Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN

KEGIATAN MAGANG MAHASISWA

MAGANG MAHASISWA
DI INDUSTRI MINYAK GORENG
PT. SMART Tbk SURABAYA

Disusun oleh:

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA

USUL KEGIATAN MAGANG MAHASISWA


JUDUL : MAGANG MAHASISWA DI INDUSTRI MARGARIN DAN
MINYAK GORENG, PT. SMART Tbk. Jakarta
MAHASISWA :
PEMBIMBING
1. Nama

: Ir. Choirul Anam, MP

2. NIP

: 196802122005011001

3. Jurusan

: Ilmu dan Teknologi Pangan

INSTITUSI MITRA:
1. Nama Institusi Mitra : PT. SMART TBK
2. Alamat

: Plaza BII Tower II, 28th - 31st floor Jl. MH Thamrin


No. 51 Jakarta 10350-Indonesia

3. Nomor telepon/fax

: Telp. 021-3183188

4. Jangka Waktu

:
Surakarta,

Mengetahui,

Menyetujui,

Ketua Gugus KMM-FP

Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS


NIP. 19570104 198003 2 001

Ir. Choirul Anam, MP


NIP. 196802122005011001

Mengesahkan
Pembantu Dekan
Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, MS
NIP. 19610717 198601 1 001

A. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah bagian dari kehidupan yang sangat penting. Pendidikan


dapat diperoleh dari lembaga formal atau lembaga informal. Perwujudan
pendidikan akan berdampak bagi terbentuknya manusia yang memiliki kecakapan
dalam ilmu pengetahuan sehingga dapat berperan serta dalam mewujudkan
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Lembaga formal melalui sekolahsekolah dan perguruan tinggi, lembaga informal dengan observasi dan aplikasi
langsung dilapangan. Sehingga berbagai bentuk usaha atau kegiatan ilmiah
dilakukan oleh perguruan tinggi. Salah satunya dalam bentuk kegiatan ilmiah
yang diterapkan dalam dunia industri yaitu melakukan kegiatan magang atau
praktek kerja ilmiah.
Kegiatan magang merupakan kegiatan intrakulikuler yang dilakukan oleh
mahasiswa dengan melakukan praktek kerja pada lembaga-lembaga yang relevan
dalam bidang industri pengolahan hasil pertanian. Bentuk kegiatan yang
dilakukan adalah kerja praktek dengan mengikuti semua kegiatan dilokasi
magang. Kegiatan magang mahasiswa ini merupakan sarana bagi mahasiswa

teknologi hasil pertanian untuk dapat menerapkan teori-teori yang didapatkan


selama dibangku perkuliahan dan sebagai pengalaman kerja yang dapat melatih
mahasiswa untuk menemukan masalah-masalah yang dihadapi di lapangan dan
mencari jalan pemecahannya selama magang mahasiswa. Kegiatan magang ini
juga dirancang agar mahasiswa dapat mempraktikkan dan memahami setiap
aktivitas di unit-unit proses pengolahan di institusi mitra.
Tujuan umum kegiatan magang mahasiswa ini antara lain :
1. Meningkatkan pemahaman kepada mahasiswa mengenai hubungan antara
teori dan penerapannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga
dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam terjun ke masyarakat setelah lulus.
2. Mahasiswa memperoleh pengalaman dan sikap yang berharga dengan
mengenali kegiatan-kegiatan di lapangan kerja yang ada di bidang teknologi
pertanian secara luas.
3. Mahasiswa memperoleh ketrampilan kerja dan pengalaman kerja yang praktis
yaitu secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta memecahkan
permasalahan yang ada dalam kegiatan di bidang teknologi pertanian.
4. Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi swasta,
perusahaan dan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanaan
Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Adapun tujuan khusus kegiatan magang ini adalah untuk meningkatkan
pemahaman antara teori dan aplikasi lapangan mengenai pengadaan bahan baku,
proses pengolahan dan pemasaran produk. Selain itu, melalui kegiatan magang ini
mahasiswa akan memperoleh ketrampilan dan pengalaman kerja dalam
merumuskan dan memecahkan permasalahan yang ada di Industri Pembuatan
margarin dan minyak goreng di PT SMART Tbk.
Alasan memilih PT SMART Tbk sebagai tempat magang karena PT
SMART Tbk merupakan salah satu produsen minyak goreng dengan kapasitas
produksi terbesar di Indonesia dengan kualitas terbaik dan memiliki brand produk
yang mendominasi pasaran dalam negri.
Akhirnya kegiatan ini akan memberikan dampak terhadap aspek-aspek
yang berkaitan dengan pengembangan sikap dan dapat melatih kepekaan

mengidentifikasi permasalahan dan mencari alternatif solusi guna meningkatkan


kemampuan intelektual mahasiswa.

B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Profil Perusahaan
Sinar Mas mengawali kiprah pada sektor perkebunan dengan
mendirikan Pabrik Bitung Manado Oil Ltd. pada tahun 1968 yang dikenal
sebagai pabrik pertama yang memproduksi minyak goreng setelah
sebelumnya hanya bergerak pada bidang penjualan minyak goreng dan kopra.
Belakangan, juga hadir pabrik Sayang Heulang di Bandung dan Mulyorejo di
Surabaya untuk memperkuat lini produksi. Tahun 1980 seluruh fasilitas
produksi telah mampu menghasilkan minyak goreng berbahan dasar sawit.
Pembangunan perkebunan kelapa sawit yang dirintis sejak awal dikemudian
hari berkembang menjadi pilar utama divisi agribisnis dan makanan sebagai
sebuah industri terintegrasi yang menopang kehidupan banyak orang di
Indonesia.
Sinar Mas selalu melihat peluang untuk mengembangkan bidang usaha
baru sebagai potensi untuk mendatangkan nilai tambah bagi perusahaan, para
pemegang saham serta masyarakat. Sejalan dengan komitmen untuk

menyediakan produk dan pelayanan jasa yang lebih baik, Sinar Mas terus
melebarkan sayap ke sejumlah sektor, seperti bidang telekomunikasi,
pertambangan dan air minum dalam kemasan.
Jasa komunikasi selular adalah industri yang berkembang sangat pesat
di Indonesia. Potensi pertumbuhan pengguna di segmen CDMA juga tumbuh
tinggi hingga melewati segmen GSM. Di sini Sinar Mas menawarkan layanan
bernilai tambah bagi pelanggan, dengan kualitas suara yang lebih jernih dan
akses data yang cepat. Teknologi terbaru diimplementasikan, infrastruktur
dibangun guna memastikan pelayanan yang baik bagi pelanggan, yang berarti
pertumbuhan berkelanjutan bagi perusahaan.
Pertumbuhan di berbagai sektor yang pesat di Indonesia berarti pula
meningkatnya kebutuhan pasokan energi dan bahan bakar. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, divisi pertambangan memulai operasinya

sejak

pertengahan 2004. Dalam jangka pendek Sinar Mas mencoba mendukung


permintaan bahan bakar batu bara mentah untuk pasar domestik, sementara
dalam jangka panjang bertujuan memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Sinar Mas juga memasuki bidang pemrosesan dan pendistribusian
minuman kemasan melalui penyediaan air mineral ber-ion yang lebih sehat,
bersih, jernih yang merupakan kali pertama dikembangkan di Indonesia.
Akreditasi dari Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan
sejumlah sertifikasi sistem manajemen kualitas dan lingkungan yang
diperoleh Sinar Mas selama ini telah membantu beragam produk menjangkau
pasar yang lebih luas sehingga produk tersebut menjadi pilihan utama
konsumen. Selain itu, dukungan jaringan distribusi global juga memastikan
ketersediaan setiap produk di pasaran. Kini, produk-produk divisi agribisnis
dan makanan bisa dijumpai hampir di seluruh rumah di Indonesia dan bahkan
di banyak wilayah di dunia (Anonima, 2).
2. Definisi Produk
Margarin ialah mentega buatan. Bisa dibuat dari minyak nabati, atau
minyak hewani. Bisa juga mengandung susu saringan, garam dan pengemulsi.

Margarin mengandung lebih sedikit lemak daripada mentega, sehingga


margarin banyak digunakan sebagai pengganti mentega. Ada juga margarin
"rendah kalori", yang mengandung lemak lebih sedikit (Anonimb, Margarin
dapat dibuat dari lemak hewani, yakni salah satunya diproduksi dari lemak
beef yang disebut oleo-margarine. Tidak seperti mentega, margarin dapat
dikemas ke dalam beberapa konsistensi pengemas. Margarin sedikitnya
mengandung 80% lemak dari total beratnya. Sisanya (kurang lebih 17-18%)
terdiri dari turunan susu skim, air, atau protein kedelai cair. Dan sisanya 1-3%
merupakan garam, yang ditambahkan sebagai flavor, meskipun ada beberapa
produk margarin tidak mencantumkan menggunakan garam di label untuk
alasan kesehatan. Margarin adalah emulsi W/O yang mana bulatan-bulatan
bergaris tengah antara 1 sampai 20 tersebar dalam fase lemak semi-padat
mengandung kristal-kristal lemak dan minyak cair. Emulsi yang terdiri atas
80% lemak ini dihasilkan melalui tahap homogenisasi yang berlangsung
hanya beberapa detik sampai beberapa menit sebelum dipompa melewati unit
pendingin, kemudian diemulsi lebih lanjut dan fase lemak membentuk kristal.
Tidak seperti emulsi yang lain, emulsi margarin tidak perlu sangat mantap,
karena kemampuannya dicapai antara lain karena pendinginan cepat
(Anonimc, 20).
Margarin sendiri yang terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan dimana
di vegetables oil terkandung jumlah monounsaturated - dan polyunsaturated
fats yang lebih banyak dibandingkan saturated fats-nya (13-15 % saturated
dan 85-87 % percent unsaturated fats). Lemak jenuh/saturated fats dalam
daging-dagingan dan fatty dairy products diindikasikan akan menaikkan
"bad" kolesterol (LDL cholesterol) dan menurunkan "good" colesterol (HDL
cholesterol). Nah polyunsaturated fats yang "umumnya" ditemukan di
vegetable oils seperti di minyak jagung ato soy oil itu LDLs nya rendah tapi
HDLs nya juga rendah. Karenanya biasanya yang dianjurkan, kita mencari
jenis minyak-minyakan yang dapat merendahkan LDL dan menaikkan HDL (
Minyak merupakan trigliserida yang tersusun atas tiga unit asam lemak,
berwujud cair pada suhu kamar (25C) dan lebih banyak mengandung asam

lemak tidak jenuh sehingga mudah mengalami oksidasi. Minyak yang


berbentuk padat biasa disebut dengan lemak. Minyak dapat bersumber dari
tanaman, misalnya minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa, dan
minyak bunga matahari. Minyak dapat juga bersumber dari hewan, misalnya
minyak ikan sardin, minyak ikan paus dan lain-lain.
Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai
alat pengolah bahan bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai
media penggoreng sangat penting dan kebutuhannya semakin meningkat. Di
Indonesia, minyak goreng diproduksi dari minyak kelapa sawit dalam skala
besar. Hingga tahun 2010 diperkirakan produksi minyak sawit mencapai lebih
dari 3 juta ton per tahun (Ketaren, 1989).
Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau
hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya
digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak goreng umumnya berasal
dari minyak kelapa sawit. Minyak kelapa dapat digunakan untuk menggoreng
karena struktur minyaknya yang memiliki ikatan rangkap sehingga
minyaknya termasuk lemak tak jenuh yang sifatnya stabil. Selain itu pada
minyak kelapa terdapat asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh
tubuh. Asam lemak tersebut adalah asam palmitat, stearat, oleat, dan linoleat.
Beberapa minyak yang dipakai untuk menggoreng selain minyak kelapa
sawit adalah minyak palm kernel, palm olein, palm stearin, dan Tallow. Selain
itu terdapat juga minyak lain seperti minyak biji anggur, bunga matahari,
kedelai, dan zaitun. Minyak-minyak ini kurang cocok apabila digunakan
untuk menggoreng namun minyak-minyak ini memiliki kandungan asam
lemak yang tinggi dan biasa digunakan sebagai bahan tambahan pada salad
dan makanan lainnya.
Minyak goreng biasanya bisa digunakan hingga 3 - 4 kali
penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna.
Saat penggorengan dilakukan, ikatan rangkap yang terdapat pada asam lemak
tak jenuh akan putus membentuk asam lemak jenuh. Minyak yang baik

adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak
dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya.
Setelah penggorengan berkali-kali, asam lemak yang terkandung dalam
minyak akan semakin jenuh. Dengan demikian minyak tersebut dapat
dikatakan telah rusak atau dapat disebut minyak jelantah. Penggunaan minyak
berkali-kali akan membuat ikatan rangkap minyak teroksidasi membentuk
gugus peroksida dan monomer siklik, minyak yang seperti ini dikatakan telah
rusak dan berbahaya bagi kesehatan. Suhu yang semakin tinggi dan semakin
lama pemanasan, kadar asam lemak jenuh akan semakin naik. Minyak nabati
dengan kadar asam lemak jenuh yang tinggi akan mengakibatkan makanan
yang

digoreng

menjadi

berbahaya

bagi

kesehatan.

Selain

karena

penggorengan berkali-kali, minyak dapat menjadi rusak karena penyimpanan


yang salah dalam jangka waktu tertentu sehingga ikatan trigliserida pecah
menjadi gliserol dan asam lemak bebas (Anonime, Bahan Baku (Kelapa
Sawit)
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil
minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).
Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan
perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia
adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di
Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan
Sulawesi.
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter.
Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain
itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas
untuk mendapatkan tambahan aerasi. Seperti jenis palma lainnya, daunnya
tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna
sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya
saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman
diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun

pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip


dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon
(monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga
sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk
lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga
sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul
digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari
hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah
bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan
oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah
melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid)
akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:

Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.

Mesoskarp, serabut buah

Endoskarp, cangkang pelindung inti


Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma

dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi. Kelapa sawit
berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi
tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan
bakal akar (radikula). Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit
dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15 LU - 15 LS). Tanaman ini
tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan
kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil,
2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan
tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi
perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.
Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis
dan E. oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali dan terluas

dibudidayakan orang. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk


menambah keanekaragaman sumber daya genetik. Penangkar seringkali
melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari

Dura,

Pisifera, dan

Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga

dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan


buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%.
Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril
sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara
induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab
melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah
tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki
persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per
tandannya dapat mencapai 28% (Anonimf
3. Proses Pembuatan Minyak Goreng
Menurut Sastrosayono (2003), tahap-tahap proses pengolahan TBS
sampai dihasilkan minyak diuraikan sebagai berikut:
1. Pengangkutan TBS ke Pabrik
Buah kelapa sawit dari kebun harus secepatnya diangkut dengan
alat angkutan yang tepat yang dapat mengangkut buah sebanyakbanyaknya, seperti lori, traktor gandeng atau truk. Sesampainya di pabrik,
buah harus segera ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam lori
perebusan yang biasanya berkapasitas 2,5 ton setiap lori. Buah yang tidak
segera diolah akan menghasilkan minyak dengan kadar asam lemak bebas
(free fatty acid) tinggi. Untuk menghindari terbentuknya asam lemak
bebas, pengolahan harus sudah dilaksanakan paling lambat 8 jam setelah
pemanenan.
2. Sterilisasi

Buah serta lorinya direbus dalam tempat rebusan dengan


mengalirkan / menekankan uap panas selama 60 menit ke dalam tempat
rebusan. Suhu uap yang digunakan adalah 125 C dan tekanan dalam
ruang sterilisasi 2,5 atm. Maksud dari perebusan adalah:

Agar buah mudah dilepas dari tandannya.

Untuk membunuh enzim penstimulir pembentukan asam lemak bebas.

Agar daging buah menjadi lunak.

Untuk memudahkan terlepasnya inti dari cangkangnya.

Untuk menambah kelembaban dalam daging buah sehingga minyak


lebih mudah dikeluarkan (dipisahkan).

Untuk mengkoagulasikan protein sehingga proses pemurnian minyak


lebih mudah.
Baik buruknya kualitas pengolahan banyak ditentukan di stasiun

sterilizer ini. Misal tingginya angka Unstripped Bunch (USB) akibat waktu
perebusan yang kurang dan tidak tercapainya temperatur yang diinginkan.
Perebusan yang tidak memenuhi temperatur yang diinginkan akan
menyebabkan kandungan FFA yang cukup tinggi, karena FFA akan
terbentuk pada temperatur yang relatif rendah. Tetapi jika waktu perebusan
yang terlalu lama, air kondensat yang dihasilkan akan terlalu banyak
sehingga memungkinkan terjadinya oil losses pada air kondensat.
3. Perontokan dan Pelumatan Buah
Tandan buah yang telah direbus dimasukkan ke dalam mesin perontok
buah (thresher), kemudian buah yang rontok dibawa ke dalam mesin
pelumat (digester). Sambil dilumat, buah dipanasi (diuapi) lagi supaya
daging buah hancur dan lepas dari bijinya. Keadaan demikian
memudahkan proses pengeluaran (ekstraksi) minyak. Tandan kosong
(telah lepas buah-buahnya) kemudian diangkut ke tempat pembakaran dan
digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap yang digunakan
dalam proses sterilisasi. Sisa pembakaran berupa abu yang mengandung
30% K2O, yang digunakan untuk pemupukan Kalium di kebun. Sebagian
tandan kosong digunakan sebagai bahan mulsa.

4. Pemerasan atau Ekstraksi Minyak Sawit


Ada bermacam cara untuk mengeluarkan minyak (extraction of oil),
tetapi yang umum dipakai adalah pengepresan dengan menggunakan alat
atau mesin pengepres tipe hydraulic, centrifugal atau tipe continuous
screw press. Daging buah yang sudah dilumatkan di mesin pelumat
dimasukkan ke dalam alat pengepres, kemudian dipres sehingga minyak
dapat dikeluarkan dan dipisahkan dari ampasnya. Minyak yang keluar
ditampung untuk selanjutnya dimurnikan, sedangkan ampasnya keluar
secara terpisah dan dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Stasiun Press merupakan stasiun pertama dalam proses pengambilan
minyak kelapa sawit. Pada stasiun ini berondolan yang telah direbus
mengalami proses pressing oleh mesin press. Hasil pressing ini adalah
minyak kasar (Crude Palm Oil), Fiber, dan Nut. Mesin atau alat di stasiun
press terdiri dari digester, screw press, Cake beaker conveyor, Sand Trap
Tank, dan Vibrating Screen.
Sasaran yang ingin dicapai dari proses pressing ini adalah Efisiensi
ekstraksi yang tinggi, yang menyangkut:

Pengambilan minyak kembali (recycling)

Produksi crude palm oil yang sesuai dengan kondisi klarifikasi

Produksi press cake yang sesuai dengan depericarper

Kualitas produk yang baik dengan cara:

Meminimalkan kualitas minyak yang kurang baik/jelek

Meminimalkan broken kernel (kernel yang pecah)

Pertimbangan ekonomi:

Biaya operasi rendah

Biaya maintenance rendah

Throughput yang tetap tinggi

5. Perebusan
Minyak yang ditampung tadi dipanaskan dengan uap air supaya tidak
membeku. Dari tangki penampungan tadi, minyak dipompakan dalam bak
tunggu dengan bantuan tekanan uap sebesar 2kg per cm2, dan dari bak

tunggu minyak dialirkan ke dalam tangki pengendapan. Di dalam tangki


pengendapan, minyak dipanaskan dengan uap air selama kurang lebih 4
jam, kemudian didinginkan selama 3 jam. Perebusan ditujukan untuk
memecahkan struktur emulsi, memasak minyak, dan memisahkan kotoran
dan air dari minyak. Pendinginan selama 3 jam, akan memisahkan minyak
dari air dan kotoran. Pemisahan diatas terjadi dengan cepat akibat
perbedaan antara berat jenis air dan kotoran dengan minyak. Minyak akan
terapung diatas permukaan air dan kotoran, karena bobot jenisnya lebih
kecil daripada BJ kotoran dan air.
Setelah terpisah, kedua cairan dikeluarkan dari tangki melalui saluran
yang berbeda. Minyak sawit dialirkan ke dalam bak tunggu, sedangkan air
dan kotoran dikeluarkan kedalam parit. Di dalam parit, air kotoran
dipanaskan lagi, dengan uap air dan kemudian didinginkan. Minyak sawit
yang terapung dipisahkan dan dimasukkan kembali ke dalam tangki
pengendapan.
6. Pemurnian dan Penjernihan Minyak Sawit ( Klarifikasi )
Minyak yang keluar dari mesin pengepres mengandung 45% sampai
55% air, lumpur dan bahan-bahan lainnya. Minyak yang masih kasar ini
dibawa ke tangki pemurnian atau tangki klarifikasi. Setelah mengalami
pemurnian akan diperoleh 90% minyak, dan sisanya adalah lumpur.
Setelah dilakukan penyaringan kemudian minyak ditampung dalam tangki
dan dijernihkan lebih lanjut untuk memisahkan air yang masih terkandung
di dalamnya. Selanjutnya minyak dilewatkan pada continuous vaccum
drier sehingga diperoleh minyak berkadar air kurang dari 0,1%. Minyak
ini ditampung dalam tangki-tangki penampungan. Fungsi dari Stasiun
Klarifikasi antara lain:
1. Memisahkan pure oil dari crude oil dengan seefisien mungkin.
2. Menghasilkan pure oil dengan losses sekecil mungkin.
3. Menghasilkan oil kembali dari sludge.
Pada dasarnya, proses Klarifikasi terbagi dalam beberapa proses,
yaitu:

1. Penyaringan Crude Oil Dilution.


2. Pengklarifikasian minyak.
3. Pemurnian minyak.
4. Sludge Recovery.
5. Oil Drying.
Proses ini satu sama lainnya saling berkaitan dan saling mendukung.
Sasaran akhir yang ingin dicapai adalah menghasilkan minyak sawit yang
memiliki kualitas yang baik dan sesuai standar yang ditetapkan.
Sisa pengepresan yang berupa ampas dibawa ke alat pembuang sisa daging
buah (depericarper). Pada proses pemisahan biji dari sabutnya digunakan
proses pengeringan dan penghembusan. Dengan proses ini serat dan bahanbahan lain yang kering dan ringan terhembus keluar melalui cyclone, kemudian
ditampung untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Menurut Ketaren (1989), selain menghasilkan CPO proses pengolahan
sawit juga menghasilkan kernel. Untuk itu setelah melewati stasiun press, cake
diolah lagi dalam stasiun kernel. Inti dari proses yang terjadi pada stasiun
kernel ini adalah pemisahan kernel dari fibre dan shell.
Adapun alur produksi inti sawit (kernel) dapat dilihat pada gambar sebagai
berikut :

Gambar 1. Diagram Produksi Kernel


a.

Pengeringan dan Pemecahan Biji


Biji dari alat pembuang daging buah (depericarper) diangkut ke silo
dan dikeringkan. Biji-biji yang telah kering ini, intinya mengkerut dan
mudah dilepaskan dari cangkang atau tempurungnya. Biji-biji yang telah
dipisahkan berdasarkan diameternya, kemudian dipecah lagi agar inti dan
cangkangnya dapat dipisahkan.
Untuk mengawetkan inti sawit yang keluar dari alat pemisah biji
perlu dilakukan usaha yang menurunkan kandungan air, sehingga tidak
terjadi proses penurunan mutu. Proses penurunan mutu umumnya terjadi
selama proses penyimpangan, oleh sebab itu perlu diperhatikan proses dan
kondisi penyimpanan serta interaksi antara kelembaban udara dengan
kadar air inti. Dalam kernel ada udara panas di alirkan melalui pipa di tiga
lapisan udara panas dibagian atas suhu 70 oC. bagian tengah dengan suhu
80 oC dan bagian bawah 90 oC. Pengeringan dilakukan sampai kadar air
inti mencapai 7 7,5 %.

b.

Pemisahan Inti Sawit dari Cangkang

Prinsip pemisahan biji dari cangkangnya adalah karena adanya


perbedaan berat jenis antara inti dan cangkang. Caranya adalah dengan
mengapungkan biji-biji yang telah dipecahkan dalam larutan lempung
yang mempunyai berat jenis 1,16. Dalam keadaan ini inti kelapa sawit
akan mengapung dalam larutan dan cangkang akan mengendap di dasar.
Inti dan cangkang diambil secara terpisah kemudian dicuci sampai bersih.
Alat yang digunakan untuk memisahkan inti dari cangkangnya disebut
hydrocyclone separator. Inti buah dibawa ke silo dan dikeringkan pada
suhu 80 C. Selama pengeringan harus selalu dibolak-balik agar keringnya
merata.
Pemisahan antara inti dan cangkang dilakukan dua tahapan pemisahan
antara cangkang dan inti oleh LTDS 1, dan pemisahan antara inti utuh dan
inti pecah pada LTDS 2. Pada LTDS 1 fraksi ringan yaitu cangkang akan
di hisap oleh LTDS cyclon fan dan akan ditumpuk di penampungan
cangkang (shell hopper) yang selanjutnya digunakan sebagai bahan bakar
boiler, sedangkan inti utuh dan pecah akan masuk ke LTDS 2. di dalam
LTDS 2 inti utuh yang merupakan fraksi terberat akan jatuh ke kernel
transport untuk dibawa ke kernel silo dryer, inti pecah yang masih juga
membawa cangkang akan dihisap oleh LTDS cyclon fan dan akan masuk
ke hydrocyclone untuk dipisahkan antara inti pecah dan cangkang. Inti
pecah dan cangkang yang masih terikut, di dalam hidrocyclone akan
terpisah berdasarkan perbedaan berat jenis antara inti pecah dan cangkang
halus. Hydrocyclone ini terdiri dari dua drum yang di batasi oleh dinding
penyekat satu dan dua. Dari LTDS 2 inti pecah dan cangkang halus akan
masuk ke hydrocyclone drum no 1. Di dalam hydrocyclone pertama inti
dan shell akan dihisap oleh cyclone, inti akan di kirim ke kernel silo dryer,
sedangkan shell yang masih tercampur dengan inti akan masuk ke dalam
hydrocyclone ke dua inti dan shell akan di pisahkan kembali, inti akan di
alirkan ke kernel silo dryer, sedangkan shell akan di alirkan ke shell
hopper untuk di kirim ke boiler.

5. Tinjauan Tentang Hasil Samping Pengolahan TBS


Dalam proses pengolahan buah kelapa sawit diperoleh produk utama
dan beberapa produk sampingan. Sebagai produk utama adalah minyak kelapa
sawit (CPO atau Crude Palm Oil) dan inti sawit (Kernel). Sedangkan produk
sampingannya adalah tempurung, ampas dan tandan kosong. Cangkang atau
tempurungnya dapat digunakan sebagai bahan bakar, yaitu arang aktif yang
biasa digunakan dalam industri kesehatan. Tandan kosong untuk bahan bakar
ketel uap, mulsa dan abu sebagai pupuk Kalium. Ampas lumatan daging buah
juga dapat digunakan untuk bahan bakar ketel uap (Sastrosayono, 2003).
Tabel Standar Mutu SPB (Special Prime Bleach) dan Ordinary
Kandungan
SPB
Asam lemak bebas (%) 1 2

Ordinary
35

Kadar air (%)

0,1

0,1

Kotoran (%)

0,002

0,01

Besi p.p.m.

10

10

Tembaga p.p.m.

0,5

0,5

Bilangan Iod

53 1,5 45 56

Karotene p.p.m.

500

500 700

Tokoferol p.p.m.

800

400 600

Sumber : Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan (Ketaren,


1989).
C. TATA LAKSANA KEGIATAN

1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang


Kegiatan magang mahasiswa ini dilaksanakan mulai tanggal di PT
SMART Tbk Jl. Rungkut Industri Raya No. 19, Surabaya 60293.
2. Metode Pelaksanaan Magang
Pelaksanaan kegiatan magang mahasiswa yang dilaksanakan di PT
SMART Tbk ini menggunakan metode antara lain :

a. Praktek Lapang
Turut serta dengan melakukan praktik kerja secara langsung dalam
setiap kegiatan di PT SMART Tbk.
b. Identifikasi masalah
1). Wawancara
Mahasiswa melaksanakan wawancara dengan pihak-pihak dari
instansi yang bersangkutan guna mengetahui permasalahan yang
terjadi di Institusi Mitra.
2). Observasi
Mahasiswa melakukan pengamatan secara langsung mengenai
permasalahan yang terjadi di lokasi magang mahasiswa.
3). Studi Pustaka
Mahasiswa

mencari

dan

mempelajari

pustaka

mengenai

permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan


magang mahasiswa.
c. Dokumentasi dan Data
Mahasiswa mendokumentasikan dan mencatat data atau hasil-hasil
yang ada pada pelaksanaan magang mahasiswa.

3. Materi Magang
a. Keadaan Umum Perusahaan
1.

Sejarah Umum Perusahaan

2.

Latar belakang dan tujuan pendirian pabrik

3.

Lokasi pabrik
Letak geografis
Transportasi
Topografi
Bahan mentah
Tenaga kerja

Utilities
4.

Keadaan Alam

5.

Tata letak bangunan

b. Manajemen Perusahaan
1. Struktur dan sistem organisasi
2. Hak dan kewajiban karyawan
3. Kesejahteraan karyawan
4. Ketenagakerjaan
c. Penyediaan Bahan Dasar
1. Sumber bahan dasar
2. Jumlah dan penyediaannya
3. Spesifikasi bahan dasar
4. Penanganan bahan dasar
5. Pengendalian mutu bahan dasar
6. Penyimpanan dan pengangkutan
d. Proses Pengolahan
1. Tahap-tahap proses yang dikerjakan
2. Kondisi yang dipersyaratkan oleh masing-masing proses
3. Pengendalian proses
4. Diagram alir proses, kualitatif dan kuantitatif
e. Mesin dan Peralatan
1. Mesin dan peralatan proses
Nama dan jenis alat
Fungsi dari tiap jenis alat
Jumlah alat
Spesifikasi alat
2. Skema dan prinsip kerja alat
3. Kapasitas alat dan kapasitas pabrik
4. Tata letak mesin dan peralatan (lay out)

f. Produk Akhir
1. Spesifikasi produk akhir
Jenis produk akhir
Jumlah produk akhir
Standar kualitas produk akhir
Pengendalian mutu produk akhir
2. Penanganan produk akhir
Pengemasan
Penyimpanan
g. Energi
1.

Sumber energi dan cara pengadaannya

2.

Kapasitas penyediaan

3.

Penggunaan

h. Air
1. Sumber air dan cara pengadaannya
2. Kuantitas dan kualitas air yang tersedia
3. Penggunaan
i. Sanitasi Perusahaan
1. Sanitasi bangunan, peralatan dan tenaga kerja
2. Sanitasi selama proses produksi
3. Sanitasi lingkungan di sekitar pabrik
4. Unit penanganan limbah industri
j. Pemasaran
1. Perkiraan biaya produksi
2. Penentuan harga jual
3. Pemasaran (pengepakan, gudang dan distributor)
k. Lay Out

D. PERENCANAAN AKTIVITAS MAGANG

No.

Macam Kegiatan

Perkenalan dan penyelesaian administrasi

Presentasi dan pembagian kerja

Pra kegiatan di lapangan

Minggu Ke1
2
3
4

Pelaksanaan kegiatan lapangan

Evaluasi data dan hasil kegiatan di lapangan

Penyusunan hasil akhir kegiatan lapangan

E. PENUTUP

Demikian proposal ini kami susun dengan harapan dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan maupun acuan dalam melaksanakan kegiatan kerja praktek
yang akan memberikan banyak manfaat bagi kami selaku pelaksana kerja praktek,
mahasiswa Teknologi Pertanian pada umumnya, dan

perusahaan yang

bersangkutan. Akhirnya, kami berharap dengan segenap dukungan dan bantuan


semua pihak kegiatan kerja praktek ini dapat terselenggara dengan baik dan
berjalan lancar sehingga dapat tercapai tujuan yang optimal.