Anda di halaman 1dari 12

Formulasi Kit Human Serum Albumin (HSA)-Nanosfer sebagai

Radiofarmaka untuk Studi Limfosintigrafi di Kedokteran Nuklir


(Eva Maria Widyasari)

ISSN 1411 3481

FORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAI


RADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR
Eva Maria Widyasari, Nanny Kartini Oekar
Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri - BATAN
Jl.Tamansari 71 Bandung, 40132
E-mail: evamaria@batan.go.id
Diterima: 02-12-2011
Diterima dalam bentuk revisi: 02-01-2012
Disetujui: 12-01-2012

ABSTRAK
FORMULASI KIT HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSFER SEBAGAI
RADIOFARMAKA UNTUK STUDI LIMFOSINTIGRAFI DI KEDOKTERAN NUKLIR. Untuk
keperluan limfosintigrafi, formula kit HSA-nanosfer dirancang sedemikian sehingga setelah
ditandai dengan 99mTc menghasilkan radiofarmaka 99mTc-HSA-nanosfer dengan kemurnian
radiokimia >90%. Jumlah SnCl2.2H2O sebagai reduktor, Na-pirofosfat sebagai ko-ligan, dan
HSA-nanosfer yang optimum, beserta cara dan waktu inkubasi, kondisi penandaan, dan
metode sterilisasi dipelajari dan dievaluasi sehingga dapat digunakan untuk membuat kit HSAnanosfer kering dan stabil selama penyimpanan. Pengaruh umur partikel HSA-nanosfer
terhadap efisiensi penandaan juga diteliti. Hasil menunjukkan bahwa SnCl2.2H2O sebanyak 250
g yang telah direaksikan dengan 1,875 mg natrium pirofosfat, merupakan jumlah yang ideal.
Jumlah optimal partikel HSA-nanosfer terdispersi dalam air adalah 25-50 L, dan volume
sediaan diatur kurang dari 225 L. Campuran diinkubasi pada 37 oC selama 15 menit dalam
keadaan vakum atau tidak vakum, kemudian ditambah larutan 99mTc-perteknetat dan diinkubasi
pada suhu kamar selama 15 menit. Volume akhir 99mTc-HSA-nanosfer sebanyak 525 L
menghasilkan efisiensi penandaan lebih tinggi dari pada volume akhir 2 mL. Umur partikel HSAnanosfer yang disimpan pada temperatur 4 oC sampai 2 bulan tidak berpengaruh nyata
terhadap hasil penandaan. Metode sterilisasi yang sesuai untuk pembuatan kit ini adalah
penyaringan menggunakan millipore steril dengan ukuran pori 0,22 m untuk masing-masing
larutan komponen kit sebelum proses pencampuran.
Kata kunci: limfosintigrafi, HSA-nanosfer, 99mTc, kit-radiofarmaka

ABSTRACT
FORMULATION OF HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA)-NANOSPHERES KIT AS
RADIOPHARMACEUTICAL FOR LYMPHOSCINTIGRAPHY STUDY IN NUCLEAR
MEDICINE. In order to the application in lymphoscintigraphy, the HSA-nanospheres kit has
been designed and formulated to have radiochemical purity more than 90 % after it was labeled
with 99mTc. Total amount of SnCl2.2H2O as reducing agent, sodium pyrophosphate as coligand and HSA-nanospheres as primary ligand, as well as the labeling condition and
sterilization method were studied and evaluated. The influence of the storage time of HSAnanospheres was also studied. The use of 250 g SnCl2.2H2O have been reacted with 1.875
mg of sodium pyrophosphate was found to be an ideal number. The optimal amount of the
water-dispersed HSA-nanospheres was 25 - 50 L and the total solution volume was set less
than 225 L. This mixture was incubated at 37 oC for 15 minutes in a vacuum or not and after
the labeling process with 99mTc, it was incubated at room temperature for 15 minutes. The
99m
Tc-HSA-nanopheres final volume of 525 L gives a higher labeling efficiency than the final
volume of 2 mL. The age of HSA-nanospheres stored at 4 oC did not significantly influence the
labeling results. The sterilization method suitable for this kit making is sterile filtration by a
millipore of 0.22 m pore size for each kit component solution before mixing process.
Keywords: lymphoscintigraphy, HSA-nanospheres, 99mTc, radiopharmaceutical kit
49

Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia


Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology
Vol. 13, No.1, Februari 2012; 49 - 60

1.

ISSN 1411 - 3481

sekitar 1-10 m. Selain ukuran partikelnya

PENDAHULUAN
Baru-baru ini di bidang kedokteran

nuklir berkembang teknik diagnosis dengan

yang relatif besar,


membentuk

partikel
99m

cara menelusuri sistem limfatik, disebut

dengan

dengan

terbentuknya

metode

lymphoscintigraphy

radiofarmaka ini akan

Tc

setelah

ditandai

bersamaan

dengan

senyawa

bertanda
99m

Tc2S7) yang

(limfosintigrafi). Pada metode ini, sediaan

diteknesium penta sulfida (

radiofarmasi berbentuk nanokoloid dengan

berbentuk koloidal sehingga sangat sulit

ukuran 100-200 nm bertanda radioisotop

untuk mendapatkan ukuran partikel ideal

disuntikkan ke dalam saluran limfatik secara

yang dapat digunakan dalam limfosintigrafi.

intradermal,

Hal

subkutan

atau

peritumoral.

ini

menyebabkan

pelaksanaan

Pergerakan radiofarmaka yang disuntikkan

limfosintigrafi

tersebut dideteksi dari luar tubuh dengan

kegagalan

kamera gamma atau dengan probe khusus

scanning yang sangat lama (lebih dari 2

untuk limfosintigrafi yang biasanya dilakukan

jam) sehingga pasien merasa tidak nyaman

secara paralel dengan pembedahan tumor

(4,5).

atau kanker (1).

tersebut,

Limfosintigrafi banyak disarankan oleh


paramedis

sebagai

metode

diagnosis

lebih baik.

payudara.

Di

Indonesia

kasus

kanker

membutuhkan

memecahkan

waktu

masalah

dibutuhkan suatu radiofarmaka

dengan ukuran yang lebih tepat ( 100 -200

saluran

penderita

mengalami

yang lebih ideal, terutama radiofarmaka


nm),

para

atau

Untuk

komplementer untuk mengetahui keadaan


limfatik

kadang-kadang

kanker

dan retensinya dalam saluran limfe

Human

serum

(HSA)-

albumin

payudara menduduki peringkat ke dua

nanosfer berupa partikel bulat berukuran

setelah kanker leher rahim. Keberhasilan

nanometer yang dibuat dari bahan dasar

pembedahan

protein (albumin) dan ditandai dengan 99mTc,

atau

kanker payudara

keberhasilan

terapi

dapat dipantau dengan

diharapkan

menjadi

suatu

radiofarmaka

cara melihat adanya sentinel node pada

99m

saluran limfatik pasien dengan metode

dengan ukuran partikel yang lebih kecil dari

limfosintigrafi,
pembedahan

yang

tindak

lanjut

sediaan

yang

pengobatan

dapat

partikel

HSA-nanosfer

sehingga
atau

Tc-HSA-nanosfer

sudah

ada.

Penandaan

telah

berhasil

dilakukan

itu, limfosintigrafi bermanfaat untuk pasien

dengan diperolehnya senyawa bertanda

yang menderita filarial lymphedema yaitu

99m

pembengkakan atau edema pada saluran

kemurnian radiokimia 93,4 1,2% (4,5).

limfatik yang diakibatkan oleh cacing filaria

Biodistribusi dari radiofarmaka

(2,3).

nanosfer
ini,

kedokteran

nuklir

menggunakan

99m

limfosintigrafi
dilakukan

di

dengan

Tc-TSC-mikrokoloid (sulfur

koloid) yang mempunyai ukuran partikel

penelitian

spesifik

dirancang dengan sebaik-baiknya (1). Selain

Selama

pada

lebih

Tc-HSA-nanosfer

dan

yang

sebelumnya
mempunyai
99m

Tc-HSA-

pemanfaatannya

untuk

pencitraan sumsum tulang dan deteksi


inflamasi

pada

hewan

uji

juga

telah

dipelajari dan memberikan hasil yang cukup


memuaskan (6,7).
50

Formulasi Kit Human Serum Albumin (HSA)-Nanosfer sebagai


Radiofarmaka untuk Studi Limfosintigrafi di Kedokteran Nuklir
(Eva Maria Widyasari)

Kit

radiofarmaka

adalah

sediaan

ISSN 1411 3481

ukuran

alat

suntik

steril

disposable

radiofarmaka yang dikemas terpisah dari

(Terumo), kertas pH universal (E.Merck) dan

radionuklida penandanya, dan akan menjadi

kertas Whatman 3MM.

radiofarmaka bertanda radioaktif apabila

Peralatan

dicampurkan

dengan
99m

radionuklida

yang

yang

digunakan

penelitian ini adalah mikroskop

dalam
(Nikon),

Tc (8). Kit tersebut

spektrofotometer UV-Visible (Hitachi-200),

dapat diformulasi dalam bentuk cair maupun

inkubator (Memmert), alat pengaduk vortex,

kering.

pengembangan

alat pencacah saluran tunggal atau single

radiofarmaka HSA-nanosfer dalam bentuk

channel analyzer (Ortec), timbangan analitis

kit-radiofarmaka

(Metler), pengering beku-vakum Freezone-6

umumnya adalah
Untuk

tujuan
yang

lebih

stabil

dan

mudah untuk ditranpostasi ke rumah sakit

(Labconco),

perlu dirancang dan dicari formula yang

lengkap dengan tutup karet kaki tiga dan

lebih ideal sehingga dapat dikembangkan

seal aluminium buatan Labconco, serta

menjadi suatu sediaan kit-kering yang dapat

seperangkat alat kromatografi kertas.

menghasilkan

radiofarmaka

99m

99m

tantangan

ini,

sehingga

tentang
iptek

12

mL

Tc (9,10).
masalah

kesehatan masyarakat yang dihadapi pada


saat

ukuran

2.2. Analisis Partikel HSA-nanosfer (nanokoloid)


Sediaan yang mengandung partikel

Keberhasilan penelitian ini diharapkan dapat


menjawab

gelas

Tc-HSA-

nanosfer dengan kemurnian radiokimia >


90% setelah ditambah larutan

vial

nuklir

dapat

berperan serta dalam memecahkan masalah

HSA-nanosfer sebelum digunakan dalam


proses penandaan dianalisis terlebih dahulu
ukuran dan jumlah partikelnya. Ukuran
partikel ditentukan dengan alat SEM seperti
telah

kesehatan bangsa Indonesia.

dilaporkan

pada

karya

tulis

sebelumnya (4). Demikian juga jumlah


partikel yang ada dalam sediaan, secara

2. TATA KERJA

praktis

2.1. Bahan dan Peralatan


Bahan

yang

digunakan

dalam

penelitian ini adalah sediaan berisi human


serum albumin (HSA)-nanosfer yang telah
dibuat dan didispersikan dalam air dengan
konsentrasi 107 partikel/mL.
adalah

99m

Tc perteknetat,

Bahan lain

SnCl2.2H2O (E.

Merck), Na-pirofosfat (E. Merck), metanol


(E. Merck), air untuk injeksi dan larutan salin
fisiologis (NaCl 0,9%) steril buatan IPHAlaboratories.

Bahan

penunjang

yang

digunakan adalah kertas saring ukuran 100


nm dan

220 nm (Sartonet), saringan

millipore steril ukuran 0,22 m, berbagai

ditentukan

spektrofotometri
tingginya

dengan

UV

serapan

yaitu
(A)

cara

menentukan

pada

panjang

gelombang maksimum yang telah diketahui


pada penelitian sebelumnya yaitu = 202
nm (4).

Supaya jumlah partikel dapat

diketahui secara kuantitatif maka sediaan


yang mempunyai serapan 0,6 (A=0,6) pada
panjang gelombang 202 nm (=202 nm)
tersebut

ditentukan

dengan

cara

haemocytometry menggunakan mikroskop.


Sebanyak 100 L sediaan HSA-nanosfer
ditambah setetes larutan gentian violet 10%
dalam air, diaduk dengan pengaduk vortex
51

Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia


Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology
Vol. 13, No.1, Februari 2012; 49 - 60

beberapa

menit

ISSN 1411 - 3481


99m

sampai

tercampur

larutan

Tc-perteknetat 1 mCi/0,3-0,5 mL,

sempurna. Sebanyak 10 L

campuran

kemudian diaduk hati-hati dan dibiarkan

yang telah berwarna tersebut diteteskan di

pada

atas

untuk

Parameter yang dipelajari dalam penelitian

haemocytometer, kemudian dilihat di bawah

ini antara lain adalah : jumlah HSA-nanosfer

mikroskop dengan perbesaran 1000 kali.

sebagai ligan utama, perbandingan molar

Ukuran dan jumlah partikel HSA-nanosfer

antara SnCl2.2H2O (bahan pereduksi) dan

yang ada di dalam sediaan tersebut dihitung

Na-pirofosfat (ko-ligan) di dalam senyawa

dengan cara yang sama dengan cara

Sn-pirofosfat

perhitungan sel darah merah (11). Dari

kemudian lamanya waktu inkubasi pertama

perlakuan ini dapat diketahui dengan lebih

dalam inkubator dan inkubasi ke dua pada

pasti dan praktis jumlah partikel dengan

proses

ukuran diameter yang diinginkan ( 200

99m

nm)

gelas

objek

khusus

di dalam 1 mL sediaan. Dengan

suhu

kamar

selama

sebagai

penandaan

15

bahan

dengan

menit.

pereduksi,

radionuklida

Tc beserta kondisinya.
Penentuan

efisiensi

demikian volume sediaan HSA-nanosfer dan

dilakukan

pengenceran yang dibutuhkan dalam proses

kromatografi kertas menaik. Fase diam yang

formulasi kit-kering dapat diketahui hanya

digunakan untuk ketiga macam sistem

dengan

kromatografi

menentukan

besarnya

serapan

dengan

tersebut

macam

masing-masing

adalah

Radiofarmaka

Metode penandaan yang digunakan


penelitian

ini

adalah

metode

penandaan tidak langsung (indirect labeling)


seperti yang telah diperoleh pada penelitian
sebelumnya (5). Radiofarmaka
nanosfer

dibuat

sejumlah

tertentu

dengan

99m

Tc-HSA-

mereaksikan

HSA-nanosfer

(yang

mempunyai serapan A=0,6 pada = 202


nm)

kertas

menggunakan

larutan

metanol 95%, larutan NaCl 0,9 % dan


larutan HCl 1 N. Sediaan

pada

sistem

Whatman 3 MM sedangkan fase geraknya

pada panjang gelombang 202 nm.


2.3. Metode Penandaan
99m
Tc-HSA-nanosfer

tiga

penandaan

99m

Tc-HSA-

nanosfer ditotolkan pada kertas Whatman


3MM dengan ukuran 1 cm x 13 cm di titik
nol dan kemudian masing-masing dielusi
dalam tiga macam fase gerak. Setelah fase
gerak naik sempurna sampai pada titik 11,
kromatogram diangkat, kemudian setelah
kering dipotong-potong tiap cm dan dicacah
dengan alat single channel analyzer.

dengan larutan Sn-pirofosfat dengan

perbandingan
kemudian

molar

yang

divariasikan,

pH diatur menjadi 7,4 dan

sediaan diinkubasi dalam inkubator 37 oC


selama 15 dan 30 menit.

Larutan Sn-

2.3.1. Perbandingan
dan
jumlah
Sn(II)Cl2.2H2O dan Na-pirofosfat
Pada

pembuatan

larutan

Sn-

pirofosfat, ditentukan perbandingan yang


sebagai

optimal

SnCl2.2H2O

dengan

reduktor dan Na-pirofosfat sebagai ko-ligan.

variasi perbandingan tertentu di dalam air.

Variasi perbandingan yang dicoba yaitu 1:0;

Ke

1:2,5; 1:5; 1:7,5 dan 1:10 mol Sn(II)Cl2.2H2O

dalam

dan

Na-pirofosfat

campuran

tadi

ditambahkan

antara

Sn(II)Cl2.2H2O

pirofosfat adalah larutan yang mengandung

52

Formulasi Kit Human Serum Albumin (HSA)-Nanosfer sebagai


Radiofarmaka untuk Studi Limfosintigrafi di Kedokteran Nuklir
(Eva Maria Widyasari)

per

mol

dispersi

Na-pirofosfat.
HSA-nanosfer

Jumlah
yang

sediaan

SnCl2.2H2O sebanyak 100 g dalam 100 L


Sn-pirofosfat

dan

dalam keadaan vakum.

digunakan

dalam penandaan adalah sebanyak 100 L,


larutan

ISSN 1411 3481

penandaan

dilakukan seperti dijelaskan pada bagian

2.3.4. Optimalisasi jumlah HSA-nanosfer


Untuk

optimalisasi

jumlah

HSA-

nanosfer dilakukan penandaan terhadap


dua seri vial yang berisi sediaan HSAnanosfer dengan jumlah yang bervariasi,

2.3.

yaitu : 0, 50, 100, 150, dan 200 L. Seri


pertama dicampur dengan dengan 100 L

2.3.2. Optimalisasi waktu inkubasi


Optimalisasi waktu inkubasi dilakukan

larutan Sn-pirofosfat yang mengandung 100

pada 2 seri vial, yaitu pertama diinkubasi

g SnCl2 dan 1,0 mg Na-pirofosfat (1:5

selama 15 menit, sedangkan seri kedua

mol/mol), sedangkan seri kedua dicampur

diinkubasi selama 30 menit dalam inkubator

dengan 200 L larutan yang sama. Volume

37 oC. Setiap seri masing-masing terdiri dari

akhir disamakan yaitu 2 mL.


Jumlah

5 buah vial dan berisi sejumlah HSA-

HSA-nanosfer

dicoba

nanosfer yang bervariasi yaitu 500, 750,

diperkecil yaitu 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35,

1000, 1250 dan 1500 L. Larutan Sn-

40, 45 dan 50 L, dan jumlah Sn-pirofosfat

pirofosfat yang digunakan sebanyak 100 L

100 L mengandung 200 g SnCl2.2H2O

dengan

dengan

perbandingan

terbaik

yang

Na-pirofosfat

1,5

mg

(1:7,5

diperoleh pada percobaan sebelumnya (1 :

mol/mol). Kondisi inkubasi sama seperti

7,5 mol/mol). Setelah didinginkan sampai

percobaan sebelumnya, dan volume akhir

suhu kamar ditambahkan ke dalamnya

sediaan setelah penandaan diatur menjadi 2

larutan

99m

Tc-perteknetat

sebanyak

mCi/0,3-0,5 mL dan volume akhir sediaan


disamakan

menjadi

mL.

Campuran

diinkubasi pada suhu kamar selama 15

mL. Efisiensi penandaan ditentukan dengan


kromatografi kertas menaik.
2.3.5. Pemilihan metode sterilisasi kit
HSA-nanosfer

menit dan setelah itu efisiensi penandaan


ditentukan

dengan

kromatografi

kertas

menaik.

Sebagai persiapan untuk pembuatan


kit-HSA-nanosfer dipilih metode sterilisasi
yang paling sesuai agar tidak merusak
partikel HSA-nanosfer dan mempengaruhi

2.3.3. Optimalisasi kondisi inkubasi


Untuk

mempertinggi

efisiensi

efisiensi penandaan.

Metode sterilisasi

penandaan, kondisi inkubasi diubah dengan

yang dicoba adalah pemanasan di dalam

jalan memvakumkan vial yang berisi HSA-

otoklav selama 30 menit dan penyaringan

nanosfer

saat

dengan saringan millipore steril 0,22 m.

inkubasi pertama yaitu pada suhu 37 oC.

Sterilisasi dilakukan pada sediaan HSA-

dan

Sn-pirofosfat

pada

Demikian juga setelah penambahan

99m

Tc-

nanosfer

yang

dicampur

dengan

Sn-

perteknetat sewaktu inkubasi ke dua pada

pirofosfat dan telah diinkubasi pada suhu

suhu kamar (reaksi penandaan) vial tetap

37

C.

Setelah

disterilkan,

campuran
53

Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia


Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology
Vol. 13, No.1, Februari 2012; 49 - 60
99m

ditambah dengan larutan


dari

generator

penandaan

99

Mo-

Tc

dilanjutkan

percobaan

Tc-perteknetat

99m

ISSN 1411 - 3481

metode ini diperoleh jumlah pertikel dari

dan

proses

sediaan HSA-nanosfer yang menunjukkan

seperti

pada

serapan 0,6 pada spektrofotometer UV

sebelumnya.

Efisiensi

adalah sekitar 107 partikel per mL.

penandaan ditentukan dan dibandingkan


dengan sediaan yang tidak disterilkan.

Besarnya efisiensi penandaan dan


kemurnian radiokimia dihitung berdasarkan
hasil

2.3.6. Pengaruh
lamanya
waktu
penyimpanan
HSA-nanosfer
terhadap efisiensi penandaan

ketiga

kromatografi.

radiokimia dalam bentuk

99m

Pengotor

Tc-perteknetat

bebas diketahui dari sistem kromatografi


menggunakan fase diam kertas Whatman

Proses

penandaan

dilakukan

terhadap dua macam HSA-nanosfer yang


berbeda umurnya. Pertama adalah HSAnanosfer yang telah disimpan di dalam
lemari pendingin selama lebih dari 2 bulan,
dan yang ke dua adalah sediaan yang
berumur kurang dari

2 bulan.

Efisiensi

penandaan kedua macam HSA-nanosfer

3MM dengan fase gerak metanol 95 %,


sedangkan pengotor
diketahui

dengan

3MM/NaCl 0,9 % dan


Besarnya
99m

(suspensi)

HSA-nanosfer

tidak terlihat adanya partikel-partikel. Pada

dapat

(KRK)
dihitung

kegiatan

ini

perbandingan

dilakukan
SnCl2.2H2O

sebagai reduktor dengan Na-pirofosfat yang


bertindak sebagai ko-ligan
Apabila reduktor digunakan tanpa koligan, hasil penandaan seolah-olah tinggi
seperti terlihat pada Gambar 1.

laporan penelitian sebelumnya (4) telah


dijelaskan bahwa penentuan jumlah partikel

Tc-tereduksi bebas

menggunakan Persamaan [1].

apabila dilihat secara visual merupakan


sediaan yang jernih menyerupai larutan, dan

Whatman

radiokimia

Tc-HSA-nanosfer

optimalisasi
Sediaan

sistem
99m

kemurnian

Pada

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tc-pirofosfat bebas

dengan sistem Whatman 3MM/HCl 1N.

dibandingkan.

3.

99m

Pada fenomena ini, sebenarnya yang


terbentuk

bukanlah

senyawa

bertanda

ditentukan dengan spektrofotometer pada

99m

Tc-HSA-nanosfer, tetapi hanya senyawa

panjang gelombang () 202 nm. Sebelum

99m

Tc yang tereduksi baik berupa

digunakan
diencerkan

sediaan
dahulu

HSA-nanosfer

sampai

atau

99m

99m

TcO2

Tc(OH)2 yang semuanya merupakan

mempunyai

koloid dan akan tinggal pada titik 0 (awal) di

serapan 0,6 (A=0,6), kemudian sediaan

kromatogram. Hal ini diperkuat dengan data

tersebut digunakan untuk

membuat kit

bahwa pada kondisi ini, larutan hanya dapat

HSA-nanosfer. Pengukuran jumlah partikel

mencapai pH=4, karena bila lebih tinggi dari

dilakukan menggunakan mikroskop dengan

pH

metode haemocytometri

sedangkan sediaan dengan perbandingan

yaitu cara untuk

mengukur jumlah sel darah (11). Dengan

tersebut

sediaan

menjadi

keruh,

yang lain dapat mencapai pH=7,4.

%KRK99mTc-HSA-nanosfer = 100-(99mTcO4+99mTc-red+99mTc-pirofosfat)

[1]
54

Formulasi Kit Human Serum Albumin (HSA)-Nanosfer sebagai


Radiofarmaka untuk Studi Limfosintigrafi di Kedokteran Nuklir
(Eva Maria Widyasari)

ISSN 1411 3481

Pada Gambar 1 terlihat bahwa

protein albumin mempunyai banyak gugus

perbandingan Sn:pirofosfat yang optimal

yang dapat berikatan dengan Sn-pirofosfat,

adalah

dan proses ini terjadi pada saat inkubasi

1:7,0-7,5

mol/mol

dengan
Tc-

pertama (12). Lamanya waktu inkubasi

pengotor

pertama yang digunakan adalah 30 menit

menghasilkan efisiensi penandaan


HSA-nanosfer

tertinggi

radiokimia seperti
serta

99m

99m

Tc-pirofosfat

dan

99m

Tc-perteknetat bebas
dengan persentase

dan

15

menit.

radionuklida

99m

Pada

saat

ditambah

Tc(VII)-perteknetat,

ion

terendah. Pada percobaan ini jumlah HSA-

Sn(II) yang telah terikat pada partikel HSA-

nanosfer yang digunakan adalah 250 L.

nanosfer akan mereduksi

99m

Tc(VII) tersebut

Inkubasi pertama dilakukan pada suhu 37 C

ke tingkat oksidasi yang lebih rendah

dalam inkubator untuk mereaksikan ion

sehingga

Sn(II) yang telah berikatan dengan pirofosfat

99m

membentuk Sn-pirofosfat yang akan lebih

waktu inkubasi ke dua yang dilakukan pada

mudah berikatan dengan HSA-nanosfer.

suhu kamar selama 15 menit, dan hasilnya

Partikel HSA-nanosfer yang terbentuk dari

dapat dilihat pada Gambar 2.

terbentuk

senyawa

bertanda

Tc-HSA-nanosfer. Proses ini terjadi pada

Gambar 1. Optimalisasi perbandingan Sn-pirofosfat pada formulasi kit HSA-nanosfer


(menggunakan HSA-nanosfer sebanyak 250 L).

Gambar 2. Pengaruh waktu inkubasi pembentukkan Sn-pirofosfat pada penandaan 99mTc-HSA-nanosfer


dengan jumlah HSA-nanosfer yang bervariasi.

55

Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia


Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology
Vol. 13, No.1, Februari 2012; 49 - 60

ISSN 1411 - 3481

Gambar 3. Optimalisasi jumlah HSA-nanosfer dalam kit HSA-nanosfer.

120

efisiensi penandaan(%)

110

100

90

80

70

60

50
0

50

100

150

200

250

300

jumlah Sn-pirofosfat (ug)


volume akhir 2 mL

volume akhir 525 uL

99m

T-HSA-nanosfer dalam volume dan jumlah Sn-pirofosfat yang


Gambar 4. Efisiensi penandaan
bervariasi dan di bawah kondisi vakum.

Inkubasi pertama selama 15 menit

menggunakan perbandingan Sn:pirofosfat

ternyata memberikan hasil penandaan yang

sebesar 1 : 5 mol/mol, tetapi dengan jumlah

lebih baik dari pada inkubasi 30 menit

yang berbeda yaitu 100 g/1 mg dan 200

dengan perbedaan yang cukup berarti.

g/2 mg. Jumlah HSA-nanosfer sebanyak

Fenomena ini mungkin terjadi karena pada

50 L memberikan efisiensi penandaan

saat waktu inkubasi diperpanjang, terjadi

tertinggi, dan hasil ini tidak berubah banyak

penguraian kembali ion Sn(II) yang awalnya

walaupun jumlah HSA-nanosfer dinaikkan

sudah

sampai 200 L (Gambar 3-a). Pada Gambar

terikat

Kemungkinan

di

lain

HSA-nanosfer.

adalah

terjadinya

3-b terlihat bahwa jumlah HSA-nanosfer di

pengurangan daya reduksi dari Sn(II) yang

bawah 50 L juga masih menghasilkan

teroksidasi menjadi Sn(IV) akibat sediaan

efisiensi penandaan berkisar antara 8492%

terlalu lama dipanaskan pada 37 C.


Penandaan

partikel

HSA-nanosfer

dengan perbandingan Sn-pirofosfat 1 : 7,5.


Pada Gambar 4 terlihat nyata bahwa
56

Formulasi Kit Human Serum Albumin (HSA)-Nanosfer sebagai


Radiofarmaka untuk Studi Limfosintigrafi di Kedokteran Nuklir
(Eva Maria Widyasari)

besarnya volume pada waktu

ISSN 1411 3481

inkubasi

nanosfer. Penyimpanan dapat berminggu-

sangat

minggu atau sampai beberapa bulan. Telah

mempengaruhi efisiensi penandaan. Reaksi

diketahui bahwa HSA-nanosfer dibuat dari

antara molekul Sn(II)-pirofosfat

dengan

human serum albumin yang merupakan

partikel HSA-nanosfer (inkubasi pertama)

protein dan umumnya mudah rusak apabila

berlangsung lebih baik apabila dilakukan

disimpan

dalam volume yang kecil yaitu 225 L.

kestabilan

Jumlah SnCl2.2H2O sebesar 250 g dan

penyimpanan maka dilakukan penandaan

pirofosfat 1,875 mg dalam volume sebesar

menggunakan

100 L merupakan jumlah optimal.

yang umurnya berbeda, yaitu yang sudah

pertama

dan

inkubasi

ke

dua

lama.

Untuk

mengetahui

HSA-nanosfer

selama

dua sediaan HSA-nanosfer

Reaksi penandaan (inkubasi ke dua)

disimpan lebih dari 2 bulan dan yang kurang

berhasil

dari 2 bulan.

lebih

apabila

dilakukan

dalam

volume akhir yang lebih kecil yaitu 525 L

Pada

Gambar

terlihat

bahwa

dari pada dalam volume 2 mL. Reaksi

penyimpanan

penandaan

perubahan yang signifikan, karena hasil

memberikan efisiensi penandaan > 90%,

penandaan masih tetap di atas 90%. Kit

sedangkan dalam volume 2 mL hanya

HSA-nanosfer digunakan secara parenteral,

mencapai 8095% (Gambar 4). Hal ini

oleh karena itu harus disterilkan (12).

memberikan batasan untuk jumlah volume

Umumnya, sterilisasi radiofarmaka dilakukan

dalam

99m

volume

dengan cara penyaringan sediaan curah

ditambahkan pada reaksi penandaan yaitu

(larutan bulk) sebelum dimasukkan ke dalam

maksimal 0,3 mL.

vial steril secara aseptis. Mengingat bahwa

Partikel

yang

menyebabkan

dapat

larutan

Tc-perteknetat

525

tidak

HSA-nanosfer

yang

sediaan HSA-nanosfer berbentuk partikel

terdispersi dalam air pro-injeksi disimpan

dengan bahan dasar protein, maka dicoba

dalam suhu 4 C (lemari es), dan akan

dua macam cara sterilisasi.

digunakan pada waktu membuat kit HSA-

Gambar 5. Pengaruh umur partikel HSA-nanosfer terhadap efisiensi penandaan

57

Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia


Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology
Vol. 13, No.1, Februari 2012; 49 - 60

ISSN 1411 - 3481

Gambar 6. Efisiensi penandaan 99mTc-HSA-nanosfer setelah disterilkan dengan cara menyaring


masing-masing komponen kit HSA-nanosfer.

Metode yang pertama adalah cara

HSA(nanosfer)-Sn-pirofosfat yang terbentuk

otoklav pada suhu 121 C dengan tekanan

pada inkubasi tersebut merupakan molekul

lebih dari satu atmosfir selama 30 menit,

dengan ukuran yang lebih besar sehingga

sedangkan

sebagian

metode

ke

dua

adalah

tertahan

oleh

saringan

dan

penyaringan dengan saringan millipore 0,22

menghasilkan efisiensi penandaan yang

m steril terhadap campuran HSA-nanosfer

lebih rendah, yaitu 86,3 1,9 %.

dengan Sn-pirofosfat setelah inkubasi pada


o

37 C.

Untuk

mencegah

terjadinya

hal

tersebut, maka penyaringan untuk sterilisasi


Efisiensi penandaan HSA-nanosfer

steril dengan

99m

Tc-perteknetat memberikan

hasil seperti tertera pada Tabel 1.

dilakukan

pada

HSA-nanosfer

masing-masing

dan

larutan

sediaan

Sn-pirofosfat

sebelum dicampur dan diinkubasi pada 37


o

Tabel 1. Perubahan efisiensi penandaan 99mTcHSA-nanosfer setelah proses sterilisasi

C. Cara sterilisasi tersebut terbukti dapat

digunakan

dalam

pembuatan

kit

radiofarmaka HSA-nanosfer, karena tetap

Efisiensi Penandaan (%) (n=2)


Asli
Otoklav
Penyaringan
93,5 1,1
Rusak*
86,3 1,9

memberikan hasil penandaan yang tinggi,


yaitu lebih besar dari 95 % seperti terlihat

*) dilihat dengan mikroskop

pada Gambar 6
Berdasarkan

pengamatan

menggunakan mikroskop pemanasan dalam


otoklav

menyebabkan

partikel

rusak.

Penyaringan

yang

menjadi
dilakukan

terhadap campuran HSA-nanosfer dan Sno

4.

KESIMPULAN
Formula

optimal

kit

dan

HSA-nanosfer

memberikan

yang

efisiensi

penandaan sebesar 93,5 1,1 % diperoleh

pirofosfat setelah inkubasi pertama (37 C

dengan komposisi sebagai berikut: jumlah

dalam

HSA-nanosfer

inkubator)

juga

mempengaruhi

25-50

L,

larutan

Sn-

efisiensi penandaan, hal ini kemungkinan

pirofosfat

disebabkan karena molekul dari partikel

mengandung SnCl2.2H2O 250 g sebagai

sebanyak

200

yang

58

Formulasi Kit Human Serum Albumin (HSA)-Nanosfer sebagai


Radiofarmaka untuk Studi Limfosintigrafi di Kedokteran Nuklir
(Eva Maria Widyasari)

reduktor dan Na-pirofosfat sebesar 1,875


o

mg sebagai ko-ligan, diinkubasi pada 37 C

6.

ISSN 1411 3481

DAFTAR PUSTAKA

1. Dillehay GL. Lymphoscintigraphy in

selama 15 menit dalam volume tidak lebih

oncology. In Nuclear medicine. 2nd ed.

dari 225 L, serta dapat dilakukan dalam

Philadelphia: Mosby Elsevier Inc; 2006.

keadaan vakum atau pun tidak.

p. 1480-1.

Proses penandaan kit HSA-nanosfer


dengan

penambahan

larutan

99m

Tc-

2. Jaykanth A, Shelley S, Indirani M,


Manokaran G, Shilpa K, Alok P.

perteknetat dan inkubasi selama 15 menit

Lymphoscintigraphy as an imaging

pada suhu kamar dengan volume akhir 525

modality in lymphatic system. The

L dapat memberikan efisiensi penandaan

Annual Scientific Meeting of The

yang

Indonesian Society of Nuclear Medicine

lebih tinggi apabila

dibandingkan

dengan volume akhir 2 mL. Penyimpanan

and The Indonesian Society of Nuclear

sediaan partikel HSA-nanosfer dalam media

Medicine and Biology; 20-21 November

air selama 2 bulan tidak berpengaruh nyata

2009, Melia Purosani Hotel, Yogyakarta

terhadap mutu kit HSA-nanosfer yang dibuat

Indonesia; 2009.

dari pertikel tersebut. Efisiensi penandaan


yang

dihasilkan

larutan

99m

setelah

penambahan

Tc-perteknetat, terbukti masih

3. Lymphatic filariasis. Strategy direction


for lymphatic filariasis research. [serial
online]. 2002 Feb 1; Available from:

memberikan kemurnian radiokimia lebih

http://www.who.int/tdr/diseases/lymphfil/

tinggi dari 90%.

direction.htm.

Dalam

proses

pembuatan

kit

4. Kartini NO, Widyasari EM. Penandaan

radiofarmaka HSA-nanosfer, sterilisasi dapat

human serum albumin (HSA)-nanosfer

dilakukan

dengan

dengan radionuklida teknesium-99m.

menggunakan

saringan

penyaringan
millipore

steril

ukuran 0,22 m terhadap masing-masing


larutan komponen kit sebelum dicampurkan

Majalah Farmasi Indonesia 2008;19(3):


117-27.
5. Kartini NO, Widyasari EM, Isabela E.

dan sebelum proses inkubasi pertama.

Karakteristik fisiko-kimia radiofarmaka

Apabila

99m

diperlukan

pengeringan

dapat

kit-kering,

proses

dilakukan

dengan

metode liofilisasi dalam alat freeze dryer.

Tc-human serum albumin (HSA)-

nanosfer. Jurnal Sains dan Teknologi


Nuklir Indonesia 2010 Februari;XI(1): 3544.

5.

UCAPAN TERIMAKASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada

6. Sugiharti RJ, Halimah I, Widyasari EM,


Kania PP. Biodistribusi 99mTc-human

saudara Epy Isabela dari Laboratorium

serum albumin-nanosfer pada mencit

Sintesis Senyawa Bertanda yang telah

putih (Mus musculus) sebagai

banyak membantu dalam menyelesaikan

radiofarmaka untuk limfosintigrafi.

penelitian ini.

Prosiding Seminar Sains dan Teknologi


Nuklir; Juni 2009; Bandung. Bandung:
PTNBR BATAN; 2009. p. 342-6.
59

Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia


Indonesian Journal of Nuclear Science and Technology
Vol. 13, No.1, Februari 2012; 49 - 60

7.

ISSN 1411 - 3481

Sugiharti RJ, Halimah I, Kania PP,

pharmacy. 5th ed. Cleveland, USA:

Kartini NO. Penggunaan radiofarmaka

Springer; 2004. p. 83.

99m

Tc-Human Serum Albumin nanosfer

10. Nunn A. Radiopharmaceuticals,

untuk pencitraan sumsum tulang dan

chemistry and pharmacology. 10th ed.

deteksi inflamasi pada hewan uji.

New York (NY): Marcel Dekker Inc;

Prosiding Seminar Nasional

1992.

Keselamatan, Kesehatan dan

11. Gandasoebrata R. Penuntun

Lingkungan V; Oktober 2009; Depok.

laboratorium klinik. 11 ed. Jakarta: Dian

Jakarta: PTKMR BATAN; 2009. p. 217-

Rakyat; 2004. p. 20-1.

26.
8. Owunwanne A, Patel M, Sadek S. The

12. Zole

I.

Technetium-99m

pharmaceuticals: preparation and quality

hand book of radiopharmaceuticals. 1st

control in nuclear medicine. New York,

ed. England: Chapman and Hall Medical

Berlin Heidelberg: Springer; 2007. p.

Clays Ltd; 1995. p. 67-8.

230.

9. Saha GB. Fundamental of nuclear

60