipa
5. Biaya Penyambungan Rumah
6. Biaya pemeliharaan Kantor & Rumah Jaga
7. Biaya Listrik PLN
PENGATURAN
1. Ketersediaan SOP
2. Pemanfaatan SOP
3. PERDA Tarif
4. PERDA Tentang Air Limbah
5. Ada MOU antara pusat dan Daerah
PELATIHAN PERSONIL

743

No

3.2

Uraian
1. Ketersediaan Program Pelatihan
2. Ketersediaan Prasarana & Sarana Pelatihan
3. Pelaksanaan Pelatihan
4. JumlahPersonil yg sdh dilatih
SOSIALISASI
1. Ketersediaan program Sosilisasi
2. Ketersediaan Prasarana & Sarana Sosialisasi
3. Pelaksanaan Sosialisasi
PENDAPATAN OPERASI
1. Tarif Retribusi Permukiman
2. Tariff Retribusi Non Permukiman
3. Pendapatan Operasi
RENCANA PENGEMBANGAN
1. Ketersediaan Master Plan
2. Ketersediaan Studi Kelayakan
3. AMDAL/Dok. Lingkungan
4. Ketersediaan Rencana Teknis/DED
5. Rencana Penambahan SR
Permasalahan

Hasil Observasi Lapangan

Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Data-data yang harus dikumpulkan mengenai pengelolaan IPAL dapat dilihat pada Tabel 3.2
berikut ini..

No
I
A

744

Tabel 3.2 Daftar Data yang dibutuhkan terkait Pengelolaan IPAL


Uraian
Hasil Observasi Lapangan
KONDISI FISIK
LOKASI & LAHAN
1. Penempatan /pemilihan Lokasi
2. Status Kepemilikan Lahan
3. Luas Lahan IPAL
4. Radius lokasi dari pusat kota
5. Tata Ruang Lahan Sekitarnya
6. Kondisi Lingkungan
BAK PENERIMA
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas Pengolahan

No

Uraian

Hasil Observasi Lapangan

4. Kondisi
5. Debit rata-rata masuk
6. Kualitas BOD Yang Masuk
POMPA ULIR
1. Jumlah Pompa
2. Jenis Pompa
3. Kapasitas Pompa
4. Head Pompa
5. Sistem Pemompaan
6. Kebutuhan Daya Listrik
7. Kondisi Pompa
GRIT CHAMBER
1. Ukuran Ruang
2. Jenis
3. Bahan
4. Jarak Grit
KOLAM PENGERING LUMPUR
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
UNIT PENGOLAHAN
1. Jumlah
2. Bahan Konstruksi
3. Dimensi
4. Kapasitas Pengolahan
5. Kondisi
6. BOD In
7. BOD Out
BADAN AIR PENERIMA
1. Bahan Konstruksi
2. Dimensi
3. Kapasitas
4. Kondisi
5. Kualitas BOD Keluar
RUMAH POMPA LUMPUR
1. Rumah Pompa -1
a. Lokasi Rumah Pompa
b. Bahan Konstruksi
c. Dimensi Rumah Pompa

745

No

746

Uraian
d. Kondisi Rumah Pompa
e. Status Pemanfaatan
2. Rumah Pompa -2
a. Lokasi Rumah Pompa Balham Konstruksi
b. Dimensi Rumah Pompa
3 .dst
POMPA LUMPUR
1. Jumlah Pompa
2. Jenis Pompa
3. Kapasitas Pompa
4. Sistem Pemompaan
5. Daya Listrik
6. Kondisi Pompa
GENSET
1. Jumlah Genset
2. Jenis Genset
3. Kapasitas Daya Genset
4. Kondisi Genset
LABORATORIUM
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Lingkup Pemeriksaan
4. Jenis Peralatan
KANTOR
1. Luas Bagunan
2. Jumlah Petugas
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Kantor
POS JAGA
1. Luas Bangunan
2. Jumlah Petugas Keamanan
3. Jumlah Ruangan
4. Kondisi Fisik Bangunan
SALURAN AIR HUJAN DI IPAL
1. Luas Tangkapan
2. Panjang Saluran
3. Bahan Saluran
4. Bentuk Saluran
5. Dimensi Saluran
6. Kapasitas

Hasil Observasi Lapangan

No
Q

II
A

Uraian

Hasil Observasi Lapangan

7. Kondisi Saluran
JALAN DI LOKASI IPAL
1. Materia Perkerasan Jalan
2. Panjang
a. Lebar
b. Kondisi Fisik Jalan
SISTEM PENERANGAN
1 Daya Listrik
2 Sistem Penerangan
PAGAR PENGAMAN
1 Kondisi Pagar
2 Status Pemanfatan Pagar
KONDISI PENGELOLAAN
LEMBAGA PENGELOLA
1 Bentuk Lembaga
2 Dasar Hukum
3 Jumlah Personil
4 Job Discription
O&P PIPA/SALURAN PEMBAWA
1 Pemantauan Pipa
2 Penggelontoran Pipa
3 Perbaikan Pipa
4 Penggantian Pipa
O & P POMPA
1 Perawatan Pompa
2 Perbaikan Pompa
3 Penggantian Pompa
4 Pengoperasian Pompa
PEMELIHARAAN MANHOLE
1 Perawatan Fisik
2 Pengurasan Lumpur
3 Perbaikan Fisik
PEMBIAYAAN PENGELOLAAN
1 Biaya Personil
2 Biaya Pelatihan Personil
3 Biaya Pemeliharaan Kolam & SDB
4 Biaya Pemeliharan Peralatan
5 Biaya Pemeliharaan Pompa
6 Biaya Operasional Pompa
7 Biaya pemeliharaan Kantor & Rumah Jaga

747

No
F

748

Uraian
8 Biaya Listrik PLN
PENGATURAN
1 Ketersediaan SOP
2 Pemanfaatan SOP
PENGENDALIAN
1 Jenis yang dikendalikan
2 Durasi Pengendalian
3 Pemeriksaan BOD berkala
PELATIHAN PERSONIL
1 Ketersediaan Program Pelatihan
2 Ketersediaan Prasarana & Sarana Pelatihan
3 Pelaksanaan Pelatihan
4 Personil yg sdh dilatih
RENCANA PENGEMBANGAN
1 Ketersediaan Master Plan
2 Ketersediaan Studi Kelayakan
3 AMDAL/Dok. Lingkungan
4 Ketersediaan Rencana Tenis
5 Rencana Penambahan SR

Hasil Observasi Lapangan

MODUL 16
STUDI KASUS

K E M E N T E R I A N
D I R E K T O R A T

P E K E R J A A N

J E N D E R A L

C I P T A

U M U M
K A R Y A

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN

Daftar Isi
1.

KASUS ........................................................................................................................... 749

2.

TUGAS KELOMPOK .................................................................................................... 750


2.1

Kelompok I .............................................................................................................. 750

2.2

Kelompok II ............................................................................................................ 750

2.3

Kelompok III ........................................................................................................... 751

STUDI KASUS
INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA
1.

KASUS

Kota A jumlah penduduknya pada tahun 2011 adalah sebesar 561.576 jiwa.
Data-data profil kota A :
PDAM, pelayanan air minum telah mencapai 60%.
Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) dengan kapasitas terpasang 70 m3/hari. Tingkat
pelayanan IPLT saat ini mencapai 30.000 jiwa.
Penduduk yang memiliki tangki septik 60%, yang dilayani IPAL 25% dan selebihnya 15%
belum memiliki sarana pengolahan air limbah
Fakta-fakta di kota A :

Penyakit menular tertinggi diare 12.788 orang


Sumber pencemaran air sungai 89% berasal dari air limbah domestik
Masih banyak penduduk yang belum menyadari pentingnya menyedot tinja, ataupun
berpendapat tangki septiknya tidak pernah penuh sehingga tidak perlu dilakukan penyedotan
tinja, bahkan ada yang tidak mengetahui adanya IPLT di kotanya.

Pada saat ini operasional IPLT mengalami kerugian dan sebagian besar bangunan IPLT sudah
mengalami kerusakan dan beberapa unit bak fakultatif dan maturasi sudah tidak berfungsi optimal.
Jumlah truk yang dimiliki oleh pemerintah daerah adalah 2 truk tangki dengan kapasitas 3 m3,
sedangkan operator swasta tercatat 4 truk, dengan tarif sedot WC Rp. 60.000/m3. Pengelola IPLT
adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan, namun belum ada bagian yang secara khusus bertanggung
jawab pada pengelolaan IPLT. Jumlah sumber daya manusia pengelola adalah 4 orang untuk
operasional truk, dan 3 orang untuk operasional IPLT dan administrasi. Untuk operasional dan
pemeliharaan tidak banyak yang dilakukan oleh operator karena tidak adanya prosedur standar operasi
(SOP) yang jelas. Yang dilakukan secara rutin adalah pembersihan bila ada sampah plastik yang
masuk dan pemotongan rumput, dan tidak pernah dilakukan pembuangan lumpur secara rutin, serta
tidak ada pencatatan jumlah truk yang masuk.
Dimensi unit pengolahan yang ada dapat dilihat pada tabel berikut ini :
No
1
2
3
4
5

Unit
Bak Penampung
Kolam anaerobik
Kolam Fakultatif
Kolam maturasi
Kolam Pengering
lumpur

Dimensi (p x l x t)
21 x 16 x 2
20 x 16 x 3.4
23 x 20 x 2
23 x 20 x 2
8x4

Kondisi
Kondisi masih baik
Kondisi masih baik
Dinding telah banyak yang rusak
Kondisi tidak operasional, dinding rusak
Ada 6 buah, penuh tanah, batas antar sekat
tidak jelas

749

2.
2.1

TUGAS KELOMPOK
Kelompok I

Pertanyaan :
1. Hitunglah berapa jumlah penduduk yang dapat terlayani IPLT dengan kapasitas terpasang 70
m3/hari. Bila diketahui laju timbulan lumpur tinja hasil studi adalah 0,2 L/orang/hari.
2. Dari hasil perhitungan no. 1, berikan analisis dan evaluasi anda terkait kemampuan pelayanan
IPLT berdasarkan kapasitas terpasang yang ada. Buat juga analisis untuk kondisi 10-20 tahun
mendatang.
3. Berikanlah evaluasi dan rekomendasi dari :
a. Aspek teknis operasional
Langkah perhitungan evaluasi IPLT :
Hitung waktu detensi masing-masing unit
Bandingkan dengan criteria disain yang ada
b. Aspek legalitas hukum
c. Aspek kelembagaan
2.2

Kelompok II

Pertanyaan :
1. Hitunglah berapa jumlah penduduk yang dapat terlayani IPLT dengan kapasitas terpasang 70
m3/hari. Bila diketahui laju timbulan lumpur tinja hasil studi adalah 0,3 L/orang/hari.
2. Dari hasil perhitungan no. 1, berikan analisis dan evaluasi anda terkait kemampuan pelayanan
IPLT berdasarkan kapasitas terpasang yang ada. Buat juga analisis untuk kondisi 10-20 tahun
mendatang.
3. Berikanlah evaluasi dan rekomendasi dari :
a. Aspek teknis operasional
Langkah perhitungan evaluasi IPLT :
Hitung waktu detensi masing-masing unit
Bandingkan dengan criteria disain yang ada
Evaluasi aspek teknis operasional yang lain
b. Aspek pembiayaan bila ditinjau dari biaya operasi dan pemeliharaan IPLT dan
armada, pada kondisi eksisting/saat ini
Langkah-langkah evaluasi :
1. Hitung biaya operasi dan pemeliharaan untuk kondisi saat ini (5% terlayani)
Komponen biaya operasi dan pemeliharaan IPLT:

Biaya personil (upah dan gaji)


Biaya operasi yang meliputi sampling dan pemeriksaan laboratorium,
bahan kimia, listrik
Biaya pemeliharaan (penyediaan, perbaikan dan penggantian suku
cadang)
Biaya perlindungan (kesehatan, pakaian, perlengkapan K3 dan asuransi)
Biaya penunjang (ATK, keamanan dan komunikasi)

Komponen biaya operasi dan pemeliharaan armada truk :

750

Biaya bahan bakar

Biaya minyak pelumas


Biaya Perbaikan atas kerusakan
Biaya Penggantian suku cadang
Biaya Perpanjangan STNK dan KIR
Biaya Penyusutan
Biaya Asuransi
2. Hitung laba/rugi untuk no.1
c. Aspek peran serta masyarakat

2.3

Kelompok III

Pertanyaan :
1. Hitunglah berapa jumlah penduduk yang dapat terlayani IPLT dengan kapasitas terpasang 70
m3/hari. Bila diketahui laju timbulan lumpur tinja hasil studi adalah 0,5 L/orang/hari.
2. Dari hasil perhitungan no. 1, berikan analisis dan evaluasi anda terkait kemampuan pelayanan
IPLT berdasarkan kapasitas terpasang yang ada. Buat juga analisis untuk kondisi 10-20 tahun
mendatang.
3. Berikanlah evaluasi dan rekomendasi dari :
a. Aspek teknis operasional
Langkah perhitungan evaluasi IPLT :
Hitung waktu detensi masing-masing unit
Bandingkan dengan criteria disain yang ada
Evaluasi aspek teknis operasional yang lain
b. Aspek pembiayaan bila ditinjau dari biaya operasi dan pemeliharaan IPLT dan
armada, pada saat kapasitas IPLT 50% termanfaatkan.
Langkah-langkah evaluasi :
1. Hitung biaya operasi dan pemeliharaan untuk kondisi pada saat kapasitas IPLT
50% termanfaatkan.
Komponen biaya operasi dan pemeliharaan IPLT:

Biaya personil (upah dan gaji)


Biaya operasi yang meliputi sampling dan pemeriksaan laboratorium, bahan
kimia, listrik
Biaya pemeliharaan (penyediaan, perbaikan dan penggantian suku cadang)
Biaya perlindungan (kesehatan, pakaian, perlengkapan K3 dan asuransi)
Biaya penunjang (ATK, keamanan dan komunikasi)

Komponen biaya operasi dan pemeliharaan armada truk :

Biaya bahan bakar


Biaya minyak pelumas
Biaya Perbaikan atas kerusakan
Biaya Penggantian suku cadang
Biaya Perpanjangan STNK dan KIR
Biaya Penyusutan
Biaya Asuransi
751

2. Hitung laba/rugi untuk no.1


c. Aspek peran serta masyarakat

752

LAMPIRAN I
MODUL I KEBIJAKAN BIDANG PLP

DAFTAR LAMPIRAN
ISI

Halaman

LAMPIRAN I
LAMPIRAN IA

Draft PERATURAN MENTERI NO TAHUN 2012


TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL
PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE
PERKOTAAN

753

LAMPIRAN IB

PERATURAN MENTERI NO PERATURAN MENTERI


PEKERJAAN UMUM NOMOR: 21/PRT/M/2006
TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL
PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN
PERSAMPAHAN (KSNP-SPP)

777

LAMPIRAN IC

PERATURAN MENTERI NO 16/PRT/M/2008 TENTANG :


KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL
ENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN AIR
LIMBAH PERMUKIMAN (KSNP-SPALP)

813

LAMPIRAN II

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR :


14 /PRT/M/2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN
MINIMAL BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN
PENATAAN RUANG

855

ii

LAMPIRAN I
LAMPIRAN IA
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYELENGGARAAN DRAINASE

LAMPIRAN IB
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

LAMPIRAN IC
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN AIR LIMBAH

iii

LAMPIRAN IA
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYELENGGARAAN DRAINASE

iv

REVISI HAR JANUARI 2013

MENTERI PEKERJAAN UMUM


REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI
NO

TAHUN 2012

TENTANG
KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL PENYELENGGARAAN
SISTEM DRAINASE PERKOTAAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA,
.
Menimbang

: a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pada


Lampiran c. Bidang Pekerjaan Umum Sub Bidang
Nomor 7 Drainase dan Sub sub Bidang Nomor 1
Pengaturan,
yaitu
kewenangan
Pemerintah

753

tentang Penetapan kebijakan dan strategi


nasional dalam penyelenggaraan drainase dan
pematusan genangan pada Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007
tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Penyelenggaraan
Sistem Drainase Perkotaan.
Mengingat

: 1.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang


Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 134);

2.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang


Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 32);

3.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68; Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4725)

4.

Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang


Perumahan
dan
Kawasan
Permukiman
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 7; Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5188);

5.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007


tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan
Daerah
Kabupaten/Kota
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

754

2007 Nomor 82; Tambahan Lembaran Negara


Republik Indonesia Nomor 4737);
6.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008


tentang Penyelenggaraan Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 82; Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4858);

7.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011


tentang Sungai (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 74; Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5230);

8.

Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009


tentang
Pembentukan
dan
Organisasi
Pemerintahan Daerah, sebagaimana beberapakali
diubah terakhir dengan Peraturan Presiden
Nomor 91 Tahun 2011 tentang Perubahan Ketiga
Atas Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009
Tentang
Pembentukan
Dan
Organisasi
Kementerian Negara;

9.

Peraturan Presiden Nomor


24
Tahun 2010
tentang
Kedudukan,
Tugas,
dan
Fungsi
Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi,
Tugas, dan Fungsi Eselon I, sebagaimana
beberapakali diubah terakhir dengan Peraturan
Presiden Nomor 92 Tahun 2011 tentang
Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor
47 Tahun 2009
Tentang Pembentukan dan
Organisasi Kementerian Negara;

10. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009;


11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
08/PRT/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pekerjaan Umum;

755

12. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor


239/KPTS/1987
tentang
Pedoman
Umum
mengenai Pembagian Tugas, Wewenang dan
Tanggung Jawab Pengaturan, Pembinaan dan
Pengembangan Drainase Kota.

MEMUTUSKAN :
Menetapkan

MENTERI
PEKERJAAN
UMUM
: PERATURAN
TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL
PENYELENGGARAAN
SISTEM
DRAINASE
PERKOTAAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1.

Drainase adalah prasarana dan sarana yang berfungsi


mengalirkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air
penerima.

2.

Drainase perkotaan adalah drainase di wilayah kota yang


berfungsi mengelola/mengendalikan air permukaan, sehingga
tidak mengganggu dan/atau merugikan masyarakat.

756

3.

Sistem Drainase Perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis


dan non teknis dari prasarana dan sarana drainase perkotaan.

4.

Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan adalah kegiatan


merencanakan, membangun, mengoperasikan, dan memelihara,
serta memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan Sistem
Drainase Perkotaan.

5.

Pengelola Sistem Drainase Perkotaan adalah badan usaha


dan/atau
kelompok
masyarakat
yang
melakukan
penyelenggaraan sistem drainase perkotaan.

6.

Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah adalah


Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan
pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945.

7.

Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan


pemerintahan dibidang pekerjaan umum.

8.

Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan


perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah
daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan.

9.

Kebijakan dan Strategi Nasional Penyelenggaraan Sistem


Drainase Perkotaan, adalah
perangkat pengaturan arah
Kebijakan dan Strategi Nasional Penyelenggaraan Drainase
Perkotaan bagi pemerintah pusat, Pemerintah Daerah, Badan
Usaha, dan masyarakat.

urusan

Bagian Kedua
Maksud dan Tujuan
Pasal 2
Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi
Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Usaha, dan masyarakat

757

dalam menyusun kebijakan teknis, perencanaan, program, kegiatan


dan penyelenggaraan sistem drainase perkotaan.

Pasal 3
Peraturan menteri ini bertujuan untuk :
a.

mewujudkan keselerasan antara Pemerintah dan Pemerintah


Daerah dalam kebijakan teknis, perencanaan, program, kegiatan
dan penyelenggaraan drainase perkotaan;

b.

menjamin terwujudnya konsistensi dalam kebijakan teknis,


perencanaan, program, kegiatan dan penyelenggaraan sistem
drainase perkotaan;

c.

mewujudkan penyelenggaraan sistem drainase perkotaan yang


efektif, efisien, dan berkelanjutan; dan

d.

menciptakan lingkungan perkotaan yang sehat dan bebas dari


banjir dan genangan.
Bagian Ketiga
Ruang Lingkup
Pasal 4

(1)

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Asas
Visi dan misi;
Dasar Kebijakan
Sasaran;
Kebijakan;
Strategi;
Pendekatan penanganan
Prioritas pengembangan

758

(2)

Rincian kebijakan dan strategi nasional penyelenggaraan sistem


drainase perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari peraturan menteri ini.

BAB II
ASAS
Pasal 5
Peraturan Menteri ini diselenggarakan berdasarkan asas tanggung
jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas kesadaran, asas
keselamatan, asas keamanan dan asas ekonomi.

BAB III
VISI, MISI DAN SASARAN
Bagian Kesatu
Visi dan Misi
Pasal 6
Visi dari Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan adalah
Masyarakat hidup sehat, nyaman dengan lingkungan bersih bebas
dari genangan.
Pasal 7
Misi yang harus ditempuh untuk dapat mewujudkan
penyelenggaraan drainase perkotaan adalah sebagai berikut:

visi

759

(1)

Membina penyelenggaraan pelayanan prasarana dan sarana


drainase perkotaan untuk meningkatkan kualitas kesehatan
masyarakat;

(2)

Membina SDM yang menangani penyelenggaraan drainase


perkotaan dalam hal perubahan iklim global serta dampak
dampaknya dan sistem penanggulangan dampaknya;

(3)

Membina pelaksanaan pembangunan dan mengembangkan


prasarana dan sarana penyehatan lingkungan permukiman
mendukung pencegahan pencemaran lingkungan;

(4)

Mendorong peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah


daerah dan masyarakat yang efektif dan efisien dan
bertanggungjawab;

(5)

Mendorong peningkatan upaya-upaya penyelenggaraan drainase


secara berwawasan lingkungan (ecodrain) untuk meminimalkan
genangan dan banjir yang berdampak negatif;

(6)

Mendorong upaya penerapan manajemen risiko penyelenggaraan


drainase perkotaan;

(7)

Mendorong terciptanya pengaturan berdasarkan hukum (Permen,


Perda) yang dapat diterapkan pemerintah pusat maupun
Propinsi, Kabupaten/Kota dan masyarakat untuk membangun
dan penyelenggaraan drainase Perkotaan demi tercapainya
lingkungan permukiman yang sehat dan nyaman;

(8)

Mendorong peningkatan kemampuan pembiayaan menuju ke


arah kemandirian;

(9)

Mendorong peran serta aktif masyarakat dalam proses


pembangunan prasarana dan sarana drainase perkotaan; dan

(10) Mendorong peningkatan peran dunia usaha, perguruan tinggi


melalui penciptaan iklim kondusif bagi pengembangan prasarana
dan sarana penyehatan lingkungan.

760

Bagian Kedua
Sasaran Kebijakan

Pasal 8
Sasaran kebijakan Drainase perkotaan adalah sebagai berikut:
(1)

Terlaksananya sistem penyelenggaraan Drainase perkotaan yang


terdesentralisir, efisien, efektif dan terpadu;

(2)

Terciptanya pola pembangunan bidang Drainase perkotaan yang


berkelanjutan melalui kewajiban melakukan konservasi air dan
pembangunan drainase yang berwawasan lingkungan (ecodrain);

(3)

Terwujudnya upaya pengentasan kemiskinan perkotaan yang


efektif dan ekonomis melalui minimalisasi resiko biaya sosial dan
ekonomi serta biaya kesehatan akibat genangan dan bencana
banjir; dan

(4)

Terciptanya peningkatan koordinasi antara


dalam penanganan sistem Drainase perkotaan.

kabupaten/kota

BAB IV
DASAR KEBIJAKAN

Bagian Kesatu
Isu, Permasalahan, Dan Tantangan Penyelenggaraan Drainase
Perkotaan
Pasal 9
Rumusan isu strategis dan permasalahan dalam penyelenggaraan
drainase perkotaan adalah sebagai berikut:

761

(1)

adanya perubahan iklim global yang berdampak terhadap


fluktuasi curah hujan yang tinggi dan kenaikan muka laut;

(2)

terjadinya perubahan fungsi lahan basah yang menyebabkan


yang terganggunya sistem tata air dan berpengaruh terhadap
pengendalian banjir perkotaan masih terjadi di kota-kota di
Indonesia;

(3)

kebutuhan pengendalian debit puncak melalui upaya-upaya


structural dan penerapan drainase berwawasan lingkungan
(ecodrain);

(4)

belum adanya ketegasan fungsi sistem drainase dimana fungsi


saluran drainase perkotaan untuk sistem pematusan air hujan
masih disatukan dengan pembuangan air limbah rumah tangga
(grey water);

(5)

adanya kebutuhan kelengkapan perangkat peraturan, berupa


sejumlah pengaturan yang meliputi cakupan ruang lingkup
drainase,
kewenangan
pengaturan,
pembangunan
dan
operasional dan pemeliharaan oleh unit/sub unit sektro yang
terlibat dalam penyelenggaraan drainase serta termasuk
pengaturan yang lebih jelas dalam menerjemaahkan pengaturan
penyelenggaraan darinase antara Pusat dan Daerah sebagai
penjelasan turunan dari PP 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Pemerintah
Kabupaten/Kota;

(6)

permasalahan teknis dalam penyelenggaraan drainase perkotaan


yaitu:
a. Belum optimalnya sistem perencanaan penyelenggaraan
drainase, dimana perencanaan sistem drainase belum didasari
dengan adanya suatu rencana induk penyelenggaraan sistem
drainase yang absah.
b. Penyelenggaraan sistem drianase masih dilakukan dengan
pendekatan konvensional.
c. Belum terpadunya penyelenggaraan sistem drainase dengan
sistem prasarana permukiman/perkotaan lainnya.

762

d. Penanganan permasalahan drainase/genangan masih bersifat


parsial dan dilakukan melalaui pendekatan administratif.
e. Operasi dan pemeliharaan sistem drainase belum dilakukan
secara optimal.
(7)

permasalahan aspek kelembagaan dan pembiayaan


penyelenggaraan drainase perkotaan, yaitu:

dalam

a. Penyelenggaraan Drainase yang belum terpadu antar unit


kerja di masing-masing level pemerintahan;
b. Bentuk kelembagaan penyelenggaraan drainase yang belum
sesuai dengan besarnya kewenangan bidang drainase
perkotaan yang harus dikerjakan;
c. Penanganan drainase belum menjadi prioritas pembangunan;
d. Keterpaduan penanganan drainase dari lingkungan terkecil
hingga wilayah yang lebih luas dalam satu wilayah
administrasi maupun antar kabupaten/kota dan provinsi
belum terjadi, termasuk integrasi dalam penanganan drainase
perkotaan
yang
sifatnya
lintas
wilayah
administrasi/pemerintahan;
e. Belum diterapkannya manajemen aset yang baik dalam
penyelenggaraan drainase perkotaan;
f. Kompetensi dan kualifikasi sumberdaya manusia sebagai
salah satu unsur pengelola kelembagaan drainase perkotaan
kurang memadai dari jumlah maupun kualifikasinya;
g. Sesuai dengan hal tersebut, maka dibutuhkan penguatan
kelembagaan penyelenggaraan drainase di Daerah.
(8)

permasalahan aspek kemitraan dan partisipasi masyarakat


dalam penyelenggaraan drainase perkotaan, yaitu:
a. Kebutuhan penerapan konsep good governance yang salah
satunya
memberikan
ruang
yang
lebih
luas
bagi
penyelenggaraan urusan pemerintahan bukan hanya oleh
pemerintah, tapi harus mampu melibatkan peran serta sektor
masyarakat dan swasta.
b. Adanya tuntutan keterbukaan dan efisiensi penyelenggaraan
penyelenggaraan
pelayanan
publik
dalam
hal
ini
penyelenggaraan drainase perkotaan.

763

c. Pelibatan kemitraan dan partisipasi ini dapat didorong untuk


seluruh fungsi yang ada, mulai dari perencanaan,
pembangunan sampai dengan pengawasan, dan terutama
yang paling memiliki peluang untuk dijadikan arahan
strategis adalah dalam pelaksanaan fungsi operasional dan
pemeliharaan.
Bagian Kedua
Tantangan Dalam Penyelenggaraan Drainase Perkotaan

Pasal 10
(1)

tantangan yang dihadapi


perkotaan antara lain:

dalam

penyelenggaraan

drainase

a. Mencegah terjadinya penurunan kualitas kawasan terbangun


yang bertumpu pada peran aktif dan swadaya masyarakat
serta
upaya
pemberdayaan
semua
stakeholders
penyelenggara pembangunan dalam menentukan kebutuhan
dan seleksi teknologi;
b. Melakukan optimalisasi fungsi pelayanan dan efisiensi
terhadap prasarana dan sarana drainase yang sudah
terbangun;
c. Melaksanakan peningkatan dan pengembangan sistem yang
ada serta pembangunan baru secara efektif dan efisien agar
dapat meningkatkan ekonomi masyarakat berpenghasilan
rendah;
d. Pemerataan
pembangunan
bidang
drainase
dengan
memperhatikan kondisi ekonomi nasional dan daerah
setempat; dan
e. Menunjang
terwujudnya
lingkungan
perumahan
dan
permukiman yang bersih dan sehat serta terjangkau oleh
masyarakat berpenghasilan rendah.
(2)

peluang yang dihadapi


perkotaan antara lain:

dalam

penyelenggaraan

drainase

764

a. Dikaitkan dengan kondisi keuangan pemerintah yang


terbatas, maka optimalisasi dan efisiensi penyelenggaraan dan
pengoperasian sistem yang ada harus diperbaiki dan
ditingkatkan;
b. Peningkatan partisipasi aktif masyarakat dan kemitran antara
pemerintah, swasta dan masyarakat harus diteruskan,
terutama dalam hal pemeliharaan dan penyelenggaraan
pembangunan prasarana dan sarana drainase yang sudah
dibangun; dan
c. Potensi pembiayaan dari sumber-sumber pendanaan melalui
pola pembiayaan PPP, obligasi, CSR, dan sumber pembiayaan
lainnya.

BAB V
KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Bagian Kesatu
Rumusan Kebijakan

Pasal 11
Rumusan kebijakan pengembangan bidang drainase adalah sebagai
berikut:
(1)

Kebijakan (1): Pemantapan Keterpaduan Dengan Penanganan


Pengendalian Banjir Dan Sektor/Sub Sektor Terkait Lainnya
Berdasarkan Sistem Tata Air;

(2)

Kebijakan (2): Mengoptimalkan sistem Drainase Perkotaan Yang


Ada,
rehabilitasi/pemeliharaan,
pengembangan
dan
pembangunan baru;

765

(3)

Kebijakan (3): Mendorong dan Memfasilitasi Pemerintah


Kabupaten/Kota Dalam Pengembangan Sistem Drainase Yang
Efektif, Efisien Dan Berkelanjutan;

(4)

Kebijakan (4): Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan Pengelola


Prasarana dan Sarana Drainase Perkotaan;

(5)

Kebijakan (5): Mendorong pembiayaan alternatif dalam


penyelenggaraan
drainase
perkotaan
melalui
kerjasama
kemitraan dengan Dunia Usaha dan Peran Masyarakat; dan

(6)

Kebijakan (6): Mengembangkan Tingkat Partisipasi Swasta/Dunia


Usaha dan Peran Masyarakat dalam Penyelenggaraan Drainase
Perkotaan.

Bagian Kedua
Rumusan Strategi

Pasal 12
Kebijakan kesatu yaitu pemantapan keterpaduan dengan penanganan
pengendalian banjir dan sektor/sub sektor terkait lainnya
berdasarkan sistem tata air, meliputi strategi sebagai berikut:
(1)

Strategi (1): Penyiapan Rencana Induk Sistem Drainase yang


terpadu antara sistem Drainase makro, mikro, pengaturan dan
penyelenggaraan sungai;

(2)

Strategi (2): Mengembangkan sistem Drainase yang berwawasan


lingkungan (ecodrain).

766

Pasal 13
Kebijakan kedua yaitu mengoptimalkan sistem drainase perkotaan
yang
ada,
rehabilitasi/pemeliharaan,
pengembangan
dan
pembangunan baru, meliputi strategi sebagai berikut:
(1)

Strategi (1): Pengembangan kapasitas operasi dan pemeliharaan


sarana dan prasarana terbangun;

(2)

Strategi (2): Penyiapan Prioritas Optimalisasi Sistem.

Pasal 14
Kebijakan ketiga yaitu mendorong dan memfasilitasi pemerintah
kabupaten/kota dalam pengembangan sistem drainase yang efektif,
efisien dan berkelanjutan, meliputi strategi sebagai berikut:
(1)

Strategi (1): Penyiapan peraturan dan produk hukum untuk


penanganan drainase, penyusunan NSPM bidang drainase;

(2)

Strategi (2): Membantu Kota/Kab dengan bantuan stimulan


pembangunan pada simpul-simpul yang tidak tersentuh, serta
perkuatan institusinya.

Pasal 15
Kebijakan keempat yaitu meningkatkan kapasitas kelembagaan
pengelola prasarana dan sarana drainase perkotaan, meliputi strategi
sebagai berikut:
(1)

Strategi (1): Peningkatan koordinasi antar instansi terkait;

(2)

Strategi (2): Pengembangan kapasitas SDM.

767

Pasal 16
Kebijakan kelima yaitu mendorong pembiayaan alternatif dalam
penyelenggaraan drainase perkotaan melalui kerjasama kemitraan
dengan dunia usaha dan peran masyarakat, meliputi strategi sebagai
berikut:
(1)

Strategi (1) : Mengembangkan


retribusi lingkungan;

sumber

pendanaan

melalui

(2)

Strategi (2): Mendorong


dan
menfasilitasi
pendanaan
pengembangan infrastruktur drainase kota melalui pola
kemitraan dengan dunia usaha/swasta melalui konsep
Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS).

Pasal 17
Kebijakan kelima yaitu mengembangkan tingkat partisipasi
swasta/dunia usaha dan peran masyarakat dalam penyelenggaraan
drainase perkotaan, meliputi strategi sebagai berikut:
(1)

Strategi (1):
masyarakat;

Pengembangan

kampanye

peningkatan

peran

(2)

Strategi (2): Mendorong swasta/masyarakat ikut berpartisipasi


dalam penyelenggaraan drainase.

768

BAB VI
PENDEKATAN PENANGANAN
Bagian Kesatu
Pengaturan Di Daerah
Pasal 18
(1)

Dalam hal Daerah belum mempunyai pengaturan tentang


Kebijakan dan Strategi Daerah Penyelenggaraan Sistem Drainase
Perkotaan, maka pengaturan di daerah perlu disiapkan dan
ditetapkan dengan Peraturan Daerah, atau Peraturan Gubernur,
atau Peraturan Walikota/Bupati dan mengacu pada Peraturan
Menteri ini;

(2)

Bagi Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang


Kebijakan dan Strategi Daerah Penyelenggaraan Sistem Drainase
Perkotaan sebelum Peraturan Menteri ini diterbitkan, agar
peraturan daerah tersebut disesuaikan berdasarkan ketentuanketentuan yang dimaksud dalam Peraturan Menteri ini.
Bagian Kedua
Tugas
Pasal 19

(1)

Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertugas menjamin


terselenggaranya
Kebijakan
dan
Strategi
Nasional
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan dan sesuai dengan
tujuan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri ini.

(2)

Instansi
terkait yang memiliki tugas dan wewenang
penyelenggaraan
sistem
drainase
perkotaan
dengan
ditetapkannya Peraturan Menteri ini, melakukan fasilitasi
penyusunan dan pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Daerah
Penyelengaraan Sistem Drainase Perkotaan;

769

Pasal 20
Tugas Pemerintah dan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 ayat (1) terdiri atas:
a.

menumbuhkembangkan dan meningkatkan peran badan usaha


dan/atau masyarakat untuk mendukung pelaksanaan Kebijakan
dan Strategi Nasional
dan Daerah tentang Sistem
Penyelenggaraan Drainase Perkotaan;

b.

memfasilitasi prasarana dan sarana penyelenggaraan drainase


perkotaan dalam rangka mewujudkan Sistem Penyelenggaraan
Drainase Perkotaan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan;

c.

menyelenggarakan koordinasi antar lembaga pemerintah, badan


usaha
dan
masyarakat
dalam
rangka
keterpaduan
penyelenggaraan sistem drainase perkotaan;

d.

mendorong
dan
memfasilitasi
Penyelenggaraan Drainase Perkotaan.

pengembangan

Sistem

Bagian Ketiga
Wewenang Pemerintah
Pasal 21
Dalam rangka penyelenggaraan Peraturan Menteri ini, Pemerintah
mempunyai kewenangan:

a.

menetapkan
norma,
standar,
prosedur,
dan
kriteria
penyelenggaraan sistem drainase perkotaan dalam rangka
mewujudkan visi dan misi Kebijakan dan Strategi Nasional
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan;

770

b.

menetapkan perencanaan dan pemrograman nasional prasarana


dan sarana penyelenggaraan sistem drainase perkotaan;

c.

memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antar daerah


lintas provinsi, kemitraan, dan jejaring dalam penyelenggaraan
sistem drainase perkotaan;

d.

mendorong
dan
memfasilitasi
penyelenggaraan drainase perkotaan;

e.

menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan


kinerja Pemerintah Provinsi dalam penyelenggaraan drainase
perkotaan lingkup Provinsi.

pengembangan

sistem

Bagian Keempat
Wewenang Pemerintah Provinsi
Pasal 22
Dalam rangka penyelenggaraan Peraturan Menteri ini, Pemerintah
Provinsi mempunyai kewenangan:

a.

menetapkan
Kebijakan
dan
Strategi
Provinsi
dalam
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan sesuai dengan
Kebijakan dan Strategi Nasional
Penyelenggaraan Sistem
Penyelenggaraan Drainase Perkotaan;

b.

menetapkan perencanaan dan pemrograman prasarana dan


sarana penyelenggaraan drainase perkotaan tingkat Provinsi;

c.

membangun dan mengembangkan prasarana dan sarana


penyelenggaraan drainase perkotaan tingkat Provinsi yang
menjadi kewenangannya;

771

d.

memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antar daerah


lintas Kabupaten/Kota, kemitraan, dan jejaring dalam
penyelenggaraan drainase perkotaan;

e.

mendorong
dan
memfasilitasi
pengembangan
Penyelenggaraan Drainase Perkotaan tingkat Provinsi;

f.

menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan


kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan
sistem drainase perkotaan.

Sistem

Bagian Kelima
Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota
Pasal 23
Dalam rangka penyelenggaraan Peraturan Menteri ini, Pemerintah
Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan:

a.

menetapkan
Kebijakan
dan
Strategi
Kabupaten/Kota
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan sesuai dengan
Kebijakan dan Strategi Nasional dan Provinsi Penyelenggaraan
Sistem Drainase Perkotaan;

b.

menetapkan perencanaan dan pemrograman prasarana dan


sarana
penyelenggaraan
drainase
perkotaan
tingkat
Kabupaten/Kota;

c.

membangun dan mengembangkan prasarana dan


penyelenggaraan
sistem
drainase
perkotaan
Kabupaten/Kota yang menjadi kewenangannya;

d.

memfasilitasi dan mengembangkan kemitraan dan jejaring dalam


penyelenggaraan sistem drainase perkotaan;

sarana
tingkat

772

e.

mendorong
dan
memfasilitasi
pengembangan
Sistem
Penyelenggaraan Drainase Perkotaan tingkat Kabupaten/Kota;

f.

menyelenggarakan koordinasi dengan Pemerintah, Pemerintah


Provinsi dalam penyelenggaraan sistem drainase perkotaan.

BAB VII
PRIORITAS PENGEMBANGAN
Bagian Kesatu
Peran Masyarakat

Pasal 24
(1)

Peran masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kinerja


Kebijakan dan Strategi Nasional dan Daerah Penyelenggaraan
Sistem Drainase Perkotaan;

(2)

Masyarakat memiliki kesempatan berperan aktif dalam


pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional dan Daerah
Penyelenggaraan Sistem Drainase;

(3)

Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat


berupa:
a. penyampaian informasi dan/atau laporan;
b. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan
c. terlibat dalam kegiatan perencanaan, pembangunan, operasi
dan pemeliharaan serta pengawasan sistem drainase
perkotaan.

(4)

Peran Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat


dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3)

773

Bagian Kedua
Pembainaan dan Pengawasan

Pasal 25
(1)

Pembinaan
dan
pengawasan
dilakukan
penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi;

pada

tahapan

(2)

Pembinaan dan pengawasan kepada Pemerintah Provinsi


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah;

(3)

Pembinaan dan pengawasan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah
Provinsi;

(4)

Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), Pejabat yang ditunjuk dapat melakukan
koordinasi lintas sektoral.
BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 26

Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka pengaturan, proses


penyusunan
rencana,
program,
pelaksanaan
kegiatan
penyelenggaraan sistem penyelenggaraan drainase perkotaan
mengacu pada Peraturan Menteri ini.

774

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 27
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
peraturan menteri ini dalam berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal
__________________
MENTERI PEKERJAAN
UMUM
REPUBLIK INDONESIA,

DJOKO KIRMANTO

775

Diundangkan di Jakarta
Pada Tanggal
Menteri Hukum dan HAM
Republik Indonesia

AMIR SYAMSUDIN

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor ..

776

LAMPIRAN IB
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

MENTERI PEKERJAAN UMUM


REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM


NOMOR: 21/PRT/M/2006

TENTANG

KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL


PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN
(KSNP-SPP)

Tahun 2006

777

MENTERI PEKERJAAN UMUM


REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR: 21/PRT/M/2006
TENTANG
KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL
PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN
(KSNP-SPP)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


MENTERI PEKERJAAN UMUM

Menimbang:

a.

bahwa dalam rangka penyehatan lingkungan permukiman yang


berkelanjutan,
perlu
dilakukan
pengembangan
sistem
pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan;

b. bahwa permukiman yang sehat dengan lingkungan yang bersih sangat


diperlukan dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat
Indonesia sehingga masyarakat dapat menjadi lebih produktif;
c. bahwa dalam upaya mewujudkan situasi dan kondisi permukiman sehat
yang diinginkan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, diperlukan
rencana, program, dan pelaksanaan kegiatan yang terpadu, efisien, dan
efektif;
d. bahwa untuk mewujudkan situasi dan kondisi yang diinginkan
pada huruf c diperlukan Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan
Sistem
Pengelolaan
Persampahan
yang
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum.
Mengingat:

1.

Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan


Permukiman;

2.

Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang;

778

3.

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup;

4.

Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

5.

Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

6.

Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

7.

Undang-Undang No.
Perencanaan Nasional;

8.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

9.

Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan


Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

10.

Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana


Tata Ruang Wilayah Nasional;

11.

Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 1999 tentang Kawasan


Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri;

12.

Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun


Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum;

13.

Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Badan Layanan Umum;

14.

Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang


Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009;

15.

Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,


Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian
Negara Republik Indonesia;

16.

Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi


dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia;

17.

Peraturan Presiden No. 107 Tahun 2004 tentang Pembentukan


Kabinet Indonesia Bersatu.

1.

Adanya
kebutuhan
Kebijakan
dan
Strategi
Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan sebagai salah
satu
pedoman
penyehatan
lingkungan
permukiman;
sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah no. 16/2004;

25

Tahun

2004

tentang

2005

Sistem

tentang

Rencana

Memperhatikan:

779

2.

Adanya Deklarasi sidang-sidang PBB khususnya Deklarasi Habitat


dan Agenda 21 tentang tempat tinggal yang layak bagi
manusia dan pembangunan permukiman berkelanjutan yang
perlu diwujudkan dalam kebijakan dan strategi penanganan
persampahan permukiman;

3.

Adanya KTT Millenium PBB bulan September 2000 yang


menghasilkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium
Development Goals (MDG) dalam rangka mewujudkan lingkungan
kehidupan yang lebih baik.
MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG KEBIJAKAN


DAN STRATEGI NASIONAL
PENGEMBANGANAN SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan,


yang selanjutnya disingkat KSNP-SPP merupakan pedoman untuk pengaturan,
penyelenggaraan dan pengembangan sistem pengelolaan persampahan, baik bagi
pemerintah pusat, maupun daerah, dunia usaha, swasta, dan masyarakat.

2.

KSNP-SPP meliputi uraian tentang visi dan misi pengembanagn sistem pengelolaan
persampahan; isu strategis, permasalahan dan tantangan, pengembangan SPP,
tujuan / sasaran; serta kebijakan dan strategi nasional pengembangan sistem
pengelolaan persampahan dengan rencana tindak yang diperlukan
Pasal 2

KSNP-SPP digunakan sebagai pedoman untuk pengaturan, penyelenggaraan, dan


pengembangan sistem pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan, baik
ditingkt pusat, maupun daerah sesuai dengan kondisi daerah setempat .

780

Pasal 3
Peraturan teknis dan pedoman pelaksanaan yang lebih rinci dalam rangka pengaturan,
penyelenggaraan, dan pengembangan sistem pengelolaan persampahan sebagai
penjabaran dari KSNP-SPP perlu disusun dan ditetapkan lebih lanjut oleh instansi-instansi
terkait.

Pasal 4
(1). Dalam hal Daerah belum mempunyai pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2, maka ketentuan dan rencana pengembangan sistem pengelolaan persampahan di
daerah perlu disiapkan dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah, mengacu pada
Peraturan Menteri ini;
(2). Bagi Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang pengembangan
sistem pengelolaan persampahan sebelum Peraturan Menteri ini diterbitkan, agar
peraturan daerah tersebut disesuaikan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang
dimaksud dalam Peraturan Menteri ini.

Pasal 5
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka pengaturan, proses penyusunan
rencana, program, pelaksanaan kegiatan pengembanagn sistem pengelolaan
persampahan harus mengacu pada Peraturan Menteri ini.

Pasal 6
(1). Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal yang ditetapkan, dan apabila
dikemudian hari terdapat kekeliruan atau kesalahan di dalamnya, segala
sesuatunya akan diubah dan diperbaiki sebagaimana mestinya;
(2). Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada para pihak yang bersangkutan untuk
diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

781

DITETAPKAN DI :

JAKARTA

PADA TANGGAL : 15 SEPTEMBER 2006

MENTERI PEKERJAAN UMUM

DJOKO KIRMANTO

782

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurunnya kinerja pengelolaan persampahan dalam beberapa tahun terakhir ini tidak lepas
dari dampak perubahan tatanan pemerintahan di Indonesia dalam era reformasi, otonomi daerah
serta krisis ekonomi yang telah melanda seluruh wilayah di Indonesia. Adanya perubahan
kebijakan arah pembangunan infrastruktur perkotaan, menguatnya ego otonomi, menurunnya
kapasitas pembiayaan daerah, menurunnya daya beli dan kepedulian masyarakat dalam menjaga
kebersihan lingkungan merupakan pemicu terjadinya degradasi kualitas lingkungan perkotaan
termasuk masalah kebersihan kota.
Penurunan kinerja tersebut ditunjukkan oleh berbagai hal seperti : menurunnya kapasitas SDM
karena banyaknya pergantian personil yang sebelumnya pernah terdidik dalam bidang
persampahan melalui program training atau capacity building; tidak jelasnya organisasi
pengelola sampah karena adanya perubahan kebijakan pola maksimal dan pola minimal suatu
Dinas; menurunnya alokasi APBD bagi pengelolaan sampah; menurunnya penerimaan retribusi
(secara nasional hanya dicapai 22 %); menurunnya tingkat pelayanan (tingkat pelayanan dari
data BPS tahun 2000 hanya 40 % yang sebelumnya pernah mencapai 50 %); menurunnya
kualitas TPA yang sebagian besar menjadi open dumping dan timbulnya friksi antar daerah /
sosial; pengelolaan teknis pembuangan yang tidak bertanggung jawab sehingga menimbulkan
korban jiwa seperti dalam kasus longsornya TPA Leuwigajah dan Bantar Gebang; tidak adanya
penerapan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat yang membuang sampah
sembarangan, dan lain-lain.
Timbulnya friksi antar daerah/sosial dalam pengelolaan sampah terutama di TPA makin banyak
terjadi seperti kasus TPA Bantar Gebang yang diakibatkan oleh pola pengelolaan TPA yang
tidak profesional dan cenderung mencemari lingkungan sehingga menimbulkan NIMBY (Not In
My Back Yard) Syndrome seperti yang terjadi dalam berbagai kasus.
Timbulnya pencemaran lingkungan disekitar TPA disebabkan karena tidak adanya proses
pemilihan lokasi TPA yang layak dan tidak adanya alokasi lahan TPA dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah sehingga lokasi TPA yang ada saat ini tidak memenuhi persyaratan teknis sesuai
dengan standar nasional. Selain itu fasilitas TPA yang sangat minim terutama berkaitan dengan
terbatasnya fasilitas perlindungan lingkungan (buffer zone, pengumpulan dan pengolahan
leachate, ventilasi gas dan penutupan tanah), dan pengoperasian TPA yang cenderung

783

dioperasikan secara open dumping. Larangan ijin mendirikan bangunan disekitar TPA juga tidak
dilakukan sehingga lokasi TPA yang semula jauh dari permukiman kemudian justru dikelilingi
oleh permukiman penduduk.

Saat ini hampir seluruh pengelolaan sampah berakhir di TPA sehingga menyebabkan beban
TPA menjadi sangat berat, selain diperlukannya lahan yang cukup luas, juga fasilitas
perlindungan lingkungan yang sangat mahal. Hal tersebut disebabkan karena belum
dilakukannya upaya pengurangan volume sampah secara sungguh-sungguh sejak dari sumber,
termasuk pemisahan sampah B3 (Bahan Buangan Berbahaya) rumah tangga.
Mengacu pada berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia maka
Pemerintah harus menyediakan pelayanan sistem pengelolaan persampahan yang mengikuti
kaidah-kaidah teknis, ekonomis, dan lingkungan.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional maka Departemen Pekerjaan
Umum telah menyusun Rencana Strategis tahun 2005 2009 yang bertujuan untuk :
memberikan akses ke seluruh pelosok tanah air dan menangani tanggap darurat untuk
memberikan pelayanan minimal bagi masyarakat dalam melaksanakan kehidupan sosial
ekonomi agar terwujud Indonesia yang aman dan damai; membina penyelenggaraan
infrastruktur secara transparan dan terbuka dengan melibatkan masyarakat, meningkatkan peran
Pemerintah Daerah agar terwujud Indonesia yang adil dan demokratis; serta menyelenggarakan
infrastruktur yang efisien, efektif dan produktif agar terwujud Indonesia yang lebih sejahtera.
Disamping itu Pemerintah Indonesia juga telah ikut serta dalam meratifikasi berbagai
kesepakatan/komitmen Internasional yang harus diupayakan pemenuhannya sebagai bangsa
yang bermartabat. Kesepakatan tersebut mencakup : Agenda 21 mengenai pengurangan volume
sampah yang dibuang ke TPA (3R/Reduce-Reuse-Recycle), Prinsip Dublin, Kesepakatan Rio,
MDGs (Millenium Development Goals) mengenai peningkatan separuh dari jumlah masyarakat
yang belum mendapatkan akses pelayanan pada tahun 2015, Kyoto Protocol mengenai
mekanisme pembangunan bersih (CDM/Clean Development mechanism) dan lain-lain;
Untuk mencapai tujuan diatas dan sebagai tindak lanjut amanat PP no 16 tahun 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyedaan Air Minum, maka disusunlah KEBJAKAN DAN
STRATEGI
NASIONAL
PENGEMBANGAN
SISTEM
PENGELOLAAN
PERSAMPAHAN (KSNP-SPP) yang tegas dan realistis dan dapat digunakan sebagai acuan
bagi Pusat dan Daerah dalam meningkatkan sistem pengelolaan persampahan secara
berkelanjutan dan ramah lingkungan.

1.2. Maksud

784

Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan ini dimaksudkan sebagai
pedoman dalam penyusunan kebijakan teknis, perencanaan, pemrograman dan kegiatan lain
yang terkait dengan pengelolaan persampahan baik di lingkungan Departemen, Lembaga
Pemerintah Non Departemen, Pemerintah Daerah, maupun bagi masyarakat dan dunia usaha.
1.3. Tujuan

Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan sebagaimana dimaksud di


atas bertujuan untuk mendukung pencapaian sasaran pembangunan persampahan melalui
rencana, program, dan pelaksanaan kegiatan yang terpadu, efektif dan efisien.

1.4. Landasan Hukum

Penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem pengelolaan Persampahan ini memiliki
arah kebijakan yang didasarkan pada :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

UU No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan permukiman


UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional
UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan
UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Serta mengikuti Peraturan teknis yang mencakup :

a.
b.
c.

PP No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2005- 2009
PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
PP No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum

785

BAB II
VISI DAN MISI
PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

2.1. Visi
Untuk mencapai kondisi masyarakat yang hidup sehat dan sejahtera di masa yang akan
datang, baik yang tinggal di daerah perkotaan maupun perdesaan, akan sangat diperlukan
adanya lingkungan permukiman yang sehat. Dari aspek persampahan maka kata sehat
akan berarti sebagai kondisi yang akan dapat dicapai bila sampah dapat dikelola secara
baik sehingga bersih dari lingkungan permukiman dimana manusia beraktivitas di
dalamnya. Secara umum, daerah perkotaan atau perdesaan yang mendapatkan pelayanan
persampahan yang baik akan dapat ditunjukkan memiliki kondisi sebagai berikut :
a. Seluruh masyarakat, baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan memiliki
akses untuk penanganan sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, baik di
lingkungan perumahan, perdagangan, perkantoran, maupun tempat-tempat umum
lainnya
b. Masyarakat memiliki lingkungan permukiman yang bersih karena sampah yang
dihasilkan dapat ditangani secara benar.
c. Masyarakat mampu memelihara kesehatannya karena tidak terdapat sampah yang
berpotensi menjadi bahan penularan penyakit seperti diarhea, thypus, disentri, dan
lain-lain; serta gangguan lingkungan baik berupa pencemaran udara, air, atau tanah.
d. Masyarakat dan dunia usaha/swasta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam
pengelolaan persampahan sehingga memperoleh manfaat bagai kesejahteraannya
Kondisi tersebut di atas akan dapat tercapai bila visi pengembangan sistem pengelolaan
persampahan dapat dicapai yaitu :
Permukiman sehat yang bersih dari sampah

Visi di atas merupakan suatu keadaan yang ingin dicapai dimasa depan secara mandiri
melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara sinergis antar pemangku kepentingan
yang terkait secara langsung maupun tidak dalam pengelolaan persampahan.

786

Visi tersebut di atas selanjutnya dirumuskan dalam beberapa misi sebagai terjemahan
lebih lanjut arti visi yang telah ditetapkan; untuk dapat mengidentifikasi arah kebijakan
yang akan ditempuh.

2.2.

Misi

Untuk dapat mewujudkan visi pengembangan sistem pengelolaan persampahan maka


dirumuskan beberapa misi yaitu sebagai berikut :
1. Mengurangi timbulan sampah dalam rangka pengelolaan persampahan yang
berkelanjutan
Data sampah di berbagai kota menunjukkan kecenderungan semakin besarnya
timbulan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dari tahun ke tahun. Hal ini
menyebabkan beban pelayanan persampahan di setiap daerah manjadi semakin berat
dari waktu ke waktu. Di pihak lain kemampuan pendanaan daerah tidak menunjukkan
peningkatan yang signifikan khususnya untuk bidang persampahan. Agar pengelolaan
persampahan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan maka sangat diperlukan
adanya upaya untuk mengurangi timbulan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.

2. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan persampahan


Pelayanan sistem pengelolaan persampahan haruslah mampu menjangkau setiap
anggota masyarakat yang ada di suatu daerah, baik masyarakat golongan mampu
maupun mereka yang kurang mampu, baik mereka yang ada di perkotaan maupun di
perdesaan. Jumlah anggota masyarakat yang terjangkau oleh pelayanan juga harus
meningkat dari waktu ke waktu untuk dapat mencapai sasaran pelayanan yang
diharapkan. Disamping itu pelayanan juga harus disediakan/diberikan dengan kualitas
yang baik sehingga mampu menjamin tidak ditimbulkannya berbagai masalah
gangguan, pencemaran, atau bahkan perusakan lingkungan; baik pada tahap
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, maupun pembuangan akhir.

3. Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan peran aktif dunia usaha/swasta

787

Masyarakat merupakan penghasil sampah; karenanya masyarakat merupakan aktor


utama dalam pengelolaan sampah; yang perlu diberdayakan agar mampu melakukan
berbagai upaya penanganan yang bermanfaat bagi pengelolaan secara umum. Dalam
kondisi keterbatasan kapasitas pelayanan Pemerintah, maka dunia usaha/swasta juga
dapat dijadikan sebagai mitra untuk mewujudkan pelayanan pengelolaan sampah yang
baik.

4. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan dalam sistem pengelolaan


persampahan sesuai dengan prinsip good and cooperate governance, yang berupa :
a. Penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik dalam pengelolaan persampahan
b. Penyelenggaraan pengelolaan persampahan yang transparan, partisipatif, serta
akuntabel dalam pengelolaannya
c. Pelibatan semua stakeholder dalam pengelolaan persampahan
d. Pengelolaan persampahan secara efektif, efisien, dan profesional
e. Penguatan kelembagaan dengan penyesuaian struktur dan kewenangan
kelembagaan pengelola persampahan
5. Memobilisasi dana dari berbagai sumber untuk pengembangan sistem pengelolaan
persampahan
a. Peningkatan prioritas dan alokasi pendanaan bagi penyelenggaraan pelayanan
persampahan
b. Pengembangan potensi pendanaan untuk pengelolaan persampahan baik melalui
anggaran kota/kabupaten, anggaran provinsi, anggaran pusat, dana luar negeri,
termasuk kerjasama dengan dunia usaha/swasta
c. Pengembangan dan perkuatan bagi kota-kota yang belum mampu menyediakan
pelayanan minimal
6. Menegakkan hukum dan melengkapi peraturan perundangan utk meningkatkan sistem
pengelolaaan persampahan
a. Penegakan hukum dan pemberlakuan sanksi bagi pelanggaran penyelenggaraan
pengelolaan persampahan sebagai upaya pembinaan bagi masyarakat, aparat, dan
stakeholder terkait
b. Melengkapi/meningkatkan produk hukum yang diperlukan bagi landasan
penyelenggaraan pengelolaan persampahan baik di tingkat Pusat, Provinsi,
maupun Kota / Kabupaten.

788

BAB III
ISU, PERMASALAHAN, DAN TANTANGAN
PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

3.1. Isu Strategis dan Permasalahan Pengelolaan Persampahan


Perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan persampahan pada dasarnya adalah untuk
mewujudkan visi pengelolaan perkotaan yang diharapkan akan dapat terjadi pada masa yang
akan datang. Perumusan visi tersebut didasarkan pada isu-isu utama yang dihadapi dalam
pengelolaan persampahan pada saat ini. Isu-isu tersebut mencakup :

3.1.1. Kapasitas pengelolaan sampah


a.

Makin Besarnya Timbulan Sampah

Peningkatan laju timbulan sampah perkotaan (2 4 % / tahun) yang tidak diikuti dengan
ketersediaan prasarana dan sarana persampahan yang memadai, berdampak pada
pencemaran lingkungan yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dengan selalu
mengandalkan pola kumpul-angkut-buang, maka beban pencemaran akan selalu
menumpuk di lokasi TPA (Tempat Pemrosesan Akhir).
Meningkatnya laju pertumbuhan industri dan konsumsi masyarakat secara umum
berdampak pula pada perubahan komposisi dan karakteristik sampah yang dihasilkan
terutama semakin banyaknya penggunaan plastik, kertas, produk-produk kemasan dan
komponen bahan yang mengandung B3 (bahan beracun dan berbahaya) serta non
boidegradable.
Pengurangan volume sampah merupakan suatu keharusan untuk menyikapi kondisi
tersebut diatas.

b.

Rendahnya Kualitas dan Tingkat Pengelolaan Persampahan

Berdasarkan data BPS tahun 2000, tingkat pelayanan sampah secara nasional saat ini
hanya mencapai kurang lebih 40 %, dengan kualitas pelayanan yang belum memadai.
Kondisi tersebut masih jauh dari standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan yaitu
60 % dengan pelayanan pengumpulan/pengangkutan minimal seminggu 2 kali.

789

Sedangkan masyarakat yang tidak mendapatkan akses pelayanan serta tidak cukup
memiliki lahan untuk proses pengolahan setempat cenderung membuang sampahnya
disembarang tempat dan melakukan pembakaran sampah secara terbuka.
Selain itu buruknya kualitas TPA telah memicu berbagai kasus protes masyarakat yang
diikuti oleh berbagai tindak perusakan fasilitas seperti yang terjadi di TPST Bojong dan
TPA Bantar Gebang bahkan korban meninggal seperti yang terjadi di TPA Leuwigajah
dan Bantar Gebang.

c.

Keterbatasan Lahan TPA

Di kota besar dan metropolitan , fenomena keterbatasan lahan TPA memunculkan


kebutuhan pengelolaan TPA bersama secara regional, namun masih terkendala dengan
banyak faktor seperti rigiditas otonomi daerah. Keterbatasan lahan TPA juga memaksa
dikeluarkannya kebijakan desentralisasi penanganan sampah di sumber yang telah
mentriger kreasi pembakaran sampah dengan incinerator skala kecil yang tidak ramah
lingkungan dan cenderung hanya akan menambah masalah emisi dikemudian hari

3.1.2. Kemampuan kelembagaan

Lembaga atau instansi pengelola persampahan merupakan motor penggerak seluruh


kegiatan pengelolaan sampah dari sumber sampai TPA. Kondisi kebersihan suatu kota
atau wilayah merupakan output dari rangkaian pekerjaan manjemen pengelolaan
persampahan yang keberhasilannya juga ditentukan oleh faktor-faktor lain. Kapasitas
dan kewenangan instansi pengelola persampahan menjadi sangat penting karena
besarnya tanggung jawab yang yang harus dipikul dalam menjalankan roda pengelolaan
yang biasanya tidak sederhana bahkan cenderung cukup rumit sejalan dengan makin
besarnya kategori kota.
Berdasarkan PP 8 / 2003 tentang Dinas Daerah maka dalam rangka efisiensi sumber
daya telah dilakukan pembatasan jumlah dinas yang ada di Kota/Kabupaten. Pengelola
yang semula umumnya telah berbentuk Dinas Kebersihan kemudian terpaksa digabung
dengan berbagai Dinas lainnya yang pemilihannya ditentukan oleh kota/kabupaten
sendiri sejalan dengan misi otonomi. Akibatnya saat ini tidak ada keseragaman bentuk

790

lembaga pengelola persampahan sehingga menyulitkan pembinaannya. Kapasitas unit


kebersihan juga mengalami penurunan kewenangan karena merupakan bagian dari
Dinas induknya sehingga semakin sulit untuk membuat rencana pengembangan.
Pelayanan persampahan di lapangan juga dilaksanakan langsung oleh Dinas. Dalam hal
ini Dinas yang berffungsi sebagai regulator sekaligus menjalankan kegiatan sebagai
operator. Akibatnya sulit dilakukan pengawasan yang obyektif sehingga kualitas
pelayanan menjadi tidak terjamin.
Ketimpangan tersebut masih belum didukung oleh SDM (sumber daya manusia) yang
memadai terutama ditinjau dari kuantitas dan kualitas. Upaya-upaya peningkatan
kualitas personil yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu berupa training bidang
persampahan yang dilakukan oleh perbagai pihak baik Pemerintah maupun Pemerintah
Daerah baik di dalam maupun luar negeri, tidak ditindak lanjuti oleh Pemerintah Daerah
secara memadai. Para tenaga terdidik tersebut pada umumnya telah menempati tugas
diluar sektor persampahan.

3.1.3. Kemampuan pembiayaan

Perhatian terhadap pengelolaan persampahan masih belum memadai baik dari pihak
kepala daerah maupun DPRD. Secara umum alokasi pembiayaan untuk sektor
persampahan masih dibawah 5 % dari total anggaran APBD, rendahnya biaya tersebut
pada umumnya karena pengelolaan persampahan masih belum manjadi prioritas dan
menggunakan pola penanganan sampah yang ala kadarnya tanpa memperhitungkan
faktor keselamatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Demikian juga dengan rendahnya dana penarikan retribusi (secara nasional hanya
mencapai 22 %), sehingga biaya pengelolaan sampah masih menjadi beban APBD.
Rendahnya biaya pengelolaan persampahan pada umumnya karena masalah
persampahan belum mendapatkan perhatian yang cukup selalu akan berdampak pada
buruknya kualitas penanganan sampah termasuk pencemaran lingkungan di TPA.
Pada umumnya masalah persampahan belum mendapatkan perhatian yang cukup selalu
akan berdampak pada buruknya kualitas penanganan sampah termasuk pencemaran
lingkungan di TPA.

791

3.1.4. Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta


a.

Potensi Masyarakat Belum Dikembangkan Secara Sistematis

Sudah sejak lama masyarakat ( individu maupun kelompok) sebenarnya telah mampu
melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah baik untuk skala individual maupun
skala lingkungan terutama dilingkungan permukimannya. Di kawasan perumahan Tiga
Raksa Tangerang telah dilakukan pengelolaan sampah terpadu yang di dukungan LSM
dengan mengedepankan konsep 3 R sehingga residu yang dibuang ke TPA hanya
tinggal 50 %. Potensi ini perlu dikembangkan secara sistematis dengan pendekatan
berbasis mayarakat (community based).

b. Rendahnya Investasi Dunia Usaha/Swasta


Sektor persampahan masih belum dapat menarik minat pihak swasta seperti beberapa
kasus yang ada di lapangan. Keraguan pihak swasta untuk bermitra dengan pemerintah
kota/kabupaten dalam pengelolaan sampah karena tidak adanya iklim yang kondusif
serta cenderung menimbulkan biaya tinggi serta merugikan investasi swasta yang telah
ditanamkan sebagaimana dalam kasus TPST Bojong.
Upaya untuk menarik pihak swasta kedalam komponen kegiatan pengelolaan sampah
belum dilakukan secara memadai termasuk memberikan insentif baik berupa
pengurangan pajak bea masuk bahan atau instalasi yang berkaitan dengan proses
pengolahan sampah seperti geomembrane untuk lapisan dasar kedap air di TPA,
incinerator berteknologi ramah lingkungan dan lain-lain.

3.1.5. Peraturan Perundangan dan Lemahnya Penegakan Hukum

Secara umum kondisi kebersihan diberbagai kota di Indonesia masih jauh dibawah ratarata kebersihan di negara lain. Salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya
pendidikan yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini serta tidak
dilakukannya penerapan sanksi hukum (pidana) dari Perda yang ada secara efektif.
792

Bahkan mungkin masyarakat belum sepenuhnya mengetahui adanya ketentuan dalam


penanganan sampah termasuk adanya sanksi hukum yang berlaku.
BAB IV
KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

4.1. Skenario Pengelolaan Persampahan


Suatu pendekatan atau paradigma baru harus dipahami dan diikuti yaitu bahwa sampah dapat
dikurangi, digunakan kembali dan atau didaur ulang; atau yang sering dikenal dengan istilah 3R
(Reduce, Reuse, Recycle). Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru karena sudah banyak
dilakukan oleh negara maju dan berhasil meningkatkan efisiensi pengelolaan yang signifikan.
Dengan mengurangi sampah sejak di sumbernya maka beban pengelolaan kota akan dapat
dikurangi dan anggaran serta fasilitas akan dapat semakin efisien dimanfaatkan. Beban
pencemaran dapat dikurangi dan lebih jauh lagi dapat turut menjaga kelestarian alam dan
lingkungan.
Sasaran global dari kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan mengacu
pada sasaran terukur yang tertuang dalam RPJMN 2004-2009 dan sasaran dalam pencapaian
MDG 2015 serta beberapa sasaran terukur lainnya; disamping sasaran normatif seperti tertuang
dalam PP No 16 tahun 2005 tentang Sistem Pengembangan Air Minum.

Sasaran yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009
adalah sebagai berikut :

meningkatkan jumlah sampah terangkut hingga 75% hingga akhir tahun 2009 serta
meningkatnya kinerja pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang berwawasan
lingkungan (environmental friendly) pada semua kota-kota metropolitan, kota besar, dan
kota sedang.

Sasaran yang tertuang dalam Rencana Strategis Departemen Pekerjaan Umum 2005-2009
adalah sebagai berikut :

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pengelolaan sanitasi di 276


kota/kabupaten, serta pengembangan drainase dan sistem pengelolaan persampahan, serta
meningkatnya kualitas lingkungan permukiman kawasan kumuh dan nelayan seluas 1.700
ha yang mencakup sekitar 4,2 juta unit.

793

Disamping kedua sasaran perencanaan tersebut, sasaran pembangunan bidang persampahan juga
mengakomodir sasaran Millennium Development Goals tahun 2015 untuk menyediakan akses
pelayanan persampahan kepada masyarakat mampu melayani masyarakat dengan kapasitas 80
% atau 104,6 juta jiwa di perkotaan dan 50 % atau 57,5 juta jiwa di perdesaan, dan total
seluruh Indonesia mencapai 66 % atau 162,1 juta jiwa.

4.2. Sasaran Kebijakan


Dengan memperhatikan berbagai sasaran yang telah disebutkan sebelumnya dan dengan
memperhatikan berbagai kendala, tantangan dan peluang yang ada, maka ditetapkan beberapa
sasaran utama yang hendak dicapai pada tahun 2006 - 2010 yang meliputi :

Tercapainya kondisi kota dan lingkungan yang bersih termasuk saluran drainase perkotaan

Pencapaian pengurangan kuantitas sampah sebesar 20 %

Pencapaian sasaran cakupan pelayanan 60 % penduduk

Tercapainya kualitas pelayanan yang sesuai atau mampu melampaui standar pelayanan
minimal persampahan

Tercapainya peningkatan kualitas pengelolaan TPA menjadi Sanitary Landfill untuk kota
metropolitan dan kota Besar, serta Controlled Landfill untuk kota Sedang dan kota Kecil;
serta tidak dioperasikannya TPA secara Open Dumping

Tercapainya peningkatan kinerja institusi pengelola persampahan yang mantap dan


berkembangnya pola kerjasama regional

4.3. Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan


Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan
dirumuskan sebagai berikut:
Kebijakan (1)
: Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari
sumbernya
Kebijakan (2)
: Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta
sebagai mitra pengelolaan
Kebijakan (3)
: Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan
Kebijakan (1) : Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya

794

Pengurangan sampah dari sumbernya merupakan aplikasi pengelolaan sampah paradigma


baru yang tidak lagi bertumpu pada end of pipe system, dimaksudkan untuk mengurangi
volume sampah yang harus diangkut dan dibuang ke TPA dan memanfaatkan semaksimal
mungkin material yang dapat di daur ulang. Pengurangan sampah tersebut selain dapat
menghemat lahan TPA juga dapat mengurangi jumlah angkutan sampah dan
menghasilkan kualitas bahan daur ulang yang cukup baik karena tidak tercampur dengan
sampah lain. Potensi pengurangan sampah di sumber dapat mencapai 50 % dari total
sampah yang dihasilkan.

Untuk operasionalisasi kebijakan tersebut maka beberapa strategi ditetapkan yaitu :

Strategi (1) :

Meningkatkan pemahaman masyarakat akan upaya 3R (ReduceReuse-Recycle) dan pengamanan sampah B3 (Bahan Buangan
Berbahaya) rumah tangga

Mengingat upaya pengurangan volume sampah di sumber sangat erat kaitannya


dengan perilaku masyarakat, diperlukan suatu upaya penyadaran dan peningkatan
pemahaman untuk mendorong perubahan perilaku yang dilakukan secara berjenjang
baik melalui promosi yang dapat memberi gambaran mengenai nilai pengurangan
sampah di sumber dan dampaknya bagi kualitas kesehatan dan lingkungan maupun
kampanye yang terus menerus untuk membangun suatu komitmen sosial. Pengurangan
sampah di sumber ini dilakukan melalui mekanisme 3 R, yaitu reduce (R1), reuse (R2)
dan recycle (R3). R1 adalah upaya yang lebih menitikberatkan pada pengurangan pola
hidup konsumtif serta senantiasa menggunakan bahan "tidak sekali pakai" yang ramah
lingkungan. R2 adalah upaya memanfaatkan bahan sampah melalui penggunaan yang
berulang agar tidak langsung menjadi sampah. R3 adalah setelah sampah harus keluar
dari lingkungan rumah, perlu dilakukan pemilahan dan pemanfaatan/pengolahan
secara setempat.
Selain itu, diperlukan juga penanganan sampah B3 rumah tangga (lampu neon,
kemasan pestisida, batu batere dan lain-lain) secara khusus.

795

Rencana tindak lanjut dari startegi ini adalah pelaksanaan promosi dan kampanye 3R
secara luas melalui berbagai media massa untuk menjangkau masyarakat dari berbagai
kalangan.
Strategi (2) : Mengembangkan dan menerapkan system insentif dan disinsentif dalam
pelaksanaan 3R
Upaya pengurangan sampah di sumber perlu didukung dengan pemberian insentif yang
dapat mendorong masyarakat untuk senantiasa melakukan kegiatan 3R. Insentif
tersebut antara lain dapat berupa pengurangan retribusi sampah, pemberian kupon
belanja pengganti kantong plastik, penghargaan tingkat kelurahan dan lain-lain.

Penerapan mekanisme insentif/disinsentif tersebut harus diawali dengan kesiapan


sistem pengelolaan sampah kota yang memadai

Strategi ini dilaksanakan melalui rencana tindak sebagai berikut:

Penyusunan pedoman insentif dan disinsentif dalam pengelolaan persampahan di


sumber
Pelaksanaan uji coba/pengembangan dan replikasi 3R (pemanfaatan sampah
melalu pemilahan sampah di sumber, pembuatan kompos dan daur ulang) di
permukiman
Pemberian insentif kepada masyarakat dan swasta yang berhasil melaksanakan
reduksi sampah
Replikasi model-model best practice

Strategi (3) :

Mendorong koordinasi lintas sektor terutama perindustrian


& perdagangan

Keterlibatan sektor industri dan perdagangan dalam hal ini akan sangat signifikan dalam
upaya reduksi sampah kemasan oleh masyarakat. Sedangkan disinsentif juga perlu
diperlakukan untuk mendorong masyarakat tidak melakukan hal-hal diluar ketentuan.

796

Disinsentif dapat berupa antara lain peringatan, peningkatan


pengumpulan/pengangkutan untuk jenis sampah tercampur dan lain-lain.

biaya

Rencana tindak selanjutnya adalah fasilitasi pembentukan forum koordinasi


interdepartemen untuk penerapan 3R sebagai wadah saling bertukar pikiran dan
penyusunan program untuk dapat diimplementasikan di masing-masing Departemen
terkait.

Kebijakan (2)

Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta


sebagai mitra pengelolaan

Untuk melaksanakan pengurangan sampah di sumber dan meningkatkan pola-pola


penanganan sampah berbasis masyarakat, diperlukan perubahan pemahaman bahwa
masyarakat bukan lagi hanya sebagai obyek tetapi lebih sebagai mitra yang
mengandung makna kesetaraan. Tanpa ada peran aktif masyarakat akan sangat sulit
mewujudkan kondisi kebersihan yang memadai.
Disamping masyarakat, pihak swasta / dunia usaha juga memiliki potensi yang besar
untuk dapat berperan serta menyediakan pelayanan publik ini. Beberapa pengalaman
buruk dimasa lalu yang sering membebani dunia usaha sehingga tidak berkembang perlu
mendapatkan upaya-upaya perbaikan.
Swasta jangan lagi dimanfaatkan bagi
kepentingan lain, tetapi perlu dilihat sebagai mitra untuk bersama mewujudkan
pelayanan kepada masyarakat sehingga kehadirannya sangat diperlukan
Untuk operasionalisasi kebijakan tersebut maka beberapa strategi ditetapkan yaitu :
Strategi (1) :

Meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan sampah


sejak dini melalui pendidikan bagi anak usia sekolah

Upaya merubah perilaku pembuangan sampah seseorang yang sudah dewasa terbukti
tidak efektif; terutama dalam hal pemilahan sampah sejak dari sumber. Untuk itu
diperlukan strategi peningkatan yang lebih sistematik, yaitu melalui mekanisme
pendidikan masalah kebersihan / persampahan sejak dini di sekolah. Strategi ini perlu
dilaksanakan secara serentak di seluruh kota di Indonesia (SD, SMP dan SMA).

797

Rencana tindak yang diperlukan adalah pelaksanaan ujicoba / pengembangan dan


replikasi sekolah bersih dan hijau untuk memotivasi anak usia sekolah secara dini
mengenal dan memahami berbagai metode pengelolaan sampah sederhana di
lingkungan sekolahnya

Strategi (2) :

Menyebarluaskan pemahaman tentang pengelolaan


persampahan kepada masyarakat umum

Pemerintah perlu menyusun berbagai pedoman dan penduan bagi masyarakat agar
mereka lebih memahami tentang pengelolaan persampahan sehingga dapat bertindak
sesuai dengan yang diharapkan. Berbagai produk panduan dan pedoman ini perlu
disebarluaskan melalui berbagai media terutama media massa yang secara efektif akan
menyampaikan berbagai pesan yang terkandung di dalamnya.
Rencana tindak yang diperlukan akan mencakup : Penyusunan pedoman / panduan
pengelolaan persampahan dan penyebarluasannya melalui media massa

Strategi (3) :

Meningkatkan pembinaan masyarakat khususnya kaum


perempuan dalam pengelolaan sampah

Selain melalui pendidikan sejak dini yang hasilnya akan dirasakan dalam jangka panjang,
strategi pembinaan dalam rangka meningkatkan kemitraan masyarakat terutama kaum
perempuan juga sangat diperlukan. Perempuan sangat erat kaitannya dengan timbulan
sampah di rumah tangga (75 % sampah kota berasal dari rumah tangga), sehingga
diperlukan mekanisme pembinaan yang efektif untuk pola pengurangan sampah sejak
dari sumbernya. Forum kaum perempuan yang saat ini eksis di masyarakat seperti PKK
perlu dilibatkan sebagai vocal point
Rencana tindak yang diperlukan adalah fasilitasi forum lingkungan oleh kaum perempuan
yang diharapkan dapat secara efektif berlanjut pada penerapan di rumah dan kelompok
masing-masing.

798

Strategi (4) :

Mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat

Masyarakat terbukti mampu melaksanakan berbagai program secara efektif dan bahkan
dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi terutama bila keikutsertaan mereka
dilibatkan sejak awal. Kegiatan ini dapat dilaksanakan untuk meningkatkan pengelolaan
sampah di lingkungan perumahan melalui pemberdayaan masyarakat setempat, yang
selanjutnya dapat dreplikasi di tempat lainnya.
Rencana tindak yang diperlukan adalah pelaksanaan ujicoba/pengembangan/replikasi
pengelolaan berbasis masyarakat.

Strategi (5) :

Mengembangkan sistem insentif dan iklim yang kondusif bagi


dunia usaha/swasta

Iklim yang menarik dan kondusif bagi swasta serta berbagai insentif perlu diciptakan dan
dikembangkan agar semakin banyak pihak swasta yang mau terjun dalam bisnis
pelayanan publik persampahan. Peninjauan kembali pedoman dan ketentuan
penanaman modal swasta dalam bidang persampahan perlu segera dilakukan untuk
mengurangi hambatan faktor resiko dan dapat menarik faktor keuntungan yang
proporsional.
Pemerintah perlu memberikan fasilitasi dan melakukan ujicoba kerjasama swasta dalam
skala yang signifikan di beberapa kota percontohan. Kerjasama ini hendaknya dilakukan
secara profesional dan transparan sehingga dapat menjadi contoh untuk multiplikasi di
kota lainnya.
Rencana tindak yang diperlukan adalah :

Penyusunan pedoman investasi dan kemitraan


Fasilitasi Pelaksanaan pengembangan kemitraan pengelolaan sampah
Replikasi pengembangan kemitraan pengelolaan sampah skala kawasan

799

Kebijakan (3) :

Peningkatan
pengelolaan

cakupan

pelayanan

dan

kualitas

sistem

Tingkat pelayanan yang 40% pada saat ini menyebabkan banyak dijumpai TPS yang tidak
terangkut dan masyarakat yang membuang sampah ke lahan kosong / sungai. Banyak
anggota masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan pengumpulan sampah secara
memadai. Sementara itu berbagai komitmen internasional sudah disepakati untuk
mendorong peningkatan pelayanan yang lebih tinggi kepada masyarakat. Sasaran
peningkatan pelayanan nasional pada tahun 2015 yang mengarah pada pencapaian 70%
penduduk juga telah ditetapkan bersama.
Untuk operasionalisasi kebijakan tersebut maka beberapa strategi ditetapkan yaitu :

Strategi (1) :

Optimalisasi
persampahan

pemanfaatan

prasarana

dan

sarana

Rendahnya tingkat pelayanan pengumpulan sampah sering diakibatkan oleh rendahnya


tingkat pemanfaatan armada pengangkut. Banyak kota masih mengoperasikan truck
sampah dengan ritasi tidak efisien (tidak lebih dari 2 rit / hari). Sehingga diperlukan
upaya untuk meningkatkan ritasi kendaraan pengangkut dan peralatan lainnya sehingga
lebih banyak sampah terangkut dan lebih banyak masyarakat dapat terlayani.
Rencana tindak yang diperlukan adalah :
-

Strategi (2) :

Pelaksanaan evaluasi kinerja prasarana dan sarana persampahan


Penyusunan pedoman manajemen asset persampahan

Meningkatkan cakupan pelayanan secara terencana dan


berkeadilan

Pelayanan juga diharapkan dapat disediakan dengan jangkauan yang memberikan rasa
keadilan. Disamping pusat kota yang mendapat prioritas, pelayanan juga tetap harus
disediakan bagi masyarakat kelas ekonomi rendah agar mereka juga dapat menikmati
lingkungan permukiman yang bersih dan sehat. Perluasan jangkauan pelayanan juga

800

harus dilakukan secara terencana dan terprogram dengan


mempertimbangkan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya.
Strategi (3) :

baik

dengan

Meningkatkan kapasitas sarana persampahan sesuai sasaran


pelayanan

Dalam batas pemanfaatan optimal telah tercapai dan masih dibutuhkan peningkatan
cakupan pelayanan maka akan diperlukan adanya peningkatan kapasitas sarana
persampahan khususnya armada pengangkutan.
Rencana tindak yang diperlukan adalah penambahan sarana persampahan khususnya
armada pengangkut sampah sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan.
Strategi (4) :

Melaksanakan rehabilitasi TPA yang mencemari lingkungan

Pengelolaan TPA yang buruk dibanyak kota harus diakhiri dengan upaya peningkatan
pengelolaan sesuai ketentuan teknis yang berlaku. TPA yang jelas-jelas telah
menimbulkan masalah bagi lingkungan sekitarnya perlu segera mendapatkan langkahlangkah rehabilitasi agar permasalahan lingkungan yang terjadi dapat diminimalkan.
Rencana tindak yang diperlukan adalah pelaksanaan rehabilitasi TPA yang mencemari
lingkungan sesuai dengan prioritas
Strategi (5) :

Meningkatkan kualitas pengelolaan TPA kearah sanitary landfill serta

TPA yang masih dioperasikan dengan jangka waktu relatif lama perlu segera dilakukan
upaya peningkatan fasilitas dan pengelolaan mengarah pada metide sanitary landfiull
dan Controlled landfill agar tidak menimbulkan masalah lingkungan di kemudian hari.
Rencana tindak yang diperlukan adalah penyusunan pedoman peningkatan pengelolaan
TPA yang sangat diperlukan oleh daerah untuk perbaikan fasilitas persampahan yang
dmiliki.
Strategi (6) :

Meningkatkan Pengelolaan TPA Regional

Kota-kota besar pada umumnya mengalami masalah dengan lokasi TPA yang semakin
terbatas dan sulit diperoleh. Kerjasama pengelolaan TPA dengan kota / kabupaten
lainnya akan sangat membantu penyelesaian masalah dengan mempertimbangkan solusi
yang saling menguntungkan.

801

Rencana tindak yang diperlukan adalah :


Strategi (7) :

Penyusunan studi lokasi dan kelayakan pengembangan TPA regional


sesuai Tata Ruang
Ujicoba pengelolaan TPA regional secara profesional
Penelitian, pengembangan, dan aplikasi teknologi
penanganan persampahan tepat guna dan berwawasan
lingkungan.

Kekeliruan dalam pemilihan teknologi seperti insinerator tungku yang banyak dilakukan
oleh Pemerintah Daerah perlu segera dihentikan dengan memberikan pemahaman akan
kriteria teknisnya. Disamping itu juga sangat diperlukan aktivitas penelitian dan
pengembangan untuk mendapatkan teknologi yang paling sesuai dengan kondisi sampah
di Indonesia pada umumnya.
Rencana tindak yang diperlukan adalah :

Penyusunan pedoman teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan


Penyusunan pedoman pemanfaatan gas TPA
Penyusunan pedoman waste-to-energy
Ujicoba waste-to-energy untuk kota besar /metro

Kebijakan (4) :

Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan

Motor penggerak pengelolaan persampahan adalah institusi yang diberi kewenangan


untuk melaksanakan seluruh aspek manajemen untuk menghasilkan kualitas pelayanan
persampahan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan suatu
kebijakan yang
yang mendukung perkuatan kapasitas kelembagaan pengelola
persampahan. Perkuatan kelembagaan tersebut ditinjau dari bentuk institusi yang
memiliki kewenangan yang sesuai dengan tanggung jawabya, memiliki fungsi
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian serta didukung oleh tenaga yang terdidik
dibidang manajemen persampahan.
Banyak kelemahan masih dilakukan oleh hampir semua pemangku kepentingan
persampahan dan belum ada langkah-langkah strategis untuk menyelesaikannya.
Beberapa kelemahan tersebut misalnya dapat dilihat pada beberapa contoh berikut :

802

Pengelola Kebersihan (Pemerintah Daerah) belum mengangkut sampah dari TPS sesuai
ketentuan; atau mengoperasikan pembuangan sampah secara open dumping.
Masyarakat juga memiliki andil kelemahan misalnya dalam hal tidak membayar retribusi
sesuai ketentuan, atau membuang sampah sembarangan. Legislatif belum menyediakan
anggaran sesuai kebutuhan minimal yang harus disediakan. Pemerintah Pusat belum
mampu menyediakan ketentuan peraturan secara lengkap, dan lain-lain.
Untuk mengatasi hal tersebut maka sangat diperlukan adanya kebijakan agar aturanaturan hukum dapat disediakan dan diterapkan sebagaimana mestinya untuk menjamin
semua pemangku kepentingan melaksanakan bagian masing-masing secara bertanggung
jawab.
Untuk operasionalisasi kebijakan tersebut maka beberapa strategi ditetapkan yaitu :

Strategi (1) :

Meningkatkan Status dan kapasitas institusi pengelola

Peningkatan bentuk institusi pengelola persampahan menjadi setingkat Dinas atau


Perusahaan Daerah untuk kota besar dan metropolitan didasarkan pada kebutuhan
manajemen untuk menyelesaikan masalah persampahan yang sudah cenderung lebih
komplek. Sedangkan untuk kota sedang dan kota kecil diperlukan institusi setingkat "Sub
Dinas" atau "Seksi" atau "UPT" (unit pelaksana teknis).
Rencana tindak yang diperlukan adalah penyusunan pedoman kelembagaan pengelolaan
persampahan.
Strategi (2) :

meningkatkan kinerja institusi pengelola persampahan

Institusi pengelola persampahan perlu meningkatkan diri secara terus menerus dengan
melakukan evaluasi kinerja pengelolaan sehingga dapat diidentifikasi berbagai
kelemahan yang ada dan melakukan upaya-upaya peningkatan yang terarah.
Rencana tindak yang diperlukan adalah meningkatkan pelaksanaan evaluasi kinerja
pengelola persampahan
Strategi (3) :

memisahkan fungsi / unti regulator dan operator

803

Profesionalisme pelayanan persampahan saat ini sudah mendesak untuk segera


diwujudkan. Sehingga satu institusi yang berperan ganda sebagai operator sekaligus
regulator sudah waktunya dipisahkan. Adanya dua peran dalam satu institusi telah
menyebabkan kerancuan dalam mekanisme pengawasan pelaksanaan pengelolaan
sampah, seperti yang saat ini terjadi.
Apabila intitusi akan berperan sebagai operator maka diperlukan intitusi pengawas yang
berperan sebagai regulator . Namun apabila untuk menyelenggarakan pelayanan
persampahan dikontrakkan dengan pihak ketiga, maka Dinas/Sub dinas menjadi
regulator dengan tetap berkordinasi dengan instansi terkait.
Struktur organisasi suatu Dinas/Perusahaan Daerah/Sub Dinas/Seksi/UPT sebaiknya
hanya menangani masalah kebersihan saja dan perlu memiliki fungsi perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian yang efisien dan efektif
Rencana tindak yang diperlukan adalah :

Penyusunan Pedoman pemisahan fungsi regulator dan operator


Bantuan teknis pemisahan fungsi regulator dan operator

Strategi (4) :

Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan pemangku


kepentingan lain

Perkuatan kapasitas kelembagaan juga akan sangat dipengaruhi oleh pola-pola


kerjasama horizontal maupun vertikal termasuk kerjasama antar kota dalam penerapan
pola pengelolaan sampah secara regional. Kerjasama antar instansi dibutuhkan untuk
berbagai hal yang berkaitan dengan kewenangan instansi lain seperti pengelolaan
sampah pasar, drainase / sungai, pihak produsen/industri/perdagangan (penanganan
sampah kemasan dan B3 rumah tangga dan bahan-bahan daur ulang),
pertanian/kehutanan (pemasaran kompos), bidang pendidikan dan lain-lain. Selain itu
kerjasama dengan pihak PLN (kerjasama penarikan retribusi), pihak
developer/kelurahan/LSM (penanganan sampah skala kawasan berbasis masyarakat) dan
perguruan tinggi (penelitian dan pengembangan serta inovasi teknologi) juga sangat
diperlukan.
Strategi (5) :

Meningkatkan kualitas SDM manusia

804

Dalam rangka peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola persampahan,


profesionalisme sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu unsur utama yang
dapat menggerakkan roda manajemen persampahan secara menyeluruh. Peningkatan
kualitas SDM menjadi sangat penting untuk terselenggaranya suatu sistem pengelolaan
persampahan yang berkelanjutan.
Rencana tindak yang diperlukan adalah pelaksanaan pendidikan dan pelatihan baik
ditingkat pusat, provinsi, dan kota / kabupaten
Strategi (6) :

Mendorong pengelolaan kolektif atas penyelenggaraan


persampahan skala regional

Keterbatasan lahan TPA (tempat pengolahan akhir) sampah dikawasan perkotaan,


memerlukan solusi penanganan bersama secara regional agar lebih efisien. Pengelolaan
regional dikembangkan dengan memperhatikan azas manfaat bagi setiap Pemerintah
Daerah yang terlibat. Model pengelolaan kolektif untuk 2 kota atau lebih perlu
diterapkan secara lebih memadai.
Rencana tindak yang diperlukan adalah penyusunan pedoman organisasi pengelola
fasilitas regional

Strategi (7) :

Meningkatkan kelengkapan produk hukum/NPSM sebagai


landasan dan acuan pelaksanaan pengelolaan persampahan
Produk hukum baik berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah,
Peraturan Menteri, dll haruslah disediakan secara lengkap dan mampu mengantisipasi
segala perkembangan dinamika pengelolaan persampahan.

Rencana tindak yang diperlukan adalah penyusunan dan pengembangan NPSM


persampahan
Strategi (8) :

Mendorong penerapan sistem pengawasan dan penerapan


sanksi hukum secara konsisten dalam rangka pembinaan
aparat, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Semua pelaksanaan ketentuan hukum dan peraturan haruslah mendapat pengawasan

805

yang baik dan bila diperlukan dilakukan tindakan pengenaan sanksi terhadap pelaku
penyimpangan baik dari unsur Pemerintah, Masyarakat, Swasta, dan lain-lain untuk
membina setiap pemangku kepentingan melaksanakan tugas dan kewajibannya secara
bertanggung jawab.
Rencana tindak yang diperlukan adalah penyusunan pedoman penarapan produk dan sanksi
hukum persampahan

Kebijakan (5) :

Pengembangan alternatif sumber pembiayaan

Pengelolaan persampahan memang bagian dari pelayanan publik yang harus disediakan
oleh Pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Namun demikian pengelolaan
persampahan juga merupakan tanggung jawab masyarakat untuk menjaga
keberlanjutannya. Sharing dari masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga agar
pelayanan pengelolaan persampahan dapat berlangsung dengan baik dan memenuhi
kebutuhan masyarakat. Salah satu bentuk sharing dari masyarakat adalah melalui
pembayaran retribusi kebersihan yang diharapkan mampu mencapai tingkat yang dapat
membiayai dirinya sendiri.
Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah investasi untuk menyediakan kebutuhan
prasarana dan sarana yang memadai untuk mewujudkan pelayanan tersebut; dan
masyarakat secara bertahap memberikan kontribusi untuk membiayai pelaksanaan
pengelolaannya.
Strategi (1) :

Penyamaan persepsi para pengambil keputusan

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak terdapat perbedaan persepsi akan prioritas dan
pentingnya pengelolaan persampahan termasuk perlunya pemulihan biaya pengelolaan;
bahkan diantara para pengambil keputusan di Pemerintah Daerah. Untuk itu diperlukan
upaya-upaya untuk membangun dan menyamakan persepsi agar pengelolaan
persampahan mendapatkan perhatian yang seimbang.
Untuk dapat menyediakan anggaran dan menggali alternatif pembiayaan persampahan,
diperlukan proses penyamaan persepsi ditingkat para pengambil keputusan baik pusat
maupun daerah sehingga pemahaman akan pentingnya pelayanan persampahan dapat
dimiliki dan menjadi pertimbangan dalam pengalokasian anggaran selanjutnya

806

Rencana tindak yang diperlukan adalah :


-

Strategi (2) :

pelaksanaan sosialisasi prioritas pengelolaan persampahan bagi para


pengambil keputusan baik eksekutif maupun legislatif.
Pengalokasian anggaran yang seimbang / adil bagi pengelolaan
persampahan agar dapat menyediakan pelayanan yang baik secara
kuantitas maupun kualitas
Mendorong peningkatan pemulihan biaya persampahan

Pemerintah Daerah perlu didorong untuk meningkatkan pemulihan biaya dari


pengelolaan persampahan agar subsidi bagi pelayanan publik ini dapat dibatasi dan
mengupayakan semaksimal mungkin pendanaan dari masyarakat.
Rencana tindak yang diperlukan adalah penyusunan pedoman dan aturan untuk
memudahkan Pemerintah Daerah melaksanakan upaya pemulihan biaya pengelolaan
persampahan. Pedoman dan aturan tersebut akan meliputi pedoman penyusunan
rencana biaya, pedoman pengelolaan keuangan, pedoman penyusunan tarif retribusi;
yang akan menjadi acuan yang memudahkan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan
upaya-upaya pemulihan biaya.
BAB V
PENUTUP

Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan merupakan arahan dasar
yang masih harus dijabarkan ke dalam rencana tindak secara lebih operasional oleh berbagai
pihak yang berkepentingan di bidang pengelolaan persampahan, sehingga pada akhirnya Visi
yang diharapkan dapat dicapai dengan baik. Penjabaran secara teknis melalui kegiatan
penyiapan perangkat pengaturan, perencanaan, pemrograman, pelaksanaan, dan pengendalian
serta pengelolaan pembangunan dilakukan secara menyeluruh di semua tingkatan pemerintahan,
baik di Pusat maupun Daerah wilayah provinsi, kabupaten, dan kota.
Selanjutnya perlu adanya kesepakatan rencana tindak tingkat pusat dan daerah dalam
melaksanakan Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem engelolaan Persampahan,
serta mekanisme koordinasinya. Pola peran serta masyarakat dan dunia usaha perlu dijabarkan
sesuai kondisi dan kebutuhan baik di pusat maupun di daerah.

807

DITETAPKAN DI :

JAKARTA

PADA TANGGAL : 15 SEPTEMBER 2006

MENTERI PEKERJAAN UMUM

DJOKO KIRMANTO

808

KEBIJAKAN & STRATEGI NASIONAL PENGEMBANGAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN (KSPN-SPP)

KEBIJAKAN

STRATEGI

RENCANA TINDAK

1. Pengurangan timbulan sampah


semaksimal mungkin dimulai dari
sumbernya

- Meningkatkan pemahaman masyarakat akan 3R


- Mengembangkan dan menerapkan system insentif dan
disinsentif dalam pelaksanaan 3R
- Mendorong koordinasi lintas sektor (perindustrian &
perdagangan)

- Promosi dan kampanye 3R nasional


- Pelaksanaan ujicoba/pengembangan
dan replikasi 3R di permukiman
- Fasilitasi pembentukan forum
koordinasi interdepartemen untuk
penerapan 3R

2. Peningkatan peran aktif masyarakat

- Meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan


persampahan sejak dini melalui pendidikan di sekolah
- Menyebarluaskan pemahaman tentang pengelolaan
persampahan kepada masyarakat umum
- Membina masyarakat khususnya kaum perempuan dalam
pengelolaan persampahan
- Mendorong peningkatan pengelolaan berbasis
masyarakat
- Mengembangkan sistem insentif dan iklim yang kondusif
bagi dunia usaha/ swasta

- Pelaksanaan Ujicoba/pengembangan
dan replikasi sekolah bersih dan
hijau
- Pengembangan pedoman/panduan
pengelolaan sampah
- Fasilitasi forum lingkungan oleh kaum
perempuan
- Pelaksanaan ujicoba/pengembangan/
replikasi Pengelolaan sampah
berbasis masyarakat
- Penyusunan pedoman kemitraan
- Fasilitasi/Ujicoba/pengembangan/
replikasi kemitraan dengan swasta
- Pelaksanaan Evaluasi kinerja
Prasarana & Sarana Persampahan
- Pedoman manajemen asset
persampahan
- Penyusunan Masterplan, Studi

dan dunia usaha/swasta sebagai


mitra pengelolaan

3. Peningkatan cakupan pelayanan dan

- Optimalisasi Prasarana&Sarana persampahan kota/kab.

kualitas sistem pengelolaan


- Meningkatkan cakupan pelayanan secara terencana dan

809

KEBIJAKAN

STRATEGI

RENCANA TINDAK

berkeadilan
- Meningkatkan kapasitas sarana persampahan sesuai
sasaran pelayanan
- Melaksanakan rehabilitasi TPA yang mencemari
lingkungan
- Mengembangkan TPA kearah SLF/CLF
- Meningkatkan TPA regional

- Melaksanakan Litbang dan aplikasi teknologi penanganan


sampah tepat guna dan berwawasan lingkungan

kelayakan, Perencanaan Teknis dan


Manajemen Penambahan prasarana
& sarana persampahan sesuai
kebutuhan
Pelaksanaan rehabilitasi TPA
Penyusunan pedoman pengelolaan
TPA
Penyusunan Studi lokasi dan
kelayakan pengembangan TPA
regional sesuai tata ruang
Uji coba pengelolaan TPA regional
secara profesional
Penyusunan pedoman teknologi
pengolahan sampah ramah lingkungan
Penyusunan pedoman pemanfaatan
gas TPA
Penyusunan pedoman waste-toenergy
Ujicoba waste-to-energy (kota besar/
metropolitan)

810

KEBIJAKAN
4. Pengembangan kelembagaan,
peraturan dan perundangan

STRATEGI
- Meningkatkan status & kapasitas institusi pengelola
- Meningkatkan kinerja institusi pengelola

- Memisahkan fungsi / unit regulator & operator


- Meningkatkan koordinasi & kerjasama antar stakeholder
- Meningkatkan kualitas SDM bidang persampahan
- Mendorong pengelolaan kolektif atas P&S regional
- Meningkatkan kelengkapan produk hukum / NPSM
pengelolaan persampahan

- Mendorong implementasi/penerapan hukum bidang


persampahan
5. Pengembangan alternatif sumber
pembiayaan.

- Menyamakan persepsi para pengambil keputusan dalam


pengelolaan persampahan dan kebutuhan anggaran

RENCANA TINDAK
- Penyusunan pedoman kelembagaan
- Pelaksanaan Evaluasi kinerja lembaga
- Pelaksanaan program Adipura/Kota
Sehat
Penyusunan pedoman pemisahan
fungsi regulator dan operator
Bantuan teknis pemisahan fungsi
regulator dan operator
Penyusunan pedoman
pengembangan kerjasama antar
stakeholder di tingkat kota/kab
Pelaksanaan pendidikan dan
pelatihan di tingkat pusat, prov, dan
kota/kab.
Pedoman organisasi pengelola
fasilitas regional
Penyusunan dan pengembangan
NPS K persampahan
Penyusunan pedoman penerapan
produk dan sanksi hukum
persampahan
- Sosialisasi prioritas pengelolaan
persampahan bagi para pengambil
keputusan (eksekutif & legislatif)
- Pengalokasian anggaran persampahan

811

KEBIJAKAN

STRATEGI

- Mendorong peningkatan pemulihan biaya persampahan

RENCANA TINDAK
- Penyusunan pedoman penyusunan
rencana biaya, pengelolaan euangan,
penyusunan tarif retribusi

812

LAMPIRAN IC
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN AIR LIMBAH

MENTERI PEKERJAAN UMUM


REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR: 16/PRT/M/2008

TENTANG
KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL PENGEMBANGAN
SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN
(KSNP-SPALP)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PEKERJAAN UMUM,

Menimbang

a.

bahwa dalam rangka penyehatan lingkungan permukiman yang


berkelanjutan, dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat
Indonesia sehingga masyarakat dapat menjadi lebih produktif
perlu dilakukan pengembangan sistem pengelolaan air limbah
permukiman yang ramah lingkungan;

b.

bahwa dalam upaya mewujudkan situasi dan kondisi permukiman


sehat yang diinginkan dan memenuhi target Millenium
Development Goals (MDGs) yang disepakati dalam KTT
Millenium PBB bulan September 2000, diperlukan rencana,
program, dan pelaksanaan kegiatan yang terpadu, efisien, dan efektif,
diperlukan Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan
Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman;

c.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada


huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman
(KSNP-SPALP);

Mengingat

1. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis


Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3838)
2. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kawasan
Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 171, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3892);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4490);

4.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4502);

5.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);

6.

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata


Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4833);

7.

Peraturan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan


Kabinet Indonesia Bersatu;

8. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,


Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian
Negara Republik Indonesia;

9.

Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi


dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia;

10. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009;

11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 01/M/2008 tentang Organisasi dan


Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG KEBIJAKAN


DAN STRATEGI NASIONAL PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN
AIR LIMBAH PERMUKIMAN (KSNP-SPALP)

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.

2.
3.

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman, yang
selanjutnya disingkat KSNP-SPALP adalah arah dan langkah-langkah dalam pengembangan sistem air
limbah permukiman dalam rangka mendukung pencapaian sasaran nasional pengelolaan air limbah
permukiman melalui perencanaan, pemrograman, pembiayaan, dan pelaksanaan secara terpadu, efektif,
dan efisien.
Air Limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan
permukiman.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.

Bagian Kedua
Maksud dan Ruang Lingkup

Pasal 2
KSNP-SPALP ini dimaksudkan sebagai pedoman dan arahan dalam penyusunan kebijakan teknis, perencanaan,
pemrograman, pelaksanaan, dan pengelolaan dalam penyelenggaraan dan pengembangan sistem pengelolaan
air limbah permukiman, baik bagi pemerintah pusat, maupun daerah, dunia usaha, swasta, dan masyarakat
sesuai dengan kondisi setempat.
Pasal 3
Ruang Lingkup KSNP-SPALP meliputi uraian tentang visi dan misi pengembangan sistem pengelolaan air
limbah permukiman; isu strategis, permasalahan dan tantangan, pengembangan sistem air limbah
permukiman, tujuan/sasaran; serta kebijakan dan strategi nasional pengembangan sistem pengelolaan air
limbah permukiman dengan rencana tindak yang diperlukan.

BAB II
KETENTUAN TEKNIS DAN PENGATURAN DI DAERAH
Pasal 4
(1) Ketentuan teknis dan pedoman pelaksanaan yang lebih rinci dalam rangka pengaturan,
penyelenggaraan, dan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman sebagai
penjabaran dari KSNP-SPALP perlu disusun dan ditetapkan lebih lanjut oleh instansi-instansi terkait.
(2) Rincian KSNP-SPALP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada lampiran yang merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.
Pasal 5
(1). Dalam hal Daerah belum mempunyai pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, maka ketentuan
dan rencana pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman di daerah perlu disiapkan dan
ditetapkan dengan Peraturan Daerah, mengacu pada Peraturan Menteri ini;

(2).

Bagi Daerah yang telah mempunyai Peraturan Daerah tentang pengembangan sistem pengelolaan
air limbah permukiman sebelum Peraturan Menteri ini diterbitkan, agar peraturan daerah tersebut
disesuaikan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Peraturan Menteri ini.

BAB III
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 6
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka pengaturan, proses penyusunan rencana, program,
pelaksanaan kegiatan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman harus mengacu pada
Peraturan Menteri ini.

BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 7
(1) Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
(2) Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada para pihak yang bersangkutan untuk diketahui dan
dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 17 Desember 2008
MENTERI PEKERJAAN UMUM

DJOKO KIRMANTO

Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


Nomor

: 16/PRT/M/2008

Tentang

: Kebijakan dan Strategi Nasional


Pengembangan Sistem Pengelolaan Air
Limbah Permukiman
(KSNPSPALP)

Tanggal

: 17 Desember 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang begitu cepat terutama di wilayah perkotaan memberikan dampak
yang sangat serius terhadap penurunan daya dukung lingkungan. Dampak tersebut harus disikapi dengan
tepat, khususnya dalam pengelolaan air limbah, oleh karena kenaikan jumlah penduduk akan meningkatkan
konsumsi pemakaian air minum/bersih yang berdampak pada peningkatan jumlah air limbah. Pembuangan
air limbah tanpa melalui proses pengolahan akan mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan,
khususnya terjadinya pencemaran pada sumber-sumber air baku untuk air minum, baik air permukaan
maupun air tanah.

Pengelolaan air limbah memerlukan prasarana dan sarana penyaluran dan pengolahan. Pengolahan air
limbah permukiman dapat ditangani melalui sistem setempat (on site) ataupun melalui sistem terpusat (off
site).

Pada umumnya kota-kota di Indonesia masih belum memiliki sistem pengelolaan air limbah secara terpusat.
Pada saat ini sistem pengelolaan air limbah terpusat hanya berada di 11 kota saja dengan cakupan
pelayanan yang masih rendah. Terdapat berbagai kendala dalam penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman di Indonesia, baik dalam aspek peraturan perundangan, peran serta masyarakat, pembiayaan,
institusi serta aspek teknis teknologis.

Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman khususnya Bidang Air Limbah (Municipal Waste Water)
merupakan salah satu hal penting yang menjadi perhatian baik secara global maupun nasional.

819

Secara global Indonesia terikat upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan, sebagaimana


rekomendasi pada KTT Bumi di Johannesburg 2000, dimana salah satu sasarannya adalah bidang
penyediaan air minum dan sanitasi.

Sasaran tersebut diagendakan dalam Millenium Development Goals (MDGs) dengan menetapkan
horizon pencapaian sasaran pada tahun 2015 dan sasaran kuantitatif; Mengurangi 50% proporsi jumlah
penduduk yang kesulitan memperoleh akses terhadap air minum aman dan sanitasi yang memadai.
Indonesia yang ikut meratifikasi sasaran MDGs 2015 tersebut harus mempersiapkan langkah pencapaian
sasaran tersebut.

Oleh karenanya diperlukan suatu kebijakan dan strategi dalam sistem pengelolaan air limbah permukiman,
untuk memberikan arah dalam penyelenggaraan pembangunan sistem pengelolaan air limbah di Indonesia.

1.2

MAKSUD

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman ini
dimaksudkan sebagai pedoman dan arahan dalam penyusunan kebijakan teknis, perencanaan,
pemrograman, pelaksanaan dan pengelolaan dalam penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan
air limbah permukiman, baik di lingkungan Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen,
Pemerintah Daerah, maupun bagi masyarakat dan dunia usaha.

1.3

TUJUAN

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman,
sebagaimana dimaksud di atas, ditujukan untuk mendukung pencapaian sasaran nasional pengelolaan air
limbah permukiman melalui perencanaan, pemrograman, pembiayaan dan pelaksanaan secara terpadu,
efisien dan efektif.

820

1.4

LANDASAN HUKUM
1.4.1. Arah Kebijakan
Arah kebijakan yang menjadi dasar pemikiran dalam penyusunan Kebijakan dan Strategi Nasional
dalam Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman adalah :

1. Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan;


2. Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang-undang RI Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat Dengan Pemerintah Daerah;
4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 2005, tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007, tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
6. Peraturan Presiden RI Nomor 7 Tahun 2005, tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004 2009;
7. Peraturan Menteri PU Nomor 51/PRT/2005, tentang Rencana Strategis Departemen Pekerjaan
Umum 2005 2009;
8. Kesepakatan Internasional MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS (MDGS) untuk mengurangi
setengah bagian penduduk yang belum mendapatkan akses air limbah yang aman dan
berkelanjutan pada tahun 2015.

1.4.2. Peraturan Teknis

1.
2.
3.

Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air;


Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air;
Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum.

BAB II
VISI DAN MISI

821

2.1.

VISI PENYELENGGARAAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN

Untuk mencapai kondisi masyarakat hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari
pencemaran air limbah permukiman di masa yang akan datang, baik yang berada di daerah perkotaan
maupun yang tinggal di daerah perdesaan, memerlukan pengelolaan air limbah permukiman yang
memadai, yang dapat melindungi sumber-sumber air baku bagi air minum dari pencemaran pembuangan
air limbah baik yang berasal dari aktifitas rumah tangga maupun industri rumah tangga yag berada di
tengah-tengah permukiman. Secara umum daerah perkotaan dan perdesaan yang memiliki sistem
pengelolaan air limbah secara memadai, memiliki indikator sebagai berikut :
a.
b.
c.

Rendahnya angka penyakit yang ditularkan melalui media air (waterborne diseases), seperti disentri,
typhus, diare,dan lain sebagainya;
Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman;
Terlindunginya sumber air baik air permukaan maupun air tanah dari pencemaran air limbah
permukiman.

Berdasarkan indikator tersebut di atas, maka Visi Pengelolaan Air Limbah Permukiman, ditetapkan sebagai
berikut :

Terwujudnya masyarakat sehat dalam lingkungan yang lestari

2.2.

MISI PENYELENGGARAAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN

MISI

Upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai visi tersebut dilakukan dengan misi sebagai berikut :

1. Meningkatkan kesehatan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan


pengelolaan air limbah dengan sistem setempat (on-site) dan sistem terpusat (off-site);
2. Mencegah dan menanggulangi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan

822

3.
4.
5.
6.

oleh air limbah permukiman;


Memberdayakan masyarakat dan dunia usaha agar lebih berperan aktif dalam penyelenggaraan
sistem pengelolaan air limbah permukiman;
Menyiapkan peraturan perundangan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan air limbah
permukiman;
Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan pengelolaan air limbah permukiman dengan
prinsip good corporate governance;
Meningkatkan dan mengembangkan alternatif sumber pendanaan dalam penyelenggaraan sistem
pengelolaan air limbah permukiman.

BAB III
ISU STRATEGIS, PERMASALAHAN DAN TANTANGAN
PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN
AIR LIMBAH PERMUKIMAN

3.1.

ISU STRATEGIS DAN PERMASALAHAN PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN

Isu-isu strategis dan permasalahan dalam pengelolaan air limbah permukiman di Indonesia, antara lain:

3.1.1.
1.
2.

3.

Akses masyarakat terhadap pelayanan Pengelolaan Air Limbah Permukiman

Akses masyarakat terhadap prasarana sanitasi dasar di perkotaan mencapai 90,5% dan di
perdesaan mencapai 67% (Susenas Tahun 2007);
Tingkat pelayanan pengelolaan air limbah permukiman di perkotaan melalui sistem setempat
(on site) yang aman baru mencapai 71,06% dan melalui sistem terpusat (off site) baru
mencapai 2,33 % di 11 kota (Susenas Tahun 2007);
Tingkat pelayanan air limbah permukiman di perdesaan melalui pengolahan setempat (onsite) berupa jamban pribadi dan fasilitas umum yang aman baru mencapai 32,47% (Susenas
Tahun 2007);

823

4.

Sebagian besar fasilitas pengolahan air limbah setempat masih belum memenuhi standar
teknis yang ditetapkan.

3.1.2

Peran Masyarakat

1. Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air limbah permukiman;


2. Terbatasnya penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman
yang berbasis masyarakat;
3. Potensi yang ada dalam masyarakat dan dunia usaha terkait sistem pengelolaan air limbah
permukiman belum sepenuhnya diberdayakan oleh pemerintah.
3.1.3
1.
2.
3.

3.1.4

Peraturan Perundang-undangan
Belum memadainya perangkat peraturan perundangan yang diperlukan dalam sistem
pengelolaan air limbah permukiman;
Masih lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran peraturan-peraturan yang terkait
dengan pencemaran air limbah;
Belum lengkapnya Norma Standar Pedoman dan Manual (NSPM) dan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) pelayanan air limbah.
Kelembagaan

1.
2.
3.

Lemahnya fungsi lembaga di daerah yang melakukan pengelolaan air limbah permukiman;
Belum terpisahnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah permukiman;
Kapasitas sumber daya manusia yang melaksanakan pengelolaan air limbah permukiman
masih rendah;
4. Perlu ditingkatkannya koordinasi antar instansi terkait dalam penetapan kebijakan di bidang air
limbah permukiman.
3.1.5
Pendanaan
1.
2.
3.
4.
5.

Rendahnya tarif pelayanan air limbah yang mengakibatkan tidak terpenuhinya biaya operasi
dan pemeliharaan serta pengembangan sistem pengelolaan air limbah;
Terbatasnya sumber pendanaan pemerintah, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan
tingginya biaya investasi awal pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat;
Kurang tertariknya sektor swasta untuk melakukan investasi di bidang air limbah;
Rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah untuk pengelolaan dan pengembangan air
limbah permukiman;
Belum optimalnya penggalian potensi pendanaan dari masyarakat dan dunia

824

6.

3.2

usaha/swasta/koperasi;
Rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan air limbah permukiman baik di tingkat
pemerintah pusat maupun daerah.

TANTANGAN DAN PELUANG DALAM PENYELENGGARAAN SISTEM PENGELOLAAN AIR


LIMBAH PERMUKIMAN
3.2.1. Tantangan
3.2.1.1. Tantangan Internal
1.
2.
3.

4.

5.

6.

Masih adanya masyarakat buang air besar di sembarang tempat, yang secara nasional
sebesar 22,85% (di perkotaan 9,5% dan di perdesaan 33%);
Kecenderungan meningkatnya angka penyakit terkait air (waterborne diseases) akibat
masih rendahnya cakupan pelayanan baik di perkotaan maupun di perdesaan;
Perlunya konservasi sumber air baku untuk menjamin terjaganya kualitas dan kuantitas
air baku akibat menurunnya kualitas air tanah dan air permukaan sebagai sumber air
baku untuk air minum;
Peningkatan kelembagaan yang memungkinkan dilaksanakannya pengelolaan air
limbah permukiman secara lebih profesional dengan dukungan sumber daya
manusia ahli yang memadai;
Penggalian sumber dana untuk investasi dan biaya operasi dan pemeliharaan
terutama dari pihak swasta yang harus sinergis dengan penerapan pemulihan biaya
(cost recovery) secara bertahap merupakan tantangan yang harus segera diketahui
solusinya secara win-win solution;
Pembagian porsi antara dana APBN dan APBD yang akan dialokasikan dalam
pengembangan penyelenggaraan pengelolaan air limbah belum terlihat secara tegas.

3.2.1.2. Tantangan Eksternal


1.

2.
3.

Target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yaitu bebasnya


dari pembuangan tinja secara terbuka (open defecation free) sampai dengan tahun
2014;
Pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs), yaitu terlayaninya 50%
masyarakat yang belum mendapatkan akses air limbah sampai dengan tahun 2015;
Tuntutan pembangunan yang berkelanjutan dengan pilar pembangunan ekonomi,
sosial, dan lingkungan hidup;

825

4.
5.
6.

Tuntutan penerapan good governance melalui demokratisasi yang menuntut pelibatan


masyarakat dalam proses pembangunan;
Tuntutan Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi Perubahan Iklim (RAN MAPI);
Kondisi keamanan dan hukum nasional yang belum mendukung iklim investasi yang
kompetitif.

3.2.2. Peluang
1.

2.
3.
4.
5.

Adanya kewajiban bagi setiap orang untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup sebagaimana tertuang dalam UU RI Nomor 23 tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
Pentingnya pengelolaan air limbah untuk mendukung konservasi sumber daya air, seperti yang
tertuang dalam UU RI Nomor 7/2004 tentang Sumber Daya Air;
Tanggung jawab penyelenggaraan air limbah permukiman sebagaimana ketetapan dalam UU
Nomor 32 tahun 2004 dan PP Nomor 38/2007 menjadi kewenangan pemerintah daerah;
Tuntutan keterpaduan penanganan air limbah dan pengembangan sistem penyediaan air
minum sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 16/2005;
Adanya potensi peningkatan kesadaran masyarakat baik di perkotaan maupun di perdesaan
dalam penyelenggaraan air limbah permukiman.

826

BAB IV
KEBIJAKAN DAN STRATEGI
SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN

4.1.

SKENARIO SASARAN PENYELENGGARAAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH


PERMUKIMAN

4.1.1.

SASARAN RPJMN 2010 - 2014

Sasaran pembangunan air limbah yaitu peningkatkan utilitas IPLT dan IPAL yang telah dibangun
hingga mencapai minimal 65% di akhir tahun 2014 serta pengembangan lebih lanjut pelayanan
sistem pembuangan air limbah dan berkurangnya pencemaran sungai akibat pembuangan tinja
hingga 45% di akhir tahun 2014 dari kondisi sekarang. Selain itu di kota-kota metropolitan dan besar
secara bertahap dikembangkan sistem air limbah terpusat (sewerage system).

Target akses sanitasi sistem setempat (on site) yang aman untuk tahun 2014, yaitu 80% untuk
perkotaan dan 50% untuk perdesaan atau 60% untuk skala nasional.

4.1.2.

Sasaran MDGs Pada Tahun 2015

Pada tahun 2007 penduduk Indonesia yang telah memiliki akses terhadap prasarana air imbah telah
mencapai 77.15%. Sesuai dengan target MDGS dimana diharapkan sampai dengan tahun 2015
pencapaian akses air limbah dapat mencapai 75,34% atau sekitar 185 Juta Jiwa dari 246 Juta Jiwa
penduduk. Secara detail pencapaian pelayanan air limbah permukiman pada 2015, dapat dilihat
pada dibawah ini

827

Target Cakupan Pelayanan Air Limbah 2015 (Tahun Acuan 1990)


PERKOTAAN

PERDESAAN

Target
pddk
punya
akses

Target
pddk
punya
akses

NASIONAL
Target

Target
Tahun
penurunan
Tahun
ke(%)

Jml
Target
akses (%)

pddk
(jt jiwa)

Tambahan
Target Jml pddk
akses
akses
(jt jiwa)
(%)
(jt jiwa)

(jt jiwa)

Tambahan
Target
akses
akses
(%)
(juta jiwa)

Jumlah
pddk
(jt jiwa)

pddk
punya
akses

Tambahan
akses
(juta jiwa)

(jt jiwa)
(jt jiwa)

1990*

57.64

53.50

30.84

42.78

124.90

53.43

47.24

178.40

84.27

1995

10

61.88

67.80

41.95

1.11

48.50

124.90

60.58

7.15

53.21

192.70

102.53

18.26

2000

10

20

66.11

85.30

56.39

25.56

54.22

117.70

63.82

10.39

59.22

203.00

120.22

35.95

2005

15

30

70.35

102.30

71.97

41.13

59.95

120.60

72.29

18.86

64.72

222.90

144.26

59.99

2009

19

38

73.74

113.90

83.99

42.03

64.52

119.45

77.07

16.49

69.02

233.35

161.06

58.53

2010

20

40

74.58

116.80

87.11

56.28

65.67

118.30

77.69

24.25

70.10

235.10

164.80

80.53

2015

25

50

78.82

130.70

103.02

72.18

71.39

114.90

82.03

28.59

75.34

245.60

185.04

100.78

828

4.2.

SASARAN KEBIJAKAN

Dengan telah terlampauinya target pelayanan prasarana dasar air limbah permukiman berdasarkan target
MDGs, maka proyeksi target nasional ditetapkan untuk pencapaian target pelayanan prasarana dan
sarana air limbah permukiman yang aman sebesar 60% pada tahun 2014. Selanjutnya untuk kota
metropolitan dan besar secara bertahap dikembangkan sistem air limbah terpusat (sewerage system).

4.3.

KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Kebijakan pengelolaan Air Limbah Permukiman dirumuskan dengan menjawab isu strategis dan
permasalahan dalam pengembangan pengelolaan air limbah permukiman. Secara umum kebijakan
dibagi menjadi 5 (lima) kelompok yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem on site maupun off site di
perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat;
Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan
sistem pengelolaan air limbah permukiman;
Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman;
Penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas personil pengelola air limbah permukiman;
Peningkatan pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman.

Selanjutnya kebijakan dan strategi penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air
limbah permukiman dirumuskan sebagai berikut:

Kebijakan 1: Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem on site maupun off
site di perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat

829

Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan akses prasarana dan sarana air limbah melalui sistem
on site dan off site secara bertahap baik pada skala perkotaan maupun perdesaan, dengan prioritas
untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Strategi dalam peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah, antara lain :

1. Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah sistem setempat (on site)
di perkotaan dan perdesaan melalui sistem komunal;
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah sistem terpusat (off site)
di kawasan perkotaan metropolitan dan besar.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyelenggarakan sanitasi berbasis masyarakat dengan prioritas di kawasan padat kumuh


perkotaan yang belum terlayani dengan sistem pengelolaan air limbah terpusat;
Merehabilitasi atau merevitalisasi serta mengekstensifikasi sistem yang ada (Instalasi Pengolahan
Lumpur Tinja/IPLT);
Menyelenggarakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)/ CLTS (Community Lead Total
Sanitation) di kawasan perdesaan;
Mengoptimalkan kapasitas IPAL terpasang dan peningkatan operasional sewerage terpasang;
Meningkatkan kapasitas pengolahan melalui pembangunan IPAL paket;
Mengembangkan sistem setempat menjadi sistem terpusat secara bertahap di kota metro dan besar
dengan cara mengkombinasikan dan atau menambah dengan sistem yang telah ada secara
bertahap.

Kebijakan 2:

Peningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan


pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman.

Arah kebijakan ini adalah untuk meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam
penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman.

830

Strategi dalam peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta, antara lain :

1. Merubah perilaku dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan air
limbah permukiman;
2. Mendorong partisipasi dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan dan pengelolaan
air limbah permukiman.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:


1. Melaksanakan sosialisasi dan kampanye mengenai pentingnya pengelolaan air limbah permukiman;
2. Memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat dalam penyediaan prasarana dan
sarana air limbah permukiman;
3. Menyelenggarakan kegiatan percontohan pembangunan prasarana dan sarana pengelolaan air
limbah;
4. Menyelenggarakan sosialisasi kepada dunia usaha dan swasta mengenai potensi investasi di bidang
pengelolaan air limbah permukiman;
5. Mengembangkan pola investasi untuk penyelenggaraan pengelolaan sistem air limbah permukiman;
6. Memberikan kemudahan dan insentif kepada dunia usaha yang berpartisipasi di dalam pengelolaan
air limbah seperti pemberian ijin usaha dan keringanan pajak.

Kebijakan 3: Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan pengelolaan air


limbah permukiman

Arah kebijakan ini adalah untuk melengkapi perangkat peraturan perundangan terkait
penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi dalam Pengembangan Perangkat peraturan perundangan, antara lain :


1. Menyusun perangkat peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan pengelolaan air
limbah permukiman;
2. Menyebarluaskan informasi peraturan perundangan terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah

831

permukiman;
3. Menerapkan peraturan perundangan.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

1. Menyiapkan undang-undang dan peraturan pendukungnya dalam pengelolaan air limbah


permukiman;
2. Mereview dan melengkapi NSPM dalam pengelolaan air limbah permukiman;
3. Mereview Standar Pelayanan Minimal dalam pengelolaan air limbah permukiman;
4. Melaksanakan bantuan teknis penyusunan peraturan daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan air
limbah permukiman;
5. Mendorong dan melaksanakan bantuan teknis kepada pemerintah daerah untuk menyusun rencana
induk prasarana dan sarana air limbah di kawasan perkotaan dan perdesaan;
6. Mensosialisasikan peraturan perundangan terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman;
7. Mengembangkan sistem informasi tentang penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman;
8. Memberikan insentif dan disinsentif kepada pemerintah daerah dan dunia usaha/swasta yang
menyelenggarakan pengelolaan air limbah permukiman;
9. Mempersyaratkan pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat di kawasan permukiman
baru bagi penyelenggara pembangunan kawasan permukiman baru.

Kebijakan 4:

Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas personil pengelolaan air


limbah permukiman.

Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat fungsi regulator dan operator dalam penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi dalam peningkatan kinerja institusi, antara lain:

1. Memfasilitasi pembentukan dan perkuatan kelembagaan pengelola air limbah permukiman ditingkat

832

masyarakat;
2. Mendorong pembentukan dan perkuatan institusi pengelola air limbah permukiman di daerah;
3. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar lembaga;
4. Mendorong peningkatan kemauan politik (political will) para pemangku kepentingan untuk
memberikan prioritas yang lebih tinggi terhadap pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

1. Memberikan pendampingan pembentukan kelompok swadaya masyarakat dalam pengelolaan air


limbah permukiman komunal;
2. Memberikan pelatihan penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana air limbah serta
pengelolaan air limbah permukiman komunal;
3. Mendorong terbentuknya unit yang mengelola prasarana dan sarana air limbah permukiman di
daerah, antara lain berupa Unit Pelaksana Teknis, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Layanan
Umum dan Dinas;
4. Melaksanakan bantuan teknis penguatan kelembagaan pengelolaan air limbah permukiman;
5. Melaksanakan pelatihan kepada personil pengelola dibidang penyelenggaraan air limbah
permukiman;
6. Memfasilitasi koordinasi antar lembaga dan antar daerah dalam kerjasama penyelenggaraan
pengelolaan air limbah;
7. Melaksanakan sosialisasi kepada lembaga eksekutif dan legislatif mengenai pentingnya
penyelenggaraan air limbah permukiman;
8. Menyusun dan mensosialisasikan kisah sukses (best practices) tentang penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.

Kebijakan 5 : Peningkatan dan pengembangan alternatif sumber pendanaan pembangunan


prasarana dan sarana air limbah pemukiman.

Arah kebijakan ini adalah untuk meningkatkan alokasi dana pembangunan prasarana dan sarana air
limbah permukiman melalui sistem pembiayaan dengan melakukan subsidi secara proporsional antara
pemerintah pusat dan daerah untuk sistem pengelolaan off site.

833

Strategi dalam peningkatan kapasitas pembiayaan, antara lain :

1.
2.

Mendorong berbagai alternatif sumber pembiayaan untuk penyelenggaraan air limbah permukiman;
Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan sistem air limbah
Perkotaan dengan proporsi pembagian yang disepakati bersama.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

1.
2.
3.

Memberikan dana stimulan dalam penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman untuk
mendorong mobilisasi dana swadaya masyarakat;
Mendorong peningkatan dan fasilitasi kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) dalam
penyelenggaraan prasarana dan sarana air limbah;
Pemerintah pusat memberikan investasi awal pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat
dan pengembangannya ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah.

BAB V
PENUTUP

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman,
merupakan acuan bagi kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan sistem air limbah permukiman.

Kebijakan dan Strategi ini masih bersifat umum sehingga dalam pelaksanaannya memerlukan penjabaran
lebih lanjut agar lebih operasional untuk pihak yang berkepentingan. Di tingkat daerah adopsi terhadap
kebijakan dan strategi ini memerlukan penyesuaian sesuai dengan karakteristik, kondisi serta
permasalahan dari masing-masing daerah yang bersangkutan.

834

Kebijakan dan strategi nasional Pengelolaan air limbah permukiman ini perlu dijabarkan lebih lanjut oleh
masing-masing instansi teknis terkait sebagai panduan dalam operasionalisasi kebijakan dan strategi
pengembangan sistem air limbah permukiman.

MENTERI PEKERJAAN UMUM

DJOKO KIRMANTO

835

Matriks Kebijakan, Strategi dan Rencana Tindak


No

Kebijakan

Strategi

Rencana Tindak

Peningkatan akses
prasarana dan sarana air
limbah baik sistem on site
maupun off site di
perkotaan dan perdesaan
untuk perbaikan
kesehatan masyarakat

1. Meningkatkan akses masyarakat terhadap


prasarana dan sarana air limbah sistem
setempat (on site) di perkotaan dan
perdesaan melalui sistem komunal.
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap
prasarana dan sarana air limbah sistem
terpusat (off site) di kawasan perkotaan
Metropolitan dan Besar.

Peningkatan peran
masyarakat dan dunia
usaha/swasta dalam
penyelenggaraan
pengembangan sistem
pengelolaan air limbah
permukiman.

1. Merubah perilaku dan meningkatkan


pemahaman
masyarakat
terhadap
pentingnya pengelolaan air limbah
permukiman
2. Mendorong partisipasi dunia usaha/swasta
dalam penyelenggaraan pengembangan
dan pengelolaan air limbah permukiman

1. Menyelenggarakan
sanitasi
berbasis
masyarakat dengan prioritas di kawasan
kumuh perkotaan yang belum terlayani dengan
system pengelolaan air limbah terpusat.
2. Merehabilitasi atau merevitalisasi serta
mengekstensifikasi sistem yang ada (IPLT).
3. Penyelenggaraan STBM (Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat)/CLTS (Community Lead
Total Sanitation) di kawasan perdesaan.
4. Mengoptimalkan kapasitas IPAL terpasang
dan peningkatan operasional sewerage
terpasang.
5. Meningkatkan kapasitas pengolahan melalui
pembangunan IPAL paket.
6. Mengembangkan sistem setempat menjadi
sistem terpusat secara bertahap di kota metro
dan besar dengan cara mengkombinasikan
dan atau menambah dengan sistem yang telah
ada secara bertahap.
1. Melaksanakan sosialisasi dan kampanye
mengenai pentingnya pengelolaan air limbah
permukiman
2. Memberikan pendampingan dan pelatihan
kepada masyarakat dalam penyediaan
prasarana dan sarana air limbah permukiman.
3. Menyelenggarakan kegiatan percontohan

836

No

Kebijakan

Strategi

Rencana Tindak
pembangunan prasarana dan sarana air
limbah.
4. Menyelenggarakan sosialisasi kepada dunia
usaha dan swasta mengenai potensi investasi
dibidang pengelolaan air limbah permukiman.
5. Mengembangkan pola investasi untuk
penyelenggaraan pengelolaan sisitem air
limbah permukiman.
6. Memberikan kemudahan dan insentif kepada
dunia usaha yang berpartisipasi di dalam
pengelolaan air limbah seperti pemberian ijin
usaha, keringanan pajak.

Pengembangan
Perangkat peraturan
perundangan
penyelenggaraan
pengelolaan air limbah
permukiman

3. Menyusun
perangkat
peraturan
perundangan
yang
mendukung
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman.
4. Menyebarluaskan informasi peraturan
perundangan terkait penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.
5. Menerapkan peraturan perundangan.

1. Menyiapkan undang-undang dan peraturan


pendukungnya dalam pengelolaan air limbah
permukiman.
2. Mereview dan melengkapi NSPM dalam
pengelolaan air limbah permukiman.
3. Mereview standar pelayanan minimal dalam
pengelolaan air limbah permukiman.
4. Melaksanakan bentuan teknis penyusunan
peraturan daerah dalam penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.
5. Mendorong dan melaksanakan bantuan teknis
kepada pemerintah daerah untuk menyusun
rencana induk prasarana dan sarana air limbah
dikawasan perkotaan dan perdesaan.
6. Mensosialisasikan peraturan perundangan

837

No

Kebijakan

Strategi

Penguatan kelembagaan 1. Memfasilitasi


pembentukan
dan
dan
peningkatan
perkuatan kelembagaan pengelola air
kapasitas
personil
limbah permukiman ditingkat masyarakat
pengelolaan air limbah 2. Mendorong pembentukan dan perkuatan
permukiman
institusi pengelola air limbah permukiman
di daerah.
3. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama
antar lembaga.
4. Mendorong peningkatan kemauan politik
(Political Will) para pemangku
kepentingan untuk memberikan prioritas
yang lebih tinggi terhadap pengelolaan air
limbah permukiman

Rencana Tindak
terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman.
7. Mengembangkan sistem informasi tentang
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman.
8. Memberikan insentif dan disinsentif kepada
pemerintah daerah dan dunia usaha/swasta
yang menyelenggarakan pengelolaan air
limbah permukiman.
9. Mempersyaratkan pembangunan sistem
pengelolaan air limbah terpusat di kawasan
permukiman baru bagi penyelenggara
pembangunan kawasan permukiman baru.
10.
1. Memberikan pendampingan pembentukan
kelompok swadaya masyarakat dalam
pengelolaan air limbah permukiman komunal.
2. Memberikan pelatihan penyelenggaraan
pembangunan prasarana dan sarana air
limbah serta pengelolaan air limbah
permukiman komunal.
3. Mendorong terbentuknya unit yang mengelola
prasarana dan sarana air limbah permukiman
di daerah, antara lain berupa UPT, BUMD,
BLU, Dinas.
4. Melaksanakan bantuan teknis penguatan
kelembagaan pengelolaan air limbah
permukiman.

838

No

Kebijakan

Strategi

Peningkatan
dan 1. Mendorong berbagai alternatif sumber
Pengembangan Alternatif
pembiayaan untuk penyelenggaraan air
Sumber Pendanaan
limbah permukiman.
Pembangunan
2. Pembiayaan bersama pemerintah pusat
Prasarana dan Sarana
dan daerah dalam mengembangkan
Air Limbah Permukiman
sistem air limbah Perkotaan dengan
proporsi pembagian yang disepakati
bersama.

Rencana Tindak
5. Melaksanakan pelatihan kepada personil
pengelola dibidang penyelenggaraan air
limbah permukiman
6. Memfasilitasi koordinasi antar lembaga dan
antar
daerah
dalam
kerjasama
penyelenggaraan pengelolaan air limbah.
7. Melaksanakan sosialisasi kepada lembaga
eksekutif dan legislatif mengenai pentingnya
penyelenggaraan air limbah permukiman.
8. Menyusun dan mensosialisasikan kisah
sukses
(best
practices)
tentang
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman
1. Memberikan
dana
stimulan
dalam
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
pemukiman untuk mendorong mobilisasi dana
swadaya masyarakat.
2. Mendorong peningkatan dan fasilitasi
Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS)
dalam penyelenggaraan PS Air Limbah.
3. Pemerintah pusat memberikan investasi awal
pembangunan sistem pengelolaan air limbah
terpusat dan pengembangannya ditindak
lanjuti oleh pemerintah daerah.

839

BAB IV
KEBIJAKAN DAN STRATEGI
SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN

4.4.

SKENARIO SASARAN PENYELENGGARAAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH


PERMUKIMAN

4.4.1.

SASARAN RPJMN 2010 - 2014

Sasaran pembangunan air limbah yaitu peningkatkan utilitas IPLT dan IPAL yang telah dibangun
hingga mencapai minimal 65% di akhir tahun 2014 serta pengembangan lebih lanjut pelayanan
sistem pembuangan air limbah dan berkurangnya pencemaran sungai akibat pembuangan tinja
hingga 45% di akhir tahun 2014 dari kondisi sekarang. Selain itu di kota-kota metropolitan dan
besar secara bertahap dikembangkan sistem air limbah terpusat (sewerage system).

Target akses sanitasi sistem setempat (on site) yang aman untuk tahun 2014, yaitu 80% untuk
perkotaan dan 50% untuk perdesaan atau 60% untuk skala nasional.

4.4.2.

Sasaran MDGs Pada Tahun 2015

Pada tahun 2007 penduduk Indonesia yang telah memiliki akses terhadap prasarana air imbah
telah mencapai 77.15%. Sesuai dengan target MDGS dimana diharapkan sampai dengan tahun
2015 pencapaian akses air limbah dapat mencapai 75,34% atau sekitar 185 Juta Jiwa dari 246
Juta Jiwa penduduk. Secara detail pencapaian pelayanan air limbah permukiman pada 2015, dapat
dilihat pada dibawah ini

840

Target Cakupan Pelayanan Air Limbah 2015 (Tahun Acuan 1990)


PERKOTAAN

PERDESAAN

Target
pddk
punya
akses

Target
pddk
punya
akses

NASIONAL
Target

Target
Tahun
penurunan
Tahun
ke(%)

Jml
Target
akses (%)

pddk
(jt jiwa)

Tambahan
Target Jml pddk
akses
akses
(jt jiwa)
(%)
(jt jiwa)

(jt jiwa)

Tambahan
Jumlah
Target
akses
pddk
akses
(%)
(juta jiwa)
(jt jiwa)

pddk
punya
akses

Tambahan
akses
(juta jiwa)

(jt jiwa)
(jt jiwa)

1990*

57.64

53.50

30.84

42.78

124.90

53.43

47.24

178.40

84.27

1995

10

61.88

67.80

41.95

1.11

48.50

124.90

60.58

7.15

53.21

192.70

102.53

18.26

2000

10

20

66.11

85.30

56.39

25.56

54.22

117.70

63.82

10.39

59.22

203.00

120.22

35.95

2005

15

30

70.35

102.30

71.97

41.13

59.95

120.60

72.29

18.86

64.72

222.90

144.26

59.99

2009

19

38

73.74

113.90

83.99

42.03

64.52

119.45

77.07

16.49

69.02

233.35

161.06

58.53

2010

20

40

74.58

116.80

87.11

56.28

65.67

118.30

77.69

24.25

70.10

235.10

164.80

80.53

2015

25

50

78.82

130.70

103.02

72.18

71.39

114.90

82.03

28.59

75.34

245.60

185.04

100.78

841

4.5.

SASARAN KEBIJAKAN

Dengan telah terlampauinya target pelayanan prasarana dasar air limbah permukiman berdasarkan target
MDGs, maka proyeksi target nasional ditetapkan untuk pencapaian target pelayanan prasarana dan
sarana air limbah permukiman yang aman sebesar 60% pada tahun 2014. Selanjutnya untuk kota
metropolitan dan besar secara bertahap dikembangkan sistem air limbah terpusat (sewerage system).

4.6.

KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Kebijakan pengelolaan Air Limbah Permukiman dirumuskan dengan menjawab isu strategis dan
permasalahan dalam pengembangan pengelolaan air limbah permukiman. Secara umum kebijakan
dibagi menjadi 5 (lima) kelompok yaitu:
6.
7.
8.
9.
10.

Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem on site maupun off site di
perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat;
Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan
sistem pengelolaan air limbah permukiman;
Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman;
Penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas personil pengelola air limbah permukiman;
Peningkatan pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman.

Selanjutnya kebijakan dan strategi penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air
limbah permukiman dirumuskan sebagai berikut:

Kebijakan 1: Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem on site maupun off
site di perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat

842

Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan akses prasarana dan sarana air limbah melalui sistem
on site dan off site secara bertahap baik pada skala perkotaan maupun perdesaan, dengan prioritas
untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Strategi dalam peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah, antara lain :

3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah sistem setempat (on site)
di perkotaan dan perdesaan melalui sistem komunal;
4. Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah sistem terpusat (off site)
di kawasan perkotaan metropolitan dan besar.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

7.

Menyelenggarakan sanitasi berbasis masyarakat dengan prioritas di kawasan padat kumuh


perkotaan yang belum terlayani dengan sistem pengelolaan air limbah terpusat;
8. Merehabilitasi atau merevitalisasi serta mengekstensifikasi sistem yang ada (Instalasi Pengolahan
Lumpur Tinja/IPLT);
9. Menyelenggarakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)/ CLTS (Community Lead Total
Sanitation) di kawasan perdesaan;
10. Mengoptimalkan kapasitas IPAL terpasang dan peningkatan operasional sewerage terpasang;
11. Meningkatkan kapasitas pengolahan melalui pembangunan IPAL paket;
12. Mengembangkan sistem setempat menjadi sistem terpusat secara bertahap di kota metro dan besar
dengan cara mengkombinasikan dan atau menambah dengan sistem yang telah ada secara
bertahap.
Kebijakan 2:

Peningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan


pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman.

Arah kebijakan ini adalah untuk meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam
penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman.

843

Strategi dalam peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta, antara lain :

3. Merubah perilaku dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan air
limbah permukiman;
4. Mendorong partisipasi dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan dan pengelolaan
air limbah permukiman.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:


7. Melaksanakan sosialisasi dan kampanye mengenai pentingnya pengelolaan air limbah permukiman;
8. Memberikan pendampingan dan pelatihan kepada masyarakat dalam penyediaan prasarana dan
sarana air limbah permukiman;
9. Menyelenggarakan kegiatan percontohan pembangunan prasarana dan sarana pengelolaan air
limbah;
10. Menyelenggarakan sosialisasi kepada dunia usaha dan swasta mengenai potensi investasi di bidang
pengelolaan air limbah permukiman;
11. Mengembangkan pola investasi untuk penyelenggaraan pengelolaan sistem air limbah permukiman;
12. Memberikan kemudahan dan insentif kepada dunia usaha yang berpartisipasi di dalam pengelolaan
air limbah seperti pemberian ijin usaha dan keringanan pajak.

Kebijakan 3: Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan pengelolaan air


limbah permukiman

Arah kebijakan ini adalah untuk melengkapi perangkat peraturan perundangan terkait
penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi dalam Pengembangan Perangkat peraturan perundangan, antara lain :


4. Menyusun perangkat peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan pengelolaan air
limbah permukiman;
5. Menyebarluaskan informasi peraturan perundangan terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah

844

permukiman;
6. Menerapkan peraturan perundangan.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

10. Menyiapkan undang-undang dan peraturan pendukungnya dalam pengelolaan air limbah
permukiman;
11. Mereview dan melengkapi NSPM dalam pengelolaan air limbah permukiman;
12. Mereview Standar Pelayanan Minimal dalam pengelolaan air limbah permukiman;
13. Melaksanakan bantuan teknis penyusunan peraturan daerah dalam penyelenggaraan pengelolaan air
limbah permukiman;
14. Mendorong dan melaksanakan bantuan teknis kepada pemerintah daerah untuk menyusun rencana
induk prasarana dan sarana air limbah di kawasan perkotaan dan perdesaan;
15. Mensosialisasikan peraturan perundangan terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman;
16. Mengembangkan sistem informasi tentang penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman;
17. Memberikan insentif dan disinsentif kepada pemerintah daerah dan dunia usaha/swasta yang
menyelenggarakan pengelolaan air limbah permukiman;
18. Mempersyaratkan pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat di kawasan permukiman
baru bagi penyelenggara pembangunan kawasan permukiman baru.

Kebijakan 4:

Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas personil pengelolaan air


limbah permukiman.

Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat fungsi regulator dan operator dalam penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi dalam peningkatan kinerja institusi, antara lain:

5. Memfasilitasi pembentukan dan perkuatan kelembagaan pengelola air limbah permukiman ditingkat

845

masyarakat;
6. Mendorong pembentukan dan perkuatan institusi pengelola air limbah permukiman di daerah;
7. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar lembaga;
8. Mendorong peningkatan kemauan politik (political will) para pemangku kepentingan untuk
memberikan prioritas yang lebih tinggi terhadap pengelolaan air limbah permukiman.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

9. Memberikan pendampingan pembentukan kelompok swadaya masyarakat dalam pengelolaan air


limbah permukiman komunal;
10. Memberikan pelatihan penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana air limbah serta
pengelolaan air limbah permukiman komunal;
11. Mendorong terbentuknya unit yang mengelola prasarana dan sarana air limbah permukiman di
daerah, antara lain berupa Unit Pelaksana Teknis, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Layanan
Umum dan Dinas;
12. Melaksanakan bantuan teknis penguatan kelembagaan pengelolaan air limbah permukiman;
13. Melaksanakan pelatihan kepada personil pengelola dibidang penyelenggaraan air limbah
permukiman;
14. Memfasilitasi koordinasi antar lembaga dan antar daerah dalam kerjasama penyelenggaraan
pengelolaan air limbah;
15. Melaksanakan sosialisasi kepada lembaga eksekutif dan legislatif mengenai pentingnya
penyelenggaraan air limbah permukiman;
16. Menyusun dan mensosialisasikan kisah sukses (best practices) tentang penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.

Kebijakan 5 : Peningkatan dan pengembangan alternatif sumber pendanaan pembangunan


prasarana dan sarana air limbah pemukiman.

Arah kebijakan ini adalah untuk meningkatkan alokasi dana pembangunan prasarana dan sarana air
limbah permukiman melalui sistem pembiayaan dengan melakukan subsidi secara proporsional antara
pemerintah pusat dan daerah untuk sistem pengelolaan off site.

846

Strategi dalam peningkatan kapasitas pembiayaan, antara lain :

3.
4.

Mendorong berbagai alternatif sumber pembiayaan untuk penyelenggaraan air limbah permukiman;
Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan sistem air limbah
Perkotaan dengan proporsi pembagian yang disepakati bersama.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan rencana tindak sebagai berikut:

4.
5.
6.

Memberikan dana stimulan dalam penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman untuk
mendorong mobilisasi dana swadaya masyarakat;
Mendorong peningkatan dan fasilitasi kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) dalam
penyelenggaraan prasarana dan sarana air limbah;
Pemerintah pusat memberikan investasi awal pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat
dan pengembangannya ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah.

847

BAB V
PENUTUP

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman,
merupakan acuan bagi kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan sistem air limbah permukiman.

Kebijakan dan Strategi ini masih bersifat umum sehingga dalam pelaksanaannya memerlukan penjabaran
lebih lanjut agar lebih operasional untuk pihak yang berkepentingan. Di tingkat daerah adopsi terhadap
kebijakan dan strategi ini memerlukan penyesuaian sesuai dengan karakteristik, kondisi serta
permasalahan dari masing-masing daerah yang bersangkutan.

Kebijakan dan strategi nasional Pengelolaan air limbah permukiman ini perlu dijabarkan lebih lanjut oleh
masing-masing instansi teknis terkait sebagai panduan dalam operasionalisasi kebijakan dan strategi
pengembangan sistem air limbah permukiman.

MENTERI PEKERJAAN UMUM

DJOKO KIRMANTO

848

Matriks Kebijakan, Strategi dan Rencana Tindak

No
1

Kebijakan
Peningkatan akses
prasarana dan
sarana air limbah
baik sistem on site
maupun off site di
perkotaan dan
perdesaan untuk
perbaikan
kesehatan
masyarakat

Strategi

Rencana Tindak

1. Meningkatkan
akses
masyarakat 1. Menyelenggarakan
sanitasi
berbasis
terhadap prasarana dan sarana air limbah
masyarakat dengan prioritas di kawasan
sistem setempat (on site) di perkotaan
kumuh perkotaan yang belum terlayani
dan perdesaan melalui sistem komunal.
dengan system pengelolaan air limbah
2. Meningkatkan
akses
masyarakat
terpusat.
terhadap prasarana dan sarana air limbah 2. Merehabilitasi atau merevitalisasi serta
sistem terpusat (off site) di kawasan
mengekstensifikasi sistem yang ada (IPLT).
perkotaan Metropolitan dan Besar.
3. Penyelenggaraan STBM (Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat)/CLTS (Community Lead
Total Sanitation) di kawasan perdesaan.
4. Mengoptimalkan kapasitas IPAL terpasang
dan peningkatan operasional sewerage
terpasang.
5. Meningkatkan kapasitas pengolahan melalui
pembangunan IPAL paket.
6. Mengembangkan sistem setempat menjadi
sistem terpusat secara bertahap di kota metro
dan besar dengan cara mengkombinasikan
dan atau menambah dengan sistem yang
telah ada secara bertahap.

849

No

Kebijakan

Peningkatan peran
masyarakat dan
dunia
usaha/swasta
dalam
penyelenggaraan
pengembangan
sistem pengelolaan
air limbah
permukiman.

Pengembangan
Perangkat
peraturan
perundangan
penyelenggaraan
pengelolaan air
limbah permukiman

Strategi

Rencana Tindak

3. Merubah perilaku dan meningkatkan 1. Melaksanakan sosialisasi dan kampanye


pemahaman
masyarakat
terhadap
mengenai pentingnya pengelolaan air limbah
pentingnya pengelolaan air limbah
permukiman
permukiman
2. Memberikan pendampingan dan pelatihan
4. Mendorong
partisipasi
dunia
kepada masyarakat dalam penyediaan
usaha/swasta dalam penyelenggaraan
prasarana dan sarana air limbah permukiman.
pengembangan dan pengelolaan air 3. Menyelenggarakan kegiatan percontohan
limbah permukiman
pembangunan prasarana dan sarana air
limbah.
4. Menyelenggarakan sosialisasi kepada dunia
usaha dan swasta mengenai potensi investasi
dibidang pengelolaan air limbah permukiman.
5. Mengembangkan pola investasi untuk
penyelenggaraan pengelolaan sisitem air
limbah permukiman.
6. Memberikan kemudahan dan insentif kepada
dunia usaha yang berpartisipasi di dalam
pengelolaan air limbah seperti pemberian ijin
usaha, keringanan pajak.
1. Menyusun
perangkat
peraturan 1. Menyiapkan undang-undang dan peraturan
perundangan
yang
mendukung
pendukungnya dalam pengelolaan air limbah
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman.
permukiman.
2. Mereview dan melengkapi NSPM dalam
2. Menyebarluaskan informasi peraturan
pengelolaan air limbah permukiman.
perundangan terkait penyelenggaraan 3. Mereview standar pelayanan minimal dalam
pengelolaan air limbah permukiman.
pengelolaan air limbah permukiman.

850

No

Kebijakan

Strategi
3. Menerapkan peraturan perundangan.

Rencana Tindak
4. Melaksanakan bentuan teknis penyusunan
peraturan daerah dalam penyelenggaraan
pengelolaan air limbah permukiman.
5. Mendorong dan melaksanakan bantuan teknis
kepada pemerintah daerah untuk menyusun
rencana induk prasarana dan sarana air
limbah dikawasan perkotaan dan perdesaan.
6. Mensosialisasikan peraturan perundangan
terkait penyelenggaraan pengelolaan air
limbah permukiman.
7. Mengembangkan sistem informasi tentang
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman.
8. Memberikan insentif dan disinsentif kepada
pemerintah daerah dan dunia usaha/swasta
yang menyelenggarakan pengelolaan air
limbah permukiman.
9. Mempersyaratkan pembangunan sistem
pengelolaan air limbah terpusat di kawasan
permukiman baru bagi penyelenggara
pembangunan kawasan permukiman baru.

Penguatan
1. Memfasilitasi
pembentukan
dan 1. Memberikan pendampingan pembentukan
kelembagaan dan
perkuatan kelembagaan pengelola air
kelompok swadaya masyarakat dalam
peningkatan
limbah permukiman ditingkat masyarakat.
pengelolaan air limbah permukiman komunal.

851

No

Kebijakan

Strategi

Rencana Tindak

kapasitas personil 2. Mendorong pembentukan dan perkuatan 2. Memberikan pelatihan penyelenggaraan


pengelolaan
air
institusi pengelola air limbah permukiman
pembangunan prasarana dan sarana air
limbah permukiman
di daerah.
limbah serta pengelolaan air limbah
3. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama
permukiman komunal.
antar lembaga.
3. Mendorong terbentuknya unit yang mengelola
4. Mendorong peningkatan kemauan politik
prasarana dan sarana air limbah permukiman
(Political Will) para pemangku
di daerah, antara lain berupa UPT, BUMD,
kepentingan untuk memberikan prioritas
BLU, Dinas.
yang lebih tinggi terhadap pengelolaan air
4. Melaksanakan bantuan teknis penguatan
limbah permukiman
kelembagaan pengelolaan air limbah
permukiman.
5. Melaksanakan pelatihan kepada personil
pengelola dibidang penyelenggaraan air
limbah permukiman
6. Memfasilitasi koordinasi antar lembaga dan
antar
daerah
dalam
kerjasama
penyelenggaraan pengelolaan air limbah.
7. Melaksanakan sosialisasi kepada lembaga
eksekutif dan legislatif mengenai pentingnya
penyelenggaraan air limbah permukiman.
8. Menyusun dan mensosialisasikan kisah
sukses
(best
practices)
tentang
penyelenggaraan pengelolaan air limbah
permukiman
Peningkatan dan
1. Mendorong berbagai alternatif sumber 1. Memberikan
dana
stimulan
dalam

852

No

Kebijakan
Pengembangan
Alternatif
Sumber
Pendanaan
Pembangunan
Prasarana dan

Strategi

Rencana Tindak

pembiayaan untuk penyelenggaraan air


penyelenggaraan pengelolaan air limbah
limbah permukiman.
pemukiman untuk mendorong mobilisasi dana
2. Pembiayaan bersama pemerintah pusat
swadaya masyarakat.
dan daerah dalam mengembangkan 2. Mendorong peningkatan dan fasilitasi
sistem air limbah Perkotaan dengan
Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS)
proporsi pembagian yang disepakati
dalam penyelenggaraan PS Air Limbah.
bersama.
3. Pemerintah pusat memberikan investasi awal
pembangunan sistem pengelolaan air limbah
terpusat dan pengembangannya ditindak
lanjuti oleh pemerintah daerah.

Sarana Air
Limbah
Permukiman

853

LAMPIRAN II
STANDAR PELAYANAN MINIMAL
SUB BIDANG PLP

854

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

NOMOR : 14 /PRT/M/2010

TENTANG

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PEKERJAAN UMUM,

Menimbang

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (2) Peraturan


Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan
dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal perlu menetapkan
Peraturan Menteri;

855

Mengingat

: 1.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun


2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan
Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

2.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang


Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);

3.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2009


tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;

4.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010


tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara
serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara;

5.

Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009;

6.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang


Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan
Minimal;

7.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010


tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan
Umum;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan

: PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG STANDAR


PELAYANAN MINIMAL BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN
PENATAAN RUANG.

856

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :

1.

Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang
selanjutnya disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan
dasar Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang merupakan urusan
wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.

2.

Pelayanan Dasar Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang adalah jenis
pelayanan publik Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang mendasar
dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial,
ekonomi dan pemerintahan.

3.

Indikator SPM adalah tolok ukur prestasi kuantitatif dan kualitatif yang digunakan
untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi dalam
pencapaian SPM berupa masukan, proses keluaran, hasil dan/atau manfaat
pelayanan dasar.

4.

Batas waktu pencapaian adalah batas waktu untuk mencapai target jenis
pelayanan dasar Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang secara bertahap
sesuai dengan indikator dan nilai yang ditetapkan.

857

5.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang selanjutnya disebut APBN


adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh
Dewan Perwakilan Rakyat.

6.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disebut APBD


adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan
disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD.

7.

Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh


Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

8.

Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah selanjutnya disingkat DPOD adalah


dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden
terhadap kebijakan otonomi daerah.

9.

Pemerintah Daerah adalah Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

10.

Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum.

Maksud Dan Tujuan

Pasal 2

SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang diselenggarakan untuk


mendukung penyediaan pelayanan dasar kepada masyarakat di Bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang sebagai acuan pemerintahan daerah dalam perencanaan
program pencapaian target SPM.

858

Ruang Lingkup

Pasal 3

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Daerah Kabupaten/Kota;


Wewenang Penetapan;
Pengorganisasian;
Pelaksanaan;
Pelaporan;
Monitoring dan Evaluasi;
Pengembangan Kapasitas;
Pembinaan dan Pengawasan; dan
Pembiayaan.

BAB II

SPM BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG


DAERAH KABUPATEN/KOTA

Bagian Kesatu
Daerah Kabupaten/Kota

Pasal 4

(1) Pemerintah daerah kabupaten/kota menyelenggarakan pelayanan dasar Bidang


Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sesuai dengan SPM Bidang Pekerjaan

859

Umum dan Penataan Ruang yang terdiri atas jenis pelayanan, indikator kinerja
dan target.
(2) Jenis pelayanan, indikator kinerja dan target sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), tercantum padaLampiran I merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak
terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.

Pasal 5

(1) Pemerintah daerah kabupaten/kota menyelenggarakan pelayanan dasarBidang


Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sesuai dengan SPM Bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang.
(2) SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berkaitan dengan pelayanan Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang, meliputi jenis pelayanan berdasarkan indikator kinerja dan
target tahun 2010 sampai dengan tahun 2014:
a.

Sumber Daya Air


Prioritas utama penyediaan air untuk kebutuhan masyarakat

a)
b)
b.

Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal


sehari hari.
Tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi
yang sudah ada.

Jalan
1. Jaringan

860

a)

b)

c)

Aksesibilitas
Tersedianya jalan yang menghubungkan pusatpusat kegiatan
dalamwilayah kabupaten/kota.
Mobilitas
Tersedianya jalan yang memudahkan masyarakat perindividu
melakukan perjalanan.
Keselamatan
Tersedianya jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara
dengan selamat.

2. Ruas
a)

b)

c.

Kondisi jalan
Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan
dengan selamat dan nyaman.
Kecepatan
Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat dilakukan
sesuai dengan kecepatan rencana.

Air Minum
Tersedianya akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air
Minum dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan
terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari.

d.

Penyehatan Lingkungan Permukiman (Sanitasi Lingkungan dan


Persampahan)
1. Air limbah permukiman
a) Tersedianya sistem air limbah setempat yang memadai.
b) Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota.
2. Pengelolaan sampah
a) Tersedianya fasilitas pengurangan sampah di perkotaan.
b) Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan.
3. Drainase
Tersedianya sistem jaringan drainase skala kawasan dan skala kota
sehinggatidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan
tidak lebih dari 2 kali setahun.

861

e.

PenangananPermukiman Kumuh Perkotaan


Berkurangnyaluasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan.

f.

Penataan Bangunan dan Lingkungan


1. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di kabupaten/kota.

2. Harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN)

Tersedianya pedoman Harga Standar Bangunan Gedung Negara di


kabupaten/kota.
g.

Jasa Konstruksi
1. Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK)
PenerbitanIUJK dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah persyaratan
lengkap.

2. Sistem Informasi Jasa Konstruksi


Tersedianya Sistem Informasi Jasa Konstruksi setiap tahun.

h.

Penataan Ruang
1. Informasi Penataan Ruang
Tersedianya informasi mengenai Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah
kabupaten/kota beserta rencana rincinya melalui peta analog dan
peta digital.
2. Pelibatan Peran Masyarakat dalam Proses Penyusunan RTR
Terlaksananya penjaringan aspirasi masyarakat
konsultasi publik yang memenuhi syarat inklusif
penyusunan RTR dan program pemanfaatan ruang,
minimal 2 (dua) kali setiap disusunnya RTR
pemanfaatan ruang.

melalui forum
dalam proses
yang dilakukan
dan program

862

3. Izin Pemanfaatan Ruang


Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan izin pemanfaatan ruang
sesuai
dengan
Peraturan
Daerah
tentangRTRwilayah
kabupaten/kota beserta rencana rincinya.
4. Pelayanan Pengaduan Pelanggaran Tata Ruang
Terlaksanakannya tindakan awal terhadap pengaduan masyarakat
tentang pelanggaran di bidang penataan ruang dalam waktu 5 (lima)
hari kerja.
5. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik
Tersedianya luasanRTHpublik sebesar 20% dari luas wilayah
kota/kawasan perkotaan.

Pasal 6

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b mengenai


pengoperasian dan pemeliharaan jalan provinsi, kabupaten/kota dan jalan desa
dengan indikator terpenuhinya standar teknis prasarana jalan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Menteri tentangTata Cara dan Persyaratan Laik Fungsi Jalan.

BAB III

WEWENANG PENETAPAN

Pasal 7

863

(1) Wewenang dan atau penetapan pedoman SPM Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan memperhatikan kondisi dan
kemampuan daerah provinsi dan kabupaten/kota yang menjadi urusannya.
(2) Pemerintah kabupaten/kota dalam menerapkan SPM Bidang Pekerjaan Umum
dan Penataan Ruang mengacu pada SPM sebagaimana tercantum pada
Lampiran I merupakansatu kesatuan danbagian yang tidak terpisahkan dengan
Peraturan Menteri ini.
(3) Penetapan SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat disesuaikan secara berkala berdasarkan evaluasi
pencapaian SPM yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.
(4) Pelaksanaan SPM dapat disempurnakan dan ditingkatkan secara bertahap sesuai
dengan perkembangan kemampuan dan kebutuhan daerah.

BAB IV

PENGORGANISASIAN

Pasal 8

(1) Gubernur bertanggungjawab dalam koordinasi penyelenggaraan pelayanan dasar


Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sesuai SPM sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).
(2) Bupati/Walikota bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pelayanan dasar
Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sesuai SPM Bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.

864

(3) Koordinasi dan penyelenggaraan pelayanan dasar Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruangsesuai SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh instansi
yang bertanggung jawab di Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang baik
daerah provinsi maupun kabupaten/kota.
(4) Penyelenggaraan pelayanan dasar Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang sesuai SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6 dilakukan oleh tenaga ahli dengan
kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan sesuai bidangnya.
(5) Pemerintah kabupaten/kota yang telah menyusun Struktur Organisasi Tata Kerja
(SOTK) dan belum ada unit yang menangani tugas pokok dan fungsi pembinaan
jasa konstruksi dapat menunjuk atau menugaskan unit yang telah ada atau
membentuk Unit Pelayanan Teknis atau Balai yang ada dibawah struktur
organisasi Dinas Pekerjaan Umum.

BAB V

PELAKSANAAN

Pasal 9

(1) SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (2), merupakan acuan dalam perencanaan program
pencapaian secara bertahap oleh pemerintah daerah kabupaten/kota.

(2) Perencanaan program pencapaian target sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan berdasarkan petunjuk teknis SPM Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang sebagaimana tercantum padaLampiran II merupakan satu
kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.

865

BAB VI

PELAPORAN

Pasal 10

(1) Bupati/Walikota menyampaikan laporan teknis tahunan kinerja penerapan dan


pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang kepada Menteri
melalui Gubernur.
(2) Bupati/Walikota menyampaikan laporan teknis tahunan kinerja penerapan dan
pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang khusus sub
bidang Jasa Konstruksi kepada Menteri dengan tembusan kepada Gubernur
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan tentang Penyelenggaraan
Pembinaan Jasa Konstruksi.
(3) Berdasarkan laporan teknis tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan teknis penerapan SPM Bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

BAB VII

MONITORING DAN EVALUASI

Pasal 11

866

(1) Menteri melaksanakan monitoring dan evaluasi atas penerapan SPM Bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang oleh pemerintah daerah dalam rangka
menjamin akses dan mutu pelayanan dasar kepada masyarakat.
(2) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan:
a. Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di daerah Untuk pemerintahan daerah
kabupaten/kota; dan
b. Tim Pembina Jasa Konstruksi Provinsi untuk bidang jasa konstruksi.

Pasal 12

Hasil monitoring dan evaluasi penerapan dan pencapaian SPM Bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dipergunakan
sebagai :

a.

Bahan masukan bagi pengembangan kapasitas pemerintah daerah dalam


pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;

b.

Bahan pertimbangan dalam pembinaan dan pengawasan penerapan SPM bidang


Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, termasuk pemberian penghargaan bagi
pemerintah daerah yang berprestasi sangat baik; dan

c.

Bahan pertimbangan dalam memberikan sanksi kepada pemerintah daerah


kabupaten/kota yang tidak berhasil mencapai SPM bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang dengan baik dalam batas waktu yang ditetapkan dengan
mempertimbangkan kondisi khusus daerah yang bersangkutan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

867

BAB VIII

PENGEMBANGAN KAPASITAS

Pasal 13

(1) Menteri memfasilitasi pengembangan kapasitas melalui peningkatan kemampuan


sistem, kelembagaan, personal dan keuangan, padakabupaten/kotasesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Fasilitasi pengembangan kapasitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
pemberian orientasi umum, petunjuk teknis, bimbingan teknis, pendidikan dan
pelatihan, dan/atau bantuan lainnya meliputi:
a. Perhitungan sumber daya dan dana yang dibutuhkan untuk mencapai SPM
Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang termasuk kesenjangan
pembiayaan;
b. Penyusunan rencana pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang dan penetapan target tahunan SPM bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang;
c. Penilaian prestasi kerja pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang; dan
d. Pelaporan prestasi kerja pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang.
(3) Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan
mempertimbangkan kemampuan kelembagaan, personil, dan keuangan negara
serta keuangan daerah.

BAB IX

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

868

Pasal 14

(1) Menteri melakukan pembinaan teknis atas penerapan dan pencapaian SPM
Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
(2) Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
menyusun petunjuk teknis sebagaimana tercantum padaLampiran II merupakan
satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.
(3) Menteri setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, dapat
mendelegasikan pembinaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada
Gubernur selaku wakil Pemerintah di daerah.

Pasal 15

(1)

Menteri melakukan pengawasan teknis atas penerapan dan pencapaian SPM


Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, dan dibantu oleh Inspektorat
Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum.

(2)

Gubernur selaku wakil pemerintah di daerah dalam melakukan pengawasan


teknis atas penerapan dan pencapaian SPM Bidang Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang, dibantu oleh Inspektorat Provinsi berkoordinasi dengan
Inspektorat Kabupaten/Kota.

(3) Bupati/Walikota melaksanakan pengawasan dalam penyelenggaraan pelayanan


Bidang Pekerjaan Umum sesuai SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang di daerah masing-masing.

BAB X

869

PEMBIAYAAN

Pasal 16

Pembiayaan atas penyelenggaraan pelayanan dasar Bidang Pekerjaan Umum dan


Penataan Ruang untuk pencapaian target SPM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (2) seluruhnya dibebankan pada APBD masing-masing.

BAB XI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 17

Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Permukiman dan


Prasarana Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan SPM
Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan Pekerjaan Umum, dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 18

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

870

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri


ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 Oktober 2010

MENTERI PEKERJAAN UMUM,

ttd

DJOKO KIRMANTO

871

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 2 Desember 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

ttd

PATRIALIS AKBAR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 587

872

Lampiran I

: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum


Nomor :14/PRT/M/2010
Tanggal :25 Oktober 2010

STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)


BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR


1

Sumber Daya Air

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

KETERANGAN

INDIKATOR

NILAI

100%

2014

Berdasarkan atas target


minimal kebutuhan air
bersih di tiap
kabupaten/kota

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Prioritas utama penyediaan Air 1. Tersedianya air baku untuk


untuk Kebutuhan Masyarakat
memenuhi kebutuhan pokok

minimal sehari hari.

2. Tersedianya air irigasi untuk


pertanian rakyat pada sistem

70%

873

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR


1

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

KETERANGAN

INDIKATOR

NILAI

irigasi yang sudah ada.


II

Jalan

Jaringan

Ruas

Aksesibilitas

3. Tersedianya jalan yang


menghubungkan pusat-pusat
kegiatan dalam wilayah
kabupaten/kota.

100 %

2014

Dilaksanakan oleh
pemerintah daerah
kabupaten/kota

Mobilitas

4. Tersedianya jalan yang


memudahkan masyarakat
perindividu melakukan
perjalanan.

100 %

2014

Dilaksanakan oleh
pemerintah daerah
kabupaten/kota

Keselamatan

5. Tersedianya jalan yang


menjamin pengguna jalan
berkendara dengan selamat.

60 %

2014

Dilaksanakan oleh
pemerintah daerah
kabupaten/kota

Kondisi jalan

6. Tersedianya jalan yang


menjamin kendaraan dapat
berjalan dengan selamat dan
nyaman.

60 %

2014

Dilaksanakan oleh
pemerintah daerah
kabupaten/kota

Kecepatan

7. Tersedianya jalan yang


menjamin perjalanan dapat
dilakukan sesuai dengan
kecepatan rencana.

60 %

2014

Dilaksanakan oleh
pemerintah daerah
kabupaten/kota

874

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR


1

III

Air Minum

Cluster Pelayanan
Sangat buruk
Buruk
Sedang
Baik
Sangat baik

INDIKATOR

NILAI

8. Tersedianya akses air


minum yang aman melalui
Sistem Penyediaan Air
Minum dengan jaringan
perpipaan dan bukan
jaringan perpipaan
terlindungi dengan
kebutuhan pokok minimal 60
liter/orang/ hari

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

KETERANGAN

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

40%
50%
70%
80%
100%

875

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR


1

IV

Penyehatan
Lingkungan
Permukiman

Air Limbah Permukiman

(Sanitasi
Lingkungan
dan
Persampahan)
Pengelolaan sampah

Drainase

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

KETERANGAN

INDIKATOR

NILAI

9. Tersedianya sistem air


limbah setempat yang
memadai.

60%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

10. Tersedianya sistem air


limbah skala komunitas/
kawasan/kota

5%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

11. Tersedianya fasilitas


pengurangan sampah di
perkotaan.

20%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

12. Tersedianya sistem


penanganan sampah di
perkotaan.

70%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

13. Tersedianya sistem


jaringan drainase skala
kawasan dan skala kota
sehinggatidak terjadi
genangan (lebih dari 30
cm, selama 2 jam) dan
tidak lebih dari 2 kali
setahun

50%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

876

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR


1

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

KETERANGAN

INDIKATOR

NILAI

Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan

14. Berkurangnyaluasan
permukiman kumuh di
kawasan perkotaan.

10%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

VI

Penataan
Bangunan dan
Lingkungan

Izin Mendirikan Bangunan


(IMB)

15. Terlayaninya masyarakat


dalam pengurusan IMB di
kabupaten/kota.

100%

2014

Dinas yang membidangi


Perijinan (IMB)

Harga Standar Bangunan


Gedung Negara (HSBGN)

16. Tersedianya pedoman


Harga Standar Bangunan
Gedung Negara di
kabupaten/kota.

100%

2014

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Izin Usaha Jasa Konstruksi


(IUJK)

17. Penerbitan IUJK dalam


waktu 10 (sepuluh) hari
kerja setelah persyaratan
lengkap.

100%

2014

Unit yang melakukan


Pembinaan Jasa
Konstruksi

Sistem Informasi Jasa


Konstruksi

18. Tersedianya Sistem


Informasi Jasa Konstruksi
setiap tahun

100%

2014

Unit yang melakukan


Pembinaan Jasa
Konstruksi

VII

Jasa Konstruksi

877

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR

Penataan Ruang

KETERANGAN

INDIKATOR

NILAI

19. Tersedianya informasi


mengenai Rencana Tata
Ruang (RTR)wilayah
kabupaten/kota beserta
rencana rincinya melalui
peta analog dan peta digital.

100%

2014
(kabupaten/ kota
dan kecamatan)

Dinas/SKPD yang
membidangi Penataan
Ruang

90 %

2014 (kelurahan)

Pelibatan Peran Masyarakat 20. Terlaksananya penjaringan


Dalam Proses Penyusunan
aspirasi masyarakat melalui
RTR
forum konsultasi publik yang
memenuhi syarat inklusif
dalam proses penyusunan
RTR dan program
pemanfaatan ruang, yang
dilakukan minimal 2 (dua)
kali setiap disusunnya RTR
dan program pemanfaatan
ruang.

100%

2014

Dinas/SKPD yang
membidangi Penataan
Ruang

Izin Pemanfaatan Ruang

100%

2014
(kabupaten/
kota)

Dinas yang

1
VIII

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

Informasi Penataan Ruang

21. Terlayaninya masyarakat


dalam pengurusan izin
pemanfaatan ruang sesuai
dengan Peraturan Daerah
tentang RTR wilayah

membidangi Perizinan

878

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


No

JENIS PELAYANAN DASAR


1

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

KETERANGAN

INDIKATOR

NILAI

100%

2014
(kabupaten/
kota, dan
kecamatan)

Dinas/SKPD yang
membidangi Penataan
Ruang

25%

2014

Dinas/SKPD yang
membidangi Penataan
Ruang

kabupaten/kota beserta
rencana rincinya
Pelayanan Pengaduan
Pelanggaran Tata Ruang

22. Terlaksanakannya tindakan


awal terhadap pengaduan
masyarakat tentang
pelanggaran di bidang
penataan ruang, dalam
waktu 5 (lima) hari kerja.

Penyediaan Ruang Terbuka 23. Tersedianya luasan RTH


Hijau (RTH) Publik
publik sebesar 20% dari luas
wilayah kota/kawasan
perkotaan.

MENTERI PEKERJAAN UMUM,


ttd
DJOKO KIRMANTO

879

LAMPIRAN II
Umum

: Peraturan Menteri Pekerjaan


Nomor : 14/PRT/M/2010
Tanggal : 25 Oktober 2010

880

PETUNJUK TEKNIS
STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG
PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN
RUANG

881

PETUNJUK TEKNIS
DEFINISI OPERASIONAL
STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG SUMBER DAYA AIR

I.

AIR LIMBAH PERMUKIMAN


1. Tersedianya Sistem Air Limbah Setempat yang Memadai
a.

Pengertian
Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau
kegiatan

permukiman,

rumah

makan,

perkantoran,

perniagaan,

apartemen dan asrama.


Sistem pembuangan air limbah setempat adalah sistem permbuangan
air limbah secara individual yang diolah dan dibuang di tempat. Sistem
ini meliputi cubluk, tanki septik dan resapan, unit pengolahan setempat
lainnya, sarana pengangkutan, dan pengolahan akhir lumpur tinja.
Unit pengolahan setempat lainnya yang dimaksud di atas adalah unit
atau paket lengkap pengolahan air limbah yang dikembangkan dan
dipasarkan, baik oleh lembaga-lembaga penelitian maupun oleh
produsen-produsen tertentu untuk digunakan oleh perumahan, gedunggedung perkantoran, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan gedung-gedung
komersial setelah dinyatakan layak secara teknis oleh lembaga yang
berwenang
Tangki septik adalah bak kedap air untuk mengolah air limbah,
berbentuk empat persegi panjang atau bundar yang dilengkapi tutup,
penyekat, pipa masuk/keluar dan ventilasi. Fungsinya untuk merubah
sifat-sifat air limbah, agar curahan ke luar dapat dibuang ke tanah
melalui resapan tanpa mengganggu lingkungan.

882

Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja adalah Instalasi pengolahan air


limbah yang didesain hanya menerima lumpur tinja melalui mobil atau
gerobak tinja (tanpa perpipaan).
Baku mutu air limbah domestik adalah ukuran batas atau kadar unsur
pencemar

dan

atau jumlah

unsur

pencemar

yang

ditenggang

keberadaannya dalam air limbah domestik yang akan dibuang atau


dilepas ke air permukaan.

Definisi Operasional
1)

Kriteria tingkat pelayanan adalah bahwa sebuah kabupaten/kota


dengan jumlah masyarakat minimal 50.000 jiwa yang telah memiliki
tangki septik (sesuai dengan standar teknis berlaku) diharapkan
memiliki sebuah IPLT yang memiliki kualitas efluen air limbah domestik
tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah ditetapkan.

2)

Nilai SPM tingkat pelayanan adalah jumlah masyarakat yang dilayani


dinyatakan dalam prosentase jumlah masyarakat yang memiliki tangki
septik pada tahun akhir SPM terhadap jumlah total masyarakat yang
memiliki tangki septik di seluruh kabupaten/kota.

b.

Cara Perhitungan/Rumus
1)

Rumus:
SPM tingkat pelayanan adalah persentase jumlah masyarakat yang
memiliki tangki septik pada pada akhir pencapaian SPM terhadap
jumlah total masyarakat yang memiliki tangki septik di seluruh
kabupaten/kota. Atau, dirumuskan sbb.:

883


SPM tingkatpelayanan

akhir thn pencapaian SPM

2)

T angkiseptik yangdilayani

seluruhkab / kota

T otaltangkiseptik

Pembilang:
Tangki septik yang dilayani adalah jumlah kumulatif tangki septik yang
dilayani oleh IPLT di dalam sebuah kabupaten/kota pada akhir tahun
pencapaian SPM.

3)

Penyebut
Total tangki septik adalah jumlah kumulatif tangki septik yang dimiliki
oleh masyarakat di seluruh kabupaten/kota

4)

Ukuran/Konstanta
Persen (%).

5)

Contoh Perhitungan
Pada kondisi eksisting tahun X di Kabupaten A, diidentifikasi jumlah
masyarakat yang memiliki tangki septik sebanyak 75.000 jiwa.
Direncanakan pada tahun akhir pencapaian SPM, (tahun 2014) jumlah
masyarakat yang memiliki tangki septik dan terlayani oleh IPLT
sebanyak 250.000 jiwa.
Secara total jumlah penduduk yang memiliki tangki septik di tahun
2014 adalah sebanyak 400.000 jiwa.

884

Dengan asumsi 1 KK setara dengan 5 jiwa, maka jumlah tangki septik


yang terlayani adalah:
(250.000 jiwa/5 KK/tangki septik) = 50.000 buah tangki septik
Jumlah total tangki septik adalah
(400.000 jiwa/5 KK/tangki septik) = 80.000 buah tangki septik

Maka nilai SPM tingkat pelayanan pada akhir tahun pencapaian SPM
adalah:
(50.000/80.000) x 100% = 62,5%.

c.

Sumber Data
-

Wilayah dalam Angka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik


Daerah per tahun analisis

Rencana pengembangan wilayah dari Dinas terkait (Bappeda atau


Dinas Pekerjaan Umum Daerah)

d.

Rujukan
-

SNI 03-2398-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Tangki Septik


Dengan Sistem Resapan

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2003 tentang


Baku Mutu Air Limbah Domestik Atau Perubahannya

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 Tentang


Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Air Limbah Permukiman.

885

e.

Target
SPM tingkat pelayanan adalah 60% pada tahun 2014

f.

Langkah Kegiatan
-

Sosialisasi penggunaan tangki septik yang benar kepada masyarakat,


sesuai dengan standar teknis yang berlaku

Sosialisasi pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja yang


benar kepada seluruh stakeholder, sesuai dengan standar teknis yang
berlaku

g.

SDM
-

SDM pada Dinas yang membidangi Pekerjaan Umum dan Badan


Perencanaan Pembangunan Daerah

2. Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota

a. Pengertian
- Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau
kegiatan

permukiman,

rumah

makan,

perkantoran,

perniagaan,

apartemen dan asrama.


- Baku mutu air limbah domestik adalah ukuran batas atau kadar unsur
pencemar

dan

atau jumlah

unsur

pencemar

yang

ditenggang

keberadaannya dalam air limbah domestik yang akan dibuang atau


dilepas ke air permukaan.
- Sewerage Skala Komunitas adalah upaya pembuangan air limbah dari
rumah-rumah langsung dimasukkan ke jaringan pipa yang dipasang
diluar pekarangan yang dialirkan kesatu tempat (pengolahan) untuk

886

diolah sampai air limbah tersebut layak dibuang ke perairan terbuka dan
diutamakan untuk kawasan permukiman kumuh dengan maksimum
pelayanan 200 KK.
- Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) adalah rangkaian unit-unit
pengolahan pendahuluan, pengolahan utama, pengolahan kedua
dan

pengolahan

tersier

bila

diperlukan,

beserta

bangunan

pelengkap lainnya, yang dimaksudkan untuk mengolah air limbah


agar bisa mencapai standar kualitas baku mutu air limbah yang
ditetapkan.

b. Definisi Operasional
1) Kriteria ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah adalah
bahwa pada kepadatan penduduk > 300 jiwa/ha diharapkan memiliki
sebuah

sistem

jaringan

dan

pengolahan

air

limbah

skala

komunitas/kawasan/kota dengan kualitas efluen instalasi pengolahan


air limbah tidak melampaui baku mutu air limbah domestik yang telah
ditetapkan.

2) Nilai SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah


adalah nilai tingkat pelayanan sistem jaringan dan pengolahan air
limbah dinyatakan dalam prosentase jumlah masyarakat yang terlayani
sistem

jaringan

dan

pengolahan

air

limbah

skala

komunitas/kawasan/kota pada tahun akhir SPM terhadap jumlah total


penduduk di seluruh kabupaten/kota tersebut.

c. Cara Perhitungan/Rumus
1) Rumus:

887

SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah adalah


persentase jumlah masyarakat yang terlayani sistem jaringan dan
pengolahan air limbah skala komunitas/kawasan/kota pada tahun akhir
SPM terhadap jumlah total penduduk di seluruh kabupaten/kota
tersebut. Atau, dirumuskan sbb.:

SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahanair limbah

akhir thn pencapaian SPM

Penduduk yang terlayani

seluruhkab / kota

penduduk

2) Pembilang:
Penduduk yang terlayani adalah jumlah kumulatif masyarakat yang
memiliki akses/terlayani sistem jaringan dan pengolahan air limbah
skala komunitas/kawasan/kota di dalam sebuah kabupaten/kota pada
akhir pencapaian SPM.

3) Penyebut
Penduduk

adalah

jumlah

kumulatif

masyarakat

di

seluruh

kabupaten/kota.

4) Ukuran/Konstanta
Persen (%).

5) Contoh Perhitungan
Pada kondisi eksisting di Kabupaten A tahun X, diidentifikasi jumlah
masyarakat yang memiliki akses terhadap sistem jaringan dan
pengolahan air limbah skala kawasan sebanyak 20.000 jiwa.

888

Direncanakan pada tahun akhir pencapaian SPM (tahun 2014), jumlah


masyarakat yang memiliki akses sebanyak 75.000 jiwa,
Secara total, jumlah penduduk di kabupaten tersebut di tahun 2014
sebanyak 500.000 jiwa.

Maka nilai SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah
pada akhir tahun pencapaian adalah:
(75.000 jiwa / 500.000 jiwa) x 100% = 15%.

d. Sumber Data
- Wilayah dalam Angka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik
Daerah per tahun analisis
- Rencana pengembangan wilayah dari Dinas terkait (Bappeda atau
Dinas yang membidangi Pekerjaan Umum)

e. Rujukan
- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2003 tentang
Baku Mutu Air Limbah Domestik Atau Perubahannya
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 Tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Air Limbah Permukiman.

f. Target
SPM ketersediaan sistem jaringan dan pengolahan air limbah adalah 5%
pada tahun 2014.

889

g. Langkah Kegiatan
Sosialisasi penyambungan Sambungan Rumah ke sistem jaringan air
limbah.

h. SDM
SDM pada Dinas yang membidangi Pekerjaan Umum dan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah

II.

PENGELOLAAN SAMPAH

1. Tersedianya fasilitas pengurangan sampah di perkotaan

a. Pengertian
Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah,
pendaur ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah.

b. Definisi Operasional
Setiap sampah dikumpulkan dari sumber ke tempat pengolahan sampah
perkotaan, yang selanjutnya dipilah sesuai jenisnya, digunakan kembali,
didaur ulang, dan diolah secara optimal, sehingga pada akhirnya hanya
residu yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir.

890

SPM fasilitas pengurangan sampah di perkotaan adalah volume sampah di


perkotaan yang melalui guna ulang, daur ulang, pengolahan di tempat
pengolahan sampah sebelum akhirnya masuk ke TPA terhadap volume
seluruh sampah kota, dinyatakan dalam bentuk prosentase.
c. Cara Perhitungan

Timbulan sampah populasi volume sampah ke tempat pengolahansampah

Keterangan:
Timbulan sampah (l/orang/hari) dikalikan jumlah populasi yang dilayani
oleh tempat pengolahan sampah di perkotaan tersebut merupakan jumlah
sampah per hari yang harus dipilah, digunakan kembali, didaur ulang dan
diolah oleh tempat pengolahan sampah skala kawasan.

SPM fasilitaspengurangan sampahdi perkotaan

akhir tahun pencapain SPM

Seluruh kota

Vol. sampah yangdireduksi di T PST

Vol. sampah yangharusnyadireduksi di T PST

Contoh Perhitungan:
Pada kondisi eksisting, kota A belum memiliki tempat pengolahan sampah
di perkotaan. Direncanakan pada akhir tahun pencapaian akan dibangun
fasilitas pengurangan sampah di perkotaan yang mampu mengolah total
volume sampah sebesar 30,000 ton. Total volume sampah kota sampai
akhir tahun pencapaian adalah 250,000 ton. Maka nilai SPM pada akhir
tahun pencapaian adalah:
(30,000 ton/250,000 ton) x 100% = 12 %
d. Sumber Data
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota

891

Data Timbulan sampah dan komposisi sampah yang dikeluarkan oleh


Dinas yang membidangi Pengelolaan Persampahan

e. Rujukan
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2006 Tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan
f. Target
SPM Timbulan sampah yang berkurang ke TPA adalah 20% untuk 2014

g. Langkah kegiatan
Sosialisasi mengenai pengelolaan sampah terpadu
Mengidentifikasi lokasi fasilitas pengurang sampah di perkotaan sesuai
dengan RTRW Kabupaten/Kota.
Menyiapkan rencana kelembagaan, teknis, operasional dan finansial
untuk fasilitas pengurangan sampah di perkotaan.
Membangun

fasilitas

pengurangan

sampah

di

perkotaan

untuk

mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA.


h. SDM
SDM

Dinas

yang

membidangi

pengelolaan

sampah

dan

Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah.

2. Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan


a. Pengertian
- Penanganan sampah terdiri dari kegiatan pemilahan, pengumpulan,
pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah

892

- Pemilahan sampah adalah pengelompokan dan pemisahan sampah


sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah
- Pengumpulan sampah adalah pengambilan dan pemindahan sampah
dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat
pengolahan sampah terpadu
- Pengangkutan sampah adalah membawa sampah dari sumber dan/atau
dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat
pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir
- Pengolahan sampah adalah bentuk mengubah karakteristik, komposisi,
dan jumlah sampah
- Pemrosesan akhir sampah adalah proses pengembalian sampah
dan/atau residu hasil pengolahan ke media lingkungan secara aman
bagi manusia dan lingkungan

b. Definisi Operasional
Pelayanan

minimal

persampahan

dilakukan

melalui

pemilahan,

pengumpulan, pengangkutan sampah rumah tangga ke TPA secara


berkala minimal 2 (dua) kali seminggu, pengolahan dan pemrosesan akhir
sampah.

Penyediaan lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ramah


lingkungan adalah jumlah TPA yang memenuhi kriteria dan dioperasikan
secara layak (controlled landfill/sanitary landfill)/ramah lingkungan terhadap
jumlah TPA yang ada di perkotaan, dinyatakan dalam bentuk prosentase.

Dalam rangka perlindungan lingkungan dan makhluk hidup, TPA harus:


1.

Dilengkapi dengan zona penyangga

2.

Menggunakan metode lahan urug terkendali (controlled landfill) untuk


kota sedang dan kecil

893

3.

Menggunakan metode lahan urug saniter (sanitary landfill) untuk kota


besar dan metropolitan

4.

Tidak berlokasi di zona holocene fault

5.

Tidak boleh di zona bahaya geologi

6.

Tidak boleh mempunyai muka air tanah kurang dan 3 meter (bila
tidak memenuhi maka harus diadakan masukan teknologi)

7.

Tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dan 10-6cm/det (bila tidak
memenuhi maka harus diadakan masukan teknologi)

8.

Jarak terhadap sumber air minum harus lebih besar dan 100 meter di
hilir aliran (bila tidak memenuhi maka harus diadakan masukan
teknologi)

9.

Kemiringan zona harus kurang dan 20 %

10.

Jarak dan lapangan terbang harus lebih besar dan 3.000 meter untuk
penerbangan turbo jet dan harus Iebih besar dan 1.500 meter untuk
jenis lain

11.

Tidak boleh pada daerah lindung/cagar alam dan daerah banjir


dengan periode ulang 25 tahun

12.

Memantau kualitas hasil pengolahan leachate yang dibuang ke


sumber air baku dan/atau tempat terbuka, dilakukan secara berkala
oleh instansi yang berwenang

SPM pelayanan sampah adalah jumlah penduduk yang terlayani dalam


sistem

penanganan

sampah

terhadap

total

jumlah

penduduk

di

Kabupaten/Kota tersebut, dinyatakan dalam bentuk prosentase.

c. Cara Perhitungan

(Timbulansampah/ kapita/ hari) populasi volumesampah/ hari

894

Timbulan sampah (l/orang/hari) dikalikan dengan jumlah populasi dalam


cakupan pelayanan adalah jumlah volume sampah.

Volum e sam pah


jum lahtruk yang dibutuhkan
ki ((k1xr1) (k 2xr2) .........) ritasi / hari

K1 =

jumlah truk sampah

R1 =

volume truk sampah

Jumlah volume sampah (m3) yang harus diangkut dibagi dengan kapasitas
truk (m3) dan jumlah ritasi adalah jumlah truk yang dibutuhkan.

pengangkutan sam pah

akhir tahun pencapain SPM

Vol.sam pahterangkut

Seluruh kota

Vol.sam pah

(Timbulan populasi) vol.sampahdi daurulang, guna ulang, proses vol. sampahke TPA

Keterangan:
Timbulan sampah (m3/orang/hari) dikalikan dengan jumlah populasi dalam
cakupan pelayanan dikurangi dengan jumlah sampah yang didaur ulang,
diguna ulang dan diproses adalah jumlah volume sampah yang masuk ke
TPA.

volum esam pahke TPA


luas TPA
ketinggiansampah yangdirencanakan
Luas lahan TPA =

(1 + 0,3) luas TPA

895

Keterangan:
Volume sampah yang masuk ke dalam TPA dibagi dengan rencana
ketinggian tumpukan sampah dan tanah penutup adalah luas TPA yang
dibutuhkan.
Tingkat pelayanan sampah Jumlah volume sampah (m3) yang harus
diangkut dibagi dengan kapasitas truk (m3) dan jumlah ritasi adalah jumlah
truk yang dibutuhkan.

SPMpelayanan sam pah

akhir tahun pencapain SPM

Vol.sam pahterangkut

Seluruh kota

Vol.sam pah

Contoh Perhitungan:
Pada kondisi eksisting, kota A telah melakukan pengangkutan di beberapa
wilayah kota. Direncanakan pada akhir tahun pencapaian, dengan
kendaraan yang ada akan mengangkut toal volume sampah sebesar
100,000 ton. Total volume sampah kota sampai akhir tahun pencapaian
adalah 250,000 ton. Maka nilai SPM pada akhir tahun pencapaian adalah:
(100,000 ton/250,000 ton) x 100% = 40 %

Pada kondisi eksisting, kota A (kota kecil) memiliki 1 TPA yang masih
dioperasikan dengan Open Dumping. Pada akhir tahun perencanaan
direncanakan TPA tersebut sudah dioperasikan dengan Controlled Landfill,
tidak ada rencana pembangunan lokasi baru, maka nilai SPM pada akhir
tahun pencapaian adalah 100%.

896

d. Sumber Data
- Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota.
- Data Timbulan sampah dan komposisi sampah dikeluarkan oleh Dinas
yang membidangi Pengelolaan Sampah.
e. Rujukan
- Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2006 Tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan
Persampahan
- SNI 03 - 3241 1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA Sampah
f. Target
SPM Pengangkutan Sampah 70% untuk 2014
g. Langkah kegiatan
- Sosialisasi mengenai pengelolaan sampah terpadu
- Menentukan cakupan layanan pengangkutan
- Menghitung jumlah kendaraan yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah
sampah dari sumber
- Melakukan pengangkutan sampah minimal 2 kali seminggu
- Melakukan

pengangkutan

dengan

aman,

sampah

tidak

boleh

berceceran ke jalan saat pengangkutan (gunakan jaring, jangan


mengangkut sampah melebihi kapasitas kendaraan)
- Melakukan pembersihan dan perawatan berkala untuk kendaraan untuk
mencegah karat yang diakibatkan leachate dari sampah yang menempel
di kendaraan

897

- Sosialisasi mengenai pengelolaan sampah terpadu


- Menghitung timbulan sampah yang akan dibuang ke TPA.
- Merencanakan luas kebutuhan lahan TPA berdasarkan jumlah sampah
yang masuk ke TPA
- Merencanakan sarana / prasarana TPA yang dibutuhkan berdasarkan
kelayakan teknis, ekonomis dan lingkungan, meliputi :
Fasilitas umum (jalan masuk, pos jaga, saluran drainase, pagar,
listrik, alat komunikasi)
Fasilitas perlindungan lingkungan (lapisan dasar kedap air,
pengumpul lindi, pengolahan lindi, ventilasi gas dan sumur uji)
Fasilitas penunjang (air bersih, jembatan timbang dan bengkel).
Fasilitas operasional (buldozer, escavator, wheel/track loader, dump
truck, pengangkut tanah).
- Memperkirakan timbulan leachate
- Memperkirakan timbulan gas methan
- Merencanakan tahapan konstruksi TPA
- Merencanakan pengoperasian TPA sampah :
Rencana pembuatan sel harian
Rencana penyediaan tahap penutup
Rencana operasi penimbunan/pemadatan sampah
Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai peraturan
yang berlaku
- Merencanakan kegiatan operasi / pemeliharaan dan pemanfaatan bekas
lahan TPA
h. SDM
SDM Dinas yang membidangi Pengelolaan Persampahan dan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah

898

III.

DRAINASE

1. Tersedianya Sistem Jaringan Drainase Skala Kawasan dan Skala Kota


a. Pengertian
Adalah sistem jaringan saluran-saluran air yang digunakan untuk
pematusan

air

hujan,

yang

berfungsi

menghindarkan

genangan

(inundation) yang berada dalam suatu kawasan atau dalam batas


administratif kota.
b. Definisi Operasional
Tersedianya sistem jaringan drainase adalah ukuran pencapaian kegiatan
pemenuhan kebutuhan masyarakat akan penyediaan sistem drainase
diwilayahnya, baik bersifat struktural yaitu pencapaian pembangunan fisik
yang mengikuti pengembangan perkotaannya, maupun bersifat nonstruktural yaitu terselenggaranya pengelolaan dan pelayanan drainase oleh
Pemerintah Kota/Kabupaten yang berupa fungsionalisasi institusi pengelola
drainase dan penyediaan peraturan yang mendukung penyediaan dan
pengelolaannya.
c. Cara Perhitungan
SPM sistem jaringan drainase skala kawasan dan kota adalah persentase
dari pelayanan sistem drainase yang bersifat struktural dan non-struktural.

899

A=

Jumlah panjang saluran dan jumlah pompa dll, yang telah dibangun
dan mampu dikelola O/P nya oleh Kota/Kabupaten;

B=

Jumlah panjang saluran dan jumlah pompa serta infrastruktur


drainase lain yang telah direncanakan untuk dibangun didalam
Rencana Induk Sistem Drainase yang tercantum dalam perencanaan
Kota/Kabupaten.

d. Sumber Data
Rencana

Induk

Sistem

Drainase

Kota/Kabupaten,

Master

Plan

Kota/Kabupaten;
Peta Jaringan Drainase Perkotaan yang dikeluarkan Bappeko/Bappekab
atau Dinas Pekerjaan Umum Kota/Kabupaten;
Data

Kondisi

Saluran

dalam

Laporan

Pemeliharaan

Saluran

Drainase

pada

Monitoring
Dinas

Operasi

Pekerjaan

dan

Umum

Kota/Kabupaten.
e. Rujukan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Pasal
51, Pasal 57 dan Pasal 58;
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 239/KPTS/1987 Tentang
Pedoman Umum Mengenai Pembagian Tugas, Wewenang dan
Tanggung

Jawab

Pengaturan,

Pembinaan

dan

Pengembangan

Drainase Kota.
f. Target
SPM sistem jaringan drainase skala kawasan dan kota ditargetkan sebesar
50% pada tahun 2014.

900

Pencapaian 100% diharapkan bertahap mengingat saat ini banyak


Pemerintah Kota/Kabupaten yang belum mempunyai Rencana Induk
Sistem Drainase Perkotaan maupun penerapan O/P secara konsisten.

g. Langkah Kegiatan
Perlunya memperkuat kegiatan non-struktural yang berupa Pembinaan
Teknis pembuatan Rencana Induk Sistem Drainase maupun memperkuat
institusi pengelola drainase di daerah dalam melaksanakan O/P.
h. SDM
SDM

Dinas

yang

membidangi

Pekerjaan

Umum

dan

Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah

2. Tidak Terjadinya Genangan > 2 Kali/Tahun


a. Pengertian
Yang disebut genangan (inundation) adalah terendamnya suatu kawasan
permukiman lebih dari 30 cm selama lebih dari 2 jam. Terjadinya genangan
ini tidak boleh lebih dari 2 kali pertahun.
b. Definisi Operasional
Genangan (inundation) yang dimaksud adalah air hujan yang terperangkap
di daerah rendah/cekungan di suatu kawasan, yang tidak bisa mengalir ke
badan air terdekat. Jadi bukan banjir yang merupakan limpasan air yang
berasal dari daerah hulu sungai di luar kawasan/kota yang membanjiri
permukiman di daerah hilir.

c. Cara Perhitungan
SPM

ini

adalah

persentase

luasan

yang

tergenang

di

suatu

Kota/Kabupaten pada akhir tahun pencapaian SPM terhadap luasan

901

daerah rawan genangan atau berpotensi tergenang di Kota/Kabupaten


dimaksud.

A=

luasan daerah yang sebelumnya tergenang dan kemudian terbebas


dari genangan (terendam < 30cm dan < 2 jam dan maksimal terjadi 2
kali setahun);

B = luasan daerah yang rawan genangan dan berpotensi tergenang


(sering kali terendam > 30 cm dan tergenang > 2 jam dan terjadi > 2
kali/tahun).

d. Sumber Data
Rencana Induk Sistem Drainase Kabupaten/Kota, Master Plan Drainase
Kabupaten/Kota;
Peta

Jaringan

Drainase

Perkotaan

yang

dikeluarkan

oleh

Kabupaten/Kota;
Data

Kondisi

Saluran

dalam

Laporan

Pemeliharaan

Saluran

Drainase

pada

Monitoring
Dinas

Operasi

Pekerjaan

dan

Umum

Kabupaten/Kota.
e. Rujukan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 239/KPTS/1987 Tentang
Pedoman Umum Mengenai Pembagian Tugas, Wewenang dan

902

Tanggung

Jawab

Pengaturan,

Pembinaan

dan

Pengembangan

Drainase Kota.

f. Target
SPM ditargetkan sebesar 50% pada tahun 2014.
Pencapaian 100% dilakukan secara bertahap, mengingat Kabupaten/Kota
yang mempunyai wilayah yang sering tergenang akan memerlukan kolam
retensi (polder). Tidak semua daerah akan mampu membangunnya,
sehingga memerlukan upaya dan waktu agar Pemerintah dan Pemerintah
Provinsi memberikan dana stimulan.
g. Langkah Kegiatan
Memperkuat pengelola drainase dalam melaksanakan Perencanaan dan
O/P melalui kegiatan Pembinaan Teknis

h. SDM
SDM pada Dinas yang membidangi Pekerjaan Umum dan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah.

903

329

TIM PENYUSUN

PEMBINA
Ir. Djoko Mursito, M.Eng, MM
PENGARAH
Ir. Emah Sudjimah, MT
PENANGGUNG JAWAB
Ir. Susi MDS Simanjuntak, MT
Dadang Suryana, ST
PELAKSANA
Evy Novita Zulfiany, ST, MSi
Rina Resnawati, ST, M.Eng
Ariani Dwi Astuti, ST, MT
Ir. Ramadhani Yanidar, MT
Ir. Handy B. Legowo, MSES
Ir. Emah Sudjimah, MT
Meinar Manurung, ST, MT
Ir. Achmad Mufid, Dipl. SE
Vika Ekalestari, ST, MSc
Asri Indiyani, ST, MSc
Mahardiani Kusumaningrum, ST
Erly Silalahi, ST
Riza Taftazani, ST