Anda di halaman 1dari 29

SKRIPSI PENELITIAN AIR ISI ULANG

Written By Indonesia Berkarya on Friday, July 18, 2014 | Friday, July 18, 2014

A.LatarBelakang
Air merupakan zat penting yang sangat dibutuhkan mahluk hidup, terutama manusia. Air
memegang peranan penting dalam proses metabolisme tubuh, dimana air merupakan pelarut
universal dan hampir semua jenis zat dapat larut dalam air. Air dalam tubuh manusia berkisar
antara 50 70% dari seluruh berat badan. Kelangsungan hidup manusia sebagian besar
membutuhkan air : mandi, mencuci, minum dan lain-lain. Air juga memegang peranan dalam
berbagai aspek kehidupan dimana air juga digunakan untuk keperluan industri, pertanian,
pemadam kebakaran, tempat rekreasi, transportasi dan lain-lain.
Kebutuhan akan air semakin lama semakin meningkat sesuai dengan keperluan dan taraf
kehidupan penduduk. Masalah yang banyak dihadapi terkait dengan air adalah
berkurangnya air bersih yang dapat digunakan untuk konsumsi air minum sehari-hari.
Berkurangnya air bersih dapat disebabkan karena sistem drainase dan sanitasi, serta
kurang memadainya pengelolaan sumber daya air dan lingkungan.
Kebutuhan air bagi manusia diantaranya adalah kebutuhan untuk air minum. Air yang bersih
dan sehat merupakan kualifikasi yang sangat diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan
tersebut. Hal ini dikarenakan pemanfaatan air sebagai air minum secara langsung
berkaitan dengan tubuh manusia, sehingga perlu dijaga kualitasnya agar tidak
membahayakan tubuh manusia itu sendiri. Air dan kesehatan merupakan dua hal yang
saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan
derajat kesehatan masyarakat tersebut, khususnya air untuk minum dan makan.

Secara umum sebagian kebutuhan air minum masyarakat dapat bersumber dari air sumur
dan air yang sudah diolah oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun demikian
peningkatan kebutuhan air minum kadang tidak dapat terpenuhi oleh sumber air sumur maupun
air yang sudah diolah oleh PDAM. Seiring dengan makin majunya teknologi diiringi
dengan semakin sibuknya aktivitas manusia maka masyarakat cenderung memilih cara
yang lebih praktis dengan biaya yang relatif murah dalam memenuhi kebutuhan air
minum. Salah satu pemenuhan kebutuhan air minum yang menjadi alternatif adalah
dengan menggunakan air minum isi ulang.

Air Minum Isi Ulang (AMIU) merupakan salah satu alternatif bagi masyarakat dalam
pemenuhan kebutuhan air minum sehari-hari. Keberadaan depot air minum isi ulang terus
meningkat sejalan dengan dinamika keperluan masyarakat terhadap air minum yang
bermutu dan aman untuk dikonsumsi. Meski lebih murah, tidak semua depot air minum
isi ulang terjamin keamanan produknya.

Sebagai air minum, air minum isi ulang harus memenuhi persyaratan kualitas yang telah
ditetapkan. Namun kualitas air minum isi ulang masih diragukan karena diduga dapat
terkontaminasi oleh berbagai cemaran yang dapat membahayakan kesehatan manusia
jika penanganan dan pengolahannya kurang baik. Pemeriksaan kualitas bakteriologis
air minum dalam kemasan termasuk air minum isi ulang harus dilakukan pemeriksaan
cemaran bakterinya secara berkala. Dalam lampiran Kepmenkes No. 907 tahun 2002
ditetapkan bahwa pemeriksaan kualitas bakteriologi air minum dalam kemasan dan air
minum isi ulang disebutkan bahwa pemeriksaan bakteriologis air baku untuk air minum

harus dilakukan setiap 3 bulan sekali sedangkan untuk air minum yang siap
dimasukkan ke dalam kemasan minimal 1 kali setiap bulan (Radji dkk., 2008).

Peryaratan bakteriologis untuk air ditentukan oleh kehadiran mikroorganisme


yang patogen, maupun yang nonpatogen. Untuk persyaratan fisik ditentukan oleh
faktor-faktor kekeruhan, warna, bau, maupun rasa. Sedangkan untuk persyaratan kimia
air minum, perhatian diarahkan pada toksisitas bahan-bahan kimia tersebut (Riyadi,
1984).
Salah satu parameter dalam air adalah jumlah bakteri yang terdapat dalam air
tersebut, karena apabila bakteri-bakteri tersebut tumbuh dan berkembang dalam tubuh
manusia dapat bersifat patogen. Dari sekian banyak jenis bakteri yang terdapat dalam
air, bakteri Escherichia coli atau yang lebih sering disebut dengan E.Coli adalah salah
satu indikator terhadap air.

Dalam Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010,

persyaratan kualitas air minum untuk kandungan maksimum bakteri Escherichia coli
yang diperbolehkan adalah 0 / ml sampel. Air minum yang aman dikonsumsi harus
bebas dari kontaminan bakteri Escherichia coli.
Organisme yang paling umum digunakan untuk petunjuk adanya kontaminasi
mikroorganisme pada air minum adalah keberadaaan Escherichia coli. Mengkonsumsi air
minum yang mengandung bakteri tersebut daoat berakibat timbulnya penyakit. Menurut
Widiyanti dan Ristanti (2004) bahwa Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama
bakteri gram negatif. Pada umumnya bakteri-bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherichia
ini, dapat menyebabkan masalah bagi kesehatan bagi manusia seperti diare, muntaber dan
masalah pencernaan lainnya.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), kurang lebih sepertiga penduduk


dunia menderita berbagai penyakit yang ditularkan melalui air minum yang
terkontaminasi oleh mikroorganisme. Setiap tahun sekitar 13 juta orang meninggal
akibat infeksi yang berasal dari air minum, 2 juta diantaranya adalah bayi dan anakanak. Mengkonsumsi air yang terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen, baik air
minum atau air yang ditambahkan ke dalam makanan, dapat menimbulkan berbagai
penyakit gastrointestinal.

Penelitian yang dilakukan oleh Herawati dkk., (2012) diperoleh bahwa terdapat
perbedaan jumlah bakteri pada usaha air isi ulang di Kota Tasikmaalaya berdasarkan
sumber air yang digunakan. Hasil pemeriksaan dari total 41 sampel air minum isi ulang
berdasarkan sumber air baku, depot yang positif mengandung Coliformsebanyak 21
sampel dan yang tidak mengandung Coliform sebanyak 20 sampel. Selanjutnya hasil
penelitian Sahabuddin (2010) diperoleh bahwa semua parameter fisika dan parameter
kimia pada sepuluh Depot memenuhi syarat kelayakan air minum sedangkan pada
parameter mikrobiologi terdapat 5 Depot yang mengandung total coli.

Beberapa tahun terakhir ini usaha air minum isi ulang telah berkembang pesat di
beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara, termasuk Kabupaten Bombana. Selain mudah
diperoleh, praktis dan harga air minum isi ulang relatif lebih murah. Dengan alasan tersebut
masyartakat Bombana memilih mengkonsumsi air isi ulang (air gallon) untuk pemenuhan
konsumsi air minum sehari-hari.

Usaha air minum isi ulang umumnya dijalankan dalam usaha berskala kecil yang kadangkadang dari segi pengetahuan dan sarana-prasarana masih kurang jika dibandingkan
dengan standar kesehatan sehingga dapat mempengaruhi kualitas air yang dihasilkan.
Dengan

demikian

kualitasnya

masih

perlu

diuji

untuk

pengamanan

kualitas

airnya.
Menurut

Peraturan

Menteri

Kesehatan

No.492/MENKES/PER/IV/2010,

persyaratan kualitas air minum untuk seluruh penyelenggara air minum wajib memenuhi
persyaratan fisika, mikrobiologis, kimia dan radioaktif. Diduga Sejauh ini pengusaha
depot air minum isi ulang masih ada yang masih belum memenuhi kualitas air minum
khususnya kualitas secara mikrobiologis, hal ini kemungkinan disebabkan karena
kurangnya pengusaha dalam memelihara alat produksi air minum secara rutin.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka penulis tertarik untuk menganalisis
keberadaan cemaran mikrobiologis berupa bakteri Escherichia coli dengan judul Analisis
Kualitas Mikrobiologi Escherichia colipada Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Lantari Jaya
Kabupaten Bombana.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah
apakah air minum isi ulang yang dihasilkan oleh depot air minum isi ulang di Kecamatan Lantari
Jaya Kabupaten Bombana memenuhi syarat kualitas mikrobiologi Escherichia coliberdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Menkes/PER/IV/2010.
C. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang akan diteliti maka hipotesis yang dapat diajukan
dalam penelitian ini adalah air minum isi ulang yang dihasilkan oleh depot air isi ulang di
Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana memenuhi syarat

kualitas mikrobiologi

Escherichia coliberdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


492/Menkes/PER/IV/2010.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air minum isi ulang di Kecamatan
Lantari Jaya Kabupaten Bombana berdasarkan persyaratan mikrobiologi Escherichia coli yang
ditetapkan

oleh

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

492/Menkes/PER/IV/2010.

E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kualitas
mikrobiologi Escherichia coli pada air minum isi ulang yang dihasilkan oleh depot air minum isi
ulang di Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Air Minum
Manusia membutuhkan air untuk berbagai macam keperluan, seperti mandi, memasak

dan yang paling penting untuk konsumsi sehari-hari(Pradana dan Bowo, 2013). Air
merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan untuk ekhidupan manusia. Bukan
hanya jumlahnya yang penting, tetapi juga mutu air diperlukan untuk penggunaan tertentu. Air
yang dapat diminum dapat diartikan sebagai air yang bebas dari bakteri yang berbahaya dan
ketidakmurnian secara kimiawi. Air minum harus bersih dan jernih, tidak berwarna dan tidak
berbau, dan tidak mengandung bahan tersuspensi atau kekeruhan (Buckle et all., 2009)

Menurut Sandra dan Lilis (2007) menyatakan bahwa air minum merupakan air
yang dapat diminum langsung tanpa dimasak terlebih dahulu. Sedangkan air bersih
merupakan air yang digunakan keperluan sehari-hari, memenuhi syarat kesehatan dan
dapat diminum setelah dimasak terlebih dahulu.

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang
banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus
dilindungi agar tetap dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang
lain. Pengamatan dan pelestarian sumber daya air harus terus diperhatikan semua
pengguna air, termasuk juga oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan
dengan cara yang bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang
maupun generasi yang akan datang (Efendy, 2003).

Penyediaan air bersih, selain kuantitasnya, kualitasnya pun harus memenuhi


standar yang berlaku. Untuk itu perusahaan air minum selalu memeriksa kualitas airnya
sebelum didistribusikan pada pelanggan, karena air baku belum tentu memenuhi
standar, maka perlu dilakukan pengolahan agar memenuhi standar air minum. Air
minum yang ideal harus jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau dan tidak
mengandung kuman patogen. Air seharusnya tidak korosif, tidak meninggalkan
endapan pada seluruh jaringan distribusinya. Pada hakekatnya persyaratan ini dibuat
untuk mencegah terjadinya serta meluasnya penyakit bawaan air atau water borne
diseases (Kharismajaya, 2013).
Air adalah salah satu dari materi yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan
hidup mahluk hidup dan juga menjadi salah satu sumber penyebab dari penyakit yang
menyerang manusia. Hal utama yang perlu diperhatikan dalam mengolah air yang akan
dikonsumsi adalah menyediakan air yang aman dikonsumsi dari segi kesehatan.
Sumber air, baik air permukaan maupun air tanah, akan terus mengalami peningkatan
kontaminasi pencemar disebabkan meningkatnya aktivitas pertanian dan industri. Air
hasil produksi yang diharapkan konsumen adalah air yang bebas dari warna,
kekeruhan, rasa, bau, nitrat, ion logam berbahaya dan berbagai macam senyawa kimia
organik seperti pestisida dan senyawa terhalogenasi. Permasalahan kesehatan yang
berkaitan dengan kontaminan tersebut diatas meliputi kangker, gangguan pada

bayi

yang lahir, kerusakan jaringan saraf pusat, dan penyakit jantung (Sawyer, 1994).

Menurut Soetomo (2003) bahwa sekarang ini kebutuhan air bagi


amsyarakat dipasok oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) yang

merupakan Badan Usaha Milik Daerah. Selain itu, air minum masyarakat juga
berasal dari perusahaan swasts yaitu air minum dalam kemasan (AMDK),
yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan
Indonesia (Aspadin), dan air minum yang diproduksi oleh depo-depo yang
teergabung dalam asosiasi Pengusaha depo air (Aspada).
B. Air Minum Isi Ulang
Kebutuhan air minum dari waktu ke waktu meningkat terus seiring dengan pesatnya
pertumbuhan penduduk. Selama ini sebagian besar kebutuhan air minum dipenuhi dari sumber
air tanah atau air bersih yang berasal dari air permukaan yang diolah oleh Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM). Karena semakin rendahnya kualitas air sumur, sementara PDAM juga belum
mampu memasok air bersih dengan jumlah dan kualitas cukup, pemakaian air minum dalam
kemasan (AMDK) dewasa ini meningkat tajam terutama di kalangan masyarakat menengah ke
atas. Hal ini karena air minum ini dianggap lebih praktis oleh sebagian masyarakat lebih praktis
dan higienis. Akan tetapi harga AMDK oleh sebagian masyarakat dianggap terlalu mahal
sehingga mereka beralih iar minum yang berasal dari depot atau yang lebih dikenal dengan nama
Air Minum Isi Ulang (AMIU) (Athena dkk., 2005).

Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan air minum adalah produksi air
minum isi ulang yang pada saat ini telah berkembang pesat di seluruh daerah di
Indonesia, utamanya di perkotaan seiring dengan pertumbuhan industri air dalam
kemasan. Usaha ini ditempuh untuk memberikan pilihan bagi masyarakat untuk
mendapatkan air minum yang baik ditengah-tengah semakin mahalnya harga air minum
dalam kemasan (Radji dkk., 2008).

Menurut Hudson (1981) pengolahan air memiliki tiga tujuan yaitu untuk
meningkatkan

estetika

dari

air

agar

dapat

diterima

oleh

konsumen,

untuk

menghilangkan senyawa toksik dan berbahaya dan untuk menghilangkan atau menonaktifkan organisme yang menyebabkan penyakit yang ada di dalam air.

Depot Air Minum adalah usaha industri yang melakukan proses pengolahan air
baku menjadi air minum dan menjual langsung kepada konsumen. Air baku yang
digunakan Depot Air Minum harus memenuhi standar mutu dan persyaratan kualitas air
minum sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Pandiangan, 2012).
Kebutuhan masyarakat akan air minum terus meningkat seiring dengan cepatnya
pertumbuhan jumlah penduduk, sehingga masyarakat terdorong untuk mencari
alternatif lain guna memenuhi kebutuhan akan air minum salah satunya dengan air
minum isi ulang. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kualitas air minum isi ulang
yaitu hygiene dan sanitasi depot, sarana pengolahan, dan proses pengolahan air
minum isi ulang. Proses pengolahan air minum isi ulang yang saat ini dilakukan
diberbagai depot yang ada di masyarakat yaitu proses ozonisasi, ultraviolet (UV), dan
reversed osmosis (RO) (Latief, 2012).
Proses pengolahan air pada depot air minum pada prinsipnya adalah filtrasi
(penyaringan) dan desinfeksi. Proses filtrasi dimaksudkan selain untuk memisahkan
kontaminan tersuspensi juga memisahkan campuran yang berbentuk koloid termasuk
mikroorganisme dari dalam air, sedangkan desinfeksi dimaksudkan untuk membunuh
mikroorganisme yang tidak tersaring pada proses sebelumnya (Athena, 2004 dalam
Pradana dan Bowo, 2013).

Maroef (1998) menyatakan bahwa tahap pengolahan Air Minum Isi Ulang adalah
sebelum digunakan untuk mengisi galon, air baku akan melalui beberapa proses. Mulamula air baku dari tangki penampung akan melewati filter dari bahan silika untuk
menyaring partikel kasar. Setelah itu memasuki karbon aktif untuk menghilangkan bau.
Tahap berikutnya adalah air disaring dengan saringan berukuran 0,3 mikron lalu ke
saringan 0,1 mikron untuk menahan bakteri. Air yang telah bebas dari bau dan
bakteritersebut kemudian ditampung di tabung khusus yang berukuran lebih kecil
dibanding tabung penampung air baku. Sleanjutnya adalah tahap mematikan
mikroorganisme yang muingkin masih tersisa. Untuk mematikan mikroorganisme,
instalasi air minum isi ulang banyak menggunakan sistem lampu sinar ultra violet (UV).

Pandiangan (2012) menyatakan bahwa seiring berkembangnya Industri Depot Air


minum isi ulang yang cukup menjanjikan serta Pengelolaannya yang tidak sulit serta
harganya yang dianggap cukup ekonomis dan bersifat praktis menjadi alasan lajunya
perkembangan industri depot Air Minum Isi Ulang. Hal inilah yang membuat pemerintah
mengeluarkan beberapa peraturan tentang Air minum Isi ulang yaitu ;
1. Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 651/MPP/Kep/10/2004
tentang Persyaratan Teknis Depot Air Minum dan Perdagangannya.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 492/Menkes/Per/IV/2010
tentang Persyaratan Kualitas Air Minum..

C. Escherichia coli

Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada
umumnya bakteri-bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherichia ini, dapat
menyebabkan masalah bagi kesehatan bagi manusia seperti diare, muntaber dan
masalah pencernaan lainnya. Oleh karena itu air dapat menjadi sumber atau perantara
berbagai penyakit seperti tipus, desentri, dan kolera. Bakteri-bakteri yang dapat
menyebabkan penyakit tersebut adalah Salmonella typhosa, Shigella dysenteriae, dan
Vibrio koma (Widiyanti dan Ristanti 2004).

Escherichia coli merupakan bakteri indikator kualitas air minum karena keberadaannya di
dalam air mengindikasikan bahwa air tersebut terkontaminasi oleh feses, yang kemungkinan juga
mengandung mikroorganisme enterik patogen lainnya (Tortora 2004 dalam Radji dkk., 2010).

Escherichia coli adalah bakteri yang merupakan bagian dari mikroflora yang secara normal
ada dalam saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah panas. E. coli juga merupakan
bakteri indikator kualitas air karena keberadaannya di dalam air mengindikasikan bahwa air
tersebut terkontaminasi oleh feses, yang kemungkinan juga mengandung mikroorganisme enterik
patogen lainnya. E. Coli menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan
meningkat atau berada di luar usus. E. coli menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan
beberapa kasus diare (Brooks et al., 2004).
Escherichia coli atau biasa disingkat E. coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram
negatif. Pada umumnya bakteri ini diketahui terdapat secara normal dalam alat pencernaan manusia
dan hewan. Keberadaannya di luar tubuh manusia menjadi indikator sanitasi makanan dan minuman
apakah pernah tercemar oleh kotoran manusia atau tidak. Keberadaan Eschericia coli dalam air atau

makanan juga dianggap memiliki korelasi tinggi dengan ditemukannya bibit penyakit (patogen) pada
pangan (Rahayu, 2003 dalam Kurniadi dkk., 2013).

Di dalam uji analisis air, E. coli merupakan mikroorganisme yang dipakai sebagai
indikator untuk menguji adanya pencemaran air oleh tinja. Di dalam kehidupan kita
E.coli mempunyai peranan yang cukup penting yaitu selain sebagai penghuni tubuh ( di
dalam usus besar) juga E. coli menghasilkan kolisin yang dapat melindungi saluran
pencernaan dari bakteri patogenik. Escherichia coli akan menjadi patogen bila pindah
dari habitatnya yang normal kebagian lain dalam inang, misalnya, bila E. coli di dalam
usus masuk ke dalam saluran kandung kemih kelamin dapat menyebabkan sistitis,
yaitu suatu peradangan pada selaput lendir organ tersebut (Melliawati, 2009).
Dalam persyaratan mikrobiologi E. coli dipilih sebagai indikator tercemarnya air atau makanan
karena keberadaan bakteri E. coli dalam sumber air atau makanan merupakan indikasi terjadinya
kontaminasi tinja manusia. Adanya E. coli menunjukkan suatu tanda praktek sanitasi yang tidak baik
karena E. coli bisa berpindah dengan kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat
makanan, air, susu dan produk-produk lainnya. E. coli yang terdapat pada makanan atau minuman
yang masuk kedalam tubuh manusia dapat menyebabkan gejala seperti kholera, disentri,
gastroenteritis, diare dan berbagai penyakit saluran pencernaan lainnya (Nurwanto, 2007 dalam
Kurniadi dkk., 2013).

D. Syarat Kualitas Air Minum


Setiap penyelenggara air minum wajib menjamin air minum yang diproduksinya aman
bagi kesehatan. Air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika,
mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif yang dimuat dalam parameter wajib dan parameter

tambahan. Air minum tidak diperbolehkan mengandung bakteri coliformdan Escherichia coli
(PerMenkes, 2010).
Penurunan kualitas air yang terjadi ada yang disebabkan tercemarnya air sumur
oleh bakteri golongan Coliform yang diakibatkan dari kepadatan penduduk, buruknya
sistem pembuangan limbah masyarakat, pembuatan wc, septik tank dan sumur resapan
yang kurang memenuhi persyaratan dengan baik ditinjau dari kualitas maupun tata
letaknya terhadap sumber pencemar (Randa, 2012).
Tabel 1. Syarat Kualitas Air Minum

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana. Analisa
laboratorium terhadap parameter mikrobiologi air minum isi ulangdilakukan di UPTD
laboratorium Dasar Universitas Halu Oleo Kendari. Pengujian Paramenetr organoleptik
dilakukan di Fakultas Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan Februari 2014.
B. Bahan dan Alat
B. 1. Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah air minum isi ulang yang
dipeoleh dari depot air minum isi ulang desa Lantari dan Desa Lomba Kasih. Adapun bahan
untuk analisa kimia adalah aquades, NaOH 50 %, H2SO4 pekat, H3BO32%, HCl 0,1 N dan
indikator metil.

B. 2. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalahgallon sebagai wadah tempat air minum isi
ulang. Sedangkan alat yang digunakan untuk analisa kimia adalah timbangan, gelas ukur,
tabung reaksi, cawan petri, spoit, inkubator, autoclave, hand tally counter, oven, labu
erlemeyer, gelas kimia, separatory funnel.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey analitik untuk
mengetahui kualitas mikrobiologi air minum isi ulang di Kecamatan Lantari Kabupaten
Bombana.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh depot air minum isi ulang yang ada di
Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana yaitu sebanyak 5 depot air minum isi ulang,
masing-masing 2 depot berada di Desa Lantari dan 3 depot berada di Desa Lomba Kasih.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh depot air minum isi ulang yang ada di
Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana yaitu sebanyak 5 depot air minum isi ulang,
masing-masing 2 depot berada di Desa Lantari dan 3 depot berada di Desa Lomba Kasih.
3. Teknik Sampling
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara non probability sampling yaitu
sampling jenuh, dimana penentuan sampel bila semua populasi digunakan sebagai
sampel. Jumlah sampel depot air minum isi ulang sebanyak 5 depot dengan 3 kali

ulangan dalam analisis kualitas mikrobiologi, sehingga total sampel berjumlah 15


sampel.
E. Sumber dan Jenis Data
a. Sumber data yang diperoleh adalah data primer dan data sekunder.
b. Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif.
c. Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
- wawancara yaitu mengumpulkan data secara langsung dari pelaku usaha depot air
minum isi ulang.
- Analisis kualitas mikrobiologi Escherichia coli air minum isi ulang.
F. Analisa Data
Data hasil analisis laboratorium yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif dan
disajikan dalam gambar, kemudian dievaluasi dengan membandingkan kualitas mikrobiologi
Escherichia coli berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/Menkes/PER/IV/2010.
G. Pelaksanaan Percobaan
1. Pengambilan sampel air minum isi ulang berasal dari depot air minum isi ulang yang
berada di Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana
2. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara membeli air minum isi ulang dalam gallon.
3. Pengamatan terhadap parameter mikrobiologi air minum isi ulang.
H. Parameter Pengamatan
1. Parameter Mikrobiologi (Hutagulung dan Dedy, 1994)
Proses analisis untuk bakteri coli menggunakan metode JPT ada 3 tahapan yaitu :

1. Tahap tes pendugaan


a.

Siapkan tabung fermentasi yang didalamnya berisi tabung durham (tabung kecil untuk
menangkap gas) dan media lauryl tryptose sesuai dengan kebutuhan. Tiap tabung berisi 10 ml

b.

media lauryl tryptose.


Inokulasikan contoh air pada tabung fermentasi yang berisi media lauryl tryptose berturut-

turut 10 ml, 1ml dan 0,1 ml masing-masing 3 tabung atau 5 tabung (lebih baik).
c. Inkubasikan pada suhu 35C selama 24 jam 2 jam.
d. Amati produksi gas dalam tabung-tabung fermentasi yang terjadi (tertangkap), tampak dalam
tabung durham dan media menjadi keruh, kemudian catat jumlah tabung (=) dari tiap kelompok
pemberian contoh air, misalnya 5 (+) untuk tabung yang ditambah 10 ml contoh air, 2 (+) untuk
e.

yang ditambah 1 ml contoh air dan 1 (+) untuk yang ditambah 0,1 ml contoh air.
Tabung-tabung yang belum menghasilkan gas (-) inkubasi lagi 24 jam sehingga total waktu

inkubasi menjadi 48 jam 3 jam


f. Catat lagi tabung fermentasi yang memproduksi gas (+) dan media menjadi keruh.
Tabung-tabung fermentasi yang menghasilkan gas pada tes pendugaan
menunjukkan adanya bakteri koli positif. Pada tabung-tabung fermentasi yang positif ini
kemudian dilanjutkan dengan tes tahapan selanjutnya yaitu tes penegasan (tes tahapan
kedua).
2. Tes Penegasan
a.

Siapkan tabung-tabung fermentasi yang berisi masing-masing 10 ml media brilliant green

lactose bile broth steril sesuai dengan kebutuhan.


b. Secara aseptis inokulasikan 1 tetes ose pendugaan (+) ke dalam tabung-tabung fermentasi yang
berisi media brilliant green lactose bile broth dengan menggunakan media ose 3 mm
c. Inkubasikan pada suhu 35C 0,5 selama 48 jam 3 jam. Tabung-tabung fermentasi yang
memproduksi gas (dalam tabung durham) berarti tes penegasan positif terdapat koli.
3. Tes Lengkap

Hasil yang positif pada tes penegasan diteruskan ke tes lengkap yaitu
menggores dengan menggunakan ose ke permukaan media Ethyl Methylen Blue
(EMB)-agar atau Endo-agar dari tabung-tabung fermentasi yang positif pada tes
penegasan, dengan cara sebagai berikut :

a. Siapkan media agar-methulen biru atau agar-Endo dalam cawan petri


b. Celupkan ose kedalam tabung-tabung fermentasi yang positif dari tes penegasan dan goreskan
pada permukaan media EMB atau Endo-agar.
c. Inkubasikan cawan-cawan petri tersebut secara terbalik pada suhu 35C5 selama 242 jam.
d. Pertumbuhan bakteri koli yang positif menunjukkan adanya koloni warna merah pada permukaan
media Emb dan koloni merah metalik pada permukaan media Endo-agar.
e. Koloni-koloni yang positif dari salah satu media agar tersebut di atas segera :
1. Diinokulasikan ke dalam tabung-tabung yang berisi media fermentasi lauryl tryptose bile broth.
Inkubasikan pada suhu 35C 5 C selama 24-48 jam 3 jam. Tabung-tabung yang
menghasilkan gas dan keruh berarti positif terdapat bakteri koli.
2. Digoreskan pada permukaan agar-nutrien miring. Inkubasikan pada suhu 35C 5C selama 1824 jam. Lakukan pencatatan gram. Positif adanya bakteri koli ditunjukkan adanya gram minus (-)
dan non spora.

2. Parameter Organoleptik
Meliputi pengujian terhadap warna, aroma dan rasa air minum isi ulang dengan
pengujian sensori metode hedonik dengan memberikan skor antara 1 - 5 dengan kategori skor
sebagai berikut : (1) sangat tidak suka, (2) tidak suka, (3) cukup suka, (4) suka dan (5) sangat
suka (Rampengan dkk., 1985)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Identifikasi Bakteri Escherichia coli
Hasil analisis mikrobiologi Escherichia coli dalam sampel air minum isi ulang di
Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana, bahwa tidak terdapat kandungan bakteri
Escherichia coli dalam air minum isi ulang tersebut. Hal ini seperti yang terlihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 2.

Hasil Analisis Laboratorium Identifikasi Bakteri Escherichia colipada Air Minum Isi Ulang di
Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana
Ulangan
Sampel
1
2
3
A1
A2
A3
A4
A5
Sumber : Data Hasil Analisis Laboratorium, 2014.
Parameter mikrobiologi merupakan salah satu parameter yang harus mendapat
perhatian karena dampaknya yang berbahaya bagi kesehatan yaitu dapat menimbulkan
penyakit infeksi. Salah satu parameter mikrobiologi dalam air minum adalah ada atau
tidaknya bakteri Escherichia coli. Bakteri Escherichia coli merupakan salah satu bakteri
koliform yang digunakan sebagai indokator tercemarnya air minum oleh bakteri
patogen.
Widiati dan Ristiati (2004) menyatakan bahwa adanya bakteri koliform dalam
makanan/minuman

menunjukkan

kemungkinan

adanya

mikroba

yang

bersifat

enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan. Bakteri koliform

dapat dibedakan menjadi dua grup yaitu koliform fekal misalnya Escherichia coli dan
koliform nonfekal misalnya Enterobacter aerogenes. Escherichia coli merupakan bakteri
yang ditemukan pada kotoran manuisa dan hewan. Jadi, adanya Escherichia coli dalam
air minum itu pernah terkontaminasi feses manusia dan mungkin dapat mengandung
patogen usus. Oleh karena itu, standar air minum mensyaratkan Escherichia coli harus
nol dalam 100 ml.
Berdasarkan hasil analisis (tabel 1) maka semua depot air minum isi ulang di Kecamatan
lantari Jaya Kabupaten Bombana tidak tercemar oleh bakteri Escherichia coli. Hal tersebut
sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010,
bahwa persyaratan kualitas air minum untuk kandungan maksimum bakteri Escherichia
coli yang diperbolehkan adalah 0 / 100 ml sampel. Dengan demikian air minum isi ulang di
Kecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana aman dari cemaran mikrobiologi yaitu bakteri
Escherichia coli.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung bahwa semua depot
memiliki tata ruang yang memenuhi syarat, mulai dari ruang proses pengolahan,
penyimpanan dan ruang tunggu pengunjung. Demikian pula dengan konstruksi
bangunan, lantai, ventilasi dan dinding.
Efektifitas proses pengolahan bahan baku menjadi produk air minum mungkin
juga mempengaruhi kualitas air yang dihasilkan. Proses yang dimaksud disini meliputi
penampungan/penyimpanan bahan baku, penyaringan, desinfeksi/sterilisasi, dan
higiene sanitasi tempat pengolahan air minum atau sistem distribusi pada pipa penyalur
air minum, serta kondisi peralatan yang digunakan pada proses pengolahan tersebut
(Herawati dkk., 2012).

Bahan baku air diperoleh dari air sumur gali yang telah dilakukan uji mutu serta dilakukan
secara periodik. Menurut Herawati, dkk (2012) bahwa kualitas bahan baku tentu sangat
menentukan kualitas produk air minum yang dihasilkan. Bahan baku utama yang seharusnya
digunakan adalah air yang diambil dari sumber yang terjamin kualitasnya, yaitu terlindungi dari
cemaran kimia dan bakteriologi yang bersifat merusak/mengganggu kesehatan, serta diperiksa
secara berkala terhadap organoleptik (bau, rasa, warna), fisika, kimia, dan bakteriologi .
Semua depot yang menjadi responden dalam penelitian ini melakukan desinfeksi
yaitu proses sterilisasi untuk mengolah air minum dengan menggunakan sinar ultra
violet/UV.

B. Parameter Organoleptik
B. 1. Warna
Warna merupakan salah satu parameter dalam menentukan kualitas bahan pangan,
termasuk air minum. Winarno (1992) menyatakan secara visual faktor warna tampil lebih dahulu
dan kadang-kadang sangat menentukan. Hasil pengujian terhadap warna air minum isi ulang di
Kecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana, seperti yang terlihat pada gambar grafik berikut ini

Gambar 2. Hasil Pengujian Organoleptik Terhadap Warna Air Minum Isi Ulang
Berdasarkan gambar 2menunjukkan nilai rata-rata hasil penilaian panelis terhadap warna
air minum isi ulang di Kecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana adalah berkisar 4,46
(suka) sampai 4,54 ( sangat suka). Nilai rata-rata penilaian panelis terendah adalah 4,46yang

berkategori suka diperoleh depot air minum isi ulang H. Amirudin dan rata-rata penilaian
tertinggi adalah 4,54 yang berkategori sangat suka diperoleh dari depot air minum isi ulang H.
Safar.
Hasil perhitungan sidik ragam (Lampiran 2a) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
warna air minum isi ulang dari kelima depot air minum tersebut.Berdasarkan penilaian tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa secara organoleptik depot air minum di Kecamatan lantari Jaya
Kabupaten Bombanamelakukan proses pengolahan air yang baik dan sesuai standar yang
ditetapkan dalam Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010, yaitu air minum memiliki
warna air minum layak konsumsi.
Warna air minum merupakan faktor utama yang langsung dilihat oleh konsumen
ketika hendak mengkonsumsinya. Dari hasil penelitian diperoleh bawah rata-rata nilai
pengujian terhadap warna air minum disukai oleh panelis. Hal ini dikarenakan para
pemilik depot air minum telah melakukan dengan baik setiap tahapan mulai persiapan
bahan baku air, peralatan hingga air tersebut siap dipasarkan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa media filter yang digunakan oleh depot air minum di Kecamatan
Lantari Jaya masih dalam keadaan baik sehingga penyaringan zat tersuspensi dalam
air yang dapat mengganggu pemeriksaan warna dapat berlangsung dengan baik.
Warna pada air dapat disebabkan oleh materi tersuspensi dan materi organic
terlarut. Warna yang disebabkan oleh materi tersuspensi adalah warna semu (apparent
color) dan warna yang disebabkan oleh material organic dalam bentuk koloid disebut
warna sejati (true color) (Sawyer, 1994).
Menurut Suprihatin (2003) dalam Sulistyandri (2009) bahwa air yang ada di bumi
umumnya tidak dalam keadaan murni (H 2O), melainkan mengandung berbagai bahan

baik terlarut maupun tersuspensi, termasuk mikroba. Oleh karena itu sebelum
dikonsumsi, air harus diolah terlebih dahulu. Air bersih adalah air yang jernih tidak
berwarna dan tidak berbau.

B. 2. Bau (Odor)
Air minum yang ideal adalah air yang tidak berbau. Hasil pengujian terhadap bau air
minum isi ulang di Kecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana, seperti yang terlihat pada
gambar grafik berikut ini :

Gambar 3. Hasil Pengujian Organoleptik Terhadap Bau (Odor) Air Minum Isi Ulang
Berdasarkan gambar 3 menunjukkan nilai rata-rata hasil penilaian panelis terhadap bau air
minum isi ulang di Kecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana adalah berkisar 4,46 (suka)
sampai 4,54 ( sangat suka). Nilai rata-rata penilaian panelis terendah adalah 4,46yang
berkategori suka diperoleh depot air minum H. Durma dan H. Amirudin dan rata-rata penilaian
tertinggi adalah 4,54 yang berkategori sangat suka diperoleh dari depot air minum Kahar.
Hasil perhitungan sidik ragam (Lampiran 3a) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
bau air minum isi ulang dari kelima depot air minum tersebut.Berdasarkan penilaian tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa secara organoleptik depot air minum di Kecamatan lantari Jaya
Kabupaten Bombanamelakukan proses pengolahan air yang baik dan sesuai standar yang

ditetapkan dalam Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010, yaitu air minum memiliki


bau air minum layak konsumsi.
Proses pengolahan akan sangat mempengaruhi kualitas air yang dihasilkan, baik
itu kualitas fisik, kimiawi maupun mikrobiologi Seperti halnya warna, proses pengolahan
dan sumber bahan baku juga sangat mempengaruhi bau atau odor air minum. Menurut
Ryadi (1984) dalam bahwa persyaratan bakteriologi untuk air ditentukan oleh kehadiran
mikroorganisme yang pathogen, maupun yang nonpatogen. Untuk persyaratan fisik
ditentukan oleh bau (odor).
Bau air minum isi ulang yang disukai oleh panelis menandakan bahwa system
media filter yang terdapat pada depot air minum isi ulang di Kecamatan Lantari Jaya
masih berfungsi dengan baik sehingga mampu menyaring seluruh senyawa organic
yang dapat menyebabkan bau busuk dan senyawa fenol yang dapat mempengaruhi
bau air.

B. 3. Rasa
Rasa merupakan salah satu parameter dalam menentukan kualitas bahan pangan, termasuk
air minum. Winarno (1992) menyatakan secara visual faktor rasa tampil lebih dahulu dan
kadang-kadang sangat menentukan. Hasil pengujian terhadap rasa air minum isi ulang di
Kecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana, seperti yang terlihat pada gambar grafik berikut ini
:

Gambar 4. Hasil Pengujian Organoleptik Terhadap Rasa Air Minum Isi Ulang
Berdasarkan gambar 4 menunjukkan nilai rata-rata hasil penilaian panelis terhadap rasa air
minum isi ulang diKecamatan lantari Jaya Kabupaten Bombana adalah berkisar 4,15 (suka)
sampai 4,31 (suka). Nilai rata-rata penilaian panelis terendah adalah 4,15 yang berkategori suka
diperoleh depot air minum H. Amirudin dan rata-rata penilaian tertinggi adalah 4,31 yang
berkategori suka diperoleh dari depot Kahar.

Hasil perhitungan sidik ragam (Lampiran 4a) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
rasa air minum isi ulang dari kelima depot air minum tersebut.Berdasarkan penilaian tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa secara organoleptik depot air minum di Kecamatan lantari Jaya
Kabupaten Bombanamelakukan proses pengolahan air yang baik dan sesuai standar yang
ditetapkan dalam Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010, yaitu air minum memiliki
rasa air minum layak konsumsi.
Air minum yang dihasilkan oleh depot air minum di Kecamatan Lantari Jaya tidak
berasa sehingga disukai oleh panelis. Hal ini disebabkan oleh proses pengolahan air
yang dilakukan oleh depot air minum isi ulang sudah baik, terutama dalam proses
penyaringan. Proses penyaringan merupakan bagian dari pengolahan air yang pada
prinsipnya adalah untuk mengurangi bahan-bahan organic maupun bahan-bahan
anorganik yang berada dalam air dan dapat menyebabkan rasa air menjadi tidak
normal.
Air yang kualitasnya baik adalah tidak berbau dan memiliki rasa tawar. Secara
umum padatan yang terlarut dalam air berupa bahan-bahan kimia anorganik dan gasgas yang terlarut. Air yang mengandung jumlah padatan melebihi batas menyebabkan
rasa tidak enak (Parulian, 2009). Selanjutnya menurut Slintung dan Suryani (2012)

bahwa salah satu proses pengolahan air secara fisik adalah dengan filtrasi, dimana
terjadi pemisahan antara padatan dan cairan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh setelah melakukan penelitian adalah sebagai
berikut :
1. Berdasarkan analisis mikrobiologi, tidak terdapat bakteri Escherichia coli Air minum isi
ulang yang dihasilkan oleh depot air minum isi ulang di Kecamatan lantari Jaya
Kabupaten Bombana.
2. Berdasarkan hasil pengujian organoleptik terhadap warna, aroma, dan rasa air minum
bahwa air minum isi ulang yang dihasilkan oleh depot air minum isi ulang di Kecamatan
lantari Jaya Kabupaten memenuhi standar yang ditetapkan dalam Permenkes No.
492/MENKES/PER/IV/2010
B. Saran

Saran yang dapat disampaikan penulis adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang analisa mutu kimia berupa kandungan logam berat.

DAFTAR PUSTAKA
.
Athena, Sukar, Hendro M dan D. Anwar M. 2005. Pengaruh Pengolahan Air Depot Air Minum
Isi Ulang Dalam Menormalkan Derajat Keasaman (pH). Media Litbang Kesehatan
Volume XV Nomor 2.
Buckle, K.A., R.A. Edwards. GH. Fleet dan M. Wooton. 2009. Ilmu Pangan. (diterjemahkan
oleh Hari Purnomo dan Adiono, 1987). UI Press. Jakarta.
Brooks, G.F, Butel, J.S, Morse, Ornston, N.L. 2004. Jawetz, Melnick & Adlebergs
Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20. Alih Bahasa Edi Nugroho dan RF Maulany.EGC.
Jakarta.
Efendy. 2003. Peranan Air Bagi Kehidupan. Gramedia. Jakarta.
Herawati, Tika., Anto Purwanto dan Andik Setiyono. 2012. Perbedaan Jumlah Coliform pada
Air Minum Isi Ulang Setelah Pengolahan Berdasarkan Sumber Air Baku di Depot Air
Minum Isi Ulang Kota Tasikmalaya Tahun 2012. Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan
Kesehatan Lingkungan Universitas Siliwangi.
Hudson, Herbert. E, Jr., 1981. Water Clarification Processes : Practical Design and
Evaluation. Litton Education Publishing, Inc. United State of America.
Kharismajaya, Theo,. 2013. Pengawasan Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Banyumas Terhadap
Kualitas Air Minum Usaha Depot Air Minum Isi Ulang (Tinjauan Yuridis Pasal 10 Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 736/MENKES/PER/VI/2010). Skripsi Fakultas Hukum Universitas
Jenderal Soedirman. (Tidak dipublikasikan).
Kurniadi, Yepi., Zulfan Saam dan Dedi Afandi. 2013. Faktor Kontaminasi Bakteri E.coli pada
Makanan Jajanan Di Lingkungan Kantin Sekolah Dasar Wilayah Kecamatan
Bangkinang. Jurnal Lingkungan. Vol. 7 No. 1.
Latif, Iin Wahyuni., 2012. Studi Kualitas Air Minum Isi Ulang Ditinjau dari Proses Ozonisasi,
Ultraviolet dan Reversed Osmosis Di Kecamatan Kota Tengah dan Kecamatan Kota
Selatan Kota Gorontalo. Skripsi Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu
Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Gororntalo (tidak dipublikasikan).

Melliawati, Ruth. 2009. Escherichia coli dalam Kehidupan. BioTrends/Vol.4/No.1


Pandiangan, Masta Parulian. 2012. Pertanggungjawaban Produsen Air Minum Isi Ulang Terhadap
Konsumen. Skripsi Fakultas Hukum Universitas Simalungun PematangSiantar (Tidak
dipublikasikan).
Parulian, A. 2009.
Repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/5850/1/09E02656.pdf. Diakses pada tanggal 9
Juli 2014.
Peraturan Menteri Kesehatan RI. No. 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan
Kualitas Air Minum.
Pradana, Yoga Ardy dan Bowo Djoko Marsono. 2013. Uji Kualitas Air Minum Isi Ulang di
Kecamatan Sukodono, Sidoarjo Ditinjau dari Perilaku dan Pemeliharaan Alat. Jurnal
Teknik Pomits Vol.2, No.2
Radji, Maksum., Anglia Puspaningrum dan Atiek Suamiati. 2010. Deteksi Cepat Bakteri
Escherichia coli dalam Sampel Air dengan Metode Polymerase Reaction Menggunakan
Primer 16E1 dan 16E2. Makara Sains, Vol. 14, No. 1.
Riyadi, A.L.S. 1984. Pencemaran Air : Dasar-dasar dan pokok-pokok Penanggulangannya.
Karya Anda. Surabaya.
Sahabuddin, Sasnita. 2010. Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang DI Kabupaten Manokwari.
Skripsi Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Negeri Papua, Manokwari. (Tidak dipublikasikan).
Sandra, Christyana dan Lilis Sulistyorini. 2007. Hubungan Pengetahuan dan Kebiasaan Konsumen Air
Minum Isi Ulang Dengan Penyakit Diare. Artikel Ilmiah Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga. Surabaya.
Sawyer, Clair N., 1994. Chemistry For Environmental Engineering, Fourth Edition.
McGraw-Hill, Inc. Singapore.
Selintung, Mary dan Surynai Syahrir. 2012. Studi Pengolahan Air Melalui Media
Filter Pasir Kuarsa (Studi Kasus Sungai Malimpung). Prosiding Hasil Penelitian
Fakultas Teknik. Jurusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddi, Makassar.
Sudarmadji, Slamet, Bambang Haryono dan Suhardi, 1997. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan
dan Pertanian. Cetakan Keempat. Liberty, Yogyakarta.
Sulistyandri, Hartini. 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kontaminasi
Deterjen Pada Air Minum Isi Ulang di Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) Di
Kabupaten Kendal Tahun 2009. Program Magister Kesehatan Lingkungan,
Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang. Tesis tidak
dipublikasikan.

Soetomo, M.S. 2003. Regulasi Air PDAM, AMDK dan Depot Air.
Randa, Mirna Sari., 2012. Analisis Bakteri Coliform (Fekal dan Non Fekal) pada Air Sumur
Kompleks Roudi Manokwari. Skripsi Program Studi Biologi Jurusan Biologi. Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua. Manokwari (Tidak
dipublikasikan).
Widiyanti, N.L.P.M. dan N.P. Ristanti. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform pada Depo Air
Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 no 1.
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi.Cetakan Keenam. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta
World Health Organization (WHO). 2006. Guidelines for Drinking-Water Quality: First
Addendum
to
Third
Edition,
Geneva,
vol.
1.